[simple_crumbs root="Home" /]
kembali

7 August 2022

Pdt. Agus Marjanto, M.Th

Hal Pengabulan Doa (3)

Mat 7:7-11, Mzm 24:5-6, Yes 64:7

Kita terus merenungkan perikop ini, pengajaran Yesus tentang doa. Yesus mengajar kita berdoa untuk minta, cari dan ketuk. Ini adalah pengajaran yang sangat sederhana dan sangat membangun. Tetapi masalah doa sesungguhnya tidak pernah mudah bagi kita manusia yang berdosa. Dengan kalimat-kalimat ini, Yesus mau menyatakan seorang pendoa yang sehat adalah pendoa yang memiliki ketekunan di dalam doanya. Ketekunan dan keuletan bukan untuk meminta sesuatu yang egois tapi meminta berkat-berkat dari Tuhan yang memang ditujukan kepada kita. Puritan menyatakan ada hal-hal yang dari Tuhan yang tidak diberikan kepada kita selain dengan ketekunan berdoa. Beberapa minggu ini kita sudah berbicara mengenai hal-hal yang perlu kita perhatikan untuk membangun atau melatih doa kita untuk kita belajar berdoa dengan tekun. Saya mengulang sedikit.

Yang pertama adalah prioritaskan doa. Kita dipenuhi dengan berbagai macam hal di dunia ini selain berusaha berelasi serius dengan Tuhan kita. Ketika kita ditanya oleh orang: “Apakah engkau berdoa?” Jawabannya adalah pasti berdoa. Doa tidak hilang di dalam hidup kita. Tetapi doa itu terpinggir di dalam isi hati tengah kita. Jika digambarkan dengan sebuah keluarga, maka doa adalah anak tiri dari sebuah family. Berdoa, berelasi dengan Tuhan secara serius dan intens telah menjadi anak tiri di dalam kehidupan kita. Hal pertama, latihan untuk kita bisa memiliki ketekunan doa di dalam Mazmur pasal yang ke-7 adalah prioritaskan doa di dalam hidup kita. Mari kita belajar di pagi hari memandang wajah Allah sebelum memandang wajah orang lain. Mari kita belajar di pagi hari berbicara kepada Allah pertama kali sebelum kita berbicara kepada orang lain. Prinsip yang sama saya juga berkata kepada semua orang yang melayani Firman. Apakah anda adalah seorang pemimpin KTB? Pemimpin Remaja? Atau pemimpin Pemuda? Atau guru Sekolah Minggu? Sebelum kita berkhotbah kepada audience kita, saudara dan saya harus berkhotbah kepada jiwa kita terlebih dahulu. Sekali lagi, prioritaskan doa sebagai hal yang pertama sebelum kita melakukan hal yang lain.

Kalau kita melihat dalam bagian-bagian Alkitab, Tuhan mengajarkan seperti ini, perhatikanlah bahwa setiap pengajaran Tuhan itu ada anugerah yang besar dari Tuhan. Tetapi anugerah itu adalah anugerah yang membuat kita untuk bekerja keras atau untuk menstaati. Ada bagian kita. Dan, ketika bagian kita itu selalu seperti anak tangga, kita tidak mungkin sampai di atas sebelum saudara dan saya itu melakukan anak tangga ke-1, ke-2 dan ke-3, dan seterusnya. Kalau kita tidak mau dilatih oleh Tuhan, kita tidak akan sampai kepada prinsip ini. Karena, sekali lagi, ini adalah bagian dari sanctification, not justification. Saudara-saudara, sekali lagi, kalau kita mau untuk memiliki ketekunan di dalam doa. Hal pertama, anak tangga pertama adalah prioritaskan doa terlebih dahulu di dalam hidup kita. Apa yang ada bahkan di dalam gereja ini tidak dimaksudkan hanya sekedar aktifitas. Ketika kita bicara mengenai ada Persekutuan Doa setiap hari Sabtu jam 9. Maka itu bukan berarti suatu aktifitas doa untuk membuat saudara berdoa saja, tetapi itu adalah latihan dari Tuhan melalui means of grace (gereja-Nya). Tetapi siapa yang mau dilatih? Siapa yang sungguh-sungguh mau belajar untuk mengikuti, dan berjalan bersama Tuhan dan mencari wajah-Nya. Sekali lagi, sebagai gembala di tempat ini dan semua orang yang mendengarkan Firman ini, mari berlatih bersama-sama. Mari belajar bersama-sama. Karena ini bukan kehendak gereja, ini kehendak Kristus untuk kita memiliki keuletan di dalam doa. Tetapi sekali lagi, saya tidak mungkin memiliki keuletan itu kalau kita tidak memprioritaskan doa. Dan ketika kita bicara prioritas berarti ada harga yang harus dibayar.

