[simple_crumbs root="Home" /]
kembali

16 April 2022

Pdt. Agus Marjanto, M.Th

God in Unexpected Places (2)

Ibrani 7:26-26, 10:5-7, 1 Petrus 1:18-19

Hari ini kita akan meneliti tempat lain selain Getsemani yang dimasuki oleh Yesus. Tempat itu tempat yang gelap dan tempat itu adalah tempat pengadilan dan salib. Perhatikan! Penderitaan Kristus adalah gabungan antara murka Allah dan kejahatan manusia yang tertinggi. Jikalau kita meneliti apa yang Yesus alami di pengadilan dan salib, maka kita tidak akan bisa mengerti mengapa Yesus harus datang ke tempat ini. Dengan pengetahuan-Nya, dengan kekuatan kuasa-Nya, Dia mudah sekali dan mampu untuk menghindarkan dua tempat ini. Sama seperti kemarin ketika Dia masuk ke Getsemani adalah inisiatif-Nya sendiri membuat Yudas bisa menangkap Dia. Di dalam ayat-ayat Alkitab akan menemukan di mana Kristus merendahkan diri-Nya untuk bisa ditangkap. Pada waktu Yesus ada di Getsemani, Yudas, seluruh pengawal dan semua tentara Bait Suci datang mengepung Dia. Dengan tenang Dia berdiri dan menatap seluruh orang yang ada di depan-Nya. Satu orang melawan puluhan orang. Dengan lembut Dia bertanya, siapa yang engkau cari? Semua orang dengan geram mengatakan Yesus dari Nazaret. Dengan tenang dan dengan kekuatan kuasa Yesus mengatakan “Akulah Dia.” Kemudian Alkitab mengatakan semua mereka terpelanting ke belakang. Ketika Allah mencelikkan sedikit saja bagaimana Dia memiliki kegemilangan, tidak ada satu manusia pun yang bisa tahan di depan Dia. Tetapi Dia merendahkan diri-Nya, membuat diri-Nya bisa ditangkap. Dia bukan saja bisa lari, Dia bisa membunuh semua orang di depan-Nya, tetapi Dia menyerahkan diri-Nya dengan kerelaan. Petrus tidak rela, Petrus langsung mengambil pedang, dan memotong telinga Malkhus, hamba imam besar. Yesus tidak membela Petrus, Yesus memarahi Petrus, dan Yesus mengatakan “Apakah engkau pikir Aku tidak bisa mengirimkan 12 legion malaikat untuk membela Aku hari ini?” 12 legion  malaikat itu berapa banyak? Satu legion adalah 6000, berarti itu adalah 72 ribu malaikat. Kalau Saudara membaca dalam kitab Raja-Raja, ada satu peristiwa yang sangat krusial pada waktu itu. Yerusalem diserbu oleh tentara Sanherib dari Asyur. Semua orang Yerusalem takut dan rajanya pun takut. Sebentar lagi mereka akan mati. Kemudian rakyat itu berdoa kepada Tuhan dan Tuhan memberikan belas kasihan. Alkitab mencatat malam hari itu, satu malaikat Tuhan datang ke perkemahan tentara Asyur, mematikan 185 ribu tentara yang gagah perkasa dalam satu malam. Apa artinya? Kalau di Getsemani Yesus mengatakan “Apakah engkau pikir Aku tidak bisa mengirimkan 12 legion malaikat?” Kalau satu malaikat saja, satu malam 185 ribu mati. Artinya Yesus memiliki kuasa, detik itu bukan saja seluruh orang yang menangkap Dia, seluruh Yerusalem, seluruh dunia pun bisa dihabisi. Tetapi inilah kerendahan hati raja gereja, Dia menyerahkan kuasa-Nya, meletakkan semuanya, dengan sukarela Dia membuat diri-Nya bisa diborgol. Lihatlah, semua murid-murid-Nya melarikan diri. Tidak terlihat satu orang pun, semuanya mau pergi, pergi keluar, lari dari keadaan dan dari tempat itu. Mereka lari dari Getsemani, lari dari pengadilan, bahkan Petrus yang paling dekat pun akhirnya menghina dan mengatakan dirinya tidak mengenal Yesus. Dia sungguh-sungguh menyatakan “Aku bersumpah aku tidak kenal orang itu.” Dia mengatakan demikian tiga kali. Untuk apa? Untuk menghindari pengadilan. Getsemani dihindari, pengadilan dihindari, salib dihindari, tidak ada yang mau masuk ke tempat itu tetapi Allah kita mau masuk ke tempat itu.

