[simple_crumbs root="Home" /]
kembali

16 May 2021

Pdt. Agus Marjanto, M.Th

Kenaikan Tuhan Yesus

Mazmur 110; Wahyu 5:1-7

Hari ini kita memperingati kenaikan Tuhan Yesus ke surga. Setelah Yesus mati dan bangkit, Dia menampakkan diri sepanjang 40 hari kepada semua orang-orang yang dipilih-Nya. Setelah itu Yesus naik surga. Malaikat berada di tengah-tengah dan berbicara kepada semua murid-murid-Nya yang ada, “Yesus yang naik ini, nanti suatu saat Dia akan turun dengan cara yang sama.” Dia satu-satunya pribadi yang pernah seperti ini. Tidak ada satu manusia atau pendiri agama yang pernah mengalami hal seperti ini. Mengapa hanya Yesus? Mengapa tidak ada satu manusia pun? Bahkan pendiri agama tidak bisa melakukannya? Karena Yesus adalah satu-satunya pribadi Allah, oknum ke-2 yang dari surga turun ke bumi. Yang berasal dari surga turun ke bumi akan kembali lagi ke surga. Ini perbedaan antara kekristenan dengan seluruh agama yang ada di dunia ini. Seluruh agama didirikan oleh manusia dari bawah. Manusia yang dari bawah ini mendirikan agama dan berusaha untuk naik ke surga. Tetapi dosa membuat semua pendiri agama itu harus turun ke bawah dan mati di kuburan. Satu-satunya pribadi yang bisa berhak kembali ke surga hanya Yesus Kristus. Bukan karena Dia itu suci saja, tetapi karena Dia berasal dari surga. Seluruh agama dari bawah mau pergi ke surga, tetapi akhirnya harus ke kuburan. Satu-satunya, pribadi Yesus Kristus, dari surga turun ke bumi membereskan seluruh pekerjaan yang diberikan oleh Allah Bapa kepada Dia dan setelah selesai Dia kembali ke surga. Yesus naik ke surga adalah sesuatu kenyataan yang penting sekali.

Kalau kita melihat Alkitab, kita akan menyadari apa yang dilakukan-Nya di surga adalah dasar seluruh berkat dan kepastian hidup pada masa kini. Yesus pergi ke surga bukan melarikan diri dari dunia, Yesus pergi ke surga bukan meninggalkan kita. Alkitab menyatakan bahwa Dia naik kembali ke surga, pergi ke Bapa agar Dia boleh mencurahkan Roh-Nya yang suci. Apa relasinya dengan hidup kita? Apa signifikansinya dalam hidup kita? Mazmur 110 yang kita baca ditulis oleh Daud, matanya menembus kekekalan. Yesus naik ke surga tidak ada lagi yang bisa melihat dengan mata. Mata kita sangat terbatas. Seluruh kemampuan panca indra kita adalah hanya untuk masuk ke dunia-dunia fisik, meneliti alam ini. Yang kita bisa tahu hanya segala sesuatu yang ada di bawah kita. Tetapi seluruh yang di luar fisik, meta-fisika kita sama sekali tidak mungkin tahu. Kita hidup dalam kesementaraan, kita tidak mungkin mengerti kekekalan. Kita hidup di dalam tubuh, kita tidak mungkin mengerti dunia roh. Kita hidup di dunia ini, kita tidak mungkin mengerti realita surgawi, untuk mengerti hal-hal yang tadi saya sebutkan, maka yang dari surga harus mewahyukan diri-Nya kepada kita. Kalau itu tidak ada, maka sampai mati kita tidak akan tahu. Kita bersyukur kepada Tuhan karena kita diberi tahu apa yang sesungguhnya terjadi di surga ketika Yesus naik.

