[simple_crumbs root="Home" /]
kembali

20 September 2020

Pdt. Agus Marjanto, M.Th

Bagaimana Merenungkan Jalan Providensia Allah (3)

1 Raja-raja 8:22-24

Kita terus-menerus memikirkan berkenaan dengan providensia dan kita sudah masuk ke dalam bab yang penting ketika memikirkan providensia, apa yang harus kita pikirkan? Sekali lagi ini adalah bagian yang sifatnya aplikatif dan ini adalah kekuatan dari orang-orang Puritan. Kalau Saudara-saudara membaca buku Puritan, Saudara akan menemukan kekuatan di dalam doctrinal dan biblical, kata-kata aslinya, dan kemudian dia berusaha untuk menjelaskan khotbah dan mengaplikasikannya. Semakin saya mempelajari Firman, saya menyadari hal-hal ini, sesungguhnya banyak hal saya tidak tahu prinsip Firman Tuhan. Dan sekali pun saya mengerti prinsip Firman Tuhan, ternyata banyak pula saya tidak mengerti bagaimana mengaplikasikan prinsip itu. Bagi saya, dan banyak dari kita, tidak terlatih untuk mengaplikasikan prinsip itu. Saya ambil contoh, misalnya saja kita bicara mengenai satu lemari es dan lemari es itu ternyata rusak. Kemudian seseorang mengatakan,”Itu kompresornya rusak, engkau musti ganti.” Kita mengerti prinsipnya itu, seluruhnya bisa dibereskan kalau kompresornya dibereskan. Tetapi ternyata kita kesulitan sekali, bahkan mungkin kaum awam tidak tahu kompresor itu yang mana, bagaimana membukanya, bagaimana menggantinya dan kemudian membeli bahannya yang sama. Seluruhnya itu berbicara mengenai how to. Demikian juga banyak kita orang Kristen bahkan tidak mengerti sebenarnya ini penyakitnya apa. Tetapi ketika sudah diberitahu dan kita mengerti apa penyakitnya, tetapi kemudian bagaimana mengaplikasikan, membereskan seturut dengan Firman. Kita kadang berpikir bahwa kalau Firman itu sudah kita dengar, oh saya sudah ngerti, itu artinya saya sudah melakukan.

Beberapa tahun yang lalu, saya menemukan ada satu orang yang berbicara berkenaan dengan banyak orang Kristen itu sebenarnya memiliki virtual obedience. Jadi suatu ketaatan tetapi di dalam dunia maya bukan di dalam keseharian. Bukan di dalam realitas hidup kita tetapi di dalam pikiran kita, kita berpikir bahwa kita sudah taat. Itulah sebabnya maka saya mendorong Saudara-saudara untuk membaca buku-buku Puritan karena mereka akan membawa kita di dalam kehidupan sehari-hari, membuka mata kita realita. Dan ketika kita berusaha untuk memasukkan Firman Tuhan itu ke dalam realita hidup kita yang berdosa ini, baru kita menyadari sakitnya. Kalau Saudara-saudara hanya memikirkan prinsipnya, kita berpikir bahwa kita sudah menjalankannya. Misalnya saja, kalau Saudara-saudara mendengarkan ‘Kristus adalah Raja Gereja’, maka kita semua akan mengatakan ‘Amin’. Kita bahkan akan bertepuk tangan dengan kalimat seperti itu karena sangat menggugah hati. Tetapi apa artinya itu di dalam keseharian? Kristus adalah Kepala Gereja. Dia yang memerintah kita. Dan ketika Kristus memerintah kita, di dalam keseharian ternyata Dia menggunakan sarana-sarana di atas kita secara ordo. Nah, mulai di sini kesulitannya. Berarti isteri harus tunduk kepada suami dan suami harus tunduk kepada Kristus. Nah, mulai tidak enaknya. Kalau hamba Tuhan mengatakan isteri harus hormat kepada suamimu sebagaimana jemaat menghormati Kristus, tunduk kepada suamimu. Khotbah sekali, isteri-isteri akan senyum. Kalau kita tekan terus di mimbar seperti itu, isteri akan mental di gereja. “Kamu ini tidak tahu ya, suamiku itu lambat. Kamu tidak tahu ya, kalau saya ikut suami, banyak hal yang tidak bisa saya kerjakan dalam hidup.” Saudara mulai menyadari ada tembok-tembok yang Saudara-saudara harus hancurkan. Saudara mulai menyadari bahwa hidup itu ternyata penuh dengan tantangan untuk mengaplikasikan Firman. Saudara perhatikan, ini yang namanya virtual obedience. Ketika berbicara Kristus adalah Kepala Gereja, Saudara akan mengatakan, “Amin. Ya, amin.” Tepuk tangan. Tetapi Kristus, Kepala Gereja itu, Dia mengaplikasikan, mengatur umat-Nya melalui ordo di atas kita. Itu artinya manusia yang berdarah daging yang penuh dengan kelemahan sekali pun, bahkan penuh dengan kesalahan-kesalahan. Saudara mau tepuk tangan atau tidak, Kristus itu adalah Kepala Gereja. Saudara mau amin atau tidak, Dia tetap adalah Kepala Gereja. Dan itu tidak mengubah apa-apa. Yang mengubah hidup kita adalah apakah kita mau takluk di bawah pemerintahan-Nya melalui sarana-sarana yang dipakai oleh Dia. Dan di situ kesulitannya, di situ bedah rohani.

