[simple_crumbs root="Home" /]
kembali

3 April 2022

Pdt. Agus Marjanto, M.Th

Hal Mengumpulkan Harta (3)

Matius 6: 19-24

Perikop ini sekali lagi berbicara mengenai uang. Uang bukan masalah kecil di dalam kehidupan kita dan Kristus mengetahui hal itu. Manusia adalah pribadi yang dibentuk oleh Allah dengan dua komponen. Komponen pertama adalah dari tanah menghasilkan tubuh dan komponen yang kedua adalah dari nafas Allah menghasilkan jiwa. Satu pribadi dengan dua komponen yang tidak bisa terpisahkan dari saat penciptaan sampai selama-lamanya itulah yang menjadi keunikan manusia kenapa disebut sebagai manusia. Bukan saja the end of time, tetapi sampai selama-lamanya. Itu tidak terjadi pada malaikat, itu tidak terjadi kepada binatang. Manusia itu dibentuk dari tanah di bumi ini dan dari nafas Allah yang hidup.  Maka sampai kapanpun saja kita selalu terikat dengan bumi ini. Tidak ada satu manusia pun yang bisa mengatakan aku tidak perlu makan dan minum, aku tidak perlu tidur, aku tidak perlu seks. Tidak ada satu manusia pun yang bisa mengatakan demikian, serohani apapun.

Saudara- saudara kita selalu terkait dengan tanah dan itulah kebutuhan kita. Dan kita mengerti sekali untuk memenuhi kebutuhan itu, kita memerlukan uang. Kita ada di bumi ini, segala sesuatu yang terjadi di mana kita berjalan di bumi ini, memerlukan uang. Tidak bisa dipungkiri bahwa uang itu memainkan peran yang sangat penting di dunia ini. Sadar atau tidak sadar, uang itu dikatakan penopang hidup kita. Lihatlah, hari ini saudara beribadah, saat ini di sini, lampu ini setiap detiknya memerlukan uang. AC ini memerlukan uang. Saudara- saudara, berangkat dari rumah, saudara naik train perlu uang, saudara naik mobil memerlukan bensin, keluar uang. Rent, perlu uang. Saudara lihatlah, tanpa uang bahkan kita tidak bisa “beribadah”, bukan?  Bukan itu saja, kita sadar atau tidak sadar, uang itu seakan-akan penambah umur kita. Kalau kita sakit pergi ke dokter, perlu uang. Pergi ke rumah sakit, perlu uang.  Kita dikasih obat, dikasih vitamin, perlu uang. Suatu hari saya bertemu dengan satu orang yang sakit cancer dan karena sakit cancer, dia bukan saja pergi ke Singapore, dia pergi ke Amerika, dia pergi ke Jepang untuk mencari treatment yang paling modern untuk membereskan cancer tersebut. Dan kemudian, setelah melihat treatment itu, saya melihat orang itu bisa umur diperpanjang tiga tahun kurang lebih.  Tetapi saudara bisa bayangkan, jika orang itu tidak punya uang, dan dia kemudian harus pergi ke rumah sakit di kampung maka apa yang terjadi? Umurnya itu mungkin tinggal tiga bulan. Saya pada waktu melihat hal itu, saya terus berpikir di dalam hati saya, merenung; “Ya Tuhan, uang ini seberapa powerful-nya?” Mengapa uang itu bisa memperpanjang umur orang? Bukan itu saja, uang itu membuat kehidupan di depan kita itu bisa dibebaskan dari suatu kesulitan.

