Category: Sermon

Godly Zeal

Pdt. Agus Marjanto, M.Th
Nats : Wahyu 3 : 14-19; Yohanes 2 : 13-17.

Dunia tidak mengenal satu gerakan yang Tuhan berikan dari Surga kepada gereja-Nya, kepada hamba–hamba-Nya, kepada anak-Nya yang sejati, yaitu zealous. Ini adalah api yang dari Surga yang mendorong seseorang untuk hidup bergairah dan melakukan segala perkerjaan dan kemuliaan didedikasikan kepada Allah saja. “Be zealous” demikian kata Yesus Kristus kepada jemaat di Laodikia. Gambaran jemaat di Laodikia pada waktu itu adalah tidak panas dan tidak dingin. Yesus berkata, “alangkah baiknya jikalau engkau panas atau dingin”. Di Laodikia ada sumber mata air panas yang dapat digunakan untuk kesehatan dan ada sumber mata air dingin yang begitu fresh, begitu segar untuk diminum. Tetapi sumber mata air itu begitu jauh dari kota. Maka orang–orang berusaha untuk mengalirkan sumber mata air panas dan juga sumber mata air dingin ke kota, tetapi karena jaraknya begitu panjang maka ketika sampai ke kota Laodikia, kedua mata air tersebut menjadi suam–suam kuku. Keduanya sudah tidak panas dan tidak segar lagi. Maka Yesus Kristus mengatakan “karena engkau suam–suam kuku, Aku akan memuntahkan engkau”. Ini adalah suatu tuntutan dari Kristus Yesus sang gembala gereja. Ini adalah kalimat–kalimat yang sangat tajam dari pencipta langit dan bumi dan pembentuk gereja. Itu berarti, engkau tidak berguna dan berharga bagi-Ku. Gereja adalah garam dunia, gereja adalah terang dunia, diminta oleh Allah untuk dipakai bagi dunia ini sehingga dikatakan engkau adalah garam dunia. Tetapi jikalau garam itu sudah menjadi tawar, dengan apa dia diasinkan lagi? Tidak mungkin, dan tidak ada gunanya lagi selain dibuang dan diinjak orang.

Dunia ini adalah dunia yang membutuhkan kesaksian dari Allah yang hidup. Dunia ini adalah dunia yang mau mencari sebenarnya siapa yang sungguh–sungguh sejati di tengah–tengah umat manusia yang mengaku Allahnya adalah sejati. Dan satu–satunya adalah di dalam Yesus Kristus, di dalam gereja-Nya, tetapi gereja sekarang sudah menjadikan diri persis seperti dunia dan hidup sama dengan budaya dunia. Jikalau kita ingin membesarkan kerajaan Allah, hanya melalui satu cara yaitu Kristus Yesus, salib dan kesucian harus ditegakkan. Tidak mungkin tidak. Sekarang banyak orang ingin menjadi audience pleaser, bisa diterima oleh dunia, “memiliki cara kerja, cara pikir yang sama dengan dunia. “Engkau sudah suam–suam kuku, tidak ada gunanya.” Jangan bermain–main, jangan membohongi Tuhan dan jangan membohongi dirimu sendiri. Jangan engkau menjadi orang yang melayani Tuhan dengan caramu sendiri. Lihat dan kembali kepada Firman, mari bertobat dan kemudian kita melayani Tuhan.

Saya kembali lagi, dunia ini tidak mengenali apa yang akan saya bicarakan karena ini ada di dalam Alkitab, yaitu zealous, Godly zeal. Godly zeal adalah bentukan Roh Kudus di dalam hidup kita yang menyalakan hati kita, menumbuhkan seluruh afeksi yang suci di dalam hati kita, dan mengarahkan seluruh hidup kita menuju kepada sesuatu yang benar and kudus. Di dalam Alkitab kita menemukan orang–orang yang begitu zealous bagi Tuhan bahkan di dalam seluruh emosinya yang membuat kita sebagai orang Kristen pun kebingungan. Mereka memiliki doa-doa seperti ini, “Seperti rusa yang merindukan air demikian jiwaku merindukan Engkau ya, Tuhan. Air mataku menjadi makananku siang dan malam karena sepanjang hari orang berkata kepadaku di mana Allahmu?” Di dalam kerinduannya orang ini berkata, “Biarlah aku menumpang di dalam kemah-Mu untuk selama–lamanya. Biarlah aku berlindung di dalam naungan sayap-Mu.” Ada sesuatu api dan afeksi di dalam doanya. Afeksi itu bukan untuk mengejar uang, bukan untuk mengejar harga diri, bukan unutk mengejar kenikmatan hidup, tetapi mengejar Allah. Saudara lihat di dalam pengharapan orang ini, “Aku sangat menanti–nantikan Tuhan seperti pengawal menantikan pagi hari.” Lihat kesukaannya, “Ya peringatan–peringatanMu menjadi kegemaranku, menjadi penasehat–penasehatku.” Lihat cintanya, “Aku menaikkan tanganku kepada perintah–perintahMu yang kucintai. Aku hendak merenungkan ketetapan–ketetapanMu.” Lihatlah kemarahan dan kebenciannya, “Aku menjadi gusar terhadap orang fasik yang meninggalkan taurat-Mu, aku membenci orang–orang yang membenci Engkau, aku sungguh–sungguh membenci mereka.” Lihatlah ketakutan orang ini, “Badanku gemetar karena ketakutan terhadap Engkau. Aku takut kepada penghukuman.” Seluruhnya dinyatakan di dalam doa, ia mencetuskan isi hatinya yang terdalam, pengharapannya, kerinduannya, kehausannya, cintanya, kesukaannya, kemarahannya dan ketakutannya. Bagaimanakah dengan saudara?

Orang–orang yang dipakai oleh Tuhan selalu memiliki Godly zeal, kegairahan, ketekunan, kerinduan yang besar, sesuatu hal mengharapkan dan terus menerus mengejar Allah dan tidak akan melepaskannya sampai mendapatkannya. Orang–orang yang dipakai oleh Tuhan selalu memiliki contentment di dalam hatinya, karena sadar Tuhan itu segala–galanya tetapi ia tidak pernah puas untuk berambisi melihat anugerah dan kekayaan dan kemuliaan Tuhan dinyatakan di seluruh dunia. Godly zeal. Pagi ini saya berharap, berlutut berdoa, kiranya Tuhan mengasihani kita, mengasihani gereja yang sejati, memberikan kembali api yang tidak dikenal oleh dunia ini. Api yang asing bagi dunia ini, yang mungkin aneh bagi dunia ini. Tetapi itu adalah api Surgawi dan itu adalah api Roh Kudus yang menggerakkan seluruh hamba–hamba-Nya dan dimulai dari Yesus Kristus itu sendiri. Dia diurapi oleh Roh Kudus tanpa berhingga. Suatu hari Dia datang ke Bait Suci dan melihat orang–orang berjualan. Ibadah sudah tidak lagi dipentingkan, sebenarnya seluruhnya itu adalah uang. Dari dulu sampai sekarang gereja tetap sama, menarik jemaat dengan berbagai cara dan intinya adalah uang. Mengapa tidak bertobat? Mengapa tidak jujur? Mengapa kita diam saja? Sungguh–sungguhkah kita mencintai Tuhan? Tidak pernah ada orang yang mencintai Tuhan tidak mencintai gereja. Tidak pernah ada orang yang mencintai Tuhan tidak mencintai pekerjaan Tuhan. Yesus Kristus tidak tahan melihat orang-orang berjualan di Bait Suci, Ia mengatakan, “Cinta untuk rumah-Mu membakar Aku”, maka diporakporandakan orang-orang yang berjualan itu. Saudara tidak mungkin akan mengerti gerakan Tuhan, jika tidak memiliki Roh Kudus. Tetapi jikalau saudara–saudara memiliki Roh Kudus, maka saudara akan tahu bahwa itu adalah pemurnian/penyucian.

Suatu hari Paulus diminta oleh seluruh jemaatnya untuk tidak pergi karena baru saja Nabi Agabus bernubuat bahwa sebentar lagi Paulus akan pergi ke Roma dan mengalami begitu banyak penganiayaan. Jemaatnya begitu mengasihi Paulus dan menahannya untuk tidak pergi. Tetapi Paulus mengatakan, “Kamu jangan mendukakan hatiku, jangankan dianiaya, mati bagi Kristus aku mau.” Lalu Paulus pergi dan sampai akhirnya dia mati. Jikalau bukan Roh Kudus yang menerangi kita, bagaimana kita dapat mengerti ayat ini? Semua orang inginnya lari dari kematian. Tetapi orang yang memiliki api dari Tuhan, ketaatan kepada Tuhan diutamakan. Maka kemudian dia pergi ke sana untuk menjalani seluruh penderitaan sampai akhirnya dia mati. Ketika saya melihat seperti ini, saya menyadari hidup saya itu miskin sekali. Roh yang menggerakkan Paulus itu kiranya Roh yang menggerakkan aku. Kita harus meminta pertolongan Tuhan untuk digerakkan oleh Roh yang sama.

Suatu hari ketika Musa sudah sampai di perbatasan tanah Kanaan, Tuhan mengatakan, “Masuklah, Aku akan meminta malaikat-Ku memimpin engkau. Masuk ke tempat negeri yang berlimpah dengan susu dan madunya, dan seluruh malaikat-Ku akan memerangi mereka dan akan menghancurkan seluruh kota demi kota. Masuklah Musa, bersama dengan malaikat-Ku tetapi Aku tidak akan menyertai engkau.” Lalu Musa mengatakan: “Kalau Engkau Tuhan tidak menyertai kami, jangan biarkan aku melangkah satu langkah dari tempat ini.” Ketika melihat Musa seperti ini, mungkin saudara mengatakan Musa bodoh karena itu beyond pengertian manusia pada umumnya. Tuhan yang mengatakan akan memberikan berkat-Nya, memberikan malaikat-malaikat-Nya mengapa Musa tidak mau? Jawabannya adalah karena ada Godly zeal di dalam hati Musa. Sekarang hanya sedikit orang di dunia ini di dalam gereja Tuhan yang memilikinya.

Hari ini saya akan berbicara apa yang Alkitab itu nyatakan, dan apa yang bapak–bapak Gereja, khususnya orang–orang Puritan ketika bicara mengenai Godly zeal. Kalau saudara membaca buku–buku Puritan, dua kata ini akan digabungkan. Mereka adalah orang yang Godly, orang yang saleh, takut akan Tuhan dan mereka adalah orang zealous, orang yang berapi–api, orang yang berambisi, orang yang sungguh–sungguh memiliki kegairahan besar bagi Allah.

Beberapa karakteristik dari Godly zeal:

(1) Orang yang Godly zeal adalah orang yang zeal-nya itu dijagai dan lahir dari Firman. Zealous yang sejati. Kegairahan, kerajinan, ketekunan, kecemburuan yang suci dari Firman dan dibatasi oleh Firman. Orang yang memiliki kegairahan bagi Tuhan yang sejati, ketika orang tersebut membaca Firman setiap hari, sungguh–sungguh mau meneliti perintah–perintah-Nya dan menyimpan di dalam hatinya, kemudian saudara lihat dia begitu rajin, itu adalah sesuatu yang sejati. Tetapi jikalau seseorang hanya di dalam gereja, tidak membaca Firman, tidak mengerti Firman, maka itu adalah bukan Godly zeal, itu adalah performance zealous. Banyak orang tidak mau pergi ke gereja yang sama kalau tidak ada pelayanan. Tidak ada ketekunan. Tidak ada gairah untuk mengejar Tuhan. Tidak baca Firman Tuhan. Itu adalah sesuatu kepalsuan. Itu performance. Godly zeal selalu akan muncul dari Firman. Selalu akan muncul dari pengenalan akan Allah. Karena melihat Allah itu begitu mulia di dalam Firman-Nya. Itu yang membuat seseorang gentar dan mau seumur hidup melayani Tuhan dalam bentuk apapun saja. Dan di dalam setiap pelayanan selalu sangkal diri, pikul salib.

Ketika berbicara berkenaan tentang Godly zeal, Biblical zealous, zeal yang lahir dan juga dijagai oleh Firman, bukan liar. Banyak orang di dalam gereja kelihatan sungguh–sungguh bagi Tuhan, orang itu kadang–kadang mengeluarkan karunia–karunia Roh yang begitu seakan–akan hebat, berkobar bagi Tuhan tetapi sebenarnya adalah sesuatu yang liar. Di dalam Alkitab, anak–anak Harun memberikan satu api yang asing, demikian kata Firman Tuhan. Kelihatannya sama, api. Tetapi Tuhan katakan tidak, ini api asing. Perhatikan apa yang dikatakan oleh Thomas Brooks, seorang Puritan. Godly Zeal itu seperti api. Jika api itu berada di dalam tungku perapian, maka akan menjadi pelayan yang baik. Tetapi jika di luar tungku perapian itu, akan menjadi tuan yang buruk. Artinya adalah bahwa sama seperti saudara–saudara memiliki api di dalam tungku, maka tungku dengan api itu akan sangat bermanfaat bagi kita. Saudara bisa membakar jagung, membakar roti, bisa merebus air di sana, saudara bisa lakukan. Tetapi jikalau api itu keluar dari tungku itu, maka yang terjadi adalah rumah kita akan terbakar. Perhatikan baik–baik, zealous yang sejati tungkunya itu, batasannya adalah Firman. Zeal yang sejati dijagai oleh knowledge and wisdom kepada the Word of God. Dan itu adalah tanda dari yang dimiliki oleh Kristus dan orang–orang yang dikuduskan-Nya. Api yang sejati yang dari Surga selalu ada kaitannya dengan mengenal Firman. Zealous yang sejati adalah biblical zealous, lahir dan dibatasi dengan pengenalan dan arti yang ada di dalam Firman.

(2) Mereka memiliki kegairahan yang besar bagi kehormatan Allah. Api itu akan muncul ketika gereja Tuhan dirusak, gereja Tuhan disesatkan, kemunafikan merajalela, dan dosa merebak, bukan karena merasa diri dirugikan. Di dalam Perjanjian Lama, Tuhan menyatakan kepada Pinehas, yang baru saja membela kehormatan Tuhan. Tuhan mengatakan kepada dia, dia begitu giat membela kehormatan Allah tetapi sebenarnya bukan God-centered tetapi self-centered. Banyak orang tidak peduli kalau gereja dirusak, kalau gereja itu kemudian sesat, tidak peduli untuk seluruh kemunafikan yang terjadi di dalam gereja. J.C. Ryle mengatakan seseorang yang tidak memiliki zeal against error pada dasarnya dia tidak memiliki zeal for truth. Kalau saudara dan saya sebenarnya tidak peduli akan kesesatan, saudara dan saya sebenarnya tidak peduli akan kebenaran. Lihat seluruh orang yang dipakai oleh Tuhan, yang dipimpin, yang Roh Kudus itu hadir menggerakkan hatinya dan kemudian memiliki Godly zeal adalah orang–orang yang mau mengejar kehormatan bagi Allah di dunia ini, ingin kemuliaan Allah melingkupi seluruh bumi, memiliki visi yang tidak dilihat oleh mata manusia. Seluruh mata manusia memandang ke bawah, kepada uang, tetapi dia memandang ke atas, kepada nama Tuhan yang dipermuliakan bagi seluruh, di atas seluruh bumi.

Suatu hari nabi Elisa, ketika Elia sudah meninggalkan dia dengan diangkat oleh kereta yang ada dari Surga. Elisa sendiri tidak tahu harus seperti apa, banyak orang Israel yang masih mendukakan Tuhan. Elisa sendiri merasa apakah mungkin dia dipakai seperti Elia.  Maka kemudian di dalam doanya, dengan zealous yang masuk menjelajah seluruh nadinya, membakar hatinya dan dia berteriak meminta Tuhan bekerja sekali lagi bahkan meminta dua bagian dari apa yang Tuhan kerjakan bagi Elia. Sekarang di mana teriakan seperti itu? Di mana api itu lagi? Sudah tidak ada.

Yeremia mengatakan ada sesuatu api di dalam tulangku, seperti dalam sekam aku mau tahan untuk tidak bicara tentang Tuhan, karena Yeremia adalah salah satu orang yang paling sulit sekali dalam pelayanannya, dia pernah mengutuki hari lahirnya. Dia mengatakan, “Oh adalah sesuatu yang baik jikalau pada waktu itu, tempat kuburanku adalah kandungan ibuku, kalau aku pada waktu itu tidak melihat matahari dan tidak ada satu orangpun yang meneriakkan kegembiraan karena Yeremia sudah lahir, oh alangkah bahagianya waktu itu. Celakalah, celakalah engkau yang meneriakkan bahwa Yeremia sudah lahir, celakalah engkau yang berbahagia karena kelahiranku, karena sebenarnya aku begitu sangat menderita dan aku mau menyembunyikan namaMu, aku mau mengkatupkan mulutku, dan aku tidak akan menyebut–nyebut Engkau lagi dan aku mau berdiam diri, tetapi ketika aku berdiam diri api itu menjalar di seluruh sendiku, aku tak sanggup untuk menahannya, api itu mendorong aku untuk hidup menyatakan dan mengabarkan kehormatan Allah”. Di mana gereja atau orang yang berdoa seperti itu?

(3) Zeal yang menuntut akan diri. Godly zeal bukan ditujukan untuk terus menuntut orang lain. Allah akan memproses diri kita terlebih dahulu. Orang–orang yang memiliki zealous yang suci akan memaksa diri, menuntut diri, mengintrospeksi diri, mengkoreksi diri terlebih dahulu. Mematikan dosa diri terlebih dahulu, taat kepada Allah terlebih dahulu, mendengar Firman bukan memikirkan orang lain tetapi kepada diri kita terlebih dahulu. Zeal yang sejati akan mulai dari sincere examination of self, demikian orang–orang Puritan mengatakan. Jikalau saudara mengikuti satu pemimpin yang hanya bisa bicara tetapi tidak mau kerja itu bukan Godly zeal. Yang menyuruh saudara untuk memberikan persembahan, tetapi dia tidak memberikan persembahan yang terbaik itu bukan Godly zeal. Kalau menyuruh seseorang pikul salib, dia sendiri tidak pikul salib. Godly zeal menginginkan kebangunan tetapi mulai daripada diri, menginginkan nama Tuhan dipermuliakan tetapi mulai daripada ketaatan diri.

Terhadap hal ini saya akan memberikan sedikit catatan, mungkin banyak saudara–saudara yang tidak suka dengan apa yang disebut dengan gerakan radikal. Tetapi saya mau luruskan kata radikal ini. Radikal dari kata radix, radix artinya akar. Kalau kita tidak suka dengan kata ini, apakah saudara suka dengan orang yang munafik, orang yang bertindak bukan dari dalam hatinya? Ketika berbicara mengenai Godly zeal, saudara akan berpikir bahwa ini adalah bagian dari radikalisme. Lihat, Yesus Kristus radikal atau tidak? Yesus Kristus mengatakan kepada jemaat di Laodikia, “Karena kamu tidak panas, karena kamu tidak dingin, maka Aku akan memuntahkan engkau”. Intinya adalah dengan menggunakan satu kata radikal itu, saya mengatakan kita harus radikal bagi Allah. Apa arti radikal bagi Allah? Perhatikan baik–baik, prinsip dari Alkitab, api di dalam peperangan rohani bukan dilawan dengan air, api dilawan dengan api! Ibrani 1:7 Allah itu membuat malaikat–malaikat-Nya, membuat pelayan–pelayan-Nya, pelayan–pelayan api. Ini adalah api yang kudus, dari Tuhan, urapan Roh Kudus, api yang menuntut diri, menyangkal diri, memikul salib. Ketika bicara mengenai radikalisme di dalam kekristenan, radix, orang yang bekerja dari akarnya itu hidup berdedikasi bagi Allah. Di dalam kekristenan kalau kita bicara mengenai radikal, kita yang mati, kita yang disembelih, kita yang dianiaya, kita yang harus sangkal diri, kita yang harus pikul salib, kita harus menahan diri kita, kita harus mendoakan musuh kita, kita yang dirugikan, itu adalah Godly zeal.

Samuel Ward menyatakan api zealous surgawi ini sama dengan ketakutan kepada kematian tetapi bagi setan. Setan tidak takut ketika kita itu memuji–muji Tuhan, di dalam gereja, nyanyi dalam koor, kita bahkan melayani biasa saja tetapi setan itu takut kepada orang-orang Kristen yang memiliki Godly zeal, takutnya persis seperti seseorang mau berhadapan dengan kematian. Di dalam kitab Wahyu ada satu tulisan, dan mereka mengalahkan seluruh musuh itu dengan darah Anak Domba dengan perkataan kesaksian mereka dan tidak menyayangkan hidup mereka sendiri masuk ke dalam kematian. Godly zeal adalah api yang membakar untuk diri, menuntut diri lebih berjuang, menuntut diri menyangkal salib, menuntut diri untuk hidup lebih suci, menuntut diri untuk mematikan dosa.

(4) Godly zeal, kudus dan aktif bertindak. Selalu mendedikasikan diri pada tugas yang diberikan kepada kita untuk Injil. Thomas Brooks menyatakan, jiwa yang memiliki Godly zeal selalu bertanya kepada diri, apa yang dapat aku berikan bagi Allah lagi? William Ames menyatakan seorang Kristen yang memiliki Godly zeal selalu siap untuk melakukan seluruh tugas yang Tuhan tempatkan di atas kepalanya, bahkan itu mungkin suatu tugas yang sangat sulit bagi dia, bahkan mungkin melampaui kemampuan manusia untuk menanggungnya. Karena dia memuliakan Allah, karena dia ingin hidup untuk menyenangkan hati Allah, hanya Allah saja, maka ketika ada tugas bahkan paling sulitpun dia akan meminta kekuatan dari Tuhan itu. Ini adalah orang–orang yang hidup aktif bergairah dan bergelora bagi Allah yang keluar dari comfort zone. Saya tidak katakan saudara harus meninggalkan segala sesuatu yang rutin, tidak. Di dalam kerutinan itu pun kita bisa Godly, memiliki Godly zeal.

Perhatikan baik-baik apa yang saya mau bicara di bawah ini, zealous yang Godly adalah zealous yang aktif bertindak di hadapan Tuhan, tuntutan kita bukan tidak melakukan kesalahan apapun, tetapi kita dipanggil bersama–sama untuk menjadi hamba Tuhan, saudara dan saya adalah sama–sama full time hamba Tuhan di dalam ketaatan kepada Pemimpin kita. Kita dipanggil full time hidup bagi Allah.

Richard Baxter mengatakan, apakah engkau berpikir bahwa Tuhan memiliki banyak hamba namun tidak mempunyai pekerjaan untuk hambanya lakukan? Akankah seorang di antara kalian yang akan memuji dan menghadiahi hambamu karena tidak berbuat apa–apa? Dan kemudian merasa puas apabila hambamu itu pada akhir tahun berkata kepadamu, aku tidak melakukan kesalahan apapun. Allah memanggil engkau tidak semata–mata untuk tidak melakukan kesalahan, namun untuk mengasihi Dia dan melayani-Nya dengan segenap hati, jiwa dan kekuatan. Apabila kini engkau memiliki tuan yang lebih baik daripada tuan yang sebelumnya, tidakkah engkau seharusnya bekerja lebih keras dari sebelumnya? Tidakkah engkau akan melayani Allah dengan lebih berapi–api daripada engkau dulu melayani setan? Apabila engkau adalah orang percaya sejati, engkau kini telah meletakkan pengharapanmu di Surga, maka carilah, kejarlah hal–hal surgawi seperti orang–orang dunia memilih dan mencari dan mengejar hal–hal duniawi. Lihat bagaimana orang dunia mengejar dunia ini, membayar berapa pun saja harganya, mendedikasikan hidupnya untuk segala sesuatu yang nantinya mati. Tetapi mengapa gereja Tuhan yang sudah ditebus, sama dengan dunia? Kiranya Tuhan mengasihani kita, memberikan kepada kita roh-Nya, urapan dan api-Nya kepada kita semua untuk kita memiliki Godly zeal.

Arti Panggilan: Follow Me (5)

Pengkotbah: Pdt.Agus Marjanto, M.Th.
Nats: Matius 4:18-25

“Mari, ikutlah Aku, dan engkau akan Kujadikan penjala manusia” demikian kata Tuhan Yesus. Ini adalah kehendak Allah bagi kita. Salah satu kehendak Allah yang paling penting adalah mengikut Kristus. Dia akan membentuk, memproses dan menjadikan kita penjala manusia. Ini adalah isi hati-Nya yang dinyatakan sendiri dari lidah bibir-Nya yang menciptakan alam semesta. Dia memanggil kita dari hidup yang gelap, yang hina dan tidak berharga untuk mendekat dan dan dibentuk oleh Dia menjadi hidup yang mulia, yang indah, yang berharga, dan yang bahagia. Mengikut Kristus adalah kebahagiaan yang sejati. Banyak orang tertipu oleh setan yang mengatakan, “Kalau engkau mengikut Tuhan, maka engkau tidak akan mendapatkan kebahagiaan, hidupmu sulit, harus memikul salib dan menyangkal diri, itu sulit.” Saya katakan memang itu bukan sesuatu yang mudah, tetapi ketika kita mengerti inti dari apa yang Kristus katakan, maka kita akan menemukan sukacita tertinggi, kebahagiaan tertinggi, karena mengikut Dia bukan mengikut dengan hati yang terus menerus menangis. Ada sesuatu keindahan ketika kita mengikut dan taat kepada Kristus. Apakah jiwa kita menginginkan kebahagiaan? Jikalau ya, maka ikuti kalimat Dia. Apakah hidupmu itu menginginkan sesuatu pembaharuan, dan sesuatu yang mulia? Jikalau ya, saya tantang engkau taati Firman. Maka engkau akan mengerti itu adalah hidup yang paling bahagia. Bahkan di dalam ayat ini, D.L. Moody, seorang pengkotbah Injili yang sangat diurapi oleh Tuhan mengatakan, “Jika engkau ingin mendapatkan kebahagian untuk dirimu sendiri, maka beritakan Injil dan engkau akan mendapatkan kebahagiaan yang belum pernah engkau alami dan dunia tidak bisa memberikannya”

Kebahagiaan dan sukacita Kristen itu lain dengan dunia. Yesus Kristus sendiri mengatakan, “Aku akan memberikan sukacita dan dunia tak mungkin akan memberikan sukacita seperti itu. Aku akan memberikan damai sejahtera-Ku kepadamu dan dunia tak mungkin bisa memberikannya.” Itu berarti engkau tidak dapat membelinya di toko dan bahkan pergi ke tempat yang jauh sekalipun engkau tidak mungkin mendapatkannya. Itu hanya didapatkan jikalau engkau di dalam Kristus dan taat kepada-Nya. Ketaatan kita adalah untuk kemuliaan Tuhan. Benar! Tetapi pada saat yang sama, maka satu hal yang integrasi dengan hal itu, ketika Allah dipermuliakan, jiwa kita akan melonjak kegirangan. Ini adalah rahasia rohani yang kita harus berani melangkah dengan iman.