Ketika Yesus mulai ditangkap maka Yesus sendiri mengatakan: “Inilah waktu kegelapan itu.” Perhatikan! Kemarin Yesus sudah membuat semua preparation untuk perjamuan akhir. Kemudian berdoa di depan tembok Yerusalem, menyerahkan seluruh jiwa murid-murid-Nya dan seluruh gereja-Nya sepanjang masa. Lalu Dia mengetahui Dia harus melakukan satu hal lagi agar seluruh rencana Bapa-Nya digenapi, untuk pintu penderitaan itu bisa terjadi. Satu hal lagi, yaitu Dia masuk ke Getsemani. Kita sudah menjelaskan apa yang ada kemarin. Tetapi sekarang, di Getsemani, di depan para musuh-Nya, Dia merelakan diri-Nya ditangkap dan Dia mengatakan: “Inilah waktu kegelapan itu.” Dari Yerusalem, Ia  masuk ke Getsemani dengan langkah sukarela-Nya, dan dari Getsemani, Dia dengan langkah sukarela-Nya masuk ke tempat kegelapan itu, demikian kata Kristus. Saudara bisa melihat inisiatif Kristus. Saudara bisa melihat keaktifan-Nya untuk menggenapi seluruh rencana Bapa. Setelah Getsemani Yesus melangkahkan kaki-Nya datang ke tempat kegelapan terpuncak dari manusia. Tempat kegelapan terpuncak manusia itu adalah tempat gabungan kekuatan dan sumber daya yang dipakai untuk menyingkirkan Kristus di muka bumi ini. Tempat kegelapan itu adalah gabungan kekuatan dan sumber daya manusia yang mendudukkan Kristus di kursi terdakwa, mengadili-Nya, membunuh-Nya dengan secara terbuka tanpa malu-malu. Ini adalah sungguh-sungguh penghinaan dan perendahan diri dari anak Allah yang dilakukan oleh manusia-manusia yang bengis dan barbar. Kejahatan, jikalau kita bisa memikirkannya, Saudara akan menemukan kenyataannya bisa lebih jahat daripada apa yang kita pikirkan.

Dunia ini adalah dunia yang jahat dan kejahatan itu bukan sesuatu titik yang berdiri sendiri di situ saja. Dia terus menerus akan progress makin lama makin jahat. Ketika saya mempersiapkan khotbah ini, kita mendengar ada dua kejahatan di depan mata kita yang disodorkan oleh news. Yang pertama kemarin kita melihat adalah seorang yang mencintai Indonesia, Ade Armando. Orang itu ada di depan DPR/MPR, lalu orang yang jahat melihat dia dan menelanjanginya, memukulinya, menendangnya, bajunya dibuka, celananya dibuka sampai Saudara bisa melihat hanya celana dalam, itu pun sudah hampir terbuka, menghina dia, memalukannya, ini sungguh-sungguh barbar bukan? Sungguh-sungguh jahat. Dan beberapa hari yang lalu Rusia menyekap wanita-wanita Ukraina dan setelah satu bulan kemudian ada sepuluh orang kurang lebih yang mengatakan mereka hamil. Saudara bisa bayangkan apa yang terjadi dalam setiap detail dalam kekejaman terhadap perempuan itu. Bagaimana wanita-wanita ini berteriak-teriak melayani nafsu binatang beberapa laki-laki. Sebagian dari mereka setelah dijadikan alat pemuas nafsu lalu langsung ditembak. Suaminya sudah dibunuh. Saudara dapat melihat betapa mengerikannya dan mengejutkannya kejahatan itu.

