[simple_crumbs root="Home" /]
kembali

26 June 2022

Pdt. Agus Marjanto, M.Th

Hal Menghakimi (2)

Mat 7:1-6

Firman yang kita baca adalah kehendak Kristus ketika kita menghadapi sesama. Minggu yang lalu kita sudah berbicara beberapa poin tentang perikop ini yang sifatnya peringatan terhadap hal-hal yang negatif yang kita kerjakan. Minggu yang lalu kita sudah berbicara bahwa Firman ini bisa dipakai untuk menyembunyikan dosa kita. Minggu yang lalu kita sudah berbicara bahwa kita sering sekali menghakimi orang lain dengan standar diri kita. Kita sering sekali mengkritik dan juga judgemental terhadap orang lain kita tidak mau mengampuni dan memiliki kepahitan di dalam hati. Pagi ini kita akan bicara beberapa aplikasi tentang Firman ini yang sifatnya positif atau dengan kata lain berdasarkan Firman ini kita memikirkan sesungguhnya komunitas dengan karakter seperti apa yang Yesus mau bentuk di bumi ini. Saya sudah mengatakan satu kata yang penting community, komunitas, dalam hal inilah komunitas itu adalah gereja, gereja kita, gereja lokal. Yesus Kristus melalui Roh Kudus-Nya membentuk suatu komunitas kumpulan umat kerajaan Allah di bumi ini yaitu gereja-Nya dan komunitas kerajaan Allah di muka bumi ini harus memiliki cara hidup, cara berpikir, cara menghadapi sesama yang berbeda dengan dunia melakukannya. Berbeda bukan karena kita ingin berbeda saja, berbeda bukan karena ada sesuatu di dalam diri kita yang lebih baik daripada dunia ini sehingga kita bisa sombong tidak, tidak seperti itu, tetapi berbeda karena kita sudah mendapatkan belas kasihan Allah.

Saudara-saudara, perhatikan baik-baik, yang pernah mendapatkan belas kasihan pasti hidupnya berbeda dengan yang belum pernah mendapatkan belas kasihan, yang pernah mendapatkan anugerah Kristus pasti hidupnya berbeda di dalam menghadapi sesama dengan orang-orang yang belum pernah mendapat anugerah Yesus Kristus. Sebelum saya masuk lebih jauh saya memberikan beberapa notes di sini. Saudara-saudara, ketika Alkitab mengajarkan tentang kumpulan umat Allah, gereja yang berbeda dengan dunia ini, itu tidak berarti tidak mungkin pernah ada konflik, tidak berarti tidak mungkin terjadi salah paham atau perselisihan atau kadang perpecahan. Semua hal-hal ini tidak terhindarkan karena kita masih ada di dalam dunia yang berdosa kita sendiri berbeda satu dengan yang lain, kita beda karakter, kita berbeda sifatnya, kita berbeda cara kerjanya, kita sendiri bukan orang yang sempurna, pasti akan ada salah paham, konflik, perselisihan bahkan perpecahan. Tetapi perhatikan beberapa hal ini, pertama, konflik dan perpecahan itu tidak seharusnya di-promote oleh anak-anak Tuhan. Anak-anak Tuhan mem-promote kesatuan, memelihara kesatuan di dalam Alkitab dikatakan orang yang berbicara dan memberikan kebohongan ataupun orang yang berbicara menyembur-nyembur ketidaksukaan dan membuat dua orang yang tadinya bersatu itu kemudian menjadi berlawanan, orang ini akan dibenci oleh Allah. Konflik dan perpecahan itu tidak seharusnya di-promote oleh anak-anak Tuhan, kita berusaha sedemikian rupa dengan menyangkal diri kita, kita memelihara kesatuan. Hal yang kedua, kalau sampai terjadinya konflik ataupun perpecahan maka pastikan kita semua yang ada di dalamnya tidak memiliki niat jahat atau motivasi yang berdosa di dalamnya. Saya pernah mendengar sesuatu yang sangat lucu dan sangat ada blind spot di dalamnya. Ada orang mengatakan, “Saya akan pecah gereja saya,” lalu kemudian ketika dia pecahkan gerejanya, dia mengatakan, “Di dalam Alkitab Paulus dengan Lukas juga pecah gerejanya.” Saudara-saudara, ini adalah sesuatu hal yang sangat menggelikan, karena orang itu memecahkan gereja karena satu hal, uang. Terlalu banyak perpecahan dalam gereja karena uang itu adalah sesuatu dosa dan sekali lagi menggunakan Alkitab untuk menutupi dosa. Di dalam Alkitab saudara-saudara perpecahan Paulus dengan teman pekerjaannya itu bukan karena uang. Saudara-saudara konflik dan perpecahan itu adalah sesuatu yang bisa terjadi di dalam gereja yang sebaik apapun, tetapi pastikan bahwa tidak ada niat jahat atau motivasi berdosa di dalamnya. Saudara-saudara kembali lagi gereja yang sehat dan berjalan dengan kekudusan pasti memiliki prinsip hidup bersama yang berbeda dengan dunia ini menghadapi sesamanya. Dunia ini adalah dunia yang menilai orang lain berdasarkan diri sendiri, standar nya adalah aku suka atau aku tidak suka dengan orang itu. Saudara-saudara dunia ini adalah dunia yang meninggikan self-righteous terhadap orang lain, aku lebih benar daripada kamu, aku lebih berkuasa daripada kamu, aku harus lebih terlihat baik daripada kamu, orang lain harus melihat aku lebih baik dengan cara engkau lebih buruk. Dunia ini adalah dunia yang mendefinisikan benar dan salah adalah standar nya diriku. Gereja tidak boleh sama dengan hal-hal tersebut, gereja memiliki satu kehidupan yang baru di dalam Kristus dan Kristus membentuk suatu pola relasi yang baru. Kristus mengatakan jangan kamu menghakimi supaya kamu tidak dihakimi. Kristus mengatakan jangan kamu melihat debu selumbar dimata saudaramu tetapi engkau tidak bisa melihat daripada balok di depan matamu. Yesus mengatakan jangan engkau munafik. Saudara-saudara, semua yang dikatakan oleh Yesus ini adalah suatu bentuk, Kristus mau membentuk suatu komunitas kerajaan Allah. Minggu yang lalu kita sudah berbicara mengenai aplikasi secara hal-hal yang negatif yang kita lakukan tetapi lebih daripada itu di dalam Alkitab berkali-kali, di manapun saja, kita diminta melakukan hal-hal yang positif. Beberapa hal positif yang praktis yang Alkitabiah kita akan perhatikan di dalam kotbah ini dan minggu depan.

