[simple_crumbs root="Home" /]
kembali

19 July 2020

Pdt. Agus Marjanto, M.Th

Peristirahatan Kekal Orang Kudus - Richard Baxter (Seri Puritan 7)

1 Korintus 2:9; Filipi 1:22-24

Kotbah ini bukan kotbah yang mudah karena kalimat-kalimatnya saya yakin kita semuanya sudah tahu. Bicara mengenai kekekalan, bicara berkenaan dengan sukacita, bicara berkenaan mengenai enjoyment di surga. Siapa yang tidak tahu kalimat-kalimat itu. Tetapi pertanyaannya adalah siapa yang memiliki kegentarannya untuk mengerti kalimat-kalimat itu? Siapa yang hatinya bergetar ketika mendengar hal-hal itu? Siapa yang menginginkannya? Saudara-saudara, Richard Baxter sendiri ketika ia menuliskannya, dia menuliskannya dengan gentar. Karena dia tahu bahwa bagaimana saja penjelasan manusia tentang surga itu tercemar oleh dosa. Dia mengatakan Tuhan ampuni aku, karena aku itu seperti Ayub, aku menjelaskan hal-hal yang aku sendiri tidak mengerti. Tetapi kemudian Richard Baxter mengatakan, oh Tuhan ampunilah aku, tetapi kiranya api itu benar-benar keluar dari mezbah-Mu. Ketika saya membaca tulisan ini, saudara akan menemukan semua penjelasan yang plain, kecuali satu yaitu ada api, api, api yang berkorbar untuk menyukai surga, tetapi sekali lagi ini tidak mungkin ada dalam hidup kita kalau Tuhan tidak bekerja menumbuhkan jiwa kita. Mematikan daging kita, mengubah arah pandangan kita untuk tidak mencintai dunia ini. Tetapi kemudian melihat surga dan apa yang diberikan Allah dalam hidup kita. Saudara-saudara dan saya akan mengerti apa itu sukacita sorgawi. Tetapi saudara dan saya tidak akan memiliki hati yang mengharapkan itu, sampai Tuhan itu membentuk kita kecewa dengan dunia ini. Salah satu hal yang menjadi bagian penting dari spiritualitas Puritan adalah seorang Kristen hendaklah memiliki the art of dying well. Kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi seni sekarat atau seni menjelang kematian yang baik. Artinya, orang Kristen haruslah sebenarnya orang yang paling siap menghadap Tuhan sewaktu-waktu. Dan untuk the art of dying well ini terjadi, maka orang Puritan mengajar kita persiapannya adalah memeditasi kekekalan. Orang Puritan sering berpikir mendalam tentang kekekalan. Seperti Jonathan Edwards mengatakan maka caplah bola mataku dengan kekekalan, ya Tuhan. Saudara-saudara, di dalam kekekalan ada dua hal yang selalu akan dipikirkan, dimeditasikan menurut Alkitab. Yang pertama adalah meditasi mengenai surga, kemuliaan surga dan kedua adalah meditasi mengenai terornya neraka. Untuk apa Tuhan menyatakan realitas surga di dalam Alkitab? Untuk kita dapat sedikit melihatnya dan menginginkannya. 

