[simple_crumbs root="Home" /]
kembali

23 August 2020

Pdt. Agus Marjanto, M.Th

Rahasia Cara Kerja Pemeliharaan Allah (5)

Mazmur 73

Kita terus memikirkan poin-poin mengapa kita perlu memikirkan providence. Kalau Tuhan memberikan perintah ini kepada kita di dalam Alkitab, pasti ada sesuatu yang baik, berguna, yang profitable, yang Tuhan berikan kepada kita nantinya. Biarlah kita ingat setiap kali kita menaati Firman, pasti ada berkat yang Tuhan berikan kepada kita. Mengapa kita perlu memikirkan jalan-jalan Tuhan? Bagaimana Tuhan sudah dealing kepada kita di masa lampau? Mengapa kita perlu untuk melihat, meneliti bagaimana jalan providence Allah bagi umat manusia di dunia ini dan juga melalui Firman-Nya? Pada pagi hari ini kita akan menambahkan 2 hal ini untuk menutup seri berkenaan dengan signifikansi merenungkan providence.

Pada pagi hari ini kita masuk ke dalam poin yang ke-11. Mengapa penting untuk merenungkan providence Allah?

(11) Karena akan memberikan jiwa kita kuasa untuk melawan ketidakpercayaan natural yang ada di dalam jiwa kita. Sekali lagi, perenungan providence akan memberikan jiwa kita kuasa untuk melawan ketidakpercayaan yang ada secara alamiah di dalam jiwa kita. Biarlah kita tidak menganggap diri kita kuat. John Flavel menyatakan bahwa ada bibit ketidakpercayaan natural kepada Allah di dalam hati yang terbaik sekalipun. Oh, kita mengatakan: “Saya pasti percaya kepada Tuhan. Saya sudah terima Yesus Kristus.” Alkitab mengatakan: Jangan engkau sombong, jangan engkau bermegah diri, jangan menganggap kuat. Orang-orang Puritan melihat Alkitab dan mengerti jiwa kita. Mereka sering disebut sebagai dokter jiwa. Mereka mengerti sekali apa yang menjadi pergerakan jiwa manusia yang berdosa. Meskipun kita adalah orang yang beriman kepada Yesus Kristus tetapi ada bibit-bibit natural ketidakpercayaan yang tertanam di dalam jiwa kita dan kita tidak menyadarinya sampai itu tumbuh berkembang dan di dalam kondisi apa itu akan berkembang; ketika kita mengalami sesuatu yang tidak adil di dalam hidup kita.

