[simple_crumbs root="Home" /]
kembali

17 April 2022

Pdt. Agus Marjanto, M.Th

God in Unexpected Places (3)

Ibrani 2:14-15

Hari ini adalah hari Minggu Paskah, Kristus bangkit dari kematian. Kematian kuburan adalah tempat yang sangat misterius sebenarnya bagi kita. Ini adalah tempat yang menyatukan kita semua; ada orang yang kaya dan dia tidak mengalami kemiskinan, dan juga ada orang yang mengalami kemiskinan tidak mengalami kekayaan, ada orang yang menikah, ada orang yang tidak menikah, ada orang yang pandai, dan ada orang yang bodoh, ada orang yang berpenyakitan, tetapi ada orang yang begitu sehatnya, ada orang yang tua dan ada orang yang muda. Seluruh konteks kehidupan kita berbeda tetapi kita disatukan oleh satu kenyataan ini yaitu kematian dan kubur. Dan celakanya yang satu, yang menyatukan kita semua ini adalah yang sangat gelap, sangat misterius, sangat menakutkan bagi kita. Salomo dengan seluruh kekayaannya, seluruh hikmatnya menyimpulkan gara-gara karena kematian maka seluruhnya menjadi sia-sia. Kalau saudara-saudara melihat raksasa rohani seperti John Bunyan sekalipun, dia menuliskan buku bernama Pilgrim Progress, ada seorang tokohnya namanya Christian, saudara akan melihat di akhir hidupnya, ketika dia harus melewati laut yang dalam dan itu adalah symbol tentang kematian, maka dia sangat gemetar, dia harus menguatkan dirinya, perlu pertolongan untuk masuk ke dalam lautan kematian itu.

Alkitab dengan jelas yang tadi kita baca mengatakan semua kita diperhamba oleh ketakutan akan kematian. Semua kita menghindari kematian dan kubur tetapi Alkitab dengan jelas menyatakan, Yesus menyatakan, bahwa Dia datang untuk mati. Dia dari surga rela menyerahkan diri-Nya masuk ke dalam kematian, masuk ke dalam liang kubur. Ini adalah sesuatu kalimat yang asing sebenarnya bukankah kubur dan kematian itu sesuatu yang kita hindarkan bukankah kita tidak mengingini sama sekali orang-orang yang kita kasihi masuk ke dalamnya tetapi Alkitab dengan jelas mengatakan Kristus datang untuk mati. Sering kita tidak menyadari satu sengat dari kematian dan begitu bahayanya kematian karena di sekitar kita, setiap hari, ada yang mati, karena kita berpikir, ya manusia musti mati, tetapi sesungguhnya, sekali lagi, kematian itu menakutkan, kematian itu kegelapan. Apakah sesungguhnya kematian itu? Kalau saudara-saudara memikirkan apa sesungguhnya kematian itu, maka kematian itu sendiri sangat sulit untuk kita mengerti, ini suatu misteri minimal karena dua hal ini. Yang pertama adalah karena yang menceritakan tentang kematian adalah orang yang hidup belum pernah mati bahkan di dalam Alkitab pun maka cerita tentang kematian dikisahkan oleh orang yang hidup dan yang bukan mati. Meskipun begitu, kita mengerti semua bahwa Roh Kudus yang menginspirasikan Firman ini pastilah menyatakan hal-hal yang sebenarnya tentang kedalaman kematian. Yang kedua, kematian itu misterius terutama bagi kita orang Kristen karena setiap kali kita itu membicarakannya selalu kita membicarakannya di dalam terang kebangkitan Kristus. Sehingga kegelapannya, ketakutannya, kengeriannya tidak terlalu kita rasa.

