[simple_crumbs root="Home" /]
kembali

21 March 2021

Pdt. Agus Marjanto, M.Th

Man of Sorrows (3)

Yesaya 53:1-7

Yesaya pasal 7 menubuatkan tentang Juruselamat yang akan datang. Siapa Juruselamat yang akan datang? Yang dijanjikan oleh Allah. Yang akan membuat seluruh bukit-bukit bergoyang. Yang membuat seluruh tangan bertepuk. Yang membuat sesuatu kegirangan di tengah-tengah umat manusia. Yang menaklukkan raja demi raja. Yang akan menjadi Raja di atas segala raja langit dan bumi. Maka seluruh orang Yahudi menunggu Mesias itu. Tetapi ketika Mesias datang, semuanya terperangah. Mereka seluruhnya terkejut, tidak menduga. Mereka tidak bisa mempercayai orang ini adalah Mesias. Yesaya di pasal 53 mengajarkan kita untuk tidak melihat manusia dari lapisan luarnya. Alkitab mengatakan bahwa memang Dia seperti taruk yang tumbuh di hadapan Tuhan dari tanah yang kering. Ia tidak tampan dan tidak ada semarak yang membuat kita mendekat kepada Dia. Ia dihina dan dihindari orang. Orang yang penuh dengan kesengsaraan. Mengapa ada orang yang penuh dengan kesengsaraan? Dikatakan orang ini akan menaklukkan seluruh raja-raja dunia. Kita sering sekali menganggap remeh tentang musuh kita. Kita tidak tahu sebenarnya siapa yang kita hadapi. Allah mengetahui siapa yang seharusnya, yang sesungguhnya, kita hadapi. Bukan jenderal, panglima atau raja-raja. Siapa sesungguhnya musuh Israel? Bukan Babel, bukan Asyur, bukan Mesir. Tetapi Allah sendiri. Allah yang suci menjadi musuh umat Tuhan. Allah murka kepada manusia yang berdosa kepada Dia. Masalah manusia terutama adalah Allah. Masalah saudara dan saya bukan keuangan, kematian, bukan disalahmengertikan oleh orang-orang, apalagi uang. Itu bukan masalah sama sekali. Masalah saudara dan saya adalah Allah yang tidak berkenan dalam hidup kita. Lawan kita bukan jendral, bukan orang kuat. Jikalau orang kuat melawan kita, kita gemetar. Kalau ada orang memakai senjata melawan kita, kita gemetar.

Allah mau menyatakan bahwa bukan mereka, tetapi Aku yang melawan engkau. Ada sesuatu di dalam dirimu yang sungguh-sungguh mendukakan Allah. Apa itu? Itu adalah dosa. Masalah kita bukan segala sesuatu di lapisan fenomena. Dalam masa di dalam Yesaya adalah Babel. Tetapi bukan itu. Itu adalah dosa. Dosa yang ada di dalam isi hati kita yang membangkitkan murka Allah. Maka Juruselamat kita adalah Juruselamat yang menyelamatkan kita dari kuasa dan upah dosa. Jikalau Babel hilang dari Israel, masalah mereka tetap akan sama karena dosa tetap sama. Banyak sekali suami istri cekcok karena masalah kurang uang. Kalau saudara konseling kepada kami, sebagai hamba Tuhan, kami selalu akan menyadarkan masalahnya bukan kurang uang. Masalahnya itu, siapa allahnya di dalam hati saudara? Kalau saudara berpikir masalahnya kurang uang, lalu jika saudara mendapatkan uang, apakah konflik akan mengecil? Tetapi sebenarnya isi hati kita tetap sama. Tinggal tunggu waktunya, dengan bentuk yang lain, dosa ini muncul di permukaan. Konflik itu akan terjadi, bahkan lebih besar. Banyak orang Kristen tidak mengerti prinsip ini. Biarlah kita, saudara dan saya, belajar prinsip ini. Kalau ada suatu perbantahan yang sengit di dalam keluarga, dan saudara pikir, “Oh, sudah beres, tidak perlu konseling, tidak perlu apa-apa, sudah beres kok keluarga saya.” Belum beres, sampai dosa itu dimatikan, Sampai kita mengaku dosa itu dan minta tolong kepada Tuhan di dalam area itu. Kita selalu berpikir secara fenomena. Israel berpikir, ya masalahnya Asyur, masalahnya Mesir, masalahnya Babel. Tuhan mengatakan, “Tidak! Ada yang lebih dalam. Aku memberikan Juruselamat bukan untuk mengatasi mereka. Suatu hari maka engkau, umat-Ku, akan ditinggikan melampaui mereka. Ya, tetapi masalah utamanya bukan mereka. Masalahnya adalah dosa. Dosa membuat Allah murka. Allah akan memurkai dan menghancurkan engkau, bukan Babel. Aku akan menghancurkan engkau. Maka Juruselamat ini harus ada di antara engkau dan Aku. Menjadi mediator, orang yang ada di tengah-tengah, yang Aku akan remukkan karena dosamu.”

