Khotbah di Bukit(2)

Pdt. Agus Marjanto, M.Th
Matius 5:1-3

Kita akan melanjutkan khotbah di bukit yang merupakan satu pengajaran dari lima seri pengajaran Yesus yang tertulis diseluruh kitab Matius. Ini adalah pengajaran dari Allah yang melampaui apapun saja di dunia ini. Maka ketika dikatakan berbahagialah, maka kita harus mempercayai ini adalah jalan kebahagiaan

Banyak orang membaca Alkitab dan kemudian mengatakan, “Aku mempercayai Alkitab, tetapi kita tidak mengejarnya. Bukankah itu adalah sesuatu kemunafikan? Aristotle mengatakan, Apakah yang sebenarnya dicari oleh manusia? Sebenarnya manusia mencari kebahagiaan. Lalu jikalau manusia itu mencari kebahagiaan, mengapa ketika Kristus sudah memberikan kepada kita jalan berbahagia tetapi kita tidak mau mentaatiNya? Mari kita nyatakan bahwa diri kita mau belajar dari apa yang Kristus itu katakan kepada kita

Berbahagialah orang yang miskin dihadapan Allah. Minggu yang lalu saya sudah katakan ada 8 jalan kebahagiaan yang tidak dapat diberikan oleh dunia ini. Itu adalah merupakan hasil dari suatu persekutuan bersama Kristus. Aku didalam Kristus dan Kristus didalam Aku. Ini adalah pekerjaan Roh Kudus, yang memunculkan hal-hal berharga didalam diri manusia yang hina, seperti permata. Thomas Watson mengatakan 8 ucapan bahagia ini adalah sesuatu bentukan dari Roh Kudus. Anugerah dari Roh Kudus yang diberikan kepada hati manusia dan menjadi satu barisan permata yang terjalin bersama dengan rantai ibadah yang menghiasi mempelai Kristus yaitu jemaatnya. Banyak orang berpikir mereka sudah menerima Kristus dan masuk surga tetapi apakah buktinya? Salah satu buktinya adalah di dalam hati kita ada 8 ucapan bahagia seperti dikatakan di dalam Alkitab. Apakah kita memiliki hati yang miskin dihadapan Allah, berduka atas dosa dan memiliki kelembutan hati dihadapan Allah? Semua ini adalah merupakan afeksi yang ada di dalam diri kita yang hanya merupakan pekerjaan Roh Kudus bukan diri kita yang menciptakannya. Marilah kita memeriksa hati kita masing-masing apakah kita memiliki hati yang miskin dihadapan Allah. Jika kita memiliknya, maka kita dapat bersukacita karena ini berarti Tuhan bekerja melalui Rohnya di dalam hidup kita. Hari ini kita masuk kedalam 8 ucapan bahagia yang pertama, “berbahagialah orang yang miskin dihadapan Allah”

(1) Remuk hati karena kekejian terhadap dosa diri. Orang yang miskin dihadapan Allah adalah yang selalu melihat diri paling berdosa dan tidak menemukan satu kebaikan pun dihadapan Allah sehingga orang ini selalu meminta belas kasihan untuk penerimaan dan pengampunanNya setiap hari. “Mercy on me, God”. Saya sangat prihatin terhadap jiwa kita semua, apakah kita memiliki remuk hati karena kekejian terhadap dosa diri? Tidak peduli apakah kita aktif atau tidak aktif melayani di gereja.

