[simple_crumbs root="Home" /]
kembali

21 June 2020

Pdt. Agus Marjanto, M.Th

Bersekutu dengan Allah - John Owen (Seri Puritan 3)

2 Korintus 13:13

Khotbah John Owen berjudul Communion with God. Communion with God adalah communion with the Triune God. Communion dengan Allah Tritunggal. Alkitab dengan jelas menyatakan kita dipanggil untuk menyembah Allah Tritunggal di dalam Yesus Kristus. Itu artinya pasti ada perbedaan penyembahan antara agama Kristen dengan agama-agama lain yang menyembah Allah hanya satu saja. Ada perbedaan dengan orang-orang lain yang menyembah Allah itu polytheism karena Allah yang kita sembah adalah Allah yang Trinitarian, Monotheism yang Kristus centric. Allah itu satu adanya, meskipun begitu, adalah benar untuk mengenali perbedaan di antara masing-masing pribadi-Nya. Perbedaan ini bukan suatu keterpisahan. Alkitab mengajar kita untuk mengenali perbedaan di antara masing-masing pribadi-Nya dan memperbolehkan kita memiliki communion dengan tiap-tiap pribadi-Nya. Ini adalah communion yang memegang unity and diversity dari Allah Tritunggal. Banyak orang melihat Allah Tritunggal bukanlah doktrin yang penting atau doktrin yang tidak berdampak dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan sebagian orang Kristen mengatakan doktrin Allah Tritunggal itu mengawang-awang di udara dan hanya cocok untuk dibicarakan di dalam kelas filsafat dan teologia saja. Bagi Puritan tidak seperti itu. Doktrin Tritunggal adalah riil, adalah nyata dalam kehidupan sehari-hari. Boleh dikatakan Sum Total dari seluruh kehidupan Kristen adalah kehidupan yang bergaul dengan setiap pribadi Allah Tritunggal. Dan dari sanalah seluruh kasih dan kebaikan Allah itu diberikan kepada kita. Sekali lagi, Allah Tritunggal adalah dasar dari seluruh kehidupan Kristiani kita. Summary kehidupan Kristen bisa dikatakan sebagai persekutuan dengan Allah Tritunggal. Dan dari Allah Tritunggal-lah maka seluruh hal yang baik untuk kenyamanan jiwa kita itu, kita terima.

Saudara-saudara, di sini dikatakan Communion with God. Apa arti Communion itu? Communion berbeda dengan communication dan berbeda dengan union. Communication adalah pertukaran ide, pertukaran opini dari kedua belah pihak. Tetapi communion adalah suatu sharing yang intim, yang dalam. Communion itu di dalamnya ada communication dan orang yang ber -communion itu memiliki kerinduan berkomunikasi lebih banyak, lebih dalam, lebih besar daripada hanya sekedar communication. Sebenarnya gambaran yang paling tepat dari communion adalah sepasang suami istri yang sedang bersetubuh. Sepasang suami istri yang saling mencintai satu dengan yang lain. Di situ ada tindakan untuk memberi dan menerima kedua belah pihak. Saudara-saudara perhatikan orang-orang Puritan sangat menekankan hal ini: communion with God, intimacy with God, sehingga salah satu kesukaan orang-orang Puritan adalah Kitab Kidung Agung. Di sana dinyatakan bagaimana dua orang kekasih yang merayakan cinta dengan seluruh tindakan aktivitasnya dan sex adalah puncaknya yang tertinggi. Suatu communion antara Allah Tritunggal dengan kita. Itulah sebabnya ketika saudara melihat segala sesuatu gerakan yang menyimpangkan sex, apakah itu adalah suatu pornografi atau suatu gerakan LGBTQ, itu bukan suatu gerakan yang sekedar mem- promote dosa kenajisan di dunia ini tetapi itu adalah suatu tindakan yang menyerang Kristologi.

Kita ditebus untuk apa? Untuk communion with God, untuk mengenal Allah dan dikenal lebih dalam oleh Allah. Communion berbicara panggilan untuk mendekat. Lihatlah orang-orang yang ada di dalam Alkitab. Ada keintiman yang dalam dengan Allah. Alkitab mengatakan: Henokh berjalan bersama dengan Allah, Abraham adalah sahabatnya Allah, Daud adalah biji matanya Allah. Pemazmur mengatakan, “You are my portion, You are my refuge, O Lord.” Semua bicara tentang satu hal ini: keintiman dengan Allah. Perhatikan hal yang penting di dalam communion ini. Di dalam communion harus ada unsur menerima dan memberi kedua belah pihak. Communion bukan saja menerima, communion adalah menerima dan memberi, ini adalah mutual relation. Tidak ada communion di mana tidak ada participation. Ini adalah sesuatu yang penting sekali.