Perhatikan baik-baik. Sering kalimat ini kita sebutkan: Life is not fair. Ketika kita bicara berkenaan dengan hidup itu tidak adil maka kita sedang membandingkan diri kita dengan diri orang lain. “Lho, saya sudah melakukan sesuatu yang baik, orang itu begitu jahat. Saya melakukan sesuatu yang tulus, orang itu mengandung lika-liku. Kenapa saya seperti ini dan pada orang itu terjadi kemakmuran?” Ketika kita melihat orang-orang yang jahat mendapat sesuatu yang baik sedangkan orang-orang baik mendapatkan sesuatu yang jahat, kita akan memikirkan life is not fair. Jikalau itu terjadi di dalam hidup kita maka iman kita bisa goncang dan kita bisa muncul ketidakpercayaan kepada Allah. Apalagi jikalau ada seseorang yang bersalah kepada kita, kita konflik dengan orang itu. Kita tahu bahwa dia yang salah, kita jujur. Kita tidak sedang meninggikan diri, kita sadar sekali dia yang salah. Tetapi orang lain dan public memberikan dukungan kepada dia dan bukan kepada kita. Berapa kali di dalam pelayanan atau hidup atau pekerjaan di dalam gereja maupun di luar gereja dan Saudara ada konflik dengan rekan yang sejawat, dengan rekan yang sepadan. Lalu atasan Saudara membela rekan kita, padahal jelas sekali dia yang salah. Berapa kali rekan kita itu memberikan kalimat-kalimat kepada atasan kita sehingga atasan kita sudah punya kacamata yang negatif yang tidak mungkin bisa diubah seumur hidupnya terhadap kita? Ketika Saudara mau membela diri pun orang itu akan mengatakan: “Oh, engkau mau membela diri?” Saudara akan merasakan hidup ini tidak adil. Orang itu tidak memberikan sesuatu yang fair atau membuat sesuatu yang adil, yang benar. Orang di atas kita bias. Ketika kita berpikir bahwa life is not fair, itu artinya bahwa kita melihat ternyata hidup ini tidak dituntun oleh kebenaran, oleh reason/logika dan juga oleh justice. Tidak ada selalu paralelitas dengan apa yang kita kerjakan yang baik dengan apa yang kita dapatkan. Itulah yang terjadi dalam Mazmur 73 yang panjang lebar ini. Kalau Pemazmur boleh menggunakan satu kalimat bahasa sekarang, dia akan mengatakan life is not fair. Bagaimana orang fasik bertumbuh subur makmur di dunia ini dan orang saleh menderita, hancur, rendah, binasa di dalam jalan kebenaran dan ketulusan. Maka ketika dia mengalaminya, dia berpikir, “Mengapa aku harus hidup benar? Tidak ada gunanya. Apa untungnya bagiku?” Ayat 13 menyatakan: “Sia-sia sama sekali aku mempertahankan hati yang bersih, dan membasuh tanganku, tanda tak bersalah.” Kenapa aku harus menjaga diri di dalam jalan menyangkal diri dan menjaga kesucian, itu tidak ada sesuatu yang baik terjadi pada diriku? Kenapa aku harus mempertahankan seluruh kesalehan ini? Sia-sia. Orang-orang seperti ini mulai tidak mempercayai prinsip Alkitab, dari kecil makin lama makin menggerogoti, makin besar. Jangan kita merasa kuat. Bahkan Pemazmur pun goncang imannya dalam hal ini. Kita mungkin bisa mempercayai Allah dan mempercayai Alkitab karena kita melihat hidup ini masih bisa kita terima/acceptable. Tetapi ketika ada hal-hal yang tidak adil terjadi dalam hidup kita dan kita terus menerus disalah-mengerti, kita akan merasakan hidup ini tidak adil. Kita mulai ragu, suatu pemikiran yang tidak kudus yang dibangkitkan di dalam daging, masuk ke dalam pikiran kita dan akan menyuburkan bibit ketidakpercayaan kita kepada Allah. Kita mulai apatis dengan Allah, kita mulai kecewa dengan Dia, pengharapan kita mulai melemah dan bahkan kadang kita mulai mencurigai Allah. Dan pada akhirnya kita kecewa dan mundur. Ini bisa terjadi ketika kita berjumpa dengan peristiwa ini di luar ataupun di dalam gereja. Saudara-saudara memiliki suatu kehidupan dengan orang-orang luar dan kemudian kita merasakan life is not fair. Saudara berkonflik dengan orang-orang di dalam gereja dan kemudian Saudara-saudara mengatakan: “Ini adalah tidak fair.” Dan karena ini terjadi dalam gereja maka kita mulai mundur. Ini sering sekali terjadi di gereja-gereja. Ini adalah orang-orang yang sakit hati terhadap gereja. Saudara-saudara konflik dengan rekan seiman dalam gereja, konflik dengan penatuanya, dengan pengurus gereja. Lalu Saudara sudah memperkarakan ini dengan hamba Tuhan tetapi hamba Tuhan tidak mendengarkan Saudara, mendengarkan penatua itu. Saudara-saudara akan mundur. Saudara akan berpikir: “Apa ini gereja? Orang-orang yang tidak benar yang mimpin, munafik di gereja. Tuhan tidak bertindak.” Saudara-saudara kecewa. Saudara tidak mempercayai bahwa Tuhan bisa menegakkan kekudusan-Nya. Dan Saudara mulai mundur. Perhatikan ketika Saudara-saudara mundur/kecewa, ada dua hal. Kecewa karena Saudara sombong, Saudara mau menaklukkan orang lain. Terutama kalau orang yang berkonflik dengan kita tidak ada dosa yang terlihat, tetapi karena Saudara tidak mau takluk dengan dia, Saudara ingin meninggikan diri tetapi tidak bisa, Saudara kemudian mundur. Ini adalah sesuatu kesombongan. Ketika dealing dengan jiwa yang seperti ini, kalau itu ada dalam diri kita, kita harus bertobat. Karena kalau kita tidak bertobat, kita mundur, kita berpikir dia yang seharusnya salah padahal sebenarnya kita yang disingkirkan sama Tuhan. Itu adalah dosa kesombongan. Kita selalu ingin untuk menaklukkan orang lain. Spirit seperti itu tidak diperbolehkan. Saudara memimpin orang lain di dalam ordo. Tetapi kalau ordo sudah tidak lagi diberikan kepada kita, maka kita tidak boleh menguasai orang itu. Hal yang pertama kita mundur karena kesombongan.

