[simple_crumbs root="Home" /]
kembali

2 August 2020

Pdt. Agus Marjanto, M.Th

Rahasia Cara Kerja Pemeliharaan Allah (2)

Mazmur 119:15

Minggu yang lalu kita sudah berbicara mengenai satu kehendak Allah yaitu kita diminta untuk memeditasi providence of God sepanjang hidup kita. Sekali lagi ini adalah duty of Christians. Ini adalah tugas yang Tuhan berikan kepada kita. Sebagai orang-orang yang ditebus oleh Kristus, kita memiliki tanggung jawab di dalam proses pengudusan kita. Tanggung jawab itu dinyatakan di dalam Alkitab. Salah satu tanggung jawab yang besar adalah untuk kita merenungkan Firman Tuhan itu siang dan malam. Memeditasikan Firman Tuhan. Men-digest Firman Tuhan bukan saja untuk kita hafal, tetapi menjadi seluruh bagian dari hidup kita. Kita bukan saja tahu akan Firman Tuhan, tetapi kata yang dipakai adalah berbicara mengenai digest. Ini mengenal dalam, mengenal intim dan menjadi bagian dalam hidup kita. Kita bisa mengetahui apel. Tetapi ketika kita men-digest, kita mengunyah apel itu, apel itu menjadi satu dengan tubuh kita. Ini adalah pengenalan yang begitu intim dengan Firman. Di sini juga dikatakan: “Aku hendak merenungkan titah-titah-Mu.” Titah-titah di dalam bahasa aslinya adalah nama lain dari Firman. Juga “Aku mengamat-amati jalan-jalan-Mu.” Observe the providence of God. Sekali lagi, orang Kristen dipanggil untuk memeditasikan, merefleksikan, mengobservasi dengan serius providence of God yang terjadi di masa lampau di dalam hidup kita, baik yang baik maupun yang buruk, baik yang merupakan belas kasihan-Nya maupun hajaran-Nya di masa lampau, untuk menjalani hidup kita saat ini maupun hidup kita di depan. Minggu yang lalu kita sudah berbicara mengenai dua poin mengapa kita perlu mengingat providence of God dan apa signifikansinya. Pada siang hari ini kita akan bicara 4 poin lagi, tetapi saya akan mengulang yang pertama dan kedua secara cepat. Mengapa kita perlu mengingat providence of God di dalam hidup kita dan apa signifikansinya?

(1) Mengingat providence of God akan mengangkat kita menghormati Allah, nama-Nya dan Firman-Nya.

Saudara, dua hal ini. Di dalam diri Allah, ada sesuatu yang tidak akan Dia berikan kepada siapa pun saja. Dia tidak akan membiarkan dua hal ini dipermainkan oleh siapa pun saja yang diciptakan-Nya. Allah akan melakukan segala sesuatu untuk nama-Nya ditakuti. Di dalam Kitab Yehezkiel dikatakan: “Biarlah mereka tahu bahwa Aku-lah Allah. Biarlah mereka tahu bahwa Aku-lah Tuhan. Dan Israel, jikalau Aku melakukan hal ini, kamu harus tahu, bukan karena engkau tetapi karena Aku, Aku akan mengangkat nama-Ku.” Yang kedua yang Dia akan pertahankan adalah Firman-Nya. Bahkan Dia mengatakan: “Langit dan bumi itu bisa berlalu, tetapi Firman-Ku akan tinggal tetap.” Dengan mengingat providence of God di masa lalu yang Tuhan dealing dengan kita, kita akan menyadari bahwa Firman-Nya itu layak dipercaya dan Dia itu pribadi yang setia. Firman Tuhan itu tidak pernah berdusta dan terbukti nyata di dalam kejadian-kejadian yang kita alami di dunia ini.

(2) Mengingat providence of God akan menguatkan iman dan pengharapan kita terutama di masa kesesakan dan pergumulan hidup kita.

