[simple_crumbs root="Home" /]
kembali

4 April 2021

Pdt. Agus Marjanto, M.Th

Behold The Man (3)

Jikalau Alkitab menyatakan 2000 tahun yang lalu ada seorang yang baik diadili secara tidak bersalah dan mati, maka ini menyatakan kita hanya boleh kagum. Dan kalau itu terjadi, kita hanya boleh kagum. Tetapi kalau Alkitab mencatat, ada orang kudus yang hidupnya tanpa dosa tetapi dimatikan, dan kemudian bangkit pada hari yang ke-3 tanpa ada satu pun manusia yang membangkitkan, dan ini sudah dikatakan sebelumnya, maka biarlah seluruh manusia yang hidup memperhatikan. Ini adalah satu peristiwa yang tidak pernah ada di dunia ini sebelumnya. Ini adalah peristiwa yang tidak terulang. Ini peristiwa yang tidak pernah terjadi kepada kita. Kristus itu bangkit, Kristus itu bangkit tanpa ada yang membangkitkan. Jikalau Yesus itu lahir, dan Yesus mengajar baik-baik dan Yesus itu mati, maka itu cuma agama. Tetapi kalau Dia itu lahir, Dia mati, dan Dia bangkit, itu artinya Allah yang datang ke dunia ini. Dan lihatlah Manusia ini! Bukankah Dia sudah berbicara sebelumnya tentang kebangkitan-Nya? Dia melampaui seluruh manusia yang pernah hidup, Dia melampaui daripada kita semua, mengapa kita tidak mempercayai-Nya? Mengapa kita mempercayai berita dari manusia-manusia yang mati?

Jangan menyatakan bahwa kekristenan itu sama seperti semua agama. Kekristenan melampaui seluruh agama. Seluruh agama membuat jalannya sendiri dari bawah untuk bisa diterima oleh Allah di atas, tetapi Alkitab menyatakan Kristus datang dari sorga dan turun ke dunia untuk membawa kita ke sorga. Ini suatu perbedaan besar, yang satu adalah dari bawah ke atas dan yang satu lagi adalah dari atas ke bawah. Suatu hari ada 2 filsuf yang sedang berbicara, yang satu takut akan Tuhan dan yang satu lagi tidak. Yang tidak takut akan Tuhan bertanya, “Apa yang harus aku lakukan untuk membuat suatu agama baru yang bisa menarik begitu banyak pengikut?” Maka Filsuf yang takut akan Tuhan itu menjawab, “Mudah saja, 3 hal ini engkau lakukan, yang pertama adalah katakan kalimat-kalimat yang tidak pernah dikatakan manusia sebelumnya, yang kedua adalah lakukan tindakan-tindakan yang tidak pernah bisa dibuat oleh manusia sebelumnya, dan yang ketiga adalah katakan kapan kamu mati dan kamu benar-benar bangkit dan kemudian katakan kapan kamu bangkit dan genapi itu.” Lihatlah Manusia ini, yang disesah oleh Pilatus, Kayafas, Hanas dan dimatikan, tetapi Dia bangkit.

Pada pagi hari ini kita akan melihat signifikansi kebangkitan Kristus. Mari kita pikirkan, apakah ada bedanya hidup ini dengan kenyataan Yesus bangkit dan hidup ini dengan kenyataan Yesus tidak bangkit. Seandainya Kristus tidak bangkit, apa yang terjadi? Saudara-saudara, jikalau Kristus tidak bangkit, maka kita tidak memiliki pengharapan akan hidup yang lebih baik. Sekali lagi, jikalau Kristus tidak bangkit, kita tidak akan memiliki pengharapan apa pun saja untuk hidup itu lebih baik. Pengharapan adalah satu-satunya yang bisa membuat manusia itu terus memiliki kekuatan untuk hidup, tetapi pengharapan itu tidak boleh kosong. Saudara-saudara perhatikan, kalau Kristus tidak bangkit, maka kejahatan akan berkuasa di setiap DNA hidup manusia. Bukan saja segi kehidupan tetapi sungguh-sungguh kejahatan akan berkuasa di dalam setiap DNA kita. Jikalau Kristus tidak bangkit maka tidak ada pengharapan hidup menjadi lebih baik, karena kejahatan akan menang dan tidak akan ada yang bisa menaklukkannya.

Setiap kali saudara melihat ada hal yang mendukakan di dalam hidup seseorang, di dalam manusia itu muncul suatu pengharapan. Pertanyaannya, mengapa? Maka marilah melihat kehidupan. Kalau saudara-saudara melihat ada orang yang menipu, orang yang berbohong, saudara kemudian dirugikan dan saudara tidak bisa apa-apa untuk membalasnya, kita selalu akan berkata suatu hari pasti kebohongan itu akan terbongkar. Kalau ada seseorang yang dibunuh dan tidak ada yang mau mengaku, tidak ditemukan pembunuhnya, maka orangtuanya meskipun dengan putus asa akan mengatakan suatu hari kebenaran akan diungkapkan dan suatu saat pasti akan ada balasan yang setimpal dengan pembunuh itu. Kalau saudara ada di tengah-tengah peperangan, kota saudara dihancurkan, rumah saudara dihancurkan, anak saudara diculik, bom ada di mana-mana seperti yang terjadi di Syria atau Myanmar saat ini. Bukan saja orang Kristen yang mati, tetapi siapa pun dimatikan karena urusannya adalah politik yang mau berkuasa. Dalam keadaan-keadaan seperti itu, apa yang muncul di dalam pikiran orang-orang yang menderita pada waktu itu, apa yang membuat mereka tetap bisa bertahan? Pengharapan. Pengharapan bahwa yang jahat ini akan dimatikan. Pengharapan, suatu saat, entah itu 1 minggu, entah itu 1 tahun, bahwa yang jahat itu akan kalah. Pengharapan bahwa kejahatan itu akan berhenti dan berakhir.

Saya tanya, dari mana saudara memiliki kepastian bahwa pengharapan itu akan benar-benar terjadi, bukan pengharapan yang kosong saja? Dari mana kita bisa berharap yang baik akan datang setelahnya? Kita mengatakan pasti kebenaran akan dinyatakan, pasti ada balasan yang setimpal, pasti yang baik akan datang. Saya tanya kepada semua umat manusia di dunia, bagaimana kita bisa yakin bahwa itu pasti akan terjadi? Bagaimana kalau pengharapan itu sesuatu yang kosong? Apa dasar pengharapan kita? Apakah dasar pengharapan kita itu benar-benar suatu realita atau imajinasi kita? Apa dasar dunia ini memiliki pengharapan yang pasti bahwa tetap ada suatu jalan keluar jikalau suatu yang jahat itu terjadi? Bahwa tetap ada sesuatu yang baik di depan kehidupan kita sehingga hidup ini tetap adalah hidup yang memiliki arti dan layak dihidupi? Kalau saudara pun bukan orang kristen, saudara belum mengenal Yesus Kristus, darimana saudara memiliki kepastian seperti itu?

Saudara perhatikan baik-baik, Alkitab mengajarkan pengharapan bahwa sesuatu yang baik ada di depan saudara, pengharapan itu ada dan pasti, karena Kristus itu sudah bangkit. Kebangkitan Kristus bukan saja memberikan keselamatan bagi para pengikut-Nya, kebangkitan Kristus memberikan berkat universal bagi setiap manusia yang hidup di dunia ini, karena Dialah yang memerintah dunia ini dan bukan kejahatan. Setiap air mata, setiap duka penderitaan dunia ini, dari mana kita bisa memiliki pengharapan bahwa besok akan menjadi lebih baik? Bukan karena perasaan duka itu lenyap dan air mata ini hilang karena berjalannya waktu, tetapi sungguh-sungguh karena ada jawaban atas kedukaan dan penderitaan yang kita alami. Dari mana pengharapan itu muncul dan berdasar? Sekali lagi, dari kenyataan 2000 tahun yang lalu Kristus bangkit. Alkitab mencatat, waktu itu pagi-pagi benar beberapa wanita pergi ke kubur Yesus Kristus. Kalimat itu menyentuh hati saya dan membuat saya menyadari bahwa wanita ini memperlihatkan langkah hidup setiap kita, saudara dan saya. Sesungguhnya langkah hidup kita adalah langkah hidup menuju kepada kuburan, langkah hidup menuju kematian. Tetapi ketika sampai di tempat kuburan itu, mereka sangat terkejut karena menemukan kuburan yang sudah terbuka. Mereka masuk ke dalamnya, dan kemudian ada malaikat di depan mereka yang berkata, “Mengapa engkau mencari yang hidup di tengah-tengah yang mati?”

Ini adalah proklamasi dari sorgawi. Saudara-saudara, lihatlah di mana pemimpin-pemimpin agama sekarang? Di mana seluruh jenderal dan semua orang berkuasa di dunia ini? Di mana seluruh orang yang kita kasihi? Saudara akan menemukan ada kuburannya, tetapi saudara-saudara tidak akan pernah menemukan kuburan dari Yesus Kristus, karena Dia hidup, karena Dia bangkit. Saudara-saudara, lihatlah sorga memberikan anugerah yang besar bagi hidup manusia. Lihatlah inti kekristenan dikabarkan di dalam kubur. Mengapa engkau mencari yang hidup di tengah-tengah yang mati? Maria Magdalena pertamanya sangat terkejut dan kemudian dia keluar bersama-sama dengan wanita-wanita yang lain. Wanita-wanita yang lain itu kemudian pergi, tetapi Maria Magdalena tidak pergi. Dia melihat apa yang sebenarnya terjadi tetapi dia tidak bisa mengerti, lalu air matanya bercucuran karena di dalam pikirannya pastilah mayat Yesus sudah dicuri. Kemudian di tengah-tengah Maria yang terus-menerus menangis, seorang pria mendekati dia dan bertanya, “Wanita, mengapa engkau menangis?” Maria berpikir ini adalah penjaga taman, dan matanya tidak bisa melihat jelas karena penuh dengan air mata penderitaan. Maria kemudian mengatakan, “Pak, jikalau engkau mengambil mayatnya, katakan di mana bapak meletakkannya, aku ingin mengambilnya.” Maria berpikir bahwa ini adalah penjaga taman. Lalu penjaga taman itu berbicara dengan perlahan, “Maria.” Maria yang penuh dengan air mata tidak bisa melihat apa pun saja karena kegelapan dan kesedihan ada di dalam hatinya, tetapi telinganya sekarang mendengar satu suara yang dia pernah kenal. Yesus pernah mengatakan domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku. Dia langsung tau. Maria kemudian melihat penjaga taman itu dan berkata, “Rabuni, Guru!” Lalu Maria mengusap air matanya dan dia melihat Yesus Kristus yang bangkit.

Oh, dari mana pengharapan setiap orang yang menderita dan yang penuh dengan air mata? Apa yang membuat air mata kita kering, apakah itu waktu? Tidak, tetapi Yesus yang bangkit! Jikalau Yesus tidak bangkit, maka dunia ini dikendalikan oleh yang jahat. Kalau Yesus tidak bangkit, maka semua kalimat-Nya adalah kebohongan. Kalau Yesus tidak bangkit, maka ternyata Hanas, Kayafas, Pilatus, dan Herodeslah yang benar. Kalau Yesus tidak bangkit, memang benar Kayafas itu layak marah, karena Yesus menyamakan diri-Nya dengan Allah. Kalau Yesus tidak bangkit, maka benarlah Pilatus yang menanyakan apa itu kebenaran. Kebenaran itu adalah sesuatu yang perlu dipertanyakan dan saya tidak tahu dan tidak mungkin tahu akan kebenaran dan tidak ada urusannya kebenaran dengan hidupku. Kalau Yesus tidak bangkit, maka murid-murid-Nya akan terus sampai mati di dalam pengejaran dan ketakutan. Kalau Kristus tidak bangkit, maka semua orang yang mengikut Dia akan kembali menjadi nelayan, menangkap ikan untuk makan, hidup di dalam kerutinan dan menunggu hari kematian dan itulah arti manusia. Kalau Kristus tidak bangkit, maka hidup kita yang sudah berdosa ini hanya akan disimpulkan dengan satu kalimat yaitu sia-sia. Apa sih artinya hidup? Hanya beberapa puluh tahun saja dan isinya adalah kedukaan, kesakitan, kejahatan, entah kita ditimpa kejahatan atau kita berbagian di dalam kejahatan lalu mati. Tetapi karena Kristus sudah bangkit, maka ada pengharapan yang pasti, ada kekudusan yang bertumbuh kembang, ada kehidupan yang bertumbuh, ada kasih yang sejati hadir, ada kehancuran terhadap dosa, ada penyembuhan di dalam penderitaan, ada kebangkitan kita dari kematian. Karena Kristus bangkit, maka ketaatan itu memiliki nilai yang tinggi dan kerja keras bagi Tuhan itu tidak pernah sia-sia.

Saudara-saudara, perhatikan baik-baik, di titik pusat problem umat manusia, terdapat the problem of evil. Kita semua memiliki problem dan di titik pusat problem umat manusia terdapat the problem of evil. Allah menjawab-Nya bukan dengan kalimat. Allah memberikan jalan keluar bukan dengan kalimat-kalimat-Nya saja, tetapi dengan kehadiran Anak-Nya yang tunggal di titik pusat kejahatan, di titik pusat penderitaan yaitu salib dan kubur. Dan Dia bangkit tepat di titik pusat singgasananya setan yaitu kuburan. Perhatikan langkah kaki Yesus Kristus, Dia dari sorga masuk ke dunia, masuk ke dalam pusat evil, dan Dia bangkit dari kubur. Itulah pengharapan setiap umat manusia di dalam hal yang paling dasar. Itulah sebabnya Ayub memiliki kekuatan di dalam hidup meskipun seluruh anaknya mati. Dari ribuan tahun yang lalu, dari mana kekuatan Ayub? Ketika dia memiliki satu the problem of evil yang luar biasa sulit, Dia mengatakan, “I know my Redeemer lives.” Matanya memandang dari kejauhan dan sampai kepada kuburan yang kosong, kuburan Yesus Kristus.

Wanita-wanita itu dengan kesedihan berjalan menuju kuburan dan kakinya itu mewakili kita, karena kita adalah manusia yang berjalan menuju ke kuburan. Tetapi perhatikan baik-baik, di dalam Kristus terusan kuburan itu adalah kehidupan. Maria Magdalena lalu diminta oleh Yesus Kristus untuk pergi ke murid-murid-Nya yang lain. Maria lari sekencang-kencangnya dengan suatu perasaan yang bergembira, dia masuk ke rumah murid-murid yang berkumpul itu, dan mengatakan, “Aku sudah melihat Tuhan, aku sudah melihat Tuhan!” Behold the Man! Jikalau engkau dan saya telah melihat Tuhan, maka akan ada kuasa kebangkitan. Ada gairah di dalam hidup. Ada api yang tidak terpadamkan untuk berbicara kepada seluruh manusia yang hidup yang kita temui, “Aku sudah melihat Tuhan.” Saudara-saudara, kisah kebangkitan Kristus itu belum semuanya. Kisah kebangkitan itu menyatakan ada suatu pengharapan di bumi ini. Tetapi kisah kebangkitan itu akan membawa kita kepada sesuatu yang jauh lebih mulia daripada kebangkitan itu sendiri. Apa itu? Yesus bukan saja bangkit, tetapi Dia akan naik ke sorga, dan dari sana Dia akan datang untuk menjadi Raja dan Hakim bagi seluruh umat manusia.

Kalau saudara memperhatikan satu bagian Firman Tuhan maka kalimat “Behold the Man” muncul sekali lagi. Di mana itu? Di Wahyu 1:7. Mari kita melihat Wahyu 1:7, “Lihatlah, Ia datang dengan awan-awan dan setiap mata akan melihat Dia, juga mereka yang telah menikam Dia. Dan semua bangsa di bumi akan meratapi Dia. Ya, amin.” Saudara, ini adalah kata “Behold” yang ke-3 yang ditulis oleh Yohanes, tetapi bukan didengar dari Pilatus, bukan didengar dari gurunya yaitu Yohanes Pembaptis, tetapi ini adalah deklarasi Allah di sorga sendiri yang memperlihatkan Yesus yang akan datang untuk kedua kali. Yohanes dengan mata rohaninya melihat dengan penglihatan yang akan datang itu. Yohanes kemudian menyatakan kepada seluruh pendengarnya, “Behold, lihatlah Dia akan datang.”

Saudara-saudara, Yesus itu sungguh-sungguh rendah hati. Tadi pagi ketika saya menuju ke sini, pikiran saya terus memikirkan mengenai apa yang terjadi pada hari Kebangkitan itu. Sungguh-sungguh, Raja Gereja kita itu rendah hati. Dia dimatikan, dipermalukan, di depan ribuan orang, tetapi ketika Dia bangkit, hanya beberapa orang saja yang tahu. Kita semua ingin kalau kita dipermalukan tidak ada orang yang tahu. Kita ingin kalau kita juara, kita menang, semua orang tahu dan bertepuk tangan bagi kita. Kalau kita gagal, kita tidak akan masuk ke dalam rekaman, terus kemudian disiarkan di Facebook kita. Kalau kita nyanyi fals, tidak mungkin direkam lalu kemudian disiarkan di dalam Instagram kita. Tapi kalau kita sudah nyanyi diulang-ulang sampai bagus sekali, main piano diulang-ulang sampai bagus sekali, yang terbaik dimasukkan ke dalam Facebook kita. Tetapi Yesus tidak. Yesus itu ketika dihina, dipertontonkan di depan semua manusia yang hidup. Tetapi ketika Dia bangkit, saya tidak bisa mengerti kenapa Dia bangkit itu pagi-pagi benar. Ketika Dia mati, kenapa jam 12 siang sampai jam 3 siang? Bukankah seharusnya terbalik? Bukan itu saja. Ketika Dia bangkit, maka Dia menampakkan diri kepada beberapa orang saja dan orang-orang yang kecil. Maria Magdalena adalah salah satu orang yang pernah dirasuk setan sebelumnya. Orang ini, orang yang tidak dihargai bahkan di masyarakat. Kemudian Yesus menampakkan diri kepada murid-murid-Nya.

Saudara-saudara, kalau saya yang bangkit, orang pertama yang saya akan datangi adalah Kayafas. Dia lagi tidur lalu saya akan toel-toel dia, dia buka mata, saya akan tersenyum. Dia langsung jantungan saat itu. Saya tidak tahu kenapa Yesus pakai cara ini. Dia tidak memproklamirkan bahwa diri-Nya itu benar, dianggap benar oleh Allah di depan semua orang yang membenci Dia. Dia tunggu. Anak Manusia yang merendahkan diri-Nya secara aktif, maka secara pasif Dia menunggu waktu Bapa di sorga memproklamirkan diri-Nya. Pada saat itu, Allah di sorga mengatakan, “Lihat, Dia datang dengan awan-awan.” Semua manusia harus lihat Dia dan juga semua yang sudah memakukan-Nya. Lihat Dia! Raja Gereja kita sangat rendah hati. Dia menunggu waktu dari deklarasi kemenangan-Nya. Wahyu Yohanes dilihat Yohanes di Pulau Patmos. Di saat seperti itu, Yohanes dan gereja-gereja yang baru itu semuanya berada di dalam penderitaan yang besar. Penglihatan ini dan kitab ini diberikan kepada gereja yang sedang menderita pada waktu itu, untuk memperlihatkan bahwa sesungguhnya bukan tentara Romawi ini yang menang, tetapi sesungguhnya yang mengontrol segala sesuatu adalah Kristus Yesus yang sudah naik di atas tahta Allah.

Di dalam penglihatan Yohanes, Yohanes melihat melampaui jaman sesuatu yang pasti terjadi. Dikatakan di sini, Kristus itu datang dengan awan-awan. Apa artinya? Ini menyatakan keilahian dan kemuliaan Yesus Kristus. Ini adalah penggenapan dari Daniel 7:13. Kalau saudara-saudara melihat Daniel 7:13, maka saudara-saudara akan melihat kalimat Daniel yang menyatakan, “Aku terus melihat dalam penglihatan malam itu, tampak datang dengan awan-awan dari langit seorang seperti Anak Manusia; datanglah Ia kepada Yang Lanjut Usianya itu, dan ia dibawa ke hadapan-Nya. Lalu diberikan kepadanya kekuasaan dan kemuliaan dan kekuasaan sebagai Raja, maka orang-orang dari segala bangsa, suku bangsa dan bahasa mengabdi kepadanya. Kekuasaannya ialah kekuasaan yang kekal, yang tidak akan lenyap dan kerajaannya ialah kerajaan yang tidak akan musnah.’

Saudara-saudara, ketika berbicara mengenai Yesus yang datang dengan awan-awan, maka pada waktu Dia naik ke sorga juga dengan awan-awan. Ini adalah bicara berkenaan dengan Shekinah Glory (kemuliaan Allah yang hadir). Alkitab dengan jelas berkali-kali menyatakan, Allah yang terang itu adalah Allah yang berjalan dengan awan yang kelam. Awan menyatakan kemuliaan Allah. The Son of Man (Anak Manusia itu), kata itu ketika dinyatakan bicara mengenai keilahian Kristus. Alkitab menyatakan semua mata akan melihat, maka ini bicara berkenaan dengan sesuatu yang universal, engkau dan saya akan melihat, juga semua orang jahat, semua orang yang menikamnya. Ya, ini adalah ayat yang menyatakan kepastian pengadilan Yesus Kristus, tetapi juga berbicara kepada orang-orang yang tidak mau bertobat, karena kita semua ada di dalam pengadilan itu. Saudara-saudara, biarlah kita boleh menyadari yang melawan Yesus pada malam hari itu, yang menyalibkan Yesus pada hari itu, yang meludahi Yesus pada hari itu, akan melihat kedatangan Yesus dengan awan-awan. Tetapi ini juga berbicara bahwa semua orang yang tidak mau mempercayai Kristus, semua orang yang tidak mau bertobat, apa pun agamanya, apakah itu juga kekristenan, akan masuk di dalam pengadilan hari itu. Ayat ini juga mengatakan dan bangsa-bangsa di bumi akan meratapi Dia, itu artinya bahwa Kristus pada hari itu akan membalas musuh-musuh-Nya. Ini bukan ratapan pertobatan atau dukacita, tetapi ini adalah ratapan putus asa. Zakaria 12 menyatakan ini adalah seperti seseorang yang kehilangan anak laki-lakinya, anak sulungnya, yang memukul-mukul dada mereka dengan ratapan keputusasaan. Di dalam Wahyu 6 dinyatakan orang-orang yang tidak beriman akan menyembunyikan diri di dalam gua-gua dan celah-celah gunung dan mereka itu meratap, berteriak dengan suara yang nyaring kepada gunung itu dan kepada batu karang itu dan mengatakan, “Runtuhlah menimpa kami. Matikan kami supaya kami tidak melihat murka Anak Domba. Runtuhlah menimpa kami dan matikan kami, supaya kami tidak menghadapi murka Anak Domba itu.”

Apa arti sesungguhnya Wahyu 1:7 ini? Seluruh kalimat ini menyatakan Kristus di dalam kemuliaan-Nya akan menghakimi semua umat manusia. Allah di sorga menyatakan kepada kita semua, “Behold… Lihatlah Dia datang dengan awan-awan.” Apa yang diinjak-injak oleh Pilatus itu sekarang diproklamirkan sendiri oleh Allah di sorga. Lihatlah Manusia ini. Lihatlah Manusia ini. Dia datang dengan awan-awan. Seluruh manusia akan melihat Dia dan seluruh bangsa akan meratap karena Dia. Saudara-saudara, perhatikanlah. Di dalam sejarahnya kita, penglihatan Yohanes ini belum terjadi. Mata Yohanes itu menembus waktu, diberikan penglihatan oleh Allah akan sesuatu yang pasti terjadi. Kalau ini ditulis di dalam Kitab Wahyu untuk kita jemaat Tuhan sesungguhnya, apa maksud Tuhan menyatakan kalimat ini kepada kita? Apa maksud Tuhan menyatakan kalimat ini kepada gereja sepanjang masa? Apa maksud Tuhan menyatakan sesuatu hal yang pasti terjadi di depan ini kepada Yohanes? Maka ini adalah suatu desakan, urgensi dari Allah meminta perhatian kita, seakan-akan Allah itu menyatakan berhentilah sebentar. Berhentilah sebentar dan pikirkanlah jam yang dinantikan itu semakin mendekat. Datanglah kemari. Perhatikan. Pikirkan sungguh-sungguh, karena pasti setiap mata akan melihat peristiwa ini. Aku mau pastikan kepadamu jemaat-Ku, matamu pasti akan melihat Dia datang dengan awan-awan. Behold the Man!

Ini bukan lagi masalah pilihan atau preferensi. Allah menyatakan ini adalah kebutuhanmu. Kebutuhanmu! Secara tegas Dia menyatakan ini adalah kebutuhan kita. Allah mau menyatakan apakah engkau manusia sadar bahwa kita sedang ditarik oleh Allah dengan kekuatan-Nya yang tidak terlihat tetapi tidak tertahankan untuk menuju kepada titik ini, untuk melihat Kristus datang dengan awan-awan. Perhatikan baik-baik! Saya sungguh-sungguh bergantung kepada Roh Kudus untuk memasukkan kalimat ini ke dalam hati kita. Saat ini Allah sedang dengan kekuatan yang tidak terlihat, tetapi tidak tertahankan menarik semua dari kita dibawa ke hadirat-Nya untuk mendapati diri kita akan didakwa di hadapan Hakim semesta Allah, Anak Domba yang telah tersembelih. Sekali lagi, kalimat ini begitu penting. Ketika saya mendapatkannya, saya sangat-sangat terkejut. Saat ini Allah sedang menarik kita dengan kekuatan yang tidak terlihat, dengan kekuatan yang tidak tertahankan, untuk membawa kita menuju kepada tahta pengadilan itu. Itulah sebabnya maka Yohanes berteriak, “Lihatlah! Dia datang dengan awan-awan.” Kita sedang ditarik oleh Allah menuju kepada titik itu. Mau tidak mau saudara harus melihat Dia! Behold the Man! Ini bukan saja invitation lagi, tetapi ini adalah desakan, suatu urgensi. Saudara dan saya harus menetapkan hal ini. Ini adalah sesuatu yang tidak mungkin terhindarkan dari hidup kita. Suka atau tidak, Allah menyeret seluruh umat manusia ke titik itu! Kita sungguh-sungguh diberikan peringatan oleh Tuhan dari ayat ini. Tetapi sebaliknya, secara paradoks kalimat ini diberikan kepada kita saat kita hidup. Kalimat ini pasti akan terjadi dan kita ditarik menuju kalimat ini. Mau tidak mau akan melihat Dia untuk menghakimi kita. Tetapi ini belum terjadi pada kita saat ini, tetapi pasti akan terjadi. Maka ini adalah kalimat peringatan. Ini adalah kalimat untuk mengantisipasi ke depan. Maka paradoksnya yaitu ini adalah kalimat peringatan yang keras, kalimat hajaran untuk membuat kita sadar.

Tetapi ini adalah kalimat cinta untuk membuat saudara bertobat pada hari ini. Kalimat cinta untuk membuat saudara dan saya menyadari hal ini, untuk saudara bisa sungguh-sungguh melihat Manusia ini dan takluk kepada Dia sebelum hari penghakiman yang besar itu terjadi. Yohanes memproklamasikan apa yang dilihatnya. Behold the Lamb of God! Dia mendengarkannya dari Yohanes Pembaptis. Behold the Man! Dia mendengarkannya dari Pilatus. Tetapi sekarang Allah sendiri mengungkapkan tentang Anak-Nya. Lihat Dia, Dia datang dengan awan-awan. Allah sendiri yang memproklamirkan! Itu membuat Yohanes gemetar, membuat Yohanes mau mati. Dia tahu itu adalah satu sumber keselamatan bagi manusia jikalau manusia mau memperhatikan kalimat ini. Maka sekarang dia memproklamirkan kepada seluruh gereja. Behold! Lihatlah Dia akan datang dengan awan-awan. Sekarang saya akan tutup dengan kepastian ini. Perhatikan baik-baik. Yesus datang pertama kali dalam penghinaan, Dia akan kembali dengan kemuliaan. Dia datang pertama kali untuk dibunuh, Dia akan datang kembali untuk membunuh. Dia datang pertama kali untuk melayani, Dia akan datang untuk dilayani. Dia datang pertama kali sebagai hamba yang menderita, Dia akan datang kembali sebagai Raja penakluk. Tantangan yang dibuat di dalam Kitab Wahyu ini bagi setiap manusia adalah supaya setiap manusia bersiap dengan kedatangan-Nya kembali, karena mau tidak mau, setiap manusia yang hidup atau yang mati akan melihat Manusia ini di dalam kemuliaan-Nya.

Apakah hati kita mau takluk? Apakah kita mengantisipasi, mempersiapkan diri terhadap kalimat ini yang muncul ketiga kali pada waktu Dia datang untuk kedua kali? Kiranya Tuhan memberikan takut akan Dia dalam hidup kita.

Alamat

556 - 558 Botany Road, Alexandria, NSW, 2015
sekretariat@griisydney.org
0422690913
0430930175

Social Media

Facebook GRII Sydney Instagram GRII Sydney Twitter GRII Sydney


Google Play Store
App Store

^