[simple_crumbs root="Home" /]
kembali

8 May 2022

Pdt. Agus Marjanto, M.Th

Hal Kekhawatiran (3)

Matius 6:25, 31-33

Kita terus memikirkan apa yang Yesus ajarkan mengenai jangan kamu khawatir. Ini adalah pengajaran tentang kekhawatiran akan kebutuhan hidup. Kalimat Kristus ini bersifat essential dan kebenarannya melintasi seluruh konteks hidup. Apa artinya bersifat essential? Artinya adalah masalah kekhawatiran bukan bicara mengenai perasaan luar, dangkal dan sewaktu-waktu muncul. Ini juga bukan sekedar masalah psychological tetapi Kristus mengatakan ini adalah masalah identity. Ini masalah natur dan panggilan kita. Apakah kita mengerti hakekat kita sebagai manusia sebenarnya apa? Apakah kita mengerti untuk apa diciptakan di bumi ini? Ini bukan masalah perasaan dangkal. Lihatlah apa yang ada dalam perikop ini. Kristus menyentuh masalah identitas dan panggilan hidup kita. Bukan itu saja, kalimat Kristus, kebenarannya melintasi seluruh konteks hidup. Apa artinya? Mungkin saat ini ada banyak dari antara kita yang tidak sedang khawatir. Tetapi sebenarnya, Saudara dan saya tidak khawatir bukan karena mengerti kebenaran tetapi sebenarnya tidak tahu hidup itu seperti apa. Sesungguhnya jikalau kita tahu apa yang telah terjadi di dalam hidup kita, di dalam dunia dan manusia yang lain, sesungguhnya kita akan sungguh-sungguh khawatir. Kekhawatiran adalah implikasi yang tidak terhindarkan karena manusia dan dunia ini sudah tercemar dosa. Maka penyelesaian terhadap masalah kekhawatiran bukan Saudara dan saya diberikan uang tetapi adalah penebusan Kristus Yesus. Apa maksud saya ketika saya menyatakan hal-hal ini? Biarlah kita tidak menjadi khawatir bukan karena saat ini kita memiliki uang tetapi biarlah kita tidak khawatir karena kita akan berjalan di dalam pengajaran Kristus Yesus. Bagi yang saat ini tidak khawatir, suatu hari, ketika kita mengalami kekhawatiran, biarlah kita mengingat remedy yang Kristus berikan kepada kita bukan uang tetapi adalah menyadari diri dan panggilan-Nya kepada kita.

Minggu lalu kita sudah membahas perikop ini dari sudut pandang penciptaan. Pada titik penciptaan maka kita melihat 2 hal yang penting ini ada di dalam diri kita yang menjadi satu dengan mengapa kita eksis di dunia ini. Yang pertama adalah natur dan yang kedua adalah panggilan atau tugas. Secara natur, manusia adalah ciptaan Allah maka secara intrinsik, manusia ada dengan memiliki kebutuhan yang terbesar pertama dan terpenting yang harus dicukupi adalah kebutuhan akan relasi dengan pribadi Allah. Dan yang kedua berbicara mengenai tugas atau panggilan, untuk apa manusia diciptakan? Untuk apa Saudara dan saya itu ada di muka bumi ini? Alkitab dengan jelas menyatakan: “Kita diberi tugas oleh Allah untuk dijalankan.” Itulah hidup kita diberikan oleh Allah di muka bumi ini, yaitu untuk mengembangkan dunia ini seindah Eden. Eden adalah mengenai mengembangkan Kerajaan Allah di muka bumi. Tugas yang Allah berikan di bumi ini, bukan membuat Saudara dan saya melakukan semua pekerjaan dan mendapatkan uang semata. Seluruh yang kita kerjakan untuk mendapatkan uang itu hanya bagian integral dari hal yang terpenting ini. Yaitu mengembangkan Kerajaan Allah di muka bumi. Ini yang paling utama. Ini adalah satu-satunya. Ini adalah mata Allah bagi kita. Ini adalah panggilan Allah. Segala sesuatu yang kita kerjakan adalah suatu tempelan agar ini terjadi bukan sebaliknya. Saudara mencari hidup sendiri. Saudara mencari kekayaan, mencari untuk family; agama dan Kristus ditempelkan kepadanya. Semuanya terbalik. Secara tugas, manusia diberi tugas untuk dijalankan; mengembangkan Kerajaan Allah di muka bumi ini. Untuk itulah kita diberikan pekerjaan. Untuk itulah kita diberikan keluarga. Untuk itulah kita diberikan umur. Maka di dalam relasi dengan Allah secara natur dan tugas inilah, seluruh kebutuhan kita dipenuhkan.

