Tag: Kristus

Arti Panggilan: Follow Me

Berdoa

Pengkhotbah: Pdt. Agus Marjanto, M.Th
Matius 4:18-22

Yesus pergi ke Galilea setelah diusir dari Kapernaum dan memanggil beberapa murid-Nya lagi. Pemuridan pertama kali ada dalam catatan Yohanes. Yohanes Pembaptis adalah salah satu the greatest reductionist di dalam dunia. Ketika Yohanes melihat Perjanjian Lama, dia melihat satu hikmat Mesias akan datang. Dan Kristus itu yang akan menebus dosa umat manusia. Dia meneliti satu per satu dan ketika dia melihat Yesus, dia langsung bicara: Inilah Orangnya. “Lihatlah Anak Domba Allah”. Maka seketika itu juga, 2 murid Yohanes Pembaptis dipersilahkan untuk mengikut Yesus yaitu Yohanes dan Andreas. Yohanes Pembaptis seorang besar yang diurapi oleh Tuhan. Tetapi orang yang diurapi oleh Tuhan itu adalah tetap orang yang paling rendah, lebih rendah dari budak dibandingkan Kristus yang mulia. Yohanes, murid Yohanes Pembaptis yang kita kenal itu menjadi murid Yesus, dilepaskan dan kemudian mereka mengatakan: Guru, di mana Engkau tinggal? Di situ mulai perjumpaan antara murid-murid pertama dengan Yesus Kristus. Dan kemudian waktu berlalu demi waktu. Yesus mulai mengajar di Galilea meskipun pada saat itu Dia mungkin masih ada di Kapernaum.

Suatu hari, Alkitab mengatakan di Injil Lukas; “Yesus Kristus ada di daerah tepi danau Galilea”. Dan saat itu, Yesus dihampiri oleh orang banyak, yang mau mendengarkan pengajaran-Nya. Kemudian Yesus melihat ada 2 kapal milik Simon salah satunya. Yesus masuk ke dalam kapal itu dan mengatakan, “Sekarang tolaklah kapal itu sedikit menjauh dari tepi”. Maka ditarik dari tepi lalu Yesus di sana mengajar orang banyak. Setelah pengajaran selesai dan orang banyak itu kemudian mulai berduyun-duyun pulang, maka Yesus Kristus berkata kepada Simon: “Simon, mari kita pergi ke tempat yang dalam untuk menangkap ikan.” Pada saat itu Simon, seorang nelayan, baru pulang dari laut yang dalam. Lalu Simon Petrus mengatakan: “Guru, sudah semalaman kami berusaha untuk menangkap ikan tetapi kami tidak mendapatkan apa-apa.” Dengan perasaan sungkan Petrus mengatakan, “Tetapi karena Engkau yang suruh, OK lah, sekarang aku ikut saja.” Dalam pikiran Petrus, ini sebenarnya pekerjaan yang sia-sia dan memboroskan waktu. Saya katakan kepada saudara, kalau kita taat, tidak mungkin sia-sia dan boros waktu. Kemudian Petrus mendayung sampai tempat yang dalam. Lalu Yesus berkata: “Tebarkan jalamu.” Lalu ketika ditebarkan, maka ikan-ikan terangkat dan jala itu mulai koyak, sudah tidak bisa lagi menampung. Alkitab mengatakan 2 perahu penuh dengan ikan dan hampir tenggelam. Begitu sampai ke darat, Simon langsung turun, dia langsung tunduk dan berlutut di bawah kaki Yesus. Dia mengatakan: “Guru, aku orang berdosa. Pergi, pergi!” Jikalau kita sungguh-sungguh anak Tuhan, berkat Tuhan tidak akan hanya membawa kita kepada “Haleluyah, puji Tuhan, aku dapat berkat.” Tidak! Berkat Tuhan kepada anak Tuhan yang sejati akan membuat kita sadar, aku orang berdosa. Aku tidak layak mendapatkan ini. Di saat seperti itu, maka Yesus mengatakan: “Ikutlah Aku, Petrus”. Aku akan menjadikan engkau penjala manusia. Perhatikan, kalimat Yesus ini adalah satu-satunya kalimat yang ditulis di dalam Matius. Dari seluruh ayat 18-22 hanya ada 1 kalimat dari Yesus, yaitu “Ikutlah Aku, maka Aku akan menjadikan engkau penjala manusia”. “Follow Me”. Mari kita mengingat satu kalimat ini. Follow me. Dengarlah apa yang merupakan isi hati Kristus. Dengarlah panggilan-Nya.

Tiga aspek dari arti panggilan Allah:

  1. Isi Panggilan.
    “Follow Me” adalah bicara berkenaan dengan isi panggilan, yaitu mengikut Kristus. Ini adalah panggilan kita semua. Apa yang Dia ucapkan kepada Petrus adalah ucapan yang sama kepada murid-murid yang lain dan kepada kita. Perhatikan beberapa poin ini. Lihat Yohanes 1:43 dan Matius 9:9. Kalimat Yesus ini merupakan isi panggilan. Panggilan Kristen yang sejati adalah panggilan untuk mengikut Kristus Yesus dan panggilan itu artinya panggilan untuk dimuridkan (discipleship). Banyak orang Kristen berpikir salah di dalam hal panggilan ini. Panggilan itu berbeda dari profesi. Profesi adalah sesuatu sistem hidup atau wadah di mana panggilan itu akan kita kerjakan di dalam urusan talenta kita. Namun ‘panggilan’ jauh lebih dalam, jauh lebih esensial dan itu jauh lebih besar jangkauannya daripada sekedar profesi walaupun memang benar kata profesi di dalam bahasa Inggrisnya adalah vocation dari bahasa Latin itu adalah vox (suara). Panggilan kita dipanggil oleh suara dari Kristus untuk mengikut Dia, untuk dimuridkan, dibentuk oleh Dia, untuk segala sesuatu dalam hidup kita itu kehendak-Nya kita lakukan, kita laksanakan dan kita taati. Itu adalah panggilan kita di dalam seluruh apapun saja profesi kita. Profesi demi profesi, kedudukan demi kedudukan bisa berubah.

    Kalau saudara perhatikan seluruh rancangan hidup bagi Yusuf, profesi demi profesi itu berubah-rubah. Dia adalah seorang anak, budak, pembantu, manager, narapidana dan perdana menteri. Meskipun profesinya berubah, tetapi di mana saja, entah di atas, entah di bawah, maka dia harus memunculkan bahwa dirinya adalah murid Kristus. Ini adalah panggilan yang paling utama. Profesi saya adalah hamba Tuhan, tetapi panggilan saya adalah seorang yang dipanggil mengikut Kristus. Seorang yang dipanggil untuk dimuridkan oleh Kristus. Biarlah ini boleh ada di dalam hidup saudara. Di mana saja, baik di mimbar maupun di jalanan, ataupun di tempat penjara, maka orang tersebut adalah dipanggil untuk satu hal, yaitu mejadi murid Kristus. Saudara mengerti ini maka saudara tidak akan terkotak-kotak di dalam hidup. Kita semua dipanggil dengan satu kata yang sama. Dan semua dipanggil dengan satu prinsip yang sama: Follow Me. Satu per satu dipanggil untuk satu hal, yaitu dimuridkan. Dipanggil untuk makin lama makin dikuasai oleh Kristus.

    Setelah Petrus, Andreas, Yakobus dan semua satu per satu dipanggil menjadi murid Yesus, mereka secara intens mempelajari kalimat Yesus dengan sungguh-sungguh, melihat isi hati Yesus dan sungguh-sungguh meneliti pengajaran Yesus. Satu per satu mengalami pembentukan hidup dan juga membentuk interaksi satu dengan yang lainnya yang mungkin sangat menyakitkan. Yesus pernah mengatakan: Enyah engkau setan kepada Petrus. Yesus pernah menghardik 2 anak guntur; Yohanes dan Yakobus (boanerges). Sedikit demi sedikit marah adalah karakter mendasar yang ada pada mereka. Tetapi setelah mengikut Yesus beberapa tahun kemudian, ada interaksi, bentukan, disiplin karena mereka adalah disciple. Maka kemudian apa yang terjadi? Yohanes menjadi rasul kasih. Sedikit-sedikit bicara: ‘Kasihilah satu dengan yang lain”. Kalau engkau sungguh-sungguh mentaati Kristus, maka engkau mengasihi Dia, mengasihi Firman-Nya, mentaati Firman-Nya.’ Setiap kali bicara itu berarti sepanjang bertemu dengan Yesus Kristus, Follow Me, ada bentukan, ada pelajaran. Sekarang kalimat yang sama, hadir pada kita pada pagi hari ini. Follow Me. Tetapi banyak orang tidak mengerti prinsip ini maka dia tidak mau belajar. Berapa orang yang mau belajar Alkitab? Berapa orang yang mau belajar di bawah sekolahannya Yesus Kristus? Berapa orang yang mau diajar untuk berdoa?

    Perhatikan prinsip ini. Panggilan pertama bukan pelayanan tetapi mengikut Kristus dan dibentuk oleh Kristus. Panggilan pertama kita adalah panggilan untuk mendekat kepada Kristus, untuk serupa dengan Kristus. Dan di dalam bentukan seperti itu maka baru Kristus akan memakai kita berguna di dalam Kerajaan-Nya. Banyak orang ingin menjadi berkat bagi orang lain tetapi tak mungkin menjadi berkat bagi dunia ini, tak mungkin menjadi berkat di dalam Kerajaan Allah kalau saudara dan saya tidak mau dibentuk. Tak mungkin kita menjadi berkat dan mengabarkan Injil dan mengabarkan Kristus yang hidup itu kecuali kita mau taat. Follow Me dan Aku akan jadikan engkau penjala manusia. Ini adalah kehidupan yang intim dengan Tuhan. Semakin intim orang itu dibentuk oleh Tuhan, semakin orang itu kenal Tuhan, semakin dia akan diurapi oleh Tuhan.

    Di tempat yang lain, yang saya mau tegaskan di dalam poin pertama ini adalah kata “Follow Me”, adalah sesuatu privilege. Jikalau engkau adalah orang Kristen maka kata ini akan muncul di dalam kehidupanmu. Sebenarnya di dalam kehidupan Petrus, kata ini muncul minimal 3 kali di dalam Alkitab. Yesus berkata kepada Petrus di saat dia goyah, di saat dia mau mundur iman, selalu Yesus datang dengan mengatakan “Follow Me, Peter Follow Me.” bukan hanya 1 kali. Kalimat ini juga sama terhadap engkau. Setiap daripada saudara ketika mau jatuh, mau mundur kalimat ini akan muncul; “Follow Me. Ikutlah Aku”. Jalan terus jangan mundur. Kalimat Yesus Kristus ini adalah sesuatu previlege, hak istimewa yang besar sekali yang boleh dan bisa ditangkap oleh manusia yang hidup. Di dalam kitab Mazmur ada 1 kalimat; ‘Berbahagialah orang yang dipanggil mendekat kepada Tuhan.’ Dan kalimat ini adalah kalimat untuk memanggil saudara dan saya makin hari makin mendekat kepada Tuhan.

  2. Sifat atau natur panggilan.
    Panggilan “Follow Me” adalah panggilan di dalam kedaulatan dan anugerah Allah semata. Dialah yang berhak memanggil dan kepada siapa Dia memanggil, maka itu adalah keputusan di dalam kedaulatan-Nya. Alkitab mengatakan bahwa “bukan kamu yang memilih Aku tetapi Aku yang memilih kamu.” Ketika saya merenungkan perkataan Yesus Kristus di dalam Matius 4 ini, mengapa Anak Allah, Allah oknum kedua datang ke Galilea, kepada orang-orang nelayan biasa yang miskin yang tidak terpelajar dan mengatakan: Follow Me? Mengapa suara Allah yang Maha Kuasa dan Maha Besar itu diberikan kepada mereka dan bukan orang-orang yang besar menurut ukuran dunia? Kalau melihat prinsip ini maka saudara akan sangat dikagumkan dan digentarkan karena setiap kali Allah bertindak, Dia bertindak di dalam kebebasan, kedaulatan-Nya. Ada satu kalimat di dalam Korintus yang ditulis oleh Paulus menggambarkan kondisi ini. Lihat 1 Korintus 1:26-31. Di dalam hikmat Allah dan kebesaran-Nya, di dalam anugrah-Nya di dalam kedaulatan-Nya, maka Dia datang ke dunia dan kemudian mencari Petrus, Yohanes, Yakobus, Filipus, dan semua orang yang Dia mau menyatakan kasih-Nya, kepada kita. Satu prinsip di sini, yaitu bahwa bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Aku yang memilih kamu, dan Aku sudah menetapkan engkau untuk berbuah dan buahmu itu lebat.

    Saudara mungkin berkata: “Tapi saya yang memilih waktu itu.” Jawabannya adalah tidak. Kalau engkau bisa menjadi orang Kristen dan sungguh-sungguh engkau adalah anak Tuhan, lahir baru, Roh Kudus ada di dalam hati kita, itu adalah karena Tuhan yang memilih kita. Sepanjang saudara tidak sadar akan hal ini, saudara tidak akan mengerti apa itu hak istimewa. Saudara dan sayalah yang dipilih oleh Tuhan, bukan kita yang memilih Tuhan. Tuhan tidak memilih kita karena kita kaya, baik, suci ataupun berjasa. Tidak ada apa-pun dari kita yang melayakkan kita untuk dipilih. Tetapi kita dipilih karena dua hal ini. Pertama, supaya benar-benar Allah saja yang dipermuliakan. Jangan sampai ada satu orang-pun yang membanggakan diri dan mengatakan: aku dipilih karena aku rajin ke gereja, aku dipilih karena aku orang yang sungguh-sungguh benar-benar hidupnya aku jaga bersih. Tidak! Sebaliknya, kita dipilih, maka kita benar, kita dipilih maka kita jadi baik, kita dipilih maka kita jadi rajin. Seluruhnya, kalau saudara mengerti doktrin Reformed, maka saudara akan melihat segala sesuatu adalah kedaulatan Allah semata. Sekali lagi, kenapa kita yang seperti ini yang dipilih? Bukan Athena, bukan Roma, bukan Yerusalem, mengapa kita? Mengapa Galilea yang dipilih? Jawabnya adalah pertama, untuk seluruh orang yang dipilih hanya mengerti satu hal: soli Deo gloria. Kemuliaan hanya bagi-Mu, tidak ada bagiku, karena segala sesuatu adalah dari Dia, oleh Dia, kepada Dia, untuk Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya. Kedua adalah untuk mempermalukan orang dunia. Kalau orang Kristen, anak Tuhan mengerti Firman, sebodoh apa-pun, maka orang tersebut akan memiliki hikmat lebih besar dari dunia. Masalahnya adalah saudara dan saya meneliti Firman untuk mendapatkan hikmat Allah atau tidak? Follow Me, natur panggilan itu adalah seturut dengan kedaulatan Allah.

  3. Ini menyatakan kontinuitas rencana keselamatan Allah di bumi ini.
    Sekali lagi, kontinuitas. Rencana keselamatan Allah di bumi ini. Saudara perhatikan baik-baik satu kalimat di bawah ini yang mengandung suatu prinsip teologia yang dalam. Ini adalah cara Allah meneruskan covenant of grace. Di dalam Alkitab ada satu pengajaran bahwa kita semua lahir sudah berdosa, kita adalah mahluk yang berdosa. Kenapa? Ini adalah prinsip Alkitab, dan secara teologis kita berdosa karena Adam berdosa, kita semua di dalam Adam. Itu namanya representatif, federal, head of. Adam adalah kepala seluruh umat manusia. Adam adalah satu pribadi yang paling rohani di antara kita semua dan Tuhan pilih dia menjadi wakil, representatif, kepala dari seluruh umat manusia. Adam adalah perwakilan dan yang menghubungkan antara Adam dan kita yang diwakili disebut sebagai covenant, diikat menjadi satu. Alkitab mengatakan, di dalam kekekalan, Allah sudah memiliki rencana keselamatan dan pada waktunya, Yesus Kristus diutus di dunia dan Yesus Kristus menggenapi apa yang gagal digenapi oleh Adam. Sehingga, karena Adam berdosa, maka saya berdosa, itu karena Adam berdosa, dosanya dicangkokkan kepada saya, diimputasikan kepada saya karena dia adalah wakil dan ini adalah jalur covenant. Sebaliknya, Alkitab mengatakan karena Kristus benar, maka upah kebenaran Kristus dicangkokkan ke kita, diimputasikan ke kita yang dipilih Allah, menjadikan kita di hadapan Allah di dalam Kristus kita adalah orang benar.

    Pencangkokan atau imputasi ini, kebenaran Kristus menjadi kebenaran saya menjadi satu covenant yang baru. Di dalam prinsip seperti ini, orang-orang berdosa menjadi satu dengan Adam, orang-orang yang dibenarkan menjadi satu di dalam Kristus. Perubahan dari “di dalam Adam” menjadi “di dalam Kristus” atau dengan bahasa yang lebih mudah, perubahan dari kegelapan menjadi terang, maka itu ada sesuatu pekerjaan Allah yang besar disebut sebagai covenant of grace. Covenant of grace mengubah kita yang tadinya diwakili Adam sekarang kita itu diwakili oleh Kristus sehingga orang-orang yang mendapatkan covenant of grace adalah orang-orang yang mendapatkan keselamatan, pembenaran di dalam Yesus Kristus. Keberhasilan dari covenant of grace diteruskan di dunia ini, Allah dengan memakai 2 pribadi. Pribadi pertama adalah pribadi Allah yang mengutus Roh Kudus. Yang kedua adalah pribadi manusia, Dia memakai orang-orang yang diselamatkan di dalam Kristus. Orang-orang yang diselamatkan di dalam Kristus akan berkata, akan bertindak, akan berlaku kepada dunia ini serupa dengan Kristus dan berkata-kata mengenai siapakah Kristus itu. Kemudian Roh Kudus akan memakai perkataan kita, kehidupan kita, dan contoh kita untuk mencelikkan orang lain. Kemudian orang lain itu ada di dalam Kristus, dan orang itu kemudian berkata lagi kepada orang lain dan orang lain itu kemudian ada di dalam Kristus di dalam covenant of grace. Perhatikan cara kerja Allah ini. Allah memakai cara kerja untuk meneruskan pekerjaan-Nya untuk terus menerus covenant of grace itu disebarkan di seluruh dunia sampai kerajaan-Nya datang dengan satu suara ini: follow Me.

Kalimat follow Me diucapkan kembali secara harafiah oleh Paulus (1 Korintus 11:1). Jadilah pengikutku sama seperti aku juga pengikut Kristus. Saya tidak bisa membayangkan apa yang terjadi bila Yesus Kristus tidak memanggil murid-murid-Nya. Maka kontinuitas ini tidak ada. Ini yang dikerjakan: Allah Bapa mengutus Allah Anak. Setelah Allah Anak menyelesaikan pekerjaan-Nya dan Dia kembali ke surga, dan Dia akan kembali lagi ke bumi pada saat yang Dia tentukan sendiri di dalam kekekalan. Maka sepanjang waktu dari jaman ke jaman, sepanjang bumi ini berputar dan sebelum Anak Allah datang untuk yang kedua kalinya, maka seluruh orang-orang yang akan dipanggil-Nya itu mulai dari murid-murid-Nya. Dan ketika murid-murid-Nya ada, Yesus katakan: follow Me dan mereka meninggalkan segala sesuatunya, mereka seumur hidup, seluruh hatinya mengikut Yesus Kristus, belajar, dibentuk oleh Yesus Kristus, dan taat pada Yesus Kristus. Kemudian Kristus pergi ke surga. Kemudian mereka mengajar kepada orang yang lain yang lebih muda mengatakan: follow me, ikut aku karena aku mengikut Kristus.

