[simple_crumbs root="Home" /]
kembali

28 March 2021

Pdt. Agus Marjanto, M.Th

Man of Sorrows (4)

Yesaya 53:10

Kita terus-menerus memikirkan kepala gereja kita, Yesus Kristus. Apa yang sesungguhnya terjadi pada 2000 tahun yang lalu ketika Dia di atas kayu salib. Mengapa ini terjadi? Apa yang menjadi motivasi-Nya? Apa sesungguhnya perlakuan orang-orang kepada Dia? Dan apa sesungguhnya yang Tuhan nyatakan melalui peristiwa ini? Hal-hal seperti ini adalah hal-hal yang harus kita minta pengertian dari Tuhan kita. Kalau tidak, maka kita hanya melihat Yesus sebagai salah satu manusia yang mati di atas kayu salib. Bukankah yang mati di atas kayu salib itu begitu banyak? Setiap orang yang melakukan pemberontakan besar, orang Romawi akan menangkapnya dan dijatuhi hukuman mati di atas kayu salib. Lalu apa bedanya dengan manusia Yesus Kristus yang mati di atas kayu salib dengan seluruh manusia lain yang mati di atas kayu salib? Kalau Roh Kudus tidak membukakannya kepada kita, maka mata kita akan tertutup. Kalau Roh Kudus tidak membukakan mata kita, maka paling utama, paling puncak, yang kita bisa lakukan hanya menangis seperti perempuan-perempuan Yerusalem yang kasihan kepada Yesus Kristus.

Yesaya adalah seorang yang dipakai oleh Tuhan untuk membukakan sesungguhnya apa yang terjadi pada Yesus dipaku di atas kayu salib. Dalam Yesaya 53 menyatakan penderitaan-Nya, Yesaya menyatakan apa yang menyebabkan penderitaan-Nya yaitu dosa-dosa manusia. Yesaya menyatakan bagaimana Dia bisa menanggung penderitaan sampai mati sedemikian rupa adalah karena Dia diam. Kelembutan hati Yesus Kristus untuk menanggung seluruh kehendak Allah masuk ke kota Yerusalem untuk diadili dan mati di sana. Hari ini, 2000 tahun lebih yang lalu, Yesus mengendarai seekor keledai dari Betania, Betfage masuk ke Yerusalem. Hari ini adalah hari Minggu Palma dan Yesus masuk. Alkitab mengatakan ini adalah perarakan seorang raja. Tetapi ada banyak hal yang unik terjadi di situ. Dia datang tidak mengendarai seekor kuda, Dia datang mengendarai seekor keledai. Tidak ada jenderal, panglima, pemenang perang yang mau dihargai raja dengan keledai. Makin saya melihat Firman, makin saya terpesona. Mengapa Dia, Raja, menggunakan keledai? Mengapa Dia, Juruselamat, mati di atas kayu salib? Mengapa ketika Dia dihina, ribuan orang mencemooh di depan mata mereka seakan-akan Dia seorang penjahat? Ketika Dia dihina, di depan semua orang pada siang hari, tetapi kenapa Dia bangkit pada pagi-pagi benar, semua orang tidak ada yang memperhatikan? Kenapa ketika Juruselamat itu datang, yang pertama kali tahu adalah gembala, yang pada waktu itu tidak punya hak untuk berbicara di depan pengadilan? Kenapa ketika Dia bangkit, saksi mata pertama adalah Maria Magdalena di mana dia itu sebelumnya pernah dirasuki oleh setan?

Siapa yang percaya pada berita yang kami dengar? Siapa yang percaya ini? Makin Saudara membaca Alkitab. Kalau engkau sungguh-sungguh serius, kalau bukan cuma ikut-ikutan, semakin engkau membaca Alkitab, engkau hanya punya dua kemungkinan ini. Ini adalah kebohongan yang paling konyol yang pernah dikatakan oleh manusia, atau ini adalah kebenaran paling menakjubkan di tengah-tengah dunia. Saya tantang Anda, seriuslah, baca Alkitab, jangan ikut-ikutan banyak orang. Lihat Alkitab, maka engkau hanya memiliki dua kemungkinan ini, ini cerita konyol, mana ada satu agama didirikan di tengah-tengah sesuatu yang memalukan. Siapa yang pendiri agamanya berani dipermalukan seperti itu? Beberapa waktu yang lalu kita mendengar ada suatu pengadilan untuk sesuatu yang pernah terjadi sebelumnya. Di Perancis ada satu guru yang dipenggal kepalanya karena muridnya melaporkan kepada bapaknya yang kemudian memenggal kepala guru itu karena muridnya mengatakan bahwa guru ini menghina pendiri agama mereka. Ketika itu terjadi maka bapaknya tidak bisa terima dan kemudian guru itu dipenggal. Padahal sebenarnya gurunya tidak melakukan, dan anak ini berbohong. Pendiri agama, bukan dia pada hari itu mendapatkan hinaan. Ini sudah ribuan tahun, ada orang yang menghina saja seluruhnya tidak bisa terima. Tetapi Saudara-saudara lihat Yesus Kristus, Dia mendirikan kebenaran Allah ini di tengah-tengah dunia dari penghinaan, dari kematian. Saya minta kepada Saudara-saudara, pikirkan baik-baik peristiwa ini. Pikirkan baik-baik peristiwa ini. Maka engkau hanya ada dua kemungkinan ini. Ini adalah sesuatu cerita konyol buatan manusia, atau ini adalah kebenaran yang mengubah hidup manusia. Dua ribu tahun yang lalu, hari ini, maka Yesus Kristus mengendarai seekor keledai. Kenapa keledai? Karena keledai adalah satu binatang yang dianggap paling bodoh. Orang yang mau melakukan kehendak Allah, orang yang taat pada Allah sepenuhnya, akan dilihat oleh dunia ini sebagai orang paling bodoh yang pernah hidup. Yesus masuk ke kota Yerusalem, semua orang berpikir ini akan menggulingkan pemerintahan Roma pada waktu itu, dan murid-murid-Nya bahkan menyoraki Dia. Murid-murid-Nya senang berjalan di sebelah kiri dan kanan keledai itu. Semua murid-Nya berpikir inilah saatnya Yesus akan mengokohkan kerajaan-Nya di Sion. Tetapi sebenarnya yang Yesus tuju adalah satu. Dia masuk ke kota itu untuk mati. Saya berimajinasi, setiap langkah dari keledai itu, maka sebenarnya Yesus mendekati kematian, salib, salib, salib. Semua orang berpikir raja, raja, raja. Kenapa Dia bisa lakukan itu? Karena lembut hati. Sehingga di titik tengah pekerjaan penebusan Allah yang besar, yang hebat di dunia ini, Saudara akan menemukan Juruselamat yang diam. Semua itu sudah dikatakan oleh Yesaya dalam Yesaya 53.

Yesaya 53 sebenarnya sangat luas, sangat dalam. Kalau Saudara-saudara mau untuk masuk di dalam kedalamannya yang tidak terduga, maka Saudara bisa membaca dari salah satu orang Puritan, James Durham. Eksposisi Yesaya 53, hanya 12 ayat itu ditulis dalam lembar yang besar 800 lebih halaman. Saya tidak mungkin akan bisa mengungkapkan seluruhnya. Tetapi di dalam 4 kali khotbah seri Yesaya 53, dan seri ini ini saya akan membawa Saudara ke dalam ayat 10 saja. Ayat 10 adalah bicara mengenai buah atau efek dari kematian Kristus. Tetapi sebelumnya mari kita perhatikan ada dua kalimat yang unik luar biasa. Perhatikan dua kalimat ini “Tetapi Tuhan berkehendak meremukkan dia”, yang kedua adalah “Apabila ia menyerahkan dirinya sebagai korban penebus salah.Dua kalimat ini “Tuhan berkehendak”, berarti ada kehendak Allah dan “Apabila ia menyerahkan dirinya”, berarti ada kerelaan Kristus. Perhatikan dua hal ini, ada kehendak Allah, ada kerelaan Kristus. Ini berbicara mengenai satu doktrin Kristen yang penting sekali bernama Covenant of Redemption. Kristus tidak pernah harus, wajib, untuk menyelesaikan dosa kita, Kristus tidak pernah terdesak harus mati di atas kayu salib karena dosa manusia. Apa yang menyebabkan Kristus mau mati di atas kayu salib untuk menebus dosa manusia? Apa yang mendorong Kristus Yesus naik ke atas kayu salib? Bukan dosa yang mendorong Dia, bukan dosa yang mendorong Dia sehingga mau tidak mau Dia harus mati seperti itu. Bukan! Kristus tidak harus menjalani jalan salib untuk membereskan dosa. Sekali lagi, dosa bukanlah yang mendorong Yesus ke salib. Ya benar, dosa hanya bisa diselesaikan melalui penebusan Yesus di atas kayu salib, tetapi tidak berarti Kristus harus ke salib karena dosa kita. Sekali lagi bahwa dosa tidak pernah bisa menjadi pendorong Kristus naik ke atas kayu salib. Dosa tidak bisa diselesaikan dengan apapun saja selain dengan salib Kristus. Tetapi Kristus yang adalah Allah oknum kedua Tritunggal, Dia mau datang ke dunia, mengenakan tubuh untuk menjadi mediator antara Allah dan manusia, dan mati di atas kayu salib. Seluruh tindakan Kristus itu tidak didorong oleh dosa manusia. Lalu kalau itu tidak didorong oleh dosa manusia, apa yang mendorong Kristus bertindak? Maka jawabannya adalah karena ketaatan-Nya kepada Bapa di surga. Dan dasar ketaatan-Nya adalah karena adanya Covenant of Redemption antara Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Penderitaan Kristus adalah hasil dari Covenant of Redemption yang dibuat oleh Allah Tritunggal di dalam kekekalan. Allah berkehendak, dan Kristus rela untuk dihancurkan. Keselamatan kita bergantung pada Covenant of Redemption ini. Dan di dalam Covenant of Redemption, Bapa adalah satu Pribadi yang mana kita berhutang kepada Dia. Kita sering sekali salah mengerti, Yesus mati di atas kayu salib membayar hutang kita terhadap setan, kita tidak pernah hutang pada setan. Kita berhutang kepada Allah, berhutang kemuliaan kepada Allah. Bapa di surga adalah satu pihak di mana kita, manusia berdosa berhutang kepada Dia. Bapa di surga adalah originator daripada the Covenant of Redemption. Allah Anak yaitu Yesus Kristus, Dia adalah penjamin penebusan ini. Dia adalah penjamin rencana kekal Covenant of Redemption terjadi di bumi ini. Dari pekerjaan-Nya maka seluruh Covenant of Redemption yang dihasilkan ini, Dia, pribadi-Nya, menjamin bahwa manusia memiliki tempat di hadapan Allah kembali. Dan Roh Kuduslah yang mengaplikasikan pekerjaan Kristus 2000 tahun yang lalu kepada kita, pribadi lepas pribadi. Mengerti hal ini. Yesaya membuka kepada kita sesuatu yang ada di balik langit. Apa yang sebenarnya terjadi di atas kayu salib adalah perwujudan dari Covenant of Redemption di dalam Allah Tritunggal di dalam kekekalan, sekarang dinyatakan di dalam time and space. Ini bukan bicara mengenai hukum sebab akibat di dalam diri manusia. Ya, dosa itu terjadi dan begitu banyak akibatnya, tetapi untuk menyelesaikan hal ini tidak bisa dari bumi. Engkau tidak bisa menyelesaikan dosamu, implikasinya dan seluruh hasilnya dari dirimu sendiri. Engkau dan saya harus mengerti bobot dosa, begitu dalam, tidak ada satu jenderal yang bisa membereskan dosa kita. Tidak ada satu pendidikan yang bisa membereskan dosa kita. Engkau tidak bisa pergi ke universitas yang paling baik pun, kemudian dosamu beres. Tidak ada satu pendiri agama dari agama apapun saja yang membereskan dosa. Kekristenan jauh melebihi daripada agama. Kekristenan adalah bicara berkenaan dengan Allah Tritunggal yang memiliki rencana yang dinyatakan di dalam time and space. Mengerti hal ini, maka kita mengerti bahwa misi Yesus tidak diberikan pada waktu Dia hadir di dunia ini, tetapi dari dalam kekekalan.

Banyak aspek yang sebenarnya kita bisa bicara berkenaan dengan Covenant of Redemption. Hari ini saya tidak memfokuskan pada pelajaran ini, tetapi kita harus mengerti Yesaya itu menyatakan adalah Allah berkehendak meremukkan Dia dan Yesus Kristus rela menyerahkan diri-Nya. Perhatikan, Allah berkehendak, dan Anak menyerahkan diri-Nya secara voluntary and independently. Ini adalah ketaatan Anak kepada Covenant of Redemption yang sudah dibuat Allah Tritunggal di dalam kekekalan.

Sekarang kita akan masuk ke dalam tiga kalimat yang ada di dalam ayat 10 di bawahnya. Ketika Kristus menyerahkan diri-Nya sebagai korban penebus salah, apa yang akan menjadi buahnya? Ayat yang ke-10 menyatakan 3 kalimat ini. Pertama, Ia akan melihat keturunan-Nya. Ini adalah bicara berkenaan dengan relasi antara kematian Kristus dengan banyak umat manusia. Yang kedua adalah kematian Kristus dan efeknya terhadap diri-Nya. Di sini dikatakan umur-Nya akan lanjut. Dan yang ke-3 adalah relasi antara kematian Kristus dan kehendak kekal Allah di bumi ini. Dalam bahasa Indonesia dikatakan kehendak TUHAN akan terlaksana oleh-Nya. Kita akan melihat satu-persatu apa buah dari kematian Kristus.

Yang pertama di dalam relasinya dengan seluruh umat manusia. Di sini dikatakan “Kalau Dia menyerahkan diri-Nya untuk diremukkan oleh Allah, maka Ia akan melihat keturunan-Nya”. Artinya adalah Dia akan mendapatkan banyak keturunan, banyak benih sesudahnya. Kalau Saudara studi kata dan melihat komentari-komentari, maka ini berbicara tentang banyaknya orang yang akan mendapat hidup yang kekal karena Mesias yang diremukkan ini. Di sini dicatat sesuatu yang unik atau “aneh”. Manusia dengan penderitaan menuju kematian tidak lagi memiliki kapasitas untuk memperbanyak keturunan. Tetapi di sini dicatat bahwa penderitaan dan kematian Kristus akan membangkitkan begitu banyak keturunan. Apa yang ditulis oleh Yesaya ini sungguh akan tersembunyi bagi kita. Sampai Roh Kudus memberikan kepada kita pengertian, Yesus ternyata pernah mengatakan hal ini. Ketika Dia berbicara, mengajarkan para muridnya berkenaan dengan salib. Dia mengatakan di dalam Yohanes 12:24 seperti ini “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya, jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah.” Ayat ini ada di dalam satu perikop berkenaan dengan Yesus beberapa kali di dalam ayat tersebut menegaskan mengenai Dia yang akan mati di atas kayu salib. Dan melalui kematian-Nya, Dia akan mempermuliakan Bapa di surga. Tetapi selain itu ada satu bagian ayat ini yang sering sekali kita tidak mengerti artinya. Sebenarnya ini adalah sesuatu elaborasi dari kalimat Yesaya 53 ini, “Apabila Ia menyerahkan diri-Nya sebagai korban penebus salah, Ia akan melihat keturunan-Nya.“ Perhatikan satu kebenaran penting ini. Kematian Kristus adalah kematian yang menghidupkan. Kematian Kristus adalah kematian yang membangkitkan generasi demi generasi untuk kekekalan, untuk Kerajaan Allah. Kalau Dia mau melihat keturunan-Nya ada memiliki tempat di dalam kekekalan, dan di dunia ini berjalan untuk kemuliaan Allah, untuk membangkitkan generasi seperti ini, untuk membangkitkan gereja yang sejati, maka biji gandum itu harus mati. Kematian Kristus adalah kematian yang menghidupkan.

Hal yang kedua. Efek dari kematian Kristus itu apa? Allah berkehendak meremukkan Dia dengan kesakitan. Apabila Ia menyerahkan diri-Nya sebagai korban penebus salah, umur-Nya akan lanjut. Ini adalah satu paradoks yang besar karena hari-hari manusia akan diperpendek oleh penderitaan dan kematian. Tetapi di sini dikatakan “Dia diremukkan, hasilnya, umur Dia akan lanjut”. Perhatikan, ada satu doktrin yang penting di sini, yaitu kematian Kristus adalah jaminan kebangkitan-Nya. Kematian Kristus adalah jaminan kebangkitan-Nya. Karena di dalam kematian Kristus itu ada kuasa. John Owen mengatakan di dalam satu bukunya kalimat yang menyimpulkan kematian Kristus, luar biasa. Kalimatnya adalah “Kematian yang mematikan kematian.” Kematian Kristus adalah kematian yang mematikan kuasa kematian. Luar biasa sekali. Owen masuk ke dalam titik pusat daripada pekerjaan Kristus. Ini adalah satu pengharapan manusia yang seluruhnya mati, dan ini adalah rahasia kehidupan rohani kita. Oswald Chambers mengatakan “Hai para pengkhotbah, pastikan engkau memberitakan berkali-kali mengenai tragedi salib. Maka engkau akan melihat ada kuasa yang keluar dari padanya. Jangan sering-sering engkau merenungkan hasil dari salib, tetapi renungkan tragedi salib.” Hasil salib itu apa? Masuk ke surga, kesembuhan, kita diterima oleh Allah, bahkan bicara berkenaan dengan justification, sanctification. Iya, kita boleh membicarakan ini, tetapi jangan menjadi titik fokus, dan jangan pernah berkali-kali melakukan hal ini. Karena kuasa itu inherent ada di dalam kesatuan dengan kematian Kristus. Kabarkan kuasa itu, kabarkan kematian itu, kuasa Kristus. Kita tidak dipanggil hanya untuk berbicara mengenai hasil kematian Kristus, tetapi inti berita yang harus berkali-kali adalah tragedi, tragedi kematian itu sendiri karena di dalamnya adalah kuasa kebangkitan. Itulah sebabnya saya makin menyadari kenapa Tuhan memberikan kepada kita salib sebagai lambang gereja sepanjang masa. Salah satunya adalah Tuhan mau mengajarkan kepada kita kuasa-Ku tidak diberikan di luar salib. Engkau lihat salib, engkau menerima salib, engkau berjalan di dalam salib, engkau menemukan salib Kristus, maka kehidupan kebangkitan dengan sendirinya terjadi. Ini bukan dua peristiwa yang terpisah. Ini adalah satu kesatuan dan titik beratnya adalah salib. Kematian Kristus sendiri adalah jaminan kebangkitan-Nya. Kalau Dia rela untuk diremukkan, Dia akan melihat keturunan-Nya, Dia rela diremukkan, hidup-Nya akan terus. Di dalam Alkitab, pembahasan mengenai tragedi salib menempati tempat yang jauh lebih banyak daripada kebangkitan. Tentu kita mengerti bahwa tanpa kebangkitan maka orang yang dipaku di atas kayu salib itu sia-sia dan kasihan, tidak ada gunanya. Tetapi Alkitab ini uniknya menekankan, masuk ke dalam kehidupan salib dengan sendirinya maka kebangkitan itu ada, karena kuasa kebangkitan ada di dalam kematian-Nya. Kematian yang di dalamnya memiliki kuasa untuk mematikan kematian yang lain.

Kemarin di Persekutuan Pemuda, kita menonton film The Passion of the Christ. Satu film yang sangat baik dan juga disetujui oleh seluruh teolog Kristen maupun Katolik. Saya sendiri sangat-sangat terperangah ketika film ini dibuat dengan titik berat yang luar biasa tepat. Sepanjang 2 jam 5 menit melihat tragedi salib. Hanya di dalam beberapa detik atau 1-2 menit terakhir, Saudara akan melihat Yesus bangkit dan kemudian selesai. Kita suka untuk hidup di dalam kemenangan tetapi kita salah, karena sumber kemenangan itu bukan di dalam kita, Yesus bangkit, Yesus bangkit, kita rayakan. Tidak, sumber kemenangan itu adalah tragedi salib. Kematian Kristus adalah satu-satunya kematian yang berguna di dunia ini, kematian Kristus adalah satu-satunya kematian yang mulia di dunia ini. Semua kematian tidaklah berguna, semua kematian adalah kekalahan kita. Semua kematian membuat seluruh hidup kita sia-sia. Salomo di dalam kitab Pengkhotbah dengan jelas menyatakannya secara panjang lebar. Satu kata yang diulang berkali-kali adalah bicara mengenai sia-sia padahal ia adalah orang yang paling kaya, dia adalah orang yang paling berhasil. Tetapi dari mulutnya dia berkali-kali mengeluarkan apa yang menjadi isi hatinya, sia-sia. Di dalam kalimat-kalimat pertamanya dia mengatakan, mataharinya sama, tanahnya sama, air yang kita minum sama sejak zaman Adam dan Hawa. Angin, udara yang kita hirup dan kemudian kita keluarkan lagi itu sama dan berputar terus. Tapi satu generasi datang dan satu generasi hilang demikian seterusnya. Generasi yang sesudahnya tidak mengenal generasi yang sebelumnya, kematian itu membuat semuanya sia-sia. Sebagai seorang pendeta, saya sering sekali dealing dengan kuburan. Rumah duka, kuburan, dan itu kalau terjadi tidak ada yang ada appointment sebelumnya. Kalau orang mau menikah, “Pak, minta diberkati ya.” Lalu kemudian saya tanya, “Kapan mau menikahnya?” “8 bulan lagi, 1 tahun lagi”, sudah di-set tanggalnya. Tapi kalau orang meninggal tidak ada yang janjian. Tiba-tiba ditelpon saja, “Ini papa saya meninggal” kemudian kami harus datang secepatnya. Saya pergi ke rumah duka yang sama, puluhan orang sudah pergi, sudah mati di sana. Ada upacara kematian di sana. Manusia begitu hina karena kematian. Rumah duka itu berdiri kokoh puluhan tahun dan orang-orang yang mati di sana satu per satu, rumahnya tetap berdiri. Kursi yang Saudara duduki bisa beberapa puluh tahun. Mungkin kita sudah tidak ada lagi. Gedung ini bisa puluhan mungkin ratusan tahun dan kita datang di sini, ada generasi kemudian yang tidak mengenal kita. Kalau engkau membeli rumah, saya tanya kepadamu apakah engkau mengenal pemilik sebelumnya atau pemilik-pemilik sebelumnya? Saya berani jamin, rumah yang kita tempati sekarang beberapa puluh tahun kemudian akan ada orang yang tidak mengenal kita pernah tinggal di sini. Kematian memalukan kita, kematian membuat kita sia-sia. Apapun yang kita kerjakan, apapun keberhasilannya, sia-sia. Tetapi ada satu kematian yang membuat kesia-siaan kematian itu dihancurkan, yaitu kematian Kristus Yesus yang diremukkan oleh Bapa di surga. Kematian Kristus adalah satu-satunya kematian yang diperlukan dunia ini. Karena dengan kematian Kristus maka kematian-Nya akan memiliki kuasa kebangkitan yang membangkitkan kita dari kematian. Diremukkannya Kristus, dimatikannya Kristus, pada saat yang sama, itu adalah kepastian kemenangan kemuliaan dan kebangkitan-Nya. Dan itulah berkat yang Tuhan berikan kepada engkau dan saya, jikalau engkau ada di dalam Kristus Yesus yang mati dan yang bangkit. Kalau Dia diremukkan, Ia akan melihat, keturunan-Nya. Kalau Dia diremukkan, maka umur-Nya akan lanjut.

Sekarang yang ketiga, kalau Dia diremukkan, maka kehendak Tuhan akan terlaksana oleh-Nya. Di dalam bahasa aslinya ada sesuatu yang indah, yaitu kesukaan pada diri-Nya Allah, atau perkenanan Allah akan berlimpah-limpah terjadi di dalam tangan-Nya, di dalam pekerjaan yang Kristus lakukan ini. Kehendak Tuhan akan terlaksana oleh-Nya.The pleasure of the LORD shall prosper in His hand. Apa itu? Kalimat ini sebenarnya memiliki multi dimensi dan saya hanya akan membahas mengenai tiga hal yang penting saja:

Yang pertama adalah adanya perkenanan Allah, jadi Kristus yang rela diremukkan, atau Kristus yang diremukkan, kondisi ini sendiri adalah kondisi yang disukakan Allah, Allah berkenan. Satu-satunya kematian yang dikehendaki Allah, dikehendaki Bapa adalah kematian Yesus Kristus. Kematian kita bukanlah kematian yang merupakan kehendak Allah. Kadang kita tidak mengerti sesungguhnya apa yang terjadi dan apa yang ada di dalam isi hati Tuhan. Kita berpikir orang mati ya sudah, biasa semua orang mati. Orang mati sebenarnya adalah sesuatu yang aneh di hadapan mata Allah. Sampai-sampai kita melihat orang yang sudah tua mati kita tidak ada rasa sedih tapi kalau orang muda mati kita ada rasa sedih, padahal dua-dua itu sebenarnya adalah tragedi dalam kehidupan. Kematian kita bukanlah kematian yang dikehendaki oleh Allah. Allah menghendaki kita berada di dalam hidup tetapi dosa telah masuk. Upah dosa adalah kematian, kematian manusia adalah karena dosa, bukan karena kehendak Allah. Tetapi satu-satunya kematian, yang merupakan kehendak Allah yang kekal, adalah kematian Yesus Kristus. Kematian Kristus bukan karena Dia berdosa, kematian Kristus terjadi karena kehendak Allah mengirim Dia ke dalam dunia untuk ditimpakan dosa kita semua. Ini adalah satu-satunya kematian yang dihendaki Allah itulah sebabnya Alkitab mengatakan kalau Dia berkehendak untuk meremukkan Dia dengan kesakitan. Dan ketika itu terjadi, Allah berkenan. Kehendak Tuhan terlaksana oleh-Nya.

Dimensi yang kedua adalah salib Kristus akan menghasilkan kemuliaan bagi Bapa. Kematian-Nya adalah bentuk ketaatan-Nya yang terpuncak, akan membawa kemuliaan kepada Allah. Di dalam Yohanes 12:28, ketika Yesus memikirkan salib dari jauh, Dia berkata, “Jiwa-Ku terharu apakah yang akan Kukatakan? Bapa, selamatkanlah Aku dari saat ini? Tidak, sebab untuk itulah Aku datang”. Lalu Yesus berseru, “Bapa, muliakanlah nama-Mu!” Inilah isi hati Yesus Kristus, untuk memuliakan Bapa di surga. Perhatikan satu prinsip kebenaran penting ini dan jangan pernah dilupakan di dalam hidup kita. Satu-satunya jalan untuk mempermuliakan Bapa di surga adalah jalan ketaatan sampai mati di atas kayu salib. Kita tidak dapat mempermuliakan Allah kecuali melalui jalan ketaatan, jalan salib yang Tuhan berikan kepada kita. Bagi kita semua orang-orang yang dilahirbarukan, pasti di dalam hati kita, kita menginginkan satu kehidupan untuk mempermuliakan Allah. Di mana-mana kita ingin untuk dipakai oleh Allah, ingin untuk mempermuliakan Allah. Kalau saya tanya kepada Saudara-saudara, anak Saudara, hidupnya itu untuk apa? Saudara-saudara pasti akan berkata, untuk dipakai oleh Allah, untuk mempermuliakan Allah. Tetapi apakah kita sadar bahwa arti di dalam Alkitab ketika bicara hidup untuk mempermuliakan Allah? Itu artinya adalah bicara mengenai salib? Kita sering sekali menginginkan anak kita dipakai mempermuliakan Allah, tetapi begitu kita melihat anak kita pikul salib, kita langsung meminta salib itu dicopot dari bahunya. Alkitab dengan jelas menyatakan, hanya salib di mana seluruh kehendak Allah terjadi. Dan itu mempermuliakan nama Tuhan. Suatu hari ketika selesai dari perjamuan akhir, Yesus menuju ke taman Getsemani, dan di tengah-tengah itu sangat mungkin di depan atau dekat tembok luar Yerusalem maka Yesus berdiri, berhenti dan kemudian Dia menengadah ke langit, kemudian Dia berdoa. Yohanes 17 itu menuliskan isi doa. Saudara perhatikan, Yesus berdoa itu sering sekali, tetapi, doa Yesus itu isinya apa, secara panjang lebar hanya Yohanes 17 yang menuliskannya. Saya sangat hancur hati saya ketika saya membaca orang Puritan, dia menuliskan Roh Kudus tidak membiarkan kalimat Yesus itu tidak diketahui oleh gereja-Nya sepanjang abad. Yesus doa sering, tapi jarang sekali ada tulisan, tapi di sini dituliskan panjang lebar itu. Roh Kudus tidak membiarkan satu kalimatpun hilang dari kita. Kemudian Yesus menengadah ke langit dan berkata “Bapa, telah tiba saatnya; permuliakanlah Anak-Mu, supaya Anak-Mu mempermuliakan Engkau”. The hour has come, waktunya telah tiba, tidak ada yang tahu mengenai hal ini. Murid-murid-Nya tidak tahu, karena ini adalah sesuatu pembicaraan antara Bapa dengan Anak di dalam kekekalan. Ini adalah covenant of redemption. Murid-murid-Nya tidak tahu, bahwa di dalam kekekalan, Bapa dan Anak dan Roh Kudus sudah sama-sama berjanji untuk membereskan dosa umat manusia. Untuk mendatangkan kembali kemuliaan kepada Bapa. Untuk anak-anak murka, sekarang menjadi anak-anak kesayangan. Maka kehendak Allah itu terjadi kepada kita di bumi ini. Yesus Kristus di depan tembok Yerusalem itu menengadah ke langit dan berkata, Bapa ini saatnya. Saat apa Yesus? Saat Bapa mempermuliakan Anak, Anak mempermuliakan Bapa. Kapan? Ayo Engkau mau dipermuliakan, ayo pergi ke tempat singgasana. Tidak, ternyata itu semua adalah bicara mengenai salib. Tidak ada kemuliaan bagi Allah di surga (kecuali) melalui obedience, ketaatan, yaitu memikul salib yang Tuhan berikan kepada kita. Sekali lagi gereja sepanjang masa di dalam kedaulatan Tuhan, simbolnya adalah salib dan kita berkumpul di sini itu, menghadap daripada salib. Maka ini adalah komunitas yang dibentuk oleh Allah, dipimpin oleh Yesus Kristus, komunitas di dalam ketaatan. Jangan pernah Saudara-saudara pergi ke gereja lalu kemudian hidup sesuka-sukanya. Setiap Minggu, Saudara dan saya memandang salib, kita dibentuk dalam sebuah komunitas untuk bergerak di dalam ketaatan bagi kemuliaan Allah. Ya, itu sulit, iya itu menyayat hati, tetapi Roh Kudus akan memberikan sukacita di dalam hidup kita. Dan bagi anak-anak Tuhan yang sejati Engkau dan saya akan menemukan satu kenyataan hidup ini, tidak ada kepenuhan. Tidak ada kesukacitaan, kecuali Saudara dan saya melakukan kehendak Allah dalam hidup, itu adalah destiny kita.

Hal yang ketiga, di sini dikatakan bahwa perkenanan Allah akan berlimpah-limpah terjadi di dalam tangan-Nya, di dalam pekerjaan yang Kristus lakukan. Poin yang ketiga adalah pekerjaan Kristus menjamin Kerajaan Allah berkembang di seluruh muka bumi kembali. Ini adalah penjelasan dari perspektif sejarah. Di atas kayu salib, Yesus Kristus mengatakan “Tetelestai,” sudah selesai, sudah genap. Apa artinya? Maka Charles Spurgeon mengatakan jikalau seluruh pengkhotbah sepanjang jaman mengkhotbahkan apa itu tetelestai, tidak akan pernah bisa menjelaskan secara lengkap apa yang sudah digenapi oleh Yesus Kristus. Karena Kristus sudah menggenapkan segala sesuatunya. Kristus Yesus sudah menggenapkan menjadi Nabi di atas segala nabi. Menggenapkan menjadi Raja sehingga disebut Raja di atas segala raja. Menggenapkan apa itu Imam sehingga Dia disebut Imam di atas segala imam. Menggenapkan setiap titik, setiap nokta, setiap iota Alkitab, Firman. Dia menggenapkan seluruh tuntutan Perjanjian Lama. Seluruh nubuatan nabi-nabi di Perjanjian Lama digenapi oleh Dia. Seluruh tuntutan kebenaran Allah digenapi oleh Dia. Dan banyak lagi dan tidak mungkin terkatakan oleh seluruh mulut pengkhotbah seluruh dunia yang pernah hidup. Dan di dalam poin yang ketiga, saya hanya akan bicara satu hal yang sederhana saja, yaitu Dia menggenapi kerajaan Allah itu terjamin berkembang ke seluruh muka bumi kembali. Ini adalah isi hati Allah dari sejak pertama. Kerajaan Allah yang berkembang di bumi. Sehingga Dia menciptakan Adam dan Hawa, diciptakan menurut peta dan teladan-Nya, dan dikatakan bahwa dari Eden ini beranak cucu bertambah banyak penuhi bumi dan taklukkan itu. Dia adalah image of God, dan Eden adalah satu gambaran kehendak Allah yang jadi 100% di muka bumi. Keadaan dan kondisi 100% kehendak Allah jadi di muka bumi disebut sebagai Kingdom of God. Dari Eden maka Tuhan menginginkan manusia menyebar ke seluruh bumi, ke setiap titik muka bumi ini melakukan kehendak Allah, Kerajaan Allah datang. Tetapi dosa masuk, Adam gagal, kerajaan Allah terhambat menyebar ke seluruh muka bumi itulah sebabnya Adam yang kedua dibangkitkan yaitu Yesus Kristus. Adam di taman Eden memberontak kepada Allah, Yesus di taman Getsemani ini mutlak taat kepada Allah sampai ke atas kayu salib. Dan satu-satunya pribadi, yang percaya mutlak kepada Allah, yang melakukan seluruh kehendak Allah, yang mengatakan tetelestai, yang menjadi jaminan kehendak Allah digenapi semuanya, menjadi jaminan Kerajaan Allah hadir, itu adalah manusia Yesus Kristus. Daripada-Nya, maka seluruh kehendak Allah sekarang jadi di muka bumi, Kerajaan Allah perlahan demi perlahan akan menyebar sampai seluruh muka bumi. Itulah sebabnya Yesaya 53:10 di sini mengatakan kalau Dia rela untuk diremukkan, maka kehendak Tuhan akan terlaksana oleh-Nya. Allah akan bersukacita, Allah berkenan, dan semua pekerjaan Allah akan berlimpah-limpah terjadi karena tangan Kristus yang diremukkan. Yesus Kristus bukan saja menjamin kita mendapatkan bagian di dalam kerajaan-Nya di surga, Kerajaan Allah di surga. Tetapi Yesus Kristus yang mati di atas kayu salib adalah menjamin seluruh kehendak Allah jadi di muka bumi. Dan Dia membangkitkan Saudara dan saya, melahirbarukan Saudara dan saya, membuat kita mendekat kepada Dia untuk mengenal Dia. Sehingga kita bisa bersama-sama dengan satu jemaat mengatakan, Bapa kami yang di surga, dikuduskanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga. Karena pekerjaan tangan-Nya, maka Allah disukakan, karena seluruh pekerjaan Allah jadi di muka bumi, kehendak Tuhan akan terlaksana oleh-Nya. Mari kita membuka ayat ini kembali dan mari kita membacanya.

Alamat

556 - 558 Botany Road, Alexandria, NSW, 2015
sekretariat@griisydney.org
0422690913
0430930175

Social Media

Facebook GRII Sydney Instagram GRII Sydney Twitter GRII Sydney


Google Play Store
App Store

^