Saudara-saudara, saya tidak mau untuk jemaat ini hanya tertipu. Banyak dari kita semua sudah tertipu banyak sekali oleh gereja, oleh hamba-hamba Tuhan yang hanya berbicara mengenai sesuatu yang lapisan-lapisan atas dan Saudara-saudara mendengarkan khotbah dan kemudian Saudara senang. Tetapi sebenarnya setiap kali Firman Tuhan itu bertemu dengan kita yang berdosa, maka di situ ada sakit karena ada bedah rohani. Hal yang lain misalnya saja, Alkitab mengatakan bahwa suami harus meninggalkan ayah dan ibunya, dan bersatu dengan isterinya menjadi satu daging. Kalau saya berkhotbah berkenaan Kristus adalah Kepala Keluarga, siapa yang tidak pernah mendoakan hal ini? Saya percaya seluruh dari kita mendoakan Kristus adalah Kepala Keluarga kita. Tetapi apa artinya, biarlah kita lepas dari mimpi di siang hari bolong. Itu artinya bahwa prinsip-prinsip Fiman Tuhan tentang keluarga itu harus dilakukan, dipenuhkan di dalam hidup kita. Saya tanya sekarang, apakah kita siap untuk melepaskan anak kita menjadi laki-laki dan perempuan yang independen, yang depend hanya kepada Allah saja dan terlepas benar-benar dari kita? Banyak sekali orang tua yang memegang anaknya. Bahkan ketika mereka sudah berkeluarga, dan kita orang tua masuk untuk decision-decision penting di dalam keluarga dari anak kita. Bukankah sakit untuk melepaskan anak kita? Tetapi itu yang kita lakukan. Kita berdoa Tuhan menjadi Raja atas hidup kami, atas hidup keluarga kami. Virtual obedience. Saudara-saudara, mari kita jujur. Itulah sebabnya saya yakin sekali banyak orang tidak menyukai khotbah-khotbah orang Puritan, karena dia sudah sampai kepada aplikasi. Saya tidak mengatakan bahwa setiap khotbah itu harus ada aplikasinya detail. Kapan-kapan kita bicara lagi di dalam hal itu karena setiap khotbah itu sebenarnya Firman Tuhan itu sendiri secara aplikatif akan apply dalam pikiran kita dan membentuk daripada kerangka pikir kita. Tetapi adalah penekanan dari orang Puritan untuk bicara berkenaan dengan aplikasi Firman yang dibaca. Sekarang kita masuk poin yang ketiga.

(3) Orang Puritan mengatakan ketika engkau memikirkan providence, engkau harus bersama-sama mengamati providence itu dengan Firman Tuhan. Ini adalah prinsip yang jelas dan tidak pernah boleh dilupakan. Pikirkan Firman Tuhan setiap kali kita mengamati providence, sehingga Firman Tuhan dan providence itu berjalan beriringan bersama-sama. The Word of God and the Works of God itu tidak pernah boleh dipisahkan dan tidak pernah terpisah. Di dalam 1 Raja-Raja 8 yang tadi kita baca, maka Salomo menyatakan, “Engkau Tuhan yang telah menggenapi dengan tangan-Mu apa yang Kau Firmankan dengan mulut-Mu.” Saudara-saudara, Allah yang menyatakan Firman, Dia yang menggenapi Firman-Nya dengan jalan providence. Providence of God itu akan menggenapi The Promises of God. Renungkan janji-janji-Nya, teguran-Nya, pertimbangan-Nya, arah-Nya.

Mengapa kita perlu merenungkan Firman bersamaan dengan merenungkan Providence? Karena ada dua hal kemajuan rohani yang penting sekali ketika kita melakukannya.

