[simple_crumbs root="Home" /]
kembali

28 February 2021

Pdt. Agus Marjanto, M.Th

Respon terhadap Providensia Allah dalam Penderitaan (8)

1 Petrus 5:6; Yakobus 4:6-10

Kita terus memikirkan mengenai satu topik ini: Apa yang Allah inginkan yang menjadi tugas kita ketika kita berada di dalam penderitaan? Beberapa khotbah terakhir ini kita ambil saripati dari bukunya Thomas Boston, the Crook in the Lot. Jikalau yang bengkok itu menjadi bagian dari hidup kita, jika hidup kita tidak lurus, jikalau hidup kita berada di dalam apa yang kita sendiri tidak inginkan, jika penderitaan itu terjadi dan menjadi bagian yang ditentukan dalam hidup kita, apa yang harus kita lakukan? Maka Alkitab mengatakan: rendahkan dirimu di bawah tangan Allah yang kuat. Kalau saudara-saudara membaca buku Thomas Boston ini, maka dia di dalam seluruh sudutnya akan membawa kita, menyetir kita untuk bisa belajar rendah hati. Dan dia sendiri mengeksposisi, ada perbedaan yang jelas antara orang yang rendah hati dan orang yang sombong di hadapan Allah. Allah sendiri menuntut kerendahan hati. Yang rendah hati yang diselamatkan. Yang rendah hati akan mendapatkan pertolongan. Yang rendah hati akan mendapatkan kelepasan pada waktunya. Yang rendah hati akan mendapatkan peninggian pada waktunya Tuhan. Seluruh kalimat ini disatukan oleh Tuhan: Aku menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati. Tetapi dosa di dalam diri kita selalu membawa kita untuk meninggikan diri kita. Selalu mengangkat diri kita adalah orang yang benar. Bahkan kita yang paling direndahkan pun kita tetap menganggap diri kita adalah orang yang benar. Alkitab dengan jelas menyatakan itu adalah kecelakaan daripada manusia. Orang yang sombong akan ditinggalkan oleh Allah. Orang yang sombong akan dilupakan oleh Allah. Orang yang sombong tidak akan mendapatkan revelation, pewahyuan diri-Nya Allah kepada kita. Orang yang sombong akan membuat Allah diam kepada dia. Ketika Yesus Kristus diadili oleh Pilatus, Pencipta seluruh alam diadili oleh yang dicipta. Ketika Pilatus bertanya dan Yesus kemudian menjawab, tetapi Pilatus itu kemudian tidak puas dengan jawaban Yesus Kristus. Dia masih mempertanyakan. Dia mengatakan, “Apakah kebenaran itu?” Sampai di situ maka Yesus itu diam. Perhatikan prinsip ini: Setiap orang yang sombong tidak mungkin akan mengerti isi hati Tuhan. Setiap kali kita sombong, Tuhan akan menutup diri-Nya. Setiap kali kita mau mengangkat diri kita dan mengatakan aku tidak layak mendapatkan segala kehinaan ini, Tuhan akan diam kepada kita. Oh, kiranya Firman ini menuntun kita masuk di dalam sekolah kerendahan hati dan ini memang sulit. Tetapi ini adalah pintu gerbang dari berkat demi berkat yang dari Tuhan.