Saya sudah bicarakan berkenaan dengan ayat ini, “Kamu akan Ku-jadikan penjala manusia,Follow Me, Peter,” lalu kemudian Petrus mengikut Yesus. Petrus lalu melihat Yesus mengajar dan memberitakan Injil dari kota ke kota. Saya sudah berbicara berkenaan dengan apa itu Injil dan panggilan gereja yang sejati. Injil itu sekali lagi adalah sesuatu pembukaan, pewahyuan, pernyataan kekayaan hikmat Allah, yaitu Yesus Kristus itu sendiri yang tidak terjangkau dan tersembunyi berabad-abad. Injil itu berharga. Injil itu mulia. Injil itu dinantikan oleh bangsa-bangsa. Injil adalah jawaban dari seluruh jeritan hidup manusia, karena di dalam Injil-lah satu-satunya ada kelepasan dan kemerdekaan. Di luar Injil, di luar Kristus, kita tidak mungkin mendapatkan keselamatan dan jawaban. Di luar Kristus, jiwa kita tidak mungkin penuh adanya. Barangsiapa yang bisa melihat Injil, akan mengabdikan seluruh hidupnya bagi Injil karena Injil itu begitu mulia. Suatu hari Yesus Kristus mengatakan, “Kerajaan Allah itu adalah seumpama seseorang yang pergi bekerja di satu tempat dan ketika dia menggali tempat itu, dia temukan harta terpendam. Ketika dilihat begitu berharganya harta itu, maka dia pendamkan lagi harta itu, lalu dia pulang, dia jual seluruh miliknya, dan setelah dia jual seluruh miliknya, uangnya dibawa ke tempat orang itu, aku mau beli tanah ini.” Itu mau menyatakan betapa mulianya harta itu, tidak terbanding dengan apapun saja yang dia miliki. Berarti semua harga yang dia simpan bertahun-tahun dari hasil bekerja tidak sebanding dengan harta yang terpendam itu. Itulah Injil. Jikalau kita dicelikkan betapa mulianya Kristus, betapa mulianya Injil, maka kita akan memberikan apapun saja di dalam hidup kita untuk Injil, karena begitu berharga, melebihi daripada seluruh kehidupan kita. Itulah sebabnya kita menemukan orang-orang yang dipakai oleh Tuhan, mereka bukan saja menyerahkan uangnya, tenaganya, tetapi mereka menyerahkan seluruh kehidupannya.

Saya sudah berbicara berkenaan dengan gereja yang sejati adalah gereja yang berdiri di depan dunia dan setan untuk berperang mengabarkan Injil. Proclaim the gospel. Gereja tidak ditentukan untuk mengumpulkan orang Kristen. Gereja itu ditentukan untuk menyatakan Kristus di tengah-tengah dunia dan Kristus di tengah-tengah kita dan Kristus itu menjadi Raja atas seluruh dunia, seluruh aspek hidup, dan Raja di dalam hidup kita. Itu adalah tugas gereja. Alkitab mengatakan sampai seluruh kepenuhan Kristus ada di dalam segala sesuatu. Gereja itu panggilannya adalah proclaim the gospel. Saya akan melanjutkan ayat ini: “Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia”. Penjala manusia adalah mencari dan membawa jiwa-jiwa kepada Kristus. Maka ini adalah sesuatu hal yang penting. Saya akan berbicara mengenai aplikasi praktis di dalam ayat ini dan saya akan khususnya berbicara berkenaan dengan 3 keinginan murni dari penjala manusia untuk kita mengerti bagaimana menerapkan ayat ini.

  1. Keinginan penjala manusia adalah Kerajaan Allah diperluas lebih daripada gereja lokal.

    Setiap gereja lokal itu penting karena di dalam gereja lokal Allah mengajar kita bersekutu, beribadah bersama-sama, diperlengkapi untuk pelayanan, dididik untuk mengenal Allah melalui pembacaan Alkitab secara teratur. Gereja lokal yang baik akan mendidik jemaatnya untuk mengasihi Kerajaan Allah jauh lebih besar daripada gerejanya sendiri. Saudara mungkin akan mengalami gesekan dan kesulitan di dalam gereja lokal, tetapi gereja lokal itu dipakai oleh Tuhan untuk menumbuhkan iman saudara, mendidik dan memperlengkapi di dalam pelayanan, membuat saudara bertumbuh untuk semakin serupa dengan Kristus. Tetapi Alkitab dengan jelas mengatakan bahwa kita harus mengasihi Kerajaan Allah lebih daripada gereja lokal, karena di situlah hal yang paling utama. Lalu bagaimana penerapannya? Perhatikan baik-baik, kita harus membawa jiwa-jiwa untuk mengenal Kristus dan masuk di dalam gereja, tetapi bukan dengan cara mengambil anggota gereja lain. Bukanlah sesuatu yang berguna di dalam Kerajaan Allah jika kita membangun gereja kita dan menghancurkan gereja tetangga kita. Ketika kita mengabarkan Injil, dan kemudian orang itu bertobat dan berkeinginan masuk ke dalam gereja yang lain dan bukan gereja kita, asalkan gereja itu adalah gereja yang sejati, maka kita harus mendoakan dan mendukung dia, kecuali gereja yang dia masuki itu adalah sesat, doktrinnya tidak beres, hamba Tuhannya main-main di dalam keuangan, seks, dosa, dan tidak bertobat. Kita harus memiliki hati yang luas. Kabarkan Injil ke manapun saja dan selanjutnya doakan orang yang di Injili tersebut. Kita harus mengasihi Kerajaaan Allah lebih daripada gereja kita sendiri. Jadi, aplikasi dari keinginan yang murni dari penjala manusia adalah Kerajaan Allah diperluas lebih daripada gereja lokal. Jangan mencintai gereja ini lebih daripada Kerajaan Allah. Saudara harus mencintai gereja Tuhan secara keseluruhan di dunia. Saudara harus mendoakan mereka. Kita harus berlutut untuk gereja-gereja, khususnya yang dianiaya. Air mata kita harus ada untuk gereja-gereja yang hamba-hamba Tuhannya itu menyeleweng dan kita minta kiranya Tuhan memberikan pertobatan sambil kita berdoa seperti itu sambil kita mengoreksi diri kita. Biarlah kita boleh murni di dalam hal ini.

  1. Keinginan penjala manusia yang murni adalah jikalau jiwa orang lain diselamatkan di dalam Kristus.

    Ini adalah keinginan adanya suatu perubahan hidup (conversion), adanya kelahiran baru, perubahan dari hati ke seluruh hidup. Dari hidup untuk dosa, sekarang hidup bagi Allah. Dari hidup yang berpusatkan pada diri, sekarang hidup yang berpusatkan pada Allah, dan itu adalah keinginan hati kita untuk mengabarkan Injil. Maka yang paling penting ketika menginjili seseorang adalah hatinya dijangkau dan dibawa untuk takluk kepada Kristus. Keinginan penjala manusia, adalah hati manusia. Keinginan penjala manusia adalah melihat Kristus dipertuhankan di dalam hidupnya, sama seperti Kristus dipertuhankan dalam hidup kita. Keinginan penjala manusia yaitu adanya perubahan hidup dari kegelapan menuju kepada terang. Keinginan penjala manusia adalah seperti yang dikatakan nabi: “Dengarlah dan taatilah dan keselamatan akan datang ke dalam rumah tanggamu”. Keinginannya adalah mencari hati untuk diperkenalkan kepada Kristus dengan tujuan pertobatan. Saya katakan hal ini karena ada manipulasi besar yang terjadi di dalam gereja. Di dalam mempersiapkan kotbah ini, saya membaca Firman, berdoa, dan membaca buku-buku berkenaan dengan penjangkauan jiwa, saya sangat terkejut dalam tulisan Charles Spurgeon. Dia menyatakan bahwa dia banyak menemui orang-orang yang baik, yang mulai tertarik dengan kekristenan, mau tahu apa itu kekristenan, mau tahu siapa itu Kristus, lalu hamba Tuhan gereja itu tahu orang itu, lalu hamba Tuhan itu cepat-cepat menarik orang itu, diberikan pelayanan, dan diberikan kedudukan di dalam gerejanya, sehingga orang tersebut seakan-akan sudah masuk di dalam tubuh Kristus, lalu kemudian hamba itu akhirnya bisa mengatakan, “Lihat gerejaku bertumbuh, bukan? Lihat jemaatku makin banyak bukan yang berkomitmen?” Spurgeon mengatakan: Usaha ini akan menghasilkan kemunafikan.” Tanpa pengujian, tanpa memperhatikan pimpinan Roh Kudus, maka orang-orang baru ini cepat-cepat dimasukkan di dalam pelayanan dan aktivitas gereja, pertumbuhan gereja seperti ini, demikian kata Spurgeon, bukan asli menjala manusia, ini mendukakan Roh Kudus dan usaha seperti ini bergabung dengan setan (evil). Yang diutamakan oleh hamba Tuhan itu bukan jiwa jemaatnya, tetapi jumlah jemaatnya.

    Saya tidak katakan bahwa saya lebih baik daripada orang lain atau gereja ini lebih baik daripada gereja lain, tetapi biarlah kalimat-kalimat ini boleh mengintrospeksi kita dan menjagai kita dan biarlah kita, saya sebagai hamba Tuhan, atau pengurus, atau jemaat di tempat ini, atau GRII Sydney, saudara-saudara menjagai hidup kita, jiwa kita, pelayanan kita dengan hal-hal dari peringatan Spurgeon seperti ini sehingga seumur hidup, seumur gereja ini, sampai Kristus datang, kita dilihat sebagai orang yang sungguh-sungguh berjuang, tetapi murni adanya. Jikalau kita mau melayani di gereja ini, ujilah terlebih dahulu, perhatikan baik-baik seluruh langkah kami. Kami terbuka untuk seluruh ujian, dan kalau saudara melihat ada sesuatu penyelewengan tidak beres, tidak suci dan ada hal yang  disembunyikan, saudara boleh langsung untuk tidak pergi ke gereja ini. Tetapi kalau Tuhan itu menyertai kami, kalau Tuhan itu memimpin kami, dan saudara bisa melihat Tuhan itu hadir di tengah-tengah kami dan Tuhan meletakkan urapan-Nya dan tangan-Nya dan pimpinan-Nya dan api-Nya dan jalan-Nya itu jelas, maka saya mengundang saudara-saudara untuk beribadah kepada Tuhan dan minta urapan dan minta api berjuang bersama-sama. Tetapi sebelum itu ada, saudara uji terlebih dahulu.

    Saudara-saudara biar kita boleh mengerti kemurnian dari penjala manusia. Jikalau saudara pergi mengabarkan Injil, ingatlah yang paling penting adalah hati orang tersebut diubahkan dan menuju kepada Kristus bukan untuk menambah jumlah jemaat. Itu urusan Tuhan. Ada gereja-gereja sudah berjuang menjadi besar, ada gereja-gereja sudah berjuang tetap kecil, biar itu kehendak Allah jadi. Tetapi yang paling penting berjuang dengan hati nurani yang murni dan minta pertolongan Tuhan, kabarkan Injil. Lihat orang-orang yang dipakai oleh Tuhan, mereka memiliki kemurnian yang luar biasa. Saya akan bacakan bagaimana keinginan dari Charles Spurgeon untuk mengabarkan Injil, untuk menjangkau jiwa, untuk membawa hati dan manusia kepada Tuhan. Lihat apa yang dia katakan seperti ini, “Jikalau mereka harus binasa,” demikian kata Spurgeon, “maka biarlah binasa dengan tangan kita memegang kakinya dan terus memohon mereka untuk berhenti dan tidak gila menghancurkan diri mereka sendiri. Jikalau neraka harus diisi, minimal biarlah diisi setelah kita bekerja keras dan janganlah neraka diisi dengan satu orang pun yang belum kita ingatkan dan belum kita doakan”. Charles Spurgeon adalah orang yang terus-menerus mencari jiwa, mencari hati manusia dan bukan untuk jumlah jemaat.

  1. Keinginan murni dari penjala manusia adalah keutuhan Injil diberitakan.

    Seorang penjala manusia ingin Allah yang sejati makin dikenal dan ditakuti. Allah yang sejati dikenal dan ditakuti jika dan hanya jika keutuhan Injil, keseluruhan Injil itu diberitakan. Penjala manusia yang murni, tidak menawarkan Injil yang tidak lengkap, tidak memanipulasi Injil, tidak memperlunak Injil sehingga orang-orangnya lebih mudah untuk menerima. Berapa sering di dalam hidup kita, kita hanya mengabarkan tentang Yesus mencintai engkau, Yesus memberkati engkau saja. Kristus mengasihi dan memberkati kita, pasti benar! Kita tentu mengingat Yohanes 3:16, “Karena Allah begitu mengasihi dunia ini, sehingga dikaruniakan Anak-Nya Tunggal sehingga setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal.” Kita terus menawarkan itu kepada dunia, kita sedang memanipulasi Injil dan kita sedang menipu dunia karena saudara tidak mengkotbahkan ayat selanjutnya (ayat 17), “Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak dihukum tetapi barangsiapa tidak percaya, ia sudah berada di bawah hukuman.” Mengapa kita selalu menyatakan hal-hal yang mau didengar oleh telinga manusia tanpa ada sesuatu barrier? Injil sejati kalau itu diberitakan selalu menjadi berita yang tidak pernah populer dari dulu. Bahkan Yesus pun seakan-akan gagal untuk hal itu. Mengapa kita berpikir bahwa kita akan memperlunak Injil dan kita akan menyatakan sesuatu hal yang pasti lebih berhasil? Itu bukan Injil sama sekali. Jikalau kita ingin membuat orang makin mudah menerima Injil bukanlah dengan cara Injil dimanipulasi, tetapi kita, sebagai pemberitanyalah yang harus makin inkarnasi. Kita yang harus sangkal diri dan pikul salib dan mengikut Kristus. Karena barrier terbesar dari pemberitaan Injil adalah diri kita dan bukan isi Injil itu. Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan, Injil adalah hikmat Allah. Mungkin saudara-saudara tidak mengatakannya tetapi saudara-saudara memperlakukannya seakan-akan kita lebih berhikmat. Allah menyatakan ada berkat, Allah menyatakan ada hukuman. A.W. Pink menyatakan kalau saudara-saudara melihat seluruh isi Alkitab, maka hukuman Allah jauh lebih besar daripada kalimat cinta Allah. Kata-kata yang negatif, kata-kata yang menyerang manusia, kata-kata yang membuat manusia harus bertobat, kata-kata murka Allah jauh lebih banyak daripada kata-kata Tuhan mencintai manusia. Kita sudah memanipulasi Injil. Kita menjala manusia dan dengan sesuatu penipuan Injil yang sebenarnya Injil hanya separuh saja yang dinyatakan dan kemudian kita membawa orang-orang banyak pergi ke gereja karena selalu menginginkan berkat, segala sesuatu yang sifatnya materi, maka itu bukan menjala manusia. Dan saudara akan tahu orang-orang yang seperti itu bukan orang-orang Kristen yang sejati.

    Di dalam Yohanes 6, ada satu peristiwa yang sangat terkenal, Yesus memberi makan 5000 orang. Jika ditambah anak-anak dan perempuan maka itu diperkirakan 10000-12000 orang, begitu banyak. Dan setelah Yesus memberi makan orang banyak seperti itu, perhatikan ayat yang ke-14-15, “Ketika orang-orang itu melihat mujizat yang telah diadakan-Nya, mereka berkata ini adalah benar-benar nabi yang akan datang ke dalam dunia. Karena Yesus tahu, bahwa mereka hendak datang dan hendak membawa Dia dengan paksa untuk menjadikan Dia, Raja, Dia menyingkir pula ke gunung seorang diri.” Bukankah Yesus akan menjadi Raja? Bukankah Dia Raja atas segala raja? Dia Nabi di atas segala nabi? Dia Imam di atas segala imam? Bukankah ini yang menjadi kehendak Dia? Bukankah ketika saya dan seluruh hamba Tuhan berkotbah dan kalau saudara-saudara itu pergi ke jalanan dan memberitakan Injil kemanapun saja bukankah saudara dan saya berkata Yesus adalah Raja? Dan bukankah ribuan orang ini sudah menerima iman seperti ini? Apakah Yesus Kristus menerima mereka? Jawabannya adalah tidak! Apakah Yesus Kristus menghargai iman seperti ini? Jawabannya adalah tidak! Apakah Yesus itu senang dengan hal ini? Jawabannya tidak! Apakah Yesus kemudian menerima bahwa ya, Aku Raja, engkau sudah diselamatkan semua karena engkau sudah mengatakan kepada-Ku bahwa Aku Raja? Tidak! Dia menyingkir, Dia tidak mempercayakan diri-Nya kepada iman seperti ini, karena ini bukan iman yang sesungguhnya. Iman yang lahir hanya dari mujizat, saudara harus terus berani untuk mengujinya. Tuhan pasti memberikan mujizat. Tuhan pasti memberikan berkat. Tetapi jangan berpikir bahwa Dia selalu akan memberikan mujizat kepada kita seturut dengan kehendak kita, karena Dia adalah Raja dan kita adalah bawahannya, bukan terbalik. Mereka menginginkan Yesus, membawa Yesus, untuk menjadi Raja. Yesus katakan, tidak!

    Sebaliknya ada satu peristiwa yang sangat mendukakan yaitu peristiwa di atas Kalvari, di atas kayu Salib, dan ada seorang penjahat yang tadinya mencemooh Yesus dan akhirnya kemudian dia bertobat. Roh Kudus bekerja di dalam hatinya, dia melihat Yesus Kristus dengan tangan yang sangat penuh dengan darah, dengan tubuh yang terpanggang matahari dan tidak ada harapan untuk hari besok dia tetap hidup, tidak ada satu mujizat pun dibuat untuk orang itu. Orang itu dengan air mata mengakui dosanya, Roh Kudus bekerja dalam hatinya, dia mengatakan, “Yesus, jikalau Engkau menjadi Raja, ingat aku.” Dan Yesus mengatakan, “Hari ini juga engkau akan bersama dengan Aku di Firdaus!” Ini adalah Injil yang murni, Injil yang seutuhnya.

    Perhatikan, satu bergerak, Engkau Raja, di belakangnya berkat. Satu bergerak, Engkau Raja, di belakangnya ada hukuman. Satu bergerak, Engkau Raja, belakangnya mujizat. Satu orang bergerak, Engkau Raja, di belakangnya salib. Begitu banyak orang Kristen di dunia memberikan puji-pujian bahwa Yesus adalah Raja, hanya Yesus yang tahu siapa yang sungguh-sungguh di dalam hatinya itu, imannya adalah benar adanya. Biarlah kita boleh mengerti dan menyatakan Injil yang murni.

Ketika saya memikirkan hal ini, sekali lagi, saya sangat terpesona dengan tulisan Charles Spurgeon, “Sekarang begitu banyak gereja yang menampilkan acara untuk menggairahkan perasaan dan jiwa seseorang.” Spurgeon mengatakan, “Salah satu tanda kebangunan adalah memang kegairahan. Tidak ada kebangunan rohani yang silent. Bagaimana mungkin ada bom yang meledak tetapi tidak ada debu-debu yang beterbangan. Bagaimana mungkin ada kebangunan rohani tetapi tidak ada kegairahan rohani. Tetapi ingatlah, bahwa bom itu bom dan debu itu debu. Kegairahan adalah debu itu.” Spurgeon menyatakan, “Di dalam gereja, banyak atraksi yang ditampilkan yang membuat kegairahan debu seperti itu. Ada yang beratraksi secara orasi (oratorical display), ada yang beratraksi di dalam musiknya. Atraksi-atraksi itu dipakai oleh gereja untuk membawa jiwa kepada Tuhan.” Spurgeon mengatakan, “Itu bukan penjala manusia.” Lalu Spurgeon mengatakan, “Jika engkau mau membuat atraksi di dalam gereja, maka the best attraction is the Gospel in its purity.” Jikalau engkau mau membuat atraksi di dalam gereja, maka the best attraction itu adalah keseluruhan dan kemurnian Injil. Dan Spurgeon mengatakan satu kalimat yang sekali lagi menghancurkan hati saya, “Kita tidak perlu jala lain selain jala yang sudah diberikan Tuhan yaitu Injil. Jala kita hanyalah satu, the old, old Gospel.” Apakah engkau mempercayai Injil? Apakah gereja ini mempercayai Salib-Nya? Saudara boleh punya gereja yang ada musik meriah, atau yang seluruh pelayanannya sangat profesional, atau memiliki Hamba Tuhan yang sangat pandai untuk berorasi, itu tidak ada salahnya. Tetapi apa yang diberitakan? Apakah seluruh kemurnian dan keseluruhan Injil dinyatakan? Sebarkan jala itu, “the old, old Gospel“, maka jiwa-jiwa akan datang karena Yesus Kristus berjanji jikalau Anak Manusia ditinggikan maka Dia akan menarik banyak orang datang kepada Dia. Ketika Dia mengatakan, ‘Anak Manusia ditinggikan,’ tidak lain dan tidak bukan adalah jikalau Anak Manusia itu disalib. Salib akan membawa seluruh manusia itu yang sudah dipilih kembali kepada Tuhan karena Salib-lah keunikan dari berita Kristiani. Agama lain memiliki berkat, kesembuhan, musik, apapun saja yang sama dengan kekristenan, kecuali, Tuhan datang dan mati di atas kayu Salib.

Saya sudah berbicara berkenaan dengan kemurnian penjala manusia. Tiga hal ini jangan lupa kita kerjakan di dalam gereja kecil ini. Kasihi Kerajaan Allah lebih dari gereja lokal di sini. Kasihi hati dan jiwa manusia, minta kepada Tuhan untuk mereka bertobat, bukan jumlah jemaat yang kita perhatikan. Kasihi dan beritakan Injil sepenuhnya, semurninya dan jangan dengan cara manipulasi. Milikilah hati yang murni menjadi penjala manusia. Yesus katakan, “Follow me and I will make you fishers of men.” Kiranya Tuhan dipermuliakan.

Arti Panggilan: Follow Me (4)

Pengkotbah: Pdt. Agus Marjanto, M. Th
Nats: Matius 4:18-23, Efesus 3:1-13. Follow Me (4)

Yesus berkata, “Ikutlah Aku dan kamu akan Kujadikan penjala manusia”. Kalimat “Ikutlah Aku” dinyatakan oleh Kristus kepada Petrus bahkan minimal tiga kali di dalam seluruh ayat Alkitab. Pertama kali ketika Petrus sedang menjala ikan, maka Yesus katakan “Follow Me”. Kedua, saat Petrus imannya goyah karena Yesus Kristus menyatakan bahwa diri-Nya akan ditangkap, dan akan menderita, serta akan menjalani jalan salib, maka Petrus mengatakan, “Tidak Tuhan, itu tidak akan terjadi.” Yesus Kristus mengatakan “Follow Me, Peter”. Kemudian setelah Yesus mati dan bangkit dan setelah memulihkan seluruh kepercayaan diri Petrus yang tadinya runtuh karena sudah tiga kali menyangkal Yesus, maka kemudian Yesus menyatakan, “Engkau pada saat ini, masih muda, engkau bebas kemanapun engkau pergi, tetapi pada waktu tua, maka engkau akan diikat tanganmu dan engkau akan dibawa ke tempat yang engkau tidak kehendaki”. Alkitab mengatakan nubuatan Yesus bagaimana Petrus akan mati martir. Ketika Petrus mendengar kalimat itu, dia melihat Yohanes, kemudian dia membandingkan dirinya dengan apa yang akan terjadi mengenai kematian murid-murid yang lain. Lalu Yesus mengatakan, “Itu bukan urusanmu”, tetapi engkau ikut Aku.” Ketika kita mengikut Kristus, mata kita selalu memandang orang lain. Kita ingin membandingkan diri kita dengan orang lain. Yesus mengatakan, tidak Petrus, itu bukan urusanmu, engkau sekarang ikut Aku! Mata yang tertuju kepada Kristus Yesus, yang memimpin di dalam iman, dan membawa iman ini kepada kesempurnaan, demikian kata Ibrani. Ini adalah panggilan Yesus Kristus kepada Petrus untuk mengikut Dia seumur hidup, sebulat hati. Untuk apakah kita mengikut Yesus dan akan menuju ke mana? Yesus Kristus mengatakan, “Aku akan membuat engkau menjadi penjala manusia.” Perhatikan baik-baik, “Ikut Aku” itu berarti sekarang. “Aku akan” itu berarti ada sesuatu proses. Di dalam proses itu ada pemuridan, proses itu adalah proses untuk mengenal Kristus dan kemudian ujungnya adalah di dunia ini. Aku akan menjadikan engkau. Menjadikan apa? Menjadikan penjala manusia. Maka hari ini saya akan bicara berkenaan dengan apa itu menjadi penjala manusia. Apa relasi gereja dengan penjala manusia? Ini adalah sesuatu yang menjadi isi hati Tuhan sendiri.

Isi hati Tuhan adalah kita mengikut Kristus dan diproses dan kemudian menjadi penjala manusia. Menjadikan hidup itu memiliki arti yang sifatnya di dalam kekekalan. Di tengah seluruh pekerjaan di dunia, maka Tuhanlah yang menentukan di dalam Firman-Nya, apa yang bersifat kekal dan apa yang bersifat sementara. Apa yang berharga dan apa yang hina di tengah-tengah dunia ini. Maka masuklah di dalam bentukan Tuhan untuk menjadikan kita orang yang memiliki nilai yang kekal, memiliki pekerjaan yang sungguh-sungguh kekal adanya. Para murid-Nya melepaskan jalanya dan mengikut Kristus. Matius menuliskan, setelah Yesus Kristus mengatakan hal itu, maka Petrus kemudian mengikuti Dia, lalu kemudian Andreas mengikuti Dia. Semua murid mengikuti Dia dan Dia membentuk para murid menjadi penjala manusia. Ketika berbicara berkenaan dengan penjala manusia, ada satu hal yang penting di sini, yaitu Gospel. Penjala manusia tidak bisa dilepaskan dari Injil itu. Mari lihat Efesus. Mengapa lihat di dalam Efesus? Karena saudara akan mengerti, seorang yang tadinya mengabarkan agama, menjadi seorang yang mengabarkan Injil. Paulus sendiri menyatakan, “Dulu yang aku kerjakan itu sampah,” padahal agama adalah salah satu hal yang bernilai di dunia ini. Orang boleh membenci dan tidak menyukai agama, tetapi orang itu cepat atau lambat, akhirnya harus mengakui agama yang akan menang di seluruh dunia, tidak mungkin tidak. Agama itu adalah sesuatu yang selalu dimiliki oleh kita. Maka kalau kita melihat di dalam kitab Kejadian, maka manusia itu selalu diciptakan menjadi orang yang memiliki sifat budaya dan sifat agama. Tak mungkin saudara dan saya lepas dari hal itu. Saudara tidak mengakui sesuatu agama, saudara pada saat yang sama sedang beragama untuk yang sesuatu. Ini adalah sesuatu yang tidak mungkin akan lepas dari diri kita karena kita diciptakan sebagai makhluk yang berbudaya dan sekaligus makhluk yang beragama.

Tetapi Paulus, orang yang begitu ketat di dalam hukum Yahudi dan sangat meneliti seluruh agama Yahudi, dia mengatakan, “semua itu adalah sampah setelah aku bertemu dengan Kristus” Maka perhatikan baik-baik, ini bukan bicara mengenai agama, ini bicara mengenai Injil. Saudara-saudara mau untuk dibentuk dan dijadikan hidup yang berarti, maka saudara-saudara harus ada kaitan dengan Injil. Lalu apakah itu Injil? Sedemikian besarkah Injil itu sehingga memiliki nilai yang kekal? Kita akan menemukan 3 definisi Injil yang begitu jelas di dalam Efesus 3 yang dinyatakan Paulus kepada orang-orang Efesus.

