[simple_crumbs root="Home" /]
kembali

15 April 2022

Pdt. Agus Marjanto, M.Th

God in Unexpected Places (1)

Lukas 22:39-46, Yohanes 18:1-11

Kita akan merenungkan satu tempat yang kita tidak duga, dan murid-Nya tidak duga, yaitu Getsemani; satu tempat yang Yesus mau masuk di situ. Semakin kita merenungkan dan menyelidikinya kita akan makin tercengang mengapa Kristus mau masuk ke taman Getsemani. Pada malam hari itu, Yesus mengetahui waktunya hampir tiba. Waktu apa? Waktu untuk melaksanakan perjanjian dengan Bapa-Nya di bumi ini. Waktu untuk menjalankan covenant of redemption. Waktu untuk Dia menuntaskan seluruh pelayanannya. Waktu untuk Kristus mendapatkan seluruh penderitaan yang Tuhan timpakan kepada Dia. Sebentar, sebentar lagi, waktu penderitaan puncak akan tiba. Maka Dia memanggil murid-murid-Nya untuk mempersiapkan perjamuan akhir. Dia melakukan perjamuan itu. Di dalam perjamuan itu Dia menyatakan sekali lagi tragedi yang akan Dia hadapi di dalam beberapa jam. Tentu murid-murid-Nya tidak mengetahui. Hal-hal ini tersembunyi di depan mata mereka. Tetapi Yesus Kristus memberikan pengajaran dan menginstitusikan sakramen Perjamuan Kudus kepada murid-murid-Nya. Setelah hari Jumat Agung dan Kebangkitan Kristus, baru murid-Nya mengetahui apa yang dikatakan Yesus pada perjamuan itu.

Setelah perjamuan selesai, Yesus mengajak seluruh murid-Nya keluar dari tempat itu. Berjalan menuju ke luar tembok Yerusalem. Dan di depan tembok Yerusalem maka Yesus mulai berdoa. Roh Kudus tidak membuat kita mengerti apa yang didoakan oleh Yesus Kristus. Yohanes 17 dengan lengkap menyatakan apa yang didoakan oleh Yesus. Dan salah satu hal yang terpenting di dalam doa Yesus adalah Yesus menyerahkan setiap jiwa murid-Nya kepada Bapa-Nya di surga. Setelah Yesus selesai berdoa, Dia membawa murid-Nya menyeberangi sungai Kidron, masuk ke dalam satu tempat. Saudara, perhatikan baik-baik kalimat di bawah ini! Ini adalah satu hal yang harus dikerjakan oleh Yesus sebelum semua tragedi ini terjadi. Dia melangkahkan kaki-Nya ke Getsemani. Getsemani terletak di dekat kota Yerusalem. Kalau saudara-saudara melihat peta Yerusalem, maka saudara akan menemukan 12 pintu gerbang dan 5 pintu gerbangnya menghadap ke timur dan dari 5 pintu gerbang di timur itu ada satu pintu gerbang di mana ada mata air Siloam di sana. Itu adalah pintu gerbang di mana Yesus naik dengan keledai untuk masuk diarak pada Minggu Palem. Pintu gerbang yang lain di timur disebut sebagai pintu gerbang Domba. Pintu gerbang inilah yang paling dekat dengan Bait Suci. Di sana, domba-domba digiring keluar masuk untuk nanti dijadikan korban untuk upacara di Bait Suci. Getsemani terletak dekat dengan pintu gerbang domba ini. Nantinya, prajurit-prajurit yang menangkap Yesus di Getsemani akan membawanya masuk ke kota Yerusalem melalui pintu gerbang ini, sebagaimana domba yang dibawa ke pembantaian. Mengapa Yesus masuk kepada Getsemani? Getsemani adalah satu tempat yang tidak terduga sama sekali. Jikalau murid-murid-Nya mengerti sesungguhnya seluruh ceritanya, jikalau mereka mengetahui apa yang di depan, mereka pasti tidak akan mau mengikuti Yesus ke Getsemani dan mereka akan menahan Yesus untuk tidak masuk ke Getsemani.

Kalau saudara-saudara memperhatikan Alkitab, maka ada 2 hal yang besar. Yang pertama saya akan jelaskan di depan. Yang kedua akan saya jelaskan di belakang. Mengapa Yesus mau masuk ke Taman Getsemani ini?

