[simple_crumbs root="Home" /]
kembali

31 May 2020

Pdt. Agus Marjanto, M.Th

Pentakosta

Yesaya 2:3; Kisah Para Rasul 2:33-36; Kisah Para Rasul 2:1-13

Hari ini kita memperingati hari Pentakosta. Setelah Yesus Kristus bangkit, 40 hari kemudian Dia naik ke Surga, lalu 10 hari kemudian adalah Pentakosta, Roh Kudus dicurahkan di dunia ini. Dari Kisah Para Rasul yang kita baca tadi, kita menemukan apa yang terjadi di Surga dan kaitannya di bumi. Yesus Kristus naik ke Surga dan ditakhtakan di sebelah kanan Allah Bapa. Dia tidak lagi melayani di dunia ini dalam penderitaan-Nya, Dia tidak melayani lagi di dunia ini sebagai seorang hamba. Tetapi sekarang Dia pergi ke tahapan yang baru melayani sebagai seorang Tuan, menjadi Tuhan atas seluruh tuhan. Alkitab mengatakan: Di Surga, di kanan Allah Bapa. Allah Bapa memberikan Roh Kudus dan kemudian Dia mencurahkan Roh Kudus itu ke dunia, kepada rasul-rasul-Nya, kepada gereja Tuhan. Ini adalah satu prinsip yang penting yang ada dalam Alkitab. Pencurahan Roh Kudus adalah karya Yesus Kristus. Kita sering sekali berpikir bahwa karya Yesus Kristus adalah inkarnasi, salib, lalu kebangkitan dan kemudian naik ke Surga tetapi Alkitab menyatakan pencurahan Roh Kudus juga merupakan hasil karya Yesus Kristus. Kenapa ini saya tegaskan berkali-kali? Karena ketika kita mau berbicara mengenai Roh Kudus, tidak bisa sama sekali melepaskan-Nya dari Yesus Kristus. Pneumatology tidak bisa dilepaskan dari Christology. Roh Kudus diberikan oleh Kristus untuk gereja-Nya. Roh Kudus datang untuk mewahyukan ajaran-ajaran Yesus Kristus. Roh Kudus diberikan agar kita mengingat dan mengerti, memberikan kita kuasa untuk menaati Yesus Kristus. Roh Kudus diberikan dan mengurapi Petrus dan semua orang yang mendengarkan khotbah Petrus, takluk kepada Yesus Kristus. Roh Kudus datang untuk membawa kita semua melihat kemuliaan Kristus yang tersembunyi di Surga. Ketika saudara dan saya mengerti kedua doktrin ini dengan tepat maka kita tidak akan membayangkan Roh Kudus dengan cara liar kedagingan kita. Roh Kudus datang bukan supaya seseorang bisa melakukan sesuatu performance spektakuler di tengah-tengah dunia. Lalu semua orang melihat dan hamba Tuhan terangkat tinggi. Roh Kudus bukan datang untuk mempertontonkan pertunjukan entertainment di gereja. Roh Kudus datang untuk menaklukan hati yang keras, membuat orang takluk, taat kepada Yesus Kristus. Ketika Petrus berkhotbah, dia dipenuhi oleh Roh Kudus dan khotbahnya adalah meninggikan Yesus Kristus.

