[simple_crumbs root="Home" /]
kembali

30 May 2021

Pdt. Agus Marjanto, M.Th

Kedalaman Tidak Terduga Dari Dosa (1)

Lukas 23:34a

 

Kalau Tuhan pimpin maka mungkin di dalam 2 – 3 minggu ini saya akan membawa saudara-saudara bersama dengan saya untuk bergumul dengan dosa. Meminta Tuhan membukakan kepada kita bobot dosa itu apa. Dan saya menemukan kotbah-kotbah yang baik berkenaan dengan dosa dan pada pagi hari ini dan minggu depan mungkin, maka seluruh dari kotbah ini didasarkan dari kotbah Charles Spurgeon dan Charles Spurgeon memberikan satu kotbah berjudul “Kedalaman tidak terduga dari dosa.” Saya sendiri sadar bahwa saya tidak sanggup dan saya tidak layak untuk mengkotbahkan ini dan ini yang saya lakukan. Saya mengambil kotbah orang Puritan dan Charles Spurgeon ini untuk berharap Tuhan juga menyatakan kotbah itu kepada saya. Karena dosa adalah salah satu hal yang paling kita tidak sadari. Kita tidak mengerti bobot dosa itu sendiri. Kita harus mempelajari Firman tetapi Firman ini tertutup bagi kita. Tetapi dosa itu sendiri adalah satu topik yang sangat penting bukan saja di dalam Alkitab tetapi dari mata Allah. Allah sendiri dealing dengan dosa sehingga Dia mengirimkan Anak-Nya yang tunggal mati bagi kita. Mari sekarang kita memikirkan apa yang Yesus ucapkan di atas kayu salib sebagai doa pertama dari 7 doa di atas kayu salib ini. Yesus berseru: "Bapa ampunilah mereka, karena mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.”

Pertama-tama mari kita memikirkan kalimat ini secara konteksnya. Sebelum kita masuk ke dalam inti apa yang Yesus itu maksudkan. Beberapa hal ini mari kita perhatikan:

  1. Mungkin kita berpikir bahwa kalimat ini ditujukkan kepada orang-orang yang memakukan Yesus Kristus kepada orang Israel yang menolak kepada Yesus Kristus saja. Ya, tentu saja bahwa kalimat ini adalah untuk mereka, benar. Tetapi kalimat ini adalah benar juga untuk semua umat manusia termasuk kita. Saudara-saudara, perhatikan satu kalimat penting ini. Kapanpun saja kita berbuat dosa sesungguhnya kita tidak tahu apa yang kita perbuat. Sekali lagi setiap kali kita berbuat dosa, sesungguhnya kita tidak tahu apa yang kita perbuat. Saya akan jelaskan nanti.
  2. Kalimat Kristus ini tidak sedang berbicara tentang keadaan seseorang yang tidak tahu benar salah, atau keadaan seseorang yang hati nuraninya itu diam. Saudara-saudara, Yesus mengatakan: “Bapa ampunilah mereka, karena mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” Lalu kita pikir, oh orang itu tidak tahu yang diperbuatnya bukan Tuhan Yesus? Berarti orang itu tidak tahu benar dan salah bukan? Bukan, maksud Yesus Kristus bukan seperti itu. Oh, hal yang lain adalah orang itu mungkin hati nuraninya sudah mati, biasa kalau orang pertama-tama tahu benar salah pada waktu kecil, dikasih tahu sama papa mamanya, maka benar salah itu kemudian menjadi sesuatu aturan dalam hidupnya untuk menentukan benar salah, tetapi suatu saat dia meskipun tahu salah, dia lakukan terus, maka apa yang akan terjadi? Hati nuraninya itu mati. Ah itu kan maksud Kamu Yesus? Tidak! Saudara-saudara, kalimat ini tidak berbicara kepada orang yang tidak tahu benar dan salah atau orang yang hati nuraninya mati.
  3. Kalimat ini juga tidak berarti bahwa jika kita melakukan yang kita tidak ketahui itu membebaskan kita dari kesalahan. Yesus, Engkau kan mengatakan Bapa ampunilah mereka, karena mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat. Berarti mereka tidak tahu, tidak mengerti apa yang mereka perbuat, berarti bebas dari kesalahan bukan? Jawabannya adalah tidak! Tahu atau tidak tahu, kalau seseorang itu berbuat sesuatu yang berdosa, tetap berdosa di hadapan Allah. Kalimat Yesus pertama sendiri mengatakan hal itu. Bapa, ampunilah mereka, berarti berarti mereka perlu pengampunan, berarti mereka bersalah. Sebenarnya kalimat Yesus ini adalah suatu kalimat yang luar biasa indah dan megah. Karena kalimat Yesus ini menyatakan Yesus menyatakan keberdosaan sekaligus Yesus menyatakan pengampunan. Bapa ampunilah mereka, itu artinya mereka berdosa, dan sekaligus Yesus ampuni.
  4. Kita selalu bepikir apakah ketidaktahuan itu dasar pengampunan? Apakah ketidaktahuan itu dasar pengampunan? Bukankah kalimatnya “Bapa ampunilah mereka, karena mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” Lalu kemudian kita mengatakan oh kalau begitu, Bapa di sorga itu mengampuni seseorang berdasarkan orang itu tidak tahu kalau dia berbuat salah. Oh Tuhan aku tidak tahu kalau itu salah. Lalu kemudian Tuhan mengatakan, iya iya ok, karena kamu tidak tahu, aku ampuni kamu, aku bebaskan kamu. Apakah seperti itu? Jawabannya adalah tidak. Setiap pengampunan dasarnya bukan karena kita tidak tahu, tetapi setiap pengampunan dasarnya adalah pekerjaan Yesus Kristus di atas kayu salib.
  5. Apakah sungguh orang itu tidak tahu apa yang diperbuat dengan dosanya? Setiap kali kita berbuat dosa, bukankah kita sadar dan kita tahu perbuatan itu? Kita berzinah, kita malas, kita menyeleweng, kita berdusta, kita mencuri, kita membunuh, kita memiliki ilah, hati kita terkait dengan uang, kita iri hati, bukankah kita tahu seluruhnya ini? Bahkan kalau kita itu diminta untuk mengaku, kita bahkan bisa untuk menulisnya, itu adalah sesuatu yang jelas. Tanpa kesulitan, tanpa perlu self-introspection, kita tahu kok dosa kita. Jadi apanya yang kita tidak tahu? Kalimat Yesus ini sebenarnya adalah sesuatu hal yang misteri dan menakutkan. Di atas salib itu Dia berkata kepada-Nya: “Bapa ampunilah mereka, karena mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” Ketika saya membaca kalimat-kalimat Charles Spurgeon dan Firman ini, maka saya takut dan saya berteriak kepada Tuhan dan saya sungguh-sungguh minta Tuhan itu menolong untuk kerohanian saya bukan kerohanian yang palsu.

Saudara-saudara, karena kalau orang itu tidak dibukakan sama Tuhan meskipun dia dengar kotbah seperti ini bahkan lebih dalam lagi dan lebih luas lagi, dia tetap tidak tahu. Tetapi kalau Tuhan memberi anugerah kepada orang-orang yang akan dihindarkan dari neraka, orang itu akan mendapatkan anugerah pengertian apa yang sebenarnya dia tidak tahu. Ini adalah sesuatu paradoks dan di dalamnya ada misteri yang menakutkan. Dan saya harap kiranya Roh Kudus memakai kotbah-kotbah orang-orang yang luar biasa pada jaman lalu untuk berbicara kepada saya dan juga berbicara kepada kita. Untuk Roh Kudus membukakan apa yang sesungguhnya realita dosa dan kedalaman yang tidak terukur ini. “Bapa ampunilah mereka, karena mereka tidak tahu apa yang mereka itu perbuat.” Apa yang tidak tahu? Pada pagi hari ini kita akan berbicara mengenai 3 hal, apa yang Charles Spurgeon itu nyatakan kepada kita:

Yang pertama adalah manusia yang berdosa sesungguhnya tidak mengetahui kepenuhan dari kenyataan sesungguhnya natur dosa. Sekali lagi, manusia yang berdosa, saudara dan saya ketika kita melakukan dosa, apapun itu saja dosanya, saudara bayangkan dosa kita terakhir yang kita lakukan, apapun saja ketika kita berdosa sesungguhnya kita tidak mengetahui secara penuh dari kenyataan sesungguhnya natur dosa itu apa. Dosa itu tindakan apa? Dosa itu perbuatan apa? Jawabannya adalah memprovokasi kemarahan Allah. Memprovokasi kemarahan Allah. Kalimat ini kalimat yang sudah hilang dari mimbar. Tetapi kalimat ini kalau saudara membaca buku-buku Puritan, paling mudah saudara dapatkan. Dosa itu adalah memprovokasi kemarahan Allah. Apakah kita pernah mendekat kepada singa yang sedang tidur dan kemudian kita memukul-mukul dia dengan keras? Dan jikalau kita melihat ada seorang anak, apalagi kalau anak kita melakukan hal itu, datang mendekat kepada singa yang sedang tertidur dan kemudian dipukul singa itu dengan sepatunya, dia ambil batu dan melemparkannya ke singa itu, jikalau itu adalah anak kita, apa yang saudara dan saya akan lakukan? Kita akan langsung lari mengambil anak itu, dan berusaha untuk menyelamatkannya sebelum singa itu bertindak dan seandainya kita bisa selamat dari terkamannya, kita akan menghadapkan anak itu di depan mata kita dan kita akan mengatakan, “Kamu bodoh, kamu tidak tahu apa yang kamu lakukan! Kamu mencari masalah dengan hidupmu! Hidupmu yang semuanya baik ini kamu cari mati sendiri! Kamu tidak tahu singa itu siapa dan apa yang dapat dilakukan kepadamu! Kamu tidak tahu apa yang kamu lakukan!” Itulah dosa. Memprovokasi Allah. Allah yang baik yang memberikan berkat-Nya kepada kita dan tanpa alasan kita memprovokasi kemarahan.