Tetapi memang ada kekecewaan yang jujur, itu adalah hal yang kedua. Kecewa yang jujur, Mazmur 73, Pemazmur kecewa yang jujur. Ini benar-benar tidak fair. Bagaimana mungkin aku orang yang jujur, aku tidak sedang bersombong dengan Engkau. Aku sungguh-sungguh mempertahankan kesalehanku. Aku sungguh-sungguh mau menyatakan dengan kejujuran, aku menjaga kesucianku. Sungguh-sungguh aku benar dalam perkara ini. Dan dia salah. Bahkan dia jahat. Dia meninggikan diri, menyatakan apakah Allah tidak punya pengetahuan? Aku sungguh-sungguh kecewa. Ini adalah kekecewaan yang jujur, bukan dia membenarkan diri. Di dalam kondisi seperti ini, maka apa remedy nya? Orang dunia mengatakan: “Siapa bilang bahwa life itu fair?” Kalau seseorang mengatakan: “Life is not fair.” Dia kecewa. Kemudian orang dunia mengatakan: “Siapa bilang itu fair?” Tetapi Alkitab lebih daripada itu. Alkitab menyatakan kepada orang-orang yang kecewa ini lihat jalan providensia Allah sampai tuntas. Jangan buru-buru menyimpulkan hidup ini. Jangan salah menilai jalan providensia Allah; perhatikan sampai tuntas. Perhatikan Mazmur 73:17, dia mengatakan; “Ini kesulitan di mataku. Aku seperti hewan. Dungu aku. Tidak bisa masuk akal.” Hidup tidak paralel seperti ini. Tetapi Pemazmur mengatakan: “Tetapi aku tetap di dekat-Mu.” Dia tidak mundur. “Aku tetap di dekat-Mu. Aku masuk ke dalam tempat kudus-Mu dan memperhatikan kesudahan mereka. Sesungguhnya di tempat-tempat licin Kau taruh mereka, Kau jatuhkan mereka sehingga hancur. Binasa mereka dalam sekejap mata, lenyap, habis oleh karena kedahsyatan! Seperti mimpi pada waktu terbangun, ya Tuhan, rupa mereka Kaupandang hina.” Apa yang Pemazmur katakan kepada kita ketika kita menemukan life is not fair. Lihatlah jalan-jalan Tuhan sampai tuntas. Lihatlah bagaimana Tuhan memperlakukan seluruh anak-anak manusia; orang benar dan orang fasik. Kepada orang benar, bukankah Dia selalu menyatakan kesetiaan-Nya, cinta-Nya, berkat-Nya? Apakah Dia tidak menyatakan keadilan-Nya di tengah-tengah umat manusia? Apakah Dia tidak mengangkat orang benar pada waktunya? Pemazmur mengatakan: “Engkau memegang tangan kananku. Nasihat-Mu menuntun aku dan kemudian Engkau mengangkat aku ke dalam kemuliaan.” Perhatikan jalan providensia Allah, renungkan itu sampai tuntas. Maka kesimpulannya adalah seperti Mazmur 58:11 “Sesungguhnya ada pahala bagi orang benar, sesungguhnya ada Allah yang memberi keadilan di bumi.” Perenungan akan providensia Allah akan memberikan jiwa kita kuasa untuk melawan ketidakpercayaan yang secara natural hadir di dalam jiwa kita.