Hari ini saya akan membahas berkenaan dengan Kisah Para Rasul 2. Lukas dengan jelas menyatakan “Ketika tiba hari Pentakosta.” Apa yang dikatakan Lukas di sini adalah Pentakosta di dalam Perjanjian Lama. Orang-orang Yahudi memiliki tiga hari raya penting, saat seluruh orang Yahudi di seluruh dunia kembali ke Yerusalem. Pertama adalah hari raya Paskah. Ini memperingati orang-orang keluar dari pembebasan Mesir. Bagi orang Yahudi itu adalah analogi penciptaan. Di dalam bahasa Ibraninya Paskah adalah Pesach. Kedua adalah hari raya Pondok Daun dan ini dalam bahasa Ibrani adalah Sukkot. Ini bicara berkenaan dengan 40 tahun orang Yahudi keliling di padang gurun dan akhirnya sampai ke tanah perjanjian, dianalogikan di dalam redemption (penebusan). Ketiga adalah hari raya Shavuot dan ini adalah Pentakosta, hari raya tuaian/harvest. Ini adalah bicara berkenaan dengan buah sulung. Orang Yahudi memperingati turunnya Taurat Tuhan di gunung Sinai. Paskah dianalogikan sebagai Creation. Sukkot dianalogikan sebagai Redemption. Maka Shavuot, Pentakosta dianalogikan sebagai Revelation, yaitu hari di mana Allah menyatakan diri-Nya, mewahyukan diri-Nya. Ketika Lukas menulis Kisah Para Rasul 2:1 ini, kalau kita adalah orang Yahudi, kita akan sangat-sangat mengerti ada paralelitas yang begitu dekat antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru di dalam Pentakosta. Apa yang terjadi di gunung Sion? Ketika Allah turun dengan api yang besar dan suara yang keras dan kemudian mengumpulkan orang-orang Yahudi, mereka semua ketakutan dan Tuhan memberikan 2 loh batu yang ditulis dengan tangan­Nya. Di dalam 2 Pentakosta ini, Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, dua-duanya ada kehadiran Allah, ada Taurat yang diberikan. Di dalam Perjanjian Lama, Taurat diberikan dituliskan Allah di dalam loh-loh batu. Di dalam Pentakosta Perjanjian Baru, Roh Kudus dicurahkan untuk menuliskan Taurat di dalam isi hati manusia yang dipilih. Di dalam Pentakosta Perjanjian Lama ada suara yang besar, suara Allah yang menggentarkan. Di dalam Perjanjian Baru ada suara Allah yang hadir melalui khotbah Petrus dan suara itu terbagi kepada semua bahasa yang lain. Di dalam Perjanjian Lama ada api yang besar dan asap yang membumbung tinggi jauh ke atas dan dalam Perjanjian Baru ada api yang ada pada individu-individu yang ada. Di dalam Perjanjian Lama bukan saja ada orang Yahudi/orang Israel tetapi ada gentile yang ada di kaki gunung itu. Di dalam Perjanjian Baru maka orang-orang Israel dan gentile berkumpul di depan khotbah Petrus. Satu ayat yang menggabungkan keduanya; salah satunya, yaitu Yesaya 2:3.