Alangkah indahnya bila ini ada di dalam gereja. Setiap pemimpin gereja berkata kepada seluruh jemaatnya: follow me, sama seperti aku mengikut Kristus. Dan alangkah indahnya bila ini ada di dalam setiap keluarga, setiap orang laki-laki, setiap bapak-bapak mengatakan kepada anak-anaknya, seisi keluarganya: ikut bapa, ikut aku sama seperti aku mengikuti Kristus Yesus. Jikalau ini ada maka covenant of grace ada di seluruh dunia, satu persatu hati setiap manusia ditaklukkan. Covenant of grace akan masuk di dalam keluarga kita, di dalam anak, cucu kita. Jangan take it for granted, jangan berpikir bahwa anak kita atau keluarga kita pasti diselamatkan karena kita pergi ke gereja. Billy Graham mengatakan bahwa bila kita berada di bengkel atau ke garasi maka engkau jadi mobil, tidak! Saudara harus menyatakan itu kepada anak, keluarga kita. Gereja harus menyatakan kepada dunia. Apa yang sekarang dunia tidak bisa lihat adalah karena tidak ada contoh di dalam hidup kita, pemimpin-pemimpin gereja. Saya mengatakan hal ini, saya tidak mengatakan dengan kebanggaan bahwa saya lebih baik dan benar dari orang lain, kita semua orang berdosa. Tetapi kita harus mengerti ada standard yang Tuhan nyatakan. Kita semua harus mengikut Kristus baru kita memiliki kekuatan dan kuasa berbicara: “Ikutlah aku sebagaimana aku mengikut Kristus”. Kita semua, bapak-bapak, dan laki-laki yang ada di sini juga harus mengikuti Kristus. Apakah saudara-saudara berani mengatakan kepada anak saudara: ikutlah aku karena aku mengikut Kristus?

Satu cerita yang sungguh-sungguh terjadi. Sudah bertahun-tahun, seorang laki-laki di kota Chicago memiliki kebiasaan pergi bekerja pagi-pagi, tetapi di tengah jalan dia akan selalu membelokkan kakinya untuk mampir ke bar dan minum bir sebelum dia bekerja. Itu dilakukan hari demi hari, tahun demi tahun. Suatu hari, di pagi yang bersalju, dia sekali lagi melakukan yang sama. Tidak ada orang yang tahu. Tetapi tiba-tiba, di tengah jalan itu, dia mendengarkan ada suatu suara yang kecil: Daddy, I am coming in your step. Orang itu kaget, dia berbalik ke belakang dan kemudian dia melihat anaknya sendiri, mengikut jejak langkah ayahnya yang tercetak di salju itu, jejak langkah yang menuju ke bar. Begitu ayahnya sadar, dia langsung berteriak dengan gemetar kepada Tuhan: “Oh Tuhan, saat ini anakku mengikuti jejakku. Tolong aku, aku sekarang akan mengarahkan jejakku ke arah yang lain. Aku akan memutar jejakku, aku akan memutarnya dan mengarahkannya ke tempat yang lain.”

Setiap bapak-bapak, buka hatimu, buka hidupmu! Sekarang saya tanya, apakah engkau sungguh-sungguh ingin anakmu mencontoh hidupmu? Suatu hari engkau kalau sudah tua, engkau lihat anakmu tidak pergi ke gereja, atau anakmu main games, main handphone di gereja, atau main video porno, main perempuan dan engkau marah, engkau tanya: kenapa seperti itu? Dan mereka menjawab: “Aku mengikuti jejakmu”. Kalau anakmu tidak peduli dengan keluarga dan tidak peduli dengan Tuhan, yang paling penting karir dan uang, dan anakmu mulai break, lalu kemudian ditanya mengapa seperti ini? “Aku mengikuti jejakmu.”

Pagi ini, Kristus memberikan satu jejak yang suci, satu jejak yang sungguh-sungguh akan membahagiakan keluargamu. Follow Me Peter, follow Me. Petrus, Yakobus, Yohanes dan seluruh rasul, seluruh bapa gereja berseru dengan satu suara yang sama: ikut aku anakku, ikut aku jemaatku, sebagaimana aku itu mengikut Kristus. Christ, I am coming in your step. Saya minta sungguh-sungguh, seluruh laki-laki yang ada di tempat ini, sama seperti Yesus Kristus memilih murid-murid-Nya, saudara serius pagi ini di hadapan Tuhan, dengarlah suara Tuhan: Follow Me, dan engkau akan Ku-jadikan penjala manusia, hidupmu tidak akan sia-sia, hidupmu Aku akan pakai untuk kemuliaan nama-Ku. Laki-laki bersikaplah laki-laki di hadapan Allah, engkau adalah pemimpin keluarga dan bukan istri yang harusnya lebih rohani daripada kita. Kita semua harus memimpin istri dan anak-anak kita. Kiranya Tuhan menyertai kita.

Ujian, Pencobaan dan Kemenangan (14)

Berdoa

Pengkhotbah: Pdt. Agus Marjanto, M.Th
Matius 4:8-11 & Lukas 4:13

Salib merupakan satu hal yang setan mau hindarkan di dalam diri Yesus Kristus. Salib adalah sesuatu yang Yesus sendiri sebenarnya tidak inginkan karena salib artinya Allah Bapa menyingkirkan muka-Nya dan menimpakan seluruh murka-Nya kepada Allah Anak. Dia sendiri berdoa mengutarakan isi hati-Nya di dalam kesendiriannya bahwa kalau mungkin cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi jikalau tidak mungkin biar kehendak-Mu saja yang jadi. Tetapi adalah jelas, di dalam paktum salutis, di dalam covenant of redemption antara Allah Bapa, Allah Anak dan Allah Roh Kudus di dalam kekekalan, maka tidak ada penebusan tanpa ada jalan salib, tidak ada pelayanan tanpa jalan salib, tidak ada kemuliaan yang bisa dibuat oleh manusia tanpa mengikuti jalan salib dari Yesus Kristus. Maka di sini di dalam pencobaan ketiga, Yesus mengajarkan kepada kita bagaimana kita bisa menyangkal diri. Dia menyangkal diri-Nya, Dia memikul salib-Nya, Dia mengatakan kepada setan enyah engkau setan, karena hanya kepada Allah saja engkau harus berbakti. Tidak ada kemuliaan bagi Allah kalau Anak Allah tidak dimuliakan. Allah oknum pertama dimuliakan jika dan hanya jika Allah oknum kedua dipermuliakan dan Allah oknum kedua dipermuliakan jika dan hanya jika harus melalui jalan salib. Ini sesuatu yang tidak terhindarkan, sesuatu tipuan dari setan jika kita menjadi pengikut Kristus tanpa jalan salib. Adalah isi hati Kristus sendiri untuk kita boleh mengabarkan injil dan melakukan misi di tengah-tengah dunia, tetapi, tanpa berita salib dan tanpa jalan salib itu adalah penipuan dan tidak ada dampaknya di dalam hidup manusia. Biarlah ini menjadi pelajaran bagi kita, biarlah kita boleh mendidik diri kita, tidak menipu diri, dan sungguh-sungguh kembali kepada Alkitab. Tanpa berita salib itu bukan kekristenan sama sekali. Kekristenan yang sejati adalah sangkal diri dan pikul salib.

Salib adalah beban, kesulitan, jalan hidup, sesuatu penderitaan yang diberikan Allah, agar kita dibentuk menjadi serupa Kristus dan melaluinya nama Kristus dikenal. Salib adalah sesuatu hidup yang dikosongkan agar kehendak Kristus terjadi di dalam hidup kita dan melalui hidup kita. Ada 4 hal bagaimana sikap hati kita di dalam hal ini.

  1. Menyadari bahwa kita sangat lemah dan musuh sangat kuat untuk menyingkirkan kita dari jalan salib Tuhan.
    Lihat Lukas 22:31-34. Pada waktu perjamuan malam, Yesus mengatakan bahwa Dia akan diserahkan kepada pemimpin-pemimpin agama, Dia akan menerima jalan salib, Dia akan masuk di dalam penganiyaan yang luar biasa besar. Kemudian Petrus, yang adalah pemimpin dari seluruh murid, mengatakan walau semua murid pergi karena imannya tergoncang, maka ia tidak akan pergi. Petrus mengatakan dia berani mati dan mau masuk dalam penjara untuk Yesus. Oswald Chambers menyatakan Petrus jujur dan Petrus penuh dengan gagah berani tetapi dia naïf, dia bodoh. Kalau kita membaca seluruh dunia ini dari kacamata Alkitab, maka Tuhan sebenarnya memberikan kepada kita satu rahasia yaitu kita adalah makhluk yang sangat lemah dan setan adalah makhluk yang sangat kuat. Petrus adalah murid yang dipanggil sendiri oleh Yesus Kristus. Petrus melihat Yesus menyembuhkan, berjalan di atas air, Petrus sendiri bahkan berjalan di atas air, bukankah dia sendiri yang melihat bagaimana seorang anak dibangkitkan, dia sendiri dari tiga murid yang melihat transfigurasi Tuhan Yesus Kristus, tetapi seluruhnya itu menjadi seakan-akan tidak berguna sekarang, sekarang tidak kuat begitu dilawan oleh setan. Seharusnya bukankah dia berjalan mengikut Yesus di mana dia itu berada. Yesus sendiri menyatakan di mana aku berada maka pelayanku itu harus berada tetapi ketika dia mau menjalani jalan salib itu, jalan mengikut Yesus Kristus maka ketika dia sudah sampai titik tertentu, dia tidak kuat.

    Tetapi ada satu anugerah Tuhan yang Tuhan beritakan kepada kita di sini, yaitu Tuhan mengatakan “Aku sudah berdoa supaya imanmu tidak gugur” Hati saya hancur dan dalam doa saya, saya bicara kepada Tuhan, “Tuhan aku ingin mengenal Engkau tetapi terlebih lagi kenallah aku, ingatlah aku, berdoalah untuk aku Tuhan”. Janganlah kita sombong, kita ada sekarang itu hanya karena anugerah Tuhan. Kita harus terus menerus menyadari satu hal bahwa kita itu tidak mampu, orang yang tidak mampu adalah orang yang terus mencari wajah Tuhan minta belas kasihan Tuhan. Kalau kita menyadari betapa miskinnya jiwa kita dan begitu kuatnya musuh, maka kita terus menerus meratap karena salib itu harus kita pikul setiap hari, Tuhan tolong daku, Tuhan beri anugerah-Mu, ingat aku di dalam doa-Mu. Saya melihat sesuatu keindahan, karena pada hari ini Yesus itu duduk di sebelah kanan Allah Bapa, Dia tidak sedang bersantai, Dia melakukan doa syafaat terus menerus. Ada 2 pribadi Allah yang berdoa syafaat bagi kita yaitu pertama adalah pribadi Allah oknum kedua yang menjadi perantara dan pendoa syafaat terus menerus dan yang kedua adalah Roh Kudus yang di dalam diri kita yang berdoa dengan kalimat-kalimat yang kita sendiri mungkin tidak mengertinya untuk dia itu berbicara meminta kekuatan di dalam hidup kita.

  2. Belajar memiliki satu arah hati hanya kepada Tuhan saja.
    Tidak kompromi dan memiliki kesetiaan (Fidelity). Fide atau faith itu artinya satu arah hati tidak bercabang. Orang yang mendua hatinya tidak akan mendapatkan apapun saja dari Tuhan, bahkan ia tidak akan mendapatkan pengertian sedikitpun berkenaan dengan kehendak Allah di dalam hidupnya. Prinsip untuk mengerti kehendak Tuhan adalah tidak boleh mendua hati, harus meletakkan seluruh hidup, seluruh hatimu untuk mau tahu kehendak Tuhan. Sama halnya dengan memikul salib kita setiap hari berarti belajar memiliki satu arah hati hanya kepada Tuhan saja.

    Di dalam tiga peristiwa setan mencobai Yesus Kristus, saudara bisa melihat prinsip-prinsipnya. Pencobaan pertama maka setan mengatakan ubah batu menjadi roti, Yesus tidak mau. Itu artinya Dia mau terus menerus bergantung kepada Firman, bukan bergantung kepada dunia. Pencobaan kedua maka Dia dibawa ke bumbungan bait suci, loncatkan dirimu, tetapi Yesus mengatakan tidak. Ini adalah bicara berkenaan dengan ketaatan, jangan engkau mencobai Tuhan Allahmu. Orang yang taat, orang yang tidak mencobai Tuhan. Orang yang mencobai Tuhan orang yang memberontak kepada Tuhan, bersungut-sungut seperti Israel dipadang gurun. Pencobaan ketiga, setan mengatakan, “aku akan berikan seluruhnya”, tetapi Yesus mengatakan, “Enyahlah engkau! Hanya kepada Tuhan saja engkau harus berbakti” ini berarti setia hanya kepada Dia.

    Perhatikan baik-baik, point kedua ini yaitu kita harus memiliki satu arah hati, setia kepada Tuhan dan tidak berkompromi. Setelah Yesus dicobai yang ketiga, setan mundur untuk menunggu waktu yang tepat yaitu ketika Yesus Kristus mau pergi ke Yerusalem dan Yesus mengatakan kepada seluruh murid-Nya, “Anak manusia akan disesah sebentar lagi, akan mengalami jalan aniaya”. Lalu Petrus membawa Yesus ke samping mengatakan hal itu tidak mungkin terjadi pada Yesus. Lalu Yesus mengatakan kalimat yang sama persis seperti pencobaan yang ketiga, “Enyah engkau setan!” Perhatikan baik-baik mengapa satu arah hati, adalah karena di dalam menjalani salib ada kesulitan yang lain yaitu orang yang paling dekat dengan kita. Yesus Kristus sendiri pernah menyatakan ayat-ayat ini, lihat Matius 10: 34-38, Matius 16:23. Perhatikan, selama 3,5 tahun Yesus Kristus hidup bersama Petrus, mengajarkan seluruh jalan-Nya kepada Petrus, Dia menyatakan isi hatinya kepada seluruh murid-Nya dan di antara 12 murid itu yang menjadi soko guru jemaat dan 12 murid yang menjadi pilar seluruh bangunan gereja sampai di dalam kekekalan sampai bumi ini berhenti berputar, dan dari 12 murid itu yang paling atas adalah Petrus. Yang paling atas, yang paling dekat dengan Kristus, yang paling dipakai oleh setan. Betapa sakitnya hati Yesus Kristus, betapa Dia merasa satu kesendirian, orang yang paling dekat dengan Dia pun tidak bisa mengerti-Nya. Kalau saudara sudah bicara berkenaan dengan salib, saudara perhatikan dengan baik-baik orang yang paling dekat dengan kitapun tak akan mengerti. Ini adalah sesuatu keterpecahan yang luar biasa, tetapi Yesus menawarkan damai sejahtera. Damai sejahtera dan kesukacitaan yang Tuhan tawarkan berbeda dengan yang dunia tawarkan.

    Aplikasi dari prinsip ini adalah, suami jangan menjadi penghalang isteri, isteri jangan menjadi penghalang suami, anak-anak jangan menjadi penghalang orang tua, dan orang tua jangan menjadi penghalang anak-anak mereka, ingat kita masing-masing secara pribadi eksistensial kita dibeli oleh Kristus. Seluruh keluarga kita itu bukan milik kita. Mereka adalah milik Kristus yang saat ini untuk sementara dititipkan kepada kita.

    Sudah terlalu banyak kita mendukakan hati Tuhan, sudah berapa banyak isteri yang berusaha untuk terus menarik suaminya untuk tidak hidup bagi Tuhan. Berapa banyak suami yang terus tarik isterinya untuk tidak hidup bagi Tuhan. Saudara nanti akan berurusan dengan Tuhan sendiri, jangan engkau berpikir sudah menikahi seseorang, itu menjadi milikmu, tidak! Sebaliknya kalau saudara menyerahkan seluruh keluarga didedikasikan hidup bagi Kristus, keluarga saudara akan mengalami sukacita yang luar biasa besarnya.

    Di dalam hal ini, perhatikan bagaimana Yesus Kristus menjawab Petrus, tidak ada diskusi, “enyah engkau Setan! Ini adalah satu titik krusial, yang saudara harus mengerti kapan Yesus Kristus itu tidak lagi ada diskusi. Sampai di titik ini, persis seperti ketika Yesus Kristus bicara kepada Pontius Pilatus: “Aku datang, kerajaan-Ku bukan dari dunia ini, Aku datang menyatakan kebenaran”. Lalu Pontius Pilatus mengatakan: Apakah itu kebenaran? Sampai di situ, kalau dia sudah tidak mengakui adanya satu kebenaran yang bisa ditemukan di dunia ini, Yesus langsung diam. Banyak orang tidak tahu bagaimana bersikap. Saudara boleh debat apapun saja kalo sudah sampai orang itu mengatakan: Apa itu kebenaran? Saudara tidak usah debat lagi, Yesus pun tidak debat. Apakah engkau berpikir dengan berdebat bisa memenangkan jiwanya? Tidak perlu bicara lagi, lihat kapan Anak Allah itu diam.

    Tetapi ketika Yesus menjawab Petrus berbicara tidak seperti itu, “enyah! Tidak ada diskusi lagi. Maka kita harus mendidik diri kita, ini tidak mudah. Alkitab mengatakan, jangan berdiskusi kalau urusan dengan panggilan bahkan dengan isteri atau suami mu. Ini adalah sesuatu panggilan Allah di dalam hidup kita, saya harus taat. Itulah sebabnya banyak orang dipanggil oleh Tuhan untuk menjalani jalan salib, mengikut Tuhan menjadi hamba Tuhan, lepaskan semuanya. Yesus Kristus mengatakan, “seorang yang mau membajak lalu kemudian berpaling kebelakang, dia tidak layak bagi-Ku”.

    Hal-hal ini keras sekali. Yesus begitu sabar, murah hati, tekun mendidik tetapi kalau sudah berbicara mengenai salib, Dia diam, enyahlah engkau. Tidak perlu berdiskusi, karena makin berdiskusi hati kita makin lemah, makin diskusi kita sendiri makin sakit.

    Di dalam satu ayat Alkitab di Perjanjian Lama, ada satu tafsiran yang pernah dikotbahkan oleh seorang mengenai Abraham. Ketika Tuhan meminta Abraham untuk mempersembahkan anaknya di gunung, ia mentaatinya. Tidak ada di dalam bagian ini bicara mengenai Sara. Jika Abraham mendiskusikan terlebih dahulu salibnya dengan istrinya, Sara, mengenai persembahan anaknya itu, maka hari ini tidak ada Abraham bapa orang beriman. Ada hal-hal yang tidak perlu bicara kepada isteri, ada hal-hal yang tidak perlu bicarakan dengan isteri. Kalau itu dosa yah bicara, kalau itu salib, saudara lawan. Salib saudara harus jalani sendiri, itu sulit tetapi itu yang Tuhan nyatakan. Yesus Kristus mengajarkan satu arah hati, karena begitu mendua, kita akan mengalami kesulitan untuk memikul salib.

  3. Lembut hati.
    Marilah kita belajar rela pikul salib. Hanya ada dua benda yang di dalam Alkitab yang Yesus katakan kepada kita untuk kita pikul. Pertama, pikullah kuk yang kupasang, kuk itu lambang kerja keras. Kedua pikullah salibmu, itu adalah lambang kematian. Pikul kuk dan pikul salib. Jikalau kita tidak rela maka bebannya besar luar biasa, tetapi Yesus mengajarkan kepada kita dua-duanya itu menjadi sesuatu yang ringan. “Pikullah kuk yang kupasang dan belajarlah dari pada-Ku beban itu ringan”, Tidak ada kuk yang ringan. Tidak ada salib yang menyenangkan. Tetapi keduanya bisa ringan dan membahagiakan jikalau hati kita rela dan kerelaan itu dari kelembutan hati.

    Joni Eareckson Tada, adalah seorang tunadaksa (quadriplegic). Suatu hari ia melompat masuk ke dalam air, kepalanya terantuk batu di dasar air yang ternyata dangkal. Seketika itu juga seluruh tubuhnya mati rasa. Ia mederita kerusakan permanen pada tulang belakangnya. Beberapa kali Joni menghadiri kebaktian penyembuhan, tetapi ketika pulang dari kebaktian itu ia tetap di menggunakan kursi roda. Orang-orang mengatakan orang ini tidak beriman, karena ia tidak disembuhkan oleh Tuhan. Tetapi Joni Eareckson Tada sekarang dipakai oleh Tuhan keliling di mana-mana untuk menyatakan bahwa orang-orang cacat itu disayangi oleh Tuhan, dia dipakai oleh Tuhan di dalam penderitaan. Di dalam bukunya, Joni membicarakan berkenaan tentang kelembutan hati untuk rela memikul salib. Dia mengatakan bahwa gambaran lembut hati yang dipakai oleh Alkitab aslinya adalah tentara Romawi atau Yunani pada waktu itu yang berusaha untuk menaklukkan seekor kuda di hutan, untuk dipakai menjadi alat kerajaannya, semakin kuda itu liar, semakin punya kekuatan yang besar nanti di dalam pertarungan. Sebelum dipakai oleh tuannya di dalam pertarungan yang besar, maka tuannya harus bisa menaklukkan kuda itu dan kuda itu takluk, itu lembut hati. Sepanjang kuda itu tidak mau taat, sepanjang itu pula dia tidak bisa dipakai oleh tuannya. Tetapi kalau kuda itu mau takluk, mau menerima pimpinannya, agar kemudian dikeluarkan dari hutan, dilatih, dan dibentuk, kuda itu akan menjadi kuda perang yang akan memenangkan pertandingan. Kiranya kita berdoa minta agar Tuhan memberikan kelembutan hati sehingga kita rela.

