[simple_crumbs root="Home" /]
kembali

3 July 2022

Pdt Budy Setiawan

Kasih Setia (Hesed)

2 Sam 9

Saudara sekalian, bagian yang tadi kita baca mungkin adalah bagian yang jarang saudara dengar, khotbah tentang Daud dengan Mefiboset. Saya sendiri sebelum saya membaca, merenungkan bagian ini, saya mengingat-ingat, rasanya belum pernah mendengar khotbah tentang Daud dengan Mefiboset ini. Tapi waktu saya membaca dan merenungkan dan menyelidiki akan bagian ini, saya merasa ini adalah bagian yang sangat indah. Sangat indah menyatakan kasih Allah, anugerah Tuhan yang begitu besar dan juga apa yang terjadi di sini adalah sesuatu yang sangat bertentangan dengan apa yang terjadi di dalam dunia ini, khususnya di dalam kisah-kisah kerajaan dan perebutan kekuasaan di dalam sejarah. Kita akan melihat kasih Tuhan yang begitu besar diilustrasikan dalam kasih setia dari Daud yang dinyatakan kepada Mefiboset. Saya berharap kita semua boleh diberkati dengan apa yang dikerjakan oleh Daud dan apa yang dinyatakan firman Tuhan bagi kita hari ini. Saudara sekalian, 2 Sam 9 yang tadi kita baca dimulai dengan satu pertanyaan Daud yang sangat menarik sekaligus sebenarnya sangat menakutkan. Daud berkata di situ: “Masih adakah orang yang tinggal dari keluarga Saul?” Ini adalah kalimat yang menarik, sekaligus menakutkan. Kalau kita mengerti latar belakang sebelumnya, Saul adalah raja yang sebelumnya berkuasa dan juga yang telah bertahun-tahun mengejar dan berusaha membunuh Daud. Meskipun pada awal kemunculan Daud, Saul sangat senang kepada Daud karena Daud berhasil mengalahkan Goliat. Dan ketika semua orang Israel ketakutan menghadapi Goliat yang begitu besar; raksasa yang kira-kira 3 meter tingginya itu, Daud maju dan akhirnya membunuh Goliat. Tetapi nama Daud semakin lama semakin harum di tengah-tengah Kerajaan Israel, sehingga ketika orang-orang Israel mulai menyanyikan pujian kepada Daud, mulai hati Saul menjadi pahit. Mereka berteriak bahwa Saul membinasakan beribu-ribu pasukan musuh, tetapi Daud membinasakan berpuluh-puluh ribu musuh Israel. Maka itu mulai membuat hati Saul menjadi iri kepada Daud. Dari situlah ada beberapa peristiwa yang lain, Saul mulai membenci dan ingin membunuh Daud. Apalagi dia mengetahui bahwa anaknya yang dia pikirkan menjadi penerus kerajaannya, Yonatan, juga mengasihi Daud lebih daripada dirinya sendiri. Dia begitu marah kepada anaknya, Yonatan, bahkan dia juga ingin membunuh Yonatan. Dia mengatakan: “Bodohkah kamu? Gilakah kamu? Ingin menyerahkan kerajaan yang besar kepada Daud?” Maka Saul terus ingin membunuh dan mengejar Daud ke berbagai tempat selama bertahun-tahun. Tetapi setiap kali Tuhan melindungi dan menjaga Daud. Karena memang Daud adalah orang yang telah dipilih oleh Tuhan untuk menjadi raja Israel.

