[simple_crumbs root="Home" /]
kembali

4 September 2022

Pdt. Agus Marjanto, M.Th

Golden Rule (1)

Matius 7:11-12

Matius 7:12 berbicara mengenai Golden rule. Golden rule adalah aturan berkenaan bagaimana seharusnya kita memperlakukan sesama kita. Ini adalah hukum timbal balik. Dasar suatu etika moral dan sosial di dalam hidup berkomunitas. Golden rule tidak secara khusus adalah milik kekristenan. Kalimat seperti ini dengan variasinya ditemukan dalam banyak budaya dan agama yang beragam. Thales, filsuf Yunani misalnya mengatakan: “Hindari melakukan apa yang anda akan salahkan orang lain ketika melakukannya.” Thales hidup 600 tahun sebelum Kristus. Confucius misalnya 500 tahun sebelum Kristus, mengatakan: “Jangan melakukan kepada orang lain apa yang kamu tidak inginkan mereka lakukan kepadamu.” Hinduism, 400 tahun sebelum Kristus, juga mengatakan demikian, “Ini adalah keseluruhan tugas, jangan melakukan ke orang lain apa yang dapat membuat kesakitan jika itu dilakukan kepadamu.“ Buddhism mengatakan: “Jangan sakiti orang lain dengan cara-cara yang menyakitkan bagi kamu sendiri.” Dua puluh tahun setelah Yesus Kristus itu, Rabbi Hillel, menyatakan bahkan ketika dari orang non Yahudi bicara untuk dia bisa merangkumkan seluruh hukum Yahudi secara singkat, “Gabungkan seluruh hukum itu Rabbi Hillel!” Maka Rabbi Hillel menyatakan: “Apa yang anda benci, jangan lakukan kepada orang lain, ini adalah keseluruhan hukum, semua sisanya adalah penjelasan. Pergi dan pelajarilah.” Kita dapat membaca ajaran-ajaran golden rule dalam setiap budaya dan setiap agama. Dan dari sana saudara akan mendapatkan prinsip-prinsip bagaimana kita berelasi dengan sesama, bagaimana memperlakukan sesama kita. Tetapi kalau kita cermati, maka saudara akan menemukan ada perbedaan kualitas dengan ajaran Yesus Kristus.

Perhatikan ada perbedaan kualitas, antara seluruh ajaran yang lain, bahkan yang tadi saya sebutkan, dengan ajaran Golden rule yang Yesus Kristus ajarkan di sini. Golden Rule yang Yesus ajarkan sifatnya positif, aktif inisiatif dan transformatif. Ini tidak ada pada seluruh ajaran golden rule agama dan budaya yang lain. Ajaran golden rule yang Yesus ajarkan positif, bukan kalimat negatif, tidak mengatakan “jangan” atau “hindari” tetapi “lakukan”, positif. Aktif inisiatif, Yesus mengatakan: “Apa yang kamu inginkan orang lain lakukan, perbuatlah demikian juga.” Ini adalah suatu kalimat yang mendorong gereja-Nya untuk bertindak. Kalimat ini adalah kalimat yang menuntut kita bertindak terlebih dahulu, inisiatif. Kalimat ini juga bersifat transformatif. Kalimat Yesus ini jikalau kita taati akan menghasilkan pergerakan mengubah masyarakat sekitar kita. Kultur kita dan di mana pun saja ada, kita aktif untuk berbuat jahat. Ada orang yang aktif menyakiti orang lain dengan sengaja. Ada orang yang aktif mengancam, mengertak, kasar, keras, dengan sengaja mencari sesuatu dengan sengaja untuk menyakiti hati orang lain. Tetapi kalimat Yesus Kristus positif, aktif inisiatif dan transformatif, mengubah masyarakat sekitar kita. Jikalau kita mau melakukannya dan mengubahnya menuju kepada sesuatu yang sungguh-sungguh indah. Maka di dalam anugerah Tuhan, mulai pada pagi hari ini dan mungkin dua atau tiga minggu ke depan kita akan melihat prinsip golden rule yang Yesus ajarkan dan saudara akan melihat perbedaan dari kualitatifnya.

