[simple_crumbs root="Home" /]
kembali

28 November 2021

Pdt. Agus Marjanto, M.Th

The Gospel Mystery of Sanctification (13)

1 Yoh 5:3-4

Kita terus memikirkan mengenai satu topik yaitu the Gospel Mystery of Sanctification. Bagaimana dan cara seperti apa Allah yang suci itu memberikan kesucian kepada kita manusia yang berdosa? Kesucian tidak ada pada kita. Kesucian tidak ada pada dunia ini. Kesucian adalah pribadi Dia sendiri. Tetapi ketika kita ingin bersatu dengan Allah dan kita ingin berjalan bersama Allah, Alkitab mengatakan bahkan tidak ada seorang pun yang bisa melihat Allah tanpa kesucian. Kesucian adalah inti dari pribadi Allah itu sendiri. Barangsiapa mau untuk menyembah Dia, barangsiapa mau berjalan bersama Dia harus berjalan di dalam kesucian. Dan salah satu hal di dalam kesucian adalah menjalankan seluruh perintah dan hukum-Nya, tetapi manusia itu tidak bisa. Pertama adalah kita tidak mau. Yang kedua adalah kita tidak mampu. Maka bagaimana kesucian itu ada pada diri kita? Harus ada suatu transformasi menyeluruh dalam hidup kita. Baik itu status kita di hadapan Allah. Pikiran kita harus berubah. Hati kita harus berubah. Dan inklinasi tubuh kita juga tidak lagi ke dosa tetapi kepada kesucian. Maka intinya kita harus memiliki natur yang baru. Tetapi natur yang baru itu dari mana dan bagaimana bisa tercipta dalam hidup kita? Tidak ada cara lain, tidak ada kemungkinan lain, itu harus pekerjaan Allah dalam hidup kita. Bagaimana Allah bisa memberikan kepada hidup kita sehingga hidup kita itu menjadi sesuatu hidup yang suci? Satu-satunya jalan yang dinyatakan dalam Alkitab adalah Union with Christ. Kesatuan di dalam Kristuslah yang akan mengubah seluruh hidup kita. Kita sudah bicara ini berkali-kali, berminggu-minggu. Minggu lalu kita masuk dalam satu point ini, jikalau yang menguduskan kita adalah Union with Christ, sarana apa yang dipakai oleh Allah untuk kita bisa Union with Christ? Maka ada dua hal ini yang tidak bisa terpisahkan. Yang pertama adalah Roh Kudus dan yang kedua adalah Iman.

Union with Christ itu terjadi adalah karena Roh Kudus yang melekatkan kita kepada Kristus. Union with Christ itu terjadi karena kita memegang Kristus melalui iman. Jadi dari perspektif Allah yang membuat Kristus satu dengan kita adalah Roh-Nya. Dari perspektif kita yang membuat kita satu dengan Kristus adalah iman kita. Dua hal ini, Roh Kudus dan iman adalah disebut sebagai di dalam Theology Reformed adalah double bond. Hari ini saya akan bicara menjelaskan pada saudara-saudara apa yang Alkitab katakan berkenaan dengan iman. Apa itu iman sesungguhnya? Penjelasan iman di dalam Alkitab yang paling gamblang adalah Ibrani 11:1 “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.” Tetapi saudara-saudara masalahnya adalah banyak pengajar sesat menggunakan kalimat ini dan mengaplikasikan secara ngawur. Oh iman itu apa? Iman adalah segalah sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang belum kita lihat. Oh kalau gitu kamu beriman untuk jadi kaya. Kamu beriman untuk sembuh. Kamu beriman untuk minta mobil. Mobil, kaya, sembuh Itu adalah sesuatu yang kamu harapkan dan sesuatu bukti yang belum kamu lihat? Maka bayangkan mobil itu, kesembuhan, dan kesuksesan. Minta sama Tuhan, bayangkan itu maka itu yang akan disebut beriman dan Tuhan akan memberikannya kepadamu. Semua yang saya katakan adalah yang benar-benar terjadi dan begitu banyak pengajaran Karismatik yang tidak bertanggung jawab di dalam hal ini. Bahkan ada seorang pengajar Karismatik yang sangat terkenal, dia mengajarkan seperti ini; apa yang engkau inginkan, apa yang engkau harapkan, oh misalnya engkau menginginkan satu mobil misalnya saja Volkswagen Polo lalu kemudian Volkswagen Polo itu warnanya hijau. Kamu menginginkan itu. Kamu mengharapkan itu. Itu belum terjadi, belum kamu lihat. Kamu bayangkan itu, objek itu lalu kemudian kamu minta sama Tuhan. Engkau akan diberikan itu namanya beriman. Ini seluruhnya adalah pengajaran yang sesat. Alkitab menyatakan “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat,” itu ayat yang pertama. Tetapi ayat yang ke-7 dikatakan, “Karena iman, maka Nuh taat.”  Ayat 8, “Karena iman, Abraham taat.” Karena iman, maka Musa itu meninggalkan kekayaan di mesir dan berjalan bersama dengan umat di padang berantara. Saudara-saudara, ternyata Ibrani 11:1 yang berbicara mengenai definisi iman. Ketika iman yang sejati itu kita miliki maka itu menggerakkan seseorang untuk mau taat. Menggerakkan seseorang untuk menyangkal diri, memikul salib dan mengikuti Kristus. Ini berbeda sama sekali dengan apa yang dinyatakan oleh orang-orang Karismatik yang besar-besar tetapi salah itu. Apa itu iman? Pagi ini kita memikirkan apa itu iman? Kita mesti mengerti apa yang Alkitab itu ajarkan. Dan cara kerja daripada Allah kepada kita sehingga kita bisa menikmati apa yang Tuhan berikan dan berespon dengan tepat.

Sebelum saya masuk ke dalam aspek-aspek iman, saya akan menyatakan kepada saudara-saudara, salah satu orang Puritan namanya Edward Pearse, dia menyatakan tiga lapisan iman. Yang pertama, iman adalah menerima dan memeluk Kristus. Satu jiwa yang menempel kepada Dia, memegang erat Dia. Menetapkan hati untuk tidak memiliki siapapun saja selain Kristus. Lapisan kedua iman adalah percaya dan bergantung kepada Kristus. Orang yang beriman adalah orang yang mendasarkan hidup dan berjangkar kepada Kristus yang kedamaiannya dan rest-nya ada pada Dia dan juga menyerahkan seluruh keperluan hidup, damai sejahtera dan anugerah di bumi ini dan kemuliaan di surga  bergantung sepenuhnya kepada kebaikan Kristus. Lapisan ketiga iman adalah penyerahan diri. Orang yang beriman adalah orang yang menyerahkan diri untuk dimiliki dan dikuasai oleh Kristus. Kristus menjadi satu-satunya pengatur dan pemerintah dan juga Kristus adalah satu-satunya pemberi segala sesuatu yang Dia pikir baik bagi hidup kita. Saudara-saudara, maka itulah iman kepada Kristus. Jadi ketika saudara dan saya melihat ayat yang pertama, “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.” Itu adalah bicara mengenai belas kasihan Kristus kepadaku. Itu adalah bicara mengenai penguasaan Kristus kepadaku. Itu adalah bicara berkenaan dengan keindahan Kristus yang aku harapkan bisa lihat dan miliki untuk selama-lamanya. Ini bukan bicara mengenai harta benda duniawi.  Biarlah kita boleh memiliki iman yang sehat.

Sekarang saya akan masuk ke dalam beberapa aspek penting mengenai iman.

Yang pertama, saudara-saudara, iman selalu bersangkut paut dengan objek dan objeknya harus benar adanya. Iman yang menyelamatkan, iman yang menguduskan haruslah memiliki objek yang benar dan kokoh. Dan objek iman di dalam Alkitab yang benar dan kokoh adalah Yesus Kristus. Iman bersangkut paut dengan pengertian. Iman bersangkut paut dengan persetujuan. Dan juga iman bersangkut paut dengan percaya, believe yang di dalamnya ada trust. Kalau saudara-saudara melihat lapisan iman dari Edward Pearse, dengan jelas kali dari berbagai macam sisi maka iman itu boleh digambarkan adalah sesuatu yang kita sandarkan, objek yang kita sandarkan. Objek itu seandainya saya menyandarkan diri kepada tembok ini, maka objek itu harus bisa menanggung seluruh beban saya. Kalau beban saya lebih besar daripada objek ini, maka objek ini yang akan rubuh. Setiap dari kita manusia itu pasti beriman. Apakah dia beragama atau dia atheist, pasti beriman. Ada satu pribadi yang dia sandarkan untuk bisa hidup. Pertanyaannya, pribadi itu siapa dan apakah pribadi itu adalah pribadi yang benar dan kokoh untuk disandarkan? Ada yang beriman menyandarkan diri kepada diri sendiri. Alkitab mengatakan adalah orang bodoh, orang fasik yang mempercayai dirinya sendiri. Orang bodohlah yang memikirkan pikiran sendiri dan kemudian mempercayai apa yang di pikirkannya sendiri. Ada yang menyandarkannya kepada orang kaya. Ada yang menyandarkannya kepada orang terkenal. Ada yang menyandarkannya kepada orang yang pandai. Ada yang menyandarkannya kepada pendiri-pendiri agama. Ada yang hidupnya cuman satu kali itu bergantung sepenuhnya boss-nya atau orang-orang atau raja-raja yang terkenal. Alkitab mengatakan, celakalah orang-orang yang mengandalkan manusia. Apakah pendiri agama bisa disandarkan? Mereka sendiri bergumul dalam hidup. Mereka sendiri tidak memiliki kepastian apakah mereka berada dalam kekekalan. Satu-satunya yang bisa disandarkan dalam hidup kita adalah Allah Oknum kedua Tritunggal Yesus Kristus. Dia satu-satunya batu karang yang teguh itu, yang pernah datang, pernah mati dan pernah bangkit. Yang dari surga turun ke dunia, naik kembali ke surga. Siapakah manusia yang bisa menyainginya? Tidak ada. Dia adalah satu-satunya sandaran bagi jiwa kita saat ini sampai kepada kekekalan.

Setiap dari iman pasti memiliki objek. Kalau ada orang yang menghina kekristenan, oh kamu itu orang primitif, agama itu sudah ditinggalkan, sekarang zaman modern. Kamu percaya sama siapa? Kamu percaya sama Yesus Kristus? Ah itu primitif. Kita tanya sama dia, kamu percaya sama siapa? Oh saya tidak percaya kepada siapa-siapa. Pasti ada percaya sama sesuatu. Aku tidak percaya sama agama. Saya tidak katakan kamu percaya sama agama, you percaya sama siapa? Saya tidak percaya sama siapa-siapa! Berarti dia percaya sama dirinya sendiri. Itu orang bodoh. Dia baru berapa tahun hidup mempercayai dirinya sendiri pasti benar, pasti bijak, pasti berhasil. Itu manusia paling bodoh. Orang yang paling bodoh itu adalah atheist. Dia tidak mau mempercayakan sesuatu yang transcend, dia mau mempercayakan diri kepada siapa? Lebih bijaksana sedikit adalah orang yang beragama. Dia mempercayakan diri kepada nabinya. Berarti dia mengakui nabinya lebih hebat daripada dia. Dalam keadaan seperti ini dia ada sedikit rendah hati. Tetapi pertanyaannya apakah orang itu, nabi itu bisa disandari? Jawabannya adalah tetap tidak. Sekali lagi ya saudara-saudara, iman itu harus memiliki objek yang benar dan kokoh. Maka iman itu di dalam kaitannya dengan Kristus itu memiliki objek yaitu Yesus Kristus. Jadi bukan sembarang iman yang menyelamatkan tetapi iman kepada Kristus Yesus, bukan sembarang iman yang menguduskan hanya iman kepada Kristus Yesus. Dan di dalam point ini saya akan memberikan kepada saudara-saudara satu pengertian yang penting.

Saudara perhatikan, yang menyelamatkan kita, yang menguduskan kita bukan iman kita tetapi adalah iman kepada Kristus, Kristus yang menguduskan kita. Jadi Kristusnya, bukan iman kita yang mengkuduskan kita. Kristusnya, bukan iman yang menyelamatkan kita. Saudara-saudara, jadi meski kita beriman, iman itu tidak bisa kita jadikan jasa. Kenapa saya mesti mengatakan hal ini? Karena ini adalah sesuatu kesalahan di dalam pemikiran orang-orang Kristen. Seluruh denominasi Kristen yang sejati percaya satu hal bahwa kita diselamatkan bukan karena perbuatan tetapi karena iman. Jadi kita itu diselamatkan karena iman bukan karena perbuatan. Itu artinya kita tidak bisa membuat perbuatan kita sesuatu jasa di hadapan Tuhan untuk kita diselamatkan. Tetapi masalahnya adalah banyak orang yang berpikir kita tidak diselamatkan karena perbuatan tetapi karena iman. Tetapi kemudian berpikir bahwa iman itu kita angkat sebagai jasa di hadapan Allah untuk kita diselamatkan. Iman itu kita angkat sebagai suatu jasa. Saudara-saudara, hal ini adalah suatu kesalahan yang sama, bukan? Yang satu itu mengangkat perbuatan baik. Dan orang Kristen mengatakan tidak, tidak, kita diselamatkan karena iman. Lalu kemudian kita mengangkat iman sedemikian rupa dan menjadi jasa kita diselamatkan. Tidak. Tidak pernah seperti itu. Iman yang menyelamatkan itu artinya bahwa kita merangkul Kristus yang menyelamatkan. Jadi yang menyelamatkan itu adalah Kristus.

Kalau saudara dan saya berpikir bahwa iman itu kita angkat dan iman itu yang paling utama yang menyelamatkan kita maka ilustrasi yang tepat adalah sama seperti saudara sedang lapar, lalu kemudian saudara mau makan untuk supaya kenyang. Pulang ke rumah, lalu kemudian, mama aku lapar. Lalu mama mengatakan, mama sudah menanak nasi, nasi sudah panas ini, ada lauknya kamu silahkan makan. Lalu kita makan dan kemudian kita kenyang. Lalu kemudian ditanya, tadi kamu lapar sekarang kamu kenyang, apa yang membuat kamu kenyang? Maka jawabannya adalah makanan mama. Maka pujian, terima kasih kepada mama. Jadi kita diselamatkan karena iman dalam Kristus. Kristuslah yang menyelamatkan, pujian kepada Kristus. Tapi kalau kita mengangkat iman, maka ditanya kenapa kamu kenyang? Karena aku makan. Jadi dari kamu lapar menjadi kenyang itu karena aku makan. Oh begitu yah? Jadi, harus berterima kasih kepada siapa? Aku, karena aku mau makan makanan mamaku. Dan lebih kurang ajar lagi adalah mama berterima kasihlah kepadaku karena aku barusan makan makanan kamu. Bukan seperti itu, bukan? Siapakah yang mendapatkan satu-satunya pujian? Mama kita. Siapakah satu-satunya yang mendapatkan pujian? Kristus Yesus, bukan iman kita. Maka saudara perhatikan baik-baik, seluruh kehidupan itu kemenangannya bukan tergantung dari seberapa kuat saudara memegang Kristus, tetapi seberapa kuat Kristus memegang kita. Bukan berapa setia kita kepada Kristus, tetapi berapa setia Kristus kepada kita. Itulah sebabnya seluruh pujian hanya kepada kemuliaan-Nya saja. Pertama, iman selalu bersangkut paut dengan objek dan objek itu harus benar dan kokoh adanya.

Hal yang kedua. iman adalah karya Roh Kudus dan Roh Kudus menciptakan iman itu melalui Firman. Yohanes 6:44-45 menyatakan dengan jelas, “Tidak ada seorang pun yang dapat datang kepada-Ku, jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa yang mengutus Aku, dan ia akan Kubangkitkan pada akhir zaman. Ada tertulis dalam kitab nabi-nabi: dan mereka semua akan diajar oleh Allah. Dan setiap orang, yang telah mendengar dan menerima pengajaran dari Bapa, datang kepada-Ku.” Roma 10:17 menyatakan, “Iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus.” Kalau saudara-saudara melihat ayat-ayat yang kita baca barusan, di situ dikatakan bahwa seseorang dapat datang kepada Kristus satu-satunya kondisi yang memungkinkan terjadi yaitu jika dan hanya jika ditarik oleh Bapa. Yang ditarik oleh Bapalah yang akan percaya kepada Kristus. Maka kalimat-kalimat ini menyatakan kedaulatan dan anugerah Allah. Anugerah yang berdaulat. Kedaulatan yang beranugerah. Saudara-saudara, ini adalah begitu nyata sifat Allah. Allah kita adalah Allah yang beranugerah di dalam kedaulatan-Nya. Allah yang berdaulat yang memberikan anugerah.

Saudara-saudara, biarlah kita boleh menyadari kalau kita adalah orang-orang milik Kristus. Allah kita adalah Allah yang berdaulat yang beranugerah kepada kita. Saudara-saudara, banyak dari kita, ketika kita mendengarkan kata kedaulatan Allah, kita mendengarnya secara negative. Karena saudara berpikir mengenai Hitler, saudara berpikir mengenai Mussolini, saudara berpikir mengenai orang-orang yang paling nomor satu di dunia yang tendensinya adalah corrupt. Bagi kita, manusia yang sudah jatuh  dalam dosa, begitu diangkat makin lama makin tinggi, kita bertendensi untuk corrupt. Tetapi Allah di dalam Alkitab dinyatakan bahwa Allah ada pada tempat tertinggi, Dialah yang berdaulat di dalam kesucian-Nya. Ya, Dia adalah Allah yang tidak bisa dipermainkan. Tetapi di tempat yang lain, Allah yang berdaulat adalah Allah yang setia pada umat-Nya sampai selama-lamanya. Hati kita akan rest untuk seterusnya ketika kita tahu bahwa kita memiliki Allah yang berdaulat dan dalam kedaulatan-Nya beranugerah kasih setia sampai selama-lamanya. Sekali lagi bahwa orang yang percaya kepada Kristus itu bisa terjadi jikalau ada satu kondisi yaitu ketika Allah menariknya. Tetapi bagaimana Allah menariknya? Dengan cara seperti apa? Dengan sarana seperti apa? Maka jawabnya adalah Allah mengutus Roh Kudus bekerja untuk menarik orang datang kepada Kristus. Mari kita melihat lagi, lihat di screen Yohanes 6:44.

Sekali lagi, bahwa tidak ada yang datang kepada Kristus kecuali ditarik oleh Bapa. Dan sekarang adalah dengan cara, dengan sarana apa, Bapa itu menarik kita datang kepada Kristus? Jawabannya adalah Roh Kudus. Tetapi saudara mungkin akan bertanya, “Pak Agus, nanti dulu. Di sini tidak ada kata Roh Kudus, bagaimana engkau bisa menyimpulkan bahwa itu Roh Kudus?” Saudara akan menemukan kalimat-kalimat seperti ini banyak dalam Alkitab dan satu agent yang paling utama di dalam pewahyuan ini adalah Roh Kudus, tetapi Dia tidak ditulis. Saudara harus mengerti ini adalah cara pengajaran Alkitab kepada kita mengajarkan tentang doktrin Roh Kudus. Oknum ketiga, pribadi ketiga, dari Tritunggal itu kalau bekerja, itu selalu tersembunyi dan Dia menyembunyikan Diri-Nya dan memunculkan Kristus di depan. Saudara akan menemukan hal-hal seperti ini begitu banyak di dalam Alkitab. Misalnya saja Yoh 15:1-8 adalah bicara mengenai Union with Christ. Saudara akan menemukan Yesus mengatakan kamu adalah ranting-Ku, Bapa-Ku itu pengusaha-Nya, dan Aku itu Pokok Anggur. Oknum pertama, pribadi pertama adalah Bapa dan Dia adalah pengusaha. Pribadi kedua, Yesus Kristus adalah Pokok Anggur dan jemaat itu adalah ranting. Seluruhnya muncul di sini, tetapi Roh Kudus tidak muncul. Dari manakah Roh Kudus itu? Maka saudara-saudara, perhatikan Roh Kudus itu seperti getah yang mengalir dari pokok menuju kepada carang sehingga carang tersebut itu berbuah. Saudara tidak akan pernah bisa melihat getah itu berjalan. Yesus sendiri mengatakan, engkau tidak bisa akan mencermati dari mana Roh Kudus itu bekerja tetapi engkau akan tahu hasil buah yang dikerjakan oleh Dia. Saudara perhatikan prinsip ini. Setiap dari hamba Tuhan yang terus menerus berbicara mengenai Roh Kudus, saudara patut pertanyakan. Terus menerus bicara karunia Roh Kudus, patut dipertanyakan. Saudara-saudara, perhatikan baik-baik, gereja harus sepenuhnya mutlak bergantung kepada Roh Kudus, tetapi ketika Roh Kudus bekerja dalam sebuah gereja, Dia akan memunculkan Kristus menjadi Kepala dan segala-galanya bagi gereja itu. Sekali lagi saudara-saudara, tidak ada seorangpun yang datang kepada Kristus, kecuali Bapa itu menarik dengan mengirimkan Roh-Nya kepada kita. Pekerjaan Roh Kudus adalah mewahyukan Kristus. Membuat kita melihat kemuliaan Kristus. Menciptakan iman di dalam diri kita untuk mau merangkul, beriman kepada Kristus. Dan sekarang pertanyaannya adalah dengan sarana apa Roh Kudus itu memunculkan iman kepada kita dan memperlihatkan kemuliaan Kristus? Yaitu memakai Firman. Sekali lagi Roh Kudus memakai Firman yang kita dengar, membukakan kemuliaan Kristus kepada kita dan menciptakan iman dalam hidup kita.

