[simple_crumbs root="Home" /]
kembali

24 October 2021

Pdt. Agus Marjanto, M.Th

The Gospel Mystery of Sanctification (9)

Efesus 3:18-19

Kita terus meneliti apa yang Tuhan ajarkan melalui Firman-Nya mengenai jalan kekudusan. Kadang kita berpikir keselamatan itu adalah tanpa memasukkan konsep kekudusan di dalamnya. Padahal inti dari keselamatan itu adalah bicara mengenai kekudusan. Ketika bicara mengenai keselamatan apa yang ada dalam pikiran kita? Orang Injili yang pertama kali benar, tetapi sekarang kita mengalami ekses yang negatif dari pengajarannya. Setiap dari zaman ada pengajaran-pengajaran dengan titik berat, dan titik berat itu karena kebutuhan zaman tersebut, kebutuhan konteks kehidupan pada waktu itu. Tetapi manusia tetap adalah orang yang berdosa. Ketika kita menetapkan itu karena konteks, begitu konteks berganti, maka sering sekali hal-hal negatif muncul dari hal itu. Kita sering sekali mendengar “Apakah engkau sudah terima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi?” Lalu kalau orang tersebut mengatakan “Oh, belum”, kemudian kita mengatakan bahwa engkau akan masuk ke neraka, engkau tidak akan masuk ke surga. Itu memang benar, tetapi ada sesuatu inti yang hilang. Karena bicara mengenai keselamatan adalah bicara mengenai keseluruhan hidup. Dan inti dari keselamatan itu adalah bergabung dengan Allah yang suci itu sendiri. Sekali lagi, keselamatan itu adalah bukan perubahan tempat dari neraka menuju ke surga, tetapi adalah suatu perubahan seseorang yang diselamatkan. Ada transformasi hidup di dalam diri orang tersebut, ada proses pengudusan. Bahkan ketika kita bicara berkenaan dengan Teologia Reformed, Alkitab mengajarkan kepada kita ada dua kata yang berkaitan dengan keselamatan; yang pertama adalah bicara mengenai pembenaran dan yang kedua adalah pengudusan. Yang pertama adalah justification, yang kedua adalah sanctification. Apa itu Justification (pembenaran)? Yaitu pengudusan secara status. Dan apa itu sanctification? Yaitu pengudusan secara kondisi. Sekarang perhatikan bahwa dua dari istilah ini intinya adalah bicara mengenai kekudusan. Dan Alkitab dengan jelas menyatakan ini hanya terjadi di dalam union with Christ saja.

Hari-hari ini kita memperingati hari Reformasi. Dan salah satu point yang penting di dalam Teologia Reformasi adalah bagian ini. Khususnya dari pengajaran Calvin. Salvation di dalam pikiran Luther itu apa? Salvation di dalam pikiran Calvin itu apa? Luther menekankan justification by faith alone. Sebenarnya kalimat yang paling tepat adalah justification by grace through faith alone. Ini mau untuk menghajar kesalahan Katolik. Jadi yang disebut sebagai keselamatan itu adalah anugerah Allah yang diterima yang membenarkan kita karena Kristus Yesus. Sekali lagi, bukan lakukan ini atau tidak melakukan itu, tetapi adalah bicara berkenaan dengan anugerah yang diberikan Allah untuk membenarkan kita yang kita terima dengan saluran iman saja. Bukan kerja, bukan usaha. Saya akan memberikan catatan terlebih dahulu di sini, saya sudah pernah bicara beberapa minggu yang lalu, itu tidak berarti bahwa kerja dan usaha tidak ada tempatnya di dalam Reformed Theology. Dan di dalam Reformed Theology, seturut dengan Alkitab, menekankan kerja dan usaha, menekankan mengenai sesuatu usaha yang sungguh-sungguh. Yang kita itu tolak adalah pendapat Roma Katolik yang mengatakan usaha itu akan menjadikan jasa. Usaha yang kemudian menyodorkan usaha kita kepada Allah sebagai jasaku untuk diterima oleh Engkau ya Allah, itu yang ditolak oleh Reformasi. Tetapi seperti dalam Alkitab, maka Yakobus itu mengatakan, “Engkau mengatakan ada iman, tetapi engkau tidak ada perbuatan, itu adalah iman yang mati, itu adalah sesuatu yang bukan iman yang sesungguhnya.” Ketika Luther menekankan justification by faith alone, maka orang-orang seperti Beza dan seterusnya mengatakan faith tidak pernah alone. Faith itu kalau sejati tidak mungkin sendirian.