    Alkitab menyatakan rahasia rohani bagaimana kelembutan hati itu muncul.

    a. Melihat Kristus menanggung salib lebih daripada kita. Lihat Ibrani 12:1-4. Jadi kelembutan dan kerelaan muncul karena mata yang melihat kepada Kristus yang memimpin kita dalam iman, membawa iman itu kepada kesempurnaan yang dengan mengabaikan kehinaan, tekun memikul salib. Jangan melihat orang lain. Bagi kita yang memikul salib, biarlah kita boleh belajar mengenal Kristus, baca Firman dan minta anugerah Tuhan untuk kita boleh memandang Kristus secara mata rohani, itu membuat kita lembut hati.

    b. Karena Allah itu setia kepada kita. Ada satu kalimat dalam Mazmur bahwa orang-orang yang sudah lanjut usianya pun akan menyatakan bahwa Dia, Allah yang setia dan tidak ada kecurangan dari pada-Nya. Maka kesetiaan Allah itu membuat kita rela. Allah itu setia, Allah tidak pernah hutang. Setan tidak pernah dagang rugi, Allah itu tidak pernah hutang. Kalau engkau sekarang ada sulit, ada air mata, jalani dengan rela, engkau akan lihat, akan adanya kemuliaan dan Dia akan memberikan berkat demi berkat didalam salib yang kita tanggung.

    c. Dengan mengingat bahwa Dia mengerjakan segala sesuatu untuk kebaikan kita (Roma 8:28). Ini menjadi suatu ayat penghiburan bagi kita sejatuh apapun kita dalam dosa. Kalau saudara kemudian bertobat, saudara baca ayat ini. Perhatikan baik-baik, salib itu adalah cara Allah membentuk hidup kita untuk kita hidup serupa dengan Kristus. Banyak orang menjadi Kristen, bahkan aktif di gereja tetapi tidak mau menjadi orang Kristen yang sejati dan orang Kristen yang sejati adalah orang yang berani pikul salib. Orang pikul salib itu adalah orang yang dibentuk rela untuk menjadi serupa Kristus. Tujuan Allah kepada kita, Dia membenarkan kita. Tujuan Allah menebus kita bukan membawa kita pergi ke surga saja, tujuan Allah membentuk hidup kita, menebus hidup kita, membeli hidup kita adalah untuk kita serupa dengan Kristus didunia ini.

    Biar kita boleh mengerti, kelembutan itu muncul karena tiga hal, pertama melihat Yesus Kristus yang tekun memikul salib, kedua ingat bahwa Allah itu setia adanya, ketiga bahwa apa yang Dia berikan kepada kita adalah untuk kebaikan kita.

  4. Dari kerelaan itu akan muncul sukacita karena melihat kemuliaan dari salib.
    Sukacita ini tak akan muncul sebelum kita rela, tetapi begitu rela maka akan ada sukacita yang besar, karena melihat kemuliaan salib. Salib itu bukan lagi menjadi tanggungan berat saja, salib itu menjadi privilege, hak istimewa. Orang Kristen yang benar adalah orang Kristen yang menjalani jalan salib dengan senyum dan memuji Tuhan. Ini rahasia yang besar sekali. Lihat Kolose 1:24, “aku bersukacita karena aku menderita”, ini bukan orang Asketisme yang suka menoreh-noreh, membuat derita pada tubuh, lalu kemudian mengasihani diri. Sekarang saudara-saudara, “aku boleh menggenapkan apa yang dalam dagingku, apa yang kurang pada penderitaan Kristus”. Perhatikan baik-baik, penderitaan Kristus secara substansi, secara kualitas tidak kurang, penderitaan Kristus secara hakekat, ontological itu cukup untuk meredakan murka Allah, itu cukup untuk menebus kita dari dosa. Yang kurang adalah penderitaan Kristus itu kurang dikenal bagi seluruh dunia. Dia mati di Yerusalem, 2000 tahun yang lalu, bagaimana mungkin Dia dikenal sampai saat ini di seluruh dunia? Perhatikan baik-baik, Injil itu berjalan ke seluruh dunia dari jaman ke jaman dengan cara seperti ini, orang-orang itu pergi memikul salib dan kemudian memberitakan Firman dan hidup sesungguhnya bagi Allah, di dalam sakit penyakit, kesulitan, aniaya mereka memuji Tuhan, sampai kemudian seluruh mata orang-orang di sekitarnya bertanya kepada mereka, siapa yang engkau percaya ini? Kenapa engkau mau mati bagi Dia? Berapakah mulianya orang seperti ini? Siapa Dia sehingga seluruh hidupmu itu memiliki kekuatan untuk bersukacita memuji Allah, ketika engkau menderita? Aku mau tahu siapa Dia! Dan dengan itulah seluruh Injil itu pergi ke seluruh dunia, dan genapkan apa yang kurang pada penderitaan Kristus.

    Perhatikan baik-baik, salib adalah metode Allah di dalam meluaskan kerajaan-Nya di bumi ini. Itu adalah privilege. Jikalau kita berada dalam kesulitan, asal itu bukan karena dosa, tetapi kesulitan yang Tuhan ijinkan dan kemudian kita rela taat dan minta kekuatan setiap hari, mengubah kesulitan itu akhirnya menjadi puji-pujian bagi nama-Nya, orang akan melihat saudara dan orang akan bertanya apa yang menjadi kekuatanmu? Siapakah Dia sehingga engkau itu mau menyerahkan seluruh hidup, masa depan dan segala yang engkau miiki bagi Dia? Apakah Dia itu sungguh-sungguh mulia? Orang akan tergerak di dalam hatinya. Paulus mengatakan sekarang aku boleh bersukacita bahwa aku boleh menderita karena kamu, dan menggenapkan dalam dagingku apa yang kurang pada penderitaan Kristus, untuk tubuh-Nya, yaitu jemaat. Belajarlah bersyukur ketika berada dalam kesulitan hidup, belajarlah berterima kasih ketika kita berada di dalam air mata. Bersyukur kepada Tuhan untuk semuanya bahkan karena Tuhan sedang membentuk kita dengan salib yang diletakkan untuk nama-Nya dipermuliakan. Itulah sukacita dipakai oleh Tuhan, dipakai untuk kemuliaan Tuhan, untuk kehendak-Nya jadi dan nama-Nya dipermuliakan. Kiranya Tuhan memimpin hidup kita, kiranya Tuhan boleh memberikan semakin dalam pengertian salib, dan kerelaan kita untuk memikul salib-Nya.

Hal-hal yang diajarkan Alkitab tentang keluarga

Amsal 31:1-31

Sebenarnya di dalam seluruh pergumulan keluarga dan di dalam relasi suami-istri dan di dalam relasi keluarga dengan gereja dan pekerjaan, maka sebenarnya ada 3 hal yang paling utama, tetapi hari ini saya tidak mungkin menyelesaikan ketiga-tiganya karena khususnya yang terakhir itu akan membahas masalah yang besar. Pertama berkenaan dengan keseimbangan antara keluarga dan gereja. Kedua berkenaan dengan perkataan Yesus, “Jikalau engkau itu tidak membenci suamimu, istrimu, ayahmu, ibumu, anak-anakmu, engkau tidak bisa mengikuti Aku.” Ini adalah sesuatu yang sering sekali disalah mengerti. Ketiga sebenarnya adalah bicara mengenai ordo. Alkitab dengan jelas menyatakan bahwa suami itu kepala rumah tangga, kepala istri. Sekarang gerakan feminism sedang melanda luar biasa untuk membuat wanita sejajar dengan laki-laki.

Saya tidak akan menjelaskan point yang ketiga karena itu akan memerlukan seminar sendiri dan waktu berjam-jam untuk menjelaskan dengan tepat berkenaan dengan ordo ini. Tetapi saya akan memberi hint terlebih dahulu point yang ketiga, meskipun saya tidak jelaskan di sini, supaya jangan ada unsur dosa di dalam diri kita mengambil advantage dari ayat tersebut. Ketika Paulus meyatakan suami adalah kepala istri dan istri harus tunduk kepada suami, sama seperti Kristus adalah kepala jemaat dan jemaat itu harus tunduk kepada Kristus. Sebagai suami tidak berarti saudara boleh abuse istri. Harus diingat, relasi suami-istri, suami adalah kepala keluarga dan istri adalah pewaris tahta kasih karunia Allah itu adalah relasi cinta dan hormat. Kalau suami tidak mencintai istri, kalau suami tidak korban untuk istri, kalau suami itu tidak sungguh-sungguh mengerti pergumulan istri, tak mungkin istri itu akan menghormati suami. Standarnya itu adalah Kristus dan jemaat. Bukankah Kristus yang mati terlebih dahulu bagi jemaat? Jemaat itu tidak kenal Kristus, tetapi Kristus terlebih dahulu mati, maka jemaat kemudian mau menyerahkan hatinya. Jaman sekarang terjadi peperangan yang besar antara laki-laki dan perempuan, tetapi kalau saudara mengerti prinsip ini, yang disebut sebagai biblical order, biblical ordo, itu akan menjadikan sesuatu hal yang indah di dalam kehidupan keluarga kita. Suatu hari kalau Tuhan pimpin, maka saya akan berbicara lebih dalam lagi tentang hal ini. Sekarang saya akan masuk ke dalam kesulitan di dalam pikiran kita mengerti ayat-ayat Alkitab tentang keluarga yang sering sekali disalah mengerti.

  1. Berkenaan antara kerja, keluarga dan gereja.
    Ini adalah hal yang terus-menerus akan menarik hati dan pikiran kita, dan kemana pun saja saudara-saudara melangkah, kalau kita tidak mengerti prinsip Alkitab, selalu akan dipenuhi dengan guilty feeling yang tidak perlu. Kita berpikir bahwa keseimbangan itu adalah masalah dengan waktu, sebenarnya tidak demikian. Sebelum saya jelaskan prinsip Alkitab, maka kita harus hati-hati dengan perenungan pikiran kita, kalau tidak, nanti kita akan bersalah kepada Tuhan. Apa yang saya mau katakan adalah sering sekali kita selalu against berkenaan dengan gereja dan keluarga. Padahal kalau kita mau berpikir dengan cermat, yang menghabiskan paling banyak waktu bukan gereja, tetapi kerja. Tetapi mengapa di dalam hidup kita, kita tidak pernah complaint mengenai kerja? Kita sedang tidak fair untuk menempatkan masalah ini. Mari kita baik-baik memikirkan Firman. Baik-baik untuk kita berhati-hati di dalam pikiran kita yang sudah jatuh di dalam dosa. Di luar sana orang-orang yang tidak mengenal Allah mengambil waktu orang-orang yang sudah ditebus oleh Kristus dari pagi sampai malam dan kita tidak pernah complaint sekalipun. Tetapi ketika kita bicara berkenaan dengan gereja, hanya 1 minggu 2 jam, kalau saudara-saudara mengikuti 1 persekutuan yang lain mungkin 2 jam lagi, 1 minggu hanya 4 jam, saudara bekerja 1 hari 8 jam, saudara tidak pernah complaint terhadap dia. Biarlah kita boleh berhati-hati akan hati kita. Apakah sungguh-sungguh kita takut kepada Tuhan? Kenapa yang selalu dibenturkan adalah keluarga dan gereja? Kenapa saudara tidak pernah membenturkan antara keluarga dan pekerjaan? Apa yang sedang terjadi dalam hidup kita? Nah saudara-saudara, biarlah perkataan-perkataan yang tajam ini biarlah boleh menembus hati kita, dan biarlah Roh Kudus boleh menyadarkan kita.

    Saya tidak sedang berbicara berkenaan dengan kepentingan keluarga yang lebih rendah daripada kepentingan gereja, sama sekali tidak. Perhatikan baik-baik, prinsip di dalam Alkitab bukan keseimbangan tetapi keutuhan. Prinsip di dalam Alkitab tidak seperti ini, untuk keluarga, untuk pekerjaan dan untuk gereja masing-masing 5 jam. Bukan di dalam area jam, bukan fenomenanya, tetapi adalah esensinya secara keseluruhan, the wholeness, integrate. Salah satu masalah ketika dosa sudah masuk di dalam hidup manusia, maka manusia itu menjadi disintegrate. Manusia tidak pernah bisa wholeness, tidak pernah bisa berintegrasi. Manusia tidak pernah utuh hidup di hadapan Allah. Kalimat itu sama seperti yang dikatakan oleh Yesaya, padahal Yesaya adalah orang yang dipakai oleh Tuhan, yang ketika berhadapan dengan Allah, kemudian dia melihat dan mendengar malaikat itu berseru: “Suci, suci, sucilah Tuhan!” Langsung dia itu mengatakan: “Celaka aku! Aku orang yang berdosa! Celaka aku!” Kalimat itu boleh diumpamakan seperti satu gelas beling yang jatuh ke lantai dan hancur berkeping-keping (disintegrate).

    Hidup kita ini penuh dengan dimensi-dimensi, ada pasangan hidup kita, perlu uang untuk makan, perlu berelasi dengan mertua dan orang tua, berelasi dengan teman-teman sosial. Kita perlu untuk beribadah di dalam gereja, kita perlu ada talenta studi, saya perlu waktu studi, ada anak-anak yang menuntut kita 24 jam, dan lain sebagainya. Seluruh area hidup ini, kalau kita tidak mengerti core-nya, kita akan ditarik-tarik terus. Seorang anak muda yang terus pergi bersama teman-temannya, orang tuanya akan bertanya dan menariknya. Seorang suami yang terus pulang larut malam, istrinya akan bertanya dan meminta ia memperhatikan anak-anaknya. Hidup kita yang sudah jatuh di dalam dosa terus akan pecah dan terjebak kalau kita tidak mengerti bagaimana kita bergantung sepenuhnya kepada Tuhan di dalam Firman dan Firman itu meluruskan hidup kita. Dan saya mengerti, bahkan di dalam diri saya, ketika kita itu melakukan sesuatu yang begitu sangat meminta waktu di satu tempat, lalu kemudian mulai muncul guilty feeling. Saudara tidak usah bicara mengenai gereja dan keluarga, saudara lama di tempat pekerjaan pun ada guilty feeling terhadap keluarga. Kita berpikir untuk menyeimbangkan, saudara tidak akan pernah mungkin bisa menyeimbangkan sampai saudara mendapatkan core-nya.

    Mari kita perhatikan baik-baik Amsal 31:10-31. Amsal 31 menyatakan seorang istri yang bekerja. Masalahnya bukan di sana, tetapi bagaimana cara menyeimbangkannya? Saya tidak pernah mengatakan bahwa istri tidak boleh bekerja, hanya mengurus anakmu terus di rumah. Istri-istri yang tidak bekerja belum tentu lebih baik anaknya daripada istri-istri yang bekerja. Tetapi apa motivasinya bekerja? Saudara mesti hati-hati karena itu akan mempengaruhi spirit anak kita dan membuat anak kita entah mencintai Tuhan atau membenci Tuhan. Kita tidak bisa melihatnya sekarang. Kita akan melihatnya belasan tahun setelah itu. Apakah seorang istri bertanggung jawab untuk bekerja mengembangkan talenta, atau jika memang keuangan sangat kurang? Jawabannya adalah ya. Di tempat yang lain, apakah istri bertanggung jawab untuk mengasuh anak? Jawabannya adalah ya. Apakah ia bertanggung jawab untuk mengabarkan Injil? Jawabannya adalah ya. Apakah ia bertanggung jawab untuk berdoa syafaat? Jawabannya adalah ya. Maka seluruh aspek ini bukan aspek keseimbangan. Ini adalah bicara mengenai wholeness. Lihatlah perempuan dalam Amsal 31 ini, dia bekerja, tetapi perhatikan, domestic job, tanggung jawab internal itu diselesaikan. Banyak orang bekerja untuk keluar dari tanggung jawabnya karena tidak suka terhadap tanggung jawab yang ada. Kita harus hati-hati karena itu akan mempengaruhi spirit seluruh keluarga kita. Jikalau saudara bekerja karena merasa perlu untuk memenuhi segala keinginanmu (misalnya beli apartemen 5, mobil 6 dll), jika demikian yang mendorong kita itu bukan takut akan Tuhan, tetapi greedy. Pasti rumah tanggamu hancur karena itu dilihat oleh anak. Maka orang perempuan boleh kerja? Maka saya mendorong saudara bekerja, apalagi kalau saudara-saudara adalah orang yang pandai, tetapi keluarga saudara harus tetap diselesaikan.

    Saya cerita dua peristiwa yang benar-benar terjadi. Satu adalah seorang anak yang punya mama dan kemudian akhirnya keluarga itu sulit sekali, lalu kemudian mamanya dari pagi sampai hampir larut malam bekerja keras untuk membiayai keluarganya. Ketika dia harus keluar rumah, dia keluar dengan air mata, terus memikirkan keluarganya, minta belas kasihan Tuhan untuk boleh mendapatkan makanan supaya anaknya bisa hidup. Setelah anaknya itu besar, menikah, maka dia mengatakan, “Mama, terima kasih karena engkau sudah bekerja keras, berkorban bagi aku. Terima kasih.” Dia peluk mamanya dan seumur hidup, maka anak ini terus-menerus akan membiayai mamanya karena sayang, mengetahui mamanya bekerja keras untuk dia. Orang yang kedua, pada saat pernikahan, ketika acara penghormatan kepada orang tuanya, anak yang menikah ini memberikan bunga lalu berbicara,” Mama, saya berterima kasih karena pada waktu aku kecil aku masih ingat mama akhirnya memutuskan keluar dari pekerjaan untuk mengasuh aku. Aku berterima kasih, Ma.” Inti dari semuanya adalah mama yang pertama dan mama yang kedua itu satu, yaitu pikul salib. Jikalau engkau mau keluar kerja, kerja karena engkau pikul salib, tetapi kalau engkau keluar kerja karena engkau tidak suka di rumah, itu adalah hal yang salah. Sama halnya dengan hamba Tuhan. Sebagai hamba Tuhan, saya harus mengasihi jemaat, saya harus kerja keras untuk jemaat, dan saya harus mengasihi keluarga, saya harus bekerja keras untuk keluarga. Saudara harus kerja keras untuk menghidupi keluarga, saudara harus mengasihi keluarga, saudara harus kerja keras untuk nama Kristus dipermuliakan di dalam gereja. Kita harus berjuang, dengan lutut kita berdoa kepada Tuhan, itu seluruhnya adalah tanggung jawab kita.

    Perempuan di Amsal 31 itu ketika dia bekerja dan urusan rumah tangga diselesaikannya, suaminya bangga. Perhatikan baik-baik, suaminya tidak diperdaya oleh wanita ini. Dari kerja keras wanita ini, maka suaminya menjadi orang yang dihormati, anak-anaknya berbahagia. Di sini kita melihat bagaimana dia bekerja keras di luar rumah, di dalam rumah, dan kemudian dikatakan bahwa ia membuat pakaian dari lenan, menjualnya. Pakaiannya adalah kekuatan, kemuliaannya, dan ia membuka mulutnya dengan hikmat, pengajaran yang lemah lembut ada di lidahnya. Dia sedang berbicara tentang Firman kepada anak, kepada seluruh keluarga. Jikalau seorang perempuan bekerja adalah karena untuk superioritas, untuk mendapatkan profit, maka di situ kegagalan dari keluarga itu. Bagaimana ibu di Amsal 31 ini bisa tetap memiliki keseimbangan? Dalam ayat 30: “Istri yang takut akan Allah dipuji-puji.” Jadi ini adalah core-nya. Jadi sekarang, apa yang ada di tengah-tengah isi hatimu dan keluargamu? Kalau Allah tidak ada di tengah, maka engkau pasti akan hancur. Engkau mendapatkan segala sesuatu tetapi hidup pernikahanmu tidak akan bahagia. Perhatikan sekarang seluruh area hidup itu akan terus menerus akan tarik menarik kecuali saudara mendapatkan core-nya untuk membuat sesuatu hal yang firm, yang balance dan di titik tengah itu siapa? Alkitab mengatakan fear of the Lord – takut akan Allah.

