[simple_crumbs root="Home" /]
kembali

10 April 2022

Pdt. Agus Marjanto, M.Th

Arti Pelayanan

Yoh 12:1-8, Mrk 14:3-9

Ini adalah satu kisah yang indah di tengah kegelapan yang besar yang sebentar lagi hadir dalam kehidupan Kristus menjelang salib. Dan ini adalah suatu kisah yang indah juga di tengah-tengah kegelapan besar yang mendatangi Yerusalem. “Yerusalem, engkau tidak tahu waktu-Nya Allah melawat engkau, dan sebentar lagi, Yerusalem akan dihancurkan.” Kisah yang sederhana dan tersembunyi  dalam satu rumah kecil di Betania ini, memberikan pelajaran sesungguhnya apa itu pelayanan. Saudara-saudara, pelayanan adalah kata yang paling sering diucapkan di dalam gereja, bukan? Kita semua orang-orang di dalam gereja. Dari hamba Tuhan sampai seluruh jemaat, kita diminta untuk melayani Tuhan dan sebagian dari kita juga ada yang rindu untuk melayani Tuhan. Banyak dari antara kita yang sudah sungguh-sungguh belajar untuk melayani Tuhan. Tetapi sesungguhnya apa itu pelayanan? Sesungguhnya apa standard Alkitabiah dalam sebuah pelayanan yang berkenan di hati Tuhan? Yesus membela, Yesus memuji Maria. Melaluinya, Tuhan memberikan definisi sebuah pelayanan itu apa. Saudara-saudara, dari peristiwa ini saya mau meminta untuk saudara-saudara memperhatikan apa definisi sesungguhnya pelayanan itu. Ini menjadi standard di dalam hidup kita. Ini menjadi sesuatu yang membatasi kita sehingga kita tidak liar. Jangan lupa bahwa hati kita sesungguhnya licik. Kita berpikir bahwa kita sedang melayani Tuhan tetapi Tuhan melihat lain. Apa standard Alkitabiah dalam sebuah pelayanan? Apa itu pelayanan? Saya akan masuk ke 3 hal ini dan makin lama makin dalam kepada center-nya. Apa itu pelayanan?

Yang pertama, pelayanan adalah pengabdian dengan memberikan korban yang terbaik. Sekali lagi, pelayanan itu adalah pengabdian, dengan memberikan korban yang terbaik. Maka ini adalah berbicara berkenaan dengan hati. Ini bicara mengenai sepenuh hati. Paling sederhana, ketika bicara pelayanan adalah bukan tugas, bukan manajemen, bukan aktifitas, tetapi adalah hati. Dan sepenuh hati ini dinyatakan dengan mempersembahkan yang terbaik, korban yang terbaik. Saudara-saudara, ketika berbicara mengenai korban, perhatikan baik-baik kata ini, itu berarti pasti menimbulkan rasa sakit di dalam diri kita, karena prinsip dari pelayanan selalu adalah salib. Salib itu adalah sesuatu yang rugi, yang kita sendiri secara alami, secara natural tidak ingin menjalaninya. Ketika bicara mengenai salib, ketika bicara berkenaan dengan pelayanan, ketika bicara berkenaan dengan korban, itu ada rasa sakit. Dan rasa sakit itu jikalau yang terbaik itu kita berikan, yang seharusnya kita bisa nikmati dalam hidup itu kita berikan. Yang terbaik.

Dalam perikop ini, di dalam case Maria ini, maka itu adalah seluruh minyak narwastu yang dimilikinya yang mahal. Kalau saudara-saudara melihat di dalam minggu sengsara Kristus Yesus, saudara-saudara akan melihat kegaduhan orang-orang Yahudi dan nanti orang-orang Yahudi itu menolak dan pemimpin-pemimpin agama dengan geramnya akan membunuh Yesus Kristus, dan sepanjang satu minggu ini, murid-murid Yesus tidak mengerti sesungguhnya apa yang sedang terjadi. Dan ada beberapa orang kafir itu bertobat. Itu yang terjadi dalam satu minggu ini. Dan ada sesuatu yang unik. Ada 2 orang. Dua-duanya mempersembahkan yang terbaik dan dua-duanya sakit. Yang pertama adalah kasus Maria, memberikan semua minyak narwastu yang hasil tabungannya. Dan satu lagi adalah seorang janda miskin yang memiliki anak dan kemudian memberikan 2 keping perak untuk Bait Suci di tengah seluruh keributan, hari terakhir Yesus Kristus. Apa pun yang diberikan, besar maupun kecil, dua-duanya memberikan yang terbaik dan itu artinya adalah semuanya.

