• Arti Panggilan: Follow Me (3)

    • Pengkhotbah: Pdt. Agus Marjanto, M.Th
      Matius 4:18-22; Matius 16:21-24; Yohanes 21: 18-22

      “Follow Me” adalah kalimat yang dikatakan oleh Yesus kepada orang-orang di sekitarnya. Tetapi, berapa banyak orang yang mau mengikut Kristus? Ini adalah panggilan yang agung, yang diutarakan oleh pribadi Allah yang agung itu sendiri, kepada manusia yang hina. Ini adalah panggilan untuk mendekat. Jangan pernah berpikir dan menganggap Allah itu seperti teman kita, yang bisa diperlakukan seenaknya. Gereja sudah tidak menghormati Allah, gereja sudah berkotbah dan sudah mendidik jemaatnya dengan menurunkan Allah dari singgasananya. Allah itu adalah Allah yang mencintai kita, tetapi cinta yang tidak bisa dipermainkan. Allah mencintai seluruh dunia, sehingga diberikan Anak-Nya yang tunggal sehingga setiap orang yang percaya kepadaNya beroleh hidup yang kekal dan tidak binasa, tetapi kalimat di bawahnya tidak pernah diperhatikan. Dia menyatakan bahwa yang tidak percaya, dia sudah berada di dalam hukuman. Martin Luther mengatakan, “Let God be God, let man be man”.

      Apa makna “Follow Me”?

      Pertama, panggilan untuk mengenal Kristus dengan dekat.

      Kalimat yang sama diutarakan Kristus kepada gereja-Nya. Jikalau kita mempelajari kehidupan Kristus, kita bisa membaginya menjadi dua. (1) Pribadinya, the person of Christ. Kristus itu adalah Allah yang sejati, dan Manusia yang sejati. (2) the work of Christ. Teologi reformed, Calvin dan khususnya semua orang Puritan menyatakan satu pekerjaan Kristus yang inti, yang penting adalah membawa umat-Nya bersatu di dalam Dia (Union with Christ). Membawa umat-Nya bersekutu di dalam Dia, di dalam Dia maka kita mendapatkan keselamatan, di dalam Dia maka kita mendapatkan pengampunan dosa, di dalam Dia maka Bapa di Surga tidak menjadi murka kepada kita, karena seluruh kemurkaan sudah diberikan kepada Yesus Kristus. Di dalam tulisan-tulisan rasul-rasul Kristus, ada satu teologia, satu kalimat yang penting yaitu “di dalam Dia” (In Christ). Kristus di dalam kedaulatan dan anugerah-Nya membawa orang-orang yang dipilih-Nya, yang sebelumnya di dalam Adam dan mati di dalam dosa dan kegelapan, sekarang berada di dalam Dia. Ini yang dikerjakan oleh Kristus. Dia pergi dari kota ke kota, dari desa ke desa, untuk mencari yang terhilang. Dia pergi mengajar, mendidik jiwa bersekutu dengan Dia kepada Bapa. Dia membuat mujizat, melepaskan orang-orang dari setan, supaya mereka bisa bebas bersekutu dengan Bapa di Surga dan menyembah Allah. Persis seperti Musa mengatakan kepada Firaun, let my people go, biarkan umat-Ku keluar supaya dapat beribadah kepada-Ku. Kelepasan Tuhan dari seluruh ikatan dunia dan dosa, membuat kita dibebaskan. Bukan berarti hidup bebas liar tetapi hidup bebas untuk beribadah kepada Tuhan, hidup bebas untuk dimiliki oleh Tuhan sepenuhnya. Dia mati agar di dalam Dia kita dapat bersekutu dengan Bapa. Dia adalah mediator, pendamai itu sendiri dan setelah kematian dan kebangkitan-Nya, Dia naik ke Surga dan Dia mengutus Roh Kudus agar God with us, Immanuel. Supaya sekarang, tanpa tubuh, Kristus Yesus bersekutu dengan kita di dalam roh-Nya setiap hari dan setiap detik. Dia memberikan Roh Kudus kepada gereja-Nya, membangkitkan gereja-Nya dan gereja menjadi ibu dari seluruh orang yang ditebus oleh Kristus dan Dia menegaskan Sakramen Baptis Kudus maupun Sakramen Perjamuan Kudus agar dunia dapat merasakan persekutuan dengan Dia melalui indera kita.

      Perhatikan seluruh apa yang dikerjakan oleh Kristus pada waktu Dia ada di dunia dan pada waktu Dia ke Surga. Dia mengutus Roh Kudus, Dia membentuk gereja-Nya dan pada waktu Dia berada di Surga, Alkitab mengatakan Dia berdoa syafaat untuk umat-Nya, seluruhnya berada di dalam satu terminologi ini, union with Christ. Kalimat Yesus Kristus kepada murid muridnya, “Follow Me, union with Me,” mendekatlah kepada-Ku, lihatlah Aku, lihatlah bagaimana Aku melayani, kenallah Aku. Berkali-kali, di dalam segala hal, Dia menarik hidup kita mendekat tetapi berkali-kali kita menolak panggilan itu. Kita menolak panggilan-Nya dengan alasan tidak ada waktu padahal kita lebih menyukai panggilan yang lain daripada panggilan Pencipta langit dan bumi. Kristus menyatakan untuk apa engkau menyebut-nyebut perjanjian dengan Aku, padahal pada waktu itu engkau tidak memperdulikan perjanjian itu. Biar kita mengerti siapa diri kita. Kita membutuhkan Dia. Satu kalimat dari Yesus Kristus, “Lakukanlah ini supaya engkau mengingat Aku, lakukanlah Perjamuan Kudus supaya engkau mengingat Aku”. Bukan Kristus perlu diingat, karena kalau kita tidak mengingat Dia yang celaka bukan Dia, melainkan kita. Kalau kita tidak ingat Dia, maka dosa akan banyak sekali dalam hidup kita tanpa terbendung, kalau kita tidak mengingat Dia di kayu salib maka kita akan menjadi manusia yang liar, kalau kita tidak mengingat hidup kita sudah ditebus, maka kita akan terus menerus berada di dalam kehidupan yang hina, dan kita pikir itu mulia, kecuali kita mengingat hidup kita ditebus, kecuali kita mengingat Tuhan sudah datang ke dunia dan mati bagi kita. Biar kita boleh sungguh-sungguh menghormati Dia.

      Ada satu peristiwa di mana Tuhan digambarkan sebagai raja, mengutus seluruh bawahannya pergi kemanapun saja, mengundang orang-orang itu untuk datang ke tempat meja perjamuan, bersama-sama bersekutu, tetapi setiap orang yang diundang menolak dan tidak menghargai. Mereka mengatakan tidak ada waktu dan ada sesuatu yang lebih penting. Setiap kali gereja yang sejati menyatakan sesuatu hal untuk mendidik saudara dan saya, itu bukan panggilan supaya gereja penuh, tetapi panggilan untuk kita makin mengenal Kristus. Kita yang butuh gereja dan bukan gereja yang memerlukan kita. Ini adalah sesuatu kebenaran, biarlah kita boleh mendidik hati, jiwa dengan sungguh-sungguh di hadapan Allah. Jangan mempermainkan Tuhan, gereja yang sejati, atau hamba-hamba Tuhan yang sejati.

      “Follow me, Peter”, maka ini adalah knowing God, mengenal Allah. Mengenal Allah dan tahu tentang Allah adalah dua hal yang beda. Mengenal Allah itu artinya memiliki satu keintiman, satu relasi encountering with God. Tetapi mengetahui tentang Allah itu adalah sesuatu pembicaraan dari buku, dari orang lain. Maka murid-murid diminta untuk datang, untuk mengenal Yesus Kristus, melihat sendiri apa yang dikerjakan, mendengar sendiri apa yang diajarkan. Kalau saudara memiliki buah apel, dari tampak luar saudara katakan buah apel ini bagus, merah, mengkilat, ranum, itu adalah saudara tahu tentang apel. Tetapi kalau saudara tahu tentang buah apel, lalu saudara gigit apel, kunyah, masukkan itu di dalam perutmu, itu artinya adalah saudara mengenal apel. Biarlah kita bukan saja pergi ke gereja, tetapi kenallah Tuhan, kenallah Firman, ini adalah sesuatu hal yang Tuhan sendiri nyatakan.