Saya sekarang masuk secara detail di dalam titik yang ke-2, yaitu fall. Apa yang terjadi ketika manusia masuk di dalam dosa? Pertama, lihatlah natur manusia. Natur manusia sebagai makhluk yang memiliki kebutuhan tetapi tidak pernah bisa mencukupi dirinya sendiri tetap ada di dalam diri kita. Sampai kapan pun kita tidak pernah bisa self-sufficient. Natur ini tidak pernah hilang. Kita punya kebutuhan. Kita, manusia dicipta dengan kebutuhan; itu sesuatu yang intrinsik. Kita tidak bisa mencukupi kebutuhan kita. Kita memerlukan sesuatu dari luar untuk mencukupi kebutuhan kita. Sekali lagi, natur ini tidak pernah akan hilang. Kita bukan Allah. Kita adalah ciptaan. Kebutuhan ini tetap ada. Ketidakmampuan untuk mencukupinya tetap ada. Tetapi ketika dosa sudah masuk, kita telah kehilangan sumber pemenuhan kebutuhan ini. Bagaimana kita tidak bisa menjadi khawatir? Pasti khawatir. Dalam penciptaan, Allah menciptakan kita secara hakekat, natur kita memiliki relasi dengan Allah dan dalam relasi ini, kebutuhan-kebutuhan kita dicukupkan oleh Dia, oleh pribadi-Nya. Tetapi karena dosa maka seluruh relasi antara Allah dan manusia ini terputus. Manusia mulai menyadari; aku punya kebutuhan ini, aku membutuhkan sesuatu dari luar untuk mencukupi kebutuhanku tapi Sang Pemenuh Kebutuhan itu sudah tidak lagi ada bersama dengan aku. Kebutuhan itu tetap ada, tetapi Penyedia Kebutuhan itu sudah tidak ada. Kalau Saudara-saudara punya toko, pasti punya pembeli. Selain punya pembeli, pertama-tama harus punya supplier. Toko Saudara begitu tidak ada supplier pasti akan tutup. Pertanyaan saya adalah siapa supplier kita? Saya tidak sedang berbicara berkenaan urusan uang saja. Itu adalah berkat yang paling mudah yang Tuhan bisa berikan. Tetapi saya bicara mengenai seluruh kebutuhan kita sebagai manusia. Kita memerlukan kasih. Kita memerlukan kebaikan. Kita memerlukan perlindungan. Kita memerlukan kebenaran. Kita memerlukan kebahagiaan. Kita memerlukan sense of wonder/ketertakjuban. Kita memerlukan penghargaan. Kita memerlukan penerimaan. Semua itu hanya bisa didapatkan dari pribadi Allah dengan berkat-Nya yang sempurna kepada kita. Tetapi itu sudah terpotong. Masalah tidak berhenti sampai di sini. Masalah menjadi lebih bermasalah lagi karena Alkitab dengan jelas menyatakan masalahnya bukan sekedar relasi itu tidak ada lagi, tetapi relasi dari persahabatan dan cinta kasih itu menjadi permusuhan, enemy. Allah bukan lagi Pemenuh Kebutuhan kita tetapi Allah menjadi satu pribadi yang berbahaya bagi kita. Dia adalah pribadi yang mengancam kita; menegangkan, menakutkan bagi kita. Perhatikan baik-baik! Di Taman Eden, Allah berjalan-jalan mencari manusia dan Alkitab mengatakan manusia menjadi sangat takut dan harus bersembunyi. Dari Penjamin Kebutuhan sekarang putus relasi menjadi musuh. Sesuatu keterbalikan besar terjadi sekarang. Tadinya kebenaran Allah menjadi kebutuhan kita, sekarang kebenaran-Nya mengancam kita. Saya tanya, apalagi kalau Saudara-saudara adalah orang Kristen tetapi belum mengenal Kristus, siapa yang menyukai kebenaran Allah? Tadinya kebenaran itu menjadi kebutuhan kita tetapi kebenaran itu sekarang mengancam kita. Sekarang saya tanya kepada Saudara-saudara, siapa yang menyukai kebenaran Allah? Hari ini adalah Hari Ibu. Saya tanya satu hal saja. Alkitab dengan jelas menyatakan: “Taatilah suamimu. Hormatilah suamimu. Dan suami mengasihi istri.” Saya tanya, siapa yang menyukai kalimat itu? Saudara akan punya berbagai macam alasan. Saudara-saudara akan selalu berusaha untuk menghindar apalagi kalau kita berada dalam post-modern ­era seperti ini. Itu kan cuma tafsiranmu, pendeta. Saya tidak mau tunduk kepada suami saya. Tidak bisa hormat kepada dia. You harus tahu suami saya itu bukan pria yang bisa dihormati. Saudara akan terus menerus memiliki kalimat-kalimat seperti itu. Siapa yang menyukai kebenaran padahal itu hitam di atas putih. Jikalau Saudara jujur, saya berikan Alkitab ini, silahkan berkhotbah. Berkhotbah apa? Mau tafsirannya bagaimana lagi? Suka kebenaran? Tidak. Saya katakan seperti ini bukan untuk membela laki-laki. Terlalu banyak laki-laki yang memang sulit atau tidak bisa untuk ditaati dan dihormati. Bagaimana mungkin kita bisa dihormati kalau kita tidak mengasihi istri kita? Kalimat itu pertama kali bukan untuk wanita. Kalimat itu pertama kali adalah untuk kita. Sama seperti Kristus mengasihi jemaat demikianlah biarlah suami mengasihi istri. Saya mau mengatakan kepada Saudara-saudara bahwa sebenarnya tidak ada yang menang dengan kalimat itu. Kita semua mesti bertobat. Saya cuma mau mengatakan contoh ini untuk membuat Saudara menyadari kita tidak menyukai kebenaran.

