[simple_crumbs root="Home" /]
kembali

20 December 2020

Pdt. Agus Marjanto, M.Th

CHRIST – The Mystery of Godliness

1 Timotius 3:16

Kalau saudara-saudara ditanya apa itu kekristenan, apa yang akan saudara jawab? Agama itu selalu merupakan suatu realitas yang sangat kompleks. Tetapi dapatkah kita mendefinisikan apa itu sesungguhnya kekristenan? Maka jawaban tentang apa itu kekristenan hanya ada di dalam dua kata ini yaitu Yesus Kristus. Kekristenan bukanlah kumpulan ajaran-ajaran saja. Kekristenan bukan bicara berkenaan dengan peraturan apa yang boleh dan apa yang tidak boleh kita lakukan. Kekristenan juga bukan kumpulan hal-hal formal religiusitas. Kekristenan itu dalam seluruh aspeknya adalah bicara mengenai satu hal ini yaitu Yesus Kristus. Inilah yang membedakan kekristenan dengan seluruh agama yang lain. Lihatlah seluruh agama yang lain. Buanglah pendirinya, maka agama itu tetap bisa berdiri. Tetapi lihatlah kekristenan. Buanglah Yesus Kristus, maka seluruh kalimat di dalam Alkitab ini akan roboh semuanya. Sesungguhnya bukannya Alkitab yang menjelaskan tentang Yesus Kristus, tetapi malah sebaliknya. Yesus Kristus-lah penyebab semua kalimat di dalam Alkitab ini ada. Barangsiapa mengerti hal ini adalah orang-orang yang mendapatkan keselamatan yang kekal. Alkitab di sini menyatakan Yesus Kristus adalah rahasia ibadah kita. Rahasia ibadah itu apa? Rahasia ibadah itu adalah pokok keselamatan. Saya sudah mengeluarkan satu kalimat yang buat kita sangat familiar - kata keselamatan. Tetapi sesungguhnya apa yang Alkitab ajarkan berkenaan dengan keselamatan itu? Sesungguhnya Alkitab mengajarkan, ketika bicara mengenai seseorang itu diselamatkan di dalam Yesus Kristus, itu tidak saja bicara berkenaan dengan hidup kekal di sorga, tetapi juga bicara mengenai kehidupan di bumi ini. Pagi ini saya akan membicarakan mengenai ayat ini dan mengeksposisinya dari sudut pandang keselamatan. Ada dua hal yang saya akan mau bicarakan pagi hari ini. Pertama adalah keselamatan di dalam arti kata hidup kekal di sorga. Apa relasi antara Yesus Kristus yang hadir di hari Natal dengan keselamatan kita di sorga. Hal yang kedua adalah keselamatan di dalam arti kata hidup di bumi ini. Apa arti Yesus Kristus itu harus datang di hari Natal menjadi manusia di bumi ini di dalam relasinya keselamatan di bumi ini, dalam relasinya kita menjadi manusia di bumi ini.