Kematian apakah itu? Dan kita bisa mengertinya mungkin secara fisik saja tetapi sebenarnya secara mental dan secara spiritual itu begitu menakutkan. Kita hanya mengerti kematian di dalam konteks fisik. Jadi apa itu kematian? Oh, kematian itu dari yang indah menjadi busuk.  Kalau saudara-saudara melihat seseorang, saudara kemudian ingin memeluk orang yang saudara sayang. Saudara melihat seseorang laki atau perempuan, anak-anak muda, lalu kemudian  menyukai dia, saudara ingin dekat memegang dia. Suami isteri, anak-anak, saling  berpelukan ingin dekat tetapi begitu seseorang itu mati, maka ada sesuatu yang dia itu kemudian luruh, ada sesuatu yang mengerikan itu terjadi, bahkan orang yang terdekat, ketika dia itu mati, saudara pegang dia, saudara akan terkejut karena lain, sudah tidak hangat lagi, seperti seseorang yang saudara tidak terlalu kenal. Ketika saya mengunjungi mama saya yang sedang koma, saya sudah terlambat beberapa hari, tetapi alat penunjang kehidupannya tetap dipasang. Dokter sudah mengatakan sebenarnya ini kalau dilepas, orangnya juga sudah tidak ada, maka saya masuk ke ruangan itu saya melihat mama saya, semuanya masih baik dan terakhir mengucapkan selamat tinggal kepada dia sebelum alat itu kemudian dilepas dan saya mencium dia, begitu saya mencium dia, saya kaget, ini lain, dia sebenarnya sudah tidak ada. Kita mulai tidak bisa dekat dengan dia, kita tidak mau dekat dengan dia. Apa itu kematian secara fisik dari indah menjadi mengerikan secara fisik, juga kematian itu adalah dari ada menjadi tidak ada. Ada, tidak ada. Apa itu tidak ada? Tidak ada ya tidak ada.

Allah menciptakan dari tidak ada menjadi ada, lalu kemudian kita semua bayangkan tidak ada, Allah menciptakan dari tidak ada menjadi ada lalu kemudian semua membayangkan tidak ada, lalu kemudian ditanya apa yang kamu bayangkan lalu kemudian orang itu mengatakan saya membayangkan suatu yang putih, itu ada, orang lain ditanya kamu bayangkan apa saya bayangkan sesuatu yang kosong, kalau kamu bisa bayangkan itu berarti ada, tidak ada itu tidak ada, tidak bisa saudara bayangkan. Allah menciptakan dari tidak ada menjadi ada, tetapi kematian itu membuat ada menjadi tidak ada. Kalau kita sudah kehilangan orang yang kita kasihi, di dalam beberapa bulan kita itu masuk lagi ke ruangannya, ada sesuatu yang aneh terjadi. Ketika kita melihat bajunya, kita teringat akan orangnya, ketika kita melihat topinya, kita teringat orangnya, kalau orangnya suka minum kopi maka kita membaui jenis kopi itu kita teringat akan orangnya dan ketika kita teringat dengan sendirinya, kita teringat dengan sendirinya, kita mengatakan “papa” tetapi tidak ada lagi. Meski begitu, apa yang sesungguhnya terjadi, kedalaman kematian itu bukan di sana, Mazmur 88  menyatakannya.

Mazmur 88 menyatakan apa itu kengerian kematian? Mazmur ini adalah Mazmur yang paling kelam dari seluruh Mazmur. Kalau saudara-saudara melihat mazmur ratapan sekalipun, saudara-saudara akan melihat adanya kesedihan tetapi di akhir mazmurnya terlihat ada pengharapan, ada cahaya yang membuat pemazmur memiliki kekuatan hidup lagi, tetapi kalau saudara-saudara melihat Mazmur 88, tidak terjadi seperti itu. dari awal sampai akhir seluruhnya kelam dan tidak ada pengharapan sekalipun. Beberapa komentator membedah mazmur ini dengan memakai outline pembagian, Tetapi ada komentator yang mengatakan outline pembagian itu tidak diperlukan karena pemazmur dengan jelas dalam Mazmur 88 menuliskan alur tulisannya bergerak pada penderitaan dan keputusasaan demikian seterusnya. Mazmur 88 adalah mazmur kegelapan dan jikalau saudara-saudara memperhatikan, maka pemazmur sedang berbicara mengenai satu hal, kematian, kuburan. Saudara-saudara apa itu kematian? Adalah total kegelapan, kegelapan secara keseluruhan. Kuburan digambarkan sebagia tempat yang dilupakan Tuhan. Pada saat kematian, orang tidak lagi bisa memuji Tuhan, tetapi lebih celaka lagi, Tuhan tidak mengingat mereka lagi. Seorang biarawan middle age bernama Saint John the Cross pernah menuliskan buku berjudul Dark Night of the Soul. Intinya buku ini menyatakan keadaan penderitaan spiritual yang intense di mana orang percaya bergumul dan putus asa merasa ditinggalkan oleh Tuhan. Pasal 88 bisa dikatakan adalah dark night of the soul. Kalau saudara-saudara membaca Mazmur 88, kematian adalah bukan status quo, bukan keadaan tertidur, kematian adalah suatu keadaan yang dapat dirasa, ada kesadaran, tetapi masalahnya adalah kesadarannya itu seluruhnya negatif sangat sengsara, kematian dipandang tetap memiliki hubungan dengan Allah tetapi secara total antithesis dan sama sekali tidak ada pengharapan sedikit pun bagi orang-orang yang telah mati.