Oh berkali-kali ketika saya berkhotbah, saya kadang-kadang berpikir, “O Tuhan, apakah ini dimengerti oleh aku dan seluruh jemaat?” Kita suka dengan kalimat-kalimat ini ‘diprioritaskan’. Ya, saya memperioritaskan. Memprioritaskan itu berarti ada harga yang harus dibayar. Kalau saudara-saudara misalnya saja memprioritaskan sesuatu, sekarang seperti tadi dari kesaksian Ron sama Jean. Mereka mau bermisi. Mereka ingin dipakai sama Tuhan. Kemudian mereka bicara kepada boss-nya. Dan kemudian boss-nya tidak kasih. Dan di situ mulai, iman itu mulai bekerja. Iman mulai dilatih sama Tuhan. Dan di dalam pemikiran mereka, the best understanding, mereka harus lepas kerja untuk ikut misi. Saya tidak katakan harus seperti itu, tetapi saudara-saudara pasti punya pergumulan-pergumulan yang seperti itu yang spesifik, yang pribadi, yang saudara miliki, orang lain tidak miliki. Orang mungkin mendengarkan cerita seperti itu mereka mengatakan, “O, kamu terlalu extreme.” “O, mungkin engkau orang tidak tanggung jawab.” “O, mungkin engkau orang tidak ada hikmat.” Mungkin. Tetapi, mungkin juga yang berkata itu adalah orang yang tidak pernah memprioritaskan Tuhan. Tidak pernah mau bayar harga! Saudara-saudara, ketika bayar harga itu artinya saudara mesti melepaskan sesuatu yang lain untuk saudara menghadiri atau ikut serta di dalam pelayanan atau di dalam doa itu. Berapa banyak dari antara saudara tidak mau melepaskan hari Sabtu yang paling nyaman, tidur bisa sampai siang di dalam hidup saudara untuk saudara ikut Kebaktian Doa? Mari kita tidak bercanda di hadapan Tuhan. Saudara mengatakan, “prioritas, prioritas”. Prioritas apa? Kita tidak pernah membayar harga! Semuanya hanya kalau pas saya bisa, baru saya pelayanan. Kalau saya tidak ada pekerjaan lain, baru saya pelayananan. Itu bukan mencari wajah Allah. Bahkan seluruh dari bagian-bagian Alkitab orang yang mencari wajah Allah, taruhannya bisa sampai hidup, mati. Ya, kita berdoa, tetapi seperti anak tiri, bukan yang paling utama; sehingga kita berdoa tetapi tidak ada harga yang perlu dibayar. Perhatikan saudara-saudara. Tuhan tidak bisa ditipu oleh kelicikan hatimu. Dia tahu sesungguhnya hati kita berespon apa. Pertama, prioritaskan doa.

