[simple_crumbs root="Home" /]
kembali

1 May 2022

Pdt. Agus Marjanto, M.Th

Hal Kekhawatiran (2)

Matius 6: 25, 33

Kita terus memikirkan apa yang Tuhan Yesus ajarkan bagi kita tentang kekhawatiran akan pemenuhan kebutuhan hidup. Yesus Kristus  mengatakan: maka jangan kamu khawatir. Kata khawatir di sini di dalam Bahasa Yunaninya adalah merimnate (merimnao), artinya yaitu to worried, to be concerned with. Khawatir ada karena kita peduli, kita memusatkan perhatian kepada sesuatu, perhatian kita terus-menerus diberikan kepadanya. Maka ketika Yesus Kristus mengatakan," Karena itu Aku berkata kepadamu jangan khawatir. Jangan khawatir terhadap pakaian, terhadap makanan, artinya jadi jangan memusatkan perhatian pada apa yang kita makan atau pakai dalam hidup ini. Ini bukan artinya kita masa bodoh atau malas atau ceroboh. Tetapi intinya adalah jangan kita khawatir tentang kebutuhan fisik apalagi kemewahan. Karena keresahan seperti ini, kekhawatiran seperti ini menunjukkan bahwa seluruh keberadaan hidup kita terfokus kepada hal-hal lahiriah ini. Argumen utamanya adalah jikalau Tuhan telah memberikan kepada kita hidup dan tubuh, yang keduanya lebih penting daripada makanan dan pakaian, adalah tidak masuk akal jikalau Dia tidak memberikan kita dua hal yang terakhir ini. Sekali lagi, argumen utamanya adalah Yesus mengajarkan engkau memiliki tubuh, engkau memiliki hidup bahkan kita tidak pernah meminta untuk itu. Allah mengaruniakannya kepada kita. Jikalau Tuhan sudah mengaruniakan dua hal yang lebih penting daripada pakaian dan makanan, maka jikalau kita mengkhawatirkan makanan dan pakaian, maka itu adalah sesuatu yang tidak masuk akal. Kekhawatiran terhadap hal-hal ini menunjukkan hilangnya iman, yang bahkan yang paling dasar dan penyimpangan komitmen terhadap yang lebih berharga yaitu Kerajaan Allah.

Sekali lagi saudara-saudara, pengajaran dari Yesus Kristus ini merupakan tandingan terhadap dunia. Yesus mengumpulkan kita, menjadikan satu dan memberikan Firman kepada kita dengan prinsip-prinsip Kerajaan Allah. Kita diminta hidup dengan nilai-nilai Kerajaan. Kita diminta hidup untuk tujuan Kerajaan. Kita tidak bisa hidup dengan nilai-nilai dan tujuan persis seperti orang-orang dunia. Firman ini memberikan kepada kita bahwa murid-murid Kristus arah yang baru, beda dengan dunia, akan mengapa dan di mana kepedulian dan perjuangan hidup kita itu sekarang diberikan. Di mana kepeduliaan dan perjuangan hidup kita itu diberikan? Apa yang seharusnya menjadi perhatian kita? Apa yang seharusnya menjadi perhatian orang-orang yang ditebus? Kalau Yesus Kristus sudah mati dan bangkit, sudah naik ke surga, apakah itu tidak mengubah perspektif hidup kita? Apa yang seharusnya menjadi perhatian dan perjuangan kita? Bukan makan, bukan minum, bukan pakaian, tetapi Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya. Untuk menjelaskan perikop ini, saya akan membahas 3 titik pandang terlebih dahulu sebelum saya mengeksposisi kalimat demi kalimat untuk memperjelas apa garis besa yang sesungguhnya terjadi dalam hidup kita. Untuk ini maka saya akan membahas case kekhawatiran ini dari 3 titik, yaitu titik creation, fall and redemption. Dari mana kekhawatiran itu timbul? Bagaimana remedy atau penyelesaian yang Yesus Kristus berikan bagi umat Kerajaan-Nya?

