[simple_crumbs root="Home" /]
kembali

22 November 2020

Pdt. Agus Marjanto, M.Th

Bagaimana Merenungkan Jalan Providensia Allah (11)

Amsal 3:33

Beberapa minggu ini kita terus berbicara berkenaan dengan the providence of God dan tujuan dari pelajaran ini adalah membawa kita semua memiliki kesadaran bahwa hal-hal yang kelihatannya sehari-hari, biasa dan kecil itu sebenarnya adalah campur tangan Tuhan yang dahsyat. Di dalam Westminster Shorter Catechism dikatakan, “Apa tujuan tertinggi dari hidup manusia?” Maka tujuan tertinggi dari hidup manusia adalah untuk mempermuliakan Dia dan untuk menikmati Dia selamanya. Tetapi, bagaimana kita bisa mepermuliakan Dia dan menikmati Dia? Dan bahkan untuk selamanya? Maka salah satu kunci di sini adalah saudara dan saya bisa melihat Tuhan bekerja di dalam hidup keseharian kita. Minggu lalu kita sudah berbicara bagaimana Tuhan sebenarnya menghadirkan providensia-Nya melalui mengatur pekerjaan kita. Kita berpikir bahwa pekerjaan itu adalah usaha dari diri kita. Bahwa pekerjaan itu aku inginkan, lalu membuat curriculum vitae, kemudian aku mengirimkannya dan aku berdoa siapa tahu aku mendapatkannya. Tetapi Alkitab dengan jelas menyatakan bahwa tidak ada kebetulan di dalam setiap detail dari anak-anak Tuhan, seluruhnya ada di dalam lingkup kedaulatan Allah. Dan ketika bicara mengenai kedaulatan Allah, itu adalah kedaulatan Allah yang juga membawa kita untuk berespon dengan tepat. Ketika kita mendapatkan pekerjaan atau kita dikeluarkan dari pekerjaan, maka itu tidak terlepas dari pemeliharaan Allah yang baik untuk hidup kita untuk kebaikan kekal kita. John Flavel membawa kita untuk memikirkan apa yang Alkitab itu ajarkan sebagai cara pandang. Tidak ada yang kebetulan di dalam diri anak-anak Tuhan. Dan bagaimana respon kita terhadap hal ini? Maka itu artinya kita ada di tangan Tuhan. Maka jikalau kita ada di tangan Tuhan. Maka kita jangan greedy. Jangan kita itu kuatir, bahkan di dalam hidup yang biasa-biasa saja. Sebenarnya, Allah itu berintervensi di dalam hidupmu dan hidupku dan pada hari ini kita akan memikirkan berkenaan dengan intervensi Allah, providensiasi Allah di dalam keluarga Di dalam tiga hal ini, yang pertama kita perhatikan di mana kita itu dilahirkan yang kedua adalah berbicara berkenaan dengan mari pikirkan suami dan istri dan anak-anak kita dan ketiga mari kita pikirkan penyediaan Allah di dalam kehidupan sehari-hari kita.

Mari kita pikirkan, yang pertama kita lahir dan dibesarkan orangtua kita. Entah orangtua kita kaya atau miskin, berpendidikan tinggi atau rendah, terhormat di masyarakat atau tidak, tetapi jikalau mereka adalah orang yang takut akan Tuhan, yang memperhatikan penyediaan kebutuhan kita, bukan saja fisik tetapi jiwa kita, jikalau mereka dengan hati-hati mendidik anda dengan kebenaran, melatih anda dalam pengasuhan dan nasehat dari Tuhan, jika itu ada pada diri anda, perhatikan baik-baik: anda termasuk di dalam golongan penerima berkat-berkat utama dari Tuhan. Amsal 3:33 menyatakan, lihat betapa banyaknya orang fasik membiarkan anak-anak mereka dengan sia-sia dan di dalam jalan kejahatan dan tidak terhitung banyaknya keturunan yang hidup dalam dosa-dosa ayahnya. Seperti Firman yang ini mengatakan, “Abiam hidup di dalam dosa yang dilakukan ayahnya dengan demikian kutukan itu dibawa dari generasi ke generasi.” Saya berbicara kepada kita semua untuk mengingat papa dan mama kita. Ini adalah jalan saluran Tuhan memelihara hidup kita dan memberikan berkat-berkat baik jasmani maupun yang kekal. Maka berterimakasihlah kepada Tuhan di dalam hal ini. Ini bukan berkat yang sederhana, ini anugerah yang besar. Terhadap anak-anak yang memiliki orangtua yang takut akan Tuhan, kita tidak saja berhutang kepada Dia atas keberadaan hidup kita. Kita tidak saja berhutang kepada mereka untuk kecukupan makanan sehari-hari kita, tetapi kita juga berhutang karena kehidupan kekal yang diberikan Allah melalui mereka kepada kita. Sungguh bukanlah belas kasihan yang kecil bagi Agustinus untuk memiliki ibu seperti Monica. Saudara mengerti Agustinus? Dia adalah orang yang sangat begitu liar pada masa mudanya, tetapi Monica berdoa sampai bercucuran air mata bertahun-tahun. Akhirnya anak ini bertobat dan menjadi Bapa Gereja. Bersyukurlah memiliki ibu atau bapak yang menanamkan di dalam hati kita ajaran kehidupan dengan perkataannya, menyiraminya dengan air mata mereka, dan memeliharanya dengan teladan mereka. Ada satu kalimat yang tajam, yang Flavel itu katakan: Jikalau engkau memperhatikan providensia Allah di dalam case ini. Yaitu engkau mendapatkan ayah dan ibu yang sungguh-sungguh takut akan Tuhan. Di dalam poin ini saja, maka engkau akan menemukan banyak sekali lapisan-lapisan, belas kasihan Allah yang terkandung di dalamnya seumur hidupmu. Engkau akan menemukan lapisan-lapisan belas kasihan Allah yang begitu banyak sekali seumur hidupmu.