Yang ke-2 adalah relakan hati dan hidup kita diajar dan dihajar oleh Tuhan. Jikalau kita membaca Alkitab dan buku-buku tentang doa. Kalau saudara-saudara membaca buku-buku dari orang-orang yang dilatih Tuhan untuk berdoa, maka sebagian besar dari mereka akan mencantumkan kisah Yakub yang menang bergulat dengan Allah sebagai contoh doa yang tekun. Yakub adalah salah satu manusia dalam Alkitab yang menang ketika bergumul dengan Allah. Saudara-saudara, minta, cari, ketuk adalah suatu ajaran dari Tuhan Yesus Kristus untuk seseorang yang bergumul, yang mau intens bergumul, tidak mundur, gigih, terus maju, dan Yesus menjanjikan pasti akan mendapatkan. Dengan kata lain bahwa orang ini akan menang terhadap Allah, sama seperti Yakub yang memegang Allah dan tidak membiarkan Dia sampai Allah itu memberikan berkat. Dan, Allah memberikan berkat. Saudara perhatikan satu kalimat di bawah ini. Allah menghendaki kita menang ketika kita bergumul dengan Dia. Sekali lagi, Allah menghendaki kita menang ketika kita bergumul dengan Dia. O, ketika saya mengerti prinsip ini dan bahkan ketika saya menuliskannya. Ada sesuatu keheranan demi keheranan dalam pikiran saya. Engkaulah yang meminta kami untuk bergumul. Dan Engkau adalah lebih kuat dari kami, jauh lebih kuat. Tetapi di tempat yang lain, Engkau menjanjikan kami pasti menang terhadap Engkau. Apa maksudnya semua ini? Kenapa Engkau tidak memberikan langsung saja apa yang kami minta ketika kami itu mengatakannya kepada-Mu sekali? Saudara pikirkan. Dia Mahakuasa, Dia bisa memberikan kepada kita dengan satu kalimat yang kita minta kepada Dia, bahkan Dia tahu sebelum kita berbicara kepada Dia. Tetapi Dia memerintahkan untuk kita bergumul dengan Dia dan ketika kita bergumul dengan Dia, Dia menjanjikan kemenangan kepada kita, padahal Dia lebih kuat daripada kita dan Dia tidak terkalahkan. Seluruh elemen ini bukankah membingungkan kita, untuk apa ini semua?

Saudara-saudara, inilah salah satu topik yang Puritan itu teliti. Jikalau Dia mau memberi, kenapa Dia tidak langsung memberikan? Salah satu dari jawabannya adalah di sini terlihat sekali Allah menginginkan kita sungguh hati kepada Dia. Di sini, saudara-saudara, akan lihat di sini Allah terlihat jelas, Allah menginginkan kita sungguh hati untuk mencari Dia. Banyak orang Kristen tidak serius. Hati kita tidak serius mendekat kepada Allah. Padahal Alkitab mengatakan: “Carilah wajah-Ku, carilah kekuatan-Ku”. Siapa yang sungguh-sungguh mencari wajah-Nya dan kekuatan-Nya? Saya tidak tanya, siapa yang mencari wajah-Nya? Saya tanya, siapa yang sungguh-sungguh serius? Saya tidak tanya, siapa yang berdoa? Siapa yang sungguh-sungguh berdoa? Setiap kita dalam gereja ini, setiap dari saudara dan saya, setiap keluarga, termasuk keluarga saya, masa depan kita tergantung dari seberapa serius kita mencari wajah Tuhan. Seberapa bulat hati kita takut akan Dia? Jemaat, saya sedang berbicara mengenai keseriusan. Kesungguhan. Masa depan gereja ini ditentukan oleh dua hal yang bergabung dan tidak bisa menjadi salah satunya saja. Yang pertama adalah benar atau tidaknya mimbar di sini memberitakan Firman. Dan yang ke-2 adalah ditentukan seberapa banyak orang yang serius mencari wajah Tuhan di dalam gereja ini. Saya harap gereja ini bukan cuma gereja yang benar berbicara mengenai Firman, bicara mengenai benar di dalam teologia, bicara mengenai kedalaman teologia, ya itu sangat penting. Tetapi saya harap bahwa gereja ini dipandang dari Allah yang bertahta di surga diisi oleh generasi-generasi yang mencari wajah Tuhan dengan serius. Allah lebih kuat daripada manusia. Tetapi Allahlah yang meminta umatnya manusia untuk bergumul, bergulat dengan Dia. Dan Allah-lah yang menjamin pergulatan kita dengan Dia, pasti kita yang menang. Bahkan pemazmur mengatakan: “Orang-orang yang menabur dengan mencucurkan air mata akan menuai dengan sorak sorai. Orang yang berjalan maju dengan menangis sambil menabur benih, pasti pulang dengan sorak sorai sambil membawa berkas-berkasnya. Kemenangan kita ketika kita bergulat dengan Allah ditentukan oleh Firman-Nya, janji-Nya sendiri. Tetapi siapa dari kita yang pernah menang dari Dia? Kekalahan demi kekalahan yang ada pada kita menandakan satu hal ketidakseriusan kita ketika kita berhadapan dengan Dia. Kembali lagi, Yakub adalah orang yang menang bergumul dengan Allah. Yakub yang menang ini adalah Yakub yang terluka. Saudara coba bayangkan pada malam hari itu. Sebelum fajar itu menyingsing, maka kemudian Yakub itu bergulat dengan Tuhan. Dan kemudian Tuhan itu memukul sendi pangkal paha Yakub. Dia sakit. Dia disakiti. Saudara perhatikan, dia disakiti, dia dihajar. Ketika dia dihajar, apa yang dilakukan? Dia tidak marah, dia tidak menyerah, dia tidak lari, dia mendekat. Saudara, saya kemudian, ketika merenungkan bagian ini, saya teringat akan beberapa anak kecil. Saudara pasti pernah melihat daripada hal seperti ini. Ada orangtua, mamanya atau papanya dan kemudian dia menegur anaknya yang kecil atau ada bahkan orangtua yang memukul anaknya. Anaknya itu kemudian menangis dan orangtua itu marah kepada anaknya. Anaknya itu sambil menangis dan dia melihat orangtua itu, tetapi saudara tahu bahwa dia ingin untuk mendekat kepada orangtuanya. Dia tidak berani, tetapi dia ada perasaan cinta, ingin dekat. Ingin bereskan urusan dengan orangtua, tetapi kemudian orangtua bertanya, “Tahu apa kesalahanmu?” “Iya.” “Ya sudah ke sini.” Langsung anak itu pegang orang tuanya dan menangis. Dimarahin malah ingin mendekat. Dipukul tetapi ingin mendekat. Itulah sebabnya saya pikir, Yesus mengatakan engkau punya iman seperti anak kecil, bukan anak remaja. “Keluar kamu!” “Tidak tidak, mau sama mama.” Tapi kalau remaja, “Keluar kamu!” Keluar beneran dia. Tetapi hati yang seperti itu yang Tuhan inginkan bagi kita. Alkitab mengatakan itulah saat di mana Tuhan meminta kita mendekat kepada Dia. Banyak orang tidak mau dididik oleh Tuhan. Saudara tetap mengatakan, “Oh saya mau dididik oleh Tuhan.” Tuhan mendidik itu melalui keadaan, melalui orang lain. Saudara marah terhadap keadaan, marah terhadap orang lain, itu sebenarnya marah terhadap Tuhan. Bukannya mau mendekat kepada Tuhan, tetapi menyalahkan orang lain. Menyalahkan keadaan, tidak mau terima. Saudara-saudara sekali lagi, kita sedang berbicara tentang latihan yang Tuhan berikan untuk kita bisa berdoa dengan tekun dan latihan untuk membentuk sikap hati. Untuk bisa doa dengan tekun itu tidak mungkin terlepas dari bentukan kehidupan kita di dalam masyarakat, di dalam gereja, di dalam sehari-hari. Relakan hati kita apapun saja ketika Tuhan menghajar atau mengajar kita dalam bentuk apapun, oleh siapapun. Jangan memberontak tetapi berlari mendekat kepada Allah.