Orang-orang Puritan adalah orang-orang yang berada di dalam konteks hidup yang menyakitkan dan bagaimana mereka bisa melalui masa-masa kegelapan yang bukan hanya 1-2 bulan tetapi bertahun-tahun? Bagaimana John Owen bisa melampaui dengan kemenangan di tengah-tengah anaknya satu persatu mati? Bagaimana John Bunyan di penjara belasan tahun dan tetap memiliki iman yang kuat? Bagaimana orang-orang Puritan yang lain, mereka diusir dari kotanya, diusir dari gereja yang mereka sayangi, tetapi mereka tetap setia untuk melayani? Kita adalah orang-orang yang penderitaan itu merupakan suatu pengecualian dari hidup. Tetapi bagi mereka, kebahagiaan dan kelancaran hidup itu adalah suatu pengecualian dari hidup. Bagaimana mereka bisa memenangkan hal-hal seperti ini? Di tengah-tengah semuanya ini kita tahu ketika kita berada di dalam suatu penderitaan, seakan-akan Allah itu meninggalkan kita. Di tengah penderitaan bahkan kalimat-kalimat dari Firman itu seakan-akan tidak lagi mengena. Orang yang di dalam penderitaan selalu adalah orang yang tersendiri. Pemazmur mengatakan terpisah dari keluarga Tuhan. Di tengah-tengah seperti itu tidak ada khotbah, tidak ada tulisan-tulisan ringkasan khotbah. Orang-orang dilarang bertemu mereka di penjara. Bagaimana mereka bisa menguatkan iman mereka? Maka mereka mengingat pekerjaan Tuhan dalam hidup pribadi mereka di masa lampau. Itulah kekuatan mereka.

Providence dari Allah akan membuat, mengobarkan iman dan pengharapan yang tidak mengecewakan di dalam hidup saat ini yang sesak. Di dalam Mazmur 57:1-2, Daud yang dalam kesesakan yang besar itu menyatakan: “Aku berteriak kepada Allah yang Mahatinggi, Allah yang menyelesaikan segala sesuatu yang direncanakan yang sudah merupakan tujuan-Nya di dalam hidupku.” Daud tidak tahu apakah Allah akan melepaskan dia atau Allah akan membuatnya tertawan. Jikalau dia tertawan, itu dalam beberapa hari atau malah mungkin sampai mati. Tetapi Daud mengerti satu hal, Allah akan menyelesaikan semua tujuan-Nya yang sudah dirancangkan untuk Daud. Allah yang membuat design awal, Allah pula yang menentukan design awal itu menjadi tujuan hidup bagi Daud, dan Allah akan menyelesaikan di dalam hidupnya sampai tujuan-Nya itu tergenapi. Rancangan dan tujuan itu adalah satu rancangan untuk kemuliaan bagi-Nya dan kebaikan bagi Daud. Inilah alasan mengapa kita berdoa agar kehendak Tuhan itu jadi dalam hidup kita, karena kehendak Allah itu mulia dan kehendak-Nya itu lebih tinggi daripada kehendak kita. Kehendak-Nya jikalau jadi dalam hidup kita, pada akhirnya adalah kehendak yang paling membuat kita berharga, mulia dan bahagia. Di dalam ayat itu, di dalam doa itu, seakan-akan Daud mau menyatakan demikian: “Biarlah bukan kehendakku dan juga bukan kehendak Saul, tetapi kehendak-Mu yang Engkau sudah rancangkan dalam hidupku, genapi ya Tuhan!” Apa kekuatan Daud? Dia mengingat providence of God di masa lampau. Merenungkan providence of God di masa lampau akan membuat iman kita kuat, berdasarkan dengan apa yang sudah Dia buat dalam hidup kita. Kita akan lanjutkan hari ini.

(3) Mengabaikan merenungkan providence of God, Alkitab mengatakan itu adalah sesuatu dosa.