Suatu hari, maka ada satu kampus yang memesan buku-buku di Amerika, kurang lebih setengah kontainer atau satu kontainer, saya lupa. Dan sampai di pelabuhan dari Jakarta. Harganya itu ratusan juta rupiah pada waktu beberapa puluh tahun yang lalu. Tetapi karena ada beberapa oknum dari pelabuhan itu menahan kontainer itu, dan kontainer itu tidak bisa dilepaskan sampai berbulan-bulan, hampir satu tahun kalau saya tidak salah. Maka ada orang dari perwakilan kampus itu pergi meminta baik-baik dan kemudian orang dari pelabuhan itu minta sepuluh juta rupiah – “Tidak punya uang Pak.” Lima juta rupiah - lalu kemudian “Tidak punya uang Pak.” “Oke kasi saya satu juta, saya akan release kontainer ini.” Tetapi karena orang ini adalah orang yang takut sama Tuhan, dia kembali dan dia tidak menebus dengan satu juta. Oh, saya pikir satu juta membebaskan kita.  Saudara-saudara, betapa powerful-nya uang. Dan kita semua sadar, tidak sadar kita mengaminkannya, bukan? Tetapi Yesus Kristus mengatakan di dalam perikop ini kepada semua orang yang ditebus-Nya, saudara dan saya. Dia mau membuka mata hati kita. Dia mau menyadarkan daripada murid-murid-Nya bahwa penopang dan penambah umur dan pelepas dari seluruh hidupmu adalah Allah dan bukan uangmu. Yesus Kristus mengatakan di dalam Lukas 12:15 “Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu.” Hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu. Apakah saudara dan saya mau mempercayai hal ini? Saudara bilang pasti saya mempercayai Tuhan daripada uang. Tetapi dengan seluruh contoh yang saya bukakan kepada saudara-saudara, dan dari pengalaman-pengalaman kita sendiri, bukankah hal yang paling menguatirkan bagi kita jikalau kita kekurangan atau tidak punya uang? Kita tidak merasa sedih, tidak merasa kuatir, tidak merasa galau kalau kita ditinggalkan oleh Allah, tetapi kita punya kegalauan besar kalau kita ditinggalkan oleh uang.

Saudara-saudara, sekali lagi, perikop ini menyatakan bahwa bukan uang tetapi Allah yang akan menjamin kehidupan anak-anak Tuhan. Di dalam perbandingan antara Allah dan uang, maka perikop ini mengajarkan 4 hal besar ini:

Yang pertama yang saya sudah katakan di dalam dua minggu pertama, yaitu keputusan hati.  Tuhan meminta kita memberikan keputusan hati siapa yang kita akan layani Allah atau Mamon? Allah menyatakan berhenti. Berhenti untuk mengumpulkan harta di bumi ini. Tetapi engkau kerja keras, kumpulkan harta di sorga. Yang pertama adalah keputusan hati. 

Yang kedua adalah kebodohan pikiran. Saudara-saudara ayat 19 dan 20, saudara akan melihat bagaimana Yesus Kristus memberikan satu argumentasi yang alamiah menyatakan kebodohan pikiran orang-orang yang mengumpulkan harta di bumi ini. Ketika Yesus Kristus memberikan argumentasinya, Dia tidak memberikan argumentasi yang sifatnya adalah rohani, yang dalam bahkan, tetapi yang alamiah, realita hidup. Dia menyatakan, “Jangan kamu mengumpulkan harta di bumi ini, karena ngengat dan karat dan pencuri akan datang untuk menghabisinya.” Saudara-saudara, Yesus memberikan suatu ilustrasi, suatu gambaran membukakan pikiran kita dengan sesuatu argumentasi sehari-hari. Dia tidak mengada-ada. Dia menyatakan sesuatu yang alamiah. Saudara-saudara, Dia menyatakan ngengat. Ngengat pada waktu itu adalah sesuatu binatang yang merusak kain dan khususnya kain pakaian yang halus sekali yang pada waktu itu adalah nilai dari kekayaan. Karat adalah korosi, menyerang benda-benda logam atau ini juga dalam kata aslinya adalah sesuatu yang memakan sesuatu. Bisa dikatakan ini adalah sesuatu yang memakan sesuatu seperti jenis hama - tikus, belalang, lalu kemudian cacing yang memakan tumbuh-tumbuhan. Saudara-saudara, intinya dalam point ini adalah bahwa harta yang seakan-akan itu substansial dan langgeng itu, yang seakan-akan powerful itu, tetapi ternyata mereka tunduk kepada kerusakan dan pembusukan dalam berbagai macam cara. Sekali lagi, kepemilikan kita yang seakan-akan substansial dan sangat langgeng itu, jangka panjang itu, yang berharga itu, tetapi tunduk kepada proses pembusukan dan kerusakan di dalam berbagai macam cara. Dan bukan itu saja, barang-barang yang kita miliki, yang paling berharga pun dapat dicuri. Pencuri membongkar dan mencurinya. Ini bukan sesuatu proses alami saudara-saudara, seperti ngengat, seperti karat tetapi tindakan yang disengaja. Diambil oleh pencuri yang menerobos masuk dan mencuri dan membongkarnya. Kalau saudara tidak cukup dengan tiga point ini, di tempat yang lain Yesus Kristus pernah mengatakan; “Pada akhirnya langit dan bumi akan berlalu.” Di tempat yang lain Yesus mengatakan, “Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya?” Di dalam Lukas 12:15-21, ada ayat yang ke-20, saudara-saudara, kalimat Yesus Kristus: kepada seseorang yang bekerja keras dan menabung seluruh hasilnya di lumbung dan dia kemudian membuat lumbung lagi, membuat lumbung lagi. Dan kemudian orang itu mengatakan, “Beristirahatlah jiwaku, makanlah, tidurlah, bersenang-senanglah.” Tetapi Firman Allah datang kepada orang itu dan Firman Tuhan itu mengatakan, “Hai kamu orang yang bodoh, orang yang bodoh yang bodoh.” Di dalam beberapa komentari yang saya baca, kata bodoh ini bukan bodoh, saudara-saudara. Saudara-saudara, kalau orang mau katain kamu itu goblok, itu bukan cuman goblok. Orang Surabaya kalau ngomong; cek goblok kek buanget ya. Itu extreme, ga masuk akal. Yesus Kristus sedang mengatakan bahwa engkau itu sedang mengerjakan sesuatu yang tidak masuk akal. Saya tidak sedang berbicara mengenai sesuatu yang rohani, saya bicara mengenai lihat hidup ini. Yesus Kristus mau mengatakan bahwa harta duniawi kita seberapapun banyaknya dapat hilang dalam lebih dari satu cara, dapat hilang di dalam berbagai macam cara dan bukan hanya sekali. Jangan letakkan hatimu itu di harta di dunia karena akan bisa hilang. Berapa banyak orang yang kecewa. Berapa banyak orang depresi. Berapa banyak orang yang bahkan sampai gila karena dia sudah menabung, lalu kemudian seluruh hartanya itu hilang. Kebodohan pikiran. 

