[simple_crumbs root="Home" /]
kembali

12 September 2021

Pdt. Agus Marjanto, M.Th

The Gospel Mystery of Sanctification (4)

Matius 22:34-40

Kita akan masuk ke dalam poin-poin inti dari tema besar, Gospel Mystery of Sanctification, yang ditulis di dalam sebuah buku oleh seorang puritan bernama Walter Marshall, Bertahun-tahun dia mengalami spiritual depression, karena dia mau tahu apa inti dari mengejar kesucian dan damai sejahtera di dalam hati. Dia mau mengejar apa itu kesucian, tetapi berkali-kali gagal. Dia sampai bertanya kepada Thomas Goodwin. Akhirnya di dalam anugerah Tuhan yang besar pada satu waktu, pikiran dan hatinya terbuka. Dia mengerti Injil itu mengandung sesuatu yang misteri, yang tidak dikenal oleh dunia, yang menyatakan mengenai kesucian. Selanjutnya maka seluruh khotbahnya berkenaan dengan pergumulan ini. Kita akan masuk satu persatu poin penting di dalam mengerti pergumulan kesucian dan juga jalan yang dipakai Allah untuk membentuk kesucian di dalam hidup kita yang berdosa. Ini merupakan rahasia Injil di dalam Alkitab kita.

Hal pertama yang kita harus perhatikan adalah tujuan hidup kita diciptakan. Tujuan kita diciptakan adalah untuk memenuhkan hukum-hukum Allah. Perhatikan kalimat yang ditulis oleh Marshall, dia mengatakan: Ada panggilan yang harus dilaksanakan oleh kita manusia yang ditebus oleh Kristus yaitu melaksanakan tugas kekudusan dan kebenaran yang dinyatakan dalam hukum Taurat. Ini adalah the great end. Ini adalah akhir yang mulia. Ini adalah tujuan, target hidup kita, yaitu hukum-hukum Allah. Inilah lingkup segala sesuatunya. Kita dipanggil untuk mencapainya. Seluruh apa yang kita katakan, pikirkan, dan kita lakukan harus ditujukan kepada titik ini. Hukum-hukum Allah ini adalah target kita. Alkitab mengatakan: Jikalau kita menjalaninya, maka itu disebut sebagai kekudusan. Itu disebut sebagai kebenaran. Itu disebut sebagai kesejatian iman. Itu disebut sebagai agama yang benar. Alkitab menyatakan bahwa Hukum Allah adalah target kita.

Kata ‘target’, dalam teologia tentang dosa, berasal dari bahasa Yunani hamartia. Hamartia artinya miss the target. Sering sekali kita mendengarkan dosa itu miss the target. Tetapi targetnya itu apa? Targetnya yaitu hukum-hukum Allah. Ini adalah kehendak Allah. Ini adalah tuntutan Allah, tuntutan Allah untuk kita menjalani hukum-hukum-Nya. Hukum-hukum-Nya itu diringkas di dalam sepuluh hukum. Inti dari hukum ini adalah ‘kasihilan Allahmu dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri’. Seluruh dari apa yang dinyatakan di dalam Firman-Nya, maka bisa di-summary-kan di dalam hukum-hukum-Nya. Seluruh hukum-hukum-Nya yang tersebar itu bisa disarikan di dalam 10 hukum Allah. Dari 10 hukum Allah diintinya yaitu ‘kasihilah Allahmu dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri’. Di dalam ayat Alkitab yang kita baca, Matius 22:37-40: Yesus menjawab mereka, katanya “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Hukum yang kedua, yang sama dengan itu ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.” Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi. Hukum inilah yang diajarkan secara panjang lebar di dalam Kitab Suci. Hukum inilah yang dihidupi oleh Yesus Kristus sendiri. Hukum inilah yang diajarkan oleh para nabi dan para rasul. Para nabi dan para rasul menghardik bangsa Israel dan umat-Nya, itu bergantung kepada standar hukum ini. Untuk menggenapi hukum inilah kita dilahirbarukan dan Roh Kudus menyertai kita. Hukum Taurat tidak dihilangkan dalam hidup kita. Sebaliknya, diteguhkan dan kepentingannya dinyatakan dari seluruh karya Allah dan pengajaran Firman-Nya dan kehadiran Yesus Kristus. Yesus bahkan menyatakan, menegaskan betapa pentingnya hukum ini. Dalam Matius 5:17-19 dikatakan: “Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi. Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga, tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Sorga.”