Mari kita lihat Yesaya 26:11, “Ya TUHAN, tangan-Mu dinaikkan, tetapi mereka tidak melihatnya. Biarlah mereka melihat kecemburuan-Mu karena umat-Mu dan biarlah mereka mendapat malu! Biarlah api yang memusnahkan lawan-Mu memakan mereka habis!” Perhatikan apa yang Alkitab katakan. Tangan-Mu dinaikkan, itu artinya pekerjaan-Mu itu sudah dikerjakan tetapi mereka tidak melihatnya. Perhatikan apa yang dikatakan oleh Puritan. Salah satu ciri orang-orang yang tidak mengenal Allah atau orang-orang yang binasa, anak-anak kebinasaan, adalah mereka tidak pernah memperhatikan providence of God. Maka Allah meminta kepada umat-Nya untuk memperhatikan Dia, apa yang Dia kerjakan dalam hidup kita. Saudara-saudara, sebenarnya apa yang ditulis oleh Alkitab? Alkitab adalah buku tentang Allah, buku tentang manusia dan juga boleh buku tentang setan, buku tentang alam semesta. Tetapi pada pagi hari ini saya mau mengatakan bahwa Alkitab adalah buku tentang providensia Allah. Saudara akan menemukan begitu banyak narasi, cerita tentang providensia Allah dan apa tujuan Roh Kudus itu menyatakan atau menuliskannya di sini? Misalnya saja, perhatikan ketika Yesus berdoa itu berkali-kali, bukan dari pagi, siang, sore, malam. Di dalam Yohanes 17, secara khusus orang Puritan mengatakan Roh Kudus menuliskan setiap kalimatnya. Kenapa Roh Kudus mesti menuliskannya secara detail dan doa-doa yang lain tidak? Ada suatu hal yang khusus yang Roh Kudus mau untuk kita renungkan dan pelajari.

Demikian juga dengan providence. Begitu banyak sekali dalam Alkitab bagian-bagian providence of God yang terjadi kepada rasul-rasul, nabi-nabi dan gereja Tuhan. Untuk apa? Untuk membuat kita bisa menyelidikinya. Kita diundang, saudara perhatikan, kata ‘invite’ (diundang) untuk mengobservasinya dengan detail. Mazmur 66:5 menyatakan: “Pergilah dan lihatlah pekerjaan-pekerjaan Allah; Ia dahsyat di dalam perbuatan-Nya terhadap manusia.” Saudara perhatikan kalimat ini. Di dalam Wahyu 6 misalnya saja, saudara akan menemukan kata ini berkali-kali diucapkan. Kepada Yohanes, kata ini adalah ‘come and see’, ‘come’, ‘behold’, mari datang dan lihatlah, mari dan lihatlah berkali-kali. Tuhan memanggil kita pada pagi hari ini dengan satu panggilan ini, ‘come and see’. Datang dan lihatlah pekerjaan-Ku. Ketika saudara mengabaikan suara ini, saudara mengabaikan tugas ini. Ini adalah suatu pemberontakan kepada Allah. Ini adalah suatu dosa. Tuhan, tangan-Mu sudah dinaikkan, tetapi mereka tidak melihat-Nya. Saudara-saudara, kita sering berpikir bahwa dosa itu bicara mengenai mencuri, membunuh, berzinah, tetapi perhatikan, Alkitab mencatat mengabaikan memeditasi dan memikirkan providence of God, itu suatu dosa yang Tuhan anggap serius.

Orang Puritan di tempat lain menyatakan, sebenarnya ketika providence itu diberikan kepada umat-Nya, Tuhan sedang berurusan secara personal, secara dekat dengan kita. Alkitab banyak menyatakan bahwa ketika Allah memberikan suatu keadaan yang tidak kita sukai, sebenarnya dia dekat, sedang menghajar umat-Nya. Dan juga dalam keadaan-keadaan yang baik, misalnya saja Dia membebaskan umat-Nya, Dia berjalan di depan umat-Nya. Ketika Dia membebaskan umat-Nya dari Mesir, Dia menjadi Tiang Awan dan Tiang Api. Dia Allah yang Mahakuasa, Dia Allah yang Mahahadir. Tetapi secara khusus dia seakan-akan mau mereduksi dirinya dan menyatakan Aku ada di depanmu. Apakah Dia sedang menghajar kita, mengoreksi kita? Apakah Dia memberikan keadaan yang baik, memberikan kebebasan di dalam belas kasihan-Nya? Itu sebenarnya kata yang dipakai di dalam Alkitab adalah kedekatan Allah yang personal dengan kita. Maka, perhatikan itu!

