Reformed Church and Reformed Spirit

Pdt. Agus Marjanto, M.Th
Matius 3:1-9

Orang yang dapat mengetahui pekerjaan Tuhan ada di tengah-tengahnya adalah orang yang berbahagia, sebaliknya orang yang tidak dapat melihat bahwa Tuhan sedang bekerja di tengah-tengahnya dan Tuhan dahulu pernah bekerja dengan cara seperti apa, orang itu pasti menjadi orang yang buta, orang yang mungkin akan pergi ke gereja, aktif, tetapi sebenarnya tidak mewariskan apapun saja yang Tuhan sudah nyatakan kepada gerejanya yang sejati. Yohanes pembaptis adalah orang yang mendobrak gereja pada waktu itu. Gereja pada waktu itu disimbolkan dengan bait suci yang begitu megah dan besar, penuh dengan uang dan penuh dengan orang-orang yang mempelajari hal-hal yang penting di dalam bait suci. Ada imam besar dan seluruh ritual-ritual berjalan di bait suci itu tetapi Tuhan membangkitkan Yohanes pembaptis dan mengatakan kepada bait suci itu bertobatlah. Yohanes adalah orang yang mendapatkan kuasa dari Tuhan membangunkan gereja. Pada saat itu, Yohanes tidak berbicara kepada bangsa Romawi yang belum mengenal YHWH, tetapi dia berbicara kepada mereka yang memiliki pengenalan yang palsu tentang YHWH. Gereja memerlukan orang seperti ini, untuk gereja kembali kepada garis yang Tuhan itu tentukan. Di sepanjang sejarah, Tuhan berbicara tentang cinta kepada Israel, gerejaNya yang memungkiri cintanya dan menyeleweng untuk kembali kepada Tuhan, untuk kembali kepada covenant yang sejati. Berkali-kali Tuhan membangkitkan orang-orang seperti itu dan Tuhan kemudian membangkitkan Wycliffe, John Huss, Tyndale, Luther, Calvin dan orang-orang Puritan untuk berbicara bukan kepada dunia tetapi kepada gereja. Karena kalau dunia rusak adalah karena gereja rusak, Kalau gereja rusak itu adalah karena imamnya rusak, dan kalau imamnya rusak itu pasti mimbarnya korupsi. Orang-orang itu terus dibangkitkan dengan api yang suci dari Tuhan, dengan Godly zeal dari Tuhan untuk mengembalikan gereja kepada satu posisi yang semula. Tuhan berintervensi dengan memakai siapapun saja bahkan orang yang tidak memiliki apa-apa tetapi Tuhan pakai untuk mengembalikan gerejaNya kepada covenant yang sejati.

Hari ini saya akan berbicara berkenaan dengan Reformed church dan spirit Reformed. Reformed movement bukan sesuatu cabang teologia saja, Reformed movement dan teologia Reformed itu adalah nama panggilan dari Kekristenan, Ini adalah kalimat Charles Spurgeon. Maksudnya adalah jika berbicara mengenai Kristen, maka harus bicara mengenai Reformed. Seluruh denominasi harus kembali kepada Reformed. Ada gereja yang mengatakan gereja Reformed, tetapi sebenarnya bukan Reformed. Ada gereja yang tidak bernama gereja Reformed, tetapi sebenarnya adalah memiliki spirit Reformed. Kita harus mengerti esensinya dengan benar dan tidak bermain-main dengan symbol gereja saja. John Piper, gereja Baptist dan dia adalah seorang Reformed. Orang-orang Puritan, seperti Thomas Goodwin, John Owen, mereka adalah orang-orang yang jelas Reformed, tetapi berada di dalam gereja independent. John Bunyan dari Baptist, tetapi dia jelas Reformed. Jangan melihat dari fenomenanya. Apakah yang membuat seseorang Reformed atau tidak? Apakah seseorang bisa memiliki teologia Reformed tetapi tidak memiliki spirit Reformed? Jawabannya adalah bisa. Saudara-saudara apakah ada gereja yang sungguh-sungguh memiliki spirit Reformed, tetapi musiknya itu bukan Hymn? Jawabannya adalah ada. Banyak orang salah mengerti di sini. Musiknya Hymn atau bukan, memakai band atau tidak, itu bukan urusan masalah Reformed atau tidak Reformed, itu bukan masalah apakah orang itu memiliki spirit Reformed atau tidak Reformed. Ini adalah sesuatu fenomena. Saya tidak mau membuat saudara menjadi fanatik yang buta, mengikuti sesuatu yang salah, saya mau untuk saudara memikirkan sebenarnya apa itu gereja Reformed dan apa itu gereja Reformed yang sejati. Gereja Reformed yang sejati di dalamnya harus ada spirit Reformed dan kalau gereja Reformed itu tidak ada spirit Reformed maka itu bukan gereja Reformed yang sejati. Sebaliknya kalau seseorang memiliki spirit Reformed tetapi dia pergi ke gereja yang bukan spirit Reformed, apakah mungkin? Jawabannya adalah mungkin saja terjadi, tetapi alangkah indahnya dan alangkah benarnya jikalau konten dan kontainer jadi satu, kalau konten dan kontainernya sama maka itu sungguh indah. Alangkah indahnya kalau gereja kita gereja Reformed, sungguh-sungguh di dalamnya itu adalah spirit Reformed yang sejati.