Kisah Para Rasul 2:1-2a. Kita akan pikirkan 2 hal besar dari ayat ini. Yang pertama, apa yang terjadi kepada murid-murid-Nya, khususnya diwakili oleh Petrus dalam hal ini. Yang kedua, apa yang menjadi pekerjaan Roh Kudus. Di dalam Kisah Para Rasul pasal kedua dan selanjutnya; ada pelayanan­pelayanan gereja dan khotbah-khotbah, di sini ada khotbah Petrus selain khotbah Stefanus. Di sini Roh Kudus tidak berbicara sendiri kepada dunia. Roh Kudus menguasai Petrus, murid-murid Yesus, dan Stefanus untuk berbicara kepada dunia. Roh Kudus datang untuk menolong gereja-Nya melayani dunia bagi kemuliaan Allah. Di dalam faktor manusia ini, ada 2 hal. Pertama dikatakan semua orang percaya berkumpul di satu tempat. Siapakah mereka? Mereka adalah orang-orang yang di dalam hatinya sudah menerima Yesus Kristus, hidupnya dibentuk oleh bentukan dari Yesus Kristus menyerupai Kristus, dilatih oleh Yesus Kristus dengan firman-Nya. Mereka pernah ditegur oleh Yesus Kristus, dilatih untuk berdoa, dilatih untuk mengabarkan Injil. Mereka memperhatikan apa yang Yesus ucapkan dalam setiap konteks tertentu. Mereka sebelumnya banyak sekali yang tidak tahu mengenai apa yang dikatakan Yesus; mereka tanya: ‘Apa artinya’. Ini adalah orang-orang yang dibentuk oleh Kristus tahunan. Mereka bukan orang-orang yang jadi dalam hanya satu hari saja. Di dalam teologia, ini adalah orang­orang yang menerima proses pengudusan. Ini sangat­sangat penting. Banyak dari kita ketika bicara mengenai hari Pentakosta selalu memikirkan mengenai satu orang yang tiba-tiba terjadi, lalu orang ini dipakai oleh Tuhan. Alkitab tidak mengatakan hal itu. Dengan jelas Lukas menyatakan hari Pentakosta tiba, dan kemudian Roh Kudus memakai orang-orang percaya itu. Meskipun secara universal Roh Kudus datang pada hari Pentakosta, tetapi Roh Kudus sudah bekerja di dalam individu­individu itu sebelumnya. Mereka adalah orang yang belajar untuk takluk, taat kepada Yesus Kristus. Ini adalah orang-orang yang mengalami proses pengudusan Roh Kudus. Inilah yang menjadi dasar kita bersaksi. Pengudusan yang dikerjakan oleh Tuhan di dalam hidup kita adalah dasar kita berdiri. Bentukan Tuhan seumur hidup dalam hidup kita adalah fondasi kita berbicara. Jangan mengecilkan arti bentukan Allah dalam keseharian kita. Roh Kudus yang memberdayakan Petrus adalah Roh Kudus yang membentuk, menguduskan Petrus. Saya tidak mengatakan kita harus selesai dulu di dalam proses pengudusan baru kita masuk tahapan selanjutnya dipakai oleh Allah. Karena seluruh proses pengudusan kita akan selesai pada waktu kita mati. Ini akan terus seumur hidup. Tetapi saya mau menekankan hal ini karena begitu jelas dalam Alkitab. Banyak dari kita yang ingin bersaksi tetapi tidak ingin diproses oleh Tuhan. Ingin dipakai oleh Tuhan di mimbar tetapi tidak ingin diproses Tuhan di dalam keseharian pengudusan-Nya. Roh Kudus yang bekerja melalui hidup kita adalah Roh Kudus yang bekerja di dalam hidup kita. Roh Kudus yang memberikan kuasa untuk bersaksi adalah Roh Kudus yang menguduskan karakter dan hidup kita sehari­hari. Petrus yang berkhotbah di sini adalah Petrus yang dibentuk oleh Kristus Yesus.