Ketika Allah itu merendahkan melalui penderitaan, apa yang harus kita kerjakan? Kita harus setuju kita merendahkan diri di depan Dia. Dan itu artinya apa? Dua hal ini sudah minggu lalu kita bahas. Arti pertama dari rendahkan dirimu di bawah tangan Allah yang kuat adalah, engkau perhatikan tangan Allah yang kuat itu apa, itu adalah seluruh circumstances yang Tuhan hadirkan kepada kita. Itu seluruh jalan-jalan yang Tuhan tutup bagi kita. Itu segala hal yang membuat kita itu terdesak. Itu adalah orang-orang yang dihadirkan Allah untuk menentang kita bahkan. Terhadap hal-hal itu, taklukkan jiwa kita. Jangan marah. Tetapi kendalikan jiwa kita untuk menerima segala sesuatunya ini. Hal yang kedua, ketika bicara berkenaan dengan rendahkan dirimu di bawah tangan Allah yang kuat. Apa artinya merendahkan diri? Adalah menyadari ketidaklayakan kita. Kita ini bukan siapa-siapa. Tidak mempertahankan dengan bersikeras keunggulan kita untuk membawa case kita ini di hadapan Allah. Dan minggu yang lalu kita sudah bicara tentang hal ini. Di dalam dua hal ini. Benar-benar kita bergantung kepada anugerah Allah kepada kita. Kalau bukan Tuhan yang membuat hal seperti ini di dalam diri kita melalui Dia mewahyukan diri-Nya, maka kita tidak mungkin memiliki kerendahan hati. Setiap dari poin-poin yang ada biarlah saudara dan saya sama-sama mau minta tolong kepada Tuhan untuk Tuhan menciptakan hal-hal itu dalam hati kita. Secara manusia, secara alami, orang terbaik apapun tidak memiliki hal-hal paling dasar yang Alkitab katakan dan tuntut dalam hidup kita. Kecuali belas kasihan-Nya diberikan kepada kita. Kecuali Roh-Nya yang suci membentuk hati kita. Kecuali Firman-Nya ini ditanam di dalam hati kita. Biarlah kita boleh sungguh-sungguh bersandar kepada Allah Tritunggal di dalam seluruh keberhasilan hal rohani.