Beberapa peristiwa juga menyatakan bagaimana Tuhan menjaga dan melindungi Daud. Satu saat ketika Saul sedang mengejar Daud, Saul sakit perut. Kemudian dia masuk ke dalam salah satu goa dan dia buang hajat di situ. Tapi dia tidak tahu, di dalam goa itu sebenarnya Daud sedang sembunyi. Pada saat itu sebenarnya sangat mudah sekali untuk Daud membunuh Saul tapi Daud tidak melakukannya. Dia hanya memotong salah satu ujung jubah Saul, kemudian dia lari dan berdiri di seberang bukit dari Saul. Dia mengatakan: “Saul, Saul, bukankah sebenarnya Tuhan telah menyerahkan engkau ke dalam tanganku? Tetapi aku tetap mengasihi engkau. Aku tetap menghargai engkau. Aku tidak membunuh engkau padahal sangat mudah bagiku untuk membunuh engkau. Mengapa engkau terus mengejar aku dan ingin membunuh aku?” Pada waktu Daud mengatakan itu, Saul merasa tersentuh sekali. Tetapi setelah itu, dia terus mengejar lagi dan ingin membunuh Daud. Singkatnya, kita tahu Saul dan Yonatan akhirnya mati. Daud sekarang berkuasa sebagai raja yang telah dipilih oleh Tuhan dan menjadi raja yang memiliki kuasa yang sangat besar. Dalam konteks ini, perkataan Daud sebenarnya sangat menarik; “Masih adakah orang yang tinggal dari keluarga Saul?” Kalau saudara membayangkan kalimat ini muncul dari seorang raja di Dinasti Ming, berbicara tentang keturunan Dinasti Yuan. Maka sebenarnya kalimat ini bisa diartikan habislah atau raja yang sekarang bertakhta ingin menghabisi akan rezim yang sebelumnya, karena raja yang bertakhta sekarang pasti dia akan berusaha menguatkan kerajaannya dan membinasakan semua rezim-rezim, keturunan-keturunan dari kerajaan sebelumnya. Tetapi perkataan Daud ini sangat mengagetkan di kalimat selanjutnya. Ketika dia mengatakan: “Masih adakah orang yang tinggal dari keluarga Saul?”, dia tidak bertujuan untuk membinasakan dan menghabiskan seluruh keturunan Saul. Kalimat selanjutnya mengatakan: “Maka aku akan menunjukkan kasihku kepadanya oleh karena Yonatan.” Dan kata kasih atau kindness di dalam bahasa Inggrisnya tadi adalah berasal dari kata hesed. Hesed memiliki pengertian akan faithful love atau devoted love, promise within a covenant. Jadi satu kasih setia yang dijanjikan di dalam satu perjanjian antara 2 orang. Itulah yang Daud ingin nyatakan kepada keturunan Saul, dan hari ini saya ajak kita memikirkan kasih setia atau hesed ini di dalam 3 aspeknya.