1. Injil adalah sesuatu pewahyuan, rahasia, unsearchable riches of Christ.

Injil adalah satu pernyataan, rahasia, kekayaan, hikmat Allah, yang tidak terjangkau, yang tersembunyi berabad-abad. Perhatikan, di sini ada kata pernyataan rahasia, ini bicara berkenaan sesuatu yang misteri, pembukaan dan pewahyuan. Di dalam bahasa Yunani, pewahyuan atau Paneron, sesuatu yang sifatnya adalah apokaliptik, sesuatu yang tadinya tertutup, dibuka dan kemudian isinya dikeluarkan. Maka Injil itu adalah sesuatu pewahyuan. Injil adalah sesuatu pembukaan, sesuatu yang tadinya tersembunyi, rahasia, misteri tentang kekayaan hikmat Allah. Kekayaan hikmat Allah yang tidak terjangkau, yang tersembunyi berabad-abad. Di dalam bahasa Inggrisnya, maka Efesus 3 mengatakan Injil itu adalah sesuatu pewahyuan, rahasia, unsearchable riches of Christ. Karena hikmat Allah itu adalah Kristus, demikian kata Paulus di dalam Korintus. Kalimat ini mau menyatakan bahwa hikmat Allah yang tadinya tertutup, yang mulia, yang kaya, yang besar dan yang tidak mungkin satupun manusia bisa menjangkaunya, dibuka kepada umat manusia hanya melalui Injil. Injil inilah yang membuat kita mengerti berkenaan dengan pribadi Allah. Injil inilah yang membuat kita bisa mengerti siapa Allah itu, Injil inilah membuat kita bisa mengerti bahwa Dia adalah Allah yang memiliki sesuatu cara kerja dan memiliki isi hati. Paulus menyatakan inti Injil itu ada pada Kristus Yesus. Maka ketika kita membaca Injil, membaca Alkitab, maka kita akan makin mengenal Kristus. Semakin mengenal Kristus, kita akan makin mengenal hikmat Allah yang tersembunyi. Kita semakin mengenal The Glory of God dan rencana-Nya di dalam hidup kita, dan makin kita mengenal Allah yang mulia di dalam Kristus, maka makin kita takjub dan makin kita didorong, makin rindu untuk memberitakan Injil. Ini sesuatu proses yang begitu alamiah di dalam kerohanian Kristen. Semua orang yang makin mengenal Allah adalah orang yang rindu untuk menyatakan kepada dunia siapakah Allah itu. Orang yang makin mengenal Allah adalah orang yang dibakar di dalam hatinya rindu untuk makin mengenal Allah. Ini adalah satu kemuliaan, satu nilai yang lebih besar daripada apapun saja yang ditemukan di dunia. Mengapa kita tidak memberitakan Injil? Karena kita tidak mengenal Kristus. Kita tidak mengenal Kristus, karena kita tidak membaca Alkitab. Ini semua akan jadi satu kesatuan, itu adalah sesuatu yang tidak bisa ditipu, itu adalah sesuatu yang keluar dengan sendirinya. Ada hal-hal objektif dan subjektif di dalam rohani, dan dua ini menjadi satu tidak bisa dipisahkan. Kita tidak bisa dengan sesuatu cara, aku ingin, rindu memberitakan Injil, itu adalah sesuatu kebohongan. Bagaimana kita bisa memiliki kerinduan? Kenallah Kristus lebih dalam melalui Firman. Paulus menyatakan bahwa Injil itu adalah pernyataan rahasia, sesuatu yang tadinya tertutup, tentang apa? Tentang kekayaan hikmat Allah. Hikmat Allah adalah Kristus. Dan kekayaan hikmat Allah yang apa? Yang tidak terjangkau, yang tersembunyi berabad-abad, unsearchable reaches of Christ. Ada beberapa aplikasi di dalam point ini:

Aplikasi pertama, kita adalah orang-orang yang dipanggil untuk pergi memberitakan Injil kepada dunia. Tidak mungkin bangsa-bangsa menjangkaunya. Jangan pernah berpikir bahwa orang-orang itu akan datang ke gereja atau membaca Injil dengan sendirinya. Dunia bisa mengenal Injil jika dan hanya jika gereja yang pergi kesana. Sama seperti Petrus, Andreas, murid-muridNya, Paulus, mengenal Injil. Seperti Abraham, Nehemia, mengenal Allah di dalam Perjanjian Lama, itu adalah karena Allah yang turun, Allah yang menyatakan diri-Nya. Allah yang rela datang ke dunia. Tadi saya sudah katakan bahwa Yesus Kristus datang ke dalam dunia ini, voluntarily and independently, menyatakan rahasia Allah Tritunggal itu ke dalam dunia. Tanpa Dia datang, maka tidak mungkin sepandai apapun bisa mengenal Allah, isi hati-Nya dan pribadiNya. Maka di dalam ayat ini, apa yang menjadi isi hati Tuhan? Beritakan Injil, bergerak ke bawah, ke lapangan. Beritakan Injil itu meskipun itu mungkin bagi orang lain akan ditolak. Saudara dan saya panggilannya adalah bukan untuk diterima oleh mereka. Saudara dan saya panggilannya adalah untuk memberitakan Injil itu. Ketika Injil itu diberitakan, maka itu akan menjadi sesuatu yang terbuka bagi mereka. Dan suatu hari pemberitaan Injil itu tidak akan pernah menjadi sia-sia. Suatu hari itu akan menjadi sesuatu pengadilan atau sesuatu keselamatan bagi orang yang sudah mendengarkannya.

Aplikasi kedua, di dalam pengertian Injil yang begitu dalam dan begitu luas ini, maka ketika Alkitab menyatakan memberitakan Injil itu artinya adalah memberitakan segala sesuatu yang ada di dalam Alkitab (the whole Bible). Orang-orang Puritan mengatakan ketika kita dipanggil untuk memberitakan Injil, ketika jemaat dilatih untuk memberitakan Injil, itu adalah termasuk di dalamnya adalah khotbah, termasuk di dalamnya adalah guru-guru Sekolah Minggu yang mengajar. Pada waktu itu tentu belum ada guru Sekolah Minggu. Di dalamnya adalah pengajaran, katekismus, itu adalah sesuatu pemberitaan Injil. Saya mau saudara-saudara bisa mengerti apa yang disebut sebagai pemberitaan Injil. Pemberitaan Injil bukan saja saya datang ke tempat seseorang kemudian, “Ibu/Bapak sudah pernah dengar Kristus atau belum?” “Oh belum.” “Yesus Kristus itu mati bagi bapak dan bapak kalau pergi ke surga itu harus ada yang menebus, tidak bisa di dalam dosa.” Bukan itu saja. Itu termasuk, dan itu adalah sesuatu yang penting, tetapi bicara mengenai pemberitaan Injil adalah segala sesuatu yang dikerjakan untuk kita itu memberitakan the whole Bible. Sehingga, jikalau seseorang itu mengajar tentang Kristus dan membawa jemaat itu mengenal makin baik kepada Kristus, mengenal kedalaman Kristus, apakah dia sedang mengajar di mimbar, di kelas, ataukah dia sedang mengajar di remaja, atau Sekolah Minggu bahkan, atau pemuda, dia sedang memberitakan Injil. Ketika kita mengerti ini, maka di dalam aplikasi, kita jangan hanya senang tiap minggu mendengar kotbah. Kadang juga khotbahnya tidak karuan-karuan yang saudara dengar, bahkan mungkin saudara pikir, khotbahnya bagus. Lalu kemudian saudara-saudara pulang, tidak. Minta kepada Tuhan anugerah untuk mengangkat dari kehidupan saudara menjadi orang yang memberitakan Injil.

Maka bicara berkenaan Injil adalah the whole Bible. Bicara mengenai Injil adalah membuka siapakah Kristus itu, di dalam segala hal yang gereja itu nyatakan, bicara mengenai Injil bukan saja bicara mengenai saudara turun ke jalanan dan membagi traktat, tetapi di tempat yang lain saya harus katakan kepada saudara, terlalu banyak gereja, termasuk gereja ini, sangat kurang untuk turun ke jalanan dan membagi traktat. Kita diminta untuk menjadi garam. Garam di mana? Keluarga? Tidak. Yesus Kristus mengatakan engkau adalah garam dunia. Engkau adalah terang dunia, bukan kampung. Kita harus memberitakan Injil ke bawah, kita harus memberitakan injil ke Nias, kita harus memberitakan Injil dengan seluruh yang kita punya, dengan umur, kesehatan, keuangan, kita mesti turun ke lapangan. Gereja ini harus diisi dengan orang-orang lapangan. Kita semua adalah orang-orang di lapangan dunia untuk memberitakan Injil.

Hal yang lain, yang saya mau tegaskan di dalam hal ini. Di sini dikatakan bahwa Injil adalah pernyataan rahasia misteri kekayaan hikmat Allah yang tidak terjangkau, yang tersembunyi berabad-abad, unsearchable riches of Christ. Maka jikalau saudara-saudara tidak mengenal Injil, maka saudara tidak akan mengerti ini. Inti gereja adalah Kristus yang dinyatakan di dalam Injil. Saudara-saudara mungkin menjadi orang Kristen sudah bertahun-tahun lamanya tetapi saudara-saudara tidak mengenal Kristus yang dinyatakan di dalam Injil. Saudara tidak akan mengerti ada kekayaan, kemuliaan yang lain daripada hidup di dunia ini. Sebagai hamba Tuhan, saya mendorong saudara-saudara untuk membaca Alkitab, mendengarkan khotbah dan saudara-saudara makin hari makin bertumbuh melihat kemuliaan Injil Kristus, melihat kemuliaan Kristus yang dinyatakan di dalam Injil, di dalam Alkitab. Dan saudara-saudara akan melihat kemuliaan Allah. Dan saudara-saudara akan berubah hidupnya. Follow me, Peter, maka Petrus lihat Kristus yang adalah inti daripada Injil.

2. Injil diberitakan oleh satu institusi, yaitu oleh gereja.

Tugas dan panggilan Gereja ditentukan di dalam kekekalan sebagai alat Tuhan satu-satunya yang berdiri di hadapan kerajaan dunia dan di hadapan kerajaan setan untuk menyatakan rahasia kekayaan hikmat Allah yang tidak terjangkau, yang tersembunyi berabad-abad itu. Gereja yang tidak memberitakan Injil maka itu bukan gereja. Gereja yang tidak menyatakan Kristus itu bukan gereja. Sebenarnya kalau saudara-saudara bertanya kepada saya; saya sudah beberapa kali bersaksi, saya sebenarnya tidak suka masuk ke dalam gereja. Karena kalau bicara mengenai gereja, ada perkelahian di dalamnya, gereja berurusan dengan organisasi, ada tugas ini dan itu yang berurusan dengan organisasi. Saya berpikir kalau sudah bicara gereja, mungkin banyak orang sama seperti saya, 90% orang Kristen kalau bicara mengenai gereja adalah sesuatu hal yang negatif, bukan positif. Tetapi makin saya belajar Firman, makin saya menyadari isi hati Allah itu hanya pada gereja. Tentunya ketika saudara berbicara berkenaan dengan hal ini adalah bicara mengenai gereja yang tidak kelihatan. Dan gereja yang tidak kelihatan adalah gereja yang kumpulan umat Allah yang sejati. Tetapi kita harus mengetahui bahwa gereja yang tidak kelihatan itu dibentuk oleh Allah di dalam 1 gereja, institusi yang kelihatan dan melalui gereja yang kelihatan, Allah menyatakan Kerajaan Allah di tengah-tengah dunia. Ketika saya berbicara berkenaan dengan gereja, pertama-tama saya mengatakan kepada Tuhan: “Tuhan saya mau untuk saya lepas dari gereja.” Saya dapat berkeliling membagikan pengenalan saya akan Tuhan dari satu gereja ke gereja yang lain dan saya akan menjadi berkat bagi seluruh gereja. Sampai kemudian saya menyadari itu adalah sesuatu kesombongan. Saya tidak mungkin menjadi berkat bagi seluruh gereja karena selalu “saya ada di dalam gereja.”

Gereja yang sejati itu lebih besar daripada kita secara pribadi. Gereja yang sejati adalah gereja yang merupakan isi hati Allah dan isi hati Allah itu dinyatakan untuk menyatakan kepada dunia Injil Tuhan, kekayaan yang tersimpan berabad-abad, unsearchable riches of Christ. Maka mengerti ini kita harus menghargai gereja, kita harus berani berdiri di depan kerajaan dunia, manusia apapun saja dan di depan kerajaan setan untuk kita menyatakan Injil. Gereja yang sejati selalu sifatnya perang. Gereja yang sejati selalu sifatnya perjuangan. Gereja yang bukan sejati selalu sifatnya, isinya hanya persekutuan. Kita tidak membangun satu gereja untuk mengumpulkan orang Kristen. Tidak. Kita membangun 1 gereja, itu adalah isi hati Tuhan untuk menyatakan siapa Tuhan itu di tengah-tengah dunia. Maka ini adalah sesuatu hal yang Tuhan itu nyatakan sendiri supaya sekarang oleh jemaat, diberitahu berbagai ragam hikmat Allah kepada pemeritah-pemerintah dan penguasa-penguasa di Surga. Dan hasil dari hal ini. Saudara perhatikan sekarang. Injil adalah kekayaan hikmat Allah yang tersembunyi berabad-abad dan itu adalah pada Kristus Yesus, Injil, gereja. Berdiri di hadapan kerajaan dunia dan kerajaan setan ditentukan oleh Allah untuk memberitakan Injil itu.

3. Pemberitaan Injil yang sejati akan mengalami sesuatu penderitaan dan penganiayaan.

Paulus mengatakan: “Itu sebabnya aku ini Paulus, orang yang dipenjarakan karena Kristus Yesus untuk kamu.” Di dalam ayat 13, “sebab itu aku minta kepadamu supaya kamu jangan tawar hati melihat kesesakan ini.” Gereja yang sejati memberitakan Injil. Gereja yang sejati menyatakan siapa itu Kristus. Gereja yang sejati itu berperang dan gereja yang sejati itu secara hasil dari alamiahnya, akan menjadi gereja yang menderita, menjadi gereja yang dianiaya. Kita tidak mencari penganiayaan tetapi mau tidak mau, kalau kita menjadi gereja yang sejati, maka itu akan sesuatu implikasi yang terjadi di dalam kehidupan. Saudara-saudara, beritakan Injil, kenal Kristus, kenal Alkitab kita dan turunlah ke lapangan, ke jalanan, memberitakan Injil. Sebenarnya gereja yang kurang sehat adalah gereja yang seperti kita. Satu tahun satu kali pergi ke Nias memberitakan Injil. Semuanya senang pergi ke sana. Tetapi setelah satu minggu, lalu kemudian kita memberitakan Injil? Tidak. Itu kurang sehat. Saya tidak membandingkan gereja kita lebih baik daripada gereja lain. Saya membandingkan gereja kita seturut apa yang Alkitab itu nyatakan. Seharusnya yang kita kerjakan adalah kita harus setiap hari memberitakan Injil. Setiap hari makin mengenal Firman. Setiap hari makin mengenal Kristus dan setiap hari makin memberitakan Injil. Kristus Yesus mengatakan: “Follow Me, Peter and I will make you a fisher of men.” Kita tidak ditentukan untuk menunggu di rumah sampai maut mendatangi kita. Kita ditentukan sebelum maut menjemput, mengenal Kristus dan mengabarkan Kristus itu kepada dunia. Ini adalah sesuatu takdir yang baru bagi orang Kristen. Kristus menentukan satu hidup yang berkemenangan, hidup yang berguna, hidup yang diurapi oleh Tuhan, hidup yang dipimpin oleh Kristus agar dunia boleh mengenal Kristus melalui hidup dan melalui bibir mulut kita. Paulus menyatakan: “Ini adalah tugas penyelenggaraan yang dibebankan kepadaku karena kasih karunia-Mu, ya Tuhan.” Ini adalah sesuatu hidup yang diubahkan dan ketika orang itu diubahkan, Paulus diubahkan. Maka dia tahu, ini anugerah yang besar. “Peter, follow Me and I will make you a fisher of men.” Itu yang terjadi kepada Petrus, Andreas, bapak-bapak gereja, dan itu yang terjadi kepada orang-orang Kristen termasuk kita. Kenallah Kristus. Kenallah lebih dalam dan beritakan Dia seumur hidup kita. Kiranya Tuhan boleh menyatakan Firman-Nya.

 

Arti Panggilan: Follow Me (3)

Pengkhotbah: Pdt. Agus Marjanto, M.Th
Matius 4:18-22; Matius 16:21-24; Yohanes 21: 18-22

“Follow Me” adalah kalimat yang dikatakan oleh Yesus kepada orang-orang di sekitarnya. Tetapi, berapa banyak orang yang mau mengikut Kristus? Ini adalah panggilan yang agung, yang diutarakan oleh pribadi Allah yang agung itu sendiri, kepada manusia yang hina. Ini adalah panggilan untuk mendekat. Jangan pernah berpikir dan menganggap Allah itu seperti teman kita, yang bisa diperlakukan seenaknya. Gereja sudah tidak menghormati Allah, gereja sudah berkotbah dan sudah mendidik jemaatnya dengan menurunkan Allah dari singgasananya. Allah itu adalah Allah yang mencintai kita, tetapi cinta yang tidak bisa dipermainkan. Allah mencintai seluruh dunia, sehingga diberikan Anak-Nya yang tunggal sehingga setiap orang yang percaya kepadaNya beroleh hidup yang kekal dan tidak binasa, tetapi kalimat di bawahnya tidak pernah diperhatikan. Dia menyatakan bahwa yang tidak percaya, dia sudah berada di dalam hukuman. Martin Luther mengatakan, “Let God be God, let man be man”.

Apa makna “Follow Me”?

Pertama, panggilan untuk mengenal Kristus dengan dekat.

Kalimat yang sama diutarakan Kristus kepada gereja-Nya. Jikalau kita mempelajari kehidupan Kristus, kita bisa membaginya menjadi dua. (1) Pribadinya, the person of Christ. Kristus itu adalah Allah yang sejati, dan Manusia yang sejati. (2) the work of Christ. Teologi reformed, Calvin dan khususnya semua orang Puritan menyatakan satu pekerjaan Kristus yang inti, yang penting adalah membawa umat-Nya bersatu di dalam Dia (Union with Christ). Membawa umat-Nya bersekutu di dalam Dia, di dalam Dia maka kita mendapatkan keselamatan, di dalam Dia maka kita mendapatkan pengampunan dosa, di dalam Dia maka Bapa di Surga tidak menjadi murka kepada kita, karena seluruh kemurkaan sudah diberikan kepada Yesus Kristus. Di dalam tulisan-tulisan rasul-rasul Kristus, ada satu teologia, satu kalimat yang penting yaitu “di dalam Dia” (In Christ). Kristus di dalam kedaulatan dan anugerah-Nya membawa orang-orang yang dipilih-Nya, yang sebelumnya di dalam Adam dan mati di dalam dosa dan kegelapan, sekarang berada di dalam Dia. Ini yang dikerjakan oleh Kristus. Dia pergi dari kota ke kota, dari desa ke desa, untuk mencari yang terhilang. Dia pergi mengajar, mendidik jiwa bersekutu dengan Dia kepada Bapa. Dia membuat mujizat, melepaskan orang-orang dari setan, supaya mereka bisa bebas bersekutu dengan Bapa di Surga dan menyembah Allah. Persis seperti Musa mengatakan kepada Firaun, let my people go, biarkan umat-Ku keluar supaya dapat beribadah kepada-Ku. Kelepasan Tuhan dari seluruh ikatan dunia dan dosa, membuat kita dibebaskan. Bukan berarti hidup bebas liar tetapi hidup bebas untuk beribadah kepada Tuhan, hidup bebas untuk dimiliki oleh Tuhan sepenuhnya. Dia mati agar di dalam Dia kita dapat bersekutu dengan Bapa. Dia adalah mediator, pendamai itu sendiri dan setelah kematian dan kebangkitan-Nya, Dia naik ke Surga dan Dia mengutus Roh Kudus agar God with us, Immanuel. Supaya sekarang, tanpa tubuh, Kristus Yesus bersekutu dengan kita di dalam roh-Nya setiap hari dan setiap detik. Dia memberikan Roh Kudus kepada gereja-Nya, membangkitkan gereja-Nya dan gereja menjadi ibu dari seluruh orang yang ditebus oleh Kristus dan Dia menegaskan Sakramen Baptis Kudus maupun Sakramen Perjamuan Kudus agar dunia dapat merasakan persekutuan dengan Dia melalui indera kita.

Perhatikan seluruh apa yang dikerjakan oleh Kristus pada waktu Dia ada di dunia dan pada waktu Dia ke Surga. Dia mengutus Roh Kudus, Dia membentuk gereja-Nya dan pada waktu Dia berada di Surga, Alkitab mengatakan Dia berdoa syafaat untuk umat-Nya, seluruhnya berada di dalam satu terminologi ini, union with Christ. Kalimat Yesus Kristus kepada murid muridnya, “Follow Me, union with Me,” mendekatlah kepada-Ku, lihatlah Aku, lihatlah bagaimana Aku melayani, kenallah Aku. Berkali-kali, di dalam segala hal, Dia menarik hidup kita mendekat tetapi berkali-kali kita menolak panggilan itu. Kita menolak panggilan-Nya dengan alasan tidak ada waktu padahal kita lebih menyukai panggilan yang lain daripada panggilan Pencipta langit dan bumi. Kristus menyatakan untuk apa engkau menyebut-nyebut perjanjian dengan Aku, padahal pada waktu itu engkau tidak memperdulikan perjanjian itu. Biar kita mengerti siapa diri kita. Kita membutuhkan Dia. Satu kalimat dari Yesus Kristus, “Lakukanlah ini supaya engkau mengingat Aku, lakukanlah Perjamuan Kudus supaya engkau mengingat Aku”. Bukan Kristus perlu diingat, karena kalau kita tidak mengingat Dia yang celaka bukan Dia, melainkan kita. Kalau kita tidak ingat Dia, maka dosa akan banyak sekali dalam hidup kita tanpa terbendung, kalau kita tidak mengingat Dia di kayu salib maka kita akan menjadi manusia yang liar, kalau kita tidak mengingat hidup kita sudah ditebus, maka kita akan terus menerus berada di dalam kehidupan yang hina, dan kita pikir itu mulia, kecuali kita mengingat hidup kita ditebus, kecuali kita mengingat Tuhan sudah datang ke dunia dan mati bagi kita. Biar kita boleh sungguh-sungguh menghormati Dia.

Ada satu peristiwa di mana Tuhan digambarkan sebagai raja, mengutus seluruh bawahannya pergi kemanapun saja, mengundang orang-orang itu untuk datang ke tempat meja perjamuan, bersama-sama bersekutu, tetapi setiap orang yang diundang menolak dan tidak menghargai. Mereka mengatakan tidak ada waktu dan ada sesuatu yang lebih penting. Setiap kali gereja yang sejati menyatakan sesuatu hal untuk mendidik saudara dan saya, itu bukan panggilan supaya gereja penuh, tetapi panggilan untuk kita makin mengenal Kristus. Kita yang butuh gereja dan bukan gereja yang memerlukan kita. Ini adalah sesuatu kebenaran, biarlah kita boleh mendidik hati, jiwa dengan sungguh-sungguh di hadapan Allah. Jangan mempermainkan Tuhan, gereja yang sejati, atau hamba-hamba Tuhan yang sejati.

“Follow me, Peter”, maka ini adalah knowing God, mengenal Allah. Mengenal Allah dan tahu tentang Allah adalah dua hal yang beda. Mengenal Allah itu artinya memiliki satu keintiman, satu relasi encountering with God. Tetapi mengetahui tentang Allah itu adalah sesuatu pembicaraan dari buku, dari orang lain. Maka murid-murid diminta untuk datang, untuk mengenal Yesus Kristus, melihat sendiri apa yang dikerjakan, mendengar sendiri apa yang diajarkan. Kalau saudara memiliki buah apel, dari tampak luar saudara katakan buah apel ini bagus, merah, mengkilat, ranum, itu adalah saudara tahu tentang apel. Tetapi kalau saudara tahu tentang buah apel, lalu saudara gigit apel, kunyah, masukkan itu di dalam perutmu, itu artinya adalah saudara mengenal apel. Biarlah kita bukan saja pergi ke gereja, tetapi kenallah Tuhan, kenallah Firman, ini adalah sesuatu hal yang Tuhan sendiri nyatakan.

Dia sudah membuka diri-Nya untuk kita bisa mengenal Dia, masakan kita tolak satu undangan yang besar ini, dan bukan itu saja, Yesus mengatakan maka “Follow Me”, ikutlah Aku dan Aku akan menjadikan engkau penjala manusia. Ini adalah panggilan yang mulia, karena yang memanggil itu mulia dan akan menuju kepada kehidupan yang mulia. Semakin kita mengenal Kristus yang mulia, maka saudara dan saya kita akan tahu, hidup yang termulia itu hanya satu yaitu dipakai oleh Allah dan hidup yang dipakai oleh Allah adalah yang memperluas pengaruh Allah di bumi ini. Saya tidak menyatakan bahwa semua harus menjadi pendeta, tetapi yang saya mau katakan adalah di dalam hal apapun kita akan dipakai untuk menjangkau jiwa makin dekat dan makin mengenal Tuhan dan itu adalah sesuatu kemuliaan hidup.

Hidup itu selalu melihat Allah, hidup itu selalu dipakai oleh Allah, hidup itu selalu diurapi oleh Allah, hidup itu dipakai untuk membesarkan nama Allah di dunia ini dan menyebarkan pengaruhnya kepada bangsa demi bangsa itu adalah sesuatu hidup yang mulia.

Kedua, panggilan untuk memikul salib.

Beberapa bulan setelah itu dan menuju kepada hari terakhir, Yesus Kristus mengatakan kepada Petrus dan kepada murid-murid-Nya, “Aku akan pergi ke Yerusalem dan akan menanggung banyak siksaan dan Aku akan mati disalib di sana”. Maka, ketika bicara mengenai “Follow Me”, itu bukan saja panggilan untuk mendekat, tetapi juga panggilan untuk memikul salib. Ketika Petrus mendengarkan kalimat bahwa Yesus sebentar lagi akan dipaku di atas kayu salib maka Petrus menarik Yesus ke samping dan mengatakan itu tidak mungkin terjadi kepada-Mu, tetapi Kristus menyatakan, “Enyahlah Iblis, engkau memikirkan apa yang dipikirkan oleh manusia dan bukan yang dipikirkan oleh Allah”. Yang ada di dalam isi hati dan dipikirkan oleh Allah adalah Salib. Yesus Kristus mengatakan, “Pada-Ku ada makanan yang lain yang engkau tidak ketahui dan makanan itu adalah menjalankan kehendak Allah.” Kehendak Bapa yaitu salib adanya. Jadi, ketika kita bicara berkenaan dengan mengikuti Kristus maka kita bicara berkenaan dengan salib. Yang ada di dalam isi hati Allah terdalam bukan kemakmuran, bukan kehebatan Kristus, tetapi salib. Melalui salib Kristus akan dimuliakan, melalui salib maka seluruh raja akan bertekuk lutut di bawah Dia. Jadi yang harus menjadi inti dan pikiran dari gereja adalah salib dan bukan yang lain. Banyak orang mau menjadi Kristen tetapi tidak mau menjadi serupa dengan Kristus. Saya katakan kepada saudara-saudara, kelahiran baru itu artinya disatukan dengan Kristus Yesus, dan itu artinya salib. Salib adalah kehidupan yang dikosongkan sampai seluruh kehendak Allah itu jadi.

Melalui Alkitab kita dapat melihat bahwa yang dikehendaki Kristus Yesus adalah pemuridan bukan jemaat-Nya menjadi banyak. Karena hanya murid yang bisa mengguncangkan dunia dan bisa dipakai oleh Allah. Hanya kesejatian muridlah yang bisa diurapi oleh Allah dan dipakai untuk menjangkau dunia ini, menjala manusia. Aku akan menjadikan engkau penjala manusia. Dan sungguh-sungguh itu terjadi. Yesus tidak memerlukan orang yang banyak. Sebelumnya ada ribuan orang melihat mukjizat-Nya, memecahkan roti dan juga menggandakan ikan. Ribuan orang makan. Mereka menyanjung Yesus, Mesias yang ditunggu-tunggu dan di dalam Alkitab ada satu tulisan bahwa mereka mau mengusung Yesus menjadi raja. Tetapi Yesus kemudian mengundurkan diri, dan Dia tidak mau menjadi raja. Yesus menjadi raja itu memang kehendak Bapa, yaitu menjadi Raja diatas segala raja. Tetapi ketika orang banyak hendak menjadikan Yesus sebagai raja, Yesus tidak mau. Alkitab mengatakan karena Dia tahu apa yang ada di dalam isi hati mereka.

Hal yang terutama di dalam Kekristenan bukan berkat, bukan mukjizat. Hal yang terutama di dalam Kekristenan itu genuity, satu kesejatian Kekristenan, dan itu tergantung dari salib. Saudara mau mengetahui gereja itu sejati atau tidak bukan dari jumlah jemaatnya, atau Hamba Tuhannya tetapi apakah dia mengkotbahkan salib atau kesuksesan? Salib atau kemakmuran? Salib atau pikiran manusia?