Orang-orang Puritan, orang-orang Reformed selalu mengajarkan ketetapan Allah, kedaulatan Allah, ketidakberubahan Allah, tetapi responnya tidak pernah menjadi seorang apatis Calvinism, seorang Calvinist yang tidak berperasaan, seorang Calvinist yang berpikir bahwa respon-respon seseorang itu tidak relevan di dalam isi hatinya Allah. Kalau saudara-saudara membaca tulisan-tulisan dari Puritan, maka saudara akan menemukan bahwa Kekristenan itu adalah agama hati. Kalimat ini bukan saja berbicara mengenai motivasi yang benar, tetapi ini adalah bicara berkenaan dengan inti pergaulan bersama dengan Allah yang melibatkan hati, hati Allah dan hatiku. Allah yang berdaulat yang tidak berubah itu, bukan dipandang sebagai mesin yang besar. Dia tidak statis tetapi dinamis sekali. Dia bisa didukakan atau disukakan oleh keputusan-keputusaan kita bahkan di saat Dia berada di dalam realm kekekalan saat ini. Inilah orang-orang Puritan, teologia Reformed yang sangat kokoh dan solid. Tidak kompromi dan mengajarkan dengan taruhan darahnya. Tetapi saudara melihat bagaimana teologia yang solid itu menghasilkan suatu kehidupan yang berkobar bagi Allah. Kenapa saat ini kita makin mempelajari teologia, kita makin dingin dan makin kaku, makin tidak berdoa? Orang-orang Puritan adalah seorang pendoa yang sangat kuat sekali dan doanya lahir dari teologia Reformed yang sangat ketat ini. Bagi saya ini bukan suatu tambahan, teologia Reformed kemudian ditambahkan doa, tetapi ini sebenarnya hasil dari ketaatan kalau kita mengerti teologia Reformed. Sungguh-sungguh mengerti, bukan dengan pikiran saja tapi dengan hati. Maka ketaatan kepada apa yang kita mengerti itu menghasilkan doa yang tekun. Kita adalah orang-orang yang berteologia Reformed yang berkobar-kobar bagi Allah. Ada suatu communion di dalam hati, dari hati kita kepada Allah.

Saya sudah berbicara berkenaan dengan communication dan communion, sekarang saya akan bicara berkenaan dengan union. Union with Christ, kesatuan dengan Kristus adalah dasar dari kemungkinan communion with God atau boleh dikatakan adalah communion with God adalah buah yang mengalir keluar dari union with Christ. Persekutuan dengan Allah lahir dari kesatuan kita dengan Kristus. Perhatikan sekarang hal yang penting ini ditegaskan oleh Owen: Union with Christ itu stabil, tetap, tidak bergoncang dan tidak bisa hilang, tetapi communion with God itu sering terjadi naik turun dan bahkan kadang sering terjadi block. Kadang kita merasa jauh dari Tuhan dan kadang kita merasa sangat dekat dengan Tuhan. Pergumulan apa pun yang terjadi di dalam hidup kita tidak pernah membuat resiko kepada union with Christ, tetapi jelas ada masa-masa di dalam kehidupan pemercaya, communion with God itu terasa seperti terputus. Sekali lagi, apa pun keadaan saudara dan saya, jikalau kita ada di dalam Yesus Kristus, Dia tidak berubah, Dia tetap memegang kita, Dia adalah setia meski kita tidak setia. Tetapi Dia tidak mengijinkan kita terus tetap di dalam dosa. Dia tidak terus membiarkan kita tidak taat. Dia bisa diam. Dia bisa mendisplinkan kita. Dia bisa untuk sesaat menutup wajah-Nya terhadap kita. Alkitab mengatakan: Dia sering sekali menghajar kita seperti bapak menghajar anak-anaknya tetapi semuanya dilakukan-Nya di dalam kasih-Nya kepada kita dan itu adalah communion with God.

Malam hari itu ketika Kristus mau meninggalkan murid-murid-Nya dan besok pergi ke atas kayu salib dan besok mereka semua akan tercerai-berai, di dalam Yoh. 14-16, saudara menemukan hal ini: Seluruh murid-murid-Nya gelisah, Yesus mengatakan, “Jangan gelisah hatimu.” Apa yang membuat mereka gelisah? Salah satu yang membuat mereka gelisah yang disoroti oleh Owen di sini adalah mereka tidak yakin apa pendapat Allah kepada mereka. Mereka tahu bahwa Yesus Kristus mengasihi mereka, tetapi bagaimana pendapat Allah terhadap mereka? Apa yang dipikirkan-Nya? Apa isi hati Allah kepada mereka? Mungkin kemarahan, mungkin ketidakpedulian. Di sini poin yang Owen itu majukan. Kita sering berpikir seperti murid-murid Yesus berpikir bahwa Yesus mengasihi aku dan atribut Yesus adalah kasih, tetapi tidak demikian dengan Allah. Kita berpikir bahwa Allah itu Maha Kuasa, berdaulat, suci adanya, Allah yang seperti itu adalah Allah yang judgemental, yang keras, yang jauh, yang tidak terhampiri. Banyak orang yang kemudian takut kepada Allah dan berusaha untuk menghindari-Nya. Tetapi kemudian Yesus tiba-tiba berbicara dan ini adalah satu ayat kunci, saudara bisa lihat di dalam Yoh. 16:26-27. Yesus mengatakan, “Pada hari itu kamu akan berdoa dalam nama-Ku.Dan tidak Aku katakan kepadamu, bahwa Aku meminta bagimu kepada Bapa, sebab Bapa sendiri mengasihi kamu...” Perhatikan baik-baik ayat ini, Yesus katakan Aku tidak lagi meminta kepada Bapa, sebab Bapa sendiri mengasihi kamu. Ini tidak bicara bahwa kita tidak perlu lagi mediatorship dari Yesus Kristus, kita tetap memerlukan mediatorship dari Yesus Kristus sampai selama-lamanya. Tetapi yang mau ditekankan dalam ayat ini adalah adanya keberadaan kasih Bapa yang exist untuk kita. Banyak dari kita tidak memperhatikan kasih Allah ini. Sekali lagi, kita berpikir bahwa Yesus itu mengasihi tetapi Allah itu tidak.

