[simple_crumbs root="Home" /]
kembali

27 March 2022

Pdt. Agus Marjanto, M.Th

Hal Mengumpulkan Harta (2)

Matius 6:19-20,24

Kita terus merenungkan khotbah di bukit, bagian ini berisi prinsip-prinsip etika hidup di dalam kerajaan Allah yang berbeda dengan dunia. Di dalam perikop ini yang menjadi kehendak Allah adalah bahwa nilai tertinggi di dalam hidup kita, titik pusat yang menggerakan seluruh hidup kita beraktivitas adalah Allah, kerajaan-Nya dan pekerjaan-Nya bukan self-centre bukan uang. Minggu lalu kita sudah berbicara berkenaan dengan apa sesungguhnya perikop ini mau nyatakan, yaitu untuk kita boleh melihat centre hidup kita siapa. Apakah uang ataukah Allah, kita mungkin mengatakan pasti Allah. Saya makin memikirkan hal-hal ini, saya terus mempertanyakan kepada diri saya sendiri karena kita adalah orang yang paling mudah ditipu oleh hati kita sendiri. Hati-hatilah terhadap hati kita sendiri. Siapakah sesungguhnya yang menjadi tuan atas hidup kita?

Jikalau kita memiliki gejala-gejala seperti ini biarlah kita boleh lebih lagi untuk mengevaluasi dan mawas diri. Kalau kita sering bertengkar, perhatikan poin bertengkar kita apa? Itu yang menjadi ilah kita. Kalau kita sering tersinggung tentang sesuatu, maka kita tersinggung tentang apa itulah yang menjadi ilah kita. Ada suami isteri kalau bicara terus bertengkarnya mengenai uang. Itu gejala yang begitu jelas, sangat mungkin hal yang paling utama keluarga tersebut bukan Allah tetapi uang. Kalau Saudara memiliki satu kepercayaan di dalam diri Saudara berdasarkan apa? Kalau kita punya banyak uang, dompet kita tebal maka kita jalan dengan gagah, kita berani menghadap orang lain atau masa depan tetapi kalau dompet kita tipis kita merasa minder. Jikalau kita memiliki gejala seperti itu, sangat mungkin hati kita tengahnya adalah uang. Juga kepada orang-orang yang sering melihat dan menilai orang lain, Saudara takut kepada orang itu atau hormat kepada orang itu karena apa? Oh, orang ini orang kaya, maka Saudara senyum kepadanya, membina relasi yang baik. Saudara menghormat orang itu dan tidak berani menghina dengan mulut tetapi kepada orang yang biasa, orang yang lebih rendah, Saudara mulai double standard dengan orang kaya, di dalam hatimu pasti uang. Kalau Saudara mau hormat kepada orang, saya katakan di dalam Alkitab, kalau dia takut akan Allah, kalau dia berjuang sungguh-sungguh untuk kerajaan Allah, hormatilah orang itu, bukan karena uangnya banyak. Saya tidak katakan untuk menghina orang kaya. Tidak. Yang saya katakan adalah tentang double standard terhadap orang-orang di depan Saudara. Kalau Saudara sering iri kepada orang lain karena orang itu punya uang dan Saudara ingin seperti dia, sangat mungkin centre hati kita adalah uang. Sekali lagi saya mau mengingatkan bukan saja kita ketahui tetapi anak-anak kita juga ketahui. Kalau Saudara mengambil keputusan pergi atau tidak, keputusan a atau b seluruhnya adalah karena uang, maka sangat mungkin hati kita kait dengan uang, bukan kehendak Allah. Kalau ada gejala berkenaan dengan kekuatiran yang berlarut-larut, orang yang terus kuatir akan hidup, sesungguhnya tidak memercayai Allah. Kenapa kuatir, karena aku belum bisa menabung seperti yang aku harapkan. Kalau orang terus rasa tidak cukup, itu adalah gejala cinta uang dan masih banyak lagi, tetapi ini sungguh-sungguh sesuatu yang sulit karena Saudara dan saya harus deteksi kapan waktu munculnya.