Maria Magdalena, Maria dari Betania, memberikan minyak yang harganya lebih dari 300 dinar. Satu dinar adalah upah seorang buruh harian, berarti dia bekerja satu tahun dan kemudian dia tidak makan, tidak lakukan apa pun saja, tidak bepergian untuk bisa menabung itu. Ada yang mengonversikan dengan uang sekarang, kira-kira itu adalah US$ 25,000. Dan orang mengatakan, ini kalau tidak orang kaya sekali, dan jelas pasti dia bukan orang kaya, dia keluarga miskin, dia sangat sederhana, maka dia adalah orang yang bekerja dan menabung seumur hidupnya. Itulah yang dimilikinya dan dia memberikan kepada Yesus Kristus. Sedangkan wanita janda itu dikatakan memberikan 2 peser. Di dalam bahasa Yunaninya, satu peser itu adalah nilai mata uang terkecil di seluruh Palestina. Besarnya berapa? Adalah 1/64 dari 1 dinar. Sehingga dia hanya mempersembahkan 2/64 dinar. Saudara mungkin akan berpikir dan selama ini kita berpikir, oh yang penting kalau persembahan itu tulus. Orang selalu mengatakan, “Tuhan, engkau tidak melihat persembahan kami jumlahnya, tapi ketulusan kami.” Itu adalah suatu penipuan! Jelas kedua-duanya memberikan yang terbaik dan itu menyakitkan! Janda itu tidak memiliki apa pun saja seharian itu untuk dimakan. Saya tanya kepada saudara-saudara, saudara pernah memberikan sesuatu kepada Tuhan dan satu hari itu saudara tidak bisa makan? Tetapi dua orang ini memberikan yang terbaik. Minyak narwastu sering kali dipakai pada hari perkawinan. Jikalau Maria belum menikah, saudara bisa bayangkan sebenarnya itu adalah suatu tabungan untuk pernikahannya. Untuk masa depannya berarti dia menabung untuk pekerjaannya di masa lalu. Saudara bisa melihat dia menggabungkan masa lalu dengan masa depan, dijadikan satu dan dipersembahkan untuk Kristus Yesus. Dia memberikan semuanya, saudara-saudara. Ini adalah simbol, dia memberikan semuanya.

Apa itu pelayanan? Memberikan yang terbaik. Korban yang terbaik. Kita harus jujur sesungguhnya apakah kita memberikan yang terbaik atau tidak? Memberikan yang utama atau sisa? Memberikan yang center atau pinggiran? Banyak orang Kristen memberikan kepada Tuhan sesuatu yang dia juga tidak mau. Saya mengenal banyak orang yang kalau mau kasih makanan sama orang lain, pemberian kepada orang lain yaitu makanan sisa yang tidak termakan di rumahnya. Daripada tidak kemakan, kasih ke orang itu. Daripada basi, kasih ke orang itu. Sehingga dua-duanya tidak merasa bersalah. Kalau makanan basi di rumah kan merasa bersalah. Ada orang yang memperlakukan Tuhan dengan cara seperti ini. Yang sisa dari saudara, meskipun banyak, tetapi sesungguhnya sisa. Banyak orang melayani tanpa ada rasa sakit. Engkau memberikan sisa! Engkau memberikan waktu sisa! Engkau memberikan perhatian sisa! Kemudian kita menipu diri, ini pelayanan. Apa pun saja kita komitmen, tetapi begitu bicara pelayanan, sisa! Bertobat, saudara! Allah kita tidak layak mendapatkan hal yang sisa dalam hidup kita. Apa sih hidup ini? Mau main-main sama Tuhan?  Kita sedang bermain agama? Hati tidak diberikan. Hal yang paling pusat tidak diberikan. Pelayanan itu pengabdian yang tulus, yang sepenuh hati, yang terbaik. Kita sudah menipu diri kita, kita menipu Allah dan kemudian kita menipu orang lain.

