[simple_crumbs root="Home" /]
kembali

31 July 2022

Pdt. Agus Marjanto, M.Th

Hal Pengabulan Doa (2)

Matius 7:7-11, Lukas 11:5-10; 18:1-8

Kita sudah sampai pada bagian ke-2 pengajaran Yesus tentang doa di Matius 7. Yesus mengajarkan minta, maka akan diberikan; cari, maka akan mendapat; ketuk, maka pintu akan dibukakan bagi kita. Yesus mengajar kita untuk memiliki doa yang gigih, tekun terus-menerus. Ini adalah doa yang ulet. Doa yang ulet seperti ini pastilah mempertaruhkan segalanya dan tidak ada malu sama sekali. Orang yang memiliki hati doa seperti ini telah sampai kepada dasar dirinya. Dia tidak memikirkan dirinya sama sekali selain apa yang dimintanya. Dia tidak memiliki apapun lagi yang lain untuk dipertahankan selain permohonannya, dan pengharapan satu-satunya adalah kepada Tuhan. Orang yang berdoa seperti ini, orang yang terbuka seluas-luasnya, jujur, sincere, dan mempertaruhkan seluruh diri, kehormatannya, dan masa depannya. Perasaan malu sudah tidak ada lagi di dalam dirinya. Dia tidak menutupi apapun kepada Tuhan dan sekali lagi, mempertaruhkan semua pengharapannya kepada belas kasihan Tuhan. Jika Tuhan tidak memberikannya, maka dia tahu dia akan mati karena dia tidak memiliki cadangan yang lain. Tidak ada jalan untuk kembali. Tidak ada jalan dari pilihan-pilihan yang lain. Dia tidak memiliki cadangan yang lain. Dia mempertaruhkan satu-satunya di hadapan pintu surga. Jikalau pintu surga tertutup maka dia tahu dia akan mati di situ. Tetapi dia menetapkan hati untuk aku mati di situ.

Bayangkan jikalau kita adalah orang yang miskin yang tidak memiliki banyak uang dan suatu hari desa di mana kita hidup kekeringan besar, kelaparan melanda di mana-mana, anak, isteri kita kelaparan dan kita memiliki anak berumur 3 tahun. Persediaan makanan tidak ada lagi, anak kita dalam keadaan sakit perlu untuk makan tetapi tidak ada satu orang pun yang bisa menolong. Tempat itu sungguh-sungguh merupakan tempat yang desperate bagi kita. Jikalau itu terjadi kepada kita, apa yang kita akan lakukan? Kita akan membawa anak, isteri kita dan orang-orang yang kita kasihi pergi meninggalkan desa itu agar bisa mendapatkan makanan. Kita akan pergi ke desa tetangga tetapi di sana juga semuanya kelaparan dan kekeringan. Kita pergi ke desa tetangganya lagi dan di sana kelaparan dan kekeringan. Kita berjalan terus karena taruhannya adalah mati atau sampai mendapatkan. Setelah berjalan berjam-jam, kita sampai di satu tempat yang sepi tetapi ternyata ada satu rumah yang besar, pekarangannya luas. Kita mau masuk ke dalam pekarangan tersebut. Kita memberanikan diri untuk masuk ke dalam pekarangan tersebut sampai di depan pintu rumah itu kita berpikir apakah rumah ini kosong atau ada penghuninya? Kita coba melihat ke kiri dan ke kanan, ke belakang rumah itu, melihat pada kaca, mencoba menghapus debu di kaca itu dan melihat apa yang ada di dalam. Ketika kita mengintip dari kaca itu, kita melihat ada sekeluarga yang kaya, yang bahagia, sedang makan siang di meja makannya yang mewah. Penuh dengan makanan melimpah, daging, buah, sayur dan minuman yang menyegarkan. Apa yang kita akan lakukan? Anak dan isteri kita, dan kita sendiri kelaparan dan anak umur 3 tahun kita sebentar lagi akan mati. Apakah kita akan berpikir 2 kali untuk mengetuk pintu orang kaya itu? Tentu tidak, bukan? Kita mengetuk, pertama tidak dibuka. Kita mengetuk ke-2 kali, tidak dibuka. Kita mengetuk ke-3 kali, tidak dibuka. Tuan rumah itu tidak membukakan pintu. Apakah kita akan pergi dengan mengatakan kepada isteri kita, “Oh isteriku, besok saja kita kembali lagi ke sini.” “Oh isteriku, mungkin dia mendengar, tetapi dia tidak mau buka, mungkin dia merasa direpotkan, kita jangan mengganggu orang itu.” Apakah ada perasaan sungkan di dalam diri kita dengan keadaan seperti itu? “Oh, nanti mengganggu. Malu aku. Takut ditolak.” Apakah kita memiliki hati yang seperti itu ketika kita melihat anak, isteri kita hampir mati? Janda itu tidak malu, terus mengganggu hakim itu. Mengetuk pintu hakim yang lalim itu dengan tidak malu sampai hakim itu membukakan pintu dan memperjuangkan perkaranya. Apakah kita mengatakan kepada isteri dan anak kita, sambil melihat anak kita yang hampir mati itu, “Oh, jangan! Jangan! Kamu harus tahu kita memiliki peradaban yang tinggi, kita berkebudayaan tinggi, kita mengerti kita siapa. Kita boleh minta, tetapi dia tidak mau kasih, ya, sudah, tidak apa-apa.” Atau seperti orang yang mengetuk pintu tetangganya sampai dia membukakan pintunya? Yesus mengatakan satu hal: Karena dia tidak ada malu. Tidak malu itu artinya kehormatanku sudah tidak aku perhitungkan lagi. Apa artinya kehormatanku dengan anakku yang sebentar lagi mati? Orang seperti ini akan habis-habisan menyerahkan pengharapannya di hadapan orang kaya itu. Dia menyadari satu hal, satu-satunya pertolongan adalah dari orang itu atau aku akan mati.