Paulus sendiri mengatakan dalam Filipi 1 tadi, bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan dan perhatikan ayat 23 nya, aku didesak dari dua pihak, aku ingin pergi dan diam bersama dengan Kristus itu memang lebih baik. Perhatikan satu kata ini, aku ingin pergi dan diam bersama dengan Kristus, tentu bukan keinginan karena hidupnya di sini itu menderita dan tidak ada sesuatu yang bisa dia harapkan lagi, bukan karena ingin pergi karena di sini kecewa atau putus asa, tetapi mau menyatakan bahwa penglihatan sorgawi itu jauh lebih indah daripada apapun saja yang dia lihat dari dunia ini. Perhatikan satu asumsi dasar ini, baik itu orang puritan ataupun khususnya Richard Baxter, jike keinginan ini tidak ada, itu artinya kerohanianmu, tidak sehat. Sekali lagi, jikalau keinginan ini tidak ada, maka kita punya kerohanian itu tidak sehat. Richard Baxter mengatakan apakah saya punya kerohanian sehat atau tidak, apakah kita bisa mengatakan persis seperti Paulus ini, aku ingin pergi dan diam bersama dengan Kristus, ini memang jauh lebih baik. Ya di tengah-tengah seluruh family yang mencintai kita, di tengah-tengah dunia ini yang begitu indah, ya di tengah-tengah orang-orang yang kita suka untuk bertemu, tetap apakah keinginan ini muncul di dalam hati kita atau tidak sama sekali? Richard Baxter mengutip satu orang jemaatnya yang ketika pada waktu ia hampir mati, dia menanyakan, apakah engkau rela untuk mati? Dan kemudian jemaat itu yang bertumbuh imannya itu berkata demikian, yang membenci kematian adalah yang tidak menyukai tinggal bersama dengan Kristus. Yang membenci kematian adalah orang yang tidak suka tinggal bersama dengan Kristus. Saudara-saudara, kalimat itu saja asing buat kita. Siapa yang pernah memikirkan hal-hal seperti ini? Siapa yang memperhatikan hal-hal seperti ini? Di tengah-tengah seluruh kerohanian yang kita sebut sebagai berhasil padahal sebenarnya semu. Sekali lagi, orang-orang Puritan mengatakan apakah keinginan ini ada dalam hidupmu? Jikalau tidak ada, maka orang Kristen yang sejati ini adalah orang Kristen yang kurang bertumbuh atau yang tidak sehat kerohaniannya. Richard Baxter menuliskan seruan seperti ini, coba bayangkan, pandanglah ketika jiwamu sudah berada di surga, di tanah perjanjian yang Tuhan itu janjikan, berikan, dan ketika jiwamu yang berada di surga itu melihat kembali seluruh sejarah hidupmu yang ada di bumi, maka engkau akan melihat hutan belantara yang suram yang kita lalui. Dan ketika engkau berada di surga, di puncak ingatan itu, engkau akan membandingkan surga dengan bumi dan jiwamu penuh dengan rasa syukur yang tidak terbayangkan dan engkau akan berseru, inilah warisan yang harganya sangat mahal itu? Yaitu darah Kristus, harga yang mahal untuk membelinya? Apakah ini hasil dari percaya itu? Untuk inikah angin kencang anugeh Allah itu membawaku ke pelabuhan seperti ini? Di tempat inikah Kristus sangat ingin membawa aku? Inikah kemuliaan yang dibicarakan dalam Alkitab? Inilah perhentian yang banyak dikatakan oleh para hamba-hamba Tuhan? Oh, Puji Tuhan! Injil benar-benar adalah kabar baik! Setelah engkau sampai di surga, jiwamu akan berteriak, oh apakah artinya seluruh kesusahanku di bumi? Apa artinya godaan setan? Apa artinya kemiskinan dalam hidupku? Apa artinya cemoohan dunia terhadapku? Jika dibandingkan dengan semua yang aku dapatkan di surga, nothing! Dan ketika kita sudah sampai di surga dan membandingkan semuanya, kita akan berteriak, oh aku orang jahat! Oh, pemberontakan aku itu besar! Aku telah melawan anugerah berkali-kali, menahannya membawa aku ke tempat ini. Jiwa yang miskin yang sungguh-sungguh tidak layak, mengapa engkau enggan untuk datang ke tempat ini? Apakah tugasmu sangat melelahkan sehingga engkau mengeluh untuk bisa dapat masuk surga? Oh jiwaku, apakah dunia ini terlalu indah untuk ditinggalkan? Tidak bisakah engkau meninggalkan semua? Menyangkal semuanya, menderita apapun saja di dunia ini untuk surga, apakah engkau tidak mau mati untuk mendapatkan kemuliaan seperti ini? Richard Baxter menyatakan, kita akan malu ketika berada di surga karena kita sudah mempertahankan sesuatu yang sama sekali tidak penting. Luar biasa! Dia membalik cara pikirnya. Sekarang ini, di surga demikan kata Richard Baxter, kita akan lebih mempercayai Penebus kita, Juruselamat kita, kita akan mempercayai Dia dan akan mengerti kenapa banyak doa yang tidak dikabulkan oleh Dia. Kita akan mengerti mengapa Dia itu menghancurkan hati kita berulang kali, karena untuk menghantar kita ke tempat ini.