Dalam Mazmur 110, Daud menyatakan sesuatu yang dia lihat karena anugerah Tuhan. Apa yang Daud tuliskan? Dengan tepat kitab Wahyu menyatakan hal yang sama ketika Yohanes melihat penglihatan itu. Apa yang terjadi ketika Yesus naik ke surga? Mazmur 110 menyatakan Dia melaksanakan jabatan sebagai Raja dan Imam. Ini adalah sesuatu dua jabatan yang penting sekali, bergabung dalam satu pribadi. Dalam Perjanjian Lama ada tiga jabatan yang membutuhkan urapan: Imam, Raja, Nabi. Tidak ada satu orang yang mendapatkan tiga jabatan ini kecuali Yesus Kristus. Calvin menyatakan Yesus itu Raja di atas segala raja, Imam di atas segala imam dan Nabi di atas segala nabi. Hanya orang-orang tertentu mendapatkan satu atau dua jabatan, tetapi tidak pernah tiga jabatan. Tetapi di tempat yang lain, tidak ada satu pribadi yang pernah menggabungkan dua jabatan Raja dan Imam di dalam dirinya kecuali dalam diri Yesus Kristus. Raja digabungkan dengan Nabi dapat ditemukan di dalam diri Daud, Salomo. Penggabungan Nabi dan Imam dalam diri Yesaya, juga Samuel. Tetapi tidak mungkin akan mendapatkan gabungan Raja dan Imam dalam satu orang. Dalam Perjanjian Lama ada bayang-bayangnya, tetapi sesungguhnya bukan gabungan dua ini tetapi suatu bayang-bayang kepada Yesus Kristus yaitu Imam Besar Yosua, di dalam Zakaria 6. Tetapi dua ini menjadi realitasnya di dalam diri Yesus Kristus. Daud yang ribuan tahun sudah mati sebelum Yesus Kristus diberikan karunia oleh Allah untuk membuat satu Mazmur yang memuji-muji jabatan Raja dan Imam dari Mesias.

Yang pertama ketika Yesus itu naik ke surga adalah Dia menyatakan, Dia melakukan jabatan-Nya sebagai Imam. Dia melakukan jabatan-Nya sebagai imam dengan mengaplikasikan karya-Nya, korban-Nya di hadapan Allah di surga. Ini yang disebut sebagai syafaat. Dalam Bait Suci Israel (Perjanjian Lama), yang merupakan bayang-bayang Bait Suci yang sejati yaitu Bait Allah di surga. Seluruh aturan dan acara yang ada di dalam Bait Suci yaitu orang yang berdosa akan datang membawa domba yang tidak bercacat cela, diberikan ke imam kemudian imam akan memotong domba tersebut dan darahnya akan tercurah. Darahnya ditampung dan imam satu tahun satu kali masuk ke dalam Ruang Maha Suci. Ada pelataran luar, di luarnya ada pelataran untuk gentile. Dari pelataran luar, kemudian Ruang Suci, kemudian Ruang Maha Suci. Di antara Ruang Suci dan Ruang Maha Suci maka ada tirai yang besar sekali. Pada zaman Herodes harus dibawa oleh 300 orang, untuk mengambil tirai, mencopotnya, kemudian menggotongnya keluar. Ketika Yesus Kristus mati maka tirai yang besar itu robek. Itu menjadi sesuatu kengerian bagi orang-orang Israel. Karena berarti Ruang Maha Suci terekspos keluar. Tetapi ini adalah cara kerja Tuhan. Kematian Kristus Yesus membuat orang-orang di pelataran, gentile sekalipun bisa masuk ke Ruang Maha Suci.

Kembali kepada penyembelihan domba. Ketika domba disembelih dan darahnya tercurah, maka Imam Besar masuk ke Ruang Maha Suci, tidak ada satu manusia pun yang boleh masuk ke Ruang Maha Suci kecuali Imam Besar, satu tahun satu kali dan tidak boleh salah. Pakaian Imam Besar begitu kompleks. Ada batu-batu sebagai penutup dada. Tetapi yang paling menarik adalah Imam Besar jika masuk satu tahun satu kali ke Ruang Maha Suci, maka pahanya diberi tali yang panjang sekali. Di bawah gaunnya begitu banyak bel yang kecil yang berbunyi. Maka ketika dia masuk ke Ruang Maha Suci, dia melakukan seluruh upacara di Ruang Maha Suci sendirian, berada di dalam hadirat Allah yang mematikan kalau ada kesalahan. Dia memercikkan darah domba, maka barulah ada keselamatan, baru ada penebusan. Kalau Imam Besar melakukan kesalahan, maka dia akan mati. Dan bagaimana bisa orang tahu kalau dia mati atau tidak? Yaitu bel tidak lagi berbunyi. Kalau dia sedang jalan-jalan maka ada bunyi bel, “krincing, krincing, krincing.” Kalau dia sudah tidak ada bunyi bel berjam-jam berarti dia mati. Tetapi kalau dia mati di Ruang Maha Suci, bagaimana cara mengambil mayatnya? Tidak ada satu orangpun yang boleh masuk ke sana, begitu masuk mati, karena hadirat Allah begitu kuat. Maka caranya yaitu dengan tali yang panjang itu, orang menarik keluar mayatnya. Perhatikan prinsipnya, ada pengaplikasian darah domba dan ketika diaplikasikan diterima atau tidak. Ini yang dilakukan oleh Yesus Kristus. Yesus bukan saja mati sebagai domba Allah yang suci, tetapi Dia naik ke surga untuk mengaplikasikan darah-Nya, mengaplikasikan korban-Nya di Ruang Maha Suci yang kekal itu. Dan Allah Bapa berkenan dan mendudukkan-Nya di sebelah kanan-Nya. Dari pekerjaan-Nya inilah maka keselamatan bagi kita dipenuhi seluruhnya.

