[simple_crumbs root="Home" /]
kembali

17 October 2021

Pdt. Agus Marjanto, M.Th

The Gospel Mystery of Sanctification (8)

Efesus 5:22-33

Kita terus merenungkan apa yang Alkitab ajarkan tentang rahasia kekudusan. Apa sarana yang dipakai oleh Allah dari surga untuk memberikan kepada kita manusia, dari yang tidak kudus menjadi kudus. Perhatikan sarana yang dipakai oleh Allah. Ketika saya membaca buku dari Walter Marshall di dalam bagian ini, saya langsung tersadar dalam anugerah Tuhan yang besar. Oh, ternyata setiap kali atau hampir semua, Allah selalu bekerja memakai sarana. Allah menguduskan seseorang bukan dengan menggertakan jarinya saja. Hey, Agus ke sini, lalu Aku akan membuat kamu dari yang tidak kudus menjadi kudus. Lalu Dia hanya meneprokkan tangannya, kemudian Agus menjadi kudus. Seperti itu? Tidak! Allah memakai Kristus. Allah memakai Roh Kudus. Allah memakai Firman. Allah memakai providensia-Nya. Seluruhnya untuk menguduskan kita. Dia memakai sarana-sarana yang dikehendaki-Nya. Kita harus mengerti prinsip Alkitab ini supaya saudara dan saya tidak menjadi orang Kristen yang eksistensial, yang naif. Ada orang berpikir aku mau kudus, tapi tidak pernah baca Alkitab. Ada orang yang mengatakan aku milik Tuhan dan aku makin mencintai Tuhan, pada saat yang sama dia tidak suka sama gereja. Itu semua omong kosong di dalam kerohanian. Itu adalah penyakit kerohanian saat ini. Ada orang-orang yang mengatakan bahwa, “Oh, aku mengerti Firman dari Tuhan langsung, tidak perlu doktrin sepanjang sejarah”. Pikiran ini semua adalah pikiran kerohanian Islam. Orang Islam melihat ayat-ayat Al-Qur’an adalah langsung diberikan dari atas kepada nabinya dan kemudian ditulis. Beberapa waktu yang lalu saya melihat YouTube singkat seorang pengajar Islam. Dia mengatakan bahwa Islam adalah agama satu-satunya yang benar, karena kitab sucinya langsung turun dari atas. Tetapi ini yang malah membedakan. Dalam kekristenan, tidak seperti itu. Ketika Allah mau menyatakan Firman-Nya, dia memakai manusia – Matius, Markus, Lukas, Yohanes, yang semuanya tidak sempurna. Tetapi Firman ada di dalam pikiran mereka, di dalam pengalaman hati dan dengan limitasi yang mereka miliki, mereka terus menulis. Ini namanya organic revelation bukan didactic revelation. Allah di dalam Alkitab selalu memakai sarana. Kita mendengarkan Firman tidak berarti terus Tuhan langsung bicara kepada kita. Maka, kalau saudara-saudara melihat kerohanian-kerohanian yang seakan-akan hebat, tetapi sebenarnya palsu di dalamnya, itu adalah mengangkat diri, merasa tidak memerlukan apa pun saja selain langsung dari Allah. Kita memerlukan Kristus. Kita memerlukan Roh Kudus. Kita memerlukan pemeliharaan (providensia) Allah dengan seluruh jalan-jalan-Nya. Kita memerlukan bentukan Allah melalui gereja. Maka di sinilah cara Tuhan membentuk kita. Kita memerlukan dari sakramen.