Yang pertama adalah kita akan melihat the power of hesed atau the power of the faithful love. Ayat 1B: “Maka aku akan menunjukkan kasihku (kasih setiaku) kepadanya oleh karena Yonatan.” Ini adalah menunjuk kasih setia atau perjanjian yang Daud sudah ikat bersama dengan Yonatan dalam 1 Sam 20:14-17. Ini adalah perkataan Yonatan kepada Daud. Tetapi saudara sekalian, ini adalah peristiwa yang terjadi kira-kira 15 tahun sebelumnya. Dalam 2 Sam 9, kita melihat Mefiboset, anak Yonatan, sekarang berumur kira-kira 20-an, karena dia sudah memiliki anak. Diceritakan di dalam 2 Sam 4, Mefiboset adalah putra dari Yonatan yang jatuh pada waktu pengasuhnya terburu-buru mengangkat dia ketika mereka mendengar Saul dan Yonatan sudah mati. Pengasuh Mefiboset ingin lari dan membawa Mefiboset yang masih kecil untuk kabur. Pada waktu mengangkat Mefiboset lari itu, Mefiboset terjatuh sehingga ke-2 kakinya timpang, dan peristiwa itu terjadi kira-kira 15 tahun yang lalu. Sekarang Mefiboset sudah dewasa, sudah umur 20 tahun tapi dia tetap adalah keturunan Yonatan yang timpang kedua kakinya. Tetapi kita melihat di sini waktu yang cukup panjang, situasi yang telah berubah secara drastis tidak mengubah sedikit pun janji yang Daud sudah nyatakan kepada Yonatan. Daud sebenarnya bisa saja beralasan: “Ah, itu kan sudah 15 tahun yang lalu. Sekarang situasi sudah sangat berubah, lagipula Yonatan sekarang sudah mati. Mefiboset waktu itu masih sangat kecil dan dia mungkin tidak mengerti apa-apa, mungkin dia tidak tahu tentang janji yang aku sudah buat dengan ayahnya, Yonatan.” Terlebih lagi mungkin Daud bisa beralasan, Mefiboset ini biar bagaimanapun meskipun dia cacat, dia ada adalah keturunan Saul. Jadi sangat-sangat berbahaya kalau dia ada dan dia mungkin akan mengancam kerajaanku.” Tetapi Daud tidak berbuat demikian karena dia sadar satu hal yang penting bahwa covenant atau perjanjian yang sudah dibuatnya dengan Yonatan itu, dibuat di hadapan Allah sendiri. Maka di dalam ayat yang ke-3, Daud mengatakan: “Tidak adakah lagi orang yang tinggal dari keluarga Saul? Aku hendak menunjukkan kepadanya kasih” atau “hesed yang dari Allah.” Daud sadar sekali perjanjian yang sudah dibuat bersama dengan Yonatan adalah perjanjian yang dia buat di hadapan Allah dan ini adalah kasih setia atau hesed dari Allah sendiri. Bagaimana Tuhan juga sudah memelihara, memimpin Daud dan menjaga di dalam segala kesulitan yang besar sampai dia hari ini menjadi raja yang sangat berkuasa. Ini adalah semata-mata karena kasih setia Tuhan kepada dia. Karena itu, Daud pun akan melaksanakan ini, ini adalah kasih setia Tuhan, dan dia akan melaksanakan ini kepada Mefiboset yang sebenarnya seorang yang sangat tidak layak menerima akan belas kasihan dan kasih setia Tuhan. Meskipun sudah 15 tahun berlalu, situasi sudah berubah tetapi janji yang Daud sudah katakan tidak pernah berubah, karena ini adalah janji yang dia katakan di hadapan Tuhan. Ini adalah the power of hesed yang tidak dimengerti oleh dunia ini. Salah contoh yang sangat indah adalah di dalam pernikahan orang Kristen. Ketika kita berdiri di hadapan Tuhan dan berjanji satu dengan yang lain di hadapan Tuhan bahwa aku akan setia kepadamu bukan hanya sampai engkau tidak lagi bisa memuaskan saya, bukan sampai aku sudah tidak lagi senang atau bosan kepadamu. Tetapi aku akan setia kepadamu, sampai maut memisahkan kita. Di dalam keadaan lancar maupun keadaan kesulitan. Di dalam keadaan sehat maupun keadaan sakit. Di dalam keadaan kelimpahan ataupun di dalam keadaan kekurangan, aku akan setia kepadamu, mengasihimu sampai maut memisahkan kita. Ini adalah perjanjian antara 2 orang manusia yang dinyatakan di hadapan Tuhan.