Saudara-saudara pagi ini saya meminta saudara-saudara melihat Mazmur 88 kita akan lihat satu kalimat demi satu kalimat. Sekali lagi mazmur ini menggambarkan kematian di liang kubur. Kalau kita melihat deskripsinya, dia menyatakan kalau dia hidup tetapi sebenarnya dia itu sangat dekat dengan kematian dan bahkan dia meyakini bahwa hidupnya adalah kematian itu sendiri. Kalau saudara-saudara membaca keseluruhannya, saudara akan melihat teriakannya berulang-ulang kali untuk dia tidak masuk ke kematian. Dia mau menghindari kubur itu, dia menggambarkan seluruh detail mengenai kubur itu dan dia sangat takut dia berteriak sama Tuhan, lepaskan aku dari kubur ini. Kematian apa saja elmen-elemennya Mazmur 88 menggambarkan kepada kita beberapa hal ini. Pertama kematian itu sifatnya menyeret kita. Kita tidak memiliki kekuatan untuk menahannya, kehendak kita dikalahkan oleh kehendak kematian. Mazmur 88:5 “Aku telah dianggap termasuk orang-orang yang turun ke liang kubur; aku seperti orang yang tidak berkekuatan.” Di sini pemazmur mengungkapkan kematian adalah sesuatu kekuatan besar yang tidak bisa dilawan. Dia berusaha untuk menahannya tetapi dia tidak memiliki kekuatan. Pemzamur mau mengatakan hai semua manusia apakah kita sadar, sekuat apapun saja kekuatan kematian menarik kita ke kubur jauh lebih besar. Saudara dan saya rela atau tidak rela kita akan ditarik ke dalamnya. Kalau saudara-saudara melihat beberapa lukisan klasik, saudara akan menemukan hal-hal seperti ini itu dinyatakan. Ada lukisan berkenaan dengan satu orang wanita yang sangat indah dan kuat tetapi berusaha untuk ditarik ke dalam kematian. Juga ada lukisan berkenaan dengan satu wajah perempuan dengan 3-4 postur yang dari muda sampai setengah tua, sampai tua dan menuju kepada kematian dan ketika pelukis itu melukiskannya maka terlihat perempuan ini tidak rela ditarik menuju ketuaan dan kematian. Saudara-saudara, kematian itu sifatnya menyeret kita.

Hal yang lain selain menyeret saudara-saudara kematian itu menyekap, membelenggu, menguasai kita membuat kita tidak berkutik tidak bergerak tidak lagi seperti orang hidup yang bisa bergerak bebas.  Ayat yang ke-6, “Aku harus tinggal di antara orang-orang mati, seperti orang-orang yang mati dibunuh, terbaring dalam kubur,” Ayat ke-9, “Aku tertahan dan tidak dapat keluar;” Kematian itu membelenggu, menyekap kita, menguasai kita membuat kita tidak bisa bergerak. Hal yang lain di dalam kematian, Tuhan tidak lagi mengingat kita. Orang yang mati tidak dipedulikan oleh Allah, tidak ada pemeliharaan Allah, providensia Allah, tangan Allah tidak bergerak menjangkau orang yang sudah mati. Ayat ke-6 dari Mazmur 88 mengatakan, “Aku harus tinggal di antara orang-orang mati, yang tidak Kauingat lagi, sebab mereka terputus dari kuasa-Mu.” Hal yang lain lagi kematian disebut kesendirian dalam gelap, tempat sengsara, keadaan putus asa dan negeri segala lupa. Saudara-saudara perhatikan kalau saudara-saudara tidak bisa menyimak dengan detail di saat ini, saya minta saudara-saudara kembali ke rumah nanti saudara melihat Mazmur 88. Saudara akan lihat apa yang disinonimkan, disamakan oleh pemazmur tentang kematian, kematian disebut kesendirian dalam kegelapan. Ayat 19 mengatakan “Telah Kaujauhkan dari padaku sahabat dan teman, kenalan-kenalanku adalah kegelapan.”