Hal yang pertama, kita akan bicara berkenaan dengan keselamatan di dalam arti hidup yang kekal. Di sini dikatakan: “…agunglah rahasia ibadah kita: Dia, yang telah menyatakan diri-Nya di dalam rupa manusia...” Arti kata di sini adalah bicara mengenai Yesus Kristus adalah inti iman, inti ibadah, sumber keselamatan satu-satunya. Perhatikan penekanan yang ditulis Paulus di sini. Agunglah rahasia ibadah kita, Dia yang menyatakan diri-Nya dalam rupa manusia. Yesus Kristus yang adalah Allah yang menjadi manusia, Allah yang sejati dan manusia yang sejati di dalam Dia-lah sumber keselamatan, Dia-lah inti iman Kristiani. Perhatikan, keselamatan adalah beriman kepada Kristus Yesus yang adalah manusia yang sejati dan Allah yang sejati. Perhatikan apa yang menjadi penekanan di sini. Ini bukan bicara berkenaan dengan Yesus Kristus saja. Ini bicara berkenaan dengan satu doktrin yang dasar yang penting sekali, bahwa yang kita percaya itu adalah satu-satunya Pribadi yang unik, yang tidak ada bandingannya, yang pendiri agama apapun saja tidak bisa menyainginya. Dia bukan saja unik di dalam pekerjaan-Nya dan perkataan-Nya. Tetapi Dia unik di dalam Pribadi-Nya, satu Pribadi dua sifat, Allah yang sejati dan manusia yang sejati dan itulah inti esensi daripada kekristenan. Hari ini kita merayakan Natal dan apakah hari Natal itu? Kita sering sekali gagal fokus. Kita memikirkan hal-hal yang bukan menjadi fokus daripada Natal. Apakah hari Natal itu? Bagi orang dunia mungkin ini adalah hari lahirnya salah satu pendiri agama besar, Kristen. Tetapi Alkitab mengatakan tidak. Hari Natal saudara-saudara tidak tahu tepatnya itu kapan, karena sesungguhnya tidak penting tanggalnya berapa. Tetapi, yang paling penting adalah prinsip esensinya. Hari itu kapan-pun saja. Allah Pribadi kedua Tritunggal itu datang ke dunia mengambil tubuh seperti saudara dan saya - itu disebut sebagai inkarnasi. Ini adalah bahasa Latin artinya adalah menjadi daging. Firman menjadi daging. Allah menjadi manusia. Pribadi kedua Tritunggal turun ke bumi mengambil natur manusia. Hari Natal adalah hari pertama di bumi ini di mana Yesus Pribadi kedua Allah Tritunggal itu rela mengosongkan diri-Nya turun ke dunia mengenakan tubuh seperti engkau dan saya. Dia mengenakan tubuh seperti tubuh Adam setelah Adam jatuh di dalam dosa bukan tubuh Adam sebelum dia jatuh di dalam dosa. Tetapi Yesus Kristus seumur hidup-Nya tidak pernah berdosa. Itulah inti iman kita. Ini adalah misteri di atas seluruh misteri. Dan dari Pribadi yang adalah Allah yang sejati dan manusia yang sejati, satu-satunya jalan keselamatan bagi manusia yang sudah berdosa dimungkinkan dan dihadirkan oleh Allah. Yang saya akan katakan sebentar ini mungkin sesuatu yang agak sulit. Tetapi ini memang sesuatu hal yang kita harus tahu karena inilah inti iman. Saya minta saudara-saudara bersabar sebentar dan pakai seluruh kemampuan buka hati dan pikiran saudara untuk mengerti prinsip ini. Karena ini adalah mistery of godliness. Perhatikan baik-baik. Kegenapan keselamatan yang Allah berikan kepada kita ada di dalam dua kesatuan besar ini. Yang pertama adalah kesatuan antara natur ilahi dan natur manusia di dalam Pribadi Yesus Kristus. Ini secara teologi disebut sebagai hypostatical union. Sekali lagi yang pertama adalah kesatuan di dalam Pribadi Yesus Kristus; Dia adalah Allah yang sejati dan manusia yang sejati.