Kemajuan rohani yang pertama adalah dengan merenungkan providence bersama-sama dengan Firman Tuhan, kita akan makin diteguhkan untuk mempercayai Firman Tuhan. Kita akan menemukan bahwa kebenaran-kebenaran Firman Tuhan itu bukan hanya di buku tetapi sungguh-sungguh ada di jalanan, di dunia ini. Dan makin kita melihat berkenaan dengan apa yang ada, providence itu ternyata sama dengan apa yang dinyatakan di dalam Alkitab, kita makin mempercayai kebenaran Firman. Itu tidak berarti bahwa Firman itu memerlukan sesuatu sarana di luar diri-Nya untuk meneguhkan kebenaran-Nya. Firman itu sendiri bersaksi akan kebenaran-Nya. Tetapi, ketika kita  melihat sesuatu yang terjadi tepat seperti yang kita baca, itu makin meneguhkan hati kita untuk kita mempercayai dari Firman ini.

Kemajuan rohani yang kedua, ketika kita merenungkan providence bersama-sama dengan Firman adalah kita bisa menafsir jalan providence itu. Firman Tuhan akan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi ini dan Firman Tuhan akan memberikan kita satu prinsip bagaimana seharusnya aku berespon dengan keadaan ini. Sering sekali Allah mengubah situasi hidup kita. Bagaimana seharusnya aku berespon, beradaptasi dengan perubahan situasi ini? Jangan berdasarkan pikirkan kita sendiri menafsir providence tetapi biarlah kita membaca Firman Tuhan dan melihat sesungguhnya hal seperti ini apa yang Alkitab katakan dan bagaimana seharusnya aku berespon. Itulah sebabnya Mazmur 119 ada kalimat yang sangat kita kenal: “Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.” Di dalam poin ini Flavel menekankan pentingnya Firman bersama-sama direnungkan dengan providence. Mengerti Firman dan merenungkan providence kita akan melihat kebenaran Firman yang tidak tergoyahkan.

Sekarang kita akan masuk lebih dalam apa yang dinyatakannya. Flavel membawa kita semua untuk melihat Firman dan kemudian sebelum kita mengatakan ya dan amin terhadap Firman, dia membawa kita melihat apa yang terjadi di dalam dunia ini. Mari kita melihat ada beberapa penekanan yang Flavel bawa kepada kita untuk kita boleh mengerti Firman dan mengerti apa yang terjadi di dunia ini. Dan lihatlah bagaimana, apa yang terjadi di dunia ini, di dalam kehidupan kita, menggenapi Firman Tuhan yang sudah tertulis. Beberapa hal ini.

(i) Pertama, Firman menyatakan bahwa jalan kesucian dan ketaatan kepada Allah adalah jalan yang paling bijaksana yang bisa kita pilih dalam hidup ini. Sekali lagi, Firman menyatakan bahwa jalan kesucian dan ketaatan kepada Allah adalah jalan yang paling bijaksana yang dapat kita pilih di dunia ini. Mari kita melihat sekarang bagian Alkitab. Ulangan 4:5-6: “Ingatlah, aku telah mengajarkan ketetapan dan peraturan kepadamu, seperti yang diperintahkan kepadaku oleh TUHAN, Allahku, supaya kamu melakukan yang demikian di dalam negeri, yang akan kamu masuki untuk mendudukinya. Lakukanlah itu dengan setia, sebab itulah yang akan menjadi kebijaksanaanmu dan akal budimu di mata bangsa-bangsa yang pada waktu mendengar segala ketetapan ini akan berkata: Memang bangsa yang besar ini adalah umat yang bijaksana dan berakal budi.” Lihatlah setiap orang yang hidup di depan kita, dan lihatlah diri kita sendiri. Nilailah apakah orang-orang ini adalah orang yang bijaksana dan memiliki pikiran. Saudara-saudara, bukankah kehidupan mereka akan menggenapi Firman? Manusia biasanya mencari jalan yang paling mudah dan paling nyaman di dalam hidupnya. Ketaatan dan kesucian itulah yang paling dihindarkannya. Mereka menikmati hidup ini dengan jalan berdosa. Menjadi pezinah, menjadi pemabuk, berjudi, malas, menikmati seluruh kesenangan dunia ini. Mereka berusaha membuat nyaman hidup mereka saat ini tetapi pada saat yang sama melupakan rancangan kebahagiaan, masa depan dan kekekalan.

Flavel kemudian mengatakan demikian, “Sekarang tanyakan kepada orang-orang tersebut atau kepada dirimu sendiri. Orang-orang yang menghancurkan tubuh, jiwa, harta, nama, keluarga. Tanyakan apakah mereka telah memilih jalan yang bijaksana bagi diri mereka sendiri? Tanyakan kepada mereka jika hidup itu dapat diulang, apakah mereka akan memilih, menempuh jalan hidup seperti ini lagi? Bukankah mereka sendiri bersaksi bahwa mereka telah berlaku bodoh? Dan buah apa yang kemudian dihasilkannya adalah malu karena kesudahan semuanya itu adalah kematian. Bukankah kita seharusnya membangun hidup yang nyaman dalam batasan perintah Allah? Hidup yang nyaman dalam batasan Firman Allah?” Memang ada pengalaman beberapa orang yang berdosa yang seakan mendapat kenikmatan hidup dan keberhasilan dalam dosa mereka. Tetapi Kitab Suci telah memverifikasikan pengalaman mereka di dalam Amsal, dikatakan: “Harta kejahatan tidak menghasilkan apa-apa.” Sekali lagi, lihatlah Firman Tuhan. Dan sebelum Saudara mengatakan amin terhadap Firman Tuhan, maka orang Puritan ini mengatakan, “Lihatlah kejadian di dunia, baru engkau akan bisa mengatakan amin. Karena Firman Tuhan sungguh-sungguh terjadi di dalam dunia ini. Orang akan menyesali hidupnya jikalau mereka tidak berjalan di dalam ketaatan dan kesucian kepada Allah. Sebaliknya, banyak kesulitan dan kutukan dan sengsara yang tidak akan kita jumpai jikalau kita berjalan di dalam perintah Allah. Maka umat, jadilah bijaksana!” Saudara-saudara, renungkan jalan providence dengan Firman.

Flavel sangat luar biasa sekali. Ketika kita merenungkan, membaca Firman, Flavel mau untuk Saudara mengangkat pikiran dan hati dan melihat kenyataan hidup. Kita akan tahu bahwa Allah akan mengatur seluruh kehidupan kita, gereja kita dan dunia ini seturut dengan Firman-Nya. Apa yang terjadi akan meneguhkan Firman-Nya. Jadilah bijaksana! Alkitab dengan jelas: “Kalau engkau menetapkan langkahmu mentaati Allah, demikian Firman Tuhan, maka engkau akan disebut bangsa yang bijaksana.” Orang lain akan mengatakan kamu itu pintar, bukan IQ-nya tinggi, tetapi engkau adalah orang yang berhikmat, engkau memilih jalan ini, jalan ini tepat, engkau menghindarkan kutuk dalam hidupmu dan keluargamu. Sekali lagi saya mengatakan kepada Saudara-saudara, mendorong Saudara-saudara, biarlah kita mendidik diri kita, mendidik keluarga kita dan anak-anak kita bukan untuk menjadi baik saja, itu tidak cukup, tetapi adalah untuk taat kepada Firman.

(ii) Hal yang kedua, mari kita melihat kepada bagian Firman. Ada prinsip ini, Firman mengatakan: “Barangsiapa yang berbalik dari jalan yang lurus dan benar dan memilih jalan yang berdosa, tidak akan beruntung.” Mari kita melihat 2 Tawarikh 24:20, saya sarankan nanti setelah pulang, baca balik lagi Firman ini dan renungkan. Sekali lagi Flavel sedang membawa kita untuk melihat Firman, tetapi tidak cukup untuk itu, kita diminta untuk melihat Firman dan sebelum kita mengatakan amin, dia meminta kita melihat kenyataan. Engkau akan tahu, kenyataan itu menggenapi Firman.

2 Tawarikh 24:20: Lalu Roh Allah menguasai Zakaria, anak imam Yoyada. Ia tampil di depan rakyat, dan berkata kepada mereka: ”Beginilah Firman Allah: Mengapa kamu melanggar perintah-perintah TUHAN, sehingga kamu tidak beruntung? Oleh karena kamu meninggalkan TUHAN, Ia pun meninggalkan kamu!” Saudara-saudara, Firman Tuhan menegaskan di sini, barangsiapa yang berbalik dari jalan yang lurus dan benar, dan memilih jalan berdosa tidak akan beruntung. Sekarang lihatlah apa yang ada di dalam Alkitab yang lain atau di dalam dunia ini, apakah ada umat Allah yang meninggalkan jalan yang lurus dan kemudian berbelok memilih jalan yang berdosa dapat sukses mewujudkan keinginannya sendiri dan berhasil hidup dengan cara seperti itu? Apakah ada yang pernah berhasil? Jawabannya adalah tidak! Tidak seorang pun! Tanyakan pengalaman ini kepada Anda sendiri. Apakah Anda memiliki konfirmasi penuh tentang kebenaran ini? Bahkan Daud sekali pun, raja yang dipilih Allah, diurapi dan dikasihi dan biji matanya Allah, apakah dia beruntung ketika dia berbelok dari jalan yang lurus dan mengambil jalan melakukan kejahatan dengan membunuh Uria dan mengambil istrinya? Apakah dia bisa menggunakan kuasanya, kebijaksanaannya, dan urapannya untuk menutupi seluruh jalan dosanya dan membuat kehancuran itu tidak terjadi? Bahkan seorang yang diurapi oleh Tuhan sekali pun, ketika memilih jalan yang bengkok maka kutuk itu menyertai dia. Karena Tuhan telah mengutuk semua jalan dosa, siapa pun yang menemukan dan menjalani jalan tersebut, termasuk umat-Nya yang paling diurapi tidak akan pernah beruntung. Pada awalnya jalan berdosa ini akan menyenangkan dan menjanjikan, tetapi pada pengelolaannya akan menjadi makin sulit dan akan berakhir secara menyedihkan. Entah Tuhan meledakkannya dengan hukuman rahasia, atau memberikan kegelisahan dalam hati nurani mereka, sehingga mereka dipaksa untuk memuntahkannya dan sepanjang dia tidak melepaskan dosa itu maka sepanjang itu pula dia tidak menemukan kedamaian di dalam hidup ini.

Daud belajar prinsip ini dalam hidupnya dan menurunkannya kepada anaknya, Salomo. Jalan keberhasilan bagi umat Allah adalah jalan yang lurus, jalan di dalam kebenaran. Mari lihat 1 Tawarikh 22:12: “Hanya, TUHAN kiranya memberikan kepadamu akal budi dan pengertian dan membuat engkau menjadi pemegang perintah atas Israel, supaya engkau memelihara Taurat TUHAN, Allahmu. Maka engkau akan berhasil, jika engkau melakukan dengan setia ketetapan-ketetapan dan hukum-hukum yang diperintahkan TUHAN kepada Musa untuk orang Israel. Kuatkan dan teguhkanlah hatimu, janganlah takut dan janganlah tawar hati.” Apa yang membuat keberhasilan dan kegagalan hidup kita? Jikalau kita berjalan di jalan kebenaran dan kita tidak berbelok, maka itu adalah jalan keberhasilan. Tetapi jalan kegagalan adalah ketika kita melanggar perintah-perintah Tuhan. Sekali lagi Tawarikh menyatakan: “Mengapa engkau melanggar perintah-perintah Tuhan sehingga engkau tidak beruntung?” Perhatikan kalimat di bawah ini. Memang benar ada prinsip ini juga, khususnya kepada seseorang ketika mau dihancurkan oleh Tuhan, dia mungkin untuk sementara waktu dibuat-Nya berhasil dan makmur di dalam dosanya untuk lebih mengeraskan hatinya. Tetapi ini tidak berlaku bagi orang yang dikasihi oleh Tuhan. Bagi orang-orang yang dikasihi oleh Tuhan, pergeseran orang itu kepada jalan berdosa tidak akan pernah dibuat Tuhan berhasil. Bukankah realita hidup itu menyatakan bahwa Firman ini benar?

(iii) Hal yang ketiga, dan mungkin ini adalah hal yang paling sulit di tengah-tengah kita. Firman Tuhan dengan jelas menyatakan bahwa gereja Tuhan harus mempercayakan hidupnya kepada Tuhan saja dan melarang setiap anak Tuhan bergantung kepada siapa pun saja, termasuk kepada ilah-ilah, maupun kepada manusia yang terdekat dan berkuasa dan terbesar sekali pun. Mari kita melihat Mazmur 146:3, “Janganlah percaya kepada para bangsawan, kepada anak manusia yang tidak dapat memberikan keselamatan.” Atau ayat-ayat seperti Yeremia 17:6-10. Beginilah Firman Tuhan, ”Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri dan yang hatinya menjauh dari pada Tuhan.” Dan sebaliknya di situ ada tulisan: “Diberkatilah orang yang mengandalkan Tuhan yang menaruh harapannya kepada Tuhan.” Saudara-saudara, mari kita sekarang menyelidiki ayat ini dan lihatlah jalan-jalan pemeliharaan Allah. Saudara akan menemukan kebenaran Alkitab ini di dalam kehidupan sehari-hari.

Apakah kita ingat apa yang membuat Israel Utara dan Israel Selatan itu hancur? Dalam Alkitab, dalam sejarah, dicatat Israel Utara dan Israel Selatan itu hancur. Apa yang menyebabkannya? Israel Utara hancur karena mempercayakan dirinya kepada ilah-ilah palsu. Berkali-kali Alkitab menyatakan mereka hidup dengan dosa-dosa Yerobeam di mana ada ilah-ilah yang lain. Israel Selatan hancur karena pada awalnya mereka meminta pertolongan kepada Asyur ketika raja Ahas diserang oleh musuh.  Pada waktu itu Yesaya datang dan mengatakan kepada Ahas, “Engkau jangan kuatir, engkau percaya kepada Allah Immanuel.” Dan Ahas itu persis seperti sebagian besar orang Kristen, kita semua yang berlaku munafik, kita mengatakan, “Ya! Amin! Puji Tuhan!” Betul, tetapi kemudian, setelah pendeta, hamba Tuhan, Yesaya, itu keluar maka kemudian kita menghubungi orang yang kuat untuk menolong kita. Raja Ahas pada waktu itu hampir saja mati dan seluruh kotanya sudah direbut oleh musuh dan musuh sebentar lagi masuk ke dalam kerajaannya. Dan Allah mengutus hamba Tuhan Yesaya berbicara kepada Ahas untuk mempercayakan hidupnya kepada Immanuel. Ahas mengatakan, “Ya, ya. Amin, amin.” Kemudian Yesaya pulang dan Ahas kemudian cepat-cepat meminta ajudannya, pegawainya pergi ke Asyur dan meminta bantuan. Saudara-saudara, mungkin dalam pikiran dia adalah seperti ini, “Ya, Tuhan pasti bisa menolong, tetapi melalui dia.”

Ini secara rohani tidak mudah Saudara-saudara. Ini hanya orang-orang tertentu di dalam anugerah Tuhan bisa membedakan apa yang menjadi isi hatinya. Kita berfikir bahwa kita itu mentuhankan Yesus. Mungkin tidak. Mungkin uang. Mungkin hati kita sebenarnya kalau dibedah paling dalam, kita itu menyerahkan seluruh kebahagiaan dan kekuatiran kita kepada seseorang. Saya tidak katakan bahwa poin yang ke-3 ini mungkin adalah sesuatu yang paling berat dalam hidup kita. Calvin mengatakan bahwa hati manusia itu adalah product idol. Ini artinya apa pun saja yang kita jumpai maka ini akan menjadi sesuatu idol-nya kita. Tetapi lihatlah pengalaman ini, berapa sering apa yang kita cintai, yang kita idolakan, kita sandarkan, dari waktu ke waktu memperlihatkan kehancurannya dan kesia-siaannya. Allah menginginkan hati kita, dan Alkitab mengatakan bahwa Dia adalah Allah yang cemburu, yang tidak akan memberikan kemuliaan-Nya kepada ciptaan-Nya yang lain. Tidak ada yang boleh membuat kita bersandar kepada yang lain selain Allah. Tidak ada yang boleh menawan hati kita yang terdalam. Mungkin anak kita adalah ilah kita. Mungkin keluarga kita, mungkin suami/istri kita, mungkin keuangan kita adalah ilah kita. Kita harus jujur dan ini begitu sulit. Tetapi biarlah kita punya hati yang mau untuk diremukkan, direndahkan oleh Tuhan. Alkitab menyatakan dengan jelas Tuhan tidak menginginkan kita menyembah ilah yang lain, hanya kepada Dia saja. Dan ilah-ilah yang lain itu akan dihancurkan oleh Allah.

Alkitab dengan jelas menyatakan bahwa Tuhan adalah satu-satunya tempat di mana kita meletakkan semua kebahagiaan kita. Bukan pada harta kita, bukan pada suami, istri, anak, keluarga kita. Itulah sebabnya sering kali Tuhan menghajar anak-anak-Nya, kita semua dalam hal ini. Relasi-relasi kita diguncang, kita dihajar agar hati kita tidak berlebihan dan tidak wajar memegang mereka. Dunia penuh dengan contoh-contoh orang yang kehilangan kenyamanan, kehilangan suami, istri, anak-anak, harta benda, untuk menyatakan bahwa Firman ini benar. Ketika saya bicara mengenai kehilangan itu, itu tidak berarti bahwa orang itu mati. Tetapi, Saudara-saudara akan merasakan Saudara ingin mendekat tetapi orang itu kelihatan tidak bisa mendekat lagi kepada kita. Allah yang mengerti setiap isi hati kita sesungguhnya, apa yang menjadi sumber kebahagiaan kita dan sumber kekecewaan kita. Kita mungkin tidak marah terhadap apa pun saja yang terjadi di dalam hidup kita, sampai bagian itu disentuh tombolnya. Saudara, banyak orang yang dihina apapun saja dapat menanggungnya, sampai kemudian orang bicara satu kalimat yang negatif saja tentang anaknya, kemarahannya tidak bisa ditahan. Sebaliknya, ada orang yang sama sekali tidak marah jika anaknya dibicarakan. Kamu tahu tidak kemarin anakmu nakal loh, orangnya tidak marah, sungguh-sungguh tidak marah. Tetapi suatu hari ada orang ketemu sama dia dan mengatakan, “Eh pakaianmu itu murah ya harganya?” Marahnya luar biasa, Saudara-saudara. Ada orang yang baca Firman Tuhan, mau Firmannya sekeras apa pun, dia bilang, “Halleluya, puji Tuhan!” Tetapi ada satu kalimat temannya bicara mengenai anaknya, dia sama sekali tidak mau terima. Ilahnya itu anaknya. Dia menggantungkan kegembiraannya dan kekecewaannya kepada anaknya. Ini tidak mudah, dan ini memerlukan Saudara dan saya untuk self-introspection dan minta anugerah dari Tuhan. Sebagian dari anak-anak muda maka pacarnya itu adalah idol-nya. Mungkin seorang laki-laki, mungkin karirnya, namanya, apa pun saja, bahkan mungkin pelayanannya, mungkin jabatannya. Sepanjang dia punya itu maka hidupnya berbahagia, jika dia tidak punya itu maka hidupnya susah.

Saudara-saudara, Flavel mengingatkan kita dengan hal ini. Yunus bersukacita karena tumbuhnya sebatang pohon jarak, tetapi Allah pula yang mengirimkan ulat untuk membuat pohon itu layu di depan dia. Bagi anak-anak Tuhan akan banyak kuburan dibuka untuk menguburkan berhala kita, untuk menyingkirkannya dari pandangan kita. Mari lihat Mazmur 30:6-11, kita hanya bicara mengenai ayat 6-7 saja. Lihat apa yang ada di dalam hatinya Daud: “Dalam kesenanganku aku berkata: “Aku takkan goyah untuk selama-lamanya!” Tuhan, oleh karena Engkau berkenan, Engkau telah menempatkan aku di atas gunung yang kokoh; ketika Engkau menyembunyikan wajah-Mu, aku terkejut.” Saudara-saudara, apa yang membuat kita terkejut? Mungkin kalau ada orang cerita, kejadiannya misalnya seperti ini: “Wah, kemarin itu ya, anak saya itu ngomong satu kalimat bikin saya terkejut, ga pernah lho dia ngomong seperti itu.” Saudara-saudara, bagi Daud ketika dia membaca Firman, bergaul intim dengan Tuhan, dan kemudian Tuhan itu diam, Tuhan itu menutup wajah-Nya dan Tuhan tidak menampakkan kehendak-Nya bagi dia, dia gemetar. Bagi Daud ketika dia itu mau mencari wajah Allah, dan Tuhan menampakkan diri-Nya kepada dia melalui Firman-Nya maka dia bersukacita dan bergemar. Ya, dia punya uang banyak, dia punya pasukan banyak, dia punya nama besar. Jikalau itu kemudian berkurang atau hilang, pasti dia akan sedih. Tetapi itu tidak berada di dalam isi hati terdalamnya, itu tidak akan menggoncangkannya, tetapi dia akan goncang kalau dasar yang paling bawah itu diangkat, dan dasar itu adalah relasinya dengan Allah. Pada pagi hari ini Saudara-saudara, mari kita pikirkan apa yang Tuhan tunjuk sebagai idol kita. Apa ilah kita?