Jika kita berdosa, apalagi kita berdosa dengan sengaja, kita memprovokasi kemarahan Tuhan, kita menghina Dia, kita mengejek dia, sesungguhnya ketika kita berdosa, kita menyatakan Tuhan, engkau itu bodoh. Engkau itu bodoh. Engkau mengatakan bahwa hukum-hukum-Mu itu yang terbaik, tetapi tidak, hukum-hukum-Mu tidak bisa membawa kebahagiaan bagiku dan bagi umat manusia ini. Saudara lihat bagaimana seluruh umat manusia tidak mempercayai hukum-hukum Allah. Bukankah semua umat manusia mencari kebahagiaan dan seluruh usaha dibuat untuk mendapatkan kebahagiaan dalam diriku kecuali satu yaitu menaati Allah. Menaati hukum-hukum-Nya, aku tidak mempercayai Engkau, Engkau mengatakan bahwa hukum-hukum-Mu itu terbaik bagiku, tidak! Hukum-hukum-Mu tidak bisa membawa kebahagiaan bagiku. Engkau bodoh. Ketika kita berdosa, kita menyatakan Tuhan, Engkau itu pembohong, karena Tuhan mengatakan dosa adalah sesuatu yang jahat dan pahit. Tetapi tidak Tuhan. Dosa itu sesuatu yang nikmat, sesuatu yang manis, aku mencicipinya dan ada kesukaan dalam diriku. Setiap kali kita berdosa, kita menganggap Allah itu penjajah, tiran. Dialah yang membuat kita tidak bebas. Mengontrol dengan keras kehidupan kita dengan aturan-aturan yang ketat dan Dia tidak suka dengan kenyamanan hidup kita. Saudara-saudara, apakah ini masalah yang sepele? Yang menyatakan bahwa Allah yang bijak itu adalah pribadi yang bodoh; menyatakan bahwa Allah yang benar adalah seorang pendusta; dan Allah yang berkasih karunia adalah seorang penjajah. Setiap kali kita berdosa demikian kata Charles Spurgeon: Sebenarnya dengan tangan kita, kita mengambil mahkota di atas kepala Allah dan membuangnya; kita menolak Dia menjadi Raja kita. Bahasa verbal dari dosa adalah Engkau harus turun. Kita berusaha untuk menyingkirkan Allah dalam hidup kita. Tujuan hidup kita adalah menurunkan Dia di bawah kaki kita. Dan sebisa mungkin kita mengeluarkan Dia dari hidup kita. Kita mengusir-Nya dari dunia ini dan dari seluruh alam semesta ini. Charles Spurgeon menyatakan, Kita sesungguhnya menggali kuburan kita sendiri. Kita sesungguhnya mencari masalah untuk kita itu mati dengan sia-sia sendiri. Kita sungguh tidak tahu apa yang kita perbuat. Kita sungguh tidak tahu apa yang kita perbuat. Saudara-saudara, khotbah ini berat untuk saya. Karena setiap kalimatnya adalah kalimat yang mengena kepada saya. Saya tidak memiliki kemampuan atau kelayakan untuk berkhotbah Lukas 23:34 ini. Itulah sebabnya saya menuju kepada Charles Spurgeon dan beberapa orang Puritan dan berharap merekalah yang berkhotbah bagi saya. Dan harap kiranya Tuhan berkasih karunia kepada saya dan kepada kita semua.

Hal yang kedua, kita tidak tahu betapa bencinya Tuhan terhadap dosa. Betapa bencinya Tuhan terhadap dosa. Alkitab berulang kali menyatakan Allah benci; Allah murka terhadap dosa. Tidak ada orang hidup yang tahu seberapa dalamnya Tuhan benci terhadap dosa. Tetapi Allah yang suci itu benci; sungguh-sungguh benci terhadap dosa. Kalau saudara-saudara membaca buku orang-orang Puritan atau dari Charles Spurgeon, saudara akan lihat hate, hate, hate muncul berkali-kali. Perhatikan apa yang ditulis oleh Spurgeon: Di mana pun dosa berada, di sanalah Tuhan berada untuk menghadapinya dengan kebencian. Di sanalah Tuhan berada untuk menghadapinya dengan kemarahan dan murka. Dia tidak bisa menahan hatinya sendiri. Mata-Nya tidak bisa menyala tanpa membakarnya. Dan tangan-Nya tidak bisa tersembunyi karena selalu berkeinginan untuk memukulnya sampai mati. Di mana pun dosa berada, di sanalah Tuhan itu berada untuk menghadapinya dengan kebencian, kemarahan, dan murka. Dia tidak bisa menahan hati-Nya, mata-Nya tidak bisa menyala tanpa membakar dosa itu. Dan tangan-Nya itu tidak bisa ditahan-Nya untuk bergerak untuk memukulnya sampai mati.