(12) Sekarang bagian yang terakhir. Perenungan providensia adalah satu-satunya yang berguna, yang dapat kita lakukan untuk menguatkan iman kita dan membuat manis saat-saat kematian kita. John Flavel menggabungkan kegunaan yang penting, yang signifikan dari providence digabungkan dengan kematian kita. Pada saat-saat sekarat kita, pada saat detik-detik menjelang kematian, satu-satunya hal yang paling berguna yang dapat kita lakukan untuk menguatkan iman kita dan membuat manis kematian kita adalah perenungan akan providence. Saudara-saudara, di saat tubuh ini sudah tidak berdaya, kekuatannya hilang, di saat kita memasuki waktu akhir dalam hidup kita, waktu kematian, apa hal satu-satunya yang paling berguna yang kita perlukan? Yaitu merenungkan providence. John Flavel mengingatkan kita akan 5 hal ini ketika waktu-waktu sekarat. Apa itu dying moment? Apa itu waktu-waktu sekarat? Apa itu detik-detik kematian? Apa yang terjadi di dalamnya?

1. Waktu-waktu menjelang kematian adalah saat di mana biasanya setan menyerang anak-anak Tuhan secara brutal, kasar. Jadi masa-masa atau waktu-waktu terakhir sebelum kematian, setan sering sekali menyerang anak-anak Tuhan. Di saat seperti itu, apa kekuatan kita? Saat-saat seperti itu setan mengeluarkan kemarahan terpuncaknya. Boleh dikatakan setan tidak mengeluarkan kemarahan terpuncaknya sampai waktu kita terakhir, pada saat itulah meng-encounter dengan kita. Di saat seperti itu, rancangan utama setan adalah membuat jiwa kita tidak mempercayai Tuhan mengasihi kita. Setan akan mengatakan, “Tuhan tidak perduli lagi pada kita. Tuhan tidak lagi mendengarkan tangisan kita. Pada saat kita memohon belas kasihan-Nya di saat-saat terakhir itu dan berteriak minta tolong, Tuhan tidak akan mendengarkan kita.” Apa yang menjadi kekuatan perlawanan kita di saat genting seperti itu? Pada saat kita tidak lagi bahkan mungkin tidak bisa lagi bergerak, di ranjang kita menunggu kematian kita. Apa kekuatan dan apa senjata kita untuk melawannya? Saya teringat beberapa tahun yang lalu, puluh tahun yang lalu. Ada satu kejadian di mana satu dari teman kami menunggu suaminya menjemput. Janjiannya adalah jam 7 malam. Tetapi ditunggu sampai jam 9, jam 10, ternyata suaminya tidak datang. Singkat kata akhirnya malam hari itu tahu bahwa suaminya sudah mati di tengah jalan, naik motor dan tertabrak. Sebelum dia tertabrak, dia sebenarnya menabrak salah satu orang di daerah kampung itu. Itulah sebabnya orang-orang di sekitar kampung itu membiarkan suaminya itu berjam-jam di situ dan akhirnya mati di tempat. Bisa bayangkan dia sekarat di tengah jalan, di saat seperti itu dia masih sadar tetapi orang-orang membiarkan saja. Kemudian dia perlahan-lahan mati setelah beberapa jam. Saudara-saudara melihat kesulitan seperti ini, siapa yang bisa menduga hal-hal terjadi seperti ini? Tidak ada satu orang pun yang bisa menentukan dengan sendirinya tempat sekarat kita. Di saat seperti itu John Flavel mengatakan: “Usually/biasanya setan akan menggocoh, menyerang anak Tuhan secara brutal.” Kalau dia tidak bisa mengambil