Hal yang pertama, kalimat Yesus ini berdiri di atas kemurahan Allah yang diberikan kepada gereja-Nya di dalam Kristus terlebih dahulu. Kalimat Alkitab tidak berdiri sendiri. Kalimat Alkitab saling terkait secara organik. Ini bukan perintah yang disebutkan begitu saja. Perhatikan perintah ini diletakkan oleh Matius setelah perikop tentang doa. Dalam perikop tentang doa, beberapa minggu kita pelajari itu, kita sudah bicara panjang lebar tentang Allah yang mengadopsi kita menjadi anak-anak-Nya. Kita sudah bicara tentang kasih Allah yang diberikan kepada kita. Golden Rule dari Yesus yang berisi bagaimana kita memperlakukan sesama kita tidak bisa dilepaskan dari apa yang telah Bapa kerjakan di dalam hidup kita. Apa yang Bapa sudah kerjakan kepada kita terlebih dahulu, mengirimkan Kristus untuk mati bagi kita, mengirimkan Roh Kudus untuk bersama-sama dengan kita, bersama roh kita, berseru ‘Ya Abba ya Bapa,’ dan memberikan kemurahan hati Bapa yang besar itu dengan menjawab doa-doa kita. Apakah sekarang kita mengerti bahwa ayat ini tidak bisa dilepaskan dengan ayat di depan? Apa yang diperintahkan Yesus di dalam golden rule ini tidak akan bisa kita lakukan, jika bukan Tuhan yang dealing dengan anugerah kepada kita terlebih dahulu. Setiap kali membaca Alkitab, salah satu hal, saya pernah bicara kepada saudara-saudara, ketika membaca itu, perikop itu titik beratnya apa? Titik berat itu yang akan menjelaskan seluruh ayat-ayat selanjutnya atau sebelumnya. Tetapi selain titik berat, saudara mesti melihat secara prinsip spiritualitas, maka mana duluan, mana belakangan. Sekali lagi, apa yang diperintahkan Yesus di dalam ayat 12, keberhasilannya itu ada pada kita jika dan hanya jika ayat 7-11 itu terjadi dalam hidup kita. Saudara dan saya tidak mungkin bisa berbuat baik kepada orang lain sebelum Allah berbuat baik terlebih dahulu kepada kita.