Kalau kebenaran itu timpa kepada kita; saya masih ingat beberapa tahun yang lampau, ada suatu yang fenomena di Jakarta, case Ahok. Saya tidak bicara berkenaan dengan perceraian dan menikahnya. Oh, itu membuat kami semua pusing. Saya bisa bicara itu panjang lebar karena berkali-kali ada pasangan yang muda, ada pasangan yang sudah puluhan tahun menikah mempertanyakan hal yang sama. Saya dipanggil ke rumah, tanyanya itu. Tetapi saya masih ingat ketika pertama kali Ahok baru permulaan menjabat. Saudara tahu orangnya hitam putih dan sangat-sangat keras. Semua orang Kristen bertepuk tangan dan banyak sekali orang, pengusaha-pengusaha yang bertepuk tangan. Sampai hukum ditetapkan dan bersangkut paut atau menyentuh company-nya, mereka langsung teriak. Mereka langsung mengatakan: “Ini ndak benar. Mereka ga tahu bagaimana kami susah payah membangun bisnis ini.” Begitu banyak pengusaha Kristen yang kemudian mencaci maki Ahok. Itu bukan rahasia lagi. Itu sudah suatu rahasia umum. Kita suka kebenaran? Ya, suka kalau untuk orang itu. Tapi kalau menyentuh aku, saya akan lawan. Tadinya kebenaran menjadi kebutuhan kita. Keterbalikan besar terjadi, kebenaran yang mengancam kita. Tadinya kehadiran-Nya menjadi kebutuhan Adam dan Hawa. Sekarang menjadi yang Adam dan Hawa takuti. Tadinya kekudusan-Nya menjadi sukacita manusia jikalau jiwa kita bertemu dengan kekudusan Allah, maka kita akan menjadi nikmat/delight/sukacita tetapi kekudusan-Nya sekarang mematikan. Dari Penjamin Kebutuhan, sekarang menjadi putus relasi, bukan itu saja, sekarang menjadi musuh kita. Bagaimana tidak khawatiran itu tidak muncul? Pasti muncul. Sekarang kita masih punya kebutuhan. Dia tadi Penjamin. Pada waktu Dia Penjamin, aku masih punya kebutuhan. Putus hubungan, aku masih punya kebutuhan. Jadi musuh, kita punya kebutuhan dan aku tidak bisa mencukupi kebutuhanku. Sekarang bukan dari Allah. Maka sekarang harus cari, bukan? Dari luar kan? Dari sesama, dan nanti adalah dari alam. Dari sesama, dari teman, dari keluarga. Saudara mau bahagia, menggantungkan kebahagiaan sama suamimu. Saudara ingin didengar, menggantungkan sepenuhnya kepada suamimu, bukannya tidak boleh tetapi kalau menggantungkan, pasti kecewa. Siapa yang tidak kecewa sama istri, angkat tangan! Siapa yang tidak kecewa sama suamimu? Mungkin ada yang angkat tangan soalnya takut. Tidak usah bicara kekristenan, kalau lihat jurnal psychology dunia saja, yang membenarkan gay sama lesbian saja, mereka sendiri menyatakan marital satisfaction di dalam pernikahan semua manusia itu sangat-sangat rendah. Kepuasan pernikahan. Siapa yang puas? Kalau hidup ini boleh ada sesuatu mujizat, diubah lagi, Saudara boleh mengembalikan waktu dan boleh tidak lagi memilih suami atau istri sekarang, berapa yang akan memilih orang yang lain? Dan kalau pun ada puas di dalam pernikahan, puas bukan karena suami Saudara sempurna atau istri Anda sempurna, tetapi ada Kristus di dalam pernikahan kita.