Keselamatan kita yang kedua itu tergantung di dalam union yang kedua yaitu kesatuan antara Kristus dengan jemaat-Nya. Ini disebut sebagai mystical unionwith Christ. Pertama adalah di dalam diri Yesus Kristus disebut sebagai hypostatiscal union. Dan yang kedua antara Kristus dengan jemaat-Nya disebut sebagai mystical union. Perhatikan pengajaran yang luar biasa penting dari Alkitab ini. Keselamatan bagi manusia terjadi jika dan hanya jika kita disatukan di dalam Kristus di dalam union with Christ. Dan union with Christ itu bisa terjadi jika dan hanya jika Kristus memiliki dua natur: Allah dan manusia di dalam Pribadi-Nya hypostatic union. Sekali lagi saya akan ulangi. Terbuka pikiran kita. Terbuka hati kita. Keselamatan bagi manusia terjadi, jika dan hanya jika, kita disatukan di dalam Kristus Yesus, union with Christ. Itulah sebabnya orang Kristen dan Alkitab mengatakan: tidak ada keselamatan di kolong langit ini kecuali di dalam Yesus Kristus. Agama tidak bisa menyelamatkan. Pendidikan tidak bisa menyelamatkan. Uang saudara tidak bisa menyelamatkan. Perbuatan baik saudara tidak bisa menyelamatkan. Kita bergantung sepenuhnya kepada perbuatan daripada Yesus Kristus, pekerjaan Yesus Kristus di atas kayu salib dan seluruh pekerjaan-Nya di dunia ini yang suci. Keselamatan kita terjadi jika dan hanya jika kita disatukan di dalam union with Christ. Tetapi union with Christ itu sendiri bisa terjadi jika dan hanya jika Kristus rela untuk turun ke dunia mengambil natur manusia menjadikan Dia hypostatical union. John Flavel seorang Puritan menyatakan. Kristus harus menjadi seperti kita secara hypostatically agar kita bisa menjadi satu dengan Dia secara mystically. Christ must become with us hypostatiscally in order for us to become one with Him mystically. Keselamatan bagi kita itu tergantung di dalam dua union yang besar ini. Yang pertama adalah union with Christ di dalam Kristus. Dan yang kedua adalah hypostatic union yaitu Yesus Kristus harus menjadi Allah dan manusia. Apakah Kristus itu bisa menyelamatkan kita kalau Dia itu adalah Allah saja, jawabannya adalah tidak. Apakah Kristus itu jikalau Dia itu adalah manusia yang sempurna yang baik sekalipun Dia bisa menyelamatkan kita? Kalau Dia bukan Allah jawabannya adalah tidak. Itulah sebabnya sesuatu kemutlakkan keperluan hypostatically union di dalam pribadi Yesus Kristus untuk keselamatan umat manusia. Itulah sebabnya Allah Anak itu harus datang di hari Natal, Firman menjadi daging.