Saya akan berikan 4 hal fundamental spirit Reformed sejati, yang ada pada orang-orang seperti Luther, John Calvin, John Huss, Wycliffe, Tyndale, yang ada pada bapak bapak gereja, yang ada di dalam orang orang Puritan, yang dengan kekuatan secara manusia yang sederhana, berani untuk mendobrak gereja pada waktu itu yang berada di dalam kesesatan. Ketika saudara melihat ke-empat ini ada di dalam satu orang di dalam satu gereja, maka kita boleh dikatakan kita menjadi satu gereja Reformed. Dan di tempat lain saya mau katakan jangan kita mengatakan saya sudah menjadi orang Reformed. Adalah lebih baik dengan mengatakan becoming Reformed, menjadi Reformed. Seperti di dalam Alkitab dikatakan, “Biarlah engkau penuh dengan roh kudus”. Jangan saudara berpikir saya sudah penuh dengan roh kudus, hal itu akan mencelakakan kita, itu akan membuat kita tidak mencari wajah Allah, itu membuat kita tidak lagi rendah hati di hadapan Allah, lebih baik kita berpikir kita belum dipenuhi oleh roh kudus, maka setiap hari kita mencari kuasa. Sama halnya kita berpikir saya mau, saya sedang, saya sedang menjadi orang Reformed, itu membuat kita terus menerus belajar.

 

(1) Spirit atau movement yang menyatakan centralitas, supremasi dan kemuliaan Allah Tritunggal. Pada tahun 1538 cardinal Sadoret dari katolik menulis surat kepada pemimpin-pemimpin reformasi dari Geneva agar mereka mau kembali ke gereja katolik setelah perpecahan itu. Dia memulai suratnya dengan ulasan panjang lebar mengenai justification dan bagaimana mereka menyatakan di luar katolik maka mereka akan masuk di dalam neraka. Calvin kemudian meresponi surat ini yang menjadikan Calvin menjadi orang yang luar biasa terkenal di Eropa. Respon Calvin terhadap Sadoret bukanlah poin-poin teologis mengenai pembenaran, justification atau dosa-dosa para imam-imam katolik pada waktu itu, Calvin juga tidak berbicara mengenai perjamuan kudus pada waktu itu di mana katolik bergabung dengan sincritisme yaitu transubstansiasi dan pada waktu itu Calvin juga tidak menulis mengenai penolakannya terhadap orang-orang suci dan bagaimana dari api penyucian atau purgatory, tidak. Jawaban Calvin lebih dalam dari hal itu, dan ini memberikan jawaban fundamental, issue yang membedakan antara Reformasi dengan Katolik pada waktu itu. Issuenya adalah The centrality and supremacy and majestic of the glory of God. Perhatikan baik-baik jawaban dari Calvin, keinganan besarmu Sadoret untuk hidup surgawi membawa manusia secara keseluruhan hidup menyembah dirinya sendiri dan tidak ada satupun membuat manusia itu mengkuduskan nama Tuhan.