jiwanya, minimal dia akan memagutnya sekali lagi membuat luka di dalam jiwanya. Dan di tengah-tengah seperti itu, apa senjata orang-orang sekarat itu? Setan adalah pengecut. Dia tidak akan datang mencobai kita ketika kita sehat dan di tengah-tengah kumpulan jemaat seperti ini. Tetapi ketika kita sendirian, ketika kemalangan itu ada, dia cepat-cepat dengan kelompoknya akan berbicara kepada kita membicarakan hal-hal untuk kita itu tidak mempercayai Allah. Di kesendirian seperti itu, bahkan saat-saat kita tidak bisa lagi bergerak, di ranjang kematian kita dan ketika musuh mendekat dan melawan kita dengan sengit, apa senjata perlawanan kita? Perhatikan apa yang dikatakan oleh John Flavel, orang Puritan itu “Satu-satunya senjata kita adalah pikiran kita, pikiran kita.” Gunakan pikiran kita untuk mengingat providence Allah di masa lampau. Memori kita; ingat akan apa yang Dia sudah kerjakan kepada kita. Lihat, ingat lagi akan kebaikan-Nya, mengingat pejagaan-Nya, mengingat pemeliharaan-Nya, mengingat kadang Dia keras kepada kita, mengingat bahkan kadang Dia lembut kepada kita. Entah Dia keras atau lembut itu adalah bentuk dari pemeliharaan-Nya untuk kita makin mendekat kepada Dia. Ingat masa-masa lalu di mana kita berteriak dan Dia menjawab doa-doa kita. John Flavel menyatakan di dalam kasus serangan setan ini, satu-satunya yang bisa menopang iman kita adalah memori kita dengan ribuan pengalaman masa lalu bersama dengan Tuhan. Jikalau itu terjadi, maka setan tidak bisa melukai jiwa kita, setan tidak bisa membuat kita menyerah, setan tidak mungkin akan bisa membuat kita menyangkali kebenaran bahwa Allah selalu akan peduli kepada kita dari masa lalu sampai saat ini. Dia Allah yang tidak pernah tidak peduli kepada kita. Luar biasa sekali, ini adalah Dokter jiwa. Kalau melihat orang-orang yang ada di rumah sakit atau orang yang kena Covid ini. Dia masuk dan perlahan-lahan tubuhnya mulai melemah, tidak ada anak, isterinya atau siapapun saja yang boleh menjenguknya sampai mati. Seluruh alat kedokteran yang mengambil alih semuanya, ventilator mengambil alih seluruh fungsi paru-paru dan jantungnya. Kalau bertemu dengan orang yang seperti itu kemudian kita membisikkan sesuatu, bukankah dia berlinang air mata? Itu artinya pikiran dia masih berfungsi tetapi dia tidak bisa berespon kepada kita. Bukankah itu waktu yang sangat menakutkan? Di dalam keadaan seperti itu, apa senjata perlawanan kita? Maka orang-orang Puritan mengatakan “Pergunakanlah memorimu untuk melawan musuh dengan mengingat providence of God di masa lampau, dengan mengingat Firman-Nya yang engkau sudah pelajari.” Yohanes 13:1: Sama seperti Ia senantiasa mengasihi murid-murid-Nya demikianlah sekarang Ia mengasihi mereka sampai kepada kesudahannya. Mazmur 48:14: Sesungguhnya inilah Allah, Allah kitalah Dia seterusnya dan untuk selama-lamanya! Dialah yang memimpin kita! Mazmur 71:17-18: Allah yang telah mengajar kita sejak waktu kecil, sampai masa tua dan putih rambutku tidak meninggalkan aku. Apa kekuatan kita? Apa senjata kita? Mengingat providence of God.