Salah satu contoh yang indah di dalam hal ini adalah seorang yang bernama Robertson McQuilkin. Pada waktu itu dia menjadi presiden dari Columbia Bible College yang sekarang menjadi Columbia International University. Ketika dia menjadi presiden, dia sedang mengembangkan Bible College, dan terus berkembang dan menjadi semakin maju. Tetapi kemudian istrinya yang sangat dia kasihi yang bernama Muriel terkena alzheimer. Sebenarnya Muriel sangat fasih, karena dia melayani di radio di daerah Columbia itu. Tetapi karena terkena alzheimer, dia mulai sulit sekali untuk berbicara. Bahkan semakin turun lagi, dia semakin tidak bisa merawat akan dirinya sendiri. Setelah beberapa lama Robertson McQuilkin ini berusaha merawat istrinya, dan juga menjadi presiden Columbia Bible College. Akhirnya dia memikirkan satu hal karena satu peristiwa, sehingga dia mengambil keputusan yang sangat penting yaitu istrinya yang sangat bergantung kepada dia karena istrinya sudah tidak bisa merawat dirinya sendiri. Satu kali, McQuilkin ini sedang ada di kantornya dan tempat tinggalnya tidak jauh dari College ini. Saat itu istrinya merasa sangat khawatir, panik dan mulai mencari suaminya, dan suaminya tidak ada di rumah. Waktu itu adalah winter dengan salju yang tebal sedang turun. Maka istrinya yang kena alzheimer itu mencari-cari suaminya, tapi tidak ditemukan dan dia somehow menyadari suaminya pasti ada di kampus, di Columbia Bible College itu. Maka di tengah salju yang sangat tebal itu, istrinya keluar rumah tanpa memakai sepatu, hanya memakai baju rumah yang tipis. Dia keluar ingin mencari suaminya dan Robertson McQuilkin sangat kaget ketika ada ketukan di pintu kantornya. Dia membukanya, istrinya sudah berdarah-darah, sudah frostbite hampir mati karena ingin mencari suaminya. Dari situlah dia mengumpulkan semua pimpinan dari Columbia Bible College itu dan mengatakan: “Saudara-saudara, karena keadaan saya seperti ini, istri saya keadaannya seperti ini, maka saya sudah memikirkan dengan matang-matang, maka saya harus mengatakan kepada saudara-saudara, saya akan resign sebagai Presiden Columbia Bible College.” Semua colleague-nya sangat terkejut dan mengatakan, “Bagaimana engkau bisa resign, institusi kita sedang berkembang dan kami sangat membutuhkan engkau.” Tetapi Robertson McQuilkin mengatakan satu kalimat yang sangat indah, “Bahwa pada waktu saya menikah dengan istri saya di gereja, diberkati di gereja. Bahwa saya akan setia kepadanya di dalam keadaan apapun sampai maut memisahkan kita, itu adalah janji yang saya katakan kepada dia di hadapan Tuhan. Maka hari ini, istri saya sangat membutuhkan saya. Inilah saatnya saya menyatakan kasih setia Tuhan kepada dia di dalam hidup saya.” Saudara sekalian, itulah the power of hesed. Keadaan yang sudah berubah, waktu yang sudah lama, tetapi janji yang sudah dinyatakan di hadapan Tuhan tidak pernah berubah.