Puji-pujian hanyalah bagi Kristus dan kita sama sekali tidak layak karena bahkan ketika kita di dunia, kita tidak menginginkan tempat ini dan sekarang hai orang Kristen, demikian Richard Baxter, siapapun anda, muda atau tua, kaya atau miskin saya memohon kepada anda di dalam nama Tuhan Yesus Kristus, Tuhan Yesus yang akan memanggil segera anda untuk menjadi penghakim atau akan memperhitungkan tingkah laku anda di hadapan-Nya, Tuhan Yesus yang akan membawa engkau kepada kematian dan kepada kekekalan yang tidak bisa diubah. Aku meminta kepadamu dengan amat sangat jemaat, demikian kata Richard Baxter, saya meminta anda untuk melakukan lebih dari sekedar membaca dan mendengar kata-kata ini, lebih daripada sekedar menganggukkan persetujuan tetapi engkau memberikan hatimu lebih berantusias, berkomitmen kepada pekerjaan ini. Yaitu pekerjaan memperbaiki hatimu, memperbaiki hatimu sampai Yesus Kristus adalah satu-satunya tempat peristirahatanmu. Apakah the saints’ everlasting rest itu demikian kata Baxter? Ini adalah kenikmatan Allah yang sempurna yang tidak bekesudahan yang dimiliki oleh jiwa pemercaya setelah kematian. Lebih lanjut, ini adalah kenikmatan Allah yang dimiliki oleh tubuh dan jiwa yang sudah disempurnakan setelah kebangkitan dan penghakiman akhir terjadi. Richard Baxter mengatakan, saya menuliskan dan mengatakan ini bukan untuk manusia-manusia duniawi yang belum menerima Kristus Yesus, jangankan bicara berkenaan sukacita sorgawi, orang-orang duniawi itu tidak akan mengerti sukacita karena kekudusan hidup yang ada di dunia ini. Orang-orang duniawai tidak akan mengerti hal-hal itu karena anugerah tidak bisa dimengerti secara jelas tanpa anugerah. Tetapi kepada orang-orang kudus-Nya Tuhan aku menjelaskan ini karena kasih karunia yang engkau sudah dapatkan, memberikan kita bisa mencicipi rasa kemuliaan sorgawi. Di dalam kemuliaan sorgawi, di dalam istirahat sorgawi, maka ada minimal 5 kondisi yang terwakili di dalamnya. Ketika orang-orang Reformed itu menuliskan hal-hal ini, saudara-saudara maka mereka berbasiskan daripada Alkitab dan ketika mereka berbasiskan kepada Alkitab, saya akan memberikan terlebih dahulu asumsi dasar ketika bicara berkenaan dengan hal-hal yang sifatnya akhir zaman. Ketika saudara-saudara berbicara mengenai akhir zaman, maka saudara-saudara akan menemukan suatu kepastiannya tetapi secara detailnya itu diburamkan oleh Allah. Pasti, tetapi tidak jelas secara detail. Saudara seperti melihat sebuah televisi tetapi pixel-nya itu tidak banyak, sehingga saudara-saudara itu akan bisa melihat orang itu sedang masak tetapi sebenarnya tidak tahu apa yang dimasaknya. Sehingga saudara-saudara akan mengerti ini adalah cara dari orang-orang yang mengerti Alkitab ataupun orang-orang Reformed meskipun Richard Baxter itu tidak berteologia Reformed tetapi hatinya itu terus-menurus seturut dengan Firman, mereka itu menjelaskannya itu dengan sesuatu mengerti ada bagian-bagian yang buram yang mereka tidak mungkin jelaskan. Sehingga kalau saudara-saudara melihat doktrin akhir zaman orang-orang Reformed, saudara-saudara kadang menemukan yang saya sudah tahu tetapi untuk orang-orang yang tidak mengerti Alkitab mereka menafsirkannya bahkan sedetail-detailnya membuat saudara berantusias padahal itu adalah sesuatu yang salah. Sekali lagi Richard Baxter menafsirkan apa yang ada di surga ini, dengan spirit bahwa dia mengerti bahwa dirinya sendiri berdosa sehingga ketika dia menjelaskan ini dia mengatakan ampuni dosa-dosaku ya Tuhan karena saya menjelaskan sesuatu yang saya sendiri belum masuk di dalamnya, saya mengerti bahwa pemahaman saya akan sangat membosankan dan ekspresi saya sangat tidak memadai untuk menyatakan kemuliaan seperti itu tetapi kiranya Engkau menolong aku. Ampuni jikalau aku telah mengatakan hal-hal yang saya sendiri tidak tahu, hal-hal yang terlalu indah untuk dibicarakan.

Saudara-saudara, ayat Alkitab yang kita baca tadi, apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, yang tidak pernah didengar oleh telinga, apa yang tidak pernah timbul dalam hati manusia, diberikan oleh Allah kepada orang yang mengasihi Dia dan ini berbicara mengenai kekekalan. Sehingga apapun saja yang dikatakannya tentu tidak bisa melukiskan kelengkapannya dan seluruh kotbah Richard Baxter ini adalah dalam meditasi dan saudara-saudara kita akan masuk ke dalam lima kondisi yang terwakili di dalam istirahat sorgawi. Di dalam saints’ everlasting rest,

