[simple_crumbs root="Home" /]
kembali

22 September 2019

Pdt. Agus Marjanto, M.Th

Abraham(4)

Kejadian 22:1-14

Kita akan masuk ke dalam elemen keempat dari iman yang sejati. Semua orang di dunia ini mengatakan aku beriman kepada Allah, semua orang Kristen menyatakan aku beriman kepada Tuhan Yesus Kristus. Tetapi apakah iman kita adalah iman yang sejati dan percaya akan objek yang sejati? Dan kepercayaan yang kita miliki adalah yang benar sejati dilihat oleh Allah yang sejati? Abraham adalah bapak orang beriman, menyatakan bahwa apa yang terjadi kepada Abraham, apa yang Allah bentuk kepada Abraham itu adalah satu tanda kesejatian. Melihat dia, melihat apa yang Allah kerjakan, dan membandingkannya dengan hidup kita akan menyadarkan apakah iman kita adalah iman yang sejati. Dan ketika kita melihat Abraham, apa itu imannya yang sejati, sehingga dia boleh dikatakan bapak orang beriman?

Yang pertama, iman yang sejati adalah anugerah Allah kepada manusia, bukan manusia kepada Allah (dari atas ke bawah bukan dari bawah ke atas). Motivasi, kejujuran, dan ketulusan manusia menyembah Allah, jika arahnya dari bawah ke atas, tidak peduli perkataan orang kepada dia; imannya bukan sejati, tetapi palsu. Tidak mungkin manusia dapat beriman kepada Allah kalau Allah tidak bekerja dalam dirinya, memfokuskan imannya kepada Allah yang benar kalau Allah tidak membukakan diri-Nya terlebih dahulu kepada manusia. Kita tidak memiliki kemampuan memiliki iman yang sejati. Alkitab mengatakan kita mati secara rohani, buta secara rohani; artinya kita tidak peduli akan hal-hal yang rohani, dan yang bersangkut paut dengan Allah yang sejati. Tidak mungkin seseorang bisa memfokuskan kepercayaannya kepada Allah yang sejati berdasarkan dirinya sendiri. Memilih barang pun sering salah bukan?. Kita memilih baju, pikir baju ini cocok. Sampai di rumah, kita pakai akhirnya kita rasa, aku tidak suka baju ini. Memilih barang saja bisa salah, mana mungkin memilih Allah yang tidak kelihatan dan tepat. Memilih sesuatu yang kelihatan saja kita sering salah. Memfokuskan arah kepada Allah yang tidak kelihatan bagaimana kita mengatakan itu pasti tepat? Kita tidak mungkin memiliki iman kepada Allah yang sejati, kalau Dia tidak lebih dahulu memberikan belas kasihan, membukakan Diri-Nya kepada kita.

Bagian Alkitab yang sulit saya terima sampai saya mengerti prinsipnya, lalu saya mengatakan “Ya, Tuhan.” Allah mengatakan,”Tidak ada seorangpun yang berakal budi dan yang mencari Aku.” Mana bisa tidak ada orang yang mencari Engkau, miliaran orang mencari Tuhan bukan? Tetapi Allah menyatakan tidak! Orang yang bisa mengatakan hal ini adalah Paulus. Paulus orang yang dilatih dalam agama Yahudi yang ketat, dia mengejar, mencari, memfokuskan hidupnya kepada Allah dan melayani Allah. Tetapi Allah mengatakan “Tidak ada manusia berakal budi, tidak ada yang mencari Aku.” Kalau Tuhan mengatakan sama kita, kita pasti terima. Begitu hujan sedikit saja, malas pergi ke gereja. Bahkan setiap hari saudara dan saya sulit untuk membaca Alkitab. Tetapi Paulus akan tersinggung dengan kalimat Tuhan. Allah mengatakan, “Tidak, engkau tidak mencari Aku!” Lho aku mencari Engkau! Di perjalanan di Damsyik itu, lalu kemudian Yesus datang kepada dia, “Mengapa engkau menganiaya Aku?” Lalu kemudian Paulus mengatakan, “Siapa Engkau, Tuhan?” baru dia sadar selama ini tidak mendekat kepada Allah yang sejati. Dia mengetuk pintu yang salah, pintu allah lain. Tanpa anugerah tidak ada satu manusia yang memiliki iman sejati kepada Allah yang sejati. Abraham sama, apakah Abraham mencari Allah? Jawabannya tidak. Kisah Abraham dimulai dengan Allah tiba-tiba datang bicara kepada dia. “Tinggalkan negerimu, sanak saudaramu, rumah bapamu dan sekarang pergi ke tempat yang Aku tunjuk.” Abraham adalah bapak orang beriman dan yang diselamatkan adalah orang-orang yang memiliki iman yang sama dengan Abraham. Maka hal pertama yang harus kita mengerti adalah sola gratia, hanya karena anugerah.