Saudara mungkin berpikir, “Kenapa ya kalau Dia Allah, kenapa Dia tidak bisa menyelamatkan kita atau kalau Dia manusia sempurna suci kenapa Dia tidak bisa menyelamatkan kita?” Saya membawa saudara-saudara mengingat suatu pengajaran penting di dalam Bait Suci di dalam Perjanjian Lama. Allah sudah memberikan bayang-bayang mengenai Kristus dalam Perjanjian Lama. Coba bayangkan kalau kita adalah orang Israel, bagaimana kita minta untuk penebusan dosa? Maka orang-orang Israel akan mengambil domba yang berumur satu tahun yang tidak bercacat cela. Dan kemudian diberikan kepada imam. Dan imam akan melihat memeriksa seluruh daripada domba tersebut apakah dia bercacat cela atau tidak. Itu bicara berkenaan dengan korban itu harus mutlak suci. Dan kemudian domba itu dipotong. Dan darahnya tercurah. Dan selesai? Dan kemudian kita berpikir saya diselamatkan karena apa? Karena Yesus Kristus ada di atas kayu salib. Darah-Nya itu menebus hidup kita. Tetapi itu bukan keseluruhan cerita. Di dalam Perjanjian Lama di Bait Suci itu, pemotongan domba yang tidak bercacat cela itu hanya bagian permulaan. Imam itu harus membawa darah itu ke tempat ruang maha suci dan kemudian memercikkan ruang maha suci tersebut dengan darah domba. Jikalau itu diterima di ruang maha suci itu maka penebusan dosa baru terjadi. Dan ini adalah sesuatu hal yang prinsip. Korban dari domba tersebut harus masuk ke ruang maha suci, diaplikasikan, diterima baru ada penebusan. Itulah sebabnya penebus itu harus benar-benar manusia yang sempurna. Untuk bisa dipotong, disembelih, dikorbankan, darah-Nya itu tercurah. Tetapi sekaligus Dia harus Allah yang sejati untuk Dia bisa membawa korban-Nya naik ke tahta maha kudus melampaui langit. Ruang maha suci di sorga bertemu dengan Allah dan mengaplikasikan seluruh korban-Nya. Tanpa kemanusiaan-Nya, Kristus tidak dapat mencurahkan darah-Nya. Tanpa Dia menjadi manusia yang sejati, Dia tidak mungkin mati. Tanpa Dia menjadi Allah, Dia tidak dapat naik ke sorga dan mengaplikasikan korban-Nya di ruang yang maha kudus di mana Allah Bapa itu berada. Jadi jikalau Kristus tidak datang menjadi manusia apakah kita bisa diselamatkan? Dia bisa mati menjadi orang baik, menjadi orang yang tidak berdosa sekalipun. Tetapi Dia tidak mungkin bisa mengaplikasikan darah-Nya di ruang maha suci. Dan jikalau Dia bukan Allah, apakah Dia bisa naik ke sorga mengaplikasikan daripada darah ini? Sekali lagi, kalau saudara dan saya mengatakan mengenai keselamatan dan keselamatan itu adalah keselamatan hidup yang kekal, diterima oleh Bapa di sorga. Dia yang suci itu menerima kami yang berdosa. Maka hypostatic union itu harus dijalani. Supaya mystical union itu bisa terjadi. Kristus harus menjadi manusia supaya kita manusia dapat bersatu dengan Allah. Minggu yang lalu saya sudah bicara, karya keselamatan Allah itu jalannya sempit. Kadang saya berpikir kenapa Allah mesti susah-susah memakai jalan seperti ini? Apakah seluruh kalimat-kalimat dalam Alkitab ini cuma sandiwara saja? Kita mengatakan, “Bukankah Engkau maha kuasa? Engkau bisa melakukan apapun saja untuk menyelamatkan kita. Engkau bisa berkata kepada orang berdosa, ‘Hei, selamat.’ Maka dia akan selamat.” A.W. Pink menyatakan orang-orang yang mengatakan demikian adalah orang-orang yang menghina Allah. Karena engkau harus tahu bahwa seluruh perbuatan Allah harus sesuai dengan sifat-Nya. Orang yang berdosa tidak bisa sekedar Allah yang menyelamatkan dengan firman-Nya. Karena orang yang berdosa melawan kesucian Allah. Maka keadilan Allah harus dijalankan. Alkitab mengatakan upah dosa harus darah tercurah. Harus ada darah yang tercurah. Darah dari satu Pribadi yang tidak bercacat cela. Itulah sebabnya Natal harus ada. Ini bukan bicara berkenaan dengan sesuatu lagu-lagu yang indah; ada bintang, ada lilin dan kemudian ada lagu yang indah dan ada malaikat. Ini adalah bicara berkenaan dengan hypostatic union. Yang menjadi satu-satunya jalan untuk mystical union itu terjadi. Dan mystical union adalah satu-satunya jalan keselamatan umat manusia.