Ketika membaca Alkitab, Saudara akan menemukan puncak dari kejahatan ada pada pengadilan dan salib Kristus. Yerusalem adalah tempat yang suci, tetapi sekarang menjadi tempat yang paling jahat. Kristus mati di sana di tengah-tengah seluruh pengadilan dusta yang menggabungkan uang, politik, sosial, agama, militer, budaya, semua bersekongkol untuk menjadikan satu hal ini, Yesus harus mati. Malam itu semua orang yang ada di sekitar Kristus adalah orang-orang biadab. Kumpulan orang-orang yang tidak bisa tidur sampai darah Yesus harus keluar. Bagaimanapun caranya, dengan biaya apa pun saja, harus dilakukan untuk menghancurkan Yesus Kristus. Ini adalah pengadilan yang sama sekali tidak adil. Keputusan hukuman mati sudah ditetapkan di dalam hati, baru pengadilan itu digelar. Mereka menggunakan saksi-saksi palsu. Pengadilannya dibuat cepat di malam hari hanya beberapa jam saja. Tidak memenuhi quorum pun bisa disahkan. Akhirnya mereka memakai Pilatus yang dipaksa untuk membunuh Yesus. Pilatus sendiri mengatakan: “Aku tidak menemukan kesalahan pada orang ini.” Tetapi semua orang Yahudi, ribuan, mengatakan, “Salibkan Dia, salibkan Dia, salibkan Dia.” Ketika mendengar kata “Salibkan Dia, salibkan Dia”, Apa yang Saudara dengar? Karena salib itu suatu bentuk yang sekarang bagi kita itu adalah wajar, sesuatu yang normal, sesuatu yang bahkan dikasih logam mulia, emas untuk dipajang. Tetapi sebenarnya kalimatnya adalah “Bunuh Dia, bunuh Dia, bunuh Dia.” Saya tanya, kalau Saudara-saudara sekarang, ada di luar sana, ribuan orang, dan mencari satu saja dari antara kita misalnya saya atau misalnya Widjaja. Kemudian orang yang ribuan itu dengan tongkat, dengan pentung, dengan parang, dengan tombak mereka berteriak, “Widjaja keluar, bunuh dia, bunuh dia.” Saudara yang tidak dibunuh pun ngeri semuanya. Kalimat-kalimat mereka dan tindakan-tindakan mereka itu barbar dan tidak manusiawi dan illegal.

Para pemimpin tertinggi agama Yahudi, Sanhedrin, terdiri dari 70 orang terpelajar, terhormat. Mereka sungguh-sungguh tidak bisa mengerti moralitas. Ketika Kristus diam, mereka marah, ketika Kristus berbicara dan menjawab, mereka menampar-Nya. Yesus masuk di tempat kegelapan itu. Pengadilan itu adalah tempat setiap jenis dan derajat kejahatan manusia. Tetapi kalau melihat Ibrani 10 yang tadi kita baca, ada satu kalimat yang dikutip oleh Ibrani dari Mazmur 40. Dikatakan “Sungguh aku datang, aku suka melakukannya.” Membaca kalimat ini, Saudara akan menyadari kalimat ini menjadi backdrop dari seluruh perjalanan Kristus. Ketika Dia masuk ke Getsemani, maka kalimat ini menjadi backdrop, sungguh Aku datang ya Bapa untuk menggenapi rencana-Mu, aku suka melakukannya. Ketika Dia masuk ke dalam pengadilan, maka kalimat ini kembali bergaung, sungguh Aku datang ya Bapa, Aku suka melakukannya. Kristus menyukai taat kepada Bapa-Nya. Malam hari itu, seluruh Yerusalem mengadili Yesus Kristus. Seluruh kejahatan demi kejahatan dari seluruh jenis dan tingkatnya terjadi.