Hal yang ketiga, apa artinya rendahkan diri di bawah tangan Allah yang kuat? Artinya adalah memperhatikan dosa dan kejijikan kita di hadapan Allah. Saudara perhatikan baik-baik apa yang menjadi penekanan: memperhatikan. Memperhatikan apa? Thomas Boston menyatakan memperhatikan keberdosaan kita. Memperhatikan betapa jijiknya dosa yang telah kita itu lakukan di hadapan Allah. Bukan memperhatikan kesalahan orang lain. Bukan memperhatikan respon orang lain kepada kita. Bukan memperhatikan kehebatan kita di masa lalu. Tetapi, memperhatikan dosa kita adalah seperti membawa dosa kita di bawah kaca pembesar Allah, yaitu sifat kesucian-Nya Tuhan. Perhatikan apa yang menjadi prinsip Thomas Boston di sini. Perhatikan bahwa engkau harus memperhatikan sedemikian rupa. Meneliti. Menyelidiki. Meng-observasi. Dan minta Roh Kudus itu bekerja di dalam hati kita. Sehingga kita dapat berseru, setuju dengan apa yang Allah itu nyatakan. Allah menyatakan dalam Roma 3:10. “Tidak ada orang benar, seorangpun tidak.” Biarlah kita itu meneliti sedemikian rupa, menyelidiki, mengobservasi dosa-dosa kita dan minta Roh Kudus bekerja dalam hati kita. Membentuk hati yang bisa menyuarakan seperti Yesaya menyatakan ini, “Demikianlah kami sekalian seperti orang najis dan segala kesalehan kami seperti kain kotor; kami sekalian menjadi layu seperti daun dan kami lenyap oleh kejahatan kami seperti daun dilenyapkan oleh angin.” Lihat bagaimana spiritual formation dari orang-orang Puritan. Ketika mereka melihat kalimat yang diucapkan di Alkitab, mereka berdoa kepada Tuhan. Kiranya Firman ini, kiranya kalimat yang keluar dari Yesaya, Ayub atau Yeremia atau siapapun saja menjadi kalimat yang genuine keluar dari mulut dan hatiku. Itu adalah kerohanian yang sejati. Kita banyak sekali memiliki kerohanian-kerohanian yang palsu. Kita berpikir bahwa kita adalah orang Kristen. Kita berpikir bahwa Roh Kudus bekerja dalam diri kita. Tetapi kenapa kalimat-kalimat mereka berbeda dengan kalimat-kalimat kita? Ketika kita membaca Alkitab, kita berpikir itu adalah masa lalu. Lalu kemudian kita menganalisa teologianya. Tetapi orang-orang Puritan tidak. Mereka melihat bahwa Roh itu, Roh yang sama yang bekerja di dalam Yesaya kalau bekerja dalam diri mereka, mereka akan memiliki prinsip rohani yang sama. Siapa yang pernah mengatakan kepada Tuhan seperti ini? “Demikianlah kami sekalian seperti seorang najis. Dan segala kesalehan kami seperti kain kotor. Kami sekalian menjadi layu seperti daun. Dan kami lenyap oleh kejahatan kami seperti daun dilenyapkan oleh angin.” Siapa yang pernah mengucapkan hal seperti ini? Kalau Roh yang sama itu bekerja di dalam mereka dan hidup kita bukankah kita memiliki teriakan yang sama? Kita melihat Alkitab itu melihat apa? Berita masa lampau. Tidak ada urusannya. Ok, saya akan diskusi teologia mengenai hal ini. Saya akan analisa-analisa. Orang Puritan akan minta lebih daripada itu. Orang ini bisa teriak seperti ini, berarti ada sesuatu pekerjaan Roh Kudus di dalamnya. Yesaya bisa meneriakkan seperti itu berarti dia mengerti, menyelidiki, mengobservasi, meneliti sedemikian rupa dosa-dosanya. Siapa yang pernah bertaruh bergumul dengan dosa sedemikian rupa sampai akhirnya itu teriak “Celaka aku! Siapa yang bisa membebaskan aku dari tubuh binasa seperti ini?” Pengalaman Paulus, pengalaman Yesaya, kenapa tidak menjadi pengalaman hidup kita? Dan biarlah kita boleh mengerjakan pekerjaan yang Tuhan berikan pada kita sambil kita terus minta anugerah-anugerah. Kiranya Roh yang bekerja pada mereka, Roh yang sama bekerja dalam hidupku, ya Tuhan. Sekali lagi, prinsip yang ketiga bicara: kita diminta untuk memperhatikan dosa kebersalahan kita sampai kita sadar kejijikan dosa kita di hadapan Allah. Ini salah satu masalah besar dalam hidup kita. Kita tidak teliti dan kita tidak mau diteliti untuk menyelidiki dosa kita. Seringkali kalau kita mengaku dosapun, saudara merasa tidak enak dalam hati karena dosa, kemudian saudara mencari hamba Tuhan atau mencari konselor atau saudara-saudara mencari orangtua atau siapa pun yang menurut saudara-saudara bisa ada tempat pelampiasan release dari guilty feeling saudara-saudara. Lalu kita mengaku dosa kita, “Saya