Hal yang kedua. Iman yang sejati bukan statis tetapi sesuatu yang bergerak, sesuatu yang dinamis. Orang-orang yang hidup di dalam iman dengan Allah yang sejati maka orang tersebut memiliki vitalitas yang tinggi. Perjalanan bersama dengan Allah yang makin lama disendirikan secara rohani, hati kita makin lama makin dimiliki oleh Allah saja. Ini adalah perjalanan mengasihi Allah lebih dalam lagi. Abraham dipisahkan dari orang-orang yang dekat dengan dia. Apa yang secara real dimiliki oleh Abraham sesungguhnya? Yaitu Allah sendiri. Kemudian Allah meminta anaknya Ishak, sebelumya Abraham tidak memiliki anak, tiba-tiba Allah datang berjanji bahwa akan memberikan anak Tuhan. Kemudian meminta anak itu dipersembahkan kepada Dia. Ini suatu yang sulit kita pikirkan? Setan bisa mengocok kita dan memberikan kita self-pity, berpikir lebih baik tidak usah janji kepadaku Tuhan dan tidak usah memberikan anak. Saya menginginkannya tetapi tidak ngotot (ingin sekali), Engkau dalam kasih karunia-Mu memberikan kepadaku. Sekarang Engkau mau mengambil anak itu, kenapa Tuhan? Lebih baik tidak usah dikasih anak, ini sesuatu yang lebih menyakitkan. Kalau patah cinta saudara akan mengatakan hal yang kurang lebih sama, yang menyakitkan bukan sekarang kita itu putus cinta, tetapi mengapa aku bertemu engkau.

Sulit mengerti apa yang Allah maksud, dan kita berpikir Allah itu kejam. Dia mau mengajarkan kita bahwa Allahlah yang utama, satu-satunya centre dalam hidup kita. Manusia harus menyadari di luar Dia tidak ada kebahagiaan dan kehidupan yang sejati. Allah akan mengajar kita yang hidupnya tadinya dipenuhi oleh hal-hal yang mencintai dunia ini, meskipun bukan dosa sekalipun kita akan lepaskan secara rohani di dalam hati kita. Yesus mengatakan: jikalau seorang tidak membenci bapanya, ibunya, suaminya, istrinya, anaknya laki-laki, perempuan, saudaranya maka dia tidak layak menjadi murid-Ku. Mencintai orang-orang sekeliling kita itu bukan dosa, bahkan Yesus mengatakan mencintai musuh. Mengapa Yesus mengatakan hal-hal seperti itu? Akitab menyatakan Allah tidak memiliki problem apapun saja dengan apa yang kita miliki, tetapi jikalau kita memiliki iman yang sejati kita akan mengalami hal-hal yang dialami oleh hamba-hamba Tuhan di dalam Alkitab. Secara rohani dipisahkan, dijadikan sendiri untuk dimiliki dan memiliki Allah. Kita akan mengerti bahwa itu adalah kebahagiaan yang sejati, kehidupan yang sejati; menempatkan Allah di centre hati kita.