Maka hal yang pertama jawabannya adalah supaya Yudas bisa menangkap-Nya. Perhatikan apa yang penulis Injil mau nyatakan kepada kita di dalam narasi! Yesus pada malam hari itu bukan sedang menghindar atau menyembunyikan diri dari musuh-musuh-Nya. Jikalau Dia mau menghindar atau melarikan diri, Getsemani bukanlah tempat yang tepat karena Yudas tahu tempat ini; karena tempat ini adalah tempat yang paling disukai oleh Yesus untuk mengumpulkan murid-murid-Nya dan berlama-lama berdoa di sana. Tetapi kalau saudara-saudara melihat dari narasi Injil, saudara akan menemukan Yesus sengaja pada detik itu memilih masuk ke Getsemani. Karena hanya di tempat itulah Yudas pada malam itu, pada detik itu dengan musuh-musuh Yesus bisa menemukan dan menangkap-Nya. Apa yang terjadi di Getsemani? Yesus di Getsemani bukan untuk menghindari musuh tetapi datang untuk menghadapi musuh; memberikan diri-Nya sebagai mangsa serigala yang menemukannya di sana dan menangkap-Nya dan nanti akan merobek-Nya Ketika saudara melihat Alkitab, saudara akan menemukan kebenaran ini. Getsemani adalah kunci agar seluruh jalan penderitaan dan salib Kristus itu terjadi. Sekali lagi! Getsemani adalah kunci agar seluruh jalan penderitaan dan salib itu terjadi. Kalau saudara-saudara melihat bahwa penderitaan, penangkapan, pengadilan, penyaliban Yesus Kristus adalah Yesus Kristus yang sedang dipermainkan, maka saudara-saudara salah. Karena saudara harus mengerti ini adalah inisiatif dari Kristus masuk sendiri ke tempat itu. Yesus-lah yang berinisiatif. Yesus-lah yang mengemudikan seluruh keadaan dan bukan Yudas. Mengapa Dia mau masuk ke Getsemani? Kalau Dia tidak masuk maka seluruh penangkapan itu tidak akan terjadi. Seluruh dari pengadilan itu tidak akan terjadi dan salib itu tidak akan terjadi. Mengapa Dia mau masuk ke Getsemani? Supaya Yudas dan seluruh musuh-Nya dapat menemukan-Nya.

Sekarang, perhatikan apa yang ada di Getsemani! Malam itu kurang lebih jam 9 malam dan Yesus ada di sana sekitar 2-3 jam berdoa sebelum penangkapan itu terjadi. Penulis Injil dengan jelas menyatakan Yesus sengaja melepaskan diri dari 8 murid yang lain; mengajak Petrus, Yohanes, Yakobus, ketiga murid-Nya yang dikasihi-Nya, masuk ke dalam centre Getsemani. Yesus meninggalkan ketiga orang itu dan Yesus pergi sendiri masuk lebih dalam dan Dia berdoa seorang diri. Ketika Dia sudah mulai meninggalkan ketiga murid yang terakhir, Alkitab menyatakan, Dia kemudian berlutut dan langsung merebahkan tubuh-Nya sampai kepala menyentuh tanah. Dia berdoa sendirian kepada Bapa-Nya. Saudara perhatikan baik-baik! Ini menunjukkan kepada kita posisi tubuh yang Kristus ingini ketika para musuh-Nya menemukan Dia. Kristus mengajarkan gereja-Nya, posisi yang terbaik yang dapat kita lakukan ketika bahaya yang terbesar ada di depan pintu hidup kita: posisi tubuh berlutut di hadapan Bapa. John Flavel menyatakan adalah satu kebanggaan seorang prajurit untuk mati dalam pertempuran dan seorang pelayan Tuhan untuk mati ketika berkhotbah, dan seorang anak Tuhan untuk mati ketika sedang berdoa. Ketika musuh-musuh Kristus datang mereka menemukan Kristus di atas lutut-Nya, bergumul dengan kuat kepada Allah di surga melalui doa. Dia yang seakan-akan tidak memiliki kekuatan di depan manusia, dia sedang menggunakan senjata terkuat yang dimiliki surga untuk bumi ini, yaitu posisi berdoa di hadapan Allah. Lihatlah dunia yang menyerang Kristus dengan seluruh senjata, dengan seluruh kekuatan dan lihatlah Anak Allah mengajar kepada kita gereja-Nya: kekuatan Allah diberikan terbesar adalah ketika kita berlutut. Inilah cara menghadapi dunia. Biarlah kita menyadari apa yang Tuhan berikan kepada kita. Mengapa Getsemani? Mengapa Dia memilih tempat ini? Tempat ini sungguh-sungguh tidak terduga. Allah datang di tempat yang tidak terduga adalah supaya Yudas dapat menangkap-Nya.