mengaku dosa, saya sudah melakukan ini.” Kemudian orang itu tanya, “Kapan terakhir kamu melakukannya?” Lalu biasanya kita akan mengatakan. “Oh, sudah lama.” Tetapi ketika orang itu tanya dengan sungguh-sungguh lagi untuk meminta kita mengingat kapan terakhir kita melakukannya. Lalu kita berpikir sebentar dan kemudian kita mengatakan, “Senin yang lalu.” Saya beberapa kali bicara kepada beberapa anak-anak muda, lalu saya tanya kepada mereka, “Apakah engkau terlibat pornografi?” Kemudian mereka mengatakan, “Oh, dulu iya tetapi sekarang sudah tidak.” Lalu saya tanya lagi kepada dia, “Kapan terakhir kamu nonton?” Dan mereka mengatakan, “Sudah lama.” “Lamanya itu kapan?” Kemudian mereka pikir-pikir dan menjawab, “Dua minggu yang lalu.” Saudara bisa mengerti, ini adalah suatu kebiasaan kita. Oh, sudah lepas kok. Sudah lama. Kita tidak mau meneliti dosa itu. Kita tidak lagi mau mengingat, memperhatikan. Kita cepat-cepat mau mengubur kotoran itu dan tidak menyentuhnya lagi. Tetapi sesungguhnya kita belum menyelesaikan secara tuntas di hadapan Allah. Sehingga di dalam waktu dekat ini akan muncul lagi. Ini masalah utama kita. Kita tidak pernah menyadari, atau tepatnya tidak mau menyadari bobot dosa kita seberapa sesungguhnya evil of sin itu. Ada satu tulisan seorang teolog yang sangat baik. Dia mengatakan demikian. Jiwa kita mati rasa terhadap evil of sin. Kejahatan dosa. Perhatikan, orang-orang Puritan sangat-sangat menekankan kejahatan dosa. Perhatikan, dosa itu sendiri di dalamnya ada sesuatu kejahatan. Bagi orang-orang Puritan, kejahatan itu lebih jahat daripada setan. Saudara-saudara, setan itu bisa menjadi setan adalah karena dosa itu. Maka orang-orang Puritan terlalu menekankan, sangat-sangat menekankan, engkau harus mengerti evil of sin. Karena dengan mengerti the evil of sin itu. Engkau bisa mengatakan: celaka aku, aku manusia binasa. Tetapi kita mati rasa terhadap hal ini. Teolog ini mengatakan sesuatu yang indah, saudara perhatikan. Kita merasakan sakit yang ditimbulkan dari rasa bersalah karena dosa. Perhatikan, guilt of sin membuat kita rasa sakit. Atau sakit yang ditimbulkan karena konsekuensi dosa. Dan terhadap guilt of sin dan konsekuensi of sin ini yang menyakiti kita dari waktu ke waktu. Tetapi kejahatan dosa, evil of sin, hampir tidak dapat kita rasakan atau kita tidak rasakan sama sekali. Hanya evil of sin yang dapat kita rasakan yang membuat kita menyadari kejijikan kita dan membuat kita bisa merendahkan diri di bawah tangan Allah yang kuat. Sepanjang itu kita tidak dapatkan, kita tidak akan bisa merendahkan diri di bawah tangan-Nya. John Owen memberikan gambaran tentang kesadaran ini. Di dalam bukunya Mortification of Sin dia mengatakan kesadaran akan evil of sin seperti lukisan seperti ini gambaran seperti ini: Bayangkan seorang pria dengan kaki yang mati rasa. Selama kakinya kehilangan sensasi itu, pria itu menanggung luka dalam dari tombak tetapi tidak merasakannya. Namun begitu syarafnya terbangun, dia paling sedikit akan merasakan tertusuk dan akan merasakan bahwa tombak itu lebih tajam dari sebelumnya. Padahal semua perbedaannya adalah hanya karena sekarang dia memiliki akal yang sudah terbangun. Luar biasa. Saudara perhatikan Owen, bagaimana dia membereskan dan menjelaskan masalah ini. Kita itu mati rasa sekarang, kemudian ada tombak yang menusuk kaki kita. Dan kita tidak rasakan apa-apa. Tetapi kemudian setelah syaraf kita terbangun baru kita merasakan sakit. Kita merasakan tertusuk. Tetapi juga kita merasakan tombak itu lebih tajam daripada sebelumnya padahal sebenarnya sama. Yang membedakannya adalah sekarang syaraf kita semuanya sudah bangun. Demikian juga dengan dosa. Kalau kita tidak dibangunkan oleh Roh Kudus. Saudara tidak akan rasa apa-apa. Iya saudara akan melihat ada sesuatu benda yang masuk. Dan karena benda itu cukup panjang maka jalan anda akan terganggu. Dosa membuat hidup kita tidak terlalu nyaman. Iya ada darah yang keluar. Ada sesuatu konsekuensi di dalam dosa itu yang melukai kita. Tetapi kita tidak merasakan ketajaman tombak itu. Kita tidak menyadari seberapa tajam sesungguhnya tombak itu mengiris kita. Ini yang Thomas Boston menyatakan itu the evil of sin.