Hal yang lain yang saya mau saudara-saudara lihat baik-baik. Khotbah Petrus dan khotbah Stefanus, memiliki kesamaan. Mereka adalah orang-orang yang mengerti detail Alkitab. Mereka mempelajari Perjanjian Lama, kemudian mereka mengkhotbahkannya. Hal yang kedua adalah mereka membicarakan penghakiman. Petrus dalam hal ini mengkutip dari Yoel, yang menubuatkan mengenai kehadiran Roh Kudus. Itu permulaan hari Tuhan yang besar dan mulia. The day of the Lord. Hari Tuhan adalah hari penghakiman, hari yang menyesakkan, hari yang mengancam setiap orang hidup, yang meminta pertanggungjawaban setiap orang hidup di hadapan Allah. Hari Tuhan adalah hari yang mematikan. Dari situ mulai mereka bicara mengenai Yesus Kristus yang menyelamatkan. Barangsiapa yang berseru dalam nama Tuhan, akan diselamatkan. Dia meninggikan nama Yesus Kristus. Seluruh Israel harus tahu bahwa Allah telah membuat Yesus yang kamu salibkan itu menjadi Tuhan dan Kristus. Mereka berkhotbah mengenai harga yang harus ditanggung untuk mengikuti Yesus. Petrus menjawab kepada orang-orang yang bertanya: Apa yang harus kami lakukan? Bertobatlah dan hendaklah kamu masing­masing memberi dirimu dibaptis. Pada waktu itu kalau orang mengaku nama Yesus Kristus, mereka mungkin kehilangan nyawa mereka. Apalagi kalau mereka adalah orang-orang yang secara terbuka menyatakan diri menjadi pengikut Yesus. Petrus di sini berbicara berkenaan dengan salib. Meneliti orang-orang, hamba-hamba Tuhan, gereja-gereja Tuhan sejati atau tidak di dalam memberitakan Injil, lihat di dalam poros ini. Mereka hati-hati, mereka meneliti Firman Tuhan. Yang kedua, mereka membicarakan mengenai penghakiman. Yang ketiga, mereka berbicara berkenaan keselamatan di dalam Kristus Yesus; Soteriology in Christology. Keempat, mereka meninggikan Kristus di tempat yang tertinggi. Kelima, mereka berbicara mengenai salib, berbicara mengenai harga yang harus dibayar menjadi murid Kristus. Tidak ada bicara uang, teologia kesuksesan, entertainment dan performance di dalamnya. Mereka bicara mengenai sesuatu yang hidup dan mati resikonya. Bahkan mereka tidak berbicara berkenaan dengan Roh Kudus sendiri. Hal-hal ini begitu sangat jelas dalam Alkitab. Roh Kudus adalah oknum ketiga Allah Tritunggal. Roh Kudus secara ontological adalah sejajar dengan Bapa dan Anak. Tidak ada yang lebih rendah. Tetapi Alkitab dengan jelas menyatakan pelayanan Roh Kudus di dunia ini secara economical. Kalau Dia bekerja dengan keras sekali maka Dia tidak berbicara mengenai diri-Nya. Dia berbicara berkenaan dengan Kristus, menjelaskan arti Firman, mengenai pertobatan, berkenaan dengan resiko, salib yang harus kita pikul sebagai murid Yesus Kristus. Ini adalah khotbah yang luar biasa diurapi oleh Roh Kudus. Saya sudah berbicara berkenaan dengan manusia; Petrus. Bagaimana Roh Kudus membentuknya dan bagaimana dia berkhotbah.

Sekarang, hal yang kedua, mari kita melihat apa yang Alkitab katakan berkenaan dengan Roh Kudus. Di sini ada suatu mujizat yang terjadi. Kita harus mengerti hakekat, esensi mujizat di dalam Pentakosta. Pentakosta terjadi sekali untuk selamanya, once for all. Tetapi biarlah kita minta kepada Tuhan karunia Pentakosta, karunia Roh yang sama dan juga dampak yang sama dari esensi Pentakosta. Pagi hari ini kita akan melihat 4 hal tanda Pentakosta dan apa esensinya:

1. Tiupan angin yang keras.

Orang Ibrani tidak akan kesulitan mengartikan hal ini dan juga orang berbahasa Yunani atau berbahasa Latin tidak kesulitan mengerti hal ini. Karena kata yang dipakai dalam bahasa mereka; untuk angin, roh dan napas adalah sama. Dalam bahasa Yunani adalah pneuma. Bahasa Latin adalah spiritus. Dan bahasa Ibrani adalah ruah. Tiupan angin yang keras ini berbicara berkenaan dengan hadirnya Roh Allah. Ketika Roh Allah hadir, kita akan melihat 3 bagian. Yang pertama, penciptaan; Kejadian 1:1. Bumi belum terbentuk, gelap gulita dan kemudian Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air. Setelah kalimat itu, kemudian penciptaan hari pertama, kedua, ketiga dan seterusnya. Kata yang dipakai ketika bumi belum berbentuk dan gelap gulita adalah suatu kalimat yang dipakai persis seperti satu daerah yang sudah dibumihanguskan oleh perang. Penciptaan bicara berkenaan dengan sesuatu yang Bagian kedua berkenaan dengan waktu penciptaan manusia. Manusia diciptakan dari debu tanah lalu ditiupkan napas Allah, tanpa napas ini, maka yang dicipta itu adalah debu, mati, tidak bisa apapun saja. Ini adalah paradoksikal manusia. Paradoksikal yang kita mesti pikirkan dan renungkan. Kita sebenarnya adalah yang di bawah, tanpa napas Allah maka tidak ada kehidupan. Bagian ketiga adalah Yesus berkata kepada Nikodemus, engkau harus dilahirkan kembali dengan air dan Roh dan jika tidak maka engkau tidak bisa masuk ke dalam Kerajaan Allah. Apa maksudnya kelahiran kembali? Berarti yang dulu pernah terjadi, kita diciptakan oleh napas Allah, kemudian kita mati karena dosa, kita perlu dilahirkan kembali. Ini adalah pembicaraan berkenaan dengan roh yang menghidupkan. Ini bicara mengenai kehidupan yang baru. Murid-murid diberikan kuasa, dipenuhi oleh Roh Kudus untuk menghidupkan yang mati. Mereka diberikan kuasa untuk menciptakan satu pribadi yang baru di muka bumi ini. Ini berkenaan dengan revival. Revival adalah orang yang mati rohani kemudian dihidupkan, born again. Kalimat yang sering diucapkan oleh Hugh Latimer ketika dia dipenjara di Tower of London sebelum dibakar hidup-hidup, sekali lagi Tuhan, sekali lagi bangunkan Inggris. Kuasa yang menghidupkan.

2. Lidah api.

Lidah yang berbentuk api yang hinggap secara individual. Lidah tentu akan berbicara berkenaan dengan bahasa, kalimat, bicara berkenaan dengan kesaksian. Saudara tidak dipanggil hanya di dalam hidup, tetapi saudara dan saya dipanggil untuk berbicara. Seluruh Kisah Para Rasul 2 dan selanjutnya adalah bicara tentang kesaksian yang sifatnya proklamasi Injil. Para komentator berbicara menekankan dua hal ini mengenai lidah api. Yang pertama adalah bicara berkenaan dengan mencerahkan dan kedua adalah berbicara mengenai menghangatkan atau membakar. Bicara mengenai mencerahkan, ini bicara berkenaan dengan Firman atau kesaksian atau kalimat yang menjadikan mata hati seseorang yang mendengarkan menjadi terang, bisa melihat. Berkenaan dengan yang menghangatkan atau membakar. Khotbah yang dipakai oleh Tuhan pasti khotbah yang menghancurkan hati, membuat hati remuk, hati para pendengar disentuh oleh Allah. Hati pendengar tergerak, terbakar. Api ini adalah api yang memproduksi api yang lain. Kobaran api pada khotbah Petrus, akan menyalakan kobaran api di dalam hati setiap pendengarnya. Sama seperti Perjanjian Lama menyatakan, aku menyembunyikan Firman-Mu dalam tulang-tulangku. Aku tidak mau mengucapkannya, tetapi ada api membakar dari sekam yang dalam di dalam tulang-tulangku. Suatu khotbah yang diurapi, akan menggerakkan kehendak untuk takluk kepada Yesus Kristus.

