• Arti Panggilan: Follow Me (2)

    • Pengkhotbah: Pdt. Agus Marjanto, M.Th
      Matius 4:18-22

      Yesus Kristus menyusur danau Galilea dan melihat murid–murid-Nya. Pada waktu itu mereka belum menjadi murid, kemudian Yesus Kristus mengatakan, “Mari, ikutlah Aku (Follow Me), dan Aku akan menjadikan engkau menjadi penjala manusia.” Panggilan yang keluar dari mulut Tuhan sendiri. Mulut Tuhan yang suci, dan hati-Nya yang penuh dengan cinta kasih, dan kuasa-Nya yang menciptakan langit dan bumi, mulut-Nya yang sama yang mengatakan, “Jadilah terang.” Maka terang itu jadi. Maka Dia mengatakan, “Follow Me, Peter. Follow Me, John. Follow Me, Andrew.” Satu persatu “ikut Aku”. Maka perhatikan, kita sebagai orang Kristen dan khususnya orang–orang yang sudah dilahirbarukan, mari minta kepada Tuhan belajar untuk peka kepada suara Tuhan yang halus, yang lembut, yang lirih, tetapi suatu suara yang akan masuk ke dalam jiwa kita. Dan jikalau engkau membuka-Nya itu adalah suatu suara yang agung, dan jikalau engkau mengikuti-Nya itu akan mengubah hidup kita dari kegelapan menjadi terang, dari kehinaan menjadi kemuliaan. Sudah berapa banyak kita mendengarkan seluruh suara di dunia ini, tetapi kenapa suara Pencipta langit dan bumi, yang menciptakan kita, kita tidak dengar? Setiap hari kita mendengar begitu banyak suara yang mendesak kita, yang menghentikan kita, yang memanggil kita, seluruhnya kita dengar. Ada suara dari mobil, ada suara dari orang yang mendesak kita, mungkin dari bos kita di kantor, di rumah kita mendengar suara anak-anak dan lain-lain. Terhadap suara-suara tersebut kita begitu peka, begitu sadar dan langsung mendengarnya. Tetapi mengapa suara Tuhan kita tidak mendengar dan mengikuti-Nya? Mari kita belajar melembutkan hati kita untuk mendengarkan suara Tuhan. Ketika saya melihat satu persatu, di antara seluruh pelayanan-Nya, seluruh mujizat-Nya, seluruh hal yang membuat kita itu terpaku, terpesona di dalam Alkitab, selalu ada suara lirih seperti ini, “Ikut Aku.” Sejak saat itu maka murid–murid Kristus melepaskan jalanya, keluar dari perahu, meninggalkan ayah dan ibunya, dan kemudian mengikuti Yesus Kristus. Ini adalah suatu suara untuk mengenal pribadi Kristus lebih dalam. Saudara tidak ditentukan hanya untuk pergi ke Surga, lahir baru lalu kemudian menikmati gereja hari Minggu lalu kemudian selesai. Kita ditentukan untuk makin mengenal Allah. Kita dipanggil untuk mengenal pribadi-Nya.

      Sejak hari itu, seluruh murid-Nya, satu persatu, memperhatikan bagaimana pelayanan Kristus. Memperhatikan bagaimana prinsip–prinsip hidup Kristus. Memperhatikan ketika Dia melakukan mujizat. Suatu hari Yesus sedang tertidur di sebuah kapal bersama murid–murid-Nya dan angin bergelombang besar sekali dan malam yang pekat menakutkan, dan seluruh murid-Nya mengatakan, “Guru! Guru! Apakah Engkau tidak peduli kami ini binasa?” Kemudian Yesus Kristus terbangun dan kemudian dengan keanggunan-Nya Dia malah pergi ke tempat buritan dan kemudian Dia mengatakan kepada seluruh angin itu, “Diam!” Dan angin itu diam. Melihat peristiwa ini, murid-murid itu diam, ketakutan gemetar. Siapakah orang ini? Mereka belajar mengenal Kristus. Belajar mengenal pelayanan-Nya, belajar mengenal prinsip hidup-Nya, mengenal Dia melakukan mujizat, mengenal Dia di dalam emosi-Nya. Ketika Dia marah, ketika Bait Suci dipakai sebagai tempat berjualan, mengadakan seluruh transaksi ekonomi, ini persis seperti gereja masa kini. Gereja memakai nama Tuhan, tetapi seluruhnya transaksi bisnis. Gereja, memakai nama Tuhan, tetapi dari mimbar sampai seluruh jemaatnya isinya uang. Yesus marah sekali. Engkau jadikan tempat Bait Suci, tempat doa seluruh bangsa ini menjadi tempat berjualan. Maka Yesus marah, dan murid-Nya kemudian mengenal kemarahan-Nya.

      Sebelum peristiwa Yesus Kristus membangkitkan Lazarus, Alkitab mengatakan Yesus Kristus masygul hati-Nya. Masygul hati-Nya ini adalah satu kata yang tajam sekali. Kata ini mau menyatakan ada sesuatu kemarahan, ketidaksabaran, kesedihan bercampur menjadi satu. Dan ketika Petrus, Yakobus dan Yohanes melihat itu, maka mereka mengerti isi hati Kristus. Follow Me maka engkau akan melihat bagaimana Aku melayani, melihat emosi-Ku, melihat cara kerja-Ku, melihat prinsip–prinsip-Ku. Follow Me, engkau melihat sukacita-Ku. Apa yang menjadi sukacita Kristus ketika Dia melayani? Suatu ketika pelayanan itu ditolak dan kemudian banyak orang murid–murid-Nya datang, “Guru, bahkan setan–setan pun takut kepada kami.” Yesus Kristus berkata, “Jangan engkau bersukacita karena setan itu takut, tetapi bersukacitalah karena namamu ada tertulis di dalam kerajaan Surga.” Lalu kemudian Dia menarik diri-Nya, Dia menengadah ke langit, dan mengatakan, “Aku bersyukur kepada-Mu Bapa di Surga karena Engkau sembunyikan kepada orang–orang besar tetapi Kau nyatakan kepada orang–orang yang kecil.” Saudara– saudara, itu adalah sukacita Kristus. Ketika Petrus mengikut Tuhan, dia melihat sukacita Kristus, melihat kesedihan dan ratapan Kristus. Kita harus makin mengenal Firman. Harus membaca Firman. Dan minta kepada Tuhan yang empu-Nya Firman, Tuhan yang adalah yang pencerah Firman ini untuk kita bisa mengerti-Nya, dan kita bisa mengenal Kristus yang kita sembah. Celakanya kita menjadi orang Kristen tetapi sama sekali tidak mengenal Kristus di dalam kehidupan kita. Kita berpikir kita adalah orang Kristen, tetapi tidak memiliki relasi yang intim dengan Kristus. Bahkan banyak dari kita yang menjadi hamba Tuhan, majelis, menjadi orang–orang yang menentukan arah gereja, tetapi seluruhnya bukan pikiran Kristus, bukan cara Kristus, bukan emosi Kristus yang melingkupi kita. Ini adalah sesuatu kebahayaan yang luar biasa. Tuhan meminta kepada kita, dari hamba Tuhan sampai seluruh jemaat, dari yang tertua sampai yang termuda, mendengarkan suara ini, “Follow Me”. Kita dipanggil untuk mengikut Kristus, untuk dibentuk oleh Kristus, untuk mengenal Dia secara intim, itu panggilan pertama.

      Ketika kita makin lama makin intim, di dalam kedaulatan-Nya dan anugerah-Nya, Dia sendiri yang akan memakai kita. Jangan pernah berpikir aku mau dipakai sama Tuhan tanpa aku mengenal Tuhan. Aku mau untuk berjuang bagi Tuhan, untuk mempermuliakan Tuhan, tetapi menghindar dari seluruh bentukan yang Tuhan tetapkan di dalam hidup kita. Sekarang perhatikan apa yang Alkitab katakan berkenaan dengan panggilan yang lembut ini. Follow Me. Meskipun panggilan itu lembut, halus, dan sederhana, tetapi ini adalah panggilan yang hormat dan mulia karena yang memanggil adalah Allah yang mulia dan hormat. Kita jangan pernah berpikir bahwa Allah sedang memohon kepada kita. Ketika Allah mengatakan, “Follow Me” walaupun selembut apapun maka itu adalah sesuatu perintah. Follow Me itu adalah sesuatu ketetapan. Itu adalah sesuatu order, itu adalah sesuatu command, itu adalah sesuatu panggilan karena Dia itu Allah yang terhormat dan mulia. Jangan pernah berpikir ketika kita menolak-Nya tidak ada resiko yang kita harus tanggung. Dia adalah Allah yang menyatakan kalimat-Nya dan kalimat-Nya itu pasti jadi adanya. Banyak di antara kita yang berpikir bahwa Allah itu memanggil seakan–akan memohon. Dia adalah Allah dan kita itu adalah manusia. Jangan perlakukan Dia sama seperti manusia. Jangan perlakukan Dia sama seperti seseorang menelpon kita, saudara pikir saudara punya kebebasan untuk terima atau reject. Saudara, Dia adalah Allah kita. Dialah yang menciptakan kita. Kita adalah hamba–hamba-Nya. Kita diciptakan oleh Dia. Kalau Dia sudah berbicara kepada kita, jangan pernah berpikir kalau kita bisa menerimanya atau menolaknya. Aku boleh datang boleh tidak tanpa ada sesuatu resiko bagi jiwa kita. Terlalu banyak orang yang tidak mengerti prinsip ini, dia pikir Kristus itu adalah pembantu. Sama sekali tidak. Panggilan ini adalah panggilan yang harus diresponi. Dan kalau saudara dan saya tidak merespon, ada sesuatu resiko bagi jiwa kita. Mari kita lihat Matius 22:1-14: Yesus Kristus memanggil para murid-Nya, Yesus Kristus memanggil kita, ketika panggilan Allah yang begitu lembut, jangan berpikir bahwa itu adalah panggilan yang bisa kita hindarkan. Kita harus mengambil keputusan terhadap panggilan itu. Dan apapun saja keputusan itu, akan mengandung sesuatu resiko bagi jiwa kita.