Saya akan mulai dari titik pertama, yaitu titik creation melihat case dari kekhawatiran. Kalau kita melihat dari pada Kitab Kejadian, itu adalah titik pada creation. Di Kejadian 1 dan 2, maka saudara-saudara akan menemukan dua hal penting, yaitu kita mengerti natur manusia sesungguhnya itu apa dan tugas manusia sesungguhnya itu apa. Natur adalah sesuatu yang melekat, intrinsik dalam hidup kita. Natur adalah sesuatu yang hakekat di dalam diri kita. Itu adalah sesuatu yang sifatnya ontological yang kita tidak mungkin bisa mengubahnya. Tugas kita adalah untuk apa kita diciptakan? Kalau saudara-saudara melihat dari pada Kitab Kejadian maka saudara akan melihat segala sesuatu hal yang paling hakiki, paling mendasar dalam hidup manusia: natur manusia dan tugas manusia. Secara natur, manusia sampai kapanpun saja manusia adalah ciptaan Allah. Saudara-saudara pasti akan tahu siapa yang perlu diajar dengan kalimat ini, bukan? Kita tahu semua, kita bukan pencipta, kita adalah ciptaan. Tetapi dari kalimat ini akan mendefinisikan hidup kita seluruhnya. Apa artinya manusia adalah ciptaan Allah? Artinya adalah sampai kapanpun saja manusia akan berelasi, mau tidak mau bergantung kepada pribadi Allah. Maka itu artinya, secara intrinsik manusia memiliki kebutuhan terbesar pertama yang terpenting, yang perlu dicukupi adalah kebutuhan akan relasi dengan pribadi Allah itu sendiri.

Yang kedua, adalah secara tugas, untuk apa manusia itu ada? Manusia diberi tugas oleh Allah untuk dijalankan, yaitu mengembangkan, men-develop dunia ini seindah Eden. Saya tidak jelaskan sekarang. Nanti saya akan jelaskan di belakang. Saudara bisa melihat 2 hal ini dalam Kejadian 1. Dan juga pasal yang ke-2. Pasal yang pertama adalah secara khusus berbicara mengenai penciptaan. Pasal yang ke-2 adalah bicara mengenai tugas misi manusia di bumi ini. Saudara perhatikan sekarang! Saya sudah bicara mengenai natur dan saya sudah bicara mengenai tugas. Di dalam relasi dengan pribadi Allah itulah, artinya dalam relasi secara natur dan tugas, semua kebutuhan-kebutuhan kita yang lain akan tercukupi. Sekali lagi, di dalam relasi dengan pribadi Allah itulah, relasi artinya relasi di dalam natur dan tugas semua kebutuhan-kebutuhan yang lain akan tercukupi.

Saya akan masuk lebih dalam. Secara natur, pada waktu creation, Alkitab dengan jelas mengatakan Allah menciptakan manusia. Apa yang membedakan Allah dengan manusia? Ini pertanyaan kelihatannya pertanyaan sepele, tetapi mari kita pikirkan baik-baik. Maka kita mengatakan banyak. Ya memang perbedaan kualitatif, tetapi sejak dari penciptaan bahkan sebelum kita mengenal pribadi Allah, sifat-sifat-Nya, bahkan sebelum kita mengenal Dia berkarya seperti apa, bahkan sebelum kita mengenal Kristus atau Roh Kudus. Ketika kita melihat Alkitab, Allah yang menciptakan manusia dan ada perbedaan kualitatif, maka satu hal yang paling mendasar yang membedakan Allah dengan manusia adalah di dalam diri Allah, self-eternal, self-exist and self-sufficient. Allah kekal pada diri-Nya sendiri. Allah ada pada diri-Nya sendiri dan Allah cukup pada diri-Nya sendiri. Allah dalam Alkitab dinyatakan bahwa Allah adalah Allah yang Tritunggal. Di dalam Ke-Tritunggalan itulah Dia eternal pada diri-Nya sendiri, Dia exist pada diri-Nya sendiri, Dia sufficient pada diri-Nya sendiri. Dia tidak memerlukan sesuatu di luar diri Tritunggal untuk mencukupi diri-Nya sendiri.