Saudara-saudara, kita jangan seperti seorang customer dealing sama Tuhan. Misalnya saja, rumah kita bocor atau lampu kita mati. Lalu kalau di Indonesia kita telpon PLN dan kemudian dia akan datang ke tempat kita, dia dealing pribadi dengan kita dan masuk ke rumah kita. Tetapi saya tanya, apakah ada yang memperhatikan? Dia paling tanya, di mana circuit-nya? Oh, di situ. Di mana bocornya? Oh, di situ. Lalu kemudian dia kerjakan, kita mungkin masuk ke kamar atau mengerjakan sesuatu atau nonton TV, sampai kemudian dia mengatakan, “Sudah selesai.” Sudah berkali-kali kita memperlakukan Allah seperti ini. Ini tidak boleh dibiarkan dalam hidup kita. Ketika Allah sedang mengoreksi kita atau Allah memberikan keadaan yang baik kepada kita, misalnya membebaskan kita, Alkitab menggunakan kata ‘Dia secara personal dealing dengan personal kita’. Matanya itu sedang melihat personal kepada kita. Kalau saudara-saudara ketemu dengan seseorang dan kemudian pada saat berbicara, matanya dan seluruh perhatiannya kepada saudara, apakah saudara akan acuh tak acuh kepada dia? Itulah sebabnya orang Puritan menekankan hal ini, ketika saudara dan saya mengabaikan providence of God, itu adalah suatu dosa.

(4) Mengingat providence of God akan membuat kita dapat memuji Allah di dalam ketulusan dan kejujuran.

Ujian dari hati yang bersyukur kepada belas kasihan Allah bergantung kepada tindakan kita memperhatikan pekerjaan providence itu di dalam hidup kita. Saya minta saudara-saudara mengingat hal ini. Saya bahkan yakin sekali, detik ini pun ada dari saudara yang sedang berdosa di hadapan Allah. Perhatikan baik-baik kalimat ini. Ujian dari hati yang bersyukur untuk segala belas kasihan Allah bergantung kepada tindakan kita memperhatikan pekerjaan providence of God. Berapa banyak dari kita pergi ke gereja menyanyi kepada Tuhan dan tidak ada ucapan syukur? Berapa banyak kita menyanyi di gereja bahkan dengan suara yang keras sekali, tetapi tidak dengan hati? Mengapa itu bisa terjadi? Saudara menyanyi dengan kalimat-kalimat, tetapi Alkitab mengatakan itu kosong: “Dia menggunakan kalimat-kalimat yang dihafal tetapi hatinya menjauh dari pada-Ku.” Saudara-saudara, karena apa? Karena ketika saudara dan saya menyanyi memuji Tuhan, kita di-preoccupied dengan kesibukan apa pun saja atau dengan pikiran yang kosong, tetapi tidak pernah mengingat akan pekerjaan Allah dalam hidup kita di masa lampau.

Tadi ketika dinyanyikan kembali Now Unto Him, saya mengingat akan siang hari itu, ketika semua pengurus dan beberapa jemaat menyanyi dengan setengah suara di rumah sakit di hadapan Janti yang sangat lemah tubuhnya. Saya dengan hati yang remuk dan bersukacita kepada Tuhan karena Dia yang menopang iman orang-orang yang kita kasihi. Dan tidak mungkin akan ada hati yang remuk dan bersyukur kepada Tuhan kalau saya bernyanyi sambil berpikir, habis ini saya mau makan siang apa? Saya memikirkan hal-hal yang lain, bukan providence of God di masa lampau. Kalau saudara menguji diri bahwa saudara sangat sulit untuk bersyukur karena saudara tidak mau melihat pekerjaan Allah di masa lampau di dalam hidupmu. Lihatlah begitu tajam orang Puritan memperingatkan kita. Dia mengatakan engkau tidak mungkin bisa memuji Allah dengan kejujuran dan ketulusan kalau engkau tidak mengingat providence of God. Karena providence of God di masa lampaulah yang membuat kita memiliki bahan bersyukur. Tanpa memperhatikan providence maka tidak ada pujian yang jujur yang kita nyanyikan dan nyatakan kepada Allah.