Hal yang ke-2, hesed melampaui ‘sekedar’ melakukan kewajiban. ‘Sekedar’ saya kasih tanda apostrophe karena melakukan kewajiban sebenarnya juga tidak mudah bukan? Tetapi apa yang dilakukan Daud karena dia mengerti kasih setia Tuhan itu, dia melakukan jauh daripada sekedar melakukan kewajiban. Ayat 5-8 mengatakan: “Sesudah itu Raja Daud menyuruh mengambil Mefiboset dari rumah Makhir bin Amiel, dari Lodebar. Dan Mefiboset bin Yonatan bin Saul masuk menghadap Daud, ia sujud dan menyembah. Kata Daud: "Mefiboset!" Jawabnya: "Inilah hamba tuanku." Kemudian berkatalah Daud kepadanya: "Janganlah takut, sebab aku pasti akan menunjukkan kasihku kepadamu oleh karena Yonatan, ayahmu; aku akan mengembalikan kepadamu segala ladang Saul, nenekmu, dan engkau akan tetap makan sehidangan dengan aku." Lalu sujudlah Mefiboset dan berkata: "Apakah hambamu ini, sehingga engkau menghiraukan anjing mati seperti aku?" Ketika Mefiboset dipanggil oleh Daud maka dia berpikir inilah akhir hidupku. Karena dia tahu di dalam sejarah, dari apa yang dia lihat di sekelilingnya maka raja yang berkuasa sekarang akan menghabiskan semua keturunan raja yang sebelumnya. Karena itu ketika Mefiboset dipanggil, dia datang menyembah dan berkata inilah hamba tuanku. Tetapi apa yang dikatakan Daud? Yang kemudian benar-benar dilakukan oleh Daud melampaui semua pemikiran manusia dan sangat menggerakkan hati kita. Kalau kita mengingat janji Daud kepada Yonatan di dalam 1 Samuel 20 maka penekanan di dalam janji itu adalah supaya Daud tidak membunuh Yonatan dan keturunannya, artinya adalah sebenarnya kalau Daud tidak membunuh Mefiboset, dia sudah melakukan janji itu. Kalau Daud memenjarakan saja Mefiboset dan tidak membunuhnya, memelihara dia, menjaga, memberi dia makan yang cukup, tetapi di dalam penjara untuk membatasi geraknya dia, Daud sudah melakukan kewajibannya sebenarnya. Atau bahkan kalau Daud menaruh Mefiboset di penjara rumah dan memberikan segala kebutuhannya untuk hidup sampai dia mati, maka Daud sebenarnya sudah melakukan perjanjian yang dilakukannya dengan Yonatan. Tetapi ayat yang ke-7 itu melampaui dari sekedar melakukan kewajibannya. Apa yang dilakukan Daud di sini? Daud memberikan melampaui dari sekedar memelihara atau tidak membunuh Mefiboset. Dia memberikan perlindungan atau proteksi kepada Mefiboset. Dia mengatakan, “Janganlah takut, sebab aku pasti akan menunjukkan kasihku kepadamu oleh karena Yonatan ayahmu.” Daud juga memberikan pemeliharaannya kepada Mefiboset. “Aku akan mengembalikan segala ladang Saul, kakekmu itu.” Bahkan lebih daripada itu Daud berjanji akan memberikan posisi yang penting bagi Mefiboset, “Dan engkau akan tetap makan sehidangan dengan aku.” Artinya Mefiboset akan diperlakukan sebagai salah satu anak Daud. Ayat 11b mengatakan, “dan Mefiboset makan sehidangan dengan Daud sebagai salah seorang anak raja”, ini adalah hesed Allah yang dinyatakan Daud kepada Mefiboset, jauh melampaui sekedar tidak membunuh Mefiboset. Tetapi dia bukan saja tidak membunuh, tetapi dia menyatakan kasih yang berlimpah-limpah kepada Mefiboset. Dia bukan hanya melindungi Mefiboset, tetapi dia juga mengembalikan seluruh tanah warisan kepada Mefiboset. Mefiboset bukan hanya dilepaskan dari lembah bayang-bayang maut, tetapi di hadapannya disediakan hidangan semeja dengan raja. Mefiboset bukan hanya menerima segala tanah warisan orang tuanya, tetapi dia diangkat menjadi salah satu anak raja. Bukankah ini sesuatu yang sangat menggerakkan hati kita. Bukankah hesed dari Tuhan dinyatakan di dalam hidup Daud itu menyatakan kelimpahan kasih setia anugerah yang begitu besar kepada Mefiboset yang tidak layak ini.

Poin yang ke-3, melihat bagaimana tidak layaknya Mefiboset ini, khususnya kita melihat dari sudut Mefiboset itu sendiri. Dua hal yang harus kita ingat tentang Mefiboset. Seperti yang tadi saya katakan dia adalah darah daging Saul, raja sebelumnya, raja yang telah bertahun-tahun mengejar dan ingin membunuh Daud. Seorang penulis mengatakan, ketika rezim baru berkuasa, dia perlu mengkonsolidasi kekuasaannya, berarti dia harus menghabiskan sisa-sisa dari kekuatan sebelumnya. SolidificationbyLiquidation, jadi membuat kuasa dengan menghabiskan seluruh tantangan, potensi kuasa sebelumnya. Penulis ini mengatakan semua orang mengetahui hal ini. Bukankah itu juga kita lihat di dalam sejarah di mana pun ketika rezim yang baru berkuasa maka akan menghabiskan rezim-rezim yang berkuasa sebelumnya, anaknya, keturunannya, bahkan mungkin uncle dan cucunya dihabiskan sampai tidak ada lagi kekuatan untuk mendongkel akan kekuasaan sekarang; tetapi Mefiboset bukan dihabiskan dan dibunuh melainkan diangkat sebagai anak. Karena kasih setia, hesed, yang dipegang oleh Daud yang sudah dia nyatakan kepada Yonatan dan keturunannya. Daud menyatakan kasih setianya kepada musuhnya yang seharusnya menurut dunia ini harusnya dihabiskan dan dibinasakan.

