[simple_crumbs root="Home" /]
kembali

20 March 2022

Pdt. Agus Marjanto, M.Th

Hal Mengumpulkan Harta (1)

Mat 6:19-24

Di dalam struktur Injil Matius, maka pasal 5-7 berbicara mengenai kotbah di bukit. Apa yang saudara temukan ketika saudara membaca kotbah di bukit? Sebenarnya kotbah di bukit dinyatakan oleh Yesus kepada murid-murid-Nya. Bukan berarti hanya 12 murid, tetapi kepada pengikut-pengikut-Nya. Kotbah di bukit berisi tatanan dunia yang Yesus mau buat di bumi ini yang dijalankan oleh pengikut-pengikut-Nya, murid-murid-Nya, oleh gereja-Nya. Dunia ini berisi dengan anak-anak kegelapan yang menjalankan hidup dan membangun budaya, segala sesuatu yang ada, yang membentuk tatanan dunia saat ini. Yesus datang menebus dunia ini. Yesus datang bukan saja menebus kita, memasukkan kita ke Surga. Mata Kristus Yesus bukan saja bicara mengenai kehidupan rohani kita di Surga tetapi mata Kristus Yesus juga berbicara berkenaan dengan bumi ini, yang sudah dikuasai oleh kegelapan. Kristus Yesus melahirbarukan kita, memberikan kepada kita kuasa untuk menjadi anak-anak-Nya. Dia mau membentuk sekelompok orang yang lahir baru yang bergerak.

Perhatikan baik-baik, sekelompok orang yang lahir baru, yang bergerak. Gereja itu sebenarnya adalah suatu movement. Ketika kita bicara mengenai gerakan Reformed Injili, kita ada di sini; gerakan Reformed Injili. Biarlah kita boleh mengerti, ini adalah sesuatu yang memang khusus. Tetapi ini adalah sesuatu yang sifatnya menggerakkan gereja yang sudah tidak bergerak. Isi hati Tuhan adalah gereja itu harus bergerak. Gereja bukan diadakan untuk mengumpulkan orang-orang Kristen. Tetapi gereja itu adalah kumpulan orang-orang percaya yang dilahirbarukan dengan kuat kuasa Roh Kudus untuk bergerak, menjadi garam dan terang di dunia ini. Ada saat-saatnya di mana gereja yang sudah bergerak kemudian mulai statis. Dan Tuhan kemudian memunculkan orang tertentu atau memunculkan kelompok tertentu dengan urapan-Nya; menggoncangkan, menggerakkan kembali roda gereja. Itulah sebabnya gerakan-gerakan seperti gerakan reformasi, gerakan puritan itu ada. Atau gerakan Reformed Injili saat ini itu ada. Tetapi secara besar, sesungguhnya isi hati Tuhan membentuk gereja-Nya bukan statis tetapi gereja yang bergerak. Bergerak untuk apa? Bergerak dengan apa? Bergerak seperti apa? Bergerak dengan tatanan, dengan prinsip, dengan prioritas, dengan nilai, dengan etika tandingan yaitu etika Kerajaan Allah yang berbeda dengan dunia ini. Ketika gereja bergerak dengan tatanan dan prinsip Kerajaan Allah, maka ketika itu dikerjakan maka artinya Kerajaan Allah menyebar di seluruh muka bumi ini.