Telitilah apa yang terjadi dalam hidup kita dan minta Tuhan itu membuat kepada kita kebangunan baru, kita akan menyadari the evil of sin itu seperti apa. Kalau saudara-saudara melihat tadi kembali di dalam Yakobus 4:7 “Karena itu tunduklah kepada Allah, dan lawanlah Iblis, maka ia akan lari dari padamu! Mendekatlah kepada Allah, dan Ia akan mendekat kepadamu. Tahirkanlah tanganmu, hai kamu orang-orang berdosa dan sucikanlah hatimu, hai kamu yang mendua hati! Sadarilah kemalanganmu, berdukacita dan merataplah.” Perhatikan, “Sadarilah kemalanganmu, berdukacita dan merataplah.” Ini berarti orang Kristen yang sebenarnya, dia itu berdosa tetapi tidak menyadari kemalangannya, tidak bisa meratap, tidak bisa berdukacita. Kalau kita tidak memilki sense akan kejahatan dosa kita, kita tidak mungkin bertobat kita tidak mungkin merendahkan diri. Berapa puluh tahun yang lalu ada suami isteri muda datang kepada kami (saya dan isteri saya) dan kemudian mereka sharing. Intinya isterinya itu marah dan nangis dan kemudian dia mengatakan bahwa di HP suaminya, dia temukan banyak foto perempuan, teman-teman suaminya yang tidak menggunakan pakaian. Dan sebelum isterinya selesai bicara, kemudian suaminya itu bicara, “Ko Agus jangan naif ya, dan kamu juga isteriku, kamu pikir kamu orang suci? Bilang dong sama penginjil, kita lakukan apa sebelum menikah. Dan Pak Agus, you jangan naif ya semua pemuda di tempat ini, mereka semua itu sudah pasti melakukan hubungan seks. Engkau perlu nama?” Saya tidak peduli bagaimana pemuda saya, hanya Tuhan saja yang akan memelihara satu persatu, tetapi perkataan dia membuat saya sadar bahwa orang ini tidak mengerti the evil of sin yang dia kerjakan. Dan itu yang terjadi juga dalam hidup kita. Saudara dan saya tidak mungkin merendahkan diri di bawah tangan Allah yang kuat kecuali saudara dan saya mengerti betapa kejam jahatnya sesuatu dosa yang sudah kita lakukan. Kita mengentengkan apa yang sudah kita kerjakan, dan jikalau itu terjadi pastilah kita akan mengatakan orang lain lebih parah dari saya. Kalau itu terjadi, itu ada pada kita, bahkan kita bisa mengkritik orang lain, saudara-saudara ini sesuatu yang celaka bukan? Tetapi jikalau evil of sin itu dimunculkan dan sensasi rohani kita itu dibangunkan oleh Allah, maka kita berseru seperti Paulus berseru, “Di antara seluruh orang berdosa, aku yang paling berdosa.” Ini adalah kalimat bukan sesuatu kalimat yang boasting. Kalimat ini bukan juga menyatakan bahwa Paulus itu tadinya tidak melacur sekarang melacur. Tetapi kalimat ini menyatakan adanya pertumbuhan rohani di hadapan Allah.