    Jikalau ada fear of the Lord – maka saudara mencari nafkah karena tahu itu adalah panggilan. Saudara berdamai dengan mertua itu adalah panggilan. Saudara bergaul dengan banyak teman, itu adalah calling, menjadi saksi dan garam bagi dunia ini. Saudara keluar untuk study karena itu panggilan dan semuanya karena fear of the Lord. Ketika ada seseorang bertanya kepada saya ingin melayani, saya katakan melayani dengan sungguh-sungguh tetapi satu hal yaitu ketika waktumu begitu banyak dipakai untuk pelayanan sekaligus engkau harus perhatikan dan bereskan seluruh keluargamu. Karena ini adalah the wholeness, integrate, seluruhnya. Engkau melakukannya karena takut akan Allah. Apakah fear of the Lord ada di dalam hatimu? Kalau iya jalankan saja dan kau tidak akan merasa bersalah karena Tuhan akan mengkonfirmasi engkau. Tetapi jikalau tidak ada, maka sebenarnya seluruh kehidupan kita adalah kehidupan yang self-centered, tidak mau dipakai oleh Tuhan dan tidak mau pikul salib, tidak mau bayar harganya. Sekali lagi kuncinya adalah apakah aku melakukan ini karena takut akan Tuhan? Amsal 4:23 ayat yang berkali-kali saya katakan. Mari periksa diri kita masing-masing dengan jujur dengan tulus terbuka di hadapan Allah, apakah inti dari hati kita? Apakah itu fear of the Lord? Ataukah hal-hal yang lain? Karena dari hati terpancar seluruh kehidupan. Kalau hati kita hedonism, pleasure at any cost, terpancar dari seluruh kehidupan. Kalau hati kita fear of the Lord terpancar dari seluruh kehidupan.

    Saya berharap dalam poin pertama ini saudara mengerti sekali lagi, mengerti tidak ada yang lebih tinggi dan tidak ada yang lebih rendah, semuanya the wholeness, saudara harus persembahkan kepada Allah. Pada saat penghakiman terakhir Dia akan tanya: Bagaimana hubungan dengan suami/istrimu? Beres? Menjaga kesucian? Engkau mengasihi dia? Bagaimana hubungan dengan anak-anak? Beres? Engkau mendidik dia? Bagaimana dengan talenta yang Aku berikan kepadamu? Banyak orang yang malas tidak mau untuk menggali talentanya di dalam pekerjaan dengan alasan-alasan sebenarnya adalah dia malas. Biarlah kita boleh mengerti, jagailah hatimu dengan segala kewaspadaan karena dari sanalah terpancar kehidupan. Saya akan akhiri poin pertama ini dengan Firman Tuhan yang mengatakan, orang yang takut akan Tuhan, Roh Kudus akan bekerja di dalamnya dan salah satu tandanya adalah dia suka diam di rumah Tuhan. Jangan terbalik, bukan semua orang yang ada di gereja pasti cinta sama Kristus, tetapi orang yang cinta Kristus pasti akan pergi ke gereja. Mazmur 84:2-8. Sekali lagi, bukan masalah keseimbangan tetapi keseluruhan, the wholeness, hidup yang utuh dipersembahkan kepada Allah dalam seluruh hidup dan keluarganya, dan boleh menjadi satu hati melayani bersama keluarganya terus di rumah Tuhan, terus itu menjadi keinginan kesukaannya, karena dia melihat ada visi yang baru dan dia akan membawa, menggunakan apapun saja yang menjadi talentanya, yang menjadi uangnya, yang menjadi pekerjaannya untuk kemuliaan bagi nama Tuhan. Pikirkan baik-baik dan biarlah saudara boleh mengerti core-nya, The commitment of your heart.

  2. Lihat Matius 10 : 34-38. Apakah benar bahwa Yesus meminta kita untuk membenci seluruh keluarga kita sama seperti Dia membenci pekerjaan setan? Perhatikan baik-baik, salah satu dari ciri interpretasi bidat adalah mengambil satu ayat Alkitab, menekannya dan melupakan ayat-ayat yang lain. Bukankah di Alkitab dikatakan: Hormatilah orang tuamu? Bukankah di dalam Alkitab dikatakan bahwa suami cintailah istri dan istri tunduklah kepada suami? Bukankah di dalam Alkitab bahkan Yesus mengatakan bahwa engkau harus mencintai musuhmu dan bukan membencinya? Dia bahkan mengatakan: Jikalau ditampar pipi kiri, engkau berikan pipi kanan. Engkau disuruh berjalan 1, engkau berjalan 3 langkah bersama dia. Bukankah itu adalah bentuk dari cinta? Bukankah Allah sendiri mengatakan bahwa Aku mengasihi engkau dan God is love? Ayat ini bukan anti-tesis. Ayat ini adalah paradoks.

    Anti-tesis adalah 2 hal yang akan bertentangan dan sampai kapan pun saja dan di dalam kekekalan pun, saudara tidak pernah mungkin akan mendamaikannya. Contoh kalimat anti-tesis dalam Alkitab yaitu engkau tidak bisa memilih 2 tuan. Engkau harus pilih salah satu, God or mammon. Kalau saudara mencintai uang, saudara tidak pernah bisa, sampai kapan pun saja, engkau mengatakan: Aku mencintai ini untuk hidupku untuk mulia bagi Kristus. Tidak pernah mungkin, itu adalah kebohongan. Alkitab mengatakan: Cinta akan uang adalah sumber seluruh kejahatan. Tuhan tidak katakan: Punya uang sumber kejahatan. Yang membuat orang itu jahat, itu cinta uang, bukan uangnya. Jadi uang itu netral. Itu adalah milik Allah yang dipercayakan kepada kita. Tetapi cinta uang itu berarti hati kita itu mendekap pada dia. Itu akar segala kejahatan. Maka itu adalah kalimat anti-tesis.

    Tetapi ketika kita bicara berkenaan dengan suami-istri, orang tua-anak, ini bukan anti-tesis. Ini adalah paradoks. Paradoks itu adalah dua hal yang secara fenomena luar itu bertentangan tetapi di dalamnya ada satu keindahan kalau saudara menemukan kuncinya untuk menyatukan semuanya. Tuhan mau supaya kita mengasihi keluarga kita, supaya gereja memiliki keluarga-keluarga yang sehat dan saling mengasihi. Orang-orang yang dipakai menjadi kesaksian di luar adalah orang-orang yang Tuhan berikan anugerah dalam persekutuan yang indah dalam suami istri di dalam gereja. Tuhan mau engkau makin lama saling mengasihi antara suami-isteri, orangtua dan anak-anakmu. Tetapi mengapa ayat ini begitu sangat tajam? Sekarang saya akan jelaskan arti ayat ini bukan membenci seperti saudara itu tidak suka dan membuang.

    Arti ayat ini dalam bahasa aslinya adalah love-less. Love-less itu adalah sesuatu sedikit atau boleh dikatakan lebih sedikit daripada cinta kepada Kristus. Apa artinya? Jikalau kita adalah orang yang lahir baru, anak-anak Tuhan yang sejati, maka Roh Kudus akan memberikan pertumbuhan rohani dan saudara-saudara perhatikan pertumbuhan rohani itu akan makin lama makin kita itu mengasihi keluarga kita. Tetapi jikalau belum lahir baru maka belum terjadi demikian. Orang yang sungguh mengasihi Tuhan, makin lama makin mengasihi keluarga dengan kesucian dan kemurnian bukan dengan interest pribadi. Dan ketika kita mengasihi keluarga kita dengan makin lama makin suci dan murni, Roh Kudus akan memberikan sesuatu pertumbuhan rohani lagi, yaitu kita melihat kemuliaan Kristus dan Dia menjadi segala-galanya dalam hidup kita. Kita makin mencintai Dia dan apa yang Yesus katakan adalah jikalau kita masuk ke dalam stage seperti ini dalam pertumbuhan rohani tentu seumur hidup tidak ada yang sempurna, maka kita akan sadar makin lama kita akan makin mengasihi Kristus lebih daripada mereka dan gap itu, perbandingan itu, seperti cinta dan benci. Karena mengasihi Kristus jauh lebih besar daripada mengasihi keluarga kita.

    C.S. Lewis mengatakan, jikalau kita makin lama makin mengasihi Kristus dan seakan-akan itu cinta pada Kristus lebih besar dibandingkan dengan cinta kepada keluarga seperti cinta dan benci, tetapi pada saat yang sama engkau akan menyadari bahwa engkau akan mengasihi keluargamu jauh lebih besar dan lebih dalam dari sebelumnya. Ketika saya mendapatkan pengertian ini hati saya melonjak kegirangan. Tuhan, Engkau itu begitu penuh dengan hikmat, dan hikmat-Mu itu benar-benar tersembunyi kecuali kalau engkau memberikan kepada kami Roh Kudus-Mu. Yesus mengatakan kalimat-kalimat paradoks ini, barangsiapa mau mempertahankan, engkau akan kehilangan. Barangsiapa mau menyerahkan nyawanya, engkau akan mendapatkannya. Jikalau engkau merelakan seluruh keluargamu, mengasihi Kristus lebih daripada anakmu, engkau akan tahu, anakmu akan semakin mengasihi engkau. Jikalau engkau mau melepaskan hakmu dan berdoa, “Tuhan meskipun suami saya itu begitu kejam tapi aku tidak akan mencari untuk dia mencintai aku, Tuhan tolong untuk dia boleh takut kepada nama-Mu.” Begitu suamimu mencintai Tuhan maka dia akan menuju ke rumahmu dan mencintai engkau lebih daripada sebelumnya. Ini adalah jalan keselamatan yang Tuhan itu berikan pada kita. Saudara berpikir kalau dia sudah cinta pada Kristus pasti dia tidak cinta sama aku, tidak, sama sekali tidak.

Saya akan akhiri seluruh khotbah ini dengan dua cerita yang sungguh-sungguh terjadi. Pertama adalah cerita John Sung. Suatu hari dia sebenarnya sudah memiliki satu perjanjian untuk dia pergi keluar kota untuk sebuah kebaktian kebangunan rohani yang besar dan John Sung adalah orang yang sangat sibuk, dia jarang sekali bertemu dengan keluarganya. Tetapi hari itu dia sempat pulang rumah dan kemudian dia tetap harus pergi lagi untuk beberapa bulan atau beberapa minggu, saya lupa. Tetapi hari itu, ketika dia akan berangkat, istrinya sekarat, hampir mati, istrinya itu berada di dalam kesakitan yang begitu besar dan John Sung sangat mencintai istrinya. Maka di dalam posisi seperti ini, John Sung tidak bicara banyak, dia pandang istrinya, dia berlutut di depan ranjang istrinya, dia berdoa kepada Tuhan minta belas kasihan untuk istrinya. Tidak ada air mata. Tulisan itu mengatakan John Sung kemudian menguatkan dirinya, berdiri dan kemudian melangkah untuk melayani Tuhan di kota yang lain karena sudah ada perjanjian dan dia sama sekali tidak membelokkan kepalanya. Kalau saudara orang yang tidak dewasa, jikalau saudara menjadi istri John Sung, saudara akan terluka dan berkata bahwa engkau laki-laki yang tidak cinta kepada istri. Tetapi kalau engkau melihat the whole story, mengapa dia tidak mau berlinang air mata karena supaya istrinya tidak sedih dan dia meninggalkan istrinya, dia tidak membalikkan badan, kenapa? Karena dia sangat mencintai istrinya tetapi dia mesti mencintai Tuhan dan pada saat itu, hatinya mencintai istrinya dengan cinta yang jauh lebih besar daripada sebelumnya. Itu adalah rahasia-rahasia misteri kehidupan.

Orang yang kedua adalah Hudson Taylor. Sebelum Hudson Taylor menjadi misionaris, orang tuanya terus mendoakannya agar anaknya dipakai Tuhan di China. Pada hari itu setelah dia menjadi besar akhirnya dia memutuskan memang panggilan Tuhan pergi ke China. Ketika orang tua Hudson Taylor akan pergi ke suatu tempat dan papanya harus berpisah karena harus pergi ke kota lain, catatan itu mengatakan bahwa papanya naik kereta api, Hudson Taylor dan mamanya itu kemudian menunggu dan kereta api itu perlahan-lahan bergerak meninggalkan mereka. Hudson Taylor lari-lari kecil karena tahu pergi ke luar negeri pada waktu itu sangat mungkin untuk tidak kembali ke rumah seumur hidup. Dan itu adalah perpisahan hampir sama dengan perpisahan kematian tetapi dia tahu panggilan Tuhan dan kemudian dia melambaikan tangan ke papanya sampai ujung dari jalan itu. Dia bersama dengan mamanya. Beberapa hari kemudian kapal itu berangkat, dan mamanya dengan berat hati melepaskan dia dan kemudian dia ada di geladak kapal itu. Hudson Taylor terus melambaikan tangan ke mamanya. Kapal itu mulai makin lama makin meninggalkan pelabuhan itu, air mata terus ada, mungkin tidak bertemu, mungkin bertemu di Surga. Terus kemudian Hudson Taylor ingat sesuatu, dia masuk ke tempatnya tempat dia simpan bukunya, dia ambil buku lalu kemudian dia tulis I love you Mom, lempar buku itu dan kemudian mamanya itu lihat dan pegang, I love you Mom.

Jikalau kita mau menyerahkan seluruh orang yang kita kasihi untuk mengasihi Kristus lebih daripada kita, saudara-saudara akan melihat satu hal bahwa orang tersebut mencintai kita lebih dari sebelumnya. Jangan salah mengerti ini dan jangan bodoh dan jangan ditipu oleh setan. Kasihilah Kristus lebih daripada sebelumnya, jangan engkau pertahankan dirimu dan engkau kehilangan dirimu. Kau pertahankan hakmu dan engkau kehilangan suamimu. Engkau pertahankan cintamu kepada anakmu dan anakmu melihat mama begitu egois dan engkau tidak akan mendapatkan cinta anakmu. Ini adalah cinta Kristus yang murni yang suci yang membuat kita boleh memiliki satu keluarga yang indah bagi Tuhan. Kiranya Kristus dipermuliakan. Kiranya keluarga kita boleh diberkati.

THE GLORY OF CHRIST IN UNEXPECTED PLACES (2)

Matius 27:57-61, Ayub 10:20-22

Hari Kematian dan Kebangkitan Kristus adalah hari yang terpenting yang pernah ada di dunia ini dan merupakah hari yang ada di dalam kehendak Bapa, telah dinyatakan oleh para nabi dan digenapi di dalam Yesus Kristus 2000 tahun yang lalu. Inilah hari yang dikatakan oleh nabi-nabi “The Day of the Lord.” Allah hanya menunjuk 1 hari itu, dari ratusan jutaan hari sejak creation. Dan itu adalah hari antara Kristus mati sampai Dia bangkit. Allah mengirimkan Anak-Nya yang tunggal untuk mati dan nanti bangkit untuk kita semua. Ini adalah hari penebusan, hari rekonsiliasi. Tanpa hari ini, manusia sekaya dan sesukses apapun tidak memiliki pengharapan. Di dalam setiap lembar Alkitab, Allah sebenarnya menyatakan 4 batu penjuru.

  1. Creation. Di tempat itu maka kita akan mengerti bahwa Allah menciptakan manusia dan seluruh dunia ini. Dari titik itu maka kita bisa melihat sampai saat ini, generasi demi generasi, dan kebudayaan demi kebudayaan, teknologi dan teknologi berkembang maju.
  2. Fall. Itu adalah titik kejatuhan manusia di dalam dosa. Dari titik itu seluruh kejahatan muncul. Orang-orang saling membunuh. Bangsa-bangsa saling bertempur dan tidak ada habis-habisnya sampai sekarang. Jikalau Allah melepas kita hanya sampai di titik kedua saja maka tidak ada pengharapan bagi kita semua. Tetapi Puji Tuhan, karena Allah menyatakan titik yang ketiga.
  3. Redemption atau titik penebusan. Itu adalah titik yang membalik dan memberikan pengharapan bagi seluruh umat manusia. Manusia tidak harus mengakhiri hidupnya di dalam kuasa dosa dan mengakhiri hidupnya tanpa pengharapan. Hari ini adalah hari pengharapan satu-satunya. Tidak ada satu pendiri agama yang bisa melakukan hari ini. Tidak ada orang kaya yang bisa membeli hari ini. Tidak ada orang yang begitu pandai yang bisa meng-create hari ini. Ini adalah hari di dalam isi hati Allah Tritunggal di dalam kekekalan.
  4. Consummation. Di titik itulah maka semua orang di dalam Kristus akan mendapatkan keselamatan. Alkitab menyatakan bahwa pengharapan kita tidak akan mengecewakan. Tariklah titik Redemption ini maka seluruh destiny manusia itu hanya akan menuju kepada murka Allah di dalam neraka. Ini adalah titik terpenting. Itulah sebabnya sebagai Hamba Tuhan saya terus-menerus meminta kepadamu, seluruh jemaat, pikirkan mengenai kematian dan kebangkitan Yesus Kristus. Kabarkan kematian dan kebangkitan Kristus. Karena ini adalah satu-satunya berita yang dimiliki oleh gereja yang tidak dimiliki oleh dunia ini. Dunia bisa menawarkan kita menjadi lebih baik, menjadi lebih sukses, lebih pandai tetapi tidak ada yang bisa menawarkan rekonsiliasi Allah dan manusia di dalam penebusan. Ini adalah hari-hari yang penting.

Ketika hari Jumat Agung, kita melihat apa yang terjadi sesungguhnya di salib. Hari Sabtu, 2000 tahun yang lalu adalah hari di antara Kristus disalib dan juga kebangkitan. Mari melihat sekarang apa yang terjadi di dalam kubur. Ini adalah hari yang gelap karena Yesus dikubur. Apa yang Tuhan itu mau ajarkan kepada kita? Apa hikmat Allah yang mau Dia nyatakan kepada jemaat-Nya? Mari kita melihatnya di dalam 3 sudut pandang.

  1. Lihatlah dari seluruh orang jahat yang berhasil membunuh Yesus.
    Ini adalah hari di mana kita menghadapi the problem of evil (Problema kejahatan). Mengapa orang benar menderita, orang yang tidak salah harus menjadi korban, orang suci dikalahkan? Mengapa Yesus harus ada di kubur dan Dia mati dipermalukan. Alkitab dengan jelas menyatakan dengan kejujurannya ini bukan Rest In Peace, ini mati. Di mana Allah ketika semua ini terjadi? Mengapa Allah diam atau apakah mungkin Dia tidak ada? Bukankah jikalau ada Allah maka tidak ada kejahatan? Hari ini kita menghadapi satu realita, yaitu the problem of evil. The problem of evil adalah salah satu dari 2 pertanyaan teologis yang paling tinggi dan sebenarnya tidak ada jawabannya secara verbal. Pertama adalah kedaulatan Allah dan kebebasan manusia. Ketika sebuah pesawat jatuh, itu adalah kedaulatan Allah atau kebebasan manusia. Apakah itu kehendak Allah di dalam kekekalan atau itu adalah kesalahan pilot? Ini menjadi problema teologia yang luar biasa sulit. Kesulitan kedua dari the problem of evil adalah mengapa orang yang tidak berdosa itu mati dengan kesalahan orang yang berdosa? Ini adalah masalah yang begitu serius.

    Allah menyatakan kepada kita di dalam Alkitab bahwa Yesus mati dan dikubur. Pertanyaan the problem of evil muncul. Mengapa orang-orang yang jahat itu menang? Mengapa imam-imam kepala itu menang? Hari itu, imam-imam kepala pulang ke rumah dengan gembira karena Yesus yang mau menghancurkan Judaism, sudah dihancurkan terlebih dahulu. Hari itu orang-orang Romawi lega karena pax romana, the peace of Rome itu tidak terganggu. Di dalam pertentangan selama bertahun-tahun akhirnya mereka memutuskan, Yesus yang sangat menjengkelkan, harus mati. Bahkan mereka memilih seorang penjahat namanya Barabas menggantikan Yesus. Hari itu, seluruh kejahatan menang, seluruh orang tulus dikalahkan. Semua orang jahat tertawa terbahak-bahak. Tetapi Maria, ibu Yesus, terus menangis karena mengerti sekarang apa yang dikatakan oleh Simeon: Pedang menusuk hatinya. Hari itu, seluruh murid Yesus pergi dengan cucuran air mata dan ketakutan. Jikalau Guru mereka sendiri harus dimatikan seperti itu apalagi mereka, murid-murid-Nya. Saya teringat akan perkataan dari murid-murid kepada Yesus Kristus: “Aku sudah meninggalkan semuanya Tuhan, lalu apa yang akan aku dapatkan? Jawabannya adalah kubur. Ini adalah hari di mana kejahatan merajarela. The problem of evil, mengapa orang benar mati? Mengapa orang benar itu harus kalah? Dunia ini ketika menghadapi the problem of evil, kalau bukan anugerah Tuhan, tidak ada yang bisa menjawabnya.