Permasalahan yang ada adalah banyak dari kita mengaku diri Kristen tetapi memiliki prinsip hidup, etika hidup, nilai hidup, tatanan hidup yang persis sama dengan dunia ini. Bukankah saudara-saudara pernah mendengarkan ada kalimat sindiran seperti ini: “Kenapa bukan gereja yang menggarami dunia tetapi dunia yang menggarami gereja?” Itu artinya adalah gereja tidak bergerak menuju kepada dunia. Gereja dipengaruhi oleh dunia. Prinsip-prinsip dunia menjadi prinsip-prinsip gereja. Etika-etika dunia menjadi etika-etika kita. Nilai-nilai hidup dunia menjadi nilai-nilai hidup kita. Biarlah kita mengingat Yesus mengatakan kepada kita bahwa kamu ada di dalam dunia ini, tetapi kamu tidak berasal dari dunia ini. Paulus di dalam kitab Roma 12 menyatakan: “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini tetapi berubahlah oleh pembaruan budimu.” Sekali lagi saya mau menegaskan kepada saudara-saudara di tempat ini; inilah kehendak Allah bagi kita. Inilah kehendak Allah bagi kita. Dan biarlah saudara dan saya keluar dari ibadah hari ini, saudara mengerti kehendak Allah bagi saudara dan saya itu apa. Kehendak Allah bagi kita adalah kita tetap hidup di dunia ini tetapi dengan prinsip, dengan nilai, dengan etika, dengan tatanan Kerajaan Surga sepanjang kita hidup. Ini adalah kehendak Dia bagi kita. Dan ketika kita melakukan hal ini; menjalankan prinsip Kerajaan Allah ketika kita hidup di dunia ini, menjalankan nilai-nilai Kerajaan Allah ketika kita hidup di dunia ini, maka dari kacamata Firman Tuhan artinya kita sedang menaati Dia. Dan ketika kita sedang menaati Dia, artinya kita sedang menghadirkan Kerajaan Surga di bumi ini. Dan ketika menghadirkan kerajaan-Nya di bumi ini, maka kemuliaan nama-Nya dan kemuliaan diri-Nya dikenal dan diperlihatkan di bumi ini. Itu adalah tujuan akhirnya. Kita hanya bisa menghadirkan kerajaan-Nya jika, dan hanya jika, kita mau menaati Dia. Dari kerajaan-Nya yang datang, maka nama-Nya dikenal, kemuliaan-Nya dipancarkan. Kalau saudara-saudara melihat di dalam Alkitab, khususnya misalnya saja dalam Matius pasal 5-7, saudara akan mendapatkan sesuatu kontra yang besar yang Yesus angkat sedemikian rupa, menghadirkan prinsip kerajaan-Nya dikontrakan dengan prinsip dunia. Dan kalau saudara-saudara mengikuti cara Matius menuliskannya, saudara akan menemukan bahwa kontra itu bukan saja di lapisan aktifitas, tetapi di dalam prinsip hati yang terdalam. Yesus bahkan mengatakan: “Engkau tidak bisa memilih dua ini menjadi satu. Engkau harus pilih Allah atau engkau memilih Mamon.”

Perikop yang kita baca adalah bicara berkenaan dengan value/nilai tertinggi atau harta termulia yang kita miliki dan ada pada titik pusat/center hati kita. Kata yang dipakai adalah harta. Harta yang termulia apa yang kita miliki dan sesungguhnya itu terletak di titik tengah hati kita. Setiap dari kita, maka pasti kita punya harta/obyek yang terpenting di dalam hidup ini dan itu apa? Setiap orang pasti memilikinya dan pasti berbeda satu dengan yang lain. Jikalau saudara jawab pertanyaan ini, apa yang menjadi titik pusat dari hatimu? Apa nilai tertinggi dari hidupmu? Bagi dunia, Yesus mengatakan: “Ini adalah uang atau kepemilikan di bumi ini.” Bagi anak-anak kegelapan, hal termulia, terpenting, nilai tertinggi adalah memiliki uang, kekayaan, kemakmuran, kemapanan yang banyak di bumi ini, sekarang, di sini. Pengumpulan kekayaan dengan segera, here and now, menguasai pikiran dan kehidupan seseorang. Kehendak Allah dan kemuliaan-Nya tidak menjadi yang utama. Kehendak Allah dan kemuliaan-Nya adalah sampingan di dalam hidupnya. Tentu kita semua berbicara mengenai kemuliaan Allah. Kita tentu bicara mengenai pekerjaan Allah. Kita tentu akan bicara berkenaan dengan segala sesuatu yang bicara berkenaan dengan Kristus dan kerajaan-Nya. Tidak ada orang yang mengatakan: “Aku hidup untuk kerajaan setan.” Tidak ada orang yang berkata bahwa aku terus-menerus memikirkan mengenai pekerjaan-pekerjaan setan, bagaimana diluaskan di bumi ini. Tetapi permasalahannya bukan di sana. Ketika saudara-saudara memikirkan berkenaan dengan Kerajaan Allah dan kemuliaan-Nya, menjadi sesuatu yang sampingan dan bukan center di dalam hidup kita, maka hal terpenting di dalam hati kita adalah urusan dunia. Ini yang Yesus angkat di tengah-tengah kita. Setiap kita tidak bisa lari dari hal ini. Dan pada akhirnya saudara dan saya harus memutuskan. Apa sesungguhnya yang saudara akan pegang berkenan dengan center hatimu. Kalau melihat dalam Alkitab, bentukan Roh Kudus kepada anak-anak Tuhan adalah membuat center hatinya, di mana nilai tertinggi (harta termulia) itu adalah Allah dan Kerajaan-Nya. Anak-anak Tuhan akan dibuat, dibentuk untuk belajar mengasihi Dia dan mengasihi kemuliaan-Nya ketika kita hidup yang merupakan prioritas yang tertinggi.