Kita tidak bisa memuaskan diri kita sendiri, kita memerlukan kepuasan dari tempat lain, dari luar. Allah sudah menjadi musuh kita. Sekarang aku cari di keluarga, ternyata keluarga kita sebaik apa pun tetap kita akan kecewa. Bukan itu saja, masalah bertambah lagi, bumi yang sudah diciptakan Tuhan ini, sejak manusia berdosa sudah dikutuk. Tanah ikut dikutuk, kehidupan makin sulit. Ketika manusia jatuh dalam dosa, lihat apa saja yang dikutuk. Ular dikutuk, wanita dikutuk, relasi suami istri dikutuk, dan tanah itu dikutuk. Empat kutukan besar ini. Begitu dosa masuk, maka ular itu dikutuk, lalu kemudian relasi suami istri, maka istrimu akan berahi kepada engkau, ini bukan bicara mengenai seksual, ini adalah bicara berkenaan dengan istri akan merebut kekuasaan daripada suami, akan ada power struggle di dalam keluarga, tidak habis-habisnya. Dan kemudian engkau punya keturunan, engkau akan sakit bersalin, ini bukan bicara berkenaan dengan sakit bersalin tetapi adalah anak darah daging kita ternyata membawa kesakitan bagi hidup kita. Sangat sedikit orang tua yang tidak berlinang air mata melihat anaknya, semua itu adalah kutuk dosa. Dan lagi tanah itu dikutuk, akan penuh dengan semak duri, apa artinya? Artinya adalah engkau kerja keras tapi hasilnya tidak sebanding dengan kerja kerasmu. Perhatikan baik-baik. Kerja keras bukan disebabkan karena dosa. Sejak dari creation sebelum dosa masuk, perintah kerja keras sudah ada, tetapi apa yang menjadi kutuk setelah dosa? Yaitu kita kerja keras tapi hasilnya tidak sebanding dengan kerja keras kita, hidup menjadi lebih sulit. Dan bukan itu saja, dosa masuk ke seluruh umat manusia, keturunan Adam dan Hawa, manusia menjadi lebih jahat. Ketika bertemu dengan orang lain, Saudara punya kebutuhan, Saudara mengharapkan orang itu mengisi kebutuhan. Kenyataan yang terjadi adalah orang itu juga menuntut diri kita mengisi kebutuhan dia. Kalau Saudara punya gentong air, airnya kosong, Saudara mau pergi ke seseorang untuk minta air, dia juga gentong airnya kosong saling mengecewakan. Sekali lagi. Kekhawatiran adalah implikasi langsung dari dosa. Kalau kita sungguh-sungguh mengerti apa yang terjadi di tengah-tengah kita, diri kita, Allah, sesama dan juga alam, sesungguhnya kita layak khawatir. Saya tidak sedang meng-encourage untuk khawatir, saya sedang meng-encourage untuk tidak mimpi di siang bolong. Saudara jangan menjadi orang yang tidak realistis menjadi orang yang berhalusinasi. Semuanya baik kok, puji Tuhan, semuanya Tuhan pelihara. Ya, Tuhan pelihara, tetapi Tuhan pelihara di dalam struktur tertentu, keadaan tertentu dan kita harus melihat realita dosa masuk itu seperti apa. Hal pertama adalah bicara mengenai nature, nature yang sudah jatuh dalam dosa keadaannya seperti apa?