Perhatikan baik-baik bagaimana caranya kita bisa diselamatkan? Yesus harus inkarnasi mengambil tubuh. Dengan tubuh ini Dia tidak boleh bercacat cela. Dan dengan tubuh ini Dia harus dimatikan, pengganti dosa saudara dan saya. Kemudian Dia bangkit, Dia naik ke surga, dengan tubuh kebangkitan Dia mengaplikasikan seluruh karya-Nya di Bait Allah Maha Suci di dalam kekekalan. Jikalau Allah berkenan, barulah seluruh karya keselamatan-Nya itu penuh bagi kita dan kita bisa diselamatkan. Betapa rumit, kompleks dan precise suatu karya keselamatan bagi kita. Orang tanya kepada orang Kristen, “Bagaimana kamu bisa diselamatkan?” Lalu orang kristen mengatakan, “Dengan percaya kepada Yesus Kristus!” Orang luar sana bilang, “Hah, yang benar saja. Mesti lakukan ini, lakukan itu bukan?” Jawabannya, “Tidak.” “Harus kasih persembahan ini itu bukan?” Orang kristen tersebut mengatakan, “Tidak.” “Loh, terus tidak lakukan semuanya, terus harus bagaimana?” Percaya Tuhan Yesus. Kemudian orang sana mengatakan, “Gampang banget, sepele banget.” Ketika kita bicara mempercayai Yesus Kristus, dalam kalimat ini saja begitu banyak pekerjaan Kristus yang kompleks, rumit, dan precise yang harus digenapi. Harus inkarnasi, suci, dimatikan, pengganti saudara dan saya, harus naik ke surga, harus mengaplikasikan, harus diterima. Pekerjaan-Nya melampaui seluruh usaha baik manusia. Itulah sebabnya Allah bukannya tanpa alasan mengatakan, ”Semua pekerjaan baikmu itu sampah. Sungguh-sungguh sampah.” Agama kita mau membereskan urusan kita dengan Tuhan dalam dosa? Jawabannya adalah tidak mungkin. Satu-satunya keselamatan dalam dunia ini adalah karena Yesus Kristus.