Biarlah kita boleh kembali melihat apa yang Alkitab itu nyatakan. Salib. Salib adalah kesulitan, penderitaan, air mata disebabkan karena menjalankan kehendak Allah. Salib bukan penderitaan karena kita berdosa. Salib bukan penderitaan karena kita salah pilih jodoh. Salib bukan penderitaan karena aku mencuri, aku masuk ke jail, Itu adalah salibku. Tidak! Salib bukan dan tidak ada urusannya dengan bicara berkenaan dengan keinginanku yang tidak tercapai. Salib adalah berbicara dengan aku mau menjalankan kehendak Tuhan dan aku harus takluk dan aku harus taat dan aku harus menderita. Aku harus penuh dengan kesulitan seperti ini, tapi aku rela taat karena Dia itu mulia dan panggilannya adalah mulia adanya.

Ketiga, panggilan untuk hidup sepenuhnya dimiliki oleh Kristus sampai kita mati.

Sebanyak tiga kali Yesus memanggil Petrus, “Follow Me”. Yang pertama di danau Galilea, dan Petrus kemudian meletakkan jalanya. Petrus mengikut Yesus dan mau mengenal-Nya. Sekarang, ketika Yesus Kristus menyatakan isi hatinya yaitu Dia akan pergi ke salib, Dia akan disesah menderita, maka Petrus kemudian menarik, tidak mungkin. Yesus mengatakan “Follow me, Peter”. Petrus menyangkal Yesus dan kemudian Yesus Kristus sudah memulihkan seluruh relasinya. Tiga kali Petrus menyangkal Yesus dan tiga kali Yesus itu bertanya kepada Petrus apakah engkau mencintai Aku? Petrus menjawab, “aku mengasihi”. Dalam hati Petrus mengasihi tetapi Tuhan tahu begitu banyak dosa. Ini adalah suatu jawaban yang genuine di hadapan Tuhan. Kemudian Yesus menubuatkan bagaimana Petrus akan mati martir. Yesus mengatakan, saat ini engkau masih muda, engkau pergi ke tempat kemanapun saja engkau kehendaki. Tetapi pada waktu engkau sudah tua, maka engkau akan diikat dan engkau akan diseret menuju ke tempat yang engkau tidak kehendaki. Alkitab mengatakan bahwa itu menyatakan bagaimana Petrus mati martir. Dan sejarah gereja menyatakan Petrus mati martir dengan cara disalib dan salib itu diputar dengan kepala di bawah. Sebelumnya dia akan disalib seperti Yesus disalib, tetapi kemudian dia mengatakan kepada para penyalibnya bahwa dia tidak layak disalib seperti Tuhan Yesus, dia minta supaya disalibkan dengan kepala di bawah. Maka itulah menjadi akhir kehidupan Petrus. Petrus sudah menetapkan hidupnya. Petrus sudah mengerti arti mengikut Yesus. Ikutlah Aku untuk seluruh kehidupan yang Aku akan rancangkan bagimu. Ini adalah panggilan untuk hidup sepenuhnya dimiliki oleh Kristus sampai kita mati.

Tetapi setelah Petrus melihatnya Yohanes, teman sekerja Petrus, dia kemudian bertanya, “Guru, kalau aku nanti akan mati martir, apa yang akan terjadi kepada Yohanes?” Satu kalimat Yesus itu menggugah sekali. “Jikalau Aku menghendaki untuk dia tetap hidup sampai Aku datang, itu bukan urusanmu. Tetapi engkau ikut Aku!” Dia adalah Pencipta langit dan bumi. Dan Dialah yang menyatakan dengan kedaulatan-Nya dan kebesaran-Nya, jadilah terang, maka terang itu jadi. Dan Dia berbicara dengan danau itu, Diam! Dan danau itu kemudian langsung teduh. Dia menyatakan Akulah jalan. Dia menyatakan Akulah kebenaran. Dia menyatakan Akulah hidup. Dia menyatakan Akulah terang dunia. Seluruh kalimat Yesus begitu mempesona dan begitu besar tetapi ada satu kalimat yang diutarakannya kepada kita dan kalimat itu mengatakan: “Itu bukan urusanmu.” Kalimat ini begtu tajam. Apa yang membuat kita menghentikan langkah kita mengikut Kristus? Yaitu ketika kita membandingkan hidup orang lain yang lebih baik dari kita. Itu akan selalu mengganggu kerohanian kita. Ketika kita mengikut Kristus Yesus, biarlah hati kita boleh tenang untuk membuat mata kita selalu terarah kepada Kristus. Jikalau tidak seperti itu, kita akan kecewa. Kita tidak akan mengakhiri seluruh perjalanan iman kita sampai pada akhirnya dengan kemuliaan. Kita akan terus membandingkan diri kita dengan orang lain. Mata hanya melihat Kristus saja dan bukan yang lain.

Ketika Yunus mengikut Kristus, kotbahnya diterima. Ketika Yesaya mengikut Tuhan, kotbah Yesaya ditolak. Ketika Daud mengikut Tuhan, dari gembala menjadi raja. Tetapi ketika Nehemia mengikut Tuhan, dari istana raja menjadi mandor bangunan. Semuanya adalah bicara mengenai Follow Me”. Billy Graham, seorang hamba Tuhan yang terkenal dan besar yang dipakai Tuhan, ketika dia berkotbah, ribuan orang, bahkan satu juta orang berkumpul, dan setelah selesai berkotbah, dan banyak orang yang kemudian menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Tetapi, ketika saya membaca buku “Through The Gate of Splendor” tentang 5 orang misionaris, Auca Five dan pemimpinnya adalah Jim Elliot. Mereka pergi ke Ecuador dan kemudian dengan pesawat capungnya mereka sampai di sungai Curaray, penuh dengan lalat dan kemudian di situ berusaha untuk mengabarkan Injil. Tetapi belum sempat mengabarkan Injil, beberapa waktu kemudian mereka dibunuh oleh suku primitif. Auca Five itu mati dan mayatnya mengambang di sungai Curaray. Mereka meninggalkan istri dan anak-anaknya masih kecil. Dan ketika saya membacanya, air mata saya bercucuran dan saya bertanya kepada Tuhan. Mengapa? Ada orang yang dipanggil dan kemudian semua orang mendengarnya tetapi ada orang yang dipanggil tetapi kemudian tombak yang sampai kepada dia. Ada orang yang dipanggil sampai tua dan hidupnya mempermuliakan Kristus, tetapi ada orang yang dipanggil dan harus mati martir dalam usia yang begitu muda. Ada orang yang dipanggil bertemu raja demi raja, tetapi ada yang dipanggil masuk ke pelosok desa yang sama sekali tidak terkenal. Mengapa begitu berbeda? Satu hal: “Follow Me”. “Jikalau Aku menginginkan orang itu tetap ada sampai Aku datang, itu bukan urusanmu”. Kitab Ibrani mengatakan lihat selalu kepada Kristus Yesus yang memimpin iman kita dan membawa iman kita itu kepada kesempurnaan.

Saya akan mengakhiri dengan satu cerita yang sesungguhnya terjadi. Pada tanggal 7 Agustus 1954, kejuaraan lari satu mil British Empire di Vancouver, Kanada, menjadi mukjizat ketika dua pelari, Roger Bannister dan John Landy, dengan waktu yang mendekati 4 menit, berlari dalam kondisi puncak. Bannister terserang pilek selama seminggu sebelum perlombaan dan kaki Landy terluka sewaktu berjalan-jalan sehari sebelumnya namun keduanya masuk kualifikasi. Pada saat itu, Bannister berencana untuk agak melambatkan larinya selama putaran ketiga dan menyimpan tenaganya untuk putaran terakhirnya. Tetapi Landy tidak memperlambat kecepatannya. Dan dia menjadi jauh memimpin di depan. Bannister kemudian mengubah rencananya. Iya meningkatkan kecepatannya dan berhasil mendekati Landy. Landy tetap di depan, Bannister di belakangnya. Pada langkah-langkah terakhir sebelum mencapai garis akhir, orang banyak bersorak sorai. Landy tidak dapat mendengarkan Bannister di belakangnya, Landy lalu mengintai Bannister melalui bahunya. Pada saat itu, Bannister telah langsung melejit mendahuluinya dan kemudian menang. Intinya, Landy yang maksud awalnya berlari dengan baik sepanjang perlombaan untuk memenangkan perlombaan, akhirnya berlari untuk mengalahkan Bannister. Roger Bannister, menjadi orang pertama yang memecahkan rekor waktu itu. Dia bergerak dengan hati-hati pada awalnya, namun setelah menetapkan arah tujuannya, dia menyelesaikan dengan baik dan memenangkan perlombaan. Apa yang menjadi kekalahan iman kita? Saudara dan saya membandingkan diri kita dengan orang lain dan melupakan satu kalimat “Follow Me”

Panggilan Kristus bagi kita semua, “Follow Me”, panggilan untuk mengenal Dia, panggilan untuk memikul salib dan panggilan untuk hidup sepenuhnya dimiliki oleh Tuhan dan tidak membandingkan diri dengan orang lain.

 

Arti Panggilan: Follow Me (2)

Berdoa

Pengkhotbah: Pdt. Agus Marjanto, M.Th
Matius 4:18-22

Yesus Kristus menyusur danau Galilea dan melihat murid–murid-Nya. Pada waktu itu mereka belum menjadi murid, kemudian Yesus Kristus mengatakan, “Mari, ikutlah Aku (Follow Me), dan Aku akan menjadikan engkau menjadi penjala manusia.” Panggilan yang keluar dari mulut Tuhan sendiri. Mulut Tuhan yang suci, dan hati-Nya yang penuh dengan cinta kasih, dan kuasa-Nya yang menciptakan langit dan bumi, mulut-Nya yang sama yang mengatakan, “Jadilah terang.” Maka terang itu jadi. Maka Dia mengatakan, “Follow Me, Peter. Follow Me, John. Follow Me, Andrew.” Satu persatu “ikut Aku”. Maka perhatikan, kita sebagai orang Kristen dan khususnya orang–orang yang sudah dilahirbarukan, mari minta kepada Tuhan belajar untuk peka kepada suara Tuhan yang halus, yang lembut, yang lirih, tetapi suatu suara yang akan masuk ke dalam jiwa kita. Dan jikalau engkau membuka-Nya itu adalah suatu suara yang agung, dan jikalau engkau mengikuti-Nya itu akan mengubah hidup kita dari kegelapan menjadi terang, dari kehinaan menjadi kemuliaan. Sudah berapa banyak kita mendengarkan seluruh suara di dunia ini, tetapi kenapa suara Pencipta langit dan bumi, yang menciptakan kita, kita tidak dengar? Setiap hari kita mendengar begitu banyak suara yang mendesak kita, yang menghentikan kita, yang memanggil kita, seluruhnya kita dengar. Ada suara dari mobil, ada suara dari orang yang mendesak kita, mungkin dari bos kita di kantor, di rumah kita mendengar suara anak-anak dan lain-lain. Terhadap suara-suara tersebut kita begitu peka, begitu sadar dan langsung mendengarnya. Tetapi mengapa suara Tuhan kita tidak mendengar dan mengikuti-Nya? Mari kita belajar melembutkan hati kita untuk mendengarkan suara Tuhan. Ketika saya melihat satu persatu, di antara seluruh pelayanan-Nya, seluruh mujizat-Nya, seluruh hal yang membuat kita itu terpaku, terpesona di dalam Alkitab, selalu ada suara lirih seperti ini, “Ikut Aku.” Sejak saat itu maka murid–murid Kristus melepaskan jalanya, keluar dari perahu, meninggalkan ayah dan ibunya, dan kemudian mengikuti Yesus Kristus. Ini adalah suatu suara untuk mengenal pribadi Kristus lebih dalam. Saudara tidak ditentukan hanya untuk pergi ke Surga, lahir baru lalu kemudian menikmati gereja hari Minggu lalu kemudian selesai. Kita ditentukan untuk makin mengenal Allah. Kita dipanggil untuk mengenal pribadi-Nya.

Sejak hari itu, seluruh murid-Nya, satu persatu, memperhatikan bagaimana pelayanan Kristus. Memperhatikan bagaimana prinsip–prinsip hidup Kristus. Memperhatikan ketika Dia melakukan mujizat. Suatu hari Yesus sedang tertidur di sebuah kapal bersama murid–murid-Nya dan angin bergelombang besar sekali dan malam yang pekat menakutkan, dan seluruh murid-Nya mengatakan, “Guru! Guru! Apakah Engkau tidak peduli kami ini binasa?” Kemudian Yesus Kristus terbangun dan kemudian dengan keanggunan-Nya Dia malah pergi ke tempat buritan dan kemudian Dia mengatakan kepada seluruh angin itu, “Diam!” Dan angin itu diam. Melihat peristiwa ini, murid-murid itu diam, ketakutan gemetar. Siapakah orang ini? Mereka belajar mengenal Kristus. Belajar mengenal pelayanan-Nya, belajar mengenal prinsip hidup-Nya, mengenal Dia melakukan mujizat, mengenal Dia di dalam emosi-Nya. Ketika Dia marah, ketika Bait Suci dipakai sebagai tempat berjualan, mengadakan seluruh transaksi ekonomi, ini persis seperti gereja masa kini. Gereja memakai nama Tuhan, tetapi seluruhnya transaksi bisnis. Gereja, memakai nama Tuhan, tetapi dari mimbar sampai seluruh jemaatnya isinya uang. Yesus marah sekali. Engkau jadikan tempat Bait Suci, tempat doa seluruh bangsa ini menjadi tempat berjualan. Maka Yesus marah, dan murid-Nya kemudian mengenal kemarahan-Nya.

Sebelum peristiwa Yesus Kristus membangkitkan Lazarus, Alkitab mengatakan Yesus Kristus masygul hati-Nya. Masygul hati-Nya ini adalah satu kata yang tajam sekali. Kata ini mau menyatakan ada sesuatu kemarahan, ketidaksabaran, kesedihan bercampur menjadi satu. Dan ketika Petrus, Yakobus dan Yohanes melihat itu, maka mereka mengerti isi hati Kristus. Follow Me maka engkau akan melihat bagaimana Aku melayani, melihat emosi-Ku, melihat cara kerja-Ku, melihat prinsip–prinsip-Ku. Follow Me, engkau melihat sukacita-Ku. Apa yang menjadi sukacita Kristus ketika Dia melayani? Suatu ketika pelayanan itu ditolak dan kemudian banyak orang murid–murid-Nya datang, “Guru, bahkan setan–setan pun takut kepada kami.” Yesus Kristus berkata, “Jangan engkau bersukacita karena setan itu takut, tetapi bersukacitalah karena namamu ada tertulis di dalam kerajaan Surga.” Lalu kemudian Dia menarik diri-Nya, Dia menengadah ke langit, dan mengatakan, “Aku bersyukur kepada-Mu Bapa di Surga karena Engkau sembunyikan kepada orang–orang besar tetapi Kau nyatakan kepada orang–orang yang kecil.” Saudara– saudara, itu adalah sukacita Kristus. Ketika Petrus mengikut Tuhan, dia melihat sukacita Kristus, melihat kesedihan dan ratapan Kristus. Kita harus makin mengenal Firman. Harus membaca Firman. Dan minta kepada Tuhan yang empu-Nya Firman, Tuhan yang adalah yang pencerah Firman ini untuk kita bisa mengerti-Nya, dan kita bisa mengenal Kristus yang kita sembah. Celakanya kita menjadi orang Kristen tetapi sama sekali tidak mengenal Kristus di dalam kehidupan kita. Kita berpikir kita adalah orang Kristen, tetapi tidak memiliki relasi yang intim dengan Kristus. Bahkan banyak dari kita yang menjadi hamba Tuhan, majelis, menjadi orang–orang yang menentukan arah gereja, tetapi seluruhnya bukan pikiran Kristus, bukan cara Kristus, bukan emosi Kristus yang melingkupi kita. Ini adalah sesuatu kebahayaan yang luar biasa. Tuhan meminta kepada kita, dari hamba Tuhan sampai seluruh jemaat, dari yang tertua sampai yang termuda, mendengarkan suara ini, “Follow Me”. Kita dipanggil untuk mengikut Kristus, untuk dibentuk oleh Kristus, untuk mengenal Dia secara intim, itu panggilan pertama.

Ketika kita makin lama makin intim, di dalam kedaulatan-Nya dan anugerah-Nya, Dia sendiri yang akan memakai kita. Jangan pernah berpikir aku mau dipakai sama Tuhan tanpa aku mengenal Tuhan. Aku mau untuk berjuang bagi Tuhan, untuk mempermuliakan Tuhan, tetapi menghindar dari seluruh bentukan yang Tuhan tetapkan di dalam hidup kita. Sekarang perhatikan apa yang Alkitab katakan berkenaan dengan panggilan yang lembut ini. Follow Me. Meskipun panggilan itu lembut, halus, dan sederhana, tetapi ini adalah panggilan yang hormat dan mulia karena yang memanggil adalah Allah yang mulia dan hormat. Kita jangan pernah berpikir bahwa Allah sedang memohon kepada kita. Ketika Allah mengatakan, “Follow Me” walaupun selembut apapun maka itu adalah sesuatu perintah. Follow Me itu adalah sesuatu ketetapan. Itu adalah sesuatu order, itu adalah sesuatu command, itu adalah sesuatu panggilan karena Dia itu Allah yang terhormat dan mulia. Jangan pernah berpikir ketika kita menolak-Nya tidak ada resiko yang kita harus tanggung. Dia adalah Allah yang menyatakan kalimat-Nya dan kalimat-Nya itu pasti jadi adanya. Banyak di antara kita yang berpikir bahwa Allah itu memanggil seakan–akan memohon. Dia adalah Allah dan kita itu adalah manusia. Jangan perlakukan Dia sama seperti manusia. Jangan perlakukan Dia sama seperti seseorang menelpon kita, saudara pikir saudara punya kebebasan untuk terima atau reject. Saudara, Dia adalah Allah kita. Dialah yang menciptakan kita. Kita adalah hamba–hamba-Nya. Kita diciptakan oleh Dia. Kalau Dia sudah berbicara kepada kita, jangan pernah berpikir kalau kita bisa menerimanya atau menolaknya. Aku boleh datang boleh tidak tanpa ada sesuatu resiko bagi jiwa kita. Terlalu banyak orang yang tidak mengerti prinsip ini, dia pikir Kristus itu adalah pembantu. Sama sekali tidak. Panggilan ini adalah panggilan yang harus diresponi. Dan kalau saudara dan saya tidak merespon, ada sesuatu resiko bagi jiwa kita. Mari kita lihat Matius 22:1-14: Yesus Kristus memanggil para murid-Nya, Yesus Kristus memanggil kita, ketika panggilan Allah yang begitu lembut, jangan berpikir bahwa itu adalah panggilan yang bisa kita hindarkan. Kita harus mengambil keputusan terhadap panggilan itu. Dan apapun saja keputusan itu, akan mengandung sesuatu resiko bagi jiwa kita.

Gereja yang sejati adalah gereja yang memanggil setiap jiwa yang sudah diciptakan oleh Allah untuk mendekat, untuk mengenal Allah. Jiwa tersebut tidak dipanggil untuk mendekat kepada hamba Tuhan atau kepada organisasi, tetapi jiwa tersebut dipanggil untuk mendekat dan mengenal pribadi Kristus. Terlalu banyak bahkan jemaat sendiripun tidak mengindahkan panggilan-Nya. Aku sibuk, aku punya urusanku sendiri, terlalu jauh. Setiap kali ketika kami mengadakan sesuatu program pembinaan, saya mau saudara mengerti, saya tidak pernah berpikir untuk saudara datang supaya gereja ini penuh, ini seluruh program pembinaan adalah panggilan untuk kita sendiri semakin mengenal Kristus melalui Firman. Bukan raja yang memanggil, raja mengutus orang-orangnya untuk memanggil orang-orang lain dan hamba-hambanya kemudian tidak diindahkannya. Kemudian hamba-hambanya sebagian dicemooh dan kemudian juga ada yang dibunuh. Nabi-nabi, rasul-rasul, gereja-gereja yang sejati menyatakan panggilan-panggilan itu dan panggilan-panggilan terdekat mengenal Kristus, dimuridkan oleh Kristus, dibentuk oleh Kristus, hidup berdedikasi bagi Kristus. Tetapi kita tidak, kita merasa satu kali seminggu ke gereja itu sudah cukup. Jangan perlakukan Tuhan seperti demikian, jangan kita tidak menghormati-Nya. Sekali lagi, panggilan itu adalah panggilan yang halus, tetapi hormat dan mulia. Ini bukan permohonan, ini adalah perintah, ini adalah ketetapan di dalam kedaulatan-Nya.

Hal yang kedua, panggilan ini adalah panggilan untuk meminta Allah diutamakan, diprioritaskan dan memberi satu-satunya di dalam hati kita. Ini adalah panggilan yang menjadi utama. Ketika Petrus, Andreas, Yohanes ada disana, Tuhan mengatakan, “Follow Me”, maka kemudian Alkitab mengatakan mereka meninggalkan semua. Saya tidak mengatakan bahwa kita meninggalkan seluruh pekerjaan lalu kemudian mengikut Kristus. Memang ada panggilan-panggilan khusus untuk menjadi hamba Tuhan, tetapi intinya adalah apakah di dalam hati kita sungguh-sungguh seluruh arah hati kita adalah follow Christ atau tidak, apakah sungguh-sungguh seluruh hidup kita itu bagi Kristus atau tidak. Perhatikan beberapa ayat Alkitab ini, kembali panggilan itu ada dan kembali panggilan itu ditolak oleh manusia dan lihat standar Kristus terhadap panggilan tersebut.

Mari kita lihat Matius 19:16-26. Seorang pemuda yang sangat saleh menurut ukuran agama, dan juga orang yang sangat kaya, dan ketika dia mencari Yesus, Alkitab mengatakan di dalam ketiga Injil sinoptik, kalau saudara-saudara gabungkan, dia lari dan kemudian dia mulai menyembah Yesus Kristus. Dan dia bertanya “Guru yang baik, apa yang harus aku perbuat untuk aku bisa pergi ke surga?” Ketika Saya melihat ayat ini, orang muda, saleh, kaya dan kemudian berlari untuk bertemu Yesus. Saya langsung pikir ini adalah masa depan gereja, banyak anak muda tidak mau tahu tentang Tuhan, banyak anak muda malas-malasan. Anak muda ini kaya, dia kerja keras, bukan itu saja, orang muda ini orang saleh, jadi dia adalah orang aktif di gereja, tetapi mata Tuhan tidak bisa dikelabui, kalau kemudian setelah pembicaraan itu, maka Yesus tahu seluruhnya. Pemuda itu katakan telah menuruti hukum-hukum yang berkenaan dengan manusia, sekarang tentang hukum yang paling utama yaitu kasihilah Allahmu dengan segenap hatimu, dengan segenap kekuatanmu, dengan segenap akal budimu. Yesus Kristus mengatakan jikalau engkau mau sempurna, maka hartamu yang banyak itu jual, berikan kepada orang miskin. Itu berarti lepaskan semua dan ikut Aku. Yesus tahu, satu hal yang tersembunyi di dalam hati orang muda ini, dia mau ikut Yesus tetapi ada tuan yang lain. Alkitab mengatakan engkau tidak bisa mengabdi kepada dua tuan, apakah engkau harus mengabdi kepada Allah atau mammon, tidak bisa kedua-duanya. Maka orang muda ini, adalah orang muda yang kemudian Alkitab katakan begitu sedih hati, dia menangis tetapi tidak ada pertobatan. Dan apa yang saya mau katakan adalah, Yesus setelah itu membiarkan dia pergi dan tidak memanggilnya kembali. Kristus adalah satu pribadi Allah yang ketat, yang memiliki standar dan Dia tidak akan mundur setapakpun dari standar-Nya. Berikan semuanya kepada-Ku atau tidak sama sekali. Follow Me!

Ini adalah suatu prinsip Alkitab, banyak dari kita menipu diri kita sendiri. Aku orang Kristen, padahal di dalam hatimu, engkau tak pernah memberikan seluruhnya bagi Kristus.

Di tempat yang lain mari kita melihat Lukas 9:57-62, panggilan ini adalah panggilan yang lembut, panggilan ini adalah panggilan yang tidak memaksa, tetapi panggilan ini adalah panggilan yang urgent dan tidak mungkin tertolak, panggilan ini adalah panggilan yang mulia dan memiliki standar. Jangan pernah berpikir kita mengikuti Kristus, menjadi orang Kristen dengan pikiran kita sendiri, dengan standar kita sendiri, dengan nilai kita sendiri, kita mendefinisikan Kristen, kita mendefinisikan diri kita pengikut Kristus tanpa ada standar yang jelas. Ketika melihat panggilan di dalam Lukas 9:57-62 itu, orang ini baru saja ayahnya meninggal, lalu kemudian dia mengatakan ijinkan aku menguburkan ayahku. Apa yang lebih urgent di dalam hidup kita dibandingkan dengan kematian? Holiday bukan sesuatu yang urgent, saudara ada seminar bukan sesuatu yang urgent, saudara bisa planning itu beberapa tahun sebelumnya, beberapa bulan sebelumnya, sekolah anak bukan sesuatu yang urgent, saudara bisa planning itu beberapa bulan sebelumnya, tetapi kematian tidak ada yang bisa mem-planning itu bukan, dan begitu itu sudah datang, saudara akan melupakan apapun saja, saudara akan mempersiapkan untuk hal itu, saudara akan membeli petinya, saudara akan pergi ke tempat rumah duka, saudara akan memikirkan bagaiamana tata upacara pemakamannya, tidak ada yang bisa menghentikan untuk hal itu, tetapi Kristus pun mengatakan, bahkan itupun maka Aku harus menjadi yang lebih utama. Saudara-saudara, biarkan orang mati menguburkan orang mati, berarti engkau ikut Aku.

Hal yang lain adalah “aku mau pamitan dahulu”. Yesus Kristus mengatakan setiap orang yang siap untuk membajak dan menoleh ke belakang tidak layak bagi-Ku. Ini adalah suatu tuntutan tajam, keras, yang tidak kompromi dan tidak mau mundur. Saya tidak mengatakan bahwa ini adalah sesuatu hal yang sifatnya harafiah, yang paling penting adalah bagaimana hati kita. Suatu hari Elia memanggil Elisa dan Elisa pun minta ijin kepada Elia untuk pamitan kepada keluarganya dan itu diperbolehkan. Masalahnya adalah ini bukan harafiah tampak luar, sebenarnya adalah isi hati kita, apakah sungguh-sungguh memprioritaskan Kristus di dalam seluruh hidup kita atau tidak. Biarlah kita boleh jujur di dalam hidup kita. Jikalau Kristus bukan yang utama di dalam hati kita, tidak perlu saudara melakukan atraksi agama seperti ini. Saudara sedang action di hadapan Allah. Berikan hati kita seluruhnya atau tidak sama sekali. Jadikan Dia utama atau tidak sama sekali, itu adalah panggilan hidup. Apa bedanya antara satu kebangunan rohani yang Kristus itu nyatakan, dengan yang setan itu nyatakan. Setan selalu akan mengatakan jangan berikan semuanya, berikan sedikit saja. Setan mengatakan, berikan 3 detik saja dari waktumu untuk melihat video porno tidak akan mengubah apa-apa di dalam hidupmu, engkau akan menikmatinya. Tetapi lihatlah, seluruh keluarga Daud hancur berantakan karena dosa yang masuk karena sesuatu yang sedikit. Itu hebatnya setan, tetapi Tuhan tidak akan begitu. Tuhan akan mengatakan, berikan di depan seluruhnya. Kasih semuanya, prioritas, didepan, atau tidak sama sekali. Semuanya, seluruh hatimu, sepenuh hidupmu dan Aku menjadi satu-satunya yang prioritas dalam hidupmu atau tidak sama sekali.