Saudara-saudara, di dalam Perjanjian Lama, Musa pernah berdoa Show me Thy Glory dan kemudian Allah itu berjalan melewati di depan dia. Allah yang Kudus yang kemuliaan-Nya adalah kekudusan-Nya. Apakah saudara dan saya mengingat apa yang diucapkan Allah ketika Dia berjalan? Kel. 34:5-6 mengatakan: Berjalanlah Tuhan di depan Musa dan kemudian berseru: “TUHAN, TUHAN, Allah penyayangdan pengasih, panjang sabar,berlimpah kasih-Nyadan setia-Nya.” Perhatikan apa yang dimunculkan di sini, ketika Allah menyatakan sendiri diri-Nya, TUHAN, TUHAN, God of Covenant, Allah yang penyayang dan pengasih, panjang sabar dan berlimpah kasih-Nya dan setia-Nya. Owen mengatakan: Lihatlah Allah yang mengasihi engkau. Jangan engkau merendahkan Dia. Lihatlah Dia di dalam iman yang Alkitab katakan percayalah. Kalau engkau tidak mempercayai akan kasih-Nya maka engkau tidak akan maju di dalam mempercayai-Nya, engkau tidak akan bisa menyerahkan nyawamu kepada Dia, engkau tidak akan memiliki keindahan dan kenikmatan bersekutu dengan Dia. Jikalau engkau tidak mempercayai Allah yang mengasihi engkau, engkau tidak akan tahan lama ketika bersekutu berdoa bersama kepada Dia, engkau tidak akan kuat untuk berjaga-jaga mencari wajah-Nya. Sebaliknya, seseorang yang tidak mempercayai kasih Allah akan melihat kemegahan, kemuliaan dan kebesaran Allah sebagai malapetaka bagi dia. Allah yang jauh yang tidak terjangkau di sana. Sebaliknya, mengerti sifat Allah yang mengasihi, penuh kelembutan dan compassion kepada orang-orang pilihan-Nya, saudara dan saya, membuat kita merindukan persekutuan dengan Dia dan tidak dapat menanggung satu jam saja terpisah dari Dia. Owen berseru demikian: Orang Kudus-Nya Allah, lihatlah Alkitab, pandanglah Allah yang mengasihimu. Saudara-saudara, ingatlah bahwa khotbah ini diberikan kepada jemaat yang mengalami begitu banyak kesulitan. Keadaan Inggris pada waktu itu sangat kacau balau. Saudara-saudara akan mengerti bahwa pengenalan akan kasih Allah akan membuat mereka memiliki iman yang kokoh. Ini adalah suatu pengertian kasih yang berbeda dengan banyak pengkhotbah masa kini yang berbicara mengenai kasih. Orang-orang sekarang ketika berbicara tentang kasih tidak mengerti apa yang sesungguhnya terjadi. Dan kata kasih itu kemudian dimanipulasi oleh seorang yang berjiwa dosanya luar biasa dan menjadi suatu teologia yang tidak karu-karuan. Ketika Owen menyatakan ini, menghasilkan jemaat yang sungguh-sungguh rest in Him, jemaat yang sungguh-sungguh delight in Him, jemaat yang sungguh-sungguh menghormati Allah dan yang sungguh-sungguh mau hidup di dalam ketaatan karena kasih yang keluar dari hatinya kepada Allah. Saudara-saudara mari perhatikan beberapa hal ini yang menjadi penekanan:

Hal Pertama, siapa yang mengasihi engkau dan saya. Bapa yang mengasihi. Siapa Bapa yang mengasihi itu? Dia adalah Allah yang cukup pada Diri-Nya sendiri . All sufficient. Dia tidak kekurangan apa pun saja. Tidak kekurangan kasih di dalam kekekalan. Ini adalah Bapa dengan cinta kepada kedua pribadi yang lain, Anak dan Roh Kudus. Ketika Owen mengatakan communion with Godthe Father in love maka Alkitab menyatakan ini adalah love di dalam InnerTrinitarian. Ada suatu kasih di dalam Allah Tritunggal: Bapa, Anak dan Roh Kudus saling mengasihi. Dan kasih di antara Mereka adalah kasih yang suci, sempurna, yang tidak bercacat. Ini adalah cinta dari Allah yang ada di dalam diri-Nya sendiri yang serba mencukupi, penuh, tanpa batas dalam diri-Nya sendiri dengan kesempurnaan yang sempurna. Dia tidak perlu pergi maju dengan cinta-Nya kepada orang lain atau mencari objek di luar diri-Nya sendiri. Dia memiliki Anak-Nya yang tunggal. Dia memiliki kebijaksanaan pribadi yang abadi. Dan di antara ketiga daripada Allah Tritunggal, mereka bersukacita di dalam suatu sukacita yang kekal. Bapa tidak mengasihi orang-orang kudus karena kesepian atau kebutuhan-Nya. Sebaliknya Bapa berlimpah dalam seluruh kecukupan, sukacita bahkan di dalam Anak-Nya. Kalau Saudara melihat dalam Alkitab, kasih Bapa kepada Sang Anak itu begitu jelas, di dalam baptisan dan transfigurasi maka tiba-tiba ada suara dari langit, “Inilah Anak-Ku yang Ku kasihi, dengarlah Dia.” Yesus berkali-kali berkata seperti ini, “Bapa mengasihi Aku dan telah menyerahkan segala sesuatu kepada-Ku.” Bapa mengasihi Anak dan Dia menunjukkan kepada-Nya segala sesuatu yang dikerjakan-Nya sendiri. Bapa mengasihi Aku oleh karena Aku memberikan nyawa-Ku untuk menerima-Nya kembali. Alkitabdengan jelas menyatakan kasih Bapa diberikan kepada Anak. Sekali lagi Owen menegaskan hal ini. Siapa yang mengasihi kita? Bapa yang di dalam Tritunggal, Mereka saling mengasihi satu sama yang lain, cukup, sempurna, lengkap, tidak kurang sesuatu pun.

