[simple_crumbs root="Home" /]
kembali

5 December 2021

Pdt. Agus Marjanto, M.Th

Born as a Child and Yet a King

Mat 2:1-11

Hari ini kita merayakan Natal. Apakah sesungguhnya Natal itu? Dan kenapa kita harus merayakannya? Banyak orang berpikir Natal itu pesta, liburan, sinterklas, bintang. Kita seringkali salah fokus ketika memikirkan Natal. Bahkan sebagian besar orang Kristen juga salah berpikir bahwa Natal adalah hari kelahiran Yesus Kristus, sebatas itu saja. JIkalau Natal itu kita pikirkan sebagai hari kelahiran Yesus Kristus, maka itu tidak ada istimewanya. Semua agama memiliki nabinya yang memiliki hari kelahiran. Jikalau Natal itu hanyalah hari kelahiran Yesus Kristus, apa poinnya kita semua memiliki hari kelahiran? Apakah sesungguhnya esensi, inti Natal? Perhatikan kalimat di bawah ini dan biarlah kita tidak melupakan seumur hidup kita. Natal adalah hari Kristus pribadi kedua dari Tritunggal, Pencipta alam semesta berinkarnasi, mengambil tubuh seperti saudara dan saya masuk ke dunia ini. Kristus Sang Raja di atas segala raja, pemilik seluruh ciptaan itu datang dan lahir sebagai seorang bayi dan mengunjungi ciptaan-Nya. Orang Majus di dalam ayat ini dengan tepat menyatakan, “Di manakah Dia Raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu?” Saudara-saudara, perhatikan kalimat dari orang Majus yang luar biasa tepat. Di dalam ayat yang ke-2 dikatakan, “Di manakah Dia, Raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu?” Orang Majus ini tidak mengatakan, “Di manakah Dia, bayi yang akan menjadi Raja orang Yahudi itu baru lahir?” Perhatikan kalimat ini. Injil Matius mau menyatakan, “Kristus bukan dilahirkan untuk menjadi Raja, tetapi Kristus itu Raja yang lahir.” Saudara-saudara, ini adalah dua hal yang berbeda jauh. Jikalau Yesus dilahirkan menjadi Raja, maka sama seperti semua manusia bangsawan. Banyak sekali bangsawan yang kemudian menjadi Raja. Itu berarti jabatan Raja tidak melekat kepada diri bangsawan itu. Pribadi dan jabatan-Nya itu terpisah. Jabatan itu diberikan oleh sesuatu dari luar, yang lebih tinggi darinya. Karena jabatan itu diberikan dari luar, maka jabatan tersebut juga sewaktu-waktu bisa dicabut. Itu bukan jabatan yang kekal, yang dulu sampai sekarang, sampai selamanya. Sekali lagi, Kristus bukan dilahirkan untuk menjadi Raja. Orang Majus mengatakan, “Di manakah Dia, Raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu?” Kalimat itu mau menyatakan Kristus adalah Raja yang baru lahir. Ini bicara berkenaan dengan hakekat. Ini bicara berkenaan dengan ontological. Esensi jabatan Raja yang melekat dari sejak adanya penciptaan dunia ini. Karena di dalam Alkitab, dalam Kolose 1:16 menyatakan, “Karena di dalam Kristus, diciptakan segala sesuatu yang di surga dan di bumi yang kelihatan dan yang tidak kelihatan.”

 Sekali lagi, tidak ada satu manusia pun di dunia ini yang menjadikan Yesus Kristus itu Raja. Yesus adalah Raja itu sendiri. Dan pada waktu hari Natal, Dia hadir ke dalam milik kepunyaan-Nya sendiri. Ini adalah tema utama Kitab Matius secara keseluruhan. Matius menuliskan kepada orang Yahudi di diaspora (orang Yahudi yang ada di pembuangan). Dari setiap kalimatnya, dari setiap perikopnya, Matius mau mempresentasikan bahwa Yesus Kristus adalah Raja yang ditunggu-tunggu. Yesus adalah Raja. Dan Dia datang untuk membawa Kerajaan Allah di muka bumi ini. Dan Kerajaan Allah yang Dia bawakan akan mengalahkan kerajaan dunia. Dan Bapa di surga menentukan bahwa Dia akan mengalahkan seluruh raja-raja di muka bumi ini. Sekali lagi, orang Majus menanyakan, “Di manakah Dia, Raja orang Yahudi yang baru dilahirkan?” Satu kalimat ini saja menyatakan perbedaan kualitatif antara Yesus dan semua raja di muka bumi. Dia adalah Raja pada pribadi-Nya. Yang lahir sebagai bayi yang kecil yang tidak berdaya. Maka perhatikan beberapa berita penting ini pada pagi hari ini, saudara-saudara. Dia adalah Raja. Pada hakekat-Nya, Dia Raja. Dan Dia lahir pada hari Natal. Sebagai seorang anak, bayi yang kecil. Apa artinya?