Saya sudah pernah mengatakan kepada saudara, sekarang saya katakan lagi. Kalau saudara-saudara melihat ada tiga kalimat yang mengindikasikan pertumbuhan rohani Paulus. Yang pertama adalah 1 Korintus 15, dia mengatakan, “Di antara seluruh rasul, aku rasul paling kecil.” Kurang lebih empat sampai enam tahun kemudian dia menuliskan daripada buku Efesus dia mengatakan, “Di antara semua jemaat, aku orang yang paling berdosa.” Dan dua tahun kemudian dia menuliskan di Timotius, dia mengatakan, “Di antara semua orang berdosa, akulah yang paling berdosa.” Saudara-saudara apakah itu artinya dalam enam tahun dia tadinya tidak melakukan pencuriaan sekarang melakukan pencurian? Jawabannya tidak. Pertumbuhan rohani itu makin membuat Paulus makin mengenal kesuciaan Allah dan kesuciaan Allah akan menyoroti dosa-dosa dan dia bisa menemukan pada dosa sekecil-pun the evil of sin. Itulah sebabnya gereja kita semua perlu untuk berdoa adanya sesuatu revival, regeneration, and revival itu adalah hal yang terus menerus diperlukan oleh kita semua. Ini artinya adalah sesuatu kehidupan yang baru, itu artinya sesuatu kebangunan yang baru. Ketika Alkitab bicara berkenaan dengan revival, itu bukan bicara berkenaan dengan tadinya itu gerejanya pake musik hymn lalu kemudian jadi musik pop, atau tadinya ada orang yang sakit lalu kemudian disembuhkan, atau tadinya tidak ada penari latar kemudian ada penari latar. Itu adalah kebohongan dan kepalsuan. Apakah revival yang sejati itu bisa terjadi kepada geraja-gereja dengan musik hymn? Jawabannya adalah bisa. Kenapa saudara mengganti musik hymn lalu kemudian dengan pop memasukan band kemudian saudara bilang itu revival? Itu kebohongan! Revival itu bersangkut-paut pada kesadaran baru akan evil of sin yang kita itu perbuat. Orang yang mendapatkan revival itu artinya memiliki pandangan baru yang segar akan the holiness of God, menyadari bobot dosa. Dan Thomas Boston mengatakan jika kita tidak menyadarai bobot dosa kita, kita tidak akan menerima penderitaan dan perendahan yang diizinkan Allah terjadi pada kita. Jika kita bisa menyetujui betapa dosa kita itu sangat besar, kebersalahan kitalah yang membawa kita secara adil dimasukan dalam penderitaan dan kenajisan yang telah kita lakukanlah yang membuat kita dihina. Maka hal-hal inilah yang membuat kita menyadari bahwa hukuman penderitaan ini layak ditimpakan kepada kita. Dan apa yang kita terima ini tidak lebih rendah dari apa yang sesungguhya kita layak terima. Sekali lagi, jikalau kita menyetujui betapa dosa kita sangat besar, jikalau kita bisa menyadari kejahatan daripada dosa itu, dan kebersalahan kitalah yang membawa kita secara adil dimasukan dalam penderitaan dan kenajisan yang telah kita lakukan yang membuat kita itu dihina, maka hal-hal itu akan membuat kita menyadari bahwa hukuman penderitaan ini layak untuk kita terima dan yang kita terima ini tidak lebih rendah dari apa yang sesungguhnya kita layak untuk terima. Dan ini persis seperti perampok yang bertobat itu. Dia mengatakan kepada perampok yang satu yang tidak bertobat itu, “Apakah engkau tidak takut orang ini menanggung penderitaan yang tidak seharusnya dia tanggung? Dia tidak melakukan kejahatan tetapi kita layak untuk ini.” Roh Kudus memampukan dia mengerti evil of sin. Apa yang dia sudah lakukan di hadapan Allah dan manusia itu sungguh-sungguh jahat. Dia tidak mengatakan, “Orang lain lebih jahat daripada aku, kenapa engkau tidak hukum ya Tuhan?” Dia tidak mengatakan, “Tuhan aku ada hal-hal yang baik, ya ini jahat, tetapi ini ada hal yang baik.” Dia tidak melakukan dan tidak mengatakan hal itu. Persis seperti Daud, “Kalau Engkau itu mengutuk aku, biarlah Dia itu mengutuk.” Ini adalah orang yang rendah hati ini, tidak bisa saudara dan saya itu untuk kita usahakan. Ini semuanya adalah pemberian Tuhan, maka merataplah, mintalah, itulah sebabnya Yakobus mengatakan biarlah sukacitamu kamu ganti dengan dukacita. Thomas Boston kemudian mengatakan sebaliknya, jika kita tidak memperhatikan hal-hal ini yaitu keberdosaan dan kehinaan kita, jika kita tidak memperhatikan jalan ini mengobservasi, meneliti, memperhatikan dengan cermat dosa kita di masa lampau maka kita membangkitkan kesombongan diri kita di hadapan Allah dan kita sulit untuk merendahkan diri kita di bawah tangan-Nya yang perkasa.