      Dia sudah membuka diri-Nya untuk kita bisa mengenal Dia, masakan kita tolak satu undangan yang besar ini, dan bukan itu saja, Yesus mengatakan maka “Follow Me”, ikutlah Aku dan Aku akan menjadikan engkau penjala manusia. Ini adalah panggilan yang mulia, karena yang memanggil itu mulia dan akan menuju kepada kehidupan yang mulia. Semakin kita mengenal Kristus yang mulia, maka saudara dan saya kita akan tahu, hidup yang termulia itu hanya satu yaitu dipakai oleh Allah dan hidup yang dipakai oleh Allah adalah yang memperluas pengaruh Allah di bumi ini. Saya tidak menyatakan bahwa semua harus menjadi pendeta, tetapi yang saya mau katakan adalah di dalam hal apapun kita akan dipakai untuk menjangkau jiwa makin dekat dan makin mengenal Tuhan dan itu adalah sesuatu kemuliaan hidup.

      Hidup itu selalu melihat Allah, hidup itu selalu dipakai oleh Allah, hidup itu selalu diurapi oleh Allah, hidup itu dipakai untuk membesarkan nama Allah di dunia ini dan menyebarkan pengaruhnya kepada bangsa demi bangsa itu adalah sesuatu hidup yang mulia.

      Kedua, panggilan untuk memikul salib.

      Beberapa bulan setelah itu dan menuju kepada hari terakhir, Yesus Kristus mengatakan kepada Petrus dan kepada murid-murid-Nya, “Aku akan pergi ke Yerusalem dan akan menanggung banyak siksaan dan Aku akan mati disalib di sana”. Maka, ketika bicara mengenai “Follow Me”, itu bukan saja panggilan untuk mendekat, tetapi juga panggilan untuk memikul salib. Ketika Petrus mendengarkan kalimat bahwa Yesus sebentar lagi akan dipaku di atas kayu salib maka Petrus menarik Yesus ke samping dan mengatakan itu tidak mungkin terjadi kepada-Mu, tetapi Kristus menyatakan, “Enyahlah Iblis, engkau memikirkan apa yang dipikirkan oleh manusia dan bukan yang dipikirkan oleh Allah”. Yang ada di dalam isi hati dan dipikirkan oleh Allah adalah Salib. Yesus Kristus mengatakan, “Pada-Ku ada makanan yang lain yang engkau tidak ketahui dan makanan itu adalah menjalankan kehendak Allah.” Kehendak Bapa yaitu salib adanya. Jadi, ketika kita bicara berkenaan dengan mengikuti Kristus maka kita bicara berkenaan dengan salib. Yang ada di dalam isi hati Allah terdalam bukan kemakmuran, bukan kehebatan Kristus, tetapi salib. Melalui salib Kristus akan dimuliakan, melalui salib maka seluruh raja akan bertekuk lutut di bawah Dia. Jadi yang harus menjadi inti dan pikiran dari gereja adalah salib dan bukan yang lain. Banyak orang mau menjadi Kristen tetapi tidak mau menjadi serupa dengan Kristus. Saya katakan kepada saudara-saudara, kelahiran baru itu artinya disatukan dengan Kristus Yesus, dan itu artinya salib. Salib adalah kehidupan yang dikosongkan sampai seluruh kehendak Allah itu jadi.

      Melalui Alkitab kita dapat melihat bahwa yang dikehendaki Kristus Yesus adalah pemuridan bukan jemaat-Nya menjadi banyak. Karena hanya murid yang bisa mengguncangkan dunia dan bisa dipakai oleh Allah. Hanya kesejatian muridlah yang bisa diurapi oleh Allah dan dipakai untuk menjangkau dunia ini, menjala manusia. Aku akan menjadikan engkau penjala manusia. Dan sungguh-sungguh itu terjadi. Yesus tidak memerlukan orang yang banyak. Sebelumnya ada ribuan orang melihat mukjizat-Nya, memecahkan roti dan juga menggandakan ikan. Ribuan orang makan. Mereka menyanjung Yesus, Mesias yang ditunggu-tunggu dan di dalam Alkitab ada satu tulisan bahwa mereka mau mengusung Yesus menjadi raja. Tetapi Yesus kemudian mengundurkan diri, dan Dia tidak mau menjadi raja. Yesus menjadi raja itu memang kehendak Bapa, yaitu menjadi Raja diatas segala raja. Tetapi ketika orang banyak hendak menjadikan Yesus sebagai raja, Yesus tidak mau. Alkitab mengatakan karena Dia tahu apa yang ada di dalam isi hati mereka.

      Hal yang terutama di dalam Kekristenan bukan berkat, bukan mukjizat. Hal yang terutama di dalam Kekristenan itu genuity, satu kesejatian Kekristenan, dan itu tergantung dari salib. Saudara mau mengetahui gereja itu sejati atau tidak bukan dari jumlah jemaatnya, atau Hamba Tuhannya tetapi apakah dia mengkotbahkan salib atau kesuksesan? Salib atau kemakmuran? Salib atau pikiran manusia?

      Biarlah kita boleh kembali melihat apa yang Alkitab itu nyatakan. Salib. Salib adalah kesulitan, penderitaan, air mata disebabkan karena menjalankan kehendak Allah. Salib bukan penderitaan karena kita berdosa. Salib bukan penderitaan karena kita salah pilih jodoh. Salib bukan penderitaan karena aku mencuri, aku masuk ke jail, Itu adalah salibku. Tidak! Salib bukan dan tidak ada urusannya dengan bicara berkenaan dengan keinginanku yang tidak tercapai. Salib adalah berbicara dengan aku mau menjalankan kehendak Tuhan dan aku harus takluk dan aku harus taat dan aku harus menderita. Aku harus penuh dengan kesulitan seperti ini, tapi aku rela taat karena Dia itu mulia dan panggilannya adalah mulia adanya.

      Ketiga, panggilan untuk hidup sepenuhnya dimiliki oleh Kristus sampai kita mati.

      Sebanyak tiga kali Yesus memanggil Petrus, “Follow Me”. Yang pertama di danau Galilea, dan Petrus kemudian meletakkan jalanya. Petrus mengikut Yesus dan mau mengenal-Nya. Sekarang, ketika Yesus Kristus menyatakan isi hatinya yaitu Dia akan pergi ke salib, Dia akan disesah menderita, maka Petrus kemudian menarik, tidak mungkin. Yesus mengatakan “Follow me, Peter”. Petrus menyangkal Yesus dan kemudian Yesus Kristus sudah memulihkan seluruh relasinya. Tiga kali Petrus menyangkal Yesus dan tiga kali Yesus itu bertanya kepada Petrus apakah engkau mencintai Aku? Petrus menjawab, “aku mengasihi”. Dalam hati Petrus mengasihi tetapi Tuhan tahu begitu banyak dosa. Ini adalah suatu jawaban yang genuine di hadapan Tuhan. Kemudian Yesus menubuatkan bagaimana Petrus akan mati martir. Yesus mengatakan, saat ini engkau masih muda, engkau pergi ke tempat kemanapun saja engkau kehendaki. Tetapi pada waktu engkau sudah tua, maka engkau akan diikat dan engkau akan diseret menuju ke tempat yang engkau tidak kehendaki. Alkitab mengatakan bahwa itu menyatakan bagaimana Petrus mati martir. Dan sejarah gereja menyatakan Petrus mati martir dengan cara disalib dan salib itu diputar dengan kepala di bawah. Sebelumnya dia akan disalib seperti Yesus disalib, tetapi kemudian dia mengatakan kepada para penyalibnya bahwa dia tidak layak disalib seperti Tuhan Yesus, dia minta supaya disalibkan dengan kepala di bawah. Maka itulah menjadi akhir kehidupan Petrus. Petrus sudah menetapkan hidupnya. Petrus sudah mengerti arti mengikut Yesus. Ikutlah Aku untuk seluruh kehidupan yang Aku akan rancangkan bagimu. Ini adalah panggilan untuk hidup sepenuhnya dimiliki oleh Kristus sampai kita mati.