      Gereja yang sejati adalah gereja yang memanggil setiap jiwa yang sudah diciptakan oleh Allah untuk mendekat, untuk mengenal Allah. Jiwa tersebut tidak dipanggil untuk mendekat kepada hamba Tuhan atau kepada organisasi, tetapi jiwa tersebut dipanggil untuk mendekat dan mengenal pribadi Kristus. Terlalu banyak bahkan jemaat sendiripun tidak mengindahkan panggilan-Nya. Aku sibuk, aku punya urusanku sendiri, terlalu jauh. Setiap kali ketika kami mengadakan sesuatu program pembinaan, saya mau saudara mengerti, saya tidak pernah berpikir untuk saudara datang supaya gereja ini penuh, ini seluruh program pembinaan adalah panggilan untuk kita sendiri semakin mengenal Kristus melalui Firman. Bukan raja yang memanggil, raja mengutus orang-orangnya untuk memanggil orang-orang lain dan hamba-hambanya kemudian tidak diindahkannya. Kemudian hamba-hambanya sebagian dicemooh dan kemudian juga ada yang dibunuh. Nabi-nabi, rasul-rasul, gereja-gereja yang sejati menyatakan panggilan-panggilan itu dan panggilan-panggilan terdekat mengenal Kristus, dimuridkan oleh Kristus, dibentuk oleh Kristus, hidup berdedikasi bagi Kristus. Tetapi kita tidak, kita merasa satu kali seminggu ke gereja itu sudah cukup. Jangan perlakukan Tuhan seperti demikian, jangan kita tidak menghormati-Nya. Sekali lagi, panggilan itu adalah panggilan yang halus, tetapi hormat dan mulia. Ini bukan permohonan, ini adalah perintah, ini adalah ketetapan di dalam kedaulatan-Nya.

      Hal yang kedua, panggilan ini adalah panggilan untuk meminta Allah diutamakan, diprioritaskan dan memberi satu-satunya di dalam hati kita. Ini adalah panggilan yang menjadi utama. Ketika Petrus, Andreas, Yohanes ada disana, Tuhan mengatakan, “Follow Me”, maka kemudian Alkitab mengatakan mereka meninggalkan semua. Saya tidak mengatakan bahwa kita meninggalkan seluruh pekerjaan lalu kemudian mengikut Kristus. Memang ada panggilan-panggilan khusus untuk menjadi hamba Tuhan, tetapi intinya adalah apakah di dalam hati kita sungguh-sungguh seluruh arah hati kita adalah follow Christ atau tidak, apakah sungguh-sungguh seluruh hidup kita itu bagi Kristus atau tidak. Perhatikan beberapa ayat Alkitab ini, kembali panggilan itu ada dan kembali panggilan itu ditolak oleh manusia dan lihat standar Kristus terhadap panggilan tersebut.

      Mari kita lihat Matius 19:16-26. Seorang pemuda yang sangat saleh menurut ukuran agama, dan juga orang yang sangat kaya, dan ketika dia mencari Yesus, Alkitab mengatakan di dalam ketiga Injil sinoptik, kalau saudara-saudara gabungkan, dia lari dan kemudian dia mulai menyembah Yesus Kristus. Dan dia bertanya “Guru yang baik, apa yang harus aku perbuat untuk aku bisa pergi ke surga?” Ketika Saya melihat ayat ini, orang muda, saleh, kaya dan kemudian berlari untuk bertemu Yesus. Saya langsung pikir ini adalah masa depan gereja, banyak anak muda tidak mau tahu tentang Tuhan, banyak anak muda malas-malasan. Anak muda ini kaya, dia kerja keras, bukan itu saja, orang muda ini orang saleh, jadi dia adalah orang aktif di gereja, tetapi mata Tuhan tidak bisa dikelabui, kalau kemudian setelah pembicaraan itu, maka Yesus tahu seluruhnya. Pemuda itu katakan telah menuruti hukum-hukum yang berkenaan dengan manusia, sekarang tentang hukum yang paling utama yaitu kasihilah Allahmu dengan segenap hatimu, dengan segenap kekuatanmu, dengan segenap akal budimu. Yesus Kristus mengatakan jikalau engkau mau sempurna, maka hartamu yang banyak itu jual, berikan kepada orang miskin. Itu berarti lepaskan semua dan ikut Aku. Yesus tahu, satu hal yang tersembunyi di dalam hati orang muda ini, dia mau ikut Yesus tetapi ada tuan yang lain. Alkitab mengatakan engkau tidak bisa mengabdi kepada dua tuan, apakah engkau harus mengabdi kepada Allah atau mammon, tidak bisa kedua-duanya. Maka orang muda ini, adalah orang muda yang kemudian Alkitab katakan begitu sedih hati, dia menangis tetapi tidak ada pertobatan. Dan apa yang saya mau katakan adalah, Yesus setelah itu membiarkan dia pergi dan tidak memanggilnya kembali. Kristus adalah satu pribadi Allah yang ketat, yang memiliki standar dan Dia tidak akan mundur setapakpun dari standar-Nya. Berikan semuanya kepada-Ku atau tidak sama sekali. Follow Me!

      Ini adalah suatu prinsip Alkitab, banyak dari kita menipu diri kita sendiri. Aku orang Kristen, padahal di dalam hatimu, engkau tak pernah memberikan seluruhnya bagi Kristus.

      Di tempat yang lain mari kita melihat Lukas 9:57-62, panggilan ini adalah panggilan yang lembut, panggilan ini adalah panggilan yang tidak memaksa, tetapi panggilan ini adalah panggilan yang urgent dan tidak mungkin tertolak, panggilan ini adalah panggilan yang mulia dan memiliki standar. Jangan pernah berpikir kita mengikuti Kristus, menjadi orang Kristen dengan pikiran kita sendiri, dengan standar kita sendiri, dengan nilai kita sendiri, kita mendefinisikan Kristen, kita mendefinisikan diri kita pengikut Kristus tanpa ada standar yang jelas. Ketika melihat panggilan di dalam Lukas 9:57-62 itu, orang ini baru saja ayahnya meninggal, lalu kemudian dia mengatakan ijinkan aku menguburkan ayahku. Apa yang lebih urgent di dalam hidup kita dibandingkan dengan kematian? Holiday bukan sesuatu yang urgent, saudara ada seminar bukan sesuatu yang urgent, saudara bisa planning itu beberapa tahun sebelumnya, beberapa bulan sebelumnya, sekolah anak bukan sesuatu yang urgent, saudara bisa planning itu beberapa bulan sebelumnya, tetapi kematian tidak ada yang bisa mem-planning itu bukan, dan begitu itu sudah datang, saudara akan melupakan apapun saja, saudara akan mempersiapkan untuk hal itu, saudara akan membeli petinya, saudara akan pergi ke tempat rumah duka, saudara akan memikirkan bagaiamana tata upacara pemakamannya, tidak ada yang bisa menghentikan untuk hal itu, tetapi Kristus pun mengatakan, bahkan itupun maka Aku harus menjadi yang lebih utama. Saudara-saudara, biarkan orang mati menguburkan orang mati, berarti engkau ikut Aku.