Yesus mengajar kita berdoalah dengan gigih seperti itu kepada Bapa di surga. Orang Puritan mengutip Tertullian, Bapa Gereja ketika melihat ayat-ayat seperti ini, Tertullian mengatakan ini adalah sikap hati mengepung surga. Gigih, tidak melepaskan sampai Allah memberikan belas kasihan kepada kita. Orang itu akan terus mengetuk: “Tuhan... Tuhan...Tuan..Tuan... kasihanilah kami!” Sampai tuan itu membuka pintu bagi dia. Ketika masih tertutup maka orang itu akan terus mengetuk, “Tuan, kasihanilah kami!” Dengan seruan, dengan air mata. “Kasihanilah kami, Tuan. Kami sebentar lagi mati, kami perlu makan, bukakan pintumu.” Apakah yang akan terjadi jikalau tuan itu membukakan pintu dan dia mengusir kita? Jikalau tuan itu tidak memiliki belas kasihan apa yang akan kita lakukan? Jikalau, tuan itu bahkan menghina kita, apakah yang akan kita lakukan? Apakah kita mengatakan kepada tuan itu, “Engkau menghina aku, aku tidak peduli sekarang, aku akan pergi.” Apakah kita akan melakukan tindakan bodoh seperti itu? Tidak. Yesus dalam perumpamaan hakim dan perumpamaan tetangga itu menyatakan kita mesti membereskan seluruhnya, meletakkan seluruh kehormatan kita bukan karena dosa tetapi karena kita tahu pengharapan kita hanya ada pada Allah. Jikalau tuan itu mengatakan, “Pergi kamu!” Maka pengemis itu akan memeluk kaki Tuhan itu dan mengatakan, “Kasihani...kasihani, jangan usir aku.” Orang-orang Puritan mengatakan, kalaupun dia tidak mau memberikan, dia akan melihat aku mati di depan pintunya tanpa beranjak sedikitpun. Apakah Bapa kita di surga seperti hakim yang lalim seperti itu? Tidak. Dia adalah Bapa yang penuh dengan belas kasihan dan anugerah. Dia memberikan cerita hakim yang lalim itu dan sahabat yang tidak peduli itu untuk mengajarkan kepada kita, jika orang jahat bisa memberikan belas kasihan apalagi Bapamu yang di surga. Semakin melihat ini saya bertanya Engkau mau mengajar apa Tuhan? Dia ingin kita mendekat kepada-Nya. Dia ingin melatih iman, pengharapan, dan kasih kita kepada Dia. Jika yang jahat itu tahu memberi apa yang baik, apalagi Bapamu yang di surga kepada anak-anak-Nya. Oh, benarlah apa yang dikatakan orang-orang Puritan. Kita tidak bisa berdoa dengan tekun karena kita tidak mengenal sifat-Nya. Doa yang meminta, yang mengetuk, yang mencari ini bukanlah doa yang sederhana. Untuk dapat memiliki hal ini Saudara dan saya harus mengenal Dia.