Hal yang pertama adalah berhentinya seluruh means of grace karena kita sudah bertemu dengan anugerah itu sendiri, kita tahu semua hal yang ada di dalam gereja itu adalah means of grace, perjamuan kudus, berdoa, kotbah dan segala hal yang ada di dalam gereja itu adalah means of grace itu adalah alat anugerah dari Allah kepada dunia ini. Tetapi ketika kita sudah sampai di dalam the saints’ everlasting rest maka semua itu akan berhenti karena kita tidak memerlukan sarana anugerah lagi karena kita sudah bertemu dengan sumber atau sang anugerah itu sendiri yaitu Allah Tritunggal. Ketika kita telah mencapai pelabuhan, kita tidak lagi berlayar, ketika pekerja menerima upahnya, itu artinya dia sudah melakukan tuntas pekerjaannya, tidak akan ada lagi doa karena tidak ada lagi kebutuhan karena di situ kenikmatan penuh dari apa yang kita doakan itu terjadi. Kita juga tidak perlu lagi berpuasa dan menunggu untuk menjaga-jaga karena kita juga tidak lagi berada di dalam jangkauan dosa dan pencobaan, semua hamba Tuhan tidak lagi berkotbah di sana, pekerja-pekerja atau hamba-hamba Tuhan itu dipanggil karena panen sudah dikumpulkan, ilalang dibakar dan pekerjaan-Nya itu selesai. Di sana adalah akhir dari seluruh perjalanan kesulitan orang-orang kudus, semua ketakutannya hanya berupa masa lalu saja. Sebaliknya, semua yang tidak dilahirbarukan, semua harapannya dalah kosong belaka dan hanya masa lalu belaka.

Hal yang kedua adalah pembebasan sempurna dari seluruh kejahatan, dalam saints’ everlasting rest tidak ada lagi yang merusak, semua yang jahat ada di luar. Tidak ada yang namanya duka atau penyesalan. Tidak ada penderitaan atau penyakit, tidak ada tubuh yang lemah atau persendian yang sakit, tidak ada bayi yang keguguran atau usia yang tua, tidak ada temperamen buruk, tidak ada lagi ketakutan yang menyiksa, kecemasan yang mengkuatirkan, tidak ada lagi rasa sakit yang menusuk atau apapun saja yang disebut atas nama kejahatan, kita menangis karena dunia bersukacita, tetapi saat itu kesedihan kita dirubah menjadi sukacita dan tidak ada yang bisa menghilangkan sukacita itu.

Saya berhenti dulu di sini sebentar. Saya tanya apa yang saudara sedang pikirkan atau rasakan di dalam hati saudara ketika saya membaca tulisan ini barusan? Saya katakan satu hal, jikalau tidak ada getaran dalam hati saudara karena kehidupan kita terlalu nikmat di dunia ini karena kita menikmati dunia ini. Tepatnya kita mencintai dunia ini. Berapa tahun yang lalu saya ketakutan sekali ketika membaca kitab Wahyu, berbulan-bulan saya tidak bisa tidur karena membaca kitab Wahyu, sampai kemudian satu kalimat ini muncul, bukankah Alkitab itu kabar baik? Kalau ini kabar baik, kenapa kemudian saya takut? Jawabannya adalah karena satu hal, saya tidak berdiri di tempat di mana Tuhan mau saya berdiri. Kitab Wahyu itu bicara berkenaan penghiburan bagi Allah kepada gereja-gereja orang Kristen yang dianiaya. Kitab Wahyu berbicara berkenaan penghiburan kepada orang-orang yang meneteskan air mata, berkerja keras dan hatinya hancur karena berusaha untuk mengabarkan Injil dan memperjuangkan kerajaan Allah di tengah-tengah dunia. Musuh itu begitu kuat, musuh itu berusaha untuk menekan dan meghancurkan dan pasukan itu terus menerus ada di depan mata kita dan kita itu bertempur. Kitab Wahyu mengatakan, apa yang engkau lihat tidak seperti itu sesungguhnya, Allah itu sedang bekerja di tengah-tengah gerejanya dan Dia memberikan pertolongan kepadamu sekarang dan pada puncaknya pada waktu kedatangan Yesus Kristus maka kitab ini menjadi kitab yang akan menguatkan hidup kita. Kecuali satu, kalau kita tidak berjuang, kalau kita tidak ada musuh, kalau kita malah ada di kubu musuh, kalau kita menikmati pergaulan dengan musuh, kalau kita ada di dunia, maka kitab Wahyu ketika saudara dan saya baca itu akan menakutkan. Anda ada di mana? Kita ada di mana? Luar biasa, hal sederhana saja tetapi sungguh-sungguh membedakan sekarang, saudara bisa membedakan kakimu, kaki kita itu ada di mana ini sekarang? Kita akan dibebaskan dari semua kejahatan, bukankah itu sesuatu yang menggetarkan? Oh tidak, tidak, kenapa tidak? Karena kita berbagian di dalam kejahatan, kita menikmati kejahatan. Kiranya kita boleh berhati-hati.

Hal yang ketiga, apa yang terjadi di saints’ everlasting rest? Kesempurnaan pribadi, tubuh dan jiwa kita. Jikalau Tuhan Tidak menyempurnakan kita untuk membuat kita mampu untuk menghargai surga, kita tidak akan mengerti bertapa indahnya surga itu. Maka itulah sebabnya kematian ada dan kesempurnaan diberikan kepada Allah untuk kita bisa melihat dan kita bisa mendengar apa yang Allah persiapkan untuk orang-orang yang dicintai-Nya. Semakin sempurna penglihatan kita, semakin indahnya objek yang kita lihat tersebut. Semakin sempurna atau tingginya nafsu makan kita, semakin kita melahap makanan tersebut dengan sangat manis, semakin sempurnanya telinga kita secara musical, semakin menyenangkan kita mendengarkan melodi-melodinya. Demikian pula dengan kepribadian kita, semakin kita disempurnakan secara tubuh dan jiwa maka semakin mulia bagi kita akan kemuliaan Allah itu.