Hal yang ke-3. Kita dilatih oleh Tuhan untuk bisa berdoa dengan tekun. Maka saudara bergumullah dengan Allah saat ini. Saat ini dengan kondisi apapun saja yang dimiliki oleh saudara dan saya. Berlatihlah sekarang. Masukkan kita untuk berdoa. Belajar berdoa sekarang dalam keadaan apapun, termasuk di dalam keadaan keberdosaan kita. Saya akan secara khusus bicara berkenaan dengan berdosa, keadaan dosa kita. Saudara-saudara, dosa dan doa adalah dua hal yang bertolak belakang memang. Jikalau kita membiarkan dosa, maka kehidupan doa kita akan melemah, akan layu, tetapi point ini saudara-saudara perhatikan. Kenapa kita tidak memerangi dosa kita di dalam doa kita? Bawa dosa-dosa kita di hadapan Tuhan sekarang. Bukan saja mengakuinya tetapi dengan bergumul terus untuk dosa tertentu. Kita minta Tuhan memenangkan kita atas dosa tersebut. Saudara perhatikan prinsip rohani di bawah ini. Kita tidak mungkin gigih berdoa jika kita menyembunyikan dosa, sebaliknya kita membawa dosa kita dalam doa. Kita akan dilatih gigih untuk berdoa menang terhadap dosa. Saya mesti mengatakan hal ini karena setan selalu menipu kita di dalam hal ini dengan mengatakan, “Kamu tidak boleh datang kepada Tuhan.” “Kamu tidak boleh berdoa sama Tuhan.” “Ah, jangan bicara atau apalagi kamu punya doa tekun begini.” “Kamu masih berdosa kok, jadi bereskan dosamu dahulu dan baru kamu akan berdoa.” Jadi kita mau membereskan dosa kita dulu, baru kita itu datang kepada Tuhan untuk berdoa. Itu adalah kalimat-kalimat suara dari setan yang kita percaya. Yesus mengatakan, yang perlu tabib, yang perlu dokter itu orang sakit, bukan orang sehat. Jadi ketika kita berdosa saat ini, saudara-saudara perhatikan dirimu saat ini, apapun saja pergumulan kamu, termasuk adalah dosa. Lihatlah Alkitab ini, untuk meminta kita datang minta, cari dan ketuk. Datanglah mendekat kepada Tuhan dan minta pengampunan-Nya dan pelepasan dari-Nya. Jangan mempercayai perkataan setan yang mengatakan engkau jangan berdosa dulu baru engkau lakukan perintah ini. Alkitab mengatakan prinsip ini dalam Matius 11:12. 