Saya mau tanya, ketika Saudara membaca kisah pengadilan ini, Anda ada di mana? Kita ada di mana? Dulu pada waktu saya masih anak-anak, saya membaca komik Superman dan saya akan langsung berpikir sayalah Superman-nya. Kalau saya menonton Spiderman, maka saya berpikir sayalah Spiderman-nya. Setiap kisah yang Saudara tonton atau baca, Saudara akan langsung mengidentifikasikan kita dengan hero-nya. Tetapi yang jelas ketika Saudara dan saya membaca pengadilan Yesus Kristus, Saudara dan saya pasti bukan Kristus-nya. Kita mungkin adalah imam besarnya. Jikalau kita pada waktu itu hidup dan kita punya kesempatan maka kemungkinan besar kita adalah imam besarnya yang mempertahankan posisi kita untuk membunuh Kristus. Atau kita adalah Pilatus, kita memiliki karakter yang sama dengan dia, selalu tidak mau bertanggung-jawab untuk seluruh keputusan penting yang diambil. Atau kita memiliki hati seperti Yudas yang menipu dengan menggunakan uang. Jangan pikir bahwa kita lebih baik dari dia, konteks kita saja yang berbeda. Jikalau kita hidup pada waktu itu kita akan berlaku sama dengan orang ini. Atau mungkin kita seperti Petrus, seseorang yang berbicara dengan besar tetapi begitu takut dengan hal yang paling sepele. Atau sebagian dari kita adalah seperti rakyat itu, yang di dalam beberapa hari saja hatinya berubah, suaranya berubah. Dari hosanna, hosanna sekarang salibkan Dia, salibkan Dia. Atau sebagian kita seperti wanita-wanita itu, yang menonton Yesus dipaku di atas kayu salib yang kelihatannya begitu rohani, begitu empati, mendengarkan berita-berita mengenai kekejaman ini langsung meneteskan air matanya. Tetapi Yesus mengatakan, “Jangan menangis karena Aku, tangisi dirimu, tangisi anak-anakmu, mereka tidak tahu bahwa ada murka Allah yang timpa kepada mereka.” Di mana kita pada waktu itu? Jelas, pasti kita bukan Kristus.

Dari tempat yang gelap, pengadilan itu, sekarang Yesus berjalan menuju kepada salib. Kalau melihat salib, apa yang sebenarnya terjadi? Salib itu apa dan mengapa sampai terjadi di atas kayu salib? Maka saya akan berbicara berkenaan dengan sifat salib dan lima derajat kematian Kristus di atas kayu salib. Saya sudah bicara mengenai pengadilan. Sekarang saya akan bicara berkenaan dengan salib. Apa sifat kematian Kristus di atas kayu salib? Saudara perhatikan baik-baik, ini adalah satu teologi yang penting. Sifat kematian Kristus di atas kayu salib adalah kematian yang sukarela, dan pada saat yang sama adalah kematian karena kekerasan, dibunuh. Ini adalah sesuatu yang paradox. Perhatikan baik-baik sekali lagi. Kematian Kristus adalah kematian yang sukarela, voluntary, tidak dipaksa, pada saat yang sama, kematian Kristus di atas kayu salib adalah kekerasan paksa, suatu pembunuhan. Saya akan jelaskan sekarang dua-duanya dan menjadi satu. Kematian Kristus disebut sebagai kekerasan paksa karena Kristus tidak berdosa. Maka dosa tidak mungkin membuka pintu kematian alamiah bagi Dia. Sekali lagi tidak mungkin ada kematian alamiah bagi Kristus karena Dia tidak berdosa. Kita adalah manusia yang berdosa, tanpa paksaan pun, tanpa pembunuhan pun kita akan mati. Karena kita adalah orang berdosa dan upah dosa adalah maut. Tetapi Kristus tidak berdosa. Dosa tidak memiliki kemampuan untuk membuka kepada Dia kematian alamiah. Maka itulah sebabnya kalau Kristus harus mati, Dia harus mati dengan paksaan, dengan kekerasan, dengan pembunuhan. Tetapi di tempat yang lain, meskipun dengan kekerasan paksa, tetapi kematian Kristus adalah kematian yang sukarela. Dia menyerahkan diri-Nya untuk dimatikan. Karena kalau tidak secara sukarela, maka kematian-Nya bukanlah korban persembahan diri-Nya kepada Allah. Itulah sebabnya Yohanes mengatakan: “Kristus menyerahkan nyawa-Nya sendiri.” Tidak ada seorang pun yang dapat mengambil nyawa-Nya dari pada-Nya. Kristus mati dalam kekerasan ketika kekuatan dan kesehatan-Nya berada di dalam puncak. Dia menyerahkan nyawa-Nya untuk kekerasan paksa, pembunuhan itu terjadi. Saya sudah mengatakan sifat dari kematian Kristus di atas kayu salib.