Perhatikan, doa seperti ini tidak mungkin akan terjadi kecuali kita mengerti sesungguhnya kebutuhan vital kita itu apa dan mengenal sifat-Nya. Mari pada pagi hari ini kita mengevaluasi diri kita. Sesungguhnya apa yang paling tertinggi nilainya dalam hidup kita? Apa yang paling tinggi nilainya di dalam hidupmu, yang menjadi dasar hatimu yang terdalam, yang paling berharga di dalam hidupmu? Itulah yang paling kita perlukan, yang paling kita butuhkan. Apa yang kita minta sering kali bukan sesuatu yang paling berharga di dalam hidup kita. Dan bahkan kita tidak bisa mendefinisikan apa yang paling berharga di dalam hidup kita. Jikalau itu bisa didefinisikan atau Saudara dan saya mendefinisikan salah, pasti kita mendoakan sesuatu yang sepele dan yang tidak penting. Kita sering minta batu dan bukan roti bahkan. Kita sering meminta ular daripada ikan. Sekali lagi, kita tidak tahu apa sesungguhnya yang merupakan kebutuhan terdalam hidup kita, tuntutan tertinggi dari jiwa yang diciptakan Allah ini. Doa tentang minta, cari, ketuk tidak bisa didoakan untuk permintaan yang biasa-biasa saja. Permintaannya pastilah permintaan yang vital bahkan menyangkut hidup mati kita. Apa yang paling tinggi nilainya di dalam hidupmu, hai semua orang yang mendengarkan Firman ini? 

Sejak saya pertama kali datang ke tempat ini, 9 tahun yang lalu. Saya berpikir apa yang menjadi khotbah pertama saya di GRII Sydney dan saya terus memikirkan apa yang sesungguhnya pengejaran pribadi yang paling dalam yang ada pada diri saya. Di dalam Alkitab dan sesungguhnya yang Tuhan arahkan bagi seluruh jemaat. Dan di dalam khotbah itu, saya melontarkan satu pertanyaan jika Tuhan memberikan satu pertanyaan bahwa kita boleh meminta dan permintaan kita pasti dikabulkan tapi hanya satu, apa yang kita akan minta? Jikalau Tuhan memberikan kesempatan bagi kita, engkau boleh minta apapun saja tapi hanya satu, apa yang kita akan minta? Kekayaan? Kelancaran? Orang-orang baik sama kita sehingga relasi itu baik? Tidak ada musuh atau mungkin musuh kita dihancurkan atau gereja kita menjadi besar atau pelayanan kita menjadi berhasil. Apa yang akan kita minta? Kesehatan? Anak cucu? Satu hal: “Show me Thy glory.” Mau mengenal Allah sampai sedalam-dalamnya. Sampai saat ini, kalimat ini terus menjadi permintaan, menjadi pencarian dan menjadi ketukan di dalam jiwa saya. Saya harap juga ada padamu hai seluruh jemaat. Apa yang kau cari? Apa yang kau minta? Apa yang kau kejar? Apa yang kau ketuk? Untuk apa? Apa yang mendefinisikan mati hidup kita? Apa yang lebih berharga daripada seluruh sanjungan dunia? Mengenal Allah, mengenal kemuliaan-Nya, mengenal sifat-sifat-Nya, dibuka kepada manusia yang berdosa seperti ini. Biarlah kita semua, orang-orang Kristen, meminta, mencari, mengetuk untuk hal ini, karena dengan pengenalan akan Allah, melihat kemuliaan Allah, baru kita memiliki kekuatan kuasa yang tidak terkalahkan untuk menjangkau seluruh dunia. 

Yesus mengatakan: Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Perhatikan pengajaran ini, kita tahu Kristus mau membentuk gereja-Nya, komunitas yang bergerak dengan lutut dan ratapan yang gigih di tengah-tengah dunia ini. Hukum-hukum di dunia ini mengatakan yang tidak pernah minta tolong itu yang kuat, yang tidak pernah menangis itu yang kuat, yang independent, yang tidak bergantung kepada orang-orang lain atau pihak lain itu yang kuat. Tetapi hukum rohani menyatakan yang meratap kepada Kristus, yang berteriak kepada-Nya, itulah tentara-tentara Allah yang kuat. Tentara Kristus berlatih perang dengan lutut dan air mata.

Minggu yang lalu kita sudah bicara mengenai satu poin, Tuhan mengajarkan untuk melatih kita berdoa dengan tekun dan itu adalah set priority.