3. Mereka mulai berkata-kata dalam bahasa­bahasa lain yang diberikan oleh Roh kepada mereka.

Satu bahasa menjadi berbagai macam bahasa. Apa esensinya? Esensinya adalah kuasa penyebaran. Roh Kudus kalau bekerja pada diri seseorang, orang itu pasti memiliki ambisi yang kudus untuk menyebarkan Injil Tuhan ke manapun saja. Biarlah kita boleh menghormati orang-orang yang menjadi penginjil-penginjil jalan dan orang­orang yang menjadi misionaris. Biarlah kita boleh mempunyai hati seorang misionaris, bukan untuk membesarkan kita tetapi hati seorang misionaris adalah sesuatu yang tidak bisa kita jadi-jadikan. Sebaliknya hati seorang misionaris adalah buah dari Roh Kudus bekerja dalam gereja tersebut. Petrus berkhotbah dan semua orang dari berbagai macam bangsa, mendengarkan khotbah melalui bahasa mereka masing-masing supaya mereka menjadi mengerti. Ini adalah pembalikan dari kisah menara Babel. Ketika menara Babel semua bangsa satu bahasa, kemudian mereka dengan niat jahatnya mendirikan satu menara sampai ke langit, artinya mau sampai kepada Allah. Allah memperhatikan kejahatan hati mereka, kemudian Allah
menyerakkan mereka dengan bahasa-bahasa yang tidak bisa dimengerti mereka antara satu dengan yang lain dan akhirnya proyek mereka gagal. Yang terjadi pada menara Babel, yang tadinya mengerti akhirnya dibuat tidak mengerti dan apa yang terjadi di Pentakosta? Mereka yang tadinya tidak mengerti akhirnya dibuat mengerti. Itulah sebabnya Paulus mengatakan, adalah lebih berguna bagi kamu dalam sebuah ibadah, engkau berbicara lima kata yang dimengerti orang lain daripada ratusan kata berbahasa roh yang tidak dimengerti oleh orang lain. Apa yang terjadi dalam Kisah Para Rasul pasal dua ini beda dengan apa yang terjadi dalam bahasa roh pada gereja-gereja yang tidak bertanggung jawab. Seluruh orang Yahudi selalu berbicara yang paling penting Yahudi, bahkan semua bangsa lain lebih rendah daripada aku, mereka semua seperti anjing tetapi Tuhan tidak, hati Allah adalah untuk semua bangsa, Dia menyelamatkan orang Yahudi dan bukan Yahudi. Dari orang-orang, murid-murid Yesus Kristus yang ada pada hari Pentakosta dan orang-orang yang mendengarkan mereka maka nanti Injil Yesus Kristus akan tersebar keseluruh muka bumi. Biarlah kita memiliki hati yang ada pada isi hati Allah untuk memikirkan bagaimana Injil diberitakan, disebarkan dan bangsa-bangsa lain mendengarkan Injil Kristus. Minta urapan Tuhan untuk hal ini, minta kuasa Tuhan untuk hal ini, minta bentukan Tuhan untuk ini, minta kesempatan dari Tuhan untuk melakukan hal ini, biarlah kita terbakar dengan hal-hal yang ada di dalam isi hati Tuhan dan semua orang-orang pada hari Pentakosta, mereka dari yang tidak mengerti menjadi mengerti dan ujung dari khotbah Petrus adalah meninggikan Kristus.

4.Tanda keberanian.

Tanda ini hampir tidak diperhatikan tetapi saya yakin pada waktu itu mereka tahu tanda ini. Catatan dari Lukas, catatan dari Yohanes, sebelum Roh Kudus turun, mereka selalu berkumpul dengan diam-diam di satu tempat. Mereka takut untuk memunculkan dirinya, jangankan untuk bersaksi. Roh Allah datang mendesak mereka, menggairahkan mereka untuk berani bersaksi, dilihat oleh orang lain. Ini adalah tindakan yang luar biasa beresiko pada waktu itu, mereka akan ditangkap dan satu persatu akan dianiaya. Tetapi mereka itu dijuluki sebagai orang “gila” yang berani mengabarkan Injil ke mana-mana. Ini adalah tanda yang luar biasa jelas di dalam Alkitab kita. Pada hari Pentakosta, Kristus memberikan Roh Kudus-Nya memimpin, melahirkan gereja-Nya dan memberikan kuasa untuk bersaksi. Yesus Kristus mengatakan engkau akan menjadi saksi-Ku dari Yerusalem, Yudea, Samaria sampai seluruh ujung bumi.

Kuasa untuk bersaksi itu meliputi empat hal ini, yang pertama adalah kuasa menghidupkan, membuat sesuatu yang baru. Yang kedua adalah kuasa mencerahkan pikiran dan menggerakkan hati. Yang ketiga adalah kuasa menyebarkan Injil. Yang keempat adalah kuasa untuk berani bersaksi di tengah masyarakat. Ini adalah hasil dipenuhi oleh Roh Kudus.