Saudara-saudara, perhatikan baik-baik, seluruh lapisan ini, saya sedang bicara mengenai cara kerja Allah. Sarana yang dipakai oleh Allah. Sekali lagi saudara-saudara, kata ini, sarana ini, muncul beberapa bulan yang lalu dan makin lama makin saya menyadari salah satu hal yang kita itu lack di dalam kerohanian kita adalah mengerti ini. Saudara, kita berpikir bahwa Allah di sorga itu bisa menyelamatkan dengan menghentakkan jari-Nya saja kepada kita, membalikkan tangan-Nya lalu kemudian kita jadi kudus. Itu adalah pikiran dunia. Itu adalah pikiran dari orang-orang yang beragama lain. Saya ambil contoh misalnya, saudara tanya kepada orang Islam, dengan cara apa Allah itu mengampuni dosamu? Lalu kemudian dia akan mengatakan, Allah kita adalah Allah yang rahimi dan rahmani, maka Dia akan menghapuskan dosa kita dengan mengampuni. Dengan sarana apa? Dengan pengampuan. Selesai. Jawabannya tidak. Ya, mungkin mereka berpikir dengan menyembelih lembu atau apapun saja. Tetapi sebagian besar dari orang-orang beragama akan selalu berpikir adalah Tuhan bicara lalu kemudian selesai. Dia Allah yang berdaulat, Dia Allah yang berkuasa, Dia tidak perlu sarana. Tetapi Alkitab tidak mengatakan demikian. Allah yang menyelamatkan, Dia harus menyelamatkan dengan cara yang sinkron dengan sifat-Nya. Allah yang mengubah kita dari orang berdosa menjadi orang yang mencintai kesucian, Dia harus melakukan itu yang sesuai dengan sifat-Nya. Dia tidak bisa mengatakan Hika oh engkau sekarang kudus, lalu kemudian kudus adanya. Ketika Dia mau menguduskan Hika, Dia harus mengirimkan anak-Nya mati di kayu salib. Untuk menguduskan Hika, bukan saja anak-Nya harus mati di kayu salib, Roh Kudus harus bekerja menciptakan, adanya iman sehingga ada Union with Christ. Tetapi iman itu tidak mungkin tercipta kecuali Hika itu mendengarkan Firman yang dipakai oleh Roh Kudus menciptakan iman di dalam hidup-Nya. Saudara lihat jalan ini. Saudara lihat sarana yang dipakai. Kalau saudara dan saya tidak mau melihat ini, tidak bisa melihat ini, saudara akan menjadi orang Kristen pun itu adalah orang Kristen yang solo career. Saudara berpikir dengan saat teduh sendiri sudah selesai. Saudara pikir pokoknya diri sendiri. Perjamuan Kudus, tidak perlu. Persekutuan dalam gereja, tidak perlu. KTB, tidak perlu. Pelayanan, tidak perlu. Saya bisa bertumbuh dengan sesuka-suka saya. Silahkan. Saudara akan lihat sendiri. Allah itu berdaulat, Allah itu berkuasa, tetapi Dia selalu memakai sarana. Saudara, ini adalah sesuatu yang real di dalam Alkitab. Saudara-saudara, itulah sebabnya kita harus mengerti sarana yang dipakai oleh Tuhan dan kita minta Tuhan memasukkan kita di dalam-Nya. Persis seperti orang dunia mengatakan kepada kita, tidak perlu Yesus Kristus. Ada banyak jalan menuju kepada Roma, ada banyak jalan menuju kepada Allah, kenapa mesti harus pakai Yesus Kristus. Saudara-saudara, hal-hal seperti itu saudara mengerti sekarang dari satu elemen ini, sarana yang dipakai oleh Allah. Saudara-saudara, jadi sekali lagi intinya, Allah memakai Roh Kudus untuk menciptakan iman kepada Kristus melalui mempercayai Firman. Kita mempercayai Kristus melalu memepercayai atau beriman kepada Firman. Calvin menyatakan, ambillah Firman maka tidak ada iman yang tertinggal. Saudara-saudara, sekali lagi saya sedang berbicara berkenaan dengan Union with Christ. Itu terjadi dengan dua ikatan Roh Kudus dan iman, dan ketika bicara mengenai iman itu dari perspective kita iman itu sendiri adalah ciptaan Roh Kudus. Dan kemudian sekarang saya akan bicara mengenai implikasi terhadap hal ini.

Saudara-saudara perhatikan, iman adalah hasil pemberian Allah yang merupakan karya Roh Kudus yang mana melalui iman yang diberikan oleh Allah ini, Allah menerima kembali persembahan doa-doa dan karya hidup kita bagi Dia. Di dalam Ibrani 11:6 dikatakan, “Tanpa iman orang tidak berkenan kepada Allah.” Di dalam Roma 14:23 dikatakan, “Firman mengatakan segala sesuatu yang kita lakukan di luar iman itu dosa.” Saya akan berikan ilustrasi, coba bayangkan Allah di sisi yang sana dan kita ada di sisi sini. Tidak ada jembatan dan bagaimana kita bisa bersatu dengan Allah? Allah memberikan jembatan itu kepada kita. Dan jembatan itu adalah iman di dalam Kristus. Alkitab mengatakan di dalam Kristus, Allah memberikan kepada kita seluruh berkat rohani. Kalau saudara membayangkan itu pakai truk kemudian mengirimkan seluruh berkat kepada kita. Dia pakai truk itu, truk itu berjalan di atas jembatan yang dibuat, ini adalah di dalam Kristus. Tetapi bukan itu saja, kita juga membawa persembahan kita, doa-doa dan karya-karya hidup kita kepada Allah melalui jembatan ini yang dibangun oleh Allah itu. Di luar jembatan ini, tidak ada karya yang berkenan kepada Allah. Di luar jembatan ini, apapun saja pengiriman kita, Alkitab mengatakan dosa. Jadi sekali lagi, iman di dalam Kristus adalah anugerah Allah, dan dari iman itu maka ada satu jembatan yang bisa mengalirkan seluruh berkat rohani kepada kita, tetapi sebaliknya juga terjadi kita membawa seluruh doa karya kita, seluruh hidup kita itu melalui jembatan ini kepada Allah, baru itu berkenan. Itulah cara membaca Ibrani 11:6, “Tanpa iman, orang tidak berkenan kepada Allah.” Itu artinya adalah iman di dalam Kristus. Iman yang dikaruniakan Allah kepada kita oleh Roh Kudus. Demikian juga kita membaca Roma 14:23, “Segala sesuatu yang kita lakukan di luar iman, adalah dosa.” Segala sesuatu yang tidak berdasarkan iman adalah dosa. Itu adalah iman di dalam Kristus. Di dalam 1 Korintus dikatakan bahwa kalau engkau bekerja keras, bersusah payah di dalam Kristus maka tidak akan sia-sia. Seluruh karya kita, kita berikan kepada Allah melalui jalan tersebut. Juga di dalam Alkitab diajarkan kalau kita berdoa, berdoa di dalam nama Yesus Kristus. Berarti berdoa dalam iman. Bukan berdoa lalu kemudian saya mengharapkan apa, lalu saya beriman. Bukan. Tetapi berdoa di dalam jalur iman yang dikaruniakan Allah melalui Roh Kudus.

Dan terakhir sekarang hal yang ketiga, iman itu adalah anugerah Allah yang mengosongkan hidup kita. Iman yang adalah anugerah Allah yang merupakan karya Roh Kudus melalu Firman adalah cara kerja anugerah Allah yang mengosongkan diri kita. Saudara perhatikan baik-baik, iman itu makin besar itu artinya anugerah yang Allah berikan itu makin kuat, itu tandanya diri makin dikosongkan. Apakah saudara pernah berdoa, “Tuhan kuatkan imanku, Tuhan berikan aku pertumbuhan rohani, pertumbuhan iman.” Dan ketika kita berdoa seperti itu apa artinya? Artinya Tuhan akan bekerja makin mengosongkan diri kita sehingga kita itu tidak lagi bisa bersandar kepada diri kita. Karena iman makin besar atau skala iman makin kuat, itu berbanding terbalik dengan confidence kepada diri. Iman yang makin besar itu menemukan semua confidence itu di dalam Kristus Yesus. Itulah sebabnya kalau di dalam hidup kita, kita dibuat terpojok untuk sangat-sangat putus asa, saudara dan saya sedang dilatih oleh Tuhan memiliki iman yang kuat. Pada pagi hari ini, jikalau kita berada di dalam pergumulan yang besar, air mata, kesusahan, remuk hati, saudara jangan pakai itu untuk mengasihani diri lalu kemudian dipakai untuk menggantungkan diri kepada setan lebih kuat. Lalu kemudian kita menuding-nuding orang lain mengatakan engkau tidak memperhatikan aku, engkau tidak mengerti aku, itu dipakai oleh setan. Sebaliknya jikalau ada keputusasaan, ada suatu keadaan yang saudara tahu tidak ada satu manusia yang bisa membantu, hatimu remuk, air matamu tercurah, saat seperti ini adalah saat di mana Allah sedang melatih kita untuk kuat memegang Dia. Bukankah kita meminta Tuhan menumbuhkan rohani dan menguatkan iman kita. Ini caranya. Iman itu adalah anugerah Allah yang mengosongkan kita.

Suatu hari, perempuan Siro-Fenisia yang memiliki satu anak itu, dan anaknya itu kemudian itu hampir mati. Dia tahu tidak ada satu manusia pun yang bisa membantu dia, dia datang kepada Yesus Kristus, mencari Kristus dengan susah payah, begitu sudah ada di depan pintu maka dia berteriak, “Anak Daud, kasihanilah aku.” Semua orang dalam ruangan itu tidak ada yang mau untuk memandang dia. Dan dia berteriak lebih keras lagi, “Kasihanilah aku, Anak Daud.” Lalu terus kemudian murid-murid Yesus itu keluar dan mengatakan, “Pergi!, pergi engkau!” Tetapi perempuan ini tidak tersinggung, kenapa dia tidak tersinggung? Karena dia sudah tidak punya apa-apa lagi. Kalau saudara masih punya 3000 dollar di kamar saudara, saudara datang kepada satu orang dan kemudian tolong pinjami saya uang. Terus orang itu memandang saudara dengan seakan-akan menghina, belum dia ngomong mengusir saudarapun, saudara akan pergi. Memangnya gue hidup harus dari kamu. Tetapi kalau saudara-saudara sudah tidak punya satu cangkir beras yang bisa ditanak dan anak isteri kita berada dalam kelaparan yang besar dan saudara sadar sebentar lagi kita semua akan mati, kita datang kepada seseorang dan minta bantuan, orang itu mau maki-maki seperti apapun, kita akan tetap di depan pintu rumahnya, karena kita tahu kalau dia tidak berbelas kasihan, aku pulang, aku mati. Perempuan ini, murid-murid Yesus mengusirnya dan satu commentary menyatakan, Yesus pada waktu itu sedang bicara dengan murid, dan perempuan itu mendekat kepada Dia, berlutut dan sampai muka ke tanah, “Kasihani aku, kasihani aku.” Dan setelah murid-murid itu mengusir dia, dia tetap mengatakan “Yesus Kristus, son of David kasihanilah aku.” Dan buku tersebut mengatakan bahwa Yesus itu berdiri dan mau meninggalkan wanita itu, tetapi wanita itu mengejar dan kembali lagi berlutut di depan Dia, “Kasihani aku.” Dan Yesus itu kemudian mengatakan, “Tidak baik memberikan roti kepada anjing.” Dan wanita itu mengatakan, “Ya Tuhan, tetapi anjing itu mungkin bisa makan remah-remahnya.” Tuhan mendesak perempuan itu ke satu sudut, membuat dia tidak bisa melakukan apapaun saja dan dia menyadari mati hidupku tergantung mulut-Mu bicara apa. Dan ketika perempuan itu mengatakan “Ya Tuhan, tetapi anjing itu mungkin bisa memakan remah-remahnya.” Saudara ingat apa yang dikatakan Yesus? “Imanmu besar, Ibu.” Yesus tidak mengatakan itu di depan Petrus yang sedang melakukan mujizat bahwa imannya besar. Yesus tidak sedang berbicara imanmu besar ketika murid-murid-Nya berkotbah dengan begitu kuat kuasanya. Bahkan Yesus mengatakan imanmu besar kepada perempuan Siro-Fenisia yang saudara dan saya bahkan tidak tahu namanya. Saya menyadari sekali banyak sekali jemaat yang jauh lebih besar daripada kami. Kita memiliki pekerjaan Tuhan yang tidak terlihat oleh mata, kita jangan berpikir sombong, merasa diri sendiri dipakai sama Tuhan, padahal ada orang-orang yang tersembunyi, yang sendirian, yang sederhana, tetapi imannya itu kuat. Ketika engkau berada dalam kesulitan yang besarnya luar biasa, Tuhan sedang melatih iman untuk kuat. Iman itu adalah anugerah yang membuat diri kita kosong adanya. Apapun saja yang terjadi saat ini dan ke depan, ingat peristiwa ini, ingat kalimat-kalimat Alkitab, “Ibu besar imanmu.” Dan saudara lihat ibu itu sedang apa? Mengusir setan? Melayani Tuhan? Sedang menangis, berlutut dan menyerahkan seluruhnya dan dia memeluk daripada kaki Kristus dan mengharapkan dari kalimat Dia saja. Hatinya melekat kepada Kristus dan tidak memiliki siapapun saja yang bisa dia andalkan kecuali Kristus. Itu iman. Itu Union with Christ. Terpujilah Tuhan.

Alamat

556 - 558 Botany Road, Alexandria, NSW, 2015
sekretariat@griisydney.org
0422690913
0430930175

Social Media

Facebook GRII Sydney Instagram GRII Sydney Twitter GRII Sydney


Google Play Store
App Store

^