      Tetapi setelah Petrus melihatnya Yohanes, teman sekerja Petrus, dia kemudian bertanya, “Guru, kalau aku nanti akan mati martir, apa yang akan terjadi kepada Yohanes?” Satu kalimat Yesus itu menggugah sekali. “Jikalau Aku menghendaki untuk dia tetap hidup sampai Aku datang, itu bukan urusanmu. Tetapi engkau ikut Aku!” Dia adalah Pencipta langit dan bumi. Dan Dialah yang menyatakan dengan kedaulatan-Nya dan kebesaran-Nya, jadilah terang, maka terang itu jadi. Dan Dia berbicara dengan danau itu, Diam! Dan danau itu kemudian langsung teduh. Dia menyatakan Akulah jalan. Dia menyatakan Akulah kebenaran. Dia menyatakan Akulah hidup. Dia menyatakan Akulah terang dunia. Seluruh kalimat Yesus begitu mempesona dan begitu besar tetapi ada satu kalimat yang diutarakannya kepada kita dan kalimat itu mengatakan: “Itu bukan urusanmu.” Kalimat ini begtu tajam. Apa yang membuat kita menghentikan langkah kita mengikut Kristus? Yaitu ketika kita membandingkan hidup orang lain yang lebih baik dari kita. Itu akan selalu mengganggu kerohanian kita. Ketika kita mengikut Kristus Yesus, biarlah hati kita boleh tenang untuk membuat mata kita selalu terarah kepada Kristus. Jikalau tidak seperti itu, kita akan kecewa. Kita tidak akan mengakhiri seluruh perjalanan iman kita sampai pada akhirnya dengan kemuliaan. Kita akan terus membandingkan diri kita dengan orang lain. Mata hanya melihat Kristus saja dan bukan yang lain.

      Ketika Yunus mengikut Kristus, kotbahnya diterima. Ketika Yesaya mengikut Tuhan, kotbah Yesaya ditolak. Ketika Daud mengikut Tuhan, dari gembala menjadi raja. Tetapi ketika Nehemia mengikut Tuhan, dari istana raja menjadi mandor bangunan. Semuanya adalah bicara mengenai Follow Me”. Billy Graham, seorang hamba Tuhan yang terkenal dan besar yang dipakai Tuhan, ketika dia berkotbah, ribuan orang, bahkan satu juta orang berkumpul, dan setelah selesai berkotbah, dan banyak orang yang kemudian menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Tetapi, ketika saya membaca buku “Through The Gate of Splendor” tentang 5 orang misionaris, Auca Five dan pemimpinnya adalah Jim Elliot. Mereka pergi ke Ecuador dan kemudian dengan pesawat capungnya mereka sampai di sungai Curaray, penuh dengan lalat dan kemudian di situ berusaha untuk mengabarkan Injil. Tetapi belum sempat mengabarkan Injil, beberapa waktu kemudian mereka dibunuh oleh suku primitif. Auca Five itu mati dan mayatnya mengambang di sungai Curaray. Mereka meninggalkan istri dan anak-anaknya masih kecil. Dan ketika saya membacanya, air mata saya bercucuran dan saya bertanya kepada Tuhan. Mengapa? Ada orang yang dipanggil dan kemudian semua orang mendengarnya tetapi ada orang yang dipanggil tetapi kemudian tombak yang sampai kepada dia. Ada orang yang dipanggil sampai tua dan hidupnya mempermuliakan Kristus, tetapi ada orang yang dipanggil dan harus mati martir dalam usia yang begitu muda. Ada orang yang dipanggil bertemu raja demi raja, tetapi ada yang dipanggil masuk ke pelosok desa yang sama sekali tidak terkenal. Mengapa begitu berbeda? Satu hal: “Follow Me”. “Jikalau Aku menginginkan orang itu tetap ada sampai Aku datang, itu bukan urusanmu”. Kitab Ibrani mengatakan lihat selalu kepada Kristus Yesus yang memimpin iman kita dan membawa iman kita itu kepada kesempurnaan.

      Saya akan mengakhiri dengan satu cerita yang sesungguhnya terjadi. Pada tanggal 7 Agustus 1954, kejuaraan lari satu mil British Empire di Vancouver, Kanada, menjadi mukjizat ketika dua pelari, Roger Bannister dan John Landy, dengan waktu yang mendekati 4 menit, berlari dalam kondisi puncak. Bannister terserang pilek selama seminggu sebelum perlombaan dan kaki Landy terluka sewaktu berjalan-jalan sehari sebelumnya namun keduanya masuk kualifikasi. Pada saat itu, Bannister berencana untuk agak melambatkan larinya selama putaran ketiga dan menyimpan tenaganya untuk putaran terakhirnya. Tetapi Landy tidak memperlambat kecepatannya. Dan dia menjadi jauh memimpin di depan. Bannister kemudian mengubah rencananya. Iya meningkatkan kecepatannya dan berhasil mendekati Landy. Landy tetap di depan, Bannister di belakangnya. Pada langkah-langkah terakhir sebelum mencapai garis akhir, orang banyak bersorak sorai. Landy tidak dapat mendengarkan Bannister di belakangnya, Landy lalu mengintai Bannister melalui bahunya. Pada saat itu, Bannister telah langsung melejit mendahuluinya dan kemudian menang. Intinya, Landy yang maksud awalnya berlari dengan baik sepanjang perlombaan untuk memenangkan perlombaan, akhirnya berlari untuk mengalahkan Bannister. Roger Bannister, menjadi orang pertama yang memecahkan rekor waktu itu. Dia bergerak dengan hati-hati pada awalnya, namun setelah menetapkan arah tujuannya, dia menyelesaikan dengan baik dan memenangkan perlombaan. Apa yang menjadi kekalahan iman kita? Saudara dan saya membandingkan diri kita dengan orang lain dan melupakan satu kalimat “Follow Me”

      Panggilan Kristus bagi kita semua, “Follow Me”, panggilan untuk mengenal Dia, panggilan untuk memikul salib dan panggilan untuk hidup sepenuhnya dimiliki oleh Tuhan dan tidak membandingkan diri dengan orang lain.

       


  • Arti Panggilan: Follow Me (2)

    • Pengkhotbah: Pdt. Agus Marjanto, M.Th
      Matius 4:18-22

      Yesus Kristus menyusur danau Galilea dan melihat murid–murid-Nya. Pada waktu itu mereka belum menjadi murid, kemudian Yesus Kristus mengatakan, “Mari, ikutlah Aku (Follow Me), dan Aku akan menjadikan engkau menjadi penjala manusia.” Panggilan yang keluar dari mulut Tuhan sendiri. Mulut Tuhan yang suci, dan hati-Nya yang penuh dengan cinta kasih, dan kuasa-Nya yang menciptakan langit dan bumi, mulut-Nya yang sama yang mengatakan, “Jadilah terang.” Maka terang itu jadi. Maka Dia mengatakan, “Follow Me, Peter. Follow Me, John. Follow Me, Andrew.” Satu persatu “ikut Aku”. Maka perhatikan, kita sebagai orang Kristen dan khususnya orang–orang yang sudah dilahirbarukan, mari minta kepada Tuhan belajar untuk peka kepada suara Tuhan yang halus, yang lembut, yang lirih, tetapi suatu suara yang akan masuk ke dalam jiwa kita. Dan jikalau engkau membuka-Nya itu adalah suatu suara yang agung, dan jikalau engkau mengikuti-Nya itu akan mengubah hidup kita dari kegelapan menjadi terang, dari kehinaan menjadi kemuliaan. Sudah berapa banyak kita mendengarkan seluruh suara di dunia ini, tetapi kenapa suara Pencipta langit dan bumi, yang menciptakan kita, kita tidak dengar? Setiap hari kita mendengar begitu banyak suara yang mendesak kita, yang menghentikan kita, yang memanggil kita, seluruhnya kita dengar. Ada suara dari mobil, ada suara dari orang yang mendesak kita, mungkin dari bos kita di kantor, di rumah kita mendengar suara anak-anak dan lain-lain. Terhadap suara-suara tersebut kita begitu peka, begitu sadar dan langsung mendengarnya. Tetapi mengapa suara Tuhan kita tidak mendengar dan mengikuti-Nya? Mari kita belajar melembutkan hati kita untuk mendengarkan suara Tuhan. Ketika saya melihat satu persatu, di antara seluruh pelayanan-Nya, seluruh mujizat-Nya, seluruh hal yang membuat kita itu terpaku, terpesona di dalam Alkitab, selalu ada suara lirih seperti ini, “Ikut Aku.” Sejak saat itu maka murid–murid Kristus melepaskan jalanya, keluar dari perahu, meninggalkan ayah dan ibunya, dan kemudian mengikuti Yesus Kristus. Ini adalah suatu suara untuk mengenal pribadi Kristus lebih dalam. Saudara tidak ditentukan hanya untuk pergi ke Surga, lahir baru lalu kemudian menikmati gereja hari Minggu lalu kemudian selesai. Kita ditentukan untuk makin mengenal Allah. Kita dipanggil untuk mengenal pribadi-Nya.

      Sejak hari itu, seluruh murid-Nya, satu persatu, memperhatikan bagaimana pelayanan Kristus. Memperhatikan bagaimana prinsip–prinsip hidup Kristus. Memperhatikan ketika Dia melakukan mujizat. Suatu hari Yesus sedang tertidur di sebuah kapal bersama murid–murid-Nya dan angin bergelombang besar sekali dan malam yang pekat menakutkan, dan seluruh murid-Nya mengatakan, “Guru! Guru! Apakah Engkau tidak peduli kami ini binasa?” Kemudian Yesus Kristus terbangun dan kemudian dengan keanggunan-Nya Dia malah pergi ke tempat buritan dan kemudian Dia mengatakan kepada seluruh angin itu, “Diam!” Dan angin itu diam. Melihat peristiwa ini, murid-murid itu diam, ketakutan gemetar. Siapakah orang ini? Mereka belajar mengenal Kristus. Belajar mengenal pelayanan-Nya, belajar mengenal prinsip hidup-Nya, mengenal Dia melakukan mujizat, mengenal Dia di dalam emosi-Nya. Ketika Dia marah, ketika Bait Suci dipakai sebagai tempat berjualan, mengadakan seluruh transaksi ekonomi, ini persis seperti gereja masa kini. Gereja memakai nama Tuhan, tetapi seluruhnya transaksi bisnis. Gereja, memakai nama Tuhan, tetapi dari mimbar sampai seluruh jemaatnya isinya uang. Yesus marah sekali. Engkau jadikan tempat Bait Suci, tempat doa seluruh bangsa ini menjadi tempat berjualan. Maka Yesus marah, dan murid-Nya kemudian mengenal kemarahan-Nya.

      Sebelum peristiwa Yesus Kristus membangkitkan Lazarus, Alkitab mengatakan Yesus Kristus masygul hati-Nya. Masygul hati-Nya ini adalah satu kata yang tajam sekali. Kata ini mau menyatakan ada sesuatu kemarahan, ketidaksabaran, kesedihan bercampur menjadi satu. Dan ketika Petrus, Yakobus dan Yohanes melihat itu, maka mereka mengerti isi hati Kristus. Follow Me maka engkau akan melihat bagaimana Aku melayani, melihat emosi-Ku, melihat cara kerja-Ku, melihat prinsip–prinsip-Ku. Follow Me, engkau melihat sukacita-Ku. Apa yang menjadi sukacita Kristus ketika Dia melayani? Suatu ketika pelayanan itu ditolak dan kemudian banyak orang murid–murid-Nya datang, “Guru, bahkan setan–setan pun takut kepada kami.” Yesus Kristus berkata, “Jangan engkau bersukacita karena setan itu takut, tetapi bersukacitalah karena namamu ada tertulis di dalam kerajaan Surga.” Lalu kemudian Dia menarik diri-Nya, Dia menengadah ke langit, dan mengatakan, “Aku bersyukur kepada-Mu Bapa di Surga karena Engkau sembunyikan kepada orang–orang besar tetapi Kau nyatakan kepada orang–orang yang kecil.” Saudara– saudara, itu adalah sukacita Kristus. Ketika Petrus mengikut Tuhan, dia melihat sukacita Kristus, melihat kesedihan dan ratapan Kristus. Kita harus makin mengenal Firman. Harus membaca Firman. Dan minta kepada Tuhan yang empu-Nya Firman, Tuhan yang adalah yang pencerah Firman ini untuk kita bisa mengerti-Nya, dan kita bisa mengenal Kristus yang kita sembah. Celakanya kita menjadi orang Kristen tetapi sama sekali tidak mengenal Kristus di dalam kehidupan kita. Kita berpikir kita adalah orang Kristen, tetapi tidak memiliki relasi yang intim dengan Kristus. Bahkan banyak dari kita yang menjadi hamba Tuhan, majelis, menjadi orang–orang yang menentukan arah gereja, tetapi seluruhnya bukan pikiran Kristus, bukan cara Kristus, bukan emosi Kristus yang melingkupi kita. Ini adalah sesuatu kebahayaan yang luar biasa. Tuhan meminta kepada kita, dari hamba Tuhan sampai seluruh jemaat, dari yang tertua sampai yang termuda, mendengarkan suara ini, “Follow Me”. Kita dipanggil untuk mengikut Kristus, untuk dibentuk oleh Kristus, untuk mengenal Dia secara intim, itu panggilan pertama.

      Ketika kita makin lama makin intim, di dalam kedaulatan-Nya dan anugerah-Nya, Dia sendiri yang akan memakai kita. Jangan pernah berpikir aku mau dipakai sama Tuhan tanpa aku mengenal Tuhan. Aku mau untuk berjuang bagi Tuhan, untuk mempermuliakan Tuhan, tetapi menghindar dari seluruh bentukan yang Tuhan tetapkan di dalam hidup kita. Sekarang perhatikan apa yang Alkitab katakan berkenaan dengan panggilan yang lembut ini. Follow Me. Meskipun panggilan itu lembut, halus, dan sederhana, tetapi ini adalah panggilan yang hormat dan mulia karena yang memanggil adalah Allah yang mulia dan hormat. Kita jangan pernah berpikir bahwa Allah sedang memohon kepada kita. Ketika Allah mengatakan, “Follow Me” walaupun selembut apapun maka itu adalah sesuatu perintah. Follow Me itu adalah sesuatu ketetapan. Itu adalah sesuatu order, itu adalah sesuatu command, itu adalah sesuatu panggilan karena Dia itu Allah yang terhormat dan mulia. Jangan pernah berpikir ketika kita menolak-Nya tidak ada resiko yang kita harus tanggung. Dia adalah Allah yang menyatakan kalimat-Nya dan kalimat-Nya itu pasti jadi adanya. Banyak di antara kita yang berpikir bahwa Allah itu memanggil seakan–akan memohon. Dia adalah Allah dan kita itu adalah manusia. Jangan perlakukan Dia sama seperti manusia. Jangan perlakukan Dia sama seperti seseorang menelpon kita, saudara pikir saudara punya kebebasan untuk terima atau reject. Saudara, Dia adalah Allah kita. Dialah yang menciptakan kita. Kita adalah hamba–hamba-Nya. Kita diciptakan oleh Dia. Kalau Dia sudah berbicara kepada kita, jangan pernah berpikir kalau kita bisa menerimanya atau menolaknya. Aku boleh datang boleh tidak tanpa ada sesuatu resiko bagi jiwa kita. Terlalu banyak orang yang tidak mengerti prinsip ini, dia pikir Kristus itu adalah pembantu. Sama sekali tidak. Panggilan ini adalah panggilan yang harus diresponi. Dan kalau saudara dan saya tidak merespon, ada sesuatu resiko bagi jiwa kita. Mari kita lihat Matius 22:1-14: Yesus Kristus memanggil para murid-Nya, Yesus Kristus memanggil kita, ketika panggilan Allah yang begitu lembut, jangan berpikir bahwa itu adalah panggilan yang bisa kita hindarkan. Kita harus mengambil keputusan terhadap panggilan itu. Dan apapun saja keputusan itu, akan mengandung sesuatu resiko bagi jiwa kita.

      Gereja yang sejati adalah gereja yang memanggil setiap jiwa yang sudah diciptakan oleh Allah untuk mendekat, untuk mengenal Allah. Jiwa tersebut tidak dipanggil untuk mendekat kepada hamba Tuhan atau kepada organisasi, tetapi jiwa tersebut dipanggil untuk mendekat dan mengenal pribadi Kristus. Terlalu banyak bahkan jemaat sendiripun tidak mengindahkan panggilan-Nya. Aku sibuk, aku punya urusanku sendiri, terlalu jauh. Setiap kali ketika kami mengadakan sesuatu program pembinaan, saya mau saudara mengerti, saya tidak pernah berpikir untuk saudara datang supaya gereja ini penuh, ini seluruh program pembinaan adalah panggilan untuk kita sendiri semakin mengenal Kristus melalui Firman. Bukan raja yang memanggil, raja mengutus orang-orangnya untuk memanggil orang-orang lain dan hamba-hambanya kemudian tidak diindahkannya. Kemudian hamba-hambanya sebagian dicemooh dan kemudian juga ada yang dibunuh. Nabi-nabi, rasul-rasul, gereja-gereja yang sejati menyatakan panggilan-panggilan itu dan panggilan-panggilan terdekat mengenal Kristus, dimuridkan oleh Kristus, dibentuk oleh Kristus, hidup berdedikasi bagi Kristus. Tetapi kita tidak, kita merasa satu kali seminggu ke gereja itu sudah cukup. Jangan perlakukan Tuhan seperti demikian, jangan kita tidak menghormati-Nya. Sekali lagi, panggilan itu adalah panggilan yang halus, tetapi hormat dan mulia. Ini bukan permohonan, ini adalah perintah, ini adalah ketetapan di dalam kedaulatan-Nya.

      Hal yang kedua, panggilan ini adalah panggilan untuk meminta Allah diutamakan, diprioritaskan dan memberi satu-satunya di dalam hati kita. Ini adalah panggilan yang menjadi utama. Ketika Petrus, Andreas, Yohanes ada disana, Tuhan mengatakan, “Follow Me”, maka kemudian Alkitab mengatakan mereka meninggalkan semua. Saya tidak mengatakan bahwa kita meninggalkan seluruh pekerjaan lalu kemudian mengikut Kristus. Memang ada panggilan-panggilan khusus untuk menjadi hamba Tuhan, tetapi intinya adalah apakah di dalam hati kita sungguh-sungguh seluruh arah hati kita adalah follow Christ atau tidak, apakah sungguh-sungguh seluruh hidup kita itu bagi Kristus atau tidak. Perhatikan beberapa ayat Alkitab ini, kembali panggilan itu ada dan kembali panggilan itu ditolak oleh manusia dan lihat standar Kristus terhadap panggilan tersebut.

      Mari kita lihat Matius 19:16-26. Seorang pemuda yang sangat saleh menurut ukuran agama, dan juga orang yang sangat kaya, dan ketika dia mencari Yesus, Alkitab mengatakan di dalam ketiga Injil sinoptik, kalau saudara-saudara gabungkan, dia lari dan kemudian dia mulai menyembah Yesus Kristus. Dan dia bertanya “Guru yang baik, apa yang harus aku perbuat untuk aku bisa pergi ke surga?” Ketika Saya melihat ayat ini, orang muda, saleh, kaya dan kemudian berlari untuk bertemu Yesus. Saya langsung pikir ini adalah masa depan gereja, banyak anak muda tidak mau tahu tentang Tuhan, banyak anak muda malas-malasan. Anak muda ini kaya, dia kerja keras, bukan itu saja, orang muda ini orang saleh, jadi dia adalah orang aktif di gereja, tetapi mata Tuhan tidak bisa dikelabui, kalau kemudian setelah pembicaraan itu, maka Yesus tahu seluruhnya. Pemuda itu katakan telah menuruti hukum-hukum yang berkenaan dengan manusia, sekarang tentang hukum yang paling utama yaitu kasihilah Allahmu dengan segenap hatimu, dengan segenap kekuatanmu, dengan segenap akal budimu. Yesus Kristus mengatakan jikalau engkau mau sempurna, maka hartamu yang banyak itu jual, berikan kepada orang miskin. Itu berarti lepaskan semua dan ikut Aku. Yesus tahu, satu hal yang tersembunyi di dalam hati orang muda ini, dia mau ikut Yesus tetapi ada tuan yang lain. Alkitab mengatakan engkau tidak bisa mengabdi kepada dua tuan, apakah engkau harus mengabdi kepada Allah atau mammon, tidak bisa kedua-duanya. Maka orang muda ini, adalah orang muda yang kemudian Alkitab katakan begitu sedih hati, dia menangis tetapi tidak ada pertobatan. Dan apa yang saya mau katakan adalah, Yesus setelah itu membiarkan dia pergi dan tidak memanggilnya kembali. Kristus adalah satu pribadi Allah yang ketat, yang memiliki standar dan Dia tidak akan mundur setapakpun dari standar-Nya. Berikan semuanya kepada-Ku atau tidak sama sekali. Follow Me!

      Ini adalah suatu prinsip Alkitab, banyak dari kita menipu diri kita sendiri. Aku orang Kristen, padahal di dalam hatimu, engkau tak pernah memberikan seluruhnya bagi Kristus.

      Di tempat yang lain mari kita melihat Lukas 9:57-62, panggilan ini adalah panggilan yang lembut, panggilan ini adalah panggilan yang tidak memaksa, tetapi panggilan ini adalah panggilan yang urgent dan tidak mungkin tertolak, panggilan ini adalah panggilan yang mulia dan memiliki standar. Jangan pernah berpikir kita mengikuti Kristus, menjadi orang Kristen dengan pikiran kita sendiri, dengan standar kita sendiri, dengan nilai kita sendiri, kita mendefinisikan Kristen, kita mendefinisikan diri kita pengikut Kristus tanpa ada standar yang jelas. Ketika melihat panggilan di dalam Lukas 9:57-62 itu, orang ini baru saja ayahnya meninggal, lalu kemudian dia mengatakan ijinkan aku menguburkan ayahku. Apa yang lebih urgent di dalam hidup kita dibandingkan dengan kematian? Holiday bukan sesuatu yang urgent, saudara ada seminar bukan sesuatu yang urgent, saudara bisa planning itu beberapa tahun sebelumnya, beberapa bulan sebelumnya, sekolah anak bukan sesuatu yang urgent, saudara bisa planning itu beberapa bulan sebelumnya, tetapi kematian tidak ada yang bisa mem-planning itu bukan, dan begitu itu sudah datang, saudara akan melupakan apapun saja, saudara akan mempersiapkan untuk hal itu, saudara akan membeli petinya, saudara akan pergi ke tempat rumah duka, saudara akan memikirkan bagaiamana tata upacara pemakamannya, tidak ada yang bisa menghentikan untuk hal itu, tetapi Kristus pun mengatakan, bahkan itupun maka Aku harus menjadi yang lebih utama. Saudara-saudara, biarkan orang mati menguburkan orang mati, berarti engkau ikut Aku.

      Hal yang lain adalah “aku mau pamitan dahulu”. Yesus Kristus mengatakan setiap orang yang siap untuk membajak dan menoleh ke belakang tidak layak bagi-Ku. Ini adalah suatu tuntutan tajam, keras, yang tidak kompromi dan tidak mau mundur. Saya tidak mengatakan bahwa ini adalah sesuatu hal yang sifatnya harafiah, yang paling penting adalah bagaimana hati kita. Suatu hari Elia memanggil Elisa dan Elisa pun minta ijin kepada Elia untuk pamitan kepada keluarganya dan itu diperbolehkan. Masalahnya adalah ini bukan harafiah tampak luar, sebenarnya adalah isi hati kita, apakah sungguh-sungguh memprioritaskan Kristus di dalam seluruh hidup kita atau tidak. Biarlah kita boleh jujur di dalam hidup kita. Jikalau Kristus bukan yang utama di dalam hati kita, tidak perlu saudara melakukan atraksi agama seperti ini. Saudara sedang action di hadapan Allah. Berikan hati kita seluruhnya atau tidak sama sekali. Jadikan Dia utama atau tidak sama sekali, itu adalah panggilan hidup. Apa bedanya antara satu kebangunan rohani yang Kristus itu nyatakan, dengan yang setan itu nyatakan. Setan selalu akan mengatakan jangan berikan semuanya, berikan sedikit saja. Setan mengatakan, berikan 3 detik saja dari waktumu untuk melihat video porno tidak akan mengubah apa-apa di dalam hidupmu, engkau akan menikmatinya. Tetapi lihatlah, seluruh keluarga Daud hancur berantakan karena dosa yang masuk karena sesuatu yang sedikit. Itu hebatnya setan, tetapi Tuhan tidak akan begitu. Tuhan akan mengatakan, berikan di depan seluruhnya. Kasih semuanya, prioritas, didepan, atau tidak sama sekali. Semuanya, seluruh hatimu, sepenuh hidupmu dan Aku menjadi satu-satunya yang prioritas dalam hidupmu atau tidak sama sekali.