Jikalau saudara membaca tulisan Calvin saudara akan menyadari apa yang BB Warfield ini pernah katakan, tidak ada orang yang memiliki sense of God lebih dari Calvin. Reformasi melawan Katolik pada waktu itu karena Roma Katolik menghancurkan the Glory of Christ in many ways, menghancurkan kemuliaan Kristus di dalam segala jalannya. Pada waktu itu iman bagi Katolik adalah ditambah dengan perbuatan baik. Bagaimana caranya engkau bisa masuk ke Surga, yaitu dengan iman ditambah perbuatan baik. Ketika Saya bicara mengenai katolik bukan bicara mengenai Katolik yang sekarang, tetapi Katolik pada waktu itu. Maka kemudian orang-orang Reformed mengatakan tidak, hanya iman, Sola Fide. Orang Katolik mengatakan engkau mendapatkan anugerah di dalam Kristus tetapi engkau juga harus melakukan hukum-hukum, maka orang Reformasi mengatakan tidak, hanya karena anugerah, Sola Gratia. Orang Katolik mengatakan pada waktu itu yang menjadi penuntun adalah Alkitab ditambah dengan tradisi-tradisi, maka kemudian orang orang Reformed mengatakan hanya Alkitab, Sola Scriptura. Orang Katolik mengatakan yang menjadi perantara kita dengan Allah yaitu Kristus dan ada orang-orang suci, Maria, Petrus, Yakobus, begitu banyak Santo dan Santa, dan kemudian orang Reformed mengatakan tidak, hanya satu penghubung diantara Surga dan Bumi dan itu adalah Yesus Kristus itu semata, Solus Cristo. Yang membedakan Reformasi dengan gereja pada waktu itu, mereka selalu menambahkan sesuatu, menambahkan di luar iman menambahkan sesuatu kepada anugerah, menambahkan sesuatu kepada Alkitab, menambahkan sesuatu kepada Kristus, dan apa yang menjadi thesis daripada Reformasi pada waktu itu. Sola, only, satu satunya, Sola Fide, Sola Gratia, Sola Sriptura, Sola Cristo, dan kemudian orang orang Reformed mengatakan satu kalimat, jikalau semuanya ini empat ini tidak Sola, maka engkau tidak mungkin Soli Deo Gloria, hanya karena anugerah semata, hanya karena iman semata, hanya karena Alkitab semata, hanya karena Kristus semata, maka semua kemuliaan hanya kembali kepada Tuhan. Apakah saudara menangkap point ini? Ini adalah Reformed, mengembalikan seluruh centralitas supremasi kemuliaan Allah tritunggal. Di dalam pengajaran Reformed, ketika kita sudah menerima Tuhan Yesus, bukan berarti boleh hidup serampangan. Di dalam pengajaran Reformed, ketika kita menerima Yesus Kristus, maka kita memiliki buah-buah keselamatan dan buah-buah keselamatan itu adalah perbuatan baik. Saudara tidak diselamatkan karena perbuatan baik, tetapi keselamatan itu akan menghasilkan perbuatan baik. Ini adalah satu spirit Reformed. Di dalam buku institusio, dalam buku pertama chapter kedua, bagian yang pertama, maka Calvin menyatakan seperti ini, “Tidaklah pernah cukup untuk sekedar mengakui bahwa ada pribadi Allah yang harus dipuji dan dihormati, kecuali diri kita telah diyakinkan, bahwa Dia adalah sumber segala yang baik, sampai diri kita diyakinkan tidak menyisakan sedikitpun dan mencari apapun selain di dalam diri Allah saja. Yang aku maksudkan demikian kata Calvin, kita orang Kristen yang sudah ditebus tidak saja mengakui bahwa Allahlah yang membentuk dunia, Allahlah yang menopang dunia, Allahlah yang mengatur dunia dengan bijaksanaNya, Allahlah yang melindungi dunia dengan bijaksanNya, Allalah yang melindungi dunia dengan kebaikanNya, kita tidak saja mengakui itu, tetapi kita orang Kristen seharusnya kita juga menyadari, mengakui dan mengalami bahwa tidak ada satu tetespun bijaksana, atau cahaya, atau kuasa, atau kejujuran, atau kebenaran sejati yang tidak mengalir dari Dia dan yang tidak disebabkan oleh Dia semata, maka biarlah kita belajar menunggu, mencari segala sesuatu di dalam Dia, dan begitu kita menerimanya kiranya kita bersyukur kepada Dia saja”. Orang seperti Calvin memiliki pandangan yang besar sekali akan kemuliaan Allah, dan pandangan yang rendah sekali terhadap manusia. Tidak ada sesuatu yang baik dari diri kita. Jikalau saudara mengatakan ada sesuatu yang baik dalam diriku, saudara bukan Reformed. Orang Reformed mengatakan tidak ada yang baik dalam diriku, jikalau ada, itu adalah karena anugerah Tuhan semata. Yesus Kristus mengatakan di dalam kalimat pertama dari Kotbah Dibukit, “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah”, kata miskin di sani adalah bangkrut, Reformed menyatakan total inability of man, dan ketika saudara melihat orang ini, dia adalah orang yang dari Firman bergerak keluar dan tidak akan pernah bisa tenang, ketika seseorang mengatakan ada keunggulan dari manusia, ada jasa yang bisa ditawarkan kepada Allah, Reformed mengatakan dan akan berdiri dan menyatakan tidak. Semua adalah hanya kembali kepada anugerah semata. Semuanya itu adalah karena kedaulatan Allah, centralitas, supremasi, dan kemuliaan dari Allah tritunggal. Luther mengatakan let God be God, let man be man.  Seluruh agama di dunia mengandalkan usaha manusia, kekristenan tidak. Tetapi anehnya di dalam gereja kita berpikir bahwa kita memiliki sesuatu yang bisa ditonjolkan dan dibanggakan di hadapan Allah. Orang Reformed menyatakan, tidak. Di dalam seluruh proses teologianya, proses ibadahnya daripada gerejanya sampai kepada kehidupan sendiri di dalam saat teduhnya orang Reformed, spirit Reformed menyatakan tidak ada sama sekali jasa kita.