Sekarang saya akan masuk bagian yang ke-2, Tuhan mengajarkan kita, melatih kita untuk berdoa dengan tekun. Poin yang ke-2 adalah relakan hati dan hidup kita dihajar atau dicambuk atau diajar oleh Tuhan. Perhatikan, ini adalah cara Tuhan mendidik kita memiliki hati yang tekun berdoa. Perhatikan kalimat penting di bawah ini! “Yakub yang menang bergulat dengan Allah adalah Yakub yang terluka.” Alkitab mengatakan Yakub bergulat dengan Allah dan manusia dan dia menang. Kapan dia menang? Ketika Allah memukul sendi pangkal paha Yakub. Oh, saya tidak bisa membayangkan apa yang terjadi pada Yakub hari itu, detik itu. Dia pasti menangis, dia pasti menahan sakit apalagi itu adalah andalan seorang penipu, yaitu lari. Di tengah-tengah air mata yang bercucuran dan hati yang hancur karena tahu tidak ada masa depan maka kemungkinan terkecil dan terakhirnya dia ambil. Dia memeluk kaki Allah. Yakub terus memegangnya tekun dan tidak melepaskannya sampai Allah memberikan berkat. Seperti bapa dunia yang melatih anak-anaknya, Alkitab mengatakan demikian Bapa di surga melatih kita. Jikalau kita melihat seorang bapa yang bijaksana dan anaknya berhasil. Itu karena bapa itu telah membentuk anaknya menurut jalan ayahnya. Yakub yang menang bergumul dengan Allah adalah Allah yang terlebih dulu menghajar dia dengan cara-Nya. Yakub terluka, Yakub tahu tidak ada harapan apapun saja. Di saat tidak ada harapan apapun saja, Roh Kudus bekerja memunculkan kekuatan doa. Perhatikan apa yang Yakub minta. Dia tidak memegang Tuhan dan mengatakan Tuhan sembuhkan aku, kembalikan sendi pangkal pahaku lagi. Tidak! Dia minta perkenanan Tuhan. Kita harus belajar hal ini. Saya berkali-kali katakan dan terutama kepadamu semua anak-anak muda. Tuhan sering mau melatih Engkau, tetapi Engkau sering sekali pergi, sering sekali melarikan diri. Panggilan-Nya untuk mendekat kepada kita, kita tidak pedulikan dan kita minta sesuatu yang Dia sendiri sudah pukul sampai habis. Yakub tidak minta untuk sendi pangkalnya dikembalikan. Dia terus-menerus pincang seumur hidupnya tapi Dia minta penyertaan Tuhan. Itu adalah rahasia rohani. Relakan hati kita untuk dicambuk, untuk dihajar, untuk diajar oleh Allah. Yakub menjadi orang yang pincang seumur hidup, dunia melihat Yakub gagal tetapi kegagalan Yakub di dunia ini membuat dirinya menang bergumul dengan Allah. Dunia menganggap Yakub rugi tetapi Allah menganggap Yakub berhasil.

Sering sekali Tuhan mengajar kita desperate terlebih dahulu, baru kita bisa bertumbuh di dalam doa. Itu tidak berarti ada peristiwa-peristiwa menakutkan terlebih dahulu terjadi, baru kita bisa berdoa seperti itu, tidak seperti itu. Juga bukan untuk mendorong kita mengharapkan penderitaan datang kepada kita. Bukan seperti itu. Tetapi kalimat ini mau mengatakan, jikalau itu terjadi dan ada air mata, maka jangan lari. Jangan lari karena itu adalah satu momen di mana Allah membawa kita mendekat kepada Dia dan menumbuhkan kekuatan doa kita. Apa saja yang Tuhan berikan kepada kita yang membuat hati kita remuk, apakah itu sesuatu yang spektakuler atau sesuatu yang biasa saja? Pekalah dan berhentilah. Bawa hati yang remuk itu menghadap kepada Tuhan dan mari kita minta, cari dan ketuk. Apa yang membuat hidup kita desperate? Mungkin itu adalah anak kita. Apakah kita lupa pelajaran sejarah yang penting? Monica, ibu Agustinus melihat anaknya yang terus menerus menipu, yang suka berzinah, yang suka berbohong. Hatinya hancur. Tetapi ibu ini mencari, meminta, mengetuk kepada Tuhan sampai titik tertentu doanya yang gigih itu dijawab oleh Tuhan. Kuasa surga diberikan kepada anaknya dan kemudian anaknya diubah, dikuduskan dan menjadi bapa gereja yang terpenting sampai sekarang. Relakan hati kita terbuka di hadapan Tuhan untuk dihajar, untuk diajar, untuk dibentuk. Jangan melawan, jangan mencari jalan yang bukan dari Tuhan tapi terimalah keadaan itu. Menyerah kepada Tuhan, menangislah di depan pintu-Nya dan balikkanlah seluruh kesedihan kita menjadi doa yang gigih dihadapan-Nya. Minta, bukan minta apa yang Tuhan sudah pukul tetapi minta untuk kehendak-Nya jadi, untuk penyertaan-Nya, untuk perkenanan-Nya sebagaimana Yakub meminta kepada Tuhan. Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.

Alamat

556 - 558 Botany Road, Alexandria, NSW, 2015
sekretariat@griisydney.org
0422690913
0430930175

Social Media

Facebook GRII Sydney Instagram GRII Sydney Twitter GRII Sydney


Google Play Store
App Store

^