Pada waktu Yesus naik ke surga, apa yang terjadi? Mata kita tidak bisa lihat, tetapi Tuhan mengaruniakan Daud untuk menulisnya. Di surga Dia mengaplikasikan korban-Nya. Dia melakukan jabatan Imam. Yesus Kristus pernah mengatakan dalam Yohanes 14 (Aku pergi ke surga menyediakan tempat bagimu). Kita pikir ini rumah, lalu kita pikir nanti rumahnya besar atau kecil. Saudara pikir Yesus ke surga menyediakan tempat bagimu, sekarang Dia sedang jadi tradie yang membangun rumah? Bukan. Bukan seperti itu. Maksudnya menyediakan tempat bagimu adalah bicara berkenaan dengan menyediakan satu kondisi dimana kita juga bisa di surga, satu kondisi di mana kita bisa bersama dengan Allah. Satu kondisi di mana kita bisa bersama dengan Allah yaitu Yesus Kristus ada di sana dan mengaplikasikan seluruh korban-Nya dan diterima oleh Allah. Orang-orang yang di dalam Dia, kita, mendapatkan tempat di surga karena pekerjaan-Nya. Ada dua hal yang penting di dalam kalimat-kalimat itu. Yang pertama, Yesus ke surga mengaplikasikan seluruh korban-Nya, karya-Nya di hadapan tahta maha kudus Allah. Yang kedua adalah Yesus yang pergi ke surga adalah Yesus yang ber-dwi nature, yaitu Allah yang sejati dan manusia yang sejati, Dia bertubuh, Dia manusia yang sejati. Ini adalah sesuatu hal yang penting sekali. Kita bisa diterima oleh Allah Bapa di surga karena pekerjaan Kristus Yesus, tetapi kita bisa di dalam Kristus Yesus kalau Dia adalah manusia yang sejati sehingga ada union antara kita dengan Kristus. Itulah sebabnya kenapa Yesus harus dengan tubuh kebangkitan pergi ke surga. Inilah yang terjadi di surga, Daud membukakannya kepada kita. Dikatakan bahwa Tuhan telah bersumpah, Dia tidak akan menyesal Engkau adalah Imam untuk selama-lamanya menurut Melkisedek. Dikatakan Imam untuk selama-lamanya, berarti di surga terus kekal selama-lamanya. Dia pergi ke surga bukan melarikan diri dari dunia. Dia pergi ke surga bukan untuk melepaskan seluruh tugas-Nya. Dia naik ke surga untuk melanjutkan kontinuitas karya-Nya kepada kita. Menjadi pensyafaat bagi kita, menjadi satu pribadi yang menjamin kita akan ada di sana.

Hal yang keduayang dilakukan oleh Yesus Kristus ketika Dia naik ke surgaadalah Kristus ditahtakan dan memerintah seluruh alam semesta. Ini adalah jabatan sebagai Raja. Dia melakukan jabatan Raja di surga, Raja seluruh alam semesta. Setelah mengaplikasikan korban-Nya, maka Allah Bapa di surga menerima korban Kristus. Allah berkenan akan korban Kristus. Kemudian Kristus didudukkan di sebelah kanan tahta Allah. Sebelum Wahyu 5, saudara akan menemukan kata tahta Allah, tetapi setelah Wahyu 5 saudara akan menemukan tahta Allah dan tahta Anak Domba. Tidak pernah tahta Allah itu sendiri, tahta Allah dan Anak Domba. Ini adalah sesuatu hal yang mencengangkan sekali, tetapi ini adalah satu kebenaran. Yesus naik ke surga untuk melakukan jabatan sebagai Raja, memerintah atas alam semesta. Di surga Allah memberikan Kristus tempat yang tertinggi lebih tinggi daripada malaikat dan makhluk apapun saja. Inilah yang dilihat oleh Daud. Tuhan mendudukkan Yesus Kristus di sebelah kanan-Nya dan membuat seluruh musuh-musuh-Nya nanti ada di bawah tumpuan kaki-Nya. Apa yang dilihat oleh Daud? Maka Tuhan nyatakan penglihatan itu kepada Yohanes. Dalam Wahyu 5 ada satu gulungan kitab dengan 7 meterainya dan tidak ada yang bisa membuka. Tujuh adalah angka kegenapan. Rasul Yohanes menangis karena dia sedih sekali. Dia berada di tengah-tengah seluruh gereja Tuhan dalam aniaya yang besar. Kalau kita ada di tengah-tengah gereja mula-mula, kita akan menyadari bahwa hidup kita pasti akan dibantai. Kita akan menyadari bahwa aku pasti kalah. Yohanes sudah melihat satu per satu murid-murid Yesus yang tadi rekat dengan dia semuanya menyebar dan mati. Ada yang ditombak, dipenggal, diputar balik dengan salib, diseret di jalanan. Dia melihat sendiri murid-murid-Nya dan semua orang yang dikasihinya satu per satu darahnya tercurah, seakan-akan sia-sia. Dia sekarang melihat surga, dia melihat seluruh keindahannya, tetapi gulungan kitab itu tertutup, meterainya tidak bisa dibuka. Dia menyadari kalau ini terjadi maka tidak akan ada yang bisa mengubah seluruh gereja Tuhan. Apa yang menjadi masa depan seluruh imanku ini? Oh Yesus, Engkau sudah di takhta tetapi bagaimana dengan dunia ini? Kami berada di tengah-tengah aniaya. Maka Yohanes menangis. Kemudian ada satu tua-tua mengatakan, “Jangan kamu menangis, karena Singa dari Yehuda itulah yang akan membuka gulungan kitab itu. Dia yang menang, Dia yang punya hak untuk itu.” Kemudian Yohanes menyadari ada harapan, Singa dari Yehuda. Siapa Dia? Lalu dia melihat ada satu Pribadi yang maju di tengah-tengah Takhta itu, dan Dialah yang menerima gulungan kitab dan punya hak untuk membuka satu meterai demi meterainya. Ketika dilihat Singa dari Yehuda ternyata Anak Domba yang tersembelih. Yesus mendapatkan takhta dengan salib. Yesus memiliki takhta karena jalan salib. Yesus membangun takhta karena ketaatan. Sekali lagi, ini adalah prinsip-prinsip hidup kita. Yang tidak mau untuk pikul salib tidak akan dapat kemuliaan. Yang tidak taat tidak akan mendapatkan pujian.

Gulungan itu begitu dibuka isinya apa? Lihat Wahyu 6 dan seterusnya, saudara akan menemukan seluruhnya itu 7, itu adalah 7 meterai itu berisi seluruhnya gabungan 2 hal ini. Begitu dibuka satu per satu, gabungan 2 hal ini. Pertama adalah penghakiman dan kengerian bagi seluruh bangsa. Dan yang kedua, di tengah-tengah kengerian, ada umat Allah yang dipanggil 144.000 jumlahnya. 144.000 adalah bicara mengenai 12 x 12 x 1000. 12 adalah 12 suku Israel Perjanjian Lama. 12 adalah 12 Rasul Yesus Perjanjian Baru. 1000 adalah selalu 1000 angka genap yang besar, banyak sekali. Artinya adalah ada satu gereja Tuhan yang dibentuk, umat pilihan dari Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru yang begitu banyak jumlahnya, orangnya yang diselamatkan. Saudara perhatikan baik-baik, ini adalah pelaksanaan jabatan raja. Di tengah dari center takhta Allah memberikan kepada Yesus Kristus, pemenang itu, Singa dari Yehuda, yang sudah menebus umat-Nya dengan darah-Nya. Dialah yang memegang seluruh nasib seluruh bangsa sepanjang zaman. Nasib setiap bangsa ada di tangan Dia. Apapun yang terjadi setiap detiknya ada di tangan Yesus Kristus. Itulah sebabnya Yohanes tidak lagi menangis karena dia tahu sekarang Gurunya, seseorang yang mengasihi Yohaneslah yang memegang kendali seluruh dunia. Raja gereja kita yang memegang seluruh kendali dunia. Alkitab mengatakan, “Dia yang memerintah seluruh dunia tersebut akan menghancurkan kejahatan, menghancurkan kefasikan, membuang ketidak-kudusan dan bangsa-bangsa akan dihabisi dengan geram-Nya; tetapi di tengah-tengah seluruh kemarahan-Nya, umat-Nya diselamatkan, 144.000 umat-Nya diselamatkan. Itulah hasil seluruh meterai itu begitu dibuka, Yesus yang memerintah, Dia Raja, Dia Singa dari Yehuda.