Hal yang ketiga, objek iman itu harus tepat, harus precise, kita harus memiliki satu pengenalan kepada pribadi-Nya yang sejati, mengerti dan bergaul di dalam sifat-sifat-Nya setiap hari. Kita bisa mengatakan oh nama-Nya Yesus; saya bahkan mempercayai di luar Yesus tidak ada keselamatan. Tetapi pertanyaannya adalah : apakah Yesus yang kita percayai adalah Yesus yang ada di dalam Alkitab, atau Yesus yang pikir sendiri? Orang-orang dunia mengatakan, “Aku menyembah Allah.” Tetapi apakah Allah yang ada di dalam Alkitab? Orang Yahudi datang kepada Yesus Kristus kemudian mengatakan, “Kami menyembah Allahnya Abraham.” Tetapi Yesus mengatakan, “Tidak! Engkau menyembah setan.” Engkau bukan menyembah Allahnya Abraham, Bapamu itu adalah setan! Sama dengan Paulus, “Aku melayani Engkau, Allah.” Kemudian Yesus mengatakan, “Mengapa engkau menganiaya Aku?” Saya tidak tanya apakah engkau pergi ke gereja, tetapi apakah engkau setiap hari membaca Firman? Kalau engkau tidak membaca Firman pasti tidak memiliki pengenalan akan Kristus Yesus di dalam Alkitab. Bagaimana kita bisa berkata kita beriman kepada Yesus Kristus. Kalau orang-orang di gereja manapun saja tidak melihat Alkitab, tidak mendalami Alkitab, mengatakan mempercayai Dia di dalam Alkitab? Saudara hanya mempercayai simbol-simbol agama, salib, nama-Nya Yesus, berdoa, hari Minggu pergi ke gereja; tetapi tidak bergaul, mengenal pribadi-Nya, dan tidak mengerti sifat-Nya.

Satu ayat Alkitab di Yoh 17:3, apa itu hidup yang kekal? Mengenal Allah dan mengenal Yesus Kristus, bukan bicara berkenaan dengan menyebut nama-Nya. Pada zaman akhir banyak orang mengatakan, “Tuhan..Tuhan aku bernubuat demi nama-Mu.” Tetapi Yesus mengatakan, “Aku tidak mengenal engkau.” Ketika bicara keselamatan adalah mengenai pengenalan. Iman Abraham bukanlah iman yang buta. Dia mengenal Allah yang sejati, dia mengenal Allah yang murka pada dosa, untuk itulah Ishak harus dikorbankan sebagai anak sulung. Tetapi dia menyadari bahwa Tuhan itu menjanjikan berkat kepada Dia dan mempercayai berkat itu; maka Abraham dinyatakan sebagai orang benar. Dia tidak bisa merelasikan dua hal ini, anaknya harus mati karena dosanya, tetapi anaknya adalah janji berkat keselamatan bagi dia dan seluruh bangsa. Iman kita memiliki pengenalan akan Allah meskipun tidak mungkin secara keseluruhan, komprehensif. Tetapi mengenal Allah yang sejati. Abraham tidak tahu bagaimana Allah menggabungkan keduanya; antara kutuk kematian murka dan juga berkat keselamatan dan kasih karunia sampai Allah menahan Abraham membunuh Ishak dan menyediakan domba. Prinsip ini di dalam berbagai macam kisah. Iman yang sungguh-sungguh sejati maka akan mengenal pribadi Allah. Apakah kita mengenal Allah, bergaul dengan Allah yang sejati dalam Alkitab? Ataukan hanya bermain dalam simbol-simbol agama Kristen? Atau menyembah Allah yang merupakan proyeksi pikiran kita yang berdosa seperti Paulus atau seperti orang Yahudi itu?