Pak Agus, bukankah yang paling penting hati? Siapa yang bicara? Tuhan mengatakan, di mana uangmu berada, di situ hatimu berada. Tuhan kalau sudah berbicara berkenaan dengan uang, sangat-sangat tajam. Lihatlah, dari Perjanjian Lama sampai Perjanjian Baru, prinsipnya sama. Kalau sudah bicara mengenai pelayanan, bicara mengenai pengabdian. Kalau bicara mengenai pengabdian, selalu berbicara mengenai korban. Kata ini bukan aslinya dari kita tetapi adalah Kristus yang melayani jemaat-Nya. Ketika Kristus melayani, maka Dia mengabdikan diri-Nya. Dan ketika Dia mengabdikan diri-Nya, Dia harus korban. Dia tidak saja mengajar, Dia tidak saja menyembuhkan, tapi Dia mati di atas kayu salib. Kalau saudara-saudara melihat dari Perjanjian Lama, ketika Allah meminta Abraham untuk melayani Dia, maka Allah menyatakan kepada Abraham: “Keluar dari tanah Ur Kasdim.” Berarti korban, sakit. Meninggalkan daerah di mana dia lahir. Meninggalkan harta benda, rumahnya, pekerjaannya di sana. Masih baik kalau Tuhan katakan kamu pergi dari tempat desamu menuju ke kota Sydney yang indah itu, masih lumayan saudara-saudara. Semua keinginan kita begitu kan? Itu namanya perkembangan budaya. Itu berarti adalah keluargaku makin maju. Tuhan bicara kepada Abraham, “Keluar dari Ur Kasdim.” Kemana, Tuhan? Ke tempat yang Aku akan berikan kepadamu, tetapi tidak sekarang. Dia tidak tahu. Dan sampai matinya pun, dia tidak melihat tempat itu sudah sangat bagus, tidak.

Suatu hari, “Abraham, ambil anakmu yang tunggal yaitu Ishak, persembahkan kepada-Ku di gunung itu besok pagi.” Hah, seperti inikah pelayanan? Abraham tidak bisa lari. Jenis persembahannya sudah dituntut oleh Tuhan. Waktu persembahannya sudah ditentukan oleh Tuhan. Tempat persembahannya sudah ditentukan oleh Tuhan. Tidak bisa lari. “Persembahkanlah anakmu yang tunggal itu.” Kalau Tuhan sampai di situ saja, meskipun berat, saya yakin, Abraham kalau disuruh milih, Ismael sama Ishak, dia akan pilih Ismael yang dikorbankan. Tetapi Tuhan katakan, “Ishak.” Tidak bisa lari. Apa Ishakmu? Apa Ishak setiap dari kita? Besok. Kalau Tuhan tidak bicara bilang besok, 10 tahun lagi, tidak harus sekarang. Di tempat itu, Tuhan berikan suatu yang tepat, jitu dan tidak bisa lari. Itu membuat sakit, saudara-saudara. Tapi itulah pelayanan. Dari pertama standard-nya sama.

Hal yang kedua. Saya akan masuk lebih dalam. Pelayanan adalah suatu tindakan korban yang terbaik, yang lahir dari pengabdian sepenuh hati, yang ditujukan kepada Allah yang mulia saja. Saudara perhatikan, Allah yang mulia saja. Allah yang mulia. Pelayanan tidak bisa lepas dari pengenalan siapa yang kita layani. Jikalau kita tidak bisa melihat kemuliaan Allah, maka pelayanan kita pasti sembarangan. Jikalau kita berpikir melayani Allah itu adalah karena kewajiban, maka kita akan melayani dengan takut yang tidak sehat. Tetapi jikalau kita mengenal Allah yang kita layani adalah Allah yang hormat, yang mulia, yang disembah oleh seluruh makhluk, tetapi Dia mengasihi kita, maka kita akan melayani dengan hormat dan kasih kepada-Nya. LIhatlah apa yang dilakukan oleh Maria. Itu timbul dari hatinya yang melihat kemuliaan Kristus. Ini melebihi dari seluruh kelicikan manusia ketika melayani. Saudara-saudara, apa yang dilakukan Maria pada waktu itu? Dia mengambil satu simpanannya, satu-satunya yang termahal, yang terbaik, yang dia miliki. Minyak narwastu murni yang begitu mahal harganya. Dibuka tutupnya dan dituangkan ke atas kepala Yesus sampai minyak itu terus sampai ke kakinya. Tidak cukup dengan itu. Dia mengusap kaki Kristus dengan rambutnya.

