[simple_crumbs root="Home" /]
kembali

29 March 2020

Pdt. Agus Marjanto, M.Th

Berbahagialah orang yang merindukan rumah Tuhan

Mazmur 84

Charles Spurgeon mengatakan Mazmur 23 adalah Mazmur yang paling terkenal, Mazmur 103 adalah Mazmur yang paling sukacita, Mazmur 119 adalah Mazmur dengan pengalaman terdalam, Mazmur 51 adalah Mazmur yang paling sangat menyakitkan, Mazmur 84 adalah Mazmur yang memiliki kemanisan, kedalaman kedamaian. Spurgeon menyatakan ini mutiara di antara seluruh Mazmur. Tetapi meskipun ini Mazmur yang paling damai, secara jelas ini adalah Mazmur meratap. Tetapi bukan ratapan yang liar; ratapan ini terdalam di hati pemazmur. Begitu sakitnya di dalam hati. Meratap karena apa? Karena sesuatu yang sudah hilang. Yaitu kehadiran Allah di dalam bait-Nya, gereja Tuhan (kumpulan orang-orang yang ditebus oleh Tuhan). Di tengah-tengah kumpulan, Allah hadir. Mazmur ini akan sangat tepat ketika diaplikasikan di tengah-tengah konteks umat Allah tidak bisa datang lagi ke tempat bait suci-Nya Tuhan. Jeritan yang sama akan terjadi, misalnya saja orang Israel ketika di Babel tidak mungkin lagi ke rumah Allah di Yerusalem. Tidak mungkin ke Gunung Sion. Mereka bahkan bersumpah: Aku tidak akan melupakan engkau Yerusalem. Air mata yang dalam sekali. Mereka menginginkan kembali berkumpul di Yerusalem, bertemu dengan hadirat Allah di tengah-tengah umat-Nya. Tetapi mereka sekarang terbuang ribuan mil jauhnya. Ratapan ini sama ketika Daud yang sudah berdosa karena perzinahannya dengan Batsyeba, harus lari dari Absalom. Dia menginginkan kembali ke Yerusalem, bukan untuk menjadi raja di sana, tetapi berkumpul dengan umat Allah, dalam ibadah kepada Allah. Dalam kehidupan umat Allah, kadang Tuhan memberikan hajaran-hajaran, karena seringkali umat Allah tidak menghargai kehadiran Allah di dalam umat-Nya, tidak menghargai pekerjaan Allah di tengah-tengah dunia.

Mazmur 84, bisa dibagi beberapa bagian. Bagian pertama, ayat 1-5, menyatakan ekspresi kerinduan yang dalam pemazmur kepada gereja Tuhan di tengah ketiadaan gereja. Betapa disenangi tempat kediaman-Mu, ya TUHAN semesta alam! Kalimat ini mengekspresikan sesuatu yang begitu dalam, tetapi tidak bisa diekspresikan dengan kata-kata. Betapa disenangi. Jiwaku hancur karena merindukan. Hatiku dan dagingku bersorak-sorai. Ini adalah bahasa cinta. Bahasa orang yang terputus dari apa yang dicintainya. Yang paling dicintai adalah the present of God (Kehadiran Allah). Kehadiran Allah di bumi adalah persekutuan umat percaya dalam gereja yang sejati. Dikatakan bahwa betapa disenangi tempat kediaman-Mu, ya TUHAN semesta alam! Kata yang sama, TUHAN, semesta alam, kata yang sama dengan Yesaya. Ketika dia melihat Allah yang besar. Kudus, kudus, kuduslah TUHAN, TUHAN semesta alam. Salomo menyatakan,”O TUHAN, Engkau begitu besar. Bangunan mana yang bisa menampung kehadiran-Mu.” Allah begitu besar, tidak mungkin dibatasi dengan kotak. Tetapi, Alkitab mengajarkan bahwa Allah di dalam kerendahan hati-Nya rela untuk mengunjungi umat-Nya di rumah Tuhan. Itu berbicara mengenai gereja, mengenai persekutan orang percaya yang sudah ditebus oleh Yesus Kristus. Kehadiran Allah ada dalam persekutuan umat percaya yang beribadah di dalam gereja yang sejati.