Siapa yang pernah mendengar kalimat ini muncul di mimbar beberapa puluh tahun terakhir ini? Kalimat-kalimat seperti ini sudah hilang dari mimbar. Kita tidak mengenal Allah kita itu sesungguhnya itu siapa. Kita hanya bermain secara kekristenan di permukaan. Dan selalu menyatakan Allah itu cinta, cinta, cinta. Kita sendiri yang mengatakan Allah itu cinta, tidak tahu artinya cinta itu apa. Ketika kita mengatakan Allah itu cinta yang paling penting dalam kekristenan adalah cinta, saudara-saudara perhatikan baik-baik! Kalau saudara dan saya mengasihi Allah, saudara-saudara akan mengasihi Allah, itu mengasihi Allah yang suci, Allah yang benar, Allah yang adil. Mengasihi Allah itu adalah mengasihi seluruh atribut-Nya. Tetapi kita sekarang itu berbicara berkenaan dengan kasih tetapi kita mencopot seluruh atribut-Nya itu adalah kepalsuan. Dan kalau kita itu mengasihi sesama, kita harus mengasihi di dalam kesucian, kebenaran, keadilan, bukan satu perasaan sentimental. Kalimat-kalimat seperti ini semuanya sudah hilang. Dan sungguh sudah tidak popular pada zaman kita, tetapi ini kalimat yang diucapkan oleh Yesus Kristus, ”Ampunilah mereka sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” Apa yang sesungguhnya mereka tidak tahu? Kita itu tidak tahu betapa bencinya Tuhan terhadap dosa. Padahal Alkitab itu sendiri sudah menyatakannya. Dan ketika kita membacanya tetap kita tidak pernah bisa merasakannya. Seberapa besar kebencian Tuhan terhadap dosa? Charles Spurgeon membukakan sesuatu yang membuat kita itu harus takut. Saya akan sharing-kan apa yang dia katakan. Seberapa bencinya Allah terhadap dosa, ingatlah bahwa Tuhan itu memiliki malaikat pilihan. Mahkluk yang mulia itu; yang sayapnya itu indah seperti fajar matahari terbit; yang perawakannya seperti gunung besar berselimut salju dengan keindahan seperti lapangan hamparan luas bunga yang mempesona. Begitu malaikat itu berdosa, Tuhan sama sekali tidak dia dan semua malaikatnya yang mengikutinya dalam pemberontakannya sama dihukum-Nya. Malaikat itu dimasukkan di dalam neraka. Disimpan-Nya dalam rantai yang kekal di dalam kegelapan sampai penghakiman pada hari yang besar itu dan tidak ada satu penghuni sorgawi atau malaikat atau tua-tua atau siapa pun saja yang menyelamatkan malaikat yang jatuh ini. Dan begitu mereka mau menyelamatkan malaikat yang jatuh ini, Allah langsung akan menghadapinya. Dan apakah kita lupa akan Daud dan Israel? Lihatlah betapa Allah itu mengasihinya. Allah membawa Israel keluar dari tanah Mesir; Dia sendiri menyatakan Akulah pembuka jalan dan Akulah penutup jalan. Aku selalu menyertai engkau dan lihatlah kepada Daud, engkau adalah biji mata-Ku tetapi begitu mereka berdosa, maka tongkat hajaran dan kesedihan didatangkan kepada mereka sampai mati. Betapa Allah harus membenci dosa. Bukan Allah membenci dosa; Allah harus membenci dosa. Jangankan mereka, malaikat itu, Daud itu, Israel itu siapa sih? Nothing. Lihatlah Anak-Nya! Anak Allah yang tunggal. Lihatlah Dia! Begitu dosa itu dijadikan di tempat Dia maka murka Allah menjadi-jadi datang ke dalam diri Anak-Nya harus mati. Cawan murka itu harus diminum. O tidak ada yang tahu kedalaman kebencian Allah terhadap dosa. Saya bukan lebih hebat dari pada semua pengkhotbah; saya orang yang berdosa yang berusaha untuk melayani. Tetapi saya mengerti ada berita-berita yang sudah hilang di zaman ini. Dan saudara dan saya bahkan tidak ingin dengar menjadikan kita tidak take it seriously. Bahkan apa yang Allah itu anggap penting.