Dalam doa syafaat Abraham untuk Sodom dan Gomorah, pertama-tama Abraham begitu eager untuk begging, kalau 50 bagaimana Tuhan? Aku tidak akan memusnahkan. Kalau 45 bagaimana Tuhan? Aku tidak memusnahkan. Kalau 40 bagaimana Tuhan? Aku tidak akan memusnahkan. Kalau 30 orang benar ada di dalam kota Sodom Gomorah bagaimana? Apakah Engkau akan memusnahkan, hai Engkau Hakim yang adil? Dan Tuhan mengatakan Aku tidak akan memusnahkan. Minta ampun Tuhan, hamba-Mu memberanikan diri di hadapan-Mu. Dia takut sama Tuhan, dia tahu Allah itu adalah Allah yang adil, dia tahu Allah itu Allah yang murka terhadap dosa. Ampuni aku Tuhan, hamba-Mu dengan lancang bicara sekali lagi, 20 Tuhan, apakah engkau akan memusnahkan? Oh belas kasihan Abraham besar sekali untuk Sodom Gomorah karena ada Lot. Ini bukan tawar-tawaran harga di pasar baru ‘saban (tiga puluh ribu rupiah) boleh tidak?’ Bukan! Dengan air mata, dengan gentar dia menghadap tahta pengadilan Allah. Terakhir dia mengatakan, 10 bagaimana Tuhan? Maka Tuhan mengatakan Aku tidak akan memusnahkan. Kemudian Abraham berhenti, mengapa dia berhenti? Ini pelajaran berharga. Karena Abraham menyadari bahwa Allah memiliki kasih karunia, hati yang lembut lebih daripada dia. Allah yang adil, Allah yang murka terhadap dosa, tetapi hati-Nya hati yang lembut. Hati-Nya penuh dengan kasih karunia. Dia akan menjalankan apa yang benar dan tidak mungkin Dia bersalah. Sekalipun Dia akan menghasilkan, menghadirkan murka, maka tindakan-Nya itu adalah tindakan yang benar adanya. Tidak mungkin Dia salah. Dia adalah Allah yang memiliki cinta lebih daripada Abraham. Abraham mengerti, dia mengenal Allah, sehingga dia berhenti di titik itu. Dia mengerti cinta kasih Allah itu begitu dalam. Dan kalau Tuhan itu melemparkan murka karena memang seharusnya murka itu diberikan kepada orang yang tidak tahu diri. Mengenal pribadi Allah, apakah kita bertumbuh mengenal pribadi Allah. Apakah sungguh-sungguh? kiranya kotbah ini boleh menjadi self-examination untuk kita semua.

Hal yang keempat, iman yang sejati akan melihat kemuliaan, signifikasi dan keindahan Yesus Kristus. Seluruh iman para nabi di dalam Perjanjian Lama, centre-nya adalah Yesus Kristus. Seperti benang-benang yang diikat menjadi satu dan kemudian ada centernya, simpulnya. Jikalau dipotong simpul itu, maka seluruh benang itu akan terserak. Sama seperti batu penjuru yang menggabungkan seluruh batu-batu yang lain. Kubah pada zaman kuno tidak memiliki semen untuk merekatkannya maka mereka menyusun batu, kemudian ada satu batu yang tersembunyi sampai sekarang. Tetapi jika bisa menemukan batu itu, dicopot batu itu dari tempatnya, seluruh kubah itu akan hancur berkeping-keping ke bawah.

Seluruh orang dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, titik simpul (center) hidupnya adalah Yesus Kristus. Jikalau itu diambil dari hidupnya, seluruh cerita hidupnya akan jatuh berkeping-keping. Apa titik simpul hidup Abraham? Di dalam Kejadian 11 -25, seluruh cerita hidupnya menjadi tidak berarti kalau saudara ambil sebagian dari cerita itu. Seluruh hidupnya tidak menjadi satu continue yang indah. Kalau saudara ambil satu potongan bagian saja, seluruh hidupnya akan terpenggal-penggal dan jatuh berantakan. Apa centrenya? Dari pasal 11-25 centre-nya adalah domba jantan itu. Bagaimana Allah akan memberikan bangsa yang besar, Allah memilih Abraham untuk dia memiliki keturunan dan keturunannya akan menjadi bangsa yang besar. Ini yang menjadikan Abraham lain dengan kita atau dengan orang yang lain. Kalau Allah tidak memilih dia, dia akan sama dengan semua manusia yang hidup dan mati, tidak ada hebatnya dia, tidak ada signifikasi hidupnya dia. Tetapi mengapa hidupnya menjadi signifikan dan menjadi berkat bagi bangsa-bangsa? Karena Allah memilih dia menjadi bapa orang beriman bagi Israel dan gereja secara rohani. Dari Abraham, berkat Allah sampai ke seluruh bangsa dan bagaimana dari Abraham berkat Allah bisa sampai kepada seluruh bangsa? Melalui keturunannya, Ishak pertama kemudian keturunan Ishak yang lain. Jikalau Ishak kemudian mati, maka seluruh cerita dari Abraham dan bangsa Israel itu tidak ada. Kita harus mengerti saat-saat yang penting di mana Tuhan nyatakan di dalam Alkitab.

Misalnya dalam Kejadian 3, kita akan menemukan manusia jatuh di dalam dosa. Satu atau dua lembar pertama, manusia hidup tanpa dosa. Tetapi dalam Kejadian 3, manusia jatuh di dalam dosa dan isi setelah itu dari seluruh Alkitab menjelaskan akibat dosa dan bagaimana Allah membereskan dosa di dalam Kejadian 3. Ini cerita yang penting sekali, kalau ini tidak terjadi, bagian-bagian yang lain itu tidak akan ada akibatnya. Dalam scope yang lebih kecil, dalam kehidupan Abraham, jikalau Ishak itu mati, apa yang terjadi? Nothing! Abraham menjadi nothing. Dia tidak perlu kita pelajari dan kita kenal; bangsa Israel tidak ada, mungkin melalui jalur yang lain, berkat Tuhan tidak sampai ke seluruh bumi. Mesias yang seharunya ada di dalam hidup Israel, tidak ada mungkin. Dalam Israel harus ada Kerajaan Allah, ada Mesias; supaya seluruh kehendak Allah jadi. Bahkan kita gereja Tuhan, kita sekarang ini dimulai dari gereja di Israel. Roh Kudus pertama kali datang di Israel baru ke seluruh bangsa. Yang membuat cerita Abraham dengan seluruh pekerjaan Tuhan di Israel itu tetap bisa berlanjut yaitu domba pengganti Ishak. Signifikansi domba yang disediakan Allah daripada Ishak, tanpa itu murka Allah tetap berlangsung, janji berkat kepada Abraham tidak dapat dilaksanakan. Tanpa domba itu, yaitu Yesus Kristus; maka sifat Allah yang murka dan berbelas kasihan tidak bisa direkonsiliasikan.

Abraham adalah orang beriman, bapa orang beriman. Semua orang yang beriman akan memiliki iman yang sama dengan Abraham. Iman yang sama dengan Abraham yaitu iman yang menyadari bahwa centre, inti kehidupannya adalah Yesus Kristus. Kalau itu diambil, seluruh hidup kita nothing. Dalam Yesus Kristus, semua sifat Allah yang berkontradiksi seakan-akan itu disatukan. Dalam Yesus Kristus, sejarah hidup Abraham bisa dilanjutkan. Dalam Yesus Kristus, seluruh kehendak Allah bagi muka bumi, berkat terhadap Abraham dan keturunannya bisa tetap terlaksana. Apakah saudara mulai menyadari sekarang? Tanpa domba itu maka kita tidak mungkin bisa merekonsiliasikan sifat Allah yang suci dan maha kasih; kehidupan Abraham berhenti sampai di situ, maka rencana Allah untuk memberkati bangsa-bangsa melalui keturunan Abraham tidak akan berlanjut. Dan apakah saudara bisa melihat sekarang ada signifikansi daripada Yesus Kristus?

Tuhan membukakan kepada saya Yohanes 15:1-8 dan itu berbicara tentang pokok anggur yang benar. Yesus Kristus adalah pokok anggur yang benar. Saya sangat terkesima dengan kalimat yang saya tidak tahu artinya: Apart from Me, you can do nothing (di luar Aku, engkau tidak bisa berbuat apa pun saja). Dalam anugerah Tuhan yang besar, maka kemudian saya melihat satu per satu di dalam bagian dari Alkitab dalam bagian Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, dan boleh saya katakan adalah apart from Me, you can do nothing adalah kacamata melihat seluruh bagian Alkitab kita, melihat segala kisah yang ada di dalam Alkitab. Setiap bagian Alkitab, siapapun itu tokohnya, jikalau dia beriman sejati, Allah akan mengajarkan satu hal, bahwa kita itu harus bergantung sepenuhnya kepada Kristus Yesus, di luar Dia kita tidak bisa berbuat apapun saja. Dalam Perjanjian Baru dikatakan, kita dipilih, dibenarkan, dikuduskan, disempurnakan, dimuliakan di dalam Kristus. Kalau Kristus itu dicabut dari hidup kita, maka tidak ada pilihan datang kepada kita, tidak ada panggilan yang bisa kita dengar, tidak bisa dibenarkan, dikuduskan, dimuliakan. Kita tidak mungkin memilih diri kita sendiri diterima oleh Allah. Kita tidak mungkin membenarkan diri sendiri di hadapan Allah. Kita tidak mungkin menguduskan diri kita sendiri dan menyempurnakan diri kita sendiri, seluruhnya itu terjadi pada kita karena Kristus. Setiap kali orang itu dipilih oleh Allah untuk mendekat kepada Dia; memiliki iman yang sejati, siapapun saja, dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, Allah akan membawa orang itu untuk mengakui bahwa Yesus itu segala-segalanya dan penolong satu-satunya. Orang itu akan berlulut dan mengatakan, “Ya benar Kristus, di luar Engkau aku tidak bisa melakukan apapun saja”.