2. Saat kematian itu adalah saat di mana salah satu tindakan iman utama yang terakhir, yang utama yang terakhir. Ada dua tindakan iman yang utama, yang terbesar, yang tersulit. Yang pertama adalah ketika kita mempercayakan jiwa kita, kita menjatuhkan hidup kita di tangan Yesus Kristus seluruh hidup kita ke depan. Kita menjatuhkan, mempercayakan diri kita di tangan Yesus Kristus sehingga hidup ini seterusnya dipimpin sepenuhnya, dikuasai sepenuhnya oleh Yesus Kristus. Itu adalah tindakan iman yang terbesar yang pertama. Tindakan iman yang kedua yang terbesar adalah ketika kita menjatuhkan hidup kita di dalam lautan kekekalan seturut dengan janji Allah pada saat kematian. Itu adalah salah satu hal yang tersulit dalam hidup kita. Kalau Saudara-saudara membaca buku Pilgrim’s Progress bagaimana seorang yang bernama Christian dituntun dari kelahiran baru sampai akhirnya menuju ke kota yang kekal, dia harus mengalami, menjatuhkan dirinya di bawah lautan, dan itu adalah gambaran kematian, di saat dia sangat-sangat ragu. Dua hal ini adalah tempat di mana iman yang paling tinggi kita nyatakan. Jadi saat-saat kematian adalah saat-saat kita melakukan tindakan iman yang utama yang terakhir. Ini adalah suatu kesulitan yang besar. Tetapi John Flavel mengatakan: “Sesungguhnya yang pertama ini yang lebih sulit dari yang kedua.” Yang pertama yang menjatuhkan diri kita ke tempat pelukan Kristus Yesus untuk Dia menjadi Raja kita seumur hidup. Itu lebih sulit daripada yang kedua. Di dalam hal yang kedua, di mana keraguan itu muncul, di mana kita berjalan di dalam lembah kekelaman itu. Apa yang harus kita lakukan? Yaitu mengingat providence. Mengingat akan persekutuan kita dengan Kristus Yesus dari awal sampai akhir. Mengingat bagaimana Allah setiap hari bersama kita. Bagaimana Allah sering kali mengunjungi kita secara nyata dan begitu manis. Bagaimana Allah hadir secara intim bersama kita ketika kita menjalani hidup ini. Bagaimana Dia setia menemani kita, menolong kita di saat kesusahan hidup. Mengingat waktu-waktu itu dalam hidup kita. Mengingat seluruh providensia Allah membuat kita tidak akan ragu akan kesetiaan-Nya, melampaui labyrinth kematian. John Flavel mengatakan “Di dalam hidup ini kita mengalami keintiman dengan Tuhan secara rohani tetapi ketika kita masuk ke dalam kekekalan melalui kematian, kita akan mengalami keintiman yang nyata, kita akan menemukan pernikahan Anak Domba Allah. Bagi anak-anak Tuhan, dying day is marriage day.