Seluruhnya akan tertutup oleh Israel dan oleh kita kalau Yesaya tidak membukakannya kepada kita. Siapa yang percaya berita yang kami dengar? Mereka menunggu-nunggu Juruselamat, tetapi Juruselamat yang datang adalah Juruselamat yang ada di atas kayu salib. Ini adalah sesuatu yang sama sekali tidak masuk dalam akal. Kita juga tidak mungkin akan mengerti salib Kristus kalau Yesaya tidak menyatakannya kepada kita apa artinya. Karena orang yang ada di atas kayu salib itu ratusan. Apa bedanya orang ini dengan orang-orang yang lain? Yesaya 53 memberikan kepada kita dimensi-dimensi salib ini. Kalau Roh Kudus tidak membukakan dimensi-dimensi salib ini kepada kita, maka kita persis seperti orang Yahudi ini mengatakan, “Oh, Dia itu dikutuk oleh Allah.” Tetapi kalau Roh Kudus membukakannya, sama seperti Yesaya dia akan mengatakan, “Sesungguhnya Dia tertikam karena aku.” Kemarin ketika di dalam Persekutuan Doa, maka saya berkhotbah berkenaan dengan dimensi-dimensi salib. Perhatikan baik-baik, salah satu tanda orang-orang yang sejati yang menerima keselamatan dari Tuhannya adalah semakin tahun dia berjalan, dia semakin remuk oleh dimensi-dimensi salib yang dibukakan kepadanya. Seorang yang sungguh-sungguh anak Tuhan, Roh Kudus akan membawa kita kepada pengertian Firman dari tahun ke tahun yang bertumbuh. Kemudian kita dibukakan dimensi-dimensi salib yang sebelumnya, bahkan yang kita tidak pernah duga ketika dibukakan itu meremukkan hati kita. Karena iman bertumbuh, iman bergerak progresif. Tetapi ada iman yang mati. Mati, cuma begitu saja. Dia tahu Yesus Kristus mati di kayu salib, selesai.

Perhatikan apa yang terjadi dalam Yesaya 53. Ada orang yang melihat salib Yesus Kristus, dan dia berkata, “Ya, memang ini orang yang dikutuk oleh Tuhan, orang ini tidak ada gunanya, orang ini orang yang hina, aku memandangnya pun tidak mau.” Perhatikan sekali lagi yang diperhatikan orang ini. Orang ini menganalisa apapun saja hanya sampai kepada fenomena. Padahal Yesaya mengatakan, “Sesungguhnya bukan Dia yang dikutuk Allah, kita yang dikutuk!” Berarti ada sesuatu dimensi yang dibuka. Karena itu belum dibuka, dia akan memikirkan orang ini yang salah. Lapisan yang lain adalah orang yang melihat Yesus tersalib seperti perempuan-perempuan, kemudian menangis. Menangis karena Yesus dilukai. Menangis karena Yesus disalah mengerti. Menangis karena pengadilan tidak adil. Mereka tahu ini orang baik. Dia bukan penjahat, tetapi harus diseret, dipaku di atas kayu salib. Mereka menangis. Ada simpati. Tetapi Yesus Kristus mengatakan kepada perempuan-perempuan ini, “Jangan kamu menangis karena Aku. Tidak perlu menangis karena Aku. Kalau kamu mau menangis, menangislah untuk dirimu dan anak-anakmu.” Saudara-saudara, orang-orang seperti ini, ketika mendengar khotbah seperti ini, kemudian menangis, “Aduh, kasihan ya Yesusnya.” Lapisan kedua ini sama sekali tidak masuk ke dalam nomena/hakekatnya. Lapisan lain misalnya, ada orang mendengarkan pengajaran Alkitab tentang salib. Lalu saudara-saudara tahu, “Oh, aku masuk surga karena Yesus Kristus sudah dipaku di atas kayu salib. Sampai di situ. Bertahun-tahun sampai di situ. Tidak pernah ada satu kalimat Alkitab yang menghancurkan hatinya. Orang seperti itu pasti binasa! Ini adalah orang-orang yang beragama Kristen. Kalau saudara-saudara memiliki iman yang sejati, ingin mengenal siapa Juruselamat. Kenapa Engkau mau datang untuk dipaku di atas kayu salib? Apa sesungguhnya yang terjadi pada-Mu? Apa yang ada pada-Mu sehingga Engkau mau menanggungnya? Apa yang sebenarnya ada dalam pikiran-Mu dan Bapa di surga? Orang-orang ini adalah orang-orang yang didorong dengan satu kerinduan yang besar oleh Roh Kudus untuk mengenal hakekat Allah Tritunggal. Mereka ingin mengenal sampai sedalamnya akan salib dan Yesus Kristus. Ketika melihat ayat-ayat ini, apakah membangkitkan kerinduan saudara untuk mendengar dan mengetahui dan mengenal Dia lebih dalam? Ayat ini dilihat oleh sida-sida dari Etiopia. Ketika dia membaca ayat ini, di dalam ayat yang ke-7 ini, maka dia stuck, dia terkejut, hatinya hancur ingin tahu. Allah kemudian mengirim Filipus ke tempat dia. Kemudian Filipus mengatakan, “Apakah engkau mengerti apa yang tertulis di sini?” Sida-sida itu dengan lembut hati menyatakan, “Bagaimana aku bisa tahu kalau tidak ada yang membimbing aku?” Ketika saya membaca Kisah Para Rasul berkenaan dengan sida-sida ini, hati saya hancur. Siapakah dari kita yang ketika kita membaca Alkitab ini pernah mengatakan kepada Tuhan, “Bagaimana aku bisa tahu kalau Engkau tidak membukakan padaku? Bagaimana aku bisa tahu, Tuhan kalau tidak ada yang menjelaskannya kepadaku?” Iman yang sejati akan mengejar pengenalan akan Allah. Iman yang sejati akan berlinang air mata untuk meminta pengenalan dimensi-dimensi salib. Iman yang mati adalah iman yang mengatakan, “Yesus telah mati di atas kayu salib, sudah aku pergi ke surga.” Beres, jiwanya enteng. Tidak ada perubahan apapun saja. Tetapi iman yang sejati, akan ingin tahu apa artinya. Yesaya sangat-sangat jitu. Perhatikan satu kalimat penting ini, perhatikan dan jangan pernah lupakan dalam seumur hidup anda. Perhatikan! Titik paling pusat seluruh pekerjaan penebusan Allah terletak pada Juruselamat yang diam. Sekali lagi. Di tempat paling pusat dari pekerjaan penebusan Allah bagi seluruh jaman, seluruh umat manusia terletak pada Juruselamat yang diam. Yesaya sudah menuliskan penderitaan yang ditanggung oleh Yesus Kristus. Kristus adalah manusia yang penuh dengan penderitaan, demikian katanya. Ini adalah Kristus yang tidak diperhitungkan, Kristus yang dihina, yang unbelieveble. Yang kedua, Yesaya menyatakan apa yang membuat sesungguhnya Kristus menderita? Kejahatan kita, pemberontakan kita, dosa kita.

Sekarang hal ketiga, Yesaya dengan tepat sekali. Kita tanya apa yang membuat Kristus tetap kuat di dalam seluruh tanggungan salib ini? Apa karakter yang dimiliki Yesus Kristus sehingga Dia bisa melewati seluruh kesulitan ini? Maka Yesaya dengan jitu sekali menyatakan: Dia diam. Dia diam. Dia tidak membuka mulut-Nya. Yesaya menyatakan ini dua kali. Yesaya 53 di ayat ini dan Yesaya 42:2. Sekali lagi pusat seluruh pekerjaan penebusan Allah, terletak pada Juruselamat yang diam. Kalimat ini bukan dari saya. Kalimat ini dari seorang hamba Tuhan, yang bukunya kecil yang saya cari ternyata dia bukan hamba Tuhan yang terkenal. Tetapi ketika saya mendapatkannya, saya langsung ambil stabilo dan kemudian saya tercengang sekali dengan kalimat ini. Kemudian saya berpikir, seluruh dari pekerjaan Allah yang ada di dalam Alkitab dan seluruh masalah manusia yang ada dalam dunia ini. Bahkan dari kitab Kejadian, kemudian ada kejatuhan dan ada recreation yang disimbolkan dalam Nuh. Allah berkali-kali mengajarkan bagaimana pekerjaan keselamatan-Nya itu dengan berbagai macam aspek. Dosa sudah membuat seluruh degradasi dalam dunia ini, dari kesedihan, kesakitan, kematian, dan apa pun saja permusuhan di antara kita, dan juga kita dengan alam dan kita dengan Allah dan apapun saja. Pikiran saya terus masuk ke dalam orang Israel yang melawan Mesir, yang merupakan bayang-bayang Kristus yang akan datang. Kemudian satu persatu nabi demi nabi menyatakan itu, dan seluruh kehidupan Kristus Yesus. Dan 18 jam terakhir Yesus Kristus di pengadilan, bagaimana bertemu dengan Pilatus, Herodes dan orang-orang yang menyiksa Dia. Kemudian Yesus dipaku di atas kayu salib, bangkit dan naik ke surga. Dan Roh Kudus yang dicurahkan dan gereja yang akan dibangunkan dan dimuliakan sampai pada akhir jaman. Di titik pusat seluruh pekerjaan penebusan ini terletak Juruselamat yang diam. Menakjubkan! Menakjubkan! Dia adalah Allah oknum kedua dari Tritunggal. Dan Dia mengatakan: Jadilah terang, dan terang itu harus jadi. Ketika dia bertemu dengan seseorang yang sakit kusta, dan memohon-mohon dan orang yang buta matanya, memohon-mohon. Dia tanya, “Engkau mau apa?” Kata orang itu, “Aku mau untuk sembuh.” Kalimat-Nya mengatakan, “Sembuh.” Sungguh-sungguh sembuh. Ketika sahabat-Nya Lazarus sudah di dalam kubur, Dia suruh beberapa orang untuk menggulingkan batu kubur. Semua orang protes kepada Dia, “Guru, ini sudah lebih dari empat hari, baunya kemana-mana.” “Buka, buka kuburannya” Kemudian Dia mengatakan, “Lazarus, bangkit!” Dan kuasa kematian pun harus taat pada mulutnya. Ketika Dia tertidur di dalam kapal itu, murid-murid-Nya kemudian berteriak-teriak, “Guru, Engkau tidak peduli karena ada ombak yang besarnya luar biasa.” Langit tiba-tiba gelap dan halilintar menggelegar di mana-mana dan seluruh ombak lautan itu seperti neraka. Sudah tidak ada kemungkinan dari pada murid-murid bisa selamat. “Guru, bangun! Guru! Kau tidak peduli kami binasa?” Dia bangun dari tidur-Nya berjalan dengan bergoyang-goyangnya kapal itu. Dia pegang kapal itu dan Dia menegadah. Kemudian Dia mengangkat tangan-Nya dan mengatakan, “Tenang!” Seluruh lautan itu tenang. Betapa mulianya perkataan-Nya. Betapa tidak ada satu pun yang menentang-Nya. Saudara bisa melihat kuasa seseorang dari perkataan yang keluar. Kalau orang yang tidak ada kuasa, dia bicara apa pun saja tidak terjadi apa-apa. Kalau saudara-saudara mau mengatakan saya mau untuk seluruh rakyat Indonesia perhatikan, besok bensin akan naik dari Rp. 10.000 menjadi Rp. 11.000, maka saudara pakai pengeras suara pun, besok tetap Rp. 10.000. Tetapi kalau presiden, dia pakai microphone yang kecil dengan satu kalimat, “Besok jadi Rp.11.000,” maka dari Sabang sampai Merauke seluruhnya Rp. 11.000. Kuasa seseorang dikeluarkan dari mulutnya. Kalau saudara melihat kuasa Kristus, saudara bisa melihat kemuliaan Kristus yang tiada tandingnya. Kristus melakukan hal-hal dan mengatakan hal-hal yang hanya bisa dilakukan dan dikatakan oleh Allah saja. Dan setiap perkataan-Nya, bahkan Dia mengatakan: Langit bumi akan berlalu tetapi Firman-Ku akan tinggal tetap. Oh betapa mulianya perkataan-Nya. Alkitab mengatakan: Ketika Dia berkata maka seperti gelombang deru lautan. Yohanes di Pulau Patmos ketika melihat Dia, mata-Nya seperti nyala api. Seluruh tubuh-Nya putih seperti kain yang digelantang. Ketika Ia bersuara seperti lautan yang menderu-deru. Tidak ada satu manusia pun yang bisa tahan mendengar suara-Nya. Dia adalah Allah yang mulia. Tetapi di sini dikatakan seperti domba di pembantaian, Dia tidak membuka mulutnya.

Alkitab mengatakan beberapa kali Allah diam. Kalau melihat Allah yang diam, saudara bisa melihat ada perbedaan yang besar. Kalau tidak sungguh-sungguh, orang itu adalah orang yang sungguh-sungguh dipilih untuk mendekat kepada Dia, maka saudara akan melihat Allah yang diam kepada musuh-Nya. Sesungguhnya hanya sedikit anak-anak Tuhan yang dibuat untuk memiliki iman untuk tetap mempercayai Allah yang diam. Allah diam itu menakutkan. Dan bagi anak-anak-Nya, itu persis seperti ada dalam neraka. Tetapi ternyata ketika Allah diam kepada anak-anak-Nya, maka Alkitab menyatakan Dia memiliki sesuatu yang khusus kepada dia dan cinta yang besar untuk menguatkan imannya. Kepada anak-anak-Nya, kapan Allah itu diam? Pertama, kepada Ayub. Yang kedua, saudara akan dapatkan itu kepada perempuan Siro-Finisia. Ayub di tengah penderitaannya terus tanya kepada Tuhan, “Kenapa aku menderita?” Tuhan tidak memberi jawaban untuk sementara waktu. Itu menyakitkan. Itu menakutkan. Seseorang yang mempercayakan dirinya kepada Allah, tetapi pada saat yang sama pada suatu saat Allah itu diam. Kalau saudara-saudara mengerti, itu adalah satu kehidupan yang seakan-akan Allah menutup muka-Nya kepada anak-anak-Nya. Seakan-akan matahari tidak bersinar sama sekali ke bawah. Yang kedua di dalam Alkitab adalah perempuan Siro-Finisia, “Yesus Kristus, Anak Daud, kasihanilah aku. Kasihanilah aku.” Alkitab mengatakan Yesus tidak menjawab, tetapi perempuan Siro-Finisia maju terus dan dia mengetok-mengetok. Alkitab mengatakan, “Cari Aku, cari kuasa-Ku.” Alkitab mengatakan, cari terus, cari terus, ketok terus, maka percayalah anak-anak-Ku maka pintu akan dibukakan kepadamu. Bagi anak-anak Tuhan, Allah itu diam hanya untuk sementara waktu. Dan itu untuk melatih iman kita. Meskipun itu sulit. Tetapi di tempat yang lain, sungguh-sungguh bertolak belakang ketika Alkitab mengatakan, khususnya dalam Yesaya ayat 7 dikatakan Allah itu diam, Dia diam kepada semua musuh-Nya.

Kalau seseorang kurang ajar kepada Yesus Kristus, pada titik tertentu Dia diam. Pada saat Dia diam, itu artinya Dia lepaskan seseorang itu. Dibiarkan orang itu dan dibiarkan seakan-akan menang. Saudara-saudara, Yesus diam kepada siapa? Yang pertama, kepada Herodes pada waktu itu. Pada waktu itu Herodes ingin sekali bertemu dengan Yesus. Dan ketika Yesus ada di depan dia untuk diadili, dia senang sekali. Herodes yang sudah lama ingin melihat, Yesus mengajukan begitu banyak pertanyaan kepada Yesus tetapi Yesus satu kali pun tidak memberikan jawab kepada dia. Yesus diam kepada siapa? Dia diam di depan Kayafas, Imam Besar dan kepada semua orang saksi-saksi palsu, imam-imam kepala dan tua-tua yang ada mengadili Dia. Imam Besar mengatakan mendengar seluruh tuduhan palsu, yang sebenarnya dia sendiri yang membuat. Dia tanya kepada Yesus Kristus: “Tidakkah Engkau memberi jawab atas tuduhan-tuduhan saksi-saksi ini terhadap Engkau?” Tetapi Yesus tetap diam, dikatakan Matius 26.

Kepada siapa lagi Yesus diam? Kepada Pilatus. Di tengah-tengah pengadilannya, Pilatus itu memberikan pertanyaan kepada Yesus, “Tidakkah Engkau mau membela diri? Engkau lihat betapa banyaknya orang yang bersaksi menuduh Engkau?” Tetapi Alkitab mengatakan dalam Matius 27:14, Yesus tidak menjawab satu kata pun, sehingga wali negeri itu sangat heran. Setiap kali seseorang ingin mengangkat diri di hadapan Yesus Kristus, Yesus akan diam. Sungguh-sungguh ini adalah satu prinsip yang beberapa minggu lalu kita pelajari. Siapa yang merendahkan diri akan diangkat, siapa yang meninggikan diri akan direndahkan. Dia mulia di dalam kediaman-Nya. Dia mengontrol diri-Nya. Dia mengontrol emosi-Nya. Dia menguasai keadaan seperti itu. Dia tidak ikut masuk di dalam permainan orang-orang yang memancing Dia. Satu pribadi yang penuh dengan luka dan penuh dengan saksi-saksi palsu itu, sekarang Ia berdiri dengan tenang, anggun, diam. Karena Dia menyadari bahwa hidup-Nya bukan untuk berespon kepada manusia ini. Dia menyadari bahwa seluruh ini harus Dia jalani untuk ketaatan tuntas kepada Bapa-Nya. Dengan diam maka Dia mengungkapkan keagungan di depan musuh-Nya. Dengan diam Dia mengungkapkan ketaatan penuh kepada Bapa-Nya. Ini adalah diam yang mulia. Kristus, Raja Gereja kita bukan saja kalimat-Nya mulia, tetapi ketika Dia diam, kemuliaan-Nya itu memancar.

Kapan lagi Dia diam? Ketika mereka mengadili, menyiksa-Nya, mengolok-olok-Nya, dan di dalam Alkitab mengatakan Dia tiga kali diolok-olok di dalam setiap jabatan-Nya.Yang pertama, adalah Matius 27:28-29 adalah olok-olok orang-orang pada waktu kepada Yesus yang dianggap sebagai raja. Saya akan bacakan ayat 27-31. Sangat mungkin pakaian luar Yesus seluruhnya dicopot. Dan tentara Romawi itu mengambil jubah prajurit Romawi yang sudah tidak terpakai dan mengenakannya kepada Yesus Kristus. Orang-orang melihat sekeliling mereka ada duri-duri yang muncul secara liar di tempat itu. Lalu diambilnya dan cepat untuk menganyamnya, duri yang panjangnya itu sampai seukuran kepala orang. Begitu kokoh dan tajam dimasukkan ke dalam kepala Yesus. Kemudian ada satu buluh, buluh itu seperti satu tongkat tapi yang di atasnya ada daun. Kemudian diambil dan dipukulkan ke kepala-Nya, lalu diberikan kepada Dia. Seluruhnya adalah olok-olokkan. Raja yang sejati itu mahkotanya emas dan raja yang sejati memakai tongkat emas atau tongkat gading. Dengan mahkota emas, dengan tongkat gading atau tongkat emas itu Ahasyweros menunjukkan tongkatnya kepada Ratu Ester, baru Ratu Ester boleh berbicara kepada dia. Ini semuanya adalah olok-olok dari prajurit itu kepada Yesus Kristus. Ketika bicara, “Salam, hai raja orang Yahudi!” Itu adalah kalimat menyambut raja yang menang perang. Tetapi ini sekarang raja yang menderita, bagi mereka raja gadungan, raja bohong-bohongan. Apakah Yesus berbicara? Dia dianiaya, tetapi Dia membiarkan diri ditindas dan tidak membuka mulutnya.

Hal yang kedua, adalah jabatan Nabi. Matius 26:67-68. Bahasa Inggrisnya, Prophesy to us, bernubuatlah, prediksilah. Ketika ditutup matanya. “Ayo coba kasih tahu siapa, namanya siapa yang memukul kamu? Kamu nabi kan?” Yang tadi, kamu raja kan? Ketika dihina seperti ini, Dia tidak membuka mulutnya.

Bagian ketiga adalah jabatan Imam. Matius 27:42. Kalimat ‘Ia selamatkan orang, tetapi diri-Nya sendiri tidak dapat diselamatkan’ adalah sesuatu kalimat untuk bicara jabatan imam. Seorang Imam adalah seorang yang membawa darah domba untuk masuk ke tempat ruang maha kudus dan memercikkannya di sana. Dari sana baru ada keselamatan, baru ada pengampunan dosa. Dan itu sesungguhnya yang Yesus lakukan. Tetapi para imam ini mengatakan, “Orang lain Ia selamatkan, tetapi diri-Nya sendiri tidak dapat Dia selamatkan.” Pada waktu Yesus dipaku di kayu salib, Dia dianiaya, dihina, diolok-olok, dirajam, sungguh-sungguh dimaki-maki dalam setiap pribadi-Nya dan semua jabatan-Nya. Tetapi Juruselamat kita adalah Juruselamat yang diam. Diam agar seluruh kehendak Allah jadi dalam hidup-Nya. Dengan sukarela, dengan sukacita menggenapi seluruh kehendak Allah. Sehingga tepatlah yang dikatakan oleh Yesaya di sini: Dia dianiaya tetapi Dia membiarkan diri-Nya ditindas. Dia membiarkan diri-Nya ditindas. Dia memiliki kuasa. Dia sungguh-sungguh memiliki kuasa. Ketika Dia ditangkap oleh Yudas dan para serdadu bait Allah dan Petrus itu memakukan dan memutuskan telinga kanan imam besar Malkhus. Yesus Kristus mengatakan kepada Petrus, “Sarungkan pedangmu. Apakah engkau menyangka Aku tidak mampu untuk meminta bala tentara surga, 12 pasukan malaikat untuk membantu Aku di sini?” Apa yang terjadi jikalau Tuhan Yesus di kayu salib mengatakan satu kalimat ini, “Serbu!” Maka seluruh malaikat akan hadir dan menghancurkan seluruh orang Romawi di sana. Tetapi kalimat itu tidak ada. Kalimat pertama adalah: Bapa, ampunilah apa yang mereka perbuat karena mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.

Dia membiarkan diri-Nya ditindas. Kalimat yang bisa membuat seluruh langit dan bumi, meredakan lautan, membangkitkan orang mati. Dan yang akan menentukan kita berada di mana di dalam kekekalan, yang bisa membuat seluruh malaikat bergerak. Sekarang Juruselamat itu untuk keselamatanmu dan aku. Untuk cinta Allah sampai kepada kita, Dia diam. Diam. Bukankah Dia satu-satunya Pribadi yang harus dipuji selama-lamanya? Bukankah Dia Pribadi yang indah dan mulia yang seluruh hidup kita harus takluk kepada Dia? Mintalah selalu takut kepada Dia. Kalau ada bagian-bagian Firman yang tidak kita ketahui, mintalah untuk Dia menjelaskannya kepada kita. Kiranya hidup kita hanya untuk kemuliaan-Nya saja.

Alamat

556 - 558 Botany Road, Alexandria, NSW, 2015
sekretariat@griisydney.org
0422690913
0430930175

Social Media

Facebook GRII Sydney Instagram GRII Sydney Twitter GRII Sydney


Google Play Store
App Store

^