Suatu hari, Yesus Kristus bicara kepada Petrus yang adalah seorang nelayan untuk menolakkan perahunya ketempat yang lebih dalam dan menebarkan jala. Lalu Petrus menjawab bahwa dia dan murid-murid yang lain sudah semalaman pergi kesana dan pulang tidak mendapatkan apa-apa. Tetapi karena sungkan, Petrus mengikuti apa yang Yesus katakan. Ketika murid-muridNya pergi ke tempat dalam dan menebarkan jala, mereka mendapatkan begitu banyak ikan dalam waktu yang singkat dan kapal mereka hampir tenggalam karena begitu banyak ikan. Ketika sampai di daratan, Simon Petrus langsung turun dari perahu itu dan tersungkur di hadapan Yesus dan mengatakan, “Pergi daripadaku Tuhan, aku orang berdosa”. Seperti Petrus, Paulus juga mengatakan diantara seluruh orang berdosa, aku yang paling hina. Jikalau Roh Kudus bekerja didalam hidup kita, maka hal pertama yang akan dikerjakanNya adalah kita langsung peka akan kekejian diri kita dihadapan Allah. Apakah kepekaan ini ada padamu? Jikalau tidak, minta belas kasihan Tuhan. Satu orang yang sangat-sangat saya kagumi, ketika saya membaca riwayat hidupnya dan tulisan hidupnya yang begitu sangat padat, sangat dalam dan sangat indah ialah Samuel Rutherford, seorang puritan, dari Scotland. Dia orang yang sangat saleh. Dia adalah salah satu dari Westminster Assembly yang turut menghasilkan Westminster Confession of Faith. Dia memiliki Teologia yang dalam dan sangat mencintai kepada Tuhan didalam seluruh kehidupannya. Terbukti dia menuliskan puisi cintanya kepada Kristus yang begitu indah ditengah suatu penderitaan yang sedang dialaminya ketika melihat istrinya yang sedang sakit. Sehingga semua orang mengatakan, ketika aku melihat Samuel Rutherford, maka aku bisa melihat bagaimana pelayanannya adalah pelayanan yang melihat kepada keindahan Kristus, the beauty of Christ, the loveliness of Christ. Salah satu suratnya kepada David Dickson, dia menuliskan, “Aku adalah the chief of sinners”. Ketika saya membaca itu mata saya terbelalak, dia adalah orang yang sangat mencintai Kristus, orang yang sangat dipakai oleh Kristus, orang yang sangat ilahi, yang sungguh-sungguh diurapi oleh Tuhan tetapi mengatakan bahwa dirinya adalah the chief of sinners. Saya teringat akan John Bunyan, dia menuliskan buku, anugerah Allah yang besar, berlimpah, kepada pendosa yang paling besar yaitu aku. Saudara lihat, setiap orang yang sungguh-sungguh dipakai Tuhan, hal pertama dari seluruh kehidupannya selalu akan bicara, aku orang berdosa. Ketika melihat dosa, jangan dari pandangan orang lain, lihat suci atau benar jangan dari pandangan orang lain. Lihatlah dari Allah yang berbicara kepada kita. Saudara perhatikan, orang yang bisa mengatakan dirinya berdosa didalam kejujurannya, hanyalah orang yang pernah melihat kesucian Kristus. Kita perlu melihat kesucian Kristus untuk membentuk kemiskinan didalam hati kita

Apakah artinya bahwa kita sudah lahir baru dan masuk di dalam gereja Tuhan yang tidak kelihatan, bukan karena baptisan, sidi dan atestasi? Meskipun itu semua penting. Apa yang membuat saudara dari satu orang yang bukan Kristen dari sudut pandang Allah, menjadi orang Kristen dari sudut pandang Allah. Jawabannya adalah kalau saudara pernah melihat, satu detik saja, satu berkas saja dari kesucian Kristus. Itu akan meremukkan hati kita. Jika kita melihat diri lebih baik daripada orang lain, kita tidak memiliki poor in spirit. Jika saudara melihat kesalahan orang lain lebih besar daripada kesalahan kita dihadapan Allah, saudara tidak memiliki poor in spirit. Ucapan pertama dari 8 kalimat berbahagia ini yang membedakan kekristenan dari seluruh agama di dunia. Seluruh agama diluar Kristen menyatakan Allah ada diatas, aku ada dibawah. Mengetahui diri berdosa, tetapi tidak mengalami kesadaran akan realita kekejian dosa dihadapan mata Allah. Mengetahui diri berdosa, maka agar dapat pergi ke surga, mereka melakukan kegiatan ibadah, beramal, berbuat baik agar diterima oleh Allah. Kekristenan berbeda. Tidak ada sesuatu apapun yang dapat dibawa kepada Allah untuk menebus dosa dan kesalahan diri kita. Kita seharusnya memiliki kegentaran dan remuk hati persis seperti Petrus. Petrus tidak sedang mencuri, tidak sedang berzinah, tetapi ketika dia berhadapan dengan kesucian Allah dia menyadari, aku orang berdosa. Total depravity. Aku rusak total.

Oswald Chambers mengatakan demikian, “Injil adalah anugerah Allah yang membangkitkan satu kerinduan yang terdalam didalam jiwa manusia dan juga menimbulkan satu kebencian yang kuat didalam jiwa manusia, karena kebenaran yang dinyatakan tidaklah mudah untuk dicerna. Ada kesombongan-kesombongan tertentu didalam diri manusia yang menyebabkan mereka memberi dan memberi. Namun untuk datang dan menerima pemberian adalah satu hal yang berbeda. Manusia itu berkata saya mau memberikan nyawa saya sebagai martir. Saya mau menyerahkan diri saya untuk melayani. Saya akan melakukan apa saja dan berbuat baik apa saja, namun jangan mempermalukan saya, seolah-olah saya adalah orang yang sangat jahat dan berdosa dan pantas masuk neraka. Dan jangan katakan kepada saya kalau saya harus menerima anugerah-anugerah keselamatan melalui Yesus Kristus dan menerima penerimaan diri dari Allah. Saya akan memberikan apa saja untuk menyenangkan hatiMu, tetapi jangan katakan kepadaku, bahwa aku adalah orang yang miskin, yang memerlukan pengampunan daripadaMu”.