      Hal yang lain adalah “aku mau pamitan dahulu”. Yesus Kristus mengatakan setiap orang yang siap untuk membajak dan menoleh ke belakang tidak layak bagi-Ku. Ini adalah suatu tuntutan tajam, keras, yang tidak kompromi dan tidak mau mundur. Saya tidak mengatakan bahwa ini adalah sesuatu hal yang sifatnya harafiah, yang paling penting adalah bagaimana hati kita. Suatu hari Elia memanggil Elisa dan Elisa pun minta ijin kepada Elia untuk pamitan kepada keluarganya dan itu diperbolehkan. Masalahnya adalah ini bukan harafiah tampak luar, sebenarnya adalah isi hati kita, apakah sungguh-sungguh memprioritaskan Kristus di dalam seluruh hidup kita atau tidak. Biarlah kita boleh jujur di dalam hidup kita. Jikalau Kristus bukan yang utama di dalam hati kita, tidak perlu saudara melakukan atraksi agama seperti ini. Saudara sedang action di hadapan Allah. Berikan hati kita seluruhnya atau tidak sama sekali. Jadikan Dia utama atau tidak sama sekali, itu adalah panggilan hidup. Apa bedanya antara satu kebangunan rohani yang Kristus itu nyatakan, dengan yang setan itu nyatakan. Setan selalu akan mengatakan jangan berikan semuanya, berikan sedikit saja. Setan mengatakan, berikan 3 detik saja dari waktumu untuk melihat video porno tidak akan mengubah apa-apa di dalam hidupmu, engkau akan menikmatinya. Tetapi lihatlah, seluruh keluarga Daud hancur berantakan karena dosa yang masuk karena sesuatu yang sedikit. Itu hebatnya setan, tetapi Tuhan tidak akan begitu. Tuhan akan mengatakan, berikan di depan seluruhnya. Kasih semuanya, prioritas, didepan, atau tidak sama sekali. Semuanya, seluruh hatimu, sepenuh hidupmu dan Aku menjadi satu-satunya yang prioritas dalam hidupmu atau tidak sama sekali.

      Kiranya kita boleh mengerti sebenarnya apa yang menjadi standar dari tuntutan Alkitab ketika kita menjadi orang Kristen dan kita tidak bermimpi di siang hari bolong memikirkan, mendefinisikan kekristenan menurut cara pikir kita sendiri. Sekali lagi biarlah kita ingat akan dua hal, pertama itu adalah panggilan yang mulia dari Allah yang hormat yang harus kita hormati jikalau kita menolaknya, jangan berpikir tidak ada resikonya dan yang kedua itu adalah sesuatu panggilan yang standar yang meminta Dia menjadi prioritas satu-satunya tertinggi, semuanya di dalam hati kita atau tidak sama sekali.


  • Arti Panggilan: Follow Me

    • Pengkhotbah: Pdt. Agus Marjanto, M.Th
      Matius 4:18-22

      Yesus pergi ke Galilea setelah diusir dari Kapernaum dan memanggil beberapa murid-Nya lagi. Pemuridan pertama kali ada dalam catatan Yohanes. Yohanes Pembaptis adalah salah satu the greatest reductionist di dalam dunia. Ketika Yohanes melihat Perjanjian Lama, dia melihat satu hikmat Mesias akan datang. Dan Kristus itu yang akan menebus dosa umat manusia. Dia meneliti satu per satu dan ketika dia melihat Yesus, dia langsung bicara: Inilah Orangnya. “Lihatlah Anak Domba Allah”. Maka seketika itu juga, 2 murid Yohanes Pembaptis dipersilahkan untuk mengikut Yesus yaitu Yohanes dan Andreas. Yohanes Pembaptis seorang besar yang diurapi oleh Tuhan. Tetapi orang yang diurapi oleh Tuhan itu adalah tetap orang yang paling rendah, lebih rendah dari budak dibandingkan Kristus yang mulia. Yohanes, murid Yohanes Pembaptis yang kita kenal itu menjadi murid Yesus, dilepaskan dan kemudian mereka mengatakan: Guru, di mana Engkau tinggal? Di situ mulai perjumpaan antara murid-murid pertama dengan Yesus Kristus. Dan kemudian waktu berlalu demi waktu. Yesus mulai mengajar di Galilea meskipun pada saat itu Dia mungkin masih ada di Kapernaum.

      Suatu hari, Alkitab mengatakan di Injil Lukas; “Yesus Kristus ada di daerah tepi danau Galilea”. Dan saat itu, Yesus dihampiri oleh orang banyak, yang mau mendengarkan pengajaran-Nya. Kemudian Yesus melihat ada 2 kapal milik Simon salah satunya. Yesus masuk ke dalam kapal itu dan mengatakan, “Sekarang tolaklah kapal itu sedikit menjauh dari tepi”. Maka ditarik dari tepi lalu Yesus di sana mengajar orang banyak. Setelah pengajaran selesai dan orang banyak itu kemudian mulai berduyun-duyun pulang, maka Yesus Kristus berkata kepada Simon: “Simon, mari kita pergi ke tempat yang dalam untuk menangkap ikan.” Pada saat itu Simon, seorang nelayan, baru pulang dari laut yang dalam. Lalu Simon Petrus mengatakan: “Guru, sudah semalaman kami berusaha untuk menangkap ikan tetapi kami tidak mendapatkan apa-apa.” Dengan perasaan sungkan Petrus mengatakan, “Tetapi karena Engkau yang suruh, OK lah, sekarang aku ikut saja.” Dalam pikiran Petrus, ini sebenarnya pekerjaan yang sia-sia dan memboroskan waktu. Saya katakan kepada saudara, kalau kita taat, tidak mungkin sia-sia dan boros waktu. Kemudian Petrus mendayung sampai tempat yang dalam. Lalu Yesus berkata: “Tebarkan jalamu.” Lalu ketika ditebarkan, maka ikan-ikan terangkat dan jala itu mulai koyak, sudah tidak bisa lagi menampung. Alkitab mengatakan 2 perahu penuh dengan ikan dan hampir tenggelam. Begitu sampai ke darat, Simon langsung turun, dia langsung tunduk dan berlutut di bawah kaki Yesus. Dia mengatakan: “Guru, aku orang berdosa. Pergi, pergi!” Jikalau kita sungguh-sungguh anak Tuhan, berkat Tuhan tidak akan hanya membawa kita kepada “Haleluyah, puji Tuhan, aku dapat berkat.” Tidak! Berkat Tuhan kepada anak Tuhan yang sejati akan membuat kita sadar, aku orang berdosa. Aku tidak layak mendapatkan ini. Di saat seperti itu, maka Yesus mengatakan: “Ikutlah Aku, Petrus”. Aku akan menjadikan engkau penjala manusia. Perhatikan, kalimat Yesus ini adalah satu-satunya kalimat yang ditulis di dalam Matius. Dari seluruh ayat 18-22 hanya ada 1 kalimat dari Yesus, yaitu “Ikutlah Aku, maka Aku akan menjadikan engkau penjala manusia”. “Follow Me”. Mari kita mengingat satu kalimat ini. Follow me. Dengarlah apa yang merupakan isi hati Kristus. Dengarlah panggilan-Nya.

      Tiga aspek dari arti panggilan Allah:

      1. Isi Panggilan.
        “Follow Me” adalah bicara berkenaan dengan isi panggilan, yaitu mengikut Kristus. Ini adalah panggilan kita semua. Apa yang Dia ucapkan kepada Petrus adalah ucapan yang sama kepada murid-murid yang lain dan kepada kita. Perhatikan beberapa poin ini. Lihat Yohanes 1:43 dan Matius 9:9. Kalimat Yesus ini merupakan isi panggilan. Panggilan Kristen yang sejati adalah panggilan untuk mengikut Kristus Yesus dan panggilan itu artinya panggilan untuk dimuridkan (discipleship). Banyak orang Kristen berpikir salah di dalam hal panggilan ini. Panggilan itu berbeda dari profesi. Profesi adalah sesuatu sistem hidup atau wadah di mana panggilan itu akan kita kerjakan di dalam urusan talenta kita. Namun ‘panggilan’ jauh lebih dalam, jauh lebih esensial dan itu jauh lebih besar jangkauannya daripada sekedar profesi walaupun memang benar kata profesi di dalam bahasa Inggrisnya adalah vocation dari bahasa Latin itu adalah vox (suara). Panggilan kita dipanggil oleh suara dari Kristus untuk mengikut Dia, untuk dimuridkan, dibentuk oleh Dia, untuk segala sesuatu dalam hidup kita itu kehendak-Nya kita lakukan, kita laksanakan dan kita taati. Itu adalah panggilan kita di dalam seluruh apapun saja profesi kita. Profesi demi profesi, kedudukan demi kedudukan bisa berubah.