Saudara-saudara kematian juga disebut sebagai tempat sengsara. Ayat yang ke-10 dikatakan, “mataku merana karena sengsara.” Kematian juga disebut sebagai tempat yang gelap terdalam, bukan saja gelap tapi gelap terdalam, tidak ada lebih dalam daripada kedalaman ini. Ayat ke-7 mengatakan, “Telah Kautaruh aku dalam liang kubur yang paling bawah, dalam kegelapan, dalam tempat yang dalam.” Saudara-saudara ayat 16 mengatakan kematian adalah keputusasaan, kematian adalah negeri putus asa. Yang membuat saudara masih bisa tertawa, tersenyum hari ini karena masih ada asa, masih ada pengharapan.

Seberapapun seseorang menderita, saudara-saudara perhatikan baik-baik, kalau dia hari ini masih hidup, tidak membunuh dirinya, seberapa pun penderitaannya, itu artinya di dalam hatinya masih ada pengharapan, masih ada asa, entah darimana, entah bentuknya apa, dia masih ada pengharapan, tetapi kalau sudah tidak ada pengharapan, pasti bunuh diri, pasti itu! Jadi kalau orang bunuh diri itu artinya orang itu sudah tidak lagi menganggap diri ada harapan secuil pun. Lebih mengerikan lagi ayat 13, di situ dikatakan, “Diketahui orangkah keajaiban-keajaiban-Mu dalam kegelapan, dan keadilan-Mu di negeri segala lupa?” Kematian kuburan itu adalah negeri segala lupa. Dan kita, salah satu hal yang kita takutkan adalah kita dilupakan. Kenapa kita difoto? Kenapa direkam? Karena supaya bisa diabadikan, Saudara perhatikan, ‘abadi’. Saudara-saudara, kita tidak ingin dilupakan tetapi kematian adalah negeri segala lupa, siapa yang masih mengingat kakek dari kakek anda? Siapa yang masih mengingat dia? Apakah ada satu orang di dunia ini masih mengingat dia? Bukankah dia masuk ke liang kubur dan hari ini tidak ada seorang pun mengingat dia, bahkan mungkin namanya pun sudah dilupakan Jangankan hobinya, jangankan makanan kesukaannya, siapa yang peduli akan cita-citanya? Negeri segala lupa. Dan itu adalah kematian.

Pemazmur kemudian menyatakan sesungguhnya menerima kematian adalah menerima murka dan terror Allah yang dahsyat. Menerima kematian adalah kita digulung oleh murka Allah dan itu adalah kebenaran. Karena memang karena dosa, manusia itu mati. Mati adalah terputus dari Allah, Allah murka kepada kita manusia yang berdosa dan kita menerima murka Allah. Ayat 8 menyatakan, “Aku tertekan oleh panas murka-Mu, dan segala pecahan ombak-Mu Kautindihkan kepadaku.” Ayat 15 menyatakan, “Mengapa, ya TUHAN, Kaubuang aku, Kausembunyikan wajah-Mu dari padaku?” Ayat 16 menyatakan, “Aku telah menanggung kengerian dari pada-Mu, aku putus asa.” Ayat 17 menyatakan, “Kehangatan murka-Mu menimpa aku, kedahsyatan-Mu membungkamkan aku.” Ayat 18 menyatakan, “Mengelilingi aku seperti air banjir sepanjang hari, mengepung aku serentak.” Saudara perhatikan ada lima kalimat yang begitu panjang di dalam satu mazmur ini mau menyatakan hal yang sama, bahwa seseorang itu jikalau mati, artinya dia menerima murka dan terror Allah yang dahsyat. Sekali lagi saudara-saudara, ini adalah kalimat yang mungkin tidak bisa masuk dalam pikiran dan hati kita karena kita hidup di dalam perspektif kebangkitan Kristus tetapi sesungguhnya inilah yang terjadi ini terjadi bagi semua orang yang di luar Kristus.

