[simple_crumbs root="Home" /]
kembali

4 July 2021

Pdt. Agus Marjanto, M.Th

Kedalamanan Tidak Terduga Dari Dosa (4)

Lukas 23:34a; Roma 7:24-25

 

Kita terus memikirkan tema tentang kedalaman tidak terduga dari dosa. Mungkin seri ini akan selesai di dalam satu atau dua minggu ke depan lagi. Dan kalau Tuhan pimpin, kita akan masuk di dalam seri baru yang merupakan kelanjutan dari seri dosa ini yang berjudul The Gospel Mystery of Sanctification. Dan di dalam seri yang baru tersebut, pertama-tama saya akan menjelaskan mengapa pengertian dan kedalaman dan pengenalan akan dosa kita itu akan berelasi erat sekali dengan kesehatan dari seluruh kehidupan kerohanian kita. Doktrin tentang dosa, pengajaran tentang dosa itu adalah satu pengajaran yang paling dihindarkan pada zaman ini. Bahkan bagi kita orang Kristen sekalipun, kita anak Tuhan, kita yang sudah lahir baru, kita berpikir itu adalah sesuatu yang tidak perlu dibicarakan lagi apalagi dibicarakan seperti orang-orang puritan begitu dalam dan dikupas habis. Doktrin ini sudah tidak popular lagi bagi dunia dan juga bagi kita orang Kristen. Tetapi sekali lagi, kalau kita mengerti apa yang Alkitab itu nyatakan, maka pengertian dan pengenalan kita akan dosa itu akan berelasi erat dengan kesehatan seluruh kehidupan rohani kita. Saya akan jelaskan di dalam seri yang baru nanti di Gospel Mystery of Sanctification. Tetapi saya akan jelaskan sedikit saja di tempat ini sekarang. Kalau saudara-saudara melihat di dalam buku-buku dan kotbah-kotbah puritan, puritan disebut sebagai dokter jiwa. Para scholar masa kini pun mengakui keberhasilan mereka di dalam mendidik diri dan jemaat mereka sampai jemaat mereka mempengaruhi bangsa. Seorang akademik Reformed bernama Errol Hulse menyatakan pertanyaan ini, “Mengapa orang puritan berhasil mengajarkan Reformed Theology ketika banyak teolog-teolog Reformed itu gagal?”  Jawaban terhadap pertanyaan ini ada beberapa lapisan. Tetapi salah satunya yang membuat puritan itu berhasil adalah mereka itu mengerti titik berat Alkitab, titik berat dari kalimat-kalimat Yesus. Ya, tentu Alkitab kita itu seluruhnya adalah Firman Tuhan dan seluruh kalimatnya itu merupakan sesuatu kualitas yang sama yang dari Tuhan yang diberikan kepada manusia. Tetapi kalau saudara-saudara melihat Alkitab kita, saudara akan menemukan titik beratnya. Saudara-saudara akan menemukan prioritas mana yang dahulu, mana yang belakangan bahkan dari kotbah Yesus Kristus. Dan puritan bukan saja mengerti kedalaman setiap bagian-bagian Alkitab tetapi mereka mengerti point ini, mereka mengerti titik beratnya. Dan kemudian mereka menerapkannya dalam jiwa mereka dan juga di dalam pelayanan mereka. Misalnya saja saudara-saudara, Alkitab kita berisi Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, mereka menjelaskan pentingnya Allah itu mengirimkan kepada kita Perjanjian Lama yang berisi law terlebih dahulu, baru Perjanjian Baru berisi grace setelahnya. Ketika kita itu menekankan grace (anugerah) itu lebih dulu daripada hukum, maka kerohanian itu menjadi sesuatu yang tidak balance. Hal yang lain misalnya saudara-saudara, yang pernah saya katakan di hadapan saudara-saudara, suatu hari saya berkotbah dan diundang di dalam satu acara, kemudian setelah itu saya berkotbah mengenai salib Yesus Kristus. Dan setelah saya berkotbah lalu kemudian song leader itu maju ke depan. Dan kemudian dia mengatakan oh sungguh satu kotbah yang baik, tetapi kita sekarang kita sudah tidak perlu memikirkan mengenai salib Yesus karena Yesus sudah bangkit. Saudara perhatikan apa yang dikatakan oleh dia, apakah dia itu mengatakan sesuatu yang tidak ada dalam Alkitab? Ada, yaitu kebangkitan Yesus, sungguh- sungguh ada tetapi itu menjadi titik beratnya. Tetapi saudara, dengan titik beratnya kebangkitan Yesus maka pengenalan akan salib Yesus itu tidak ada. Dan kalau pengajaran seperti itu diteruskan, maka saudara akan mengetahui bahwa tidak akan memiliki satu kerohanian yang utuh, yang sehat.

Sekarang perhatikan di dalam Alkitab, suara apa yang pertama kali terdengar di daerah Israel pada saat Perjanjian Baru? Suara apa? “Hai Israel Allah itu Maha Kasih? Hai Israel Allah itu baik?” Jawabannya adalah tidak. Suara apa yang muncul memecah keheningan empat ratus tahun sebelumnya? Saudara-saudara, perhatikan satu suara ini, “Bertobatlah karena kerajaan Allah sudah dekat! bertobatlah karena kerajaan Allah sudah dekat!” Saudara-saudara, suara itu muncul dari Allah yang mengasihi. Suara itu muncul dari Allah yang mencari. Tetapi paradoksnya saudara lihat, yang mencari dan yang mengasihi itu mengeluarkan kalimat-kalimat yang keras terhadap dosa dan penghakiman. Saudara lihat yang yang ditekankan di depan itu apa? Baru saudara-saudara melihat motivasinya itu di belakang. Ini yang saya mau katakan saudara-saudara, ini bukan dari tempat saya, tetapi kalau saudara-saudara melihat puritan, dan kemudian Martyn Lloyd-Jones di dalam bukunya, Spiritual Depression, begitu tepat menyatakan hal ini: “Banyak orang Kristen tidak memiliki kerohanian yang baik karena bypass.” Mereka bypass. Mereka tidak mau menekankan Perjanjian Lama yaitu hukum dan kemudian mengajar Perjanjian Baru yaitu anugerah. Mereka tidak mau melihat salib tetapi kebangkitan. Mereka tidak mau melihat dosa tetapi penebusan. Kita semuanya adalah orang-orang yang ditebus oleh Kristus, dan kita semua kalau ditebus pasti kita masuk ke sorga tetapi bagian ini adalah bagian mengenai kerohanian kita di dunia ini. Bagian ini bicara mengenai pengenalan akan Allah yang sehat dan sejati di dunia ini. Banyak orang Kristen, bukan saya mengatakan, tetapi Martyn Lloyd-Jones, mengatakan bahwa banyak orang Kristen hidup kerohaniannya tidak sehat. Dan pada akhirnya mereka hidup bukan seperti orang-orang Kristen Perjanjian Baru hidup, kenapa? Karena bypass. Mereka tidak mau berhenti dan mendalami dan menekuni hal-hal yang menjadi titik berat dari Alkitab. Misalnya saja dalam kalimat Paulus yang tadi kita bacakan Roma 7:24-25 “Aku manusia celaka! Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini? Syukur kepada Allah! Oleh Yesus Kristus, Tuhan kita.” Saudara-saudara perhatikan dua ayat ini, kita sering sekali bypass di dalam ayat 24 dan kita langsung menuju ke ayat 25. Kita berpikir ayat 24 itu sudah masa lalu dan saya juga tidak pernah memikirkannya. Yang paling penting sekarang saya sudah di dalam Yesus Kristus. Saya bersyukur kepada Allah, aku ada pujian di dalam hati kita. Sekali lagi kita bypass teriakan pertama dari Paulus. Kita meneriakkan bagian kedua tetapi kita bypass teriakan pertamanya. Dan apa teriakan pertamanya? “Aku manusia celaka!” Itu berarti Paulus menyadari bobot dosa, kedalaman dosa. Bukan saja menyadarinya, tetapi mengenalnya, mengalaminya. Betapa dosa yang melekat di dalam dirinya itu sangat menakutkan. Dia adalah orang yang mengalami terror dari Allah yang suci karena adanya dosa di dalam diri. Jikalau ini kita tidak alami maka kita sebenarnya tidak pernah mengalami puncaknya syukur kepada Allah. Itulah sebabnya begitu banyak orang Kristen itu bersyukur untuk makanan, bersyukur untuk pekerjaan, bersyukur untuk apapun saja dari hal-hal dunia yang diberikan Allah tetapi paling jarang bersyukur untuk kelepasan dari dosa. Kita hanya melihat hubungan kita dengan Tuhan adalah dalam hal-hal yang sifatnya materi dan dunia yang temporal ini.  Itulah sebabnya ketika hal-hal yang dunia, yang temporal, yang badani ini hilang, kita sulit untuk bersyukur. Kita melupakan sebenarnya yang membuat dasar dari syukur kita yang tidak tergoyahkan seumur hidup adalah karena penebusan Yesus Kristus. Kita dilepaskan oleh Yesus Kristus. Tetapi kita tidak memiliki pengertiannya. Kita tidak memiliki pengalaman dilepaskan dari dosa itu seperti apa. Intinya kita tidak pernah mengatakan aku manusia celaka. Dan kita seakan-akan sama dengan Paulus kita bersyukur pada Allah tetapi sesuatu pengalaman itu tidak ada di dalam diri kita.  Ini adalah kecelakaan kita sebagai orang Kristen, itulah sebabnya mengapa iman kita itu dangkal, lemah. Kita sulit bahkan untuk bersukacita karena sukacita kita didasarkan dengan segala sesuatu yang ada yang kita dapatkan secara dunia dan materi. Satu doa yang terus menerus kita harus panjatkan adalah ‘Tuhan berikan aku dukacita rohani.’ Dan untuk itu terjadi maka Tuhan harus membukakan seberapa besar dosa kita. Itulah sebabnya saudara-saudara, titik berat itu penting sekali.

Kita masuk sekarang tentang kedalaman tidak terduga dari dosa, kotbah yang keempat. Beberapa minggu yang lalu kita sudah bicara tentang seberapa Tuhan membenci dosa, dosa melawan Tuhan, dosa memprovokasi kemarahan Tuhan. Kita tahu dosa itu melawan Tuhan. Tetapi melawan apa? Melawan Tuhan itu maksudnya apa? Ralph Venning di dalam kotbahnya, The sinfulness of sin, menyatakan: “Dosa melawan delapan sudut pandang tentang hal ini di hadapan Allah.” Saudara-saudara, hari ini kita hanya akan bicarakan satu, dan kalau Tuhan pimpin maka minggu depan kita akan bicara sampai selesai, tetapi kalau tidak bisa selesai, maka kita akan menyambung satu minggu kemudian. Dosa melawan Tuhan di dalam bagian apa saja?

Yang pertama, dosa melawan sifat Tuhan yang paling hakiki. Dosa melawan natur atau sifat Tuhan itu sendiri. Dan apa natur dan sifat Allah yang paling hakiki? Adalah kesucian. Allah itu suci adanya. Nama-Nya suci, sifat-Nya suci, keindahan dan kemuliaan-Nya adalah karena berbasiskan kesucian-Nya. Kesucian adalah sifat inti dari Allah. Jika kita memikirkan Allah yang Maha Kuasa, kita memikirkan Allah yang berada di tempat yang tertinggi, Maha Tahu, Maha Hadir, berdaulat, tidak berubah tetapi pada saat yang sama kita memikirkan ada satu kecemaran saja atau satu kejahatan saja di dalam-Nya, maka kita mengubah Dia Allah itu menjadi monster yang tiada taranya dan menodai semua sifat yang telah tadi disebutkan di atas. Tanpa kesucian, penguasaan-Nya adalah tirani. Tanpa kesucian, penghakiman-Nya menjadi kegemisan. Tanpa kesucian, maka kesabaran-Nya menjadi toleransi. Tanpa kesucian, kasih-Nya menjadi sesuatu kelembekan dan sesuatu yang murahan. Alkitab menyatakan Dia adalah suci adanya, tanpa cacat, tanpa kerut, tanpa bayangan, tanpa ada satu noda terkecil sekalipun dari kejahatan. Dia tidak berdosa dan bukan pencipta dosa. Dan Dia tidak pernah memerintahkan ciptaan-Nya berdosa. Dan Dia sampai kapanpun tidak pernah menyetujui manusia berdosa. Dia membenci dosa. Dengan kebencian yang sempurna terhadap dosa. Dia sama sekali tanpa salah. Mata-Nya yang suci itu tidak tahan memandang kejahatan dan tidak dapat melihat kelaliman. Kesucian Allah menjadikan Dia berbeda dengan yang lain. Dia ada daripada kelas-Nya sendiri, tidak ada yang menyamai-Nya. Dengan mengakui sifat kesucian-Nya, maka kita mengakui bahwa Allah bebas dari seluruh kejahatan sekecil pun. Dan Dia terlepas dari kesalahan dan dugaan akan adanya kejahatan. Allah tidak pernah bersalah. Ketika saudara-saudara mempelajari kesucian Allah di dalam Alkitab, maka Alkitab menyatakan ada permusuhan, ada contrary yang besar. Dan saudara perhatikan apa yang dikatakan oleh Ralph Venning ini, saudara perhatikan apa yang dikatakannya, dengan jitu sekali dia menyatakan hal ini dan akan membukakan mata kita. Saudara-saudara, saya sulit menerjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, saya akan menyatakannya di dalam bahasa Inggris dan Kevin akan mengulangnya dalam bahasa Inggris. “On the contrary, God is Holy, all Holy, only Holy, all together Holy and always Holy so sin is sinful, all sinful, only sinful, all together sinful and always sinful.”

Perhatikan, ini adalah satu kalimat yang penting sekali. Apanya yang penting? Apakah kita menyadari apa yang sebenarnya diangkat oleh Alkitab dan kemudian dibenturkan oleh Alkitab? Maka saudara-saudara perhatikan, puritan sangat tajam di dalam hal ini. Saudara lihat pada intinya Alkitab mempertentangkan bukan Allah dan setan tetapi yang dipertentangkan pada intinya yaitu Allah dan dosa. Saudara tentu dalam Alkitab Allah itu melawan daripada setan. Tetapi pertentangan Allah terhadap dosa jauh lebih dalam daripada Allah menentang setan. Sekali lagi bagian ini tersembunyi di dalam mata kita. Kita tidak terlalu teliti ketika kita melihat Alkitab, orang-orang puritan begitu teliti. Mereka menerima kesaksian Alkitab tentang dosa. Dari segala penjuru Alkitab berbicara memperlihatkan kepada kita sesungguhnya dosa, dosa ini yang ada pada kita ini apa? Sebagaimana di dalam Allah tidak ada kejahatan sekalipun. Demikianlah di dalam dosa tidak ada kebaikan sekalipun. Allah adalah kebaikan tertinggi. Dosa adalah kejahatan terdalam. Sebagaimana tidak ada kebaikan dapat dibandingkan dengan Allah, juga demikian tidak ada kejahatan yang dapat dibandingkan dengan dosa. Alkitab dengan jelas menyatakan dan puritan sangat teliti di dalam hal ini, menyatakan bahwa dosa itu lebih buruk dari penderitaan. Dosa lebih buruk dari setan. Dosa lebih buruk dari neraka. Dan dosa lebih buruk dari kematian. Saudara-saudara mari kita merenungkan sebentar dalam bagian-bagian ini sebelum kita melanjutkan.

Bagaimana orang-orang puritan itu mendidik diri dan jemaatnya? Mereka tidak meloloskan sedikit saja dari keberdosaan dosa. Sekali lagi puritan melihat dengan tepat dan teliti, sesungguhnya Allah itu memandang dosa itu seperti apa? Mereka begitu teliti melihat bagaimana Alkitab itu menyaksikan, menjadi saksi, dosa itu apa? Dipanggillah saksi-saksi yang begitu banyak dan seluruh catatan Alkitab menyatakan, mengajarkan kepada kita, dosa itu ini, dengan seluruh narasi yang ada dalam Alkitab. Saudara-saudara kita selalu berpikir ketika kita berdosa kita mengatakan seperti ini, yah saya sudah berdosa tapi kamu bisa lihat dong tetap ini ada kebaikannya. Masi ada yang baik di dalam diriku. Motivasiku baik loh ketika melakukan ini. Ya..ya.. saya mengakui saya salah sih, tapi gini loh ya tidak seburuk apa yang engkau pikirkan. Semua kalimat itu adalah untuk membebaskan dosa dari keberdosaannya. Kita tidak pernah mau menyudutkan dosa yang ada dalam diri kita ke pojok dan dibuat tidak berkutik seperti Alkitab itu menyuruhnya. Kita tidak mau untuk membuka dosa itu dan meneranginya dari seluruh sisi Firman Tuhan sehingga kita bisa sungguh-sungguh mengerti  kedalamannya dan kegelapannya dan seluruh kejijikannya. Kita tidak mau untuk membuat diri kita yang berdosa dan dosa itu dipojokkan di sudut sampai tidak berkutik. Kita hanya melihat dosa kita dari evaluasi jarak jauh sehingga kita hanya melihat itu adalah sesuatu kesalahan atau sesuatu yang bisa dimaklumi. Sehingga ketika ada penghukuman Tuhan itu datang kita masih mempertanyakan mengapa engkau masih memperlakukan aku seperti ini? Karena kita tidak mengerti sesungguhnya dosa itu apa. Kita kesulitan untuk mengerti dalam bagian-bagian dalam Alkitab yang mengajarkan kepada kita seakan-akan Allah itu terlalu keras. Dan kita juga tidak menerima nabi-nabi yang bersuara lantang untuk menghukum dan juga untuk mencegah dosa. Intinya, kita membuat excuse diri kita sendiri. Ada tetap sesuatu yang baik dari diriku. Dan ingatlah bahwa Yesus sudah menebus aku. Kita tidak pernah berseru, berteriak seperti Paulus: Celaka aku, siapa yang bisa membebaskan aku dari tubuh berdosa seperti ini? Kita tidak pernah bisa menyatakan bahwa dosa itu sekecil apapun adalah contrary melawan daripada Allah yang suci itu. Sekali lagi. On the contrary, God is holy, all holy, only holy, altogether holy and always holy. So, sin is sinful, all sinful, only sinful, altogether sinful and always sinful. Sekali lagi saudara-saudara, hal ini menyadarkan saya dan membuat saya terkejut. Kalau saudara-saudara perhatikan apa yang dipertentangkan di dalam Alkitab adalah bukan Allah dan setan saja tetapi lebih dasar daripada itu adalah Allah dan dosa. Ini adalah sekali lagi suatu titik berat yang harus kita miliki. Beberapa puluh tahun yang lalu ada kalimat yang sering muncul dari mulut anak-anak Tuhan. Setiap kalimat mereka berdosa, mereka bilang itu adalah pekerjaan setan. Maka cara membereskan dosa yaitu mengusir setan. “Setan zinah, keluar dari orang tersebut!” “Setan malas, di dalam nama Yesus aku mengusir setan malas engkau keluar!” :Setan yang suka mencuri, engkau keluar dari orang tersebut!” Sepanjang sejarah gereja dari ekstrim maupun tidak ekstrim termasuk diri kita. Kita ingin untuk lepas dari tuduhan. Kita ingin untuk, bicara mengenai dosa, ini bukan saya loh. Saya berikan kepada siapa kesalahan ini? Oh, kepada papaku, dia yang bikin ini. Oh pelacur itu, dia yang bikin ini. Oh istriku, dia yang bikin ini. Dan terakhir adalah bicara berkenaan, oh, itu adalah setan yang bikin ini. Dan kadang kita mengatakan: “Oh bukankah Tuhan itu berdaulat, jadi aku berdosa ini di dalam kedaulatan-Nya.” Sekali lagi, saudara-saudara, ini adalah sesuatu yang harus kita hentikan. Mari kita memiliki pemulihan dari Tuhan dengan jalan yang Tuhan sendiri nyatakan. Bertobatlah karena Kerajaan Allah sudah dekat. Berarti harus bertobat. Dan kalau itu artinya kita bisa bertobat, berarti kita itu ngerti, kita itu mengalami, kita itu menyadari aku berdosa dan tahu bobot dan kedalaman dosa. Barangsiapa mengatakan: “Aku bertobat” tetapi sebenarnya tidak mengenal kedalaman dosa diri maka itu adalah sesuatu hypocrite. Itulah sebabnya banyak orang Kristen, matanya, hatinya selalu bisa melihat kesalahan orang lain karena tidak tahu kesalahan diri kita sendiri itu apa. Kita selalu mengkritik orang lain. Orang lain dikritik karena sama sekali tidak bisa melihat dosaku itu apa. Biarlah kita sungguh-sungguh dipulihkan oleh Tuhan di dalam hal-hal seperti ini.

Saya akan meneruskan pengajaran ini. Sekali lagi, yang dipertentangkan bukan Allah dan setan tapi Allah dan dosa. Ralph Venning kemudian menyatakan: “Dosa itu lebih buruk dari penderitaan.” Dan kita sudah berbicara beberapa waktu yang lalu untuk membedah hal ini. Dan sekarang kita akan masuk di dalam 3 bagian ini:

  1. Dosa lebih buruk dari setan. Setan adalah musuh yang kejam, jahat, iri dan memusuhi seluruh umat manusia. Setan sendiri artinya adalah penuduh manusia. Adalah benar, tidak ada yang dilakukan setan yang terlepas dari dosa. Tetapi setan tidak dapat melukai dan melakukan sesuatu yang buruk pada manusia tanpa dosa. Saudara perhatikan bagian ini, dosa dapat bertindak; ini sesuatu dipersonifikasikan, tanpa setan sebaliknya setan tidak dapat bertindak tanpa membawa dosa di dalamnya. Di dalam Alkitab, kontradiksi Allah terhadap setan tidak sebesar kontradiksi Allah terhadap dosa. Dosalah yang membuat malaikat itu menjadi setan.\
  2. Dosa lebih buruk dari neraka. Neraka adalah suatu penghukuman tetapi dosa adalah kejahatannya. Saudara-saudara perhatikan, ini adalah kalimat yang penting sekali. Neraka adalah hukuman tetapi dosa adalah kejahatannya. Dosalah yang membuat neraka itu exist. Dalam Alkitab ada kota Sodom dan Gomora yang dihujani dengan api dan belerang karena kota ini berdosa. Kota ini dihabisi dengan api dan belerang seperti neraka, tetapi Yesus katakan dalam Matius 10:15: “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya pada hari penghakiman tanah Sodom dan Gomora akan lebih ringah tanggungannya dari pada kota itu.” Saudara-saudara, keberdosaan meski belum ada hukumannya, harus dilihat lebih buruk dari hukuman itu sendiri. Bapak gereja Anselm yang sangat mengasihi Tuhan, dia mengatakan: “Seandainya jalan yang melewati neraka dan dosa diperhadapkan di depan matanya. Dan dia harus memilih salah satunya, maka dia akan lebih memilih berjalan melewati neraka daripada berjalan melewati dosa. Dosa adalah neraka terburuk dan lebih buruk dari neraka karena dosalah yang membuat neraka itu exist.”
  3. Dosa lebih buruk dari kematian. Kematian adalah musuh manusia. Tidak ada manusia yang mengingini kematian. Dan kita semua menghindarkannya. Tetapi sekali lagi, perhatikan bahwa dosalah yang membuat kematian terjadi. Dan bagi anak-anak Tuhan seringkali Tuhan bertindak memberikan anugerah melalui kematian. Ralph Venning mengajarkan, kematian adalah jauh lebih murah dan lebih mudah daripada berbuat dosa. Ini adalah sesuatu kalimat yang luar biasa, saudara-saudara. Biarlah kalimat ini boleh mendidik diri kita sendiri. Ini adalah kalimat orang-orang sucinya Tuhan, raksasa-raksasa rohani. Didiklah diri kita dengan kalimat ini, menganggap kematian adalah jauh lebih murah dan lebih mudah daripada kita berbuat dosa. Alkitab menyatakan kasih setia Tuhan itu lebih baik, lebih daripada hidup. Maka kasih setia Tuhan itu meliputi di dalamnya ada kematian karena lebih daripada hidup. Matius 10:28 menyatakan: “Dan janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka.” Ayat ini memberikan sesuatu perbandingan, yang pertama adalah takut akan dibunuh; mati dan kedua adalah takut kepada Allah; takut berbuat dosa. Di sini Yesus mengajarkan bahwa dosa itu lebih buruk dari kematian. Mengapa dosa lebih buruk daripada kematian? Ada 4 hal:
    1. Pertama, kematian itu memisahkan. Kematian memisahkan yang paling dekat dengan kita, yang paling menempel dengan kita, yang paling kita kasihi. Kematian memisahkan suami dari istri, orang tua dari anak, kekasih jiwa kita dan bahkan kematian paling puncaknya memisahkan tubuh dan jiwa kita. Kematian, sekali lagi merupakan musuh besar manusia, Alkitab mengatakan demikian. Tetapi dosa itu lebih buruk. Karena dosalah yang membawa kematian dan seluruh yang jahat terjadi kepada kita. Dan lebih lagi, dosa memisahkan manusia meskipun masih hidup, dengan Allah yang adalah sumber hidup dan terang kita. Perhatikan kalimat di bawah ini dari Ralph Venning: “Kematian tidak memisahkan kita dari kasih Allah tetapi dosa membuat kita terlepas dari kasih Allah.” Sekali lagi, kematian tidak memisahkan kita dari kasih Allah tetapi dosa membuat manusia terlepas dari kasih Allah. Yesaya 59:2 menyatakan: “Tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu.” Saudara lihat bagaimana ada pemisahan antara Allah yang suci dengan kita yang berdosa. Dosa memisahkan kita dari kasih Allah. Tetapi saudara-saudara perhatikan sekarang kematian. Apakah kematian itu memisahkan kita dari kasih Allah? Roma 8:35,38-39. Saya akan bacakan. Sekarang, saudara dan saya bisa melihat sendiri, dosa itu lebih buruk dari kematian.
    2. Hal yang ke-2, kematian itu menakutkan. Kematian adalah raja teror. Tidak ada yang menyukai kematian. Semuanya takut akan kematian. Tetapi sekali lagi, kematian dihadirkan oleh dosa; dosalah yang membuat kematian itu ada. Tanpa dosa, tidak ada kematian.
    3. Hal yang ke-3, kematian itu adalah suatu pembunuhan. Kematian membunuh tubuh dan kesementaraan kita. Tetapi dosa membunuh jiwa dan menghadirkan kematian yang lebih buruk dari kematian pertama, yaitu kematian kekal manusia. Manusia mungkin membunuh kita tetapi Tuhan tidak mungkin membunuh manusia kecuali ada dosa di dalamnya. Maka dosa lebih mematikan dari pembunuhan itu sendiri.
    4. Terakhir yang ke-4, kematian itu suatu korupsi. Kematian membuat korupsi pada tubuh kita. Pada saat seseorang mati maka tubuh itu perlahan demi perlahan akan hancur menjadi debu dan tempat ulat itu bersarang. Tetapi dosa itu mengkorupsi kita lebih daripada kematian karena dosa itu mengkorupsi tubuh dan jiwa kita juga. Yoh 8:21, Yesus mengatakan kepada orang-orang Yahudi tentang suatu kesengsaraan besar. Saudara perhatikan baik-baik ayat ini. Yesus memberikan warning kepada orang-orang Yahudi tentang kesengsaraan yang besar. Dan kesengsaraan besar itu bukan kematian, tetapi kematian di dalam dosamu. Kamu akan mati dalam dosamu. “Ke tempat Aku pergi, tidak mungkin kamu datang.” Dosa lebih buruk dari kematian. Itulah sebabnya kenapa Sadrakh, Mesakh, dan Abednego lebih tidak takut mati daripada berdosa menyembah patung raja itu. Ralph Venning mencatat dalam sejarah; pernah seorang kudusnya Allah menyatakan: “Lebih baik aku mendengar kabar anakku mati daripada mendengar kabar anakku berdosa.” Jikalau saudara-saudara adalah ibu Sadrakh, Mesakh, Abednego; apakah kita tidak akan bersukacita dan berbangga kepada anak-anak kita yang berdiri teguh di dalam iman dan menolak untuk berbuat dosa lebih daripada kematian? Ini adalah orang-orang yang mengenal dosa itu. Tetapi mengenal dosa tidak bisa dengan memberikan dia pelajaran. Mengenal dosa satu-satunya adalah harus mengenal kesucian Allah. Dan Ralph Venning kemudian menyatakan demikian: “Saudara-saudara, mustahil untuk berbicara lebih buruk tentang dosa daripada yang sebenarnya. Tidak ada cukup kata-kata untuk menyatakan betapa kekejian dosa. Dan dari semua yang saya katakan ini bahwa dosa itu lebih buruk dari Setan, lebih buruk dari neraka. Kalimat-kalimat ini sendiri tidak akan mencercanya tetapi hanya mengatakan kebenaran sesungguhnya tentang dia, yaitu dosa itu. Dosa adalah inti kejahatan. Dosalah yang telah membuat semua kejahatan yang ada ini. Dan dosa itu sendiri lebih buruk daripada semua kejahatan yang telah dibuatnya. Ini sangat jahat. Tidak mungkin membuat dosa menjadi sesuatu yang baik atau indah. Kadang sebuah racun dapat diubah menjadi obat. Tetapi dosa adalah dosa dan tidak ada yang lain. Sifatnya tidak dapat diubah bahkan dengan pengampunan. Dosa bukan hanya buruk tapi inti keburukan. Tidak hanya kotor tapi sumber kekotoran. Tidak hanya keji tapi puncak kekejian. Tidak ada yang lebih buruk selain dosa itu sendiri. Dan dosa ada pada puncak keburukan yang tidak tertandingi.” Sekali lagi, ini adalah khotbah yang tidak mudah, bukan saja bagi saudara tapi juga bagi kami. Dan kita perlu minta belas kasihan Tuhan untuk Dia rela menyatakan diri-Nya sehingga kita bisa mengerti sesungguhnya apa itu dosa. Dan ketika Tuhan menyatakan kalimat-kalimat seperti ini di dalam Alkitab dan kita menemuinya; saya teringat akan satu kalimat: “Rendahkan dirimu di bawah tangan Allah yang kuat.” Marilah kita merendahkan diri kita dan minta terus kiranya Tuhan, Engkau membukakan kepadaku diri-Mu sehingga aku boleh mengerti dosaku dan aku boleh berdukacita rohani. Dan kita berharap suatu saat Tuhan membangkitkan kembali kerohanian kita. Dia yang merendahkan kita, Dia akan meninggikan kita pada waktunya. Mari kita berdoa.

Alamat

556 - 558 Botany Road, Alexandria, NSW, 2015
sekretariat@griisydney.org
0422690913
0430930175

Social Media

Facebook GRII Sydney Instagram GRII Sydney Twitter GRII Sydney


Google Play Store
App Store

^