        Kalau saudara perhatikan seluruh rancangan hidup bagi Yusuf, profesi demi profesi itu berubah-rubah. Dia adalah seorang anak, budak, pembantu, manager, narapidana dan perdana menteri. Meskipun profesinya berubah, tetapi di mana saja, entah di atas, entah di bawah, maka dia harus memunculkan bahwa dirinya adalah murid Kristus. Ini adalah panggilan yang paling utama. Profesi saya adalah hamba Tuhan, tetapi panggilan saya adalah seorang yang dipanggil mengikut Kristus. Seorang yang dipanggil untuk dimuridkan oleh Kristus. Biarlah ini boleh ada di dalam hidup saudara. Di mana saja, baik di mimbar maupun di jalanan, ataupun di tempat penjara, maka orang tersebut adalah dipanggil untuk satu hal, yaitu mejadi murid Kristus. Saudara mengerti ini maka saudara tidak akan terkotak-kotak di dalam hidup. Kita semua dipanggil dengan satu kata yang sama. Dan semua dipanggil dengan satu prinsip yang sama: Follow Me. Satu per satu dipanggil untuk satu hal, yaitu dimuridkan. Dipanggil untuk makin lama makin dikuasai oleh Kristus.

        Setelah Petrus, Andreas, Yakobus dan semua satu per satu dipanggil menjadi murid Yesus, mereka secara intens mempelajari kalimat Yesus dengan sungguh-sungguh, melihat isi hati Yesus dan sungguh-sungguh meneliti pengajaran Yesus. Satu per satu mengalami pembentukan hidup dan juga membentuk interaksi satu dengan yang lainnya yang mungkin sangat menyakitkan. Yesus pernah mengatakan: Enyah engkau setan kepada Petrus. Yesus pernah menghardik 2 anak guntur; Yohanes dan Yakobus (boanerges). Sedikit demi sedikit marah adalah karakter mendasar yang ada pada mereka. Tetapi setelah mengikut Yesus beberapa tahun kemudian, ada interaksi, bentukan, disiplin karena mereka adalah disciple. Maka kemudian apa yang terjadi? Yohanes menjadi rasul kasih. Sedikit-sedikit bicara: ‘Kasihilah satu dengan yang lain”. Kalau engkau sungguh-sungguh mentaati Kristus, maka engkau mengasihi Dia, mengasihi Firman-Nya, mentaati Firman-Nya.’ Setiap kali bicara itu berarti sepanjang bertemu dengan Yesus Kristus, Follow Me, ada bentukan, ada pelajaran. Sekarang kalimat yang sama, hadir pada kita pada pagi hari ini. Follow Me. Tetapi banyak orang tidak mengerti prinsip ini maka dia tidak mau belajar. Berapa orang yang mau belajar Alkitab? Berapa orang yang mau belajar di bawah sekolahannya Yesus Kristus? Berapa orang yang mau diajar untuk berdoa?

        Perhatikan prinsip ini. Panggilan pertama bukan pelayanan tetapi mengikut Kristus dan dibentuk oleh Kristus. Panggilan pertama kita adalah panggilan untuk mendekat kepada Kristus, untuk serupa dengan Kristus. Dan di dalam bentukan seperti itu maka baru Kristus akan memakai kita berguna di dalam Kerajaan-Nya. Banyak orang ingin menjadi berkat bagi orang lain tetapi tak mungkin menjadi berkat bagi dunia ini, tak mungkin menjadi berkat di dalam Kerajaan Allah kalau saudara dan saya tidak mau dibentuk. Tak mungkin kita menjadi berkat dan mengabarkan Injil dan mengabarkan Kristus yang hidup itu kecuali kita mau taat. Follow Me dan Aku akan jadikan engkau penjala manusia. Ini adalah kehidupan yang intim dengan Tuhan. Semakin intim orang itu dibentuk oleh Tuhan, semakin orang itu kenal Tuhan, semakin dia akan diurapi oleh Tuhan.

        Di tempat yang lain, yang saya mau tegaskan di dalam poin pertama ini adalah kata “Follow Me”, adalah sesuatu privilege. Jikalau engkau adalah orang Kristen maka kata ini akan muncul di dalam kehidupanmu. Sebenarnya di dalam kehidupan Petrus, kata ini muncul minimal 3 kali di dalam Alkitab. Yesus berkata kepada Petrus di saat dia goyah, di saat dia mau mundur iman, selalu Yesus datang dengan mengatakan “Follow Me, Peter Follow Me.” bukan hanya 1 kali. Kalimat ini juga sama terhadap engkau. Setiap daripada saudara ketika mau jatuh, mau mundur kalimat ini akan muncul; “Follow Me. Ikutlah Aku”. Jalan terus jangan mundur. Kalimat Yesus Kristus ini adalah sesuatu previlege, hak istimewa yang besar sekali yang boleh dan bisa ditangkap oleh manusia yang hidup. Di dalam kitab Mazmur ada 1 kalimat; ‘Berbahagialah orang yang dipanggil mendekat kepada Tuhan.’ Dan kalimat ini adalah kalimat untuk memanggil saudara dan saya makin hari makin mendekat kepada Tuhan.

      2. Sifat atau natur panggilan.
        Panggilan “Follow Me” adalah panggilan di dalam kedaulatan dan anugerah Allah semata. Dialah yang berhak memanggil dan kepada siapa Dia memanggil, maka itu adalah keputusan di dalam kedaulatan-Nya. Alkitab mengatakan bahwa “bukan kamu yang memilih Aku tetapi Aku yang memilih kamu.” Ketika saya merenungkan perkataan Yesus Kristus di dalam Matius 4 ini, mengapa Anak Allah, Allah oknum kedua datang ke Galilea, kepada orang-orang nelayan biasa yang miskin yang tidak terpelajar dan mengatakan: Follow Me? Mengapa suara Allah yang Maha Kuasa dan Maha Besar itu diberikan kepada mereka dan bukan orang-orang yang besar menurut ukuran dunia? Kalau melihat prinsip ini maka saudara akan sangat dikagumkan dan digentarkan karena setiap kali Allah bertindak, Dia bertindak di dalam kebebasan, kedaulatan-Nya. Ada satu kalimat di dalam Korintus yang ditulis oleh Paulus menggambarkan kondisi ini. Lihat 1 Korintus 1:26-31. Di dalam hikmat Allah dan kebesaran-Nya, di dalam anugrah-Nya di dalam kedaulatan-Nya, maka Dia datang ke dunia dan kemudian mencari Petrus, Yohanes, Yakobus, Filipus, dan semua orang yang Dia mau menyatakan kasih-Nya, kepada kita. Satu prinsip di sini, yaitu bahwa bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Aku yang memilih kamu, dan Aku sudah menetapkan engkau untuk berbuah dan buahmu itu lebat.

        Saudara mungkin berkata: “Tapi saya yang memilih waktu itu.” Jawabannya adalah tidak. Kalau engkau bisa menjadi orang Kristen dan sungguh-sungguh engkau adalah anak Tuhan, lahir baru, Roh Kudus ada di dalam hati kita, itu adalah karena Tuhan yang memilih kita. Sepanjang saudara tidak sadar akan hal ini, saudara tidak akan mengerti apa itu hak istimewa. Saudara dan sayalah yang dipilih oleh Tuhan, bukan kita yang memilih Tuhan. Tuhan tidak memilih kita karena kita kaya, baik, suci ataupun berjasa. Tidak ada apa-pun dari kita yang melayakkan kita untuk dipilih. Tetapi kita dipilih karena dua hal ini. Pertama, supaya benar-benar Allah saja yang dipermuliakan. Jangan sampai ada satu orang-pun yang membanggakan diri dan mengatakan: aku dipilih karena aku rajin ke gereja, aku dipilih karena aku orang yang sungguh-sungguh benar-benar hidupnya aku jaga bersih. Tidak! Sebaliknya, kita dipilih, maka kita benar, kita dipilih maka kita jadi baik, kita dipilih maka kita jadi rajin. Seluruhnya, kalau saudara mengerti doktrin Reformed, maka saudara akan melihat segala sesuatu adalah kedaulatan Allah semata. Sekali lagi, kenapa kita yang seperti ini yang dipilih? Bukan Athena, bukan Roma, bukan Yerusalem, mengapa kita? Mengapa Galilea yang dipilih? Jawabnya adalah pertama, untuk seluruh orang yang dipilih hanya mengerti satu hal: soli Deo gloria. Kemuliaan hanya bagi-Mu, tidak ada bagiku, karena segala sesuatu adalah dari Dia, oleh Dia, kepada Dia, untuk Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya. Kedua adalah untuk mempermalukan orang dunia. Kalau orang Kristen, anak Tuhan mengerti Firman, sebodoh apa-pun, maka orang tersebut akan memiliki hikmat lebih besar dari dunia. Masalahnya adalah saudara dan saya meneliti Firman untuk mendapatkan hikmat Allah atau tidak? Follow Me, natur panggilan itu adalah seturut dengan kedaulatan Allah.