Saya akan memberikan dua penekanan. Yang pertama penekanan akan kehadiran Allah di dalam komunal. Persekutuan umat Allah dalam gereja yang sejati, sesuatu hal berharga yang dinyatakan di dalam Alkitab. Dua orang, atau 200 orang atau 2000 orang berkumpul dalam sebuah gereja, tidak ada ada hebatnya, karena hanya manusia, kumpulan orang-orang dengan ideologi, simbol-simbol dan mimpi yang sama. Tetapi, jikalau 200 atau 2000 orang itu berkumpul dalam sebuah gereja, merendahkan diri, memuji Allah dan Allah hadir, Alkitab mengatakan, Allah hadir di tengah-tengah puji-pujian Israel. Alkitab mengajarkan 2 atau 3 orang berkumpul dalam nama-Ku, Aku hadir. Kehadiran Allah yang tidak terlihat dirasakan oleh semua orang itu adalah kemuliaan dan keindahan di bumi ini. Misalnya ada 10, 15 orang atau bahkan 5 orang di Afganistan dan berkumpul di dalam sebuah gereja, menangis, menyanyi bersama-sama di tengah-tengah penderitaan mereka, mereka sedang diburu untuk dimatikan, apa hebatnya? Tidak ada hebatnya, bahkan itu sesuatu yang misery. Karena melihat orang yang akan dibunuh, masuk ke satu tempat dan kemudian mereka ketakutan dan berdoa. Tetapi, jikalau mereka yang 5 orang berdoa dan Kristus hadir, karena Kristus menyatakan bahwa 2 atau 3 orang berkumpul dalam nama-Ku, Aku pasti datang. Dua atau tiga orang itu berkumpul dalam nama-Ku itu dianiaya, maka Kristus mengatakan,”Mengapa Engkau menganiaya Aku?” Sama seperti ketika Dia katakan kepada Saulus ketika melawan untuk menganiaya gereja Tuhan, maka itu adalah keindahan. Gereja itu indah bukan karena orang-orang berkumpul, tetapi karena Allah sendiri hadir. Jangan sekali-kali melupakan prinsip ini. Itu yang ada terus di dalam mata para nabi dan rasul mengenai gereja. Dalam Mazmur 84, ”Betapa disenangi tempat kediaman-Mu, ya TUHAN semesta alam!” Apakah dia memikirkan mengenai hanya Bait Suci dan tembok-temboknya saja? Bukan. Karena dikatakan, berbahagialah orang yang diam di rumah-Mu, yang terus-menerus memuji-muji Engkau, mengenai kumpulan umat Allah. The Glory and the beauty of the church. Kehadiran yang diinginkan pemazmur adalah kehadiran Allah di dalam persekutuan umat percaya yang beribadah di dalam gereja yang sejati.

Saya tegaskan dengan gereja yang sejati, karena banyak gereja palsu. Simbolnya gereja, nama Kristus dikatakan, tetapi pemerintahan Kristus tidak dijalankan. Gereja-gereja yang menyatakan bahwa dia gereja dan memuliakan Kristus, tetapi mengajarkan bagian-bagian tertentu dari Alkitab. Perhatikan kalimat ini: Orang fasik suka akan janji-janji Tuhan, tetapi hanya orang benar yang menyukai seluruh Firman Allah. Orang benarlah yang menyukai janji Tuhan dan juga hardikan, teguran Tuhan. Dalam Alkitab ada kumpulan umat Allah, “gereja”, di mana Tuhan sudah tidak ada di sana. Itulah sebabnya saya katakan perkumpulan umat Allah penting tetapi dalam gereja yang sejati. Bukan perkumpulan yang penting, tetapi kehadiran Allah yang penting. Perkumpulan itu harus sejati di hadapan Allah. Jikalau ini ada, maka the Presence of God itu hadir. Pemazmur menyukai, menginginkan, merindukan secara dalam. Banyak sekali gereja yang sudah ditinggalkan oleh Allah. Misalnya pada waktu jaman Yesus Kristus, ada Bait Allah yang besar, kumpulan umat Allah ada di sana, dan ada gerejanya Yohanes Pembaptis. Di mana presence of God itu ada? Jawabannya adalah di tempat Yohanes Pembaptis.