Hal yang ke-2 tentang Mefiboset dikatakan di sini adalah bahwa dia orang yang kedua kakinya timpang. Dia adalah orang yang tidak berdaya, bahkan kalau dibiarkan saja sebenarnya dia orang yang tidak bisa melakukan apa-apa. Sehingga apa yang dilakukan Daud kepadanya adalah semata-mata belas kasihan Tuhan kepada dia. Apa yang dilakukan Daud kepada dia semata-mata karena anugerah Tuhan, semata-mata karena kasih setia kepadanya. Mefiboset menyadari penuh akan hal ini, sehingga dia sujud di hadapan Daud dan berkata: “Apakah hambamu ini sehingga engkau menghiraukan anjing mati seperti aku.” Saudara sekalian, membaca dan merenungkan akan bagian ini tidak sulit bagi kita mengerti inilah kasih setia Tuhan, yang Tuhan nyatakan di dalam Kristus. Tidak sulit bagi kita melihat bahwa saudara dan saya adalah Mefiboset-Mefibosetnya Allah. Kita adalah orang yang sesungguhnya tidak layak dan seharusnya dibinasakan oleh Tuhan karena dosa-dosa kita. Tetapi Tuhan menyelamatkan kita, menyatakan kasih setia-Nya, menyatakan anugerah-Nya dan mengangkat kita menjadi anak-anak-Nya. Ini adalah semata-mata kasih setia dari Tuhan. Ini semata-mata adalah anugerah-Nya yang telah mengikat covenant dengan anak-Nya yang tunggal untuk menyelamatkan orang yang berdosa, saudara dan saya. Ketika kita masih lemah, Kristus telah mati untuk kita. Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita oleh karena Kristus telah mati untuk kita ketika kita masih berdosa. Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita bahkan ketika kita masih menjadi musuh atau seteru Allah dan melalui pekerjaan Roh-Nya yang kudus, Dia melahirbarukan kita, menjadikan kita dan mengadopsi kita menjadi anak-anak Allah. Kita melihat di sini gambar yang sangat indah, response Mefiboset, mengerti akan anugerah yang begitu besar yang sesungguhnya dia tidak layak untuk dia terima, “Apakah hambamu ini sehingga engkau menghiraukan anjing mati seperti aku.” Saudara sekalian, itulah saudara dan saya, anak-anak Allah yang diangkat-Nya menjadi anak-anak-Nya berdasarkan kasih karunia dan anugerah-Nya semata-mata.