      3. Ini menyatakan kontinuitas rencana keselamatan Allah di bumi ini.
        Sekali lagi, kontinuitas. Rencana keselamatan Allah di bumi ini. Saudara perhatikan baik-baik satu kalimat di bawah ini yang mengandung suatu prinsip teologia yang dalam. Ini adalah cara Allah meneruskan covenant of grace. Di dalam Alkitab ada satu pengajaran bahwa kita semua lahir sudah berdosa, kita adalah mahluk yang berdosa. Kenapa? Ini adalah prinsip Alkitab, dan secara teologis kita berdosa karena Adam berdosa, kita semua di dalam Adam. Itu namanya representatif, federal, head of. Adam adalah kepala seluruh umat manusia. Adam adalah satu pribadi yang paling rohani di antara kita semua dan Tuhan pilih dia menjadi wakil, representatif, kepala dari seluruh umat manusia. Adam adalah perwakilan dan yang menghubungkan antara Adam dan kita yang diwakili disebut sebagai covenant, diikat menjadi satu. Alkitab mengatakan, di dalam kekekalan, Allah sudah memiliki rencana keselamatan dan pada waktunya, Yesus Kristus diutus di dunia dan Yesus Kristus menggenapi apa yang gagal digenapi oleh Adam. Sehingga, karena Adam berdosa, maka saya berdosa, itu karena Adam berdosa, dosanya dicangkokkan kepada saya, diimputasikan kepada saya karena dia adalah wakil dan ini adalah jalur covenant. Sebaliknya, Alkitab mengatakan karena Kristus benar, maka upah kebenaran Kristus dicangkokkan ke kita, diimputasikan ke kita yang dipilih Allah, menjadikan kita di hadapan Allah di dalam Kristus kita adalah orang benar.

        Pencangkokan atau imputasi ini, kebenaran Kristus menjadi kebenaran saya menjadi satu covenant yang baru. Di dalam prinsip seperti ini, orang-orang berdosa menjadi satu dengan Adam, orang-orang yang dibenarkan menjadi satu di dalam Kristus. Perubahan dari “di dalam Adam” menjadi “di dalam Kristus” atau dengan bahasa yang lebih mudah, perubahan dari kegelapan menjadi terang, maka itu ada sesuatu pekerjaan Allah yang besar disebut sebagai covenant of grace. Covenant of grace mengubah kita yang tadinya diwakili Adam sekarang kita itu diwakili oleh Kristus sehingga orang-orang yang mendapatkan covenant of grace adalah orang-orang yang mendapatkan keselamatan, pembenaran di dalam Yesus Kristus. Keberhasilan dari covenant of grace diteruskan di dunia ini, Allah dengan memakai 2 pribadi. Pribadi pertama adalah pribadi Allah yang mengutus Roh Kudus. Yang kedua adalah pribadi manusia, Dia memakai orang-orang yang diselamatkan di dalam Kristus. Orang-orang yang diselamatkan di dalam Kristus akan berkata, akan bertindak, akan berlaku kepada dunia ini serupa dengan Kristus dan berkata-kata mengenai siapakah Kristus itu. Kemudian Roh Kudus akan memakai perkataan kita, kehidupan kita, dan contoh kita untuk mencelikkan orang lain. Kemudian orang lain itu ada di dalam Kristus, dan orang itu kemudian berkata lagi kepada orang lain dan orang lain itu kemudian ada di dalam Kristus di dalam covenant of grace. Perhatikan cara kerja Allah ini. Allah memakai cara kerja untuk meneruskan pekerjaan-Nya untuk terus menerus covenant of grace itu disebarkan di seluruh dunia sampai kerajaan-Nya datang dengan satu suara ini: follow Me.

      Kalimat follow Me diucapkan kembali secara harafiah oleh Paulus (1 Korintus 11:1). Jadilah pengikutku sama seperti aku juga pengikut Kristus. Saya tidak bisa membayangkan apa yang terjadi bila Yesus Kristus tidak memanggil murid-murid-Nya. Maka kontinuitas ini tidak ada. Ini yang dikerjakan: Allah Bapa mengutus Allah Anak. Setelah Allah Anak menyelesaikan pekerjaan-Nya dan Dia kembali ke surga, dan Dia akan kembali lagi ke bumi pada saat yang Dia tentukan sendiri di dalam kekekalan. Maka sepanjang waktu dari jaman ke jaman, sepanjang bumi ini berputar dan sebelum Anak Allah datang untuk yang kedua kalinya, maka seluruh orang-orang yang akan dipanggil-Nya itu mulai dari murid-murid-Nya. Dan ketika murid-murid-Nya ada, Yesus katakan: follow Me dan mereka meninggalkan segala sesuatunya, mereka seumur hidup, seluruh hatinya mengikut Yesus Kristus, belajar, dibentuk oleh Yesus Kristus, dan taat pada Yesus Kristus. Kemudian Kristus pergi ke surga. Kemudian mereka mengajar kepada orang yang lain yang lebih muda mengatakan: follow me, ikut aku karena aku mengikut Kristus.

      Alangkah indahnya bila ini ada di dalam gereja. Setiap pemimpin gereja berkata kepada seluruh jemaatnya: follow me, sama seperti aku mengikut Kristus. Dan alangkah indahnya bila ini ada di dalam setiap keluarga, setiap orang laki-laki, setiap bapak-bapak mengatakan kepada anak-anaknya, seisi keluarganya: ikut bapa, ikut aku sama seperti aku mengikuti Kristus Yesus. Jikalau ini ada maka covenant of grace ada di seluruh dunia, satu persatu hati setiap manusia ditaklukkan. Covenant of grace akan masuk di dalam keluarga kita, di dalam anak, cucu kita. Jangan take it for granted, jangan berpikir bahwa anak kita atau keluarga kita pasti diselamatkan karena kita pergi ke gereja. Billy Graham mengatakan bahwa bila kita berada di bengkel atau ke garasi maka engkau jadi mobil, tidak! Saudara harus menyatakan itu kepada anak, keluarga kita. Gereja harus menyatakan kepada dunia. Apa yang sekarang dunia tidak bisa lihat adalah karena tidak ada contoh di dalam hidup kita, pemimpin-pemimpin gereja. Saya mengatakan hal ini, saya tidak mengatakan dengan kebanggaan bahwa saya lebih baik dan benar dari orang lain, kita semua orang berdosa. Tetapi kita harus mengerti ada standard yang Tuhan nyatakan. Kita semua harus mengikut Kristus baru kita memiliki kekuatan dan kuasa berbicara: “Ikutlah aku sebagaimana aku mengikut Kristus”. Kita semua, bapak-bapak, dan laki-laki yang ada di sini juga harus mengikuti Kristus. Apakah saudara-saudara berani mengatakan kepada anak saudara: ikutlah aku karena aku mengikut Kristus?

      Satu cerita yang sungguh-sungguh terjadi. Sudah bertahun-tahun, seorang laki-laki di kota Chicago memiliki kebiasaan pergi bekerja pagi-pagi, tetapi di tengah jalan dia akan selalu membelokkan kakinya untuk mampir ke bar dan minum bir sebelum dia bekerja. Itu dilakukan hari demi hari, tahun demi tahun. Suatu hari, di pagi yang bersalju, dia sekali lagi melakukan yang sama. Tidak ada orang yang tahu. Tetapi tiba-tiba, di tengah jalan itu, dia mendengarkan ada suatu suara yang kecil: Daddy, I am coming in your step. Orang itu kaget, dia berbalik ke belakang dan kemudian dia melihat anaknya sendiri, mengikut jejak langkah ayahnya yang tercetak di salju itu, jejak langkah yang menuju ke bar. Begitu ayahnya sadar, dia langsung berteriak dengan gemetar kepada Tuhan: “Oh Tuhan, saat ini anakku mengikuti jejakku. Tolong aku, aku sekarang akan mengarahkan jejakku ke arah yang lain. Aku akan memutar jejakku, aku akan memutarnya dan mengarahkannya ke tempat yang lain.”

      Setiap bapak-bapak, buka hatimu, buka hidupmu! Sekarang saya tanya, apakah engkau sungguh-sungguh ingin anakmu mencontoh hidupmu? Suatu hari engkau kalau sudah tua, engkau lihat anakmu tidak pergi ke gereja, atau anakmu main games, main handphone di gereja, atau main video porno, main perempuan dan engkau marah, engkau tanya: kenapa seperti itu? Dan mereka menjawab: “Aku mengikuti jejakmu”. Kalau anakmu tidak peduli dengan keluarga dan tidak peduli dengan Tuhan, yang paling penting karir dan uang, dan anakmu mulai break, lalu kemudian ditanya mengapa seperti ini? “Aku mengikuti jejakmu.”

