[simple_crumbs root="Home" /]
kembali

20 June 2021

Pdt. Agus Marjanto, M.Th

Kedalaman Tidak Terduga Dari Dosa (3)

Lukas 23:34a

 

Kita terus memikirkan apa sesungguhnya dosa itu. Memikirkan mengenai kedalamannya yang tidak terduga. Memikirkan berkenaan dengan bobot dosa. Yesus sendiri yang menyatakan kepada kita, “Mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” Siapa yang tahu sesungguhnya bobot dosa, seperti apa kedalamannya? Ketika kita membaca Alkitab, ada sesuatu yang kita itu sulit untuk terima. Kenapa ya Hawa cuma makan buah itu dan Tuhan memusuhinya. Kenapa Hawa yang cuma makan buah dan Tuhan mengatakan: “Pergi! Aku tidak mau lihat lagi wajahmu.” Kenapa Hawa hanya memakan buah dan Tuhan menuntut darahnya, harus mati. Apa itu dosa? Ketika kami bible study, ketika kami membawakan Firman, banyak orang tanya, “Kenapa ya seperti begini saja diperkarakan seperti ini.” Ada satu bagian Firman Tuhan lagi yang saya sulit untuk mengerti. Pada waktu itu, tabut Allah dikembalikan dari Filistin ke Israel. Kemudian dinaikkan ke kereta dan ada seorang bernama Uza, seorang dari anak buah Daud, orang ini adalah orang yang baik dan setia. Kemudian kereta itu oleng, tabut itu mau jatuh. Lalu Uza melihat dan langsung lari memegang tabut itu untuk mendirikannya. Uza langsung lari, dia mau menghormati Tuhan. Tetapi apa yang terjadi? Tuhan menyambarnya dengan api. Apakah saudara bisa menjelaskan ini apa? Bukankah orang ini baik? Bukankah tulus hatinya? Tetapi kenapa dia disambar dengan api Tuhan? Apakah saudara pernah bertemu dengan anak saudara yang saudara kasihi? Begitu saudara pulang, ternyata dia memecahkan satu benda yang berharga, lalu saudara mengatakan, “Engkau pergi sekarang! Aku tidak mau melihat engkau, sekarang kita ke pengadilan dan aku akan memutuskan relasiku dengan engkau!” Bukankah itu yang dikerjakan oleh Allah kepada Adam dan Hawa? Hanya memakan buah itu. Itu seluruhnya fakta di dalam Alkitab. Satu masalahnya adalah kita tidak mengerti dari bobot dosa. Pengertian kita tentang dosa, seberapa kuat dan bobot dosa menyatakan seberapa dalam kita mengenal Allah dan kebenaran-kebenaran hakiki-Nya.

William Plumer, seorang pendeta di Amerika dari Presbyterian Amerika abad yang ke-19 mengatakan, “Katakan kepadaku apa yang engkau ketahui tentang dosa, maka aku akan mengatakan kepadamu apa yang engkau pikir tentang Allah, Kristus, Roh Kudus, dan kebenaran-kebenaran hakiki.” John Owen menyatakan barangsiapa yang memiliki pemikiran ringan, enteng tentang dosa, tidak akan pernah memiliki pikiran-pikiran besar, agung tentang Allah. Mengenal diri kita yang berdosa akan langsung berdampak kepada pengenalan kita akan Allah. Juga sebaliknya. Agustinus dan juga Calvin menyatakan hal itu, Apa yang kau inginkan? Aku menginginkan mengenal diri dan mengenal Allah. Dan kalau engkau diminta yang pertama, mengenal diri, mengenal Allah yang mana yang pertama? Dia mengatakan aku tidak tahu, pokoknya mengenal diri akan mengenal Allah, mengenal Allah akan mengenal diri.” Kalau saudara dan saya bisa mengenal dosa diri, maka ada pertumbuhan pengenalan akan Allah. Sebaliknya orang yang tidak mengenal Allah adalah orang yang tidak tahu diri, selalu memikirkan mengenai kesalahan-kesalahan orang lain tetapi tidak pernah mengerti bobot dari dosa diri.