Hal yang pertama adalah Alkitab mendorong kita melakukan self-examination pengujian diri terlebih dahulu dan terlebih sering di bawah terang Firman dan kuasa Roh Kudus. Saudara-saudara perhatikan, setiap kalimat Alkitab yang berisi larangan maka kita perlu melihat bagian lain yang sifatnya adalah sarana untuk mematikan dosa tersebut. Saya mengambil contoh di sini, kita sudah melihat Yesus mengatakan jangan kamu menghakimi, ada orang yang memang hidupnya itu bergelimang dalam dosa di dalam area ini selalu inklinasi hatinya adalah mengkritik orang lain dan sebenarnya ini dosa yang ada dalam diri saudara dan diri saya juga. Saudara-saudara sudah tahu bahwa di Alkitab dikatakan jangan menghakimi, jangan judgemental dan jangan criticism. Saudara-saudara, Minggu yang lalu kita sudah bicara boleh kritik tapi jangan criticism. “-ism” itu berarti setiap apapun saja di kritik seorang yang melihat selalu ada kecacatan dalam orang lain, kekurangan dari keadaan, segala sesuatu yang dia selalu lihat adalah hal-hal yang negatif. Dan kemudian kita itu sadar, Tuhan mengatakan jangan menghakimi, kita mulai sadar bahwa kita sering menghakimi, dan kita mau meninggalkan dosa itu. Tetapi saudara-saudara, kita tahu bahwa natur dosa kita memiliki sesuatu kebiasaan yang sudah berpuluh-puluh tahun dalam hidup kita itu sama dengan saudara itu tadinya merokok berpuluh-puluh tahun dan kemudian dikatakan merokok itu tidak baik, saudara tahu tidak baik tapi tidak bisa meninggalkannya maka Alkitab di sini mengatakan jangan menghakimi kita tahu bahwa kita tidak boleh menghakimi kita tahu menghakimi adalah suatu dosa tetapi bagaimana memiliki kebiasaan dan kuasa untuk lepas daripada sifat yang selalu ingin menghakimi, maka Alkitab memberikan caranya untuk menghancurkan dosa ini yaitu dengan self-examination. Orang yang sering melakukan self-examination akan tumbuh sifat yang tidak mudah untuk menghakimi, tidak mudah untuk judgemental, tidak mudah untuk mengkritik. Self-examination membuat kita mengerti bahwa ada balok yang besar di mata kita. Saya akan bicara sekarang mengenai self-examination.