Hal yang ketiga,tidak ada yang tahu konsekuensi sesungguhnya dosa itu apa, yaitu murka Allah di neraka sampai selama-lamanya. Kita tidak pernah mengerti sesungguhnya sampai tuntas murka Allah itu apa sampai kita itu mengalaminya. Seperti apakah neraka itu hanya bisa diketahui oleh orang-orang yang berada di dalamnya. Sama seperti kalau saudara-saudara berpikir, o penjara ya, saya pasti tahu kalau penjara susah. Tapi saudara-saudara, sesusah-susahnya penjara dalam pikiran saudara, ketika saudara masuk di dalamnya itu jauh berlipat-lipat daripada apa yang di dalam pikiran kita susahnya. Kita sesungguhnya tidak tahu apa itu susahnya penjara. Saya terus menguji diri saya sendiri dan harap Tuhan menyatakan sesuatu yang genuine. Perhatikan baik-baik, saya merasa ada sesuatu yang kurang di dalam kehidupan saya. Saya bicara dengan apa adanya. Saya jujur. Saya tidak pernah terpikir mengenai neraka; saya tidak pernah berpikir mengenai murka Allah, ya saya baca itu ada, ya. Tetapi saya tidak pernah takut karena di dalam pikiran saya Yesus sudah mati bagiku. Itu bukan sesuatu lagi yang saya perlu pikirkan. Tetapi kalau saudara-saudara melihat orang-orang Puritan; orang-orang yang mencintai Tuhan dan dicintai oleh Tuhan jelas mereka adalah orang-orang yang dipilih oleh Allah, yang ditebus oleh Yesus Kristus tetapi salah satu khotbah atau salah satu topik yang mereka terus dalami yaitu neraka. Kalau saudara-saudara melihat catatan mereka, seakan-akan mereka itu melihat neraka. Dan saya mengerti prinsipnya, yang dibukakan Tuhan mengenai neraka, dialah yang akan menjauh dari neraka. Yang dibukakan Tuhan tentang murka Allah, dialah yang akan menjauh lari dari murka Allah. Kenapa kita tidak takut untuk berbuat dosa? Karena kita tidak tahu sesungguhnya neraka itu apa. Kita berpikir pokoknya saya pergi ke sorga karena Kristus mati bagiku. Mengapa saya musti mikirin lagi mengenai neraka? Mengapa saya musti mikirin lagi mengenai murka Allah? Lebih baik saya memikirkan mengenai kebaikan Allah, tetapi saudara-saudara bisa melihat bahwa hasil dari seluruh kerohanian kita, adalah kita begitu lost di dalam kekristenan. Kita mudah sekali berbuat dosa dan tidak ada takut akan Allah. Saya kadang lihat apa yang dipikirkan oleh orang-orang yang dipakai oleh Allah mengapa lain dengan apa yang kita pikirkan, apa yang saya pikirkan? Kenapa mereka memikirkan terus mengenai dosa? Mengapa mereka terus memikirkan murka, mengenai Allah dan juga neraka dan penghukumannya? Mengapa mereka terus menekankan kepada diri mereka dan juga jemaatnya kepentingan jiwa, jiwa, jiwa. Mereka berkali-kali mengatakan kalau engkau mendapatkan semuanya kehilangan jiwamu, untuk apa? Ada sesuatu yang entah salah, entah kurang di dalam kerohanian kita. Ada sesuatu yang hilang dalam masa sekarang. Dan kita tidak sadar bahwa itu hilang kecuali kalau saudara-saudara adalah orang yang pernah mendengarkan khotbah-khotbah itu lalu kemudian saudara-saudara hidup pada zaman sekarang saudara mulai menyadari; ini khotbahnya lain; tekanannya lain; arahnya lain; semuanya lain. Hanya beberapa kalimat Kristen saja yang sama.