Sekarang kita akan masuk ke yang kedua, yaitu bicara berkenaan dengan tugas. Di dalam kejatuhan, manusia sudah kehilangan arah hidup. Hidup tidak tahu lagi ke mana, tidak tahu lagi berbuat apa. Arah dan tujuan sesungguhnya hilang, tidak memiliki lagi kesadaran yang dalam untuk apa aku hidup di tengah-tengah dunia ini dengan umur ini. Sungguh sangat menggelikan jikalau kita ada di dalam sebuah mobil dan kita tidak tahu harus ke mana. Ini sungguh-sungguh terjadi, suatu hari saya naik pesawat, Qantas, dari Indonesia mau pergi ke Sydney. Saya sampai di bangku saya, dan duduk, sebelah saya ada satu orang, kemudian orang itu dia mengatakan “Bang, ini kita mau ke mana ya?” Di dalam pesawat. Saya ketawa ngakak, “Lah, Bapak mau ke mana?” Menggelikan bukan? Saudara mau ke mana? Apa arah tujuan hidup Saudara? Engkau mau ke mana? Beberapa kali saya tanya kepada anak saya. Terakhir beberapa hari yang lalu. Kalau sudah besar nanti mau jadi apa? Jawabnya selalu “Tidak tahu.” Ini menyatakan apa? Minimal dua hal. Pertama, ini suatu yang wajar, karena anak-anak itu perlu mengenali dirinya sendiri. Apa yang ada di dalam talentanya, apa konteks hidup ke depan. Ini memang tidak bisa sekaligus tahu, ini perlu suatu proses. Tetapi ini juga menggambarkan manusia yang sudah jatuh di dalam dosa. Mau ke mana? Tidak tahu, pokoknya cari duit. Jadi apa? Tidak tahu, mau cleaning boleh, mau Coles juga boleh, mau Woolies boleh, mau apa saja, pokoknya saya dapat duit. Tidak tahu apa yang seharusnya dilakukan. Kalau suatu hari tahu arahnya, itupun untuk egoisme diri. Sekali lagi intinya adalah tidak tahu mengapa harus ada, mengapa harus exist dalam dunia ini. Hasilnya, hidup untuk cari makan dan agama ditempelkan saja dalam perjalanan hidup yang mencari makan ini. Hidup itu tujuannya mencari makan. Bukankah seharusnya makan untuk hidup dan hidup untuk melakukan kehendak Allah, untuk mempermuliakan nama-Nya? Kalau tujuan hidup adalah untuk mencari makan, maka pasti kekhawatiran hidup akan terus menerus muncul. Saya bisa menjelaskan kenapa seperti itu. Kita sudah menjelaskan secara teologis, tetapi secara sederhana saja, kenapa selalu ada kekhawatiran kalau hidup untuk mencari makan, ya memang karena kita rebutan. Ada orang yang mengatakan apakah hidup ini sebenarnya? Yaitu rebutan. Satu dengan yang lain, kita rebutan. Pemerintah mencetak uang, ya segitu-segitunya. Intinya kalau tidak di kantong Saudara, ya di kantong saya, begitu saja. Jadi saya berusaha agar uang yang ada di kantong Saudara menjadi di kantong saya. Memikirkan, berstrategi, berdoa bahkan, membuat uangmu ada di kantongku. Pikiran kita, mata kita, hati kita mamon. Ini drive hidup kita, menakutkan sekali, kalau Saudara dan saya tidak mengerti remedy yang Tuhan berikan kepada kita, selayaknya kita khawatir. Manusia diciptakan untuk melakukan kehendak-Nya di taman Eden, tetapi karena dosa mereka diusir dari taman Eden, tidak tahu lagi harus berbuat apa, hidupnya cuma untuk satu, bekerja untuk dapat makan dan makan untuk bisa menyambung hidup. Terus setiap hari, setiap bulan, setahun, dua tahun, puluhan tahun dan terus membuat suatu keluarga dengan putaran hidup seperti itu. Manusia bergerak, bekerja, berusaha sekeras tenaga hanya untuk mencukupi kebutuhan hidup, bukan bergerak di dalam misi-Nya Allah. Drive hidup manusia adalah kekhawatiran, tidak ada misi Allah sekali pun di dalam pikirannya. Kalau ada, itu cuma tempelan pergi ke gereja saja. Ikut-ikutan saja di dalam aktivitas gereja. Semakin banyak aktivitas, Saudara akan semakin capai, karena di dunia dengan drive kekhawatiran sudah capai. Dan ujung-ujungnya Saudara cuma jadi orang baik, tetapi tidak mengerti dipakai oleh Tuhan itu seperti apa.

