[simple_crumbs root="Home" /]
kembali

9 August 2020

Pdt. Agus Marjanto, M.Th

Rahasia Cara Kerja Pemeliharaan Allah (3)

2 Sam 12:7-9; Mzm 18:1-2

Kita terus-menerus merenungkan mengenai providensia Allah, di dalam Alkitab ini adalah tugas orang Kristen. Apa itu tugas orang Kristen? Biarlah kita semua memperhatikannya! Kita sering menjadi orang yang liar, kita sering menjadi orang yang tidak bertanggung jawab. Kalau kita menjadi mahasiswa, bukankah ada tugas menjadi seorang mahasiswa? Kalau kita menjadi manager, bukankah ada tugas menjadi seorang manager? Kalau kita seorang ayah atau ibu, bukankah ada tugas menjadi ayah atau ibu? Banyak orang yang tidak melakukan tugas sebagai ayah, banyak orang itu neglect anak-anaknya, tidak melakukan tugas sebagai ibu. Kemarin ada satu orang telepon lama sekali dengan saya dari kota yang lain, intinya mau membuat child-care. Kemudian saya bertanya kenapa mau membuat child-care? Lalu kemudian dia mengatakan “Oh, ini adalah child-care Kristen.” Saya mengatakan, “Saya muak dengan kalimat seperti itu!” Ini sesuatu pembohongan, child-care sendiri pasti bukan Kristen. Apa gunanya child-care adalah untuk membuat orangtua bisa pergi kerja dua-duanya, terus menitipkan anaknya berjam-jam kepada orang lain yang bukan menjadi tugasnya. Anak itu tugas tanggung jawab orang tua, khususnya lima tahun pertama.

Ada seorang hamba Tuhan, hamba Tuhan ini adalah seorang pastor, kalau saya tidak salah dari Jesuityang saya setuju sekali. Suatu hari diwawancarai oleh satu televisi. Ditanya bagaimana pendapat pastor dengan orang-orang yang mengirimkan anaknya sekolah, bahkan pada waktu dia kecil; kadang enam bulan, kadang satu tahun, kadang satu setengah tahun. Saudara tahu apa jawabannya? “It is a crime!” Ini suatu kriminal, suatu kejahatan. Bukan saya yang bicara, ini orang ahli dalam pendidikan. Itu betul. Saudara mau melahirkan anak, tetapi tidak mau bertanggung jawab, kasih orang lain. Apa pun saja alasannya, kemudian kumpulkan uang, seperti itukah? Ada saatnya anak harus sekolah, saudara akan lepas. Kembali lagi ke sini, inti perkataan saya adalah: banyak orang bertindak liar dalam hidupnya. Dia tidak melakukan apa yang menjadi tugasnya. Saudara menjadi manager, ada tugas yang menjadi tanggung jawab. Kalau saudara adalah kepala sekolah, ada tugasnya. Kalau dia tidak melakukan tugasnya akan dipecat. Apakah kita menjadi orang Kristen berpikir tidak ada tugas? Oh, saya cuma pergi ke gereja kemudian pulang, oh, itu orang Kristen? Saudara tidak melihat pada Alkitab. Saya meragukan orang seperti ini orang yang lahir baru. Tidak peduli apapun saja dengan apa yang Alkitab katakan. Ada tugas-tugas yang diberikan Allah kepada kita sebagai umat pilihan-Nya. Apa itu? Salah satunya yaitu merenungkan Firman Tuhan siang dan malam. Salah satunya yaitu kita diminta untuk merenungkan providensiasi Allah, merenungkan apa yang Dia sudah kerjakan dalam hidupku dan di tengah-tengah dunia dan dalam Nabi, Rasul dan seluruh gereja.

(7) Dengan merenungkan providensia Allah, maka kita akan makin menikmati persekutuan dengan Allah hari demi hari.

Perhatikan communion with God, persekutuan dengan Allah hari demi hari. Ini adalah kata yang penting karena Kristus menebus kita menjadikan kita satu dengan Dia dalam union-Nya supaya ada communion. Ingat bahwa Kristus menebus kita untuk hal ini. Kita yang tadinya bukan anak, diangkat menjadi anak. Ingat bahwa kita tadinya mati sekarang kita beroleh hidup untuk bisa bersekutu dan berjalan bersama dengan Allah. Dalam poin yang ketujuh, merenungkan providence of God yang dikerjakan Allah dalam hidup kita akan memperdalam persekutuan kita dengan Allah, makin membuat persekutuan dengan Allah makin intim dan makin manis. Ini tidak saja ketika kita menginginkan Allah melakukan sesuatu yang kita anggap baik. Bahkan bagi umat Allah ketika kita merenungkan Allah marah kepada dia, tetap akan membawa umat Allah mendekat kepada Dia. Kadang Tuhan mengajarkan kepada kita di dalam providensia-Nya, Dia dealing dalam kemarahan. Tuhan menyatakan ketidaksukaan-Nya terhadap dosa umat-Nya. Dia menegur umat-Nya dan marah kepada umat-Nya. Uniknya dalam hal seperti itu, umat Allah yang sejati seperti Daud akan remuk hatinya dan lembut hatinya, kembali kepada Dia dan dia akan berhati-hati terhadap dosa yang mungkin terjadi di masa depan. Maka di dalam poin ini, John Flavel menekankan empat hal tanda persekutuan dengan Allah itu makin dalam dengan mengingat providence.