Hal yang keempat adalah kedekatan dengan Tuhan. Jikalau manusia yang sudah ada di sana dan malaikat yang ada di Surga harus mencoba untuk mengungkapkan berkat apa di dalam keadaan seperti itu, maka mereka pertama-tama akan menyatakan berkat ini adalah kenikmatan hidup dekat dengan Allah. Kenikmatan hidup dekat dengan Allah. Saya mengutip orang Puritan yang lain mengatakan: “Jikalau engkau tidak bisa menikmati communion with God di saat ini, engkau tidak bisa menikmati Dia di dalam Surga.” Sukacita penuh yang ditawarkan Kristus kepada kita ada dalam Yohanes 17:24. Jadi apa itu saints’ everlasting rest? Yaitu kedekatan dengan Tuhan. Surga bagi orang-orang Puritan bukan suatu tempat, tetapi sebenarnya lebih kepada suatu kondisi, yaitu kehadiran Allah yang dekat dengan kita. Mazmur 16:11 menyatakan: “Di hadapan-Mu ada sukacita berlimpah-limpah, di tangan kanan-Mu ada nikmat senantiasa.”

Hal yang kelima, apa itu saints’ everlasting rest? Yaitu kekuatan baru dari tubuh dan jiwa di dalam menikmati Allah. Peristirahatan abadi/everlasting rest bukanlah sesuatu yang statis seperti batu yang tidak bergerak. Ini adalah peristirahatan tanpa istirahat. Ini adalah perhentian yang bukan berhenti. Sebaliknya, siang dan malam orang-orang kudusnya Allah akan menyatakan: “Kudus, kudus, kuduslah Tuhan, Allah yang Maha Kuasa dulu, sekarang dan yang akan datang.” Tubuh kita akan dirubah menjadi tubuh spiritualitas. Dan di dalam transformasi ini, saudara akan menemukan pikiran kita juga akan di-transform; pikiran kita dapat mengukur matahari, bulan, bintang dan memprediksi kapan gerhana itu terjadi sampai ke menitnya. Tetapi puncak pencapaian pikiran adalah ia dapat mengenal Tuhan yang membuat semuanya ini. Dan setiap orang Kristen yang sudah sampai di tempat saints’ everlasting rest, dia akan berkata seperti Petrus berkata kepada Yesus Kristus pada waktu Yesus transfigurasi: “Tuhan apakah baik bagi kami untuk tetap berada di sini? Oh supaya aku tetap tinggal di gunung transfigurasi Allah ini, supaya aku dapat melihat untuk seterusnya dan selama-lamanya apa yang sekarang kulihat, yaitu kemuliaan-Mu.” Bahkan Petrus sendiri dan kedua murid Yesus yang lain tidak ingin turun dari puncak gunung transfigurasi itu, karena melihat kemuliaan Kristus yang dinyatakan di bumi ini, apalagi ketika kita mengenal-Nya di Surga. Hal yang lain adalah, lihatlah betapa kita bisa menikmati cinta Allah. Engkau dan saya akan mengerti apa artinya satu pribadi Allah yang mencintai kita. Mencintai kita, seorang pendosa/musuh, sekarang dijadikan anak. Engkau dan saya akan melihat betapa mulia hati Kristus. Dia, yang air mata-Nya menangis untuk banyak kehancuran Yerusalem dan sekarang kita akan melihat Dia bersukacita karena Dia membangun Yerusalem yang baru di dalam segala kemuliaannya. Hai orang Kristen, engkau akan mendapatkan sukacita karena menikmati cinta yang melimpah. Pikirkanlah bahwa engkau dipeluk di dalam kasih yang membawa Anak Allah dari Surga turun ke bumi, dan dari bumi turun ke salib, dan dari salib ke kubur, dan dari kubur itu kembali kepada kemuliaan. Ketahuilah ini hai orang percaya, untuk penghiburanmu yang kekal jika lengan itu sekali saja memelukmu maka dosa ataupun neraka tidak ada yang dapat membuat engkau kembali kepadanya selamanya. Peristirahatan abadi orang-orang kudus adalah menikmati dekapan Allah yang mengasihi dia. Lihatlah sukacita yang ada. Bukankah setiap hari engkau berdoa untuk sukacita kita dan menunggu kegembiraan? Bukankah jikalau engkau mengeluh, itu artinya engkau kekurangan sukacita? Coba pikirkan kenapa Allah membuat engkau itu menahan sukacitamu ada di dunia ini? Supaya kebutuhan akan sukacitamu makin besar, supaya engkau dapat menghargai apa yang diberikan Allah kepadamu di dalam kekekalan. Dan ingatlah bahwa engkau hanya meratap itu hanya sepanjang malam tetapi pagi hari engkau akan bersukacita.