Matius 11:12 mengatakan “Sejak tampilnya Yohanes Pembaptis hingga sekarang, Kerajaan Surga diserong dan orang yang menyerongnya mencoba untuk menguasainya.” Saudara-saudara, ini sebenarnya gambaran yang positif dan bukan negatif dan orang-orang puritan menyatakan hal ini. Saudara-saudara, apa yang sebenarnya terjadi pada waktu itu, sehingga Yesus Kristus mengatakan hal ini. Mari kita lihat Matius pasal 11:12. Saudara-saudara, “Sejak tampilnya Yohanes Pembaptis hingga sekarang, Kerajaan Surga diserong dan orang yang menyerongnya mencoba menguasainya.” Apa artinya? Artinya adalah Kerajaan Allah itu sejak kedatangannya, maksudnya adalah kedatangan Yesus dengan semua pelayanan-Nya, pribadi-Nya, karya-Nya adalah akan menyatakan Kerajaan Allah yang hadir. Ketika Dia hadir, mulai dari Yohanes Pembaptis, diserbu oleh banyak orang. Siapa orang yang menyerbu itu? Pemungut cukai, pezinah, orang-orang yang dibuang, pendosa-pendosa yang tertunduk, orang-orang yang dilupakan, wanita-wanita, ibu-ibu, janda-janda. Mereka berdesak-desakan menyerbunya dengan segenap tenaga. Kata yang dipakai adalah seperti mengepung sebuah kota yang berkubu dan memaksa dengan kekerasan untuk masuk. Dengan apa? Dengan ratapan, dengan tangisan, dengan air mata, meminta belas kasihan Allah. Sejak kedatangan Yesus, orang banyak yang tidak terhitung jumlahnya, mereka ini berjuang untuk mendapatkan tempat di dalam Kerajaan-Nya. Orang-orang luar bisa berpikir bahwa mereka ini tidak memiliki hak atau keistimewaan apapun untuk bisa masuk kedalam Kerajaan Surga. Sehingga mereka itu lebih tampak seperti kaum perusuh yang mengambil jalan pintas untuk memaksa sifatnya. Orang-orang berdosa itu datang dari Timur, Barat, Utara, Selatan, berusaha untuk memaksa memasuki Kerajaan Allah. Yesus katakan para pemungut cukai dan orang sundal akan mendahului orang-orang farisi dan ahli taurat masuk ke dalam Kerajaan Allah. Saudara perhatikan, orang-orang berdosa itu mengambil alih Kerajaan Allah dengan paksa, sedangkan para ahli taurat dan orang farisi yang merasa diri benar menyia-nyiakan panggilan Kristus. Saya sangat tersentuh dengan kalimat Mathew Henry ini. Saudara perhatikan, Mathew Henry menyatakan sejak awal mula diwartakan. Kemuliaan Injil adalah bahwa Injil telah membawa banyak orang yang dianggap sangat tidak mungkin untuk diraih ke dalam kekudusan. Kemuliaan Injil yang kita miliki adalah bahwa Injil melalui Roh Kudus telah membawa banyak orang yang dianggap sangat tidak mungkin untuk diraih ke dalam kekudusan dan itu siapa? Itu adalah pemungut cukai, pelacur, orang-orang rendah, pendosa-pendosa, dan itu adalah saudara dan saya. Berdoalah dari saat ini. Jangan biarkan setan mengatakan engkau masih berdosa, engkau tidak layak ikut persekutuan doa, engkau masih berdosa, engkau tidak layak mengucapkan doamu apalagi engkau berbicara engkau menjadi pejuang kudusnya Allah. Kenapa tidak mulai dari saat ini ketika kita berdosa? “Tuhan, ini aku orang berdosa, kasihanilah aku, Anak Daud.” Pemungut cukai, pelacur, janda itu tidak memiliki hak di dalam Kerajaan Surga tetapi mereka berusaha berjuang untuk masuk dengan harga apapun. Mereka akan berusaha masuk dengan harga apapun dan tidak memandang semua harga itu berat. Mereka akan terus memegang Tuhan sampai Dia melepaskan mereka dari dosa. Yesaya tadi yang kita baca, ada satu prinsip adalah orang itu tidak memegang Tuhan maka Tuhan membiarkan dosa menguasai mereka. Apakah kita mau untuk kita lepas dari dosa? Minta, cari, ketuk! Kerajaan Surga itu tidak pernah dimaksudkan, memberikan ketenangan kepada mereka yang hanya bermain-main. Melainkan untuk memberikan istirahat kepada mereka yang bekerja keras. Perempuan Siro-Fenisia itu pernah ditolak, Yakub pernah ditolak, Musa pernah ditolak. Pelacur, orang kusta, pemungut cukai itu pernah ditolak, tetapi mereka semua maju terus dan tidak mau menyerah. Kalau dulu saudara pernah melayani dengan sungguh-sungguh, lalu kecewa dengan seseorang, kecewa dengan keadaan atau kecewa dengan pengurus, hamba Tuhan atau penatua di sini, sekarang saya tanya, apakah saudara tetap mau melayani? Banyak dari kita yang kalah di dalam hal ini. Itu artinya, kita tidak sungguh-sungguh. Tidak melihat betapa pentingnya privilege, hak istimewa melayani itu bagi kita sehingga kita mudah saja untuk melepaskannya dan berhenti karena wajah kita, karena hati kita tersinggung. Hati kita, wajah kita lebih mulia, lebih tinggi dibandingkan dipakai sama Tuhan. Itulah inti doa.

