[simple_crumbs root="Home" /]
kembali

29 August 2021

Pdt. Agus Marjanto, M.Th

The Gospel Mystery of Sanctification (2)

1 Timotius 3:16

Kita terus memikirkan Firman di dalam seri The Gospel Mystery of Sanctification. Inti dari seri ini adalah menjabarkan apa yang Injil katakan berkenaan dengan bagaimana cara kerja Allah menghadirkan kesucian-Nya ke dunia yang berdosa. Dunia ini tidak mengenal kekudusan karena kekudusan adalah sifat dari Allah itu sendiri. Kalau kita mengatakan kita mengenal kesucian, maka itu artinya kita mengenal Allah. Kekudusan adalah hal yang asing di dunia setelah dunia jatuh di dalam dosa. Bahkan manusia bukan saja asing terhadap kekudusan, manusia membenci kekudusan. Kematian Kristus di atas salib adalah bukti manusia tidak menyukai dekat dengan kesucian. Sekali lagi bahwa kesucian adalah sesuatu yang asing dan Alkitab sendiri menyatakan bahwa kesucian itu adalah sesuatu yang misteri sebenarnya. Itu berarti tidak ada di dalam alam ini, tidak ada di dalam institusi hasil kebudayaan manusia, tidak mungkin akan tercetus dari hati kita sendiri, tidak ada produk dunia yang bisa menyatakan gagasan akan kesucian. Kesucian seluruhnya adalah dari Allah yang menyatakan diri kepada manusia. Ya manusia bisa seakan-akan suci tetapi itu adalah suci yang palsu. Kesucian yang sejati adalah hasil dari Injil yang diaplikasikan kepada kita.

Minggu yang lalu kita sudah berbicara berkenaan dengan ketika kita mendengarkan kesucian banyak dari kita memiliki konsep yang berbeda jauh dari apa yang Alkitab katakan. Kita menganggap kesucian adalah sesuatu yang kaku, membosankan, murung, tidak menyenangkan, tetapi orang-orang puritan menyatakan satu kalimat yang luar biasa mencengangkan, mereka menyatakan kesucian adalah nama lain dari kebahagiaan. Kesucian sendiri dalam Alkitab itu jelas mencakup kebenaran, terang, keindahan dan juga sesuatu hal yang membuat sukacita.

Tadi pagi ketika saya mendengarkan berita tentang Afganistan dan bagaimana orang satu persatu dibunuh dan dikejar dan kalau saudara-saudara melihat dari foto-foto bagaimana orang itu dengan berlinang air mata dan bahkan mereka harus meninggalkan negaranya dan mungkin seumur hidup tidak kembali lagi. Saya terus menerus memikirkan mengenai kekotoran dan kegelapan dunia ini dan bagaimana pekerjaan setan itu selalu memiliki ciri seperti ini. Alkitab mengatakan setan itu kalau bekerja dia mencuri, membunuh, membinasakan. Dan kita manusia itu kalau kita itu tidak mengenal Allah, kita selalu hanya bisanya mencuri, membunuh, membinasakan. Tidak ada dari produk manusia yang bisa membuat satu kehidupan. Tetapi ketika Allah itu bekerja, saudara akan melihat kekudusan itu ditanamkan di bumi. Dan kehidupan mulai tumbuh dan kemudian saudara dan saya melihat kesukacitaan dan terang dan kebenaran itu terjadi.

Saudara-saudara, ketika kita mendengarkan mengenai kesucian, apa yang ada di dalam pikiran kita. Alkitab menyatakan bahwa ini adalah sesuatu yang memberikan sukacita dan kebahagiaan yang tertinggi. Kesucian dan kebahagiaan adalah kata yang sama. Minggu yang lalu kita juga sudah bicara berkenaan dengan musuh kekudusan alkitabiah. Saudara-saudara, ini adalah suatu kebiasaan, habit manusia, ketika manusia itu berespon kepada Allah. Kalau kita tidak mengenal Allah yang sejati dan kita hanya beragama, maka kita akan jatuh di dalam dua pengertian ini yaitu antinomianism dan legalism. Sekali lagi ini bukan sekedar definisi teologi, ini bukan sekedar dari posisi teologi, ya memang ini dibahas panjang lebar oleh akademis, oleh teolog-teolog. Tetapi ternyata ini adalah posisi hati. Kalau kita tidak bertumbuh mengenal Allah yang sejati, meskipun kita adalah orang yang diselamatkan di dalam Yesus Kristus, kita akan jatuh ke dalam salah satu dari dua hal ini setiap hari. Apakah itu antinomianism ataukah itu legalism. Antinomianism menyatakan aku sudah terima Yesus Kristus, aku tidak perlu lagi menaati hukum-hukum Allah. Tulisan Yakobus, di dalam Alkitab ini, menentang orang-orang antinomian. Dia menyatakan satu kalimat yang penting, iman tanpa perbuatan mati adanya. Legalism adalah di sisi yang lain, menganggap bahwa menaati secara sempurna hukum-hukum Allah memberikan kita jasa untuk diterima oleh Allah. Kitab Roma ditulis oleh Paulus menegaskan melawan legalism. Manusia itu diselamatkan dibenarkan karena iman, bukan menaati hukum. Saudara-saudara, ini sekali lagi adalah posisi hati kita setiap hari dan apakah kita masuk di dalam antonimianism atau di dalam legalism, maka biarlah kita mengecek untuk mengertinya, mengecek di hati kita apakah kita memisahkan duty and delight. Apakah ketika kita taat kepada Allah ada kesukaan di dalam hati atau keterpaksaan? Apakah kita itu menaati prinsip-prinsip Firman Allah dan berjalan di dalam kesuciaan-Nya dan ketika kita melakukannya sekali lagi ini adalah sesuatu kesukaan di dalam hidup kita. Di dalam kitab Mazmur, pemazmur mengatakan demikian, bahwa peraturan-peraturan-Mu itu manis di mulutku, aku akan memperhatikan perintah-perintah-Mu. Ini menjadi kesukaan bagi hidupku. Ini adalah sesuatu yang asing bukan bagi kita? Bagaimana mungkin hukum-hukum Allah itu menjadi kesukaan bagi kita? Maka inilah biblical holiness.

Saudara-saudara, hari ini kita akan masuk ke dalam aspek yang lebih lagi. Di dalam 2-3 minggu pertama ini, seluruhnya masih menjadi introduction. Baru minggu-minggu berikutnya kita akan masuk di dalam inti the Gospel mystery of sanctification. Minggu ini, di dalam introduction, kita akan bicara berkenaan dengan mengapa kesucian itu adalah sesuatu yang mutlak perlu. Kepentingan mutlak kesucian. Mengapa kita perlu mempelajari dan kita berdoa untuk mendapatkan kesucian?

Hal yang pertama adalah karena kondisi kesucian itu diperlukan bagi seorang manusia untuk berjalan bersama Allah di dunia ini dan di sorga. Ada prinsip yang jelas di dalam Alkitab. Kalau saudara dan saya mau berjalan bersama dengan Allah, kalau saudara dan saya mau bersama dengan Allah, di dunia ini dan di sorga nantinya, maka harus ada kesucian di dalam hidup manusia. Karena Allah itu suci adanya. Amos 3:3 menyatakan, “Berjalankah dua orang Bersama-sama, jika mereka belum berjanji?” Ibrani 12:14 menyatakan, “..sebab tanpa kekudusan tidak seorang pun akan melihat Tuhan.” Saudara-saudara, dua ayat tersebut mau menyatakan bagaimanapun saja ketika kita mau untuk berelasi dengan Allah maka kita harus memiliki satu perjanjian dengan Dia. Dan perjanjian dengan Dia adalah perjanjian di dalam sifat-Nya yang suci itu. Tanpa kesucian tidak ada manusia yang melihat Allah. Tanpa kesucian tidak ada satu orang pun yang bisa berjalan bersama Allah, karena untuk berjalan bersama harus berjanji sebelumnya. Orang-orang Puritan mengatakan satu kalimat yang tajam seperti ini, yang tidak bisa melihat Allah di dunia ini tidak bisa bersama dengan Dia di sorga. Saudara-saudara, jelas sekali di dalam Alkitab berkali-kali ayat-ayat Alkitab menegaskan bahwa yang tidak suci tidak bisa masuk ke sorga. Misalnya saja saudara-saudara di dalam Wahyu 21:27, “Tetapi tidak akan masuk ke dalamnya sesuatu yang najis, atau orang yang melakukan kekejian atua dusta, tetapi hanya mereka yang Namanya tertulis di dalam kitab kehidupan Anak Domba itu.” Wahyu 22:15 mengatakan, “Tetapi anjing-anjing dan tukang-tukang sihir, orang-orang sudal, orang-orang pembunuh, penyembah-penyembah berhala dan setiap orang yang mencintai duta dan yang melakukannya, tinggal di luar.” Saudara-saudara bisa melihat bahwa sorga adalah tempat yang kudus adanya, itu dikatakan tempat kudus Allah. Saudara-saudara, tidak ada yang najis yang bisa masuk ke sana, Allah tidak mungkin bisa berjalan dan menerima orang yang tidak kudus adanya.

Kadang-kadang ada orang yang menyatakan demikian, “Tuhan mengasihi kita, Tuhan menerima kita apa adanya.” Apakah saudara-saudara pernah mendengarkan kalimat ini? Saya akan jelaskan saudara-saudara, kita harus hati-hati mengerti kalimat tersebut. Tuhan menerima kita apa adanya, kalimat ini benar jika yang dimaksud adalah keadaan apapun saat ini, saudara-saudara datanglah kepada Tuhan. Sebesar apapun dosa-dosa kita, Tuhan tidak menolak. Mari kita datang kepada dia. Bukan karena engkau sudah suci, sudah benar, maka Tuhan baru mau menerima engkau. Apapun keadaanmu bahkan engkau berada dalam dosa yang besar sekalipun datanglah kepada Kristus Yesus. Kalimat itu benar di dalam kalimat-kalimat keadaan yang tadi saya katakan. Tetapi perhatikan baik-baik, ketika kita datang kepada Kristus Yesus dengan dosa-dosa kita adalah supaya disucikan oleh Kristus Yesus. Di sini ada proses pengudusan, di sini ada pertobatan, di sini ada transformasi, di sini ada perubahan hidup. Ini tidak berarti bahwa kita bisa mempertahankan dosa kita. Alkitab dengan jelas, seseorang yang mempertahankan dosanya tinggal di luar. Banyak orang berpikir aku sudah terima Yesus Kristus, aku sudah pasti pergi ke sorga, tetapi kalau orang ini mempertahankan dosanya, itu dengan sendirinya menyatakan bahwa orang tersebut belum menerima Kristus. Karena yang menerima Kristus ada pengubahan dari dasar hati keluar. Sekali lagi Tuhan menerima saudara apa adanya, apa artinya? Datanglah kepada Kristus Yesus bahkan engkau seandainya kita pun hari ini berada di dalam dosa yang besar. Yesus datang bukan untuk orang yang sehat tetapi untuk orang yang sakit. Yesus datang untuk pendosa dan bukan untuk orang yang merasa diri benar. Jadi ketika kita saudara dan saya, kita berada di dalam dosa apapun datanglah kepada Yesus Kristus. Tetapi ini tidak mungkin saudara dan saya datang kepada Kristus beserta dengan Kristus dengan mempertahankan dosa kita. Tidak mungkin seseorang datang kepada Kristus dan mengatakan aku di dalam Kristus tanpa ada suatu proses pertobatan di dalamnya. Sekali lagi, biarlah kita harus mengingat prinsip dasar yang begitu jelas dalam Alkitab ini. Tanpa kesuciaan, tidak mungkin manusia berjalan bersama dengan Allah. Tanpa kesuciaan, tidak ada satu manusia bisa melihat Allah. Dosa tidak mungkin bisa dipegang sambil kita mengatakan saya di dalam Kristus saya pasti masuk sorga.

Alkitab dengan jelas menyatakan anjing-anjing, tukang sihir, orang-orang sundal, pembunuh, penyembah berhala, setiap orang yang mencintai dusta dan yang melakukannya tinggal di luar. Kalau saudara melakukan dusta dan terus menerus memegang dusta dan pada saat yang sama engkau mengatakan aku di dalam Yesus Kristus aku pasti pergi ke sorga, maka saudara lihatlah Alkitab ini baik-baik sekali lagi. Alkitab tidak mengatakan demikian, Alkitab mengatakan jikalau engkau sekarang berdusta datanglah kepada Kristus. Bukan ketika engkau nanti sudah benar baru boleh datang. Datanglah kepada Kristus dalam keadaanmu saat ini, bahkan ketika engkau sekarang melakukan perzinahan, engkau melakukan dusta, engkau melakukan kebohongan demi kebohongan, engkau melakukan apapun saja yang menjijikkan, jangan menunggu nanti pada waktu engkau sudah benar, datanglah kepada Kristus saat ini. Dia mengampuni kita, pada saat kita datang kepada Kristus dan menerima Dia di dalam hati, pasti akan ada perubahan conversion di dalam hidup kita. Saudara tidak mungkin lagi memegang daripada dusta tersebut. Dusta itu seperti satu cangkir yang sangat panas, saudara tidak mungkin bisa memegangnya. Saudara akan merasakan panasnya dan kemudian saudara akan melepaskannya. Karena hati kita, hati saudara, sudah dimiliki oleh Kristus. Kalau saudara-saudara melihat kalimat-kalimat yang digunakan ini, maka ini mau menyatakan orang yang terus-menerus memegang dusta, terus menerus melakukan percabulan, terus menerus memegang kenajisan, itu tandanya orang tersebut tidak pernah diselamatkan sebelumnya.

Hal yang kedua, apa kepentingan mutlak dari kesucian? Hal yang kedua adalah kesucian adalah tanda yang paling jelas adanya pekerjaan Tuhan di dalam diri kita. Kesucian adalah satu satunya tanda yang paling jelas, pekerjaan Tuhan yang genuine terjadi di dalam diri manusia. Ketika seseorang itu menerima Kristus ada sesuatu realitas yang terjadi, ini bukan sesuatu yang kosong atau sekedar beragama saja atau saudara kemudian ya ini bukan sekedar hanya claim claim agama, aku sudah terima Kristus, aku sudah terima Kristus. Sungguh-sungguh ketika seseorang itu menerima Kristus, ada sesuatu yang terjadi, realitas yang terjadi, ada element dari luar yang masuk di dalam hidup kita dan adanya suatu proses yang tercipta dan bergerak di dalam hidup kita yaitu kekudusan. Ketika kita menerima Kristus Yesus, maka ada sesuatu kondisi pengudusan yang tercipta dan bergerak dalam hidup kita seumur hidup. Boleh dipastikan jikalau proses itu tidak tercipta dan tidak terjadi, tidak bergerak dalam hidup kita, itu seluruhnya claim palsu adanya. Secara teologis saudara-saudara, bahasa yang dipakai adalah union with Christ, seseorang yang disatukan dengan Kristus, adalah menghasilkan kebenaran dan pengudusan, justification and sanctification.

Ketika Kristus itu masuk di dalam hati kita, Roh Kudus akan bekerja dalam hati kita. Alkitab mengatakan ini ada perubahan, yang lama sudah berlalu, yang baru sudah datang. Dan apa itu yang terjadi? Ada pengudusan. Ada element dari luar yang mengubah dalam hidup kita, masuk ke dalam hati kita dan mengubah hidup kita. Dan mengubah kita secara status dan secara kondisi. Secara status dan kondisi. Dan kedua-duanya adalah pengudusan. Pengudusan secara status dan pengudusan secara kondisi. Pengudusan secara status itu adalah pembenaran, itu adalah justification. Alkitab mengatakan anak-anak kegelapan menjadi anak-anak terang, dari musuh diubah menjadi anak-anak Allah. Jadi ini adalah pengudusan secara status. Tetapi yang kedua yaitu pengudusan secara kondisi, itu di sebut sebagai sanctification, progressive sanctification. Dan dalam hidup kita, makin lama makin dikuduskan makin serupa dengan Kristus. Saudara-saudara sekali lagi ketika seseorang dijadikan satu di dalam Kristus, union with Christ, maka pasti akan ada buah. Dan buah itu adalah justification and sanctification. Dua-duanya adalah merupakan pengudusan. Satunya adalah pengudusan secara status, satunya adalah pengudusan secara kondisi. Secara panjang lebar tadi saya sudah menyatakan pada saudara-saudara, intinya yaitu kesucian adalah buah dari tindakan Allah yang beranugerah kepada umat pilihan-Nya. Saudara-saudara kita selalu memikirkan Allah memilih, Allah memilih, kita selalu memikirkan itu adalah kedaulatan Allah, ya betul kedaulatan Allah. Tetapi kita juga harus memikirkan Allah memilih untuk apa? untuk menjadikan apa, Allah memilih itu? Untuk membentuk satu kelompok umat pilihan-Nya yang bergerak di dalam kekudusan di bumi ini. Saudara-saudara, mari kita lihat Roma 6:19-22.

Perhatikan baik-baik, sekali lagi point yang kedua saya menegaskan mengenai tanda yang jelas pekerjaan Tuhan yang genuine di dalam diri seseorang. Karena mata kita sering sekali tertutup dengan phenomena, oh aku pasti Tuhan selamatkan aku. Kita tanya kenapa? Oh karena aku itu adalah hamba Tuhan. Aku adalah pengurus gereja. Aku memberikan perpuluhan. Aku aktif di dalam gereja. Aku melayani. Bahkan di dalam Alkitab Yesus Kristus mengatakan bahwa pada akhir zaman banyak orang mengatakan, Tuhan, Tuhan aku mengusir setan di dalam nama-Mu. Tuhan Yesus mengatakan Aku tidak kenal engkau. Saudara-saudara, satu-satunya tanda yang tidak bisa dipalsukan oleh setan yang merupakan tanda kesejatian Tuhan bekerja adalah kesucian. Saudara-saudara, kalau kita melihat orang-orang yang disatukan di dalam Kristus di dalam Alkitab, kita bisa melihat proses ini terjadi. Kadang Alkitab menyatakan secara panjang atau kadang Alkitab menggambarkannya secara pendek di dalam satu perikop. Secara panjang saudara bisa melihat misalnya kehidupan Petrus atau kehidupan Paulus, yang saudara-saudara melihat dari terima Kristus Yesus makin hari makin dikuduskan. Tetapi saudara-saudara, kalau saudara-saudara melihat secara pendek, saudara-saudara mari kita melihat adalah kehidupan Zakheus. Mari kita melihat Lukas 19:1-10. Saudara-saudara ayat ini membantu kita untuk mengerti sebenarnya ketika seseorang itu menerima Kristus apa yang sebenarnya terjadi. Saudara akan menemukan pekerjaan Roh Kudus yang menguduskan dalam perikop yang pendek. Saudara akan menemukan prinsip yang sama dalam kehidupan Petrus atau Paulus tetapi dalam ayat-ayat yang terentang panjang sekali. Tetapi saudara-saudara, perikop ini adalah baik untuk kita pelajari apa yang sesungguhnya terjadi. Saya akan membacakan dalam Bahasa Indonesia saja.

Saudara-saudara akan menemukan dari perikop ini satu kisah yang indah dari seorang pendosa diubah menjadi orang sucinya Allah. Saudara-saudara, kita semua tahu siapa Zakheus, bahkan orang-orang pada waktu itu pun mengatakan orang ini orang berdosa. Tetapi ketika Roh Kudus itu mulai bekerja, saudara bisa melihat bagaimana proses pengudusan itu terjadi. Pertama-tama sama seperti banyak orang, Zakheus ingin melihat Yesus. Ini adalah hanya suatu curiosity, ingin tau saja, ingin tau Yesus, ini berbicara dengan kognitif saja. Tetapi kemudian Yesus itu lihat dia, dan kemudian memanggil dia dengan namanya. Dia sangat terpesona bagaimana mungkin Yesus bisa mengenal dia. Tetapi inilah yang disebut sebagai keselamatan. Allah itu mengenal kita sebelum dunia dijadikan. Di seluruh kampung itu, Alkitab mencatat hanya Zakheus, Yesus itu matanya tertuju dan masuk ke dalam rumahnya. Dan seluruh proses keselamatan ini yang penting, bukan Zakheus ingin tahu Yesus tetapi Yesus memanggil Zakheus. Yang penting bukan Zakheus itu melihat Yesus tetapi Yesus masuk ke rumahnya. Seluruh agama itu mau untuk mencari Allah tetapi itu seluruhnya tidak ada gunanya kecuali Allah itu mengunjungi seseorang. Oh Zakheus ingin tau Yesus. Dia sudah pernah dengar orang-orang di mana-mana, ini orang terkenal. Dia dengan curiosity yang besar mau tau siapa Yesus. Dan kemudian Yesus melihat dia di atas pohon, “Zakheus turun, hari ini Aku akan datang ke rumahmu.” Dan kemudian Zakheus menerima Yesus Kristus. Alkitab mengatakan maka Zakheus menerima Yesus dengan sukacita. Ada proses psychology di sini. Jiwanya, hatinya itu kemudian ada sukacita. Bicara berkenaan dengan perasaan.

Saudara-saudara bisa perhatikan tadi dari keinginan pengetahuan, lalu kemudian ada lonjakan kegirangan di dalam hati. Tetapi apakah selesai sampai di situ? Sebagian besar orang Kristen mungkin selesai sampai di situ dan kemudian kita mengganggap bahwa itu adalah hari lahir baruku tetapi Alkitab mengatakan tidak, itu tidak cukup. Ada buah yang sungguh-sungguh harus terjadi dan buah itu adalah buah kekudusan. Dan buah itu adalah buah pertobatan. Dan kemudian Zakheus itu menyatakan ada suatu perubahan dari arah hidup; “Tuhan, setengah dari milikku kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat.” Dia mau memenuhkan hukum-hukum Allah. Dia melihat hukum Allah adalah sesuatu yang penting untuk dia itu bisa sinkron kepadanya. Dan itu tanpa paksaan, itu alami terjadi. Ada buah pengudusan yang alamiah keluar. Ini tidak dibuat-buat. Ini adalah adanya satu unsur luar yang masuk di dalam hidupnya dan itu adalah Holy Spirit yang bekerja.  Sejak itu dia mungkin dipermalukan oleh orang-orang yang lain, yang jelas bahkan uangnya akan jauh lebih berkurang dari sebelumnya. Tetapi dia rela menjalaninya karena tahu hidupnya yang berdosa itu sekarang sudah dikuduskan oleh Yesus Kristus. Dia rela menjalani hidup sangkal diri. Dan Yesus Kristus mengatakan bahwa; “Hari ini telah terjadi keselamatan kepada rumah ini, karena orang ini pun anak Abraham.” Kalimat Yesus ini tidak berarti karena dia mau mengembalikan seluruhnya maka baru ada keselamatan terjadi. Tetapi kalimat Yesus mau menegaskan bahwa seluruh proses keselamatan itu sudah terjadi di dalam kehidupan daripada Zakheus. Saudara-saudara perhatikan ada suatu proses pengudusan yang tercipta dan bergerak dari justification bergerak menuju kepada progressive sanctification.

Saudara-saudara, salah satu masalah besar dalam kehidupan kita semua, orang-orang Kristen, dalam konteks pastoral yang sering sekali hamba Tuhan temui, yaitu kita itu sering ragu dengan jaminan keselamatan kita. Apakah aku sungguh-sungguh orang Kristen yang sejati? Dari mana saya tau bahwa saya orang yang diselamatkan dan dipilih oleh Allah? Apa sesungguhnya tanda utama yang tidak terbantahkan dari seseorang itu jikalau orang itu diselamatkan? Ini menjadi pergumulan yang besar bagi kita semua. Khususnya jika kita berada di dalam penderitaan atau di dalam keadaan jatuh di dalam dosa. Misalnya saja saudara-saudara bisa memikirkan seandainya ada orang yang kita kasihi itu kemudian meninggal. Dan orang tersebut misalnya saja sudah lama tidak pergi ke gereja. Kita terus menerus akan bergumul apakah orang tersebut itu orang yang diselamatkan? Atau kalau terjadi pada diri kita sendiri, kalau kita jatuh di dalam dosa yang besar, maka kemudian akan ada muncul apakah sesungguhnya aku orang yang diselamatkan? Kenapa kalau aku orang yang diselamatkan, aku melakukan dosa yang besar seperti ini? Saudara-saudara, salah satu prinsip yang jelas di dalam Alkitab adalah tanda yang tidak terbantahkan dari seseorang itu diselamatkan adalah adanya proses pengudusan dan kecintaan terhadap kesucian di dalam hati seseorang. Sekali lagi itu tidak berarti bahwa kita tidak mungkin jatuh di dalam dosa yang besar. Daud pernah melakukannya. Tetapi jelas proses pengudusan terjadi kepada Daud bahkan ketika dia sudah jatuh, dia diangkat lagi oleh Tuhan, ada proses pengudusan. Dan tanda dari proses pengudusan terjadi dalam hati Daud adalah Daud itu mengasihi kesucian. Jadi saudara-saudara dalam point yang kedua yang mau saya tegaskan sekali lagi adalah kesucian adalah satu tanda, satu buah yang merupakan tanda Tuhan bekerja dengan sesungguhnya. Apakah kita makin mengasihi kesucian? Jika kita berada tetap di dalam dosa, apakah hati kita bisa damai? Apakah kita itu mencari selalu perdamaian dengan Allah? Atau ketika kita berdosa, apakah hati kita itu gelisah karena hubungan dengan Allah itu terganggu? Dosa semanis apapun, apakah menggelisahkan hati kita yang terdalam? Karena kita tahu tidak mungkin kita bisa berjalan bersama dengan Allah jikalau kita tidak berjalan di dalam kesucian-Nya? Seandainya kita jatuh di dalam dosa, apapun itu bahkan yang besar sekalipun, apakah hati kita tercipta seperti Daud, ingin untuk bangkit di dalam kesucian-Nya lagi? Dulu pendeta Stephen Tong pernah mengatakan apa bedanya kucing dan babi? Kalau kucing kena air kotor langsung dia menjilat-jilat tubuhnya untuk membersihkan badannya. Tetapi babi meskipun bersih, begitu melihat ada kubangan air dia ingin cepat masuk lari ke dalamnya. Saudara-saudara, kita orang Kristen yang seperti kucing atau seperti babi? Apakah kita begitu ada satu polusi dosa yang kita sadari yang kita ingin cepat membereskannya? Atau kita terus menerus menikmatinya?

Saudara-saudara, setan bisa menipu dengan mengerjakan mujizat. Setan bahkan bisa memakai seseorang yang hebat mengajarkan, berkhotbah dengan sesuatu yang benar. Setan juga bisa mengelabui kita dengan perbuatan-perbuatan baik. Banyak orang Kristen itu terkelabui dengan seseorang yang sebenarnya tidak genuine, dia seakan-akan penuh dengan cinta kasih. Itu bukan tanda paling esensi. Satu-satunya tanda paling esensi yaitu kesucian. Apakah proses kesucian itu terjadi kepada diri seseorang? Ketika Yesaya itu mendengar malaikat itu bernyanyi, dia tidak mendengarkan malaikat bernyanyi, “Baik, baik, baiklah Engkau Tuhan.” Malaikat tidak bernyanyi, “Kasih, kasih, kasihlah Tuhan atau benar, benar, benarlah Tuhan.” Tetapi satu sifat yang diulang tiga kali adalah, “Suci, suci, sucilah Tuhan.” Jelas, Allah kita adalah Allah yang kasih adanya. Jelas, Allah kita adalah Allah yang benar adanya. Jelas, Allah kita adalah Allah yang baik adanya. Tetapi sifat-sifat itu masih bisa ditipu, dikelabui oleh setan. Satu-satunya sifat yang tidak bisa dikelabui oleh setan yaitu kesucian karena di dalam diri setan tidak ada kesucian. Dan tanda Allah bekerja di dalam diri kita, keluarga kita, gereja kita adalah jikalau dalam hati kita, makin hari makin takut berdosa kepada Dia. Biarlah kita minta itu sungguh-sungguh terjadi di dalam hidup kita.

Alamat

556 - 558 Botany Road, Alexandria, NSW, 2015
sekretariat@griisydney.org
0422690913
0430930175

Social Media

Facebook GRII Sydney Instagram GRII Sydney Twitter GRII Sydney


Google Play Store
App Store

^