Saudara sekalian, bukan berarti engkau dan saya yang telah menerima kasih karunia Allah tidak bisa jatuh di dalam dosa. Kita melihat itu juga di dalam hidup Daud. Daud, 2 pasal setelah bagian ini, dia jatuh di dalam dosa yang sangat besar. Kita tahu Daud jatuh di dalam perzinahan dengan Batsyeba, dua pasal setelah bagian ini. Daud yang sudah mengalami akan kasih setia Tuhan dan dia sudah menyatakan kasih setianya kepada Mefiboset, tapi dia sendiri melakukan sesuatu yang bertentangan secara mendasar dengan kasih setia Tuhan. Kita mengetahui bagaimana Daud berzinah dengan Batsyeba. Kemudian kita tahu juga Daud mencoba menutupi kejahatan dan dosanya ini. Dia memanggil suami dari Batsyeba yaitu Uria untuk datang dari medan peperangan, karena dia mendengar Batsyeba yang sudah tidur dengan dia sekarang hamil. Dia ingin menutupi akan dosanya dengan memanggil suami dari Batsyeba, “Ayo kembalilah dari medan peperangan” dan Uria menghadap raja dan raja mengatakan kepada dia, “Engkau telah setia melayani dan berperang bagi bangsamu dan sekarang saatnya engkau istirahat dan menerima segala penghargaan dari kerajaan ini”. Uria diberikan berbagai macam penghargaan dan engkau juga silakan pulanglah dan bersenang-senang dengan isterimu.” Daud berpikir dan merencanakan kalau Uria pulang dan ketika dia tidur dengan isterinya dan kalau isterinya hamil, dia pikir ini adalah anaknya dia. Tetapi Uria di sini digambarkan kontras dengan kejahatan yang sedang direncanakan oleh Daud. Dia tidak pulang ke rumah, tetapi dia tinggal bersama-sama dengan tentara lain di sekitar istana. Daud kemudian mendengar itu dan mengatakan, “Bagaimana ini dia tidak pulang dan tidur dengan istrinya?” Dan karena itu dia memanggil Uria. Daud berkata, “Mengapa engkau tidak pulang, bukankah engkau sudah berjasa besar dan sekarang waktunya engkau istirahat dan bersenang-senang dengan isterimu?” Uria mengatakan, “Bagaimana aku dapat bersenang-senang dengan isteriku, sedangkan teman-temanku dan pemimpin-pemimpinku di sana sedang berperang mempertaruhkan nyawa menghadapi musuh.” Maka Daud berpikir kalau begitu apa yang harus saya lakukan, maka Daud memberikan surat kepada Uria. “OK, kalau kamu tidak mau pulang, maka aku akan mengutus kamu kembali ke medan peperangan dan bawalah surat inij. Berikan kepada jendralmu di medan perang.” Kita tahu apa isi surat itu, surat itu adalah hukuman mati bagi Uria. Artinya apa saudara-saudara sekalian? Artinya Daud pun sadar bahwa Uria ini adalah orang yang jujur dan benar. Kalau dia bawa surat itu dan di tengah jalan dia buka surat itu, maka dia tahu ini adalah surat hukuman mati bagi dirinya sendiri. Karena surat itu berisi demikian: “Hai pemimpin, bawalah Uria di medan peperangan, peperangan yang sangat sengit, musuh yang sangat kuat, dan ketika peperangan semakin sengit maka mundurkanlah pasukanmu, tinggalkanlah Uria di depan, dan biarkan Uria mati.” Itulah yang dilakukan oleh jenderalnya di lapangan dan Uria matilah di medan peperangan itu. Daud berpikir kalau Uria sudah mati maka Batsyeba boleh menikah lagi dan boleh diambil menjadi isteri Daud, itulah yang dilakukan oleh Daud, supaya menutupi segala dosanya.