(2) Spirit Reformed itu selalu Biblical, Conventional, dan Theological Movement. Coventional adalah adanya pengakuan-pengakuan iman. Spirit Reformed itu adalah suatu semangat yang diberikan oleh Roh kudus, yang mau membawa gereja kembali mengasihi Alkitab (back to the Bible). Arti “Back to the Bible” sesungguhnya adalah, pertama, Alkitab buku dari Tuhan dapat dibaca dan dimengerti oleh manusia seluas mungkin. Pada waktu itu Alkitab hanya dibaca oleh segelintir orang yaitu imam-imam yang terpelajar saja. Para Reformator membawa Alkitab itu sampai kepada rumah demi rumah. Mereka menerjemahkan Alkitab kepada bahasa demi bahasa untuk bisa lebih dimengerti. Demi penterjemahkan Alkitab pada waktu itu, maka Wycliffe itu harus dianiaya, John Huss penerusnya dibakar hidup hidup dan kemudian Tyndale harus dibakar. Pada waktu itu untuk menterjemahkan Alkitab agar dibaca oleh seluas mungkin, ada darah yang ditumpahkan agar hal itu terjadi. Hal yang kedua ketika bicara mengenai back to Bible itu adalah bicara akan penekanan teaching dan preaching biblical. Gereja dengan spirit Reformed selalu penekanannya adalah kepada teaching and preaching biblically. Gerakan untuk membawa saudara dan saya untuk mengerti lebih jelas Alkitab itu apa Tidak seperti katolik pada waktu itu yang mementingkan ritual-ritual, tidak seperti gereja yang mementingkan praise and worship. Hal ketiga, di dalam hal ini spirit Reformed yang back to Bible itu adalah mengajarkan umat pada keseluruhan berita Alkitab. Keseluruhan Alkitab dari Prolegomena (permulaan dari seluruh cara berpikir teologia) sampai Eskatologi (akhir jaman). John Flavel menyatakan, the scripture teach us the best way to living the nobles way of suffering and the most comfortable way of dying. Orang-orang dengan kalimat seperti ini adalah orang-orang yang meneliti Alkitab yang sungguh-sungguh mau back to the Bible. Kalau saudara melihat orang-orang Reformed, orang-orang puritan, mereka adalah orang-orang yang dipenuhi dengan Roh Kudus, hidup bagi Kristus, mati dibakar, disembelih untuk mempertahankan Alkitab. Dan ketika kita melihat catatan mereka dari seluruh Alkitab, satu-persatu begitu teliti mereka baca. Ini adalah movement biblical, theological. Anthony Burgess, seorang puritan, dia berkotbah tentang Yohanes 17 sebanyak 125 kali. Ini adalah orang-orang yang begitu dalam mengerti Firman. Spirit of Reformed selalu biblical, confessional, theological movement.