Mari kita membaca Mazmur 107. Ini adalah Mazmur yang panjang. John Flavel menuliskan mengenai Mazmur 107 ini. Mazmur 107 dalam bahasa Indonesia, title-nya adalah nyanyian syukur dari orang-orang yang ditebus Tuhan. Saudara bisa melihat syukur kepada Tuhan itu dinyatakan kepada orang-orang yang dibebaskan dari kesesakannya. Misalnya saja ayat ke-4: Ada orang-orang yang mengembara di padang belantara, jalan ke kota tempat kediaman orang tidak mereka temukan.” Saudara akan melihat bahwa ayat 4-9 adalah berbicara berkenaan dengan pertolongan Tuhan kepada orang yang tersesat di masa lampau. Dalam ayat ke-8 mengatakan: “Biarlah mereka bersyukur kepada TUHAN karena kasih setia-Nya, karena perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib terhadap anak-anak manusia.” Saudara bisa melihat bahwa struktur dari Mazmur ini adalah berbicara berkenaan dengan pujian terhadap Tuhan setelah providensia Allah itu diberikan. Perhatikan ayat yang ke-10: “Ada orang-orang yang duduk di dalam gelap dan kelam, terkurung dalam sengsara dan besi.” Ini adalah orang-orang yang di penjara dan kemudian dilepaskan oleh Tuhan. Ayat ke-15: “Biarlah mereka bersyukur kepada TUHAN karena kasih setia-Nya, karena perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib terhadap anak-anak manusia.” Ayat yang ke-17 adalah berbicara tentang orang sakit yang disembuhkan. Ayat yang ke-23 adalah bicara berkenaan dengan ada orang yang terombang-ambing di lautan dan sebentar lagi akan tenggelam tetapi dilepaskan. Seluruhnya dengan struktur bahwa pujian kepada Allah bisa dinyanyikan jikalau kita mengingat providence of God sebelumnya. Biarlah kita memperhatikan providence of God. Jikalau hati kita keras, biarlah kita memperhatikan providence of God. Karena itu adalah yang akan meremukkan hati kita karena melihat Dia itu bertindak mengasihi kita. Mazmur 107 ditutup dengan ayat 43. Mari kita membaca bersama-sama ayat 43: “Siapa yang mempunyai hikmat? Biarlah ia berpegang pada semuanya ini, dan memperhatikan segala kemurahan TUHAN”. Biarlah engkau memperhatikan, demikianlah kata Pemazmur.

(5) Jikalau kita tidak memperhatikan providence of God, kita tidak memeditasikan, kita akan membuang segala benefit dan kegunaan pekerjaan Tuhan di masa lampau di dalam hidup kita.

Saudara-saudara, hidup beriman itu adalah suatu proses berkelanjutan yang sifatnya progresif, bahwa kita itu makin lama makin memiliki iman, makin kuat. Hal-hal di masa lampau dipakai Tuhan untuk pembelajaran bagi kita di masa kini dan masa depan. Maka mengabaikan providence di masa lampau akan membuang seluruh kegunaan dari pengajaran yang Allah berikan dan benefit pada saat kita memerlukannya di masa kini dan masa depan. Saudara-saudara, kita boleh mengantisipasi bahwa hidup di depan itu sulit. Salah satu mimpi di siang hari bolong adalah berpikir hidup kita di depan adalah sesuatu yang mudah. Saudara-saudara, minimal kita akan berhadapan dengan kematian. Alkitab mengatakan menuju kepada kematian itu adalah berjalan dalam lembah bayang-bayang maut. Di dalam keadaan seperti itu sebelumnya mungkin kita sekarat, mungkin kita sakit bertahun-tahun, mungkin ada masalah dalam keluarga kita. Suatu hal kegelapan adalah sesuatu di depan. Musuh itu menghadang di depan. Alkitab mengatakan musuh kita yang terakhir adalah maut. Kalau pun sekarang kita di dalam keadaan yang baik, mau tidak mau kita akan berhadapan dengan musuh yang terakhir itu yaitu maut. Di dalam keadaan yang sulit seperti itu, yang menderita, mungkin ada tantangan, ada aniaya di depan, ada kegelapan di depan, dari mana kekuatan kita? Dari mana pertolongan kita ketika musuh sudah begitu mendekat kepada kita? Maka Alkitab mengajarkan, ingatlah pekerjaan Allah di masa lampau dalam hidup kita. Saudara-saudara, mengabaikan providence akan membuat jiwa kita kehilangan kekuatannya di masa-masa sulit. Dan sebaliknya, providence of God adalah makanan bagi iman kita, di saat kita itu mengalami kesulitan besar.