Tetapi kita tahu apa yang dilakukan Tuhan kepada Daud. Dia mengirim Nabi Natan kepada Daud. Nabi Natan menceritakan cerita yang sangat simple tetapi sangat menusuk hati. Ada seorang yang sangat kaya raya, dan dia memiliki banyak kambing dan domba di rumahnya, dan orang kaya ini kedatangan seorang tamu. Ketika tamu ini datang seperti biasanya, tamu yang datang itu harus dijamu. Maka ketika dia mau menyembelih salah satu dari kambing atau dombanya, dia merasa sayang, tetapi dia melihat tetangganya, seorang yang sangat miskin dan tidak memiliki harta apapun dia hanya memiliki seekor anak domba yang dia pelihara dari kecil seperti puterinya sendiri. Maka orang kaya ini karena dia penuh kuasa maka dia ambil akan domba itu dan disembelih untuk dijamu akan tamu yang sudah akan datang. Maka Daud yang mendengar akan cerita itu, dia sangat marah, dia mengatakan: “Katakan kepada saya siapa orang itu, dia harus dihukum mati”, maka Nabi Natan mengatakan kepada dia: “Engkaulah orang kaya itu, engkaulah yang sudah mengambil akan satu-satunya domba yang dimiliki oleh tetanggamu dan membunuhnya. Mengapa engkau mengambil Batsyeba dan berzinah dengan dia dan mengambil Batsyeba dari Uria, bahkan membunuh Uria dengan rancanganmu yang jahat itu. Apakah yang masih kurang, Tuhan sudah memberkati engkau dengan begitu banyak. Kalau ada yang kurang, engkau bisa minta kepada Tuhan, Tuhan akan memberikannya lebih lagi kepadamu, tetapi mengapa engkau melakukan hal yang begitu jahat di mata Tuhan?” Dengan kalimat teguran yang sangat keras itu, maka Daud sadar akan dosanya dan Daud seorang yang sudah pernah mengalami akan kasih setia Tuhan dan sekarang kasih setia itu juga yang membawa dia kembali kepada Tuhan.

Mazmur 51 adalah Mazmur pertobatan Daud, maka kalimat pertama yang Daud katakan adalah: “Kasihanilah aku ya Allah menurut kasih setia-Mu,” menurut Your hesed. “Hapuskanlah pelanggaranku menurut rahmat-Mu yang besar. Bersihkanlah aku seluruhnya dari segala kesalahanku dan tahirkanlah aku dari segala dosaku.” Hesed itu kasih setia Tuhan yang menyadarkan Daud yang membawa dia kembali kepada Tuhan dan meninggalkan dosanya. Biarlah hari ini kita boleh diingatkan sekali lagi akan kasih setia Tuhan yang begitu besar di dalam hidup kita. Kita melihat the power of hesed, yang melampaui sekedar melakukan kewajiban. Kita melihat hesed diberikan kepada orang yang tidak layak, yaitu saudara dan saya. Bahkan ketika di dalam hidup kita mengikut Tuhan, kita yang sudah menerima hesed dari Tuhan. Kadang-kadang kita melakukan suatu yang bertentangan dengan hesed dari Tuhan, tetapi bersyukur kepada Tuhan bahwa kasih setia Tuhan tidak pernah berubah di dalam hidup kita. Biarlah hesed dari Tuhan, kasih setia Tuhan, yang membawa kita kembali kepada Tuhan, meninggalkan dosa, dan hidup di dalam kehendak dan anugerah Tuhan. Biarlah kebenaran Firman Tuhan ini sekali lagi menggerakkan hati kita untuk hidup mengikut Tuhan, setia, menyangkal diri, memikul salib dan mengikut Kristus. Karena kasih setia Tuhan bukan hanya kasih setia yang membawa kita kembali kepada Dia, tetapi kasih setia itu yang akan terus memelihara, menjaga, memimpin kita, bahkan ketika kita jatuh di dalam dosa, dia mengingatkan, menegur dan membawa kita kepada diri-Nya. Biarlah Firman Tuhan hari ini mendorong untuk kita untuk terus setia, berjuang, hidup di dalam kehendak Tuhan. Karena itu adalah hal yang terbaik bagi anak-anak Tuhan. Karena di dalam hesed dari Tuhan, bukan hanya hidup berkenan dan memuliakan Tuhan, tetapi hidup kita dipenuhi dengan anugerah dan kelimpahan hidup yang Tuhan sediakan bagi anak-anak-Nya.

Alamat

556 - 558 Botany Road, Alexandria, NSW, 2015
sekretariat@griisydney.org
0422690913
0430930175

Social Media

Facebook GRII Sydney Instagram GRII Sydney Twitter GRII Sydney


Google Play Store
App Store

^