    Ketika menghadapi the problem of evil, minimal manusia akan menjadi 2 hal ini:

    1. Deism adalah satu usaha pembelaan akan adanya Allah. Ini adalah sistem dari Teodisi. Ketika melihat the problem of evil, semua orang mengatakan; “engkau lihat tidak ada Allah bukan?” Maka orang-orang Kristen yang berpikir Deism akan mengatakan: Tidak, Allah itu ada. Allah itu ada tetapi Allah menciptakan dunia lalu kemudian Dia melepaskannya. Suatu hari, ini akan berakhir. Ada Allah tetapi Allah tidak berinterfensi. Ada Allah tetapi Allah membiarkan.
    2. Atheism. Semua manusia berada di dalam tesis dari Epicurus. Epicurus menyatakan kalimat-kalimat yang begitu menusuk hati setiap manusia ketika melihat the problem of evil. Mengapa ada kejahatan? Bukankah Allah itu baik dan Maha Kuasa? Jikalau ada kejahatan maka Allah itu mungkin Maha Kuasa tapi tidak baik. Atau Dia baik tapi tidak Maha Kuasa. Atau kemungkinan yang ketiga, Dia tidak baik dan tidak Maha Kuasa. Tetapi dari 3 kemungkinan itu, Allah yang tidak baik, Allah yang tidak Maha Kuasa dan Allah yang tidak baik dan tidak Maha Kuasa. Ketiga-tiganya bukan Allah. Jikalau engkau orang Kristen, mengatakan bahwa Allah itu adalah baik dan Maha Kuasa, mengapa ada kejahatan? The problem of evil. Di mana Allah? Mengapa Dia tidak melindungi orang benar? Mengapa Dia tidak menjawab doaku? Itu adalah hari Sabtu. Saya dapat memberikan daftar peristiwa kejahatan yang seakan-akan tidak ada jawabannya dan tidak ada akhir. Bukan maksud saya untuk menjelaskan secara filosofikal bahwa Allah itu ada. Tetapi karena ini dinyatakan oleh Yesus sendiri. Biarlah kita boleh memiliki iman yang Tuhan itu nyatakan kepada kita bahwa Alkitab mengajarkan Yesus dikubur.

    Terhadap problem of evil ini maka saya mau mengingatkan saudara tentang 2 hal yang besar. Ingatlah yang pertama bahwa Yesus dikubur, Yesus sendiri sudah pernah mengatakannya. Dia mengatakan di dalam 2 hal ini yang pertama adalah rombak Bait Suci ini dan dalam 3 hari, Aku akan membangunnya kembali. Dan yang kedua, dia menyatakan: Angkatan yang jahat ini tidak akan mendapatkan tanda apapun selain dari tanda nabi Yunus. Sama seperti Yunus di perut ikan 3 hari 3 malam lamanya, maka Anak Manusia akan tinggal di dalam rahim bumi 3 hari 3 malam lamanya. The problem of evil tidak akan menghancurkan iman Kristen dan tidak dapat mengatakan bahwa Allah itu tidak ada. Karena Yesus itu dikubur, Dia sendiri sudah mengetahuinya dan tidak lepas dari rencana Bapa-Nya yang kekal. Apapun saja yang terjadi meskipun itu sesuatu air mata yang luar biasa menghancurkan, ketika the problem of evil itu sampai, mengguncangkan iman dan pikiran kita tetapi Alkitab mengatakan: Itu ada di dalam rencana Allah dan tidak ada yang tidak luput dari seluruh rencana Allah.

    Ini peristiwa yang sesungguhnya, terjadi di Inggris. Di sana ada sekolah Kristen kecil dan sangat terkenal karena pendidikannya yang berhasil untuk anak-anak yang bisu dan tuli ini. Ada seorang wartawan mau melaporkan keberhasilan dari tempat itu dan mewawancarai guru dan anak-anak. Beberapa pertanyaan diajukan oleh wartawan ini kepada anak-anak. Dan ketika diajukan, menuliskan di papan tulis, lalu seorang anak nanti akan maju dan menulis jawabannya di papan tulis. Anak-anak menjawab dengan tepat dan semua anak yang ada di dalam ruangan itu bertepuk tangan. Setelah seluruh pertanyaan diberikan, wartawan itu memiliki beberapa pertanyaan terakhir yang sangat-sangat jahat. Apakah Allah itu baik? Beberapa anak maju dan menuliskan bahwa Allah itu baik. Lalu kemudian, pertanyaan terakhir, jikalau Allah itu baik, mengapa menciptakan engkau bisu dan tuli? Semua anak kemudian tertunduk, air mata mulai mencucur, mereka diam, tidak lagi bergembira seperti tadi. Lalu kemudian ada seorang anak mengacungkan tangan dengan air matanya, ia menuliskan demikian, “karena itu kehendak-Mu, ya Bapa, terpujilah nama-Mu.” Semua anak yang melihat itu mulai kembali tersenyum dan semuanya bertepuk tangan.

    Bagi orang-orang pilihan, the problem of evil tidak akan menghancurkan hidup kita. Karena orang pilihan sudah diberitahu Yesus ada dikubur, Aku akan masuk ke sana. Itu rencana-Ku. Itu adalah rencana kekal di dalam Allah Tritunggal. Tidak ada yang terjadi di dalam hidupku yang tidak dari kehendak Allah. Biarlah kita boleh aman di dalam pelukan-Nya. Biarlah kita boleh mendapatkan sukacita di dalam perlindungan-Nya. Ingat, pertama, Yesus sudah menubuatkan-Nya. Yang kedua, ingat bahwa perkataan Yesus kepada Petrus “Simon, Simon, iblis berusaha untuk menampi engkau, tetapi Aku sudah berdoa untuk engkau supaya imanmu jangan gugur”. Di tengah-tengah problem of evil dan seluruh kesulitan dan keguncangan iman, biarlah kita boleh ingat satu hal. Anak Allah itu sendiri, Yesus Kristus yang berdoa syafaat bagi kita dan menguatkan iman kita. Dan satu hal yang pasti, tidak pernah ada doa-Nya yang ditolak oleh Bapa yang di surga.

    Dia berdoa bagi kita dan menguatkan iman kita, membuat iman kita tidak bisa dikalahkan didalam bentuk apapun saja. Semua orang Atheis mengatakan karena ada the problem of evil, maka tidak ada Allah. Saya mengatakan sebaliknya. Lihatlah the problem of evil yang ada kepada semua anak Allah di dalam Alkitab maupun sejarah gereja. Dari mana kekuatan mereka untuk terus maju. Dari mana kekuatan mereka untuk terus bertumbuh dan menang dari seluruh kejahatan? Kalau bukan menyatakan adanya Allah yang menopang kami semua. Kubur Yesus Kristus, menyatakan the problem of evil.

  2. Lihat kubur itu sendiri.

    Kubur adalah tempat penguasaan setan. Ini adalah tempat semua orang yang berdosa, kecuali Kristus. Orang berdosa dibuang dan dimurkai oleh Allah, dan ketika Allah itu membalikkan diri-Nya, setan akan menangkapnya. Yesus adalah anak Allah yang tidak berdosa sama sekali. Dia suci adanya. Tetapi mengapa Dia harus ada di kubur? Karena di atas kayu salib seluruh dosa kita ditimpakan kepada Dia. Perhatikan baik-baik, satu dosa itu begitu fatal akibatnya. Semua orang suci di dalam Alkitab, mereka adalah orang berdosa, mereka harus masuk ke kubur. Anak Allah yang secara natur tidak berdosa itupun ketika ditimpakan seluruh dosa manusia, dia harus ada di dalam kubur. Kubur adalah tempat tersendiri. Ayub menyatakan ini adalah tempat di mana no return. Semua yang masuk tidak pernah kembali lagi, kecuali Kristus. Dengan tepat Ayub mengatakan, di mana cahaya terang serupa dengan kegelapan. Kubur adalah tempat yang tiada harapan.

    Semua manusia ditaklukkan dengan takut akan kubur. Bukan itu saja, Alkitab menyatakan kubur adalah tempat setan-setan berkuasa. Suatu hari Yesus pergi ke daerah Gedara, Alkitab menyatakan dari tempat pekuburan itu, datanglah dua orang yang kerasukan setan. Sekarang perhatikan baik-baik, Yesus ada di dalam kubur. Apa yang Alkitab mau ajarkan kepada kita? Satu pengajaran yang paling inti dari seluruh pengajaran yang lain. God is with us. Tuhan beserta dengan kita di manapun kita melangkah bahkan di tempat yang paling gelap suatu saat ketika kita berada di dalam kubur. Kita dapat melihat kepastian janji ini di dalam PL dan PB. Di dalam PL kita dalam melihat di dalam Mazmur 23:1-4, “Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku”. Yesus ada di dalam kubur dan kubur adalah tempat yang menakutkan, gada-Mu dan tongkat-Mu itulah yang menghibur aku. Di dalam PB kita dapat lihat Roma 8:38-39. Paulus menyatakan, “baik di dalam hidup atau maut, baik malaikat-malaikat atau penguasa kerajaan angkasa, ataukah yang ada di hadapan-Mu itu adalah kuasa yang ada di atas maupun yang ada di bawah atau pun makhluk lain, Alkitab menyatakan “Aku akan beserta engkau”. Dua kitab ini begitu jelas, God is with us. Kita bersyukur karena Dia pernah hadir di sana.

  3. Lihatlah dari rencana Allah yang kekal di dalam kekekalan.
    Maka lihatlah kubur Yesus, apa yang direncanakan oleh Allah yang kekal? Perhatikan satu kalimat ini, Kristus mematikan kematian tepat di singgasana-Nya. Upah dosa adalah maut, itulah sebabnya manusia harus mati dan dikuburkan dan kuburan adalah tempat kuasa kegelapan. Empat hal ini, yaitu setan, dosa, maut, kubur yang mengikat dan menaklukkan kita. Tidak ada orang yang bisa melepaskan diri. Tetapi apa yang menaklukkan manusia, ditaklukkan satu per satu oleh Kristus. Kristus membebaskan kita dari kuasa dosa. Kristus menghidupkan kita dari kuasa kematian. Dan pada waktu hari ini, mengapa Kristus harus pergi ke kubur? Karena Dia akan menghancurkan setan tepat di kepalanya, tepat di singgasananya dan itu adalah kubur. Saya teringat akan apa yang Allah Bapa sendiri nubuatkan. Ketika manusia sudah jatuh di dalam dosa, maka satu suara dari Allah Bapa dan itu adalah nubuatan-Nya “Aku akan mengadakan permusuhan antara keturunanmu dan keturunan perempuan ini”. Keturunan setan ini akan memanggut keturunan perempuan ini dan keturunan perempuan ini akan menghancurkan setan di atas kepalanya. Itu mau menyatakan bahwa setan akan memerangi dan melukai Kristus. Tetapi bersyukur kepada Allah karena tumit yang dilukai, walaupun menyakitkan tetapi tidak mematikan. Allah sudah berbicara ribuan tahun sebelumnya mengenai hal ini. Yesus pergi ke kubur, menelanjanginya, menghancurkannya tepat di tengah-tengah seluruh setan berkuasa.

Saya teringat akan satu film, The Cronicles of Narnia dari C.S. Lewis. Ada satu bagian di mana salah satu anak itu, Edmund, telah menghianati Aslan dan juga saudara-saudaranya yang lain. Di dalam cerita ini, Aslan menggambarkan Kristus. Edmund membantu seorang penyihir yang jahat itu, ratu Narnia yang telah membujuk Edmund. Maka menurut hukum yang berlaku, penghianatan ini akan menghasilkan hukuman mati bagi Edmund dan hanya ada satu cara untuk menyelamatkan Edmund, Aslan harus diserahkan ke tangan sang ratu yang jahat ini. Melihat kondisi seperti ini, maka Aslan yang lebih berkuasa daripada ratu itu, datang ke tahta dari ratu itu dengan tenang dan tanpa perlawanan. Setelah itu, Aslan kemudian dipermalukan dan diikat disebuah loh batu yang mewakili hukum taurat untuk dibunuh dan Aslan mati. Saudara-saudara perempuan Edmund, Lucy dan Susan memperhatikan kejadian itu, air matanya terus mengalir dan mereka benar-benar putus asa, karena melihat Aslan mati.

Tetapi tidak lama, tiba-tiba Aslan bangkit di depan mereka, menang mutlak atas kematian. Lucy dan Susan seakan-akan tidak percaya, dan kemudian mereka bertanya “Aslan, apa artinya semua ini? Engkau tadi sudah mati dan sekarang engkau bangkit, mengapa hukum kematian itu tidak berlaku bagimu?” Pada titik ini C.S. Lewis memberikan penjelasan yang luar biasa brilliant. Artinya, kata Aslan, bahwa meskipun sang penyihir menguasai kesaktian yang hebat, tetapi sebenarnya ada kesaktian yang lebih hebat yang tidak diketahuinya. Pengetahuan penyihir itu hanya terbatas pada waktu yang ada. Tetapi seandainya ia bisa melihat sedikit jauh ke belakang saat sebelum waktu diciptakan, ia akan membaca mantra yang berbeda ada di situ. Ia pasti akan tahu, bahwa ketika seorang korban yang tidak melakukan penghianatan apapun, dan dengan sukarela dibunuh untuk menggantikan seorang penghianat, maka, loh batu itu akan hancur, dan kematian itu sendiri akan bekerja secara terbalik. Perhatikan kalimat terakhir dari C.S. Lewis ini. Kematian itu sendiri akan mulai bekerja secara terbalik. Ketika saya menemukan kalimat ini, saya mulai mengerti mengenai kemuliaan Kristus, jika seorang yang benar, tidak melakukan penghianatan apapun, sukarela dibunuh untuk menggantikan seorang penghianat, maka loh batu itu akan hancur dan kematian itu sendiri akan mulai bekerja secara terbalik.

Saya teringat satu kalimat dari orang puritan yang menggabungkan semuanya, The dead of death in the death of Christ. Kematian Kristus adalah kematian yang mematikan kematian itu. Jikalau seorang yang benar, yang suci ada dalam kubur, dan kemudian dia harus dimatikan dalam kubur itu, ada satu hukum yang lain, yang tidak diketahui oleh penjahat itu, dan hukum itu ada di dalam kekekalan di dalam isi hati Allah, yaitu bahwa kematian itu sendiri akan mulai bekerja secara terbalik. Maka Kristus yang mati itu akan mematikan kematian itu. Oh puji Tuhan! Saudara perhatikan hal ini, matinya kematian di dalam kematian Kristus. Apa yang terjadi pada hari Sabtu? Mengapa Yesus Kristus harus dikubur? Dia menghancurkan kematian dan setan tepat di dalam singgasananya. Itulah sebabnya Paulus menyatakan “Hai maut di mana kemenanganmu? Hai maut dimana sengatmu?” Ini adalah suatu pengharapan satu-satunya di antara seluruh manusia yang hidup. Apakah rohmu tidak bersukacita karena ada pengharapan di dalam kuburan? Apakah kita tidak berbahagia karena Kristus memberikan kemenangan di dalam the problem of evil. Apalagi yang sekarang kita khawatirkan kecuali kita memiliki kuasa untuk menyampaikan berita ini ke seluruh dunia. Kematian akan kematian karena kematian Kristus.

Puisi ini akan mengakhiri semuanya. “Antara hidup dan bangkit-Nya, Kristus terbaring di dalam kubur. Sekarang semua orang yang percaya tahu, bahwa mati tidak berarti binasa”. Jikalau engkau belum pernah menjadi orang Kristen, pernahkah engkau mendengarkan berita seperti ini? Jikalau engkau bukan seorang Kristen, di mana letak pengharapanmu? Dan jikalau engkau adalah orang Kristen, mengapa engkau tidak menghormati Kristus yang mulia seperti ini, mengapa engkau hanya sesekali pergi ke gereja dan engkau melupakan Kristus? Dia adalah Raja di atas singgasana-Nya yang kekal di dalam surga dan dari singgasana-Nya, Dia turun untuk menghancurkan singgasana setan. Saya berdoa kiranya semua orang yang mendengarkan hari ini, di dalam hatimu ada takut akan Tuhan lebih lagi. Di dalam hatimu ada hormat kepada Kristus lebih dalam lagi. Engkau lupakan hidup keagamaanmu yang sudah sia-sia, tinggalkan itu semua, masuklah lebih dalam di dalam iman yang sesungguhnya, mengenal Kristus yang sesungguhnya, yang memberikan kepada kita satu pengharapan yang pasti. “Antara mati dan bangkit-Nya, Kristus terbaring di dalam kubur-Nya, sekarang semua orang yang percaya tahu, bahwa mati tidak berarti binasa”. Dan itu adalah hari Sabtu. Kiranya Tuhan menguasai kita semua, kiranya Roh Kudus menguatkan iman kita. Mari kita berdoa.

THE GLORY OF CHRIST IN UNEXPECTED PLACES (1)

Matius 26: 36-42, Matius 27:45-47

Mari kita melihat bagian Firman di dalam Matius 26: 36-42 dan Matius 27:45-47. Ini adalah peristiwa terpenting sejak bumi diciptakan. Kematian dan kebangkitan Kristus Yesus melampaui seluruh peristiwa yang paling hebat di dunia ini. Kematian dan kebangkitan Kristus lebih penting daripada kejatuhan Roma, lebih penting daripada peristiwa Jengis Khan menguasai seluruh Asia, lebih penting dari penemuan listrik fotografi dan seluruh alat teknologi, dan bahkan lebih penting dari deklarasi hak asasi manusia yang sampai saat ini berusaha untuk terus menerus dipegang. Peristiwa yang terjadi selama tiga hari pada 2000 tahun yang lalu lebih penting daripada seluruh pengajaran agama dan kebudayaan manusia manapun saja. Seluruh penemuan dan kemajuan manusia selalu diikuti oleh satu kata yang kecil ini tetapi mematikan yaitu dosa. Dosa tidak bisa diselesaikan dengan teknologi, pendidikan dan bahkan oleh agama. Pendidikan mengajarkan kita bagaimana menjadi lebih pandai. Teknologi memampukan kita untuk hidup lebih baik dan agama membuat kita bermoral lebih tinggi tetapi dari seluruh lingkup hidup manusia, tidak ada yang memberikan penebusan. Dosa hanya bisa diselesaikan dengan penebusan bukan dengan agama. Hari ini kita akan mengingatkan satu kalimat penting dari Kristus. Dan kalau Tuhan pimpin maka di dalam beberapa hari ini kita akan melihat kalimat-kalimat dan peristiwa penting dari Kristus yang menyatakan kemuliaan-Nya di tempat-tempat yang tak terduga. Kristus itu begitu mulia. Bersyukur kalau kita boleh melihat kemuliaan-Nya. Tetapi selama 33,5 tahun kemuliaan-Nya itu seakan-akan tertutup tetapi jika Roh Kudus bekerja di dalam hati kita, maka kita akan melihat kemuliaan-Nya yang tidak tertandingi.

Hari ini kita akan memikirkan satu kalimat Kristus di atas kayu salib yaitu “Allahku, Allahku mengapa Engkau meninggalkan Aku”. Ini adalah inti kekristenan. Tanpa itu seluruh kita akan binasa. Ini adalah kalimat yang membuat kita boleh ditebus. Pikirkan bahwa Dia sudah bergantung di atas kayu salib berjam-jam lamanya. Kalimat itu diucapkan di tengah seluruh darah yang mengalir dan keringat yang membanjiri. Seluruh kalimat Kristus adalah kalimat-kalimat yang lirih. Tetapi dari seluruh kalimat-Nya itu ada satu kalimat yang keras, “Allah-Ku, Allah-Ku mengapa Engkau meninggalkan Aku”. Ketika Dia berteriak dan teriakan itu dicatat oleh penulis Injil maka itu adalah teriakan yang harus diperhatikan dan diingat, karena ini adalah jeritan hati-Nya dan tangisan-Nya yang terdalam. Apakah arti teriakan ini? Ketika saudara mengerti teologia, ketika saudara mempelajari satu kalimat demi satu kalimat, maka ini adalah salah satu kalimat yang melampaui pikiran kita, sehingga kita membutuhkan anugerah-Nya untuk dapat mengerti dan mengenal-Nya. Tidak ada teriakan seperti ini dari pendiri agama atau dari semua orang yang menyatakan dirinya suci. Ini adalah teriakan dari Anak Allah yang diutus. Apakah arti teriakan ini?