Calvin, seorang Reformator sendiri mengatakan seorang anak Tuhan yang sejati memiliki ciri sering melakukan self-examination sebaliknya orang munafik tidak suka melakukan pemeriksaan diri ini. Saudara-saudara, ketika kita berbicara mengenai self-examination biarlah kita melakukannya di bawah Firman Tuhan dan benar-benar meminta Roh Kudus memimpin kita Alkitab menyatakan ujilah dirimu sendiri, dengan apa kita menguji diri kita yaitu dengan Firman Tuhan dan dengan kuasa Roh Kudus, sekali lagi dengan Firman Tuhan dan kuasa Roh Kudus. Hal ini penting kalau kita tidak menguji diri berdasarkan Firman Tuhan dan kuasa Roh Kudus hasil pengujiannya akan memperburuk daripada keadaan kita yang berdosa. Ketika kita menguji diri kita begitu kita bicara mengenai menguji diri maka kita memerlukan standard untuk menguji diri kita, apa yang menjadi standard ketika kita menguji diri kita? Sering sekali kita menguji diri dengan membandingkan diri dengan orang lain jika itu kita lakukan kita akan masuk ke dalam tempat yang lebih buruk daripada sebelumnya. Kita akan menjadi minder atau sebaliknya kita akan menjadi sombong dengan membandingkan komparatif seperti ini tetapi dengan menguji diri dengan melihat diri kita dari mata air Firman yang jernih maka di sana kita akan membedakan apa yang sedang terjadi di dalam jiwaku. Melalui Firman, kita bertemu dengan kekudusan Allah yang tidak terbatas dan ketika kita menemukan kekudusan Allah yang tidak terbatas dan ketika kita menemukan kekudusan Allah yang tidak terbatas kita akan merendahkan diri kita sampai kepada debu. Sekali lagi, self-examination harus dari Firman Tuhan dan Roh Kudus dan jikalau kita melakukannya dan Roh Kudus itu memimpin kita, maka kebiasaan dan kesukaan untuk melihat kejahatan atau keburukan orang lain itu akan perlahan demi perlahan terkikis. Tetapi, banyak orang melakukan self-examination itu yang tidak sehat, bukan berdasarkan Alkitab dan tidak menyerah kepada Roh Kudus. Self-examinationbisa tidak sehat karena terus menerus melihat kesalahan diri dan itu artinya terjebak lagi kepada self-centered, jikalau itu terjadi akan menghasilkan hati nurani yang lemah bukan lembut. Saudara-saudara perhatikan hati nurani yang lemah bukan lembut. Orang memiliki hati nurani yang lemah adalah orang yang mudah sekali merasa bersalah tanpa tahu kebenaran yang sesungguhnya itu apa. Sekali lagi bahwa self-examination yang tidak sehat menghasilkan hati nurani yang lemah dan malah menjadi orang tersebut akan menjadi sombong sebaliknya self-examination yang sehat akan membuat kita makin menyadari dosa kita tetapi pada akhirnya menemukan pengampunan dari Tuhan dan self-examination yang sehat adalah suatu perjalanan spiritualitas. Sekali lagi orang yang memiliki self-examination yang sehat akan diubah menjadi seseorang yang tidak mudah menghakimi atau sombong karena membandingkan diri dengan orang lain, atau tidak mau mengampuni orang lain karena dari self-examination, kita akan mengenal sifat dari dosa kita dan keberdosaan dari sifat kita. Di dalam Alkitab ada satu perikop yang berbicara berkenaan dengan pentingnya self-examination dan bagaimana jemaat itu tidak bisa mengukur diri sendiri. Itu ada di dalam kitab Wahyu yaitu dalam jemaat di Laodikia. Yesus sendiri menghardik jemaat ini karena jemaat ini menganggap diri kaya. Tetapi Yesus mengatakan engkau menganggap dirimu kaya tetapi sesungguhnya engkau itu melarat, malang, miskin, buta, telanjang. Saudara-saudara, ini kalimat Yesus luar biasa tajam kepada seorang yang menganggap diri, aku memiliki segala sesuatunya, aku kaya, aku rohani. Aku adalah orang yang melayani Tuhan. Aku adalah orang yang setia. Aku kaya. Tetapi Yesus mengatakan, “Tidak. Kamu melarat, kamu malang, kamu miskin, kamu buta, kamu telanjang.” Seluruh kalimat ini ditimpakan kepada jemaat ini. Saya kaget sekali saudara-saudara. Kenapa Tuhan itu yang Mahakasih musti bicara kalimat tajam ini pada jemaat Laodikia cuma mengatakan aku kaya kan bisa. Atau Yesus yang penuh kasih mengatakan, “Enggak-enggak, kamu miskin.” Tidak! Dia mengatakan kamu melarat, kamu malang, kamu miskin, kamu buta, kamu telanjang. Ini adalah jemaat yang tidak mengerti dirinya siapa. Saudara-saudara, salah satu kekuatan dari orang puritan kalau saudara membaca buku-buku puritan adalah mereka memasukkan khotbah self-examination ini di dalam berbagai macam khotbahnya. Melihat diri bukan dari kacamata orang lain. Melihat diri bukan dari kacamata diri. Tetapi melihat diri seperti Tuhan melihat kita itu yang paling penting.