Yesus Kristus mengatakan, “Bapa, ampunilah mereka karena mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” Maka kita sampai pada poin kelima.

Hal yang kelima, Apa yang kita itu tidak tahu? Kita tidak mengetahui jangkauan kuasa dosa yang merusak. Dosa membuat suatu kerusakan fatal dan besar, gradual, berkelanjutan kepada kita; kepada umat manusia. Beberapa waktu yang lalu kita terus berbicara berkenaan dengan relasi dosa dengan Allah. Dosa menentang Allah. Dosa dibenci oleh Tuhan. Tetapi seandainya kita bisa menyingkirkan sedikit saja poin itu, kita tentu tidak bisa menyingkirkan relasi kita dengan Allah dan Allah dan dosa. Tetapi secara sederhana seandainya kita tidak mau berbicara tentang Allah pun, dosa menghasilkan kefatalan, kerusakan yang fatal di dalam hidup manusia. Dosa bukan suatu pribadi, bukan suatu entity; tetapi dosa itu ada. Ini menjadi sesuatu yang misteri. Dosa bukan pribadi. Kalau saya memanggil misalnya,“Mul di sini”, maka ada orangnya. Kalau saya menunjuk tentang bangku, maka bangku itu ada memang. Malaikat ada, Tuhan ada, tua-tua di dalam surga itu ada; ada entity-nya, ada pribadinya. Saudara menunjuk dosa, itu tidak ada saudara. Dosa tidak ada pribadinya. Dosa bukan setan, dosa yang membuat malaikat menjadi setan. Dosa tidak ada pribadinya, dosa juga tidak ada entity-nya. Tetapi Alkitab dengan jelas menyatakan dosa itu suatu kuasa, sesuatu yang dinamis, sesuatu yang bergerak, sesuatu yang menguasai. Itulah sebabnya dalam Alkitab, Paulus mengatakan bahwa: Aku melakukan sesuatu yang aku tidak ingin aku lakukan. Yang aku lakukan ini, yang aku doakan adalah sesuatu yang baik, tetapi kenapa yang aku lakukan sesuatu yang aku sendiri contrary terhadapnya. Paulus sedang berbicara berkenaan dengan dosa yang mengikat dan menguasai dan mendorong dia. Meski dosa tidak ada entity-nya, tetapi Alkitab menggambarkan bahwa dosa memiliki kuasa yang mengikat, kuasa yang menjangkau, merusak dengan jangkauan yang luas dan dalam.

Mari sekarang kita pikirkan kuasa jangkauan dosa yang merusak ini:

  1. Sekali seseorang melakukan dosa, maka kita akan terdorong dari dalam, terangsang memiliki kecondongan untuk melakukannya lagi. Ketika saya bicara mengenai terangsang bukan bicara mengenai selalu seksual. Jadi tendency-nya dalam hidup kita; sekali kita melakukan dosa ini, kita akan mengulanginya. Ada sesuatu di dalam diri kita yang tadinya sebelum kita melakukannya tidak ada. Tetapi begitu kita melakukannya ada sesuatu yang mendorong kita melakukannya yang kedua, ketiga dan
  2. Sekali kita melakukan satu dosa tertentu maka orang tersebut akan masuk melakukan dosa-dosa yang lain, varian dosa. Yang pertama tadi adalah melakukan lagi secara berulang, yang kedua adalah melakukan dengan varian yang lain. Dosa yang satu akan mendorong kita melakukan dosa yang lain. Misalnya saja kalau saudara mencuri, tidak mungkin saudara tidak berbohong. Ini menjadi sesuatu paket yang makin lama makin membesar. Itulah sebabnya Alkitab mengatakan begitu engkau dan saya melakukan satu pelanggaran terhadap hukum tertentu, hukum yang lain juga akan terlanggar dengan sendirinya.
  3. Sekali seseorang melakukan dosa maka orang tersebut akan masuk, terikat di dalam dosa lebih dalam. Dosa itu akan terulang dan akan menjadi sesuatu behaviour di dalam hidup kita dan kita makin mengasihinya. Poin yang ketiga ini bicara berkenaan dengan kedalaman, mengenai kualitas, kedalaman keterikatan dosa di dalam diri seseorang. Itulah sebabnya semakin kita melakukan dosa, kita tidak akan berhenti di satu dosa itu saja. Dosa itu akan menjalar ke dosa yang lain dan kemudian poin yang ketiga ini adalah dosa itu akan masuk ke dalam jiwa kita makin dalam. Apakah saudara pernah melihat lumpur hisap? Di dalam film, seseorang yang masuk ke dalam lumpur itu dia tidak bisa menolong dirinya sendiri. Semakin dia bergerak, semakin dia akan turun ke bawah. Satu-satunya orang itu bisa selamat adalah kalau ada seseorang di luar yang menolong dia. Dia tidak bisa menolong dirinya sendiri. Kita tidak mungkin bisa lepas dari dosa indwelling sins dalam diri kita tanpa pertolongan satu pribadi dari luar kita. Makin hari makin terikat dalam. Itulah sebabnya dalam Roma 7 Paulus berteriak: “Celaka aku, aku manusia celaka, siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini?” Perhatikan satu kalimat ini! Apakah saudara pernah merasa putus asa?. Apakah saudara pernah merasa pesimis di dalam hidup di dunia ini?. Jikalau belum, kita belum tahu bobot dosa di dalam diri kita. Paulus itu putus asa, “celaka aku, aku manusia celaka, siapa yang bisa membebaskan aku?” Dosa bukan saja bertendensi kita akan ulangi, dosa yang satu akan membuat varian dosa yang lain. Dosa juga akan mengikat secara dalam.
  4. Sekali orang berdosa, maka dosa itu akan muncul keluar dari tempat tersembunyi menuju kepada publik dan akan menjalar ke orang-orang sekitar kita. Roma 5:12 mengatakan: Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang, dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa. Perhatikan poin keempat ini. Dosa akan menjalar kepada orang-orang di sekeliling kita dan akan keluar dari rumah kita, menjalar ke tetangga kita, ke lingkungan kita, komunitas kita dan akhirnya menuju kepada seluruh dunia. Jangan pernah excuse terhadap hal ini. Satu hal yang sangat-sangat sebenarnya menggelikan adalah kalau kita itu berpikir bahwa 'you jangan urus ini, ini urusan dalam rumah tangga.' Saya memang punya relasi yang tidak baik dengan anak saya atau dengan suami saya atau dengan apa, itu bukan urusanmu. Saya katakan kepada saudara, tidak ada yang bukan urusan kita karena dosamu akan menjalar keluar. Bagaimana kalau Adam dan Hawa mengatakan, “Hey itu bukan business-mu ya, ini urusanku, aku yang makan, aku yang berdosa sama Tuhan, tidak ada urusannya sama engkau.” Semua kita kena Pengaruh dosa tidak dapat dibendung. Seperti virus COVID ini. Derajat penularannya sangat cepat dan akan muncul varian baru yang tidak terduga dari dosa. Kita sangat-sangat takut dengan COVID ini. Kita menghindarkan COVID ini. Satu wabah yang menjangkiti seluruh umat manusia, kecepatan penularannya lebih daripada COVID, yaitu sin. Kuantitas dan kualitas penyebarannya menjangkau ke seluruh dunia. Sekali dosa ada, dia tidak bisa dibendung, dia akan meluas. Dari dalam keluar, dari satu orang menuju ke orang lain. Dari jenis yang satu menuju jenis yang lain. Hasilnya semua tatanan dunia ciptaan Allah akan berubah dan kengerian dan penderitaan mengikutinya.