Hal yang pertama, makin merenungkan providence, kita akan makin menyadari ketidaklayakan kita mendapatkan berkat anugerah dan belas kasihan Tuhan. Ada sesuatu yang unik yang membedakan kita dengan orang-orang di luar sana. Membedakan antara anak-anak Tuhan dengan anak-anak kegelapan, meskipun sama-sama di dalam gereja mungkin ada anak-anak kegelapan. Perhatikan baik-baik dan ujilah diri kita apakah kita anak-anak Tuhan atau anak-anak kegelapan. Dengan merenungkan providensi masa lampau tentang kebaikan Allah bagi anak-anak Tuhan, makin diberkati makin hancur hati karena menyadari kenapa aku dikasihi? Tetapi bagi anak-anak kegelapan, makin diberkati maka dia akan makin sombong, karena merasa dia adalah orang yang berhasil. Yakub mengingat providence of God di masa lampau. Di Kejadian 32:10 dia mengatakan, “Ya Allah nenekku Abraham dan Allah ayahku Ishak, ya Tuhan sekali-kali aku tidak layak untuk menerima segala kasih dan kesetiaan yang Engkau tunjukkan kepada hamba-Mu ini, sebab aku membawa hanya tongkatku ini waktu aku menyeberangi sungai Yordan; tetapi sekarang telah menjadi dua pasukan.” Ini adalah suatu ungkapan ketidaklayakan Yakub, dia kembali ke titik di mana dia dulu pernah menyeberangi. Ketika dia sampai di situ dia teringat akan apa yang ada beberapa tahun sebelumnya. Tadinya hanya dengan satu tongkat, sekarang dengan dua pasukan. Allah sudah memberkati dia dan Allah sudah menjadikannya berhasil. Allah sudah memberikan lebih kaya daripada sebelumnya. Apa yang ada dalam isi hati Yakub? Dia merasa sungguh rendah, dia merasa sungguh tidak layak. Di dalam bahasa aslinya dia mengatakan aku tidak layak menerima hal terkecil pun dari semua belas kasihan ini. Dan aku sama sekali tidak layak untuk menerima hal terkecil dari semua kebenaran ini. Bahasa aslinya bukan saja faithfulness, tetapi juga berbicara mengenai truth. Yesus mengatakan kepada Petrus, “Berbahagialah engkau Petrus karena engkau bisa mengucapkan karena berkat dari Bapa di sorga.” Apa yang menjadi dampak ketika kita merenungkan providensia Allah? Itu akan merendahkan hati kita. Itu akan membuat hati kita cair. Kita akan menyadari bahwa kita tidak layak sama sekali. Sama seperti Abraham mengatakan kepada Tuhan ketika dia berdoa untuk Sodom dan Gomora: Janganlah kiranya Tuhan murka kalau aku berkata lagi sekali ini saja. Dia adalah sahabat Allah, dia adalah bapa orang beriman terhadap seluruh anugerah. Dia makin berhati-hati terhadap Tuhan, terhadap seluruh berkat. Dia menyadari bahwa dirinya sungguh-sungguh rendah. Perhatikan baik-baik, ketika saudara dan saya bersekutu dengan Allah. Apakah kita menyadari Allah mau berbicara adalah sesuatu anugerah yang luar biasa besar. Tetapi ini yang kita lakukan, kita hanya mengambil waktu secukupnya, seperlunya, sebisanya. Tepatnya dengan buru-buru kita membaca Alkitab, kemudian kita melakukan sesuatu yang kita anggap lebih penting daripada membacanya. Padahal ketika Dia, Allah mau mengunjungi kita, mau berbicara kepada kita, itu sesuatu ketidaklayakkan kita untuk Dia berbicara kepada kita. Suatu hari saya berkata kepada Tuhan, perkatakan yang biasa saya perkatakan, kita memang sering sekali berkata tanpa pengertian kita sungguh-sungguh berdosa kepada Tuhan. Saya membuka Firman Tuhan, membuka buku renungan harian dan saya berdoa, “Tuhan berbicaralah kepadaku, dan kemudian mulai sesuatu ada dalam pikiran saya, atas hak apa saya menerima pembicaraan Tuhan? Apa kewajiban Tuhan berbicara kepada saya?” Saudara tahu kalau Dia tidak berbicara, kita binasa. Maka satu-satunya yang membuat ada adalah kalau Dia beranugerah besar kepada kita di dalam Yesus Kristus. Makin kita menyadari hal-hal ini, makin kita menyadari bahwa memiliki fellowship communion with God, itu sendiri sebenarnya adalah sesuatu priviledge, yaitu kita tidak layak.