Di dalam 1 Samuel 17, ada suatu pertempuran yang tidak seimbang. Ada lawan Israel yang muncul pada waktu itu dan sangat menakutkan yaitu Goliat. Saudara-saudara bisa melihat secara keseluruhan bahwa kemudian Daud datang kepada Goliat dengan gagah berani. Pertanyaan saya adalah apakah senjata Daud? Goliat diperlengkapi dengan seluruh senjata. Dia adalah seorang prajurit yang besar dan sangat kuat. Dia memiliki tombak, perisai dan pedang. Dia adalah tentara yang terlatih. Dan Daud diminta oleh Saul untuk memakai jubah perang, tetapi itu pun tidak bisa. Saudara lihat, apa senjata Daud ketika mengalami masa krisis seperti itu? Satu rahasia ini, senjatanya yaitu dia mengingat providence of God. Dia mengatakan, “Allah yang melepaskan aku dari cakar beruang dan cakar singa itu dan Allah pula yang akan melepaskan aku dari orang yang tidak bersunat ini!” Providence of God! Itu senjatanya. Apa yang sudah Tuhan kerjakan di masa lampau membuat kekuatan imannya bangkit dan itu melebihi daripada senjata fisik. Oh, saya bersyukur sekali dengan orang-orang Puritan yang mengingatkan kita tentang hal ini. Mereka begitu luar biasa jitu dan teliti di dalam hal-hal seperti ini.

(6) Mengingat providence membuat kita memiliki kekuatan untuk mematikan dosa.

Ketika kita mengingat bagaimana Allah di masa lampau itu mendidik, menghajar, mengoreksi kita karena Dia dealing dengan dosa kita, membuat kita berhati-hati untuk tidak lagi berbuat dosa di jalan yang sama di depan. Alkitab mengatakan dan Puritan menegaskan: Providence of God itu ada yang kita anggap baik, nyaman dan ada yang kita anggap buruk dan tidak nyaman. Tetapi meskipun itu adalah bad providence, itu akan menghasilkan sesuatu yang baik dalam hidup kita kalau saudara dan saya berada di dalam Kristus. Dan apa yang kita pandang buruk itu menghasilkan sesuatu yang baik? Orang-orang Puritan mengatakan providence yang buruk itu akan membuat kita mematikan dosa. Banyak sekali hajaran dan didikan Tuhan dalam hidup kita yang akhirnya hal-hal yang tidak suka itu membuat kita bisa mematikan dosa.

Bagian yang lain dari hal ini, providence Allah juga akan membunuh dosa kita yang begitu jelas, memampukan kita untuk memiliki kekuatan mematikan dosa. Sebagai contoh, di dalam Alkitab, Yesus Kristus menyodorkan providence of God sebagai jawaban untuk mematikan dosa kekuatiran. Jangan kamu kuatir. Saudara-saudara, kekuatiran dan ketakutan akan masa depan itu sekarang diganti dengan ketenangan dan juga kedamaian karena mengingat pemeliharaan Allah. Ketika kita kuatir maka hati kita gelisah, kita kacau, kita panik karena kita merasa seperti layangan putus. Karena pada waktu kita kuatir, kita takut, artinya hidup itu tidak bisa kita kendalikan, tidak bisa kita kontrol. Keadaan seperti itu membuat kita kuatir dan akan membawa kita, menghantarkan kita melakukan dosa. Dari dosa kekuatiran dan kadang-kadang ketakutan, kemudian dosa kompromi, sampai kemudian kita bersungut-sungut, mungkin sampai kita mengasihani diri dan itu akan menghasilkan sesuatu kekejian kepada Tuhan. Maka di dalam Alkitab dikatakan: “Jangan kamu kuatir akan hidupmu, akan apa yang engkau hendak makan, jangan kuatir akan tubuhmu, akan apa yang engkau hendak pakai.” Tuhan mengatakan kepada kita: “Jangan kuatir.” Dan kemudian kita:  “Iya Tuhan, aku tidak akan kuatir. Mana Tuhan? Mana makanannya? Mana uangnya? Tuhan tidak menyediakan itu.” Tuhan mengatakan: “Jangan kamu kuatir.” “Ok, jangan kamu kuatir, terus bagaimana Tuhan?” “Pandanglah burung-burung itu, pandanglah bunga bakung itu, pandanglah daripada seluruh alam ciptaan-Ku ini. Jika rumput di ladang hari ini ada dan besok tidak ada dan didandani oleh Tuhan apalagi engkau.” Kekuatiran itu dibereskan dengan memperhatikan providensia Allah di alam semesta.