Kemarin di dalam Persekutuan Doa maka saya mengotbahkan berkenaan dengan doa itu menurut Yesaya maka itu adalah memegang Allah. Maka doa itu suatu usaha memegang Allah. Maka orang yang bisa memegang Allah adalah pasti orang yang sudah diregenerasi. Dan pengertian memegang Allah berarti adalah sesuatu yang real, kita tidak mungkin memegang bayangan. Maka orang-orang yang bisa berdoa syafaat adalah orang-orang yang dilatih dalam hidupnya mengerti bahwa Allah itu real adanya. Dan ketiga adalah orang yang memegang Allah, kata yang dipakai adalah sungguh-sungguh berusaha untuk memegang Allah. Ada usaha di dalamnya. Ada penyaluran tenaga yang sangat besar di dalamnya. Ini adalah sesuatu usaha yang kudus untuk meraih Allah di dalamnya. Salvation yang kita terima itu adalah salvation yang tanpa usaha, itu adalah pemberian Kristus Yesus, usaha Kristus. Tetapi ketika salvation itu kita dapatkan, maka anugerah itu adalah anugerah yang mendorong kita berusaha semaksimal mungkin. Orang-orang Puritan mengatakan demikian “Untuk menguasai bumi maka engkau memerlukan satu hati yang lembut, tetapi untuk menguasai Kingdom of Heaven maka engkau memerlukan usaha maksimal yang kudus”. Maka Alkitab menyatakan “Sejak dari zaman Yohanes Pembabtis tampil sampai saat ini, Kerajaan Allah itu mau dikuasai dengan paksa dan kemudian diserongkan.” Kemarin, saya sudah khotbahkan apa yang orang-orang Puritan itu eksposisi di dalam hal ini. Pertama saya berpikir kalimat itu pasti kalimat negatif, tetapi ketika saya membaca beberapa komentari orang Puritan mereka mengucapkan seluruhnya ini adalah positif. Apa maksudnya Kerajaan Allah itu diserongkan? Maka ini adalah bicara mengenai orang-orang berduyun-duyun datang untuk mau masuk di dalamnya. Mereka yang tidak layak untuk masuk tetapi mereka memaksa masuk. Mereka yang tidak ada keistimewaan tetapi mereka mau untuk terus mendesak supaya bisa masuk. Saudara akan menemukan siapa yang bisa masuk ke dalam Kerajaan Allah adalah orang-orang yang pezinah, orang-orang yang berdosa, orang-orang yang dipinggirkan di masyarakat. Dan siapa yang keluar, yang tidak bisa masuk dalam Kerajaan Allah adalah orang-orang yang mempelajari Alkitab, orang-orang yang merasa hebat di kursi Musa, ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, pemimpin-pemimpin agama. Kerajaan Allah sudah digeser, itu kata orang-orang Puritan, dikuasai oleh orang banyak, memaksa dengan seluruh kemampuan mereka untuk masuk. Tetapi kemudian pertanyaannya adalah dengan cara apa mereka memaksa untuk masuk? Maka dengan air mata, dengan begging, dengan suatu teriakan: “Kasihanilah aku, ya Allah, karena aku orang berdosa”. Bukankan itu yang terjadi di dalam Alkitab? Ada usaha yang kuat untuk merebut surga, untuk menghadirkan surga di bumi ini.

Sekali lagi, ketika kita bicara mengenai keselamatan, justification by faith alone, but faith itu never alone. Ketika faith yang sejati kita dapatkan, maka kita akan didorong dengan kekuatan dari Roh Kudus untuk mengabdikan seluruh hidup kita bagi Kristus. Itulah sebabnya saudara-saudara akan menemukan orang-orang Puritans sangat menekankan aspek pengudusan. Ketika Katolik Roma diguncang oleh Martin Luther dalam hal ini, orang-orang Katolik Roma mengatakan “Kalau engkau mau masuk surga maka Kristus plus perbuatan baik”, tetapi dari Luther menghantam dari Katolik Roma mengatakan “Tidak, kalau engkau mau masuk surga, hanya Kristus, hanya beriman kepada Kristus.” Tetapi kemudian beberapa ratus tahun kemudian maka orang Puritan itu bangkit. Puritan itu menemukan seluruh dari yang dipandang matanya, seluruh England, itu adalah orang-orang Kristen. Mereka semua mengaku Yesus itu Tuhan. Mereka bahkan mengerti katekisasi, katekismus. Mereka bukan orang pada zaman mereka, mereka itu adalah orang-orang yang sangat terpelajar dan bahkan negara mereka disebut sebagai negara dengan holy bible dan kemudian mereka mengerti doktrin-doktrin Kristiani. Kalau orang-orang pastor Puritan itu datang kepada rumah jemaatnya, mereka tidak akan tanya berkenaan, “Bagaimana suamimu, istrimu, kerja baik-baik ya? Penghasilan kamu bagaimana? Apa yang mau didoakan?” Tetapi mereka akan datang dan kemudian mereka akan mengatakan demikian: Coba sebutkan question yang ke-7 dari Westminster Shorter Cathecism. Kalau saya datang ke rumah saudara dan saya menanyakan begitu, mungkin akan ada yang banyak sekali atestasi keluar. “Pak, hidup aja sudah susah apalagi harus hafalkan seperti ini.” Tetapi orang-orang Puritan hidup dalam zaman seperti itu, mereka mengerti seluruh doktrin, mereka bahkan kalau ditanya terima Yesus Kristus, sudah pasti terima Yesus. Tetapi bagi mereka, kalau mereka terima Yesus Kristus tetapi mereka tidak rajin saat teduh mereka mengatakan mereka belum terima Yesus. Kalau mereka itu terima Yesus Kristus tetapi mereka tidak memperhatikan prinsip-prinsip hukum Alkitab, mereka mengatakan, “Engkau belum terima Yesus Kristus.” Oh legalism? Jawabannya adalah tidak. Bagi orang Puritan, kalau engkau sungguh-sungguh memiliki iman di dalam Kristus, maka hatimu pasti milik Kristus, maka engkau hanya ingin satu dalam hidup, hidup itu mempermuliakan dan taat kepada Kristus dalam seluruh aspek. Maka pasti ada buah-buah kekudusan, pasti ada usaha keras untuk mengejar dari prinsip-prinsip Alkitab.

Maka mereka sekarang mengalihkan dari pernyataan kognitif menjadi afeksi. Ini adalah sesuatu hal yang baru, ini adalah sesuatu hal yang berbeda. Di dalam anugerah Tuhan, saya orang yang selalu melihat afeksi. Saya tidak katakan ini segala-galanya, banyak sekali kekurangannya, tetapi afeksi buat saya itu penting. Afeksi itu sering sekali menandakan kesejatian seseorang. Ketika bicara berkenaan dengan kognitif maka kita bicara berkenaan dengan orang-orang di luar gereja kita bisa membedakan mereka itu terima Kristus atau tidak dari kognitif, tetapi di dalam kehidupan orang-orang Kristen, saudara dan saya bisa menemukan kita punya kerohanian seperti apa. Apakah seseorang sejati mengikut Kristus atau tidak, saudara lihat afektif. Kalimat ini adalah kalimat dari Agustinus “Engkau adalah apa yang engkau cinta”, bukan “Engkau adalah apa yang engkau pikirkan”. Dan sering sekali aspek afektif itu membedakan sesuatu kerohanian kita. Richard Baxter menggunakan satu kalimat yang luar biasa, dia mengatakan demikian “Orang hipokrit menganggap bahwa Allah itu adalah sumber kebajikan yang tertinggi dan kebahagiaan hatinya, tetapi perasaannya menyatakan lain”. Ketika bicara mengenai feelings ini sesuatu hal yang sulit. Ya, perasaan, emosi, feeling, ini menjadi sesuatu yang sulit. Sejak abad yang ke-18 kata mengenai affection, lalu kemudian appetite, seluruh kalimat-kalimat yang sifatnya adalah perasaan kemudian digabungkan menjadi satu yaitu emotion, sudah itu saja. Jadi apapun saja, saudara tidak bisa membedakan antara afeksi, feeling yang dangkal, atau apapun saja dan selalu akan berpikir bahwa segala sesuatu yang sifatnya feeling atau perasaan itu sesuatu yang negatif. Tetapi ini adalah bicara berkenaan dengan afeksi daripada abad 16 dan 17 daripada orang Puritan itu berbeda dengan perasaan dangkal saja. Orang Puritan memperhatikan hal-hal ini, engkau bergerak seperti apa? Karena engkau bergerak itu pasti hatimu menuju ke sana, ada cinta, ada afeksi di dalam dirimu untuk hal ini. Apakah engkau bergerak untuk mentaati Allah, atau engkau bergerak untuk keluargamu sendiri? Bagi mereka ketika kita itu memiliki iman yang sejati pasti ada buah pengudusan. Di dalam potongan yang sangat tajam dari pisau seperti ini, biarlah saudara-saudara dan saya menguji diri kita. Kita bisa menjadi orang yang mengakui Yesus Tuhan sebenarnya tapi tidak pernah mengalami keselamatan dan Puritan itu adalah seorang dokter jiwa, dia bisa mengerti apa yang terjadi sebenarnya.

Luther menekankan justification by grace through faith alone, tetapi Calvin menekankan union with Christ yang merangkum seluruhnya. Beberapa minggu yang lalu saya sudah pernah mengatakan apa yang dituliskan oleh Calvin saya akan sharing ini sedikit dan kemudian saya akan akhiri. Calvin mengatakan “Pertama kita harus memahami bahwa selama Kristus tetap berada di luar kita dan kita terpisah dari-Nya, semua yang telah Dia derita dan lakukan untuk keselamatan umat manusia tetap tidak berguna dan tidak bernilai bagi kita.” Kristus itu sudah mati 2000 tahun yang lalu, hidup ribuan tahun yang lalu dan Dia adalah satu-satunya Pribadi yang diutus oleh Allah untuk menyelamatkan. Kita tidak diskusi tentang hal ini, kita menyetujui hal ini bagi Calvin sekarang penekanannya bukan Kristus, tetapi bagi Calvin penekanannya adalah apakah kita memiliki union with Christ karena di dalam union with Christ inilah baru ada keselamatan bagi kita. Keselamatan itu ada di dalam Kristus, tetapi tidak ada artinya bagi kita kecuali Roh Kudus bekerja membawa itu di dalam hidup kita dan kemudian dijadikan satu dan ini adalah keselamatan. Dan Puritan menekankan luar biasa berkenaan dengan point ini, ini menjadi sesuatu yang panjang, lebar, dalam dibahas di dalam Alkitab. Paulus mengatakan: “Aku berdoa supaya engkau mengerti betapa panjang, lebar, tinggi, dalamnya kasih Kristus.” Apa itu? Yaitu prinsip union with Christ ini. Kita sampai di sini. Di dalam anugerah Tuhan, kalau Tuhan pimpin maka dua minggu lagi saya akan membahas ini, minggu depan kita akan masuk dalam Hari Perjuangan.

Alamat

556 - 558 Botany Road, Alexandria, NSW, 2015
sekretariat@griisydney.org
0422690913
0430930175

Social Media

Facebook GRII Sydney Instagram GRII Sydney Twitter GRII Sydney


Google Play Store
App Store

^