Doa itu sulit bukan karena kita sulit untuk mengatakannya, bukan! Doa itu sulit karena kita itu harus sepenuh hati. Total sepenuh hati mengejar Tuhan tanpa mempedulikan diri kita, tersinggungnya dan sakit hatinya kita. Ketika kalimat-kalimat ini tepat kepada kondisi saudara dan saudara sadar bahwa saudara tidak berhasil saat ini. Kenapa tidak dalam ketidakberhasilan ini saudara memegang Tuhan saat ini? Orang yang tekun adalah orang yang jatuh, dia akan berdiri lagi. Ketika Tuhan mengatakan minta, cari, ketuk seperti ini. Bahkan dalam keadaan kita berdosa, datanglah dengan dosa kita di hadapan Tuhan dan meratap minta, cari, ketuk! Bahkan di saat Saudara mungkin pahit dengan keadaan atau seseorang, dan Saudara melemah dan bahkan Saudara tidak lagi kuat di dalam pelayanan, Saudara melepaskan satu persatu dari pelayanan itu karena kecewa, kenapa Saudara tidak memegang tangan-Nya sekali lagi dan terus berusaha untuk mendekat kepada Allah? Mulai dari mana pun kita berada, mulai dari diri kita berdosa dan bahkan pada hari ini. Minta, cari, ketuk! Pegang tangan Tuhan itu. Jadilah orang yang Tuhan sukai, generasi yang mencari wajah-Nya dan Dia sudah menjanjikan kepastian menang. Kiranya kasih yang Tuhan menyertai kita. Mari kita berdoa.

Alamat

556 - 558 Botany Road, Alexandria, NSW, 2015
sekretariat@griisydney.org
0422690913
0430930175

Social Media

Facebook GRII Sydney Instagram GRII Sydney Twitter GRII Sydney


Google Play Store
App Store

^