Ada kepuasan dan kesukaan yang sempurna di dalam Tritunggal, tetapi kehendak Bapa juga untuk memberikan kasih-Nya tersebut kepada kita. Kasih yang diberikan kepada kita adalah kasih yang mengalir yang keluar dari kasih di dalam Tritunggal . Ada satu ayat yang sangat kita tidak perhatikan, tetapi inilah keunggulan dari orang-orang yang dipakai oleh Tuhan, kejeliannya. Yoh. 17:23. Ada satu kalimat yang sangat menakjubkan dan menjadi ayat kunci di dalam poin yang pertama ini. Apa itu? Yesus ketika Dia berdoa kepada Bapa, Dia mengatakan satu kalimat ini: “Engkau mengasihi mereka, sama seperti Engkau mengasihi Aku .” Siapa manusia yang bisa tahu kalimat itu? Kalau kalimat itu tidak ditulis di dalam Alkitab kita tidak mungkin mempercayainya. Bahkan kalimat itu ditulis di dalam Alkitab dan saudara dan saya membaca, kita sulit mengertinya. Itu adalah kasih di dalam InnerTrinitarian, kasih antara Bapa, Anak dan Roh Kudus. Dan ketika Allah itu mengasihi saudara dan saya, Yesus mengatakan: Allah mengasihi engkau, persis sama seperti Dia yang mengasihi Aku. Siapa yang bisa mengerti ayat itu? Owen berkali-kali mengatakan, orang yang mengerti kasih Allah ini, maka orang itu akan merendahkan dirinya di hadapan Allah. Dia akan tahu, sadar apa artinya tidak layak. Dia tidak akan menjadi kurang ajar dan meminta sembarangan kepada Allah. Sebaliknya dia akan hidup hormat di hadapan Allah. Kasih yang kita terima adalah kasih di dalam InnerTrinitarian.

Owen kemudian maju lagi. Lalu untuk apa itu diberikan? Kenapa Bapa mengasihi kita? Kenapa itu diberikan? Jawabannya adalah pasti bukan untuk Bapa, karena Tritunggal cukup di dalam segalanya di dalam diri-Nya sendiri. Dia tidak perlu mencari kepuasan di luar diri-Nya sendiri. Lalu untuk apa itu diberikan? Adalah untuk kebaikan umat-Nya dan kepuasan umat-Nya. Saya mengerti satu hal ini meskipun sangat jauh tetapi ini adalah sesuatu yang diajarkan oleh Alkitab: Kepuasan dari diri manusia yang diciptakan itu adalah ketika kita bisa mengasihi Allah, dan ketika kita bisa mengasihi Allah kuncinya satu yaitu di dalam ketaatan, dan ketaatan akan membuat kepuasan di dalam hidup kita. Ini bicara berkenaan dengan delight di dalam hidup. Kita berkali-kali bicara berkenaan dengan ketaatan adalah sesuatu yang membebani kita. Ada sesuatu yang salah disuntikkan oleh dunia dan setan di dalam pikiran yang kita percayai. Saudara-saudara, ketaatan itu adalah kemuliaan dari manusia yang diciptakan. Alkitab mengatakan, “Jikalau engkau mengasihi Aku, engkau akan menaati seluruh Firman-Ku.” Cinta itu yang membuat kita puas. Saudara-saudara bisa melihat hubungannya: kepuasan, cinta dan ketaatan itu menjadi satu rangkaian di dalam hidup orang Kristen.

Hal kedua, Owen menyatakan perhatikan sifat-sifat, karakter dari kasih-Nya. Ada beberapa hal di sini:

  • Yang pertama, kasih Allah itu diberikan kepada seseorang diwujudkan dengan diberikannya Yesus kepada orang tersebut.

Saya akan jelaskan. Allah di surga itu kasih-Nya tidak kelihatan. Tetapi Alkitab memberikan satu pengertian ini, mau tahu apakah Allah di surga itu mengasihi engkau atau tidak? Maka tanda Allah mengasihi engkau atau tidak adalah kuncinya satu: Apakah Dia memberikan Kristus kepadamu? Apakah engkau mengenal siapa sesungguhnya Kristus? Tentu bukan pengenalan yang palsu, bukan sesuatu ikut-ikutan, tetapi mata kita dibukakan oleh Roh Kudus melihat kemuliaan Kristus dan kemudian kita mau takluk kepada ketuhanan-Nya. Ayat kunci adalah 1 Yoh 4:8-9. Dikatakan di sini Allah adalah kasih: “Dalam hal inilah kasih Allah dinyatakan di tengah-tengah kita yaitu bahwa Allah telah mengutus anak-Nya yang tunggal ke dalam dunia supaya kita hidup oleh-Nya.” Perhatikan, dalam hal inilah kasih Allah dinyatakan di tengah-tengah kita: Bahwa Allah telah mengutus Anak-Nya yang tunggal. John Owen menyatakan: Perhatikan apa yang Alkitab katakan, Allah di surga mengeluarkan kasih-Nya kepada kita dengan mengirimkan Anak-Nya yang tunggal ke dunia supaya kita hidup. The only begotten Son. Sekali lagi saudara-saudara, tanda bahwa Allah matanya tertuju kepada kita adalah apakah kita menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan kita. Kenapa menerima Kristus itu adalah bentuk Allah mengasihi seseorang? Karena Kristus itu adalah bentuk pengorbanan tertinggi dari Allah.