Sekarang saya akan masuk ke dalam 5 derajat kematian Kristus di atas kayu salib.

Derajat pertama, kematian di atas kayu salib bagi Kristus adalah kematian yang paling menyakitkan. Kesakitan di atas kayu salib merupakan gabungan dari banyak kesakitan yang mematikan. Ketika Kristus menderita di atas kayu salib, seluruh indera-Nya akan menjadi lebih tajam dan seluruh syaraf-Nya menjadi lebih halus. Sepanjang waktu tubuh-Nya “menikmati” penderitaan itu. Tidak sedikit pun syaraf-syaraf yang menjadi tumpul atau berkurang, sebaliknya Dia lebih peka pada setiap ujungnya di setiap waktu. Kematian Kristus tidak diragukan lagi mengandung rasa sakit yang paling besar, paling akut yang bisa dibayangkan. Karena rasa sakit Kristus dimaksudkan untuk menyamakan semua kesengsaraan yang pantas diterima oleh dosa manusia. Seluruh dosa umat manusia, penghukumannya, gabungkan menjadi satu dan itu diterima oleh Kristus. Semua rasa sakit yang layak dialami oleh semua manusia terkutuk seperti kita, baik itu orang pilihan maupun bukan orang pilihan. Semua rasa sakit yang layak diterima oleh setiap manusia karena dosanya, semua rasa sakit yang terkutuk itu, di atas salib diberikan kepada Kristus. Itulah mengapa Dia begitu menderita. Salib adalah kematian yang paling menyakitkan.

Derajat kedua, kematian Kristus di atas kayu salib adalah kematian yang paling memalukan. Salib sendiri merupakan gabungan antara penyiksaan dan pertunjukan. Dengan sengaja orang-orang Romawi mempermalukan Kristus yang disalib, dibuat malu secara terbuka, seorang yang kalah, loser, yang tidak bisa apa-apa. Bagi orang Romawi memperlakukan orang yang dihukum mati di atas kayu salib, mereka harus memikul salibnya sebelum mati dengan barang yang dia pikul itu sendiri. Dan sesampai di tempat itu, mereka dilucuti seluruh pakaiannya. Mereka telanjang, benar-benar telanjang dan dipergelarkan sebagai tontonan yang memalukan. Hukuman di atas kayu salib adalah hukuman yang paling memalukan, yang paling keji, paling hina yang bisa terjadi kepada seorang manusia. Zaman itu orang Romawi atau orang freeman yang bahkan melakukan kejahatan terpuncak sekalipun tidak mungkin dihukum di atas kayu salib. Salib ditujukan untuk orang-orang yang dianggap paling hina dan paling keji dengan kejahatan paling tinggi. Pada waktu itu, orang-orang berpendapat bahwa orang yang dipaku di atas kayu, digantung di atas kayu adalah mati yang menjijikkan, seperti seekor anjing, najis, hina, malu, kalah, tidak bisa bertindak apapun untuk mendapatkan kehormatan sekecil apapun bagi dirinya. Saudara tahu bukan, bahwa orang-orang yang dipaku di atas kayu salib sudah tidak bisa apa-apa, menderita dan sungguh-sungguh sudah ditelanjangi dan kemudian seluruh prajurit itu mengolok-olok dia, itulah sebabnya orang yang dipaku di atas kayu salib sering bersumpah serapah kepada orang-orang di bawahnya. Karena mereka bukan saja dibuat sakit tetapi dihina, dibuat marah tapi begitu marah, mereka tidak bisa apa-apa. Perhatikan Ibrani 12:2. Di situ dikatakan bahwa Kristus tidak hanya menanggung salib tetapi mengabaikan rasa malu. Ketaatan Kristus kepada kehendak Bapa-Nya dan kerinduan untuk menyelamatkan kita membuat Kristus mencerna rasa malu dan menelan kehinaan yang ada di atas salib.