Hal yang kedua, apa tanda seseorang makin bertumbuh dalam keintiman dengan Tuhan? makin bertumbuh mencintai Tuhan. Saya sangat gentar ketika bicara seperti ini, saya sangat tidak terlalu ingin mengutarakan hal ini. Jangan cepat-cepat mengatakan kita mencintai Tuhan. Siapa yang bisa mencintai Tuhan? Bukankah hati kita licik? Biarlah Tuhan sendiri yang tahu hati kita. Dalam anugerahnya kiranya Dia menumbuhkan benar-benar cinta yang sejati dan bulat hati kepada Dia. Tetapi ini sesuatu prinsip Alkitab, memang dengan merenungkan providen, maka kita akan bertumbuh makin mencintai Tuhan, makin mengingat berkat dan belas kasihan Allah di masa lampau, makin menghormati dan mengasihi Allah. Mazmur 18, Daud setelah dilepaskan dari seluruh musuhnya dan dari tangan Saul. Daud berteriak kepada Tuhan, “Aku mengasihi Engkau ya Tuhan kekuatanku.” Perhatikan ini, yang membedakan antara anak-anak Tuhan dan anak-anak kegelapan. Setiap manusia termasuk anak-anak kegelapan mencintai berkat Allah, tetapi orang-orang kudus-Nya Allah akan mencintai Allah yang memberikan berkat. Saya perjelas dan saya pertajam dengan perkataan ini. Semua manusia mengejar dan mencari berkat Allah. Tetapi orang-orang kudus-Nya Allah akan mengejar Allah yang memberikan berkat. Bagi orang-orang kudus-Nya Allah, belas kasihan Allah di masa lampau adalah bahan bakar untuk hatinya mencintai Allah. Tetapi bagi orang-orang kegelapan, belas kasihan Allah di masa lampau adalah bahan bakar nafsu dan dosa yang dia kerjakan di masa depan. Daud mengatakan, “Aku mengasihi Engkau ya Tuhan kekuatanku.”

Tanda yang ketiga, ketika kita mengingat providence akan membuat kepekaan kita akan dosa dan makin membenci dan menjauhi dosa, ini terjadi lagi pada Daud. 2 Samuel 12, Natan diminta oleh Tuhan untuk berbicara kepada Daud dan dia memberikan contoh berkenaan dengan satu orang anak yang kemudian memiliki domba dan kemudian dimasak dombanya. Kotbah Natan diakhiri, dikonklusikan dengan perkataannya di dalam ayat 7-9, perkataan terakhir dari Natan seperti pedang bermata dua yang menembus hati Daud. Bukan saja menunjukkan dosanya, tetapi juga membuat hati Daud hancur berkeping-keping. Perhatikan baik-baik apa yang Allah firmankan kepada Daud. Beginilah Firman Tuhan Allah Israel, Aku yang mengurapi engkau menjadi raja atas Israel, Aku yang melepaskan engkau dari tangan Saul. Aku yang memberikan isi rumah tuanmu kepadamu dan istri-istri tuanmu ke dalam pangkuanmu. Aku yang telah memberikan kepadamu kaum Israel dan Yehuda. Dan seandainya itu belum cukup, tentu Ku-tambah lagi ini dan itu, mengapa engkau menghina Tuhan dengan melakukan yang jahat di mata-Nya. Saudara, lihat strukturnya! Apa yang dikerjakan oleh Natan ketika ia berkotbah dan menjadi satu pedang yang memasuki hati Daud? Dia membuka, mengingatkan Daud akan seluruh kebaikan Allah di masa lampau, providensiasi Allah. Kemudian disejajarkan dengan tindakan Daud kepada Allah. Itu membuat hati Daud hancur berkeping-keping, menyadari akan dosanya. Menyadari bahwa dirinya begitu luar biasa jahat kepada Allah yang baik. Kebaikan Allah yang dilakukan kepada umat-Nya, dan dosa umat-Nya yang disejajarkan dengan kebaikan-Nya akan membuat umat Allah hatinya hancur berkeping-keping. Ada satu nyanyian yang orang-orang reformed sering nyanyikan ‘Jangan lupa Getsemani’, dan saya suka sekali; Jangan lupa Getsemani, jangan lupa sengsaranya, jangan lupa cinta Tuhan pimpin ke Kalvari. Orang bisa datang ke Kristus adalah jangan lupa, saya percaya sekali perkataan Yesus Kristus ketika Dia memecahkan roti dan kemudian Dia membagi anggur, inilah tubuh-Ku dan inilah darah-Ku, lakukanlah ini setiap engkau mengingat akan Aku. Mengingat, berarti memasukkan pikiran, memfokuskan pikiran kepada sesuatu yang Dia sudah perbuat di masa lampau kepada kita. Ini adalah cara kerja the providence of God, akan membuat kita makin membenci dosa dan menjauhinya.

Hal yang keempat, dengan merenungkan providensia akan membuat kita makin mudah taat, rela taat melayani Tuhan. Hal ini ada dalam Alkitab, kasusnya Yesaya. Ketika Yesaya masuk ke dalam Bait Suci, dia melihat Allah dengan seluruh kemuliaan dan kekudusan-Nya. Yesaya kemudian berkata celaka aku, aku ini binasa karena aku sudah melihat Allah pencipta langit dan Allah Tuhan semesta alam, dalam bahasa aslinya adalah Yahweh Sabaoth, Allah panglima bala tentara perang. Yang dilihat oleh Yesaya bukan saja berkenaan dengan Allah yang mulia. Tetapi yang dilihat oleh Yesaya, Allah dengan pedang yang berputar. Dia menyadari sekali sebentar lagi dirinya akan habis mati, dia akan terbantai. Kita kadang tidak mengerti kalimat-kalimat ini. Saya sulit sekali, saya ingin menampilkan gambaran sebenarnya, tetapi itu sesuatu yang tidak terlalu pantas ditampilkan di gereja. Beberapa waktu yang lalu saya mendapatkan di whatsapp, gambaran satu ekor seperti unta atau seperti apa yang disembelih, diiris leher binatang itu kemudian darah mengalir seperti pipa air bocor, keluar merah semuanya. Binatang itu marah, mau menggigit orang yang menyembelihnya, dan kena sedikit. Tapi binatang itu tidak bisa berdiri, lalu tergeletak. Muncul dalam hati saya, seperti itulah semua orang yang berdosa di hadapan Tuhan. Dibantai! Sesekali, lihat orang Islam ketika membantai sapi atau domba atau apa saja, betapa mengerikan. Tanpa Kristus maka kitalah yang dibantai, tetapi di dalam Kristus, Dialah yang dibantai. Maka Yesaya melihat Allah yang sebentar lagi membantai dia. Dia takut luar biasa, celaka aku! Tetapi tiba-tiba malaikat mengambil sepit dan mengambil bara, meletakkan di mulutnya dan dikatakan bahwa dia ditahirkan. Itu bicara dengan pengudusan di dalam penebusan Yesus Kristus. Dia dibebaskan dari kematian, dari murka Allah. Setelah itu Tuhan bertanya, “Siapakah yang mau pergi untuk Aku? Siapakah yang mau Aku utus? Yesaya dengan serta merta mengatakan, “Ini aku, utuslah aku.”

Providensiasi Allah di masa lampau akan mendorong kita untuk rela taat. Makin kita rela untuk melayani Tuhan. Kenapa kita taat? Ada orang yang taat karena terpaksa. Tuhan tidak mau, karena setan melakukan hal yang sama, taat karena terpaksa. Musuh yang ditaklukkan oleh satu jendral akan melakukan dengan terpaksa. Kenapa kita melayani Tuhan? Kenapa kita giat? Tugas kita saja? Karena untuk nama besar? Karena disuruh? Atau karena sadar bahwa Tuhan begitu baik kepada kita? Prinsipnya, makin menyadari kebaikan Tuhan, makin kita memiliki hati yang giat bagi Tuhan. Makin kita tidak rela maka karena kita lupa siapa kita sebelumnya. Kita tidak dapat lagi melihat kebaikan-Nya yang lebih besar daripada kejahatan kita. Mazmur 116:12-14 'Bagaimana akan kubalas kepada TUHAN segala kebajikan-Nya kepadaku? Aku akan mengangkat piala keselamatan, dan akan menyerukan nama TUHAN. Akan membayar nazarku kepada TUHAN di depan seluruh umat-Nya.’ Orang yang mendapat kebaikan Tuhan, ia akan memiliki satu dorongan untuk membalasnya. Ini persis seperti Mazmur 145:8-12, dia menyatakan orang-orang yang dikasihi Tuhan akan memuji Tuhan. Orang-orang yang dikasihi Tuhan akan mengumumkan kemuliaan kerajaan-Nya dan akan membicarakan akan keperkasaan-Nya. Ini berbicara berkenaan dengan mengabarkan Injil dan menyatakan kemuliaan Tuhan yang sudah berlaku baik kepadaku, kepada semua manusia yang hidup. Semakin seseorang menyadari kebaikan Tuhan, semakin dia giat bagi Tuhan. Biarlah itu menjadi bagian hidup kita, menyadari bahwa kita kurang giat bagi Tuhan. Kenapa kita kurang giat bagi Tuhan? Karena kita kurang merasakan kebaikan Tuhan kepada kita. Tetapi saya berani jamin, kalau saya tanya kepada saudara satu persatu apakah Tuhan baik? Maka saudara akan mengatakan, oh Tuhan baik! Pasti Tuhan baik! Mungkin akan mengatakan satu dua kesaksian, tetapi itu tidak cukup. Saudara dan saya harus men-digest, masuk lebih dalam lagi. Menilai dan kemudian mengamati lebih tajam karena dengan seperti itu kita baru menemukan bahwa Dia lebih baik daripada apa yang kita pikir baik! Kenapa kalau saudara berpikir bahwa Allah baik, kenapa saudara tidak giat? Kalau saudara pikir Allah baik, kenapa tidak ada rasa terima kasih? Kenapa kalau Allah baik tidak memberikan prime time dan segala yang terbaik dari hidup kita? Karena saudara hanya memikirkan bahwa Dia baik secara umum. Kebaikan-Nya tidak kita kenal dan tidak meremukkan hati kita. Menjadikan kita menjadi orang yang tidak mengerti hidup ini apa. Orang yang hitung-hitungan sama Tuhan, ia berpikir bahwa Tuhan hitung-hitungan sama dia. Itu adalah dosa kita.