Hal yang kedua, Mengapa Getsemani? Di Getsemani, Kristus memberikan jaminan bahwa salib pasti terjadi. Di Getsemani, Kristus memberikan jaminan bahwa salib pasti terjadi. Saya mau membawa saudara-saudara untuk meneliti lebih dalam lagi. Lihatlah bagaimana struktur khotbah ini. Saya membawa saudara-saudara untuk melihat konteksnya terlebih dahulu dan makin lama makin dalam apa yang Yesus doakan secara private. Apa yang merupakan curahan jiwa-Nya dalam kesendirian doa-Nya di malam itu? Dan sekali lagi, mengungkapkan suatu doa yang sangat asing bagi kita. Dan seluruh tubuh-Nya dan jiwa-Nya menderita penderitaan yang sangat berat yang kita tidak akan pernah tahu. Di dalam doa-Nya ada satu kata yang berkali-kali Dia ucapkan, yaitu cawan. Saudara makin masuk, cawan. "Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari pada-Ku; tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi." Tiga kali Dia mengucapkan cawan. Kristus menginginkan cawan itu lalu; cawan itu tidak Dia minum.

Apa cawan itu? Di dalam Alkitab, gambaran mengenai cawan selalu menyatakan penderitaan yang sangat besar dan kepahitan yang dalam yang terjadi dan biasanya suatu keadaan yang sangat menakutkan yang terjadi kepada orang-orang jahat. Mazmur 11:6 menyatakan: Ia menghujani orang-orang fasik dengan arang berapi dan belerang; angin yang menghanguskan, itulah isi piala; cawan mereka. Cawan di sini adalah gambaran badai murka yang mengerikan, bukan saja murka, badai murka yang mengerikan. Yehezkiel 23:32 menyatakan, Beginilah firman Tuhan ALLAH: Engkau harus minum dari cawan kakakmu, cawan yang dalam dan lebar mulutnya, yaitu cawan yang banyak isinya; menjadi tertawaan dan olok-olok engkau. Engkau akan penuh kemabukan dan dukacita. Cawan kengerian disertai kesunyian ialah cawan kakakmu Samaria. Engkau meminumnya beserta ampasnya, sampai mengunggis pecahan-pecahannya dan engkau merabitkan susumu. Saudara-saudara tahu bukan apa yang terjadi setelah Allah menyatakan kalimat itu? Israel kemudian dibantai; orang-orang laki-laki dibelah perutnya, perempuan-perempuan diperkosa, anak-anak dimatikan atau dijadikan budak. Seluruh kotanya itu kemudian dibakar. Kota yang megah itu kemudian dijadikan sunyi sepi. Ketika kata ini muncul dari mulutnya Allah, cawan, maka kengerian yang dalam terjadi, kesunyian, malu yang besar. Mazmur 75:9, Sebab sebuah piala ada di tangan TUHAN, berisi anggur berbuih, penuh campuran bumbu; Ia menuang dari situ; sungguh, ampasnya akan dihirup dan diminum oleh semua orang fasik di bumi. Saudara perhatikan campuran di sini. Di dalam cawan itu ada sesuatu campuran. Cawan ini menyatakan suatu penderitaan yang merupakan campuran komposisinya, isinya terdiri dari banyak sekali unsur-unsur pahit. Bahasa Inggris lebih jelas: ingredients. Kalau saudara melihat ada sesuatu obat atau makanan saudara lihat di dalamnya ada campuran komposisinya. Ketika Yesus Kristus mengatakan lalukan cawan ini dari pada-Ku, kita akan selalu bicara murka Allah, tetapi kita lupa bahwa sebenarnya ini adalah merupakan campuran dari seluruh kepahitan. Intinya adalah ketika bicara mengenai cawan ini maka yang menerima cawan ini mendapatkan bagian terburuk dari penghakiman Allah bagi mereka. Terburuk! Saudara tidak akan mendapatkan lebih buruk lagi. Dan efek apa yang terjadi bagi orang yang meminumnya? Yesaya 51:17 menyatakan: Terjagalah, terjagalah, bangunlah, hai Yerusalem, hai engkau yang telah meminum dari tangan TUHAN isi piala kehangatan murka-Nya, engkau yang telah meminum, menghirup habis isi cangkir yang memusingkan! Di dalam bahasa aslinya adalah sesuatu orang yang meminumnya akan gemetar, tidak habis-habisnya seumur hidupnya. Dan kalau saudara-saudara membaca seluruh Perjanjian Lama, keluarkan seluruh kalimat yang ada cawannya, gabungkan semuanya maka itulah campuran seluruhnya cawan yang Yesus harus minum. Cawan yang besar dan dalam. Cawan yang mengandung berbagai macam ingredient murka yang menggentarkan. Ini adalah keadaan pahit yang extreme yang tidak dapat ditanggung dan dibayangkan oleh seluruh makhluk ciptaan manapun. Kalau Kristus meminta cawan ini Dia tidak minum; lalu dari pada-Nya itu bukan berarti Dia menyesal membuat perjanjian kekal di dalam covenant of redemption dengan Bapa-Nya. Ini juga tidak berarti bahwa Kristus tidak rela meminum cawan ini. Tetapi jelas ini adalah cawan yang sesungguhnya Dia tidak harus minum. Ini adalah cawan yang paling menyakitkan hati-Nya karena Kristus harus menerima seluruh murka Allah yang seharusnya timpa kepada orang-orang fasik.