(3) Spirit Reformed adalah sesuatu movement intelektual yang bermuara kepada kesalehan hidup. Ini bukan berbicara bahwa orang-orang Reformed adalah intelektual dan yang bukan Reformed adalah orang-orang bodoh, tidak, saya tidak mengatakan itu! Movement intelektual adalah suatu gerakan yang mengadakan sesuatu encouragement untuk kita menjadi berpikir, menjadi lebih pandai dan akan makin lebih mengerti. Tidak akan ada orang Reformed mengatakan untuk percaya saja, tidak perlu pikir macam-macam. Saudara akan dibuat lebih mengerti, pikiran kita akan dicerahkan karena itu adalah Roh Kudus yang mencerahkan fungsi rasio. Rasio akan diangkat tetapi tidak paling tinggi. Rasio diangkat sedemikian rupa tapi ditaklukkan di bawah Firman. Itu adalah Reformed Theology. Ini adalah gerakan yang berpikir, menilai segala sesuatu dan menguji diri di dalam segala sesuatu, menuntut standard Alkitab. Spirit Reformed akan melihat segala sesuatunya bukan phenomena tetapi noumena. Kita dilatih menurut Alkitab dengan anugerah Roh Kudus untuk mengerti sesuatu yang sifatnya hakekat. Jikalau seseorang itu makin mature, makin growing in Christ, makin mengenal Allah, makin mengerti noumena, makin mengerti apa itu esensi, hakekatnya. Saudara tidak akan mengerti mana gereja yang sehat, mana gereja yang tidak sehat kecuali saudara bergumul dan bertumbuh di dalam iman. Kalau saudara tidak bertumbuh dalam iman maka saudara akan mengatakan semua gereja sama. Sama seperti orang yang buta mengatakan seluruh binatang sama. Sama seperti orang yang tidak tahu apa-apa mengatakan semua agama sama. Tidak! Melihat segala sesuatu bukan dari fenomena tetapi dari hakekat, dari noumena.

Saya berikan satu contoh. Suatu hari saya mendengarkan seorang berkotbah dari Yohanes berkenaan dengan orang yang sudah lumpuh 38 tahun lamanya di kolam Bethesda dan menunggu goncangan air di kolam itu. Yesus menyembuhkannya pada hari Sabat. Seorang yang bukan Reformed mengkotbahkan itu dengan mengatakan Yesus yang menyembuhkan orang lumpuh itu dan kalau saudara lumpun dan tidak sembuh karena saudara tidak beriman. Kotbah seperti itu, kalau saudara tidak berpikir, maka saudara akan menerima dengan mentah-mentah. Tetapi orang Reformed akan melihat the whole Bible. Orang Reformed akan menyelidiki dalamnya, apakah memang perikop itu bicara berkenaan dengan kesembuhan atau Allah itu mau menyatakan sesuatu yang lain. Orang Reformed percaya kesembuhan, tetapi ayat Alkitab di dalam bagian itu khususnya bukan bicara mengenai kesembuhan. Ayat alkitab itu tidak bisa diaplikasikan bahwa semua orang akan disembuhkan oleh Kristus Yesus. Perhatikan baik-baik apa yang orang Reformed katakan. Kalau sungguh bahwa Yesus datang untuk menyembuhkan, kenapa hanya satu orang itu di antara ribuan orang di kolam Bethesda. Kenapa yang lain dibiarkan tetap timpang, lumpuh, tidak berjalan, hanya satu orang saja yang disembuhkan. Berpikirlah! Jangan mau dibodohi. Tidak berarti bahwa kita memiliki spirit of criticism.  Spirit of criticism itu adalah spirit yang tidak benar di dalam gereja. Apa saja saudara kritik, yang benar pun saudara kritik. Tetapi biarlah kita boleh kritis melihat apakah ini benar, melihatnya lebih dalam lagi. Spirit of criticism adalah selalu menyatakan kalau seorang bicara A saya akan bicara A’, kalau orang itu bicara A’, saya bicara A, pokoknya berbeda. Tidak, kita bukan spirit seperti itu, tapi kita mau mengerti Firman secara dalam. Jangan dibodohi. Kecuali saudara-saudara adalah anak-anak kesesatan yang memang suka dengan kesesatan. Dan hal yang lain, kalau saudara-saudara melihat komentari Reformed, maka sebenarnya ayat ini bukan bicara mengenai kesembuhan, tetapi Yesus sedang menyatakan suatu kesembuhan pada hari Sabat. Yang Yesus mau nyatakan adalah Yesus mau memberikan suatu konfrontasi langsung dengan orang Farisi dan Ahli Taurat dan Bait Suci pada waktu itu, karena menyembuhkan pada Sabat itu bagi mereka adalah tidak boleh.