Allah itu baik. Allah itu hadir; semua juga tahu, tetapi siapa yang menyadari kehadiran-Nya, yang sungguh-sungguh menyadari kebaikkan-Nya, dan yang mengubah hidupnya? Beberapa waktu yang lalu saya sudah pernah mengatakan, kita sebagai manusia kalau tidak ada anugerah Tuhan, kita mati rohani. Virus ada, tetapi dia tidak maha hadir. Tetapi saudara dan saya peka dan berhati-hati, berespon pada virus itu. Ayah kerja di rumah, anak-anak di rumah. Jangan sering-sering pergi ke mall, kalau bisa tidak usah. Kalau perlu tidak usah pergi ke gereja. Nanti bahaya sekali. Kemudian langsung argue dengan orang-orang yang mengatakan: Harus pergi ke gereja. Oh, enggaklah; ini kita musti. Saudara sadar bahwa virus ada, padahal tidak maha hadir. Tetapi Allah Maha Hadir. Kenapa kita tidak punya satu sikap yang sama dengan virus? Dia hadir ketika engkau bertransaksi bisnis, Dia hadir ketika kita ada di kamar kita. Dia hadir ketika kita ada di sekolah, di gereja atau di mana pun saja dan Dia juga Maha Tahu. Mengapa tidak ada takut akan Dia di dalam hidup kita? Kita hanya tahu bahwa Dia Maha Tahu, tetapi kita tidak mengalami pengalaman itu. Maka orang-orang Puritans menyatakan untuk kita memperdalam, sungguh-sungguh memikirkan mengenai providensia Allah. Sampai menyentuh hati kita, sampai hati kita menyadari Dia itu hadir. Saya sudah menyelesaikan poin yang ketujuh.

(8) Karena sebagian besar dari kesukaan dan kesenangan hidup Kristiani lahir dari hal ini, umat Tuhan yang sejati akan menyukai pekerjaan-pekerjaan Tuhan.

Sekarang saya akan masuk kedalam poin yang kedelapan. Mengapa kita memeditasikan providensia Allah? Karena sebagian besar dari kesukaan dan kesenangan hidup Kristiani lahir dari hal ini. Umat Tuhan yang sejati akan menyukai pekerjaan-pekerjaan Tuhan. Perhatikan delight (sungguh-sungguh menyukai). Pekerjaan providensia-Nya akan menyukakan hati umat Allah. Alkitab dengan jelas menyatakan Kristus adalah Raja Gereja. Tetapi Dia juga Raja alam semesta. Dia mengatur segala sesuatunya sampai hal yang terkecil di dalam seluruh sejarah untuk kebaikkan umat-Nya dan agar umat-Nya pada akhirnya bersuka dalam nama-Nya dan mempermuliakan Dia. Mazmur 111 menyatakan: Perbuatan Tuhan layak diselidiki oleh semua orang yang menyukainya. Ketika saya merenungkannya, ada satu pengertian berkenaan dengan anugerah: Takut akan Tuhan, Allah yang bercanda. Dalam Alkitab, tidak akan menemukan Yesus tertawa, Allah bercanda. Saudara akan menemukan Allah yang suci, Allah yang adil, Allah yang benar, Allah yang kasih. Kita berpikir bahwa Dia pribadi yang semuanya pokoknya serius. Tetapi, Dia adalah manusia sejati, pasti part bercanda ada dalam hidup-Nya. Tentu tidak bercanda hal yang remeh, bercanda dengan bully, dengan menyiksa orang, atau yang kotor. Tidak seperti itu. Tetapi bercanda dengan Dia, membuat pekerjaan-pekerjaan yang tidak pernah dipikirkan oleh umat manusia. Ketika umat-Nya memikirkannya, akan terkagum-kagum, terpesona dan tersenyum dengan hati yang hancur. Terutama seperti Mazmur, dikatakan bahwa Allah tertawa melihat musuh-musuh-Nya. Allah itu sering sekali akan menggunakan kehebatan musuh-musuh-Nya untuk menggenapi rencana Allah sendiri. Allah sering sekali menumbuhkan gereja-Nya dengan cara musuh-Nya memenangkan pertarungan dengan gereja-Nya. Saudara akan menemukan kesukaan kita, gereja di dalam pekerjaan-pekerjaan Allah. Siapa yang bisa memikirkan bahwa Cina, negara komunis itu satu negara yang paling bertumbuh tingkat kekristenannya karena pekerjaan komunis. Billy Graham adalah seorang pengkotbah dengan urapan Tuhan luar biasa. Satu juta orang pernah mendengarkan kotbahnya di dalam satu waktu. Satu juta! Saudara kumpulkan 500 orang saja sulit sekali untuk mendengarkan khotbah Tetapi bukan Billy Graham yang dipakai Tuhan pergi ke Cina. Dia tidak pernah ada KKR di sana. Bukan John Wesley yang ada di sana. Bukan orang-orang yang diurapi Tuhan ada di sana. Tetapi orang-orang yang diurapi Tuhan berkotbah di mana-mana, tetapi tingkat pertumbuhan Kekristenan tidak pernah sehebat daripada Cina. Musuh gereja mau membasmi gereja, Tuhan membiarkan. Tuhan menyerahkan gereja-Nya. Tetapi pada saat yang sama, musuh gereja menggenapi rencana Allah. Musuh gereja mematikan Jim Elliot dan empat temannya oleh suku Auca. Pada saat kabar kematiannya mencapai ke seluruh dunia, 2000 orang pemuda-pemudi bangkit dari seluruh dunia menjadi misionaris. Aneh sekali. Saudara berkhotbah untuk membangkitkan satu orang misionaris, belum tentu sepuluh tahun dapat satu. Allah membiarkan musuh-Nya menang. Pada waktu musuh-Nya menang, pada saat itu kehendak Allah tergenapi. Itulah salib. Pada waktu salib maka seluruh musuh Allah berkumpul. Semua bagian dari politik, ekonomi, sosial, agama apa pun saja berkumpul. Allah gagal bukan? Bukankah Allah kalah? Tetapi Dia adalah grand dari Grand Master. Saat musuh-Nya paling puncak memenangkan, pada saat itu musuh-Nya mati. Oh Tuhan, jalan-Mu bukan jalanku. Tuhan sendiri mengatakan: Pikiranmu, hai umat-Ku, bukan pikiran-Ku. Kadang Allah menggenapi rencana-Nya dengan membiarkan dunia bertindak seenak-enaknya.

