[simple_crumbs root="Home" /]
kembali

17 May 2020

Pdt. Agus Marjanto, M.Th

Penampakan Yesus Kristus kepada murid-murid-Nya (4)

Lukas 24:13-35

Ini adalah seri yang keempat berkenaan dengan Yesus Kristus menampakan diri kepada murid-murid-Nya setelah kebangkitan. Alkitab dengan jelas menyatakan bukti-bukti kebangkitan Yesus. Penulis Alkitab tidak memberikan cerita ini sebagai catatan kaki atau pinggiran saja. Ini adalah satu cerita yang menjadi satu dengan kematian dan kebangkitan Yesus. Ini adalah suatu cerita yang sangat penting dan tidak pernah boleh untuk dilupakan. Yesus bangkit dengan tubuh kebangkitan, dan begitu banyak saksi. Dalam 1 Korintus 15, Paulus menuliskan ada 500 lebih saksi mata kebangkitan Yesus Kristus. Dari Thomas yang skeptik sampai Petrus yang menyesal. Sampai seluruh murid-Nya kecuali Yudas, juga ada dua murid yang sedang berjalan ke Emaus. Sebenarnya, orang-orang di mana Yesus itu menyatakan kebangkitan-Nya, boleh dikatakan hampir semuanya, orang-orang yang sendirinya tidak mempercayai bahwa Yesus itu bisa bangkit. Sekali lagi, jikalau dikatakan bahwa kekristenan itu ‘di-create’, bahwa kekristenan itu dibuat dari imajinasi murid-murid-Nya, saya mau mengatakan murid-murid-Nya pun sulit untuk percaya. Tetapi ini sesuatu kenyataan yang mereka tidak bisa pungkiri. Yesus sungguh-sungguh bangkit. Bangkit dan menyatakan diri kepada mereka di dalam tubuh.

Lukas mencatat dari salah satu penampakan. Yesus menampakan diri kepada dua murid ketika murid-murid dari Yerusalem sedang berjalan pulang ke Emaus. Saya menegaskan mengenai dua hal untuk kita boleh merenungkannya. Yang pertama adalah apa yang Yesus ajarkan untuk kita melihat dan memenuhi pikiran dan hati kita. Dan yang kedua adalah apa yang Yesus pikirkan dan ingin untuk kita harapkan.

Pertama, apa yang Yesus ajarkan untuk kita lihat dan memenuhi pikiran dan hati kita. Pikiran kedua murid terus menerus memperhatikan mengenai Kristus yang sudah mati. Mereka memikirkan penderitaan dan malu yang menimpa kehidupan mereka. Harapan yang sudah punah. Orang yang ketiga, yang sebenarnya adalah Yesus datang kepada mereka. Bertanya kepada mereka, “Kamu sedang berbicara mengenai apa?” “Oh, apakah engkau orang yang tidak tahu apa yang terjadi di Yerusalem? Mungkin engkau adalah satu-satunya yang tidak tau. Ada seorang yang saleh dari Tuhan dan Dia adalah Yesus, Ia adalah Mesias. Kami mengharapkan Dia untuk membebaskan Israel.” Itu adalah harapan mereka. Tetapi kenyataannya Yesus mati. Maka seluruh harapan mereka habis punah. Itu terus-menerus ada dalam pikiran kedua murid-Nya, sehingga ketika Yesus bertanya kepada mereka, mereka sampai berhenti dan Alkitab mengatakan bahwa muka mereka sangat sedih. Mereka terlalu dipenuhi oleh kekecewaan hidup. Hidup itu memang mengecewakan. Tetapi mereka terlalu dipenuhi oleh kekecewaan hidup lebih daripada janji Tuhan. Masalah, kesulitan dan penderitaan menutupi mata kita dan kita lupa memberikan perhatian kepada janji-janji Tuhan. Murid-murid ini lebih mempercayai masalah mereka daripada Firman Tuhan yang sudah mereka baca. Bahkan Yesus sendiri pernah berbicara kepada murid-murid. Tentu masalah itu memang real. Tetapi Alkitab mengajar kepada kita sesuatu tekanan, bahwa janji Tuhan juga real. Bahkan Firman Tuhan lebih real daripada seluruh masalah kita. Alkitab menyatakan: Langit dan bumi akan berlalu tetapi Firman Tuhan akan tetap untuk selama-lamanya. Ketika kita masih mengingat berkenaan dengan kematian dan kebangkitan Lazarus, maka ada satu kalimat yang unik yang diberikan kepada Yesus, yaitu Yesus ‘masygul’ hati-Nya. Yesus masygul hati-Nya karena melihat orang-orang di Betania, khususnya Maria dan Marta meratap. Masygul adalah kata yang sangat tajam, campuran kesedihan, ketidaksabaran, kekecewaan, dan kemarahan. Karena apa? Karena Maria dan Marta memakai kacamata kematian. Kedua murid di Emaus ini juga memakai kacamata kematian; Yesus mati. 

Kemudian Yesus mengajar mereka isi Kitab Suci dari kitab-kitab Musa sampai kitab para nabi. Intinya yaitu, Mesias harus menderita untuk dimuliakan. Pengajaran melihat seluruh hidup dengan kacamata kebangkitan. Jikalau kacamata kematian dipakai, maka muka mereka sangat murung. Tetapi ketika Alkitab dinyatakan keseluruhannya, Yesus mati tetapi Dia bangkit, Dia akan dipermuliakan, kacamata kebangkitan itu diberikan kepada murid-murid-Nya, maka Alkitab mengatakan hati mereka berkobar-kobar. Yesus mengatakan kepada mereka, “Kamu bodoh! Kamu lambat percaya!” Ini adalah salah satu kalimat yang sering ditulis dalam Injil, baik di Yohanes maupun Lukas. Di beberapa tempat bahkan sering ditulis; mereka tidak mengerti. Murid-murid tidak mengerti. Mereka tidak mengerti kehendak Allah, tidak mengerti maksud Allah. Perhatikan kalimat: Bukan kesulitan yang terlampau berat yang mematikan kita, tetapi tidak mengenal apa yang menjadi jalan-jalan Tuhan bagi kita; itu yang mematikan kita. Alkitab dengan jelas menyatakan; umat-Ku binasa karena mereka tidak mengenal Aku. Dalam hal ini saya akan sharing apa yang William Bridge, orang Puritan itu nyatakan. William Bridge tepat sekali menyatakan kepada jemaatnya, bahwa Alkitab mengajarkan, ordinary condition-nya (kondisi umum) anak-anak Tuhan adalah sukacita dan damai sejahtera; bukan kemurungan, bukan sesuatu kepahitan dalam hati.

Allah menghendaki setiap hari, ordinary condition anak-anak-Nya, adalah sukacita dan damai sejahtera. Bahkan Alkitab sendiri mengajar Bapa adalah Allah sumber segala penghiburan abadi. Kristus disebut Raja Damai. Roh Kudus disebut penghibur, comforter. Injil kita disebut sebagai injil damai sejahtera. Dalam Alkitab, umat Tuhan adalah umat yang sebenarnya selalu memiliki damai sejahtera di dalam hatinya. Kadang-kadang sukacita dan damai sejahtera di dalam umat Allah itu diinterupsi. Tetapi itu tidak boleh berlangsung lama, itu bukan kehendak Allah untuk berlangsung lama. Tuhan menghendaki secepat mungkin anak-anak Tuhan kembali bersukacita dan memiliki damai sejahtera. Bahkan di dalam Wahyu 7, ada kumpulan orang-orang yaitu gereja Tuhan yang keluar memakai jubah putih, keluar dari kesusahan yang besar. Saudara bisa bayangkan keluar dari kesusahan yang besar dan memakai jubah putih. Jubah putih adalah gambaran sukacita, juga gambaran kesucian, Itu adalah gambaran kemurnian dan juga holiness. Tetapi juga gambaran sukacita. Semua menggambarkan adanya sukacita yang kekal yang tetap terjaga di tengah-tengah umat Allah dalam penderitaan yang besar. Sekali lagi ini adalah kehendak Allah. Dalam Bahasa lain, Paulus mengatakan, “Bersukacitalah senantiasa di dalam Tuhan.” Kita bisa bersukacita, tetapi kita tidak bisa bersukacita senantiasa kalau tidak di dalam Tuhan. Ini yang menjadi penekanan di dalam Alkitab. Bagaimana kita bisa terus-menerus mendapatkan sukacita, ya, kadang ada interupsi tetapi tidak boleh berlangsung lama. Jikalau kita kembali meneliti apa yang ada di dalam Alkitab. Apa yang merupakan janji-janji Allah kepada kita. Itulah sebabnya prinsip ini diajarkan Yesus kepada kita pada jalan di Emaus itu. Seluruh murid-Nya memiliki suatu kedukaan, kesedihan. Mereka berjalan dengan terbata-bata, sangat sulit, dengan hati yang berat dan kesesakan yang mendalam. Tetapi Yesus Kristus kemudian membawa mata mereka melihat kembali Alkitab. Itu mengubah cara pandang mereka. Mereka yang dari kesedihan itu, hati mereka menjadi berkobar-kobar. Ini adalah satu prinsip di dalam hidup, ‘bukan penderitaan yang terlalu besar akan mematikan kita, tetapi umat-Ku tidak mengenal Aku’, demikian kata Firman Tuhan.

Satu kebiasaan yang harus kita miliki adalah kebiasaan untuk mengenali kekayaan yang disediakan Allah bagi kita dalam Firman-Nya. Alkitab dengan jelas menyatakan Allah memberikan kepada kita di dalam Kristus Yesus segala berkat rohani yang ada di surga. Dalam 1 Petrus dikatakan Allah menganugerahkan segala sesuatu yang berguna untuk hidup yang saleh, menganugerahkan janji-janji yang berharga untuk kita luput dari hawa nafsu dunia yang membinasakan. Lihat apa yang dilihat oleh Yesus Kristus. Yesus membawa kedua murid melihat Firman-Nya. Mengubah kacamata penderitaan menjadi kacamata kebangkitan. Tetapi ini bukan sesuatu yang klise. Ini sungguh-sungguh kita harus disiplinkan diri kita. Saat ini dalam keadaan yang nyaman maupun dalam keadaan yang menderita mungkin di tengah-tengah kita. Biarlah mata kita melihat Alkitab, mempelajarinya dengan tekun dengan rajin untuk menemukan janji-janji Allah yang hadir di dalam hidup kita. Temukan diri-Nya, kehendak-Nya, jalan-jalan-Nya yang ada dalam Alkitab yang sesuai dengan kondisi kita dan aplikasikan itu dalam kehidupan kita.William Bridge menyatakan, tidak ada satu penderitaan di dunia ini yang tidak dicatat di dalam Alkitab. Seluruh apa yang ada di dalam Alkitab, akan membuat kita terhibur karena janji-janji Allah pasti dan akan terjadi.

Kedua, apa yang Yesus rencanakan (Allah rencanakan) dan kedua murid ini harapkan. Lihat apa yang menjadi rencana Allah yang besar dan harapan murid-murid yang sangat kecil. Dua murid ini mengharapkan Yesus tidak mati dan memulihkan Israel. Ayat 21 menyatakan, ‘kami dahulu mengharapkan bahwa Dialah yang datang untuk membebaskan bangsa Israel.’ Mereka adalah orang-orang Israel yang terus menerus dijajah, dan pada waktu itu mereka dijajah oleh bangsa Roma. Mereka juga saat itu, orang-orang saleh, mengerti bahwa ada kebangkrutan agama Israel yang dipimpin oleh rabi-rabi Yahudi yang munafik yang cinta kekuasaan dan uang. Maka ketika melihat Yesus Kristus yang sangat berani untuk menentang rabi-rabi dan kehidupan-Nya begitu kudus, maka orang-orang seperti Kleopas ini mengharapkan Dia. Tetapi akhirnya Yesus mati. Mereka memiliki pengharapan yang salah dan kecil. Bagi mereka, Yesus Kristus ‘Mesias’ itu dikirim Allah untuk melakukan perbuatan militer, dan pandangan mereka adalah kecil; hanya untuk Israel saja. Kitab Zakaria menyatakan bahwa Yesus adalah The Prince of Peace (Raja Damai). Akan ada penaklukan militer yang akan dilakukan Mesias. Zakaria 9 menyatakan, “kereta dari Efraim akan dilenyapkan, kuda-kuda dari Yerusalem juga akan ditaklukkan, dan busur perang akan dilenyapkan.” Seluruhnya berbicara mengenai penaklukan secara militer. Tetapi lebih daripada itu, Yesus Kristus bukan saja melakukan penaklukan militer. Ia akan terlebih dahulu melakukan penaklukkan kepada kuasa kerajaan angkasa yang jahat. Dia juga akan melakukan penaklukkan kepada hati manusia yang berdosa, hati kita (hati saudara dan saya). Dia bukan saja akan memulihkan bangsa Israel, tetapi Dia akan memulihkan Kerajaan Allah di tengah dunia. Jelajahannya bukan saja Israel, tetapi seluruh bumi. Nanti mereka akan tahu bahwa Yesus tidak akan mengirim mereka untuk Israel saja, tetapi mereka akan dikirim Allah menjelajah kepada bangsa-bangsa lain. Yesus bukan saja akan mengubah Israel. Dia akan mengubah dunia.

Tetapi lebih daripada itu, apa yang dimaksud Lukas menuliskan peristiwa ini? Ini adalah cerita yang hanya ditulis oleh Lukas saja. Ketiga pengijil yang lain tidak menuliskannya. Apa maksud Lukas menuliskan cerita ini, memasukkan di dalam seluruh ceritanya? Untuk mengerti, mari kita melihat sebenarnya siapa dua orang murid yang berjalan dari Yerusalem menuju ke Emaus? Ada beberapa penafsiran dalam hal ini. Yang pertama adalah mungkin ini adalah istri Kleopas. Nama istri Kleopas adalah Maria. Penafsiran yang kedua adalah ini mungkin anak bungsu; putra bungsu Kleopas yang bernama Simeon. Atau yang ketiga, ini sebenarnya Lukas itu sendiri. Dan yang keempat, memang sebenarnya orang ini tidak terlalu diketahui siapa, kecuali adalah murid Yesus. Maria istri Kleopas adalah salah satu wanita yang ada di bawah salib Yesus Kristus. Orang yang menyaksikan di bawah salib Kristus ketika Yesus dipaku di atas kayu salib adalah empat orang. Yang pertama adalah Yohanes, murid Yesus. Yang kedua adalah Maria, ibu Yesus. Ketiga adalah Maria Magdalena. Dan keempat adalah Maria, istri Kleopas, yang disebut sebagai saudara Maria ibu Yesus. Extra biblicalliterature menyatakan Kleopas adalah saudara dari Yusuf, suami Maria, yang adalah ibu Yesus Kristus. Jadi, kalau ini adalah istri Kleopas, maka kita bisa mengerti bahwa mereka akan pergi ke Yerusalem melakukan ibadah paskah Yahudi. Kemudian Yesus mati di sana dan mereka kembali ke rumah mereka, mungkin rumah mereka di Emaus, atau rumah mereka lebih jauh dari Emaus. Maka mereka harus stay di Emaus terlebih dahulu. Kemungkinan yang kedua ini adalah anak bungsu Kleopas yang bernama Simeon. Tetapi penafsiran ini tidak terlalu banyak pendukungnya. Tetapi yang jelas adalah Simeon pada tahun 120 itu mati martir karena dia adalah salah satu pemimpin gereja Tuhan pada waktu itu. Atau mungkin ini adalah Lukas sendiri, tetapi menjadi sesuatu perdebatan dan banyak bukti menyatakan sangat mungkin tidak. Karena dalam Lukas 1:1-4, bisa mendapatkan kesimpulan Lukas bukan saksi mata kebangkitan Yesus Kristus. Mungkin murid yang kedua ini adalah murid yang tidak diketahui namanya, Lukas memang mencatatnya dan tidak terlalu pay attention dengan namanya.

Tetapi, perhatikan cara format Lukas menuliskan Injilnya. Saya akan menggunakan istilah, lingkaran dalam dan lingkaran luar. Perhatikan lingkaran dalam dan lingkaran luar. Lukas bukan orang Yahudi. Dia adalah orang Gentile, orang Greek. Dia seorang kafir. Dia adalah teman seperjalanan Paulus. Dia adalah seorang terpelajar. Dia adalah dokter sehingga tulisannya sangat detail dan comprehensive seperti seorang scientist. Lukas menuliskan Injilnya kepada Teofilus dan kepada semua orang yang bukan Yahudi, orang Gentile. Karena ada latar belakang ini, kalau melihat injil Lukas, jelas sekali Lukas menulis dengan kepekaan khusus bagi orang-orang luar yang mana Yesus berinteraksi dengan mereka. Perhatikan orang-orang luar; lingkaran luar, misalnya Yesus itu berinteraksi dengan perempuan. Dalam tulisan Lukas bukan saja sekedar menuliskan tentang historical, tetapi berbicara berkenaan dengan cara Dia yang sangat sensitif ketika Yesus menjumpai orang-orang lingkaran luar. Lukas menuliskan Yesus berinteraksi dengan perempuan itu di enam tempat. Lebih banyak, jauh daripada penginjil lain. Yohanes menuliskan hanya tiga tempat. Markus, dua tempat. Matius, satu tempat. Lukas sangat sensitif dengan orang-orang luar yang ditemui oleh Yesus Kristus. Demikian juga dengan perjalanan di Emaus. Secara khusus Lukas menuliskannya. Injil yang lain tidak. Dengan siapa Yesus berinteraksi? Dengan dua orang. Yang satunya itu namanya tidak diketahui. Yang kedua adalah Kleopas, selain di tempat ini, tidak ada nama Kleopas di seluruh Injil. Kedua orang ini tidak penting, bukan rasul-rasul Yesus Kristus. Tetapi, kedua orang ini jelas dalam Injil Lukas dan Kisah Para Rasul. Bagaimana Lukas selalu memasukkan bukan cuma para rasul di dalam catatannya. Tulisan dari Kisah Para Rasul adalah dari Lukas. Meskipun beberapa rasul itu muncul, dan mata kita akan selalu menuju kepada rasul-rasul. Kepada kedua belas rasul atau kesebelas rasul setelah Yudas mengkhianati. Kepada tiga rasul: Petrus, Yohanes dan Yakobus, orang paling inner circle dari Yesus Kristus. Tetapi ketika membaca Lukas di dalam injilnya maupun di dalam Kisah Para Rasul, uniknya maka akan mendapatkan murid-murid yang lain. Yang kalau saudara lihat, melebihi sebelas rasul. Tidak diketahui namanya. Kadang Lukas menuliskan seratus dua puluh murid-murid-Nya. Tetapi yang jelas bahwa meskipun mereka tidak diketahui namanya, Lukas dengan jelas menyatakan mereka adalah orang-orang yang mengikut Yesus Kristus sejak pertama sampai Yesus disalib, sampai kebangkitan Yesus, bahkan sampai turunnya Roh Kudus. Merekalah orang-orang yang ada di Yerusalem ketika Roh Kudus turun dan mereka orang-orang yang berbahasa-bahasa lidah. Apa yang Lukas sekarang mau nyatakan? Dalam Lukas 24, dua orang ini dan murid-murid yang lain (selain dua belas rasul), sampai kepada hari Pentakosta, sampai keseluruhan Kisah Para Rasul adalah tulisan Lukas. Apa yang mau Lukas nyatakan kepada kita? Lukas mau menyatakan ternyata gereja di seluruh dunia dibentuk oleh murid- murid ini dan bukan hanya dua belas rasul saja. Tuhan mengikutsertakan orang-orang lingkaran luarnya untuk menjelajah dan menjadi pengaruh yang besar bagi dunia. Wanita-wanita, murid-murid yang bukan rasul dan bahkan namanya tidak terkenal, dan ini adalah kehendak Allah. Bukan karena jabatan di dalam gereja kita dipakai oleh Tuhan. Allah bukan saja menggunakan hamba-hamba Tuhan, elders, pengurus, aktivis, tetapi juga semua jemaat. Tuhan menggunakan kita bukan karena jabatan. Tetapi Dia akan menggunakan orang-orang yang mata hatinya sudah melihat bahwa Yesus Kristus bangkit.

Hari itu sudah menjelang malam, matahari sudah mulai terbenam. Seluruh Yerusalem merayakan Yesus yang mati. Tetapi Yesus secara tersembunyi menghampiri dua orang ini. Ini adalah bentuk perendahan diri Yesus Kristus sekali lagi. Memilih mereka, melayani kedua orang ini untuk memperlihatkan kepada mereka dan membuka mata hati mereka agar mereka tahu bahwa Yesus bangkit. ‘Dia mengasihani kepada siapa Dia mau mengasihi. Dia akan menutup kepada siapa Dia akan tutup’, kalimat-kalimat seperti ini biarlah kalimat yang terus-menerus menggentarkan kita dan membuat kita terus memohon pertolongan Tuhan untuk Dia rela membukakan diri-Nya kepada kita. Yesus mati itu puluhan ribu orang tahu, ketika Dia bangkit, hanya beberapa orang saja yang Dia personally datang, yang bisa tahu. Allah yang menyatakan diri sekaligus pada saat yang sama Dia menyembunyikan diri-Nya. Matahari sudah mulai turun, tetapi sinar itu mulai merekah di hati murid-murid-Nya. Jalan hidup mereka bukan menyongsong kegelapan, tetapi jalan hidup mereka menuju kepada fajar. “Mari masuk, Tuan. Mari, Tuan beristirahat dengan kami. Di tempat ini, silahkan Tuan. Tetapi orang asing ini seakan-akan mau meneruskan perjalanannya. Kleopas dan temannya menyatakan, “Jangan Tuan, hari sudah gelap. Dan mungkin ini perjalanan yang tidak baik, karena sudah malam, banyak penjahat di sana, Tuan. Silahkan makan bersama kami dan tinggal bersama kami” Murah hatilah kepada orang. Mereka tidak tahu yang dia jamu itu adalah Mesias. Alkitab mengatakan, “Murah hatilah kepada setiap orang, siapa tahu engkau menjamu malaikat-malaikat Tuhan.” “Silahkan datang, masuklah, jangan pergi. Jangan pergi, Tuan.” Dengan sukacita mereka menyiapkan hidangan. Tanpa mereka sangka, orang asing itu kemudian mengambil roti, mengangkatnya, dan kemudian mengucap syukur kepada Bapa-Nya di surga dan mulai memecah-mecahkan roti itu. Kleopas dan temannya mulai sadar. Hah, ini siapa? Dia langsung ingat beberapa bulan yang lalu, Yesus di depan lima ribu orang, dengan lima roti, dua ikan, Dia mengangkatnya dan memecah-mecahkannya, mengucap syukur kepada Bapa di Sorga. Tepat seperti hari itu, pada hari lima ribu orang itu, hari sudah menjelang malam. Oh, ini Yesus. Yesus yang bangkit. Kemudian setelah mereka sadar, Yesus kemudian hilang di tengah-tengah mereka. Mereka memandang satu sama yang lain. Hati mereka berkobar-kobar. Air mata keharuan muncul dari mata mereka. Tubuh yang lelah sekarang tidak lagi lelah. Ngantuk itu sekarang sudah tidak ada. Cahaya itu mulai terang. Api yang redup mulai berkobar. Sekarang mereka tidak bisa diam di tempat itu. Mereka bangkit berdiri dan berlari menuju ke Yerusalem. Lihat apa yang Injil itu tuliskan. Sewaktu berjalan ke Emaus, mereka berjalan dengan perlahan, sedih dan tertunduk. Tetapi pada waktu Yesus itu bangkit, hati mereka terbakar. Mereka bergegas, mereka cepat menuju kepada Yerusalem untuk satu hal; menceritakan Yesus yang bangkit.

Orang yang dalam hatinya bisa melihat Yesus yang bangkit pasti memiliki kegairahan yang besar. Apakah ada api seperti ini dalam hatimu? Tuhan akan memanggil Kleopas. Suatu hari nanti dia akan memiliki dan membangun sebuah gereja. Rumahnya sendiri menjadi gereja. Extra Biblical Literature menyatakan Kleopas kemudian mati martir bagi Yesus yang bangkit di depan gerejanya, dilempari dengan batu. Lukas yang gentile itu menuliskan Injil ini. Dari Injil ini gereja-gereja terbentuk. Mereka dipakai melebihi harapan yang mereka punya. Lihatlah apa yang Yesus ingin kita lihat. Melihat Firman, menemukan janji-Nya untuk membuang kesusahan hidup kita dan melihat kehendak-Nya untuk boleh memiliki satu harapan yang besar dari Dia, bekerja bagi Dia di tengah-tengah dunia. Mintalah Tuhan untuk membukakan visi kepada Dia. Itu visi kebangkitan kepada Yesus Kristus. Hanya itu yang membuat kita berkobar-kobar kembali. Kiranya umat Tuhan mendengarkan apa yang Tuhan nyatakan di dalam Firman-Nya. Mari kita berdoa!

Alamat

556 - 558 Botany Road, Alexandria, NSW, 2015
sekretariat@griisydney.org
0404242433
0430930175

Social Media

Facebook GRII Sydney Instagram GRII Sydney Twitter GRII Sydney

^