3. Detik-detik menjelang kematian adalah detik-detik di mana umat Tuhan menerima anugerah terakhir di dunia ini. Kita menerima anugerah terakhir di dunia ini. Bagaimana kita berespon dengan anugerah terakhir yang kita terima itu? Ada prinsip di dalam Alkitab bahwa setiap anugerah yang kita terima, kita harus gunakan anugerah itu untuk kemuliaan bagi Allah. Saudara mendapatkan uang, Saudara jangan pakai untuk judi untuk melakukan dosa. Saudara memiliki kesehatan, itu adalah anugerah Tuhan, bukan untuk melakukan kejahatan. Tetapi kalau Saudara mendapatkan uang, Saudara memuliakan Allah, memberikan perpuluhan, persembahan dan untuk pekerjaan Tuhan dan membangun keluarga yang sungguh-sungguh takut akan Tuhan. Saudara mendapatkan kesehatan, maka pakailah seluruh tubuh kita sebagai senjata-senjata kebenaran. Saudara memiliki satu talenta, Saudara memiliki dua talenta, Saudara memiliki lima talenta maka lipat gandakan itu untuk dikembalikan kepada Tuhan, itu adalah bentuk penatalayanan kita. Intinya adalah setiap anugerah yang diberikan kepada kita, kita harus gunakan itu untuk kemuliaan Allah. Kita harus usahakan dan kita harus olah untuk kemuliaan Allah, untuk kemuliaan yang tertinggi. Maka sekarang pertanyaannya adalah hari-hari terakhir atau detik-detik kematian itu adalah saat apa? Itu adalah saat menerima anugerah Tuhan yang terakhir di dunia ini. Bagaimana kita sebagai penatalayan menerima anugerah itu kita menggunakannya untuk kemuliaan Allah? Perhatikan apa yang John Flavel katakan “Pergunakanlah anugerah yang terakhir itu untuk mengingat anugerah-anugerah sebelumnya di dalam jalan providensia Allah sehingga hatimu diangkat, syukur untuk memuliakan Allah sebelum kita mati.” Saudara-saudara menggunakan anugerah itu dengan mengingat seluruh anugerah, itu adalah detik-detik kematian. Kematian bukan sekedar kematian. Kematian adalah saat peperangan terakhir yang sengit. Kematian adalah satu tindakan iman yang terbesar. Kematian adalah saat di mana kita menerima anugerah terakhir. Kita gunakan untuk apa anugerah itu? Bagaimana anugerah itu kita olah untuk menjadi kemuliaan bagi Allah di saat-saat yang pendek itu? Yaitu dengan mengingat providence.

4. Detik-detik kematian itu adalah detik-detik kita berhutang kepada umat manusia, kepada bumi ini untuk memberi tahu tentang Allah, jalan-jalan-Nya dan sifat-sifat-Nya yang dealing dengan kita. Jikalau Tuhan memberikan kepada kita kesempatan di saat-saat kematian itu berbicara kepada orang lain. Tidak semua orang diberikan kesempatan itu, maka lihatlah itu sebagai sesuatu privilege, hak istimewa untuk memberikan kesaksian tentang Allah yang hidup dan jalan-jalan-Nya dan karakter-Nya yang dealing dengan kita kepada bumi ini. Itu adalah waktu emas untuk kesaksian. Itu adalah waktu emas untuk proklamasi Allah dan jalan-jalan-Nya. Di dalam Alkitab ada kesaksian terakhir sebelum mati, misalkan dari Yakub dan Yosua. Di dalam Kejadian 48, Yakub yang sudah tua berusaha untuk menguatkan dirinya dan kemudian duduk sebelum dia mengutarakan kalimat-kalimat terakhirnya. Apa kalimat terakhirnya? Allah, yang Mahakuasa telah menampakkan diri kepadaku di Lus di tanah Kanaan dan memberkati aku serta berfirman kepadaku: “Akulah yang membuat engkau beranak cucu, dan Aku akan membuat engkau bertambah banyak…; Aku akan memberikan negeri ini kepada keturunanmu.” Apa yang diucapkan oleh Yakub kepada orang-orang, anak-anaknya di saat-saat terakhir, sebelum dia meninggalkan dunia ini, dia memberikan kalimat-kalimat kepada bumi ini. Apa yang diucapkannya yaitu Allah dan jalan-jalan-Nya, providensia Allah. Di dalam Yosua 23, apa yang dikatakan oleh Yosua? “Sebentar lagi aku akan menempuh jalan segala yang fana, maka engkau harus sadar bahwa tidak ada satupun yang dijanjikan Allah tidak digenapi dalam hidup kita.” Yosua sedang mengungkapkan mengenai kasih setia Allah, karakter Allah kepada bumi ini. Dan kemudian dia mengatakan “Dia akan mendatangkan atas kamu segala yang tidak baik apabila kamu melangkahi perjanjian-Nya.” Apa yang diucapkan oleh Yosua? Sifat Allah, berkenaan dengan keadilan, penghakiman, dan kesucian Allah kepada bumi ini. Adalah suatu kehormatan kalau kita dapat mengakhiri hidup ini dengan kesaksian akan jalan-jalan Tuhan yang telah terjadi dalam hidup kita. Dan lihatlah orang-orang yang di Alkitab itu, bagaimana mereka menggunakan waktu-waktu mereka dengan sebijak mungkin dan seserius mungkin untuk menyatakan jalan providence Allah. Di saat kesempatan terakhir, mereka berbicara di bumi ini.