Zaman ini adalah zaman yang penuh dengan penyesatan. Semua gereja mengatakan seperti ini orang yang dipenuhi Roh Kudus. Biarlah engkau mengujinya hai jemaat, seperti apa, siapa orang yang dipenuhi oleh Roh Kudus. Orang-orang misionaris dan orang-orang Puritan sering sekali tidak ada satu mujizat, tidak ada sesuatu yang kelihatan wah, spektakuler di tengah-tengah dunia tetapi di dalam pelayanan, di dalam hidup mereka, empat hal ini terjadi. Kita harus mendidik jemaat kita, memperkenalkan orang-orang yang dipakai oleh Tuhan. Didik anakmu, ceritakan orang-orang yang diurapi oleh Roh Kudus, dikuasai oleh Dia. Biarlah kita pada pagi hari ini setelah mendengarkan semua ini, minimal memiliki tiga aplikasi ini dalam hidup kita:

  1. Belajar Firman Tuhan lebih dalam lagi. Roh Kudus tidak berbicara sendiri pada Pentakosta, Dia memakai Petrus dan Stefanus yang mengerti Firman. Semakin kita belajar Firman, semakin kita boleh dipakai oleh Tuhan.
  2. Selalu belajar relakan hati kita untuk taat. Orang-orang yang dipakai oleh Yesus Kristus di dalam Firman-Nya, yang diurapi, yang dipenuhi Roh Kudus adalah orang-orang yang dibentuk di dalam jalan Ini bicara berkenaan dengan dimuridkan. Discipleship adalah bicara tentang disiplin. Hidup yang disiplin, diatur oleh Tuhan. Mari seluruh jemaat, kita minta kuasa Tuhan dan dorongan kasih Kristus untuk kita rela taat.
  3. Biarlah seluruh jemaat kita berdoa minta dipakai dan dipenuhi oleh Roh Kudus, hidup itu hanya satu kali. Untuk apa kita itu diciptakan? Untuk kita boleh menikmati Allah, bergaul dengan Allah dan hidup mempermuliakan Allah. Untuk apa gereja ada? Supaya memperkenalkan Kristus di tengah-tengah dunia melalui hidup dan pemberitaan Minta kiranya Tuhan rela memenuhi kita dengan Roh-Nya agar ada penginjilan dan misi, hati bagi bangsa-bangsa di dunia ini ada di dalam hati kita.

Saya menggabungkan khotbah hari ini untuk menutup seluruh seri misionaris yang saya pernah bicarakan, untuk mengingatkan bagaimana Tuhan memakai mereka, Tuhan memenuhkan mereka dengan Roh Kudus-Nya. Tujuh misionaris, David Livingstone, Adoniram Judson, William Carey, Hudson Taylor, David Brained, William Borden, Jim Elliot. Dan kalau Tuhan pimpin, maka mulai dari minggu depan kita akan bicara berkenaan tujuh orang Puritan. Seluruhnya di dalam satu pengertian melihat bagaimana orang-orang dipakai oleh Tuhan sebagaimana Petrus dipakai pada hari Pentakosta. Biarlah Tuhan yang memakai Petrus, Tuhan juga yang memakai misionaris-misionaris dan orang-orang Puritan rela memakai kita, berikan kebangunan itu sekali lagi ya Tuhan. Satu doa yang diucapkan oleh Hugh Latimer di Tower of London sebelum dia mati. Kiranya Tuhan boleh membangkitkan gereja-gereja­Nya dan mengingat kita untuk juga dibangkitkan oleh Roh-Nya.

Alamat

556 - 558 Botany Road, Alexandria, NSW, 2015
sekretariat@griisydney.org
0404242433
0430930175

Social Media

Facebook GRII Sydney Instagram GRII Sydney Twitter GRII Sydney

^