Ini terjadi kepada semua manusia, sesungguhnya kita, jikalau Kristus tidak hadir di kubur. Saudara perlu membaca Mazmur 88 untuk mengerti betapa beruntungnya kita kalau kita ada di dalam Kristus.  Kita sesungguhnya tidak bisa menjangkau hal tersederhana dari berkat yang Tuhan berikan kepada kita artinya apa? Karena sungguh-sungguh kematian dan kubur itu luar biasa menakutkan. Tuhan sendiri yang menyatakan kepada kita, ini sangat menakutkan, engkau tidak bisa main-main. Ayat 9 menyatakan kematian itu adalah kesendirian, kesepian, tidak ada satupun yang dekat dan bisa menghibur. Kematian itu, kita terisolasi. Terisolasi. Kemarin kita melihat di whatsapp ada beredar bagaimana orang-orang di China itu di satu kota, saya lupa kotanya apa dan mereka harus di-lockdown. Dan di dalam apartemen-apartemen yang menjulang itu, jalanan seluruhnya kosong karena seluruhnya harus di-lockdown. Sudah berapa bulan mereka di sana, mereka sudah tidak tahan. Mereka keluar di lobby apartemen mereka di tingkat-tingkat yang tinggi dan begitu banyak puluhan, bahkan ratusan orang teriak-teriak, sudah tidak tahan saudara-saudara. Saudara kalau diisolasi, saudara kalau di-lockdown, ada keluarga pun, saudara sudah tidak bisa tahan. Langsung sakit mental kita di dalam beberapa bulan. Kematian adalah lockdown selama-lamanya. Selanjutnya saudara-saudara, ayat 11 menyatakan, “Apakah Kaulakukan keajaiban bagi orang-orang mati? Masakan arwah bangkit untuk bersyukur kepada-Mu?” dan ayat 12 menyatakan, “Dapatkah kasih-Mu diberitakan di dalam kubur, dan kesetiaan-Mu di tempat kebinasaan?” Ayat 11 kata bagi orang-orang mati, bahasa aslinya itu adalah bukan orang mati saudara-saudara, tetapi sisa-sisa kehidupan. Sisa, debu, yang meluruh, tertiup sama angin. Kita seperti itu, kita akan seperti itu. Di sini juga dikatakan tidak ada kebaikan Tuhan dalam kematian. Masakan arwah bangkit untuk bersyukur kepada-Mu, saudara masih bisa bersyukur bukan kepada Tuhan? Saudara tidak mau kenal sama Tuhan pun kadang-kadang, Tuhan terima kasih ya untuk dapat berkat seperti ini. Pemazmur mengatakan saudara tidak akan mendapatkan kemurahan apapun di dalam kubur. Tidak punya kemampuan arwah untuk bersyukur. Dan dapatkah kasih-Mu diberitakan di dalam kubur, dan kesetiaan-Mu di tempat kebinasaan?

Saya sedang memberitakan tentang kasih Tuhan kepada saudara. Ketika saudara memberitakan Injil, ketika saudara berbicara kepada orang tentang Kristus, saudara sedang memberitakan pekerjaan Tuhan dan kasih Tuhan kepada orang lain. Hidup kita masih ada urusannya dengan pekerjaan Tuhan tetapi di dalam kuburan, tidak ada urusan lagi dengan pekerjaan Tuhan untuk dilakukan. Tidak ada lagi urusan dengan pekerjaan Tuhan untuk dilakukan. Saudara tidak akan menyanyi untuk Tuhan di kuburan. Saudara tidak akan bermain piano di dalam kuburan. Saudara tidak akan memberitakan Injil, berkotbah di dalam kuburan. Maka kalau mau melayani Tuhan, sekarang! Sekarang! Begitu kita Sudah dikubur, saudara tidak ada lagi urusan lagi dengan pekerjaan Tuhan. Betapa bodohnya kita! Betapa bebalnya kita! Masih hidup, masih ada kesempatan melayani, tidak mau! Kalau sudah dikubur, sehebat apapun, serohani apapun, sedekat apapun sama Tuhan, tidak ada kesempatan melayani. Kuburan dinyatakan sebagai satu tempat yang sangat dahsyat gelapnya dan ngeri. Dan terhadap keadaan yang seperti itu Kristus mau masuk. Pemazmur mau menghindari, Salomo mau menghindari, seluruh raja-raja, kaum yang tersaleh sekalipun mau menghindari, kita mau menghindari tetapi Kristus mau masuk. Seluruh manusia bahkan tidak mau mendekatinya. Saya terus berpikir, kenapa Engkau mau masuk? Engkau yang ada dan bertahta di sorga, di dalam kebahagiaan kekal untuk selama-lamanya. Kenapa Engkau memutuskan hati untuk mati dan masuk ke dalam kuburan? Saya terus memikirkan mengapa rencana Allah mengikutsertakan kubur di dalamnya. Mengapa rencana Allah tidak berhenti di Betlehem saja? Kenapa harus ada Getsemani? Kenapa harus ada pengadilan? Mengapa harus ada salib? Dan mengapa harus ada kubur? Mengapa Kristus masuk di tempat kuburan, tempat yang tidak terduga ini? Sekali lagi saya bisa mengkotbahkan dengan panjang lebar tetapi pada pagi hari ini saya akan menekankan tentang dua hal ini saja.