Mari kita pikirkan empat hal ini, dan biarlah setiap kali saya mengatakan hal ini setiap poinnya, semua anak-anak muda ingatlah orangtuamu dan bersyukurlah kepada Tuhan. Dan kepada seluruh orangtua-orangtua, biarlah kita semua merefleksikan apakah poin-poin ini ada pada kita. Karena ini adalah belas kasihan ganda yang diberikan kepada anak-anak kita.

  • Pertama, adalah sungguh suatu belas kasihan yang besar memiliki orangtua yang mendoakan kita sebelum mereka memiliki kita. Bahkan mendoakan kita semasa pertumbuhan kita sepanjang kita belum bisa berdoa sendiri. Pikirkan konklusi yang diberikan Flavel: adalah merupakan berkat yang lebih besar menjadi keturunan dari orang yang berdoa daripada keturunan bangsawan. Bagi semua anak-anak muda perhatikan baik-baik kalimat ini: adalah berkat yang lebih besar menjadi keturunan orangtua yang berdoa, daripada keturunan bangsawan. Sebaliknya kepada orangtua, saya akan berbicara ini, engkau mencari kemuliaanmu di depan anak-anak seperti apa? Jikalau engkau mencari kemuliaanmu di depan anak-anak dengan berlutut, dengan air mata mendoakan jiwa mereka dan sungguh-sungguh mengasuhnya, engkau dinilai berharga di hadapan Allah. Tetapi berapa banyak orangtua yang memikirkan bahwa doa itu adalah sesuatu pekerjaan sampingan? Yang penting aku mencari uang sebisa mungkin, sebanyak mungkin dan itu adalah kemuliaanku. Anda adalah orang yang paling bodoh. Tanya anak-anak mereka pada waktunya nanti, apa berkat terbesar yang mereka dapatkan? Adalah melihat dan mendengar orangtuanya selalu berdoa untuk mereka, lebih daripada uang demi uang yang saudara turunkan kepada mereka.
  • Kedua, adalah belas kasihan yang besar bagi kita, memiliki orangtua yang mendisiplin hidup kita dengan saleh dan cermat, pada masa muda kita yang penuh dengan krisis dan bahaya. Kita tahu semua orang-orang muda memiliki kecenderungan luar biasa untuk setiap hal yang jahat. Dan cara providensiasi Allah untuk menjagai kita di masa muda adalah melalui orangtua yang mencegah dan menahan kerusakan dari sifat masa muda kita.
  • Ketiga, adalah betapa besarnya belas kasihan Tuhan kepada kita, ketika kita memiliki orangtua yang hati-hati menanamkan pengenalan akan Allah di dalam jiwa kita. Seperti rasul Paulus yang memiliki kegelisahan kepada jemaat di Galatia, dia mengatakan aku menderita sampai rupa Kristus menjadi nyata di dalam dirimu. Orangtua kita merindukan kita sebelum kita ada. Orangtua kita bersukacita ketika mereka memiliki kita. Maka ketika mereka berpikir bahwa suatu hari lagi mereka tidak bisa memiliki kita, maka jangan sampai iblis yang akan memiliki kita. Itulah sebabnya mereka berpikir, tidak ada rasa sakit, tidak ada perawatan atau biaya yang terlalu mahal bagi perawatan tubuh kita dan memberikan kita makan. Juga tidak ada biaya yang terlalu besar untuk membalut dan menyembuhkan luka kita. Dan begitu juga mereka berpikir, tidak ada doa, nasehat, atau airmata yang terlalu banyak untuk jiwa kita, agar kita bisa diselamatkan di dalam Kristus Yesus. Mereka tidak senang ketika anak-anaknya memiliki kesehatan tetapi tidak memiliki kasih karunia. Kalimat ini menyentuh saya. Biarlah kita boleh bertobat, hai orangtua. Orangtua yang takut akan Tuhan, mereka tidak senang bahwa anak-anaknya memiliki kesehatan tetapi tidak memiliki kasih karunia. Orangtua tersebut tahu bahwa waktu perpisahan akan datang di antara mereka. Dan mereka berusaha membuatnya semudah dan senyaman mungkin untuk meninggalkan kita di dalam Kristus. Di dalam ikatan covenant anugerah. Dan tidak ada yang lebih penting bagi mereka selain dari hari penghakiman yang besar itu mereka bisa berbicara di depan tahta yang kudus itu, Tuhan inilah aku dan inilah anak-anak yang telah Engkau berikan kepadaku.
  • Keempat, bukankah suatu pemeliharaan yang khusus bagi kita jikalau kita memiliki orangtua yang menjadi contoh di dalam jalan kekudusan? Mereka mengajarkan kepada kita bagaimana jalan bersama dengan Allah menuju ke surga. Oh, bukankah suatu belas kasihan yang besar, untuk memiliki orangtua yang menjadi teladan bagi kita? Kita dapat melihat apa yang mereka lakukan, apa yang kita bisa mendengar, apa yang mereka katakan di dalam Kristus. Ini adalah jalan orang-orang yang dipakai oleh Allah seperti Abraham, Daud dan Yosua. Yang memerintahkan seluruh isi rumah tangganya untuk menjaga jalan konvenan dengan Tuhan untuk memastikan berkat akan timbul dari generasi ke generasi. Saudara-saudara, ini adalah satu kalimat yang tajam dari Flavel, karena banyak orangtua-orangtua, kakek-neneknya itu, adalah orang yang takut akan Tuhan. Tetapi generasi yang kedua mereka mulai bermain mata dengan dunia dan buahnya adalah pada generasi yang ketiga. Dan mereka tidak lagi hidup di dalam covenant dengan Allah. Mereka hidup untuk bersengkokol dengan dunia, mereka tidak hidup menjamin berkat Tuhan itu turun ke dalam rumah tangga dari generasi demi generasi. Anak-anak mereka break the covenant, ini adalah jalan hidup yang salah, jalan hidup yang sesat dan kebodohan bagi manusia. Tetapi Abraham itu mau untuk memegangnya dan mengajarkannya kepada anak-anaknya demikian juga Daud dan Yosua. Sekali lagi dari seluruh pembicaraan ini John Flavel mau menegaskan satu hal, jikalau kita memiliki orangtua yang takut akan Dia. Maka ini adalah berkat yang besar dan di dalam hal ini saja, engkau akan mendapatkan lapisan-lapisan belas kasihan dari Tuhan seumur hidup kita. Pada pagi hari ini saya mau meminta setiap dari saudara-saudara mengingat orangtuamu, mendoakan mereka dan bersyukur kepada Tuhan atas apa yang Tuhan sudah kerjakan di dalam dirimu melalui mereka. Ini bukan belas kasihan yang kecil yang engkau terima. Ini bukan pilihanmu, ini adalah providensia Allah bagi kita.