Perhatikan prinsip ini di dalam Alkitab. Kasih itu di dalam Alkitab selalu direlasikan dengan korban dengan harga yang harus dibayar. Ini adalah kasih Agape. Kata ini kalau keluar selalu dikaitkan dengan korban. Misalnya saja Yohanes 3:16, saudara perhatikan: “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal.” Perhatikan, kasih itu muncul, maka ada korban, ada harga yang harus dibayar. Efesus 5:25: “Hai suami, kasihilah istrimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya bagi dia.” Saudara perhatikan, Kristus mengasihi dan telah menyerahkan diri-Nya. Yohanes 15:13: “Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seseorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.” Saudara perhatikan, setiap kata kasih itu muncul, pasti ada sesuatu harga yang harus dibayar. Dalam hal inilah kasih Allah dinyatakan kepada kita, bahwa Ia mengutus Anak-Nya supaya kita hidup. Saudara-saudara, sekarang perhatikan prinsip ini. Kita melihat di dalam Alkitab, Yesus memberikan perdamaian antara Bapa Allah dengan kita. Kita menjadi musuh Allah ketika kita berdosa. Dia datang mendamaikan Allah dengan kita. Dan itu benar, tetapi saudara-saudara perhatikan apa yang sekarang Owen tekankan. Owen memutarnya seturut dengan prinsip Alkitab. Ini juga benar. Mengapa Yesus diutus kepada kita? Kenapa kita bisa mengenal Yesus? Karena Bapa terlebih dahulu mengasihi kita . Karena Bapa mengasihi kita, maka Bapa mengutus Yesus kepada kita. Saudara-saudara, bukan saja Yesus membawa kita berdamai dengan Allah, dan itu benar, tetapi, di tempat yang lain adalah juga benar Bapa mengasihi kita pada mulanya, maka Dia mengirim Kristus bagi kita. Ini adalah presentasi yang berkali-kali ditekankan oleh John Owen.

Di dalam kaitannya dengan kasih Allah Bapa, maka Kristus itu adalah sinar dari matahari. Kristus itu adalah aliran dari sumber mata air, dan matahari dan sumber mata air itu adalah Allah Bapa. Kita tidak bisa mengerti adanya matahari itu tanpa sinarnya sampai ke mata kita. Kita tidak mungkin mengerti ada sumber mata air yang memancar tanpa adanya aliran air sampai ke tempat kita. Dan sebaliknya juga, sinar yang datang kepada kita membawa kita untuk bisa melihat dari sumber sinar itu yaitu matahari. Aliran air yang sampai kepada kita, ketika kita menelusurinya kembali maka kita akan dibawa ke sumber mata air itu. Kita tidak mungkin mengerti ada sumber mata air di sana kalau tidak ada air di depan kita. Demikian juga Kristus dengan Bapa. Kristus itu keluar dari cinta kasih Bapa kepada kita dan telusurilah Kristus itu akan membawa kita ke sumber-Nya yaitu Bapa. Itulah sebabnya Alkitab mengatakan hal-hal ini. Allah adalah kasih. Karena Allah begitu mengasihi dunia ini maka dikaruniakan Anak-Nya yang tunggal kepada kita. Dan Yesus berkata: “Akulah jalan, dan kebenaran, dan hidup, tidak seorang pun sampai kepada Bapa kecuali melalui Aku.” Luar biasa! Pribadi Kristus membawa kita untuk mengenal Bapa. Itulah sebabnya suatu hari Filipus bertanya, “Tunjukkan Bapa itu kepadaku.” Kemudian Yesus mengatakan, “Kau sudah bersama-sama dengan Aku selama ini kamu tidak kenal Bapa. Kau melihat Aku, kau melihat Bapa.” Perhatikan kalimat ini. Kristus adalah bukti perkenaan Allah kepada saudara dan saya. Kristus adalah bukti Allah mengasihi engkau dan saya. Kita seringkali berdosa di dalam hal ini. Kita take it for granted sebagai orang Kristen dengan Yesus Kristus. Kita sudah diberikan mahkota, tetapi kita mau mencari hal-hal yang kecil-kecil, yang tidak berarti, debu di jalanan. Dan kita mengatakan kepada Tuhan, aku tidak dikasihi oleh Engkau, aku gagal dalam pekerjaan, aku kurang kaya, aku kurang sehat, aku tidak berhasil dalam hal itu, dalam hal ini, dan kemudian kita mengasihani diri kita. Kita tidak mengerti apa yang sebenarnya engkau dan saya sudah dapatkan. Kristus adalah bukti nyata Allah mengasihi kita. Dan itu diucapkan Owen di tengah-tengah seluruh jemaatnya yang menderita dan yang mati. Orang-orang yang dikasihinya mati seperti itu. Tetapi itulah apa yang Alkitab katakan. Siapa yang menghakimi kita? Kristus Yesus yang malah menjadi pembela bagi kita. Maka apa pun itu pedang, apa pun itu penganiayaan, apakah itu kemiskinan atau ketelanjangan, tidak ada yang dapat memisahkan kasih Allah dalam diri kita di dalam Yesus Kristus! Allah mengasihi kita.

  • Yang kedua, karakter dari kasih Allah adalah kasih yang bebas, yang free.