Yang pertama untuk menyatakan bahwa Dia menang atas kuasa setan di singgasana setan yaitu kuburan. Dia menyatakan menang atas kuasa setan, menang atas kuasa kubur. Kristus menaklukkan kuasa kematian tepat di singgasananya, yaitu kubur. Kristus bersinar di dalam kegelapan kubur. Kalau saudara-saudara membaca tulisan Injil, Saudara-saudara akan menemukan kegaduhan dari semua orang-orang di Yerusalem. Di tengah-tengah Paskah dan orang-orang jahat itu berkeliaran di mana-mana, mereka berusaha untuk membunuh Yesus. Saudara akan melihat dan membaca riuh rendahnya keadaan Yerusalem. Dan semua orang menyatakan kemenangan dirinya sendiri. Ketamakannya itu diproklamirkan, kejahatannya itu diproklamirkan, kebingasannya itu dibanggakan, dan Yesus kemudian dimasukkan ke dalam kuburan itu. Tetapi ketika mereka semua tertidur, di dalam anugerah yang begitu indah, pagi-pagi benar hari Minggu ini ribuan tahun yang lalu, maka Yesus itu bangkit. Tidak ada yang mengetahuinya tetapi para murid-Nya, wanita itu datang ke kubur itu. Suatu perjalanan dengan keputusasaan. Pagi-pagi benar, semua tidak ada yang tahu, sangat silent dan tiba-tiba mereka bertemu dengan malaikat yang duduk di tempat kubur itu menyatakan dengan lirih saja, menyatakan dengan sangat lembut saja, satu kalimat yang tidak bisa diucapkan oleh manusia manapun, mengalahkan seluruh penguasa manapun. Satu kalimat, proklamasi Injil, proklamasi kabar baik di dalam tempat orang mati, “Mengapa engkau mencari yang hidup di tengah orang mati?” Satu kalimat menghabisi seluruh agama. Satu kalimat menghabisi orang bijak. “Mengapa engkau mencari yang hidup di tengah orang mati?” Dia hidup! Dia hidup! Dia mengalahkan setan tepat di atas singgasananya. Memberikan pengharapan bagi semua umat-Nya. Membalik seluruh Mazmur 88 menjadi Mazmur terang. Kristus menebus semuanya ini. Terusan kuburan, maka di dalam Kristus adalah kehidupan. Saya tidak tahu, Tuhan itu bagaimana cara berpikir-Nya. Kalau Dia bicara itu, kalau Dia bertindak itu, tidak teriak-teriak seperti saya. Tetapi panggilan pengkotbah adalah meneriakkan dengan keras apa yang begitu lembut itu. Kalau saudara tidak mengerti isi hati Injil dan isi hati Tuhan, saudara akan pikir oh aku lembut, lembut - Tuhan lembut, no. Suatu yang lembut di dalam Alkitab tetapi begitu tajam harus diteriakkan sampai seluruh manusia mendengar. Suara di kuburan oleh malaikat itu begitu lirih, begitu lembut dan begitu sangat kekuatan kuasa didengarkan oleh wanita. Seorang yang lembut tapi begitu tahu itu, dia langsung lari, tidak lembut lagi. Begitu tahu, dia langsung pergi, Tuhan bangkit! Tuhan bangkit! Bicara terus-menerus. Seluruh hamba Tuhan, kalau mengerti isi hati Tuhan, dia akan membangkitkan kalimat yang lembut itu menjadi sesuatu proklamasi bagi dunia. “Mengapa engkau mencari yang hidup di tengah-tengah orang mati?” Di dalam Kristus, terusan kuburan itu adalah kehidupan. Maka semua umat-Nya di dalam Kristus, sekarang dapat menghampiri kematian dengan sukacita. Sekali lagi karena kematian adalah pintu terhadap kehidupan yang kekal. Kematian adalah pintu dari hidup bersama Tuhan selama-lamanya di dalam kemuliaan. “Mengapa mencari yang hidup di tengah-tengah yang mati?” Saya tidak tahu sekali lagi, mengapa yah Tuhan Engkau memproklamirkan hal ini di dalam kuburan dan hanya sedikit orang yang tahu. Mengapa Kristus mau masuk di tempat yang tidak terduga ini?  