Sekarang saya akan masuk bagian yang kedua. Saya akan bicara berkenaan dengan keselamatan di dalam arti hidup di bumi ini. Orang Kristen ketika bicara mengenai keselamatan itu adalah bicara berkenaan paspor hidup di sorga saja. Tidak seperti itu. Keselamatan di dalam Kristus adalah bicara berkenaan dengan hidup yang bernilai, hidup yang berguna, hidup yang terhormat di bumi ini. Hidup yang tidak sia-sia di bumi ini. Di sini dikatakan: “Dan sesungguhnya agunglah rahasia ibadah kita: Dia, yang telah menyatakan diri-Nya dalam rupa manusia…” Kesalehan yang kedua di sini dikatakan, ibadah di sini dikatakan; kata godliness itu dalam bahasa Latinnya adalah pietas. Di dalam bahasa Indonesia-nya itu adalah kesalehan. Di sini dikatakan bahwa rahasia ibadah sebenarnya adalah berbicara juga rahasia kesalehan. Perhatikan, kesalehan di sini adalah bicara berkenaan dengan sikap hati terdalam yang murni, menghormati dan mengasihi Tuhan yang takut menyakiti hatinya lebih dari takut akan kematian. Perhatikan sekali lagi: ketika berbicara berkenaan dengan rahasia ibadah, di dalam bahasa aslinya adalah bicara berkenaan dengan godliness (kesalehan). Di dalam poin yang pertama tadi saya sudah mengatakan itu adalah inti iman. Dan bagian yang kedua, ini adalah bicara berkenaan dengan sikap hati terdalam yang murni, menghormati dan mengasihi Tuhan, yang takut menyakiti hati-Nya lebih daripada takut akan kematian. John Calvin (Bapak Reformator) mengatakan kesalehan ini jikalau ada di dalam hati kita, maka Allah tidak menuntut apa pun lagi dari orang tersebut. Dan perhatikan baik-baik: kesalehan, itulah yang ada di dalam diri manusia Yesus Kristus. Di dalam Kristus yang adalah Allah yang sejati dan manusia yang sejati. Di dalam Dia, kita akan mendapatkan pembenaran, tetapi di dalam Dia juga, kita akan mendapatkan pengudusan. Inilah rahasia ibadah kita. Di dalam Kristus, Roh Kudus akan bekerja di dalam hidup kita membuat diri kita makin hari makin serupa dengan Kristus, di dalam kesalehan. Ini adalah bicara mengenai justification andsanctification. Ketika bicara berkenaan dengan justification (pembenaran), maka kita melihat Yesus Kristus yang adalah Allah yang sejati dan manusia yang sejati adalah Penebus hidup kita. Dan bicara berkenaan dengan pengudusan, maka kita melihat Yesus Kristus Allah yang sejati dan manusia yang sejati adalah contoh hidup kita. Seluruh hidup kita adalah hidup yang mengikuti langkah Yesus Kristus. Hidup kita adalah hidup yang mencontoh kemanusiaan Kristus yang taat kepada Bapa-Nya. Tetapi perhatikan urutannya. Kita tidak bisa mencontoh Yesus Kristus, jikalau kita tidak memiliki iman yang pertama tadi. Yang tadi saya katakan yang pertama itu, bicara mengenai godliness adalah bicara mengenai inti iman. Kita tidak mungkin menemukan pengudusan terjadi dalam hidup kita, seumur hidup saudara dan saya menjadi orang Kristen mau seperti apa pun saja, jikalau kita tidak memiliki iman di dalam Yesus Kristus, maka tidak ada proses pengudusan yang mengikutinya. Tetapi jikalau kita beriman kepada Yesus Kristus, kita akan memiliki Roh Kudus yang menguduskan kita dengan firman-Nya, membawa kita makin hari makin hidup serupa dengan Kristus.