Kasih-Nya bukan keluar dari kewajiban atau keperluan Allah. Kasih-Nya juga keluar bukan karena ada suatu intrinsik yang berharga di dalam diri kita yang membuat Dia harus mengasihi. Allah tidak kurang sesuatu apa pun. Allah tidak berhutang kepada siapa pun. Jadi jikalau Dia mengasihi, maka kasih yang diberikan kepada kita adalah gracious love. Ini adalah kasih yang berasal mula dari diri-Nya sendiri, itu tercipta di dalam diri-Nya sendiri. Itu kata yang penting. Bukan dicipta, tetapi berasal mula dari dalam diri-Nya sendiri . Karena God is love. Bukan Allah yang memiliki kasih, tapi God is love. Ini adalah kasih yang berasal mula dari diri-Nya sendiri yang ditujukan kepada kita. Allah yang memilih untuk mengasihi kita, bukan karena sesuatu yang ada di dalam diri kita yang membuat Dia mau mengasihi kita, membuat Dia tertarik untuk mendekat kepada kita. Bukan karena kita menjadi anak yang baik terlebih dahulu atau kita menjadi orang yang mengasihi Allah terlebih dahulu sehingga Dia kemudian mengasihi kita. 1 Yohanes 4:10 mengatakan, “Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita.” Sekali lagi, kalimat ini adalah benar daripada Reformator : Bukan karena kita berharga, maka Allah mengasihi kita, tetapi Allah mengasihi kita terlebih dahulu, sehingga itulah kita berharga.

  • Yang ketiga, karakter daripada kasih Allah adalah kasih yang kekal, yang terus menerus (constant), tetap mengasihi apa pun saja yang terjadi, tidak berubah .

Bukan berdasarkan musim. Bukan berdasarkan mood. Bukan karena kegairahan yang besar, lalu kemudian menyusut beberapa waktu kemudian. Tetapi ini adalah kasih yang kekal, yang tidak berubah. Owen di sini ditantang dengan pertanyaan: Apakah benar Allah tetap mengasihi ketika seseorang itu berdosa? Owen mengatakan: Ya, dengan kasih yang tetap dan kekal, meski tidak dosa yang dikasihi oleh Dia. Thomas Goodwin bahkan menyatakan: Mata Allah itu terangsang, ter- stimulate dengan belas kasihan daripada kemarahan kepada anak-anak-Nya yang berdosa. Saudara-saudara, ketika kita jatuh ke dalam dosa, kita berpikir bahwa Allah tidak mengasihi aku lagi. Alkitab mengatakan tidak, Allah tetap mengasihi kita. Dia setia meski kita tidak setia. Kalau saudara mengerti ini dan merenungkannya sampai dalam, Dia sudah menetapkan di dalam diri-Nya Dia mengasihi kita, apa pun yang saudara dan saya lakukan, maka saudara akan mengerti bagaimana itu takut akan Allah. Takut akan Allah yang terjadi dalam hidup kita bukan karena takut akan penghakiman, penghukuman-Nya, tetapi takut karena Dia terlalu baik dan mencintai kita, meskipun kita tidak setia. Di dalam Alkitab, saudara melihat kasih Allah itu diberikan kepada orang-orang yang dipilih-Nya. Sorot mata belas kasihan kepada perempuan yang berzinah yang mau dilempar batu. Sorot mata kepada Matius yang sedang duduk di rumah cukai. Ketika saya membaca tulisan itu, hati saya remuk. Saudara tahu bahwa orang-orang pemungut cukai itu sama berdosanya dengan orang-orang yang melacur. Saudara-saudara bisa bayangkan ketika Matius ada di rumah pemungut cukai dan sedang menghitung seluruh keuntungan itu, itu persis sama dengan seseorang yang sedang melacur saat itu. Tetapi Alkitab mengatakan Yesus melihat Matius. Mata bertemu dengan mata. Persis seperti Yesus memandang Petrus ketika dia baru saja mengkhianati Yesus. Apa yang ada di dalam mata Yesus Kristus? Penghakiman? Tidak! Belas kasihan kepada pendosa. Itulah yang membuat Petrus kemudian lari dan nangis. Kemudian Yesus berbicara kepada Matius, “Ikut Aku, Matius.” Alkitab mengatakan, segera dia melepaskan dan kemudian mengikut Yesus Kristus.

Mata Allah memandang kita dengan belas kasihan lebih daripada kemarahan ketika anak-Nya berdosa. Owen menegaskan berkali-kali, apa pun yang terjadi kepada kita, ketika kita sudah berdosa pun, Dia setia. Alkitab mengatakan, Dia setia meskipun kita tidak setia. Bahkan di dalam Perjanjian Lama, Dia sudah membukakan diri-Nya begitu jelas. Seperti seorang suami kepada istrinya, Allah menunjukkan kasih-Nya dan setia-Nya yang meluap kepada Israel. Sampai-sampai di dalam hal ini, Dia minta untuk seluruh manusia yang hidup menguji Dia. Kepada Israel yang memberontak kepada Dia, Dia mengatakan demikian, “Beritahukan kepada penduduk Yerusalem, beginilah Firman Tuhan. Aku teringat akan kasihmu pada masa mudamu, kepada cintamu pada waktu engkau menjadi pengantin, bagaimana engkau mengikuti Aku di padang gurun ketika itu Israel kudus bagi Tuhan. Dengarlah Firman Tuhan, hai keturunan Yakub! Beginilah Firman Tuhan. Apakah kecurangan yang didapati nenek moyangmu kepada Aku sehingga engkau menjauh dari pada Aku?” Ini adalah seperti seorang laki-laki bicara kepada istrinya, “Katakan kepadaku, apa kecurangan yang sudah aku lakukan sehingga engkau berzinah?” Di Yesaya 5, Dia mengatakan, “Hai, Yehuda, adililah antara Aku dan kebun anggur-Ku. Adililah Aku! Apakah yang harus Aku perbuat untuk kebun anggur-Ku yang belum Aku perbuat kepadanya?” Luar biasa. Dia memanggil orang untuk mengadili cinta-Nya, dan itu adalah cinta yang tidak pernah berubah, meskipun mereka berubah.