Dalam Perjanjian Lama ada satu kalimat: “Tuhan mengaum dari Zion.” Alkitab mengatakan: TUHAN mengaum dari Zion. Singa dari Yehuda. TUHAN dalam huruf besar. Uniknya kalimat ini muncul dalam dua tempat, TUHAN mengaum dari Zion. Yang satu adalah untuk pembinasaan bangsa-bangsa yang jahat. Yang satu lagi adalah tempat perlindungan bagi umat-Nya. Yang pertama dalam Amos 1:2 berbicara penghakiman dan di bawahnya mengenai penghakiman bangsa-bangsa. Seluruhnya bicara judgement. Tempat yang kedua adalah Yoel 3:16, apa yang dikatakan oleh Yoel dan Amos adalah apa yang terjadi persis seperti Wahyu 5. Singa dari Yehuda melakukan fungsi jabatan Raja, karena pengorbanan-Nya maka Dia mendapatkan takhta itu. Ketika gulungan itu ada di tangan Dia, maka seluruh kehidupan bangsa-bangsa dan sepanjang zaman sampai Tuhan datang ada di tangan-Nya dan tergantung Dia. Begitu dibuka satu per satu, dua gabungan ini terjadi ada penghancuran bagi bangsa-bangsa dan keselamatan bagi umat-Nya. Kemarahan Allah menjadi penghakiman bagi bangsa-bangsa dan tempat perlindungan bagi umat-Nya. Kitab Wahyu ditulis ketika berada dalam penganiayaan yang besar. Dengan prinsip yang sama Yesus duduk di atas takhta menjadi Pembela, Paulus menuliskannya di dalam Roma 8:31-39. Lihat takhta-Nya? Lihat Dia sebagai Raja? Lihat konteksnya apa? Penderitaan, penganiayaan (ayat 35-36).

Daud membukakan mata kita, apa yang terjadi pada Yesus Kristus setelah Dia naik ke Surga. Yesus memegang dan melakukan 2 jabatan ini: Raja dan Imam. Dalam Kitab Wahyu, maka mata Yohanes melihat bagaimana dengan penderitaan Kristus sebagai Imam, Dia akhirnya ditakhtakan di sebelah kanan Allah sebagai Raja. Anak Domba yang tersembelih menjadi Singa dari Yehuda. Menjadi sesuatu pengharapan bagi Yohanes yang berada di dalam penderitaan, di tengah-tengah dunia yang tidak menentu dan berguncang. Di tengah-tengah seluruh orang yang dikasihinya mati satu per satu. Di tengah-tengah seluruh kekayaannya diambil oleh orang-orang penjahat. Di tengah-tengah seluruh kegagalan gereja dan segala sesuatu kelemahan gereja dan gereja yang hampir dibinasakan. Tetapi sekarang mata Yohanes melihat visi ini, Dia, Domba yang disembelih itu menjadi Singa dari Yehuda. Dia yang memegang seluruh sejarah di tangan-Nya. Hal itu sama dengan Paulus di Roma 8. Di tengah-tengah ketelanjangan, di tengah-tengah siksaan dan aniaya dan kelaparan, di tengah-tengah hidup yang dipermalukan oleh dunia dan seluruh goncangan yang ada di duni; mata Paulus melihat Yesus di atas takhta itu menjadi pembela bagi kita. Amos dan Yoel mengatakan hal yang sama. Singa dari Yehuda, TUHAN mengaum dari Sion. Kecelakaan bagi dunia adalah tempat persembunyian yang kekal bagi umat-Nya. Itulah kekuatan kita hidup. Di tengah dunia yang berubah dan bergoncang kita melihat takhta-Nya yang tetap kekal untuk selama-lamanya, yang kokoh. Kecuali saudara-saudara adalah orang yang tidak peduli. Sadar bahwa hidup ini adalah hidup yang terus digoncang dan bergoncang.