Reformed adalah gerakan yang berpikir, gerakan intelektual yang membuat kita makin lama makin memiliki suatu rasio yang bertanggung-jawab. Tidak ada orang yang suka debat, dan memang debat kosong itu tidak beres. Tetapi debat untuk mengetahui ketepatan apa yang dikatakan Firman itu penting. Ketepatan apa yang dikatakan firman itu penting. Precise (presisi), tepat, itu adalah sesuatu yang penting. Allah kita adalah Allah yang tepat. Ketika Allah meminta umat Israel membangun Bait Suci, Dia menyatakan batunya harus seperti apa, menghadap kemana, ukurannya seberapa, baju imamnya seperti apa, atasnya apa, bawahnya apa, batu-batunya jenisnya apa, sebelah kira apa, sebelah kanan apa, tengah apa, satu-persatu seluruhnya precise. Dan orang Reformed adalah orang yang mengejar ketepatan. Suatu hari, seorang dari puritan, Thomas Shepard, dia sangat memikirkan sesuatu, dan ketika mengatakan sesuatu berusaha supaya precise (tepat), ketika ditanya mengapa dia lakukan demikian, dia mengatakan, “Saya melayani Allah yang precise.

Di dalam point ke tiga ini, ini adalah movement intelektual, tapi bukan hanya itu, tetapi movement intelektual yang bermuara pada kesalehan hidup, godliness. Ini bukan intelektual yang kering, yang mati, yang dingin, sombong, dan angkuh. Kalau saudara-saudara sombong, saudara-saudara tidak memiliki spirit Reformed. Kalau saudara-saudara sombong saudara-saudara memiliki spirit scholastic. Scholastic adalah orang yang terus menerus memikirkan tetapi tidak masuk ke dalam kesalehan hidup. Sebaliknya, Reformasi, salah satu kehebatannya adalah mereka memiliki kedalaman pikiran seperti orang scholastic tetapi mereka memiliki kedalaman hidup di dalam kesalehan. Martin Lloyd-Jones, sudah meninggal beberapa tahun yang lalu, disebut sebagai the last puritan giant, seorang Reformed, seorang yang melayani di Westminster Chapel dan kotbah di depan ribuan orang. Tidak ada music yang hebat, semuanya hymn biasa, tetapi ribuan orang diberi makan rohani. Dia adalah seorang dokter yang kemudian bertobat, dipakai dan diurapi Tuhan luar biasa. Orang ini kemudian meninggal dan sekarang beberapa buku muncul, beberapa CD muncul mengenai kehidupannya. Salah satu dari kumpulan kehidupannya ditulis, dan ini adalah suatu hal yang tepat menggambarkan seorang Reformed: logic on fire. Ketika saudara-saudara mendengar, melihat kotbah atau kehidupan orang-orang Reformed, saudara-saudara akan melihat pertama kedalaman intelektualnya dan kedua apinya, kesalehannya, kesungguhannya, logic on fire. Spiritualitas Reformed adalah spiritualitas dari kedalaman pikiran mengerti Firman menuju kepada kesalehan hidup sehari-hari. Reformed berbeda dengan pietism, ini adalah salah satu gerakan yang ada dari Jerman, gerakan dalam gereja yang sebenarnya bagus, tetapi orang-orang pietist adalah orang-orang yang rajin baca Alkitab, rajin berdoa, rajin berpuasa, tetapi non-doktrinal. Orang-orang Reformed adalah orang-orang yang meneliti doktrin, berperang, berdebat untuk mendapatkan sesuatu yang precise, tetapi mereka sendiri adalah pendoa-pendoa yang tangguh. Kalau saudara-saudara melihat dari orang-orang Reformed dalam kehidupannya, mereka mengkonsentrasikan diri pada private bible reading, prayer, meditation, instropeksi, self-examination dan sekaligus berperang di tengah-tengah gereja dan dunia. Luther bedoa berjam-jam, Calvin adalah seorang yang sangat brilliant dan saleh sekali. Jangan bicara berkenaan dengan kita memiliki spirit Reformed, mengerti teologia Reformed tapi tidak pernah berdoa, atau berdoa begitu kering sekali. Berlutut. Berdoalah! Orang-orang Reformed mengerti kedalaman Firman dan kalau kita mengerti kedalaman Firman, Allah menginginkan persekutuan intim dengan Dia. Maka kalau saudara-saudara mengerti ini selalu ada kebangunan rohani. Cotton Mather mengatakan: knowledge of God (atau doktrin) without pray and holiness (tanpa doa dan kesucian) akan menghasilkan (results) in crime againts God. Knowledge of God itu penting, tapi itu akan bermuara pada kesalehan. Makin menjadi Reformed seharusnya makin rendah hati karena kita makin takut pada Tuhan.