Dan itulah inkarnasi Kristus, itu sangat diperlukan di dalam hidup manusia. Ketika saudara dan saya melihat Natal, saudara melihat apa? Ketika saudara masuk di dalam hari Natal, saudara merasakan apa? Sebagian besar dari orang-orang selalu akan memikirkan ini adalah masa holiday. Tapi mari sekali lagi kita melihat rahasia yang besar dari ibadah kita, yaitu Yesus Kristus Allah oknum kedua Tritunggal itu menjadi manusia. Firman menjadi daging. Ketika saudara melihat Natal, saudara melihat apa? Ketika Saudara melihat Bethlehem, saudara melihat apa? Ketika kita melihat palungan itu, kita mengingat apa? Di palungan itu, di Bethlehem itu, di hari Natal itu biarlah kita mengingat, Allah Anak yang menciptakan dunia yang lebih tinggi daripada dunia, yang Alkitab katakan tidak ada yang ada selain Dia yang menciptakan itu, sekarang masuk ke dunia yang ciptaan. Apa yang saudara dan saya ingat pada hari Natal? Alkitab menyatakan Allah Anak yang kekal itu masuk ke dalam waktu. Allah Anak yang tidak dapat mati itu, mengenakan tubuh yang dapat mati. Allah Anak yang maha kuasa itu, Yahweh Tzevaot yang dilihat oleh Yesaya sekarang menjadi bayi yang kecil yang tidak berdaya yang harus disusui oleh Maria dan dilindungi oleh Yusuf. Allah Anak yang menampakkan diri-Nya di depan Musa untuk mengajarkan kesuciaan itu sekarang lahir di kandang domba yang sangat bau dan kotor. Allah Anak yang menciptakan manusia seturut rupa dan gambar Allah, sekarang hadir ke dunia di dalam rupa manusia. Allah Anak yang suaranya menggelegar sampai ke ujung-ujung bumi, sekarang lahir di dalam tangisan bayi di palungan. Allah Anak yang tidak kelihatan yang disembah para malaikat itu, sekarang terlihat oleh mata dapat dipegang dan dapat diraba oleh manusia. Menjelaskan inkarnasi di dalam bahasa manusia seperti kita melukiskan sebuah gunung yang besar di atas sebutir pasir. Kita berdiri di atas kedalaman dan kemuliaan yang tiada dasarnya. Itulah sebabnya disebut misteri di atas seluruh misteri. Misteri terbesar dari seluruh jagat raya. Mengapa Allah Anak mau menjadi manusia? Untuk apa semuanya itu? Para teolog-teolog, bapa-bapa gereja dari dulu sampai sekarang menyatakan: Allah Anak menjadi Anak Manusia agar kita anak-anak manusia dapat menjadi anak-anak Allah. Allah Anak menjadi Anak Manusia, agar kita anak manusia dapat menjadi anak-anak Allah. Alkitab mengatakan karena Allah sangat mengasihi dunia ini, Dia memberikan anak-Nya yang tunggal supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal. Mereka yang menerima Anak-Nya demikian kata Alkitab, diberi-Nya kuasa untuk menjadi anak-anak Allah yaitu mereka yang percaya kepada nama-Nya.

Hari ini kita merayakan Natal. Di palungan, kita melihat apa? Inkarnasi dan banyak hal yang dipelajari karena inilah inti iman Kristen. Tetapi sebagai aplikasi, saya akan membawa saudara-saudara untuk satu hal ini saya. Pikirkan berkenaan dengan Allah Anak menjadi manusia. Itu artinya dari tidak terbatas menjadi terbatas. Melalui inkarnasi, Allah mencangkokkan yang terbatas ke dalam diri-Nya yang tidak terbatas, sehingga Sang Tidak Terbatas itu dapat menjadi satu dengan kita sehingga kita bisa mengatakan ‘tulang dari tulangku dan daging dari dagingku’. Di palungan, Dia lahir menjadi manusia, memakai tubuh seperti saudara dan saya. Seluruh tindakan-Nya kemudian dan seluruh misi-Nya tergantung pada titik palungan ini. Seluruh pekerjaan Kristus Yesus adalah efek dari inkarnasi. Efek dari keterbatasan! Inkarnasi sebenarnya mengajarkan bagaimana kita harus hidup sebagai manusia. Alkitab dengan jelas terus mengatakan: Lihatlah Yesus Kristus, ketika engkau dicobai, lihatlah Yesus Kristus.