Keputusan dan kehendak-Nya adalah untuk mengasihi kita, untuk mengejar kita, untuk memenangkan hati kita, untuk membawa hati kita kembali kepada Dia. Dalam hal ini, perhatikan kalimat di bawah ini, Allah yang mengasihi kita adalah Allah yang mengejar kita . Kalau saudara mengerti kalimat ini, Owen mengatakan itu akan membuat hatimu itu direndahkan. Engkau tidak akan main-main sama Tuhan. Saya teringat akan anak yang terhilang. Bagaimana dia ada di dalam kasih bapanya kemudian dia rasa di luar itu lebih baik. Kemudian dia melakukan pekerjaan-pekerjaan yang kurang ajar. Dia meminta warisan kemudian pergi keluar memfoya-foya, menghamburkan semuanya. Sampai kemudian akhirnya dia jatuh, dan di kandang babi itu turning point -nya ketika dia menyadari dirinya. Lalu dia kembali ke tempat bapanya. Dan saudara lihat apa yang bapanya itu lakukan? Alkitab mengatakan bahwa bapanya itu menunggu di depan rumahnya dan kemudian dia melihat ada sosok seseorang yang sedang jalan dengan terguntai-guntai dan sangat lesu sekali. Bapanya langsung dari kejauhan itu tahu ini adalah anaknya. Dan apakah yang terbaik dari kalimat dalam perikop itu? Bapa itu kemudian berlari menjumpai anaknya. Anaknya bahkan sudah tidak punya kemampuan untuk kembali ke rumah. Bukan saja malu, bukan saja takut, kekuatannya sudah tidak ada. Dia tadinya muda, dia berlari keluar. Tetapi dengan tertatih-tatih, dia kembali ke rumah. Bapanya yang lari. Kasih Allah adalah kasih yang mengejar dan anaknya kemudian mengaku dosanya. Dan ketika dia mengatakan, “Bapa, aku tidak layak lagi…” “Sssh! Diam. Diam.” Dan kemudian dia berteriak, “Seluruh pembantu, ambil jubah untuk dia. Ambil sandal untuk dia. Ambil cincin untuk dia. Anakku sudah pulang kembali ke rumah.” Itulah cinta Bapa kepada kita.

  • Yang keempat, Owen mengatakan kasih Allah ini adalah kasih yang membedakan .

Allah tidak memilih seluruh dunia untuk dikasihi. Dengan jelas, Alkitab mengatakan Allah memilih Yakub dan membenci Esau. Mengapa Dia menetapkan mata-Nya kepada kita dan melewati jutaan yang lain? Bahkan kita tidak berbeda dengan semua manusia yang dilewati-Nya itu. Mengapa Dia membuat kita termasuk di dalam kasih-Nya dan mendapatkan buah dari cinta-Nya di mana pada saat yang sama banyak orang yang besar dan hebat di dunia tidak termasuk di dalamnya? Ini adalah prinsip dari predestinasi. Owen mengatakan, biarlah semua orang, hati orang-orang yang dipilih-Nya boleh disentuh oleh prinsip ini, boleh diremukkan, ditaklukkan, dan ditawan oleh Dia. Saya akan jelaskan. Banyak orang bertanya tentang predestinasi, dan selalu yang muncul adalah orang bertanya tentang Allah yang tidak adil. Kenapa sebagian dipilih dan sebagian tidak? Orang kemudian mempertanyakan tentang kedaulatan Allah. Saudara dan saya biarlah kita tidak gagal fokus. Banyak sekali dari pikiran-pikiran kita yang berdosa yang kemudian kita gagal fokus. Saya teringat akan peristiwa beberapa tahun yang lalu saya bersama dengan anak saya. Pada waktu itu saya pertama kali ke Sydneydan berpikir tidak akan menginjak Sydney lagi. Saya kemudian pergi ke Opera House dan mengajak Ivana, anak saya yang masih kecil. Kemudian saya bicara kepada Ivana, “Ini adalah Opera House ”. Pada waktu itu maka ada sekelompok orang, yang mungkin juga tidak sengaja, menyebarkan potongan kertas warna warni yang sangat banyak, mungkin ribuan. Kemudian kami pulang dan menginap semalam. Saya masih ingat malam itu saya bertanya kepada Ivana, “Bagaimana tadi Opera House, bagus tidak? Kemudian dia mengatakan, “Bagus, kertasnya banyak, warna-warninya banyak.” Saudara-saudara, gagal fokus. Apa yang seharusnya dilihat kemudian tidak dilihat.