Orang-orang beragama yang lain sering mencemooh dari Kekristenan dengan mengatakan, “Oh Allah-nya orang Kristen itu ada 3”. Alkitab mengatakan tidak! Allah kita adalah Allah yang Esa. Ketika bicara mengenai Esa maka di dalamnya ada Tritunggal. Kita menjawab kepada orang-orang di luar jikalau allahmu bukan Allah Tritunggal dan allahmu adalah hanya satu saja maka saudara tidak bisa mengatakan sejak dari kekekalan Allah itu baik adanya. Engkau tidak bisa mengatakan sejak dari kekekalan allah itu kasih adanya. Karena baik itu memerlukan sesuatu di luar diri menyampaikan kebaikan kepada dia. Karena kasih itu menyatakan sesuatu di luar diri di mana aku bisa mengasihi dia, jikalau allah itu hanya satu saja dan bukan Tritunggal, maka allah itu pasti adalah allah yang bergantung kepada ciptaan. Dia memerlukan malaikat, dia memerlukan manusia untuk berbuat baik, untuk mengasihi. Dan allah yang bergantung kepada sesuatu di luar dirinya, bukan Allah. Tetapi lain dengan Alkitab, Bapa, Anak dan Roh Kudus; Allah yang Satu itu; Allah yang Esa itu, Allah Tritunggal mereka saling baik, saling mengasihi satu dengan yang lain. Mereka tidak memerlukan sesuatu di luar diri-Nya untuk mencukupi diri-Nya; tanpa ciptaan, tanpa malaikat, tanpa manusia. Allah tanpa ciptaan tetap Dia adalah Allah yang baik. Allah Tritunggal, baik satu dengan yang lain, Allah Tritunggal, kasih satu dengan yang lain. Alkitab dengan jelas membedakan Allah Tritunggal dengan kita. Dia self-exist, Dia self-eternal, Dia self-sufficient, tetapi manusia tidak. Kita tidak, sampai kapanpun tidak. Sekaya apapun, kita tidak seperti itu. Setinggi apapun kedudukan kita, tidak mungkin seperti itu. Ada perbedaan kualitatif. Kita tidak mungkin akan seperti Allah. Manusia memerlukan sesuatu di luar dirinya untuk memenuhi diri kita. Kita tidak pernah sampai kapanpun saja self-sufficient. Perhatikan kata ini sekali lagi! Sampai kapanpun kita membutuhkan sesuatu di luar kita untuk mencukupi kebutuhan kita, untuk kita bisa memiliki satu fulfilment. Saudara perlu mencintai dan itu memerlukan orang lain bukan? Untuk bergembira, kita memperlukan kondisi atau orang lain bukan? Juga untuk bersukacita, untuk makan, kita bahkan memerlukan benda lain bukan? Intinya sekali lagi, kita memerlukan sesuatu di luar diri kita untuk mencukupi diri kita. Maka perhatikan sekali lagi, secara natur, sifat hakiki kita sebagai manusia, kita memiliki kebutuhan di dalam diri kita yang perlu diisi oleh pihak luar. Manusia secara natur, tergantung kepada Allah yang menciptakan dia, karena kita adalah ciptaan dan Dia pencipta. Kebutuhan pertama dan utama kita sesungguhnya adalah pribadi Allah sendiri dan di dalam relasi dengan pribadi Dialah maka seluruh kebutuhan-kebutuhan kita akan tercukupi. Dari kalimat ini saja, saudara sekarang mengerti, begitu relasi terputus, maka kebutuhan ini ada, tetap ada, tetapi pemenuh kebutuhan sudah tidak ada. Pasti kekhawatiran dan ketakutan muncul di dalam diri kita.