Di atas kayu salib, maka Allah Bapa memalingkan wajah-Nya kepada Allah Anak. Di atas kayu salib, Allah Bapa mencurahkan seluruh murka-Nya dan kebencian-Nya kepada Kristus Yesus. Bahkan seluruh pengkhotbah hanya sampai pada kalimat ini karena tidak bisa mendalami lagi apa yang sesungguhnya terjadi. Penderitaan jiwa-Nya, tidak ada satu malaikat pun yang bisa mendekatinya. Itu adalah penderitaan yang luar biasa dalam. Kita tahu semua penderitaan akan makin dalam jikalau keterpisahan di antara dua pribadi yang makin mengasihi satu dengan yang lain. Di atas salib itu, Yesus tidak mengatakan demikian “my hand,my hand, tanganku dipaku” menyatakan kesakitan atau Dia meratap bagaimana salah satu anggota tubuh-Nya pecah, tidak bisa berfungsi lagi. Dia tidak mengatakan itu. Yesus juga tidak mengatakan, “Murid-Ku, murid-Ku”, suatu teriakan permohonan minta tolong untuk diperhatikan oleh murid-murid-Nya. Dia tidak mengatakan, “Murid-Ku, murid-Ku, lihatlah betapa kasihan Aku, betapa engkau seharusnya memperhatikan Aku.” Tidak, Dia tidak mengatakan itu. Tetapi cawan itu Yesus berseru, “Allahku, Allahku mengapa Engkau meninggalkan Aku?” Allahku, Allahku. My God, My God. Ini adalah teriakan, ini adalah tangisan covenantal. Kalau saudara-saudara mendengar satu kata teologi covenant, itu adalah suatu perjanjian. Sebenarnya jauh lebih dari perjanjian. Ketika saudara berbicara itu adalah sesuatu perjanjian, kita akan memikirkan basisnya adalah hukum. Benar itu ada di dalamnya. Tetapi sebenarnya yang paling dalam, covenant itu berbicara berkenaan dengan curahan hati, bicara mengenai cinta, bicara berkenaan dengan hidup bersama di dalam sukacita dan kesedihan bersama-sama.