Saya ambil contoh saudara-saudara. Saya tidak sedang mengingat seseorang, ini adalah suatu contoh yang mudah saja karena contoh untuk dosa itu paling mudah karena saudara sebutkan apa saja pasti ada realitanya di dunia, karena kita ada di dalamnya. Misalnya saja seseorang yang melakukan pornografi Dia hanya menonton video porno. Kemudian dia menonton lagi dan makin lama dia makin menonton, dia makin ketagihan. Apa yang kemudian terjadi? Maka dia tidak bisa disenangkan dengan hidup seks dengan istrinya. Dia akan mencari perempuan seperti yang ditontonnya itu. Dia masuk ke dalam perzinahan. Istrinya kemudian tahu. Ada istri yang kemudian tidak bisa puas dengan suami yang video porno itu. Ada istri yang kemudian juga menyeleweng dengan laki-laki lain atau ada istri yang tidak menyeleweng tetapi ketika mengetahui penyelewengan suaminya, dia menjadi sakit hati. Istri ini menjadi pahit, dan sejak detik kepahitan itu maka anak-anaknya puluhan tahun dibesarkan oleh mamanya seperti ini, penuh dengan kepahitan dan kemarahan. Ada anak yang menjadi tidak bisa melakukan apa-apa, seakan-akan disable. Ada anak-anak yang rebel, menjadi penjahat di masyarakat. Ada anak yang sulit untuk bisa punya satu perasaan yang sensitif terhadap cinta. Ada anak yang menjadi pemarah dan bertemu dengan temannya, beradu mulut dan dipukul dan dibunuh temannya. Saudara-saudara melihat satu dosa yang besar yang dilakukan oleh anak itu, saudara runut ke belakang dan saudara-saudara lihat apa penyebab pertamanya, yaitu pornografi. Jangan pernah kita berpikir kita bisa memagari dosa. Jangan pernah kita berpikir ini cuma urusan personal saya, you jangan masuk-masuk, you jangan ikut-ikut sama saya. Dosa cepat atau lambat akan muncul keluar dari hati kita muncul keluar dari rumah tangga kita, menyebar ke seluruh dunia.

Lihatlah apa yang menjatuhkan seluruh Kerajaan Israel. Hanya pornografi, Daud melihat secara tidak sengaja Batsyeba mandi. Dia lihat lagi, besoknya lihat lagi. Kemudian dia berzinah dengan Batsyeba dan harus membunuh suaminya, membohongi seluruh rakyat sampai Tuhan menyibakkannya. Seluruh musuhnya menggunakan kemunafikan, kejatuhan dari Daud ini untuk menghancurkan pekerjaan Tuhan. Setelah itu seluruh Israel pecah dan 'tidak ada lagi' Israel, harus dibuang. Dari apa? Dari pornografi, itu pun tidak sengaja. Daud bahkan tidak bisa membendung akibat dosa yang terus berjalan. Dia tidak bisa memagarinya. Spurgeon menyatakan dosa kita akan menyeret orang lain ke neraka. Sebaliknya, anugerah yang ada di dalam hati kita akan menolong, mengangkat orang itu menuju kepada Tuhan ke surga. Dosa tidak pernah akan mau berhenti, dia akan mengulanginya lagi, dia akan memperbanyak variannya, dia akan mengkaitkan kita lebih dalam lagi dan dia akan memunculkan bukan saja private menuju kepada publik. Dosa seperti wabah yang terus-menerus berjangkit menular. Saudara berikan satu ujung kelingking saudara maka seluruh tubuh dan seluruh keluarga kita, seluruh anak cucu kita akan habis oleh dosa.

Hal yang lain lagi tentang kefatalan jangkauan dosa yang tidak terduga. Mazmur 19:13 menyatakan siapakah yang dapat mengetahui kesesatan, bebaskan aku dari apa yang tidak kusadari. Perhatikan baik-baik, bukankah pemazmur ini merupakan sesuatu pengulangan kalimat yang diucapkan oleh Yesus Kristus, dia mengakui bahwa dia tidak mengetahui, tidak dapat mengetahui kesesatan. Maka kalau kita itu tidak bisa mengetahui kesesatan yang ada, yang kita lakukan sebenarnya apa yang terjadi? Dosa memiliki kuasa menggelapkan, mengeraskan, mematikan rasa hati nurani. Kata dalam bahasa inggris dengan tepat “numb”, mati rasa, hati nurani yang mati rasa. Dosa membuat hati kita makin mengeras, hati kita makin gelap. Bukan mengeras, tetapi makin mengeras. Progress-nya yang menakutkan. Kalau saudara dan saya bisa lihat terus, kemudian tiba-tiba tidak bisa lihat, kita sudah langsung tahu ada something. Tetapi kalau saudara dan saya perlahan secara gradual, maka ini menjadi sesuatu yang kita tidak sadari bahwa ternyata mata kita semakin lama semakin rusak. Itu yang menakutkan dari dosa, membuat makin gelap, membuat makin keras, membuat makin tidak sensitif. Kepekaan hati kita makin hilang, pertama-tama ketika anak Tuhan berdosa maka ada air mata, hati kita yang lembut terluka. Tetapi makin berada dalam dosa tersebut, makin keadaan kelembutan akan hilang. Afeksi yang lembut makin lama makin dinetralisir, sama seperti orang yang berpenyakit kusta, makin lama makin sarafnya tidak berfungsi. Ini sungguh-sungguh terjadi, saya pernah membaca satu buku bagaimana seorang kusta yang sarafnya sudah tidak berfungsi. Dia tidak sengaja memegang satu ketel air yang sebenarnya sangat panas, tetapi sarafnya sudah mati semua. Dia tidak rasa panas sampai dia menyadari kulitnya lengket, ditarik seluruhnya semua sudah terbakar, dan semuanya sudah lengket kepada ketelnya. Rasa sakit itu sendiri kita tidak suka, tetapi rasa sakit itu sebenarnya adalah anugerah. Rasa sakit itu membuat kita bisa menjagai diri, kalau kita sakit, apapun sakitnya, misalkan penyakit dalam atau penyakit cancer. Lalu waktu sakit langsung pergi ke dokter, oh ini masih stadium pertama. Tapi kalau kita tidak ada merasa sakit, begitu ke dokter, dokternya bilang ini sudah stadium ke-4, saudara bingung “nggak ada sakit”. Dosa membuat rasa sakit itu hilang perasaan sensitifitas kepekaan hati kita tidak ada lagi.

Saudara pernah melihat ada orang yang melakukan dosa yang besar misalnya tapi kok tidak ada takutnya ya. Kenapa? karena efek dosa yang menggelapkan ini. Jangan pernah berpikir bahwa kita lebih baik dari dia, kalau kuasa dosa tidak di-stop dari hidup kita, kita akan sama dengan dia. Jangkauan kerusakan karena dosa yang tidak terduga. Lihatlah jangkauan dosa ini, Alkitab menyatakan pekerjaan iblis adalah mencuri, membunuh dan membinasakan. Yesus tidak mengatakan bahwa iblis cuma mencuri, atau mencuri dan membunuh, tidak! Tapi mencuri, membunuh dan membinasakan. Ini adalah gambaran terhadap orang-orang yang kejam yang masuk ke dalam satu daerah dengan serta-merta, kemudian membantai orang-orangnya dan menggagahi perempuan-perempuannya dan membunuh setiap orang, siapapun saja dari besar sampai kecil termasuk anak-anak dan menjarah seluruh hartanya dan sebelum meninggalkannya, membakar daerah itu. Di dalam pikiran dia adalah satu, tidak boleh ada yang lolos satu pun dan suku itu tidak ada lagi. Ini adalah genocide, nihilisasi suku tersebut dan kalau bisa daerah itu tidak lagi bisa ditemukan oleh manusia siapapun. Ini adalah pekerjaan setan terhadap hidup kita mencuri, membunuh dan membinasakan. Ini adalah sesuatu gambaran usaha iblis yang tidak pernah akan puas. Iblis akan terus bergerak maju, dia tidak akan puas sampai kita mati, kita saja yang mati. Dia akan terus melampiaskan nafsunya meskipun lawannya sudah kalah dan mati, iblis tidak ingin sampai kita mati saja, tetapi dia menginginkan semua generasi di bawah kita mati, dia menginginkan dia bekerja sampai seluruh keberadaan keluarga kita dari generasi ke generasi mati adanya. Minggu yang lalu kita sudah bicara orang Puritan mengatakan bahwa dosa menentang keberadaan kita, keberadaan kita yang diciptakan oleh Allah. Dan ketika dosa menempel kepada kita, dia akan menghabiskan, mengosongkan keberadaan kita. Itulah sebabnya Alkitab mengatakan kepada orang kristen: Stand firm, bangkit orang Kristen! mari kita berperang minta kepada Allah Tritunggal kekuatan untuk berperang. Tetapi masalahnya adalah peperangan itu bukan di luar, peperangannya di dalam (indwelling sin), di dalam diri kita. Jangankan kita harus mati karena dosa. Orang-orang puritan selalu mengatakan : kalau dosa ada maka Allah harus mati atau Allah ada dan dosa mati.

Bobot dosa itu seperti apa? Ketika kita memikirkannya, apakah kita sungguh-sungguh mengalami, merasakannya? Orang puritan mengajarkan kepada kita biarlah kita memeditasikan Firman sampai kita memiliki ratapan terhadap dosa tetapi hal ini sesungguhnya sulit. Salah satu karunia air mata adalah minta air mata menyadari dosa. Alkitab mengatakan barang siapa berduka dia akan dihibur, siapa yang sesungguhnya mengerti bobot dosa kiranya Tuhan mengasihani kita. Sekali lagi masalah utama itu bukan orang lain saudara, masalah utama itu adalah bukan musuh kita, masalah utama itu adalah indwelling sins.

Bagaimana membereskan dosa sehingga keluasan jangkauannya dan kedalaman genggamannya itu bisa dihentikan. Biarlah kita mengingat dosa itu suatu kuasa, dan kuasa itu hanya bisa dilawan dengan kuasa yang lebih kuat. Dosa tidak bisa dibereskan dengan pendidikan, dosa tidak bisa dibereskan dengan mengirimkan anak saudara pergi ke luar. Berapa banyak dari kita berpikir tentang dosa anak kita, karena ingin berubah lalu disekolahkan yang lebih baik, atau dipindahkan sekolahnya atau dikirimkan ke Amerika supaya dia bisa mengerti hidup ini seperti apa atau dimasukkan ke boarding school. Survei menyatakan presentasi orang jahat dimasukkan ke dalam jail jauh lebih besar orang itu makin jahat waktu keluar dari jail daripada orang yang lebih baik. Tidak ada di dalam diri manusia dan produk dari budaya yang bisa mengekang dan mematikan dosa karena dosa adalah kuasa. Bahkan agama tidak bisa menghentikan dosa. Satu-satunya yang bisa menghentikan dosa haruslah kuasa yang lebih besar dari dosa. Suatu hari Yesus Kristus berbicara, kalimat ini adalah kalimat yang sama dengan Yohanes Pembaptis dan murid-murid Yesus Kristus, Dia berteriak, “Bertobatlah karena kerajaan Allah sudah dekat! Bertobatlah karena kerajaan Allah sudah datang!” Paulus mengatakan dalam 1 Korintus 4, sebab Kerajaan Allah bukan terdiri dari perkataan tetapi kuasa. Roma 14:17, perhatikan kata di belakangnya “oleh Roh Kudus.” Kerajaan Allah yang hadir di bumi inilah yang akan berperang menaklukkan dosa. Kuasa kerajaan Allah itulah yang akan menghancurkan dosa dan kerajaan Allah di dalamnya ada kuasa dan kuasa itu ada di mana? Pada pribadi Allah Tritunggal sendiri. Perhatikan kalimat di bawah ini: “Siapa yang dapat menghentikan dosa pada diri kita? Siapa yang dapat menghentikan jangkauan kuasa dosa yang mematikan dan menghancurkan ini ke seluruh dunia?” Pribadi Allah sendiri. Apa maksudnya? Dosa tidak bisa dihentikan dengan Allah melepaskan kuasa seperti saat Dia menyembuhkan orang yang sakti. Perkataan Yesus berkuasa sekali, “Jadilah sembuh,” maka orang itu sembuh. “Aku mau engkau melihat,” maka orang itu melihat. “Lazarus, keluar engkau dari tempat kuburan,” seluruhnya terjadi, bahkan alam pun mengikuti kalimat Dia. Tetapi dosa tidak bisa diredakan dengan kalimat Dia. Maka saudara mulai menyadarinya betapa bobot dosa ini, dosa tidak bisa dikalahkan dengan perkatan-Nya. Dosa dikalahkan dengan pribadi-Nya yang terpaku di atas kayu salib, pribadi-Nya. Dosa di dalam hidup kita dikalahkan dengan proses pengudusan oleh pribadi Roh Kudus sehingga pembenaran dan pengudusan. Pembenaran adalah pengudusan secara status dan pengudusan (sanctification) adalah dealing dengan polusi dosa, dua-duanya dikerjakan oleh oknum kedua dan oknum ketiga Allah Tritunggal. Betapa besar kuasa ini, kuasa dosa begitu besar, itulah sebabnya hanya bisa dikalahkan oleh sang penguasa langit dan bumi, pribadi-Nya bahkan bukan dari perkataan-Nya.

Hal yang lain. Dosa juga tidak bisa dibereskan dengan Allah memberikan segala sesuatu bahkan berkat yang paling bernilai dalam dunia ciptaan ini. Harta benda dunia ciptaan sekalipun semuanya digabungkan tidak bisa untuk menghentikan dosa. Kalau saya berhutang kepada seseorang anggap saja 5 juta, maka saya  bekerja mengumpulkan 5 juta, maka ini adalah hasil karya saya. Saya pergi ke tempat berhutang dan saya bereskan hutang saya, selesai. Tuhan menciptakan seluruh dunia, gabungkan seluruh kekayaannya, untuk membeli satu jiwa yang berdosa, tetap tidak bisa. Yesus Kristus mengatakan, “Apa gunanya seseorang mendapatkan seluruh isi dunia tetapi dia kehilangan jiwanya?” 'Untuk apa seseorang' berarti satu orang mendapatkan seluruh isi dunia tetapi dia kehilangan jiwanya. Kita harus mengerti kalimat ini artinya nilai satu jiwa berbobot lebih tinggi dari seluruh ciptaan Allah. Itulah sebabnya kalau Allah mengumpulkan seluruh kekayaan, untuk membereskan satu jiwa yang berdosa, tetap tidak bisa. Allah tidak bekerja, berkarya lalu menyodorkan karyanya untuk membebaskan kita dari dosa. Untuk membebaskan kita dari dosa, pribadi-Nya hadir untuk mati. Dosa adalah suatu hal yang sungguh-sungguh menakutkan. Celakanya adalah setelah mendengarkannya pun, setelah saya mengkhotbahkannya pun, kita melakukannya lagi. Harap kiranya Tuhan mengasihani kita. Kalimat William Plumer ini benar, “Setiap orang yang bijaksana akan mengatakan bahwa dia  memiliki alasan untuk menangis dengan ratapan ini: ‘Tunjukkan kepadaku dosaku ya Tuhan, tunjukkan kepadaku keadaanku yang terhilang ya Tuhan dan tunjukkan kepadaku cinta-Mu dan belas kasihan-Mu ya Tuhan, tunjukkan kepadaku luasnya dan kedalaman kekudusan dan perintah-perintah-Mu kepadaku, nyatakan Anak-Mu ke dalam hatiku terdalam dan sembuhkanlah dosaku, menyembuhkan polusi dosaku yang mengerikan ini dan keadaan keberdosaanku yang sangat menakutkan ini.’” Kiranya Tuhan mengasihani kita, kiranya Tuhan membukakan kepada kita semakin hari bobot dosa. Jikalau itu terjadi itu artinya kita bertumbuh mengenal Dia. Mari kita berdoa.

Alamat

556 - 558 Botany Road, Alexandria, NSW, 2015
sekretariat@griisydney.org
0422690913
0430930175

Social Media

Facebook GRII Sydney Instagram GRII Sydney Twitter GRII Sydney


Google Play Store
App Store

^