Tetapi di tempat yang lain, Flavel juga berbicara tentang hal ini. Ada orang-orang yang tidak memiliki orangtua yang takut akan Tuhan. Dan bahkan orang-orang ini adalah bukan orang Kristen dan mungkin menghina Kristen, bahkan mereka sama sekali tidak mengajarkan hal-hal yang baik. Tetapi kemudian anak-anak ini kemudian bisa mengenal Yesus Kristus anak-anak ini kemudian bertobat dan mendedikasikan hidup mereka kepada Kristus dan mereka tidak lagi berjalan menurut kefasikan ayahnya. John Flavel mengatakan jikalau hidup ini terjadi di dalam hidupmu, engkau menghindarkan kutuk yang datang dari orangtuamu kepadamu dan dari padamu, engkau akan menjamin berkat demi berkat generasi kepadamu. Dan ini semua terjadi, karena engkau mendapatkan providensia pilihan yang khusus itu. Dan dari semua ini, siapapun saudara-saudara, orang-orang di dalam Kristus, apakah engkau mendapatkan orangtua yang takut akan Tuhan atau orangtua yang tidak mengenal Tuhan, tetapi jikalau engkau adalah di dalam Kristus bersukacitalah karena itu adalah providensia Allah di dalam hidup kita.

Kedua, maka kita sekarang mengingat suami, istri dan anak kita. Perhatikan ketika tangan providensiasi Allah secara khusus memberikan pasangan hidup dan anak-anak kita. Terhadap orang-orang yang belum menikah, maka berkenaan dengan providensiasi ini pada saat yang sama ada tanggung jawab dari Tuhan kepada kita. Untuk kita sungguh-sungguh berhati-hati memilih. Adalah tugas semua orang kudus untuk mencari Tuhan bagi arah dan pertimbangan di dalam case ini. Seluruh doktrin providensiasi Allah itu ada di dalam satu doktrin yang besar yaitu kedaulatan Allah. Ketika bicara mengenai kedaulatan Allah, ini bukan bicara berkenaan dengan nasib, bicara dengan kedaulatan Allah adalah Allah yang berdaulat di dalam kedaulatan-Nya, Dia itu berbuat baik memelihara hidup kita. Ini adalah bicara berkenaan dengan kudus, umat yang kudus itu adalah umat yang dipisahkan untuk diberkati. Umat yang kudus adalah umat yang dipisahkan untuk mendapatkan pemeliharaan dan mendapatkan seluruh cinta kasih dan kasih sayang. Itu artinya kudus. Bapa kami yang di surga, dikuduskanlah nama-Mu. Itu artinya adalah bicara berkenaan dengan Dia itu ada pada posisi terpisah, sama sekali dari yang lain. Ketika bicara mengenai kudus adalah dipisahkan untuk didedikasikan. Maka ketika bicara mengenai providensiasi Allah kepada kita, tidak berarti tidak ada tanggung jawab kita sebagai respon terhadap kedaulatan-Nya. Karena di dalam kedaulatan-Nya Allah menentukan kita bertanggung jawab terhadap Dia. Sekali lagi ketika bicara dengan pasangan hidup dan anak-anak, adalah tugas semua umat kudus Allah untuk mencari Tuhan bagi arah dan pertimbangan-Nya, kapan dan dengan siapa kita akan menikah. Alkitab dengan jelas menyatakan begitu banyak providensiasi Allah yang terlibat ketika kita bisa memilih pasangan yang tepat. Pasangan yang tepat maksudnya adalah yang menghasilkan suatu pernikahan damai bahagia dan bertumbuh di dalam jalan-Nya Tuhan. Perhatikan tiga hal ini, Amsal 19:14, Amsal 18:22, 1 Petrus 3:7. Saudara-saudara perhatikan “Teman pewaris dari kasih karunia.” Teman pewaris dari kasih karunia - ini adalah bicara berkenaan tentang orang yang bersama-sama mendapatkan anugerah. Sekali lagi saudara-saudara, suatu anugerah pemeliharaan yang sangat besar jikalau kita mendapatkan pasangan iman yang sejati. Yang membuat kita memiliki keintiman di bumi ini dan mewarisi bersama keselamatan kekal di surga, karena tidak banyak pria dan wanita yang berhasil memilikinya. Banyak orang yang tidak memiliki pasangan yang berimbang, mereka kehilangan kebahagiaan kehidupan mereka baik secara jasmani maupun secara rohani. Bahkan kita menemukan di dalam kitab suci kita, orang-orang kudusnya Allah tidak terhindar dari hal ini. Penghiburan mereka di bumi ini seakan-akan sudah terbelah di atas batu karang yang keras. Misalnya saja, Abigail, seorang wanita yang bijaksana dan berbudi luhur tetapi sangat tidak tepat ketika dia itu menikah dengan Nabal yang kasar dan tidak takut akan Tuhan. Saudara-saudara, bagaimana dengan Daud dengan istrinya Mikhal yang mengejek-ejeknya? Dan bagaimana Ayub yang penderitaannya ditambah karena istrinya yang seharusnya menjadi penopang di hari kesusahannya sekarang dia adalah orang yang menambah penderitaannya. Tidak diragukan lagi, Tuhan mendatangkan tongkat kekudusan-Nya bagi orang-orang tersebut dan membuat mereka makin mendekat kepada Tuhan melalui sengsara ini. Tetapi demikian harus diakui bahwa hal-hal itu sangat menyedihkan bagi siapapun seperti memotong tangan yang sedang bekerja dan memangkas banyak-banyak kenyamanan hidup di dunia ini.