Derajat yang ketiga, kematian Kristus di atas kayu salib adalah kematian yang terkutuk. Galatia 3:13 menyatakan: “Terkutuklah setiap orang yang tergantung pada kayu salib.” Di atas kayu salib, Kristus dibuat kutuk bagi kita. Ketika seseorang di atas kayu salib, Saudara-saudara bisa melihat bahwa orang ini diletakkan, diangkat dari bumi. Dipisahkan dari bumi. Kakinya tidak menyentuh bumi. Maksudnya apa? Mau menyatakan bahwa orang ini sangat buruk, sangat rendah, sangat keji sehingga dia tidak pantas untuk menginjak bumi atau menyentuh permukaan tanah lagi. Dan ada peraturan Romawi pada waktu itu bahwa tubuh orang yang disalib tidak boleh tinggal sepanjang malam di atas salib, tetapi harus cepat dikuburkan. Peraturan ini bukan untuk menghormati orang yang di atas salib tetapi untuk lebih mempermalukannya. Intinya dengan seluruh peraturan ini, mereka mau menyatakan bahwa pemandangan yang menjijikkan ini harus segara disingkirkan dari mata manusia secepat mungkin, tubuh orang ini tidak boleh mencemari permukaan bumi sehingga bumi kemudian dinajiskan olehnya, harus ditanam. Kematian yang paling terkutuk. Bahkan sampai mati pun dihina.

Derajat yang keempat, kematian di atas kayu salib bagi Kristus adalah kematian yang sangat lambat dan berkepanjangan. Meninggalnya sangat perlahan dan memperparah kesengsaraan itu. Bukankah kita semua tahu bahwa kematian menakutkan, tetapi yang lebih menakutkan dari kematian itu adalah lamanya sengsara. Ketika masa sengsara cepat, itu adalah hal yang lebih baik. Tetapi jikalau masa sengsara atau apalagi disiksa itu lebih lambat, kematian datang dengan langkah yang lambat dan orang yang disiksa itu dapat merasakan setiap langkahnya ketika kematian datang, itu adalah sengsara yang luar biasa dahsyat. Sungguh-sungguh ini terjadi, seorang musuh Kristen pada waktu itu menyiksa orang-orang Kristen. Ada salah satu orang yang disiksa, martir itu kemudian mati pada siksaan yang pertamanya. Orang yang menyiksa itu dengan kecewa berkata: “Dia telah lolos dari aku.” Maksudnya apa? Karena dia bermaksud untuk menahan hidupnya lebih lama di bawah siksaan. Ada nasihat kejam seseorang kepada seorang algojo: “Siksa dia sedemikian rupa sampai dia bisa merasakan sendiri langkahnya bagaimana dia mati.” Orang kalau disiksa begitu lama, penderitaannya jauh lebih dahsyat daripada hanya sekedar kematian. Saya pernah melihat satu news antara police dan orangtua, papa dan mama. Ini adalah bicara mengenai anak remajanya yang naik mobil dan kemudian mati karena kecelakaan. Papa mamanya akhirnya mendengar kabar itu, sampai ke polisi dan anaknya sudah mati. Dan mereka sangat hancur hati. Pertanyaan dari mamanya adalah, “Apakah anakku menderita sebelum dia mati?” Saudara mengerti maksudnya? Berapa lama dia ada di tempat itu sebelum dia mati? Bersyukur polisinya mengatakan, “Tidak, ini kematian langsung.” Dan itu tidak dialami oleh Yesus. Kematian di atas kayu salib adalah kematian yang perlahan. Hidup Kristus tidak pergi secara bertahap tetapi hidup Kristus itu tetap utuh dalam diri-Nya sampai akhir, sampai Dia menyerahkan diri-Nya kepada Bapa-Nya. Kristus berdiri di bawah rasa sakit akan kematian dengan kekuatan penuh-Nya. Hidup-Nya dan kekuatan-Nya utuh ada pada Dia. Itulah sebabnya Dia bisa dengan penuh kekuatan dan bertentangan dengan pengalaman orang-orang lain. Dengan penuh kekuatan Dia berteriak sehingga perwira itu menyatakan, “Sungguh Dia ini adalah Anak Allah.” Begitu lamanya penderitaan itu.

