[simple_crumbs root="Home" /]
kembali

2 April 2021

Pdt. Agus Marjanto, M.Th

Behold The Man (1)

Yohanes 19:1-6

“Lihatlah Manusia itu!” Kalimat itu diucapkan oleh Pilatus pada waktu semua orang Yahudi membawa Yesus kepada dia untuk diadili. Ratusan orang, dan kemudian menjadi ribuan orang membawa Yesus Kristus dengan benci dan menuduh dengan tuduhan palsu kepada Pilatus. Yesus dituduh mau menggulingkan Kaisar. Yesus dituduh membuat keributan di seluruh Israel. Yesus dituduh mengajarkan untuk tidak boleh membayar pajak kepada Kaisar. Kemudian Pilatus melihat seluruh rakyat itu, maka mau tidak mau Pilatus akhirnya menyesah Yesus Kristus. Dan setelah itu, dia membawa Yesus keluar, Yesus yang dagingnya itu sudah tercabik-cabik. Yesus hampir mati pada waktu itu. Dan Pilatus itu mempertontonkan Yesus di depan semua orang yang beringas itu dan mengatakan: “Lihat Manusia ini!” Kita akan memikirkan kalimat ini. Pilatus bukan orang benar. Tetapi Allah dapat memakai orang yang tidak benar menjadi hamba-hamba-Nya. Dan dari mulut orang yang tidak benar, Allah dapat menitipkan kalimat untuk dinyatakan. Dia adalah Allah yang berdaulat yang boleh memakai siapapun saja, baik itu orang benar maupun orang yang tidak benar. Di dalam Alkitab pernah Allah itu mengatakan Cyrus hamba-Ku itu. Ini adalah raja Xerxes, dan dia adalah raja yang jahat dari Media Persia. Tetapi Alkitab menyatakan Allah menyatakan: dia hamba-Ku. Dan di dalam Yohanes 11, suatu saat Kayafas itu mengatakan sesuatu setelah Yesus membangkitkan Lazarus. Dia mengatakan: “Yesus akan mati untuk bangsa itu.” Yohanes mencatat Kayafas bernubuat dan Yohanes kemudian menambahkan, nubuatan itu, Yesus mati bukan saja untuk bangsa Israel tetapi untuk seluruh bangsa, mempersatukan anak-anak Allah yang tercerai-berai. Siapa Cyrus? Adalah orang jahat. Siapa Kayafas? Adalah orang jahat. Siapakah Pilatus? Adalah orang jahat. Kadang kita tidak bisa mempercayai kalimat-kalimatnya. Tetapi kadang Alkitab meneguhkan kalimatnya, dipakai oleh Allah dalam pengertian yang mereka sendiri tidak pernah pikirkan. Kadang kalau kita melihat seseorang hamba Tuhan bernubuat, lalu nubuatannya jadi, kita berkata: “Ini pasti hamba Tuhan yang benar.” Padahal itu sesuatu yang salah di dalam Alkitab. Sebaliknya, di dalam Alkitab, Yunus itu pernah bernubuat: “40 hari lagi Niniwe akan ditunggangbalikkan.” Tetapi kalimatnya tidak jadi, padahal Yunus seorang benar. Gereja harus menyadari dan belajar bagaimana melihat satu nabi itu sejati atau tidak. Pilatus mengatakan: “Lihatlah Manusia itu.” Ini menyatakan sesuatu yang luar biasa penting. Kalimat ini sungguh-sungguh penting dan Tuhan memakai kalimat ini untuk kita pikirkan meskipun ini di luar pengertian Pilatus itu sendiri. Ketika Pilatus mendeklarasikan: “Lihatlah Manusia ini.” Apa artinya? Apa yang Tuhan ingin kita itu lihat dari Manusia ini?

Pertama, kalimat ini adalah kalimat perendahan jabatan, keadaan, kehormatan dari Yesus Kristus. Perendahan jabatan Kristus, perendahan keadaan diri Yesus dan perendahan kehormatan/nilai Kristus Yesus. Jabatan-Nya adalah Manusia biasa bukan Raja. Lihatlah Manusia ini. Keadaan-Nya adalah keadaan yang menyedihkan, tidak sehat, tidak gagah, tidak kuat, sudah disesah, dimahkotai duri, Dia dipertontonkan seperti badut di sirkus yang ditonton orang banyak. Di dalam bahasa aslinya, apa yang mau dikatakan Pilatus adalah: Lihat, Orang yang kasihan sekali seperti ini. Lihat, Dia baru saja disesah dan tidak bisa apa-apa. Lihat, begitu memalukan bukan? Lihat, mahkota duri yang dipakai itu. Lucu bukan? Lihat, Dia tidak ada apa-apanya. Hei, orang-orang Yahudi engkau mengatakan kepadaku bahwa Dia itu Raja yang akan menggulingkan kaisar, apakah kamu itu bercanda? Dia tidak berbahaya. Dia bukan ancaman yang besar. Manusia ini tidak pantas engkau curigai. Engkau jangan merasa terancam dengan Manusia yang tidak ada apa-apanya seperti ini. He is nothing. Itulah kalimat Pilatus. Itu yang dimaksud oleh Pilatus. “Lihatlah Manusia itu!” Yesus sudah dicambuk pada waktu itu. Diberi jubah bekas tentara Romawi yang sudah rusak dan kotor. Dia diberikan buluh dan bukan tongkat emas seorang raja. Dimahkotai duri dan bukan mahkota emas seperti seorang raja. Dia diberi salam, “Salam, hai Raja orang Yahudi” lalu kemudian ditampar dan diludahi. Jubah itu untuk mengolok-olok Dia. Bagi mereka, prajurit dari Roma, jubah itu menyatakan aib dan cela bagi Yesus. Yesus dianggap sebagai seorang yang berkhayal/melamun sebagai seorang raja, raja yang palsu dan semua ajaran-Nya dianggap isapan jempol belaka.

Bukan itu saja, Dia dimahkotai duri. Mahkota duri ini adalah suatu tindakan yang arti sesungguhnya itu tidak diketahui oleh para prajurit, tetapi kita, orang Kristen yang mengerti Firman Tuhan, begitu jelas bagi kita. Para prajurit itu melihat semak-semak duri kemudian mereka mengambil, menganyamnya, dan kemudian memahkotai Yesus Kristus sehingga seluruh darah-Nya mengucur dari kepala-Nya. Perhatikan baik-baik. Di dalam kitab Kejadian, duri adalah tumbuhan yang merupakan kutukan Allah bagi bumi ini setelah manusia jatuh di dalam dosa. Sebelumnya tidak ada duri di muka bumi ini. Duri muncul karena hasil kutukan Allah karena manusia tidak taat. Kalau saudara-saudara membaca Ibrani 6:7-8, sekali lagi duri itu dikaitkan dengan ketidaktaatan dan kutukan. Ibrani 6 tidak sedang berbicara berkenaan dengan agriculture, saudara-saudara. Ibrani 6 berbicara berkenaan dengan kerohanian/ keadaan hati manusia yang setia pada Tuhan dan yang murtad kepada Tuhan. Dan dia digambarkan dengan orang yang menerima berkat atau menerima kutuk dari Tuhan. Duri selalu dikaitkan dengan ketidaktaatan dan kutukan. Sekarang perhatikan baik-baik apa yang menjadi mahkota Yesus Kristus. Mereka menggunakan benda hasil ketidaktaatan, hasil kutukan itu untuk dipakai sebagai mahkota Yesus, padahal Kristus adalah Manusia yang paling taat. Saudara-saudara bisa melihat ini adalah benar-benar merendahkan kehormatan Kristus, nilai Kristus. Yesus dipertontonkan dengan mahkota ketidaktaatan. Mahkota kutuk. Suatu mahkota yang, sebenarnya, di atas kepala kitalah, kita harus memakainya. Apa sih pencapaian tertinggi manusia yang menjadi mahkota kita? Ketidaktaatan. Kalau saudara-saudara menyekolahkan anak-anak saudara di Sydney, setiap term mereka selalu akan mendapatkan sertifikat. Ada akademik sertifikat, ada sport sertifikat, ada merit sertifikat dan banyak sertifikat yang lain. Kalau gurunya itu sepanjang satu term melihat anak kita ini baik misalnya, suka membantu temannya, pro-aktif kepada gurunya. Maka gurunya terkesan dan dia melihatnya dan kemudian pada akhir term itu, dia akan memberikan sertifikat yang merupakan penghargaan bagi anak kita dan itu menjadi kebanggaan anak kita. Dan biasanya mereka pulang ke rumah dan menunjukkan: “Papa, Mama, ini aku dapat sertifikat.” Jikalau Allah memberlakukan kita seperti ini, tiap hari memandang kita dengan mata-Nya yang kudus ketika kita di kantor, di kampus, di gereja atau ketika kita sendirian, apa yang akan kita dapatkan? Setiap hari mungkin puluhan sertifikat ketidaktaatan. Berapa sertifikat ketidaktaatan yang kita dapatkan setiap hari? Dan itu kumpulkan sepanjang satu term, satu tahun dan seumur hidup kita. Apa sih pencapaian tertinggi manusia? Apa yang menjadi mahkota kita? Adalah ketidaktaatan kepada Allah yang menghasilkan kutukan. Itu mahkota kita. Tetapi itu sekarang diberikan kepada Kristus, satu pribadi yang paling taat mutlak kepada Bapa-Nya. Dan beberapa jam lagi, Allah akan meremukkan Kristus di atas kayu salib karena ketidaktaatan ini. Bukan ketidaktaatan Dia, tetapi Alkitab mengatakan: “Dia dikenai kutuk karena seluruh dosa kita ditimpakan kepada Dia.” Perhatikan Manusia ini, satu Pribadi yang paling tinggi yang direndahkan. Dijadikan bahan olok-olokkan. Dia dipermalukan di dalam seluruh dimensi kehidupan-Nya, jabatan-Nya, keadaan-Nya, dan nilai-Nya.

Behold the Man. Lihatlah Manusia itu. Apa arti yang lain? Hal yang kedua artinya ini adalah proklamasi Juruselamat kita dengan penegasan natur kemanusiaan-Nya. Ini adalah proklamasi Juruselamat yang diutus Allah ke dunia ini dengan penegasan natur kemanusiaan-Nya. Dengan jelas Alkitab menyatakan Yesus Kristus adalah Juruselamat, Mesias yang ditunggu-tunggu. Dan Dia adalah Allah oknum kedua Tritunggal yang rela turun ke dunia mengenakan daging seperti saudara dan saya. Dia adalah satu Pribadi dengan dua natur Allah yang sejati dan manusia yang sejati. Di dalam ayat ini, penekanannya adalah Yesus benar-benar manusia yang sejati. Ini adalah bicara berkenaan dengan penekanan natur kemanusiaan dari Juruselamat yaitu Yesus Kristus. Sekarang saya akan elaborasi prinsip ini dan untuk itu kita harus membacanya dari kacamata Rasul Yohanes penulis kitab ini. Salah satu keunikan kitab Yohanes dibandingkan dengan Injil sinoptik yang lain ialah Yohanes memulainya dengan statement teologi. Dia bukan memulainya dengan apa yang dilihat di dalam keseharian di dalam sejarah, misalnya saja Matius dan Lukas mencatat Yesus lahir. Markus mencatat Yohanes Pembaptis pertama kali datang lalu nanti Yesus dibaptis itu adalah tulisan Markus. Tetapi Rasul Yohanes itu mengikuti Yesus, memperhatikan Yesus secara teliti dan kemudian mengambil kesimpulan yang menembus langit dan menembus zaman dan meletakkan pada kalimatnya yang pertama: Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Semua kalimat yang ditulis oleh Yohanes sejak pertama dan seluruh buku ini dituliskan setelah Yesus mati, bangkit, dan naik ke Surga. Semua kalimat ini tidak dikatakan atau tidak dituliskan pada waktu dia pertama kali melihat Yesus dan mengikuti Yesus. Sekali lagi dia belum menuliskan kalimat ini ketika dia masih bersama dengan Yesus, dia hidup, dia tinggal, dia mengamati Yesus dan setelah Yesus naik ke Surga baru dia menuliskan. Rasul Yohanes menulis buku ini, sebelumnya dia adalah murid Yohanes Pembaptis. Sampai suatu hari, Yohanes Pembaptis dengan dirinya dan Andreas sedang berjalan di sekitar sungai Yordan dan bertemu dengan Yesus Kristus dan Yohanes Pembaptis yang penuh dengan Roh Kudus yang mengerti seluruh dari Perjanjian Lama terbakar hatinya mengingat seluruh pasal, seluruh ayat Perjanjian Lama dan Roh Kudus bekerja mereduksi semuanya dengan satu kalimat saja: Lihatlah, Anak Domba Allah! Dia adalah seorang reduksionis terbesar di seluruh dunia yang pernah hidup. Dia meniliti seluruh Perjanjian Lama dan menemukan satu kalimat yang merupakan inti dari seluruh Perjanjian Lama: Lihat, Anak Domba Allah! Matanya menunjuk kepada Yesus Kristus. Lalu saudara akan menemukan cerita bahwa Andreas dan Yohanes rasul, mengikut Yesus sejak saat itu. Ini adalah teladan hamba Tuhan. Yohanes Pembaptis adalah teladan hamba Tuhan di sepanjang masa. Hamba Tuhan haruslah membawa orang untuk melihat dan mengikuti Yesus bukan melihat dan mengikuti hamba Tuhan itu. Makin hari makin hamba Tuhan itu boleh tidak dikenal, dilupakan, ditinggalkan. Tetapi biarlah orang-orang itu bertumbuh mengenal Kristus lebih dalam. Yohanes Pembaptis mengatakan: “Biarlah Dia makin besar dan aku makin kecil.” Yohanes Pembaptis menunjuk kepada Yesus Kristus: “Lihatlah, Anak Domba Allah!” Dan Yohanes rasul kemudian mengikuti Dia. Dari murid Yohanes Pembaptis sekarang mengikuti menjadi murid Yesus Kristus.

Jelas pada waktu Rasul Yohanes mengikuti Yesus, pengertian-pengertiannya itu tidak lengkap. Yohanes perlahan demi perlahan mengenal Yesus. Melihat Yesus mengajar. Melihat Yesus melakukan mujizat. Melihat Yesus menegur orang. Seluruhnya diperhatikan baik-baik oleh Yohanes rasul. Pengenalan akan Yesus makin lama makin bertumbuh. Kurang lebih adalah tiga tahun atau tiga tahun setengah. Tetapi banyak kalimat Yesus khususnya berkenaan dengan penderitaan-Nya yang masih tidak diketahuinya. Dia tidak tahu apa artinya Yesus mengatakan bahwa Aku akan pergi ke Yerusalem dan disesah dan dimatikan dan pada hari ketiga bangkit. Sampai suatu malam ia ikut menemani Yesus berdoa di taman Getsemani. Seperti biasa dia menemani Yesus ke mana pun saja. Dan Yesus meminta dia berdoa tetapi dia sangat-sangat kelelahan dan tertidur. Tiba-tiba dia terbangun karena ada puluhan sampai ratusan orang itu datang ke tempat itu. Ada keriuhan. Ada hal yang jahat terjadi. Dan Yesus itu kemudian ditangkap. Dan cepat-cepat Yesus itu dibawa ke tempatnya pengadilan Hanas, Kayafas, dan Sanhedrin. Dan Yohanes itu secara sembunyi-sembunyi mengikuti-Nya satu per satu. Sampai kemudian dia melihat sendiri bagaimana Yesus itu diadili oleh Pilatus, dicambuk, dimahkotai duri. Bagaimana kulitnya itu keluar; copot satu per satu. Bagaimana Yesus itu diberikan jubah ungu, diludahi, ditampar, diolok-olok lalu kemudian Yesus yang sungguh tidak berdaya itu kemudian dipamerkan di depan ribuan orang Yahudi. Dan kemudian Yesus Kristus yang diolok-olok itu dinyatakan oleh Pilatus, “Lihatlah Manusia ini!” Dan semua orang itu berteriak, “Salibkan Dia! Salibkan Dia! Salibkan Dia!” Perhatikan baik-baik. Lihat apa yang ada di dalam pikiran Yohanes rasul. Saat itu, dia menjadi terbuka, mengerti kalimat gurunya Yohanes Pembaptis, “Behold, the Lamb of God!” Dia sekarang baru bisa menggabungkan dua kalimat ini. Dia sekarang mengerti mengapa kalimat Domba Allah ini keluar dari mulut Yohanes Pembaptis, gurunya menunjuk kepada Yesus Kristus. Manusia Yesus Kristus ini, Dialah Domba Allah yang dikorbankan ini. Dialah Domba Allah yang menghapus dosa manusia. Dia mengerti sekarang apa yang ada dalam pikiran Yohanes Pembaptis bahwa Domba yang diremukkan itu adalah Manusia Yesus Kristus yang disembelih ini.

Dan setelah kejadian seluruhnya ini dan sampai Yesus naik ke surga maka Yohanes mengambil lembaran kertas, dan dia menuliskan satu kalimat demi satu kalimat. Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita. Ia telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan oleh-Nya, tetapi dunia tidak mengenal-Nya. Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya. Yohanes baru bisa menggabungkan seluruh pasal ini. Yohanes tahu sekarang dia melihat Manusia Kristus yang dibuang ini; Manusia yang dihina ini adalah inti dari seluruh Kitab Perjanjian Lama yang diproklamirkan oleh gurunya. Melihat Yesus Kristus yang dipermalukan ini, melihat Juruselamat manusia yang ditunggu-tunggu. Dan Juruselamat itu adalah Allah yang menjadi daging. Firman yang menjadi daging. Pribadi Kedua Allah Tritunggal yang mengenakan daging agar dapat menderita dan mati di atas kayu salib untuk menerima akibat dosa, menerima murka Allah yang harusnya timpa kepada saudara dan saya. Dialah Anak Domba Allah. Lihatlah Manusia itu! Dialah Domba Allah. Yohanes menekankan Kristus adalah Allah yang menjadi manusia. Kristus adalah Manusia yang taat sepenuhnya untuk melakukan hukum-hukum Allah. Kristus adalah Manusia yang menjadi wakil kita untuk melakukan kehendak Allah. Kristus adalah Manusia yang tidak bercacat cela yang diremukkan oleh Allah untuk membayar seluruh hutang kita kepada Dia. Pada Manusia Kristus ini satu-satunya jalan keselamatan kita.

Behold the Man! Kata “behold” itu sangat-sangat peka ketika itu ada ditulis oleh Yohanes. Saudara perhatikan baik-baik. Behold the Lamb of God dan Behold the Man seluruhnya itu ditulis dari satu tangan, Yohanes. Apa maksud Yohanes? Adalah seperti diriku yang mengamat-amati Yesus, amatilah Manusia ini. Yohanes mau kita melihat Yesus dengan sungguh-sungguh. Memusatkan perhatian kepada Dia. Memperhatikan Dia dengan perhatian khusus dan cermat. Merenungkan Kristus dengan teliti karena siapa yang dapat sesungguhnya melihat Kristus maka dialah yang mendapatkan berkat dari Allah; dialah yang akan diselamatkan. Saudara-saudara jangan ikut-ikutan orang banyak. Jangan ikut kepada temanmu, atau kepada keluargamu, atau kepada mama papamu. Kalau saudara-saudara sekarang duduk di tempatmu sekarang ini, dan mendengarkan suara saya, saya tanya kepadamu: Apakah engkau memperhatikan Yesus Kristus atau tidak? Atau engkau cuma ikut-ikutan dengan teman sebelahmu, atau dengan papa mamamu, atau dengan anakmu, engkau ikut-ikutan di sini? Ketika engkau pergi ke gereja ini, apakah engkau sungguh-sungguh mau memperhatikan Manusia ini? Dan juga ketika engkau melayani, apakah engkau sungguh-sungguh melihat Dia, mengetahui siapa Dia sesungguhnya? Saya bicara juga kepada semua orang di Cantate Deo sekarang, dan semua orang-orang remaja-remaja di tempat ini, apakah engkau datang dan engkau melayani karena mengikut orangtuamu saja? Saya katakan kepadamu, anak-anak muda, “Perhatikan Manusia ini. Perhatikan Manusia Yesus Kristus!” Jikalau engkau hanya ikut-ikutan orang, maka Alkitab mengatakan orang-orang yang ikut-ikutan itu melihat Yesus dengan keledai masuk ke Yerusalem, semuanya bertepuk tangan. Dan kemudian mereka semua mengatakan, “Raja, Raja. Engkau Raja!” Ah sebelah kanan saya bilang raja; sebelah kiri bilang raja, “Iya, Raja, Raja, Raja!” Sebelah kiri bilang Hosana; sebelah kanan bilang Hosana, “Iya Hosana, Hosana!” Semua orang mengikuti rakyat semuanya. Tetapi beberapa hari kemudian semua orang itu mengatakan, “Salibkan Dia! Salibkan Dia! Salibkan Dia!” Juga kita bicara, “Salibkan Dia! Salibkan Dia!” Jangan mengikut satu orang pun di dalam poin ini. Perhatikan baik-baik. Ini adalah momen eksistensial. Engkau tidak bisa diarahkan oleh suami atau isteri atau orangtua atau anak. Ini dipakai oleh Tuhan untuk berbicara secara pribadi kepada engkau dan saya. Behold the Man! Ketika Pilatus itu mengatakan: Behold the Man! Maka saudara bisa melihat ada beberapa respon.

Pertama, Pilatus sendiri. Apa responnya? Kasihan. Kedua, adalah pemimpin-pemimpin agama. Behold the Man! Kemudian responnya apa? Salibkan Dia! Salibkan Dia! Ketiga, orang-orang Yahudi, massa yang lain yang banyak. Lihatlah Manusia ini! Maka kemudian mereka dalam hati mengatakan: Aku tidak peduli; mau apa silahkan, mau teriak-teriak, silahkan, mau ngajar silahkan, mau nangis silahkan. Eh begitu ada bagi-bagi hadiah, makanan banyak; mujizat banyak, aku datang; aku tidak peduli. Aku tidak peduli siapa Engkau; Engkau mau 100% Allah, 100% manusia saya tidak peduli. Mau 70:30 juga, boleh, tidak masalah. O Allah mengirimkan Anak-Nya yang Tunggal, Tuhan kita Yesus Kristus; wah aku tidak peduli mau anaknya tiga, mau empat terserah. Behold the Man! Aku tidak peduli, sejauh Engkau kasih sama aku berkat. Aku tidak akan peduli. Aku bahkan tidak peduli aku pergi ke gereja atau tidak. Jujur di hadapan Allah. Dalam gereja ini pasti ada orang yang tidak peduli pun ketika saya berteriak-teriak. Semakin berteriak semakin dihina. Semakin berteriak semakin dikritik. Engkau hadap sendiri sama Tuhan. Saya sudah sebagai hamba Tuhan nyatakan dengan sepenuh hati saya. Saya tidak peduli. Saya datang ke sini cuma janjian nanti habis ini mau pergi. Atau kemungkinan keempat. Dan kemungkinan keempat ini tidak bisa dibuat-buat. Ini hanya diberikan oleh Allah melalui Roh Kudus-Nya yang mengasihi kita kalau itu ada hari ini. Yohanes ada di dalam kerumunan itu. Semua orang: Salibkan Dia! Salibkan Dia! Dan ada yang tidak peduli. Kalau itu terjadi sekarang mungkin satu dengan yang lain lagi lihat youtube apa yang terjadi,news,chatting, whatsapp, apa pun saja tidak peduli. Tetapi ketika Pilatus mengatakan: Behold the Man! Maka Yohanes langsung teringat satu kalimat, Behold the Lamb of God! Air matanya mengalir, hatinya hancur. Dia tahu seluruh keselamatan akhirnya tergantung kepada Manusia ini. Dia tahu hidup matinya manusia itu tergantung Dia mau mati atau tidak. Dan saya akan akhiri. Pilatus kemudian mengatakan kepada orang Yahudi: “Apa yang engkau mau aku lakukan untuk engkau?” Hai orang Yahudi, apa yang engkau mau aku lakukan untukmu? Itu artinya Pilatus mengatakan: Apa maumu kepada orang ini? Semua orang mengatakan: Salibkan Dia! Salibkan Dia! Tetapi di dalam hati Yohanes, dia melihat Orang ini, dan dia menundukkan kepalanya. Dan hatinya berlutut di hadapan Orang ini. Dia mengatakan: Jadilah Tuanku, jadilah Tuhanku. Lakukan apa yang Engkau mau bagiku. Jadilah Tuhanku.

Hanya ada dua jenis manusia. “Salibkan Dia! Enyahlah Engkau dari padaku.” Atau yang kedua: “Jadilah Tuanku.” Saudara ada di mana? Jangan seperti prajurit itu yang membuat Yesus itu raja-rajaan. Engkau mengaku Dia dengan mulutmu raja, tetapi di dalam hidup kita sehari-hari tidak pernah mentuhankan Dia, merajakan Dia. Ataukah engkau pada pagi hari ini mau kembali katakan: Tuhan jadilah Tuanku. Lihatlah Manusia ini! Dan apa yang saudara dan saya mau lakukan kepada Dia? Kiranya Tuhan mengasihani kita.

Alamat

556 - 558 Botany Road, Alexandria, NSW, 2015
sekretariat@griisydney.org
0422690913
0430930175

Social Media

Facebook GRII Sydney Instagram GRII Sydney Twitter GRII Sydney


Google Play Store
App Store

^