Jadi ketika Yesus Kristus berteriak, “Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” ini adalah persis seperti seseorang yang mengasihi orang lain dan orang itu kemudian meninggalkan dia. Dan kita tahu semakin kita mencintai seseorang, semakin dalam penderitaan jikalau ada keterputusan. Mungkin saudara pernah mengalami, atau mungkin saudara pernah tahu ada orang yang tadinya mengasihi seseorang tetapi pada akhirnya dia mengatakan, “Aku tidak ingin bertemu dan tidak ingin melihat engkau lagi.” Ini adalah teriakan cinta dari Anak kepada Bapa-Nya dan Bapa-Nya kemudian meninggalkan Dia. Dan bukan saja meninggalkan, tetapi menjadi musuh-Nya. Sekali lagi tidak ada satu hamba Tuhan-pun di seluruh dunia yang mengerti kedalamannya. Martin Luther bahkan menggebrak meja dan mengatakan dengan berteriak, “Siapa yang bisa mengetahui bagaimana mungkin Allah Bapa kemudian meninggalkan Allah Anak?” Di dalam kekekalan, Mereka satu, terus-menerus sampai selama-lamanya. Mereka sama-sama mengasihi, terus-menerus sampai selama-lamanya. Mereka delight satu dengan yang lain, terus sampai selama-lamanya. Tidak ada satu musuh-Nya pun yang mampu melepaskan ikatan ini. Mereka cinta dan seluruh kepenuhan-Nya sampai selama-lamanya. Tetapi di atas kayu salib, Allah Bapa memusuhi Allah Anak. Dan ini adalah penderitaan Kristus. Kasih Bapa dan Anak yang tidak terlukiskan, yang begitu dalam, yang kekal, yang tidak terbatas itu saat ini harus terputus. Bapa harus menjadi musuh Anak. Bapa memalingkan muka-Nya dari Kristus. Covenant ini terputus. Di atas salib, Kristus kehilangan kasih Bapa.

Di dalam bapa-bapa gereja, keintiman kasih antara Bapa, Anak dan Roh Kudus itu digambarkan sebagai Perichoresis. Dan Perichoresis adalah kata dasar choreographer, penata tari. Maka bapa-bapa gereja menyatakan relasi Allah Tritunggal itu demikian sinkron seperti orang yang menari bersama-sama. Begitu harmonis. Begitu indah. Dan di atas salib Kristus harus keluar dari tarian itu. Dia meminta kalau bisa Aku tidak meminum cawan ini. Memang ini tidak harus diminum-Nya. Tetapi Alkitab mengatakan, jikalau ini tidak terjadi, jikalau Dia tidak meminum cawan ini maka penderitaan kekal, cawan itulah yang harus kita minum hai gereja-Nya. Jikalau Dia tidak mau minum cawan maka saudara dan sayalah yang harus meminum cawan karena dosa kita. Kalau Dia tidak mau meminum cawan itu maka Alkitab mengatakan umur kita tidak akan berlanjut.

Lihatlah apa yang dilukiskan oleh keempat Injil berkenaan dengan efek dari cawan terhadap jiwa Kristus. Kalau saudara-saudara melihat Getsemani, zoom in masuk ke dalam apa yang terjadi pada Yesus, maka ini adalah sesuatu yang sangat aneh terjadi. Saudara tidak akan melihat Yesus yang seperti ini di kejadian-kejadian dan peristiwa lain sebelumnya dan sesudahnya. Lihat apa yang dikatakan oleh keempat penulis Injil akan jiwa Kristus ketika menghadapi cawan ini. Lihatlah keempat Injil mengatakan apa? Dan apa artinya?  Matius memberitahu kita demikian: jiwa-Nya sangat sedih bahkan sampai mau mati rasanya. Kata asli yang dipakai ini artinya dikelilingi atau dikepung oleh kesedihan yang besar dari segala penjuru dan tidak ada jalan keluar. Ungkapan seperti ini persis seperti yang dikatakan pemazmur ‘penderitaan kematian melingkupi aku dan rasa sakit neraka menguasai aku’. Apa yang dikatakan oleh Markus? Dikatakan Yesus sangat takut dan gentar, hati-Ku sangat sedih seperti mau mati rasanya. Kata yang dipakai menyatakan derajat tertinggi dari kebinggungan, kekuatiran dan bulu kuduk yang merinding karena ketakutan. Saudara, orang yang ketakutan maka dia langsung akan disorientasi. Saudara pernah ketakutan dalam hidup? Langsung kita bingung. Saya pernah melihat ada satu picture, seseorang yang lari dan kemudian ada banyak orang, puluhan orang, belasan orang memegang parang dan mau membacok orang itu tepat pada waktu orang itu lari. Orang itu dibacok dan kemudian darahnya kemana-mana, mati. Seluruhnya difoto, pada waktu dia lari matanya kebingungan, ketakutannya luar biasa. Saudara melihat foto itu saja sudah langsung takut. Yesus takutnya seperti ini. Lukas 22 menyatakan, Dia sangat ketakutan, being agony ini adalah suatu keadaan takut yang ekstrim. Penderitaan yang ekstrim sedang menindas jiwa-Nya dan begitu mengekang-Nya dengan ketakutan dan kesedihan yang dalam. Sehingga tidak bisa hanya dengan air mata dikeluarkan ketakutan-Nya, tetapi seluruh pori-pori tubuh-Nya yang tidak terhitung jumlahnya kemudian terbuka dengan sendirinya dan melampiaskan dengan mengeluarkan aliran darah. Dari catatan sejarah, saudara akan menemukan ada beberapa, tidak banyak, 2 sampai 5 orang yang di dalam hidupnya pernah air matanya adalah darah dan pori-porinya sedikit ada darah karena begitu takutnya. Nahum 1:6, sungguh-sungguh terjadi pada Yesus Kristus. Siapakah yang tahan berdiri menghadapi geram-Nya? Dan siapakah yang tahan tegak terhadap murka-Nya yang bernyala-nyala? Kehangatan amarah-Nya tercurah seperti api, dan gunung-gunung batu menjadi roboh di hadapan-Nya. Penulis Injil menyatakan sungguh menakutkan untuk jatuh ke dalam tangan Allah yang hidup. Apa yang dikatakan oleh Yohanes? Yohanes 12 membukakan kepada kita apa yang Yesus alami ketika Dia melihat cawan itu beberapa hari sebelum Dia ke Getsemani. Di dalam bahasa aslinya maka kata ini memiliki hubungan dengan kata Latin yaitu neraka. Jiwaku terharu, sesungguhnya adalah kata yang memiliki hubungan dengan kata Latin, neraka; hell. Allah di tempat yang tidak terduga.