Hal yang ke-2 adalah Kristus mau menjadi satu dengan umat-Nya. Salah satu konsep Alkitab yang mencengangkan adalah Union with Christ. Union with Christ.  Kalau saudara-saudara melihat di dalam Alkitab, maka orang Kristen yang sejati itu identitasnya bukan saya, saya lagi, bukan I tetapi we, karena sekarang adalah berdua dengan Kristus.  Kita diselamatkan itu bukan Kristus melakukan perbuatan baik, lalu kemudian diberikan kepada kita lalu kita masuk ke sorga karena perbuatannya Dia. Itu adalah benar karena itu membicarakan mengenai substitusi. Itu adalah bagian teologia sendiri. Tetapi pengertian substitusi itu selalu akan digabungkan dengan kesatuan, Union with Christ. Intinya, ketika bicara mengenai keselamatan, bukan eh aku sudah kerjakan yang baik ya, ini aku kasih sama kamu dan kemudian kamu pergi ke sorga karena jasaku. Tetapi Alkitab menyatakan ketika kita bicara mengenai keselamatan adalah Kristus yang menemani kita, Kristus yang menjadi satu dengan kita, kesatuan dengan Kristus. Kristus menjadi satu dengan kita di dalam seluruh langkah hidup manusia. Di dalam penderitaan, kita menjadi satu dengan Dia. Di dalam kematian, kita menjadi satu dengan Dia. Dia menemani kita di dalam kematian. Dia menemani kita dalam keseharian sehari-hari. Apakah kita melupakan satu kalimat penting ini, God with us? God with us. Dia beserta dengan kita. Di manapun saja kita berada. Hai Jemaat, di manapun saja engkau dan saya berada. Di dalam kesendirian seperti Getsemani, God with us. Di dalam keadaan yang bahaya, yang paling gelap dan menakutkan seperti pengadilan itu, God with us. Di dalam salib, hari matinya kita, God with us. Di tengah-tengah kuburan itu, ketika semua orang melupakan kita, God with us. Tongkat-Mu dan gada-Mu, itulah yang menghibur aku. Di dalam lembah bayang kematian, kenapa Kristus mau masuk ke kubur? Adalah karena Dia mau menemani, menjadi satu dengan manusia, pilihan-Nya, saudara dan saya. Di kubur itu, di tempat tergelap, di tempat yang terngeri, di tempat yang terdalam, di mana kita ada nantinya, Kristus ada di sana menjangkau umat-Nya, menjadikan satu dengan diri-Nya sehingga umat-Nya dapat mengatakan aku mati bersama dengan Kristus dan suatu hari aku akan bangkit bersama dengan Dia. Saya sudah menyelesaikan dari tiga kotbah ini. Dan saya akan memberikan suatu summary untuk mengakhiri semuanya. Kita sudah membicarakan tiga tempat yang mengerikan yang Yesus mau masuk ke dalamnya, Getsemani, pengadilan dan salib dan kuburan. Apa yang dapat kita lihat?

Hal yang pertama, keseriusan dosa. Saudara mau terima atau tidak kalimat ini, kenyataan hidup kita akan mengajarkan mengenai keseriusan dosa.  Kita tidak bisa memelihara dosa. Kita tidak bisa bersatu dengan dosa. Sangat jahat bagi kita dan bagi Kristus. Dosa itu kuasa yang luar biasa jahat. Jangan pernah berpikir bahwa saya akan berhenti di sini saja. Dosa akan terus membawa, menyeret kita untuk sesuatu yang jauh lebih buruk daripada apa yang kita pikir. Bahkan saudara dan saya akan sangat terheran-heran dengan diri kita sendiri kok bisa menjadi seperti ini. Dosalah yang membuat imam besar itu berlaku seperti itu. Pilatus seperti itu, Yudas seperti itu, murid-murid-Nya seperti itu, seluruh orang-orang di kota Yerusalem seperti itu. Dosa itu luar biasa serius. 