Suatu hari Kaisar Agustus dalam kekuasaannya mengadakan sensus pertama di seluruh pemerintahannya, Roma di seluruh dunia. Pada waktu itu Maria sedang hamil tua. Bayangkan apa yang terjadi pada Yusuf dan Maria. Anak Tuhan yang sejati, dia akan merasa aku orang yang sial, kembali ke Betlehem. Perjalanan puluhan kilometer atau ratusan kilometer berjalan kaki. Maria akan berpikir seandainya peraturan ini ada sebelum dia hamil, saya bisa kembali, atau, setelah saya melahirkan. Tetapi ini pada waktu hamil tua. Umat Allah sering tersiksa dalam keadaan-keadaan seperti ini. Seakan menjadi permainan dari orang-orang petinggi dunia ini. Uniknya, tidak ada perkataan malaikat apapun saja kepada Yusuf dan Maria. Mereka tidak tahu nasib yang menanti mereka di depan. Ini adalah kesulitan yang luar biasa. Hamil tua, tidak boleh naik pesawat. Berhari-hari mereka berjalan kaki. Tidak ada lampu. Tidak ada jalan yang lurus yang baik. Mereka berjalan, mungkin kadang menumpang kereta orang. Sampai di Betlehem, mereka mengetuk satu per satu pintu untuk isterinya melahirkan. “Pak, ada tempat penginapan buat kami?” “Oh, tidak ada. Ini adalah high season holiday. Semua orang kembali ke sini.” “Tidak ada satu saja? ”Tidak ada!” “Isteriku mau melahirkan.” Tidak ada! Terus kemudian dia pindah lagi cari tempat penginapan. Mungkin pada waktu itu sudah malam. “Pak, ada tempat di sini?” “Tidak ada.” “Satu saja.” Tidak ada. Ketuk lagi. Ketuk lagi. Dan dia melihat isterinya mulai pecah air ketubannya. Lebih cepat lagi. “Ada tempat tidak? Isteri saya mau melahirkan.” “Tidak ada!” “Pak, tolong Pak, isteri saya mau melahirkan.” “Tidak ada! Ada juga kandang binatang.” Yusuf langsung mengatakan, “Oh oke. Saya ambil.” Mungkin orang di situ bingung, “Hah, kandang binatang?” “Saya ambil! Pokoknya isteri saya bisa ada tempat di sini. Ini sudah malam.” Saudara, dia dipaksa oleh seorang Kaisar dengan tandatangannya. Dia harus hidup dengan hari yang sial seperti ini. Cepat-cepat dia masuk bersama dengan isterinya, dibersihkan sebisanya. Kemudian Maria melahirkan di sana. Oh, sial bukan umat Allah? Sial bukan orang yang melakukan kehendak Allah? Sial bukan orang yang hidupnya berintegritas untuk Tuhan? Lihat, dunia menang bukan? Bukankah Kaisar Agustus bisa berlaku seenak-enaknya? Penulis Injil mengatakan ketika Maria melahirkan di kandang binatang Betlehem, maka genaplah apa yang ditulis oleh Nabi Mikha: ‘Betlehem, engkau tidak lagi menjadi kota yang paling kecil.’ Seluruh kemenangan dari Kaisar Agustus, dan kesialan dari umat Allah sesungguhnya dipakai untuk menggenapi isi hati-Nya. Siapa yang menang sekarang? Lihat berkali-kali dalam Alkitab seperti itu. Lihat, itu terjadi pada Abraham, Ishak, Yakub, Musa, siapapun saja. Setiap kali engkau merenungkan hal ini, maka engkau dan saya hatinya akan diremukkan. Engkau akan melihat keindahan jalan Tuhan yang tidak terpikirkan. Allah sering sekali bercanda dengan cara seperti ini. Membuat dunia kalah. Membuat atheis itu tercengang-cengang. Apa yang mereka bilang adalah coincidence, kebetulan, tidak mungkin akan seperti ini. Bahkan sampai hal yang terkecil.