Perhatikan baik-baik, poor in spirit adalah melawan spirit orang-orang Farisi. Mereka memiliki hati dan semangat self-righteousness. Membangun hidup dengan kebenaran sendiri, berpikir bahwa diri tidak terlalu berdosa, orang lain lebih berdosa dan aku memiliki kebenaran, aku bisa berbuat baik, aku bisa hidup beres dihadapan Allah. Humanisme modern memiliki spirit seperti orang Farisi. Thomas Watson menyatakan, ini adalah generasi yang commit idolatory within themselves. Yang menyatakan, bahwa aku memiliki ilah dan ilah itu adalah diriku sendiri. Orang seperti ini akan melihat dosa orang lain, kekurangan orang lain lebih daripada dosa sendiri, akan melihat kemunafikan-kemunafikan orang lain padahal diri sendiri munafik. Apabila seorang mengangkat diri adalah benar tetapi tahu bahwa pada dasarnya tidak mungkin dia benar adanya, suatu hari dia pasti akan melakukan kesalahan demi kesalahan dan bahkan dia tidak bisa lihat sendiri kesalahannya maka kita melihat buah dari self righteous yaitu kemunafikan, kemunafikan itu bukan intinya, self righteous itu adalah intinya. Sekali lagi, Alkitab menyatakan kita berdosa, dan dosa kita itu sangat sangat keji pada dirinya sendiri dan pada didalam diri kita. Setiap hari, sebelum kita bisa mengatakan dengan air mata “I am a chief sinners” aku adalah pendosa yang paling besar diantara semua orang yang hidup, maka tidak ada poor in spirit itu artinya Roh Kudus tidak bekerja dalam hidup kita. Sekali lagi mari kita minta belas kasihan Tuhan, minta cinta kasih Tuhan untuk membangun hati yang miskin dihadapan Allah

(2) Memiliki kegentaran hati karena ketidakmampuan diri didalam hidup setiap hari. Perhatikan baik-baik, orang yang miskin dihadapan Allah akan selalu menyadari diri nothing tanpa Kristus. Maka akan selalu minta belas kasihan, dan penyertaan Kristus setiap saat. Continual depend on Christ. Orang seperti ini akan menyadari satu kalimat Kristus: “Apart from me, you can do nothing.” Orang ini adalah orang yang terus menerus mencari wajah Kristus dan tidak akan meninggalkan ruangan itu sebelum dia memberikan kekuatan untuk hidup setiap hari. Poor in spirit adalah orang-orang yang mencari wajah Kristus setiap hari didalam doa. Calvin mengatakan didalam buku yang pertama chapter yang kedua bagian pertama Institutio, “Tidaklah pernah cukup untuk sekedar mengakui bahwa ada pribadi Allah yang harus dipuji dan dihormati kecuali diri kita telah diyakinkan bahwa Dia, Allah adalah sumber segala yang baik sampai diri kita diyakinkan tidak menyisakan sedikitpun apapun saja didalam diri kita dan kemudian mencari apapun selain daripada Dia saja yang aku maksudkan”. Kita orang Kristen yang sudah ditebus tidak saja akan mengakui bahwa Dialah yang membentuk dunia, Dialah yang menopang dunia, Dialah yang mengatur dunia dengan bijaksana-Nya, Dialah yang melindungi dunia dengan kebaikan-Nya, kita tidak saja mengakui itu tetapi kita orang Kristen seharusnya juga menyadari, mengakui dan mengalami. Biarlah kita belajar menunggu dan mencari segala sesuatu dari Dia dan begitu kita menerimanya kiranya kita bersyukur kepada Dia saja. Apakah kalimat ini hidup didalam hati kita setiap hari? Seorang yang sombong adalah saudara berani keluar dari kamar tanpa mencari wajah Allah. Orang yang poor in spirit akan menyadari setiap bangun pagi berpikir “apart from me you can do nothing”. Jeremiah Burroughs seorang Puritan menyatakan tidak ada apapun pada diri kita kecuali yang diberikan oleh Dia kepada kita. Orang-orang yang poor in spirit, yang miskin dihadapan Allah adalah mereka yang bergantung kepada new supplies of grace every moment. Salah satu hal yang menghancurkan didalam pelayanan adalah, merasa professional, merasa bisa. Tetapi jikalau kita memiliki satu rentang pengalaman-pengalaman pelayanan daripada kemenangan-kemenangan didalam Kristus di waktu-waktu sebelumnya, merasa bukan karena kemampuan diri tetapi karena Tuhan yang memampukan, dan setiap kali minta anugrah Tuhan dan belas kasihan Tuhan, maka ini adalah poor in spirit. Tetapi kalau itu tidak ada, kita adalah orang yang sombong dihadapan Allah. Martin Luther menyatakan kalau dia berdoa kurang dari 3 jam, dia akan gemetar menjalani hidup ini