  1. Ini adalah teriakan penderitaan terbesar karena Kristus ditinggalkan oleh Bapa.
    Saat itu adalah saat ketika Bapa memalingkan muka-Nya dari Kristus, menarik diri-Nya dari Anak. Ini adalah kalimat yang diucapkan karena hati-Nya sangat menderita. Mari kita melihat seluruh penderitaan Kristus dan apa yang terjadi di dalam hidup-Nya. Dia adalah Allah Anak yang mengambil tubuh yang berpetakan teladan budak, yang bisa mati, bisa sakit, satu tubuh yang terbatas. Bukankah itu penderitaan? Jikalau saudara tadinya bebas, kemudian saudara terkena sakit stroke dan kemudian saudara harus terbaring, bukankah saudara akan menangis dan berteriak, “mengapa hidup seperti ini?” Apalagi kalau saudara adalah seorang pemuda, remaja atau eksekutif muda. Ketika saudara terbaring, bukankah saudara juga akan mengeluh dan berteriak kepada Tuhan? Bahkan ketika saudara bertambah tua dan terbatas, bukankah saudara sering sekali menangis ketika mengingat masa muda yang begitu lincah? Dari tidak terbatas menjadi begitu terbatas. Bukankah itu sesuatu penderitaan yang begitu mendalam? Tetapi Kristus tidak berteriak ketika Dia yang tidak terbatas menjadi terbatas. Dia menjalaninya dengan sukacita.

    Perhatikan penderitaan-Nya yang lain. Dia adalah satu pribadi yang suci hidup di tengah-tengah manusia yang berdosa. Jikalau saudara adalah seorang yang sangat menjaga kebersihan dan kemudian saudara harus tinggal dengan seseorang yang luar biasa kotor, apakah yang saudara rasakan? Saudara tidak akan menyukai keadaan saudara. Kristus adalah pribadi yang suci dan tidak berdosa yang hidup di tengah-tengah manusia yang berdosa, namun Dia tiak mengeluh. Di tempat yang lain Dia disalahmengerti, ditentang dan ditolak. Suatu hari dengan cinta kasih-Nya Dia membawa beberapa murid-Nya pergi ke satu tempat untuk bertemu dengan satu orang gila yang dirasuk oleh legion, setan. Setelah itu maka Alkitab mengatakan Dia tidak melayani yang lain, Dia kembali lagi ke tempat-Nya. Itu adalah cinta kasih dari hati Kristus. Mencari walaupun hanya satu orang gila yang dirasuk oleh setan. Dan kemudian setelah Dia menaklukan dan mengusir setan itu, apakah yang terjadi di kampung itu? Apakah mereka berbahagia memuliakan Tuhan? Tidak. Mereka malah mengusir Kristus. Kristus mengusir setan dan semua orang itu mengusir Kristus. Sejak dahulu manusia akan mengusir Kristus demi uang. Kristus selalu ditentang, diusir dan disalah mengerti. Apakah Dia mengeluh dan berteriak? Tidak.

    Lihatlah penderitaan-Nya yang lain. Dia menderita kesakitan di seluruh tubuh-Nya. Tamparan dan cambukan dari para tentara, mahkota duri yang dipaksakan di atas kepala-Nya. Pernahkah saudara melihat Dia mengeluh? Tidak. Dia menderita di seluruh relasi-Nya. Orang-orang terdekat-Nya membuat hati-Nya remuk. Yudas mengkhianati-Nya hanya demi 30 keping perak yang nilainya sama dengan harga seorang budak. Setiap orang yang tidak dilahirbarukan akan menghina Kristus dengan hinaan yang paling rendah. Petrus menyangkal Dia dan bahkan murid-murid-Nya meninggalkan Dia ketika Dia ditangkap dan dipaku di atas kayu salib. Apakah Tuhan kita mengeluh dan berteriak? Tidak pernah. Hati-Nya hancur melihat ibu-Nya menangis. Seorang manusia yang normal tidak akan tahan melihat orang yang mereka kasihi mengalami penderitaan. Kristus melihat hati ibu-Nya hancur karena menyaksikan penderitaan-Nya di atas kayu salib, direndahkan, dipertontonkan dan dipermalukan di hadapan orang banyak. Tetapi Kristus tidak pernah mengeluh.

    Dia tidak pernah mengucapkan satu keluhan kepada Bapa-Nya. Dia menderita dari seluruh jabatan-Nya. Dia adalah Raja, namun sebuah ejekan diletakkan di atas salib-Nya yang tertulis: “Inilah raja orang Yahudi.” Dia diberi jubah dan mahkota duri, dan sebuah buluh pengganti tongkat kerajaan. Mata-Nya ditutup dan kemudian ditampar, lalu kemudian seluruh prajurit mengatakan: “Hai Engkau, sekarang coba terka siapakah yang menampar Engkau? Bukankah Engkau itu nabi? Engkau bisa bernubuat, Engkau dapat mengetahui masa depan, bukankah Engkau tahu siapa yang menampar-Mu?” Dan sebagai Imam, Dia dipenjara dan digantung di atas kayu salib oleh seluruh imam. Dia menderita dalam seluruh jabatan-Nya, Raja, Imam, Nabi. Tetapi tidak pernah Dia mengatakan, “AllahKu, AllahKu mengapa Engkau meninggalkan Aku?” Seluruh penderitaan tersebut dianggap-Nya sebagai penderitaan yang kecil. Berbeda dengan kita. Begitu kita merasa sedikit sakit, kita langsung mengeluh kepada Allah. Ketika kita dihina maka kita langsung berteriak kepada Tuhan, begitu kita mengalami ketidakadilan, kita langsung menuntut keadilan. Begitu kita disalahmengerti kita ingin segera membereskannya. Begitu orang yang kita kasihi sakit, maka kita langsung cemas. Kita akan terus menuntut Tuhan. Bagi Kristus, tidak! Alkitab menyatakan, Dia tidak mengatakan apapun juga. Dia biasa menderita kesakitan, Dia memberikan tubuh-Nya untuk dipukul. Tetapi tiba-tiba di atas kayu salib Kristus berteriak, “AllahKu, AllahKu mengapa Engkau meninggalkan Aku?”

    Perhatikan penyebab teriakan ini. Bukan karena penderitaan, bukan karena kematian, tetapi karena Allah Bapa memalingkan muka-Nya dari Allah Anak. Ini adalah penderitaan yang Dia takuti ketika di Getsemani, Dia tidak takut mati, Dia tidak takut sakit, Dia tidak takut hati-Nya dihancurkan tetapi Dia takut Bapa itu meninggalkan Dia. Dia adalah Anak Tunggal Bapa yang ada di dalam pangkuan Bapa, yang begitu dekat dengan Allah Bapa. Tetapi ada satu waktu di dalam sejarah di mana kedekatan ini hancur. Bapa yang tadinya terus memandang Anak dan Anak yang terus memandang Bapa, sekarang di dalam satu waktu Allah Bapa memalingkan muka-Nya. Mengapa Allah Bapa memalingkan muka-Nya? Karena dosa. Perhatikan baik-baik, dosa kita di tanggung oleh Kristus dan pada saat itulah, Bapa di surga memalingkan muka-Nya. Ditinggalkan oleh Allah adalah penderitaan yang terbesar.

    Kristus mengajarkan kepada kita satu prinsip yang penting, apapun saja penderitaan manusia, jikalau seluruh penderitaan itu digabung, apapun itu baik fisik, mental, emosional, bahkan ketika ditinggalkan oleh orang-orang yang kita kasihi, semuanya itu digabungkan dan dibandingkan dengan Allah meninggalkan kita, itu persis seperti perbandingan satu tetes air dengan seluruh samudra yang ada. Inilah yang ditakutkan oleh Kristus. Orang itu seakan-akan berkata menjauhlah Allah karena aku tidak peduli jalan-jalan-Mu. Perhatikan ketika Yesus Kristus didatangi oleh orang-orang yang berkata, “Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu? Bukankah kami mengusir setan demi nama-Mu, bukankah kami melayani Engkau?” Yesus Kristus berkata, “menjauhlah dari pada-Ku hai sekalian pembuat kejahatan, Aku tidak mengenal engkau.” Allah yang suci tidak mungkin didekati oleh kita yang berdosa. Penderitaan manusia yang sesungguhnya adalah ketika Tuhan memalingkan muka-Nya dari kita. Pada titik itulah, yaitu ketika Allah meninggalkan seseorang, Dia membiarkan seseorang, Dia tidak menyertai orang itu lagi, maka Alkitab mengatakan, di saat itulah orang itu akan menerima dan mendapatkan seluruh keinginan hatinya. Di titik itu orang itu akan memuaskan seluruh nafsunya tanpa ada yang bisa mengendalikannya.

    Di dalam Alkitab saya sangat terkesima dengan apa yang Paulus katakan di dalam 2 bagian di surat Roma. Bagian pertama di dalam Roma 2, Paulus menyatakan Allah membiarkan orang itu, Allah menyerahkan mereka kepada keinginan hati mereka. Di dalam Roma 2 dikatakan, “aku tidak lagi mau bersetubuh dengan istriku, aku tidak lagi mau bersetubuh dengan suamiku, aku mau bersetubuh dengan sesama jenisku.” Satu kalimat Allah yang begitu sangat menakutkan adalah Allah menyerahkan mereka pada keinginan hati mereka. Bagian yang kedua di dalam Roma 8 adalah sesuatu yang terbalik. Orang ini berada dalam penderitaan, penganiayaan dan pedang. Dia berada dalam pergumulan yang sangat berat tetapi Alkitab mengatakan siapakah yang bisa memisahkan kita dari Kristus? Apakah pedang? Apakah penganiayaan? Apakah itu satu kesakitan? Tidak! Tidak ada yang bisa memisahkan kita dari kasih Kristus. Perhatikan baik-baik, bukankah mereka adalah orang yang berada dalam satu keterbatasan? Kalau saudara dan saya masih memiliki pergumulan, bersyukurlah dan jangan marah kepada Allah di dalam pergumulanmu karena Allah sedang melindungi kita. Karena Dia menyertai kita di dalam pergumulan kita. Sebaliknya, ketika semuanya begitu lancar dan di saat manusia berpikir Allah tidak ada atau mungkin orang Kristen berpikir bahwa ini adalah berkat Tuhan, pada saat yang sama Alkitab mengatakan Allah membiarkan mereka. Pertanyaan kepada hatimu yang terdalam seluruh jemaat, apakah engkau benar-benar melihat Allah itu adalah yang paling mulia di dalam hidupmu? Apakah sumber kebahagiaan kita itu adalah benar-benar Tuhan? Yesus Kristus menyatakan, “AllahKu, AllahKu mengapa Engkau meninggalkan Aku?” Teriakan itu muncul karena Dia menderita di dalam dosa manusia, seluruh dosa manusia ditimpakan kepada Dia. Jikalau engkau terus menerus di dalam dosa, Alkitab mengatakan kita akan sulit memandang wajah Allah. Dan kalau engkau sangat menyukai hal itu, maka Alkitab menyatakan orang-orang seperti ini sangat mungkin adalah penunggu dari neraka. Engkau adalah milik neraka, jikalau engkau tidak menghargai Allah.

  2. Ini adalah jeritan ketakutan terdalam karena dimurkai Allah.
    Salib adalah lambang kutukan dan di atas salib, Kristus menerima seluruh murka Allah. Dia meminum cawan murka itu sampai tidak ada yang tersisa. Pada saat Allah meninggalkan Dia, pada saat itulah Allah murka kepada Dia, karena dosa manusia. Perhatikan baik-baik, dosa itu lebih jahat dari penderitaan. Orang Kristen biasanya takut berdosa karena kita takut akan penderitaan yang mengikuti dosa, tetapi kita tidak takut berbuat dosa. Kita harus ingat bahwa dosa lebih jahat dari penderitaan itu sendiri. Satu prinsip kejahatan dari dosa adalah dosa memisahkan Allah dari manusia, tetapi bukan saja memisahkan Allah dan manusia, tetapi membuat manusia menjadi musuh Allah. Di dalam Perjanjian Lama maka kata dosa itu adalah Hamartia yang berarti missed the target. Tetapi di dalam Perjanjian Lama ketika bicara mengenai dosa, ada satu arti lagi yang lain, yaitu tangan yang terancung ke atas, dan itu artinya adalah perlawanan. Ketika saudara berdosa, saudara bukan saja menyakiti dan menyedihkan hati Allah, tetapi ketika kita berdosa, kita mengancungkan tangan kita di hadapan Allah. Dosa adalah perlawanan terbuka kepada pribadi Allah. Dosa adalah tangan yang terancung kepada wajah Allah. Ada cerita yang menyatakan bahwa Stalin, orang komunis yang melakukan begitu banyak pembunuhan, ketika berada dalam sakit yang berat, sebelum dia mati, tidak dapat menerima penyakit yang mengerogoti tubuhnya itu. Di akhir hidupnya, dia berusaha untuk mengangkat tangannya ke atas dan kemudian mengepalkannya kepada langit, ada kemarahan yang dia tunjukkan, kemarahan kepada langit. Kemarahan kepada Tuhan yang dia tidak percayai.

    Apa pengertian dosa bagi kita? Ketika kita melihat kisah penyaliban Kristus kita menangis, kita kasihan kepada Kristus yang menderita. Tetapi Alkitab menyatakan Yesus berkata kepada wanita-wanita yang juga menangis, “Jangan engkau menangis karena Aku, tetapi tangisilah dirimu sendiri dan anak-anakmu karena akan tiba masanya orang berkata berbahagialah perempuan yang mandul dan tidak pernah menyusui karena ada tiba masa penghukuman akan dosa.” Ketika kita melihat Kristus dipaku di atas kayu salib kiranya Roh Kudus memutar arah dari air mata kita, bukan karena Dia perlu dikasihani, tetapi karena murka Allah akan ditimpakan kepada kita.

    Apakah kita pernah bertemu dengan Allah? Alkitab mengatakan bahwa Musa orang yang tersuci sekalipun gemetar, bahkan Elia kemudian menutupi mukanya itu dengan gemetar, Yohanes yang tadinya bersandar di dekat bahu Kristus menjadi tersungkur dan mereka adalah orang-orang yang dikasihi oleh Allah. Bahkan orang yang paling suci dan dikasihi oleh Allah pun gemetar ketika bertemu dengan Allah. Kenapa manusia berani berdosa? Saudara-saudara akan bertemu dengan Allah yang murka pada waktunya. Bertobatlah engkau dari dosa, saya menangisi hatimu, karena engkau akan luar biasa binasa dan ketakutan pada hari itu, betapa sering engkau mendengarkan kotbah yang terus menerus menyatakan Allah mencintai, Allah mencintai, lihatlah salib! Tanpa Kristus maka kita binasa, tanpa Kristus maka kita akan hancur. Jonathan Edward ketika bicara berkenaan dengan Kristus yang marah, maka seluruh jemaatnya menjadi sangat takut. Siapa yang tahan melihat Dia, dan siapa yang tahan melihat Dia yang marah, tanpa ada yang melindungi? Perhatikan baik-baik bagi engkau yang belum pernah mendengarkan Kristus, atau engkau yang sudah bergereja dan engkau yang bermain-main dengan dosa. Apa yang sebenarnya terjadi di atas kayu salib?

    “Allahku, Allahku mengapa Engkau meninggalkan Aku?” Allah murka kepada Kristus. Dari kalimat itu muncullah istilah teologis ekspiasi, apakah maknanya? Ekspiasi berarti seseorang yang berusaha untuk melindungi orang lain dari pembunuhan. Saya pernah melihat kejadian sesungguhnya, seorang ayah bersama dengan anaknya yang terjebak di tengah-tengah pertempuran di mana peluru dimuntahkan dari kedua belah pihak. Apakah yang dia lakukan sebagai ayah? Anaknya yang masih kecil itu tidak mungkin bisa lari, tidak ada lagi jalan keluar lagi. Maka ayah tersebut memeluk anaknya dan tubuhnya membungkus anaknya sehingga seluruh peluru menembus tubuhnya dan akhirnya ayah itu mati tetapi anak itu selamat. Itulah salib. Dia membungkus saudara dan saya dari murka Allah yang seharusnya ditimpakan kepada kita, karena dosa yang sudah kita lakukan untuk melawan Allah. Siapa yang bisa melepaskan kita dari murka Allah kecuali Kristus? Dan kalau saudara mengerti hal ini dan kalau Roh Kudus menerangi hati kecilmu, tidakkah engkau begitu menghargai Kristus? Bukankah engkau seharusnya mengasihi Dia yang mengasihi kita? Cinta Kristus keluar dari murka yang ditimpakan kepada kita.

  3. Ini seruan ketaatan yang sempurna pada jalan yang ditetapkan Allah.
    Yesus Kristus adalah Anak Allah yang diutus ke dunia menjalankan kehendak Allah. Dan untuk menjalankan kehendak Allah maka Dia tidak mengambil hak ke-Allahan-Nya. Dia mengambil bentuk manusia yang bisa kita salah mengerti. Tetapi bukan itu saja, Dia kemudian dipaku di atas kayu salib. Yesaya 53 mengatakan ketika itu terjadi supaya kehendak Allah itu dinyatakan. Apakah itu kehendak Allah? Kehendak Allah yang paling ujung adalah termasuk Kristus itu dimurkai dan ditinggalkan oleh Allah. Tanpa salib maka tidak ada pengampunan. Tanpa salib maka tidak ada rekonsiliasi dengan Allah. Tanpa salib maka tidak ada penebusan. Tanpa salib Kristus, agama sebaik apapun saja tidak pernah menghapus dan melindungi engkau dari murka Allah. Tanpa salib tidak ada perdamaian dengan Bapa di surga dan di dalam Yesaya 53 mengatakan tanpa salib maka umur kita tidak berlanjut. Dan ketika Dia melakukan itu maka kehendak Allah terlaksana oleh-Nya. Dan Dia akan melihat keturunannya akan berlanjut umurnya. Seluruh agama mengajarkan bagaimana pengikutnya harus mati untuk pendirinya. Hanya satu agama yang menyatakan pendirinya mati bagi pengikutnya.

“AllahKu, AllahKu mengapa Engkau meninggalkan Aku?” Pada saat itu Allah tidak menjawab. Pada saat itu semua orang yang di sana tertegun. Pada saat itu Roh Kudus bekerja diam-diam, memberitakan kalimat ini, dari generasi ke generasi, dan orang yang mengerti akan menjawab, “karena aku Tuhan Yesus, karena aku berdosa”. Kiranya cinta kasih-Nya hadir dalam hidupmu, kiranya murka-Nya diteguhkan dari hidup kita, kiranya belas kasihan-Nya nyata di dalam hidup kita yang hanya satu kali. Jangan mencintai dosa lagi, jangan mempermainkan kekristenan sebagai sebuah agama saja. Bawalah dirimu kepada salib, minta pengampunan dari Kristus dan biarlah kebenaran ini menyinari hati kita dan setiap hari kita boleh hidup makin menghargai Kristus karena salib-Nya adalah alasan kita tetap hidup sekarang dan selama lamanya. Kiranya Tuhan mengasihani kita.

Eksposisi Matius (13) Kerendahan Hati Kristus

Matius 3:11-17



Yesus Kristus dimunculkan oleh Allah Bapa di tengah-tengah pelayanan Yohanes Pembaptis. Pada waktu itu, banyak orang berduyun-duyun dibaptis oleh Yohanes Pembaptis. Ini adalah suatu KKR besar yang kita lihat di dalam Perjanjian Baru, sebelumnya tidak pernah ada. Ini adalah seseorang yang diurapi dan dipakai oleh Roh Kudus dengan luar biasa untuk berkotbah di padang belantara. Baptisan Yohanes Pembaptis adalah baptisan untuk pertobatan. Pada waktu itu, arti pertobatan bagi seluruh orang Yahudi karena mereka menyadari satu kalimat: “Bertobatlah! Kerajaan Allah sudah dekat”. Berarti Kerajaan Allah sudah dekat, berarti Tuhan akan berintervensi, berarti Mesias akan hadir maka mereka harus mempersiapkan harinya Tuhan. Satu persatu orang Yahudi bertobat sampai kemudian Yesus datang. Yesus dibaptis bukan karena Dia perlu disucikan atau dimurnikan. Yesus dibaptis bukan karena Dia perlu bertobat. Ketika Yesus datang, Yohanes Pembaptis mengatakan: “Aku tidak bisa membaptis Engkau”. Tetapi kemudian Yesus mengatakan: “Biarlah kita melakukan hal ini, karena ini untuk menggenapkan perintah dari Allah”. Yesus kemudian berlutut di bawah Yohanes Pembaptis dan baptisan itu diberikan. Pada waktu itu Roh Kudus datang serupa dengan burung merpati dan ada kalimat dari Allah Bapa: “Inilah Anak yang Kukasihi, kepadaNyalah Aku berkenan”. Saya sudah mengatakan minggu yang lalu bahwa baptisan menyatakan siapa Mesias dan apa pekerjaan Mesias.

Pekerjaan Mesias yang pertama adalah Dia akan direndahkan. Dia akan direndahkan di depan seluruh umat manusia dan direndahkan sampai di atas kayu salib. Ini adalah perendahan diri Yesus Kristus. Mesias yang diutus oleh Allah yaitu Yesus. Yesus yang adalah Kristus memiliki dua pekerjaan utama. Pertama, Dia harus mati untuk umat-Nya. Untuk menebus umat-Nya, dia harus direndahkan. Perjalanan Kristus adalah perjalanan dari baptisan kepada salib. Baptisan adalah tempat pertama kali Yesus melayani di depan publik dan itu sudah langsung direndahkan karena yang membaptis lebih tinggi dari yang dibaptis. Yesus Kristus adalah yang dibaptis dan semua orang melihat Yohanes Pembaptis pasti lebih tinggi dari Yesus. Tidak! Ini adalah perendahan diri dari Kristus dan kemudian Kristus akan mengakhiri pelayanan-Nya secara publik di atas kayu salib. Jika sekarang kita melihat dalam Perjanjian Baru, begitu jelas tentang perjalanan Mesias yaitu dari satu perendahan menuju kepada perendahan yang lain, dari satu tempat untuk disalah-mengerti ke tempat lain yang disalah-mengerti. Ini adalah suatu perjalanan salib. Jika kita adalah orang Kristen maka disebut sebagai pengikut Kristus. Maka saudara dan saya rela pikul salib, rela untuk memiliki hati taat kepada Tuhan, rela untuk dibentuk oleh Tuhan. Yang disebut sebagai orang Kristen bukan kalau kita berdoa sebelum makan dan pergi ke gereja. Yang disebut sebagai orang Kristen artinya kita rela untuk memikul salib. Perhatikan baik-baik, orang yang rela untuk memikul salib di dalam Alkitab dinyatakan sebagai orang yang rendah hati. Sebagai aplikasi dari satu konsep teologia ini, hari ini saya akan berbicara beberapa hal rohani berkenaan dengan kerendahan hati.

  1. Rendah hati adalah taat kepada Allah.

  2. Definisi rendah hati adalah aku mau mendengarkan Firman-Mu dan mentaati-Mu. Rendah hati bukan sopan santun, bukan suatu kebaikan hati, bukan diukur oleh orang lain. Definisi rendah hati di dalam hidup dan di dalam Firman Tuhan menyatakan satu hal yang paling utama yaitu ketaatan kepada Tuhan. Yang taat adalah yang rendah hati, yang tidak taat meskipun orangnya suka memberi, meskipun murah hati, orang itu di hadapan Allah adalah orang yang sombong. Orang yang membuka telinganya, yang mau menyimpan Firman-Nya, yang mau mendengarkan pengajaran-Nya, dan menjalankan kehendak-Nya adalah orang yang rendah hati. Ketika melihat baptisan itu, selain kita akan menemukan hal yang paling utama di dalam Kerajaan Allah di dalam biblical theology berkenaan dengan Yesus adalah Mesias, hari itu adalah hari pagelaran Sang Anak Allah merendahkan hati-Nya, merendahkan diri-Nya di depan publik. Ketika saya merenungkan hal ini, hati saya tersentuh. Dua pribadi yang bisa dilihat dalam Perjanjian Baru dan dua pribadi yang luar biasa besar ini melebihi seluruh rasul. Yang satu adalah Yesus Kristus dan Dia adalah Anak Allah, yang satunya lagi adalah Yohanes Pembaptis, nabi yang dikatakan lebih besar dari seluruh nabi dalam Perjanjian Lama. Dua-duanya begitu rendah hati meskipun ini ada suatu perbedaan yang tidak bisa dibandingkan karena Yesus pasti jauh lebih rendah hati dari Yohanes Pembaptis tetapi saudara bisa melihat suatu keindahan yang luar biasa. Anak Allah turun, Alkitab mengatakan Dia adalah Anak yang ada di dalam dekapan Allah Bapa, Dia mendapatkan sukacita di dalam kekekalan dan kegembiraan yang tiada henti-hentinya. Sekarang Dia mau menjelma menjadi manusia, bersalutkan tubuh yang berpeta teladan dosa, yang bisa mati, yang bisa rusak, yang bisa disakiti. Sekarang Anak Allah bukan saja berpeta teladan dosa dalam tubuh-Nya tetapi Dia mau datang kepada seorang manusia yang diciptakan dengan tangan dan hembusan mulut-Nya, kemudian mau berlutut di depan umum. Ini adalah seorang yang luar biasa. Kalau melihat siapa Yesus Kristus dari ukuran manusia saja, Dia adalah orang yang luar biasa. Kalau saudara melihat Dia adalah Allah yang kekal yang datang dan mau berlutut di depan Yohanes Pembaptis, saudara bisa melihat bagaimana dia merendahkan diri-Nya dan merendahkan hati-Nya. Itulah sebabnya Yohanes Pembaptis mengatakan bahwa dirinya tidak layak untuk membaptiskan Yesus. Tetapi kemudian saudara perhatikan apa definisi rendah hati yang tadi saya katakan, Yesus menjawab: “Biarlah hal itu terjadi, karena demikianlah sepatutnya kita menggenapkan seluruh kehendak Allah”. Rendah hati tidak diukur orang itu baik kepada saya atau tidak, yang memberikan makanan kepada kita, yang senyum kepada saya adalah orang yang rendah hati karena saya adalah somebody yang diperhitungkan sebagai manusia, tidak! Itu adalah suatu pikiran yang self-centered (diri menjadi patokan untuk mendefinisikan sesuatu) tetapi kita harus melihat orang rendah hati atau tidak dari satu pikiran saja yaitu dia mau menggenapkan seluruh rencana Allah atau tidak, dia mau taat kepada Allah atau tidak. Itu namanya rendah hati dan di luar itu adalah kesombongan. Saudara mungkin baik sama saya, saudara mungkin baik dengan beberapa orang atau seluruh orang di sini, saudara pikir saudara adalah orang baik tetapi Alkitab tidak mengatakan hal demikian. Itulah sebabnya Alkitab mengatakan setiap perbuatan baik pun adalah sesuatu kekotoran di hadapan Allah seperti kain kotor. Jangan bangga kepada dirimu sendiri, kepada moralitasmu sendiri! Ketika kita tidak mau mendengar Firman Tuhan, tidak mau bertobat, tidak mau untuk melakukan ketaatan di hadapan Allah, kita diperhitungkan sebagai orang yang luar biasa sombong/angkuh dan Allah begitu marah kepada orang-orang yang sombong. Orang-orang yang rendah hati mungkin keras kepada orang lain, orang-orang yang rendah hati mungkin sulit untuk dimengerti orang lain. Yesus adalah orang yang paling sulit dimengerti oleh seluruh manusia sampai saat ini termasuk kita tapi Dia adalah seorang yang rendah hati, Dia pemimpin dari seluruh umat-Nya, Dia Mesias, Dia adalah Anak Allah yang menghapus dosa dunia tapi Dia juga Anak Allah yang memberikan kepada kita contoh bagaimana kita hidup. Dia adalah pribadi yang rendah hati.

  3. Hanya orang yang rendah hati memiliki pertumbuhan rohani.

  4. Kerendahan hati adalah mau mendengarkan Firman dan menetapkan hati untuk mau taat maka itu adalah kunci untuk mengenal seluruh pribadi Allah dan rencana-Nya yang akan dibukakan kepada kita. Hanya orang yang rendah hati memiliki pertumbuhan rohani. Kalau saudara dan saya berada pada posisi yang tidak bertumbuh rohani berarti karena kita sombong di hadapan Allah. Kalau kita mau mengenal Allah, mengetahui rencana-Nya, jadilah orang rendah hati dan saudara akan mengerti Firman Tuhan dengan begitu jelas. C.S Lewis adalah seorang penulis yang brilliant sekali, awalnya adalah seorang atheis lalu kemudian menjadi orang Kristen. Dia adalah penulis buku anak-anak misalnya The Chronicles of Narnia dan banyak tulisan-tulisan lainnya. C.S Lewis menyatakan orang sombong sama sekali tidak mungkin akan mengenal Allah dan rencana-Nya, tidak mungkin mendapatkan apapun dari Tuhan karena C.S Lewis dengan sedikit bercanda mengatakan orang sombong selalu melihat orang lain lebih rendah dari dia tetapi engkau harus tahu Allah ada di atasmu. Orang yang selalu melihat/memandang lebih rendah orang lain dan segala sesuatu, tidak mau diajar, tidak mungkin akan kenal Tuhan karena untuk mengenal Allah harus melihat ke atas. Ini adalah suatu prinsip. Yesus Kristus mengatakan: “Aku bersyukur kepada-Mu Bapa di surga karena Engkau sembunyikan bagi orang-orang bijak/sombong tapi Engkau bukakan kepada orang-orang miskin yang kecil”. Ini tidak berarti kalau saudara tidak punya uang dan ada di kolong jembatan baru rendah hati. Ini tidak berarti orang kaya semuanya sombong. Banyak orang kaya yang hatinya baik dan rendah hati. Banyak orang miskin, yang tidak punya apa-apa tetap sombong luar biasa. Prinsip ini sama seperti akar segala kejahatan adalah cinta uang, bukan akar segala kejahatan adalah punya uang. Ada orang tak punya uang tapi jahatnya luar biasa karena hatinya cinta uang. Ada orang kaya punya uang tapi dia tak cinta uang, tetapi banyak juga orang kaya yang cinta uang. Hal-hal seperti ini bukan dilihat di depan tapi di dalam hatinya. Orang yang rendah hati akan dibukakan jalan Tuhan, orang yang rendah hati akan mengerti rencana Tuhan. Satu sikap yang baik adalah jikalau kita berada dalam kesulitan, air mata dan segala kepedihan apa pun saja, biarlah kita boleh berlutut kepada Tuhan dan mau belajar taat. Jikalau kita berada dalam posisi seperti itu, tak pernah tidak, Tuhan akan bukakan satu persatu. Tetapi kalau kita berpikir Dia adalah Allah yang sederajat dengan kita, Dia tak pernah akan membuka isi hati-Nya kepada kita. Itu adalah kunci dan sesuatu yang penting sekali. Kalau kita sungguh-sungguh takut kepada Tuhan, minta belas kasihan Tuhan untuk dibukakan seluruh rencana-Nya maka tak mungkin tidak, di dalam anugerah Tuhan yang besar di dalam Alkitab Tuhan akan berbicara kepada kita menyatakan rencana-Nya, menyatakan hal-hal yang mulia karena ini adalah jalan yang dituntut oleh Kristus karena Dia adalah contoh hidup sebagai satu pribadi manusia sejati yang menyatakan bagaimana harus hidup di hadapan Allah yaitu dengan kerendahan hati.

  5. Kerendahan hati adalah state of heart/attitude of heart.

  6. Kerendahan hati tidak tergantung dari posisi tinggi atau rendah. Saudara harus mengerti bahwa kerendahan hati adalah state of heart/attitude of heart. Kerendahan hati adalah di dalam hati kita mau taat kepada Tuhan atau tidak. Kalau orang sudah menetapkan diri taat kepada Tuhan, kadang Tuhan membawanya untuk menjadi kecil, dia harus taat; kadang Tuhan membawanya menjadi besar, dia harus taat. Semuanya bukan untuk diri tetapi semuanya demi Kristus yang kita taati. Biar kita boleh melihat prinsip Firman Tuhan ini dan tidak tertipu dengan fenomena. Seperti mengatakan hamba Tuhan yang bangun gedung gereja besar itu pasti dia sombong, maunya besar-besar, pasti sombong. Tidak! Segala sesuatu adalah dari ketaatan. Ada orang yang dipanggil kecil, ada orang yang dipanggil besar, ada orang yang dipanggil menjadi orang yang kaya dan ada orang yang dipanggil menjadi orang yang miskin, ada orang yang dari bawah dinaikkan ke atas dan yang dari atas diturunkan ke bawah. Saudara perhatikan baik-baik, Abraham keluar dari Ur-Kasdim maka Abraham keluar dari orang yang kaya menjadi perantau biasa. Sebaliknya dengan Daud, anak yang sama sekali tidak dilihat oleh orang tuanya dan orang lain tetapi Tuhan mengurapi dia dari seorang penjaga kawanan kambing domba saja kemudian Tuhan naikkan dia sampai memiliki kekayaan yang luar biasa, saudara tidak pernah bisa mengatakan Daud adalah seorang yang sombong karena dia adalah orang yang sungguh-sungguh dekat di hati Tuhan. Kalau melihat Nehemia yang merupakan juru minuman raja dan dia ada di istana raja lalu Tuhan menyuruh dia pulang ke Yerusalem untuk membangun tembok Yerusalem, mengawasinya dan orang seperti ini artinya menjadi mandor bangunan. Saudara bisa bayangkan seorang juru minuman raja diturunkan pangkatnya menjadi mandor bangunan. Sebaliknya, Daniel adalah orang yang tak ada apa-apanya pada waktu remaja, mungkin pada waktu Nebukadnezar datang, dia sedang main bola dan dibawa secara paksa pergi ke Babel, dilatih dan Tuhan menyertai dia dan dia menjadi seorang perdana menteri yang melayani 6-7 raja yang pernah hidup. Ini adalah orang-orang yang Tuhan angkat. Saudara tidak akan mendapatkan dosa Daniel dituliskan di dalam Alkitab, Tuhan berkenan kepada dia. Maka sekali lagi, masalah menjadi orang rendah hati atau orang sombong bukan pada kedudukan. Menjadi orang rendah hati atau sombong adalah pada hati saudara yang saudara tetapkan di hadapan Allah seperti apa.

  7. Kerendahan hati akan mendapatkan pengujian pada titik-titik krusial.

  8. Saudara tidak akan memiliki satu kerendahan hati atau memiliki satu kesombongan kalau dibandingkan dengan orang yang jauh melebihi saudara. Misalnya saya tidak pernah iri dengan Pak Tong, mau iri sampai selangit pun tak bisa mengejar dia. Semua orang mengatakan: saya tidak iri, saya orang rendah hati dan saya mau belajar dari dia. Semua mengatakan demikian karena dia ada di atas dan penuh dengan talenta, kita mau iri apanya. Tapi kalau saudara-saudara bertemu dengan seorang yang satu level, yang kurang lebih ekonominya, pekerjaannya kurang lebih sama, bidangnya sama, sama-sama diperhadapkan di dalam satu gereja dan dalam satu pelayanan yang sama, di situ ujian kerendahan hati muncul. Tak mudah! Di saat seperti itu, saudara mulai iri hati, mulai ingin lebih besar dari orang itu, mulai untuk tidak mau mengikut Kristus Yesus. Apalagi kalau saudara adalah orang yang sudah makan asam garam, sudah berumur, sudah kerja di mana-mana lalu ketemu orang yang lebih muda, biasanya saudara akan hina dia, biasanya saudara akan berkata bahwa dia tidak tahu apa-apa, saya sudah tahu dari dulu. Saya sudah sering mendengar kalimat itu ratusan kali tetapi saya bersyukur kepada Tuhan karena memang lebih baik kita pada status posisi tidak tahu apa-apa sehingga saya bisa belajar. Salah satu pelajaran yang saya pelajari adalah jangan sombong. Kalau saudara adalah orang yang sudah makan asam garam dan mengerti banyak hal, saudara pikir anak-anak kecil dengan hal-hal sederhana tak ada gunanya lalu kemudian meninggikan diri. Yesus Kristus mengatakan jangan engkau hina anak kecil karena merekalah yang empunya kerajaan Surga. Saya katakan satu prinsip ini yaitu Yesus tunduk, Yesus menekuk lututnya menghadap Yohanes Pembaptis. Siapa Yohanes Pembaptis? Nothing, di hadapan Kristus tidak ada apa-apanya, dia manusia yang berdosa, tetapi Dia menjadi contoh seluruh gereja untuk mau menundukkan diri kepada seorang yang juga memiliki umur yang tidak beda jauh dari Dia, se-level dengan Dia dan kemudian Dia menundukkan diri kepada Yohanes Pembaptis. Ini adalah perendahan diri, perendahan hati dari Anak Allah kepada satu manusia yang berdosa. Saudara melihat cara Tuhan yang Tuhan inginkan untuk kita boleh hidup di tengah-tengah dunia ini. Jadilah orang yang rendah hati dan kita melihat ini yang dikerjakan oleh Yesus Kristus.

Apa pekerjaan Mesias? Pekerjaan Mesias yang pertama adalah salib dan untuk memikul salib, Dia harus merendahkan diri-Nya di hadapan Allah. Pekerjaan Mesias yang kedua yang besar adalah Pentakosta maka dikatakan Roh Kudus turun ke atas Yesus Kristus. Itu mau menyatakan siapa yang nantinya akan membaptis umat-Nya dengan Roh Kudus yaitu Mesias ini. Pada waktu hari Pentakosta, ketika Yesus Kristus sudah naik ke atas kemudian mencurahkan Roh Kudus-Nya kepada gereja-Nya. Itu adalah hari lahirnya gereja. Gereja ada karena Roh Kudus bekerja di dalamnya dan ketika Roh Kudus bekerja di dalamnya maka gereja dicelikkan dengan pekerjaan Kristus yang ada di atas kayu salib. Ini adalah pekerjaan Mesias yaitu pertama harus mati di atas kayu salib dan kedua membaptis umat-Nya dengan Roh Kudus. Dua hal ini yaitu salib dan Pentakosta adalah satu hubungan yang tidak terpisahkan dan ini adalah pekerjaan Mesias yang menghasilkan dua hal ini.

Pentakosta selalu dimengerti memberikan karunia-karunia. Pentakosta harus dimengerti sebagai kuasa untuk mengerti secara penuh apa arti salib. Maka orang-orang yang ada di Pentakosta diurapi oleh Roh Kudus. Petrus berkotbah tentang Yesus Kristus yang tersalib, bukan berkotbah mengenai karunia bahasa roh, karunia lidah, karunia yang lain, dia berkotbah tentang siapa Yesus Kristus. Itulah sebabnya maka Yohanes Pembaptis mengatakan satu kalimat “aku bukan Mesias” saat orang-orang bertanya kepada dia. Aku membaptis kamu dengan air tapi nanti Mesias yang datang akan membaptis kamu dengan Roh Kudus dan dengan api. Roh Kudus bicara mengenai keselamatan, api bicara mengenai penghakiman dan penghukuman. Di dalam ayat 12 dikatakan alat penampi sudah di tangan Kristus, Ia akan membersihkan tempat pengirikan-Nya dan mengumpulkan gandum-Nya ke dalam lumbung, tetapi debu jerami itu akan dibakar-Nya dalam api yang tidak terpadamkan. Yohanes Pembaptis bukan Mesias lalu siapa engkau dan siapa Mesias itu? Aku membaptis dengan air dan akulah orang yang berseru-seru di padang gurun itu, aku bukan Mesias. Kalau Mesias itu datang, Dia akan membaptis engkau dengan Roh Kudus dan dengan api. Sekali lagi, pekerjaan Mesias yang kedua adalah Pentakosta dan karena Pentakosta itu Mesias akan membaptis dengan Roh Kudus dan dengan api yaitu yang satu diselamatkan, yang satu dihakimi. Tidak pernah dari saudara, saya dan seluruh umat manusia di dunia ini yang berada dalam status quo. Ketika saudara mendengarkan Injil, ketika mendengarkan hamba Tuhan berkotbah, ketika membaca Firman Tuhan, ketika melihat Kristus Yesus maka hanya dua kemungkinan di dalam diri umat manusia sepanjang jaman yaitu saudara diselamatkan atau saudara dihakimi di dalam kekekalan. Ini adalah berita yang satu penghiburan dan yang satu kecelakaan. Dikatakan dalam Alkitab, Yesus Kristus datang jangan sangka Aku akan memberikan damai di bumi, tidak! Aku datang untuk menyatakan api, Aku datang akan memberikan pedang. Orang-orang akan terpisah dari isi keluarganya satu persatu. Itu mau menyatakan pekerjaan Mesias adalah salib dan Pentakosta. Salib dan Pentakosta akan menghasilkan dua golongan yang berbeda yaitu yang satu akan diselamatkan dan satu lagi yang tidak percaya akan dihukum/dihakimi. Saya tidak tahu saudara ada di bagian mana. Ayat-ayat ini selalu saya ingat ketika saya berada di dalam setiap KKR, saya selalu ingat ketika mengabarkan injil sudah dengan sepenuh hati dan berpeluh lalu saya mengatakan siapa yang mau menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat? Siapa yang membuka hati dan mau taat kepada Dia? Saya tahu bahwa panggilan itu akan membelah seluruh pendengar menjadi dua bagian. Ada yang mengatakan “saya mau” dan ada yang mengatakan “tidak, aku tidak percaya, aku tidak mau terima”. Maka orang-orang tersebut dikatakan di dalam Alkitab adalah orang-orang yang akan dihakimi. Gereja memiliki kuasa untuk itu, gereja memiliki kuasa untuk menutup dan membuka, Firman Tuhan memiliki kuasa untuk memisahkan domba dan kambing, semua dikatakan dalam Alkitab. Jika saudara beritakan Injil kepada satu demi satu orang, saudara akan tahu Injil akan memisahkan, Injil akan membuat orang takluk, Injil akan membuat orang berontak. Alkitab dengan jelas menyatakan Dia yang akan datang akan membaptis engkau dengan Roh Kudus dan dengan api. Dia akan memisahkan umat manusia bahkan kita sendiri di sini menjadi dua bagian. Saya tidak tahu saudara ada di mana, saya tidak tahu saudara yang menerima Roh Kudus atau saudara yang akan menerima api. Kiranya Tuhan menolong membuat kita diselamatkan.