Saat-saat ini kita bicara berkenaan dengan uang. Masalah uang, pembicaraan mengenai uang bukan masalah sepele di dalam pelajaran yang dibawakan oleh Yesus Kristus. Ini adalah masalah yang dicermati oleh Tuhan kita. Kadang banyak orang mengatakan, gereja kok ngomongin duit terus? Itu betul saudara-saudara. Kalau ada gereja yang bicara terus-menurus mengenai uang, saudara patut mempertanyakan gereja itu. Tetapi Yesus sendiri tidak menganggap masalah uang ini sesuatu yang sepele. Ada orang yang membuat survey di dalam seluruh Injil. Maka survey itu menyatakan sepertiga dari isi Injil itu berkait langsung dengan uang. Saudara akan bisa melihat Yesus Kristus pun mengatakan: “Ada orang yang akan pergi dan diberikan 5, 2, dan 1 talenta.” Itu adalah uang. Saudara bisa bayangkan sepertiga dari pengajaran Yesus Kristus adalah tentang uang. Alkitab dengan jelas menyaksikan kepada kita, bersaksi kepada kita.

Dunia sendiri memperlihatkan kepada kita bahwa uang adalah masalah terpenting, masalah terpenting di dalam setiap manusia hidup. Problema-problema kehidupan manusia itu kebanyakan adalah masalah uang. Banyak keluarga demi keluarga terpecah, karena uang. Bangsa demi bangsa bertikai, karena uang. Orang berubah menjadi jahat, karena uang. Bukan itu saja, peradaban dunia ini itu berkembang karena daya dorong uang. Perhatikan orang membangun sesuatu, menemukan sesuatu, misalnya orang membuat mobil yang tidak ada sebelumnya. Misalnya mobil dengan tenaga baterai. Atau saudara  melihat orang membangun office, membangun gedung yang besar, pencakar langit. Saya mau tanya saudara-saudara, pernah ketemu sama orang yang membangun dan bertanya, “Kenapa membangun?” “Karena aku mau menggenapi rencana Allah.” Ya gak ada. Mereka membangun adalah karena apa? Karena ingin mendapat profit lebih. Mereka investasi untuk mendapatkan profit lebih. Saya tidak katakan itu salah, nanti kita akan bicara sampai di sana. Tetapi saudara-saudara, saya mau mengatakan bahwa uang itu menjadi pendorong dari budaya kita itu maju. Bukan itu saja, di dalam aspek yang lebih mikro, banyak keluarga terpecah dan orang-orang yang Tuhan letakkan begitu dekat, akhirnya tidak lagi bisa beserta dengan kita karena masalah uang. Berapa banyak saudara, kakak, adik atau ipar atau saudara-saudara dekat yang kemudian mulai menjauh karena urusannya uang. “Dulu saya dekat sama saudara dari keluarga mama saya. Sekarang sudah gak dekat.” “Kenapa?” “Dia hutang, gak bayar, Pak.” Berapa banyak seperti itu? Ini sungguh-sungguh terjadi. Suatu hari saya ke KKR regional di daerah Jawa Tengah. Kami naik mobil, dan masuk ke daerah yang agak kecil. Pada waktu itu saya ada telepon, maka saya duduk di samping driver dan saya kemudian telepon. Pemuda yang ada di belakang saya ada beberapa dan kemudian dia menepuk punggung saya dan mengatakan: “Pak Agus, Pak Agus, coba lihat.” Dan kemudian saya lihat satu bangunan cukup besar dan ada sesuatu yang menjulang di atasnya. Dan saya melihat ada sarang burung walet, yang saudara tahu kan di Jawa banyak sekali. Jadi, sarang burung walet itu adalah ludahnya burung walet. Dan harganya mahal sekali, bahkan sampai sekarang. Dan kemudian, saya masih telepon, saya tidak bisa bicara, kemudian setelah telepon selesai, saya tanya kepada pemuda saya, “Kenapa?” Dia bilang, “Saya tahu keluarga itu. Itu suami istri dan 3 orang anaknya, dari kecil mereka sama-sama menderita, sama-sama berdoa bersama-sama.” Tapi tiba-tiba, tanpa mereka sadari, burung walet bersarang di rumahnya. Kemudian makin lama makin banyak. Kemudian mulai mereka membangun dan makin banyak masuk, membangun lagi, makin banyak masuk. Dan mereka kemudian menjadi kaya raya. Di dalam beberapa tahun sebelumnya, tiba-tiba mereka itu beradu mulut dan berantem dan saling bahkan mau membunuh. Kemudian adiknya membawa kakaknya masuk ke pengadilan dan sekarang dipenjara. Aneh sekali. Tapi ini realita bukan? Aneh sekali. Kita itu dipisahkan dengan air liur burung. Aneh sekali. Dari sejak kecil doa bersama-sama, sampai besar bencinya luar biasa.