      Pagi ini, Kristus memberikan satu jejak yang suci, satu jejak yang sungguh-sungguh akan membahagiakan keluargamu. Follow Me Peter, follow Me. Petrus, Yakobus, Yohanes dan seluruh rasul, seluruh bapa gereja berseru dengan satu suara yang sama: ikut aku anakku, ikut aku jemaatku, sebagaimana aku itu mengikut Kristus. Christ, I am coming in your step. Saya minta sungguh-sungguh, seluruh laki-laki yang ada di tempat ini, sama seperti Yesus Kristus memilih murid-murid-Nya, saudara serius pagi ini di hadapan Tuhan, dengarlah suara Tuhan: Follow Me, dan engkau akan Ku-jadikan penjala manusia, hidupmu tidak akan sia-sia, hidupmu Aku akan pakai untuk kemuliaan nama-Ku. Laki-laki bersikaplah laki-laki di hadapan Allah, engkau adalah pemimpin keluarga dan bukan istri yang harusnya lebih rohani daripada kita. Kita semua harus memimpin istri dan anak-anak kita. Kiranya Tuhan menyertai kita.


  • Cinta Tuhan yang ditolak di Kapernaum

    • Pengkhotbah: Pdt. Agus Marjanto, M.Th
      Matius 4:12-17, Yesaya 8:23-9:7

      Setelah Yesus dicobai oleh setan di padang gurun, selanjutnya Yesus pergi ke Galilea ke tanah Zebulon dan Naftali, dan memberitakan Injil Kerajaan di sana. Di antara peristiwa Yesus dicobai dan Dia pergi ke Galilea, ada gap 1 tahun. Matius memang sengaja menuliskan peristiwa-peristiwa yang terjadi di dalam hidup Yesus Kristus. Apa yang terjadi setelah Yesus dicobai dan sebelum Yesus berada di Galilea yang dituliskan dalam Injil Yohanes. Kitab Yohanes menuliskan peristiwa air menjadi anggur di Kana, Yesus membersihkan dan memporak-porandakan semua yang berjualan di Bait Suci, pembicaraan Yesus dengan Nikodemus, pembicaraan Yesus dengan perempuan Samaria. Tetapi mengapa Matius tidak memasukkan peristiwa-peristiwa tersebut di dalam suratnya? Karena memang seluruh penulis Kitab Suci tidak mau memiliki sesuatu ketertarikan menuliskan silsilah atau menuliskan daftar kehidupan Yesus Kristus secara kronologis. Itu bukan ide mereka. Itu bukan concern mereka. Kalau kita membaca Kitab Suci, khususnya Kitab Injil ataupun beberapa kitab-kitab di dalam Perjanjian Lama, kita akan menyadari bahwa penulis-penulis itu tidak menuliskannya secara kronologis. Penulis-penulis itu menuliskannya, memasukkan cerita ini, mengeluarkan cerita yang lain karena mereka menulis untuk suatu tujuan. Mereka tidak memberikan data kepada kita. Mereka menuliskan untuk sesuatu tujuan. Tujuannya adalah untuk memproklamirkan iman mereka, memproklamirkan Allah yang mereka kenal dan mereka percaya. Tujuan Matius menuliskan suratnya adalah untuk orang-orang Yahudi khususnya mereka yang ada di pembuangan, agar mereka menyadari bahwa Yesus yang mereka salibkan adalah Mesias yang ditunggu-tunggu. Yesus yang mereka tolak itu adalah Mesias yang sebenarnya datang, yang sudah dinyatakan di dalam Perjanjian Lama. Maka Matius menuliskan pasal demi pasal dengan urutan-urutan yang detail dan cermat.

      Orang-orang Yahudi adalah orang yang terus menerus menunggu kapan Mesias datang seumur hidup, beratus-ratus tahun tidak pernah bisa rest di dalam hatinya. Orang Yahudi adalah orang yang terus, hampir setiap hari, ratusan tahun, perang sampai saat ini. Mereka orang yang terus dikejar-kejar oleh bangsa-bangsa sekitar. Mereka dianggap sebagai satu bangsa yang menduduki tanah yang tidak sah, tidak legal yang mereka sekarang duduki. Ini adalah kesulitan bagi orang-orang Yahudi. Orang Yahudi sudah ditindas oleh Mesir, Asyur, Babel, Media-Persia, Yunani, Romawi, terus menerus. Mereka terus menunggu kedatangan Mesias. Lalu Tuhan mengirimkan Mesias itu tetapi mata mereka buta. Mata mereka tidak bisa melihat dan mereka memakukan Mesias yang mereka tunggu-tunggu itu. Dan Matius mau menyatakan; Hai orang Yahudi, lihat, Mesias yang engkau tunggu-tunggu itu adalah Yesus Kristus yang engkau salibkan dan sekarang sudah bangkit dari kematian. Maka melihat dari seluruh catatan-catatan Matius, selalu ada di dalam framework teologia orang Yahudi.

      Perhatikan apa yang sedang dinyatakan oleh Matius. Ada 4 hal yang terjadi sebelum Yesus pergi ke Zebulon.

      1. Penegasan dari kepastian internal melalui silsiah (Matius 1). Matius mempresentasikan kepada orang Isreel siapa Yesus, yang mereka paku, Kristus yang mereka nantikan. Ia membuktikan bahwa Yesus ada di dalam internal orang Israel melalui silsilah yang dituliskan, Dia adalah Anak Daud.
      2. Penegasan kepastian eksternal (Matius 2). Matius mengatakan bahwa Kristus itu akan bersinar bagi Israel dan Israel akan menjadi berkat bagi bangsa-bangsa. Dibuktikan pada hari kelahiran-Nya, orang Majus dari Timur, datang. Mereka bukan orang Israel, datang menyembah Yesus.
      3. Penegasan kesaksian dari Atas yaitu dari Allah (Matius 3), mengenai baptisan Yesus Kristus di dalam pasal 3. Maka ini bicara berkenaan dengan inagurasi Mesias, kesaksian dari Allah diteguhkan.
      4. Penegasan berkenaan dengan pribadi-Nya sendiri (Matius 4), Yesus adalah Kristus yang menang terhadap seluruh pencobaan. Itu adalah sesuatu yang benar karena Dia menang terhadap seluruh pencobaan. Kristus harus menang terhadap seluruh pencobaan. Adam gagal, Israel gagal. Semua orang yang menyebutkan Kristus-Kristus sudah ada ratusan sebelum Yesus Kristus lahir. Sekarang mereka semua satu persatu gagal. Tetapi Yesus dicobai dari seluruh bagian-Nya dan Dia tidak gagal. Dia layak adanya.
      5. Dan sekarang, Yesus pergi ke Galilea, ke tempat tanah Naftali dan Zebulon, tempat yang gelap, tempat bangsa-bangsa lain. Dia menyatakan: “Bertobatlah, Kerajaan Allah sudah dekat”. Di sini Matius menyatakan kesaksian kelima.

      6. Yesus menggenapi Perjanjian Lama. Matius 4, ayat yang selanjutnya, Yesus ditegaskan menggenapi Perjanjian Lama. Yesaya pasal 8 dan 9, dikatakan bahwa bangsa yang berjalan di dalam kegelapan itu, tanah Naftali dan Zebulon yang tadinya dimurkai oleh Allah, sekarang Dia akan dimuliakan oleh Tuhan dengan kehadiran dari Raja Damai, kehadiran dari Mesias. Dan kapan penggenapan Yesaya 8:23 – 9:6 itu? Adalah pada detik Yesus pergi ke Galilea dan menetap di sana. Setelah seluruh inauguration of Christ. Setelah seluruh preparation of Christ, sekarang kemudian Matius menuliskan the work of Christ, menuliskan pekerjaan Kristus. Sekarang di dalam tanah ini, Dia akan berbicara, Dia akan melayani berlama-lama di sana.

      Maka saudara-saudara, hari ini saya akan bicara mengenai 2 hal yang besar yang akan menjadi anti-thesis satu dengan yang lain.

      Poin pertama (Matius 4:12–17), lihatlah cinta kasih Allah yang besar di dalam Kristus menjangkau bangsa yang sudah dilupakan dan yang terhilang. Yesus pergi ke Galilea, ke tanah Zebulon dan Naftali. Bangsa itu sudah tidak ada lagi, tempat yang bukan Israel lagi dan sudah dilupakan. Kemudian Dia memproklamirkan Injil Kerajaan: Bertobatlah karena Kerajaan Allah itu sudah dekat. Orang Israel sejak jaman Salomo terbagi menjadi 2. Satu adalah Israel Selatan atau di dalam Alkitab dikatakan suku Yehuda. Sebenarnya ada 2 suku di dalamnya, yaitu Yehuda dan Benyamin. Kedua adalah Israel Utara. Dan Israel Utara ada 10 suku. Dari peta Israel akan terlihat bahwa Yehuda ada di bawah. Betlehem ada di bawah. Yerusalem ada di bawah. Naik ke atas, kita akan bertemu dengan Nazaret. Naik ke atas lagi, maka kita akan bertemu dengan Kapernaum di dalam ayat ini dan juga itu ada di tanah Zebulon dan tanah Naftali. Kapernaum di tanah Naftali di atas dan di bawahnya itu adalah Zebulon. Tanah Naftali dan Zebulon itu adalah tanah yang paling atas dari Israel. Dan berbatasan dengan suku-suku yang asing, bukan orang Israel. Berbatasan dengan bangsa-bangsa yang lain dan bukan orang Israel. Bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Sehinga kalau kita melihat kota Kapernaum, melihat tanah Zebulon dan Naftali, kita akan menemukan di sana bukan hanya orang Israel. Di sana banyak gentile, banyak kafir. Dan di sana bukan hanya agama Yahudi, di sana penuh dengan agama demi agama, budaya demi budaya dan ilah demi ilah dan masuk dalam kehidupan sosial dan seluruh kehidupan perekonomian dan tatanan masyarakat. Ini adalah wilayah bangsa-bangsa lain, demikian Alkitab katakan.