Kiranya kita boleh mengerti sebenarnya apa yang menjadi standar dari tuntutan Alkitab ketika kita menjadi orang Kristen dan kita tidak bermimpi di siang hari bolong memikirkan, mendefinisikan kekristenan menurut cara pikir kita sendiri. Sekali lagi biarlah kita ingat akan dua hal, pertama itu adalah panggilan yang mulia dari Allah yang hormat yang harus kita hormati jikalau kita menolaknya, jangan berpikir tidak ada resikonya dan yang kedua itu adalah sesuatu panggilan yang standar yang meminta Dia menjadi prioritas satu-satunya tertinggi, semuanya di dalam hati kita atau tidak sama sekali.

Arti Panggilan: Follow Me

Berdoa

Pengkhotbah: Pdt. Agus Marjanto, M.Th
Matius 4:18-22

Yesus pergi ke Galilea setelah diusir dari Kapernaum dan memanggil beberapa murid-Nya lagi. Pemuridan pertama kali ada dalam catatan Yohanes. Yohanes Pembaptis adalah salah satu the greatest reductionist di dalam dunia. Ketika Yohanes melihat Perjanjian Lama, dia melihat satu hikmat Mesias akan datang. Dan Kristus itu yang akan menebus dosa umat manusia. Dia meneliti satu per satu dan ketika dia melihat Yesus, dia langsung bicara: Inilah Orangnya. “Lihatlah Anak Domba Allah”. Maka seketika itu juga, 2 murid Yohanes Pembaptis dipersilahkan untuk mengikut Yesus yaitu Yohanes dan Andreas. Yohanes Pembaptis seorang besar yang diurapi oleh Tuhan. Tetapi orang yang diurapi oleh Tuhan itu adalah tetap orang yang paling rendah, lebih rendah dari budak dibandingkan Kristus yang mulia. Yohanes, murid Yohanes Pembaptis yang kita kenal itu menjadi murid Yesus, dilepaskan dan kemudian mereka mengatakan: Guru, di mana Engkau tinggal? Di situ mulai perjumpaan antara murid-murid pertama dengan Yesus Kristus. Dan kemudian waktu berlalu demi waktu. Yesus mulai mengajar di Galilea meskipun pada saat itu Dia mungkin masih ada di Kapernaum.

Suatu hari, Alkitab mengatakan di Injil Lukas; “Yesus Kristus ada di daerah tepi danau Galilea”. Dan saat itu, Yesus dihampiri oleh orang banyak, yang mau mendengarkan pengajaran-Nya. Kemudian Yesus melihat ada 2 kapal milik Simon salah satunya. Yesus masuk ke dalam kapal itu dan mengatakan, “Sekarang tolaklah kapal itu sedikit menjauh dari tepi”. Maka ditarik dari tepi lalu Yesus di sana mengajar orang banyak. Setelah pengajaran selesai dan orang banyak itu kemudian mulai berduyun-duyun pulang, maka Yesus Kristus berkata kepada Simon: “Simon, mari kita pergi ke tempat yang dalam untuk menangkap ikan.” Pada saat itu Simon, seorang nelayan, baru pulang dari laut yang dalam. Lalu Simon Petrus mengatakan: “Guru, sudah semalaman kami berusaha untuk menangkap ikan tetapi kami tidak mendapatkan apa-apa.” Dengan perasaan sungkan Petrus mengatakan, “Tetapi karena Engkau yang suruh, OK lah, sekarang aku ikut saja.” Dalam pikiran Petrus, ini sebenarnya pekerjaan yang sia-sia dan memboroskan waktu. Saya katakan kepada saudara, kalau kita taat, tidak mungkin sia-sia dan boros waktu. Kemudian Petrus mendayung sampai tempat yang dalam. Lalu Yesus berkata: “Tebarkan jalamu.” Lalu ketika ditebarkan, maka ikan-ikan terangkat dan jala itu mulai koyak, sudah tidak bisa lagi menampung. Alkitab mengatakan 2 perahu penuh dengan ikan dan hampir tenggelam. Begitu sampai ke darat, Simon langsung turun, dia langsung tunduk dan berlutut di bawah kaki Yesus. Dia mengatakan: “Guru, aku orang berdosa. Pergi, pergi!” Jikalau kita sungguh-sungguh anak Tuhan, berkat Tuhan tidak akan hanya membawa kita kepada “Haleluyah, puji Tuhan, aku dapat berkat.” Tidak! Berkat Tuhan kepada anak Tuhan yang sejati akan membuat kita sadar, aku orang berdosa. Aku tidak layak mendapatkan ini. Di saat seperti itu, maka Yesus mengatakan: “Ikutlah Aku, Petrus”. Aku akan menjadikan engkau penjala manusia. Perhatikan, kalimat Yesus ini adalah satu-satunya kalimat yang ditulis di dalam Matius. Dari seluruh ayat 18-22 hanya ada 1 kalimat dari Yesus, yaitu “Ikutlah Aku, maka Aku akan menjadikan engkau penjala manusia”. “Follow Me”. Mari kita mengingat satu kalimat ini. Follow me. Dengarlah apa yang merupakan isi hati Kristus. Dengarlah panggilan-Nya.

Tiga aspek dari arti panggilan Allah:

  1. Isi Panggilan.
    “Follow Me” adalah bicara berkenaan dengan isi panggilan, yaitu mengikut Kristus. Ini adalah panggilan kita semua. Apa yang Dia ucapkan kepada Petrus adalah ucapan yang sama kepada murid-murid yang lain dan kepada kita. Perhatikan beberapa poin ini. Lihat Yohanes 1:43 dan Matius 9:9. Kalimat Yesus ini merupakan isi panggilan. Panggilan Kristen yang sejati adalah panggilan untuk mengikut Kristus Yesus dan panggilan itu artinya panggilan untuk dimuridkan (discipleship). Banyak orang Kristen berpikir salah di dalam hal panggilan ini. Panggilan itu berbeda dari profesi. Profesi adalah sesuatu sistem hidup atau wadah di mana panggilan itu akan kita kerjakan di dalam urusan talenta kita. Namun ‘panggilan’ jauh lebih dalam, jauh lebih esensial dan itu jauh lebih besar jangkauannya daripada sekedar profesi walaupun memang benar kata profesi di dalam bahasa Inggrisnya adalah vocation dari bahasa Latin itu adalah vox (suara). Panggilan kita dipanggil oleh suara dari Kristus untuk mengikut Dia, untuk dimuridkan, dibentuk oleh Dia, untuk segala sesuatu dalam hidup kita itu kehendak-Nya kita lakukan, kita laksanakan dan kita taati. Itu adalah panggilan kita di dalam seluruh apapun saja profesi kita. Profesi demi profesi, kedudukan demi kedudukan bisa berubah.

    Kalau saudara perhatikan seluruh rancangan hidup bagi Yusuf, profesi demi profesi itu berubah-rubah. Dia adalah seorang anak, budak, pembantu, manager, narapidana dan perdana menteri. Meskipun profesinya berubah, tetapi di mana saja, entah di atas, entah di bawah, maka dia harus memunculkan bahwa dirinya adalah murid Kristus. Ini adalah panggilan yang paling utama. Profesi saya adalah hamba Tuhan, tetapi panggilan saya adalah seorang yang dipanggil mengikut Kristus. Seorang yang dipanggil untuk dimuridkan oleh Kristus. Biarlah ini boleh ada di dalam hidup saudara. Di mana saja, baik di mimbar maupun di jalanan, ataupun di tempat penjara, maka orang tersebut adalah dipanggil untuk satu hal, yaitu mejadi murid Kristus. Saudara mengerti ini maka saudara tidak akan terkotak-kotak di dalam hidup. Kita semua dipanggil dengan satu kata yang sama. Dan semua dipanggil dengan satu prinsip yang sama: Follow Me. Satu per satu dipanggil untuk satu hal, yaitu dimuridkan. Dipanggil untuk makin lama makin dikuasai oleh Kristus.

    Setelah Petrus, Andreas, Yakobus dan semua satu per satu dipanggil menjadi murid Yesus, mereka secara intens mempelajari kalimat Yesus dengan sungguh-sungguh, melihat isi hati Yesus dan sungguh-sungguh meneliti pengajaran Yesus. Satu per satu mengalami pembentukan hidup dan juga membentuk interaksi satu dengan yang lainnya yang mungkin sangat menyakitkan. Yesus pernah mengatakan: Enyah engkau setan kepada Petrus. Yesus pernah menghardik 2 anak guntur; Yohanes dan Yakobus (boanerges). Sedikit demi sedikit marah adalah karakter mendasar yang ada pada mereka. Tetapi setelah mengikut Yesus beberapa tahun kemudian, ada interaksi, bentukan, disiplin karena mereka adalah disciple. Maka kemudian apa yang terjadi? Yohanes menjadi rasul kasih. Sedikit-sedikit bicara: ‘Kasihilah satu dengan yang lain”. Kalau engkau sungguh-sungguh mentaati Kristus, maka engkau mengasihi Dia, mengasihi Firman-Nya, mentaati Firman-Nya.’ Setiap kali bicara itu berarti sepanjang bertemu dengan Yesus Kristus, Follow Me, ada bentukan, ada pelajaran. Sekarang kalimat yang sama, hadir pada kita pada pagi hari ini. Follow Me. Tetapi banyak orang tidak mengerti prinsip ini maka dia tidak mau belajar. Berapa orang yang mau belajar Alkitab? Berapa orang yang mau belajar di bawah sekolahannya Yesus Kristus? Berapa orang yang mau diajar untuk berdoa?

    Perhatikan prinsip ini. Panggilan pertama bukan pelayanan tetapi mengikut Kristus dan dibentuk oleh Kristus. Panggilan pertama kita adalah panggilan untuk mendekat kepada Kristus, untuk serupa dengan Kristus. Dan di dalam bentukan seperti itu maka baru Kristus akan memakai kita berguna di dalam Kerajaan-Nya. Banyak orang ingin menjadi berkat bagi orang lain tetapi tak mungkin menjadi berkat bagi dunia ini, tak mungkin menjadi berkat di dalam Kerajaan Allah kalau saudara dan saya tidak mau dibentuk. Tak mungkin kita menjadi berkat dan mengabarkan Injil dan mengabarkan Kristus yang hidup itu kecuali kita mau taat. Follow Me dan Aku akan jadikan engkau penjala manusia. Ini adalah kehidupan yang intim dengan Tuhan. Semakin intim orang itu dibentuk oleh Tuhan, semakin orang itu kenal Tuhan, semakin dia akan diurapi oleh Tuhan.

    Di tempat yang lain, yang saya mau tegaskan di dalam poin pertama ini adalah kata “Follow Me”, adalah sesuatu privilege. Jikalau engkau adalah orang Kristen maka kata ini akan muncul di dalam kehidupanmu. Sebenarnya di dalam kehidupan Petrus, kata ini muncul minimal 3 kali di dalam Alkitab. Yesus berkata kepada Petrus di saat dia goyah, di saat dia mau mundur iman, selalu Yesus datang dengan mengatakan “Follow Me, Peter Follow Me.” bukan hanya 1 kali. Kalimat ini juga sama terhadap engkau. Setiap daripada saudara ketika mau jatuh, mau mundur kalimat ini akan muncul; “Follow Me. Ikutlah Aku”. Jalan terus jangan mundur. Kalimat Yesus Kristus ini adalah sesuatu previlege, hak istimewa yang besar sekali yang boleh dan bisa ditangkap oleh manusia yang hidup. Di dalam kitab Mazmur ada 1 kalimat; ‘Berbahagialah orang yang dipanggil mendekat kepada Tuhan.’ Dan kalimat ini adalah kalimat untuk memanggil saudara dan saya makin hari makin mendekat kepada Tuhan.

  2. Sifat atau natur panggilan.
    Panggilan “Follow Me” adalah panggilan di dalam kedaulatan dan anugerah Allah semata. Dialah yang berhak memanggil dan kepada siapa Dia memanggil, maka itu adalah keputusan di dalam kedaulatan-Nya. Alkitab mengatakan bahwa “bukan kamu yang memilih Aku tetapi Aku yang memilih kamu.” Ketika saya merenungkan perkataan Yesus Kristus di dalam Matius 4 ini, mengapa Anak Allah, Allah oknum kedua datang ke Galilea, kepada orang-orang nelayan biasa yang miskin yang tidak terpelajar dan mengatakan: Follow Me? Mengapa suara Allah yang Maha Kuasa dan Maha Besar itu diberikan kepada mereka dan bukan orang-orang yang besar menurut ukuran dunia? Kalau melihat prinsip ini maka saudara akan sangat dikagumkan dan digentarkan karena setiap kali Allah bertindak, Dia bertindak di dalam kebebasan, kedaulatan-Nya. Ada satu kalimat di dalam Korintus yang ditulis oleh Paulus menggambarkan kondisi ini. Lihat 1 Korintus 1:26-31. Di dalam hikmat Allah dan kebesaran-Nya, di dalam anugrah-Nya di dalam kedaulatan-Nya, maka Dia datang ke dunia dan kemudian mencari Petrus, Yohanes, Yakobus, Filipus, dan semua orang yang Dia mau menyatakan kasih-Nya, kepada kita. Satu prinsip di sini, yaitu bahwa bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Aku yang memilih kamu, dan Aku sudah menetapkan engkau untuk berbuah dan buahmu itu lebat.

    Saudara mungkin berkata: “Tapi saya yang memilih waktu itu.” Jawabannya adalah tidak. Kalau engkau bisa menjadi orang Kristen dan sungguh-sungguh engkau adalah anak Tuhan, lahir baru, Roh Kudus ada di dalam hati kita, itu adalah karena Tuhan yang memilih kita. Sepanjang saudara tidak sadar akan hal ini, saudara tidak akan mengerti apa itu hak istimewa. Saudara dan sayalah yang dipilih oleh Tuhan, bukan kita yang memilih Tuhan. Tuhan tidak memilih kita karena kita kaya, baik, suci ataupun berjasa. Tidak ada apa-pun dari kita yang melayakkan kita untuk dipilih. Tetapi kita dipilih karena dua hal ini. Pertama, supaya benar-benar Allah saja yang dipermuliakan. Jangan sampai ada satu orang-pun yang membanggakan diri dan mengatakan: aku dipilih karena aku rajin ke gereja, aku dipilih karena aku orang yang sungguh-sungguh benar-benar hidupnya aku jaga bersih. Tidak! Sebaliknya, kita dipilih, maka kita benar, kita dipilih maka kita jadi baik, kita dipilih maka kita jadi rajin. Seluruhnya, kalau saudara mengerti doktrin Reformed, maka saudara akan melihat segala sesuatu adalah kedaulatan Allah semata. Sekali lagi, kenapa kita yang seperti ini yang dipilih? Bukan Athena, bukan Roma, bukan Yerusalem, mengapa kita? Mengapa Galilea yang dipilih? Jawabnya adalah pertama, untuk seluruh orang yang dipilih hanya mengerti satu hal: soli Deo gloria. Kemuliaan hanya bagi-Mu, tidak ada bagiku, karena segala sesuatu adalah dari Dia, oleh Dia, kepada Dia, untuk Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya. Kedua adalah untuk mempermalukan orang dunia. Kalau orang Kristen, anak Tuhan mengerti Firman, sebodoh apa-pun, maka orang tersebut akan memiliki hikmat lebih besar dari dunia. Masalahnya adalah saudara dan saya meneliti Firman untuk mendapatkan hikmat Allah atau tidak? Follow Me, natur panggilan itu adalah seturut dengan kedaulatan Allah.

  3. Ini menyatakan kontinuitas rencana keselamatan Allah di bumi ini.
    Sekali lagi, kontinuitas. Rencana keselamatan Allah di bumi ini. Saudara perhatikan baik-baik satu kalimat di bawah ini yang mengandung suatu prinsip teologia yang dalam. Ini adalah cara Allah meneruskan covenant of grace. Di dalam Alkitab ada satu pengajaran bahwa kita semua lahir sudah berdosa, kita adalah mahluk yang berdosa. Kenapa? Ini adalah prinsip Alkitab, dan secara teologis kita berdosa karena Adam berdosa, kita semua di dalam Adam. Itu namanya representatif, federal, head of. Adam adalah kepala seluruh umat manusia. Adam adalah satu pribadi yang paling rohani di antara kita semua dan Tuhan pilih dia menjadi wakil, representatif, kepala dari seluruh umat manusia. Adam adalah perwakilan dan yang menghubungkan antara Adam dan kita yang diwakili disebut sebagai covenant, diikat menjadi satu. Alkitab mengatakan, di dalam kekekalan, Allah sudah memiliki rencana keselamatan dan pada waktunya, Yesus Kristus diutus di dunia dan Yesus Kristus menggenapi apa yang gagal digenapi oleh Adam. Sehingga, karena Adam berdosa, maka saya berdosa, itu karena Adam berdosa, dosanya dicangkokkan kepada saya, diimputasikan kepada saya karena dia adalah wakil dan ini adalah jalur covenant. Sebaliknya, Alkitab mengatakan karena Kristus benar, maka upah kebenaran Kristus dicangkokkan ke kita, diimputasikan ke kita yang dipilih Allah, menjadikan kita di hadapan Allah di dalam Kristus kita adalah orang benar.

    Pencangkokan atau imputasi ini, kebenaran Kristus menjadi kebenaran saya menjadi satu covenant yang baru. Di dalam prinsip seperti ini, orang-orang berdosa menjadi satu dengan Adam, orang-orang yang dibenarkan menjadi satu di dalam Kristus. Perubahan dari “di dalam Adam” menjadi “di dalam Kristus” atau dengan bahasa yang lebih mudah, perubahan dari kegelapan menjadi terang, maka itu ada sesuatu pekerjaan Allah yang besar disebut sebagai covenant of grace. Covenant of grace mengubah kita yang tadinya diwakili Adam sekarang kita itu diwakili oleh Kristus sehingga orang-orang yang mendapatkan covenant of grace adalah orang-orang yang mendapatkan keselamatan, pembenaran di dalam Yesus Kristus. Keberhasilan dari covenant of grace diteruskan di dunia ini, Allah dengan memakai 2 pribadi. Pribadi pertama adalah pribadi Allah yang mengutus Roh Kudus. Yang kedua adalah pribadi manusia, Dia memakai orang-orang yang diselamatkan di dalam Kristus. Orang-orang yang diselamatkan di dalam Kristus akan berkata, akan bertindak, akan berlaku kepada dunia ini serupa dengan Kristus dan berkata-kata mengenai siapakah Kristus itu. Kemudian Roh Kudus akan memakai perkataan kita, kehidupan kita, dan contoh kita untuk mencelikkan orang lain. Kemudian orang lain itu ada di dalam Kristus, dan orang itu kemudian berkata lagi kepada orang lain dan orang lain itu kemudian ada di dalam Kristus di dalam covenant of grace. Perhatikan cara kerja Allah ini. Allah memakai cara kerja untuk meneruskan pekerjaan-Nya untuk terus menerus covenant of grace itu disebarkan di seluruh dunia sampai kerajaan-Nya datang dengan satu suara ini: follow Me.

Kalimat follow Me diucapkan kembali secara harafiah oleh Paulus (1 Korintus 11:1). Jadilah pengikutku sama seperti aku juga pengikut Kristus. Saya tidak bisa membayangkan apa yang terjadi bila Yesus Kristus tidak memanggil murid-murid-Nya. Maka kontinuitas ini tidak ada. Ini yang dikerjakan: Allah Bapa mengutus Allah Anak. Setelah Allah Anak menyelesaikan pekerjaan-Nya dan Dia kembali ke surga, dan Dia akan kembali lagi ke bumi pada saat yang Dia tentukan sendiri di dalam kekekalan. Maka sepanjang waktu dari jaman ke jaman, sepanjang bumi ini berputar dan sebelum Anak Allah datang untuk yang kedua kalinya, maka seluruh orang-orang yang akan dipanggil-Nya itu mulai dari murid-murid-Nya. Dan ketika murid-murid-Nya ada, Yesus katakan: follow Me dan mereka meninggalkan segala sesuatunya, mereka seumur hidup, seluruh hatinya mengikut Yesus Kristus, belajar, dibentuk oleh Yesus Kristus, dan taat pada Yesus Kristus. Kemudian Kristus pergi ke surga. Kemudian mereka mengajar kepada orang yang lain yang lebih muda mengatakan: follow me, ikut aku karena aku mengikut Kristus.

Alangkah indahnya bila ini ada di dalam gereja. Setiap pemimpin gereja berkata kepada seluruh jemaatnya: follow me, sama seperti aku mengikut Kristus. Dan alangkah indahnya bila ini ada di dalam setiap keluarga, setiap orang laki-laki, setiap bapak-bapak mengatakan kepada anak-anaknya, seisi keluarganya: ikut bapa, ikut aku sama seperti aku mengikuti Kristus Yesus. Jikalau ini ada maka covenant of grace ada di seluruh dunia, satu persatu hati setiap manusia ditaklukkan. Covenant of grace akan masuk di dalam keluarga kita, di dalam anak, cucu kita. Jangan take it for granted, jangan berpikir bahwa anak kita atau keluarga kita pasti diselamatkan karena kita pergi ke gereja. Billy Graham mengatakan bahwa bila kita berada di bengkel atau ke garasi maka engkau jadi mobil, tidak! Saudara harus menyatakan itu kepada anak, keluarga kita. Gereja harus menyatakan kepada dunia. Apa yang sekarang dunia tidak bisa lihat adalah karena tidak ada contoh di dalam hidup kita, pemimpin-pemimpin gereja. Saya mengatakan hal ini, saya tidak mengatakan dengan kebanggaan bahwa saya lebih baik dan benar dari orang lain, kita semua orang berdosa. Tetapi kita harus mengerti ada standard yang Tuhan nyatakan. Kita semua harus mengikut Kristus baru kita memiliki kekuatan dan kuasa berbicara: “Ikutlah aku sebagaimana aku mengikut Kristus”. Kita semua, bapak-bapak, dan laki-laki yang ada di sini juga harus mengikuti Kristus. Apakah saudara-saudara berani mengatakan kepada anak saudara: ikutlah aku karena aku mengikut Kristus?

Satu cerita yang sungguh-sungguh terjadi. Sudah bertahun-tahun, seorang laki-laki di kota Chicago memiliki kebiasaan pergi bekerja pagi-pagi, tetapi di tengah jalan dia akan selalu membelokkan kakinya untuk mampir ke bar dan minum bir sebelum dia bekerja. Itu dilakukan hari demi hari, tahun demi tahun. Suatu hari, di pagi yang bersalju, dia sekali lagi melakukan yang sama. Tidak ada orang yang tahu. Tetapi tiba-tiba, di tengah jalan itu, dia mendengarkan ada suatu suara yang kecil: Daddy, I am coming in your step. Orang itu kaget, dia berbalik ke belakang dan kemudian dia melihat anaknya sendiri, mengikut jejak langkah ayahnya yang tercetak di salju itu, jejak langkah yang menuju ke bar. Begitu ayahnya sadar, dia langsung berteriak dengan gemetar kepada Tuhan: “Oh Tuhan, saat ini anakku mengikuti jejakku. Tolong aku, aku sekarang akan mengarahkan jejakku ke arah yang lain. Aku akan memutar jejakku, aku akan memutarnya dan mengarahkannya ke tempat yang lain.”

Setiap bapak-bapak, buka hatimu, buka hidupmu! Sekarang saya tanya, apakah engkau sungguh-sungguh ingin anakmu mencontoh hidupmu? Suatu hari engkau kalau sudah tua, engkau lihat anakmu tidak pergi ke gereja, atau anakmu main games, main handphone di gereja, atau main video porno, main perempuan dan engkau marah, engkau tanya: kenapa seperti itu? Dan mereka menjawab: “Aku mengikuti jejakmu”. Kalau anakmu tidak peduli dengan keluarga dan tidak peduli dengan Tuhan, yang paling penting karir dan uang, dan anakmu mulai break, lalu kemudian ditanya mengapa seperti ini? “Aku mengikuti jejakmu.”

Pagi ini, Kristus memberikan satu jejak yang suci, satu jejak yang sungguh-sungguh akan membahagiakan keluargamu. Follow Me Peter, follow Me. Petrus, Yakobus, Yohanes dan seluruh rasul, seluruh bapa gereja berseru dengan satu suara yang sama: ikut aku anakku, ikut aku jemaatku, sebagaimana aku itu mengikut Kristus. Christ, I am coming in your step. Saya minta sungguh-sungguh, seluruh laki-laki yang ada di tempat ini, sama seperti Yesus Kristus memilih murid-murid-Nya, saudara serius pagi ini di hadapan Tuhan, dengarlah suara Tuhan: Follow Me, dan engkau akan Ku-jadikan penjala manusia, hidupmu tidak akan sia-sia, hidupmu Aku akan pakai untuk kemuliaan nama-Ku. Laki-laki bersikaplah laki-laki di hadapan Allah, engkau adalah pemimpin keluarga dan bukan istri yang harusnya lebih rohani daripada kita. Kita semua harus memimpin istri dan anak-anak kita. Kiranya Tuhan menyertai kita.

Cinta Tuhan yang ditolak di Kapernaum

Berdoa

Pengkhotbah: Pdt. Agus Marjanto, M.Th
Matius 4:12-17, Yesaya 8:23-9:7

Setelah Yesus dicobai oleh setan di padang gurun, selanjutnya Yesus pergi ke Galilea ke tanah Zebulon dan Naftali, dan memberitakan Injil Kerajaan di sana. Di antara peristiwa Yesus dicobai dan Dia pergi ke Galilea, ada gap 1 tahun. Matius memang sengaja menuliskan peristiwa-peristiwa yang terjadi di dalam hidup Yesus Kristus. Apa yang terjadi setelah Yesus dicobai dan sebelum Yesus berada di Galilea yang dituliskan dalam Injil Yohanes. Kitab Yohanes menuliskan peristiwa air menjadi anggur di Kana, Yesus membersihkan dan memporak-porandakan semua yang berjualan di Bait Suci, pembicaraan Yesus dengan Nikodemus, pembicaraan Yesus dengan perempuan Samaria. Tetapi mengapa Matius tidak memasukkan peristiwa-peristiwa tersebut di dalam suratnya? Karena memang seluruh penulis Kitab Suci tidak mau memiliki sesuatu ketertarikan menuliskan silsilah atau menuliskan daftar kehidupan Yesus Kristus secara kronologis. Itu bukan ide mereka. Itu bukan concern mereka. Kalau kita membaca Kitab Suci, khususnya Kitab Injil ataupun beberapa kitab-kitab di dalam Perjanjian Lama, kita akan menyadari bahwa penulis-penulis itu tidak menuliskannya secara kronologis. Penulis-penulis itu menuliskannya, memasukkan cerita ini, mengeluarkan cerita yang lain karena mereka menulis untuk suatu tujuan. Mereka tidak memberikan data kepada kita. Mereka menuliskan untuk sesuatu tujuan. Tujuannya adalah untuk memproklamirkan iman mereka, memproklamirkan Allah yang mereka kenal dan mereka percaya. Tujuan Matius menuliskan suratnya adalah untuk orang-orang Yahudi khususnya mereka yang ada di pembuangan, agar mereka menyadari bahwa Yesus yang mereka salibkan adalah Mesias yang ditunggu-tunggu. Yesus yang mereka tolak itu adalah Mesias yang sebenarnya datang, yang sudah dinyatakan di dalam Perjanjian Lama. Maka Matius menuliskan pasal demi pasal dengan urutan-urutan yang detail dan cermat.

Orang-orang Yahudi adalah orang yang terus menerus menunggu kapan Mesias datang seumur hidup, beratus-ratus tahun tidak pernah bisa rest di dalam hatinya. Orang Yahudi adalah orang yang terus, hampir setiap hari, ratusan tahun, perang sampai saat ini. Mereka orang yang terus dikejar-kejar oleh bangsa-bangsa sekitar. Mereka dianggap sebagai satu bangsa yang menduduki tanah yang tidak sah, tidak legal yang mereka sekarang duduki. Ini adalah kesulitan bagi orang-orang Yahudi. Orang Yahudi sudah ditindas oleh Mesir, Asyur, Babel, Media-Persia, Yunani, Romawi, terus menerus. Mereka terus menunggu kedatangan Mesias. Lalu Tuhan mengirimkan Mesias itu tetapi mata mereka buta. Mata mereka tidak bisa melihat dan mereka memakukan Mesias yang mereka tunggu-tunggu itu. Dan Matius mau menyatakan; Hai orang Yahudi, lihat, Mesias yang engkau tunggu-tunggu itu adalah Yesus Kristus yang engkau salibkan dan sekarang sudah bangkit dari kematian. Maka melihat dari seluruh catatan-catatan Matius, selalu ada di dalam framework teologia orang Yahudi.

Perhatikan apa yang sedang dinyatakan oleh Matius. Ada 4 hal yang terjadi sebelum Yesus pergi ke Zebulon.

  1. Penegasan dari kepastian internal melalui silsiah (Matius 1). Matius mempresentasikan kepada orang Isreel siapa Yesus, yang mereka paku, Kristus yang mereka nantikan. Ia membuktikan bahwa Yesus ada di dalam internal orang Israel melalui silsilah yang dituliskan, Dia adalah Anak Daud.
  2. Penegasan kepastian eksternal (Matius 2). Matius mengatakan bahwa Kristus itu akan bersinar bagi Israel dan Israel akan menjadi berkat bagi bangsa-bangsa. Dibuktikan pada hari kelahiran-Nya, orang Majus dari Timur, datang. Mereka bukan orang Israel, datang menyembah Yesus.
  3. Penegasan kesaksian dari Atas yaitu dari Allah (Matius 3), mengenai baptisan Yesus Kristus di dalam pasal 3. Maka ini bicara berkenaan dengan inagurasi Mesias, kesaksian dari Allah diteguhkan.
  4. Penegasan berkenaan dengan pribadi-Nya sendiri (Matius 4), Yesus adalah Kristus yang menang terhadap seluruh pencobaan. Itu adalah sesuatu yang benar karena Dia menang terhadap seluruh pencobaan. Kristus harus menang terhadap seluruh pencobaan. Adam gagal, Israel gagal. Semua orang yang menyebutkan Kristus-Kristus sudah ada ratusan sebelum Yesus Kristus lahir. Sekarang mereka semua satu persatu gagal. Tetapi Yesus dicobai dari seluruh bagian-Nya dan Dia tidak gagal. Dia layak adanya.
  5. Dan sekarang, Yesus pergi ke Galilea, ke tempat tanah Naftali dan Zebulon, tempat yang gelap, tempat bangsa-bangsa lain. Dia menyatakan: “Bertobatlah, Kerajaan Allah sudah dekat”. Di sini Matius menyatakan kesaksian kelima.

  6. Yesus menggenapi Perjanjian Lama. Matius 4, ayat yang selanjutnya, Yesus ditegaskan menggenapi Perjanjian Lama. Yesaya pasal 8 dan 9, dikatakan bahwa bangsa yang berjalan di dalam kegelapan itu, tanah Naftali dan Zebulon yang tadinya dimurkai oleh Allah, sekarang Dia akan dimuliakan oleh Tuhan dengan kehadiran dari Raja Damai, kehadiran dari Mesias. Dan kapan penggenapan Yesaya 8:23 – 9:6 itu? Adalah pada detik Yesus pergi ke Galilea dan menetap di sana. Setelah seluruh inauguration of Christ. Setelah seluruh preparation of Christ, sekarang kemudian Matius menuliskan the work of Christ, menuliskan pekerjaan Kristus. Sekarang di dalam tanah ini, Dia akan berbicara, Dia akan melayani berlama-lama di sana.

Maka saudara-saudara, hari ini saya akan bicara mengenai 2 hal yang besar yang akan menjadi anti-thesis satu dengan yang lain.

Poin pertama (Matius 4:12–17), lihatlah cinta kasih Allah yang besar di dalam Kristus menjangkau bangsa yang sudah dilupakan dan yang terhilang. Yesus pergi ke Galilea, ke tanah Zebulon dan Naftali. Bangsa itu sudah tidak ada lagi, tempat yang bukan Israel lagi dan sudah dilupakan. Kemudian Dia memproklamirkan Injil Kerajaan: Bertobatlah karena Kerajaan Allah itu sudah dekat. Orang Israel sejak jaman Salomo terbagi menjadi 2. Satu adalah Israel Selatan atau di dalam Alkitab dikatakan suku Yehuda. Sebenarnya ada 2 suku di dalamnya, yaitu Yehuda dan Benyamin. Kedua adalah Israel Utara. Dan Israel Utara ada 10 suku. Dari peta Israel akan terlihat bahwa Yehuda ada di bawah. Betlehem ada di bawah. Yerusalem ada di bawah. Naik ke atas, kita akan bertemu dengan Nazaret. Naik ke atas lagi, maka kita akan bertemu dengan Kapernaum di dalam ayat ini dan juga itu ada di tanah Zebulon dan tanah Naftali. Kapernaum di tanah Naftali di atas dan di bawahnya itu adalah Zebulon. Tanah Naftali dan Zebulon itu adalah tanah yang paling atas dari Israel. Dan berbatasan dengan suku-suku yang asing, bukan orang Israel. Berbatasan dengan bangsa-bangsa yang lain dan bukan orang Israel. Bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Sehinga kalau kita melihat kota Kapernaum, melihat tanah Zebulon dan Naftali, kita akan menemukan di sana bukan hanya orang Israel. Di sana banyak gentile, banyak kafir. Dan di sana bukan hanya agama Yahudi, di sana penuh dengan agama demi agama, budaya demi budaya dan ilah demi ilah dan masuk dalam kehidupan sosial dan seluruh kehidupan perekonomian dan tatanan masyarakat. Ini adalah wilayah bangsa-bangsa lain, demikian Alkitab katakan.

Tetapi bukan itu saja, yang mendiami tanah Zebulon dan Naftali adalah bukan Israel secara sejati, Israel campuran. Percampuran terjadi pada waktu Asyur datang ke Israel, seorang raja Asyur yang menjadi panglima besar sekali, itu namanya Tiglat-Pileser. Di dalam Alkitab dikatakan Tiglat-Pileser atau raja Pul datang menghancurkan 10 suku dan mengambil semua 10 suku itu, menyerakkan ke seluruh dunia, menjadi minoritas-minoritas. Setelah beberapa puluh tahun akhirnya mereka harus kawin campur. Seluruh anak mereka tidak ada lagi yang murni Israel. Jadi Israel Utara habis, karena Tiglat-Pileser, karena mereka kawin campur. Dan saya katakan kepada saudara-saudara 1 prinsip ini. Tiglat-Pileser pertama kali menghancurkan Israel mulai dari tanah Zebulon dan Naftali masuknya. Itulah sebabnya Tuhan mengatakan di Yesaya, bangsa yang sudah dimurkai oleh Tuhan. Bangsa yang dibuang oleh Tuhan. Sekarang, pada waktu yang ditetapkan oleh Allah, hati Tuhan berbalik kepada mereka. Yesus datang ke tempat bangsa yang sudah dimurkai-Nya. Waktu penghukuman sudah selesai, sekarang adalah waktu pemulihan. Aku mencari kembali anak-anak-Ku meskipun mereka sudah berzinah. Cinta Tuhan datang kepada Zebulon dan Naftali. Cinta Tuhan datang kepada Kapernaum. Kapernaum itu artinya adalah the village of compassion. Ini yang dikerjakan oleh Kristus.

Betapa cinta kasih-Nya itu besar. Betapa Dia murka kepada orang-orang berdosa sesaat saja. Tetapi kasih setia-Nya tetap untuk selama-lamanya. Allah hadir kepada bangsa yang terbuang. Allah hadir kepada orang demi orang yang ada di Kapernaum, tanah Zebulon, Naftali yang sudah kehilangan identitas Israel yang bisnis mereka itu, berpacaran, mereka itu menikah, mereka itu berdagang, mereka itu sekolah dengan orang-orang sekitar mereka, tidak ada perbedaan sama sekali antara gereja dan bukan gereja. Tidak ada perbedaan sama sekali Israel dan tidak Israel. Tidak ada perbedaan sama sekali antara orang yang kenal Tuhan dan tidak kenal Tuhan. Dan Allah menyerakkan mereka. Tetapi pada waktu yang ditetapkan, Allah datang dengan kaki-Nya sendiri. Dia menyerakkan dengan bangsa yang lain, Dia datang dengan Anak-Nya sendiri datang. Jalan jauh sampai ke sana, mengajar. Perhatikan baik-baik. KKR pertama kali tidak dilakukan Yesus di Yerusalem, tetapi di Zebulon dan Naftali, 10 suku yang sudah hilang. . KKR pertama kali dilakukan Yesus: “Bertobatlah karena Kerajaan Allah sudah dekat.” Sebenarnya inilah yang ada di dalam isi hati Allah yang dinyatakan oleh nabi di dalam Perjanjian Lama.

Seluruh bagian dari kitab ini me-refer kepada Yesaya. Tetapi sebenarnya ada satu nabi lagi, yaitu nabi Yehezkiel, 600 tahun sebelum Yesus datang. Dia sudah diberi Firman oleh Allah. Allah menyatakan, nanti suatu hari maka Israel Utara dan Selatan yang sudah pecah pada jaman raja Jeroboam dan Rehoboam sekarang akan Aku gabungkan. Lihat Yehezkiel 37:15-19 menggunakan judul “Kerajaan Israel dan Yehuda”, Israel itu adalah Israel Utara, Yehuda adalah Israel Selatan, dipersatukan kembali. Nubuatan ini terjadi pada waktu Matius 4 yang tadi kita baca. Kapan nubuatan Yesaya itu terjadi? Bangsa yang diam di dalam kegelapan telah melihat Terang yang bersinar pada waktu Matius ini, Yesus Kristus jalan pergi ke Galilea. Dia pergi ke Galilea, Dia pergi ke tanah Zebulon dan Naftali. Dalam khotbah yang beberapa bulan yang lalu, saya berbicara mengenai tugas Mesias. Mesias di dalam cara pikir orang Yahudi, Mesias di dalam Perjanjian Lama, maka Mesias tersebut akan memulihkan 4 hal ini. Pertama, Dia akan memulihkan tahta Daud. Itulah sebabnya Matius mengatakan: Inilah silsilah Yesus Kristus, anak Daud, anak Israel, anak Abraham. Kedua, Mesias akan memulihkan Bait Suci; rombak Bait Suci ini dan dalam 3 hari Aku akan membangun-Nya kembali. Yohanes mengatakan: Yang Dia maksudkan adalah tubuh-Nya. Ketiga adalah Israel akan dipulihkan tanahnya. Maka saudara-saudara perhatikan, Yesus Kristus harus lahir di tanah Israel. Yesus Kristus harus mengajar di tanah Israel dan seluruh rasul-rasul dibentuk di tanah Israel dan diurapi dan dari Israel seluruh bangsa akan mendapatkan berkat. Dan yang keempat adalah Mesias ketika datang, Dia akan menyatukan Israel Utara dan Israel Selatan dan ini adalah ayatnya. Jika kita membaca ini, kita akan menemukan cinta kasih Tuhan yang begitu dalam adanya. Mencari orang-orang yang sudah dimurkai, mencari bangsa yang tertindas, bangsa yang hidupnya seperti orang-orang kafir, bangsa dimana kegelapan yang besar itu terjadi.

Point kedua merupakan anti-thesis point pertama. Dalam ayat-ayat tersebut, kita juga melihat cinta kasih Allah di dalam Yesus Kristus yang sekali lagi ditolak dan dibuang. Allah mengunjungi Galilea, Naftali dan Zebulon. Dia mengunjungi dengan cinta-Nya karena Dia ingat janji-Nya. Seluruh nabi sudah menyatakan isi hati-Nya ratusan tahun sebelum Yesus Kristus lahir. Tetapi seluruh cinta kasih ini akan ditolak dan dibuang oleh manusia. Di dalam pelayanan-Nya, Yesus memilih kota Kapernaum di Galilea menjadi head quarter pelayanan-Nya. Sebagian besar hidup pelayanan Yesus ada di sana, tempat itu disebut village of compassion, di situ Yesus tinggal. Di Kapernaum, rasul-rasul pertama kali dipanggil oleh Yesus, di Kapernaum itu pula banyak mujizat-mujizat yang Yesus lakukan. Di Kapernaum Yesus mengajar prinsip-prinsip teologis mengenai diri-Nya, banyak ajaran yang terpenting diajarkan di kota ini. Di tempat itu Yesus mengatakan “Akulah roti hidup”. Hampir setiap hari Yesus mengajar di sinagoge-sinagoge di Kapernaum. Di dalam Alkitab, Kapernaum ditulis sebagai “kota Yesus”. Kalau kita melihat Alkitab, kita melihat Yesus lahir di Bethlehem, dibesarkan di Nazareth dan tinggal lama dan mengajar di Nazareth, tapi Alkitab mengatakan bahwa “kota Yesus” adalah Kapernaum. Hal ini dikatakan di Matius 9:1. Kapernaum adalah tempat di mana Yesus tinggal bertahun-tahun lamanya dalam pelayanan-Nya sebelum Dia mati. Dalam tiga setengah tahun pelayanan-Nya, satu tahun dihabiskan di tempat lain sebelum Dia masuk ke Kapernaum dan baru pada bulan-bulan terakhir Dia masuk ke Yerusalem. Sebelum Yesus pergi ke Kapernaum, Dia tinggal di Nazareth. Yesus meninggalkan Nazareth karena Dia diusir dari sana. Dalam Lukas 4:16 dikatakan Yesus mengajar di Nazareth. Apa yang terjadi bisa dilihat di Lukas 4:17-29. Yesus diusir dari Nazareth. Saya teringat kalimat Yesus: “Anak Manusia tidak ada tempat untuk meletakkan kepala-Nya”.

Setelah diusir, Dia pergi ke Kapernaum dan menjadikannya sebagai head quarter di mana Dia melayani beberapa tahun di sana. Dalam ayat 31 dikatakan Yesus pergi ke Kapernaum di Galilea. Setelah melakukan pelayanan, begitu banyak pengajaran dan mujizat, dan banyak hal dilakukan untuk orang-orang di Kapernaum, Galilea tanah Zebulon dan Naftali apa yang terjadi kemudian? Dalam Matius 11:20-24 Yesus mengecam kota-kota di mana banyak mujizat-Nya dilakukan yang tidak bertobat. Apa yang terjadi di Kapernaum setelah Dia diusir dari Nazaret? Dia pergi. Bangsa yang berjalan di kegelapan, sekarang Terang itu datang, Terang yang besar itu bersinar. Setelah Dia memberitakan Firman-Nya berkali-kali, menyatakan Diri-Nya, hal yang sama terjadi, Kapernaum tutup pintu, Galilea kembali menolak cinta kasih Tuhan. Ini adalah suatu anti-thesis. Allah begitu mencintai Zebulon dan Naftali, bangsa yang sudah dihardik oleh Tuhan. Mengapa cinta kasih Tuhan itu ditolak? Beranikah seseorang menolak cinta atau berkat Tuhan? Hanya orang gila atau bodoh yang tidak mau menerima hal-hal tersebut. Alkitab mengatakan bangsa yang berjalan di dalam kegelapan (artinya dia buta, hancur, putus asa) sekarang melihat terang yang besar atau dalam bahasa aslinya adalah sukacita dan mulia, dipindah dari realm of darkness menuju kingdom of light. Kenapa hal ini ditolak? Apakah ini masuk akal? Jangankan Tuhan, orang lain yang tidak kita kenal mencintai kita akan membuat kita senang. Cinta Tuhan ditolak karena cinta-Nya hadir melalui satu kata: “Bertobatlah, karena kerajaan Allah sudah dekat!” Seseorang yang diminta bertobat, sebenarnya cinta Tuhan dekat kepadanya. Seseorang yang diminta bertobat artinya cinta kasih Kristus mendatangi mereka, artinya jalan terang akan ditemukan, artinya mereka tidak akan mati tetapi tetap hidup jika mereka mau bertobat. Itu adalah kata yang keluar karena cinta kasih Allah dan kata yang kita dengar dengan pikiran dan telinga kita, serangan di dalam jiwa kita.

Bila kita tidak mengerti ini berarti kita tidak mengerti cara kerja Allah. Allah ketika mencintai seseorang tidak akan mengelus-elus orang itu, itu adalah cara nabi palsu. Tuhan ketika mencintai kita Dia akan datang dalam kesucian-Nya menuntut pertobatan. Ketika kita bertobat, hidup murni, kita akan melihat terang yang besar itu bersinar. Berapa banyak dari kita yang sudah menolak cinta Tuhan, sudah melupakan cinta Tuhan dan tidak memperdulikan Dia karena kita mengingkari dan tidak mau menerima pertobatan. Lihatlah cinta yang besar itu, terang yang datang di negeri yang begitu kelam itu, seruan untuk bertobat itu. Di dalam Alkitab, setelah Yohanes Pembaptis dipenjara, maka Yesus mulai berbicara. Yohanes ketika pertama kali berkotbah, dia berseru “Bertobatlah engkau!” Yesus ketika berkotbah Dia berseru: “Bertobatlah karena Kerajaan Allah sudah dekat!” Murid-murid Yesus diutus untuk pergi ke seluruh dusun untuk berseru: “Bertobatlah, Kerajaan Allah sudah dekat!” Yang menerima mereka berarti menerima Yesus, sedangkan bagi yang menolak, Yesus perintahkan: “Kebaskan debu itu dari kakimu.” Itu artinya Allah akan melupakan mereka yang menolak untuk bertobat, selama-lamanya. Kalau Tirus, Sidon, Sodom, Gomorah dilawat Allah dan mujizat dilakukan di sana, mereka sudah pasti bertobat, tetapi Kapernaum tidak bertobat. Pada masa penghakiman, tanggungan Kapernaum akan lebih berat dari Sodom dan Gomorah. Kapernaum akan diturunkan di tempat orang mati yang paling bawah. Mengapa manusia berani dan bodoh? Kita ingin dielus-elus oleh Firman Tuhan, kita ingin mendengar Tuhan mencintai kita. Tetapi, Tuhan ketika mencintai kita, Dia akan meminta kita bertobat. Ketika pertobatan itu terjadi, kita akan tahu bahwa cinta-Nya pada kita sangat besar, membebaskan kita dari kutuk, dari segala sesuatu kegelapan yang kita tidak sadari. Kalau kita melihat prinsip ini, kita akan mengerti isi hati Allah. Kalau kita tidak membaca bagian Matius dari perspektif kitab Yesaya, kita akan berpikir bahwa Yesus sedang marah-marah. Tetapi dilihat dari perspektif kitab Yesaya, kita akan melihat cinta Tuhan. Tidak ada pengampunan tanpa pertobatan. Kita harus mengerti prinsip ini. Sekarang terlalu banyak orang yang mengajar baik dari luar Kristen ataupun dari dalam Kristen, dari luar gereja maupun dari dalam gereja, bahwa kita akan mendapatkan cinta kasih, pengampunan Tuhan. Tidak ada pengampunan tanpa pertobatan.

Allah yang mencintai kita adalah Allah yang berteriak menegur dosa, yang datang dengan menyatakan kesalahan-kesalahan kita. Allah yang mencintai kita adalah Allah yang hadir untuk menegakkan kesucian-Nya, dan ketika kita bertobat maka kita akan menemukan cinta kasih-Nya yang besar. Cinta kasih Allah hanya bisa kita alami dan terima jika dan hanya jika di dalam pertobatan. Jangan keraskan hati. Saya berbicara di sini kepada orang-orang yang mungkin baru pertama kali mendengarkan hal ini. Mungkin belum pernah mendapatkan cinta kasih Yesus Kristus. Saya tidak akan memberikan kalimat-kalimat penghibur, “Terima Yesus Kristus maka engkau akan dipulihkan, atau sembuh, atau jadi kaya, dapat berkat.” Kita tidak mungkin terima Yesus Kristus kecuali kita bertobat. Bertobatlah, maka Kerajaan Allah itu dekat padamu. Saya berbicara kepada seluruh jemaat, dan juga saya sendiri, apakah kita sungguh-sungguh rela bertobat atau tidak? Apakah ketika Allah menyatakan diri kepada kita di dalam satu bagian dalam hidup kita maka kita rela untuk bertobat, untuk berbalik atau tidak. Kita menginginkan penyertaan Tuhan tanpa kita mau bertobat. Kita ingin keluarga kita dibereskan tanpa kita mau bertobat.

Yesus ditolak di Nazaret, kemudian pergi ke Kapernaum. Setelah Dia ditolak di Kapernaum, pada suatu hari, pada waktunya Tuhan, Dia akan pergi ke Yerusalem dan di kota itu pula Dia akan ditolak dan akhirnya dibunuh. Anak Manusia tidak punya tempat untuk meletakkan kepala-Nya. Di manapun saja pelayanan Yesus yang merupakan cinta kasih Tuhan adalah pelayanan yang sekaligus ditentang dan diusir, ditolak dan dimatikan. Saya tidak tahu apa yang terjadi dengan Australia. Lama-lama kota ini akan makin menjauhi Tuhan dengan terus bicara mengenai same sex marriage, mereka mau melegalkan kenajisan di depan seluruh publik. Kesucian Allah dibuang. Standar Alkitab dibuang. Segala sesuatu yang baik untuk kesejahteraan kota ini ke masa depan dibuang. Maka saya hanya teringat ketika menyiapkan kotbah ini pada satu kalimat Yesus sebelum Dia dipaku di kayu salib, “Wahai betapa baiknya engkau bila engkau tahu apa yang perlu untuk sejahteramu”. Wahai Nazaret, Kapernaum, Yerusalem, kita semua, “Wahai seluruh jiwa di sini, alangkah baiknya hari ini jika kita tahu apa yang perlu untuk sejahtera kita.” Kiranya ada pertobatan di dalam hati kita, jangan tolak, jangan lawan, jangan kita mengatakan bahwa kita menerima Yesus tetapi tidak pernah ada pertobatan. Kiranya kasihan Tuhan menolong hidup kita.

Ujian, Pencobaan dan Kemenangan (16)

Berdoa

Pengkhotbah: Pdt. Agus Marjanto, M.Th
Matius 4:1-11 & Efesus 6:10-20

Hidup itu adalah hidup yang pasti dicobai dan ini sudah ada sejak manusia pertama, Adam dan Hawa, Tuhan memberikan ujian itu, tidak mungkin bisa terelakkan. Kita tidak mungkin mengelakkan ujian, tetapi kita bisa mengelakkan kejatuhannya. Sama seperti Adam adalah perwakilan pertama seluruh umat manusia, maka Kristus itu harus dicobai. Sama seperti Israel sebagai satu-satunya bangsa yang menjadi wakil seluruh bangsa umat pilihan Allah, demikian juga Israel yang sejati, Yesus Kristus, itu dicobai. Dan ketika bicara berkenaan dengan pencobaan yang dilakukan setan kepada Yesus Kristus, pada saat yang sama, di sisi yang lain, sebenarnya itu adalah peperangan, battle, war, yang sangat sengit adanya. Peperangan itu tidak mungkin bisa dihindarkan. Sejak manusia jatuh di dalam dosa, maka kalimat pertama dari Bapa di Sorga yang didengar oleh manusia pertama kali adalah: Aku akan mengadakan permusuhan antara keturunanmu dan keturunan perempuan ini. Dari kitab Kejadian sampai Wahyu, ada peperangan yang sengit antara setan dan gereja, antara anak-anak kegelapan dengan anak-anak terang dan akan berakhir di dalam peperangan yang besar secara universal. Kita ditujukan untuk hidup di tengah-tengah dunia untuk perang.

Salah satu hal yang saya amati ketika sampai di Australia, ketika saya melihat dan bertemu dengan beberapa orang Kristen, maka satu hal yang saya langsung sense adalah hilangnya spirit peperangan. Kita akan mudah dihancurkan oleh setan. Kita akan mudah untuk menjadi orang Kristen yang tidak bisa dipakai oleh Tuhan. Saudara-saudara, bangkitkan hatimu kembali. Minta urapan dari Roh Kudus untuk engkau boleh berapi-api kembali. Gereja itu terus-menerus berusaha untuk dininabobokan oleh setan dan kalau saudara menikmati semuanya dan berpikir tidak ada lagi yang harus diperjuangkan, maka di saat seperti itu saudara akan menjadi orang Kristen yang biasa berada di dalam pelukan setan. Ini adalah teknik setan yang begitu halus, yang sudah masuk di dalam seluruh kehidupan orang-orang Kristen. Tidak ada lagi kekuatan untuk perang. Saudara lihat orang-orang yang dipakai Tuhan, Robert Murray McCheyne, John Owen, John Flavel, Martyn Llyod Jones, selalu cirinya satu, yaitu mereka siap bertempur dan sedang bertempur. Saudara tidak mengetahui musuhmu di mana karena engkau sedang tertidur. Kalau Roh Kudus membangkitkan engkau, engkau akan menyadari bahwa itu perang. Berapa banyak orang yang sadar? Engkau merasa nyaman karena sedang berada di dalam pelukan setan. Tetapi Yesus Kristus mengajarkan perang. Lihatlah seluruh kehidupan murid-murid-Nya, perang. Satu persatu murid-murid-Nya mati martir karena ada peperangan.

Saya sarankan saudara-saudara membaca salah satu buku dari 2 buku ini, buku dari William Gurnall adalah The Christian in Complete Armour, maka saudara akan mengetahui betapa sengitnya peperangan itu, kedua adalah The Screwtape Letters oleh C.S. Lewis. Saya akan membacakan satu surat dari buku The Screwtape Letters berkenaan dengan teknik setan, tulisan ini tidak mudah untuk dibaca karena subjek dan objeknya akan berputar di dalam. Sebelumnya, C.S. Lewis adalah seorang atheis yang kemudian menjadi orang Kristen dan dia adalah orang yang jenius sekali dan dipakai oleh Tuhan. Dia penulis yang terkenal bagi anak-anak yaitu The Chronicles of Narnia. Kalau membaca buku The Screwtape Letters, saudara harus mengerti beberapa hal ini, pertama Screwtape itu adalah seorang iblis senior yang sedang menuliskan surat-suratnya untuk meng-encourage atau mungkin menegur iblis junior, namanya Wormwood. Iblis junior itu adalah kemenakannya sendiri. Di dalam tulisannya, ketika Screwtape mengatakan bahwa “kita rugi”, itu artinya setan rugi, Yesus yang untung. Atau ketika Screwtape mengatakan “kita untung”, dalam pikiran saudara, saudara harus berbalik bahwa itu adalah Yesus yang rugi. Dan ketika Screwtape itu menuliskan “musuh kita”, itu artinya adalah Yesus Kristus itu musuh kita. Perhatikan apa yang menjadi teknik dari setan, yaitu berusaha untuk membuat kita semua tidak berada, tidak merasa ada di medan peperangan.

Yang terkasih Wormwood,

Jelas sekali engkau maju pesat (berarti iblisnya itu berhasil melakukan sesuatu). Satu-satunya kekuatiranku adalah jika kau membuat pasienmu (pasien itu adalah kita semua, orang Kristen) sadar akan posisi yang sebenarnya, justru karena upayamu mempercepatnya. Bagi engkau dan aku yang bisa melihat posisi itu dengan benar, jangan pernah melupakan betapa hal ini berbeda di mata pasien kita (karena kita tidak bisa melihat apa yang sesungguhnya terjadi). Kita ketahui bahwa arah jalan pasien kita telah kita ubahkan hingga keluar dari lintasan yang seharusnya mengitari Sang Musuh. Namun, buatlah pasien kita mengira bahwa semua pilihan yang berkaitan dengan perubahan-perubahan ini hanyalah soal remeh dan bisa dikembalikan (saya akan jelaskan sedikit: jadi sebenarnya orang Kristen itu sudah dibuat untuk makin lama makin menjauh dari Kristus) tetapi engkau (kita) sekarang membuat agar mereka itu berpikir ini hal remeh dan sebenarnya gampang sekali engkau nanti akan kembali kepada Kristus. Buat itu seakan-akan mereka mengatakan gampang, padahal sebenarnya tidak mudah. Jangan juga membuat pasien kita sadar bahwa sekarang dia sedang bergerak menjauhi matahari di suatu lintasan menuju ke ruangan yang paling dingin dan gelap (Screwtape sedang mau bicara mengenai orang Kristen yang sudah kehilangan apinya, makin lama saudara akan makin dingin). Demi alasan itulah aku senang sekali mendengar dia masih pergi ke gereja dan tetap menjadi seorang yang setia beribadah. Aku tahu ini berisiko, tetapi tidak ada pilihan lain yang lebih baik daripada pasien kita menyadari perubahan yang terjadi pada dirinya dibandingkan dengan awal hidup Kristennya (Saudara-saudara, apakah engkau lupa bagaimana pertama kali bertemu dengan Yesus Kristus? Bagaimana pertama kali bertobat, menerima Dia sebagai Tuhan dan Juruselamat dengan air mata, dengan kesungguhan, dengan keinginan berkobar-kobar mendekat kepada Kristus dan setelah itu, bertahun-tahun, kita kemudian tertidur).

Sepanjang dia masih melakukan kebiasaan Kristen secara lahiriah saja, dia masih bisa dipengaruhi untuk memandang dirinya bahwa dia adalah orang Kristen yang baik-baik saja meskipun sebenarnya dia sudah beradaptasi dengan teman dan hiburan-hiburan yang baru. Ketika dia berpikiran demikian, kita dipuaskan (kita dipuaskan, berarti setan puas) oleh pikiran pertobatan yang berasal perasaan yang samar-samar, yang semu, yang tidak pernah dilakukannya dengan baik. Bukan pertobatan yang tegas dari suatu dosa tertentu yang disadari sepenuhnya (Saudara perhatikan baik-baik, ketegasan itu penting, kesungguhan itu penting, dan yang hilang dari orang Kristen adalah hal itu). Ingatlah tujuan kita adalah membiarkan ulat-ulat itu tetap tidur dan terbaring (membiarkan manusia itu tetap tidur dan terbaring). Screwtape mengatakan: “Engkau Wormwood, berkomentar bahwa semuanya itu adalah hal-hal yang sangat remeh. Buat orang Kristen tertidur, terbaring hal yang remeh”. Itu bukan dosa yang spektakuler. Tidak diragukan bahwa pikiran seperti itu adalah pikiran iblis yang awal, yang mula-mula. Engkau selalu ingin melaporkan kejahatan yang spektakuler, tetapi satu-satunya hal yang penting ingatlah sejauh mana kau pisahkan manusia itu dari Musuh kita. Tidak peduli seremeh apapun keadaan itu, efeknya lama-kelamaan akan menyeret manusia menjauhi Musuh kita menuju kepada kekosongan. Sesungguhnya jalan paling aman menuju ke tempat kita (atau ke tempat neraka) adalah jalan yang bertahap, tikungan yang kecil, pijakan yang lembut tanpa tikungan yang tajam, tanpa petunjuk arah, dan tanpa tanda-tanda (Inggrisnya: Indeed the safest road to Hell is the gradual one – the gentle slope, soft underfoot, without sudden turnings, without milestones, without signposts)

Jikalau membaca The Screwtape Letters, saudara akan melihat kecanggihan, keindahan, kedalaman pikiran C.S. Lewis melihat seluruh teknik setan. Dari poin ini saya mau mengatakan satu hal yaitu, apa yang kurang di dalam hidup kita adalah kesadaran akan perang. Banyak sekali dari kita yang sudah tertidur, menikmati kekristenan yang sebenarnya adalah menikmati dunia. Maka di dalam seluruh pencobaan setan kepada Yesus, saudara akan tahu bahwa itu sebenarnya adalah peperangan. Kita dicobai, pada saat yang sama kita sedang berperang untuk tidak masuk di dalam jebakan setan. Itulah sebabnya Alkitab mengatakan biarlah engkau kuat. Be strong in the Lord! Untuk menghadapi pencobaan dan berperang. Perhatikan Efesus 6:10-11. Jadi memakai seluruh perlengkapan senjata Allah, bukan sebagian, seluruhnya agar engkau bisa tetap berdiri melawan tipu muslihat iblis. Ayat 13, diminta untuk memakai seluruh perlengkapan senjata Allah supaya, pertama bertahan, ini adalah sesuatu yang sifatnya defensive. Bertahan melawan tipu muslihat iblis. Kedua adalah mengadakan perlawanan, sifatnya offensive. Satu bertahan, satu melawan. Ketiga supaya engkau tetap bisa berdiri. Ini berarti yang disebut sebagai more than conqueror. Jika seorang sedang berperang lalu terus melawan dan akhirnya musuh dan dirinya mati, itu bukan more than conqueror. Tapi ketika orang itu melawan, dia tetap bisa berdiri dan musuhnya mati atau pergi, itu adalah more than conqueror, lebih dari seorang pemenang. Ini adalah yang Tuhan kehendaki dalam hidup kita. Pertama engkau mengerti perang, kedua ketika berperang engkau mengambil dan memakai seluruh perlengkapan senjata Allah.

Ada 6 perlengkapan senjata Allah yaitu:

  • Ikat pinggang kebenaran (Aletheia).

    Kebenaran itu bicara dengan sincerity of heart and sincerity of the doctrine. Orang benar itu adalah orang yang tulus hidupnya dan orang yang murni proklamasinya. Maka gereja harus memberitakan Injil yang murni kalau mau perang. Jangan dibubuhi dengan dunia atau teologia sukses. Kita dipanggil untuk berperang di hadapan setan. Itu musuh yang paling utama. Jangan kita membubuhi hati kita dengan sesuatu yang najis. Kemurnian hati dan kemurnian doktrin adalah hal yang penting. Orang yang murni masuk ke dalam hadirat Tuhan dengan gemetar karena Dia besar, tetapi bukan dengan gemetar karena ada dosa. Beberapa waktu yang lalu saya membaca tulisan John Bunyan mengenai doa. Dan di dalam tulisan itu ada satu kutipan seperti ini: Ketulusan (sincerity) adalah anugerah yang akan menggerakkan seluruh anugerah Allah. Engkau mau diberkati? Sekali lagi, murni. Orang yang tidak murni mungkin akan bisa menipu orang banyak, berkawan dengan orang banyak. Tetapi orang yang tidak murni tidak mungkin akan lama hidup. Tuhan sendiri yang menyatakannya.

  • Baju zirah keadilan.

    Dikaiosune, righteousness, keadilan di sini adalah bicara mengenai etika. Jikalau engkau memiliki kemurnian hati, maka etikamu juga harus benar. Engkau harus cek seluruh kehidupanmu, apakah etikamu benar? Kalau itu engkau gagal, maka setan akan tertawa.

  • Kaki berkasutkan kerelaan mengabarkan Injil damai sejahtera.

    Relalah untuk dipindahkan oleh Tuhan. Engkau harus takut akan Tuhan, taat kepada Dia maka Tuhan akan menunjukkan tempatmu di mana. Karena di tempat itulah pasti engkau akan dipakai oleh Tuhan. Nehemia adalah seorang juru minuman raja Artasasta. Dia berada di posisi yang tinggi tetapi Tuhan tidak memakai dia di sana. Lalu Nehemia berdoa dan digerakkan hatinya oleh Tuhan lalu dia pergi membangun tembok Yerusalem. Dia meninggalkan tempat yang enak menuju ke sana. Ada orang dari gembala domba diangkat Tuhan menuju menjadi raja. Ada orang di tempat atas diangkat Tuhan turun ke bawah. Ini semuanya adalah kehendak Tuhan. Yunus ke Niniwe. Awalnya tidak rela, tetapi mau tidak mau harus rela. Semua itu adalah kehendak Tuhan. Maka orang yang siap dipakai oleh Tuhan bertempur melawan setan, tidak menentukan tempat pertempurannya sendiri. Siaplah hati kita untuk kita dipindahkan kemanapun saja yang Tuhan itu kehendaki.

  • Perisai iman.

    Iman itu muncul dari pendengaran akan Firman Tuhan. Iman bukan engkau menginginkan sesuatu lalu engkau doakan. Itu bukan iman. Iman itu mulai dari Firman. Kalau Tuhan tidak pernah berfirman, saudara dan saya tidak bisa beriman dan tidak boleh beriman. Maka mengerti Firman adalah dasar dari iman. Belajar Firman maka belajar untuk beriman.

  • Ketopong keselamatan.

    Itu adalah pengharapan (hope). Ketika kita itu sedang berada dalam kesulitan, lihatlah janji-janji Tuhan. Pakailah itu di dalam pikiranmu. Karena ketika engkau berada dalam kesulitan pasti setan akan menggocoh kita. Setan terus akan bicara di kepala kita. Paulus mengatakan ambil ketopong keselamatan, itu adalah pengharapan. Pengharapan harus berdasarkan Firman dan pengharapan ada di dalam Kristus. Apa yang Tuhan itu nyatakan di dalam Firman, pegang itu dan lihat itu akan muncul pada waktunya.

  • Pedang Roh.

    Pedang Roh yaitu Firman Allah. Orang yang tidak membaca Firman dan mengertinya dengan baik, orang itu pasti kalah di dalam pertempuran karena tidak punya satu senjata untuk melawan setan. Sebenarnya orang yang tidak mengerti Firman dia tidak punya dua senjata. Satu, tidak punya Iman. Karena iman itu selalu muncul dari pendengaran akan Firman, yaitu adalah perisai. Tidak punya pedang yang satu-satunya senjata yang ofensif. Dia pasti kalah. Jika engkau berperang tetapi tidak mebawa kedua senjata ini, maka engkau pasti akan kalah. Banyak orang Kristen itu mudah sekali ditaklukkan karena tidak mengerti Firman. Saudara lihat bagaimana setan itu mengerti Firman, bagaimana setan itu memakai Firman untuk menggocoh Kristus. Dan bagaimana Kristus memakai Firman untuk menelanjangi Firman yang diputarbalikkan oleh setan. Saudara lihat, ini adalah peperangan Firman. Peperangan yang terpenting, terdahsyat itu bukan bom atom. Peperangan yang terdahsyat dari sejak Adam dan Hawa adalah peperangan Firman melawan firman. Setan memutar-balikkan Firman. Maka kita harus mengerti Firman, kembali kepada Firman.

  • Doa.

    Seluruh perlengkapan senjata Allah itu diberikan oleh Allah dan kita gunakan ketika kita sedang berdoa. Doa bukan salah satu kegiatan Kristen. Tidak. Doa itu adalah lokomotif, doa adalah inti dari seluruh gereja yang terus terhubung dengan kekuatan tertinggi. Di dalam seluruh gereja, ada 2 hal yang penting yaitu lokomotifnya, tempat pembakaran apinya yaitu Doa. Kedua adalah tempat masinis itu mengarahkan seluruh dari gerbong itu. Itu adalah mimbar. Dua ini, kalau hancur di dalam sebuah gereja, jangan harapkan apa-apa dari gereja itu. Gereja itu akan hancur. Tetapi kalau 2 hal ini, mimbar itu kuat dan kedua adalah tekuk lutut terus minta kuasa Tuhan, maka kebangunan pasti terjadi! Anugerah Tuhan pasti sampai! Doa itu penting. Setan tidak takut dengan orang yang fasih lidah atau punya uang tetapi setan takut kepada seorang anak kecil yang berlutut berdoa. Suatu hari ada seorang anak kecil yang mencoba menggelindingkan batu yang cukup besar. Dia berusaha sekuat tenaga tetapi tidak dapat memindahkan batu tersebut. Lalu ia menghampiri ayahnya, dan bertanya mengapa dia sudah mencoba seluruh cara tetapi tetap batu itu tidak bergerak. Lalu sang ayah berkata, satu hal yang engkau itu miliki tetapi belum engkau lakukan yaitu meminta pertolongan dari ayahnya.

    Saudara merasakan hidup ini susah dan berusaha untuk “menggelindingkan batu” sendiri dan tidak bisa? Engkau tidak lakukan satu hal. Engkau masih punya satu hal dan itu yang terpenting. Engkau tidak minta tolong dengan Bapamu di Sorga melalui doa. Siapa yang berani dan bisa melawan setan? Petrus gagal, Daud pun gagal. Kita dapat melawan setan jika Tuhan memberikan perlengkapan senjata Allah itu di depan kita. Itulah sebabnya Tuhan itu disebut Allah Yahweh Sebaot. Di dalam bahasa aslinya adalah Allah Panglima Tentara Perang. Yahweh Sebaot, Allah Yang Maha Kuasa. Dia ada di depan dan seluruh tentaranya di belakang. Saudara-saudara, yang paling penting bukan senjatamu, senjata dunia atau strategimu atau uangmu atau pengalamanmu. Yang paling penting adalah apa yang Tuhan kehendaki hari ini. Itu adalah senjata perang kita. Doa itu penting sekali. Doa menghubungkan kita dengan kekuatan tertinggi. Itu adalah senjata yang ketujuh.

Jika saudara menggabungkan seluruh senjata Allah, maka saudara akan menjadi orang yang siap di hadapan Allah dan di hadapan musuh. Doa menggabungkan seluruh Allah Tritunggal itu menyertai kita. Doa akan menggabungkan seluruh kekuatan daripada Allah itu memimpin kehidupan kita. Jangan pernah tidak berdoa atau jangan setengah hati mencari wajah Allah.

Terakhir di dalam Alkitab dikatakan berkenaan dengan perlengkapan senjata Allah dan ketika bicara mengenai perlengkapan senjata Allah, maka tulisan ini memakai simbol orang Yunani atau orang Romawi. Ketika mereka berperang saudara perhatikan seluruhnya apa yang Paulus katakan, ada ketopong, ikat pinggang, baju jirah, perisai, kasut, pedang Roh. Tetapi perhatikan baik-baik tidak ada yang menutup belakang. Maka itu adalah sesuatu peperangan yang sifatnya engkau maju dan tidak pernah boleh berbalik. Kalau engkau maju dan engkau tidak berbalik. Pasti menang! Kalau engkau maju dan lalu kemudian engkau berbalik. Pasti kalah! Pasti mati! Pasti hancur! Itu adalah sesuatu yang Tuhan sendiri desain. Orang Kristen tidak boleh mundur. Orang Kristen sesusah apapun, maju! Alkitab mengatakan “Jikalau mereka itu mundur, Aku tidak berkenan kepada mereka.” Itu artinya Aku tidak bisa menerima mereka. Aku tidak menyetujui langkah mereka. Maju! Maka saudara-saudara perhatikan setiap dari kemenangan kita adalah memakai seluruh perlengkapan senjata Allah, dipimpin oleh Allah dan maju terus. Tidak mundur. Saya akan katakan satu kalimat. Yang disebut sebagai kemenangan orang Kristen adalah bukan berapa lari. Siapa yang paling cepat. Kemenangan orang Kristen adalah boleh terus jalan atau terus lari dan tidak mundur.

Jikalau engkau putus asa, jangan mundur! Berapa banyak orang, yang kecewa kepada hamba Tuhan atau kepada gereja lalu engkau undur? Berapa banyak orang yang kecewa terhadap Tuhan dan undur, karena telah memegang kesucian dan merasa tidak mendapat berkat sedangkan orang yang fasik malah dapat berkat? Berapa banyak orang, yang sudah tidak mau lagi lari tetapi malah berbalik daripada ajakan itu. Lari! Bangkit! Pergi! Jika engkau mundur, di saat seperti itu, engkau balik, setan langsung menang. Maju terus! Ada upah, ada pengharapan dan ada kemenangan di depan, apapun saja konteksmu. Karena Tuhan itu memberikan kepada kita sesuatu jalan damai sejahtera di depan. Jangan mundur. Pada tahun 1968 di Olimpiade Mexico, ada seorang bernama John Steven Aquari. Dia adalah pelari yang sebenarnya sudah begitu terluka dan seluruh pelari sudah masuk ke garis finish, bahkan ada yang sudah dikalungi medali untuk perlombaan itu. Namun John Steven Aquari, terus berlari-lari kecil, sampai akhirnya masuk ke stadium itu. Dia putar lagi sekali dan menyelesaikan pertandingan itu. Seseorang reporter bertanya mengapa dia tidak keluar saja dari pertandingan ini. Dia mengatakan, “Aku diutus 5000 mil dari tempatku bukan untuk memulai pertandingan ini tetapi untuk menyelesaikannya.” Saudara-saudara, maju terus. Kesulitan apa saja, maju. Saudara akan lihat, ada hari depan di depan. Tuhan akan menghancurkan setan di bawah kaki kita. Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, dan kemudian berdoalah minta kekuatan dari Tuhan dan Tuhan yang memimpin di depan. Kemudian maju dan tidak mundur adanya. Jangan mundur di dalam Kekristenan. Jangan mundur secara rohani. Jangan engkau berbalik. Maju dan lihat pimpinan Tuhan.

Ujian, Pencobaan dan Kemenangan (15)

Berdoa

Pengkhotbah: Pdt. Agus Marjanto, M.Th
Matius 4:1-11 & Efesus 6:10-20

Saya merelasikan antara temptation of Jesus Christ dengan Spiritual warfare. Ketika melihat pencobaan Yesus Kristus oleh setan di padang gurun, maka satu sisi ini adalah sesuatu yang sifatnya adalah temptation, yang sifatnya menguji, mau menjatuhkan, tetapi Yesus Kristus tidak jatuh. Yesus Kristus bukan saja bertahan; Yesus Kristus menyerang sampai setan harus undur daripada-Nya. Ini adalah battle, peperangan yang tidak terlihat, sekarang dinyatakan oleh Allah. Melalui peristiwa yang sesungguhnya terjadi, maka saudara mengerti taktik, strategi dan tujuan setan. Dan kita mengerti kuasa dan jalan yang dipakai oleh Yesus Kristus, yang mewakili seluruh gereja, untuk melawan Setan. Peperangan rohani itu tidak bisa dihindarkan, ini panggilan gereja setelah manusia jatuh di dalam dosa. Tidak ada lagi perdamaian. Jangan pernah berharap akan adanya perdamaian dunia, karena kalimat pertama dari Allah Bapa di Surga setelah manusia jatuh di dalam dosa adalah “Aku akan mengadakan satu permusuhan antara keturunanmu dan keturunan perempuan ini. Keturunanmu akan memagut tumit daripada keturunan perempuan ini tetapi keturunan perempuan ini akan meremukkan engkau tepat di atas kepalanya.” Ini adalah nubuatan bahwa setan akan berusaha untuk melukai gereja tetapi tidak akan fatal adanya. Gereja akan menghancurkan segala perbuatan setan. Di dalam Kristus, kita akan menang adanya.

Ketika Yesus Kristus dicobai, maka kita dapat melihat jalan keluar yang Dia berikan, strategi yang Dia nyatakan, bagaimana kekuatan dan senjata, perlengkapan perang yang Tuhan nyatakan melalui Dia kepada kita. Paulus membukakan semua ini dengan lebih rinci di dalam kitab Efesus, berkenaan dengan perlengkapan-perlengkapan senjata Allah. Buku yang terbaik membahas mengenai Efesus pasal 6, tentang perlengkapan senjata rohani orang Kristen, adalah buku dari seorang puritan, 3 jilid, William Gurnall. Ketika kita berperang dengan setan yang tidak terlihat (subtle enemy), dia powerful enemy. Dia ada satu pribadi dengan seluruh anteknya yang sangat kuat dan berkuasa. Satu-satunya yang bisa menaklukan dia adalah Kritus Yesus itu sendiri dan bukan itu saja, peperangan ini adalah peperangan rohani. Peperangan rohani tidak bisa dibereskan dengan jasmani. Seorang jendral yang kuat, sehabis pulang berperang lalu dia tidur dengan pelacur dan jatuh di dalam dosa. Ini gambaran bahwa orang yang kuat sekalipun secara pribadi, secara psychology dan secara kepribadian, naturnya sebagai manusia, dia bisa menjadi satu pribadi yang dibuat mainan saja oleh setan. Sebaliknya, orang yang kelihatan biasa saja, tetapi kalau dia bergantung sepenuhnya kepada Kristus maka orang ini dipenuhi dengan Roh Kudus dan memiliki kekuatan untuk melawan setan.

Sekarang saya akan bicara berkenaan dengan apa yang menjadi jalan kemenangan. Kristus telah menjadi jalan kemenangan. Karakter Kristuslah yang ada dalam diri kita yang menjadi kemenangan. Kenakanlah Kristus sebagai senjata perangmu. Paulus kemudian itu menjabarkannya dengan lebih rinci lagi. Perlengkapan senjata perang itu:

  1. Ikat pinggang kebenaran, belt (Aleteia).
    Ikat pinggang adalah satu lambang di dalam Perjanjian Lama, Tuhan meremukkan musuh dengan menghancurkan pinggangnya. Jadi ikat pinggang kebenaran adalah satu ikat pinggang yang sangat penting dan kalau melihat senjata perang orang Romawi, maka sebagian besar senjata itu selalu dikaitkan dengan ikat pinggang. Kalau ikat pinggang itu terlepas, maka baju zirah akan terlepas. Kalau ikat pinggang itu terlepas, maka tempat untuk menyarungkan pedang tidak ada lagi. Kalau melihat bahasa aslinya, Aleteia, bicara berkenaan dengan sincerity of mind and the doctrine. Kita harus memiliki 2 hal ini yaitu doktrin yang benar dan hati yang benar. Ini adalah kekuatan kita berperang. Kalau kedua hal ini sudah tidak ada, kita tidak akan memiliki kekuatan berperang. Semuanya akan lepas. Semuanya akan ditertawakan oleh setan. Kita tidak boleh memiliki motivasi lain kecuali nama Tuhan dipermuliakan, menyatakan kebenaran, maka berkat Tuhan dinyatakan. Paulus menyatakan: Kami tidak mengkhotbahkan sesuatu yang membuat engkau itu terpikat, terpesona. Kami hanya mengkhotbahkan mengenai kebenaran dan kami mau diuji di hadapan Allah dan manusia. Orang yang seperti itu tak mungkin dikalahkan. Kalau saudara sedang berperang, sedang melayani dan ternyata tidak murni, langsung saudara tidak punya kekuatan untuk maju berperang. Maka sekali lagi, ini bicara berkenaan dengan kemurnian Injil dan kemurnian hati. Kalau kita itu mengikut Kristus dan kita menerima percikkan darah-Nya maka hati nurani kita akan dimurnikan. Dan kalau kita membaca Firman-Nya, kita akan menemukan kemurnian di dalam doktrin-Nya.
  2. Berbaju zirahkan keadilan (Dikaiosune).
    Dikaiosune bukan hanya adil tetapi sesuatu kebenaran keadilan, righteousness di dalam bahasa aslinya. Yesus mengatakan, “Jikalau hidup keagamaanmu (dikaiosune) tidak lebih benar dari ahli Taurat dan orang Farisi, maka engkau tidak bisa masuk Surga.” Maka ini adalah bicara berkenaan dengan etika, sikap hidup sehari-hari. Setelah motivasi Injil dan hati benar, maka kemudian tindakan di luar juga harus benar. Banyak orang menolak untuk melayani karena merasa diri belum beres, belum bisa menjadi kesaksian yang baik dalam hidup sehari-hari, sehingga tidak mau melayani. Kita sering sekali tertipu oleh setan. Kalau saudara itu tidak jadi kesaksian, bukan berarti saudara tidak datang ke gereja. Terbalik. Puluhan tahun pun tetap tidak beres, tetap tidak melayani. Satu hal, setan akan membuat hidup kita di bumi ini tidak efektif di hadapan Allah. Setan tidak dapat merebut jiwamu dari Surga menuju ke Neraka. Tidak bisa. Kalau kita adalah orang yang sudah menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi, sekali terima, diselamatkan, sekali diselamatkan, sampai selama-lamanya diselamatkan. Itu once for all, sekali untuk seterusnya. Yang setan dapat rebut itu bukan jiwamu, tetapi hidupmu. Hidup dibuat sedemikian rupa sehingga tidak ada satu kontribusi pun di dalam Kerajaan Allah, hanya penonton saja sampai mati. Apakah hatimu tidak berteriak? Apakah hidupmu puas? Tidak. Seluruhnya adalah untuk pekerjaan Tuhan, seluruhnya adalah untuk mengabdi, didedikasikan bagi Allah. Dan kalau kita mengarahkan seluruh hidup dan segala sesuatu yang kita miliki, termasuk anak dan istri dan kita semua, keluarga kita, maka akan ada bahagia yang besar. Perbaiki etika, baju zirah, keadilan saudara dan bersamaan dengan itu saudara tetap pergi ke gereja dan melayani. Perhatikan beberapa hal yang sifatnya etika ini. Etika itu adalah hasil daripada justification. Kalau seseorang sudah dibenarkan oleh Kristus maka dengan sendirinya perlahan demi perlahan tetapi pasti, perbuatannya makin lama makin hidup suci dalam seluruh aspek.
  3. Kasut kerelaan memberitakan Injil damai sejahtera.
    Hal yang ketiga bicara berkenaan dengan sandal, kasut, sepatu dan langkah kaki untuk memberitakan Injil. Langkah kaki untuk nama Kristus dipermuliakan. Langkah kaki untuk taat akan apa yang dia sudah dengar dari Tuhan untuk dijalankan di dunia ini. Abraham, keluar dari Ur-Kasdim, langkah kakinya berkasutkan kerelaan memberitakan Injil damai sejahtera. Nehemia, pergi ke Yerusalem, bangun tembok Yerusalem untuk menyatakan kehendak Allah. Dua pertanyaan ini, pertama, apakah saudara sungguh-sungguh memberitakan Injil? Kakimu ada di mana? Dan ketika itu ada, beritakan Injil atau tidak? Apakah saudara memberitakan kehendak Allah atau tidak? Kedua, apakah engkau dan saya rela dipindahkan oleh Tuhan untuk menggenapi rencananya, untuk Injil itu diberitakan? Sekali lagi, kita tidak dipanggil untuk merancang hidup kita sendiri. Kita dipanggil untuk mengikuti Tuhan. Kalau Tuhan menginginkan kita stay di satu tempat, saudara jangan pergi. Kalau Tuhan menginginkan kita pindah, maka kita tidak boleh diam. Itu adalah perjalanan iman. Kita harus belajar untuk memberitakan Injil. Ada beberapa keluarga dari jemaat di gerejanya John Piper, seorang hamba Tuhan yang Tuhan pakai di masa kini, beberapa keluarga tersebut bertumbuh di dalam iman menjadi orang yang mature, mendoakan, mendoakan misi dan kemudian pergi ke beberapa negara yang lain. Mereka adalah orang-orang awam yang bekerja di profesi mereka masing-masing dan mereka pergi kemana-mana. Itu adalah satu gereja yang baik. Saya tidak tahu kapan, tetapi saya berharap, saya berdoa kiranya Tuhan membangkitkan orang-orang itu ada di dalam gereja ini. Tetapi sebelum itu terjadi, biarlah di mana pun saja, kita memiliki kaki yang berkasutkan kerelaan memberitakan Injil damai sejahtera.
  4. Perisai iman.
    Hal yang keempat adalah iman dan iman itu muncul dari pendengaran akan Firman Allah. Maka ini akan selalu bergabung antara pedang Roh yaitu Firman Allah dan perisai iman. Kalau orang tidak kuat di dalam Firman sebenarnya dia tidak memiliki perisai iman. Orang yang tidak kuat di dalam Firman, ia tidak bisa mengayunkan pedang Roh. Perhatikan apa yang menjadi senjata Yesus Kristus bicara kepada Setan di dalam pencobaan, selalu bicara Firman, ..”ada pula tertulis”… Firman itu menjadi senjata yang sifatnya defensive dan offensive. Firman itu menjadi perisai sekaligus menjadi pedang Roh. Dikatakan, “maka di dalam segala keadaan pergunakanlah perisai iman”. Dengan perisai itu engkau dapat memadamkan semua panah api dari si jahat. Sekali lagi, iman itu muncul dan iman itu hanya boleh berdasarkan Firman.

    Suatu hari, Yesus menampakkan diri di danau, Dia berjalan di atas air. Petrus lalu kemudian melihatnya. Pertamanya Petrus takut lalu kemudian ia mengatakan, “Tuhan, kalau itu Engkau, perintahkanlah kepadaku untuk aku boleh berjalan di atas air.” Maka Yesus mengatakan, “Petrus, kau turun sekarang, kau berjalan di atas air.” Berdasarkan kalimat Yesus itu, maka Petrus turun, dan dia mulai berjalan di atas air. Ketika kemudian angin besar datang, dia mulai melihat angin itu, dia mulai memperhitungkan kekuatannya sendiri, dia tidak lagi mengingat Firman dari Yesus itu, maka di saat seperti itu dia tenggelam. Di saat seperti itu, imannya goyang, dia tenggelam. Begitu Petrus mulai tidak mempercayai kalimat Yesus, mulai dia tidak beriman. Saya berharap saudara jelas dalam hal ini.

    Hal yang kedua, seandainya Yohanes melihat peristiwa Petrus berjalan di atas air dan dia mengikuti Petrus berjalan di atas air, kira-kira menurut saudara apakah Yohanes dapat berjalan di atas air atau dia akan tenggelam? Jawabnnya adalah Yohanes akan tenggelam, karena tidak ada perintah dari Tuhan. Iman adalah respon ketaatan kepada Firman. Iman itu bukan bicara aku pasti kaya, tidak ada janji Tuhan untuk itu. Kita harus mengerti. Kalau saudara membaca Firman dan tidak ada janji itu, saudara tidak bisa claim. Kalaupun ada janji itu, saudara harus pikir baik-baik apakah janji itu sifatnya adalah umum atau janji itu sifatnya adalah personal. Maka relasi pribadi dengan Allah itu penting sekali. Itu akan menumbuhkan iman, itu akan membuat Alkitab ini menjadi sesuatu yang kita sadar Tuhan bicara pribadi kepada saya.

  5. Ketopong keselamatan.
    Di dalam 1 Tesalonika 5:8, “maka engkau biarlah memiliki ketopong pengharapan akan keselamatan”. Ini adalah perlengkapan rohani berdasarkan Alkitab, kita menanti-nanti dengan pengharapan yang pasti, bahwa Yang Berjanji itu akan menepati janji-Nya. Ketika bicara mengenai ketopong itu adalah bicara mengenai pikiran, itu ada di kepala kita. Perhatikan, hal yang paling sering dibidik oleh setan adalah pikiran. Kalau saudara ada di dalam kesulitan, setan akan terus menerus masuk di dalam pikiran saudara. Perlahan-lahan, meskipun kelihatannya pikiran saudara kuat dibentengi tetapi lama-lama itu ada satu tembusan kecil seperti tembusan untuk air, dia masuk lewat situ, pemikiran untuk meragukan Tuhan. Kalau ribuan kali setan bicara untuk kita meragukan Tuhan, lama kelamaan kita dapat mulai membenarkan pemikiran yang salah itu. Firman yang kita baca, akan menudungi pikiran kita, akan terus menguatkan pikiran kita. Membuat kita dapat melawan setan dan menyatakan pengharapanku dari Tuhan, pasti Dia akan memunculkan aku pada waktunya, aku menanti-nantikan Tuhan. Aku berpengharapan kepada Tuhan, karena Dia yang berjanji kepadaku. Saudara-saudara, maka terus kaitkan diri kita dengan janji Tuhan.
  6. Pedang Roh.
    Pedang Roh yaitu Firman Allah, maka itu adalah satu-satunya senjata yang sifatnya offensive. Jikalau kita tidak mengerti Firman, kita mudah dikalahkan. Itulah sebabnya Firman itu penting. Itulah sebabnya kita tahu yang paling utama di dalam seluruh hidup keluarga, suami, istri, dan anak-anak adalah membaca Firman. Di dalam sebuah gereja, yang paling penting bukan musik, tetapi Firman. Persekutuan penting tetapi yang paling penting yaitu Firman. Gereja ini terus bicara mengenai Firman. Kelihatannya tidak menyentuh di awal. Kalau saudara dikasih musik, itu ada rasa sentuhannya, itu ada linangan air mata. Tetapi perhatikan, ketika Firman itu diberikan, itu akan masuk seperti biji pertama kali, lama kelamaan akan bertumbuh, berakar, makin besar, kuat dan itu akan membuat kita berdiri tegap. Ini adalah sesuatu pekerjaan dan proses yang lama tetapi pasti akan bertumbuh dan menjadi kuat. Maka sekali lagi Firman itu penting, dan Firman itu untuk dilakukan. Ketika Reformed menyatakan Sola Scriptura berarti Firman. Dan Firman itu bukan hanya didengar tetapi harus dilakukan. Saudara harus tahu gereja ini mendidik saudara dengan Firman tetapi di tempat yang lain, kita harus melakukan Firman. Firman itu penting, bukan untuk orang lain, tetapi untuk diri kita. Kita harus menjadi pelaku Firman. Itu adalah pedang Roh.

Ujian, Pencobaan dan Kemenangan (14)

Berdoa

Pengkhotbah: Pdt. Agus Marjanto, M.Th
Matius 4:8-11 & Lukas 4:13

Salib merupakan satu hal yang setan mau hindarkan di dalam diri Yesus Kristus. Salib adalah sesuatu yang Yesus sendiri sebenarnya tidak inginkan karena salib artinya Allah Bapa menyingkirkan muka-Nya dan menimpakan seluruh murka-Nya kepada Allah Anak. Dia sendiri berdoa mengutarakan isi hati-Nya di dalam kesendiriannya bahwa kalau mungkin cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi jikalau tidak mungkin biar kehendak-Mu saja yang jadi. Tetapi adalah jelas, di dalam paktum salutis, di dalam covenant of redemption antara Allah Bapa, Allah Anak dan Allah Roh Kudus di dalam kekekalan, maka tidak ada penebusan tanpa ada jalan salib, tidak ada pelayanan tanpa jalan salib, tidak ada kemuliaan yang bisa dibuat oleh manusia tanpa mengikuti jalan salib dari Yesus Kristus. Maka di sini di dalam pencobaan ketiga, Yesus mengajarkan kepada kita bagaimana kita bisa menyangkal diri. Dia menyangkal diri-Nya, Dia memikul salib-Nya, Dia mengatakan kepada setan enyah engkau setan, karena hanya kepada Allah saja engkau harus berbakti. Tidak ada kemuliaan bagi Allah kalau Anak Allah tidak dimuliakan. Allah oknum pertama dimuliakan jika dan hanya jika Allah oknum kedua dipermuliakan dan Allah oknum kedua dipermuliakan jika dan hanya jika harus melalui jalan salib. Ini sesuatu yang tidak terhindarkan, sesuatu tipuan dari setan jika kita menjadi pengikut Kristus tanpa jalan salib. Adalah isi hati Kristus sendiri untuk kita boleh mengabarkan injil dan melakukan misi di tengah-tengah dunia, tetapi, tanpa berita salib dan tanpa jalan salib itu adalah penipuan dan tidak ada dampaknya di dalam hidup manusia. Biarlah ini menjadi pelajaran bagi kita, biarlah kita boleh mendidik diri kita, tidak menipu diri, dan sungguh-sungguh kembali kepada Alkitab. Tanpa berita salib itu bukan kekristenan sama sekali. Kekristenan yang sejati adalah sangkal diri dan pikul salib.

Salib adalah beban, kesulitan, jalan hidup, sesuatu penderitaan yang diberikan Allah, agar kita dibentuk menjadi serupa Kristus dan melaluinya nama Kristus dikenal. Salib adalah sesuatu hidup yang dikosongkan agar kehendak Kristus terjadi di dalam hidup kita dan melalui hidup kita. Ada 4 hal bagaimana sikap hati kita di dalam hal ini.

  1. Menyadari bahwa kita sangat lemah dan musuh sangat kuat untuk menyingkirkan kita dari jalan salib Tuhan.
    Lihat Lukas 22:31-34. Pada waktu perjamuan malam, Yesus mengatakan bahwa Dia akan diserahkan kepada pemimpin-pemimpin agama, Dia akan menerima jalan salib, Dia akan masuk di dalam penganiyaan yang luar biasa besar. Kemudian Petrus, yang adalah pemimpin dari seluruh murid, mengatakan walau semua murid pergi karena imannya tergoncang, maka ia tidak akan pergi. Petrus mengatakan dia berani mati dan mau masuk dalam penjara untuk Yesus. Oswald Chambers menyatakan Petrus jujur dan Petrus penuh dengan gagah berani tetapi dia naïf, dia bodoh. Kalau kita membaca seluruh dunia ini dari kacamata Alkitab, maka Tuhan sebenarnya memberikan kepada kita satu rahasia yaitu kita adalah makhluk yang sangat lemah dan setan adalah makhluk yang sangat kuat. Petrus adalah murid yang dipanggil sendiri oleh Yesus Kristus. Petrus melihat Yesus menyembuhkan, berjalan di atas air, Petrus sendiri bahkan berjalan di atas air, bukankah dia sendiri yang melihat bagaimana seorang anak dibangkitkan, dia sendiri dari tiga murid yang melihat transfigurasi Tuhan Yesus Kristus, tetapi seluruhnya itu menjadi seakan-akan tidak berguna sekarang, sekarang tidak kuat begitu dilawan oleh setan. Seharusnya bukankah dia berjalan mengikut Yesus di mana dia itu berada. Yesus sendiri menyatakan di mana aku berada maka pelayanku itu harus berada tetapi ketika dia mau menjalani jalan salib itu, jalan mengikut Yesus Kristus maka ketika dia sudah sampai titik tertentu, dia tidak kuat.

    Tetapi ada satu anugerah Tuhan yang Tuhan beritakan kepada kita di sini, yaitu Tuhan mengatakan “Aku sudah berdoa supaya imanmu tidak gugur” Hati saya hancur dan dalam doa saya, saya bicara kepada Tuhan, “Tuhan aku ingin mengenal Engkau tetapi terlebih lagi kenallah aku, ingatlah aku, berdoalah untuk aku Tuhan”. Janganlah kita sombong, kita ada sekarang itu hanya karena anugerah Tuhan. Kita harus terus menerus menyadari satu hal bahwa kita itu tidak mampu, orang yang tidak mampu adalah orang yang terus mencari wajah Tuhan minta belas kasihan Tuhan. Kalau kita menyadari betapa miskinnya jiwa kita dan begitu kuatnya musuh, maka kita terus menerus meratap karena salib itu harus kita pikul setiap hari, Tuhan tolong daku, Tuhan beri anugerah-Mu, ingat aku di dalam doa-Mu. Saya melihat sesuatu keindahan, karena pada hari ini Yesus itu duduk di sebelah kanan Allah Bapa, Dia tidak sedang bersantai, Dia melakukan doa syafaat terus menerus. Ada 2 pribadi Allah yang berdoa syafaat bagi kita yaitu pertama adalah pribadi Allah oknum kedua yang menjadi perantara dan pendoa syafaat terus menerus dan yang kedua adalah Roh Kudus yang di dalam diri kita yang berdoa dengan kalimat-kalimat yang kita sendiri mungkin tidak mengertinya untuk dia itu berbicara meminta kekuatan di dalam hidup kita.

  2. Belajar memiliki satu arah hati hanya kepada Tuhan saja.
    Tidak kompromi dan memiliki kesetiaan (Fidelity). Fide atau faith itu artinya satu arah hati tidak bercabang. Orang yang mendua hatinya tidak akan mendapatkan apapun saja dari Tuhan, bahkan ia tidak akan mendapatkan pengertian sedikitpun berkenaan dengan kehendak Allah di dalam hidupnya. Prinsip untuk mengerti kehendak Tuhan adalah tidak boleh mendua hati, harus meletakkan seluruh hidup, seluruh hatimu untuk mau tahu kehendak Tuhan. Sama halnya dengan memikul salib kita setiap hari berarti belajar memiliki satu arah hati hanya kepada Tuhan saja.

    Di dalam tiga peristiwa setan mencobai Yesus Kristus, saudara bisa melihat prinsip-prinsipnya. Pencobaan pertama maka setan mengatakan ubah batu menjadi roti, Yesus tidak mau. Itu artinya Dia mau terus menerus bergantung kepada Firman, bukan bergantung kepada dunia. Pencobaan kedua maka Dia dibawa ke bumbungan bait suci, loncatkan dirimu, tetapi Yesus mengatakan tidak. Ini adalah bicara berkenaan dengan ketaatan, jangan engkau mencobai Tuhan Allahmu. Orang yang taat, orang yang tidak mencobai Tuhan. Orang yang mencobai Tuhan orang yang memberontak kepada Tuhan, bersungut-sungut seperti Israel dipadang gurun. Pencobaan ketiga, setan mengatakan, “aku akan berikan seluruhnya”, tetapi Yesus mengatakan, “Enyahlah engkau! Hanya kepada Tuhan saja engkau harus berbakti” ini berarti setia hanya kepada Dia.

    Perhatikan baik-baik, point kedua ini yaitu kita harus memiliki satu arah hati, setia kepada Tuhan dan tidak berkompromi. Setelah Yesus dicobai yang ketiga, setan mundur untuk menunggu waktu yang tepat yaitu ketika Yesus Kristus mau pergi ke Yerusalem dan Yesus mengatakan kepada seluruh murid-Nya, “Anak manusia akan disesah sebentar lagi, akan mengalami jalan aniaya”. Lalu Petrus membawa Yesus ke samping mengatakan hal itu tidak mungkin terjadi pada Yesus. Lalu Yesus mengatakan kalimat yang sama persis seperti pencobaan yang ketiga, “Enyah engkau setan!” Perhatikan baik-baik mengapa satu arah hati, adalah karena di dalam menjalani salib ada kesulitan yang lain yaitu orang yang paling dekat dengan kita. Yesus Kristus sendiri pernah menyatakan ayat-ayat ini, lihat Matius 10: 34-38, Matius 16:23. Perhatikan, selama 3,5 tahun Yesus Kristus hidup bersama Petrus, mengajarkan seluruh jalan-Nya kepada Petrus, Dia menyatakan isi hatinya kepada seluruh murid-Nya dan di antara 12 murid itu yang menjadi soko guru jemaat dan 12 murid yang menjadi pilar seluruh bangunan gereja sampai di dalam kekekalan sampai bumi ini berhenti berputar, dan dari 12 murid itu yang paling atas adalah Petrus. Yang paling atas, yang paling dekat dengan Kristus, yang paling dipakai oleh setan. Betapa sakitnya hati Yesus Kristus, betapa Dia merasa satu kesendirian, orang yang paling dekat dengan Dia pun tidak bisa mengerti-Nya. Kalau saudara sudah bicara berkenaan dengan salib, saudara perhatikan dengan baik-baik orang yang paling dekat dengan kitapun tak akan mengerti. Ini adalah sesuatu keterpecahan yang luar biasa, tetapi Yesus menawarkan damai sejahtera. Damai sejahtera dan kesukacitaan yang Tuhan tawarkan berbeda dengan yang dunia tawarkan.

    Aplikasi dari prinsip ini adalah, suami jangan menjadi penghalang isteri, isteri jangan menjadi penghalang suami, anak-anak jangan menjadi penghalang orang tua, dan orang tua jangan menjadi penghalang anak-anak mereka, ingat kita masing-masing secara pribadi eksistensial kita dibeli oleh Kristus. Seluruh keluarga kita itu bukan milik kita. Mereka adalah milik Kristus yang saat ini untuk sementara dititipkan kepada kita.

    Sudah terlalu banyak kita mendukakan hati Tuhan, sudah berapa banyak isteri yang berusaha untuk terus menarik suaminya untuk tidak hidup bagi Tuhan. Berapa banyak suami yang terus tarik isterinya untuk tidak hidup bagi Tuhan. Saudara nanti akan berurusan dengan Tuhan sendiri, jangan engkau berpikir sudah menikahi seseorang, itu menjadi milikmu, tidak! Sebaliknya kalau saudara menyerahkan seluruh keluarga didedikasikan hidup bagi Kristus, keluarga saudara akan mengalami sukacita yang luar biasa besarnya.

    Di dalam hal ini, perhatikan bagaimana Yesus Kristus menjawab Petrus, tidak ada diskusi, “enyah engkau Setan! Ini adalah satu titik krusial, yang saudara harus mengerti kapan Yesus Kristus itu tidak lagi ada diskusi. Sampai di titik ini, persis seperti ketika Yesus Kristus bicara kepada Pontius Pilatus: “Aku datang, kerajaan-Ku bukan dari dunia ini, Aku datang menyatakan kebenaran”. Lalu Pontius Pilatus mengatakan: Apakah itu kebenaran? Sampai di situ, kalau dia sudah tidak mengakui adanya satu kebenaran yang bisa ditemukan di dunia ini, Yesus langsung diam. Banyak orang tidak tahu bagaimana bersikap. Saudara boleh debat apapun saja kalo sudah sampai orang itu mengatakan: Apa itu kebenaran? Saudara tidak usah debat lagi, Yesus pun tidak debat. Apakah engkau berpikir dengan berdebat bisa memenangkan jiwanya? Tidak perlu bicara lagi, lihat kapan Anak Allah itu diam.

    Tetapi ketika Yesus menjawab Petrus berbicara tidak seperti itu, “enyah! Tidak ada diskusi lagi. Maka kita harus mendidik diri kita, ini tidak mudah. Alkitab mengatakan, jangan berdiskusi kalau urusan dengan panggilan bahkan dengan isteri atau suami mu. Ini adalah sesuatu panggilan Allah di dalam hidup kita, saya harus taat. Itulah sebabnya banyak orang dipanggil oleh Tuhan untuk menjalani jalan salib, mengikut Tuhan menjadi hamba Tuhan, lepaskan semuanya. Yesus Kristus mengatakan, “seorang yang mau membajak lalu kemudian berpaling kebelakang, dia tidak layak bagi-Ku”.

    Hal-hal ini keras sekali. Yesus begitu sabar, murah hati, tekun mendidik tetapi kalau sudah berbicara mengenai salib, Dia diam, enyahlah engkau. Tidak perlu berdiskusi, karena makin berdiskusi hati kita makin lemah, makin diskusi kita sendiri makin sakit.

    Di dalam satu ayat Alkitab di Perjanjian Lama, ada satu tafsiran yang pernah dikotbahkan oleh seorang mengenai Abraham. Ketika Tuhan meminta Abraham untuk mempersembahkan anaknya di gunung, ia mentaatinya. Tidak ada di dalam bagian ini bicara mengenai Sara. Jika Abraham mendiskusikan terlebih dahulu salibnya dengan istrinya, Sara, mengenai persembahan anaknya itu, maka hari ini tidak ada Abraham bapa orang beriman. Ada hal-hal yang tidak perlu bicara kepada isteri, ada hal-hal yang tidak perlu bicarakan dengan isteri. Kalau itu dosa yah bicara, kalau itu salib, saudara lawan. Salib saudara harus jalani sendiri, itu sulit tetapi itu yang Tuhan nyatakan. Yesus Kristus mengajarkan satu arah hati, karena begitu mendua, kita akan mengalami kesulitan untuk memikul salib.

  3. Lembut hati.
    Marilah kita belajar rela pikul salib. Hanya ada dua benda yang di dalam Alkitab yang Yesus katakan kepada kita untuk kita pikul. Pertama, pikullah kuk yang kupasang, kuk itu lambang kerja keras. Kedua pikullah salibmu, itu adalah lambang kematian. Pikul kuk dan pikul salib. Jikalau kita tidak rela maka bebannya besar luar biasa, tetapi Yesus mengajarkan kepada kita dua-duanya itu menjadi sesuatu yang ringan. “Pikullah kuk yang kupasang dan belajarlah dari pada-Ku beban itu ringan”, Tidak ada kuk yang ringan. Tidak ada salib yang menyenangkan. Tetapi keduanya bisa ringan dan membahagiakan jikalau hati kita rela dan kerelaan itu dari kelembutan hati.

    Joni Eareckson Tada, adalah seorang tunadaksa (quadriplegic). Suatu hari ia melompat masuk ke dalam air, kepalanya terantuk batu di dasar air yang ternyata dangkal. Seketika itu juga seluruh tubuhnya mati rasa. Ia mederita kerusakan permanen pada tulang belakangnya. Beberapa kali Joni menghadiri kebaktian penyembuhan, tetapi ketika pulang dari kebaktian itu ia tetap di menggunakan kursi roda. Orang-orang mengatakan orang ini tidak beriman, karena ia tidak disembuhkan oleh Tuhan. Tetapi Joni Eareckson Tada sekarang dipakai oleh Tuhan keliling di mana-mana untuk menyatakan bahwa orang-orang cacat itu disayangi oleh Tuhan, dia dipakai oleh Tuhan di dalam penderitaan. Di dalam bukunya, Joni membicarakan berkenaan tentang kelembutan hati untuk rela memikul salib. Dia mengatakan bahwa gambaran lembut hati yang dipakai oleh Alkitab aslinya adalah tentara Romawi atau Yunani pada waktu itu yang berusaha untuk menaklukkan seekor kuda di hutan, untuk dipakai menjadi alat kerajaannya, semakin kuda itu liar, semakin punya kekuatan yang besar nanti di dalam pertarungan. Sebelum dipakai oleh tuannya di dalam pertarungan yang besar, maka tuannya harus bisa menaklukkan kuda itu dan kuda itu takluk, itu lembut hati. Sepanjang kuda itu tidak mau taat, sepanjang itu pula dia tidak bisa dipakai oleh tuannya. Tetapi kalau kuda itu mau takluk, mau menerima pimpinannya, agar kemudian dikeluarkan dari hutan, dilatih, dan dibentuk, kuda itu akan menjadi kuda perang yang akan memenangkan pertandingan. Kiranya kita berdoa minta agar Tuhan memberikan kelembutan hati sehingga kita rela.

    Alkitab menyatakan rahasia rohani bagaimana kelembutan hati itu muncul.

    a. Melihat Kristus menanggung salib lebih daripada kita. Lihat Ibrani 12:1-4. Jadi kelembutan dan kerelaan muncul karena mata yang melihat kepada Kristus yang memimpin kita dalam iman, membawa iman itu kepada kesempurnaan yang dengan mengabaikan kehinaan, tekun memikul salib. Jangan melihat orang lain. Bagi kita yang memikul salib, biarlah kita boleh belajar mengenal Kristus, baca Firman dan minta anugerah Tuhan untuk kita boleh memandang Kristus secara mata rohani, itu membuat kita lembut hati.

    b. Karena Allah itu setia kepada kita. Ada satu kalimat dalam Mazmur bahwa orang-orang yang sudah lanjut usianya pun akan menyatakan bahwa Dia, Allah yang setia dan tidak ada kecurangan dari pada-Nya. Maka kesetiaan Allah itu membuat kita rela. Allah itu setia, Allah tidak pernah hutang. Setan tidak pernah dagang rugi, Allah itu tidak pernah hutang. Kalau engkau sekarang ada sulit, ada air mata, jalani dengan rela, engkau akan lihat, akan adanya kemuliaan dan Dia akan memberikan berkat demi berkat didalam salib yang kita tanggung.

    c. Dengan mengingat bahwa Dia mengerjakan segala sesuatu untuk kebaikan kita (Roma 8:28). Ini menjadi suatu ayat penghiburan bagi kita sejatuh apapun kita dalam dosa. Kalau saudara kemudian bertobat, saudara baca ayat ini. Perhatikan baik-baik, salib itu adalah cara Allah membentuk hidup kita untuk kita hidup serupa dengan Kristus. Banyak orang menjadi Kristen, bahkan aktif di gereja tetapi tidak mau menjadi orang Kristen yang sejati dan orang Kristen yang sejati adalah orang yang berani pikul salib. Orang pikul salib itu adalah orang yang dibentuk rela untuk menjadi serupa Kristus. Tujuan Allah kepada kita, Dia membenarkan kita. Tujuan Allah menebus kita bukan membawa kita pergi ke surga saja, tujuan Allah membentuk hidup kita, menebus hidup kita, membeli hidup kita adalah untuk kita serupa dengan Kristus didunia ini.

    Biar kita boleh mengerti, kelembutan itu muncul karena tiga hal, pertama melihat Yesus Kristus yang tekun memikul salib, kedua ingat bahwa Allah itu setia adanya, ketiga bahwa apa yang Dia berikan kepada kita adalah untuk kebaikan kita.

  4. Dari kerelaan itu akan muncul sukacita karena melihat kemuliaan dari salib.
    Sukacita ini tak akan muncul sebelum kita rela, tetapi begitu rela maka akan ada sukacita yang besar, karena melihat kemuliaan salib. Salib itu bukan lagi menjadi tanggungan berat saja, salib itu menjadi privilege, hak istimewa. Orang Kristen yang benar adalah orang Kristen yang menjalani jalan salib dengan senyum dan memuji Tuhan. Ini rahasia yang besar sekali. Lihat Kolose 1:24, “aku bersukacita karena aku menderita”, ini bukan orang Asketisme yang suka menoreh-noreh, membuat derita pada tubuh, lalu kemudian mengasihani diri. Sekarang saudara-saudara, “aku boleh menggenapkan apa yang dalam dagingku, apa yang kurang pada penderitaan Kristus”. Perhatikan baik-baik, penderitaan Kristus secara substansi, secara kualitas tidak kurang, penderitaan Kristus secara hakekat, ontological itu cukup untuk meredakan murka Allah, itu cukup untuk menebus kita dari dosa. Yang kurang adalah penderitaan Kristus itu kurang dikenal bagi seluruh dunia. Dia mati di Yerusalem, 2000 tahun yang lalu, bagaimana mungkin Dia dikenal sampai saat ini di seluruh dunia? Perhatikan baik-baik, Injil itu berjalan ke seluruh dunia dari jaman ke jaman dengan cara seperti ini, orang-orang itu pergi memikul salib dan kemudian memberitakan Firman dan hidup sesungguhnya bagi Allah, di dalam sakit penyakit, kesulitan, aniaya mereka memuji Tuhan, sampai kemudian seluruh mata orang-orang di sekitarnya bertanya kepada mereka, siapa yang engkau percaya ini? Kenapa engkau mau mati bagi Dia? Berapakah mulianya orang seperti ini? Siapa Dia sehingga seluruh hidupmu itu memiliki kekuatan untuk bersukacita memuji Allah, ketika engkau menderita? Aku mau tahu siapa Dia! Dan dengan itulah seluruh Injil itu pergi ke seluruh dunia, dan genapkan apa yang kurang pada penderitaan Kristus.

    Perhatikan baik-baik, salib adalah metode Allah di dalam meluaskan kerajaan-Nya di bumi ini. Itu adalah privilege. Jikalau kita berada dalam kesulitan, asal itu bukan karena dosa, tetapi kesulitan yang Tuhan ijinkan dan kemudian kita rela taat dan minta kekuatan setiap hari, mengubah kesulitan itu akhirnya menjadi puji-pujian bagi nama-Nya, orang akan melihat saudara dan orang akan bertanya apa yang menjadi kekuatanmu? Siapakah Dia sehingga engkau itu mau menyerahkan seluruh hidup, masa depan dan segala yang engkau miiki bagi Dia? Apakah Dia itu sungguh-sungguh mulia? Orang akan tergerak di dalam hatinya. Paulus mengatakan sekarang aku boleh bersukacita bahwa aku boleh menderita karena kamu, dan menggenapkan dalam dagingku apa yang kurang pada penderitaan Kristus, untuk tubuh-Nya, yaitu jemaat. Belajarlah bersyukur ketika berada dalam kesulitan hidup, belajarlah berterima kasih ketika kita berada di dalam air mata. Bersyukur kepada Tuhan untuk semuanya bahkan karena Tuhan sedang membentuk kita dengan salib yang diletakkan untuk nama-Nya dipermuliakan. Itulah sukacita dipakai oleh Tuhan, dipakai untuk kemuliaan Tuhan, untuk kehendak-Nya jadi dan nama-Nya dipermuliakan. Kiranya Tuhan memimpin hidup kita, kiranya Tuhan boleh memberikan semakin dalam pengertian salib, dan kerelaan kita untuk memikul salib-Nya.