Miskin dihadapan Allah adalah menyadari bahwa hidupnya selalu harus bergantung dan menempel didalam Kristus dan tidak ada kemungkinan yang lain. Peristiwa di dalam Yoh 6:25-69 sesudah Yesus memberi makan 12 ribu orang dan setelah itu Dia berkotbah mengenai, “Akulah roti hidup”. Alkitab mencatat kotbahNya makin lama makin keras. Mendengar kotbah yang keras itu, orang banyak satu persatu meninggalkan tempat itu. Jika Injil yang sejati diberitkan menyatakan kebenaran, tidak pernah menjadi berita yang popular dan disukai orang. Kristus mengatakan kalimat-kalimat yang keras dan banyak orang mengundurkan dirinya dan kemudian murid-murid melihat gurunya. Sekarang tinggal murid-murid saja, maka kemudian Petrus bermaksud menghibur Yesus Kristus, tetapi kalimat Yesus Kristus yang keluar dari Yesus Kristus adalah: Apakah engkau tidak mau pergi juga? Yesus seakan-akan mengusir dia. Ini adalah prinsip dari Kristus Yesus. Kristus tidak memerlukan kita, kitalah yang memerlukan Kristus dan kalau Roh Kudus itu bekerja didalam hati seseorang, maka dia akan terus mau menempel kepada Kristus apapun saja yang terjadi. Seperti di dalam Matius 15:21-28, perempuan Siro Fenesia, yang terus menerus meminta belas kasihan Yesus Kristus, padahal murid-murid sudah mengusirnya. Seperti Petrus, perempuan ini merasa dirinya tidak dapat berbuat apapun saja kecuali bela kasihan Tuhan ada di dalam hidupnya. Apakah kita memiliki hati seperti ini setiap hari? 

Siapa yang mencari wajah Allah setiap hari dan meminta akan belas kasihan-Nya terus setiap hari. Hanya orang yang kaya saja yang bisa menegadah lalu kemudian berjalan tanpa membungkuk tetapi hanya orang yang merasa diri miskin dia akan terus membungkuk dan bahkan berlutut dan memegang kaki Allah, dan tidak akan meninggalkan sampai Dia memberikan berkat kepada kita. Engkau tidak punya modal apapun saja untuk hidup kecuali anugerah Allah setiap hari. Itulah sebabnya daripada pemazmur mengatakan, berkat-Mu baru setiap pagi, baru setiap pagi. Itu adalah orang yang sudah memandang wajah Allah, setiap pagi dan menemukan kekuatan untuk menjalani seluruh hidup setiap hari.

Maria didalam Magnificat (Nyanyian Pujian, Lukas 1:46-55), menuliskan di salah satu puji-pujiannya, “Hatiku jiwaku memuji Tuhan” karena ada 1 hal yaitu karena Dia memperhatikan kerendahan hamba-Nya, itu berarti aku tidak memiliki apa-apa. Celakalah orang yang selalu menganggap diri memiliki segala sesuatu, yang menganggap diri memiliki kekuatan diluar Tuhan, yang mengandalakan pengalaman masa lalu untuk menghidupi hidup kedepan. Hanya orang-orang yang mengerti bagaimana bersyukur dan bagaimana bergantung dan bagaimana merendahkan diri dihadapan Allah karena kita itu miskinlah yang mendapatkan pertolongan daripada Dia, dan Kristus mengatakan orang-orang yang seperti ini adalah orang-orang yang berbahagia. Berbahagialah orang yang miskin dihadapan Allah. Kiranya Tuhan menyertai kita. Ingat 2 hal, sadar kekejian diri karena dosa dan kesadaran gentar setiap hari dan minta belas kasihan Tuhan. Kiranya Tuhan membentuk itu didalam hati kita semua

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *