[simple_crumbs root="Home" /]
kembali

13 June 2021

Pdt. Agus Marjanto, M.Th

Kedalaman Tidak Terduga dari Dosa (2)

Lukas 23:34a

 

Kita melakukan dosa. Kita sudah jatuh di dalam dosa. Tetapi sesungguhnya kita tidak mengenali apa itu dosa. Yesus Kristus sendiri mengatakan: “Mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” Seperti yang mungkin kita pernah lihat dalam sebuah film, ada suatu benda di tangan kita, ada di rumah kita tetapi kita tidak tahu bahayanya. Sepanjang benda itu terus ada di dekat kita, kita mengalami kutuk. Benda itu harus dienyahkan dari hidup kita atau berkali-kali hal yang tidak baik terjadi di dalam hidup kita. Itulah dosa. Kita harus belajar mengenali bobot dosa. Kita sungguh-sungguh tidak bisa sambil lalu memberlakukan dosa ini. Apa yang terjadi dalam hidup kita, segala sesuatu yang buruk dikarenakan hal ini. Dosa, seberapa dalamnya? Kita tidak akan mengetahuinya kalau Roh Kudus tidak bekerja di dalam hidup kita. Sungguh-sungguh pada hari ini saya meminta Saudara terus menerus berdoa di dalam hati sambil mendengarkan apa yang Tuhan nyatakan kepada orang-orang yang dikasihi-Nya zaman lampau. Tuhan pula yang mengukirnya di dalam hidup kita, membuat kita mengenali sesungguhnya apa yang kita sudah lakukan terhadap Dia. Kita sungguh-sungguh meminta untuk memiliki takut akan Tuhan. Minggu yang lalu kita sudah berbicara mengenai 3 hal berkenaan: Manusia yang tidak menyadari tentang apa itu dosa. Sekarang kita akan masuk ke dalam poin yang ke-4. Yesus Kristus mengatakan: “Bapa ampunilah mereka karena mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” Apa sesungguhnya yang kita tidak tahu?

Hal yang keempat, Samuel Bolton menyatakan: “Kita tidak mengetahui kejahatan dosa.” Kita tidak mengetahui seberapa jahatnya dosa. Dosa adalah kejahatan yang lebih besar dari penderitaan. Dosa lebih mengerikan dari penderitaan. Di dalam orang-orang Puritan dan bahkan setelah itu, ketika suatu penderitaan terjadi, kita mengatakan: “Ada sesuatu evil yang terjadi dalam hidup kita.” Apa yang paling kita hindari di dalam hidup kita? Coba pikirkan! Apa yang paling Saudara hindari di dalam hidup? Apa yang Saudara terus menerus doakan untuk itu tidak terjadi? Bukankah itu adalah penderitaan, sakit penyakit, kehilangan harta, kehilangan pekerjaan, kehilangan orang yang kita kasihi? Kita meminta dihindarkan dari kecelakaan, bencana alam atau tertabrak atau apapun saja. Kalau penderitaan terjadi, bukankah itu sesuatu yang mengerikan? Bahkan kita tidak mampu untuk membayangkannya. Apakah Saudara pernah membayangkan bagaimana kalau anak Saudara mati? Bahkan membayangkannya pun kita tidak mau. Kalau itu terjadi, kita bisa gila. Kalau penderitaan terjadi dalam hidup kita, bukankah ada sesuatu yang buruk, yang jahat terjadi pada kita? Penderitaan adalah hasil dosa. Penderitaan sangat-sangat mengerikan. Tetapi dosa lebih mengerikan dari penderitaan itu sendiri. Perhatikanlah, dosa merupakan ibu dari penderitaan. Karena manusia berdosa maka penderitaan hadir di dalam dunia ini. Jikalau penderitaan sudah begitu mengerikan, betapa lebih mengerikannya dosa itu. Tetapi dosa, celakanya, seringkali hadir berhiaskan kenikmatan. Orang-orang Puritan mengatakan: “Itu persis seperti permen yang manis luarnya tetapi dalamnya racun.” Tetapi ketika penderitaan itu hadir, tidak ada penderitaan yang bersalutkan kemanisan. Itulah sebabnya kita berdoa untuk menghindarkan diri dari penderitaan tapi kita tidak pernah berdoa untuk menghindarkan diri dari dosa. Thomas Watson mengatakan: “Terdapat lebih banyak kejahatan di dalam dosa yang terkecil daripada kejahatan di dalam penderitaan terberat yang menimpa kita.” Samuel Bolton yang berkhotbah ini adalah seorang Puritan, seorang peserta Westminster Assembly. Kotbahnya berjudul Sin: The Greatest Evil. Dia membandingkan penderitaan dengan dosa. Dia membandingkan penderitaan (suffering), yang kita sebut evil dengan dosa. Mari kita sekarang melihat apa yang dia lihat dan kiranya kasihan Tuhan menyertai kita.

  1. Semua penderitaan, hal-hal yang buruk menimpa kita, seburuk dan sejahat apapun yang dikerjakan oleh setan, terhebat sekalipun seperti kasus Ayub hanya berdampak kepada kita secara luar. Semua penderitaan/suffering, mengenai tubuh jasmani kita. Kadang mengambil nama baik kita, menurunkan kita dari posisi kita di dunia ini, mengambil kenyamanan kita di dunia ini. Seluruhnya adalah bersifat di luar. Tetapi dosa berdampak kepada sesuatu yang ada di dalam, yaitu jiwa kita.
  2. Semua penderitaan/suffering, sifatnya sementara, akan berakhir dengan waktu; sampai suatu waktu tertentu. Kemiskinan, penyakit, keadaan dipermalukan, kehilangan; semua itu penderitaan yang sangat besar jikalau terjadi pada kita. Tetapi semua akan berakhir. Kadang orang bisa miskin saat ini dan tahun depan dia bisa menjadi orang yang punya uang. Tetapi kalau pun tidak, kematian akan menggulung/mengakhiri seluruh penderitaan kita. Tetapi kejahatan dosa sifatnya kekal, tidak akan berakhir. Jika ada di dalam hati manusia, maka itu akan terbawa sampai kepada kekekalan. Kekekalan sekali pun tidak akan mengakhiri kehadiran dosa. Tidak ada satu pun session di dalam kekekalan untuk menyudahi kejahatan dosa. Ini akan terus menerus diperhitungkan. Di Surga, kita, orang-orang pilihan akan menerima pengampunan karena Tuhan Yesus Kristus terhadap dosa kita. Tetapi tariklah Yesus Kristus maka kita tetap akan dimurkai oleh Allah karena dosa itu tetap ada di dalam jiwa kita sampai selama-lamanya. Tidak ada satu session pun di Surga yang membuat kita tidak ada dosa sama sekali. Sampai selama-lamanya, kita adalah manusia yang berdosa tetapi kita diampuni dan di-cover oleh darah Yesus Kristus, oleh pribadi Kristus.
  3. Semua penderitaan tidak membuat manusia menjadi target murka dan kebencian Tuhan. Seseorang mungkin sekali menderita tetapi tetap dikasihi dan mengasihi Tuhan. Seseorang mungkin ditimpa kemiskinan, posisinya sangat rendah tetapi Tuhan melihatnya sangat berharga. Kalau Saudara-saudara melihat di dalam kitab Wahyu, ada jemaat di Smirna, banyak orang sekitarnya mengatakan: “Orang ini adalah orang miskin, tidak punya apa-apa tetapi Tuhan mengatakan: ‘Tetapi engkau kaya.’” Di dunia ini ada orang-orang yang dibuang oleh masyarakat. Mereka menderita tetapi mereka tetap mendapatkan kasih sayang Tuhan. Seseorang mungkin masuk di dalam berbagai sengsara tetapi tetap bisa mencintai Tuhan bahkan mereka makin menderita, makin mengasihi Tuhan. Tetapi tidak ada orang yang makin berdosa, pada saat yang sama, makin mengasihi Tuhan. Tidak mungkin. Dosa adalah kejahatan bagi Tuhan, menjadikan kita target dari murka dan kebencian-Nya. Jika seseorang tidak memiliki kondisi yang baik dalam hidupnya dan orang tersebut mengalami banyak temptation dari setan tetapi Tuhan tetap bisa mengasihi orang itu seandainya dosa tidak hadir di sana. Sebaliknya jikalau orang tersebut hidup baik, tidak ada pergumulan, tidak ada kehadiran setan yang mencobai, tidak ada penderitaan, dia hidup senyaman-nyamannya di dunia ini tetapi dosa hadir, maka kita tidak berada di dalam kasih Allah. Kasih Allah bertentangan dengan jelas terhadap dosa yang hadir.
  4. Semua penderitaan hanya berkontradiksi dengan kenyamanan kita saat ini. Penderitaan dunia sejahat apapun tidak bisa merampok kebahagiaan masa depan kita. Tetapi dosa merampok kenyamanan kita selama-lamanya. Perhatikan satu kalimat di bawah ini! Ini adalah kalimat yang diucapkan oleh hampir seluruh mulut dari orang Puritan. Ketika saya mempersiapkan hal ini, saya kaget sekali. Samuel Bolton yang hampir saya tidak pernah membaca bukunya, baru kali ini saya baca, dia mengucapkan hal yang sama. Saudara akan menemukan kalimat yang sama di tempatnya John Owen, John Flavel, Samuel Rutherford. Saudara akan menemukan kalimat ini: ‘Kita tidak bisa bahagia jika kita tidak suci.’ Dosa sesungguhnya menantang keberadaan kita. Dosa menghabiskan, mengosongkan keberadaan kita. Keberadaan kita diciptakan oleh Allah, dari tidak ada menjadi ada. Dan akan dikosongkan oleh dosa. Ketika dosa ada, maka keberadaan kita pasti akan mati. Kita tidak bisa bahagia jika kita tidak suci. Mari kita pikirkan sebentar. Apakah engkau bahagia? Kita berpikir bahwa penderitaan yang membuat aku tidak bahagia. Tetapi kalau melihat di dalam Alkitab, ada orang-orang yang bersuka hati, bahagia di dalam penderitaan. Kita berpikir: “Aku tidak bahagia karena belum mendapat ini, belum mendapat itu, belum mendapatkan kasih sayang dari orang ini, belum mendapat perhatian dari itu, belum mendapatkan uang. Tetapi perhatikan satu prinsip ini. Kita ditakdirkan untuk mendapatkan kebahagiaan jika dan hanya jika kita berjalan bersama dengan Allah. Apa yang menjadi pengikat berjalan bersama dengan Allah? Kita menghargai esensi-Nya, yaitu holiness. Yang membuat kita tidak bahagia bukan orang jahat sama kita, atau satu benda yang Saudara-saudara belum dapatkan, atau satu posisi yang Saudara-saudara belum dapatkan. Kenapa kita selalu berpikir orang yang lain yang membuat kita tidak bahagia? Kenapa kita berpikir kalau aku dapat ini, pasti aku berbahagia? Perhatikan baik-baik! Orang Puritan mengatakan: “Kunci kebahagiaanmu adalah repentance.” Kunci kebahagiaanmu adalah pertobatan dan berjalan bersama dengan Tuhan lagi. Beberapa hari ini saya mendapatkan orang-orang yang sharing kesulitan mereka, bagaimana mereka sulit di dalam keluarga. Sering di dalam posisi seperti itu saya tidak bisa memberikan penghiburan dan mereka tidak memerlukan penghiburan dari saya. Penghiburan itu adalah dari Tuhan. Dari sharing itu saya cuma mau tahu satu hal, apakah mereka berjalan bersama dengan Tuhan. Kalau mereka berjalan dengan Tuhan, saya tidak perlu bicara apapun saja. Kemudian saya mengatakan kepada orang-orang tersebut, nikmati pergumulan ini bersama dengan Tuhan. Bahkan di dalam penderitaan sekalipun, nikmati berjalan bersama dengan Tuhan. Tongkat-Mu dan gada-Mu itulah yang menghibur aku. Kita tidak bisa bahagia jika kita tidak suci.
  5. Semua kejahatan karena penderitaan hanya merusak bagian tertentu seseorang saja. Kita hanya berjuang untuk aspek-aspek tertentu saja. Misalnya kalau kita sakit, bagian itu kita menderita tetapi kita mungkin masih punya nama baik. Sebaliknya, jikalau kita namanya sudah dicemarkan tetapi kita masih punya tubuh yang sehat. Ketika satu bagian particular itu terjadi, kita berjuang untuk membereskannya dalam aspek–aspek itu saja. Tetapi dosa, dosa berkontradiksi dengan kebaikan secara keseluruhan dari hidup kita. Bukan itu saja, dosa berusaha melawan Allah, Penguasa keseluruhan. Dosa memiliki kuasa untuk berdampak sejauh/seluas mungkin yang dia bisa dan berusaha untuk menghancurkan hal terdalam/essence dari Allah itu sendiri. Saya akan jelaskan poin ini. Kita berpikir bahwa dosa, kita lakukan secara private. Tidak ada dosa yang private. Karena dosa pada dirinya adalah kuasa yang akan berkuasa menembus seluruh lapisan tembok dan menuju kepada seluruh masyarakat seluruh dunia untuk dipengaruhi. Satu dosa terkecil yang kita sudah lakukan, kalau bukan providentia Allah, maka itu tidak akan terhenti pengaruhnya. Sama seperti menjatuhkan satu kartu pertama domino maka seluruh kartu di belakangnya pasti akan jatuh. Kita tidak bisa mengekang dosa di dalam kamar kita, sendirian. Cepat atau lambat kita akan memunculkannya keluar, bersentuhan dengan orang-orang sekeliling kita dan kemudian bersentuhan dengan tetangga dan masyarakat dan tempat kita bekerja dan gereja kita dan seluruh dunia. Setiap dosa tidak bisa dibendung, kecuali Tuhan dengan tangan-Nya berkuasa membendungnya. Dosa memiliki sesuatu ambisi untuk mempengaruhi seluruh dunia. Sekali kita melakukannya, kita tidak mungkin bisa menyetop. Sekali kita jatuh, kita tidak mungkin bisa lepas kecuali Tuhan melepaskannya. Saya menyadari sekali dan berdoa: “Tuhan sebelum jatuh di dalam dosa, maka saya berada di dalam kebebasan tetapi ketika saya melakukan dosa, saya tidak bisa keluar kecuali mujizat Tuhan.” Termasuk Saudara dan saya adalah orang-orang milik Kristus. Dosa lain dengan penderitaan. Saudara menderita, orang-orang di sebelah Saudara tidak ada yang menderita. Tapi sekali kita berdosa, dosa akan menjalar karena dosa adalah sesuatu kuasa. Dia akan berusaha untuk terus menerus mempengaruhi seluruhnya termasuk kepada Surga.
  6. Semua penderitaan adalah buatan Allah. Sejauh itu buatan Allah, bagaimana pun saja, ada kebaikannya. Mari kita membaca Amos 3:6, “Adakah sangkala ditiup di suatu kota, dan orang-orang tidak gemetar? Adakah terjadi malapetaka di suatu kota, dan TUHAN tidak melakukannya?” Kadang kita berpikir bahwa malapetaka itu dari setan. Tetapi Alkitab mengatakan, Tuhan bekerja di dalam malapetaka itu sendiri. Tetapi Tuhan tidak pernah bekerja di dalam dosa. Tuhan akan memakai dosa, tentu karena Dia Mahakuasa untuk mendatangkan suatu kebaikan di dalam pertobatan, karena Allah Mahakuasa dalam hal itu. Tetapi sejak awalnya Tuhan tidak pernah masuk di dalam urusan dosa. Tidak ada satu tangan Tuhan yang aktif, membuat kita berdosa. Allah sendiri tidak menciptakan dosa. Hati-hati dengan konsep kedaulatan Allah. Dosa ada di bawah kedaulatan Allah, itu benar. Karena banyak orang Reformed salah mengerti. Allah berdaulat. Tidak ada yang mengejutkan-Nya. Dosa tetap ada dalam kedaulatan Allah. Tetapi tidak pernah Allah menciptakan dosa. Sebaliknya semua penderitaan adalah tangan Tuhan yang aktif. Karena itu buatan Allah, bagaimana pun saja ada baiknya. Semua penderitaan atau malapetaka adalah penal punishment bukan sinful evil. Penal punishment adalah hukuman yang dijatuhkan karena kita melanggar hukum. Penderitaan adalah hukuman terhadap dosa. Tetapi penderitaan itu sendiri bukan suatu dosa pada dirinya sendiri. Tetapi setan secara keberadaan adalah dosa itu sendiri. Dialah keseluruhan dosa. Tetapi yang kita paling tidak mengerti adalah dosalah yang membuat malaikat menjadi setan. Nanti saya akan jelaskan di sana.
  7. Semua penderitaan seringkali dipakai oleh Tuhan sebagai obat yang baik untuk menyembuhkan dosa, melepaskan seseorang dari dosa yang mengikat, atau mencegah seseorang berdosa, atau membatasi dosa makin berlanjut. Di dalam 1 Korintus 11:32 terlihat jelas prinsip ini. 1 Korintus 11:32. “Tetapi kalau kita menerima hukuman dari Tuhan, kita dididik, supaya kita tidak akan dihukum bersama-sama dengan dunia.” Tuhan sering mendidik anak-anak-Nya untuk lepas dari dosa dengan menggunakan penderitaan. Untuk apa? Agar di masa depan kita tidak ikut dihukum dengan dunia ini, tidak dimurkai pada akhirnya. Ingat bahwa tidak ada orang pezinah, penipu, pembohong, pencuri yang masuk di dalam Kerajaan Allah. Tidak ada orang yang najis yang masuk ke dalam Kerajaan Allah. Kita sering berpikir kalimat ‘Aku di dalam Kristus’ maka meskipun aku melakukan penipuan, tetapi aku akan masuk ke dalam Kerajaan Allah karena aku di dalam Kristus. Orang Puritan akan berdebat dengan kita tentang hal ini. Tetapi intinya adalah bagaimana pun justification harus diikuti oleh sanctification. Allah di dalam hidup kita akan menyetop dosa saat ini ketika kita masih hidup dan Dia sering kali menggunakan hajaran-Nya (penderitaan) untuk kita lepas dari ikatan dosa. Sekali lagi, poin ini menyatakan penderitaan sering sekali dipakai oleh Tuhan untuk menjadi pengobat atau penyetop atau membatasi dosa. Paulus sendiri mengatakan, ada utusan setan yang menggocoh dia, itu adalah penderitaan yang dia dapatkan. Apa tujuan dari penderitaan itu? Paulus sendiri mengatakan supaya dia tidak tinggi hati. Pada pagi hari ini, sekali lagi kita terus memikirkan betapa kejahatan dosa yang melebihi daripada penderitaan. Dosa adalah kejahatan yang terbesar.
  8. Samuel Bolton menuliskan, ‘Dosa adalah kejahatan yang terbesar.’ Karena apa? Karena yang melawan dan yang menentang kebaikan terbesar pastilah kejahatan terbesar. Dosa menantang dan berperang, melawan Sang Pribadi yang terbesar kebaikannya yaitu Allah itu sendiri. Sekali lagi, yang melawan dan menentang kebaikan yang terbesar pastilah kejahatan yang terbesar. Seorang bapak gereja menyebutkan dosa sebagai pembantaian Allah. Suatu serangan terhadap keberadaan dan esensi Allah itu sendiri. Dosa sangat jahat, karena menyerang Allah yang sangat baik. Pernahkah Saudara-saudara melihat ada seseorang misalnya A lalu dia jahat kepada B. Kalau melihat keadaan seperti ini pasti dalam diri Saudara ada suatu respon. Kalau B itu sendiri adalah orang jahat, apa yang ada di dalam hati Saudara? Secara spontan, syukurin. Baru tahu kan rasanya dijahati, B, kamu soalnya jahat. Tapi kalau A menyerang B dan B itu orang biasa saja, kita akan tanya kenapa A jahat sama B? Tetapi kalau A menyerang B dan B adalah orang yang baik sekali, maka Saudara akan lihat, A jahat. Kita tidak lagi mempertanyakan. Tetapi kalau A menyerang B dan B sangat, sangat baik, semua orang tahu kemurahan hatinya dan kebaikannya. Begitu tahu case ini, Saudara akan langsung melawan A. Saudara akan tidak sabar terhadap A. Saudara tidak bisa terima perlakuan A. Karena B begitu baik, begitu berjasa. Kenapa kamu jahat kepada dia?

Apakah kita menyadari bahwa segala sesuatu yang baik dalam diri kita adalah dari Allah? Apa kurangnya Allah dalam hidup kita? Dia yang memberikan kita hidup. Dia yang memberikan kita, orang-orang yang kita kasihi. Dia memberikan kepada kita makanan. Dia memberikan kepada kita seluruh potensi untuk bertumbuh. Dia memberikan kepada kita kasih sayang orang-orang di sekitar kita. Dan belum cukup, kepada gereja Tuhan, Dia memberikan penebusan kepada kita. Dia memberikan segala sesuatu dan Dia paling puncak memberikan anak-Nya yang tunggal untuk mati bagi kita dan kita tetap berdosa kepada Dia. Bukankah kita pendosa dari seluruh pendosa di dunia ini? Jangan pernah berpikir orang di luar sana lebih berdosa daripada kita. Saya tidak tahu harus bagaimana berespon, saya takut. Sungguh! Bahkan di antara Saudara, saya yang paling berdosa karena saya yang paling mengerti. Lebih dari itu, ukuran dosa kejahatan (bobot dosa) itu sebanding dengan kebaikan Tuhan karena yang melawan dan menentang kebaikan terbesar pastilah kejahatan terbesar. Maka secara memadai dan proposional, kejahatan dosa menjadi tidak terhingga karena Allah yang baik itu adalah Allah yang tidak terhingga kebaikan-Nya. Itulah sebabnya sesungguhnya dosa terlalu sulit untuk diampuni. Dosa terlalu sulit untuk diampuni oleh Allah. Dosa terlalu sulit untuk ditaklukkan-Nya. Adalah lebih banyak kejahatan pada dosa terkecil daripada seluruh kebaikan dunia malaikat di surga. Itulah sebabnya dosa menaklukkan mereka, membuang semua kebaikan malaikat dan membuat mereka menjadi setan. Hal ini tidak akan terjadi jika kebaikan yang ada pada diri malaikat lebih besar daripada kejahatan dosa. Malaikat, seberapa baiknya, tidak diperhitungkan sama sekali kebaikannya karena dosa. Saudara bisa melihat kejahatan dosa begitu dalam, lebih dari seluruh kebaikan malaikat itu. Jangan berpikir dan menonjolkan kebaikan kita untuk menutupi dosa kita. Karena dosa kita jauh lebih jahat daripada kebaikan kita yang paling unggul sekali pun. Sekarang mari kita melihat pergumulan, pertarungan dosa terhadap Tuhan. Samuel Bolton menyatakan, meskipun dosa tidak mampu menaklukkan Tuhan, dosa tidak mampu mengalahkan Tuhan karena lebih banyak kebaikan di dalam Tuhan daripada kejahatan di 10.000 neraka dosa. Sehingga dosa tidak dapat mengalahkan kuasa Tuhan, dosa tidak bisa mengalahkan belas kasihan Tuhan, dosa tidak bisa mengalahkan kekudusan Tuhan, tetapi dosa tetap berusaha berperang, melawan Tuhan dan membuat perdebatan menyerang kepada Dia setiap hari. Dosa mengumpulkan semua kekuatannya untuk melawan Tuhan dan menjadi pertempuran di lapangan terbuka untuk menantang Dia setiap hari. Ketika dosa terpukul kalah, oleh kekuatan Allah dan hukum-hukum Allah sehingga dia terlempar keluar dari lapangan tersebut, maka ia membangun bentengnya yang kuat dan dari benteng itu dosa berperang, melawan dan menentang Tuhan. Benteng dosa, Saudara masih mengingat?

Di dalam 2 Korintus, Paulus menyatakan, aku ketika melayani diperlengkapi dengan kuasa Allah yang sanggup meruntuhkan benteng-benteng itu, yang sanggup merubuhkan setiap kubu itu. Dari benteng itu, nafsu bangkit melawan Tuhan; kehendak hadir bertentangan dengan Tuhan; dan hati bangkit memberontak kepada Tuhan. Sekarang perhatikan baik-baik kalimatnya. Dari benteng itu, nafsu bangkit melawan Tuhan. Kehendak hadir bertentangan dengan Tuhan. Hati bangkit memberontak kepada Tuhan. Ketika dosa dipukul keluar dari lapangan, tidak berarti dosa dihancurkan di bentengnya. Kadang kita bisa menyadari praktek dosa tertentu, kita bisa atasi. Kadang kita “berhasil menaklukkan dosa tertentu”. Tetapi hati kita ternyata masih bisa berpaut mengasihi dosa tersebut. Itulah yang sulit untuk ditaklukkan. Pertentangan yang sesungguhnya adalah pertentangan antara Tuhan dan hati kita yang mencintai dosa. Ini adalah sesuatu yang sulit, bahkan bagi Tuhan sekalipun untuk menaklukkan dosa kita, karena kita sendiri mencintai dosa kita. Banyak pertempuran-pertempuran yang akan terjadi. Banyak serangan yang akan terjadi sebelum dosa bisa ditaklukkan di dalam benteng hati kita. Kadang tampaknya dosa dapat diatasi dan tidak berdaya lagi, namun setelah itu dia tiba-tiba menggalang kekuatannya dan akan membuat serangan baru yang mendadak, yang segar terhadap kita untuk melemahkan dan melukai kita. Oh, sungguh inilah letak keganasan daripada sifat dosa. Dosa adalah sesuatu yang beracun dan berbisa dan tidak pernah mau kalah sampai detik terakhir sebelum dia mati. Meskipun Tuhan telah menaklukkannya, meskipun dosa sudah sangat lemah namun ia tetap bertindak dan tidak mau mati sampai dia bisa meludahkan racunnya meski pada saat terlemah sekali pun. Kita memiliki gambaran yang jelas di atas Kalvari. Lihatlah perampok yang tidak bertobat itu, meskipun tangan dan kakinya terikat dan terpaku, dia sudah tidak berdaya. Tetapi dengan kekuatannya yang paling kecil, di saat yang paling lemah, dia masih meludahkan racunnya di saat-saat terakhir untuk mencela Kristus. Beberapa anggota tubuhnya terikat, namun satu anggota tubuhnya terlepas dan dia menggunakan kesempatan itu melepaskan bisanya. Saya ketika membayangkan apa yang ditulis Samuel Bolton ini, persis seperti seekor ular yang hampir mati, kita pikir sudah hampir mati, kita sudah pikir tidak ada lagi harapan, dan kita sedikit lengah karena pikir kemenangan ada di tempat kita, dengan kekuatannya yang paling akhir, dia langsung menggigit kita dan kemudian dia mati. Dia tidak pernah mau menyerah sampai titik terakhir. Kita menyadari bagaimana kita bisa lepas dari dosa. Kita mau meninggalkannya, kita bisa meninggalkannya, tetapi masih ada satu keingingan terhadap dia, kemudian kita bisa relapse. Jadi meskipun Tuhan telah menyalibkan dosa, namun selama ada kehidupan, sekecil apa pun di dalam dosa itu. Dosa akan bertindak sendiri dan memuntahkan racun terhadap Tuhan. Lihatlah perbedaan besar antara Allah dan dosa. Kontradiksi ini. Perlawanan terhadap kebaikan yang terbesar menunjukkan dosa adalah kejahatan tebesar. Kita sudah melakukan suatu kejahatan yaitu dosa, yang mana seluruh harta karun kebenaran di surga dan di bumi tidak akan sanggup melepaskan dan menolong kita. Dosa adalah kejahatan terbesar. Maka lihatlah ketidakmungkinan segala sesuatu di atas dan di bawah langit untuk melepaskan dan menolong kita dari keberdosaan kita yang berdosa ini. Di manakah para filsuf? Di manakah seluruh agama? Di manakah seluruh perbuatan baik manusia? Sebaik apa pun, Tuhan mengatakan itu adalah kain kotor di hadapan-Ku. Siapa yang bisa melepaskan kita dari segala hal ini? Untuk bisa lepas daripada hal ini? Malaikat tidak bisa melepaskannya. Tua-tua di surga tidak bisa melepaskannya. Malaikat yang terhebat, Arch Angel, tidak bisa melepaskannya. Karena dosa, dosa begitu dalam! Allah sendiri harus berkorban untuk menyelesaikannya! Dia harus mati di atas kayu salib. Dia harus hadir. Roh Kudus baru membuat kita suci. Hanya Yesus Kristus, Anak-Nya yang membebaskan kita dari kejahatan terbesar ini. Kiranya Tuhan mengasihani pendosa besar seperti kita. Mari kita tundukkan kepala.

Alamat

556 - 558 Botany Road, Alexandria, NSW, 2015
sekretariat@griisydney.org
0422690913
0430930175

Social Media

Facebook GRII Sydney Instagram GRII Sydney Twitter GRII Sydney


Google Play Store
App Store

^