Hal yang ketiga, Lalu Yesus masuk lebih lanjut lagi, bukan saja pikiran yang bodoh tetapi kefatalan hidup yang akan didapat. Ketika Dia menyatakan, “Pilih Allah atau pilih Mamon?” Ketika Dia mengatakan, “Jangan engkau mengumpulkan harta di bumi tetapi kumpulkan harta di sorga.” Itu bukan bicara mengenai pilihan hidup tetapi decision of life. Dan itu akan menentukan seluruh hidup kita, akan terjadi kefatalan hidup yang besar ketika kita salah meletakkannya. Karena ini bukan sekedar harta. Ini bukan sekedar saudara usaha di mana. Ini adalah bicara mengenai hati. Kalau saudara-saudara masih ingat, di tempat yang lain Paulus menyatakan yang jadi masalah adalah cinta akan uang, ini bicara mengenai cinta. Saudara-saudara kalau sudah bicara mengenai cinta, ini memerlukan kuasa yang besar untuk mengubah kita. Kalau sudah bicara mengenai cinta, segala pandangan kita akan berdasarkan apa yang kita cintai. Yesus di dalam point ini tidak bicara cinta tetapi Dia bicara cinta dengan ilustrasi yang lain. Dia bicara berkenaan dengan mata. Mata adalah pintu gerbang kita melihat dunia ini. Mata adalah pintu gerbang menyerap seluruh cahaya datang dalam hidup kita. Dan dari mata itu yang mengambil seluruh cahaya dan melihat apapun saja di dunia ini, tindakan atau apapun, itu akan membentuk hati kita berespon terhadap sesuatu di luar kita. Saudara-saudara, keputusan kita tergantung dari apa yang kita lihat di mata kita. Ketika kita melihat seseorang itu, orang ini jahat kepada kita maka kita akan jahat kepada orang itu. Kalau kita melihat orang ini baik kepada kita maka kita akan baik kepada orang itu. Kalau kita itu melihat dengan kacamata yang biru maka seluruhnya kita lihat akan biru. Mata sangat menentukan, demikian kata Yesus Kristus. Itulah sebabnya di sini dikatakan, kalau matamu gelap, seluruhnya gelap. Dan Yesus menyatakan hal ini ketika bicara mengenai mencintai uang.  Kalau engkau sudah meletakkan uang itu di dalam center hatimu maka seluruh hidupmu akan fatal, gelap adanya, betapa gelapnya kegelapan itu.Saudara-saudara, ini yang bicara bukan filsuf. Ini yang bicara adalah Tuhan kita. Kalau Dia sudah bicara gelap, apa yang kita mau katakan? Dan kegelapan itu luar biasa gelap sehingga dia tidak mungkin diberitahu, tidak mungkin disadarkan, tidak mungkin akan bisa memilih sesuatu yang tepat dihadapan Allah. Karena dia akan menghargai sesuatu berdasarkan uang. Kacamatanya uang, apapun saja. Dia akan berespon kepada sesuatu dasarnya adalah uang. Dia mau pergi kerja karena dorongan uang. Dia menikah karena uang. Apapun saja tentang uang. Kadang keputusannya sudah pasti salah.

Yang pertama adalah keputusan hati. Kedua adalah kebodohan pikiran. Ketiga adalah kefatalan hidup dan yang keempat adalah kehinaan manusia. Saudara-saudara, Yesus katakan di sini, “Tidak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.” Ini sudah bicara mengenai antithesis. Ini bukan lagi suatu paradoks. Yesus Kristus menyadarkan kepada kita, membuat kita harus mengambil keputusan. Engkau tidak bisa mengabdi kepada kedua hal ini bersamaan. Engkau tidak bisa mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon. Tetapi bukan saja antithesis, ketika saya membaca ayat 24 ini, satu kesan pertama yang muncul di dalam hati saya adalah betapa hinanya hidup saya. Betapa hinanya hidup manusia. Bagaimana mungkin kita menyamakan Allah dan Mamon? Kita tidak mungkin jealous sama istri kita dan kemudian mengatakan demikian; “Hei istriku, pilih aku atau pilih kucing itu?” Tidak mungkin saudara. Masak manusia dibandingkan sama kucing? Yang ada juga; “Hai istri, pilih aku atau pria itu?” Begitukan? Mesti sejajarkan? Sekarang Tuhan itu bicara seperti ini, itu isi hati-Nya seperti apa? “Murid-murid-Ku, tidak ada yang dapat mengabdi kepada dua tuan. Engkau harus memilih Allah atau Mamon?” Saya pertama kali baca ini, hati saya rasa saya manusia, hinanya luar biasa. Sungguh-sungguh hina. Manusia hina adalah yang tidak bisa melihat satu Pribadi yang mulia itu mulia. Kalau saudara melihat satu Pribadi yang seharusnya mulia dan kita tidak muliakan, kita hina! Kalau kita tidak bisa melihat satu hal yang rendah tapi kita kemudian muliakan yang rendah itu, kita memang orang yang rendah. Mana mungkin Allah itu sama Mamon sama? Allah itu Pencipta dan Mamon itu bahkan yang kita buat sendiri dalam hidup. Bagaimana mungkin kita bisa menyamakan itu? Tidak mungkin, bukan? Tetapi itulah kejahatan dan kehinaan manusia. Manusia ketemu sama batu, sembah batu. Manusia ketemu sama gunung, sembah gunung. Manusia ketemu satu gadis yang cantik, dia jadi ilahnya. Anak perempuan muda ketemu seorang yang ganteng, dia jadi ilahnya. Calvin menyatakan manusia itu hatinya pabrik dari ilah. Dan kita ketemu kertas itu, saudara-saudara, kita sembah-sembah, kita cari-cari dan bahkan nilai di kertas itu pun tidak menetap. Dua puluh dolar saudara beli makanan ini pada tahun ini, tahun depan sudah tidak bisa beli makanan yang sama. Tetapi itu yang kita cari. Itu yang ada di dalam hati kita. Itu penilai hidup kita. Dengan uang kita menilai, menghargai orang lain atau tidak. Dan kita berpikir uang itu adalah jaminan masa tua kita. Dan kita pikir uang itu adalah jaminan kenyamanan hidup kita, kebahagiaan kita, sukacita kita dan kita bahkan menggunakan Allah untuk pada akhirnya mendapatkan uang itu. Betapa hinanya hidup kita. Yesus mengatakan engkau tidak bisa mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon. Dan kalimat itu sendiri seharusnya menusuk dalam hati kita. Hah, seperti itukah aku? Sampai aku itu menyamakan antara Pencipta dengan satu kertas ini? Tetapi itulah kita. Itulah manusia. Betapa hina hidup kita.

Pada pagi hari ini sekali lagi, Tuhan mau untuk kita melihat hati kita. Jangan cepat-cepat untuk engkau mengatakan Tuhanku itu Yesus Kristus karena keputusan-keputusan hidup kita setelah perkataan kita itulah yang menyatakan hati kita. Orang Puritan mengatakan, Richard Baxter mengatakan, “Seorang hipokrit mengatakan Allah adalah segala-galanya dan sumber kebahagiaan hidupku, tetapi perasaannya mengatakan yang lain.” Sekali lagi yah, Richard Baxter mengatakan, “Seorang hipokrit mengatakan Allah itu segala-galanya dan puncak dari pada sukacitaku tetapi sesungguhnya perasaannya mengatakan yang lain.” Kalau tidak ada uang, maka sukacitaku berkurang. Kalau ada uang, sukacitaku itu tinggi. Perasaannya lain, tapi ngomongnya Tuhan yang utama, Tuhan itu sumber sukacita.

Saudara-saudara, saya sudah mengatakan kepada saudara-saudara beberapa prinsip-prinsip dan arti dari ayat ini. Sekarang saya akan masuk secara singkat berkenaan dengan aplikasi. Bagaimana kita meminta kepada Allah untuk Allah itu menjadi centre di dalam hati kita dan dengan kekuatan-Nya kita itu menggeser uang yang ada di dalam centre hati kita?

Yang pertama, saudara-saudara, berikan perpuluhan di awal bulan kita. Kalimat ini saja, satu kalimat itu menyaring berapa puluh jiwa, saya tidak tahu. Saudara-saudara, perintah Tuhan di satu tempat adalah suatu usaha untuk mematikan dosa kita yang tersembunyi. Jadi ketika bicara mengenai perpuluhan itu bukan sekadar perintah Tuhan. Tentu itu perintah Tuhan, tetapi ketika kita melakukan perintah itu kita akan menemukan ada terobosan rohani, ada suatu pelajaran rohani yang besar yang kita tidak bisa bereskan dengan hanya bergumul dan komitmen. Tuhan, aku berkomitmen Engkau adalah segala-galanya dalam hidupku. Bukan uang, Tuhan. Engkau tahu hatiku. Dengan nangis-nangis tetapi Tuhan katakan berikan perpuluhan maka kita baru tahu uang itu di centre hati kita atau tidak. Berikan perpuluhan di awal bulan. Jangan berikan perpuluhan di akhir bulan, saudara tidak akan memberikan apa pun bagi Tuhan. Dan berikan perpuluhan di dalam seluruh uang yang saudara dapatkan, seluruhnya, dipotong 10%, berikan pada Tuhan, bukan setelah kita itu belanja, lalu kemudian tinggal sedikit, baru kemudian perpuluhan dari itu. Saudara-saudara, ini adalah sesuatu prinsip Alkitab, kalau saudara tidak mau masuk di dalam dosa ketamakan dan dosa kekuatiran yang terus menerus. Saudara-saudara, kadang kita berpikir oh dosa seperti ini harus hancurkan pakai ini, dosa ini harus hilangnya pakai ini. Tuhan punya cara-Nya sendiri bukan cara kita.

Hal yang kedua adalah di dalam persembahan saudara beri strategi di dalam diri dan keluarga saudara untuk memberikan persembahan itu di depan. Saya ambil sesuatu contoh yang sederhana, saudara tidak harus mengikuti contoh ini. Tetapi ini adalah sesuatu yang baik. Saudara-saudara, perpuluhan adalah sesuatu yang wajib yang kita kerjakan. Tetapi persembahan itu adalah seturut dengan kerelaan hati kita. Saudara boleh mempersembahkan satu Minggu misalnya $10, $20, $50, $100 tergantung dari kerelaan saudara. Itu prinsip Alkitab. Perpuluhan itu adalah suatu kewajiban. Persembahan itu adalah dari hati, kerelaan. Maka saudara-saudara, set di dalam diri saudara. Saya ambil contoh misalnya, saudara sedang men-set $50 setiap kali persembahan berarti saudara tahu di dalam satu bulan itu berarti kalau $50 setiap Minggu, maka itu menjadi $200. Maka hal yang baik adalah saudara berikan $200 itu di depan. Dan kemudian nanti Minggu ke-2, Minggu ke-3, Minggu ke-4, seandainya tidak ada uang kita sudah menyelamatkan $200 itu untuk Tuhan. Tetapi ternyata kalau kita sudah berikan di dalam $200 di depan lalu Minggu ke-2, Minggu ke-3, Minggu ke-4 eh ternyata ada uang lagi. Kita dengan rela kita bisa memberikan $10 atau $20 atau $5 tetapi saudara-saudara akan mendapatkan satu bulan itu kita akan memberikan kepada Tuhan itu lebih daripada apa yang kita pikir sebelumnya. Saya tidak sedang mengajarkan kepada saudara-saudara untuk keperluan gereja ini, tetapi sungguh-sungguh dalam hati, saya jujur dan tulus adalah untuk keperluan kita punya kerohanian. Dan barangsiapa yang mengerti ini, saudara akan menemukan satu kalimat ini, lebih berbahagia yang memberi daripada yang menerima. Saudara-saudara jangan berpikir bahwa orang-orang yang memberikan sesuatu yang besar bagi Tuhan, mereka itu akan merasa korban yang besar, mereka akan mendapatkan sukacita yang besar karena hidup yang hanya satu kali dipakai oleh Tuhan. Dan semua itu bukan teori, semua itu kenyataan kalau kita mau melangkah dalam ketaatan terlebih dahulu.

Dan ketiga yang terakhir. Kembali kepada prinsip yang pertama dalam 2 Minggu yang lalu, Minggu lalu dan dua Minggu yang lalu. Tetapkan hati memberi di depan. Ini adalah sesuatu yang penting. Tetapkan hati memberi yang di depan. Selalu di depan bukan di belakang. Saudara-saudara, ini adalah seperti perjanjian. Ini adalah bicara berkenaan dengan sesuatu komitmen di depan. Selalu saya bicara apapun saja khususnya di dalam pelayanan, di dalam banyak hal, saya akan selalu meminta di depan. Saudara-saudara, saya tidak akan meminta orang yang sudah masuk dan kemudian akhirnya mau tidak mau kecantol dan gak bisa lepas, terus mau tidak mau pelayanan di sini. Saya minta komitmen di depan. Itu bukan dari saya. Itu adalah prinsip Alkitab. Bicara di depan. Komitmen di depan. Janji di depan. Sekali lagi saudara-saudara, point yang ke-3 adalah keputusan hati di depan untuk memberikan kepada Tuhan di dalam segala konteks.

Martyn Llyod-Jones pernah mengotbahkan hal ini. Ada keluarga petani yang sangat bergembira karena sapinya itu melahirkan dua anak. Yang pertama, anak putih dan kedu adalah warna coklat. Dan kemudian suaminya katakan; “Istriku, kita akan berikan satu bagi Tuhan dan satu bagi kita. Artinya yang dihasilkan nanti termasuk anak-anaknya kalaupun sapi itu nanti dijual semua uangnya adalah untuk Tuhan dan semuanya untuk kita.” Dan kemudian istrinya tanya, “Sapi yang mana yang buat Tuhan dan sapi yang mana buat kita?” Dan kemudian suaminya mengatakan, “Nanti kita akan bicara.” Beberapa bulan kemudian suaminya datang dengan wajah yang sedih dan mengatakan, “Istriku, istriku.” “Ada apa suamiku?” “Sapinya Tuhan sudah mati.” Dan istrinya tanya, “Sapinya Tuhan? Kita belum menentukan yang mana yang punya Tuhan, yang mana yang punya kita.” Dan suaminya mengatakan, “Saya selalu dalam hati mengatakan yang putih adalah punya Tuhan dan sekarang yang putih itu yang mati.” Saudara-saudara, perhatikan baik-baik. Kalau kita tidak menentukan di depan sampai kapan pun saja, sapinya Tuhan yang akan mati. Sampai kapan pun saja, sapinya Tuhan yang akan mati. Betapa liciknya hati kita. Kalau kita tidak menentukan di depan, apapun saja, di belakang kita akan membantah. Kita akan beralasan. Dengan akal kita menutup seluruh hati yang mendua. Tetapkan hati untuk memberikan kepada Tuhan, kalau tidak sapinya Tuhan akan selalu mati.

Alamat

556 - 558 Botany Road, Alexandria, NSW, 2015
sekretariat@griisydney.org
0422690913
0430930175

Social Media

Facebook GRII Sydney Instagram GRII Sydney Twitter GRII Sydney


Google Play Store
App Store

^