Mari kita lihat hidup kita. Makin hari sebenarnya hidup kita makin terbatas. Makin limited. Umur kita makin pendek. Kesehatan kita makin turun. Kita makin tua. Mata kita makin rabun. Telinga kita makin sulit untuk mendengar dengan jelas. Seluruh tubuh kita makin lemas. Ruang gerak kita makin terbatas. Kita semakin hari sebenarnya semakin habis. Kemarin kita mendengar satu kabar yang tidak mengenakkan, tiba-tiba di tengah-tengah kita, di Sydney ini kemudian ada terkena Covid lagi dan membuat daerah Northern Beaches itu semuanya di-lockdown. Dari tidak terbatas menjadi terbatas. Dan kalau saudara-saudara ada di sana, mungkin suatu hari juga itu adalah daerah kita. Mungkin kita juga akan di-lockdown. Ketika itu terjadi, dan juga kemarin dulu pernah terjadi, apa yang kita rasakan? Kita sangat stress. Kita sulit untuk menerima hidup. Kita kemudian terkena begitu banyak masalah dengan keuangan kita. Tadinya itu lancar jalan pekerjaan kita, tiba-tiba terbatas. Seluruh hidup kita, dari unlimited menjadi limited. Dari tidak terbatas menjadi terbatas. Sehingga banyak orang mengatakan, pandemi ini seharusnya membuat kita mengevaluasi ulang apa artinya menjadi manusia. Apa sebenarnya yang menjadi nilai-nilai tertinggi dari hidup kita? Karena resources kita itu makin terkuras, makin terbatas. Tetapi demikianlah manusia itu di dalam keberdosaan kita, kita lebih suka belajar dari virus Corona daripada belajar dari Betlehem. Manusia lebih sadar kehadiran virus Corona di tengah-tengah kita. Padahal itu bakteri. Yang membuat kita lockdown. Kalau saudara-saudara mau bicara berkenaan dengan real lockdown, lihat Yesus Kristus! Dari yang tidak terbatas menjadi terbatas. Dari inkarnasi itu mengajarkan bagaimana harusnya menjadi manusia meski kita semua sudah terkena dampak dari dosa. Meskipun kita memiliki tubuh yang bisa mati ini. Yesus Kristus mengajarkan kita bagaimana kehormatan seorang manusia di tengah-tengah keterbatasan. Yesus Kristus mengajarkan bahwa dengan tubuh yang terbatas ini, kita bukannya tidak dapat menikmati hidup yang dianugerahkan Tuhan kepada kita. Kristus di dalam tubuh yang terbatas itu, selalu mengucap syukur kepada Bapa-Nya. Tidak pernah mengeluh. Tidak pernah mengasihani diri. Tidak pernah tidak puas dengan hidup-Nya. Kristus Yesus dengan tubuh yang terbatas itu, mengajarkan kehormatan manusia itu tidak ditentukan dari bebas atau terbatas-Nya Dia. Kita selalu berpikir kalau hidup kita sehat, hidup kita bebas, hidup kita masih muda, maka saya bisa hidup berguna. Tetapi Yesus Kristus mengajarkan yang terbatas pun ternyata bisa dipakai Allah untuk menghasilkan kemuliaan tertinggi bagi Allah. Yesus Kristus juga mengajarkan dengan tubuh yang terbatas ini, kita dapat bersekutu dengan Allah, dapat menikmati Dia dan mempermuliakan Dia selamanya. Yesus Kristus juga mengajarkan bagaimana kita seharusnya memakai tubuh ini. Kristus Yesus mengatakan: ‘Engkau memberikan kepada-Ku, Bapa, tubuh ini untuk melakukan kehendak-Mu.’ Tubuh ini diberikan Allah kepada kita sebagai senjata-senjata kebenaran dan bukan senjata-senjata kejahatan. Yesus Kristus mengajarkan kepada kita dalam tubuh yang terbatas ini. Tubuh yang sudah dicemari dosa ini. Kita tidak harus melayani dosa. Kita tidak harus berteman dengan dunia. Di dalam tubuh yang terbatas ini, kita dapat pakai senjata kebenaran untuk melawan setan. Dan, Yesus Kristus mengajarkan bahwa bernilainya hidup ini tidak tergantung dari panjang atau pendeknya hidup kita. Dia hanya berumur 33 ½ tahun.