Perikop ini mau menyatakan Engkau tidak bisa menjadi pengikut-Ku dan pada saat yang sama menyembah uang. Apa yang menjadi prinsip dunia bertentangan dengan apa yang menjadi prinsip hidup orang-orang Kristen dalam kerajaan Allah. Kalimat Yesus ini juga mengindikasikan ada anak-anak Tuhan yang sudah ditebus tetapi isi hatinya adalah uang. Biarlah seluruh kalimat-kalimat ini menyadarkan kita dan membuat kita mengevaluasi dan meminta Tuhan mencerahkan hati dan menemukan dosa kita yang terdalam.

Sekarang saya akan masuk ke dalam beberapa poin dasar secara prinsip keseluruhan Alkitab sebelum saya mengupas satu ayat demi satu ayat di dalam eksposisi. Saya akan bicara pada pagi hari ini empat poin dasar terlebih dahulu berkenaan orang Kristen dan uang, berkenaan dengan mengumpulkan harta dunia dan mengumpulkan harta di surga. Ini adalah prinsip keseluruhan, ini adalah prinsip umum.

Yang pertama, ketika kita melihat ayat-ayat ini. Maka sesungguhnya Alkitab tidak pernah mengatakan bahwa Allah membela orang miskin dan Allah menegur orang kaya atau sebaliknya Allah membela orang kaya dan Allah mencela orang miskin. Kedua kedudukan ini sama di hadapan Allah dan bagi Alkitab yang berbahaya itu bukan kekayaan, yang berbahaya itu bukan uang, tetapi cinta akan uang, cinta akan kesuksesan, cinta akan kekayaan itulah yang berbahaya. Apakah ada orang kaya yang tidak cinta kekayaan? Ada. Apakah ada orang miskin dan orang biasa yang cinta akan kekayaan? Banyak. Sekali lagi poinnya bukan berbicara berkenaan dengan kekayaan atau kemiskinan. Di mana kalau miskin dibela Tuhan, kalau kaya dihardik oleh Tuhan atau sebaliknya. Tidak. Poin utamanya adalah cinta kekayaan dan cinta uang itulah yang berbahaya, cinta akan uang, cinta akan kekayaan, mengharap-harapkan kekayaan itu adalah sesuatu hal yang sangat berbahaya.

Hal yang kedua, kalimat-kalimat Tuhan ini juga tidak berarti ada pemisahan antara kerja sekular di luar dan kerja sekular di gereja. Ada kalimat-kalimat yang sebenarnya sama sekali tidak benar. Wah, Pak Agus itu, adalah kerja untuk harta di surga, di luar, saya kerja untuk harta di bumi. Ada orang berpikir salah, kalau orang melayani di gereja maka pasti memikirkan kerajaan Allah dan orang-orang kerja di luar, di company, maka itu memikirkan uang. Alkitab mengatakan tidak. Bahkan Alkitab menyatakan dan bukti di dalam sejarah gereja dan dunia ini memberikan pernyataan yang sama, banyak pendeta, banyak hamba Tuhan, centre hatinya adalah uang. Apakah ada orang yang melayani di gereja full time tetapi pikirannya adalah harta di bumi? Banyak. Sebaliknya apakah ada orang bekerja di luar tetapi pikirannya adalah pekerjaan Allah? Ada.