Hal yang kedua adalah bicara mengenai tugas. Manusia diciptakan ada suatu tugas di bumi. Inti tugasnya adalah memperluas Kerajaan Allah di muka bumi. Ini adalah pembahasan tentang Kingdom of God. Kata ini sebenarnya tidak ada di dalam Perjanjian Lama, tetapi ini merupakan benang merah dari Perjanjian Lama sampai Perjanjian Baru. Apa yang menjadi benang merah; teologia yang jadi benang merah Perjanjian Lama sampai Perjanjian Baru? Jawabannya adalah Kerajaan Allah. Ketika bicara mengenai Kerajaan Allah artinya adalah penguasaan Allah, pemerintahan Allah sepenuhnya 100% di dalam hidup kita. Di dalam kitab Kejadian, penguasaan Allah digambarkan di dalam taman Eden. Di dalam kitab Kejadian, dikatakan Allah berjalan-jalan di sore hari dan ketika bertemu dengan manusia berdosa, manusia harus keluar dari taman itu. Kenapa manusia harus keluar dari taman itu? Karena taman Eden adalah satu ilustrasi gambaran Allah yang memerintah sepenuhnya. Tidak boleh ada satu kehendak Allah yang tidak terjadi di dalam taman Eden. Taman Eden adalah simbol Kerajaan Allah di muka bumi ini. Dan manusia diciptakan di dalam taman Eden untuk mengusahakan seluruh bumi seindah dari taman Eden. Itu berarti menyebarkan seluruh pemerintahan Kerajaan Allah di seluruh muka bumi seperti Eden. Lihatlah perintah Allah, beranak cucu, berlipat ganda, usahakan bumi ini seindah Eden. Dan khususnya dalam Kejadian 2:15, saudara-saudara bisa melihat bahwa di situ ada tugas dan Kejadian 2:16 maka di situ ada makanan yang diberikan. Ayat 15 mengatakan, “Tuhan Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memerlihara taman itu. Lalu TUHAN Allah memberikan perintah kepada manusia: “Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas”. Saudara perhatikan ada tugas dan kemudian ada penyediaan. Kemudian ayat yang ke-18, “TUHAN Allah berfirman: Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia”. Saudara lihat ada teman hidup. Itulah sebabnya beberapa tahun yang lalu ketika saya berkhotbah seminar tentang teman hidup, satu setengah jam dan satu jam saya bicara mengenai panggilan. Ada ratusan orang datang. Saya yakin dalam pikiran mereka, mereka salah masuk seminar. Saya mau tahu mengenai teman hidup saya siapa, kenapa ini bicara mengenai panggilan? Tetapi saudara perhatikan teman hidup diberikan setelah Adam tahu panggilannya. Sekarang saya bicara kepada semua anak muda, engkau mencari pacar, engkau mencari jodoh, apakah engkau tahu panggilanmu? Kalau engkau tidak tahu, maka engkau persis seperti orang dunia. Senang, nikah kemudian punya anak, lalu membesarkan, kemudian sudah sampai tua, mati.

Perhatikan sekali lagi, natur dan tugas. Maka di dalam relasi dengan Allah secara natur dan tugas inilah seluruh kebutuhan manusia dijamin diberikan. Itulah sebabnya kalimat Yesus di sini sangat unik. Tuhan aku khawatir, dan Yesus katakan jangan kamu khawatir. “Asik, ok Tuhan apa yang Kau akan berikan padaku? Apa yang Kau akan berikan kepadaku?” Yesus tidak mengatakan, “Jangan kamu khawatir, Aku nanti kasih semuanya.” Tidak. “Tuhan, aku khawatir, jangan kamu khawatir.” “Ok, sekarang apa ini yang Engkau akan berikan kepadaku?” Yesus mengatakan, cari dulu Kerajaan Allah dan kebenarannya semua akan Kutambahkan kepadamu. “Loh, saya ini lagi tidak punya makanan, saya lagi tidak punya uang, saya lagi susah hidupnya. Aku tanya sama Engkau aku lagi khawatir kenapa Engkau jawabnya malah musti kerja sesuatu?” Apakah sadar Yesus sedang mengembalikan hidup kita persis seperti panggilan Adam di Eden? Ini bukan cuma saudara doa lalu dapat makanan dari Tuhan, tidak. Dia mengembalikan orientasi kita seturut dengan panggilan seperti apa manusia seharusnya hidup. Yesus mau mengatakan dengan bahasa yang lebih mudah, engkau diciptakan engkau punya panggilan. Penuhi panggilanmu, jalankan kehendak-Ku dan dalam kondisi seperti itu, jangan kamu khawatir pasti kebutuhanmu Aku akan penuhi.