Lebih lanjut lagi, kalau saudara-saudara melihat tadi dan mendengar mengenai ajaran golden rule dari agama dan budaya yang ada di dunia ini, maka ajarannya hanya sampai kepada menahan tindakan kejahatan. Agama dan budaya yang lain mengajarkan ‘jangan lakukan ini, jangan lakukan itu.’ Yesus berkata ‘lakukan ini.’ Agama dan budaya lain mengatakan ‘cukup untuk menahan perilaku negatif anda.’ Yesus mengajarkan untuk kita ‘mencari cara bertindak secara aktif positif.’ Kalau saudara-saudara melihat buku-buku atau pembicaraan para scholars, maka ada orang-orang mengatakan bahwa ajaran Yesus sebenarnya tidak baru dan meminjam dari agama-agama lain sebelumnya karena kalimat Yesus itu serupa, sama dengan agama-agama yang lain. Confucius misalnya 500 tahun sebelumnya atau Hindu atau Buddha. Tetapi perhatikan baik-baik, kalimat Yesus bukan meminjam kepada mereka. Kalimat Yesus ini adalah sesuatu yang sungguh-sungguh berbeda secara kualitatif dan secara arahnya. Bagaimana mungkin bisa mengubah dari negatif menjadi sesuatu yang positif, yang pasif menjadi inisiatif? Saudara-saudara pikir itu hanya membalik tangan? Saudara-saudara pikir itu adalah suatu kalimat yang cuma diubah secara logika? Untuk mengubah sesuatu yang pasif menjadi aktif, yang negatif menjadi positif maka artinya pengubahan arah. Saudara perhatikan kalimat di bawah ini: Perlu input yang besar, yang powerful untuk mengubah arah. Seseorang mengeluarkan sesuatu ada output, saudara harus memiliki input terlebih dahulu. Sekali lagi dasarnya adalah kita terlebih dahulu diperlakukan murah hati oleh Bapa di surga, yang baik kepada kita. Belum lagi Alkitab menyatakan ada indwelling sin. Kecenderungan hati kita pasti lebih peka terhadap sesuatu yang evil yang terjadi. Saudara-saudara dilukai sedikit saja kita akan membalas kepada orang lain berkali-kali lipat. Di dalam Kejadian 4:23-24, saudara akan bertemu dengan seorang bernama Lamekh dan lihat inklinasi hatinya. Itu ada inklinasi hati manusia yang belum ditebus. Saudara dengarkan, berkatalah Lamekh kepada kedua isterinya itu: “Ada dan Zila, dengarkanlah suaraku: hai isteri-isteri Lamekh, pasanglah telingamu kepada perkataanku ini: Aku telah membunuh seorang laki-laki karena ia melukai aku, membunuh seorang muda karena ia memukul aku sampai bengkak sebab jika Kain harus dibalaskan tujuh kali lipat, maka Lamekh tujuh puluh tujuh kali lipat.” Saudara-saudara lihat ini yang terjadi kepada manusia yang belum lahir baru. Saudara-saudara bukan saja bahwa dirinya pasif terhadap kebaikan, tetapi bahkan dia menduplikasi kejahatan sedemikian rupa di dalam hati dan tindakannya. Maka jangan bicara mengenai seseorang tidak di dalam Kristus kemudian orang tersebut bisa berbuat baik, yang sejati di hadapan Allah. Oh tadinya engkau biasa berbuat jahat, sekarang engkau lakukan yang baik. “Oh ini ada kalimat Yesus lakukan yang baik.” Kemudian orang tersebut dengan mudah sekali membalik tangan, dia akan melakukan yang baik. Tidak mungkin bisa! Karena untuk bisa berubah saudara dan saya memerlukan kuasa dari surga. Kalau tadi saudara lihat Caroline ada di sini, dari orang belum kenal Kristus kemudian jadi orang kenal Kristus, dari orang yang pergi ke gereja boleh apa saja sampai dia memikirkan sesungguhnya kehendak Tuhan dan gereja yang sejati apa. Dari orang yang easy going menjadi orang yang sungguh-sungguh serius di hadapan Allah perlu kuasa dari surga untuk lakukan itu. Perlu kuasa Allah Tritunggal untuk mengubah hidup dan hatinya. Seorang hamba Tuhan sehebat apapun saja tak mungkin bisa mengubah hidup seorang. Perlu input dari surga yang besar kepada dia. Maka jika seseorang bisa melakukan sesuatu yang inisiatif baik, memberikan kemurahan kepada orang lain itu pasti ada perubahan di dalam hatinya terlebih dahulu. Ada kebaikan yang banyak yang dia terima terlebih dahulu. Ada cinta yang besar terlebih dahulu mengubah hidupnya. Dan di sini penulis Injil menyatakan itu adalah cinta Bapa yang diberikan kepada kita di dalam Kristus Yesus. Perhatikan baik-baik kalimat di bawah ini: Bapa di surga dengan seluruh kebaikan-Nya di dalam Kristus yang menebus kita, menyertai kita, menjawab doa kita adalah modal dan dorongan terbesar bagi gereja-Nya untuk berbuat baik kepada dunia ini. Lihatlah apa yang mengubah hati dan hidup anak-anak Tuhan di tengah-tengah kita. Saudara lihat kalau kita bisa berubah apa yang sebelumnya terjadi, yaitu Allah yang sudah bertindak sebelumnya secara aktif, inisiatif dan mentransformasi kita dengan anugerah dan kebaikan-kebaikan-Nya yang murah hati kepada kita. Itulah sebabnya Alkitab berkali-kali mengatakan kepada kita dalam berbagai tempat yang ada, dengan satu kalimat yang mirip seperti ini: Lihat, betapa besar kasih Allah yang diberikan kepadamu. Lihat, betapa besar kasih Allah yang diberikan kepada kita.

Perhatikan 3 kalimat terakhir ini: Hanya karena Bapa sudah terlebih dahulu murah hati kepada kita, maka kita memiliki kemampuan untuk bertindak aktif, inisiatif, positif, murah hati kepada orang lain. Kedua, hanya karena Bapa sudah terlebih dahulu mengasihi kita, maka kita memiliki kemampuan untuk bertindak aktif, inisiatif, positif mengasihi orang lain. Ketiga, hanya karena Bapa sudah terlebih mengampuni kita maka kita memiliki kemampuan untuk bertindak aktif, inisiatif, positif mengampuni orang lain. Sebagai penutup, saya akan mengatakan kebalikannya. Jikalau engkau adalah orang yang tidak murah hati, saya tanya kepadamu, apakah engkau tidak pernah mengalami murah hatinya Bapa di surga? Jikalau engkau adalah orang yang suka menuntut, saya tanya kepadamu, apakah engkau tidak pernah mengalami pengampunan dari Allah Bapa di surga? Jikalau engkau adalah orang yang penuh dengan kepahitan, bitterness, dengan dendam saya tanya kepadamu, apakah Allah di surga tidak pernah dealing dengan cinta kepadamu? Lihat, betapa besar kasih Allah yang diberikan kepada kita. Mari kita berdoa!

Alamat

556 - 558 Botany Road, Alexandria, NSW, 2015
sekretariat@griisydney.org
0422690913
0430930175

Social Media

Facebook GRII Sydney Instagram GRII Sydney Twitter GRII Sydney


Google Play Store
App Store

^