Mengapa Yesus mau masuk ke Getsemani? Apa yang terjadi di dalamnya? Apakah ini sesuatu hal yang tidak bisa dihindarkan? Apakah ini sesuatu yang Dia tidak pikirkan terlebih dahulu? Apakah ini adalah suatu tindakan random dan seluruh peristiwa ini terjadi begitu saja? Dia memiliki rencana. Dia mengendalikan situasi. Dia yang mengemudikan setiap peristiwa-peristiwa yang terjadi. Allah di tempat yang tidak terduga dan itu adalah Getsemani. Mengapa Dia mau masuk ke Getsemani? Adalah supaya Yudas dapat menangkap Dia. Mengapa Dia mau masuk ke Getsemani? Hal yang kedua adalah karena di dalam Getsemani itulah terjadi jaminan penebusan, karena salib yang pasti digenapi oleh Kristus. Di malam yang gelap dan dingin itu, di dalam kesendirian-Nya, di seluruh dunia tidak ada yang mengerti apa yang menjadi isi hati-Nya. Dia sekali lagi berlutut di hadapan Allah Bapa-Nya untuk menyatakan kerelaan hati-Nya meminum seluruh cawan yang ditimpakan kepada Dia. Di Getsemani, Dia menetapkan diri-Nya dan memberikan jaminan kepada kita bahwa salib pasti akan terjadi. Bahwa umat-Ku pasti akan diselamatkan, tidak akan ada satupun yang binasa. Aku menetapkannya di Getsemani. Meski berat, pahit, menderita, menyedihkan, merobek jiwa, Kristus mau meminumnya. Itulah keputusan kehendak Kristus, sekali lagi ditetapkan di dalam ruang doa-Nya kepada Bapa-Nya. Sungguh tidak terpikirkan. Sungguh sulit untuk dipercayai. Mengapa Engkau mau masuk di tempat itu? Adalah untuk engkau dan saya. Apakah engkau sudah mengenal Kristus? Apakah engkau mau bersandar kepada keselamatan di dalam Kristus? Saya tanya sungguh-sungguh di dalam hatimu, jawab. Apakah engkau sanggup menerima cawan Allah? Apakah engkau sanggup menghadapi Allah yang menghadapi dosa kita? Saya katakan tidak ada yang bisa, dan tidak ada yang sanggup. Sehebat apa pun saja, kita tidak mungkin sanggup. Maka rendahkan dirimu di bawah keselamatan yang Tuhan tawarkan bagi kita semua. Terimalah Kristus yang sudah menerima cawan murka Allah kepada Dia. Tunduklah kepada Kristus dan jadikan Dia Tuhan dan Raja kita. Mari kita berdoa.

Alamat

556 - 558 Botany Road, Alexandria, NSW, 2015
sekretariat@griisydney.org
0422690913
0430930175

Social Media

Facebook GRII Sydney Instagram GRII Sydney Twitter GRII Sydney


Google Play Store
App Store

^