Saya akan bicara khusus kepada saudara-saudara, suami istri yang saudara dapatkan ini, pasangan kita ini adalah suatu providensia dari Allah, khusus bagi kita. Dan Alkitab mengatakan, ini adalah teman pewaris kasih karunia Allah. Hiduplah saling memberkati satu sama lain, bukan hidup menang-menangan, bukan hidup saling menyakiti. Pewaris kasih karunia bukan pewaris kesakitan. Kalau saudara-saudara mau melihat berkat dari Tuhan turun atas kita lebih besar lagi, maka biarlah engkau mengusahakan perdamaian di dalam keluargamu. Dan kunci perdamaian di keluargamu adalah pertobatan diri kita sendiri, bukan pertobatan dari pasangan kita. Kita selalu melihat kesalahannya, kita selalu menunjuk dosanya, kita selalu tidak suka akan kekurangannya. Kalau engkau terus melihat semuanya itu dan engkau tidak bertobat maka tidak akan ada perdamaian dan pertumbuhan di dalam keluarga kita. Siapakah yang harus disalahkan di dalam keluarga yang terus menerus cekcok adalah diri kita sendiri. Dan biarlah kita boleh bertobat, mencari wajah Tuhan dan minta pengampunan dari Tuhan. Sampai saudara dan saya mengerti poin ini, baru ada kebangunan di dalam kerohanian dan di dalam keluarga saudara. Jikalau saudara dan saya tidak menemukan pintu ini, puluhan tahun pun saudara akan tetap sama dengan hari ini. Ini bukan keluarga, ini perang dunia. Saudara tidak bertindak sebagai pewaris kasih karunia Tuhan, dan jikalau itu diteruskan saudara akan tahu bahwa evil tidak akan bekerja dengan terbatas. Dia akan bekerja sebisa mungkin, sekeras mungkin. Engkau akan lihat anak-anakmu seperti apa, engkau tidak memastikan berkat dari generasi ke generasi, engkau menyetopnya di dalam dirimu. Engkau akan melihat anakmu satu persatu akan dipegang oleh setan. Bertobatlah. Minta belas kasihan Tuhan. Ingatlah kembali kepada hari pertama engkau menikah. Ingatlah ini, ingatlah bahwa ini istri dan suami diberikan oleh Tuhan - itu adalah anugerah, providensia Tuhan. Bberapa banyak orang yang tidak pernah menikmati hasil pernikahan yang damai dan bertumbuh? Penderitaan mereka kemudian ditambah dengan memiliki anak-anak yang terhilang. Kehidupan anak-anak mereka hancur. Anak-anak mereka itu membawa kesedihan dan kesedihan ini dibawa orangtua sampai ke liang kubur. Anak-anak mereka bukan menjadi alat penghiburan tapi instrumen penderitaan yang tidak ada habis-habisnya. Berapa banyak orangtua yang mengeluh bahwa hati mereka tercabik-cabik dengan irisan yang dipotong dari daging tubuh mereka sendiri. Betapa sedihnya kehidupan Esau bagi Ishak dan Ribka. Atau Absalom dan Amon kepada Daud.

Maka jikalau kita memiliki keluarga di dalam Yesus Kirstus, ini adalah anugerah Allah yang sangat besar didalam hidup kita. Sekali lagi saya mau mengingatkan tujuan hidup kita adalah untuk memuliakan Allah dan menikmati Dia dan saudara akan berpikir, “Aku akan memuliakan Tuhan, kalau ada mujizat dalam hidupku.” John Flavel mengatakan, “Tidak, tidak. Lihatlah waktu engkau bekerja, lihatlah engkau lahir, lihat engkau lahir baru, lihat engkau memiliki keluarga, itu adalah pekerjaan Allah di dalam providensiasi-Nya.” Kita selalu berpikir, kalau saya mendapatkan, uang yang banyak dari bos saya hari itu maka itu providensiasi Allah, itu campur tangan Tuhan. Kalau sudah cancer stadium terakhir, mau mati ternyata itu sembuh, oh itu adalah providensiasi Tuhan. Oh, kalau saya hampir kecelakaan, tidak jadi kecelakaan, itu providensia Tuhan. Seluruhnya itu benar providensiasi