Ketika berbicara mengenai predestinasi, apa yang seharusnya kita lihat? Efesus 1:4-5 mengatakan, “Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya.” Perhatikan, dalam kasih, Allah telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus menjadi anak-anak-Nya sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya. Apa yang ada di dalam ayat itu? Apa titik beratnya? Love of God. Love of God. Yang saudara harus pertanyakan sebenarnya adalah why have you chosen me ? Bukan bicara berkenaan dengan kedaulatan Allah atau keadilan Allah. Ya, saudara boleh bertanya itu. Tetapi apakah mata hati kita terfokus terlebih dahulu dengan kasih Allah atau tidak? Seorang bertanya mengenai predestinasi, mengatakan Allah tidak adil, mempermasalahkan kedaulatan Allah. Mengapa seperti ini? Mengapa ada predestinasi? Maka saya katakan, saya tidak tahu. Bahkan Paulus pun di dalam kitab Roma mengatakan, dia tidak tahu, dia tidak mengerti cara kerja Tuhan. Tetapi kalau saudara katakan, bahwa Allah tidak adil, saya akan menjawab, ya, Dia tidak adil. Dan bentuk ketidakadilan Allah yang paling jelas adalah saudara dan saya. Orang seperti ini kok bisa diselamatkan? Yang kalau ke gereja saja, boleh niat atau boleh tidak. Gereja saja terlambat. Kalau tidak ada kerja hari Minggu, baru pergi ke gereja. Yang baca Alkitab saja jarang-jarang. Yang kalau sudah kena covid, kebetulan.. saya bisa ibadah di rumah tanpa rasa bersalah. Saudara, apa ada orang-orang yang seperti ini, kelakuan seperti ini di seluruh Israel? Mereka memegang hukum. Mereka berdoa tiga kali sehari. Kalau mereka mau beribadah, jangankan masuk ke ruang maha suci, mereka cuma di pelataran depan saja. Mesias diturunkan kepada mereka. Kata-kata terminologi Mesias, Bait Allah, Raja, Imam, Nabi, itu seluruhnya penbendaharaan orang Israel. Tetapi Alkitab mengatakan sebagian besar dari mereka binasa dan orang seperti saya dan engkau yang berdosa ini diselamatkan. Dan kita sama sekali tidak pernah pergi ke Golgota, kita bahkan tidak pernah melihat secara utuh kayu salib itu dan kita diselamatkan. Saudara mau bicara ketidakadilan? Ya benar. Kita, saya dan saudara, bentuk ketidakadilan Allah. Tetapi itu kasih. Kasih Allah kepada orang-orang yang dipilih-Nya, yang dibuat-Nya mendekat, dikasihi, diberikan anugerah, yang tidak layak, yang tidak tahu apa-apa kemudian dihidupkan dan dibuat-Nya dipanggil mendekat. Bukankah satu kalimat ini yang seharusnya muncul ketika kita bertemu dengan Allah? Why have you chosen me ? Dan saya akan menutup semuanya ini.

Communion itu tidak bisa hanya satu pihak. Communion selalu berbicara dua pihak. Kita menerima dan kemudian kita memberi. Dan inilah yang diminta oleh Alkitab. Satu kalimat ini yang diserukan oleh John Owen: Jemaat, berikan hatimu kepada Allah! Kasihilah Dia. Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu. Orang yang mengerti, menerima kasih Allah akan memiliki sesuatu kesukaan di dalam Dia, akan memiliki satu kehormatan, hidup yang mencari kehormatan bagi Allah saja, dan kesukaannya akan mendorong untuk dia taat. Owen mengatakan tidak ada yang lebih horror daripada ketaatan orang Farisi. Suatu ketaatan kepada hukum-hukum tetapi tidak muncul dari kehangatan cinta dari hati. Kalau kita tidak suka di dalam ketaatan kita, kita belum mengenal kasih Allah. Kalau di dalam seluruh penjabaran kasih ini, saudara mendengarkan kata kasih lalu membuat saudara hidupnya makin tidak karu-karuan, bukan mengabdi kepada Allah, tetapi take it for granted dan kemudian menggunakan Allah untuk kebutuhan saudara seperti teologi sukses yang menjijikkan itu, saya katakan, saudara tidak mengenal Allah yang mengasihi engkau! Itu suatu kekejian di hadapan Allah. Orang yang mengenal Allah, orang yang mengenal kasih Allah, orang tersebut akan hidup untuk mengabdi kepada Allah. Orang tersebut akan memiliki satu contentment yang dalam di dalam Allah saja.

  • Hal terakhir adalah Rest.

Delight, reverence, obedience dan yang terakhir adalah rest. Jiwa yang tenang, tidak gelisah di dalam janji-janji Allah. John Owen adalah orang yang raksasa rohani. Dia bukan sekedar mengkhotbahkannya. Dia tahu. Dia mengalami. Dia menghidupi apa itu kasih Allah. Dan di akhir hidupnya, saudara akan melihat bagaimana dia akan rest di dalam kasih Allah. Sehari sebelum kematiannya, dia menulis kepada seorang temannya. Aku akan pergi kepada Dia yang dicintai oleh jiwaku, dan yang lebih tepatnya adalah Allah yang mencintaiku dengan cinta abadi. Cinta-Nya merupakan seluruh penghiburanku. Sebentar lagi aku akan meninggalkan kapal gereja di dalam badai yang besar. Pada waktu itu memang gereja sedang berada diporak-porandakan oleh setan dan berkali-kali John Owen itu maju untuk mempertahankan doktrin yang benar. Tetapi pukulan-pukulan itu banyak sekali mematikan orang-orang Puritan. Dan sebentar lagi dia mati dan tidak bisa berjuang untuk gerejanya. Dia mengatakan, sebentar lagi aku akan meninggalkan kapal gereja di dalam badai, tetapi aku mengetahui bahwa ada nahkoda yang paling hebat yang mengemudi di depannya dan hilangnya, matinya satu pendayung yang poor ini, yang miskin seperti ini, tidak akan berarti apa pun saja. Dia menyerahkan di dalam ketenangan kepada Allah tentang jiwanya dan gerejanya. Dan biarlah kita mengingat akan satu teriakan John Owen: “Jemaat, lihatlah Allah yang mengasihi engkau!”

Alamat

556 - 558 Botany Road, Alexandria, NSW, 2015
sekretariat@griisydney.org
0404242433
0430930175

Social Media

Facebook GRII Sydney Instagram GRII Sydney Twitter GRII Sydney

^