Saya akan ceritakan beberapa peristiwa ini supaya kita mengerti kerendahan hati orang-orang reformed dan bagaimana kita melihat Calvin dan Luther. Yang pertama adalah cerita tentang George Whitfield seorang reformed dan seorang yang berkotbah untuk banyak KKR besar. Di dalam jamannya, George Whitfield itu selalu akan berdebat teologia dengan Charles dan John Wesley, orang-orang methodist. Den kemudian ketika berdebat, banyak orang dari golongan George Whitfield, dan banyak juga dari golongan Charles dan John Wesley. Mereka biasa akan terus beradu mulut. Suatu hari seseorang bertanya kepada George Whitfield: apakah nanti kalau kamu pergi ke surga, kamu akan bertemu dengan John Wesley? George Whitfield mengatakan: kemungkinan besar tidak. Semua pendukungnya mengatakan, betul, John Wesley masuk neraka ya? Jawab Whitfield: tidak, sangat mungkin John Wesley ada di depan, dekat kepada tahta Kristus, dan aku ada di belakang, jauh sekali dari tahta Kristus. Itulah reformed, dia bukan orang bodoh, dia orang intelektual, dia bukan orang sembarangan, dia diurapi oleh Tuhan, tetapi makin diurapi, makin tahu firman, makin dia rendah hati, makin tahu aku tidak layak. Saudara lihatlah this is reformed. Perhatikan apa yang Calvin katakan mengenai kesalehan/godliness. Mungkin tidak ada satu orang yang bisa memberikan satu kumpulan kalimat yang begitu tepat menyatakan mengenai godliness. Dia mengatakan seperti ini: kesalehan sejati adalah perasaan tulus mengasihi Allah sebagai bapa, yang sama besarnya dengan perasaan takut dan hormat kepadaNya sebagai Tuhan, merangkul kebenaranNya dan takut menyakiti hatiNya lebih dari takut akan kematian. Takut menyakiti hatiNya lebih dari takut akan kematian. Ini adalah intelektual yang bermuara pada kesalehan hidup. Perhatikan apa yang Luther katakan: to know God is to know the grace of Christ, and this knowledge comes only through humbly contemplating Calvary (mengenal Allah ialah mengenal anugerah Yesus Kristus, dan pengenalan ini datang hanya melalui satu pengenalan yang rendah hati akan Calvary). Satu movement intelektual yang bermuara kepada kerohanian.

(4) Spirit Reformed adalah spirit yang mengasihi gereja. Dua hal yang Calvin paling kasihi, yang membuat dia mengeluarkan seluruh puisi dan nyanyiannya, adalah Kristus dan gerejaNya (Christ and His church). Ini adalah spirit yang selalu ingin agar gereja itu murni. Spirit yang ingin mempersiapkan gereja sebagai mempelai yang suci, perawan yang makin hari makin mengasihi mempelai pria yaitu Yesus Kristus. Orang-orang Reformed berbeda dengan apa yang mungkin saudara pikirkan, banyak stigma-stigma yang tidak beres. Orang-orang Reformed itu bukan orang yang menulis buku-buku intelektual saja, di tempat biara, atau kesendirian mereka, mereka lebih mencintai buku daripada manusia, bukan itu walau memang ada. Banyak orang yang seperti itu, tetapi bukan seperti itu yang sesungguhnya. Mereka adalah orang-orang intelektual yang menulis buku, mengerti Firman, tetapi mereka adalah orang yang mencintai gereja, mereka adalah orang yang turun ke dalam gereja, mereka adalah orang-orang yang ada di jalanan. Mereka adalah orang-orang yang mencintai gerejaNya dan tidak akan pernah tenang sampai gerejaNya murni, mereka adalah churchmen.