      Kiranya kita boleh mengerti sebenarnya apa yang menjadi standar dari tuntutan Alkitab ketika kita menjadi orang Kristen dan kita tidak bermimpi di siang hari bolong memikirkan, mendefinisikan kekristenan menurut cara pikir kita sendiri. Sekali lagi biarlah kita ingat akan dua hal, pertama itu adalah panggilan yang mulia dari Allah yang hormat yang harus kita hormati jikalau kita menolaknya, jangan berpikir tidak ada resikonya dan yang kedua itu adalah sesuatu panggilan yang standar yang meminta Dia menjadi prioritas satu-satunya tertinggi, semuanya di dalam hati kita atau tidak sama sekali.


  • Arti Panggilan: Follow Me

    • Pengkhotbah: Pdt. Agus Marjanto, M.Th
      Matius 4:18-22

      Yesus pergi ke Galilea setelah diusir dari Kapernaum dan memanggil beberapa murid-Nya lagi. Pemuridan pertama kali ada dalam catatan Yohanes. Yohanes Pembaptis adalah salah satu the greatest reductionist di dalam dunia. Ketika Yohanes melihat Perjanjian Lama, dia melihat satu hikmat Mesias akan datang. Dan Kristus itu yang akan menebus dosa umat manusia. Dia meneliti satu per satu dan ketika dia melihat Yesus, dia langsung bicara: Inilah Orangnya. “Lihatlah Anak Domba Allah”. Maka seketika itu juga, 2 murid Yohanes Pembaptis dipersilahkan untuk mengikut Yesus yaitu Yohanes dan Andreas. Yohanes Pembaptis seorang besar yang diurapi oleh Tuhan. Tetapi orang yang diurapi oleh Tuhan itu adalah tetap orang yang paling rendah, lebih rendah dari budak dibandingkan Kristus yang mulia. Yohanes, murid Yohanes Pembaptis yang kita kenal itu menjadi murid Yesus, dilepaskan dan kemudian mereka mengatakan: Guru, di mana Engkau tinggal? Di situ mulai perjumpaan antara murid-murid pertama dengan Yesus Kristus. Dan kemudian waktu berlalu demi waktu. Yesus mulai mengajar di Galilea meskipun pada saat itu Dia mungkin masih ada di Kapernaum.

      Suatu hari, Alkitab mengatakan di Injil Lukas; “Yesus Kristus ada di daerah tepi danau Galilea”. Dan saat itu, Yesus dihampiri oleh orang banyak, yang mau mendengarkan pengajaran-Nya. Kemudian Yesus melihat ada 2 kapal milik Simon salah satunya. Yesus masuk ke dalam kapal itu dan mengatakan, “Sekarang tolaklah kapal itu sedikit menjauh dari tepi”. Maka ditarik dari tepi lalu Yesus di sana mengajar orang banyak. Setelah pengajaran selesai dan orang banyak itu kemudian mulai berduyun-duyun pulang, maka Yesus Kristus berkata kepada Simon: “Simon, mari kita pergi ke tempat yang dalam untuk menangkap ikan.” Pada saat itu Simon, seorang nelayan, baru pulang dari laut yang dalam. Lalu Simon Petrus mengatakan: “Guru, sudah semalaman kami berusaha untuk menangkap ikan tetapi kami tidak mendapatkan apa-apa.” Dengan perasaan sungkan Petrus mengatakan, “Tetapi karena Engkau yang suruh, OK lah, sekarang aku ikut saja.” Dalam pikiran Petrus, ini sebenarnya pekerjaan yang sia-sia dan memboroskan waktu. Saya katakan kepada saudara, kalau kita taat, tidak mungkin sia-sia dan boros waktu. Kemudian Petrus mendayung sampai tempat yang dalam. Lalu Yesus berkata: “Tebarkan jalamu.” Lalu ketika ditebarkan, maka ikan-ikan terangkat dan jala itu mulai koyak, sudah tidak bisa lagi menampung. Alkitab mengatakan 2 perahu penuh dengan ikan dan hampir tenggelam. Begitu sampai ke darat, Simon langsung turun, dia langsung tunduk dan berlutut di bawah kaki Yesus. Dia mengatakan: “Guru, aku orang berdosa. Pergi, pergi!” Jikalau kita sungguh-sungguh anak Tuhan, berkat Tuhan tidak akan hanya membawa kita kepada “Haleluyah, puji Tuhan, aku dapat berkat.” Tidak! Berkat Tuhan kepada anak Tuhan yang sejati akan membuat kita sadar, aku orang berdosa. Aku tidak layak mendapatkan ini. Di saat seperti itu, maka Yesus mengatakan: “Ikutlah Aku, Petrus”. Aku akan menjadikan engkau penjala manusia. Perhatikan, kalimat Yesus ini adalah satu-satunya kalimat yang ditulis di dalam Matius. Dari seluruh ayat 18-22 hanya ada 1 kalimat dari Yesus, yaitu “Ikutlah Aku, maka Aku akan menjadikan engkau penjala manusia”. “Follow Me”. Mari kita mengingat satu kalimat ini. Follow me. Dengarlah apa yang merupakan isi hati Kristus. Dengarlah panggilan-Nya.

      Tiga aspek dari arti panggilan Allah:

      1. Isi Panggilan.
        “Follow Me” adalah bicara berkenaan dengan isi panggilan, yaitu mengikut Kristus. Ini adalah panggilan kita semua. Apa yang Dia ucapkan kepada Petrus adalah ucapan yang sama kepada murid-murid yang lain dan kepada kita. Perhatikan beberapa poin ini. Lihat Yohanes 1:43 dan Matius 9:9. Kalimat Yesus ini merupakan isi panggilan. Panggilan Kristen yang sejati adalah panggilan untuk mengikut Kristus Yesus dan panggilan itu artinya panggilan untuk dimuridkan (discipleship). Banyak orang Kristen berpikir salah di dalam hal panggilan ini. Panggilan itu berbeda dari profesi. Profesi adalah sesuatu sistem hidup atau wadah di mana panggilan itu akan kita kerjakan di dalam urusan talenta kita. Namun ‘panggilan’ jauh lebih dalam, jauh lebih esensial dan itu jauh lebih besar jangkauannya daripada sekedar profesi walaupun memang benar kata profesi di dalam bahasa Inggrisnya adalah vocation dari bahasa Latin itu adalah vox (suara). Panggilan kita dipanggil oleh suara dari Kristus untuk mengikut Dia, untuk dimuridkan, dibentuk oleh Dia, untuk segala sesuatu dalam hidup kita itu kehendak-Nya kita lakukan, kita laksanakan dan kita taati. Itu adalah panggilan kita di dalam seluruh apapun saja profesi kita. Profesi demi profesi, kedudukan demi kedudukan bisa berubah.

        Kalau saudara perhatikan seluruh rancangan hidup bagi Yusuf, profesi demi profesi itu berubah-rubah. Dia adalah seorang anak, budak, pembantu, manager, narapidana dan perdana menteri. Meskipun profesinya berubah, tetapi di mana saja, entah di atas, entah di bawah, maka dia harus memunculkan bahwa dirinya adalah murid Kristus. Ini adalah panggilan yang paling utama. Profesi saya adalah hamba Tuhan, tetapi panggilan saya adalah seorang yang dipanggil mengikut Kristus. Seorang yang dipanggil untuk dimuridkan oleh Kristus. Biarlah ini boleh ada di dalam hidup saudara. Di mana saja, baik di mimbar maupun di jalanan, ataupun di tempat penjara, maka orang tersebut adalah dipanggil untuk satu hal, yaitu mejadi murid Kristus. Saudara mengerti ini maka saudara tidak akan terkotak-kotak di dalam hidup. Kita semua dipanggil dengan satu kata yang sama. Dan semua dipanggil dengan satu prinsip yang sama: Follow Me. Satu per satu dipanggil untuk satu hal, yaitu dimuridkan. Dipanggil untuk makin lama makin dikuasai oleh Kristus.

        Setelah Petrus, Andreas, Yakobus dan semua satu per satu dipanggil menjadi murid Yesus, mereka secara intens mempelajari kalimat Yesus dengan sungguh-sungguh, melihat isi hati Yesus dan sungguh-sungguh meneliti pengajaran Yesus. Satu per satu mengalami pembentukan hidup dan juga membentuk interaksi satu dengan yang lainnya yang mungkin sangat menyakitkan. Yesus pernah mengatakan: Enyah engkau setan kepada Petrus. Yesus pernah menghardik 2 anak guntur; Yohanes dan Yakobus (boanerges). Sedikit demi sedikit marah adalah karakter mendasar yang ada pada mereka. Tetapi setelah mengikut Yesus beberapa tahun kemudian, ada interaksi, bentukan, disiplin karena mereka adalah disciple. Maka kemudian apa yang terjadi? Yohanes menjadi rasul kasih. Sedikit-sedikit bicara: ‘Kasihilah satu dengan yang lain”. Kalau engkau sungguh-sungguh mentaati Kristus, maka engkau mengasihi Dia, mengasihi Firman-Nya, mentaati Firman-Nya.’ Setiap kali bicara itu berarti sepanjang bertemu dengan Yesus Kristus, Follow Me, ada bentukan, ada pelajaran. Sekarang kalimat yang sama, hadir pada kita pada pagi hari ini. Follow Me. Tetapi banyak orang tidak mengerti prinsip ini maka dia tidak mau belajar. Berapa orang yang mau belajar Alkitab? Berapa orang yang mau belajar di bawah sekolahannya Yesus Kristus? Berapa orang yang mau diajar untuk berdoa?

        Perhatikan prinsip ini. Panggilan pertama bukan pelayanan tetapi mengikut Kristus dan dibentuk oleh Kristus. Panggilan pertama kita adalah panggilan untuk mendekat kepada Kristus, untuk serupa dengan Kristus. Dan di dalam bentukan seperti itu maka baru Kristus akan memakai kita berguna di dalam Kerajaan-Nya. Banyak orang ingin menjadi berkat bagi orang lain tetapi tak mungkin menjadi berkat bagi dunia ini, tak mungkin menjadi berkat di dalam Kerajaan Allah kalau saudara dan saya tidak mau dibentuk. Tak mungkin kita menjadi berkat dan mengabarkan Injil dan mengabarkan Kristus yang hidup itu kecuali kita mau taat. Follow Me dan Aku akan jadikan engkau penjala manusia. Ini adalah kehidupan yang intim dengan Tuhan. Semakin intim orang itu dibentuk oleh Tuhan, semakin orang itu kenal Tuhan, semakin dia akan diurapi oleh Tuhan.

        Di tempat yang lain, yang saya mau tegaskan di dalam poin pertama ini adalah kata “Follow Me”, adalah sesuatu privilege. Jikalau engkau adalah orang Kristen maka kata ini akan muncul di dalam kehidupanmu. Sebenarnya di dalam kehidupan Petrus, kata ini muncul minimal 3 kali di dalam Alkitab. Yesus berkata kepada Petrus di saat dia goyah, di saat dia mau mundur iman, selalu Yesus datang dengan mengatakan “Follow Me, Peter Follow Me.” bukan hanya 1 kali. Kalimat ini juga sama terhadap engkau. Setiap daripada saudara ketika mau jatuh, mau mundur kalimat ini akan muncul; “Follow Me. Ikutlah Aku”. Jalan terus jangan mundur. Kalimat Yesus Kristus ini adalah sesuatu previlege, hak istimewa yang besar sekali yang boleh dan bisa ditangkap oleh manusia yang hidup. Di dalam kitab Mazmur ada 1 kalimat; ‘Berbahagialah orang yang dipanggil mendekat kepada Tuhan.’ Dan kalimat ini adalah kalimat untuk memanggil saudara dan saya makin hari makin mendekat kepada Tuhan.

      2. Sifat atau natur panggilan.
        Panggilan “Follow Me” adalah panggilan di dalam kedaulatan dan anugerah Allah semata. Dialah yang berhak memanggil dan kepada siapa Dia memanggil, maka itu adalah keputusan di dalam kedaulatan-Nya. Alkitab mengatakan bahwa “bukan kamu yang memilih Aku tetapi Aku yang memilih kamu.” Ketika saya merenungkan perkataan Yesus Kristus di dalam Matius 4 ini, mengapa Anak Allah, Allah oknum kedua datang ke Galilea, kepada orang-orang nelayan biasa yang miskin yang tidak terpelajar dan mengatakan: Follow Me? Mengapa suara Allah yang Maha Kuasa dan Maha Besar itu diberikan kepada mereka dan bukan orang-orang yang besar menurut ukuran dunia? Kalau melihat prinsip ini maka saudara akan sangat dikagumkan dan digentarkan karena setiap kali Allah bertindak, Dia bertindak di dalam kebebasan, kedaulatan-Nya. Ada satu kalimat di dalam Korintus yang ditulis oleh Paulus menggambarkan kondisi ini. Lihat 1 Korintus 1:26-31. Di dalam hikmat Allah dan kebesaran-Nya, di dalam anugrah-Nya di dalam kedaulatan-Nya, maka Dia datang ke dunia dan kemudian mencari Petrus, Yohanes, Yakobus, Filipus, dan semua orang yang Dia mau menyatakan kasih-Nya, kepada kita. Satu prinsip di sini, yaitu bahwa bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Aku yang memilih kamu, dan Aku sudah menetapkan engkau untuk berbuah dan buahmu itu lebat.

        Saudara mungkin berkata: “Tapi saya yang memilih waktu itu.” Jawabannya adalah tidak. Kalau engkau bisa menjadi orang Kristen dan sungguh-sungguh engkau adalah anak Tuhan, lahir baru, Roh Kudus ada di dalam hati kita, itu adalah karena Tuhan yang memilih kita. Sepanjang saudara tidak sadar akan hal ini, saudara tidak akan mengerti apa itu hak istimewa. Saudara dan sayalah yang dipilih oleh Tuhan, bukan kita yang memilih Tuhan. Tuhan tidak memilih kita karena kita kaya, baik, suci ataupun berjasa. Tidak ada apa-pun dari kita yang melayakkan kita untuk dipilih. Tetapi kita dipilih karena dua hal ini. Pertama, supaya benar-benar Allah saja yang dipermuliakan. Jangan sampai ada satu orang-pun yang membanggakan diri dan mengatakan: aku dipilih karena aku rajin ke gereja, aku dipilih karena aku orang yang sungguh-sungguh benar-benar hidupnya aku jaga bersih. Tidak! Sebaliknya, kita dipilih, maka kita benar, kita dipilih maka kita jadi baik, kita dipilih maka kita jadi rajin. Seluruhnya, kalau saudara mengerti doktrin Reformed, maka saudara akan melihat segala sesuatu adalah kedaulatan Allah semata. Sekali lagi, kenapa kita yang seperti ini yang dipilih? Bukan Athena, bukan Roma, bukan Yerusalem, mengapa kita? Mengapa Galilea yang dipilih? Jawabnya adalah pertama, untuk seluruh orang yang dipilih hanya mengerti satu hal: soli Deo gloria. Kemuliaan hanya bagi-Mu, tidak ada bagiku, karena segala sesuatu adalah dari Dia, oleh Dia, kepada Dia, untuk Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya. Kedua adalah untuk mempermalukan orang dunia. Kalau orang Kristen, anak Tuhan mengerti Firman, sebodoh apa-pun, maka orang tersebut akan memiliki hikmat lebih besar dari dunia. Masalahnya adalah saudara dan saya meneliti Firman untuk mendapatkan hikmat Allah atau tidak? Follow Me, natur panggilan itu adalah seturut dengan kedaulatan Allah.

      3. Ini menyatakan kontinuitas rencana keselamatan Allah di bumi ini.
        Sekali lagi, kontinuitas. Rencana keselamatan Allah di bumi ini. Saudara perhatikan baik-baik satu kalimat di bawah ini yang mengandung suatu prinsip teologia yang dalam. Ini adalah cara Allah meneruskan covenant of grace. Di dalam Alkitab ada satu pengajaran bahwa kita semua lahir sudah berdosa, kita adalah mahluk yang berdosa. Kenapa? Ini adalah prinsip Alkitab, dan secara teologis kita berdosa karena Adam berdosa, kita semua di dalam Adam. Itu namanya representatif, federal, head of. Adam adalah kepala seluruh umat manusia. Adam adalah satu pribadi yang paling rohani di antara kita semua dan Tuhan pilih dia menjadi wakil, representatif, kepala dari seluruh umat manusia. Adam adalah perwakilan dan yang menghubungkan antara Adam dan kita yang diwakili disebut sebagai covenant, diikat menjadi satu. Alkitab mengatakan, di dalam kekekalan, Allah sudah memiliki rencana keselamatan dan pada waktunya, Yesus Kristus diutus di dunia dan Yesus Kristus menggenapi apa yang gagal digenapi oleh Adam. Sehingga, karena Adam berdosa, maka saya berdosa, itu karena Adam berdosa, dosanya dicangkokkan kepada saya, diimputasikan kepada saya karena dia adalah wakil dan ini adalah jalur covenant. Sebaliknya, Alkitab mengatakan karena Kristus benar, maka upah kebenaran Kristus dicangkokkan ke kita, diimputasikan ke kita yang dipilih Allah, menjadikan kita di hadapan Allah di dalam Kristus kita adalah orang benar.

        Pencangkokan atau imputasi ini, kebenaran Kristus menjadi kebenaran saya menjadi satu covenant yang baru. Di dalam prinsip seperti ini, orang-orang berdosa menjadi satu dengan Adam, orang-orang yang dibenarkan menjadi satu di dalam Kristus. Perubahan dari “di dalam Adam” menjadi “di dalam Kristus” atau dengan bahasa yang lebih mudah, perubahan dari kegelapan menjadi terang, maka itu ada sesuatu pekerjaan Allah yang besar disebut sebagai covenant of grace. Covenant of grace mengubah kita yang tadinya diwakili Adam sekarang kita itu diwakili oleh Kristus sehingga orang-orang yang mendapatkan covenant of grace adalah orang-orang yang mendapatkan keselamatan, pembenaran di dalam Yesus Kristus. Keberhasilan dari covenant of grace diteruskan di dunia ini, Allah dengan memakai 2 pribadi. Pribadi pertama adalah pribadi Allah yang mengutus Roh Kudus. Yang kedua adalah pribadi manusia, Dia memakai orang-orang yang diselamatkan di dalam Kristus. Orang-orang yang diselamatkan di dalam Kristus akan berkata, akan bertindak, akan berlaku kepada dunia ini serupa dengan Kristus dan berkata-kata mengenai siapakah Kristus itu. Kemudian Roh Kudus akan memakai perkataan kita, kehidupan kita, dan contoh kita untuk mencelikkan orang lain. Kemudian orang lain itu ada di dalam Kristus, dan orang itu kemudian berkata lagi kepada orang lain dan orang lain itu kemudian ada di dalam Kristus di dalam covenant of grace. Perhatikan cara kerja Allah ini. Allah memakai cara kerja untuk meneruskan pekerjaan-Nya untuk terus menerus covenant of grace itu disebarkan di seluruh dunia sampai kerajaan-Nya datang dengan satu suara ini: follow Me.

      Kalimat follow Me diucapkan kembali secara harafiah oleh Paulus (1 Korintus 11:1). Jadilah pengikutku sama seperti aku juga pengikut Kristus. Saya tidak bisa membayangkan apa yang terjadi bila Yesus Kristus tidak memanggil murid-murid-Nya. Maka kontinuitas ini tidak ada. Ini yang dikerjakan: Allah Bapa mengutus Allah Anak. Setelah Allah Anak menyelesaikan pekerjaan-Nya dan Dia kembali ke surga, dan Dia akan kembali lagi ke bumi pada saat yang Dia tentukan sendiri di dalam kekekalan. Maka sepanjang waktu dari jaman ke jaman, sepanjang bumi ini berputar dan sebelum Anak Allah datang untuk yang kedua kalinya, maka seluruh orang-orang yang akan dipanggil-Nya itu mulai dari murid-murid-Nya. Dan ketika murid-murid-Nya ada, Yesus katakan: follow Me dan mereka meninggalkan segala sesuatunya, mereka seumur hidup, seluruh hatinya mengikut Yesus Kristus, belajar, dibentuk oleh Yesus Kristus, dan taat pada Yesus Kristus. Kemudian Kristus pergi ke surga. Kemudian mereka mengajar kepada orang yang lain yang lebih muda mengatakan: follow me, ikut aku karena aku mengikut Kristus.

      Alangkah indahnya bila ini ada di dalam gereja. Setiap pemimpin gereja berkata kepada seluruh jemaatnya: follow me, sama seperti aku mengikut Kristus. Dan alangkah indahnya bila ini ada di dalam setiap keluarga, setiap orang laki-laki, setiap bapak-bapak mengatakan kepada anak-anaknya, seisi keluarganya: ikut bapa, ikut aku sama seperti aku mengikuti Kristus Yesus. Jikalau ini ada maka covenant of grace ada di seluruh dunia, satu persatu hati setiap manusia ditaklukkan. Covenant of grace akan masuk di dalam keluarga kita, di dalam anak, cucu kita. Jangan take it for granted, jangan berpikir bahwa anak kita atau keluarga kita pasti diselamatkan karena kita pergi ke gereja. Billy Graham mengatakan bahwa bila kita berada di bengkel atau ke garasi maka engkau jadi mobil, tidak! Saudara harus menyatakan itu kepada anak, keluarga kita. Gereja harus menyatakan kepada dunia. Apa yang sekarang dunia tidak bisa lihat adalah karena tidak ada contoh di dalam hidup kita, pemimpin-pemimpin gereja. Saya mengatakan hal ini, saya tidak mengatakan dengan kebanggaan bahwa saya lebih baik dan benar dari orang lain, kita semua orang berdosa. Tetapi kita harus mengerti ada standard yang Tuhan nyatakan. Kita semua harus mengikut Kristus baru kita memiliki kekuatan dan kuasa berbicara: “Ikutlah aku sebagaimana aku mengikut Kristus”. Kita semua, bapak-bapak, dan laki-laki yang ada di sini juga harus mengikuti Kristus. Apakah saudara-saudara berani mengatakan kepada anak saudara: ikutlah aku karena aku mengikut Kristus?

      Satu cerita yang sungguh-sungguh terjadi. Sudah bertahun-tahun, seorang laki-laki di kota Chicago memiliki kebiasaan pergi bekerja pagi-pagi, tetapi di tengah jalan dia akan selalu membelokkan kakinya untuk mampir ke bar dan minum bir sebelum dia bekerja. Itu dilakukan hari demi hari, tahun demi tahun. Suatu hari, di pagi yang bersalju, dia sekali lagi melakukan yang sama. Tidak ada orang yang tahu. Tetapi tiba-tiba, di tengah jalan itu, dia mendengarkan ada suatu suara yang kecil: Daddy, I am coming in your step. Orang itu kaget, dia berbalik ke belakang dan kemudian dia melihat anaknya sendiri, mengikut jejak langkah ayahnya yang tercetak di salju itu, jejak langkah yang menuju ke bar. Begitu ayahnya sadar, dia langsung berteriak dengan gemetar kepada Tuhan: “Oh Tuhan, saat ini anakku mengikuti jejakku. Tolong aku, aku sekarang akan mengarahkan jejakku ke arah yang lain. Aku akan memutar jejakku, aku akan memutarnya dan mengarahkannya ke tempat yang lain.”

      Setiap bapak-bapak, buka hatimu, buka hidupmu! Sekarang saya tanya, apakah engkau sungguh-sungguh ingin anakmu mencontoh hidupmu? Suatu hari engkau kalau sudah tua, engkau lihat anakmu tidak pergi ke gereja, atau anakmu main games, main handphone di gereja, atau main video porno, main perempuan dan engkau marah, engkau tanya: kenapa seperti itu? Dan mereka menjawab: “Aku mengikuti jejakmu”. Kalau anakmu tidak peduli dengan keluarga dan tidak peduli dengan Tuhan, yang paling penting karir dan uang, dan anakmu mulai break, lalu kemudian ditanya mengapa seperti ini? “Aku mengikuti jejakmu.”

      Pagi ini, Kristus memberikan satu jejak yang suci, satu jejak yang sungguh-sungguh akan membahagiakan keluargamu. Follow Me Peter, follow Me. Petrus, Yakobus, Yohanes dan seluruh rasul, seluruh bapa gereja berseru dengan satu suara yang sama: ikut aku anakku, ikut aku jemaatku, sebagaimana aku itu mengikut Kristus. Christ, I am coming in your step. Saya minta sungguh-sungguh, seluruh laki-laki yang ada di tempat ini, sama seperti Yesus Kristus memilih murid-murid-Nya, saudara serius pagi ini di hadapan Tuhan, dengarlah suara Tuhan: Follow Me, dan engkau akan Ku-jadikan penjala manusia, hidupmu tidak akan sia-sia, hidupmu Aku akan pakai untuk kemuliaan nama-Ku. Laki-laki bersikaplah laki-laki di hadapan Allah, engkau adalah pemimpin keluarga dan bukan istri yang harusnya lebih rohani daripada kita. Kita semua harus memimpin istri dan anak-anak kita. Kiranya Tuhan menyertai kita.