5. Terakhir, detik-detik menjelang kematian adalah detik-detik transisi mulainya kehidupan surgawi yang penuh syukur dan puji-pujian sampai selama-lamanya bagi Allah. Perhatikan apa yang dikatakan di sini. Detik-detik dari sekarat atau waktu sekarat kita adalah memang betul adalah detik-detik akhir hidup kita, tetapi bukan saja detik-detik akhir hidup kita, tetapi itu adalah detik-detik transisi untuk memasuki kehidupan surgawi. Dan kehidupan surgawi adalah kehidupan yang dipenuhi dengan ucapan syukur dan puji-pujian kepada Allah Tritunggal. Alkitab dengan jelas membukakan kepada kita, di Surga maka umat pilihan Allah berkumpul memuji Allah bersama dengan malaikat beserta seluruh pasukan surgawi. Mereka akan memuji siang dan malam di Surga dan salah satu hal mengapa mereka memuji Allah di Surga adalah mereka memuji karena jalan pemeliharaan Allah kepada umat-Nya di bumi ini. Itu adalah satu tema puji-pujian di Surga. Kita memuji Allah Tritunggal karena keindahan-Nya, karena sifat-sifat-Nya, karena Pribadi-Nya, tetapi juga karena jalan-jalan-Nya. Karena kita akan memuji di Surga seperti itu, maka John Flavel mengatakan “Karena itu biarlah anak-anak Tuhan di ranjang menjelang kematiannya menyamakan frekuensi hati dan lidahnya di bumi ini dengan apa yang kita akan masuki nanti.” Menyamakan frekuensi, Saudara-saudara tune-in mencari frekuensi yang tepat di dalam radio itu. Kita di sana akan memuji, bersyukur siang dan malam dan salah satu temanya adalah providence of God. Saat-saat di mana detik kematian itu, biarlah kita menyamakan hati dan mulut kita. Hati dan mulut kita memuji dan mengingat pemeliharaan Allah bagi umat-Nya. Ingatlah providence sebelum mati dan itu akan membangkitkan api ucapan syukur yang keluar dari hati dan bibir kita. Dan ketika kita mati, dan begitu kita bangkit lagi dalam kekekalan, kalimat yang sama, syukur dan pujian yang sama sekarang muncul di Surga. Luar biasa. Lihat bagaimana orang Puritan melihat secara detail apa yang sebenarnya terjadi dalam hidup kita dan disesuaikan dengan Firman. Anak-anak Tuhan akan meneruskan nyanyian itu, nyanyian yang diucapkan di ranjang kematiannya dan begitu dia terbuka matanya dia meneruskan nyanyian yang sama. Mengapa kita perlu merenungkan providence sekarang? Itu adalah salah satu kegunaan yang paling berguna yang dapat kita lakukan untuk menguatkan iman dan membuat kematian kita manis adanya, the art of dying well. Saya percaya khotbah pada pagi hari ini kita dengar dari hambanya John Flavel, mungkin sebentar lagi Saudara lupakan tetapi ketika hari sekarat itu muncul, Tuhan akan ingatkan Saudara dan saya. Dan itu akan menguatkan iman kita pada waktunya. Tuhan sudah memberikan jalan yang indah di depan apapun saja yang terjadi di dalam hidup kita.

Alamat

556 - 558 Botany Road, Alexandria, NSW, 2015
sekretariat@griisydney.org
0422690913
0430930175

Social Media

Facebook GRII Sydney Instagram GRII Sydney Twitter GRII Sydney


Google Play Store
App Store

^