Saudara-saudara, perhatikan prinsip ini! Kejadian ini tidak pernah ada di seluruh kolong Yahudi. Bahkan budak Gentile, seorang budak yang dibayar Kafir, tidak akan melakukan hal ini! Hanya Gentile budak yang bisa untuk menjamah kaki orang asing, tetapi tidak mungkin untuk mengelap atau mengusapnya dengan rambutnya. Bagi orang masa lalu, rambut kepala wanita itu adalah tanda kemuliaannya. Paulus mengatakan, “Jangan dikepang, jangan dipotong, jangan dibuat pendek, jangan digundul. Itu adalah tanda mahkotamu, hai wanita.” Sekarang minyak itu dituang, dari kepala Yesus sampai ke kakinya. Wanita ini mengurapi Yesus sebagai Raja. Tetapi bukan itu saja. Dia bukan saja melihat Yesus itu Raja, dia melihat dirinya lebih rendah daripada seorang budak sekali pun. Maka apa pun saja yang terbaik dari dirinya, jika diberikan kepada Raja yang mulia ini, hanya layak untuk diinjak oleh kaki Raja. Yang terbaik dari Maria itu sekali pun diberikan kepada Kristus Yesus, dia tahu bahwa ini pun hanya layak untuk diinjak. Tidak perlu Kristus Engkau terima kasih, hanya diinjak saja.

Ketika melihat kebenaran ini, saya teringat akan satu kalimat daripada Yohanes Pembaptis dengan roh yang sama. “Dia Mesias yang datang setelah aku, lebih besar daripada aku. Membuka tali kasutnya pun aku tidak layak.” Siapa yang membuka tali kasut? Bukan teman, bukan saudara, bukan papa mama atau anak, tetapi budak. Orang Yahudi tidak pernah punya budak Yahudi. Budak selalu bangsa lain. Anjing itu. Kafir itu. Yohanes Pembaptis mau mengatakan bahwa aku lebih rendah daripada seorang budak di hadapan DIa. Dan Roh yang sama juga berbicara kepada Maria dari Betania. Oh, Engkau adalah Raja dari segala raja. Aku memberikan yang terbaik yang aku punya seumur hidupku. Tetapi aku tahu bahwa yang terbaik pun hanya layak untuk Engkau injak, ya Kristus. Aku lebih rendah. Aku lebih rendah dari seluruh budak yang ada. Oh, inilah pelayanan. Siapa sesungguhnya Kristus yang kita layani? Seberapa besar Dia? Seluruh pertanyaan ini akan menentukan apa yang kita beri dan apa yang ada di dalam hati kita setelah kita memberikan.