Saya akhiri dengan satu kisah nyata ini. Dituliskan tentang seorang pria bernama Marcel Sternberger. Dia adalah seorang pria berumur 50 tahun, berambut putih tebal dan bermata coklat. Seorang yang bersemangat, seperti penari Czardas dari negara asalnya, Hungaria. Setiap hari dia menaiki kereta bawah tanah yang sama, di jalur yang sama, kereta Long Island, New York, Amerika jam 9:09 pagi. Pada pagi hari tanggal 10 Januari 1948, Sternberger sekali lagi menaiki kereta 9:09 seperti biasa. Dalam perjalanannya, dia tiba-tiba memutuskan mengunjungi temannya, Laszlo Victor yang sedang sakit yang tinggal di Brooklyn. Karena itu, di Ozone Park, Sternberger pindah ke kereta bawah tanah dan menuju Brooklyn. Pergi ke rumah temannya, membesuk di sana sampai setengah hari, kemudian baru pergi kerja. Dari Brooklyn dia menuju ke Manhattan untuk menuju ke kantornya. Dan hari itu dia menaiki kereta yang lain di waktu yang lain dari biasanya, di jalur yang lain, kereta yang belum pernah dia naiki sebelumnya, memasuki kereta asing, Sternberger dikacaukan oleh kerumunan orang di kereta siang hari. Dengan kepayahan, dia berjalan masuk, berdesak-desak menuju ke salah satu gerbong kereta yang sangat padat. Dia tahu dia tidak akan mendapatkan tempat duduk. Tetapi pada saat yang sama dia masuk, tiba-tiba salah seorang penumpang yang duduk dekatnya, melompat dan buru-buru berlari keluar pintu. Penumpang itu menyadari bahwa seharusnya dia turun satu station sebelumnya. Sekarang Sternberg bisa duduk di kursi yang kosong dekat dia. Di tengah-tengah seluruh penumpang yang bersesakan, dia bersebelahan dengan satu orang yang kemudian membuka satu surat kabar dan mulai membacanya. Sternberger melirik surat kabar Hungaria, negara kelahirannya. Sternberger berbicara kepada orang di sebelahnya, “Pak, saya melihat engkau membaca iklan. Apakah engkau sedang mencari pekerjaan dari koran ini?” Orang asing itu menjawab, “Saya sedang mencari isteri saya.” Kemudian Sternberger terkejut dan mengatakan, “Saya tidak mengerti.” Mulailah orang ini cerita, dia mengatakan, “Tuan, saya dulu tinggal di Debrecen, Hungaria. Saya menikah dengan bahagia, tetapi karena perang saya dibawa oleh pemerintah Rusia, tentara Rusia ke Ukrainia untuk menguburkan orang Jerman yang mati. Kemudian setelah berbulan-bulan, saya kembali ke apartemen saya, tetapi saya tidak mendapati ayah dan ibu saya di apartemennya. Saya juga tidak mendapati isteri saya di tempat di mana kami tinggal. Itu sudah ditempati oleh orang lain yang tidak mengenal mereka sama sekali. Tidak ada satu pun dari mereka yang pernah mendengar tentang keluarganya sampai saya tahu bahwa Nazi telah datang ke apartemen dan membawa seluruh keluarga saya termasuk isteri saya, sangat mungkin dibawa ke Auschwitz. Saudara-saudara tahu bahwa Auschwitz adalah satu camp konsentrasi yang sangat-sangat jahat. Ada 2,5 juta orang yang mati di camp konsentrasi tersebut. Orang asing ini meneruskan ceritanya. Satu-satunya harapan saya adalah tidak lama setelah itu, sekutu datang dan membebaskan orang-orang. Saya harap isteri saya adalah salah satu orang yang diselamatkan. Dan saya berasumsi jikalau dia selamat, mungkin dia dibawa oleh tentara sekutu ke Amerika. Itulah sebabnya saya ada di sini, dari kota saya yang jauh di Debrecen, Hungaria untuk mencari isteri saya. Saya mencari koran di Amerika dengan bahasa Hungaria untuk melihat apakah ada iklan yang dipasang isteri saya.