Dan kemudian saudara-saudara akan masuk ke dalam satu hal ini yang ditekankan oleh Richard Baxter berulang-ulang. Dan dia menegaskan hal ini. Dia bahkan mengatakan: “Hai orang Kristen, saya akan menekankan hal ini karena ini adalah dosa yang paling sering di dalam hidup kita. Dan saya akan menegaskan ini sebisa mungkin saya tegaskan”, demikian kata Baxter, “karena Allah memiliki keluhan besar kepada kita di dalam hal ini.” Dan poinnya adalah bahwa everlasting rest bagi orang-orang kudus tidak pernah akan ada di bumi ini. Dia tekankan berkali-kali dan dia mengatakan: “Aku menekankan ini karena ini adalah dosa yang paling banyak ada dalam hidup kita.” Everlasting rest tidak mungkin ada di dunia ini bagi kita, orang kudusnya Allah. Kemudian dia mengatakan beberapa kalimat ini yang menjadi sesuatu yang ditekankan sama dia. Perhatikan, adalah wajar dan masuk akal jikalau kita memiliki masalah/trouble di dalam hidup kita saat ini. Dan adalah tidak masuk akal, berusaha menemukan kenikmatan di dunia ini pada masa ini. Saudara-saudara, kalimat ini muncul berkali-kali. Dia mau menegaskan sekali lagi: jikalau kita mengalami kesulitan, jikalau ada masalah, pergumulan, sakit penyakit, kerugian, air mata, kesedihan, kesakitan berkali-kali, Richard Baxter mengatakan ini adalah sesuatu yang beralasan, ini adalah sesuatu yang reasonable, sesuatu yang masuk akal. Pada masa ini jika orang kudus memiliki masalah atau trouble, itu adalah wajar bagi orang-orang kudus.

Lalu kemudian hal yang kedua adalah, bagi orang yang mengejar kenikmatan di dunia ini, engkau mengejar ketenangan di dunia ini, engkau mengejar damai yang kekal di dunia ini, engkau merasa bisa rest di dalam enjoy dunia ini; itu tidak wajar. Itu tidak masuk akal karena engkau tidak akan mendapatkannya. Saudara-saudara, sekarang saudara perhatikan bagaimana Richard Baxter itu membangun daripada argumentasinya. Setelah saudara-saudara dibawa ke tempatnya Surga dan memperlihatkan kurang lebih apa yang ada di sana meskipun dengan banyak kekurangan dan membawa jiwa itu untuk mengharapkan rest di sana. Lalu kemudian dia berusaha untuk menghardik jemaatnya berkali-kali yang berusaha untuk mendapatkan rest di bumi ini. Itu sesuatu yang tidak masuk akal. Saudara-saudara akan tahu bahwa bahkan Allah akan meng-create hal-hal masalah membuat saudara dan saya tidak bisa menikmati dunia ini. Mengapa trouble itu sesuatu yang masuk akal? Mengapa mengejar kenikmatan dalam dunia ini sesuatu yang tidak masuk akal? Mengapa seperti itu? Maka Baxter menyatakan beberapa hal ini:

Pertama, karena rest dan enjoyment yang kekal itu milik Allah sendiri. Jikalau kita menempatkan hal itu pada hal yang lain, hal yang lain itu menjadi berhala kita. Dia mengatakan demikian, “Kita semua menginginkan kemakmuran yang terus menerus di bumi ini karena kita sangat menyenangi daging. Tetapi keinginan seperti ini sungguh tidak masuk akal. Ketika kita menikmati rumah-rumah yang indah, harta benda, penghasilan, atau bahkan sarana-sarana yang diperlukan yang telah Allah tetapkan untuk kesejahteraan kita, celakanya kita cenderung mencari ketenangan di dalam kesenangan-kesenangan ini. Kita cenderung mencari rest di dalam kesenangan-kesenangan yang Tuhan berikan. Apakah kita menginginkan kesenangan duniawi itu lebih daripada Tuhan sendiri? Apakah jikalau kita kehilangan hal-hal itu, itu lebih menyusahkan kita daripada kehilangan Tuhan?” Baxter menyatakan hal ini sangat menyakiti Tuhan kita. Tuhan seakan-akan menyatakan tuntutan-Nya di dalam Alkitab. Seakan-akan umat-Ku dapat menemukan istirahat dalam hal apapun saja selain daripada Diri-Ku. Umat-Ku dapat menyukai apapun saja tetapi tidak tertarik di dalam Aku. Mereka lebih suka berada di mana saja daripada bersama dengan Aku. Dan mereka semua lebih baik daripada Diri-Ku. 