Hati kita bisa sangat licik. Kita mungkin memberikan yang terbesar, yang terbaik, tetapi sesungguhnya bukan untuk Allah yang mulia saja. Aku melayani sesungguhnya memberikan yang terbaik untuk diriku sendiri. Ya, korban. Engkau tidak tahu bagaimana sakitnya aku berkorban. Tetapi sesungguhnya ujungnya adalah untuk diri. Saudara, apakah kita mengerti ujiannya apa? Apakah pelayanan kita untuk diri atau untuk Allah saja? Yaitu jika ada yang salah mengerti kepada kita. Jikalau kita disalahmengertikan setelah kita memberikan yang terbaik bagi Tuhan dan setelah kita disalah mengerti, kita mundur dari pelayanan, itu tandanya kita memang memberikan yang terbaik tetapi sebenarnya untuk diriku sendiri. Kenapa kita harus mundur kalau memang kita mau melayani Yesus saja? Mengapa kita harus patah hati jikalau memang kita itu murni untuk Tuhan saja? Bukankah jikalau untuk Tuhan saja yang terpenting adalah kalimat Tuhan padaku, bukan kalimat orang lain kepadaku? Saudara-saudara, pelayanan itu korban. Tetapi bukan saja korban uang, korban materi, korban waktu, korban ide, tetapi juga korban hati, juga korban perasaan. Dan dalam hal ini Maria itu dihina, dimarahi oleh seluruh rasul, bukan saja oleh Yudas. Kalau saudara melihat ketiga Injil yang menceritakan ini, maka bukan saja Yudas yang salah mengerti tentang Maria, Alkitab menyatakan seluruh murid-murid-Nya salah mengerti dan marah kepada Maria. Kita sering tidak sadar sebenarnya kita melayani diri kita sendiri dalam bentuk melayani Tuhan. Sekali lagi, saudara-saudara perhatikan apa yang terjadi dalam peristiwa itu. Maria memberikan yang terbaik dari dirinya, bahkan masa depannya, kemudian dia mengurapi Yesus Kristus sebagai Raja yang dilihatnya mulia. Dan dia mengakui ketidaklayakannya. Dia lebih rendah daripada budak terendah sekali pun. Dia sudah memberikan yang sungguh-sungguh yang terbaik. Terbaik yang dia punya. Dan apa result-nya? Langsung dicemooh. Yang mencemooh siapa? Rasul, hamba Tuhan, pilar soko guru gereja. Saudara masih mau terus? Saudara masih mau terus melayani Tuhan dengan dibeginikan? Tapi inilah batu sentuhan, apakah kita melayani diri kita sendiri atau sebenarnya kita sungguh-sungguh melayani Kristus yang mulia saja.

Saya mau bawa saudara-saudara untuk melihat apa yang terjadi kepada Yudas. Apa yang terjadi kepada Yudas juga terjadi kepada kita semua, baik itu pemimpin agama maupun seluruh jemaat. Yudas menyalahkan Maria dan mengatakan bahwa uang sebesar itu (untuk apa pemborosan itu) adalah baik untuk orang-orang miskin. Saudara perhatikan alasannya itu teologis. Alasannya itu tidak bisa didebat di dalam alasan itu sendiri. Alasan itu adalah alasan yang sah, bahkan dalam Perjanjian Lama, Allah itu menetapkan hukum-Nya untuk orang Israel memperhatikan orang miskin. Tetapi saudara-saudara, sesungguhnya perikop ini Yudas memiliki dua kesalahan yang fatal di mata Kristus dan semua murid lain tidak bisa melihatnya. Yang pertama adalah dia tidak benar motivasinya. Alkitab mengatakan dia sebenarnya seorang pencuri uang. Itu artinya bahwa dia menyembunyikan sesuatu yang ada di dalam hatinya dan mengeluarkan kalimat yang berbeda dengan apa yang sesungguhnya terjadi. Itulah hypocrite. Saudara sering sekali menempelkan kata hypocrite kepada pemimpin-pemimpin agama bukan? Ketika pemimpin agama berada dalam hypocrite maka itu adalah kecelakaan besar di dalam agama itu. Benar, itulah sebabnya Yesus menghardik orang-orang pemimpin agama dengan mengatakan engkau munafik. Tetapi definisi munafik itu sesungguhnya adalah menyimpan sesuatu. Jadi jikalau seseorang itu mengungkapkan sesuatu yang kelihatannya benar tetapi sebenarnya di dalam hatinya ada sesuatu rencana yang lain, itu disebut sebagai munafik. Kalimatnya itu di depan benar secara teologis dan saudara akan habis-habisan memperjuangkan kalimat di depan. Tetapi Allah yang menyelidiki hati mengerti sebenarnya kalimat kita muncul karena apa. Maka itulah disebut sebagai menyembunyikan sesuatu, itu hypocrite. Semua dari kita, dari pemimpin agama, dari saya sampai seluruh orang-orang yang ada di dalam gereja maupun yang hanya pengunjung, semua dari kita bisa hypocrite. Saudara coba lawan Yudas, saudara tidak akan menemukan kesalahannya. Ini hanya footnote yang ditulis oleh Yohanes dan Matius dan Markus. Ini adalah dari mata Allah yang memandang motivasi, baru tahu sesungguhnya. Saudara, perhatikan kebenaran itu lebih daripada sekedar kata-kata. Ketika bicara mengenai kebenaran maka orang yang mengatakan kebenaran itu motivasinya apa? Yang tersembunyi apa? Tujuannya itu apa?