Kita harus mengerti bobot dari hukum Taurat. Makin saya mempelajari buku-buku Puritan, kita orang Injili jaman ini, banyak titik-titik berat itu hilang dalam hidup kita. Kalimat pertama Walter Marshall menyatakan ada panggilan yang harus dilaksanakan oleh manusia yang ditebus oleh Yesus Kristus. Apa panggilan itu? Melaksanakan tugas kekudusan dan kebenaran yang dinyatakan dalam hukum Taurat. Mentaati hukum Taurat itulah target kita. Inilah yang disebut sebagai kesucian. Sekarang mari kita pikirkan mengenai hukum Taurat, hukum-hukum Allah itu. Apa yang Alkitab nyatakan berkenaan dengan hukum-hukum Allah sehingga ketika kita mengerti apa yang Tuhan maksudkan dan tuntutan Tuhan dalam hidup kita. Saya akan berbicara mengenai tiga hal. Yang pertama berbicara berkenaan dengan sifat rohani hukum Allah. Hal yang ke-2, dari batasan yang sangat luas dari hukum Allah. Yang ke-3 adalah bicara berkenaan dengan hukum Allah dan sifat Allah itu sendiri. Ini adalah prinsip-prinsip yang nyata di dalam Alkitab.

Yang pertama, Alkitab dengan jelas menyatakan hukum Allah itu sifatnya rohani. Mari kita lihat Roma 7:14, khususnya 14a. Di sini dikatakan: “Sebab kita tahu, bahwa hukum Taurat adalah rohani”. Apa artinya hukum Taurat itu rohani (spiritual)? Artinya adalah hukum Allah ini tidak hanya berisi tentang aturan-aturan yang mengatur tindakan luar kita, tindakan yang dilakukan oleh tubuh kita saja. Kita selalu berpikir berkenaan dengan hukum-hukum Allah adalah berbicara mengenai ‘jangan sentuh ini’, ‘jangan lihat ini, ‘tidak boleh mencuri’, semua berbicara mengenai aturan luar saja. Tetapi Alkitab dengan jelas menyatakan, hukum ini bersifat rohani, bukan jasmani. Itu artinya hukum ini sebenarnya bicara berkenaan dengan hal-hal yang tidak terlihat. Bicara berkenaan dengan pikiran, dengan imaginasi, dengan afeksi hati kita. Itulah sebabnya Yesus mengatakan, centre utama dari hukum ini adalah jiwa, hati yang mengasihi Allah dan mengasihi sesama manusia. Dari kasih kepada Allah dan kasih kepada sesama inilah mengalir keluar semua tindakan-tindakan dan pilihan hidup kita secara luar, secara jasmani; dan itulah kesucian. Di luar inti kasih kepada Allah dan kepada sesama ini, semua tindakan kita tidak diterima oleh Allah karena semuanya hanya ketaatan bungkusan luar saja. Sehingga yang disebut ketaatan bukan saja tindakan menahan diri dari nafsu yang berdosa. Tapi yang disebut sebagai ketaatan yang sejati adalah suatu kerinduan dan kesenangan untuk melakukan kehendak Tuhan. Suatu bentuk ketaatan yang bersemangat dan gembira kepada Tuhan tanpa mencela, tanpa resah, tanpa bersungut-sungut pada tugas apa pun. Seolah-olah ketaatan adalah kuk dan beban yang menyakitkan bagi kita. Lihatlah prinsip bahwa Alkitab menyatakan hukum Allah itu sifatnya rohani, bukan badani. Kita selalu berpikir ‘aku tidak boleh mencuri’, ‘aku tidak boleh berzinah’, seluruhnya adalah berbicara berkenaan dengan tindakan luar. Ketika kita tidak melakukan tindakan luar, kita berpikir kalau kita berjalan di dalam kekudusan. Kita berpikir bahwa kita sedang mentaati perintah Allah. Tetapi Alkitab dengan jelas menyatakan, hukum Allah bukan tindakan luar, itu sifatnya rohani. Walter Marshall menyatakan seandainya kita menahan nafsu kita, tetapi tanpa kerinduan dan kesenangan untuk taat kepada Allah, tanpa berjalan di dalam gairah dan gembira untuk menyenangkan hati Tuhan, maka itu bukan kesucian. Ketaatan menjadi kuk dan beban yang menyakitkan bagi kita. Ketika bicara mengenai hukum Allah, sifatnya adalah dalam hati. Itulah sebabnya sekali lagi, saya tekankan bahwa Yesus Kristus mengatakan inti dari hukum adalah ‘kasihilah Allahmu dan kasihilah sesamamu manusia’. Maka bisa kita lihat ada satu relasi yang kuat di sini antara kasih dan ketaatan. Di dalam dan di luar. Hati dan tindakan tubuh. Kekudusan meliputi keseluruhan hidup dan esensi hidup kita.

Hal yang kedua, Alkitab dengan jelas menyatakan hukum Allah luas tanpa batas. Mazmur 119:96 menyatakan: Aku melihat batas-batas kesempurnaan, tetapi perintah-Mu luas sekali. Arti sesungguhnya dari kalimat ini adalah di dalam setiap kesempurnaan aku melihat batasannya, tetapi hukum-hukum-Mu melampaui seluruh pengertian. Itulah sebabnya pemazmur membuat dirinya terus-menerus mempelajari hukum-hukum Allah seumur hidup dan tidak akan selesai. Hukum Allah itu luas sekali, sifatnya adalah universal. Perhatikan apa yang dikatakan oleh Marshall di sini. Tadi dikatakan kalau target kita aadalah hukum Allah, tetapi di tempat yang lain hukum Allah ini sifatnya luas sekali, sehingga jelas tidak mudah kita mencapai target ini. Dalam setiap tugas, kita harus bekerja dengan kinerja yang sama luasnya dengan seluruh hukum ini atau kita tidak dapat mencapainya sama sekali. Perhatikan kalimat yang penting ini, Hukum Allah itu targetnya, tetapi hukum Allah itu luas sekali. Kalau saudara dan saya mau untuk mencapai hukum Allah, maka setiap dari tugas kita adalah harus bekerja dengan kinerja yang sama luasnya dengan seluruh hukum itu atau kita tidak dapat mencapainya sama sekali. Walter Marshall menggunakan kalimat bahwa itu adalah seperti tarikan nafas. Setiap tarikan nafas harus menggenapi seluruh hukum itu. Tidak bisa cuma parsial.

Saya jelaskan dengan satu cerita dalam Alkitab. Suatu hari ada seorang kaya, muda dan sangat rohani itu datang kepada Yesus. Dia mengatakan: “Guru yang baik, apa yang harus aku perbuat agar aku bisa pergi ke Sorga atau masuk dalam hidup yang kekal?” Lalu Yesus mengatakan beberapa hukum-hukum Taurat; jangan mencuri, jangan membunuh, hormati ayah ibumu. Orang yang kaya dan pemimpin muda ini mengatakan: “Oh, aku sudah lakukan itu sejak masa mudaku.” Dan Yesus mengatakan: “Kurang satu, jual hartamu dan berikan kepada orang miskin! lalu engkau datang ke sini, ikut Aku.” Alkitab mengatakan orang ini pergi dengan sangat sedih meninggalkan Yesus. Apa yang terjadi? Apa yang saudara baca dari kisah itu? Orang ini melakukan hukum-hukum Allah, hukum ke-5 sampai ke-10 dengan berhasil. Tetapi dia tidak melakukan hukum yang pertama, Jangan ada padamu Allah lain di hadapan-Ku. Jelas afeksinya, jelas tindakannya menyatakan dia mencintai kekayaannya lebih daripada Kristus. Perhatikan bahwa orang ini tidak bisa memenuhkan seluruh tugas dari tuntutan keseluruhan hukum itu. Yakobus 2:10-11 menyatakan: “Sebab barangsiapa menuruti seluruh hukum itu, tetapi mengabaikan satu bagian dari padanya, ia bersalah terhadap seluruhnya. Sebab Ia yang mengatakan: “Jangan berzinah”, Ia mengatakan juga: “Jangan membunuh.” Jadi jika kamu tidak berzinah tetapi membunuh, maka kamu menjadi pelanggar hukum juga.” Sekali lagi Mazmur 119 menyatakan: “Aku melihat batas-batas kesempurnaan, tetapi perintah-Mu luas sekali.” Sekali lagi Walter Marshall menegaskan: “Di dalam setiap tugas, kita harus bekerja dengan kinerja yang sama luasnya dengan tuntutan seluruh hukum itu.”

Hal yang ketiga, Hukum Allah adalah pernyataan sifat pribadi Allah sendiri. Dalam Yakobus 2:10-11 sebelumnya, khusus ayat ke-11 dikatakan: “Sebab Ia yang mengatakan: “Jangan berzinah”, Ia mengatakan juga: “Jangan membunuh”. Jadi jika kamu tidak berzinah tetapi membunuh, maka kamu menjadi pelanggar hukum juga.” Ketika kita melakukan hukum-hukum Allah, apa yang kita sedang pikirkan dan sedang lakukan? Apakah kita berpikir bahwa kita sedang melakukan aturan-aturan ketat yang terdapat di atas sebuah atau tertulis di atas sebuah kertas? Dan di atas kertas itu, yaitu di dalam Kitab Suci kita apakah kita berpikir hukum-hukum Allah itu seperti melihat tanda speed limit yang ada di jalanan? Ada tanda tidak boleh parkir di jalanan, itu adalah sebuah tanda yang tertera di lempengan logam yang tertancap di jalanan yang harus kita taati. Selalu dalam pikiran kita, ketika bicara berkenaan dengan hukum. Kita berpikir bahwa itu adalah aturan-aturan tertulis dalam sebuah kertas. Kita selalu melihat aspek legalnya. Tetapi hal yang paling penting kita melupakannya. Ketika kita bicara mengenai hukum, kita tidak bisa melepaskan dari Sang Pemberi hukum. Hukum-hukum Allah tidak mungkin terlepas dari pribadi Allah. Hukum-hukum-Nya keluar dari pribadi-Nya dan sifat-sifat-Nya. Orang yang berusaha untuk mentaati hukum-hukum Allah dapat dikatakan bahwa orang tersebut sedang berusaha berjalan bersama dengan Allah. Sebaliknya, seseorang yang melawan hukum Allah dapat dikatakan bahwa orang tersebut melawan pribadi Allah sendiri. Di dalam Yakobus 2 kita bisa melihat bahwa hal utama adalah Sang Pemberi hukum yang ada di balik semua hukum. Yakobus mengatakan: “Sebab Ia yang mengatakan: “Jangan berzinah”, Ia mengatakan juga: “Jangan membunuh.” Sang pemberi hukum yang ada di balik semua hukum yang kita lihat. Untuk memenuhi hukum Allah, satu hal yang harus kita perhatikan, yaitu pribadi Allah sendiri haruslah menjadi sasaran kita satu-satunya. Maka berkali-kali Alkitab menyatakan, integrated of heart, single minded of heart, simplicity of heart (hanya kepada Tuhan saja). Seluruh hati hanya kepada Dia saja. Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu, dengan segenap kekuatanmu, dengan segenap akal budimu. Ada kata “dengan segenap”. Bukan, kasihilah Tuhan Allahmu dengan hatimu, dengan kekuatanmu. Tapi dengan segenap, single minded, satu arah hati, seluruhnya, mau tidak mau harus ada untuk kita melaksanakan hukum ini. Satu hati kepada Tuhan saja. Kalau hati kita terpecah, kita tidak mungkin akan memenuhkan seluruh hukum ini.

Sekali lagi dikatakan: “Dia yang mengatakan: “Jangan berzinah”, Dia pula yang mengatakan: “Jangan membunuh.” Apa yang menjadi rahasia kerohanian di sini? Kalau saudara dan saya memperhatikan hukum itu satu per satu maka akan selalu gagal dalam hidup kita. Alkitab dengan jelas mengajarkan kepada kita dan Walter Marshall menegaskan, hal yang terpenting adalah lihatlah Sang Pemberi hukum yang ada di balik hukum itu dan tunjukan seluruh hati kita kepada Dia saja. Secara deskripsi Walter Marshall menyatakan: “Tuhan sama sekali tidak dikasihi jika Dia tidak dikasihi dengan segenap hati, jiwa dan kekuatan kita. Kita harus mengasihi segala sesuatu yang ada pada-Nya, keadilan-Nya, kekudusan-Nya, penguasaan-Nya yang berdaulat, mata-Nya yang melihat segala sesuatu, semua ketetapan-Nya, perintah-perintah-Nya, penilaian-penilaian-Nya dan semua perbuatan-Nya harus kita kasihi seluruhnya. Kita harus mengasihi Dia tidak hanya lebih dari hal-hal lain, tetapi kita harus mengasihi Dia secara tunggal, tidak terbagi dan sepenuhnya sebagai satu-satunya kebaikan dan sumber segala kebaikan. Menolak semua kesenangan duniawi dan daging bahkan menolak hidup kita sendiri seolah-olah kita membencinya. Ketika semuanya bersaing dengan kesukaan kita akan Dia atau kewajiban kita terhadap-Nya. Kita harus mengasihi-Nya dengan cara menyerahkan diri kita sepenuhnya untuk melayani-Nya secara konstan dalam segala hal dan pada-Nya kita menempatkan Dia sebagai Tuhan, Penguasa kita yang mutlak baik dalam kemakmuran atau kesulitan, hidup atau mati.” Walter Marshall juga mengatakan demikian: “Dan demi kasih kepada Allah tersebut, kita harus mengasihi sesama kita, semua orang, apakah mereka teman atau musuh kita. Berbuat kepada semua manusia ini, segala yang kita inginkan mereka perbuat kepada kita. Baik itu tentang kehormatan, kehidupan, kesucian, kekayaan duniawi atau apapun saja yang kita ingin orang berlaku hal yang sama dengan kita.” Semua yang tadi saya katakan, berbicara mengenai 3 prinsip hukum ini Walter Marshall mengatakan: “Ketaatan universal spiritual.” Ini adalah akhir yang besar itu, suatu pencapaian yang Alkitab arahkan kepada kita, menggenapi hukum-hukum Allah. Karena ini adalah memang yang Tuhan tetapkan di dalam hati kita. Ini adalah kehormatan dan kemuliaan tertinggi dari manusia. Bukankah kita didesain untuk hal ini? Kita diciptakan oleh Allah, dan kita ditempatkan di tengah-tengah seluruh manusia. Seluruh hidup kita tidak mungkin bisa terlepas dari Allah yang kudus. Keberadaan kita tidak mungkin bisa dilepaskan satu dengan yang lain. Kita memang didesain, dirancang, diciptakan untuk menggenapi hukum Allah ini. Yang isinya atau intinya adalah kasihilah Allah dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.

Ketika saya membaca apa yang dinyatakan oleh Walter Marshall dan saya melihat baik-baik apa yang dalam Alkitab, makin saya baca, makin hati saya itu ingin berhenti untuk membaca. Mungkin saudara yang mendengarkan khotbah pada pagi hari ini juga seperti itu. Karena Walter Marshall menempatkan hukum Allah (law) dengan bobotnya. Ketika menempatkan dan membuka hukum Allah sebagaimana hukum Allah, maka dalam hati saya langsung saya enggan untuk meneruskannya. Karena saya tahu ini mustahil untuk dicapai. Tetapi sekali lagi bahwa Injil menyatakan atau diberikan kepada kita untuk membuka rahasia-rahasia bagaimana Allah menuntun dan memasukkan kesucian ke dalam hidup kita. Dari kesucian inilah maka kita dilahirbarukan di dalam Kristus. Alkitab mengatakan: “Kita menjadi ciptaan yang baru dan Roh Kudus juga dicurahkan di dalam proses pengudusan.” Dan semua itu adalah untuk kita menjalani hukum-hukum Allah di bumi dan di Surga. Hukum-hukum Allah ada bukan hanya bicara berkenaan dengan etika di dunia. Karena hukum Allah adalah pribadi Allah sendiri. Karena hukum Allah adalah sifat Allah itu sendiri. Maka hukum Allah tetap ada bahkan di Sorga. Ada orang puritan mengatakan demikian: “Hukum Allah sifatnya kekal tetapi Injil itu tidak.” Hukum Allah sifatnya kekal. karena hukum Allah adalah pribadi Allah itu sendiri.

Kembali kepada pergumulan, ketika saya membaca ini, saya merasa: “Ah, ini sangat sulit. Ini gak mungkinlah tercapai.” Walter Marshall juga mengerti pikiran kita, dia mengatakan demikian: “Sebelum Anda menolak hal ini karena Anda tahu bahwa hal-hal ini mustahil untuk dicapai, saya tidak mau saudara menghentikan pembacaan saudara sampai di titik ini. Perhatikan, bahwa Allah yang berbelas kasihan memandang di dalam perkenanan-Nya, semua dari kita yang di dalam dunia yang berdosa ini, yang berjalan dalam menggenapi tugas-tugas hukum ini, meski kita tidak sempurna. Dia, Allah akan menghantar kita ke dalam kesempurnaan kesucian dan kebahagiaan yang sempurna di dunia yang akan datang.” Perhatikan apa yang menjadi penekanan di sini; meskipun kita tidak mungkin 100% di dalam hidup di dunia ini menggenapi hukum-hukum Allah, tetapi Allah berkenan kepada manusia yang mengarahkan seluruh hatinya kepada Dia saja untuk menggenapi hukum-hukum-Nya ketika manusia ini sedang berjalan di dunia. Di dalam Kristus, Dia akan menghantar kita di dalam kesempurnaan kesucian dan kebahagiaan yang sempurna di dunia yang akan datang. Hanya di dalam Kristus maka ketaatan yang tidak sempurna dalam hidup kita disempurnakan. Dalam hal ini, tanggung jawab kita adalah mengarahkan hati kita sepenuhnya kepada Allah untuk menggenapi setiap hukum-hukum-Nya. Mengarahkan hati kita kepada Allah untuk menggenapi hukum-hukum-Nya. Kiranya Tuhan boleh memimpin kita di dalam hal-hal ini. Minggu depan kita akan masuk ke dalam poin yang selanjutnya. Kiranya Tuhan boleh memimpin kita menghantarkan kita terus dalam pikiran, pergumulan berkenaan dengan holiness.

Alamat

556 - 558 Botany Road, Alexandria, NSW, 2015
sekretariat@griisydney.org
0422690913
0430930175

Social Media

Facebook GRII Sydney Instagram GRII Sydney Twitter GRII Sydney


Google Play Store
App Store

^