Derajat yang kelima, kematian Kristus di salib adalah kematian yang menolak pertolongan sedikitpun. Adalah kebiasaan dari orang-orang prajurit Romawi memberikan cawan anggur yang memabukkan pada orang-orang yang di atas kayu salib. Apa gunanya? Untuk menumpulkan syaraf, untuk melumpuhkan indera, untuk membuat mereka menjadi tidak terlalu sadar. Tetapi Kristus menolak minuman itu. Untuk apa? Agar Kristus dapat setiap detik merasakan penderitaan ini. Dia ingin tetap sadar meminum seluruh cawan murka Allah sampai tetes yang terakhir pun tidak meninggalkan sama sekali. Seluruh pengalaman ini ada pada Kristus di atas kayu salib. Pertanyaannya adalah mengapa? Mengapa Engkau mau masuk ke Getsemani? Mengapa Engkau mau melangkahkan kaki-Mu ke malam yang gelap itu? Mengapa Engkau masuk ke dalam pengadilan yang tidak adil, yang barbar itu? Mengapa Engkau mau naik ke atas kayu salib? Mengapa Engkau mau masuk ke tempat yang aku tidak mau masuk? Semua dari kita akan lari dari Getsemani. Kita akan lari dari pengadilan itu. Sebisa mungkin lari, lari dari salib. Tapi mengapa Dia mau masuk ke tempat pengadilan? Khotbah ini sendiri, mengapa Dia mau masuk ke tempat pengadilan, bisa berbagai macam elemen yang ada. Salah satunya yaitu Dia masuk ke pengadilan membuat Saudara dan saya mengerti, dosa bisa menjadi seperti apa. Dosa bukan saja akan mematikan kita. Tetapi dosa juga memiliki kemampuan untuk mematikan yang suci, paling baik dan paling berkasih karunia sekali pun. Dosa kalau dibiarkan akan sampai ke ujungnya dan Saudara dan saya tidak akan bisa memperkirakan apa yang terjadi, jahatnya. Jangan menyimpan dosa. Jangan membiarkan dosa. Dosa bukan perbuatan pada satu titik. Dosa akan menggiring kita kepada satu titik di mana kita tidak bisa berbalik. Yudas harus mau tidak mau menggantung Yesus. Dia pertamanya cinta uang. Dia mencuri, menipu. Tidak ada yang tahu. Anak-anak muda, kalau engkau ada di sini, engkau mencuri uang papa mamamu, jangan pikir nasibmu tidak akan menuju kepada Yudas. Jangan pikir seperti itu. Pada saat tertentu maka tidak akan ada turning point. Harus mati, Yesus harus mati. Seluruh imam besar, seluruh prajurit, semua orang-orang jahat, kalau sudah teruskan dalam kejahatan, tidak ada turning point; Yesus harus mati. Kita bisa melihat kekejaman dosa seperti apa. Yang suci dari Allah, yang penuh dengan cinta kasih pun dimatikan, apalagi engkau dan saya.