Saudara-saudara, jikalau Tuhan memberi kita kesenangan untuk menyegarkan kita di dalam perjalanan kita ke Surga, semua itu adalah belas kasihan Allah yang Tuhan berikan di sini tetapi semua itu bukan tempat istirahat kita. Dan jikalau Tuhan melihat bahwa kita mulai menetapkan hati kita di dunia ini, dan kemudian kita mengatakan di sini aku akan beristirahat, tidak heran Dia segera meresahkan kita. Jikalau Dia, Allah itu mencintai kita, tidak heran Allah akan mengambil dunia dari kita. Karena Allah melihat engkau sedang menghancurkan dirimu sendiri. Banyak orang ketika telah menyelesaikan proyek yang besar dengan berhasil, mereka menjadi puas, pensiun, beristirahat di dalam keberhasilannya. Dan di situlah jiwa mendekati kehancuran dan kematian mendadak. Di dalam Alkitab ada tulisan bahwa Yesus memberikan satu perumpamaan. Ada seorang yang bekerja keras dan mengumpulkan hartanya di lumbung. Setelah dia mengumpulkan seluruhnya kemudian dia mengatakan pada jiwanya: “Jiwaku, sekarang tenanglah.” Richard Baxter kemudian menyatakan lihat apa yang dikatakan oleh Yesus: “Kamu bodoh! Kamu orang bodoh! Malam hari ini jikalau jiwamu ini diambil untuk apakah semuanya ini?” Saudara-saudara, Richard Baxter menyoroti perikop ini. Lihat apa yang dilakukan orang ini. Lihat kapan Yesus berkata-kata kepada orang ini, ketika orang ini bekerja keras dan setelah selesai dia menikmatinya, dia mau beristirahat di dalam keberhasilannya, di situlah jiwanya mati. Richard Baxter mengatakan apakah engkau akan menjadikan teman bagi sesuatu yang menjadi musuh Allah? Ini tidak masuk akal. Berkali-kali saya katakan kepada saudara-saudara, Richard Baxter mengatakan, coba pikirkan apa yang kita itu inginkan itu sungguh tidak masuk akal. Perhatikan kalimat yang keras ini: Anda tidak pernah bisa berharap bahwa Tuhan memungkinkan anda menikmati berhala anda tanpa terganggu. Anda tidak pernah bisa berharap Tuhan memungkinkan anda menikmati berhala anda tanpa terganggu. Perhatikan bahwa seluruh berkat Tuhan adalah alat bantu di dalam perjalanan kita ke surga tetapi itu bukan surga. Kesalahan jiwa kita yang paling berbahaya adalah mengganti Tuhan dengan apa yang diciptakan Tuhan.

Hal yang kedua, karena ini bertentangan dengan hukum rohani yang ditetapkan di dalam Alkitab. Ini adalah hukum rohaninya, bahwa kita harus banyak mengalami kesusahan baru masuk di dalam Kerajaan Allah; demikian kata Kisah Para Rasul. Ini adalah hukum rohaninya. Jikalau kita menderita, kita juga akan memerintah dengan Dia. Ini adalah hukum rohani, ini adalah peraturan yang Allah tetapkan dan kemudian Richard Baxter mengatakan apakah engkau mau untuk mengganti peraturan ini untuk dirimu sendiri? Pertimbangkanlah bahwa seluruh masalah dan pekerjaan keras kita adalah cara yang umum untuk kita menghargai istirahat. Pada pagi hari kita bekerja keras membuat pada malam hari kita bisa beristirahat dengan nyenyak. Di dunia ini kita berusaha keras, dan pada waktu kita mati kita mendapatkan daripada saint everlasting rest. Dan itu adalah hukum rohaninya.