Saya teringat akan misionaris Jim Elliot yang sering kali saya bicara dari mimbar ini. Satu dari lima misionari yang Tuhan utus ke Auca dan mati di sana. Dia mati berumur 28 tahun, meninggalkan istri dan seorang anak yang masih kecil. Dan di dalam doanya, dia berdoa seperti ini kepada Tuhan: ‘Tuhan, aku berdoa kepada-Mu. Nyalakan ranting yang tidak berguna ini yaitu hidupku ini. Bakarlah diriku untuk-Mu. Pakai sampai habis seluruh hidupku, ya Tuhan karena ini adalah milik-Mu. Aku tidak mencari umur yang panjang, tetapi aku mencari hidup yang penuh seperti Engkau, Tuhan Yesus’. Aku tidak mencari umur yang panjang. Tetapi aku mencari hidup yang penuh seperti Engkau, Tuhan Yesus.

Alkitab mengajarkan, jalan keselamatan itu bukan saja bicara berkenaan dengan pergi ke surga, tetapi bagaimana memiliki hidup yang sungguh-sungguh berarti di dalam keterbatasan kita di bumi ini. Dan melalui inkarnasi, Yesus Kristus menunjukkannya kepada kita, apakah itu kekristenan? Dua kata. Yesus Kristus bukan kumpulan boleh atau tidak boleh. Bukan kumpulan saudara harus pergi ke gereja atau tidak. Tetapi adalah berbicara berkenaan dengan relasi, trust kepada Yesus Kristus. Dan saya akan jelaskan dalam waktu yang singkat ini. Apa artinya trust in Him? Ini bukan berarti bicara berkenaan dengan historical faith. Bahwa saudara percaya ada satu orang yang dikatakan tadi di dalam khotbah, pernah datang dan membawa catatan Alkitab ini tidak salah. Bukan itu saja. Ini juga bukan berbicara mengenai functional faith. Bahwa Dia akan melakukan pekerjaan-Nya bagi kita seperti saudara percaya kepada pembantu saudara. Saudara meninggalkan pembantu saudara di rumah untuk melakukan pekerjaannya bagi kita dan dia tidak akan cheating kepada kita. Dan banyak orang Kristen itu memperlakukan Yesus Kristus seperti itu. Ya, Engkau akan melakukannya bagiku, Tuhan Yesus. Itu bukan trust yang ada di dalam Alkitab. Saya juga tidak sedang berbicara hanya relational faith. Trust seperti saudara percaya kepada istri saudara yang sedang pergi dan dia tidak akan menyeleweng. Itu benar tetapi itu tidak cukup diberikan kepada Yesus Kristus. Ketika Alkitab berbicara trust in Christ, Allah memanggil kita untuk sepenuhnya percaya kepada Kristus Yesus di dalam pengertian, yaitu ini adalah tindakan penyembahan. Kita memuja-Nya dengan seluruh diri kita dan menyerahkan diri kita sepenuhnya kepada-Nya semuanya. Diri kita. Sepenuhnya. Diberikan kepada Dia. Semua yang kita miliki. Segala hal yang kita sembunyikan. Dan segala masa depan kita. Diberikan di bawah kaki-Nya. Itu trust in Him. Pagi ini seluruh Firman ini memanggil saudara untuk mempercayai Dia. Biarlah hidup kita diselamatkan oleh Dia dan dalam hidup di dunia ini menjadi hidup yang bernilai, yang sungguh-sungguh tidak sia-sia di dalam Kristus Yesus. Dan semua keselamatan yang kekal untuk hidup di dunia ini diberikan oleh Yesus Kristus yang berinkarnasi. Allah yang menjadi manusia. Dan inilah rahasia ibadah kita yang besar. Maukah saudara trust in Him? Mempercayakan seluruh kehidupan kekal dan di dunia ini di bawah kaki-Nya. Engkau tidak menjawab saya. Engkau menjawab Allah yang di dalam cinta dan kedaulatan-Nya mengirim saya di tengah-tengah engkau.

Alamat

556 - 558 Botany Road, Alexandria, NSW, 2015
sekretariat@griisydney.org
0422690913
0430930175

Social Media

Facebook GRII Sydney Instagram GRII Sydney Twitter GRII Sydney


Google Play Store
App Store

^