Pemazmur menyatakan, “Aku menyukai tempat kediaman-Mu,” itu bukan berbicara mengenai cinta yang superstitious. Menyukai karena dia bertemu dengan Allah yang hidup, Allah yang besar tetapi rela menyatakan kehadiran-Nya di tengah-tengah dunia ini. Itu teriakan setiap DNA yang ada pada dirinya. Menangis dengan teriakan. Hatiku dan dagingku bersorak-sorai, berteriak. Kemudian dia membandingkan dirinya dengan burung pipit dan burung layang-layang. Burung pipit dipakai di kitab Matius dibandingkan dengan manusia. Kalau Allah saja memperhatikan burung pipit, apalagi Allah memperhatikan manusia. Tetapi di ayat ini, orang yang mengasihi Allah, mengasihi kumpulan umat Allah yang sejati. Jikalau dia terpisah, dia mengatakan bahwa burung pipit itu lebih beruntung dari aku. Burung pipit bisa meletakkan sarangnya dan anak-anaknya di dalam rumah-Mu, di atas mezbah-Mu, ya Tuhan. Tetapi aku jauh dari pelataran-Mu. Dia membandingkan dirinya dengan burung pipit. Betapa bahagia dan beruntungnya burung itu, dan betapa aku merana. Burung ini meletakkan anak-anaknya dan dirinya di tempat mezbah Tuhan atau di tempat Bait Suci, Bait Allah. Dari sana dia keluar mencari makan untuk kembali lagi. Centre hidupnya dan arah gerakannya. Saya minta cek di dalam hidupmu, apa centre hidupmu dan kemana arah gerakanmu. Kalau seorang family man, maka centre hidupnya adalah dalam rumah tangganya di dalam family-nya. Hatinya ada di dalam keluarga. Dia keluar untuk mencari makan dan untuk dikembalikan kepada keluarga. Itu baik. Tetapi di tempat yang lain, orang yang workaholic, centre hidupnya adalah kantor, pekerjaannya. Keluarganya cuma tempat singgah seperti hotel. Anggota keluarganya cuma sampingannya. Fokus hidupnya adalah pekerjaannya. Perhatiannya sangat sedikit untuk keluarganya. Isi hatinya adalah pekerjaan, mungkin lebih dalam lagi adalah uang. Dia akan mengejar habis-habisan. Sesekali dia memperhatikan orang di rumahtangganya karena dia orang yang menikah. Tetapi dia akan membela apa yang menjadi pekerjaannya. Tetapi orang benar, Alkitab menyatakan centre hatinya adalah Allah dan umat-Nya. Siapa pun yang menghina Allah, Dia akan marah. Jikalau dia mengecewakan Tuhan, maka dia akan sedih. Ketika dia berdosa, air matanya berlinang-linang karena dia melukai hati Allah. Tetapi orang yang belajar mengasihi Allah, akan memberikan hatinya pelajaran untuk mengasihi umat-Nya. Sama seperti nabi-nabi, seluruh umat Allah ada di dalam hatinya. Kejatuhan umat Allah akan melukai hati para nabi dan membuatnya berair mata. Keinginan para nabi, sukacitanya para rasul jikalau mereka boleh bertumbuh dan mengenal Kristus. Orang benar bukan sekedar family man; hatinya, fokusnya pada Allah dan umat Allah. Bukan berarti dia tidak akan bekerja, tetapi dia bekerja keras di luar agar Allah dipermuliakan dan Kerajaan Kristus diperluas. Dia memberikan penilaian (value) dalam hidupnya melihat apakah dia boleh mendekat dan boleh beribadah sangat dekat kepada Allah. Di ayat yang ke-5 dikatakan, berbahagialah orang-orang yang diam di rumah-Mu, menikmati kehadiran Allah, memandang keindahan-Nya dan memuji kemuliaan-Nya.

Bagian yang kedua, ayat 6-8. Pemazmur menguatkan dirinya dan hatinya, meng-encourage dirinya untuk memiliki ketekunan berjalan mendekat ke rumah Tuhan. Seakan-akan orang yang jauh yang terpisah rumah Tuhan, sekarang berjalan mendekat ke rumah Tuhan. Ayat-ayat ini ada dua penekanan. Yang pertama adalah adanya janji penyediaan, dan yang kedua adalah janji kekuatan sampai akhir. Diberkati orang-orang yang berjalan menuju ke rumah Tuhan yaitu Allah yang hadir di Sion. Ayat ke-6, berbahagialah orang yang berhasrat mengadakan ziarah. Sion adalah perwujudan Allah di bumi. Dikatakan mereka berjalan, sambil menangis mendekati Bait suci dan dikatakan ada Lembah Baka. Para komentator menyatakan Lembah Baka tidak diketahui tempatnya. Tetapi diperkirakan tempat yang akan dilewati oleh musafir yang pergi ke Yerusalem. Lembah itu selalu kering dan terisi air jika ada hujan. Jadi, lembah itu akan kering atau berair tergantung pada tindakan Allah. Ini menggambarkan seseorang yang menetapkan hatinya untuk mendekat kepada Allah, rumah Allah. Allah memberikan satu janji akan ada pemeliharaan Tuhan. Lembah Baka itu adalah lembah air mata, tetapi Lembah Baka itu menjadi lembah mata air bagi orang-orang yang menetapkan hatinya untuk mencari Allah. Orang-orang yang hatinya menjerit terus boleh bersekutu dengan Allah, mencari wajah Allah, mencari the presence of God; kehadiran Allah. Di mana pun ada kesulitan, ada pemeliharaan Allah bagi dia. Ini suatu janji, di mana dia penuh dengan air mata pada saat Allah hadir dan menolong dirinya. Titik itu menjadi tempat mata air yang meluap bagi dirinya. Juga ada janji kekuatan sampai pada akhir. Orang ini berjalan makin lama makin kuat menghadap Allah ke Sion.

Dalam Alkitab ada empat hal; pertama adalah dari iman menuju kepada iman. Kedua, adalah dari kekuatan menuju kepada kekuatan. Ketiga adalah dari kemuliaan menuju kepada kemuliaan. Dan keempat adalah dari kuasa menuju kuasa (power to power). Ini suatu jaminan yang Tuhan berikan kepada kita untuk berjalan mendekat ke rumah Allah bertahun-tahun sampai kita mati. Para komentator menyatakan bisa diaplikasikan seorang pilgrim, yang berjalan di tengah-tengah dunia melewati begitu banyak masalah menuju kepada kekekalan, kepada rumah Allah. Pada waktu kita muda, kita kuat tubuhnya tetapi pada waktu kita tua, kita lemah tubuh. Tetapi uniknya, dalam kerohanian terjadi terbalik. Pada waktu kita muda, Allah sering mengganggap orang- orang ini tidak mature kerohaniannya. Tetapi ketika orang menjadi tua, bukan menjadi lelah, makin lama makin jadi, makin lama makin kuat. Dia tidak terburu-buru, dikatakan berjalan bukan berlari. Berjalan makin lama makin kuat hendak menghadap Allah ke Sion. Orang yang menetapkan hatinya untuk mencari wajah Allah, yang belajar untuk mencintai Allah dan juga umat-Nya, yang menetapkan hatinya kepada pekerjaan dan umatNya di tengah-tengah dunia; maka ada janji penyediaan Allah. Kedua adalah janji kekuatan tekun sampai akhir.

Dan bagian yang ketiga adalah ayat 9-13, berbicara tentang doa permohonan kepada Allah dan doksologi. Dia meminta sekali lagi kerinduan yang dalam kepada Tuhan. Lebih baik berada di ambang pintu rumah Allahku berdiam di kemah-kemah orang fasik. Kerinduan yang dalam, persis sama dengan ayat yang ke-2. Kerinduan pemazmur mendekat kepada pelataran Allah, di mana Allah di tengah-tengah kumpulan umat-Nya. Dia mengatakan lebih baik berdiri di ambang pintu rumah Allahku, ini bukan official penjaga pintu. Tetapi di pintu, begitu di tengah-tengah massa, yang tidak nyaman. Tetapi dia mengatakan itu lebih baik dibandingkan aku tinggal di tengah-tengah tenda orang fasik dan aku pesta pora. Ayat 9-13 mengutarakan sekali lagi jeritan hatinya persis dalam ayat 2-3. Dia memuji-muji Allah. Bagaimana Tuhan adalah matahari, perisai yang memiliki kasih dan kemuliaan yang diberikan kepada orang-orang yang hidup tidak bercela. Dia menyadari bahwa Tuhan Allah segala-galanya dalam hidup dia, sumber kebahagiaan, kebaikan.

Ayat yang ke-9; “Ya TUHAN, Allah semesta alam dengarkanlah doaku, pasanglah telinga, ya Allah Yakub. Sela” dan ayat yang ke-10 “Lihatlah perisai kami, ya Allah, pandanglah wajah orang yang Kauurapi.” Di ayat 9, Ya TUHAN, Allah semesta alam adalah huruf besar. Ini adalah doa kepada Allah; God of Covenant. Ini berbicara tentang Yesus Kristus: dengan perisai. Ini menyatakan sesuatu yang indah dalam doa ini. Pemazmur mau menghadap Allah, tetapi dengan perisai Yesus Kristus. Di antara Allah dan pemazmur ada Yesus Kristus di tengahnya, ini prinsip teologia di dalam doa yang penting. Hanya di dalam Yesus Kristus-lah, maka tahta pengadilan Allah menjadi tahta kasih karunia. Kita tidak mungkin bisa menghadap Allah dengan kebesaran-Nya, kuasa-Nya, kesuciaan-Nya. Kita tidak bisa menghadap Dia dengan bebas tanpa kita mati. Kecuali ada Yesus Kristus yang melindungi kita di tengah, yang meredakan kemarahan Allah dan kesucian Allah yang timpa kepada kita. Pemazmur mengatakan “Betapa disukai tempat kediaman-Mu ya TUHAN.” Seluruh DNA-nya itu mengingini, mendekat kepada Allah di dalam gereja Tuhan yang sejati, dalam persekutuan umat Allah yang ditebus. Tetapi juga dalam persekutuan umat Allah yang ditebus di dalam Yesus Kristus. Sehingga pemazmur mengatakan “Lihatlah perisai kami ya Allah, pandanglah wajah orang yang Kauurapi.” Allah memandang wajah Yesus Kristus yang di mana kita berada di dalam Yesus Kristus maka dia berkenan menyatakan diri-Nya kepada kita dalam kasih karunia. Dia berkenan menyatakan kepada kita, di situ keindahan yang diinginkan oleh pemazmur dan disitu dia membandingkan dirinya dengan burung-burung yang ada di gereja. Dia membandingkan dirinya dengan orang-orang yang terus-menerus ada dalam gereja memuji-muji Allah. Itu adalah hal yang paling indah, dia inginkan dengan air mata dan luka hati yang terdalam karena dia berada di tempat pengasingan.

Saya akan memberikan beberapa aplikasi ini. Yang pertama, biarlah kita boleh mendidik diri kita dan komunitas kita menjadi gereja yang sejati. Kiranya Tuhan rela hati untuk membentuk gereja kita, kumpulan umat Allah di sini, gereja yang sejati. Gereja yang sejati itu bukan koneksi sosial, bukan aksi charity, bukan entertainment dalam ibadah, atau pengajaran self improvement atau program-program saja di dalam sebuah aktifitas. Kita harus mendidik diri dan berdoa dan minta kerelaan Allah untuk mendidik, membentuk kita menjadi gereja yang sejati. Gereja yang sejati adalah tempat di mana Allah itu hadir bertemu dengan manusia. Tuhan dipermuliakan dan Tuhan nyatakan diri-Nya dan isi hati-Nya kepada umat-Nya. Rumah Tuhan adalah tempat di mana otoritas, keadilan dan belas kasihan dan hikmat dan kuasa Tuhan dinyatakan di muka bumi ini, mengalahkan kerajaan setan dan dosa.

Aplikasi yang kedua, ratapan kerinduan ini tidak dimiliki oleh dunia, juga tidak dimiliki oleh orang Kristen yang palsu. Di tengah-tengah saudara tidak bisa berkumpul kembali di dalam rumah Tuhan untuk sementara waktu atau berapa lama kita tidak tahu. Apakah ada kesedihan di dalam isi hatimu? Kadang perasaan yang muncul bisa mengindikasikan kerohanian kita. Ratapan ini hanya dimiliki oleh orang-orang yang dapat mengenali keindahan gereja Tuhan yang sejati. Orang-orang yang diterangi oleh Roh Kudus, ditebus oleh Yesus Kristus yang dapat melihat seberapa berharganya gereja dan indahnya dan mulianya gereja. Gereja adalah isi hati Tuhan. Gereja adalah rumah Tuhan. Gereja adalah mempelai wanita Kristus. Orang Puritan mengatakan gereja adalah rumah Tuhan karena itu tempat yang paling disenangi Tuhan hadir di bumi ini. Ada beberapa orang yang berespon dengan rumah Allah. Yang pertama adalah orang dunia. Ketika dia pergi ke rumah Tuhan, dia tidak mengalami dan melihat kehadiran Allah. Kedua adalah orang Kristen yang sombong. Orang seperti ini adalah orang yang sebenarnya menyadari kehadiran Allah dalam gereja yang sejati tetapi dia tidak mau merendahkan diri, tidak mau untuk memasukkan hatinya ke sana. Dia memikirkan mengenai dirinya yang harus diterima oleh komunitas lokal, dia tidak mau berjuang, melayani, memberikan hatinya, air matanya bersama-sama. Dia hanya datang sebagai pendengar saja kemudian pulang. Orang itu tidak mungkin akan bertumbuh secara rohani. Spirituality adalah bicara mengenai personal tetapi tidak pernah individual. Spirituality itu dibentuk di dalam community. Ketika Allah bicara berkenaan dengan bagaimana mengalahkan dunia. Gereja mengalahkan dunia berbicara mengenai gerakan komunitas. Ketika Yesus Kristus mendirikan gereja-Nya itu adalah komuniti yang bergerak untuk Kerajaan Allah. Tipe yang ketiga adalah orang Kristen yang ignore, tidak mau memikirkan apapun saja untuk pekerjaan Tuhan (gereja Tuhan). Hanya datang dan kemudian pulang. Dia rajin kalau dia ada tugas. Dia tidak memiliki jeritan, betapa disenangi kediaman-Mu ya TUHAN. Dia tidak mungkin memiliki jiwa yang hancur untuk ini. Dia tidak memiliki hati dan daging yang terus berteriak. Orang yang ignorance, tidak peduli yang sama sekali orang Kristen yang mungkin duniawi. Tetapi orang yang keempat adalah orang yang seperti pemazmur ini. Yang mengetahui bahwa Tuhan itu Maha Hadir di seluruh dunia ini, tetapi secara khusus Dia bertahta di tengah-tengah umat-Nya di dalam gereja lokal yang sejati. Orang-orang ini mengenal Allah dan pekerjaan-Nya, mengenal Kristus dan jemaat-Nya, memiliki kerinduan yang seperti pemazmur.

Aplikasi yang ketiga adalah pemazmur mengantisipasi berkenaan dengan surga. Berkenaan dengan perjalanan musafir menuju kepada surga. Perjalanan menuju surga diproyeksikan perjalanan menuju kepada gereja lokal di mana dia bertemu dengan kehadiran Allah. Mazmur ini mengantisipasi waktu di mana kita mungkin tidak bisa bergerak atau pergi lagi ke gereja. Kenapa pemazmur terlepas dari kumpulan umat Tuhan? Kita tidak tahu. Mungkin karena sakit, tua, dosa seperti Daud, mungkin karena dibuang. Atau mungkin karena kondisi seperti ini, virus di mana-mana. Dan sampai kapan ini terjadi, kita tidak tahu sama sekali. Apakah kita merindukan apa yang masa lalu Tuhan sudah kerjakan kepada kita? Jikalau Tuhan memberikan kemurahan-Nya, maka mungkin Tuhan memberikan kepada kita hidup. Mungkin Tuhan memberikan kemungkinan lagi untuk berkumpul di dalam gereja. Kalaupun terjadi biarlah kita mengantisipasi waktu di depan, kita tidak lagi bisa bergerak menuju ke rumah Allah. Suatu hari, entah tua, sakit, wabah seperti ini lagi kita tidak bisa bergerak untuk menuju ke rumah Allah. Maka ketika umat Allah ada di tengah-tengah kita, ketika TUHAN semesta alam berdiam di dalam umat-Nya, kediaman-Nya, pelataran-pelataran. Ketika anugerah itu hadir, hargailah dengan seluruh isi hati kita. Tidak selamanya anugerah Allah ada di tangan kita. Tetapi ketika ada di tangan kita, kita berespon dengan tepat. Sungguh-sungguh beribadah, membaca Firman-Nya, berelasi cinta kasih dengan umat Allah yang Tuhan berikan di tengah-tengah kita. Sungguh-sungguh berjuang dalam gereja lokal yang sejati. Biarlah kita boleh menyadari anugerah tidak selalu ada, seperti hari ini. Berharaplah dan mintalah anugerah ini dikembalikan. Kiranya Tuhan mendengarkan doa kita, agar Dia rela hati memberikan anugerah kembali kepada kita. Jikalau diberikan lagi, berjanjilah tetapkan hatimu dari sekarang, untuk kita tidak menyimpang di depan. Tetapkan hati menghargai anugerah gereja yang Tuhan berikan kepada kita, tempat di mana Tuhan sendiri hadir mengunjungi umat-Nya di dalam Yesus Kristus. Mari kita berdoa.

Alamat

556 - 558 Botany Road, Alexandria, NSW, 2015
sekretariat@griisydney.org
0422690913
0430930175

Social Media

Facebook GRII Sydney Instagram GRII Sydney Twitter GRII Sydney


Google Play Store
App Store

^