Hal yang pertama. Ini adalah satu-satunya jalan keselamatan bagi engkau dan saya, bagi seluruh dunia, untuk kita bisa diterima kembali oleh Alah. Jalan keselamatan bukan melalui agama atau perbuatan baik. Tetapi meletakkan iman kita kepada Dia yang adalah Raja yang datang sebagai seorang bayi. Saudara-saudara, saya sudah mengatakan di depan, Natal adalah Allah penguasa, Raja, langit dan bumi karena Dia adalah pencipta, datang sebagai seorang bayi yang lahir di dalam kendang hewan. Saudara-saudara, kadang kalimat ini pun, kadang peristiwa ini pun, kita salah fokus. Kita berpikir ini hanya moralitas. Oh, Yesus yang kaya, Yesus yang Raja, lalu kemudian Dia datang sebagai orang yang miskin. Engkau lihat kekristenan membela orang kecil, membela orang lemah dan kemudian melawan orang-orang kaya, melawan penguasa. Saudara-saudara, ya benar kekayaan itu memiliki bahaya yang sangat signifikan di dalam kerohanian mereka. Alkitab menyatakan banyak orang terjebak di dalam dosa karena mereka menginginkan kekayaan. Dan banyak anak-anak Tuhan yang jatuh di dalam keadaan yang sebenarnya mapan, lancar dan makmur. Tetapi Alkitab tidak pernah melihat orang miskin itu pasti lebih rohani daripada orang kaya. Alkitab tidak mengajarkan Yesus itu berpihak kepada orang miskin dan melawan orang kaya. Bahkan kalau saudara-saudara melihat Alkitab, misalnya Kisah Para Rasul. Saudara akan menemukan beberapa aktivis pada gereja awal yang adalah orang-orang kaya, yang mendukung pelayanan murid-murid Tuhan Yesus. Jadi, ketika Alkitab menyatakan bahwa Dia adalah Raja, penguasa langit dan bumi dan kemudian datang sebagai seorang bayi yang miskin di palungan. Saudara-saudara, biarlah kita tidak salah fokus, ini tidak berbicara mengenai moralitas. Ini tidak berbicara berkenaan dengan Yesus Kristus berpihak kepada orang miskin dan melawan orang kaya. Kalau bukan moralitas, ini adalah bicara mengenai apa? Ini adalah bicara jalan yang harus dilalui oleh Yesus Kristus untuk menghadirkan keselamatan bagi saudara dan saya.

Raja yang menjadi bayi adalah jalan keselamatan umat manusia satu-satunya. Dengan hormat kepada Tuhan dan takut kepada Dia, saya menyatakan hal ini. Kita tahu semua bahwa Allah itu adalah Allah yang maha kuasa. Tetapi Alkitab dengan jelas bersaksi bahwa ketika Dia yang adalah Mahakuasa itu bukan berarti Dia bisa sesuka-sukanya melakukan apa pun saja seperti yang kita pikirkan. Kita adalah orang yang sudah jatuh di dalam dosa. Kita adalah orang yang binasa. Dan kemudian Allah itu maha kuasa. Alkitab tidak pernah mengatakan Dia yang Mahakuasa, kemudian cara untuk membuat, menyelamatkan, menguduskan kita hanya dengan membalikkan tangan-Nya kemudian selesai. Hai, engkau orang yang berdosa! Aku akan menyelamatkan engkau. Aku kemudian menepukkan tangan-Ku dan kemudian engkau selamat. Tidak, tidak pernah seperti itu! Itu bukan prinsip Alkitab. Loh, Allah kan Mahakuasa. Dia bisa menyelamatkan aku kan? Ya, dia bisa menyelamatkan saudara dan saya, tetapi saudara perhatikan seluruhnya harus ada di dalam batasan sifat-Nya. Ketika Allah mau melakukan sesuatu, itu harus sesuai dengan keseluruhan naturnya. Itu harus sesuai dengan seluruh prinsip dan cara kerja-Nya. Mengapa Yesus Kristus yang adalah pribadi Allah oknum kedua yang adalah Raja di atas segala raja itu harus menjadi seorang bayi yang kecil mengenakan tubuh seperti saudara dan saya lahir di dunia? Karena dengan jalan inilah, Allah menyelamatkan kita. Yang berdosa itu manusia, maka yang menyelamatkan harus manusia. Sekali lagi, ini bukan berbicara mengenai tentang kaya dan miskin, ini bicara berkenaan dengan jalan yang sempit yang harus seperti itu untuk ada keselamatan bagimu dan bagiku. Jalan keselamatan bagi kita hanya melalui Yesus Kristus yang harus menjadi manusia. Yang berdosa, yang gagal, adalah Adam pertama, yang harus menyelesaikan adalah Adam yang kedua. Yang gagal adalah manusia, yang menyelesaikan harus sungguh-sungguh manusia.

Saudara-saudara, ketika Adam itu sudah berdosa, dia tidak taat sepenuhnya kepada Tuhan, ada hutang dosa yang ditanggung oleh dia dan seluruh anak cucunya sampai kepada saudara dan saya. Maka keselamatan tidak bisa tidak haruslah seperti ini. Ada manusia yang sejati, yang taat sepenuhnya kepada Allah, dan sekaligus membayar sepenuhnya hutang dosa Adam dan seluruh keturunannya kepada Allah. Saudara-saudara, perhatikan dua aspek ini. Bukan cuman satu! Dua aspek ini harus bergabung. Manusia yang menjadi wakil kita harus taat sepenuhnya kepada Allah. Di dalam bahasa teologi disebut active obedience. Tetapi itu tidak cukup, manusia yang menjadi wakil kita harus membayar sepenuhnya hutang yang dibuat Adam dan keturunannya. Secara teologi disebut sebagai passive obedience. Dua hal ini harus dilakukan untuk ada keselamatan bagi saudara dan saya. Itulah sebabnya Yesus Kristus pribadi kedua dari Tritunggal harus inkarnasi mengenakan tubuh seperti saudara dan saya dan berjalan di dunia ini untuk taat sepenuhnya kepada Bapa dan membayar hutang dosa di atas kayu salib, masuk di dalam seluruh jalan penderitaan, jalan perendahan diri, jalan memikul salib. Itu adalah keselamatan! Natal adalah berbicara mengenai inkarnasi. Inkarnasi adalah mengenakan tubuh. Pribadi kedua Tritunggal itu mengenakan tubuh. Itulah sebabnya saudara melihat di tempat dari palungan itu, adalah Raja di atas segala raja, demikian kata Alkitab yang adalah manusia yang sejati. Natal bukan bicara tentang pohon natal. Natal bukan bicara tentang hiasan natal. Natal bukan bicara mengenai moralitas atau memperhatikan orang miskin. Natal bicara berkenaan dengan satu-satunya jalan yang Allah berikan kepada dunia untuk keselamatan saudara dan saya, penebusan dosa.

Hal yang kedua apa artinya Yesus adalah Raja alam semesta dan datang sebagai bayi? Artinya bahwa status pribadi-Nya sebagai Raja terlepas dari sikap orang lain kepada Dia, dan terlepas dari konteks hidup apa pun yang terjadi kepada Dia. Saudara-saudara, Yesus adalah Raja, meski Yusuf dan Maria bukan raja, bukan penguasa. Yesus adalah Raja, meski dia berprofesi sebagai anak tukang kayu. Yesus adalah Raja, meskipun dia dilahirkan di palungan, tempat makan binatang. Yesus adalah Raja, meski dia lahir di keluarga yang miskin yang tidak dipedulikan. Saudara-saudara, perhatikan perbedaannya. Kita sering sekali melihat diri kita, identity kita dengan apa yang terjadi dan yang kita miliki atau tidak miliki di dalam hidup. Tetapi ini tidak terjadi kepada Yesus Kristus. Para penulis Injil menyatakan bahwa dia Raja tetapi tidak malu-malu menyatakan Dia lahir di palungan. Bahkan kelahiran-Nya dikelilingi oleh para gembala yang tidak berpendidikkan. Itu tidak mengubah apa pun saja kepada pribadi Yesus Kristus yang adalah Raja. Sekali lagi, saudara-saudara, status pribadi-Nya sebagai Raja terlepas dari konteks hidup apa pun saja yang terjadi kepada Dia. Yesus adalah Raja, meski Dia dihargai apa tidak. Yesus adalah Raja, meskipun Dia dianggap atau tidak oleh orang lain. Yesus adalah Raja, meskipun Dia dipedulikan atau tidak dipedulikan oleh orang lain. Meskipun ada yang mengikuti atau yang menolak Dia. Saudara-saudara, perhatikan bahwa Alkitab itu menyatakan bagaimana identitas-Nya yang tidak tergoyahkan dan segala sesuatu itu tidak penting, dan tidak mengubah keadaan-Nya, Dia tetap Raja! Bagaimana respon orang tidak akan mengubah pribadi-Nya. Sebaliknya, manusia mengakui Dia atau tidak mengakui-Nya sebagai Raja, itulah yang mengubah keadaan kita! Makin saya pikirkan, makin saya menyadari. Sesungguhnya satu jabatan yang paling mengganjal di dalam hubungan kita dengan Kristus adalah jabatan Raja ini.

Yesus di dalam Alkitab dinyatakan memiliki beberapa titles (sebutan). Kalau saudara-saudara pikirkan, jabatan atau sebutan sebagai Raja ini yang paling mengganjal dalam hidup kita di dalam berelasi dengan Dia. Dia adalah Gembala, siapa yang tidak mau digembalakan oleh Dia? Apalagi ketika Dia menggembalakan, Dia menuntun kepada jalan, di dalam air yang tenang dan tempat yang sungguh-sungguh hijau, padang belantara yang indah itu. Kita sering sekali berdoa bukan? Tuhan, gembalakan aku! Tuhan, gembalakan seluruh keluargaku. Yesus juga disebut sebagai Penasehat yang ajaib. Bukankah kita sering kali berdoa dan meminta nasehat-Nya? Jikalau kita itu ada masalah, bukankah kita datang dan minta tolong kepada Dia dan hikmatnya memberikan kita jalan keluar? Dia juga adalah Imam. Dan, Imam itu memberikan korban pendamaian antara manusia dengan Allah. Berapa kali dalam hidup kita, kita sadar akan dosa kita dan kita datang kepada Dia dan minta pengampunan? Kita mengakui bahwa Dia adalah Imam di atas segala imam. Bukankah itu sering sekali, kita berdoa dalam hal ini? Bahkan kita menghargai Dia di dalam jabatan-Nya sebagai Nabi. Berapa orang yang mengingini kehendak Tuhan itu kita ketahui? Berapa orang yang mengingini mendengarkan suara Tuhan? Banyak anak-anak muda kalau sudah jatuh cinta sama seseorang, lalu kemudian doa, “Tuhan, apakah itu kehendak-Mu?” Saudara-saudara menginginkan suara Tuhan. Kalau sudah bertahun-tahun tidak mendapatkan pekerjaan, lalu kemudian kita tanya, “Tuhan, apakah kehendak-Mu?” Itu adalah Yesus Kristus sebagai Nabi di atas segala nabi yang menyatakan isi hati Allah. Tetapi sebagai Raja, ini menjadi stumbling block bagi kita. Karena tuntutan Yesus Kristus sebagai Raja itu adalah mengatur sampai sedetilnya dari hidup kita. Wah, kalau yang ini, nanti dulu Tuhan. Aku memerlukan penebusan-Mu. Aku memerlukan nasehat-Mu. Aku memerlukan suara-Mu, bahkan. Tetapi, Engkau mengatur hidupku? Engkau mengatur hidupku? Engkau mengatur dengan siapa saya menikah? Engkau mengatur di mana aku harus bekerja? Engkau mengatur aku dalam seluruh bagian yang paling kecil? Engkau mengatur aku untuk aku menyangkal diri? Memikul salib? Oh, nanti dulu Tuhan. Dosen saya pernah mengatakan berkali-kali. Orang Kristen itu adalah ateis praktis. Ateis praktis. Begitu sudah bicara mengenai pemerintahan Kristus Yesus yang menuntut pengorbanan, menuntut sangkal diri, menutut seluruh hidup diserahkan di bawah pemerintahan-Nya. Kita menolak-Nya. Tetapi sesungguhnya, ini adalah alasan Dia hadir. Bukan untuk membuat sesuatu agama baru di dunia. Tetapi untuk menaklukkan seluruh musuh Allah saat ini dan yang tidak mau ditaklukkan akan dihukum dan ditaklukkan pada akhir jaman.

Dia adalah Raja di atas segala raja yang datang sebagai seorang bayi. Bayi itu lemah. Bayi itu mudah diabaikan. Bayi itu mudah untuk dibuang. Bayi itu tidak memaksa. Salah satu paradoks yang ada yang saya pikir yang terus menjadi ganjalan di dalam hidup saya adalah kenapa yah Yesus yang adalah Raja dan Tuhan itu tidak pernah memaksa kita? Tidak pernah memaksa kita. Alkitab sebenarnya memberikan jawaban karena penguasaan yang Dia inginkan adalah kerelaan hati kita. Di dalam Matius pasal 2. Perikop ini jelas mengontraskan  dua raja, yang satu adalah Herodes dan yang satu adalah Anak itu. Matius pasal 2 itu tidak sedang berbicara tentang Yesus di palungan karena sangat mungkin Yesus sudah berumur 1 tahun atau 2 tahun. Di dalam Matius pasal 2, saudara akan menemukan Herodes disebut beberapa kali sebagai raja.Tiga kali dalam ayat ke-1 , ke-3 dan ke-9. Tetapi Yesus disebut sebagai Anak itu. Saudara-saudara, kalau saudara-saudara melihat sifat Herodes, saudara melihat ada sesuatu contrast yang besar. Herodes adalah keturunan Edom dan dia diangkat oleh orang Romawi untuk menguasai seluruh Israel. Meskipun dia adalah orang yang sangat-sangat brilliant, seorang orator, seorang yang sangat pintar sekali dalam strategi militer perang, tetapi sesungguhnya dia adalah raja yang kejam, dia adalah raja yang memaksa. Kalau saudara-saudara membaca kehidupan Herodes Agung ini, Herodes itu membunuh istrinya, anak-anaknya dan sebelum hari kematiannya, dia meminta semua orang penting di kotanya itu ditangkap dan dibunuh pada detik yang sama ketika dia mati supaya ada tangisan di seluruh negeri. Tetapi Raja di atas segala raja, Anak itu, dari lahir sampai mati-Nya di atas kayu salib, Raja itu tidak pernah memaksa satu orang pun. Saya tidak tahu kenapa Engkau tidak memaksa? Membuat kami berkali-kali itu dengan bebas melakukan dosa. Tetapi Alkitab dengan jelas menyatakan karena Dia menginginkan ketaatan dari dalam hati kita.

Kalau saudara-saudara melihat perikop ini, saudara akan melihat bagaimana seluruh manusia itu dikelompokkan hanya di dalam 3 golongan ini yang berespon kepada Sang Raja yang lahir ini. Saudara-saudara perhatikan, tadi saya sudah mengatakan, “Dia, Raja yang lahir.” Konteks apapun saja tidak mempengaruhi bahwa Dia Raja. Saudara menerima atau tidak, tidak mempengaruhi Dia Raja. Tetapi yang malah mempengaruhi kita adalah bagaimana respon kita kepada Dia. Saudara perhatikan bagaimana tindakan kita kepada Dia, tidak mempengaruhi Dia, tetapi mempengaruhi nasib hidup kita. Saudara-saudara, melihat ayat 1-12, saudara akan menemukan 3 golongan manusia. Dari dulu sampai sekarang, sama. Di dalam gereja ini, ada beberapa ratus orang di sini, kita dikelompokkan di dalam 3 golongan ini saja. Di dalam Sydney ini, seluruh Sydney dikelompokkan cuma 3 golongan ini saja. Di dalam seluruh dunia hanya dikelompokkan 3 golongan ini saja. Yang pertama, diwakili oleh Herodes, yang mau membunuh Yesus. Herodes tidak bisa membunuh Yesus maka dia membunuh semua anak kecil di Betlehem. Yesus harus mati. Yesus harus bungkam. Orang-orang seperti ini adalah orang-orang yang menyadari bahwa di dalam satu company tidak mungkin 2 kepala. Dalam hidupku, tidak mungkin ada 2 raja. Kalau Yesus mau menjadi Raja, maka aku harus turun takhta. Sebaliknya, kalau aku naik, maka Engkau harus turun takhta, aku harus membungkamkan Engkau. Berapa banyak manusia? Berapa banyak budaya? Berapa banyak agama? Berapa banyak pembesar? Berapa banyak raja yang mau membungkam suara Firman Tuhan di masyarakat? Berapa banyak orang ateis dengan seluruh kepandaiannya sedemikian rupa membuat teori-teori mengangkat diri, mengatakan, “Tidak ada Allah”? Saya mau tanya, untuk apa engkau mati-matian membela untuk tidak ada Allah? Kenapa engkau membuat begitu banyak teori yang menyatakan tidak ada Allah? Apa tujuanmu? Buka hatimu. Kalau orang itu mau jujur, cuma satu. Karena kalau ada Allah, maka aku harus taat kepada Dia. Kalau ada Allah, aku tidak bisa berbuat sesuka-sukanya dalam hidupku. Berapa banyak orang yang ingin membunuh Yesus dan membungkam Firman-Nya? Dan makin saya pikir, kita perlu sangat minta belas kasihan Tuhan kepada kita. Bahkan apa yang ada di dalam sikap hati Herodes itu ada benihnya di dalam kita karena kita manusia berdosa. John Flavel mengatakan, “Bahkan di dalam hati anak Tuhan yang terbaik sekalipun ada tersembunyi benih atheism.” Banyak orang menjadi ateis, menjadi menolak Firman, mengatakan, “Firman ini patut dipertanyakan,” adalah karena sebenarnya dia menyimpan dosa yang tidak mau diakui. Mari kita terbuka. Ketika kita berdosa dan kita ulang lagi dosa dan kita ulang lagi dosa. Bukankah Firman ini muncul? Dan kemudian kita mau untuk membelokkan: “Oh Firman ini tafsirannya bukan seperti itu kok.” Kita melihat ada lubang-lubang yang kita itu bisa masuki untuk tidak dihakimi oleh Firman itu. Saudara-saudara, saya jarang sekali menemukan atau tepatnya jarang sekali percaya, ada orang yang tidak lagi mempercayai Yesus Kristus Raja/Tuhan dan Firman itu adalah karena benar-benar adalah urusan science. Ada dosa yang disembunyikan atau ada kekecewaan terhadap orang-orang di dalam gereja. Golongan pertama adalah yang mau membungkam Firman-Nya, membunuh Kristus.

Golongan ke-2, golongan ini adalah orang-orang yang tidak peduli pada Dia, padahal tahu bahwa Dia adalah Raja. Saudara-saudara perhatikan, golongan ke-2 ini sebenarnya adalah yang lebih tidak masuk akal daripada golongan pertama. Dan siapakah golongan ke-2 ini? Ini adalah kita. Sebagian besar kita, sebagian besar orang Kristen. Lihat, Herodes itu tidak kenal Tuhan. Dia tidak tahu Firman Tuhan. Begitu dia mendengar ada orang Majus yang datang ke kotanya, terus tanya Raja yang baru lahir itu di mana, maka Alkitab mengatakan: “Herodes langsung meminta untuk semua imam kepala dan ahli Taurat itu berkumpul.” Herodes bertanya, “Tolong selidiki apa yang dikatakan itu, ada ndak di dalam Kitab Suci?” Dan Alkitab mengatakan serempak mereka bilang, “Di Betlehem, di tanah Yudea.” Mereka menemukan di dalam Kitab Mikha 3:1. Oh saudara-saudara, ini menakjubkan. Mereka mempercayai Alkitab adalah Firman Tuhan. Mereka mempercayai Sola Scriptura. Mereka bukan orang liberal yang ketika mau membahas Firman lalu kemudian berdebat terlebih dahulu. “Ini sungguh-sungguh Alkitab Firman Tuhan atau Alkitab berisi firman Allah”. Mereka sama sekali tidak meragukan keabsahan Alkitab. Mereka mempercayai Alkitab. Isi Alkitab, semuanya mereka percayai. Mereka reformed, saudara-saudara. Mereka tidak berdebat dulu: “Ini berisi Firman Allah, ini menjadi Firman Allah kalau ada Roh Kudus ini akan menjadi firman Allah”. Mereka langsung buka, langsung tahu, langsung baca, langsung menemukan, langsung percaya, langsung bicara. Ini reformed, sungguh-sungguh reformed, bukan karismatik. Ini saudara dan saya. Menyelidiki, meneliti, mempelajari dan tahu teologia ini benar. Dan mereka mengucapkannya. Mereka memproklamirkannya. Tetapi anehnya, mereka tidak bersama-sama orang Majus itu mencari Yesus. Mereka membaca, mendengarkan Firman, menemukan kebenaran, tetapi tidak tergerak apapun untuk datang mencari dan menyembah Yesus Kristus. Mari kita tidak membodohi diri kita sendiri. Seberapa banyak dari kita yang mengerti kebenaran, mengerti doktrin. Bahkan saudara tidak mau pergi ke gereja yang abal-abal. Saudara tidak lagi bisa dibodohi oleh mereka. Engkau bahkan mengatakan kepada anakmu, “Kalau engkau mau pergi ke gereja, ke gereja reformed.” Karena banyak gereja itu ndak karuan motivasinya, ndak karuan pengajarannya. Saudara mengatakan kebenaran, saudara tahu kebenaran, tetapi tidak ada gairah sama sekali untuk takluk kepada Kristus. Datang ke gereja pun cuma Natal sama Paskah, sisanya adalah aku tidak peduli Engkau Raja. Aku tahu, aku tidak peduli. Yang paling penting, pekerjaanku! Yang paling penting, karirku! Yang paling penting, uangku! Yang paling penting, adalah pendidikan anakku! Aku tidak punya prime time untuk aku persembahkan kepada-Mu, Tuhan. Aku tahu Engkau Raja. Aku tahu Engkau Raja di atas segala raja, tetapi aku tidak peduli kepada-Mu. Bertobat! Berapa kali hidup kita seperti ini? Kita mengerti kebenaran, tetapi tidak pernah sampai kepada kebenaran itu. Sejauh Kristus itu tidak menuntut kita, aku akan mengikuti Dia. Aku tidak akan memberikan segala-galanya. Aku akan hanya memberikan sampingan, bukan inti hatiku. Waktuku, sampingan kalau ada waktu yah. Uangku, sampingan. You tahu kan saya terlalu banyak kebutuhan. Aku akan suka sama anakku untuk melayani, tapi kalau anakku sampai pulang malam, oh nanti dulu. Apapun saja intinya adalah tidak pernah ada prime time, tidak pernah ada yang terbaik diberikan. Jujurlah saudara-saudara. Sudah berapa puluh tahun kita mengadakan Natal, ikut Natal? Saudara-saudara, suara ini tidak akan hilang dari diri kita sampai kita mati, hanya 3 ada golongan manusia. Yang pertama adalah mau mematikan Firman itu, mau membungkam Firman itu. Yang ke-2 adalah aku tahu tapi aku tidak peduli. Aku tidak punya gairah.

Sikap yang ke-3. Dan mintalah hal ini. Orang majus itu menyembah tanpa paksaan. Lihat apa yang ada dan dilakukan oleh orang Majus ini. Orang Majus itu sangat mungkin dari Babel atau dari Media Persia. Jadi orang-orang ini dari bangsa yang dulu pernah menguasai Israel. Dan sekarang mau mencari satu Pribadi di Israel dan kemudian takluk kepada Pribadi tersebut. Ini suatu perubahan besar di dalam hati. Mereka melihat orang Israel: “Kamu itu siapa? Bangsa apa? You tahu atau tidak bahwa engkau itu aku kuasai? Engkau dulu budakku. Aku membunuh engkau sewaktu-waktu, gampang. Meludahi engkau.” Sekarang saudara-saudara, terbalik. Orang Babel atau orang Media Persia ini kemudian datang dan kemudian sujud kepada Pribadi Kristus Yesus. Bukan itu saja. Orang Majus itu adalah seorang imam di negerinya. Kalau saudara-saudara membaca history Media Persia atau Babel, saudara akan menemukan hal ini; yaitu seorang raja itu bisa menjadi raja kalau dia lulus di dalam sekolah orang-orang Majus. Dan sebelum dia menjadi raja maka orang Majus itu harus menumpangkan tangan kepada orang itu sebelum dinobatkan menjadi raja. Sama seperti sebenarnya kalau saudara-saudara melihat Perjanjian Lama; raja diangkat oleh Allah, tetapi tidak akan sah sebelum imam itu menahbiskan dia. Orang Majus memiliki otoritas tersendiri dari raja-raja Babel dan Media Persia, tetapi ketika mereka bertemu dengan Yesus yang Anak kecil ini, mereka tidak menumpangkan tangan di atas-Nya, mereka langsung merebahkan dirinya menyembah Kristus. Kata menyembah Dia itu artinya sujud, mencium kaki atau ujung pakaian yang paling bawah dari Sang Anak itu. Hal yang lain adalah orang Majus itu datang bukan dengan tangan kosong, bukan dengan persembahan seadanya. Kalau saudara meneliti bagian ini sekali lagi, saudara akan menemukan bahwa ini adalah persembahan yang termahal, terbaik pada jamannya tetapi lebih daripada itu, Allah di dalam kedaulatan-Nya menganugerahkan kepada mereka, ini adalah persembahan yang tepat untuk menyatakan sifat Yesus Kristus. Emas menyatakan sifat raja. Kemenyan menyatakan sifat ilahi. Kalau saudara-saudara melihat dalam Perjanjian Lama, saudara-saudara, kemenyan tidak pernah dipakai sebagai korban penghapus dosa. Seluruh persembahan yang ada relasinya dengan dosa, tidak pernah ada kemenyan. Kemenyan menyatakan sifat yang tidak berdosa dari Anak ini, sifat ilahi. Dan mur menyatakan suatu hari Anak ini akan mati. Mur itu adalah sebagai balsam mayat. Semua orang majus itu memberikan persembahan dan menyembah Yesus Kristus karena mereka diberi anugerah yang istimewa dari Allah. Mereka mengakui Dia Raja, Dia Tuhan dan Dia akan mati untuk menebus dosa. Tetapi bukan hanya itu. Orang majus itu mencari Anak ini sampai bertemu. Ribuan mil. Tidak ada mobil. Kepanasan dan kedinginan. Berhari-hari mungkin berbulan-bulan. Meninggalkan kenyamanan. Meninggalkan keluarga dan rumah. Meninggalkan seluruh pekerjaan dan negeri karena mereka mau menyembah Raja itu. Ini adalah prioritas pertama di dalam hidup mereka. Mereka meninggalkan segala sesuatunya bahkan mereka menghadapi bahaya hanya untuk satu hal, apa itu? Minta kesembuhan? Tidak. Minta kekayaan? Tidak. Hanya untuk satu hal. Apa itu? Menyembah! Mencium kaki Sang Raja. Saya katakan kepadamu, hai seluruh jiwa yang mendengarkan berita ini, sesungguhnya apa dambaan jiwa kita terdalam? Bukan uang. Bukan ketenaran. Karena jiwa kita diciptakan oleh Yesus Kristus. Apa dambaan terdalam jiwamu dan jiwaku? Yaitu ketika kita bisa mencium kaki-Nya dan dikuasai Dia seumur hidup kita selama-lamanya. Dia Raja. Hati kita tidak akan mendapatkan ketenangan terdalam sebelum membuat Dia sebagai Raja di dalam hidup kita. Hai jiwa yang mendengar, lihatlah ini dalam hatimu. Tidak pernah akan tenang. Tidak pernah akan bahagia karena jiwa kita diciptakan untuk menyembah Dia.

Terakhir, saya mau membawa saudara-saudara kepada nilai ketertakjuban dari cerita ini. Kalau saudara-saudara melihat peristiwa ini dan yang diceritakan oleh Matius, saudara-saudara akan melihat kemuliaan cerita ini mengagumkan dan sekaligus mengagetkan. Kalau saudara melihat kitab Matius, saudara-saudara, saudara akan menemukan kekristenan itu dimulai dari hal yang paling remeh. Kandang, perawan yang masih remaja, Yusuf yang miskin, gembala yang menjadi saksi. Saudara akan mendapatkan di Matius, Lukas, di beberapa tempat yang lain. Tetapi secara khusus di dalam kitab Matius, saudara-saudara, kalau saudara-saudara melihat satu pasal sebelumnya, saudara akan menemukan silsilah Yesus Kristus. Saudara-saudara, saudara akan melihat Yesus Sang Raja itu mengambil jalur kelahiran-Nya dari perempuan sundal seperti Rahab, dari pezinah seperti Daud dan Batsyeba, dari seorang perempuan kafir seperti Rut. Dan di sini saudara-saudara, Matius sekali lagi mau menyatakan bahwa di tengah-tengah Yesus Kristus yang menyembah Dia adalah orang Majus. Orang Majus itu siapa? Saya tadi katakan bahwa dia adalah orang Babel atau Media Persia. Dia bukan orang Yahudi. Mereka adalah gentile, orang kafir; tetapi bukan saja orang kafir mereka adalah gentile yang berdosa. Orang Majus adalah orang yang mempelajari astronomi sekaligus astrologi. Mereka adalah orang-orang yang berkecimpung sedikit banyak di dalam dunia sihir. Saudara-saudara, nama magi dipakai untuk kata magic. Saudara-saudara, dalam Kisah Para Rasul ada seorang bernama Simon Magus itu adalah seorang penyihir. Bahkan pada zaman itu ada aturan yang dibuat oleh orang-orang ahli Taurat dan orang Farisi yang mengatakan kalimat seperti ini: “Orang yang mengikuti ajaran orang-orang majus, ahli-ahli sihir atau perbintangan adalah orang-orang itu layak untuk dihukum mati”. Dan saudara-saudara, bahkan Allah pun di dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru juga menyatakan hal itu. Kita tidak boleh masuk di dalam urusan ramal-meramal, melihat bintang, memprediksi masa depan, sihir. Tetapi saudara-saudara, anehnya di dalam Matius pasal 1 dan 2, saudara akan menemukan orang pezinah, orang sundal, orang kafir dan orang-orang penyembah berhala dan bahkan orang-orang berdosa seperti orang-orang Majus itulah yang menemukan Yesus Kristus. Apa yang mau dikatakan oleh Matius? Matius sendiri adalah seorang pemungut cukai yang hina. Apa yang mau dikatakan oleh Matius? Matius mau mengatakan jangkauan pengampunan dan kasih karunia Allah bagi pendosa. Bahkan yang dilihat tidak bisa diampuni oleh dunia ini, Allah itu menjangkaunya. Para pendosa dilibatkan dalam karya Allah yang besar. Ada pengampunan, dipakai oleh Tuhan; seperti Matius sendiri pemungut cukai sekarang adalah penulis Injil. Raja itu sudah datang. Bayi itu kemudian menjadi besar dan mati di atas kayu salib menebus engkau dan saya. “Di manakah Dia, Raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu?”, demikian pertanyaan orang-orang Majus. Dan Pontius Pilatus menuliskan di atas dari salib ini: “Inilah raja orang Yahudi.” Pertanyaan orang Majus itu dijawab di salib. Di manakah Raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu? Di atas kayu salib, menebus dosamu dan dosaku. Berbaliklah, hai jiwa yang berdosa. Berbaliklah, untuk mendapatkan kedamaian jiwa kita. Kau tidak akan dapatkan dimanapun saja kecuali di Pribadi dari bayi, Raja di atas segala raja yang dipaku di atas kayu salib. Tiga golongan manusia, engkau yang mana? Engkau yang mana? Kiranya apa yang bekerja di dalam hati orang Majus bekerja pada kita pada siang hari ini.

Alamat

556 - 558 Botany Road, Alexandria, NSW, 2015
sekretariat@griisydney.org
0422690913
0430930175

Social Media

Facebook GRII Sydney Instagram GRII Sydney Twitter GRII Sydney


Google Play Store
App Store

^