Tapi pada siang hari ini saya mau menekankan hal yang kedua ini. Mengapa Engkau mau masuk ke pengadilan itu? Saya teringat akan satu kalimat yang diucapkan oleh Andrew Gee kepada pendeta Stephen Tong, “Emas murni tidak takut api.” Kalau seseorang mengatakan, “Aku kudus. Aku tidak bersalah.” Semua orang bisa mengatakan demikian. Tetapi lain dengan Yesus Kristus. Yang mengatakan Dia tidak berdosa, Dia tidak bersalah adalah musuh-musuh-Nya di pengadilan itu sendiri. Pilatus yang paling bertanggung jawab. Pilatus pada waktu itu hakim yang tertinggi, setelah menyelidiki seluruh perkara-Nya, dari mulutnya sendiri mengatakan, “Aku tidak menemukan kesalahan pada Orang ini.” Emas murni tidak takut api. Bahkan musuh pun akan mengakui tidak ada kesalahan. Bahkan pengadilan yang paling jahat pun mau menghancurkan Dia, tidak menemukan kesalahan. Kristus suci adanya. Kristus tidak bersalah adanya. Kristus murni adanya. Saudara bisa melihat dalam seluruh penderitaan ini, 2 karakter Kristus ini digabung. Yang pertama adalah kerelaan-Nya. Kalau tidak ada rela maka kita tidak mungkin diselamatkan. Dan yang ke-2 adalah kemurnian, kesucian-Nya. Kalau Dia tidak murni dan tidak suci, Dia tidak berhak untuk menyelamatkan umat manusia yang berdosa. Tetapi ketika 2 hal ini digabung maka kalimat Yohanes Pembaptis itu tepat: “Inilah Anak Domba Allah.” Prajurit yang memaku Yesus Kristus, centurion itu melihat Yesus di atas kayu salib dan mengatakan: “Sungguh Dia ini Anak Allah.” Seluruh kalimat-kalimat yang penting ini semuanya muncul di tempat yang paling gelap. Semuanya muncul dari semua orang yang melawan Dia. Bahkan setan pun tidak bisa menemukan kesalahan-Nya. Terpujilah Kristus yang mulia. Terpujilah Kristus yang murni. Tidak ada satu manusia pun seperti Dia. Mengapa engkau mempercayai agama untuk menyelamatkanmu? Tidak ada keselamatan pada agama karena pendiri-pendirinya pun orang berdosa. Hanya satu-satunya pribadi yang diutus Allah dari surga ke dunia. Dengan kerelaan-Nya, dengan kesucian-Nya, dengan kemurnian-Nya menjadikan seluruhnya indah. Dan Dia adalah keselamatan satu-satunya umat manusia, Yesus Kristus.

Saya akan membacakan kalimat yang dituliskan Spurgeon tentang Kristus. “Manusia yang paling tidak peduli akan kebenaran yang mulia dari firman dan yang menyepelekan surga dan neraka tetap akan melihat dengan tercengang karakter Kristus Yesus. Hal ini tidak ada tandingannya di antara semua manusia dan secara mutlak sempurna. Sebagaimana satu puncak gunung salju yang menjulang tinggi di atas pegunungan Alpine dan sebagaimana raja dengan mahkotanya duduk lebih tinggi di antara semua manusia, demikianlah hidup Kristus jauh lebih tinggi daripada seorang dermawan atau guru yang bijaksana dan juga lebih dari semua kemurnian yang hanya sebatas dunia ini. Tidak ada yang seperti Dia. Tidak ada kecacatan di dalam diri-Nya. Dia murni adanya. Tidak ada hal apapun yang berlebihan di dalam Dia. Dia adalah sukacita di dalam hati Allah sendiri. Dia adalah kesukaan seluruh orang-orang kudus Allah. Saudaraku yang kekasih, Dia adalah sukacita kita. Dia sungguh amat manis bagi kita. Kristus yang murni.” Bahkan pengadilan yang paling jahat sekalipun, paling barbar, kegelapan itu bahkan setan sekalipun tidak bisa menemukan kesalahan-Nya. Dia adalah Domba Allah yang murni, yang tidak bercacat cela, Imam Besar kita Yesus Kristus. Kiranya kasihan Tuhan memimpin seluruh hidup kita.

Alamat

556 - 558 Botany Road, Alexandria, NSW, 2015
sekretariat@griisydney.org
0422690913
0430930175

Social Media

Facebook GRII Sydney Instagram GRII Sydney Twitter GRII Sydney


Google Play Store
App Store

^