Ketika Musa dan bangsa Israel keluar dari Mesir dan sampai ke tanah Rafidim dan berjumpa dengan Amalek, maka orang Amalek itu menyerang Musa dan bangsanya. Dua setengah juta itu sebagian besar adalah perempuan, anak-anak dan orang-orang laki yang tidak sanggup untuk bertempur, mental mereka hanya satu yaitu budak. Dengan kekuatan tidak seberapa itu, Musa kemudian berbicara kepada Yosua, “Engkau perang di depan, ambil semua yang bisa untuk melawan Amalek.” Tetapi Musa tahu bahwa, apart from Me you can do nothing. Maka dia pergi ke bukit, Yosua berperang di bawah dan kemudian dia semalam-malam bergantung minta tolong kepada Tuhan, God of Covenant. Kemuliaan, signifikasi dan keindahan dari Kristus Yesus. Suatu hari, ketika peperangan demi peperangan itu sudah diselesaikan, dan kemudian sebentar lagi Musa masuk ke tanah perjanjian tetapi Tuhan itu marah, kemudian mengatakan Aku tidak akan beserta dengan engkau, tetapi engkau masuk, Aku akan memberikan berkatmu, tetapi Musa menyatakan, “Kalau Engkau TUHAN, God of Covenant, Yesus Kristus tidak menyertai kami, aku tidak mau melangkahkan kakiku satu langkah dari tempat ini.” Daud, ketika dia berzinah dengan Batsyeba, dia tahu akan dimatikan karena Allah itu murka kepada Dia. Tetapi kemudian dia berlutut mengatakan, “Kasih Karunia-Mu, lihatlah aku meminta kasih setia-Mu, TUHAN, God of Covenant, Yesus Kristus.” Apa didikan Allah kepada Ayub? Kita tidak tahu berapa lama Ayub dalam penderitaannya, tetapi seluruh didikan Allah kepada Ayub adalah untuk Ayub bisa mengatakan satu kalimat ini, I know my redeemer lives, Kristus yang mati dan bangkit itu, melihat sekarang dengan mata iman, the excellency of Christ, kemuliaan Kristus. Yakub memegang kaki Kristus dan tidak mau melepaskan sampai Kristus memberikan dia berkat. Apakah sungguh-sungguh iman kita adalah iman yang sejati? Saya tidak peduli berapa lama engkau lama engkau sudah pergi ke gereja, berapa aktif engkau di gereja, mengenal hamba Tuhan siapapun saja; saya tidak peduli! Saya mau peduli apakah imanmu adalah iman yang sejati atau tidak. Elemen yang keempat dari iman yang sejati adalah, Allah di surga, membuat manusia yang dipilih-Nya untuk beriman kepada Dia dan iman yang sejati itu melihat kemuliaan, signifikasi dan keindahan Yesus Kristus. Sehingga saudara bisa mengatakan setiap hari, ‘apart from Me, you can do nothing’. Engkau sudah mengatakan itu kepada kami Tuhan, saya menyadari, saya tahu, saya sungguh-sungguh mengalami, kalau Engkau tinggalkan aku, Engkau mengambil diri-Mu dari padaku, seluruh hidupku akan jatuh berantakan. Saya tanya sungguh-sungguh kepadamu, apakah engkau sungguh-sungguh menyadari, mengalami Kristus itu segala-galanya? Kristus itu segala-galanya, bahwa hidup yang hanya satu kali itu adalah hidup yang bergantung kepada kebaikan dan kemurahan dan hikmat Kristus. Dan itu adalah iman yang sejati, melihat Kristus dengan kemuliaan-Nya dan signifikansi-Nya dan keindahan-Nya. Kiranya Tuhan boleh membentuk itu di dalam hati kita semua.

Alamat

556 - 558 Botany Road, Alexandria, NSW, 2015
sekretariat@griisydney.org
0422690913
0430930175

Social Media

Facebook GRII Sydney Instagram GRII Sydney Twitter GRII Sydney


Google Play Store
App Store

^