Renungan Harian

Mazmur 17:15b

Pada waktu bangun aku akan menjadi puas dengan rupa-Mu.

Kepuasan yang Daud bicarakan di sini belum sempurna sampai kedatangan kedua Kristus. Namun para orang kudus, ketika Allah menyebabkan terang pengetahuan akan kasih-Nya masuk dalam hati mereka, menemukan kenikmatan yang besar dalam terang itu. Daud dengan tepat menyebut damai atau sukacita dari Roh Kudus ini kepuasan.

Orang fasik mungkin merasa nyaman, dan memiliki kelimpahan akan hal-hal yang bagus, bahkan sampai tidak ada tempat lagi. Tapi karena nafsu mereka tak terpuaskan, atau mereka makan angin, dengan kata lain, hal-hal duniawi, tanpa pernah mencicipi hal-hal rohani yang memiliki kepadatan, atau mereka tersiksa oleh rasa bersalah hati nurani mereka sehingga tidak bisa menikmati hal-hal baik yang mereka miliki, mereka tidak pernah memilki ketenangan dan kedamaian dalam batin. Sebaliknya mereka terus tidak bahagia, oleh karena emosi yang dalam membingungkan dan mengganggu mereka. Hanya anugerah Allah sajalah yang dapat memberi kita kecukupan, dan mencegah kita ditarik oleh nafsu yang tidak pantas. Di sini Daud merujuk kepada sukacita yang kosong dari dunia, yang hanya membuat jiwa kelaparan, sambil makin menajamkan dan menumbuhkan nafsu. Orang-orang yang berbagian dalam kebahagiaan sejati dan teguh hanyalah orang-orang yang mencari kebahagiaan dalam kenikmatan akan Allah sendiri.

Pada waktu bangun di dekat wajah-Mu (terjemahan lain). (Di sini bangun diartikan mendapatkan istirahat singkat dari kesengsaraan.) Oleh karena kelemahan daging mereka, ketika para orang kudus menjadi sasaran serangan-serangan, ada waktunya ketika mereka merasa lamban dan lemah, atau merasa ketakutan, seakan-akan diselimuti kegelapan (Daud mengumpamakan gangguan batin ini seperti tidur). Tapi ketika perkenanan Allah kembali bangkit dan bersinar terang atas mereka, ia menyatakan bahwa ia akan kembali menemukan kekuatan rohani dan menikmati ketenangan batin. Benarlah yang dikatakan Paulus, selama kita berjalan sebagai musafir dalam dunia ini, “kita hidup oleh percaya, bukan oleh melihat.” Namun ketika kita melihat gambar Allah bukan hanya dalam cermin Injil, tapi juga dalam banyak bukti anugerah-Nya yang Ia tiap hari tunjukkan kepada kita, mari kita bangun dari keadaan batin yang seperti setengah sadar, sampai Allah, pada waktu-Nya, menghadirkan diri-Nya dan membuat kita menikmati-Nya berhadapan muka.

Heart Aflame: Daily Readings from Calvin on the Psalms by John Calvin