Hal yang ke-2, apa yang dapat kita lihat dari semuanya ini? Keseriusan Allah dealing dengan dosa. Dosa adalah sesuatu yang serius dan Allah begitu serius menghadapi dosa. Allah tidak bisa mematikan kuasa dosa dengan mulut-Nya. Saudara perhatikan baik-baik, Allah tidak bisa mematahkan kuasa dosa dengan mulut-Nya. Dengan mulut-Nya, dengan Firman-Nya, Allah bisa menciptakan langit dan bumi. Dengan Firman-Nya, dengan mulut-Nya, Dia bisa menciptakan seluruh galaksi tata surya yang luar biasa menakjubkan itu. Tetapi untuk mematikan dosa yang ada di dalam dirimu dan saya, Dia harus menjalani seluruh dari tempat penderitaan ini. Dia yang menenangkan dari laut itu. Diam, dan seluruh lautan itu diam. Dia tidak bisa menenangkan dari nafsu kita dengan mengatakan diam dan kemudian nafsu kita menjadi diam, tidak bisa. Untuk bisa meredakannya, untuk kita tidak lagi muncul dengan kekuatan kuasa dosa, Dia harus mati di atas kayu salib. Baru kuasa setan, dosa, kubur itu dikalahkan.

Terakhir yang ke-3, ingatlah rencana keselamatan Allah. Seluruhnya ini dilakukan agar rencana Allah di sorga itu jadi di bumi. Ini adalah proses penebusanmu dan saya. Inilah yang disebut sebagai salvation, keselamatan itu. Dan rencana keselamatan Allah itu untuk apa? agar kehendak-Nya jadi. Agar kehendak-Nya jadi di dalam hidupmu dan hidupku. Di dalam Efesus 2:10, ada satu ayat: “Karena kita ini buatan Allah dan di dalam Kristus, Allah sudah memberikan kepada kita satu tugas untuk melakukan pekerjaan-Nya yang mulia. Dia mau untuk kita hidup melakukan pekerjaan yang mulia itu, Ia mau supaya kita hidup di dalamnya.” Terimalah kematian dan kebangkitan-Nya. Tunduklah kita kepada Raja di atas segala raja itu. Dan biarkan kematian dan kebangkitan-Nya, kuasa-Nya memenuhi hati dan hidup kita. Sehingga kekuatan kuasa-Nya dapat memberikan kepada kita kuasa untuk mematikan dosa itu. Dan bukan saja mematikan dosa tetapi mematikan dosa dan hidup bagi Allah. Paulus menyatakan mati terhadap dosa dan hidup bagi Allah. Dan kedua hal ini bisa terjadi dalam hidup kita yang hanya satu kali, jika dan hanya jika kematian-Nya dan kebangkitan-Nya nyata di dalam hidup kita, di dalam hati kita. Biarlah kita boleh hidup di dalam kehidupan kebangkitan Kristus. Jangan lagi hidup sama seperti orang yang tidak ditebus. Tetapi hiduplah dengan prinsip penebusan, dengan kenyataan penebusan. Kristus sudah mati dan bangkit bagi kita. Dia menebus dan membeli hidup kita. Dan bukan saja menebus dan membeli kita untuk kita pergi ke sorga tetapi untuk kita hidup di dunia ini untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan yang mulia yang sudah Dia tentukan untuk kita. Dia mau kita hidup di dalam-Nya. Terpujilah Tuhan yang bangkit pada hari ini. Terpujilah Tuhan yang tidak terkalahkan oleh seluruh musuh-Nya. Terpujilah kuasa kegelapan yang sudah dikalahkan-Nya. Terpujilah Dia yang memberikan kepada kita harapan untuk hidup yang mulia di dunia ini dan di dalam kekekalan. Dan kita tidak lagi takut terhadap kematian dan semua orang yang sudah pernah, orang-orang yang dikasihinya itu meninggal, biarlah engkau hapus air matamu karena terusan kematian itu di dalam Kristus adalah kebangkitan. Terpujilah nama Tuhan.

Alamat

556 - 558 Botany Road, Alexandria, NSW, 2015
sekretariat@griisydney.org
0422690913
0430930175

Social Media

Facebook GRII Sydney Instagram GRII Sydney Twitter GRII Sydney


Google Play Store
App Store

^