Hal yang ketiga, karena Tuhan memberikan masalah adalah agar kita tetap di jalan kekekalan itu dan tidak mengasihi dunia. Adalah tidak masuk akal berpikir bahwa di dunia ini kita bebas daripada masalah dan bisa enjoy life. Kita tanya kepada Baxter kenapa? Karena memang itu diberikan oleh Tuhan supaya engkau dan saya tetap berjalan di dalam jalan kekekalan itu, itu membuat kita tidak mengasihi dunia ini. Salah satu alasan mengapa Tuhan mengijinkan masalah itu adalah supaya anak-anak-Nya tidak mencintai dunia ini. Baxter mengatakan sesuatu kalimat yang penting ini, saudara-saudara perhatikan, tajam ini: Oh betapa hangatnya kasih sayangmu kepada dunia ini dan kasih sayang itu membuat kita tidak merindukan surga. Ketika suara pengkhotbah itu tidak engkau lagi dengar, Tuhan akan memperkeras suaranya melalui penderitaan dalam hidupmu supaya membuat engkau kembali ke jalan itu. Pergumulan adalah cara Tuhan yang paling efektif untuk mencegah kita kehilangan jalan menuju saints’ everlasting rest. Tanpa pagar duri di sebelah kanan dan kiri, kita tidak akan tetap di jalan menuju surga. Hati manusia itu begitu licik dan selalu mencari celah-celah kecil di antara pagar-pagar itu untuk kita meninggalkan jalan peristirahatan surgawi itu. Kita sering liar, kita sering duniawi ataupun sombong. Dan ketika penyakit itu datang dan masalah itu hadir, maka itu adalah cara Allah membuat engkau berlutut. Meskipun Firman dan Roh itu melakukan pekerjaan utamanya, namun penderitaan, trouble, masalah itu membuka pintu hati kita sehingga Firman itu dapat secara langsung masuk ke dalam hati manusia. Perhatikan kalimat-kalimat ini kita sekarang bisa mendudukkan masalah-masalah kita. Setiap masalah yang Tuhan ijinkan meskipun itu pahit; di dalam takut kepada Tuhan, diberikan Allah itu adalah jalan untuk memelihara kita. Itu bukan kesialan bagi kita. Tetapi ini adalah jalan kasih karunia yang Tuhan berikan kepada kita. Setiap masalah-masalah yang ada menahan kita untuk makin mencintai dunia.

Dan sekarang saya akan masuk dalam bagian yang terakhir secara singkat. Di dalam hal ini yang penting adalah ketika masalah itu hadir, yang penting itu adalah jangan mendengarkan teriakan daging kita tetapi dengarlah Firman. Pertimbangkanlah lebih lanjut. Bukankah Alkitab mengatakan roh memang penurut tetapi daging lemah. Yang terutama terganggu ketika kita sengsara adalah daging kita. Lihatlah Paulus dan Silas bernyanyi ketika kaki mereka, daging mereka dirantai, tetapi jiwa mereka tidak bisa dirantai. Jangan dengarkan daging. Jangan menggerutu ketika Tuhan berurusan dengan tubuhmu. Dia melakukannya, Allah melakukannya bukan karena Allah tidak mencintaimu. Ingatlah di dalam Alkitab Dia sudah berurusan dengan tubuh orang-orang kudusnya sebelum engkau. Dan itu adalah bukti bahwa Dia, Allah mengasihi mereka. Jangan berharap tubuhmu mengerti arti didikan Tuhan dengan tongkat ini. Tubuhmu akan berteriak dan mengatakan Tuhan sedang menghancurkan aku. Tetapi sebenarnya Tuhan sedang menyelamatkan engkau. Jangan biarkan dagingmu itu menjadi hakim yang menilai keadaan dirimu dan menuduh Allah. Daginglah yang harusnya menjadi tertuduh. Sebisa mungkin engkau harus bisa menghentikan telinga mendengarkan teriakan tubuh kita dan mencondongkan telinga kita mendengarkan Tuhan dan Firman-Nya. Dan jikalau ini terjadi, maka kita akan memandang saints’ everlasting rest. Sekali lagi, ini adalah meditasi dari orang-orang Puritan. Sesuatu yang asing bagi kita mungkin. Tetapi ini adalah kekayaan gereja. Memeditasi berkenaan dengan surga. Memeditasi berkenaan dengan apa yang Tuhan berikan kepada kita di dalam peristirahatan kekal. Dalam tahun ini kita tahu bahwa banyak hamba Tuhan yang Tuhan panggil. Billy Graham dipanggil oleh Tuhan. Kemaren, J.I. Packer dipanggil oleh Tuhan. Beberapa waktu yang lalu Ravi Zacharias dipanggil oleh Tuhan. Dan saya sangat tersentuh dengan Ravi Zacharias ketika di dalam berita kematiannya dia menuliskan tulisan puisi Richard Baxter. Ini tidak ada di dalam tulisan The Saints’ Everlasting Rest, ini ada di dalam kumpulan puisi Richard Baxter. Saya akan bacakan apa yang ditulis dalam kematian Ravi Zacharias. Tuhan bukanlah bagianku untuk kupikirkan entah aku mati atau hidup. Tetapi mengasihi dan melayani Engkau itulah bagianku. Dan untuk itulah aku butuh anugerah-Mu. Bila umurku panjang, berbahagialah aku agar aku dapat hidup terus untuk taat kepadamu. Dan jikalau pendek, mengapakah aku harus sedih untuk menyambut hari yang kekal itu? Kiranya Tuhan meneguhkan kita untuk memeditasikan surga.

Alamat

556 - 558 Botany Road, Alexandria, NSW, 2015
sekretariat@griisydney.org
0404242433
0430930175

Social Media

Facebook GRII Sydney Instagram GRII Sydney Twitter GRII Sydney

^