Kita akan bicara berkenaan dengan means (sarana). Sarana-sarana yang Tuhan pakai untuk menguduskan kita. Allah menguduskan kita manusia berdosa dengan menggunakan sarana. Biarlah kita ingat kalau kita kudus bukan untuk dipamerkan kepada dunia. Kalau kita dibuat kudus itu karena Allah mau kita berjalan bersama dengan Dia setiap hari sampai kepada kekekalan. Tidak mungkin kita dapat berjalan dengan seseorang di dalam waktu yang lama jikalau kita tidak cocok dengan sifat dan nilai orang tersebut. Ini adalah pengalaman hidup saudara dan saya, bukan? Kalau kita ketemu dengan orang dari jauh, kemudian kelihatannya bisa jadi teman. Lalu saudara jalan bersama-sama, tetapi makin saudara bergaul dengan dia, makin saudara tahu sifatnya bertolak belakang dengan saudara dan nilainya juga berbeda dengan saudara. Apa yang saudara akan lakukan? Makin ngomong, makin tidak sehati, apa yang kita akan lakukan? Bahkan ada orang, makin kita bicara, makin orang itu menyerang. Makin kita bicara, makin orang itu akan menyakiti kita. Apa yang kita akan lakukan? Kita akan menjauh dari dia. Kita tidak mungkin berjalan bersama dengan seseorang di dalam waktu yang lama jikalau kita tidak cocok dengan sifat dan nilai-nilai orang tersebut. Hal yang sama, kita tidak dapat berjalan bersama Allah jika kita tidak kudus. Kita tidak bisa masuk ke dalam kediaman Allah (realm Allah) di surga jikalau kita tidak kudus. Juga kita tidak bisa berjalan dan melihat dia di dunia ini jikalau kita tidak kudus. Maka kekudusan mutlak harus ada di dalam hidup kita. Tanpa kekudusan, tidak seorang pun bisa melihat Allah, demikian kata Alkitab. Dalam Amos 3:1-3, akan ditemukan bagaimana Allah akan menghukum Israel. Dalam ayat yang ke-2 dikatakan: “Hanya kamu yang Kukenal dari segala kaum di muka bumi, sebab itu Aku akan menghukum kamu karena segala kesalahanmu.” Lalu ayat yang ke-3: “Berjalankah dua orang bersama-sama, jika mereka belum berjanji?” Jadi saudara-saudara, orang Israel adalah orang pilihan Allah. Allah berjalan bersama-sama dengan mereka. Tetapi di dalam satu waktu, mereka kemudian berbalik. Di dalam satu waktu, mereka melakukan berkali-kali kejahatan. Maka Allah yang ingin untuk mempersatukan mereka dengan diri-Nya mengatakan kepada orang Israel: “Aku menghukum engkau karena kesalahanmu”. Kemudian Tuhan mengatakan: “Berjalankah dua orang bersama-sama, jika mereka belum berjanji?” Apa yang Tuhan mau katakan? Engkau dan saya tidak lagi bisa berjalan bersama karena engkau tidak menghormati kekudusan-Ku. Ada satu sifat yang Allah tuntut di dalam diri manusia jikalau dia mau berjalan bersama dengan Allah yaitu kekudusan bukan karakter. Karakter itu penting. Pembentukan karakter sangat penting. Tetapi ada orang yang dengan karakter yang kurang baik. Ada orang yang karakternya baik, karena itu dibentuk dalam keluarga. Tetapi ada orang yang kurang baik karakternya, mungkin kasar, mungkin melakukan beberapa hal yang lain, tetapi dia hidup dengan satu tekad untuk berkenan kepada Allah. Orang ini adalah orang yang diberkati.

Tuhan mengatakan: “Engkau sudah tidak lagi bisa berjalan dengan Aku karena tidak kudus. Maka Aku akan menghukum engkau, menghajar engkau.” Lihatlah apa yang Alkitab berikan, mengatakan kepada kita sebagai rahasia kekudusan. Kristus mati bagi kita, darah-Nya tercurah bagi kita. Darah yang kudus dan mengkuduskan. Roh Kudus bekerja dalam hati kita, menyatukan kita dengan Kristus (Union with Christ). Roh itu disebut Roh yang kudus dan yang menguduskan. Firman-Nya diberikan kepada kita. Alkitab mengatakan Firman itu adalah Firman yang kudus dan yang menguduskan. Providensia Allah di dalam keseharian kita, kita dibentuk oleh providensia Allah. Alkitab mengatakan: Jalan-jalan-Mu ya Tuhan adalah jalan-jalan yang kudus. Ketika kita berdosa, maka Ibrani mengatakan: Aku menegur, Aku menyesah engkau, karena engkau anak dan bukan anak gampang untuk berbagian di dalam kekudusan-Ku. Lihat seluruh sarana yang Allah berikan kepada kita, darah Kristus, Roh Kudus. Firman-Nya, providensia-Nya, teguran-Nya. Untuk apa? Untuk membuat kita kudus. Untuk apa? Untuk dipamerkan kepada orang lain? Oh, ini orang kudus? Tidak! Untuk satu hal. Untuk kita bisa berjalan bersama Dia saat ini, di dunia ini dan sampai dalam kekekalan, sampai selama-lamanya. Ini adalah isi hati Allah kepadamu dan saya. Bukan agama! Bukan bicara mengenai boleh lakukan ini dan tidak boleh lakukan itu. Ketika bicara mengenai kekudusan, adalah bicara mengenai satu hal, relation yang intim.

Berjalankan dua orang bersama-sama, jika mereka belum berjanji? Sarana apa yang Allah berikan kepada manusia? Ini tersembunyi di hadapan seluruh mahluk kecuali kalau dia dibukakan oleh Roh Kudus, yaitu kesatuan dengan Kristus (union with Christ). Dari seluruh yang diberikan Allah di dunia ini, perhatikan Firman-Nya. Dari seluruh Firman-Nya, ketika membaca, saudara akan menemukan satu pribadi sentral dari seluruh Firman-Nya yaitu Yesus Kristus. Lihatlah apa yang dikerjakan Allah dalam hidup kita dalam Yesus Kristus. Lihatlah pekerjaan Kristus dari inkarnasi-Nya sampai mati, naik ke surga, ditahtakan dan berdoa syafaat. Semua karya-Nya itu dibawa oleh Roh Kudus, disatukan dengan kita. Dari kesatuan inilah, keselamatan terjadi. Dari kesatuan inilah, kehidupan kekal terbentuk. Dari kesatuan inilah, kekudusan tertanam dan mekar berkembang. Alkitab mengatakan dengan satu kalimat: Dari satu kesatuan inilah, semua berkat-berkat surgawi diberikan kepada kita. Ini adalah topik yang besar sekali, dalam sekali dan luas sekali. Sebagai gembala, sebagai hamba Tuhan, saya mengatakan agar janganlah kita tidak memperhatikan-Nya atau melupakan-Nya. Ketika saudara dan saya memperhatikan, jangan memperhatikan dengan tidak teliti. Ini sungguh-sungguh harus teliti. Saya sudah mengatakan bahwa Alkitab mengatakan lebih dari ratusan kali untuk menyatakan union with Christ. Untuk apa? Untuk kita bisa melihatnya dari berbagai macam sudut, keindahannya. Karena dari titik itu saja, semua berkat diberikan kepada saudara dan saya. Kalau saudara berada di dalam kehancuran, saudara minta kekuatan. Saudara minta kekuatan, di dalam siapa? Kalau saudara tidak punya uang dan saudara meminta Bapa di surga untuk mendapatkan uang dan makanan. Maka melalui siapa Dia akan memberikannya? Kalau kita sakit dan kita minta untuk disembuhkan, Kalau Dia memberikannya, apakah langsung kepada kita? Jawabannya adalah tidak. Kalau kita mau untuk ada pertumbuhan rohani, apakah Dia akan memberikannya kepada kita langsung? Jawabannya adalah tidak. Dia memberinya, Alkitab mengatakan: “Di dalam Kristus. Di dalam Kristus.” Kesatuan ini adalah kesatuan yang sangat memberkati kita. Kesatuan ini adalah kesatuan yang sangat-sangat mulia dan terhormat.

Kita sudah pernah bicara mengenai sifat yang pertama sampai keenam. Hari ini saya akan masuk ke dalam sifat ketujuh saja. Ketika melihat union with Christ. Maka Alkitab mendeklarasikan bahwa union with Christ adalah sesuatu yang sangat mulia dan sangat terhormat yang bisa kita dapatkan sepanjang kita di bumi ini.

  1. Union with Christ adalah hal termulia, tertinggi, yang paling hormat yang mungkin dimiliki oleh seorang manusia. John Flavel menyatakan: “Ini adalah berkat tertinggi yang bisa didapatkan oleh manusia yang fana, yang menjadikan kita lebih mulia dari raja-raja di dunia dan malaikat di surga.” Kita adalah manusia yang berdosa, yang hina, yang jikalau dilepas saja akan menjadi kepingan debu. Tetapi di dalam union with Christ, Allah mengangkat kita menjadi milik-Nya. Kristus sendiri menjadikan kita tubuh-Nya, menjadikan kita mempelai-Nya. Ada empat gambaran intim yang diberikan Allah kepada kita melalui Firman. Perhatikan bahwa kita adalah umat-Nya, kita adalah tubuh-Nya, anak-Nya, mempelai-Nya. Seluruh kalimat itu adalah kalimat apa? Itu adalah kalimat relation yang intim. Kita yang tadinya ada di pinggir jalan, yang hina, yang tidak berpengharapan. Malah lebih lagi Alkitab mengatakan bahwa ketika Allah melihat kita dan kita melihat Dia, kita saling membenci. Tetapi di dalam Kristus, kita disatukan di dalam Kristus. Kita menjadi umat-Nya. Kita menjadi tubuh-Nya. Kita menjadi anak-Nya. Kita menjadi mempelai-Nya. Suatu hari ketika Alah menciptakan seluruh isi dunia, maka semua sudah dicipta dan Adam dicipta. Hawa belum dicipta waktu itu. Alkitab mengatakan bahwa satu per satu binatang dihampirkan di depan Adam untuk diberi nama. Tetapi tidak didapatkan satu pribadi pun yang menjadi belahan jiwa Adam. Tetapi ketika Adam tertidur, Tuhan mencipta Hawa dari bagian rusuk Adam. Perhatikan bahwa Adam adalah bagian dari tanah. Jadi apapun yang kita lakukan tidak mungkin akan lepas dari tanah (jasmani). Tetapi di tempat yang lain, Hawa tentu ada bagian dari tanah karena Adam dari tanah, itu adalah bagian dari Adam. Maka ketika Hawa dicipta, kemudian Adam terbangun dan Hawa diletakkan Allah di depan Adam, maka mata Adam terbelalak dan dia dengan bersuka cita berteriak, “Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku!” Orang-orang Puritan mengatakan: “Ketika Kristus melihat saudara dan saya, Dia mengatakan: “Inilah dia, tulang dari tulang-Ku dan daging dari daging-Ku!” Kita adalah tubuh-Nya. Kita adalah mempelai-Nya. Karena kesatuan inilah menjadikan kita menjadi bagian-Nya. Maka identitas kita tidak pernah lagi menjadi saya saja (me). Identitas kita, ke mana pun saja, apapun saja akan menjadi us, aku dan Kristus. Kalau saudara sudah menikah, ke mana pun saja saudara akan terikat dengan suami atau istri saudara. Kalau istri saudara dipermalukan, lalu saya tanya kepada suaminya, “Bagaimana perasaanmu?” “Ga ada masalah, dia yang dipermalukan bukan saja.” Tidak begitu, kalau suaminya rugi, istrinya juga akan rasa rugi. Kalau suaminya yang ditusuk, tusukan itu tidak sampai ke istrinya tetapi istrinya yang rasa ditusuk hatinya. Kalau itu bukan suami atau istri saudara, orang lain ditusuk, saudara lihat itu cuma berita. Ketika sudah menjadi satu, apapun saja yang terjadi kepada saudara, pasti itu terjadi pada pasangan saudara. Apapun saja yang kita lakukan, pasti artinya pasangan kita lakukan. Dan sekarang dengan cara berpikir seperti itu, Allah meminta kita berpikir seperti antara kita dengan Kristus. Dengan cara berpikir itu sekarang saudara dan saya bisa mengerti ketika gereja mula-mula dianiaya oleh Saulus, maka Yesus Kristus datang menghadapi penganiaya itu. Dia kemudian mengatakan, “Mengapa engkau menganiaya Aku?” Dia tidak mengatakan, “Mengapa engkau menganiaya umat-Ku?” “Mengapa engkau menganiaya Aku?” Kesakitan kita dirasakan oleh Kristus, karena Dia suami kita. Itulah yang tadi kita baca dalam Efesus 5. Yang aku maksudkan bukan antara engkau, cuma suami dan istri saja. Yang aku maksudkan adalah Kristus dengan engkau, union with Christ.

    Oh, betapa agungnya kesatuan ini. Betapa kesatuan ini sangat terhormat dan mulia. Tidak ada satupun yang bisa menandingi kemuliaan-Nya. Apalagi yang kurang dalam hidupmu, hai jemaat? Apa yang membuat engkau merasa terhormat? Oh, aku kurang kaya. Oh, aku kurang ganteng. Aku kurang mendapatkan seluruh sanjungan dunia ini. Allah sudah mengangkat engkau dan saya pada titik yang tertinggi; kemuliaan yang kita bisa dapat. Dan anak-Nya yang disatukan dengan kita. Tidak ada keberhasilan, keuntungan dunia ini yang bisa mengangkat kita lebih tinggi dan lebih terhormat dari posisi ini. Bahkan dengan seluruh kehebatan sekalipun dari pelayanan. Suatu hari Yesus Kristus mengutus murid-murid-Nya. Murid-murid-Nya melayani, seluruhnya berhasil, kemudian murid-murid-Nya itu kembali. Mereka dengan sukacita, 70 lebih murid-Nya mengatakan, “Guru, guru, bahkan setan pun tunduk kepada kami.” Lalu apa yang dikatakan oleh Yesus Kristus? “Kamu jangan bersukacita karena setan-setan itu tunduk kepadamu, tetapi kalau engkau mau bersukacita, bersukacitalah karena namamu itu terdaftar di surga.” Ini bukan bicara, eh masuk surga. Bukan! Ini bicara mengenai kesatuan dengan Allah di dalam kekekalan. Kesatuan dengan Allah di dalam kekekalan adalah kesatuan di dalam kekudusan. Kekudusan hanya bisa didapat daripada kesatuan dengan Kristus Yesus. Keberhasilan pelayanan sampai musuh Kerajaan Allah bisa ditaklukkan itu kemenangan besar, sukacita besar.

    Kalau saudara-saudara berdoa untuk anak saudara yang nakal untuk bertobat. Sudah bertahun-tahun, kemudian saudara perdengarkan khotbah seorang hamba Tuhan. Kemudian ketika berkhotbah, kemudian anak saudara bertobat dan menangis dan berbalik dari tingkah lakunya yang jahat. Apakah saudara bersukacita? Ini bukan saja bersukacita, bersukacita amat sangat. Apalagi kalau saudara-saudara dipakai oleh Allah, saudara bertemu dengan satu dan sekelompok setan lalu lawan setan itu. Saudara akan melihat hamba Tuhan ini sangat berkuasa. Saudara akan melihat perkenanan Allah kepada pelayanan hamba Tuhan itu. Saudara akan melihat kebanggaannya. Saya teringat akan satu cerita yang sungguh-sungguh terjadi. Ada satu hamba Tuhan dan hamba Tuhan ini sangat diurapi oleh Tuhan. Dia mengabarkan Injil ke Afrika. Di dalam pelayanan di Afrika, dia membentangkan tenda yang besar, 150 ribu orang bisa masuk dalam tenda yang besar itu. Bukan 15 ribu tapi 150 ribu. Saudara bisa lihat tenda sebesar apa. Setiap kali mereka memasangnya, perlu ratusan orang selama berhari-hari. Suatu hari ketika mereka mulai memasang untuk membuat satu kebangunan rohani di satu wilayah, tiba-tiba di atas itu sangat hitam. Kemudian mereka tahu sebentar lagi ada angin puting beliung yang akan datang menuju ke tempat mereka. Mereka tahu sebentar lagi mereka akan berada dalam masalah besar. Seluruh yang sudah dibangun oleh mereka dalam beberapa hari di wilayah itu, semuanya akan porak-poranda dan tenda itu seluruhnya akan sobek berkeping-keping. Lalu hamba Tuhan dan beberapa orang kemudian berdoa. Mereka tahu sekali karena mereka berkali-kali diserang oleh setan. Mereka tahu ini adalah pekerjaan setan. Hamba Tuhan itu berdoa, setelah dia berdoa, dia pergi keluar. Dia sendirian dan di depan angin yang makin lama makin kencang dan awan yang makin mendekat itu, dia mengatakan ke langit, “Setan, jikalau engkau merusak tendaku, aku akan bangun dua kali lebih besar dari ini.” Ketika dia selesai mengatakan itu, apa yang terjadi? Seluruh angin itu mengumpul kembali ke langit. Saya tanya kepada saudara-saudara, saudara mendengarkan kesaksian sungguh-sungguh seperti ini apakah hati saudara tidak tergugah? Saudara akan melihat pekerjaan Tuhan yang luar biasa besar. Saudara akan memuji `Tuhan dan melihat bagaimana setan dikalahkan. Tetapi Yesus Kristus mengatakan, “Jangan bersukacita untuk itu. Kalau engkau mau bersukacita, ingatlah bahwa engkau di dalam Aku (Union with Christ).” Luar biasa terhormat. Luar biasa mulia. Oh, biarlah kita boleh meminta Tuhan membukakannya terus bagi kita. Jikalau kita mengerti keindahan kesatuan ini. Ketika mengerti bahwa union with Christ adalah suatu kehormatan tertinggi yang bisa kita dapat, maka kita tidak lagi mencari kemuliaan dunia, pengakuan, persahabatan atau apa pun saja. Saya tidak mengatakan bahwa kita tidak memerlukan orang lain. Tetapi saudara dan saya tidak akan meletakkan identitas kita kepada penerimaan orang lain karena kita sudah diterima oleh Allah di dalam kesatuan dengan Dia. Dan juga sebaliknya, jikalau ada kesusahan yang terjadi, penderitaan yang terjadi dalam hidup kita, kita akan rela menanggungnya karena itu akan membuat kita makin mendekat dan makin melihat kemuliaan Kristus dan kesatuan ini menjadi sesuatu yang lebih indah. Oh, tidak ada yang lain yang bisa saya harapkan kecuali Roh Tuhan membukakan kita keindahan, kemuliaan, kehormatan, kesatuan ini. Kiranya kita diberikan belas kasihan untuk mengertinya. Mari kita berdoa.

Alamat

556 - 558 Botany Road, Alexandria, NSW, 2015
sekretariat@griisydney.org
0422690913
0430930175

Social Media

Facebook GRII Sydney Instagram GRII Sydney Twitter GRII Sydney


Google Play Store
App Store

^