Dasar dari self-examination adalah Mazmur pasal 139. Mari kita membaca mulai dari hMazmur pasal 139:1, “Untuk pemimpin biduan. Mazmur Daud. TUHAN, Engkau menyelidiki dan mengenal aku; Engkau mengetahui, kalau aku duduk atau berdiri, Engkau mengerti pikiranku dari jauh. Engkau memeriksa aku, kalau aku berjalan dan berbaring, segala jalanku Kau maklumi.” Sekarang saudara perhatikan ayat 23 dan 24. Mari kita membaca bersama-sama, “Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku; lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal!” Tetap Firman ini dibuka dan saya akan menjabarkan daripada Firman ini. Sekali lagi saudara-saudara, kita sedang berbicara berkenaan dengan jangan menghakimi. Kristus sedang membuat satu kumpulan umat yang berbeda dengan dunia. Kelahiran baru dalam hidup kita memungkinkan kita memiliki perbedaan dengan dunia. Kita tidak memperlakukan daripada sesama kita dengan tidak adil lagi. Kita tidak memperlakukan sesama kita dengan prinsip diri. Tetapi Tuhan mau untuk kita memperlakukan sesama kita dengan prinsip daripada Dia. Kita sudah tahu bahwa kita tidak boleh menghakimi berdasarkan diri kita sendiri. Tetapi di dalam diri kita, kita memiliki kebiasaan-kebiasaan yang suka untuk mengkritik dan menghakimi orang lain. Kita sering sekali mengukur diri kita berdasarkan daripada orang lain membuat kita minder atau kita sombong terhadap dia. Iya, aku tahu perintahmu Tuhan. Aku tahu aku orang berdosa. Tetapi bagaimana aku bisa mematikan dosa ini. Maka Alkitab memberikan sesuatu sarana untuk mematikan dosa ini ada di dalam diri kita. Yaitu dengan self-examination. Daud melakukannya. Daud memberikan kepada kita prinsip self-examination ini.