Tuhan. Tetapi kalau saudara melihat hal-hal yang menakjubkan demi menakjubkan saja, bagaimana engkau dan saya bisa menikmati Tuhan setiap hari? Padahal jelas Alkitab mengatakan: engkau memiliki istri atau suami-pun itu adalah karena Aku berkenan kepadamu. Kalau engkau memiliki orangtua itu adalah karena Aku meletakkan mereka untuk memberkatimu. Zaman sekarang, mimbar dipenuhi dengan hal-hal yang spektakuler sampai jemaat tidak bisa melihat berkat Tuhan di dalam keseharian. Melihat Allah di dalam keseharian bekerja dalam hidup kita itu kunci dari kerohanian yang baik. Terhadap hal-hal semuanya yang Tuhan sudah kerjakan itu, mari kita berterima kasih kepada Tuhan dengan bertanggung jawab kepada Dia. Dalam hal ini Flavel mengatakan tiga hal yang kita suami istri harus ingat. Pertama, akuilah Tuhan dan bersyukurlah kepada Dia, katakan kepada-Nya seperti Yakub, “Aku tidak layak menerima sedikitpun dari belas kasihan ini dan semua kebenaran yang telah Engkau tunjukkan kepada hamba-Mu. Kita harus merenungkan ayat-ayat ini. Kita harus sungguh-sungguh memikirkan apa yang ada, Tuhan berikan di sebelah sisi kita. Saya bukan mau menjadi sentimental, tetapi saya mau tanya pada saudara-saudara: Apakah engkau pernah bersyukur? Engkau melihat orangtuamu dan di dalam hati saudara mengatakan, “Aku bersyukur kepada-Mu, terima kasih Tuhan.” Engkau melihat suamimu sedang tidur atau istrimu sedang tidur dan engkau keluar dari ranjangmu dan berlutut dan engkau mengatakan sama Tuhan, terima kasih untuk pasangan yang Engkau berikan padaku. Apakah pernah berterima-kasih untuk semua ini? Untuk anak-anak yang diberikan Tuhan kepada kita, semua itu keseharian kita. Saya khawatir engkau mengejar berkat-berkat diluar dari rumahmu, padahal berkat yang terbesar ada di dalam rumahmu. Engkau tidak puas kepada Tuhan padahal Tuhan itu sudah memberikan bagi orang lain, saudara adalah satu pribadi yang sangat spesial. Yang kedua, biarlah kita boleh berespon dengan tepat, dengan melaksanakan tanggung jawab di dalam status kita masing-masing di dalam relasi ini jangan melencengkan kasih karunia ini di dalam take it for granted. Tuhan menghajar Daud dengan keras ketika Daud menyalah gunakan kasih karunia ini. Dia tidak setia kepada keluarganya dan Tuhan menghardiknya dengan begitu keras. Jangan melecehkan kasih karunia Tuhan ini. Dan yang ketiga dan ini yang paling menyentuh hati saya. Flavel mengatakan kepada kita semua, suami istri, improve-lah relasimu sampai kematian memisahkan engkau. Berjalanlah bersama dengan rekan pewaris kasih karunia dalam hidup ini. Belajarlah untuk menjadi berkat satu dengan yang lain sampai kematian itu memisahkan kita. Kematian sebentar lagi akan memisahkan keluarga kita dan pada akhirnya hidup yang bertanggung jawab dan tidak mengabaikan tugas, itulah yang akan menghibur kita di hari kematian kita dan perhatikan satu kalimat terahir ini, suami istri, hiduplah sedemikian rupa di dalam jalan yang mana akan memberikan hari perpisahanmu itu manis adanya. Luar biasa. Hiduplah sedemikian rupa dalam jalan yang mana akan memberikan hari perpisahan kita dengan istri dengan suami kita itu manis adanya. Luar biasa, saya kalau melihat kalimat-kalimat orang Puritan itu memberikan arah kepada kita bahkan didalam detailnya. Mereka mengerti bagaimana merangkai kata dengan tepat sekali. Sekali lagi ingat orangtuamu, bersyukurlah kepada Tuhan, ingat kepada suami, istri dan anak-anakmu, bersyukurlah kepada Tuhan.

Ketiga, lihatlah providensiasi Allah yang memberikan penyediaan hari demi hari di dalam keluargamu. Bagian ini perlu dijelaskan agar kita makin mempercayai Allah yang memelihara kita, dan tidak jatuh di dalam dosa-dosa yang besar seperti Israel yang bersungut-sungut karena makanan dan minumannya. Saudara perhatikan baik-baik, Israel itu dengan jelas melihat pekerjaan Tuhan yang melepaskan mereka dari Mesir. Israel dengan jelas melihat pekerjaan Tuhan bahwa mereka yang tidak mampu berlawan pasukan Firaun yang tangguh itu. Israel melihat kematian mereka di laut yang tertutup ketika mereka berjalan di tengah laut yang terbuka. Dan Israel melihat tiang awan dan tiang api itu, tetapi mereka tidak bertumbuh dalam kepercayaan kepada Allah di dalam makanan mereka sehari-hari. Mereka tidak puas dengan hidup mereka. Dan mereka kemudian mengatakan, “Oh, seandainya aku di Mesir, aku akan mendapatkan daging dan sayuran dan buah-buahan.” Itu sama dengan kita saat ini, yang saudara dipelihara oleh Tuhan tetapi tidak pernah ada kepuasan dalam hatimu. Bahkan engkau dengan berani mengatakan: orang itu hidup lebih baik. Musa memukul batu itu, begitu marahnya. Dan bukan itu saja, Allah dengan itu mengatakan, “Aku gemas dan Aku akan menghancurkan mereka. Mereka pasti tidak akan masuk surga.” Kalau saudara-saudara melihat dalam bahasa aslinya, itu adalah sungguh-sungguh kalimat dari Tuhan, “Aku bersumpah kepada diri-Ku sendiri, mereka pasti tidak akan masuk surga.” Saudara-saudara, kalimat ini dalam bahasa kita adalah mereka tidak akan masuk ke tempat perhentian-Ku. Jangan bicara mengenai Allah yang memimpin hidup kita, kalau engkau tidak puas. Jangan berbicara mengenai Allah yang memimpin hidup kita kalau kita itu selalu bersungut-sungut dan tidak pernah menghargai Dia dan memuliakan Dia dengan apa yang kita ada. Sungguh-sungguh ini adalah dosa yang besar. Dan bahkan ini adalah satu kenyataan yang sangat mungkin membuat kita mengerti, orang ini belum dilahirbarukan. Kita tidak puas dengan pemeliharaan Allah, padahal Allah itu sudah memberikan segala sesuatunya kepada kita. Dia sudah memberikan anak-Nya untuk mati bagi kita, Dia memberikan Roh-Nya itu menyertai kita setiap hari, Firman-Nya untuk kita baca dan di dalam kedaulatan-Nya Dia berbuat baik kepada kita hari demi hari dan memberikan seluruhnya dalam providensiasi Allah kepada kita dalam seluruh yang kita miliki. Alkitab mengatakan Dia yang sudah memberikan anak-Nya, apa lagi yang Dia akan pikirkan untuk memberikannya kepada kita?

Kalau saudara-saudara bersunggut-sunggut dan hati kita tidak puas dalam hidup, perhatikan baik-baik, itu adalah saya ilustrasikan (dan ini adalah ilustrasi yang tepat): saya adalah gembala saudara dan biasa di mana-mana, gembala dengan gembala yang lainnya akan saling dibandingkan. Saya gembala saudara-saudara lalu kemudian saudara-saudara misalnya pergi ke tempat orang lain, kemudian saudara mengatakan, “Pak Agus jadi gembala saya, saya tidak puas. Saya tidak pernah diperhatikan, tidak pernah ditelefon. Kotbahnya biasa-biasa saja, orangnya marah-marah, pokoknya saya tidak puas.” Itu adalah hal yang biasa dan memang itu boleh karena kita adalah manusia yang berdosa dan kita sendiri hamba Tuhan itu bukan infallible (tidak bisa salah) dan kita sendiri kadang itu perlu untuk di-rebuked dan kita juga harus belajar. Tetapi kalau saudara tidak puas dengan hidup, dengan seluruh providensia Allah yang sudah diberikan itu berarti saudara tidak puas dengan Gembala Agung kita, Raja di atas segala raja yaitu Allah di dalam Yesus Kristus. Kalau kita menggerutu di dalam hidup dan tidak ada contentment di dalam hidup dengan apa yang Tuhan sudah berikan kepada kita, kita persis sama dengan orang-orang yang bicara: Aku tidak puas dengan Gembala ini, aku tidak puas dengan apa yang Dia sudah lakukan padaku. Apakah itu diperbolehkan? Jawabannya adalah tidak! Apakah itu menghormati Dia? Jawabannya tidak. Allah memilih saudara dan saya di dalam Kristus Yesus dan mengaruniakan segala berkat-berkat dari surga bagi kita, puaslah dengan hal itu! Didiklah diri kita dengan hal ini secara keras. Biarlah kita boleh mengerti; itulah sebabnya Allah begitu marah kepada orang Israel. Sudah dilepaskan begitu, masih bilang, “Apa memang Tuhan itu sanggup kasih daging sama kita persis seperti kita di Mesir? Orang Mesir itu bisa loh, bisa kasih daging sama saya.” Mereka tidak puas dengan apa yang ada pada mereka. Mereka melihat orang lain dan mereka pikir hidup yang lebih baik seperti itu. Kalau engkau melihat orang lain, membandingkan hidupmu dengan orang lain, dipikir oleh kita adalah lebih baik harusnya seperti itu, engkau harus bertobat. Kalau kita ada menggerutu hari ini, saudara dan saya harus bertobat dan saya bicara dengan keras karena Firman ini begitu keras. Belajarlah mempercayai Allah karena Firman Tuhan itu begitu jelas. Mari kita melihat Mazmur 34:10, “Singa-singa muda merana kelaparan, tetapi orang-orang yang mencari TUHAN, tidak kekurangan sesuatupun yang baik.” Mazmur 111:5, “Diberikan-Nya rezeki kepada orang-orang yang takut akan Dia. Ia ingat untuk selama-lamanya akan perjanjian-Nya.” Ratapan 3:22-23, “Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!” Yakub memanggil Allah seperti ini, “Dia yang memberikan aku makan sepanjang hidupku sampai hari ini.” Kejadian 48:15, Sesudah itu diberkatinyalah Yusuf, katanya: "Nenekku dan ayahku, Abraham dan Ishak, telah hidup di hadapan Allah; Allah itu, sebagai Allah yang telah menjadi gembalaku selama hidupku sampai sekarang.” Saudara perhatikan di dalam satu terjemahan yang lebih detail adalah Allah yang telah menjadi gembalaku adalah Allah yang telah memberi aku makan sepanjang hidupku sampai hari ini. Tuhanlah yang telah memberikan kepada kita keluarga dan Tuhan juga yang akan mencukupkan kebutuhan keluarga kita hari demi hari. Percayalah kepada Tuhan dan jangan lagi khawatir akan masa depan kita dan tidak lagi menggerutu di dalam hidup kita. Bahkan saudara melihat bagaimana Allah memberkati kita itu sering sekali memang secara ordinary. Ia memakai pekerjaan kita untuk memberkati kita, tetapi Alkitab dengan jelas mengatakan kecukupan itu dari tangan Tuhan sendiri, melebihi daripada pekerjaan itu. Tentu kita harus rajin dan bekerja dan mencari pekerjaan, itu adalah tanggung jawab kita. Tetapi adalah tanggung jawab Allah, Allah mengatakan dalam Alkitab untuk memelihara kita.