Saya melihat anak-anak muda dan anak-anak remaja sekarang, banyak yang sama sekali tidak peduli, tidak punya perasaan. Semua yang dipikirkan cuma dirinya sendiri, tidak ada perasaan apapun saja, sehingga dia sebenarnya tidak mengerti dia di tengah-tengah dunia yang seperti apa realitasnya. Yesus mengatakan: “Jangan kamu kuatir.” Itu artinya dunia ini memang menguatirkan. Begitu kita merasa kuatir tetapi kita melihat takhta Kristus menjadi jawaban kekuatiran kita. Itu membuat kita tenteram. Tetapi celakanya kita tidak melewati stage pertama ini. Kita tidak merasa kuatir. Bukan karena kita melihat takhta Kristus di tengah-tengah dunia yang menguatirkan, tetapi karena kita tidak memiliki attachment dengan sesungguhnya hidup ini. Yang kita pikirkan cuma diri kita. Kalau kuatir seputar itu saja. Mari buka apa yang sesungguhnya terjadi. Dunia ini adalah dunia yang penuh perubahan yang bergoncang dan mengkhawatirkan. Virus ini melanda seluruh dunia dan membuat kematian seakan-akan menyergap orang-orang yang kita kasihi. Hari-hari seperti ini, satu tahun yang lalu, pandemic ini baru mulai. Kemudian saudara melihat itu ada di China, tetapi kita tidak terlalu peduli sampai itu masuk ke Indonesia, kita juga tidak peduli. Sampai kemudian kita menyadari bahwa ada kenalan-kenalan kita, bahkan saudara-saudara kita, bahkan orang dekat kita mulai kena bahkan ada yang mati. Kemarin ada aktivis nasionalis, Birgaldo Sinaga meninggal. Dia punya pelayanan, maka Indonesia kehilangan satu orang yang sangat-sangat diperlukan untuk mengkritisi dengan sehat segala sesuatu yang ada. Dan sekarang India, third wave Covid, luar biasa seperti tsunami, neraka ada di India. Dalam satu hari ribuan orang mati, dalam beberapa bulan saja 250 ribu orang sudah mati. Pagi ini, saya lihat news, India kekurangan kayu bakar untuk membakar mayat-mayat, kayu bakarnya habis, tidak ada. Ketika kita duduk di sini, Israel dan Palestina sedang bertempur. Ada puluhan orang, ratusan orang yang menderita karena terkena rudal. Kemarin kalau saya tidak salah, ada satu keluarga, semua mati hanya anak bayi saja yang selamat. Kita tahu semua bahwa China sangat tegang sekali dengan Australia, dan dia mengatakan: “Kami akan mengirim rudal ke Australia.” Dan dalam satu minggu ini ada orang-orang di Sulawesi, 4 orang Kristen di Sulawesi kepalanya dipenggal oleh ekstrimis Islam. Dan di tengah-tengah negeri kita dan kota kita, di tengah-tengah sekolah kita, paham atheis dan LGBT begitu masuk untuk menyudutkan kekristenan konservatif. Dunia ini adalah dunia yang rusuh dan goncang yang tidak stabil. Salah satu hal, setiap kali saya masuk ke dalam Youtube, saya tidak terlalu suka. Tetapi kalau akhirnya harus masuk ke Youtube, sense pertama setiap kali saya masuk adalah ketakutan. Saya tidak sanggup melihat betapa berubahnya musik, kejahatan, kenajisan, kecelakaan dan segala sesuatu yang ada di dunia ini begitu sangat berubah dengan cepat. Pada saat yang sama, di tengah-tengah seluruh kejahatan dunia, saya dealing dengan betapa banyaknya dosa, hal-hal yang tidak beres dalam hidup saya, tidak benar di dalam hidup saya. Pekerjaan-pekerjaan yang dikesampingkan, yang tidak dikerjakan dengan semestinya. Kesulitan di dalam keluarga kita. Kita melihat anak kita seperti itu, kita dealing dengan anak kita, sulitnya luar biasa di tengah-tengah seluruh kejahatan dunia dan seluruh dunia yang berubah. Jangankan bicara, memikirkan masalah di dunia, masalah pribadi dan masalah keluarga sendiri saja tidak beres-beres. Di tengah-tengah seperti itu, apa penghiburan kita? apa harapan kita? Harapan kita hanya pada Tuhan. Tuhan memberikan pengharapan kepada kita dengan menyatakan, “TUHAN mengaum dari Sion.” Dia akan menghancurkan kejahatan tetapi Dia adalah tempat perlindungan yang kokoh bagi umat-Nya. Domba Allah dan Singa dari Yehuda, itu jawaban seluruh kegoncangan hidup kita. Kita bersyukur karena Dia naik ke Surga. Dari sana, di sebelah kanan Allah Bapa semua musuh-Nya akan ditaklukkan, menjadi tumpuan kaki-Nya. Dia akan memberikan pengampunan bagi umat-Nya. Terpujilah Yesus Kristus yang mulia, nama di atas segala nama, Tuhan di atas segala tuhan. Tidak ada yang bisa menandingi Dia. Semua dari kita hanyalah layak untuk diinjak oleh Dia. Kiranya kasihan Tuhan menolong kita.

Alamat

556 - 558 Botany Road, Alexandria, NSW, 2015
sekretariat@griisydney.org
0422690913
0430930175

Social Media

Facebook GRII Sydney Instagram GRII Sydney Twitter GRII Sydney


Google Play Store
App Store

^