Biarlah kita menyadari, setiap dari kita, ada kehendak Allah yang harus digenapi. Itu sangkut paut selalu dengan Kerajaan Allah, sangkut paut selalu dengan misi-Nya Allah di dunia ini. Bangunlah family dengan misi. Misi Allah yang ditanam kepada kita untuk itulah kita ada di dunia ini. Bahasa Inggris promise, jaminan, guarantee itu dari kata latin pro mission. Pro artinya sebelum, mission artinya diutus. Jadi bicara berkenaan dengan janji Allah, aku perlu janji Allah yang menghibur, aku perlu janji Allah yang menyediakan. Ya ini adalah Perjanjian Lama dan Baru penuh dengan janji-janji Allah. Tetapi Saudara harus mengerti seluruh promise of God ini diberikan kepada umat Allah yang menjalankan misi. Itulah sebabnya Yesus Kristus mengatakan “Cari dulu Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya dan semuanya akan ditambahkan kepadamu.” Allah kita adalah Allah yang berjanji, Allah kita adalah Allah yang baik yang menyatakan janji-Nya dan pasti digenapi. Tetapi janji itu diberikan untuk kita diutus, ada panggilan, ada tugas, ada tanggung jawab yang Dia berikan kepada kita seumur hidup kita, temukan itu dan genapi sebelum kita mati. Kalau Saudara tidak mengenal Kristus Yesus kita akan persis seperti orang dunia yang mencari makan memenuhkan kebutuhan lalu pergi ke gereja beribadah menempelkan Allah untuk mencukupi kebutuhan-kebutuhan kita. Kalau keadaannya seperti itu, artinya kita tidak mengenal Firman, kita tidak mengenal Kristus, kita tidak mengenal janji Allah, kita tidak pernah akan stabil, diri kita tidak akan pernah penuh. Hidup untuk apa? Hidup untuk menjalankan kehendak Allah, menjalankan misi-Nya Allah. Menjalankan misi-Nya Allah. Saudara dan saya diciptakan, dibentuk, diproses sampai keadaan seperti ini di dalam providensia-Nya, ada bentukan khusus di mana Saudara dan saya memiliki tugas khusus yang tidak bisa digantikan oleh orang lain dan Tuhan menyediakan segala hal untuk misi digenapi sampai akhir.

Satu hal yang terus saya ingat akan kebaikan Tuhan adalah, pada hari terakhir di GRII Karawaci dan kemudian saya menjadi hamba Tuhan fulltime di sini, anak-anak itu menyanyi, lagunya adalah 'God will Provide'. Saya pergi ke sini bukan karena kemauan saya. Jelas sekali Tuhan yang memimpin saya di sini. Pergi ke Sydney dengan seluruh latar belakang saya itu sangat menakutkan. Apa yang saya miliki, talenta tidak banyak dan keuangan juga tidak banyak. Beberapa kali dalam hidup saya, ketika di sini saya kesulitan sekali. Saya tidak pernah meminta kepada Penatua, saya tidak pernah menampakkan wajah sedih kepada Saudara-saudara. Saudara-saudara pasti tidak mengerti apa yang menjadi pergumulan kami, tetapi kalimat daripada anak-anak yang menyanyi 'God will Provide' itu di dalam setiap journey itu terus menyentuh dan ada dalam kepala saya. Setiap kali kami kekurangan, saya tidak berbicara kepada manusia, saya menengadah ke langit. Saya bersyukur kepada-Mu ya Tuhan, karena Engkau sudah berjanji, Engkau akan menyediakan segala sesuatu. Perhatikan baik-baik, semua orang-orang kudus-Nya sudah pernah mengaku ini. Satu kalimat di dalam Alkitab kita, 'Sampai masa tuaku, aku membuktikan Dia tidak pernah curang.' Dia tidak pernah curang. Jika kita berjalan di dalam kehendak-Nya, menjalankan misi-Nya, maka penyediaan-Nya akan terus menerus diberikan tepat pada waktunya. Mengapa engkau khawatir? Percayakan jiwa kita kepada-Nya. Dia adalah Allah yang memelihara kita. Cari dahulu Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya, dan segalanya akan diberikan, ditambahkan kepadamu.

Alamat

556 - 558 Botany Road, Alexandria, NSW, 2015
sekretariat@griisydney.org
0422690913
0430930175

Social Media

Facebook GRII Sydney Instagram GRII Sydney Twitter GRII Sydney


Google Play Store
App Store

^