Saudara kita mesti belajar prinsipnya, apa yang memelihara hidup kita? Apa yang memelihara keluarga kita? Ketaatan. Bukan banyak sedikitnya uangmu, bukan hebat atau tidaknya pekerjaanmu, tapi ketaatan. Ketaatan itu yang akan memelihara kita. ketika janda itu memberikannya kepada Elia, meski taruhannya mati, ternyata ia tidak akan mati. Di tempat yang lain, kadang Tuhan memberikan kepada kita makanan atau uang secukupnya pada saat kita sungguh-sungguh membutuhkan. Pemeliharaan Allah akan memenuhkan apa yang menjadi kebutuhan kita, bukan keinginan kita. Filipi 4:19 mengatakan, “Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus.” Perhatikan kalimat di bawah ini, ketika Tuhan menjalankan kedaulatan-Nya melalui providensiasi-Nya, Dia menjalankan dengan hikmat-Nya. Saudara perhatikan, Dia jalankan dengan hikmat-Nya, Dia tidak akan memberikan kepada kita segala sesuatu yang kita perlukan secara langsung sekaligus sekali. Karena Dia mau mendidik kita untuk bersandar kepada Dia sehingga kita perlu berdoa dan berjalan mempercayai Dia dengan jalan ini maka kita akan jelas memiliki satu relasi yang bertumbuh dan pengenalan akan Dia. Sekali lagi saya mau mengingatkan, seluruh providensiasi Allah yang berikan kepada kita, apapun itu baik itu lahir, kelahiran baru, pekerjaan, keluarga, anak-anak, pasangan hidup, apapun saja dan kebutuhan kita sehari-hari, semua itu untuk membuat saudara dan saya makin mengenal Dia. Maka dari itu janganlah kita tidak mempercayai-Nya dimasa depan. Jangan seperti Israel yang mengatakan: apakah Tuhan bisa memberikan daging kepada kita? Saudara mari kita lihat Mazmur 78 ada satu kalimat yang saya mau tegaskan. Mazmur 78:21-22, “Sebab itu, ketika mendengar hal itu, TUHAN gemas, api menyala menimpa Yakub, bahkan murka bergejolak menimpa Israel sebab mereka tidak percaya kepada Allah, dan tidak yakin akan keselamatan dari pada-Nya.” Saudara-saudara perhatikan, di dalam bahasa yang lain maka ini yang dikatakan: karena mereka tidak percaya kepada Allah dan tidak percaya akan kemampuan-Nya untuk menyelamatkan mereka (do not trust His ability). Mereka tidak mempercayai kemampuan Allah untuk menyelamatkan, ketika berbicara tentang keselamatan dari pada-Nya itu tidak bicara tentang surga atau neraka, itu adalah bicara tentang keperluan hidup sehari-hari. Maka jadilah content dengan apa yang ada pada kita sekarang dan jikalau ada kesulitan lagi didepan, berdoalah kepada Dia didalam kebutuhan anda, karena Dia tidak melupakan kita. Yesaya 41:17 mengatakan, “Orang-orang sengsara dan orang-orang miskin sedang mencari air, tetapi tidak ada, lidah mereka kering kehausan; tetapi Aku, TUHAN, akan menjawab mereka, dan sebagai Allah orang Israel Aku tidak akan meninggalkan mereka.” Jangan menggerutu lagi hai jemaat, jangan khawatir, serahkan seluruh kekhawatiranmu kepada Tuhan. Kepada Allah di dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Bahkan burung di udara itu, tidak tahu akan mendapatkan makanan seperti apa dan di mana beberapa waktu kedepan ini, tetapi Alkitab mengatakan, tidak dibiarkan satu pun dari padanya jatuh ke tanah, Allah memeliharanya. Bahkan burung pun tidak tahu makan itu dapatnya di mana dan makannya apa, tetapi Allah memelihara, Allah itu memelihara terlebih lagi kita, ingatlah engkau siapa. Kita memiliki relasi dengan Allah Pencipta langit dan bumi di dalam Yesus Kristus. Ingatlah Dia gembala kita, ingatlah janji-janji-Nya dan biarlah kita boleh menjadi puas dengan apa yang kita ada sekarang karena kita dipelihara oleh Dia, bersyukurlah untuk semua ini, bersyukurlah untuk orangtua, bersyukur untuk suami istri dan anak dan bersyukur untuk seluruh pemberian-Nya di dalam hidup kita dan puaslah dengan hal ini. 

Alamat

556 - 558 Botany Road, Alexandria, NSW, 2015
sekretariat@griisydney.org
0422690913
0430930175

Social Media

Facebook GRII Sydney Instagram GRII Sydney Twitter GRII Sydney


Google Play Store
App Store

^