Saudara-saudara, konsekuensi sesungguhnya dosa itu apa? Yaitu murka Allah di neraka sampai selama-lamanya. Seseorang yang masuk ke neraka jikalau itu terjadi, itu tidak bisa dihadapi. Neraka dan murka Allah tidak bisa dihadapi dengan hati yang lurus, dengan kejujuran, dengan ketulusan, dengan sikap gentleman, dengan sikap sabar. Tidak bisa dihadapi dengan gentleman. Kalau ada seseorang yang jujur, gentleman, sabar, yang dewasa, orang yang mau bertanggung jawab dengan apa yang menjadi kelakuannya, dia bisa menghadapi penderitaan atau apa pun saja, kerugian di dunia ini tetapi tidak mungkin bisa menghadapi neraka dengan tenang. Saudara-saudara tentu tahu dalam dunia ini ada orang yang pengecut dan penakut begitu sudah melakukan sesuatu kesalahan dia langsung dia itu mengatakan: Bukan saya, bukan saya. Atau ketika sudah melakukan kesalahan dia kemudian lari dan bersembunyi karena takut. Tetapi ada orang yang jiwanya itu besar, karakternya itu anggun, seorang yang dewasa, seorang yang sabar, seorang yang gentleman, ketika melakukan kesalahan. Siapa yang salah ini? Lalu kemudian dia mengatakan saya, saya yang akan bertanggung jawab kerugian. Engkau masuk neraka. Engkau harus dihukum. Saya akan terima. Lakukan keadilan kepada saya dan saya akan terima. Ada orang yang begitu sangat anggun seperti itu. Dan kalau saudara-saudara melihat di dalam seluruh dunia, ada orang-orang yang berada di dalam penderitaan dengan kesabaran, dengan penyerahan, dengan ketekunan, dengan satu hati yang bersyukur padahal luar biasa sangat menyakitkan penderitaan itu. Saudara menemukan ada sesuatu yang indah di dalam karakternya. Kalau saudara-saudara melihat terakhir adalah Tim Challies tiba-tba anaknya umur 20 tahun meninggal. Hancur hidupnya. Tetapi kemudian dia tulis di dalam blog-nya kalimat-kalimat yang menguatkan kita, saudara melihat ada sesuatu keindahan di dalam kegelapan. Tetapi ketika orang-orang berada di dalam neraka, dia tidak mungkin ada keindahan yang muncul di dalam karakternya. Tidak ada seseorang yang di dalam neraka lalu dia akan kemudian mengucap syukur kepada Tuhan. Tidak ada seorang dalam neraka dan kemudian dia bisa tersenyum dan mengatakan: Tuhan, Engkau adil, aku menerima semuanya. Aku akan menanggung dalam ketekunanku. Tidak ada karakter yang indah yang saudara akan dapatkan orang di dalam neraka. Karena murka Allah melebihi, melingkupi, menghancurkan seluruh karakter itu. Tidak ada seseorang yang dewasa yang sebelumnya mengatakan aku akan bertanggung jawab ketika dia masuk di dalam tidak menyesal. Murka Allah melebihi daripada kemampuan kita menerimanya. Tidak ada satu orang pun yang sanggup menghadapi murka Allah tanpa membuat dia itu gejolak hatinya itu reda. Itulah sebabnya Alkitab menggambarkan tempat yang gelap itu. Isinya adalah ratap, tangis dan kertak gigi seumur hidup kekekalan. Tidak ada satu orang pun yang bisa masuk ke neraka ada di sana dengan sikap pasrah. Dengan sikap gentleman, dengan ketenangan, dengan kejujuran, dengan mengakui secara lega. Tidak ada.

Kita tidak tahu apa yang sesungguhnya kita lakukan. Kiranya Tuhan menyatakan kepada kita sebelum terlambat. Apakah dosa itu sesungguhnya? Dan kiranya kengerian akan Dia meliputi hidup kita seumur hidup.

Alamat

556 - 558 Botany Road, Alexandria, NSW, 2015
sekretariat@griisydney.org
0422690913
0430930175

Social Media

Facebook GRII Sydney Instagram GRII Sydney Twitter GRII Sydney


Google Play Store
App Store

^