      Tetapi bukan itu saja, yang mendiami tanah Zebulon dan Naftali adalah bukan Israel secara sejati, Israel campuran. Percampuran terjadi pada waktu Asyur datang ke Israel, seorang raja Asyur yang menjadi panglima besar sekali, itu namanya Tiglat-Pileser. Di dalam Alkitab dikatakan Tiglat-Pileser atau raja Pul datang menghancurkan 10 suku dan mengambil semua 10 suku itu, menyerakkan ke seluruh dunia, menjadi minoritas-minoritas. Setelah beberapa puluh tahun akhirnya mereka harus kawin campur. Seluruh anak mereka tidak ada lagi yang murni Israel. Jadi Israel Utara habis, karena Tiglat-Pileser, karena mereka kawin campur. Dan saya katakan kepada saudara-saudara 1 prinsip ini. Tiglat-Pileser pertama kali menghancurkan Israel mulai dari tanah Zebulon dan Naftali masuknya. Itulah sebabnya Tuhan mengatakan di Yesaya, bangsa yang sudah dimurkai oleh Tuhan. Bangsa yang dibuang oleh Tuhan. Sekarang, pada waktu yang ditetapkan oleh Allah, hati Tuhan berbalik kepada mereka. Yesus datang ke tempat bangsa yang sudah dimurkai-Nya. Waktu penghukuman sudah selesai, sekarang adalah waktu pemulihan. Aku mencari kembali anak-anak-Ku meskipun mereka sudah berzinah. Cinta Tuhan datang kepada Zebulon dan Naftali. Cinta Tuhan datang kepada Kapernaum. Kapernaum itu artinya adalah the village of compassion. Ini yang dikerjakan oleh Kristus.

      Betapa cinta kasih-Nya itu besar. Betapa Dia murka kepada orang-orang berdosa sesaat saja. Tetapi kasih setia-Nya tetap untuk selama-lamanya. Allah hadir kepada bangsa yang terbuang. Allah hadir kepada orang demi orang yang ada di Kapernaum, tanah Zebulon, Naftali yang sudah kehilangan identitas Israel yang bisnis mereka itu, berpacaran, mereka itu menikah, mereka itu berdagang, mereka itu sekolah dengan orang-orang sekitar mereka, tidak ada perbedaan sama sekali antara gereja dan bukan gereja. Tidak ada perbedaan sama sekali Israel dan tidak Israel. Tidak ada perbedaan sama sekali antara orang yang kenal Tuhan dan tidak kenal Tuhan. Dan Allah menyerakkan mereka. Tetapi pada waktu yang ditetapkan, Allah datang dengan kaki-Nya sendiri. Dia menyerakkan dengan bangsa yang lain, Dia datang dengan Anak-Nya sendiri datang. Jalan jauh sampai ke sana, mengajar. Perhatikan baik-baik. KKR pertama kali tidak dilakukan Yesus di Yerusalem, tetapi di Zebulon dan Naftali, 10 suku yang sudah hilang. . KKR pertama kali dilakukan Yesus: “Bertobatlah karena Kerajaan Allah sudah dekat.” Sebenarnya inilah yang ada di dalam isi hati Allah yang dinyatakan oleh nabi di dalam Perjanjian Lama.

      Seluruh bagian dari kitab ini me-refer kepada Yesaya. Tetapi sebenarnya ada satu nabi lagi, yaitu nabi Yehezkiel, 600 tahun sebelum Yesus datang. Dia sudah diberi Firman oleh Allah. Allah menyatakan, nanti suatu hari maka Israel Utara dan Selatan yang sudah pecah pada jaman raja Jeroboam dan Rehoboam sekarang akan Aku gabungkan. Lihat Yehezkiel 37:15-19 menggunakan judul “Kerajaan Israel dan Yehuda”, Israel itu adalah Israel Utara, Yehuda adalah Israel Selatan, dipersatukan kembali. Nubuatan ini terjadi pada waktu Matius 4 yang tadi kita baca. Kapan nubuatan Yesaya itu terjadi? Bangsa yang diam di dalam kegelapan telah melihat Terang yang bersinar pada waktu Matius ini, Yesus Kristus jalan pergi ke Galilea. Dia pergi ke Galilea, Dia pergi ke tanah Zebulon dan Naftali. Dalam khotbah yang beberapa bulan yang lalu, saya berbicara mengenai tugas Mesias. Mesias di dalam cara pikir orang Yahudi, Mesias di dalam Perjanjian Lama, maka Mesias tersebut akan memulihkan 4 hal ini. Pertama, Dia akan memulihkan tahta Daud. Itulah sebabnya Matius mengatakan: Inilah silsilah Yesus Kristus, anak Daud, anak Israel, anak Abraham. Kedua, Mesias akan memulihkan Bait Suci; rombak Bait Suci ini dan dalam 3 hari Aku akan membangun-Nya kembali. Yohanes mengatakan: Yang Dia maksudkan adalah tubuh-Nya. Ketiga adalah Israel akan dipulihkan tanahnya. Maka saudara-saudara perhatikan, Yesus Kristus harus lahir di tanah Israel. Yesus Kristus harus mengajar di tanah Israel dan seluruh rasul-rasul dibentuk di tanah Israel dan diurapi dan dari Israel seluruh bangsa akan mendapatkan berkat. Dan yang keempat adalah Mesias ketika datang, Dia akan menyatukan Israel Utara dan Israel Selatan dan ini adalah ayatnya. Jika kita membaca ini, kita akan menemukan cinta kasih Tuhan yang begitu dalam adanya. Mencari orang-orang yang sudah dimurkai, mencari bangsa yang tertindas, bangsa yang hidupnya seperti orang-orang kafir, bangsa dimana kegelapan yang besar itu terjadi.

      Point kedua merupakan anti-thesis point pertama. Dalam ayat-ayat tersebut, kita juga melihat cinta kasih Allah di dalam Yesus Kristus yang sekali lagi ditolak dan dibuang. Allah mengunjungi Galilea, Naftali dan Zebulon. Dia mengunjungi dengan cinta-Nya karena Dia ingat janji-Nya. Seluruh nabi sudah menyatakan isi hati-Nya ratusan tahun sebelum Yesus Kristus lahir. Tetapi seluruh cinta kasih ini akan ditolak dan dibuang oleh manusia. Di dalam pelayanan-Nya, Yesus memilih kota Kapernaum di Galilea menjadi head quarter pelayanan-Nya. Sebagian besar hidup pelayanan Yesus ada di sana, tempat itu disebut village of compassion, di situ Yesus tinggal. Di Kapernaum, rasul-rasul pertama kali dipanggil oleh Yesus, di Kapernaum itu pula banyak mujizat-mujizat yang Yesus lakukan. Di Kapernaum Yesus mengajar prinsip-prinsip teologis mengenai diri-Nya, banyak ajaran yang terpenting diajarkan di kota ini. Di tempat itu Yesus mengatakan “Akulah roti hidup”. Hampir setiap hari Yesus mengajar di sinagoge-sinagoge di Kapernaum. Di dalam Alkitab, Kapernaum ditulis sebagai “kota Yesus”. Kalau kita melihat Alkitab, kita melihat Yesus lahir di Bethlehem, dibesarkan di Nazareth dan tinggal lama dan mengajar di Nazareth, tapi Alkitab mengatakan bahwa “kota Yesus” adalah Kapernaum. Hal ini dikatakan di Matius 9:1. Kapernaum adalah tempat di mana Yesus tinggal bertahun-tahun lamanya dalam pelayanan-Nya sebelum Dia mati. Dalam tiga setengah tahun pelayanan-Nya, satu tahun dihabiskan di tempat lain sebelum Dia masuk ke Kapernaum dan baru pada bulan-bulan terakhir Dia masuk ke Yerusalem. Sebelum Yesus pergi ke Kapernaum, Dia tinggal di Nazareth. Yesus meninggalkan Nazareth karena Dia diusir dari sana. Dalam Lukas 4:16 dikatakan Yesus mengajar di Nazareth. Apa yang terjadi bisa dilihat di Lukas 4:17-29. Yesus diusir dari Nazareth. Saya teringat kalimat Yesus: “Anak Manusia tidak ada tempat untuk meletakkan kepala-Nya”.