Kalau saudara perhatikan bahwa struktur perikop ini adalah persis sama, similar dengan struktur Doa Bapa Kami. Di dalam Doa Bapa Kami, ada 2 blok besar berkenaan dengan kebutuhan. Blok pertama yang ada di atas, Bapa kami yang di Sorga dikuduskanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu. Perhatikan ada 3 permohonan yang di atas, Bapa dipermuliakan, kerajaan-Nya datang dan jadi kehendak-Nya. Bapa dipermuliakan jika dan hanya jika Kerajaan-Nya datang dan kerajaan itu datang artinya jika dan hanya jika kehendak-Nya dinyatakan, dijadikan. Ini adalah bicara panggilan terhadap ketaatan kita untuk menggenapkan tugas kita, kehendak Bapa di dalam hidup dan keluarga kita. Saudara jangan bicara berkenaan dengan memuji Tuhan. Mempermuliakan Tuhan adalah bicara mengenai bibir. Alkitab dengan jelas membicarakan memuliakan Allah adalah bicara mengenai obedience (ketaatan). Blok yang kedua dalam Doa Bapa Kami. Pertama, di situ dikatakan berikan makanan kami yang secukupnya itu bicara mengenai penyediaan. Yang ke-2 adalah ampunilah kesalahan kami, itu berbicara mengenai pengampunan. Yang ke-3 adalah jangan membawa kami ke dalam pencobaan berbicara mengenai perlindungan. Ini berbicara mengenai kebutuhan sekarang dan sesuatu yang lalu dan juga sesuatu yang ke depan dan seluruhnya dirangkai. Tiga permohonan di dalam blok yang ke-2. Prinsipnya, 3 permohonan di dalam blok yang ke-2 ini berdiri dan ada dan diminta, di dalam kerangka, menjadikan 3 permohonan yang pertama itu terjadi. Sehingga untuk Kerajaan Allah hadir, nama Allah dipermuliakan, kehendak-Nya itu jadi, maka kita diampuni, maka kita diberikan makanan, maka kita dilindungi dari yang jahat. Pertanyaanya adalah, apakah 3 permohonan pertama itu menjadi permohonan kita? Apakah 3 permohonan pertama itu menjadi kebutuhan kita? Apakah hati kita berteriak, hati kita menginginkan, hati kita membutuhkan nama Allah dipermuliakan, Kerajaan-Nya datang, kehendak-Nya itu jadi? Dan saya akan akhiri dengan beberapa kalimat penting ini, J.I. Packer menyatakan jikalau 3 hal yang di atas itu menjadi keinginan hidup kita, jikalau kita menetapkan hati kita untuk bergerak untuk hidup bagi 3 permohonan pertama itu, maka pasti engkau akan melihat doa-doamu jelas didengar dan dijawab Tuhan. Dan itu benar. Tetapkan hati kita untuk mencari kemuliaan Allah. Tetapkan hati kita untuk meminta Kerajaan-Nya, pimpinan-Nya itu hadir. Tetapkan hati kita untuk belajar taat kepada Dia, maka engkau akan melihat doa-doa kita itu real, dijawab oleh Allah yang hidup. Sungguh-sungguh dijawab oleh Allah yang hidup. Di dalam real track seperti inilah, maka seluruh janji-janji Allah nyata dalam hidup kita. “Tuhan, aku khawatir.” “Jangan kamu khawatir. cari dulu Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya, maka semuannya akan ditambahkan kepadamu.” Kiranya hidup kita yang hanya satu kali, diluruskan oleh Tuhan. Kiranya kehendak-Nya jadi dan kasih sayang-Nya kita bisa alami.

Alamat

556 - 558 Botany Road, Alexandria, NSW, 2015
sekretariat@griisydney.org
0422690913
0430930175

Social Media

Facebook GRII Sydney Instagram GRII Sydney Twitter GRII Sydney


Google Play Store
App Store

^