Bahkan kalau melihat sejarah gereja, Saudara akan menemukan salah satu kegagalan terbesar gereja adalah gereja tersebut mementingkan uang, bahkan lebih mementingkan uang daripada orang-orang di dunia yang mencari penghasilan di luar. Gereja pecah karena memperebutkan uang. Gereja berkotbah melulu isinya mengenai uang. Saya katakan teologia sukses pasti itu dari setan, tidak peduli siapa pun saja, pasti dari setan. Karena Alkitab dengan jelas mengatakan jangan menyembah mamon, jangan membuat mamon ada di centre hati kita. Seluruh pengkotbah teologia sukses, spirit-nya menggunakan Allah, hal-hal rohani untuk mendapatkan kekayaan. Kalau masuk di dalam satu gereja yang mengkotbahkan teologia sukses, saya katakan sebagai hamba Tuhan yang mengasihi Saudara, keluar dari tempat itu. Kepada beberapa orang di sini, saya pernah mengatakan jangan pergi gereja itu, dari mulut saya. Saya mengucapkan satu nama gereja, saya hampir tidak pernah mengatakan jangan pergi ke gereja itu, ke gereja ini. Tidak. Karena saya lihat tetap bagaimanapun gereja ada kelemahannya tetapi itu adalah gereja dari Tuhan. Tapi khusus di Sydney ini, ada satu gereja, sekarang sudah tidak ada, diganti nama, saya sudah pernah mengatakan jangan pergi ke gereja itu. Jelas itu setan, mata saya lihat jelas itu setan. Oh, di situ anak muda begitu banyak, musiknya terserah, jelas itu setan. Saya katakan kepada beberapa anak muda jangan pergi ke sana. You tidak harus ke sini, you boleh pergi ke sana, gereja ini masih baik tetapi yang itu, jangan. Yang punya gereja, yang berkotbah juga bukan hamba Tuhan tapi hamba uang. Banyak sekali hamba Tuhan menjadi hamba uang dan ada di dalam gereja. Sebaliknya banyak anak-anak Tuhan yang kerja di mana-mana, yang sulit, tetapi hatinya untuk Tuhan. Banyak hamba Tuhan yang tidak mencintai gereja, banyak orang awam yang mencintai gereja lebih daripada hamba Tuhan. Alkitab tidak membedakan orang berdasarkan posisi. Kalau membaca Perjanjian Lama, Saudara akan menemukan bagaimana seluruh kerajaan Israel runtuh karena imam-imamnya mengejar untung. Kita, hamba-hamba Tuhan dipanggil oleh Allah. Biarlah kita tidak memikirkan uang di dalam diri kita. Kalau Allah memberikan kelebihan, biarlah kedaulatannya. Kalau Allah memberikan kemiskinan, biar kehendak-Nya jadi di dalam keadaan apapun saja. Kita tidak boleh pernah berpikir tentang profit. Tiga hal ini, pertama, hamba Tuhan, kedua, guru, dan ketiga adalah dokter. Kalau tiga profesi ini sudah memikirkan kekayaan, menggunakan hal-hal yang penting bagi manusia untuk profit, sudah pasti hancur. Saudara yang mau jadi hamba Tuhan, jangan pikir mengenai profit. Yang mau menjadi guru jangan pikir mengenai profit. Yang mau jadi dokter, jangan pikir mengenai profit. Kalau itu ada, Saudara dan saya akan membuat satu kejahatan terhadap kemanusiaan yang paling fatal.

Hal yang ketiga, Alkitab ketika berbicara berkenaan dengan jangan mengumpulkan harta di dunia ini, itu tidak berarti kita menjalankan bisnis dengan seadanya, tidak perlu profit. Kalau begitu, sekarang dagang rugi aja, tidak apa-apa. Tuhan berkenan sama orang-orang yang rugi. Atau Saudara berpikir jangan mengumpulkan harta di bumi, berarti kesimpulannya aku tidak usah menabung, aku tidak peduli dan tidak care akan masa depanku. Malah kemudian kerja seenaknya saja. Kalau perlu tidak harus kerja. Tidak seperti itu. Di tempat yang lain Paulus mengatakan kalau tidak bekerja, jangan makan. Kita diperbolehkan untuk mengembangkan bisnis kita, kita mengembangkan seluruh talenta dan kesempatan yang Tuhan berikan. Tetapi sekali lagi, Tuhan menginginkan hati dan pikiran kita bukan di-preoccupied dengan kekayaan dan berpikir bahwa kekayaan itu keselamatan kita di masa depan. Alkitab dengan jelas mengatakan kekuatan kuda, kekuatan busur panah dan kekuatan kekayaan tidak bisa menyelamatkan kita sama sekali. Israel ketika keluar dari Mesir tidak memiliki apapun dan mereka memenangkan peperangan. Mereka memenangkan peperangan bukan kepada negara yang kecil tetapi kepada Mesir yang adikuasa. Berkali-kali di dalam Alkitab, Tuhan marah kepada raja-raja Israel yang menempelkan dirinya kepada kekayaan atau kekuatan kuda. Tuhan mengajarkan kepada raja-raja Israel satu prinsip ini, kemenanganmu adalah karena Aku memimpin engkau. Alkitab dengan jelas mengundang kita untuk memercayai Allah masa kini dan masa depan. Kita diminta untuk bekerja keras dan sering sekali keuangan adalah hasil integral karena kita bekerja keras. Tuhan tidak menginginkan hati kita diletakan pada keuangan untuk menjamin masa depan kita. Kalau Dia menginginkan kekayaan kita untuk dilepas biarlah kita mau melepaskannya, kalau Dia meminta kita bekerja keras untuk mengumpulkan biarlah itu di dalam ketaatan kita. Banyak orang menganggap diri irit, sesungguhnya kikir, banyak orang yang tidak mau mengeluarkan uang dan sangat sakit ketika mengeluarkan uang, sesungguhnya karena di dalam hatinya yang terpenting adalah uang. Mereka berpikir tanpa uang maka masa depanku suram. Ini seluruhnya tipuan-tipuan yang kelihatannya biasa. Oh, saya harus memikirkan masa depan. Siapa yang mengatakan tidak harus memikirkan masa depan? Tetapi pertanyaannya adalah kenapa kekuatiran itu begitu cokol. Ini adalah gejala rohani yang kita harus pikirkan baik-baik. Banyak orang pergi ke gereja memakai nama Tuhan, sesungguhnya menginginkan Tuhan memberkati dia, bukan untuk menyembah Allah. Seluruhnya adalah tipuan-tipuan yang kelihatannya rohani tetapi sebenarnya yang aku mau melayani Tuhan untuk berkat-Nya.

Hal yang keempat, meskipun Tuhan tidak pro-orang miskin, Dia menghardik orang kaya dan juga sebaliknya, tetapi Alkitab secara jelas menyatakan begitu banyak peringatan-peringatan yang keras yang ditujukan kepada orang kaya. Saudara mesti melihat secara komprehensif. Sekali lagi Alkitab tidak mengatakan kamu miskin, miskin saja. Aku tidak suka sama orang kaya. Tidak. Tetapi di tempat yang lain saya akan masuk detail, dalam hal ini jelas sekali akan menemukan banyak peringatan-peringatan yang keras yang ditujukan kepada orang kaya. Kalau membaca perikop-perikop yang nanti kita baca tentang kekayaan. Kita akan menyadari bahwa Alkitab tidak melarang kita menjadi kaya, tetapi Alkitab memberikan peringatan bagi kita bahwa kekayaan sangat mudah membuat kita serong dan hancur hidupnya. Seakan-akan Alkitab mau menggambarkan begitu seseorang mendapatkan kekayaan, kekayaan itu tidak akan pernah datang sendirian. Bersama dengan kekayaan yang datang kepada kita, akan hadir berbagai-bagai macam pencobaan dan kejahatan. Alkitab mengajarkan ketidakberesan hati manusia dalam melihat kekayaan dan uang akan menghasilkan kejahatan demi kejahatan yang hadir di dunia ini. Sekarang kita akan melihat beberapa ayat-ayat Alkitab dan Saudara akan menemukan kesimpulan yang tadi saya katakan. Betapa Allah menyatakan peringatan-peringatan yang keras yang ditujukan kepada orang kaya:

Mari kita melihat 1 Timotius 6:9-10, Tetapi mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan. Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka. Lihatlah, berbagai-bagai macam pencobaan dan kejahatan itu menjadi satu paket dengan kekayaan. Mari kita melihat Lukas 8:14, ada kalimat Yesus yang sangat mencengangkan. Lukas 8:14 Yang jatuh dalam semak duri ialah orang yang telah mendengar firman itu, dan dalam pertumbuhan selanjutnya mereka terhimpit oleh kekuatiran dan kekayaan dan kenikmatan hidup, sehingga mereka tidak menghasilkan buah yang matang. Ini adalah salah satu perumpamaan berkenaan dengan Kerajaan Allah. Ada seorang penabur menabur benih Kerajaan Allah dan jatuh ke 4 tanah yang berbeda. Salah satu benih itu jatuh dan di sini dikatakan di semak duri. Itu adalah penggambaran berkenaan dengan kekayaan. Perhatikan apa yang dikatakan oleh Matthew Henry. Kemakmuran lebih berbahaya daripada penganiayaan dalam menghancurkan firman yang tertanam di dalam hati karena dilakukan dengan cara yang diam-diam dan lebih tenang. Orang yang kaya dan mempertahankan kekayaannya sangat jarang adalah orang yang mencintai Tuhan meskipun ada. John Stott menyatakan: “Materialismelah yang menambatkan hati anak-anak Tuhan ke dunia ini.” Alkitab juga menyatakan kisah-kisah tragis bagaimana manusia yang mencintai uang merupakan tanda-tanda jelas anak-anak kegelapan. Kisah Yudas memainkan sesuatu yang sangat vital dengan menggunakan uang. Ananias dan Safira yang aktif di gereja membohongi Tuhan di dalam keuangan. Dan Bileam, nabi yang disogok untuk mengutuki orang-orang Israel. Melihat ketiga peristiwa dan orang ini, mereka semua adalah anak kegelapan. Saya pernah mengatakan kalimat di bawah ini dan meskipun dengan hati-hati, tapi saudara perhatikan. Masalah cinta uang, itu ada di dalam hati terdalam. Kalau melihat kegagalan seseorang di dalam seksual, saya tidak katakan itu kegagalan yang sederhana, itu sesuatu yang fatal. Tetapi banyak laki-laki jatuh dalam seksual adalah seperti tergelincir. Tapi lain dengan uang, Saudara tidak akan tergelincir di dalam uang, itu sudah ada di dalam hati terdalam. Saya tidak meng-excuse berkenaan dengan dosa seksual karena Daud harus hancur kerajaannya, tidak lagi bisa bertahta karena dosa seksual. Oleh dosa seksual itu seluruh haknya hilang. Tetapi dosa di dalam cinta uang, bukan hanya kehilangan hak di tengah-tengah dunia, bahkan anak orang-orang ini adalah anak-anak kegelapan.

Saya teruskan sekarang dengan Yakobus 5:1-3 dan lihatlah bagaimana peringatannya, Jadi sekarang hai kamu orang-orang kaya, menangislah dan merataplah atas sengsara yang akan menimpa kamu! Kekayaanmu sudah busuk, dan pakaianmu telah dimakan ngengat! Emas dan perakmu sudah berkarat, dan karatnya akan menjadi kesaksian terhadap kamu dan akan memakan dagingmu seperti api. Kamu telah mengumpulkan harta pada hari-hari yang sedang berakhir. Jelas sekali ayat ini ditujukan kepada siapa, yaitu orang kaya, orang yang punya uang. Ini tidak mungkin dibantah dan tidak mungkin dihindarkan. Hal yang lain, Lukas 12:15, Kata-Nya lagi kepada mereka: “Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu.” Satu cerita yang sangat terkenal. Lihat apa yang Lukas katakan: “Berjaga-jagalah terhadap segala ketamakan.” Mari kita melihat 1 Petrus 3:3-4: “Perhiasanmu janganlah secara lahiriah, yaitu dengan mengepang-ngepang rambut, memakai perhiasan emas atau dengan mengenakan pakaian yang indah-indah, tetapi perhiasanmu ialah manusia batiniah yang tersembunyi dengan perhiasan yang tidak binasa yang berasal dari roh yang lemah lembut dan tenteram, yang sangat berharga di mata Allah.” Di sini dikatakan ‘emas’, sesuatu yang dipandang indah di dunia ini, di hadapan Kerajaan Allah tidak ada artinya. Saya pernah berbicara hal ini, di dalam kitab Wahyu, banyak orang mengutip, “Oh, kita tidak punya uang di sini tidak apa-apa, pokoknya kita mengumpulkan harta di surga. Nanti kalau kita pergi ke surga, maka jalanannya emas, rumah kita akan ada mutiara demi mutiara.” Orang itu adalah orang yang cinta uang, sekarang tidak mampu di sini, dibawa ke sana, ke surga, dalam kekekalan, tetap cinta uang. Bukan seperti itu, ketika Alkitab mengatakan jalan di surga emas, itu artinya yang paling berharga di dunia ini, begitu sampai di surga diinjak-injak. Ini adalah kebenaran. Kita jangan mengumpulkan harta di dunia dan melihat uang sebagai hal yang ada di centre kita.

Hal yang paling mengerikan adalah ketika kita melihat Lukas 18:18-25: Ada seorang pemimpin bertanya kepada Yesus, katanya: “Guru yang baik, apa yang harus aku perbuat untuk memperoleh hidup yang kekal? Jawab Yesus, “Mengapa kaukatakan Aku baik? Tak seorang pun yang baik selain dari pada Allah saja. Engkau tentu mengetahui segala perintah Allah: Jangan berzinah, jangan membunuh, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta, hormatilah ayahmu dan ibumu.” Kata orang itu, “Semua itu telah kuturuti sejak masa mudaku.” Mendengar itu Yesus berkata kepadanya, “Masih tinggal satu hal lagi yang harus kaulakukan: juallah segala yang kaumiliki dan bagi-bagikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan Ikutlah Aku.” Ketika orang itu mendengar perkataan itu, ia menjadi amat sedih, sebab ia sangat kaya. Lalu Yesus memandang dia dan berkata, “Alangkah sukarnya orang yang beruang masuk ke dalam Kerajaan Allah. Sebab lebih mudah seekor unta masuk melalui lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah.” Saya merenungkan ini, ayat ini sangat-sangat mengerikan. Saudara akan menemukan bagaimana dosa cinta uang itu subtle, di dalam, yang tidak bisa dilihat oleh siapapun kecuali mata Yesus. Untuk me-reveal, Yesus menggunakan kalimat yang luar biasa tajam, extreme. Siapa orang ini? Dia orang muda, dia adalah pemimpin, pemimpin berarti hidupnya punya prinsip, pemimpin berarti dia bisa memimpin banyak orang, menjadi contoh. Dia juga adalah orang yang berhasil, dia bukan orang boros, dia bukan orang malas, dia adalah orang yang hormat kepada orang tua, dia bermoral baik, dia beribadah, dan dia lari mencari Yesus Kristus. Saya tanya, Saudara ketemu sama orang tersebut apakah masih ada yang perlu dipertanyakan? Dia pasti akan menjadi leader sebuah gereja. Kalau Saudara memiliki anak seperti itu, Saudara pasti bangga luar biasa. Tetapi Tuhan kita mata-Nya jeli. Saya bersyukur kepada Tuhan, mintalah di dalam doa kita, Tuhan lihatlah hatiku yang paling dalam, karena aku tidak bisa melihat diriku sendiri. Yesus mengatakan: “Jangan mencuri, jangan membunuh, hormatilah ayah ibumu, jangan berzinah.” Berapa banyak anak muda yang sekarang berzinah dengan melihat segala sesuatu yang cabul. Orang ini tidak pernah. Luar biasa, seperti perfect. Tetapi kemudian Yesus katakan satu kurangmu. Oh, Tuhan tahu setiap kalimat diucapkan kepada kita selalu tajam. Saudara perhatikan apa yang diucapkan kepada Petrus, apa yang diucapkan kepada Yohanes, apa yang diucapkan kepada Yudas. Apa yang diucapkan kepada setiap orang, satu kalimat membongkar dosa. Setan kalau kasih kalimat adalah menghibur kita secara palsu. Orang ini luar biasa sempurna tapi di dalamnya Tuhan tahu bahwa tuhannya bukan Allah tetapi mamon. Lalu Tuhan mengatakan: “Buang semuanya dan engkau ikut aku.” Lepaskan semuanya, kasih ke orang lain, ikut Aku. Kalau kalimat Yesus ini datang ke tempat kita, siapa yang sudah siap? Siapa yang mengatakan, ya Tuhan, aku mau. Saya tidak katakan orang yang tidak bisa jawab ini pasti center-nya adalah uang, saya tidak katakan itu, saya tidak berani katakan itu. Tetapi saya katakan, ketika Yesus katakan ini dan katakan iya Tuhan, aku mau melakukan. Orang-orang yang sungguh-sungguh memiliki hati yang diubah oleh Tuhan, hati hamba Tuhan meskipun dia tidak berprofesi sebagai pendeta, pasti mau seluruh hidupnya dipakai oleh Tuhan.

Seluruh murid mendengarkan kalimat Yesus, lebih mudah unta masuk ke lubang jarum. Banyak commentary dan ada beberapa pandangan. Beberapa pandangan terakhir yang paling bisa, sangat bertanggung jawab adalah ini benar-benar unta dan benar-benar lubang jarum. Yesus tidak katakan tidak mungkin, tetapi Yesus mengatakan ini adalah hal yang melampaui pikiran kita kalau itu bisa terjadi. Tetapi ada commentary mengatakan 'lubang jarum' itu adalah satu pintu kecil atau lubang kecil di tembok Yerusalem. Yerusalem kalau tembok besarnya sudah tertutup malam hari, maka pedagang yang pulang malam itu, yang terlambat, harus memasukkan barang-barangnya dan untanya melalui lubang yang luar biasa kecil itu. Orang ini akan bekerja keras untuk bisa melakukannya. Bayangkan dia bawa unta dan bawa barang banyak, kemudian memasukkan semuanya. Unta tersebut musti didorong-dorong atau tarik-tarik, ambil barang satu-persatu, dan dilakukan di malam yang gelap yang hampir tidak ada cahaya. Ditambah lagi di kitab Imamat, unta adalah binatang haram yang tidak diperbolehkan masuk ke Yerusalem. Maka sesungguhnya ini adalah suatu kemustahilan di atas kemustahilan. Maka orang yang sungguh-sungguh kaya bisa mengerti prinsip Kerajaan Surga adalah sangat-sangat sedikit. Kecuali orang tersebut meletakkan hatinya untuk diperintah oleh Kristus Yesus dan di dalam seluruh hidupnya dia menyediakan diri untuk dimiskinkan oleh Allah sekalipun.

Di dalam sejarah, ada satu missionary yang berasal dari orang yang kaya sekali, namanya adalah C.T. Studd. Dia adalah pemain cricket yang terkenal sekali di England. Kemudian Tuhan memanggil dia untuk menjadi missionary di Africa. Suatu hari orang yang dilayani di Afrika ikut dia ke Inggris dan ketika melihat rumah C.T. Studd, dia sangat-sangat terkejut. Orang Afrika ini bertanya mengapa engkau memiliki kehidupan yang seperti ini, engkau mau melayani kami di tempat yang sangat miskin dan sangat panas itu. Di dalam kesendiriannya, suatu hari C.T. Studd menuliskan beberapa bait puisi. Dua kalimat yang sangat terkenal bagi kita sampai saat ini. Dia menuliskan dua kalimat ini. Hanya satu kehidupan dan akan segera berlalu, dan hanya apa yang aku lakukan untuk Kristus yang akan bertahan. Kalimat yang dikatakan Yesus di dalam perikop ini bahasa Indonesianya “Jangan menyimpan harta di bumi ini.” Di dalam bahasa aslinya sesungguhnya Yesus mengatakan demikian: “Berhenti, berhenti, berhenti menyimpan harta di bumi ini.” Apa sesungguhnya kalimat Yesus ini? Dia mau kita mengambil keputusan here and now, waktu untuk memutuskan siapa Tuhan-mu sudah tiba, pilih Allah atau mamon? Engkau tidak bisa menggabungkan keduanya. Sekarang putuskanlah itu. Engkau hanya memiliki satu waktu di dalam hidup, satu kehidupan, dan seluruh kita akan segera berlalu, tetapi Alkitab menyatakan seluruh usaha di dalam Kristus tidak akan sia-sia. Hanya apa yang dilakukan untuk Kristus yang akan bertahan sampai selama-lamanya. Berhentilah untuk menyimpan harta di bumi ini. Mari kita tundukkan kepala. Biarlah kita boleh mendengarkan apa yang Tuhan katakan. Semua berdoa, lihatlah hatimu, lihat hati kita masing-masing, apa yang ada sesungguhnya di dalam hati kita.

Alamat

556 - 558 Botany Road, Alexandria, NSW, 2015
sekretariat@griisydney.org
0422690913
0430930175

Social Media

Facebook GRII Sydney Instagram GRII Sydney Twitter GRII Sydney


Google Play Store
App Store

^