Kekayaan, kemakmuran, kemapanan, uang, itu bukan kecil kuasanya. Coba paling sederhana saudara-saudara. Coba bikin anak kita rajin saja. Saudara-saudara, siapa yang tanda kutip itu “berhasil”? Pasti ada yang berhasil, tapi saudara-saudara akan lihat susahnya. Untuk bikin anak kita yang malas jadi rajin, “Nak, kamu belajar yang baik ya, Tuhan sudah kasih kamu talenta yang banyak, kamu itu khusus, kamu itu image of God, Tuhan punya tujuan khusus bagimu untuk engkau itu genapi, belajar ya supaya engkau bisa dipakai sama Tuhan.” Teologianya betul bukan saudara-saudara? Kemudian kita ajarkankan? Terus anak kita langsung rajin? Paling cepat saudara-saudara, yang biasa dilakukan adalah kita bilang, “Nak, kamu lihat Oom itu, kaya bukan?  Itu lihat rumahnya dua, belum lagi investasinya yang lain. Mobilnya Tesla. Nah, kamu lihat ada orang pengemis di pinggir jalan itu. Kamu mau seperti mana?” Seperti yang kaya. “Ya sudah belajar, nanti kamu bisa jadi seperti dia.” Itu langsung perubahan karakter cepatnya luar biasa. Dan berapa banyak dari kita yang rajin, kita ingin melakukan sesuatu karena memang untuk mendapatkan real money. Sama bukan dengan kita? Berapa banyak orangtua yang mendidiknya, yang menggembleng anaknya untuk menguasai banyak hal demi Kerajaan Surga diwujudkan di bumi ini? Kebanyakan dari kita mendidik anak kita supaya berhasil, supaya kaya, supaya sukses di mata dunia. Mazmur pasal 127 ada satu ayat yang sangat menyentuh saya dari beberapa tahun yang lalu. Dikatakan: “Seperti anak-anak panah di tangan pahlawan, demikianlah anak-anak pada masa mudanya.” Perhatikan baik-baik, anak-anak kita seharusnya dipercayakan kepada kita untuk dibentuk agar suatu hari bisa dipakai Allah di dalam peperangan, pertempuran di dunia ini. Seperti anak panah di tangan pahlawan. Alkitab mengatakan, Siapa pahlawan itu? Allah yang perkasa pahlawan perang. Anak panah itu cuma satu kali kemungkinan untuk dibidikkan dan tidak kembali lagi. Tetapi ketika dia dibidikkan pada tempat yang tepat maka musuh itu mengalami kerugian, kerusakan besar. Tuhan mau membentuk anak-anak kita untuk dipersiapkan, dipakai oleh Dia pada masanya untuk bertempur. Bukan terus-menerus, dicekokin dengan hal-hal yang dari dunia. Tuhan menghendaki kita memiliki prinsip Kerajaan Allah berkenan dengan hal ini. Yaitu Kerajaan Surga, mengumpulkan harta di Surga dan bukan di bumi ini. Mari kita berdoa.

Alamat

556 - 558 Botany Road, Alexandria, NSW, 2015
sekretariat@griisydney.org
0422690913
0430930175

Social Media

Facebook GRII Sydney Instagram GRII Sydney Twitter GRII Sydney


Google Play Store
App Store

^