      Setelah diusir, Dia pergi ke Kapernaum dan menjadikannya sebagai head quarter di mana Dia melayani beberapa tahun di sana. Dalam ayat 31 dikatakan Yesus pergi ke Kapernaum di Galilea. Setelah melakukan pelayanan, begitu banyak pengajaran dan mujizat, dan banyak hal dilakukan untuk orang-orang di Kapernaum, Galilea tanah Zebulon dan Naftali apa yang terjadi kemudian? Dalam Matius 11:20-24 Yesus mengecam kota-kota di mana banyak mujizat-Nya dilakukan yang tidak bertobat. Apa yang terjadi di Kapernaum setelah Dia diusir dari Nazaret? Dia pergi. Bangsa yang berjalan di kegelapan, sekarang Terang itu datang, Terang yang besar itu bersinar. Setelah Dia memberitakan Firman-Nya berkali-kali, menyatakan Diri-Nya, hal yang sama terjadi, Kapernaum tutup pintu, Galilea kembali menolak cinta kasih Tuhan. Ini adalah suatu anti-thesis. Allah begitu mencintai Zebulon dan Naftali, bangsa yang sudah dihardik oleh Tuhan. Mengapa cinta kasih Tuhan itu ditolak? Beranikah seseorang menolak cinta atau berkat Tuhan? Hanya orang gila atau bodoh yang tidak mau menerima hal-hal tersebut. Alkitab mengatakan bangsa yang berjalan di dalam kegelapan (artinya dia buta, hancur, putus asa) sekarang melihat terang yang besar atau dalam bahasa aslinya adalah sukacita dan mulia, dipindah dari realm of darkness menuju kingdom of light. Kenapa hal ini ditolak? Apakah ini masuk akal? Jangankan Tuhan, orang lain yang tidak kita kenal mencintai kita akan membuat kita senang. Cinta Tuhan ditolak karena cinta-Nya hadir melalui satu kata: “Bertobatlah, karena kerajaan Allah sudah dekat!” Seseorang yang diminta bertobat, sebenarnya cinta Tuhan dekat kepadanya. Seseorang yang diminta bertobat artinya cinta kasih Kristus mendatangi mereka, artinya jalan terang akan ditemukan, artinya mereka tidak akan mati tetapi tetap hidup jika mereka mau bertobat. Itu adalah kata yang keluar karena cinta kasih Allah dan kata yang kita dengar dengan pikiran dan telinga kita, serangan di dalam jiwa kita.

      Bila kita tidak mengerti ini berarti kita tidak mengerti cara kerja Allah. Allah ketika mencintai seseorang tidak akan mengelus-elus orang itu, itu adalah cara nabi palsu. Tuhan ketika mencintai kita Dia akan datang dalam kesucian-Nya menuntut pertobatan. Ketika kita bertobat, hidup murni, kita akan melihat terang yang besar itu bersinar. Berapa banyak dari kita yang sudah menolak cinta Tuhan, sudah melupakan cinta Tuhan dan tidak memperdulikan Dia karena kita mengingkari dan tidak mau menerima pertobatan. Lihatlah cinta yang besar itu, terang yang datang di negeri yang begitu kelam itu, seruan untuk bertobat itu. Di dalam Alkitab, setelah Yohanes Pembaptis dipenjara, maka Yesus mulai berbicara. Yohanes ketika pertama kali berkotbah, dia berseru “Bertobatlah engkau!” Yesus ketika berkotbah Dia berseru: “Bertobatlah karena Kerajaan Allah sudah dekat!” Murid-murid Yesus diutus untuk pergi ke seluruh dusun untuk berseru: “Bertobatlah, Kerajaan Allah sudah dekat!” Yang menerima mereka berarti menerima Yesus, sedangkan bagi yang menolak, Yesus perintahkan: “Kebaskan debu itu dari kakimu.” Itu artinya Allah akan melupakan mereka yang menolak untuk bertobat, selama-lamanya. Kalau Tirus, Sidon, Sodom, Gomorah dilawat Allah dan mujizat dilakukan di sana, mereka sudah pasti bertobat, tetapi Kapernaum tidak bertobat. Pada masa penghakiman, tanggungan Kapernaum akan lebih berat dari Sodom dan Gomorah. Kapernaum akan diturunkan di tempat orang mati yang paling bawah. Mengapa manusia berani dan bodoh? Kita ingin dielus-elus oleh Firman Tuhan, kita ingin mendengar Tuhan mencintai kita. Tetapi, Tuhan ketika mencintai kita, Dia akan meminta kita bertobat. Ketika pertobatan itu terjadi, kita akan tahu bahwa cinta-Nya pada kita sangat besar, membebaskan kita dari kutuk, dari segala sesuatu kegelapan yang kita tidak sadari. Kalau kita melihat prinsip ini, kita akan mengerti isi hati Allah. Kalau kita tidak membaca bagian Matius dari perspektif kitab Yesaya, kita akan berpikir bahwa Yesus sedang marah-marah. Tetapi dilihat dari perspektif kitab Yesaya, kita akan melihat cinta Tuhan. Tidak ada pengampunan tanpa pertobatan. Kita harus mengerti prinsip ini. Sekarang terlalu banyak orang yang mengajar baik dari luar Kristen ataupun dari dalam Kristen, dari luar gereja maupun dari dalam gereja, bahwa kita akan mendapatkan cinta kasih, pengampunan Tuhan. Tidak ada pengampunan tanpa pertobatan.

      Allah yang mencintai kita adalah Allah yang berteriak menegur dosa, yang datang dengan menyatakan kesalahan-kesalahan kita. Allah yang mencintai kita adalah Allah yang hadir untuk menegakkan kesucian-Nya, dan ketika kita bertobat maka kita akan menemukan cinta kasih-Nya yang besar. Cinta kasih Allah hanya bisa kita alami dan terima jika dan hanya jika di dalam pertobatan. Jangan keraskan hati. Saya berbicara di sini kepada orang-orang yang mungkin baru pertama kali mendengarkan hal ini. Mungkin belum pernah mendapatkan cinta kasih Yesus Kristus. Saya tidak akan memberikan kalimat-kalimat penghibur, “Terima Yesus Kristus maka engkau akan dipulihkan, atau sembuh, atau jadi kaya, dapat berkat.” Kita tidak mungkin terima Yesus Kristus kecuali kita bertobat. Bertobatlah, maka Kerajaan Allah itu dekat padamu. Saya berbicara kepada seluruh jemaat, dan juga saya sendiri, apakah kita sungguh-sungguh rela bertobat atau tidak? Apakah ketika Allah menyatakan diri kepada kita di dalam satu bagian dalam hidup kita maka kita rela untuk bertobat, untuk berbalik atau tidak. Kita menginginkan penyertaan Tuhan tanpa kita mau bertobat. Kita ingin keluarga kita dibereskan tanpa kita mau bertobat.

      Yesus ditolak di Nazaret, kemudian pergi ke Kapernaum. Setelah Dia ditolak di Kapernaum, pada suatu hari, pada waktunya Tuhan, Dia akan pergi ke Yerusalem dan di kota itu pula Dia akan ditolak dan akhirnya dibunuh. Anak Manusia tidak punya tempat untuk meletakkan kepala-Nya. Di manapun saja pelayanan Yesus yang merupakan cinta kasih Tuhan adalah pelayanan yang sekaligus ditentang dan diusir, ditolak dan dimatikan. Saya tidak tahu apa yang terjadi dengan Australia. Lama-lama kota ini akan makin menjauhi Tuhan dengan terus bicara mengenai same sex marriage, mereka mau melegalkan kenajisan di depan seluruh publik. Kesucian Allah dibuang. Standar Alkitab dibuang. Segala sesuatu yang baik untuk kesejahteraan kota ini ke masa depan dibuang. Maka saya hanya teringat ketika menyiapkan kotbah ini pada satu kalimat Yesus sebelum Dia dipaku di kayu salib, “Wahai betapa baiknya engkau bila engkau tahu apa yang perlu untuk sejahteramu”. Wahai Nazaret, Kapernaum, Yerusalem, kita semua, “Wahai seluruh jiwa di sini, alangkah baiknya hari ini jika kita tahu apa yang perlu untuk sejahtera kita.” Kiranya ada pertobatan di dalam hati kita, jangan tolak, jangan lawan, jangan kita mengatakan bahwa kita menerima Yesus tetapi tidak pernah ada pertobatan. Kiranya kasihan Tuhan menolong hidup kita.