Dari dulu sampai sekarang, bahkan dari jaman nabi-nabi sampai bapak-bapak gereja, gereja selalu dimasuki unsur sinkritisme yaitu menggabungkan dua hal yang sama sekali tidak sama secara natur, memasukkan dari luar ke dalam ibadah Kristiani. Mulai dari dulu ketika reformasi itu ada, dari Paus dan Kardinal-kardinal membuat surat penghapus dosa. Kalau engkau mau membeli surat penghapus dosa maka dosamu dihapus, padahal sebenarnya yang mereka mau cari adalah uang untuk membangun katedralnya yang belum selesai dan kekurangan uang. Spirit dari luar dimasukkan dengan hal-hal yang sifatnya agamawi dan menjadi suatu yang sinkritis membuat gereja tidak murni. Maka Luther dengan anugrah dari Roh Kudus dan apiNya bangkit dengan mengatakan tidak bisa! 95 thesis isinya adalah hal ini. 31 Oktober 1517, Luther memakukan 95 thesis di dalam bahasa latin di depan gereja Wittenberg, isinya adalah hal ini. Untuk menghalau sinkritisme, menghalau sesuatu yang dari luar dimasukkan di dalam gereja. Dari dulu sampai sekarang adalah sama. Gereja masa kini memasukan Positive thinking di dalam gereja. Cara dagang dunia dimasukkan di dalam gereja. Musik dunia dimasukkan ke dalam gereja. Ini adalah suatu kepalsuan, sungguh-sungguh kepalsuan karena centre of revival is not the word of God. Center of the revival mereka adalah hal-hal yang lain.

Saya akan akhiri seluruh kotbah ini puisi yang dikarang oleh Samuel Rutherford dan saudara akan melihat keindahan dari Kristus, cintanya kepada Kristus. Juga puisi yang dikarang oleh Calvin, dan saudara akan melihat bagaimana cintanya kepada Kristus dan gerejaNya. Rutherford mengatakan demikian: “letakkan ribuan-ribuan taman Eden menjadi suatu kesatuan, gabungkan semua bunganya, harumnya, warnanya, kenikmatan rasanya, semua keindahannya dan semua kesukaannya dan semua kemanisannya di dalam satu kesatuan. Gabungkan seluruh keindahan Eden di dalam satu kesatuan. Oh betapa sempurnanya itu. Tetapi bandingkan itu, bandingkan keindahan Eden itu dengan Kristus. Itu tidak lebih dari jatuhnya satu tetes air hujan di atas air yang ada di seluruh lautan, sungai dunia dari beribu ribu bumi”. Keindahan Eden itu hanya satu tetes air hujan dibandingkan keindahan Kristus, satu tetes air hujan dibandingkan seluruh air yang ada di sungai, lautan, gunung dari bumi, tidak, dari beribu ribu bumi. Mencintai Kristus seperti ini.

Calvin menulis mengenai Kristus dan gerejaNya. Demikian katanya: Gereja sebagai musafir. Marilah kita ingat betapa buruknya keadaan lahiriah gereja. Ia bercahaya dalam keindahan batiniah. Meskipun terguncang di bumi, di surga ia berpijak dengan kokoh. Meskipun dimata dunia ia tergeletak, terluka, dan rebah. Di hadapan Allah dan para malaikatNya, ia berdiri utuh dan bertumbuh. Meskipun sengsara dalam daging, dalam roh ia melimpah dengan kebahagiaan rohani. Ketika Kristus berbaring dengan hina dalam palungan, di awan-awan para malaikat menyanyikan keagunganNya, di langit bintang memberi kesaksian akan kemuliaanNya, orang bijak dari negeri yang jauh merasakan kuasanya. Ketika Kristus berpuasa di padang gurun bergumul dengan cemoohan iblis, menitikkan peluh seperti mau mati, malaikat-malaikat tetap melayani Dia. Ketika Dia hendak dipenjarakan, oleh suaraNya saja Ia mengusir musuh-musuh-Nya. Sementara Dia tergantung di kayu salib, matahari oleh kegelapannya memberitakan bahwa Kristus raja dari semua. KuburNya yang terbuka mengakui bahwa Dia adalah Tuhan atas kematian dan kehidupan. Sekarang jika kita melihat Kristus dalam tubuhNya, menderita penghinaan congkak dari orang-orang fasik, terinjak oleh kebengisan penindasan mereka, terbuka bagi penganiayaan mereka, terdorong kesana-kemari oleh keganasan mereka. Betapa kurang ajarnya, semua hal itu tidak dapat menggentarkan kita gerejaNya. Sebaliknya, marilah kita ingat bahwa gereja, kita, telah diberi tugas menjadi musafir di dunia, untuk berperang senantiasa di bawah panji salibNya. Biarlah kita ingat, gereja telah diberi tugas menjadi musafir di dunia untuk berperang senantiasa di bawah panji salibNya.

Saya berharap kiranya apa yang terjadi 498 tahun yang lalu, Tuhan terus memeliharanya di dalam hati kita. Jadilah orang Reformed. Belajarlah kita, minta anugerah Tuhan untuk menjadi Reformed. Dan kiranya gereja ini kontainernya dan isinya boleh sama. Kiranya nama Tuhan dipermuliakan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *