[simple_crumbs root="Home" /]
kembali

11 September 2022

Pdt. Agus Marjanto, M.Th

Golden Rule (2)

Matius 7:11-12

Hari ini kita sampai kepada pembahasan ke-2 tentang Golden Rule. Ini adalah apa yang Yesus ajarkan dalam kaitannya kita bertindak kepada sesama kita. Golden Rule dengan seluruh bentuknya ada di berbagai agama dan budaya. Tetapi ajaran Yesus ini jelas memiliki perbedaan kualitatif dibandingkan seluruh agama dan budaya yang ada. Golden Rule yang diajarkan oleh Yesus itu bersifat positif, aktif, inisiatif dan transformatif. Minggu yang lalu kita sudah membahas poin pertama Golden Rule dari Yesus Kristus, berbeda secara kualitatif dengan agama dan budaya yang lain. Mengapa Golden Rule Kristus Yesus bisa bersifat positif, aktif, inisiatif, transformatif? Dari mana kekuatan murid-murid-Nya dan gereja masa kini untuk melakukannya? Seorang pendiri agama bisa mengatakan perintah-perintahnya, tetapi apakah pengikutnya memiliki kemampuan untuk melakukannya? Dari mana kekuatan kita? Dari mana kuasa kita untuk melakukannya? Jawabannya adalah dari kasih Allah Bapa yang sudah diberikan kepada kita sebelumnya. Kasih Allahlah yang mendorong kita memiliki kekuatan, kuasa untuk melakukan hal yang baik kepada sesama kita. Itulah sebabnya Matius bukan tidak sengaja menggabungkan Golden Rule Yesus Kristus dengan perikop doa sebelumnya. Ajaran tentang memberlakukan sesama kita, bertindak kepada sesama kita di dalam kekristenan tergantung bagaimana Allah bertindak kepada kita. Jikalau kita menyelediki lebih dalam, akan menemukan inilah keunikan yang membedakan secara total Golden Rule Kristus Yesus dengan seluruh agama dan budaya yang lain. Karena Golden Rule agama lain tidak memberikan tekanan yang kuat kepada relasi dengan Allah tetapi kekristenan, titik sentralnya adalah Allah. Saudara hapuskan titik sentral ini maka tidak akan menemukan kalimat Yesus Kristus ini. Sebaliknya titik sentral ini yang menjadi modal, menjadi kekuatan dan kuasa untuk memberlakukan sesama kita dengan baik. Saya jadi teringat akan kalimat Yesus di tempat Yohanes 15. “Apart from Me you can do nothing.” Di luar Kristus kita tidak dapat berbuat apa-apa, itu mencakup apa saja? Para Teolog biasanya menjelaskan kalimat Yesus “Apart from me you can do nothing” itu dengan Ordo Salutis yaitu tatanan atau urutan keselamatan kita, mulai dari dipilih sampai kepada dimuliakan. Jadi Alkitab dengan jelas menyatakan kita dipilih oleh Allah di dalam Kristus. Kita diregenerasi di dalam Kristus. Kita diadopsi di dalam Kristus. Kita dibenarkan di dalam Kristus. Kita dikuduskan di dalam Kristus. Kita dibangkitkan di dalam Kristus. Kita dimuliakan di dalam Kristus. Seluruh rantai Ordo Salutis ini seluruhnya dikerjakan Allah untuk keselamatan kita di dalam Kristus. Sehingga dengan tepat kalimat Yesus mengatakan “Di luar Aku kamu tidak bisa berbuat apa-apa.”

Para teolog menggabungkan kalimat “Apart from Me you can do nothing” dengan Ordo Salutis. Tetapi ternyata kalimat Yesus ini juga benar di dalam case Golden Rule. Di dalam Kristus, Allah berbuat baik kepada kita. Di dalam Kristus, Allah mengasihi kita. Di dalam Kristus, Allah mengampuni kita. Di dalam Kristus, Allah menjawab doa-doa kita. Seluruh perbuatan Allah di dalam Kristuslah yang membuat kita sanggup, kita mampu, kita memiliki modal untuk mengasihi, mengampuni, memperhatikan, berbuat baik kepada sesama. “Apart from Me you can do nothing.” Bahkan untuk berbuat baik kepada sesama tidak mungkin kita terlepas dari Kristus. Ini adalah penekanan pertama yang kita tidak boleh lupakan. Saya mengajarkan ini dengan kalimat-kalimat yang panjang karena banyak orang Kristen tidak mengerti dengan tuntas dalam hal ini. Karena berbicara mengenai perbuatan baik itu adalah suatu kuliah yang kompleks sekali. Karena seluruh agama akan mengajarkan perbuatan baik. Tetapi sekali lagi apa yang membedakan; yang membedakan adalah sumber perbuatan baik kita. Di dalam kekristenan, ini adalah tindakan Allah di dalam Kristus yang sudah berbuat baik mengasihi kita terlebih dahulu.

Mengerti poin pertama ini maka kita akan mengerti bahwa Golden Rule terkait erat dengan mengasihi Allah dan mengasihi sesama yang merupakan inti seluruh Taurat dan kitab para nabi. Kalau saudara dan saya mengerti poin yang pertama, maka kita akan masuk ke dalam poin yang ke-2 ini. Poin ke-2 mengenai Golden Rule ini terkait erat dengan mengasihi Allah dan mengasihi sesama yang merupakan inti seluruh Taurat dan kitab para nabi. Suatu saat di dalam Matius 22 tertulis, Matius 22:37, seorang ahli Taurat bertanya kepada Yesus, “Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?” Jawab Yesus kepadanya: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.” Golden Rule Kristus Yesus di dalam Matius 7 terkait erat dengan prinsip mengasihi Allah dan mengasihi sesama. Di dalam Matius 7 dikatakan, “Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.” Mari kita perhatikan kalimat Yesus ini. Sesungguhnya apa yang menjadi tujuan kita berbuat baik kepada sesama kita menurut hukum ini? Kalau kita tidak teliti kita akan mengatakan; aku berbuat baik kepada sesama supaya sesama itu berbuat baik kepada kita, itukan yang dikatakan oleh Yesus Kristus. Tidak, tidak seperti itu. Tujuan kalimat Yesus agar kita berbuat baik kepada sesama adalah untuk kita memenuhi seluruh tuntutan hukum Taurat dan kitab para nabi. Apa tuntutan isi hukum Taurat dan kitab para nabi? Yaitu kasihi Tuhan Allahmu, itu adalah yang pertama dan yang kedua, kasihi sesamamu manusia. Perhatikan keduanya menjadi satu. Keduanya tidak bisa dipisahkan, tetapi ada urutannya. Sekali lagi; keduanya menjadi satu, keduanya tidak bisa dipisahkan. Barangsiapa yang memisahkannya, Yesus langsung menegur orang tersebut.

Suatu saat orang-orang farisi dan ahli Taurat berbicara dengan Dia dan Yesus menegur dia. Karena mereka tidak mau memelihara orang tuanya dan mereka mengatakan uangnya sudah kuhabiskan untuk bait Allah, untuk persembahan. Di tempat yang lain Yesus mengatakan suatu perumpamaan tentang orang Samaria yang baik hati dan ada orang Yahudi yang dirampok. Yesus mengatakan cerita seperti ini. Ada imam yang melihat orang itu dirampok dan dia jalan terus tanpa menolong. Ada orang Lewi yang lihat orang itu dirampok dan dia jalan terus tanpa menolong. Imam dan Lewi hidup di mana? Di dalam bait suci. Mereka adalah orang-orang yang dipanggil oleh Allah secara full time di dalam bait suci. Tetapi Allah, Kristus, menghardik mereka karena tidak mau menolong sesama, sebaliknya Yesus memuji orang Samaria yang baik hati, yang menolong, mengobati lukanya dan memberikan uang untuk dia boleh dirawat. Di tempat yang lain kita memiliki cerita berkenaan dengan seorang yang muda yang kaya datang kepada Yesus Kristus. Kemudian dia bertanya, “Guru yang baik, apa yang harus aku lakukan agar aku bisa pergi ke Kerajaan Allah supaya aku dapat diselamatkan?” kemudian Yesus bicara berkenaan dengan jangan mencuri, jangan membunuh dan melakukan seluruh kebaikan. Kemudian ia mengatakan, aku sudah melakukannya sejak aku masih kecil. Dia perfect untuk berbuat baik kepada sesamanya. Dia memberikan sedekah kepada sesamanya, tetapi Yesus yang mengerti isi hatinya mengatakan jual seluruh hartamu, berikan kepada orang miskin dan kemudian ikut Aku. Maka orang tersebut menangis dan kemudian pergi dari Yesus. Inti dari cerita itu adalah orang muda ini lebih mengasihi hartanya di dunia ini daripada Allah. Dengan kalimat yang tajam Yesus membuka, membedah isi hatinya, dan orang muda ini tahu sesungguhnya nomor satu di dalam hatinya itu siapa. Saudara sekarang melihat bukan? Di dalam Alkitab, 2 hal ini diajarkan oleh Tuhan kita. Kasihilah Allahmu, itu adalah hukum yang pertama dan utama dan yang kedua, yang sama dengan itu, kasihilah sesamamu manusia. Keduanya tidak bisa dipisahkan, keduanya menjadi satu tetapi ada urutannya, ada yang pertama dan ada yang mengikutinya.

Beberapa waktu yang lalu, ada seorang yang bertanya dan ini adalah suatu pertanyaan yang jujur dan sangat baik. Saya sangat senang dengan pertanyaan ini. Karena saya melihat hatinya yang murni untuk mengerjakan hal-hal ini. Ini adalah suatu koreksi bagi kita, orang-orang Injili khususnya. Pertanyaannya adalah “Pak Agus, apakah GRII tidak mementingkan tindakan-tindakan pelayanan sosial atau humanitarian? Maka saya menjawab; kita harus. Kita harus bertindak bagi kesejahteraan manusia. Seluruh jemaat GRII Sydney perhatikan! Kita harus bertindak bagi kesejahteraan umat manusia karena itu adalah perintah Allah. Kita tidak bisa hanya mementingkan ibadah, KKR, saat teduh, pembangunan gedung gereja, pekabaran Injil tanpa memikirkan bagaimana masyarakat dibangun dan masyarakat disejahterakan atau masyarakat itu diberi makan. Kalau Tuhan memang pimpin kita, khususnya 9 tahun perjalanan gereja ini, sekarang kita masuk satu langkah ke dalam misi. Kita akan tahu bahwa pelayanan misi seperti ini adalah pelayanan seperti pedang yang bermata dua. Ada mandat Injil dan mandat budaya. Bahkan sebenarnya, ini adalah suatu keunikan Reformed Theology yang tidak dimiliki oleh aliran yang lain. Tetapi banyak dari kita yang kurang memahaminya. Sekali lagi, pertanyaannya adalah apakah kita harus memperhatikan sesama kita? Apakah kita harus menaikkan taraf hidup mereka? Apakah kita harus membangun komunitas di mana kita ada, apalagi jika kita mengetahui ada daerah-daerah yang tertinggal? Apakah kita harus bergerak untuk membangun daerah itu? Jawabannya adalah ya, harus. Harus. Bukan bicara mengenai sosial itu saja tetapi kalau Saudara dan saya mau melihat kemuliaan Allah itu meliputi seluruh negeri, maka pelayanan shalom yang membuat transformasi setiap suku dan bangsa itu harus terjadi. Pada saat yang sama, kita harus memperhatikan semua usaha humanitarian dan sosial ini lahir dari atau akibat dari mengenal Allah; kasihilah Allahmu.

Relasi vertikal dengan Allah itu pertama tercipta dulu, baru ada muncul kedua, yaitu kasih kepada sesama yang menjadi buah yang pertama. Menurut definisi Alkitab, usaha kemanusiaan yang terpenting adalah memperkenalkan orang lain dengan Yesus Kristus. Ketika saya mengatakan “yang terpenting” itu bukan satu-satunya; Yang terpenting itu terpenting/paling atas, tetapi ada hal-hal penting yang lain. Makan itu penting tetapi apa arti makan jikalau tidak memiliki hidup yang kekal? Hidup yang kekal itu yang terpenting tetapi bukan satu-satunya karena ada hal yang penting lainnya, yaitu makan. Itulah sebabnya Yesus mengatakan, “Manusia hidup bukan dari roti saja tapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.” Itu artinya bukan dari roti saja, itu artinya roti itu penting. Banyak orang Kristen khususnya orang-orang Injili dan mungkin kita ada di dalamnya. Kita tidak mau masuk untuk memikirkan orang lain, pokoknya urusanku dengan Tuhan. Orang itu adalah orang Kristen yang egois.

Kemarin, saya bersaat teduh dan membaca Alkitab, ada satu note di bawahnya, saya kaget sekali, dikatakan, “Orang pelit memiliki kejahatan di dalam hatinya.” Tadinya saya pikir adalah ada orang boros, ada orang pelit, ini cuma masalah cara pengaturan keuangan saja ternyata tidak. Sebaliknya ketika kita melihat orang ini tidak peduli dengan sesamanya, maka kita mempertanyakan; Apakah orang ini sungguh-sungguh bertumbuh mengenal Allah? Kalau kita sungguh-sungguh mengalami kemurahan Allah, tak mungkin kita tidak didorong untuk murah hati kepada orang lain. Sekali lagi, ada orang Kristen yang tidak terlalu mau masuk untuk memikirkan orang lain. Pokoknya urusanku dengan Tuhan. Saat teduhku, itu yang penting. Baca buku teologia, itu yang penting. Tapi di tempat yang lain, banyak pekerja sosial Kristen, takut berbicara tentang Injil. Kalau kasih makan kepada sesama, maka sesama akan jadi teman tetapi kalau kita memberitakan Injil, maka sesama kita akan menjadi musuh kita, bukan? Karena memberitakan Injil adalah sesuatu yang seakan-akan offensive kepada orang lain. Kita takut menyinggung orang lain atau takut dimusuhi oleh orang lain. Maka saudara-saudara akan menemukan bahwa banyak lembaga sosial berusaha untuk memberikan kesejahteraan akhirnya tetap tidak bisa secara fundamental mengubah daerah itu karena mereka belum bertemu dengan Allah. Kalau kasih makan jadi teman, tetapi kalau bicara tentang Injil akan jadi musuh. Tetapi perhatikan apa yang Alkitab katakan, “Jikalau ada kasih tidak ada ketakutan.” Kasihilah Allah maka akan ada dorongan yang besar untuk mengasihi sesama. Golden Rule Yesus Kristus meneguhkan prinsip ini. “Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.”

Sekarang kita akan masuk ke dalam poin yang ke-3. Kalimat Yesus ini, ajaran Golden Rule ini membukakan kita prinsip Alkitab tentang apa itu dosa atau tepatnya jenis-jenis dosa. Sebenarnya ketika bicara mengenai dosa, pelanggaran terhadap hukum Allah di dalam Alkitab itu terdiri dari dua macam dosa. Yang pertama disebut sebagai sin of omission/dosa karena kelalaian. Dan yang kedua adalah sin of commission, yaitu dosa karena melakukan. Dosa kelalaian itu apa? Sin of omission itu adalah dosa karena tidak melakukan apa yang seharusnya dilakukan. Sekali lagi, sin of omission adalah di hadapan Allah, kita dianggap berdosa karena tidak melakukan apa yang seharusnya dilakukan. Apakah kita mengasihi orang? Apakah kita mengampuni dia? Apakah kita murah hati kepada dia? Apakah kita mengabarkan Injil? Oh, kita selalu akan mengatakan, “Kalau saya membunuh, itu baru dosa. Kalau aku melihat yang porno, itu aku dosa. Tetapi kalau aku tidak mengampuni orang, itu bukan dosa. Kalau aku tidak mengabarkan Injil, itu pilihan kok.” Alkitab tidak mengatakan demikian. Yesus tidak mengajarkan demikian. Sesuatu yang diperintahkan oleh Allah tetapi kita tidak lakukan, dianggap oleh Allah dosa karena tidak melakukan, sin of omission. Di tempat yang lain, kita tahu semua sin of commission, yaitu dosa melakukan apa yang seharusnya tidak dilakukan. Jangan membunuh, maka membunuh itu dosa. Jangan mencuri, maka mencuri itu dosa. Maka itu jelas bagi kita. Tetapi pagi ini saya akan bicara mengenai Kristus memberikan peringatan keras kepada gereja-Nya mengenai sin of omission. Yesus menentang dosa karena kelalaian ini sebagaimana Dia menentang dosa karena perbuatan. Ada satu perikop yang cukup panjang yang saya akan bacakan saja dan saudara-saudara perhatikan nanti dan saudara akan melihat Tuhan bagaimana mendudukkan sin of omission ini pada tempatnya. Dan setelah membacakan, saya akan membahas sedikit dan kita akan menutup khotbah.

Matius 25:31-46. Saudara akan melihat sin of omission itu, seberapa marahnya Tuhan. Saudara-saudara, perhatikan apa yang ditulis Alkitab di sini. Golongan kambing ini dibebaskan di bawah tuntutan sin of commission. Tuhan tidak mengatakan, “Kamu sudah mencuri. Kamu sudah membunuh. Kamu sudah berzinah.” Tuhan tidak bicara itu. Tuhan tidak bicara mengenai sin of commission sebagai tuduhannya. Tetapi Tuhan menjerat mereka dengan sin of omission; tidak memberi makan, tidak membesuk, tidak memberikan tumpungan, tidak memberikan belas kasihan, tidak memberikan anugerah. Kesalahan mereka terletak pada fakta bahwa mereka gagal berbuat baik, bukan pada tindakan kejahatan yang mereka lakukan. Saudara, sekali lagi, kesalahan mereka terletak pada fakta bahwa mereka gagal berbuat baik bukan pada tindakan kejahatan yang mereka lakukan. Melalui perintah ini Yesus mau membentuk kita, gereja-Nya untuk bergerak aktif memberikan kebaikan kepada dunia atau orang-orang yang kita temui karena kematian dan kebangkitan Kristus adalah untuk mentransformasi dunia ini melalui gereja-Nya. Bagi kita orang Kristen yang pasif, bertobatlah. Bagi kita orang Kristen yang tidak mau melihat sesama kita, bertobatlah. Bagi kita orang Kristen yang kikir, yang menyimpan uangmu dalam apapun saja alasanmu, bertobatlah. Yesus mengatakan, “Engkau adalah garam dunia.” Setiap kali garam bekerja, dia akan meluruh habis. Setiap lampu/light itu ketika dia nyala, dia akan terbakar habis. Mengapa engkau menyimpan anugerah Allah untuk dirimu sendiri? Orang yang pelit, orang yang kikir, bertobatlah. Jangan pura-pura engkau beribadah kepada Allah. Allah melihat buah dan buah itu lahir dari pengenalan akan Allah. Yang mendapatkan kasih karunia akan bergerak dengan kasih karunia. Yang diberikan kemurahan akan bergerak dengan kemurahan. Berapa banyak kita yang berdosa di hadapan Tuhan? Hidup tidak menghasilkan buah apapun di dunia ini. Hidup hanya untuk diri seperti Laut Mati, seluruh aliran air ke sana. Kadar garam tertinggi di seluruh laut di dunia tetapi apapun makhluk hidup yang ada di dalamnya akan mati. Bukan seperti itu kita diciptakan dan bukan seperti itu gereja ini diciptakan oleh Tuhan. Positif, aktif, inisiatif, transformatif. Kiranya kasihan Tuhan dan belas kasihan-Nya tidak sia-sia diberikan kepada kita. Mari kita berdoa.

Alamat

556 - 558 Botany Road, Alexandria, NSW, 2015
sekretariat@griisydney.org
0422690913
0430930175

Social Media

Facebook GRII Sydney Instagram GRII Sydney Twitter GRII Sydney


Google Play Store
App Store

^