Saudara-saudara, salah satu ayat yang saya bergumul itu adalah Filipi 4:6-8. Ayat ini mengatakan: “Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.” Ayat 7: “Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.” Dan ayat yang ke-8: “Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.” Saudara-saudara, di dalam 3 ayat ini ada relasi bicara berkenaan dengan kekuatiran. Kekuatiran itu dikatakan engkau akan berdoa dan boleh memohon dan engkau akan mendapatkan damai sejahtera Allah. Lalu kemudian Paulus mengatakan: “Pikirkan yang benar, yang mulia, yang adil, yang suci, yang manis.” Apakah ini dorongan untuk berpikir positif? Dunia mengajarkan kita selalu jangan berpikir buruk, berpikirlah positif. Apakah itu yang mulia, yang manis, yang sedap didengar? Sampai saya menyadari bahwa ini bukan bicara mengenai berpikir positif seperti yang dikatakan orang di luar, lalu kemudian pengharapan-pengharapan depan yang kosong: “Oh, kamu nanti pasti bisa.” Saudara-saudara, ternyata ayat-ayat ini berbicara berkenaan dengan kita memikirkan providensia Allah di masa lampau. Kalau saudara dan saya memikirkan apa yang Dia telah kerjakan kepada kita dalam kasih setia-Nya, maka saudara akan menemukan itu adalah suatu jalan yang benar, yang mulia, yang adil, yang suci, yang manis. Kita diminta untuk memikirkan providence of God yang terjadi di dalam hidup kita dan kita akan menemukan kesukaan – delight karena melihat providence of God yang terjadi di dalam hidup kita. Dan kita akan bisa mengatakan seperti Pemazmur katakan: “Kecaplah dan lihatlah betapa baiknya Tuhan itu.”

Salah satu keindahan yang terjadi di dalam hidup kita adalah kalau saudara dan saya itu diam dan tidak berbicara kepada siapa pun saja mengenai kesulitan kita dan kita hanya berbicara kepada Allah. Hanya Dia yang tahu apa yang kita butuhkan di dalam hati kita. Hanya Dia satu-satunya curahan doa-doa kita dan rintihan dan keluhan dari hati dengan air mata kita berikan. Kemudian kita tiba-tiba mengalami bahwa kita itu dipelihara, Tuhan itu menyediakannya bagi kita. Itu adalah suatu kesukaan yang luar biasa besar dalam hidup kita karena kita menyadari bahwa tangan pencipta langit dan bumi dan mata-Nya itu melihat personal kepada kita. Dia yang menyediakan makanan di atas piring kita. Tangan-Nya yang mengirimkan segelas air di hadapan kita. Apakah ada suatu kebahagian yang lebih besar dari hal-hal seperti itu? Biarlah Dia yang membawa kita ke meja-Nya untuk kita boleh menyantap hidangan yang Dia sediakan bagi kita secara pribadi. Dan pengertian ini akan membuat kita kuat untuk mematikan dosa-dosa kekuatiran dan ketidakpercayaan. Sekali lagi saudara-saudara, biarlah kita boleh melihat, memperhatikan pekerjaan Allah di masa lampau di dalam hidup kita, itu adalah perintah-Nya bagi kita.

Alamat

556 - 558 Botany Road, Alexandria, NSW, 2015
sekretariat@griisydney.org
0404242433
0430930175

Social Media

Facebook GRII Sydney Instagram GRII Sydney Twitter GRII Sydney


Google Play Store
App Store

^