[simple_crumbs root="Home" /]
kembali

5 September 2021

Pdt. Agus Marjanto, M.Th

The Gospel Mystery of Sanctification (3)

1 Timotius 3:16

Kesucian adalah kalimat yang berkali-kali kita bicarakan. Seluruh agama selalu berbicara mengenai kesucian. Tetapi apakah kita menyadari bahwa kesucian itu tidak ada pada dunia ini? Kesucian tidak ada di dalam diri kita. Kesucian juga bukan produk dari budaya dunia ini. Kesucian adalah pribadi Allah sendiri. Kalau Allah tidak menyatakan diri-Nya di dalam dunia, maka kesucian itu tetap akan menjadi misteri sampai selama-lamanya. Kita sering sekali mengucapkan sesuatu yang kelihatannya familiar tetapi sebenarnya kita benar-benar tidak menyadari ini adalah sesuatu yang supranatural. Di dalam Alkitab dikatakan, “ ….agunglah rahasia ibadah kita, mystery of godliness or mystery of sanctification.” Apa itu misterinya? Maka kemudian dibukakan, maka seluruh kalimat di bawahnya adalah bicara mengenai satu pribadi, yaitu Yesus Kristus. Di dalam beberapa minggu ke depan kita akan masuk lebih dalam berbicara berkenaan topik ini. Apa dan bagaimana cara Allah mengajarkan atau menghadirkan kesucian-Nya di tengah-tengah dunia sehingga kita bisa memikirkan kesucian seturut dengan Alkitab, Gospel, bukan berdasarkan pengajaran agama-agama atau manusia yang ada. Tetapi di dalam beberapa saat-saat ini sampai hari ini, kita terus memikirkan introduction-nya terlebih dahulu. Mengapa perlu hidup suci? Mengapa kesucian itu sesuatu yang mutlak perlu di dalam hidup kita?

Hal yang pertama, yang Minggu lalu kita sudah bicara adalah tanpa kesucian tidak bisa kita berjalan bersama dengan Allah. Ini adalah kalimat yang berkali-kali saudara dan saya akan temukan di dalam Alkitab. Tanpa kesucian kita tidak bisa melihat Allah. Allah itu adalah Allah yang suci. Tidak mungkin kita berjalan bersama Dia, bersekutu bersama Dia, menikmati Dia, mendapatkan pimpinan-Nya jikalau kita menyembunyikan dosa dan mempertahankan jalan yang jahat. Prinsip ini di dalam Alkitab tersebar dari Perjanjian Lama sampai Perjanjian Baru. Misalnya Amos 5:14, “Carilah yang baik dan janganlah yang jahat.” Saudara-saudara bisa melihat hal-hal seperti ini artinya adalah bicara berkenaan kita mesti meninggalkan kejahatan kalau kita mau dipimpin oleh Allah. Kalau saudara-saudara mendengar berkenaan dengan Confession of faith atau Katekismus, dinyatakan di situ apakah tujuan hidup dari manusia? Maka kita semua tahu jawabannya adalah menikmati Dia dan memuliakan Dia selamanya. Tetapi saudara-saudara, dari kalimat yang indah ini, menikmati Dia dan mempermuliakan Dia selamanya, semua itu bisa dilakukan atau terjadi kalau ada satu sifat dasar ini, yaitu kesucian. Karena kesucian itu sendiri adalah keindahan Allah dan kemuliaan Allah. Karena Allah itu indah kita bisa menikmati Dia. Karena Allah itu mulia maka kita bisa mempermuliakan Dia. Dan sekali lagi, kemuliaan dan keindahan-Nya adalah karena kesucian-Nya. Mengapa kesucian itu sesuatu yang mutlak, yang perlu mutlak di dalam hidup manusia? Karena pertama, tanpa kesucian tidak ada satu manusia bisa berjalan bersama dengan Allah.

Hal yang kedua, Minggu yang lalu kita sudah bicara mengapa kita perlu mutlak tentang kesucian ini, keperluan mutlak kesucian dalam hidup manusia. Kesucian adalah tanda kelahiran baru. Kesucian adalah tanda disatukan di dalam Yesus Kristus. Saudara-saudara, ini terjadi di dalam hidup kita. Kesucian terjadi jikalau kita disatukan, union with Christ. Dan ini juga tanda dari kita dibenarkan di dalam Kristus. Secara sederhana, secara aplikasi sehari-hari, coba lihat di dalam diri saudara, di dalam diri kita masing-masing, di dalam diri suami, isteri kita atau anak-anak kita, apakah saudara menemukan satu tanda di mana Allah itu bekerja di dalam diri kita, keluarga kita, anak-anak kita, suami, isteri kita? Saya mengatakan ini jangan kemudian saudara-saudara menghakimi mereka. Tetapi saya mengatakan ini adalah untuk membawa saudara-saudara masuk ke dalam doa lebih dan meminta pertolongan Tuhan. Saya mengatakan ini adalah supaya saudara-saudara jangan berpuas diri. Kami melihat begitu banyak orang Kristen yang baik, tetapi orang Kristen yang baik itu belum tentu orang Kristen yang masuk di dalam proses pengudusan. Kami melihat juga banyak orang Kristen yang mengalami mujizat-mujizat dari Tuhan, dia bisa bersaksi apa pun saja berkenaan dengan mujizat-mujizat Tuhan. Tetapi apakah di dalam hidupnya itu mengalami proses pengudusan? Kalau saudara-saudara melihat orang-orang yang baik, begitu banyak orang yang tidak mengenal Kristus pun baik. Kalau saudara melihat tanda sejati bahwa Tuhan bekerja dalam hidup saudara adalah mujizat, begitu banyak orang yang mengalami mujizat meskipun dia bukan Kristen. Tetapi satu hal ini yang tidak bisa dipalsukan oleh setan bahwa orang tersebut, atau kita, atau keluarga kita atau anak kita menyatakan Tuhan itu benar-benar hadir, Kristus itu benar-benar menyelamatkan adalah adanya pertumbuhan akan kesucian. Makin mengasihi kesucian-Nya. Sekali lagi, itu tidak berarti bahwa orang tersebut, atau kita, tidak bisa jatuh di dalam dosa, tetapi ada suatu pengakuan, ada suatu air mata, ada sesuatu yang ingin kembali kepada Allah yang suci, ingin disucikan di dalam hidupnya, itu adalah tanda Allah berintervensi, bekerja secara sejati di dalam hidup manusia.

Kita diselamatkan di dalam Kristus Yesus saja. Tetapi ini bukan bicara mengenai doktrinal yang mati. Ini bukan bicara mengenai pengetahuan di atas kepala yang kemudian bisa kita ulangi. Keselamatan itu adalah pengalaman. Kita bisa mengerti doktrin itu dan mengutarakan kepada orang lain dan mempertahankannya tetapi pengalaman itu tidak terjadi di dalam hidup kita. Tetapi apa tanda bahwa kita mengalami Kristus itu menyelamatkan kita? Yaitu di dalam hidup kita itu tercipta, di dalam hidup kita keluar buah-buah kesucian. Kerinduan untuk menaati hukum-hukum Allah dengan sukacita. Seperti dalam Roma 7:12, saudara perhatikan ayat ini. Ayat ini mengatakan bahwa hukum Allah itu adalah kudus, benar dan baik. Beberapa minggu yang lalu saya sudah berbicara berkenaan bagaimana legalism dan antinomianism memisahkan duty dan delight. Saudara-saudara, karena kita melihat hukum Allah itu sesuatu beban yang besar di dalam hidup kita. Saudara bisa melihat bahwa itu ada di dalam setiap diri manusia. Tetapi ketika seseorang itu diregenerasi, dilahirbarukan di dalam diri Yesus Kristus, ada sesuatu yang unik yang terjadi dalam hatinya. Sebenarnya banyak elemen-elemen yang unik yang tercipta di dalam dirinya dan itu tidak bisa dibuat-buat sendiri, itu hanya bisa dikerjakan oleh Allah yang membentuk dalam hati kita. Ada elemen dari luar yang terjadi di dalam diri kita dan salah satunya adalah terhadap hukum-hukum Allah. Uniknya orang tersebut akan makin mencintai karena hukum Allah itu adalah kudus, benar, dan baik, bukan sesuatu yang menekan pundak kita, bukan sesuatu yang negatif yang membatasi hidup kita. Maka dari sinilah muncul keinginan untuk bisa menjalani hukum Allah itu dengan sukacita, mensinkronkan hati kepada hukum Allah dengan sukacita. Maka di situlah jalan kekudusan itu mulai terjadi. Dan itu terjadi jikalau kita mengalami union with Christ, di dalamnya ada justification dan sanctification. Sebenarnya justification dan sanctification itu elemennya begitu banyak, tetapi pada saat ini saya tidak berbicara untuk mendiskusikan masalah ini. Tetapi saya sudah menyatakan dan menegaskan berulang-ulang dari mimbar ini, poin yang penting adalah pekerjaan Allah itu membenarkan. Dan apa bukti bahwa itu terjadi di dalam pengalaman hidup kita, yaitu adanya buah pengudusan.

Kita akan sekarang meneruskan poin yang ketiga keperluan mutlak dari kesucian. Kesucian adalah keadaan kita untuk dipakai oleh Allah. Sekali lagi, kesucian adalah kondisi seseorang dipakai oleh Allah. Saudara perhatikan baik-baik! Ini bukan syarat, ini adalah kondisi. Saya akan jelaskan kalimat ini terlebih dahulu kemudian saya akan masuk ke dalamnya. Ini bukan syarat tetapi kondisi. Kesucian bukan syarat dipakai oleh Allah tetapi kondisi dipakai oleh Allah. Apa artinya? Saudara-saudara, saudara tidak bisa mengatakan demikian, “Oh Tuhan, lihat saya suci adanya, maka pakai saya. Saya sudah ditebus oleh Yesus Kristus dan saya menjaga Firman-Mu, maka, pakai saya, Tuhan.” Saudara dan saya tidak bisa menyodorkan itu untuk membuat Allah memakai kita. Karena seseorang dipakai oleh Allah atau tidak, adalah berdasarkan kedaulatan Allah. Tetapi perhatikan baik-baik, yang dipakai oleh Allah pasti akan disucikan. Allah di dalam kedaulatan-Nya mau memakai seseorang, pasti orang tersebut diperkenalkan dengan diri-Nya yang suci. Sebelum Musa dipakai, Musa belajar satu hal, yaitu kesucian. Siapa yang tidak tahu Musa? Dia adalah seorang jenderal yang utama di seluruh Mesir. Apa yang tidak diketahui dalam ilmu pengetahuan oleh Musa? Apa yang tidak dimiliki di dalam skill berperang oleh Musa? Dia mengerti segala sesuatu, ia menguasai segala sesuatu sampai Tuhan kemudian membuat dia berpuluh-puluh tahun di padang belantara untuk membungkam mulutnya, untuk membuat dia rendah hati, untuk dia tidak lagi bergantung kepada kekuatannya. Lalu setelah itu selesai, Tuhan mengutus dia? Tidak! Saudara perhatikan, sebelum Tuhan mengutus dia, ada satu moment yang harus dia pelajari, dan moment itu adalah belajar tentang kesucian Allah. Suatu hari Musa sedang menggembalakan kambing domba. Dia melihat ada semak belukar itu kelihatan ada api tetapi semak itu tidak terbakar. Kemudian dia mendekati semak itu dan mau tahu apa yang terjadi, tetapi tiba-tiba ada suara dan suara itu adalah dari Tuhan. “Berhenti, Musa! Tanggalkan kasutmu karena tempat yang kau berada ini adalah tempat yang kudus adanya.” Ini adalah kata ‘kudus’ pertama kali muncul di dalam Alkitab. Saudara-saudara perhatikan bahwa Musa, sebelum diutus Allah, belajar tentang satu hal, yaitu belajar berkenaan dengan kesucian Allah.

Yesaya adalah pelayan Allah yang rutin. Karena dia imam, setiap kali dia pergi ke Bait Suci. Tetapi ketika Allah mau memakainya secara khusus, ketika Allah mau memakainya lebih lagi, maka Allah mendatangi Yesaya dan mengajarkan kepada dia akan satu prinsip, yaitu kesucian. Suci, suci, sucilah Tuhan. Maka Yesaya mendengar malaikat itu bernyanyi kesucian Allah. Kenapa Allah tidak langsung mengutus Yesaya? Bukankah Yesaya adalah seorang yang memang suka melayani? Bukankah Yesaya adalah orang yang memang hidupnya adalah sebagai imam? Saudara-saudara, perhatikan baik-baik, setiap kali kita dipanggil oleh Tuhan masuk di dalam pelayanan yang lebih tajam, setiap kali seseorang mau dipakai Allah menjadi satu pribadi, pelayan yang semakin menyatakan kehendak Allah yang jelas dalam hidupnya, hidupnya makin mengerucut, makin tajam, dengan satu panggilan yang makin jelas, maka satu titik krusial dalam hidupnya adalah dia pasti belajar tentang kesucian Allah.

Perhatikan baik-baik! Kapan Allah mengajarkan kesucian? Ketika semua orang ini sedang beramai-ramai beribadah? Ketika orang ini berada dalam komunitas? Tidak! Ketika semua orang ini berada di dalam kesendirian, ketika dia berada sendiri. Ini adalah visi yang dilihatnya sendiri. Ini adalah pengalaman eksistensial sendiri. Itulah sebabnya ketika saudara-saudara berada di dalam kesendirian, jangan cepat-cepat engkau mengisi waktumu dengan segala entertainment di dunia ini. Ketika ada kekosongan bahkan ada kesepian di dalam hidupmu dan seakan-akan tidak ada satu orang pun di dunia ini yang memperhatikan kita, jangan cepat-cepat engkau membuka layarmu dan melihat Youtube, melihat Instagram, engkau menghibur dirimu sendiri. Saya mengatakan kepadamu hai seluruh jemaat, khususnya semua orang muda, kesepian bisa dipakai oleh setan untuk memasukkan hal-hal dunia lebih lagi di dalam hidup kita. Atau di dalam kesucian, engkau belajar berlutut dan katakan kepada Tuhan, “Aku sekarang sendiri, tidak ada satu orang pun yang aku dekat. Aku berada di tempat ini sendiri. Kasihanilah aku! Lihatlah aku dan ajarkan diri-Mu kepadaku!” Kesucian akan diajarkan oleh Allah secara khusus di dalam kesepian.

Sekali lagi, poin yang ke-3, maka Alkitab dengan jelas menyatakan bahwa kesucian adalah kondisi seseorang dipakai oleh Allah. Ada satu ayat Alkitab yang begitu jelas, 2 Timotius 2:20-22, “Ia akan menjadi perabot rumah untuk maksud yang mulia, ia dikuduskan, dipandang layak untuk dipakai tuannya dan disediakan untuk setiap pekerjaan yang mulia. Sebelumnya jika seorang menyucikan dirinya.” Saudara-saudara, di dalam Alkitab ada pengertian sempit berkenaan dengan kesucian, yaitu kita menghindarkan kejahatan. Tetapi kalau saudara-saudara mengerti secara prinsipnya, kesucian itu adalah hatinya sepenuhnya didedikasikan, diberikan kepada Allah saja. Sepenuh hati didedikasikan bagi Allah. Kita akan bicara berkenaan poin-poin ini beberapa minggu ke depan. Tetapi sekali lagi ayat 21 mengatakan: “Jika seseorang menyucikan dirinya dari hal-hal yang jahat, ia akan menjadi perabot rumah untuk maksud yang mulia, ia dikuduskan, dipandang layak untuk dipakai tuannya.” Sekali lagi, di sini dinyatakan prinsip ini: kesucian itu adalah kondisi Allah memakai seseorang. Sekali lagi bukan syarat yang kita bisa sodorkan kepada Allah tetapi kondisi Allah memakai. Saya berikan contoh. Seandainya saudara pulang siang hari dan sangat kepanasan dan kemudian saudara sampai di rumah ingin meminum air es. Saudara membuka lemari es dan mengambil botol yang berisi air es, dan kemudian dari lemari yang satu lagi saudara membukanya dan mengambil sebuah gelas. Ketika saudara mau menuang air es untuk meminumnya, ternyata di dalamnya ada kotoran cicak. Apakah saudara akan memakai gelas tersebut? Ya, ada kotoran cicak, saudara akan singkirkan. Saudara ambil lagi gelas yang kedua. Saudara mau menuangkan air itu, dan kemudian saudara melihat ada kotoran yang belum dibersihkan, sisa dari makanan yang kemarin. Apakah saudara akan memakai gelas tersebut? Saudara akan letakkan. Ada satu gelas lagi, yang bentuknya tidak sebagus daripada gelas-gelas sebelumnya, tetapi saudara melihat di dalamnya bersih semuanya. Maka saudara dengan segera menuangkan air ke dalam gelas tersebut dan meminumnya. Saudara perhatikan, ini yang dimaksudkan di dalam ayat 21. Ketika kita itu berada, kondisi seseorang di dalam kesucian, itu dipakai oleh Allah. Sekali lagi, ini bukan syarat yang saudara dan saya bisa tawarkan kepada Allah untuk memaksa Allah memakai kita, karena itu kedaulatan-Nya, tetapi ini adalah pekerjaan Allah di dalam hidup kita. Jikalau Dia mau memakai seseorang, Dia akan memasukkan orang tersebut di dalam proses pengudusan.

Hal yang keempat. Keperluan mutlak dari kesucian. Kesucian adalah hal yang diperlukan oleh dunia untuk kita melayani dunia. Saya akan menjelaskan poin ini di dalam kaitannya dengan panggilan kita sebagai imam. Saudara-saudara, kita memiliki panggilan sebagai raja, imam dan nabi. Sebagai fungsinya, bukan jabatannya. Karena jabatan raja, imam dan nabi ada dalam Alkitab, dan yang memegang ketiga jabatan itu sendiri adalah Yesus Kristus. Kita tidak memiliki jabatan itu artinya kita tidak diurapi sebagai imam, raja atau nabi. Kita menjabat sebagai kepala rumah tangga, atau kita menjabat sebagai student di sekolah. Meskipun imam, raja dan nabi itu bukan jabatan kita, tetapi itu adalah panggilan, itu adalah fungsi yang Tuhan berikan kepada kita di dalam jabatan apa pun saja di dunia ini. Dan di dalam tiga fungsi itu, itu artinya adalah fungsi/posisi antara Allah dan manusia. Kalau saudara-saudara melihat di dalam Perjanjian Lama, maka saudara akan melihat nabi, imam, raja adalah pribadi yang ditetapkan berada di antara Allah dan bangsa Israel.

Misalnya saja di dalam fungsi kita sebagai imam, gereja Tuhan diletakkan Allah di dalam tempat-tempat yang sudah Allah tentukan supaya kita menjadi pensyafaat bagi tempat atau kota tersebut. Para imam itu, gereja Tuhan, berdiri di tengah-tengah Allah dan dunia atau Allah dan tempat kita berada, atau Allah dan kota kita berada. Saudara-saudara, kita menjadi pensyafaat, pensyafaat itu lebih dari berdoa syafaat. Dan perhatikan, pensyafaat itu, para imam itu memiliki tugas yaitu: saudara-saudara membawa keperluan, misalnya saja kota di hadapan Tuhan, meminta Tuhan bekerja menyatakan diri-Nya misalnya saja menyatakan revival-Nya bagi kota tersebut. Jadi, gereja Tuhan berada di tengah-tengah antara kota tersebut dan Tuhan. Kalau saudara dan saya melihat kejahatan kota tersebut, kalau saudara-saudara melihat ada sesuatu decline secara spiritual di dalam kota tersebut, atau saudara-saudara melihat ada kehendak Allah, ya tentu pasti ada kehendak Allah yang belum tercapai di dalam kota tersebut atau pergumulan-pergumulan dalam kota tersebut, makakita gereja Tuhan peka matanya terhadap apa yang terjadi di dalam kota tersebut dan kemudian kita menghadap Tuhan membawa seluruh pergumulan itu di hadapan Allah. Itu adalah fungsi pertama daripada pensyafaat.

Fungsi yang kedua dari pensyafaat adalah dari Allah, dari Firman-Nya kita membawa syalom, damai sejahtera, menghadirkan kerajaan Allah di dalam kota tersebut. Jadi ini adalah suatu fungsi atau posisi yang dua traffic. Dari sini kita membawa ke Allah, dan dari Allah kita bawa ke kota tersebut. Ini adalah panggilan kita. Sehingga panggilan kita adalah di hadapan Allah dan di hadapan manusia.

Pengertian ini juga benar bagi hamba Tuhan. Hamba Tuhan perlu untuk melihat seluruh hal yang terjadi di dalam gereja Tuhan, jemaatnya, membawanya kepada Allah, dan dari Allah juga dibawa kepada jemaat. Dan hal ini juga benar kepada para laki-laki, kepala rumah tangga. Saudara menjadi kepala keluarga bagi istri dan anak-anakmu. Engkau melihat apa yang terjadi, kemudian engkau membawanya di hadapan Allah, dan mengajarkan jalan dan ketetapan Allah kepada istri dan anak-anakmu. Itulah sebabnya dikatakan berkali-kali bahwa kepala keluarga adalah imam bagi keluarga-keluarga. Hari ini adalah Father’s Day, dan biarlah seluruh laki-laki, saudara belajar untuk menjadi imam. Di mana pun saudara berada, apakah saudara laki-laki atau perempuan, apakah saudara adalah student atau pekerja, atau saudara senior atau orang yang masih muda, saudara dan saya ditempatkan di dalam posisi masing-masing dan kita bertanggung jawab untuk menjadi imam. Kita tidak bisa memiliki sifat yang tidak mau tahu. Kita tidak bisa tidak peduli kepada apa yang Tuhan sudah berikan dalam hidup kita. Seluruh orang yang kita jumpai adalah tanggung jawab kita untuk kita bawa di hadapan Allah dan membawa prinsip kerajaan Allah di tengah-tengah tempat atau daerah atau keluarga yang kita kuasai, yang Tuhan berikan untuk kita pimpin.

Saudara-saudara perhatikan baik-baik, prinsipnya ada di sini: kita ada di tengah-tengah antara Allah dan dunia. Ketika kita menghadap Allah maka kesucian itu diperlukan, karena Alkitab dengan jelas mengatakan tidak ada orang yang bisa melihat Allah, bersekutu dengan Allah tanpa kesucian. Ini adalah prinsip pertama dari yang sudah kita pelajari. Tetapi hal yang kedua adalah ketika kita menghadap kota, kesucian juga diperlukan.Robert Murray M’Cheyne menyatakan, “Hal yang paling dibutuhkan dari jemaatku adalah kekudusan pribadiku.” Saudara-saudara, hal yang paling dibutuhkan dari jemaatku adalah kekudusan pribadiku. Kalimat-kalimat ini adalah untuk kami hamba-hamba Tuhan. Tetapi kalimat-kalimat ini juga bagi saudara-saudara sekalian. Hal yang paling dibutuhkan dari keluargaku adalah kekudusan pribadiku. Hal yang paling dibutuhkan di sekolahku adalah kekudusan pribadiku. Hal yang paling dibutuhkan di dalam kantorku adalah kekudusanku. Hal yang dibutuhkan dari kota Sydney adalah kekudusan dari GRII Sydney. Ketika kita menghadap kepada dunia, ketika kita menghadap manusia, maka yang diperlukan oleh dunia ini adalah kesucian. Saudara-saudara perhatikan ayat ini tersebar di seluruh bagian Alkitab. Misalnya saja 1 Petrus 2:9, saudara dan saya itu disebut dan ditetapkan dan ditebus menjadi bangsa yang kudus. Dengan kekudusan itu Allah mengutus kita supaya kita memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia kepada dunia. Saudara-saudara, 1 Petrus 2:11-12 perhatikan baik-baik, milikilah cara hidup yang baik di tengah-tengah bangsa-bangsa yang bukan Yahudi, ketika mereka melihatnya mereka memuliakan Allah pada hari Ia melawat mereka. Saudara-saudara, saya mau membandingkan ayat ini dengan Yeremia 23:15. Yeremia 23:9-40 adalah berbicara mengenai keluh kesah Allah melihat hamba-hamba Tuhan yang berlaku fasik. Saudara-saudara perhatikan ayat 15. Saudara-saudara perhatikan poin yang keempat yang saya tegaskan pada mimbar ini adalah bicara berkenaan dengan kesucian itu diperlukan di dalam dunia. Karena dunia dengan melihat kesucian, Alkitab mengatakan dalam Petrus, ia akan memuliakan Bapa di surga pada hari Allah nanti menjamah mereka. Ketika bicara mengenai kesucian itu seperti mercusuar. Ketika bicara mengenai kesucian itu bicara berkenaan dengan satu kota yang kudus, Sion itu, di atas gunung Sion. Itu menjadi satu tempat di mana semua mata memandang. Menjadi satu kesaksian di mana Allah bekerja di dalam kota itu, menyinari seluruh kota tersebut dan kemudian ada orang-orang yang dipanggil dan mereka akan berjalan menuju gunung Sion yang suci itu.

Saudara-saudara, kesucian diperlukan untuk dunia. Tetapi Saudara-saudara perhatikan, kalau kita tidak mau untuk hidup suci, Alkitab dengan jelas menyatakan kefasikan akan meluas ke seluruh negeri. Saudara perhatikan, kefasikan akan meluas dari orang Kristen, dari gereja Tuhan ke seluruh negeri. Ketika saya membaca dan merenungkan hal ini, sekali lagi saya diteguhkan dengan satu prinsip. Kefasikan itu adalah contagious, kefasikan itu mudah menular, mudah menyebar. Mudah meluas, mudah menyebar, mudah menular dengan sendirinya. Tetapi kekudusan dinyatakan di dalam Alkitab tidak bisa dengan sendirinya menyebar. Itu perlu diajarkan, itu memerlukan keputusan kehendak. Di dalam hidup kita, saudara-saudara jemaat Tuhan, kalau kita jiwanya enteng saja, kita tidak berjaga-jaga, tidak hati-hati, kita dengan sendirinya bisa makin tidak kudus. Dengan sendirinya. Saudara lepaskan saja hati saudara, tidak mencari Allah, tidak sungguh-sungguh, hidup itu enteng, dengan sendirinya ketidaksucian itu masuk. Tetapi kalau kita mau hidup suci, kesucian itu kita raih tidak bisa dengan sendirinya, kita mesti mendisiplin diri kita, memerlukan kehendak, ya akan naik turun, ya akan jatuh bangun tetapi itu memerlukan kehendak, memerlukan hati yang mau diajar, telinga yang mau mendengar, kerendahan hati, begging sama Tuhan untuk Tuhan itu menyatakan diri-Nya. Dan di dalam anugerah-Nya baru kemudian kesucian itu diajarkan satu per satu di dalam hidup kita.

Sekali lagi saudara-saudara, poin yang keempat yang saya mau tegaskan adalah kesucian itu diperlukan oleh dunia, karena kita diletakkan di tengah-tengah antara Allah dan dunia. Kesucian diperlukan oleh keluarga kita, kesucian diperlukan oleh jemaat kita, kesucian diperlukan oleh kota kita, kesucian kita diperlukan oleh kantor kita. Kalau kita tidak mau menjaga kesucian dengan mudah sekali kefasikan yang terbentuk dalam diri kita akan menyebar cepat. Kita akan dipengaruhi oleh mereka dan kita akan mengakselerasi kefasikan itu kepada dunia. Kita harus menetapkan kehendak kita. Kita harus merelakan diri kita, Alkitab mengatakan, untuk mengejar kekudusan. Saudara perhatikan kalimat ini: kejarlah kekudusan, Ibrani 12:14. Saudara-saudara, kejarlah kekudusan. Sekali lagi perhatikan apa yang ada di dalam ayat ini yaitu keputusan, kehendak, bersusah-susah, menjalankan dengan kesadaran, mengejar. Saudara-saudara, kekudusan diperlukan oleh dunia, tetapi kalau kita kendor maka dari tempat kita kefasikan akan melanda seluruh negeri, demikian kata Yeremia. Sekali lagi Robert Murray M’Cheyne menyatakan, “Hal yang paling dibutuhkan dari jemaatku adalah kekudusan pribadiku.” Hal yang dibutuhkan bagi keluarga kita adalah kekudusan kita. Hal yang diperlukan oleh kota Sydney adalah kekudusan gerejanya. Kiranya Tuhan menolong kita.

Alamat

556 - 558 Botany Road, Alexandria, NSW, 2015
sekretariat@griisydney.org
0422690913
0430930175

Social Media

Facebook GRII Sydney Instagram GRII Sydney Twitter GRII Sydney


Google Play Store
App Store

^