Ketika Sternberger mendengar dia bercerita, ada sesuatu yang terasa akrab baginya. Tiba-tiba Sternberger teringat beberapa waktu sebelumnya dia pernah berada dalam sebuah pesta dan di sampingnya duduk seorang wanita Hungaria. Wanita itu bercerita bahwa dulu dia tinggal di Debrecen, telah menikah dengan pria yang dibawa ke Ukrainia. Perempuan ini telah diselamatkan oleh sekutu dari Auschwitz, lalu dibawa ke kota New York. Perempuan ini tidak tahu apakah suaminya masih hidup atau sudah mati. Wanita ini menjelaskan kepada Sternberger bahwa dia berdoa agar suatu hari nanti dia akan bertemu dengan suaminya lagi. Ketika Sternberger mengingat peristiwa ini dan mendengarkan pria asing ini, dia bertanya-tanya dengan menggabungkan keduanya apakah mungkin ada kecocokan. Kemudian dia mengeluarkan dari dompetnya satu potongan kertas kecil yang berisi nama wanita itu. Namanya adalah Maria Paskin dan nomor telponnya. Sternberger menuliskan nama dan nomor teleponnya karena memang tertarik dengan ceritanya. Kemudian dia meremas kertas kecil itu, memasukkannya ke dalam kantongnya, kemudian dia berkata kepada pria asing itu: “Tuan, siapakah nama isteri Anda?” Orang asing itu berkata,”Nama isteriku adalah Maria Paskin.” Sternberger bertanya,”Siapa namamu?” Orang itu mengatakan,”Saya, Bela Paskin.” Sternberger kemudian bertanya,”Tuan Paskin, maukah engkau turun bersamaku di stasiun sebentar? Saya ingin menelepon.” Sternberger tidak memberitahukan alasannya. Secara cepat juga Sternberger bertanya kepadanya apa nama jalan di Debrecen, di kota tempat tinggalnya. Setelah itu luar biasa, Bela Paskin turun dari kereta bawah tanah itu bersama Sternberger tanpa dia tahu kenapa. Padahal ini adalah pertemuan yang hanya beberapa menit yang lalu. Sternberger berdiri agak menjauh dari Bela Paskin dan membuat panggilan di telepon umum. Ketika seorang wanita menjawab di telepon. Sternberger bertanya: “Siapakah ini?” Karena Sternberger ingin memastikan orang ini adalah orang yang dicari. Sebenarnya Maria tidak pernah mengangkat telepon, karena dia bersama dengan beberapa orang menghuni tempat itu dan selalu tidak ada yang pernah menelepon Maria. Maka selalu orang lain yang akan mengangkat telepon itu. Tetapi pada saat itu, tidak ada satu orang pun di apartemen, maka Maria yang mengangkat telepon. Kemudian dia mengatakan: Aku Maria. Dan Sternberger bertanya: “Maria, apakah anda ingat saya? Nama saya adalah Marcel Sternberger. Saya bertemu dengan anda dalam pesta baru-baru ini.” Maria mengiyakan dan mengatakan: “Ya, saya ingat.” Kemudian Sternberger bertanya: Maria, siapa nama suamimu? Kemudian dia berkata: “Bela Paskin.”Maria, di mana nama alamat jalan tempat engkau tinggal di Debrecen?” Dia memberikan alamat jalan yang semuanya cocok. Kemudian Sternberger memanggil tuan Paskin dengan berkata: “Tuan, mendekatlah ke sini. Engkau akan menyaksikan keajaiban terbesar di dalam hidupmu.” Kemudian Sternberger menyerahkan telepon kepadanya. Bela Paskin sangat kebinggungan melihat ke telepon itu, mengambilnya, meletakkannya di telinganya. Dengan ragu-ragu dan kemudian berkata: “Halo, halo.” Saudara dapat membayangkan sisa ceritanya. Ketika Bela Paskin dengan sepenuh hati menangis, meraung-meraung dan hanya mengulang satu kata berulang kali: “Maria, Maria, Maria.” Dengarkan bagaimana Reader’s Digest mengakhiri artikel ini: Orang-orang ateis dan skeptis pasti akan menganggap sore yang berkesan seperti itu hanyalah sebuah kebetulan belaka. Tetapi apakah kebetulan yang membuat Sternberger tiba-tiba memutuskan untuk mengunjungi temannya yang sakit dan mengambil jalur kereta bawah tanah yang belum pernah dia jalani sebelumnya? Apakah kebetulan yang menyebabkan seorang pria yang duduk di dekat pintu kereta bergegas keluar tepat pada saat Sternberger masuk? Apakah kebetulan yang menyebabkan Bela Paskin duduk di samping Sternberger membaca koran Hungaria? Apakah itu semua kebetulan atau apakah Tuhan berada naik di kereta bawah Brooklyn pada sore hari itu? Itulah providensia! Orang-orang Puritan mendesak kita untuk memikirkan terus, memikirkan apa yang ada di dalam Alkitab dan sejarah dunia dan orang-orang sucinya Tuhan dan sejarah hidup kita. Apa yang sudah Dia perbuat di dalam hidup kita? Kita akan terkagum-kagum dengan karya-Nya. Kita akan dihancurkan, hati kita dengan seluruh pikiran-Nya yang tidak mungkin bisa kita telusuri. Kita akan berlutut mengakui kehebatan-Nya. Allah yang tersembunyi yang bekerja memberkati dunia ini khususnya gereja-Nya. Itu adalah kesukaan besar bagi gereja, umat Allah yang ditebus. Kiranya nama-Nya boleh dipermuliakan. Mari kita berdoa!

Alamat

556 - 558 Botany Road, Alexandria, NSW, 2015
sekretariat@griisydney.org
0422690913
0430930175

Social Media

Facebook GRII Sydney Instagram GRII Sydney Twitter GRII Sydney


Google Play Store
App Store

^