Hal yang keempat, apa arti merendahkan diri dan kita akan menyelesaikan poin yang ke-4 ini. Yaitu ketertundukan yang diam di bawah Allah. Perhatikan: ketertundukan yang diam. Ini adalah sikap menyerah kepada Allah, bukan tidak peduli tetapi adalah hati yang lembut yang mau menyerah kepada Tuhan. Ketika bicara mengenai silent, ketika bicara mengenai diam, itu artinya bahwa tidak complain kepada Tuhan, tidak berbantah kepada-Nya tidak bersungut-sungut kepada Dia. Diam di sini bukan berarti kita dilarang untuk berbicara, karena banyak juga orang yang tidak berbicara sama sekali tetapi marah di dalam hati, complain di dalam hati, jiwanya bersungut-sungut, tidak menerima dan gusar. Tetapi ini adalah sesuatu hati yang lembut yang menerima. Tidak complain kepada Tuhan, saya akan jelaskan sedikit.

Banyak dari kita terjebak dalam spiritualitas yang semu. Tentu kita tidak berani complain sama Tuhan. Kita mungkin tidak berani seperti Stalin yang sebelum mati itu dia mengacungkan tangannya ke langit mau melawan Tuhan. Kita tidak berani complain kepada Tuhan, tetapi sebenarnya kita complain kepada Tuhan kalau saudara complain kepada institusi-institusi atau orang-orang yang Tuhan itu pakai sebagai representative-Nya di dunia ini. Berapa banyak kali saya menemukan hal-hal seperti ini. Tiba-tiba ada orang itu yang complain kepada geraja, complain kepada kami. Padahal kami dan gereja tidak ada kesalahan atau apapun saja terhadap dia. Dia begitu gampang sekali tersinggung kadang saya cuma pengen untuk panggil orang itu kemudian saya tanya apa sih masalah sebenarnya, apa kami pernah hutang dan tidak  dibayar? Kami pernah menghina engkau? Kami pernah mencuri uangmu? Kenapa? Kelihatan sekali cari perkara. Kalau saya tidak mengerti prinsip ini yang sudah diajarkan dalam seminari, pasti saya kebingungan kenapa semua ini terjadi. Tetapi ini yang terjadi sebenarnya di dalam hati kita dan ini bukan saja hati saudara tetapi hati saya juga maka dari itu kita perlu berhati-hati, kita tidak mungkin berani seperti Stalin untuk complain kepada Allah, tetapi karena kita tidak berani maka secara psychological projection, kita memproyeksikan complain kita kepada Allah kepada institusi atau orang yang di dalam hati kita anggap dia adalah wakil Allah. Kebenaran ini saya pelajari beberapa puluh tahun yang lalu ketika kami studi dan saya sangat-sangat marah dengan satu hamba Tuhan dan kemudian saya complain tentang dia, kepada beberapa orang. Lalu kemudian ada satu kalimat dari hamba Tuhan yan membuat saya tersadar ketika engkau complain sebenarnya engkau complain kepada Allah. Saya awalnya tidak bisa terima kalimat itu. Saya tidak complain sama Tuhan. Tetapi ketika saya mulai memikirkan, saya menyadari bahwa saya tidak menyukai, saya tidak bisa menerima providence of God, apa yang terjadi dalam hidup saya. Dan saya kemudian mengatakan kepada orang lain, “Ah, dia tidak ada cinta kasih, dia cuma bisa bicara saja tetapi tidak pernah besuk aku, memang benar, tetapi tidak ada cinta.” Apapun saja saya akan lemparkan kemarahan saya dan itu adalah kesombongan di hadapan Allah. Thomas Boston mengatakan tidak ada penyebab yang lain selain jiwa yang sombong yang tidak mau takluk yang membawa kita menjawab lagi, complain lagi, marah lagi, di bawah tangan Allah yang berdaulat.

Thomas Boston kemudian mengatakan: Apakah engkau lupa akan satu ayat ini? Roma 9:20 Allah berfirman, ‘Siapakah kamu, hai manusia, maka kamu membantah Allah? Dapatkah yang dibentuk berkata kepada yang membentuknya: “Mengapakah engkau membentuk aku demikian?”’ Sebaliknya jiwa yang rendah hati yang melihat dengan kagum tangan Allah yang berkuasa di dalam providensia-Nya membawa orang rendah hati ini tunduk di dalam kedalaman keheningan. Itulah yang dikatakan pemazmur dalam Mazmur 39:10, “Aku kelu. Tidak kubuka mulutku sebab Engkau sendirilah yang bertindak.” Dan Ayub mengatakan, “Sesungguhnya aku ini terlalu hina. Jawab apakah yang dapat kuberikan kepada-Mu? Mulutku kututup dengan tangan. Satu kali aku berbicara tetapi tidak akan kuulangi bahkan dua kali tetapi tidak akan kulanjutkan.” Saudara-saudara, perhatikan Ayub mengatakan: sesungguhnya aku ini terlalu hina. Padahal Allah mengatakan kepada seluruh pasukan setan you lihat hamba-Ku Ayub tidak ada orang seperti ini di seluruh kolong langit. Dia yang diangkat oleh Allah adalah orang yang mengerti kehinaannya. Maka belajar ini adalah prinsip-prinsip rohani yang sangat-sangat tidak mudah. Tidak mudah buat saya, tidak mudah buat saudara. Semua dari kita termasuk saya, kita berada di bawah Firman. Tetapi ini yang Allah itu nyatakan. Ini Allah yang mau. Dan jikalau engkau sama seperti saya, menyadari bahwa Tuhan ini tidak mungkin saya bisa usahakan sendiri, hanya anugerah-Mu saja yang membentuk hati yang rendah hati di bawah tangan-Mu yang kuat, maka bersama-sama mari kita berdoa minta belas kasihan Tuhan menciptakan hati yang rendah hati di dalam hidup kita.

Alamat

556 - 558 Botany Road, Alexandria, NSW, 2015
sekretariat@griisydney.org
0404242433
0430930175

Social Media

Facebook GRII Sydney Instagram GRII Sydney Twitter GRII Sydney


Google Play Store
App Store

^