Mazmur pasal 139 adalah suatu doa terbuka Daud kepada Allah. Di dalam doa ini, maka Daud memohon Allah memberikan tindakan belas kasihan kepada dirinya. Sekali lagi, Daud meminta Allah memberikan Tindakan belas kasihan kepada dirinya. Tindakan belas kasihan Allah seperti apa yang Daud itu minta? Yaitu, Daud meminta Allah mencari, menyelidiki, mengejar dia sampai hal terkecil dan tersembunyi. Selidikilah aku ya Tuhan, kenallah hatiku, ujilah aku, kenallah pikiran-pikiranku. Daud minta digeledah oleh Tuhan. Bukankah ini sesuatu yang asing bagi kita? Kalau saudara dan saya meminta belas kasihan Tuhan, saudara minta apa? Maka kita biasanya minta Tuhan berikan kepada saya kesembuhan. Tuhan berikan kepada saya jalan yang lancar. Tuhan berikan kepada saya urapanmu untuk saya boleh berkhotbah dengan baik, melayani dengan baik. Atau uang untuk saya makan. Saudara-saudara, semua itu tidak salah. Tetapi saudara perhatikan ayat ini. Saudara lihat, belajar bagaimana orang-orang yang berjalan bersama dengan Tuhan dia minta apa dan mari kita minta. Daud minta Tuhan melakukan Tindakan belas kasihan kepada dia dan tindakan belas kasihan Allah kepada dia itu apa yang dia minta? Yaitu digeledah oleh Tuhan. Saudara tahu kalimat ini? Di dalam bahasa Indonesia itu paling sering. Karena setiap hari kita menemukan di koran, orang ini digeledah KPK, orang itu digeledah polisi. Itu artinya polisi atau KPK datang ke rumahnya, mengetuk dia, dia buka pintunya dan mereka memaksa untuk masuk dan mau untuk menyelidiki sampai sekecil-kecilnya bahkan lemari di bawah ranjang pun itu akan dilihat. Bahkan di atas langit-langit digeledah, siapa tahu ada yang disembunyikan dan saudara perhatikan baik-baik bagi semua orang yang korban penggeledahan ini. Tidak ada yang rela. Dan mereka semua marah. Dan mereka semua mengatakan aku memiliki hak. Engkau tidak boleh masuk kedalam rumahku. Tetapi apa yang dikerjakan oleh seorang raja Daud. Ini hatiku, ini rumahku, aku minta belas kasihanmu. geledahlah Tuhan temukan semua yang tersembunyi. Orang fasik melihat, menggeledah, menyelidiki, mencari kesalahan orang lain tetapi anak-anak Tuhan yang mendapatkan belas kasih karunia, minta Tuhan menyelidiki, mengamat-amati dan tidak sama sekali melepaskan sekecil apapun dosa, temukan itu, temukan Tuhan. Untuk apa digeledah? Daud mengatakan, “Lihatlah, apakah jalanku serong”, untuk melihat apakah ada sesuatu yang jahat di dalam diriku. Jemaat, apakah mau berdoa seperti ini? Ini yang diajar Tuhan kepada kita. Daud berdoa ini bukan supaya Tuhan mendapatkan informasi bagi Tuhan sendiri, tidak saudara-saudara. Di ayat-ayat depan yang tadi kita baca, Tuhan itu mengetahui Daud. Hal ini menyatakan bahwa Tuhan tidak membutuhkan informasi itu lagi. Dia sudah tahu. Maka ketika pemazmur berdoa agar Tuhan menyelidiki dia adalah supaya Daud sendiri dapat melihat itu, dapat bisa tahu itu dan minta Allah memberitahu dia tentang kejahatannya yang tersembunyi. Bahkan di depan ayat pun itu mengatakan bahwa Tuhan itu memahami pikirannya dari jauh. Dari jauh Tuhan itu sudah tahu dirinya, jahatnya seperti apa. Apa yang terlihat jelas oleh Allah dari kejauhan tetapi tidak terlihat oleh Daud dari kedekatan. Daud berdoa agar Tuhan menyelidikinya dengan cahayanya sendiri supaya Allah menuntunnya dengan seksama untuk melihat diri Daud sendiri dan melihat seluruh jalan yang jahat di dalam dirinya. Sekarang saudara-saudara perhatikan amati apa tujuan yang Daud inginkan Ketika Tuhan itu menyelidiki dia. Yaitu, tuntunlah aku di jalan yang kekal. Daud meminta penyelidikan ini bukan saja untuk kesuciannya, bukan untuk dia nanti menjadi benar sehingga dia mengalami kedamaian dan ketenangan untuk sementara waktu. Tidak, dia meminta untuk sesuatu yang kekal. Dia meminta penyelidikan ini untuk dia bisa berjalan bersama dengan Allah selamanya secara kekal terus menerus karena tidak ada kejahatan yang bisa berjalan bersama dengan Allah. Yang menjadi mata Daud itu adalah bukan sekedar kesucian, bukan kesucian dirinya, bukan kebenaran terhadap dirinya sendiri tetapi yang menjadi fokus daripada Daud, keinginannya adalah dia bisa berjalan bersama dengan Allah terus menerus sampai kekal. Saudara lihat apa yang menjadi fokusnya pribadi Allah. Ketika kita bicara mengenai kekudusan, kebenaran, kita selalu berbicara mengenai sesuatu yang materi. Oh, ini holiness. Oh, di sini adalah kebenaran ketika Alkitab berbicara berkenaan dengan kebenaran atau truth atau holiness itu adalah bicara mengenai pribadi. Maka saudara-saudara sekali lagi, ketika melihat Firman, jangan menghakimi maka ini adalah suatu dosa yang harus dimatikan. Tetapi bagaimana dosa ini dimatikan? Adalah dengan self-examination dengan self-examination yang sehat, yang biblical di dalam terang Firman Tuhan, kita akan melihat diri kita sebagaimana Allah melihat kita. Kiranya Tuhan boleh pimpin kita. Baca Mazmur 139 di rumah dan kemudian minta Tuhan menyelidiki hati kita, menggeledah isi hati kita.

Alamat

556 - 558 Botany Road, Alexandria, NSW, 2015
sekretariat@griisydney.org
0422690913
0430930175

Social Media

Facebook GRII Sydney Instagram GRII Sydney Twitter GRII Sydney


Google Play Store
App Store

^