(iv) Hal yang keempat, dan saya akan akhiri pada pagi hari ini dengan poin ini. Lihatlah Firman dan lihatlah kehidupan. Firman memberikan kepastian bahwa dosa adalah penyebab dan pintu masuk dari penderitaan dan kesedihan dalam hidup kita. Dosa dan penderitaan. Kalau ada penderitaan pasti ada kesedihan. Dosa dan penderitaan dan kesedihan itu tidak bisa dipisahkan. Mari kita melihat Mazmur 89:30, dalam bahasa Inggris mungkin ayat 31, “Jika anak-anaknya meninggalkan Taurat-Ku dan mereka tidak hidup menurut hukum-Ku, jika ketetapan-Ku mereka langgar dan tidak berpegang pada perintah-perintah-Ku, maka Aku akan membalas pelanggaran mereka dengan gada, dan kesalahan mereka dengan pukulan-pukulan. Tetapi kasih setia-Ku tidak akan Ku-jauhkan daripadanya dan Aku tidak akan berlaku curang dalam hal kesetiaan-Ku.” Bilangan 32:23 menyatakan bahwa dosamu akan menimpa kamu. Saudara-saudara, dosamu akan mengejar kamu. Yeremia 2:19 menyatakan: “Kejahatanmu akan menghajar engkau dan kemurtadanmu akan menyiksa engkau!” Saudara perhatikan baik-baik hal ini, Firman memberikan jaminan; dosa, penderitaan dan kesedihan itu selalu hadirnya satu paket. Ini tidak berarti bahwa setiap penderitaan yang terjadi kepada anak-anak Tuhan adalah karena dosa. Kadang Tuhan menghadirkan penderitaan kepada anak-anak-Nya, itu adalah suatu anugerah menderita di dalam Kristus Yesus. Kitab 1 Petrus menyatakan: “Bersukacitalah terhadap penderitaan seperti ini.” Misalnya saja Saudara-saudara, ada sesuatu penderitaan yang terjadi dalam hidup kita. Hal pertama adalah kita mengecek apakah ada dosa yang sengaja yang kita lakukan di hadapan Allah, tetapi jikalau tidak ada, tentu kita tidak mungkin seratus persen tidak berdosa tetapi bukan sesuatu yang kita sengaja di hadapan Allah. Dan juga bukan suatu dosa yang kita sudah tahu tetapi kita tidak akui di hadapan Allah. Maka jikalau ada kesulitan atau penderitaan yang terjadi bahkan itu seperti misalnya saja ada orang yang terkena cancer, tumor atau apa pun saja, biarlah kita menyadari bahwa itu diberikan Allah di dalam providentia-Nya untuk kita tanggung di dalamnya, untuk kita memuji, memuliakan Kristus. Kita menanggungnya karena ketaatan kepada Kristus. Dan kalau kita tidak bersungut-sungut dan kita menerimanya dengan hati yang rela dan kita bersaksi dalam keadaan seperti itu, kita menjalani kehendak Kristus yang diberikan kepada kita. Rasul Petrus mengatakan bersukacitalah untuk penderitaan yang ditanggung karena Kristus. Sekali lagi kita sedang berbicara berkenaan dengan satu paket antara dosa, penderitaan dan kepedihan.

Saudara-saudara, ini juga tidak berarti bahwa setiap kali kita berdosa, maka Tuhan akan membalasnya dengan setimpal secara langsung kepada kita. Karena jikalau itu terjadi, siapakah yang bisa tetap tahan berdiri di depan-Nya? Tetapi ini yang mau dikatakan, biasanya Tuhan mengambil jalan menghampiri dosa umat-Nya dengan tongkat penderitaan dan ini adalah sebuah anugerah bagi jiwa kita. Saudara, luar biasa. Saudara perhatikan baik-baik! Bagi gereja Tuhan maka dosa kita tidak akan dibiarkan oleh Allah. Dan Tuhan itu biasanya dealing dengan menggunakan hajaran. Dan ketika ini terjadi, ini adalah sebuah anugerah bagi jiwa kita. Sekali lagi, jikalau kita melihat benih dan prinsip apa sebabnya hidup kita itu menderita dan sedih, bukankah kita akan menemukan benih dan prinsipnya dari penderitaan dan kesedihan itu karena dosa yang telah kita perbuat? Bukankah itu sudah tertulis dalam Firman? Siapakah yang bisa mengatakan bahwa Firman itu bersalah dalam hal ini? Firman telah memperingatkan kita akan jalan-jalan ini. Hari ini kita sampai di sini dan kalau Tuhan pimpin kita akan melanjutkan pembahasan ini minggu depan. Tetapi Saudara-saudara sekarang mengerti bahwa ketika kita melihat jalan hidup kita, Saudara lihatlah Firman, maka Saudara akan mengerti bagaimana Allah berlaku kepada kita seturut dengan Firman-Nya. 

Alamat

556 - 558 Botany Road, Alexandria, NSW, 2015
sekretariat@griisydney.org
0422690913
0430930175

Social Media

Facebook GRII Sydney Instagram GRII Sydney Twitter GRII Sydney


Google Play Store
App Store

^