Hal yang kedua. Kesalahan Yudas adalah dia tidak mengenal kasih kepada Kristus itu seperti apa. Dalam hidupnya tidak ada tindakan kasih. Ya, ada tindakan tentang hukum, kewajiban, etika, kemanusiaan, tetapi bukan tindakan kasih. Saudara perhatikan kalimat di bawah ini. Orang yang berjalan dengan Tuhan itu memiliki hukum-hukumnya sendiri. Dan hukum itu adalah hukum thanksgiving, hukum cinta kasih, hukum kasih sayang, hukum kasih karunia yang tidak bisa dibaca oleh orang-orang di luar dari Roh Kudus. Orang Farisi memegang Perjanjian Lama. Ada hukum di sana. Dan menurut Perjanjian Lama hukumnya adalah tidak boleh menyembuhkan pada hari Sabat. Ini harus dipegang. Ini harus dipertahankan. Ini hukum dari Tuhan. Tetapi ketika Yesus datang, Dia sengaja menyembuhkan pada hari Sabat. Langsung Yesus dipersalahkan. Dan bukan itu saja, Farisi tidak mungkin bertobat. Yesus dimatikan. Bagi mereka hukum Yahudi harus tegak, hukumnya Allah harus dibela. Mereka tidak tahu ada satu prinsip di sini, bahwa hukum Allah akan tetap tegak. Kekudusan Allah tidak akan dikompromikan. Kebenaran Allah tidak akan jatuh, tetap tegak tetapi dengan jalan belas kasihan.

Dengan jalan belas kasihan. Itulah sebabnya orang-orang yang mendapatkan belas kasihan Tuhanlah yang bisa bertindak seperti Maria di Betania. Tindakan ini sungguh-sungguh tidak mungkin bisa Yudas pikirkan, karena penyembahan yang sejati sesungguhnya adalah pengabdian hati karena cinta kasih, karena thanksgiving, ada ikatan perjanjian dalam hati Maria dengan Tuhannya. Seperti Daniel, dia memiliki perjanjian tersembunyi dengan Allahnya. Dia tidak mau makan makanan raja yang disajikan itu. Saudara tanya kepada Daniel, apa salahnya? Orang kamu mau diganti namanya. Itu padahal namanya adalah nama ilah-ilah di Babel. Sekarang bedanya apa sama makanan? Daniel kalau ditanya gitu tidak akan bantah. Tetapi orang-orang di luar tidak mengerti apa salahnya Daniel sekarang makan. Kenapa kamu tidak mau melakukan itu? Dan hal yang sama sekarang kepada Maria, kenapa Maria harus melakukan hal itu? Kenapa kamu harus mempersembahkan semuanya? Ada sesuatu yang tersembunyi secara eksistensial di dalam hatinya, orang-orang yang mendapatkan belas kasihan Allah, dia akan dealing dengan Allah dengan memenuhi hukum dengan cinta kasih.

Kembali lagi. Ketika terjadi perdebatan demikian, Yesus mengatakan biarkan dia melakukan hal ini. Jangan ganggu dia. Saudara perhatikan, ini kalimat yang tajam. Yesus tidak memberikan alasan teologis kepada Yudas atau memberikan pengajaran teologis kepada murid-murid-Nya dengan mengatakan, “Ini lho ya, ini nih benernya begini. Ya, Maria itu benar sebabnya ini, ini, ini.” Tidak, itu tidak ada gunanya. Yesus tidak perlu jelaskan ke Yudas. Sesungguhnya ini adalah perkara yang sudah jelas, tetapi tertutup bagi Yudas. Yesus diamkan, Yesus tidak jelaskan. Perkara ini jelas tersembunyi untuk anak-anak kegelapan apalagi yang hatinya licik. Biarlah kita boleh hati-hati dalam hal ini. Ini adalah batu sentuhan yang dahsyat. Yesus masuk dengan otoritasnya, “Biarkan dia sendiri.” Dia tidak membuka sedikit pun kebenaran sesungguhnya apa. Wanita ini terus masih menuang minyak itu dan menyekanya dengan rambutnya meski Yudas dan semua murid-murid-Nya marah dan marah. John Piper menyatakan jikalau ada suatu suara yang melemahkan pengabdian kita kepada Kristus, janganlah engkau dengarkan, biarlah kasih kita kepada Kristus makin melimpah.

Sekarang hal yang ketiga yang terakhir. Apa standard Alkitabiah daripada pelayanan? Hal yang ketiga. Pelayanan adalah suatu tindakan korban yang terbaik, yang lahir dari pengabdian sepenuh hati yang ditujukan kepada Allah yang mulia saja, yang sesuai yang sinkron dengan kehendak Allah, sinkron dengan rencana Allah di muka bumi ini. Dengan takut dan gentar saya akan katakan hal ini karena hal ini bisa terjadi pada kita semua dan termasuk saya. Alkitab jelas menyatakan tidak semua pelayanan itu berkenan kepada Tuhan. Tidak semua pelayanan itu diterima oleh Tuhan. Bahkan pelayanan yang kita kira terbaik pun tidak serta merta sinkron dengan rencana Allah di muka bumi ini. Maka untuk itulah kita perlu berhati-hati, takut dan gentar melayani dan menggumulkan dengan teliti apa yang Tuhan kehendaki ketika kita melayani. Hal yang paling mudah adalah berapa banyak orang Kristen yang tulus dan sungguh-sungguh memberikan yang terbaik dalam hidupnya dan kemudian ketika dia memberikannya, dia memberikannya untuk gereja yang mengajarkan teologia sukses. Orang-orang seperti ini apakah pelayanannya diterima? Apakah pelayanannya sinkron dengan kehendak Allah di muka bumi? Bahkan nabi-nabi yang sesat pun ingin untuk dibasmi oleh Tuhan di muka bumi ini. Tetapi orang-orang Kristen yang tulus tetapi tidak memiliki pengertian ini membela mereka dan memberikan yang terbaik dan itu menghancurkan seluruh pelayanan yang mereka miliki. “Oh, aku sudah memberikan kepada-Mu Tuhan, aku sudah memberikan minyak narwastuku. Aku tulus dan aku tidak memikirkan orang yang lain bicara apa.” Tetapi orang ini memberikannya untuk pengajaran yang salah. Ini adalah suatu kebodohan. Biarlah kita hati-hati, kita takut kepada Tuhan, kita harus mengerti bukan saja seluruh yang kita berikan, kita mengerti kita memberikan untuk apa, harus sinkron dengan kehendak, rencana Allah di muka bumi ini. Maka marilah dengan takut dan gentar kita melayani dan menggumulkan dengan teliti. Sesungguhnya prinsip-prinsip apa yang Tuhan itu kehendaki untuk Tuhan bergerak di muka bumi ini. Oh, kalau membangun gereja pasti ini melayani Tuhan. Belum tentu saudara-saudara. Apakah Tuhan sungguh-sungguh menginginkan kita membangun gereja-Nya saat ini? Di mana? Ini seluruhnya harus hati-hati.

Beberapa minggu ini kita terus memikirkan mengenai misi. Oh misi, misi ke mana saja. Pokoknya misi dengan cara apa pun, itu pasti seturut kehendak Allah. Jawabannya adalah belum tentu. Ya, misi itu isi hati Tuhan. Tapi ke mana seseorang itu melangkah, ke mana gereja itu bermisi, biarlah kita harus baik-baik mencari pimpinan Tuhan, karena setiap panggilan itu spesifik. Ini adalah suatu hal yang harus diperhitungkan bagi semua kita untuk bertumbuh secara rohani, apa pun saja itu akan menjadi suatu panggilan personal yang tidak bisa digantikan oleh orang lain dan spesifik. Saya tidak katakan pasti akan jelas di depan, tetapi biarlah hati yang tidak enteng dan sungguh-sungguh menggumuli itu kita miliki. Dan minta terus kiranya belas kasihan Tuhan memberikan kepada kita kesempatan untuk kita sinkron kepada rencana-Nya. Saudara perhatikan Maria tidak tahu sesungguhnya Yesus akan mati. Tetapi pelayanan Maria ini diberi anugerah yang besar oleh Kristus dan akhirnya menjadi sesuatu yang sinkron dengan langkah Kristus menuju kepada Kalvari. Ini adalah suatu hak istimewa. Yesus sendiri mengaitkan pelayanan, pengabdian Maria ini dengan event yang akan dijalani-Nya. Oh, minta untuk hidup kita seperti ini. Apa gunanya kita memberikan yang terbaik lalu kemudian kita tidak sinkron dengan isi hati Allah?

Tetapi kalau gereja ini melakukan sesuatu, kalau kita mempersembahkan sesuatu dan sinkron dengan isi hati Allah, betapa indahnya hidup ini. Roh Kudus menggerakkan Maria mengurapi Yesus. Maria mengurapi Yesus sebagai Raja. Tetapi Yesus kemudian memakai urapan itu menyatakan dia mengurapi Aku untuk hari penguburan-Ku. Yesus menggabungkan pelayanan Maria dengan titik center kehidupan pelayanan Kristus. Dari seluruh karya Kristus, centerpoint-nya adalah salib. Mengapa Kristus hadir di dunia ini? Untuk mengajar? Untuk menyembuhkan? Untuk berbuat baik? Untuk menyatakan Allah itu ada? Ya semuanya, tetapi center-nya adalah salib. Mati, menggenapi kehendak Bapa-Nya. Kalau saudara-saudara melihat seluruh Alkitab, saudara akan menemukan empat titik yang penting: creation, fall, redemption, and consummation. Dan dari empat titik itu, satu-satunya titik pengharapan yang membalikkan seluruh pekerjaan setan, sekarang Tuhan Allah yang menang adalah di dalam redemption. Tetapi pada waktu Yesus masih hidup, siapa yang mengerti titik ini? Petrus tidak mengerti, sampai Yesus mengatakan, “Enyahlah engkau, setan!” Murid-murid-Nya juga tidak mengerti. Yohanes, Yakobus, Petrus tertidur di taman Getsemani pada saat Yesus tepat mau ditangkap. Buat mereka ini bukan titik penting. Buat mereka, ini malam seperti malam-malam yang lain. Dan pada waktu Yesus dipaku di atas kayu salib, seluruh murid-murid-Nya melarikan diri. Buat mereka ini adalah titik kegagalan dan bukan titik penebusan. Tetapi wanita ini, wanita ini mengurapi tepat untuk mempersiapkan titik kematian Kristus, redemption. Oh alangkah indahnya tepat di jantungnya Allah. Itulah pelayanan. Minta belas kasihan Tuhan untuk itu.

Dan terakhir, Yesus mengatakan, di mana saja ketika Injil ini dikabarkan, wanita ini akan disebut, dibicarakan. Mengapa Yesus mengatakan hal ini? Injil adalah bicara mengenai pemberian yang terbaik dari Allah Bapa di surga untuk kita manusia. Allah Tritunggal memberikan yang terbaik bagi kita. Bukan sisa, bukan sampingan, tetapi isi hatinya. Untuk engkau dan saya. Untuk menebus engkau dan saya. Dan pemberian yang terbaik dari Allah Tritunggal, Injil itu jikalau diberitakan, Dia akan membangkitkan begitu banyak orang yang rela, mau, memberikan yang terbaik kepada Allah saja. Kemana pun saja Injil diberitakan, jiwa seperti Maria dari Betania ini akan tercipta di seluruh bangsa demi bangsa. Yang mengenal salib, yang akan rela memberikan semuanya. Apakah kita mengenal salib? Apakah kita mengenal pemberian Allah yang terbaik bagi kita? Kiranya jiwa seperti Maria dari Betania, tercipta di dalam gereja, di tempat ini. Yang mengenal salib, yang rela memberikan segalanya.

Alamat

556 - 558 Botany Road, Alexandria, NSW, 2015
sekretariat@griisydney.org
0422690913
0430930175

Social Media

Facebook GRII Sydney Instagram GRII Sydney Twitter GRII Sydney


Google Play Store
App Store

^