Eksposisi Matius (12) Babtisan Kristus

Matius 3:11-17


Yohanes Pembaptis mengucapkan satu kalimat yang sangat tajam dan keras yaitu, “Bertobatlah karena kerajaan Allah sudah dekat”. Ini adalah kalimat yang berbicara mengenai standar Allah dan menuntut sesuatu yang paling sulit dalam hidup kita yaitu pertobatan. Dalam hidup manusia, di dunia ataupun gereja, baik kita, orang yang belum mengenal Tuhan ataupun yang sudah mengenal Tuhan, maka kita harus bertobat, meminta belas kasihan Tuhan dan merendahkan diri kita di hadapan Tuhan.

Pertobatan merupakan sesuatu yang Tuhan nyatakan kepada nabi-nabi dan kepada orang Israel umat Tuhan sepanjang masa. Sekali lagi Allah menyatakan sesuatu yang keras kepada umat-Nya, karena ini adalah sesuatu keadaan genting, umat harus berbalik jika tidak maka mereka akan binasa selama-lamanya. Tetapi berapa banyak orang yang mengerti waktu-waktu krusial itu? Berapa banyak orang yang mengerti kedalaman dosa manusia? Ketika nabi Tuhan dihadirkan selalu membuat masalah. Ketika Kristus datang seluruh Betlehem goncang dan anak-anak harus dibunuh. Ketika hamba Tuhan menyatakan Firman yang sejati maka akan membongkar sampai seisi hati yang terdalam, akan menyakitkan. Tetapi kalau kita mengerti jalan Tuhan itu adalah jalan yang penuh rancangan damai sejahtera, dan kita mau taat, maka itu adalah jalan tercepat untuk memperbaiki hidup kita.

Saya melihat orang-orang yang selalu tidak mau bertobat ujungnya pasti akan hancur, ada orang yang mencuri tetapi kemudian dia menyatakan aku tidak mencuri dan menyalahkan orang lain. Ini yang terjadi, maka Yohanes Pembaptis benar, ketika melihat seluruh orang Israel tidak bertobat, dia berkata, “Bertobatlah karena kerajaan Allah itu sudah dekat” dan kemudian dia mulai membaptis satu per satu. Begitu ada orang Farisi dan Ahli Taurat datang, Yohanes Pembaptis tidak mau membaptiskan mereka. Jangan berpikir bahwa baptisan akan menyelamatkanmu, baptisan adalah tanda pertobatan. Jika kita mengaku sudah bertobat, maka orang lain dapat melihat buah pertobatan kita. Yohanes Pembaptis adalah nabi Tuhan yang tidak bisa ditipu, dikuasai, atau diselewengkan, dia jitu sekali melihat hal-hal yang penting itu harus diutamakan. Jikalau dia tidak mengucapkan kalimat-kalimat keras seperti ini, pengikutnya akan lebih banyak, pembesar-pembesar akan merasa senang, Tetapi perkataan Yohanes Pembaptis yang begitu keras membuat Herodes jengkel dan sakit hati lalu membunuh Yohanes Pembaptis. Hamba Tuhan yang sejati boleh dikatakan sebenarnya tidak banyak disukai oleh orang. Apakah kita jemaat yang sejati? Apakah kita jemaat yang sungguh-sungguh mau mendengarkan Firman yang baik dan keras? Apakah kita mau sungguh-sungguh bertobat? Ini semua adalah hal-hal yang terjadi pada waktu itu. Yohanes Pembaptis bukan saja seorang hamba Tuhan yang sejati, dia adalah hamba Tuhan yang sungguh mengerti bagaimana dia harus hidup di hadapan Allah.

Suatu hari ketika dia sudah memulai pelayanannya, orang berbondong-bondong, dan kalimat-kalimatnya keras, tetapi kemudian orang tanya, saya mau tanya kepadamu Yohanes Pembaptis, apakah engkau Mesias yang kami tunggu-tunggu? Yohanes Pembaptis mengatakan “Bukan, aku membaptiskan kamu dengan air, tetapi Mesias itu, Kristus itu akan datang dan membaptis kamu dengan Roh Kudus dan dengan api.” Setelah Yohanes Pembaptis mengatakan demikian, Matius menuliskan perikop selanjutnya yaitu baptisan Yesus Kristus. Ketika saya pertama kali membaca baptisan Yesus Kristus, saya berpikir ini adalah ayat-ayat yang biasa, sampai kemudian saya mempelajari satu persatu maka saya baru tahu ini luar biasa penting karena pesan yang tersimpan di dalamnya menyatakan siapa sebenarnya Kristus itu. Perhatikan dari permukaannya terlebih dahulu.


  1. Saudara lihat di dalam perikop Allah TriTunggal muncul bersama-sama. Di dalam Alkitab, seluruhnya Firman Tuhan, seluruhnya penting, tidak ada yang lebih penting dari yang lain, Tetapi perhatikan bahwa tidak semua ayat Alkitab, Allah TriTunggal muncul bersama-sama. Kapan Allah TriTunggal muncul bersama-sama? Saudara-saudara, di dalam kitab Efesus, Allah TriTunggal dimunculkan bersama-sama oleh Paulus ketika kita harus berperang rohani. Peperangan itu adalah sesuatu prinsip dari pelayanan. Itulah sebabnya, Paulus mengatakan, “Biarlah engkau kuat di dalam kekuatan dari Tuhan, kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, dan berdoalah di dalam Roh Kudus.” Ketiga-tiganya, Allah Bapa, Allah Anak dan Allah Roh Kudus, muncul bersama-sama. Untuk berperang, Allah itu take it seriously. Ketiga-tiganya mem-back up kita. Dan inilah adalah peristiwa yang lain lagi, Allah Bapa pada waktu itu berbicara, “Inilah Anak-Ku yang Ku-kasihi, dengarkan Dia.” Allah Anak itu berlutut di depan Yohanes Pembaptis. Allah Roh Kudus hadir seperti burung merpati. Ketiga-tiganya hadir pada peristiwa yang sama. Kita harus sungguh-sungguh perhatikan, karena ada sesuatu yang Tuhan mau sampaikan kepada kita.


  2. Peristiwa baptisan ini adalah peristiwa pertama kali Yesus keluar secara publik dan melayani. Sebelumnya tidak pernah, Selama 30 tahun Yesus bersembunyi. Tiga puluh tahun Dia tidak mengajar, tiga puluh tahun Alkitab tidak bicara berkenaan dengan hal-hal yang penting secara publik kecuali pada umur 12 tahun, sekali Yesus muncul, sesudah itu tidak ada lagi. Tetapi pada umur 30 tahun, Yesus muncul pertama kali secara publik dan bagi orang Yahudi umur 30 boleh dikatakan dewasa. Pada waktu itulah orang Yahudi boleh dikatakan menyatakan satu kepribadian yang kuat. Pada waktu itulah imam boleh untuk diurapi. Lalu mengapa Yesus Kristus, pertama kali muncul langsung di peristiwa baptisan? Berarti ada sesuatu yang mau Tuhan ajarkan kepada kita, berarti ada sesuatu yang tersembunyi. Apa arti baptisan Yesus Kristus, apa yang terjadi di dalam baptisan Yesus kristus, apa yang dinyatakan di dalam baptisan Yesus Kristus ini, maka jawabannya adalah:

    1. Baptisan Yesus Kristus menyatakan siapa Mesias.
      Ketika kita berbicara berkenaan dengan baptisan Yesus Kristus menyatakan siapa Mesiasnya, siapa Kristus, orang-orang menantikan kedatangan Kristus, begitu Yohanes Pembaptis berteriak langsung orang-orang berpikir engkaukah Mesias? Ini pertanyaan yang mengoda, kalau Yohanes Pembaptis tidak tahu siapa dirinya, dia akan mengatakan bahwa dirinya adalah Mesias. Mesias adalah orang yang diagungkan, Kristus adalah orang yang ditunggu-tunggu dan sejak Israel khususnya dalam Perjanjian Lama menuju kepada Perjanjian Baru, 400 tahun masa kegelapan, sampai pada masa Yesus Kristus ada banyak orang yang mengaku dirinya Mesias. Tetapi Yohanes Pembaptis mengatakan bahwa dirinya bukan Mesias, jika demikian siapa Mesiasnya? Yohanes Pembaptis menyatakan, jika Mesias datang, Dia akan membaptis kamu dengan Roh Kudus dan dengan air. Pada waktu Yesus dibaptis oleh Yohanes Pembaptis maka Roh Kudus itu turun, dan ketika Roh Kudus itu turun menyatakan sebenarnya siapa yang akan membaptis dunia ini dengan Roh Kudus, yaitu Yesus yang adalah Kristus. Pada waktu itu tidak ada orang satupun yang tahu, kecuali di dalam anugerah Tuhan Yohanes Pembaptis menyatakan “ini Mesias”. Pada waktu Yesus dibaptis maka Dia dinyatakan Mesiasnya oleh Allah Bapa dan Allah Roh Kudus melalui dua hal yaitu, pertama, Allah Roh Kudus datang sebagai burung merpati, ini mau menyatakan Mesias yang akan membaptis dengan Roh Kudus kepada seluruh umat, kalimat dari Yohanes Pembaptis sudah di genapi. Kedua, adalah kalimat dari Allah Bapa, Allah Bapa menyatakan ini “Anak-Ku yang Kukasihi kepada-Nya Aku berkenan”, kalimat ini di dalam seluruh Alkitab hanya muncul dua kali, pertama ada di baptisan, kedua ada di transfigurasi.

      Kalau kita mengingat peristiwa transfigurasi, pada waktu itu Yesus ada digunung lalu kemudian seluruh kemuliaan-Nya dinyatakan. Itu adalah satu-satunya waktu di satu-satunya tempat, kemuliaan Allah Anak dinyatakan di tengah-tengah dunia. Seluruh pelayanan Yesus adalah pelayanan tersembunyi, kenosis, tetapi satu-satunya tempat di mana Dia menyatakan diri, tidak kepada banyak orang, hanya kepada Yohanes, Yakobus dan Petrus, maka itu adalah di gunung transfigurasi. Di saat seperti itu Dia menyatakan kemuliaan-Nya. Petrus, Yohanes dan Yakobus melihat ada dua orang bersama Kritus, yaitu Musa dan Elia. Di dalam kitab Injil dikatakan bahwa mereka bertiga sedang mempercakapkan bahwa Ia akan pergi ke Yerusalem. Di sini Musa mewakili Taurat dan Elia mewakili nabi. Kitab nabi dan kitab Taurat jika digabungkan itu seluruhnya adalah Perjanjian Lama, dan Allah menyatakan kepada Petrus, Yohanes dan Yakobus. Ketika mereka terpesona melihat Musa dan Elia dan tiba-tiba menghilang, begitu mereka hilang maka Allah menyatakan inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nya engkau harus dengarkan, ini adalah konfirmasi Allah, dan konfirmasi ini muncul di dalam injil. Di dalam transfigurasi ini mau menyatakan bahwa nabi dan taurat Perjanjian Lama mengfokuskan kepada satu hal yaitu siapa Mesias. Maka Yesus dibaptis itu menyatakan siapa Mesias, Dialah Mesias.

    2. Baptisan Yesus menyatakan apa pekerjaan Mesias.
      Perhatikan baik-baik orang Yahudi berpikir kalau Mesias datang mereka akan dibebaskan, akan dimenangkan dari perbudakan, Mesias datang mereka akan ditinggikan. Kalimat-kalimat mereka ini merupakan cara berpikir secara jasmani tetapi sebenarnya yang dilakukan oleh Yesus Kristus, Yesus yang adalah Messiah adalah sesuatu yang rohani. Adalah benar Yesus akan membebaskan kita dari dosa dan Yesus yang akan memuliakan kita. Engkau mungkin terbebas secara finansial, tetapi engkau terikat di dalam dosa. Siapa yang bisa membereskan hidupmu? Engkau mungkin terbebas dari orang-orang yang engkau tidak sukai, tetapi di dalam dirimu sendiri engkau menyadari satu pribadi yang paling engkau tidak sukai dari seluruh manusia adalah dirimu sendiri. Yesus datang untuk membebaskan kita dari ikatan yang sesungguhnya adalah ikatan terhadap diri sendiri. Yesus datang bukan saja satu hari untuk memulihkan Israel, Yesus datang akan memulihkan seluruh bangsa untuk memiliki satu kebebasan yang sesungguhnya, bebas dari dosa. Saudara-saudara apa pekerjaan Mesias disini? maka saudara-saudara perhatikan di atas dari peristiwa baptisan Yesus, saudara akan menemukan dua pekerjaan Mesias yang besar, pertama adalah salib, kedua adalah pentakosta.

      Bagaimana kita dapat melihat salib di dalam peristiwa baptisan? Mari lihat Lukas 12:49-50, “Aku datang untuk melemparkan api ke bumi dan betapakah Aku harapkan api itu telah menyala. Aku harus menerima baptisan dan betapakah susahnya hatiku sebelum hal itu berlangsung”. Tidak ada di dalam Alkitab bahwa Dia akan masuk ke dalam air kemudian dibaptis untuk yang kedua kalinya, tapi Yesus mengucapkan satu kalimat, “Aku akan menerima baptisan dan betapa susahnya aku”. Mari kita melihat bagian lain yaitu Markus 10:35-38, “lalu Yakobus dan Yohanes anak-anak Zebedeus mendekati Yesus dan berkata kepada-Nya, “Guru, kami harap supaya Engkau kiranya mengabulkan permintaan kami,” jawab-Nya kepada mereka, “Apa yang engkau kehendaki Aku perbuat?” Lalu kata mereka, ” Perkenankanlah kami duduk dalam kemuliaan-Mu kelak yang seorang lagi di sebelah kanan-Mu dan yang seorang lagi di sebelah kiri-Mu,” tetapi kata Yesus kepada mereka, “Kamu tidak tahu apa yang kamu minta, dapatkan kamu meminum cawan yang harus Ku-minum dan dibaptis dengan baptisan yang harus Ku-terima?” Ini adalah ayat yang sebenarnya unik dan sekaligus juga ayat yang membuat kita sadar akan hal-hal yang tidak terduga. Saya pernah berbicara kepada saudara-saudara dan saya akan ulangi, kalau saudara membaca dari kitab Injil yang lain, maka sebenarnya Yohanes dan Yakobuslah yang meminta pertama kali kepada Tuhan Yesus, bukan mamanya, “Boleh tidak nanti aku duduk di sebelah kiri-Mu dan sebelah kanan-Mu” karena pada saat itu Yesus berbicara mengenai kerajaan Surga. Ketika Yesus berbicara mengenai kerajaan Surga, saudara akan melihat bahwa Dia adalah manusia yang tersendiri karena murid-murid-Nya sebenarnya memiliki pengertian yang berbeda sama sekali tentang kerajaan Surga. Yohanes dan Yakobus kakak beradik lalu kemudian berbicara kepada Tuhan Yesus, tetapi pada waktu Yesus diam, karena Alkitab tidak katakan ataupun mungkin tolak. Kemudian dibawalahnya mamanya yang lebih tua. Biasa orang kalau gagal, selalu orang yang lebih terhormat, lebih tua dibawa untuk minta persetujuan, sehingga ada satu kesungkanan. “Boleh tidak nanti anakku duduk sebelah kiri dan kanan-Mu pada waktu nanti Engkau memerintah?” Lalu Yesus mengatakan, “Duduk di sebelah kiri kanan adalah urusan dari Bapa di Surga, tetapi Saya mau tanya kepadamu, maukah kamu meminum cawan yang harus Aku minum dan juga dibaptis dengan baptisan yang Aku terima?” Saudara, kalimat Yesus ini kembali mengingatkan kita, bukankah Dia sudah dibaptis, kalau Dia sudah dibaptis kapan baptisan kedua? Alkitab tidak pernah menuliskan ada baptisan yang kedua.

      Saudara sekarang perhatikan baik-baik baptisan pertama di sungai Yordan adalah bicara mengenai perendahan diri Kristus di muka umum. Baptisan kedua adalah salib di Golgota yang merupakan perendahan Kristus terakhir kali dimuka umum. Perhatikan dua titik ini, pertama kali Dia memulai pelayanan-Nya Dia direndahkan di sungai Yordan, terakhir kali Dia mengakhiri pelayanan-Nya di muka umum, Dia dipaku di atas kayu salib di Golgota. Perjalanan Yesus Kristus adalah perjalanan dari bawah, dari laut, dari sungai menuju kepada Golgota, bukit yang naik tetapi sebenarnya makin naik Dia makin direndahkan. Saudara-saudara sekarang mengerti di dalam baptisan saudara akan melihat Mesiasnya siapa tetapi di dalam baptisan saudara akan melihat pekerjaan Mesiasnya apa dan pekerjaan Mesiasnya yaitu bahwa Dia akan dipaku di atas kayu salib, direndahkan seumur hidup-Nya. Saudara mengerti baptisan ini, saudara akan memiliki jangkar melihat seluruh pelayanan Yesus itu mengapa seperti itu, melihat baptisan saudara akan melihat satu titik yang kemudian akan dibuka oleh seluruh kitab Injil menuju kepada suatu terang yang makin lama makin lebar.

      Saya akan teruskan sedikit berkenaan dengan Yohanes dan Yakobus, memang nantinya benar-benar Yohanes dan Yakobus itu duduk di sebelah kiri dan kanan Yesus Kristus karena Yakobuslah yang pertama kali dari 12 rasul yang mati pertama dan Yohanes dari 12 rasul yang mati terakhir. Ini adalah privilege, hak istimewa, orang yang duduk di sebelah kiri dan kanan, orang yang dimuliakan adalah orang yang mati bagi Kristus, itu adalah pelajaran berharga dari Alkitab. Kita adalah pengikut Kristus, kita adalah orang Kristen, orang Kristen disebut sebagai Kristen karena mengikut Kristus. Apa arti mengikut Kristus? Apakah hanya dengan pergi ke gereja, memakai kalung salib, berdoa sebelum makan itu adalah pengikut Kristus? Tidak, itu adalah simbol-simbol Kristiani, itu adalah budaya Kristen. Inti dari saudara dan saya pengikut Kristus atau tidak adalah rela untuk mengikut Dia dari belakang di dalam perjalanan jalan salib atau tidak. Salib adalah inti/tujuan/dasar dan gaya hidup dari kekristenan, dan salib itu artinya menyangkal diri, memikul salibNya, kehendak-Nya jadi, itu adalah dasar dari seluruh prinsip mengikut Kristus. Kita harus mengabarkan salib, kita harus hidup di dalam salib, dan kita harus dikobarkan dengan api yang suci dari salib Kristus dan selain daripada itu, maka seluruh hidup kita hanya budaya-budaya Kristiani. Saya berharap kita makin mengerti akan apa yang Kristus itu inginkan, Dia memulai dari pelayanan-Nya dan mengakhiri dari pelayanan-Nya secara publik di dalam salib.